You are on page 1of 5

Pandangan Freud tentang Struktur Kepribadian

Tubuh kita memiliki struktur tertentu: ada kepala, kaki, lengan, dan batang tubuh. Psikis kita
juga memiliki suatu struktur, walaupun tentu tidak terdiri dari bagian-bagian dalam ruang.
Struktur psikis manusia menurut Freud meliputi tiga instansi atau tiga sistem yang berbeda.
Ketiga instansi ini masing-masing adalah Id, Ego, dan Superego. Superego berhubungan erat
dengan apa yang kita sebut dalam etika dengan nama “hati nurani”. Berikut penjelasan mengenai
ketiga instansi tersebut satu per satu.

 Id
Freud mengatakan bahwa hidup psikis manusia ibarat gunung es yang terapung-apung di laut.
Hanya puncaknya yang tampak di atas permukaan air, tapi sebagian besar gunung es tersebut
tidak kelihatan karena terendam air laut. Hidup psikis manusia juga untuk sebagian besar tidak
tampak atau tidak sadar, namun tetap merupakan kenyataan yang harus diperhitungkan. Maka
dapat disimpulkan bahwa apa yang dilakukan manusia, khususnya yang diinginkan, dicita-
citakan, dan dikehendaki, untuk sebagian besar tidak disadari oleh manusia itu sendiri. Freud
mengenalkan paham “ketidaksadaran dinamis” dalam psikologi, yang artinya ketidaksadaran
yang mengerjakan sesuatu dan tidak tinggal diam. Dengan itu ia mengadakan semacam revolusi
dalam pandangan tentang manusia. Pada permulaan psikologi modern, hidup psikis disamakan
begitu saja dengan kesadaran, berbeda dengan Freud yang berpendapat bahwa ada juga aktivitas-
aktivitas psikis yang tidak disadari oleh subyek yang bersangkutan.

Freud memakai istilah “Id” untuk menunjukkan ketidaksadaran itu. Id adalah lapisan yang paling
mendasar dalam susunan psikis manusia. Id meliputi segala sesuatu yang bersifat impersonal dan
tidak disengaja dalam daya-daya mendasar yang menguasai kehidupan psikis manusia. Tentang
Id berlaku: bukan aku (= Subyek) yang melakukan, melainkan ada yang melakukan dalam diri
aku. Bagi Freud, adanya Id telah terbukti terutama dengan tiga cara.

Pertama, faktor psikis yang paling jelas membuktikan adanya Id adalah mimpi. Buku pertamanya
di bidang psikoanalisis justru membahas mimpi (Penafsiran Mimpi, 1990). Tentang mimpi
berlaku bahwa “bukan sayalah yang bermimpi, tapi ada yang bermimpi dalam diri saya”. Bila
bermimpi, si pemimpi sendiri seolah-olah hanya merupakan penonton pasif. Tontonan itu
disajikan kepadanya oleh ketidaksadaran.
Kedua, adanya Id terbukti juga, jika kita mempelajari perbuatan-perbuatan yang awalnya hanya
dianggap remeh dan tak memiliki arti, seperti perbuatan keliru, salah ucap, “keseleo lidah”, lupa,
dan sebagainya. Menurut Freud, perbuatan-perbuatan seperti itu tidak terjadi secara kebetulan,
tapi berasal dari kegiatan psikis yang tak sadar. Misalnya, Ketua DPR Austria pernah membuka
sidang parlemen dengan mengetok palunya sambil berkata, “Dengan ini sidang saya tutup.”
Maksudnya adalah “buka”, namun yang dikatakannya justru “tutup”. Hal itu bisa terjadi karena
bagi sang ketua, sidang hari itu terasa sangat berat. Ia ingin sekali sidang itu cepat selesai.
Keinginan yang tak sadar itulah yang menyebabkannya “keseleo lidah”.

Ketiga, alasan paling penting bagi Freud untuk menerima ketidaksadaran adalah pengalamannya
dengan pasien-pasien yang menderita neurosis. Penyakit neurosis merupakan teka-teki medis
yang besar bagi kalangan kedokteran pada waktu itu. Dari segi fisiologis, pasien-pasien itu tidak
mengidap kelainan apa-apa, namun pada kenyataannya mereka mempunyai bermacam-macam

kata Freud. Sudah merupakan tugas Ego untuk mempertahankan kepribadiannya sendiri dan menjamin penyesuaian dengan alam sekitar. lalu meminum banyak sekali air tanpa kesulitan dan bangun dari hipnosis dengan gelas di bibirnya. sebagaimana tampak dalam pemikiran yang obyektif. Freud menemukan bahwa neurosis disebabkan oleh faktor-faktor tak sadar. Setelah dengan hebat ia mengeluarkan kemarahannya yang sudah begitu lama disimpan dalam hati. maka Id itu secara konkret terdiri dari naluri-naluri bawaan. teori tentang Oedipus Complex) serta agresif. prinsip kesenangan Id di sini diganti dengan prinsip realitas. Dalam Id tidak dikenal urutan menurut waktu (timeless). Keadaan ini berlangsung selama kira-kira enam minggu. Dan aktivitas tak sadar dijalankan oleh Ego melalui mekanisme-mekanisme pertahanan (defence mechanisms). Dan sambil menyatakan rasa muaknya. Aktivitas Ego bisa sadar. seorang wanita berkebangsaan Inggris yang tidak disukainya. Sebagai contoh aktivitas prasadar dapat dikemukakan fungsi ingatan (saya mengingat kembali nama yang tadinya saya lupa). hidup psikis seratus persen sama dengan Id. orang yang dalam hati kecilnya sangat takut. Pada awalnya hidup psikis manusia terdiri dari Id saja.”  Ego Ego atau Aku mulai berkembang dari Id melalui kontaknya dengan dunia luar. Ego dikuasai oleh “prinsip realitas” (the reality principle). Tapi untuk sebagian besar Ego bersifat sadar. Id itulah yang menjadi bahan dasar bagi perkembangan psikis lebih lanjut. wanita muda berumur 21 tahun yang menderita histeria (histeria merupakan salah satu contoh neurosis) dan selama beberapa waktu tidak bisa minum. Id itu hampir tanpa struktur apa pun dan secara menyeluruh dalam keadaan kacau balau. ia minta minuman. Namun demikian. Freud mengatakan. Ego juga mengontrol apa yang akan masuk ke dalam kesadaran dan apa yang akan dikerjakan. sesuai dengan tuntutan-tuntutan sosial. . Jika dengan Id dimaksudkan ketidaksadaran. “Id dipimpin oleh “prinsip kesenangan”. Hukum-hukum logika pun tidak berlaku untuknya. Pada mulanya Id sama sekali tidak terpengaruh oleh kontrol pihak subyek. namun perlu ditekankan bahwa Id atau ketidaksadaran merupakan suatu kenyataan psikologis yang normal dan universal. Hidup psikis setiap manusia didasarkan atas Id itu. Pasien tidak berkata apa- apa karena ia ingin berlaku sopan. Ego menjamin kesatuan kepribadian atau— dengan kata lain—mengadakan sintesis psikis. Pada janin yang masih dalam kandungan dan pada bayi yang baru lahir. maupun tidak sadar. Dan hal yang sama dapat dikatakan tentang gejala-gejala neurosis. namun pada kenyataannya berlagak gagah berani. dan proses-proses intelektual. dilukiskannya bagaimana pada suatu hari ia memasuki kamar wanita ini dan melihat di situ anjing kecilnya—binatang yang menjijikan—minum dari sebuah gelas. juga untuk memecahkan konflik-konflik dengan realitas dan konflik-konflik dengan keinginan- keinginan yang tidak cocok satu sama lain. juga keinginan-keinginan yang direpresi. gangguan tersebut hilang sama sekali dan tidak kembali lagi.gejala yang aneh. Sebagai contoh aktivitas sadar boleh disebut: persepsi lahiriah (saya melihat pohon di situ). sampai pada suatu hari dalam hipnosis ia menggumam tentang guru pribadinya. bersifat rasional. Walaupun faktor-faktor tak sadar memainkan peranan besar dalam neurosis. Id hanya melakukan apa yang dia sukai. hingga terpaksa menghilangkan dahaganya dengan makan buah-buahan. prasadar. Dalam mimpi sering kali kita melihat hal-hal yang sama sekali tidak logis. misalnya. khususnya naluri-naluri seksual (misalnya. Freud menemukan bahwa pasien neurosis bisa sembuh dengan menggali kembali trauma psikis yang terpendam dalam ketidaksadarannya. Misalnya. dan mengungkapkan diri melalui bahasa. Akhirnya. Jadi. persepsi batiniah (saya merasa sedih). Sesudah itu.

yang berasal dari luar (para pengasuh. Bila berjalan di tempat gelap pada malam hari ia akan melihat hantu. anjuran. dan sebagainya. dimana saja ia akan melihat bahaya. karena selama tidak disadari. Lama-kelamaan ia yakin bahwa di samping Id dan Ego masih harus diterima suatu instansi lain yang seolah bertempat di atas Ego (dan karena itu dinamakan Superego). kritik-diri. bahkan bisa sampai menghantam. Hati nurani dipakai dalam konteks etis. karena hal itu tidak patut untuk anak perempuan. Dalam dua hal itu kerangka acuannya sangat berbeda. Sedangkan dalam konteks etis. diterima sepenuhnya oleh subyek. Dan perhatian Freud diarahkan ke Superego. hati nurani tentu hanya bisa berfungsi pada taraf sadar. Superego adalah instansi yang melepaskan diri dari ego dalam bentuk observasi- diri. terutama karena pengalamannya dengan kasus-kasus seperti itu. . rasa menyesal. khususnya orang tua). keadaan batin manusia diterapkan pada dunia luar. pada tahap Superego baik sumber rasa bersalah maupun rasa bersalah itu sendiri bisa tetap tidak disadari. tidak mungkin ia menjadi penuntun dan penyuluh di bidang moral. Superego dibentuk selama masa anak melalui jalan internalisasi (pembatinan) dari faktor-faktor represif yang dialami subyek sepanjang perkembangannya. kemudian diterima olehnya dan dianggap sebagai sesuatu yang berasal dari dirinya sendiri. Alasan lain yang menggagalkan setiap usaha untuk menyetarakan hati nurani dengan Superego ialah bahwa aktivitas Superego bisa tak sadar. yang dirasakan dalam emosi- emosi. sedangkan Superego berperan dalam konteks psikoanalitis. cita-cita. Yang dianggap “hantu” itu adalah keadaan batinnya yang diproyeksi ke luar.  Superego Superego adalah instansi terakhir yang ditemukan Freud. rasa malu. Tapi bisa juga terjadi bahwa orang benar-benar disiksa oleh Superego. seseorang yang berwatak penakut. dan sebagainya. Perasaan-perasaan tersebut tentu dianggap normal.” “Anak perempuan tidak boleh memanjat pohon. Faktor-faktor yang pernah tampil sebagai sesuatu yang “asing” bagi si subyek. Misalnya.” Internalisasi ini adalah kebalikan dari proses psikologis yang disebut “proyeksi’. Peranan hati nurani dalam hidup etis justru mengandaikan bahwa orang yang bersangkutan menyadari rasa bersalah dan ia juga tahu apa sebabnya ia merasa bersalah. Taraf sadar merupakan prasyarat supaya hati nurani bisa berfungsi dengan baik. dan tindakan terhadap dirinya sendiri. Konteks di mana kedua paham itu dipakai sangat berbeda. seperti rasa bersalah. sehingga akhirnya terpancar dari dalam. larangan dan tindakan refleksi lainnya.” (teguran dari kakak) menjadi “Aku tidak boleh memanjat pohon. Aktivitas Superego menyatakan diri dalam konflik dengan Ego. sebab bersikap kritis terhadapnya. “Kamu tidak boleh mencuri!” (larangan dari orang tua) akhirnya menjadi “Aku tidak boleh mencuri. Dalam proyeksi. perintah. sehingga baginya hidup normal sudah tidak mungkin lagi. Larangan. Hubungan Hati Nurani dengan Superego Hati nurani dan Superego tidak bisa disamakan.

Akal budi manusia juga mengalami suatu perkembangan kompleks hingga akhirnya menjadi instansi yang menuntun serta membina kita dalam mencari kebenaran. namun apa yang berlaku bagi hati nurani tetap mengikat kita. perhatian dan pengalaman dengan pasien itu menandai seluruh karyanya. Ia berpendapat bahwa manusia harus membebaskan diri dari kecenderungan kurang sehat untuk berefleksi tentang dirinya dan memelihara suatu kehidupan batin yang tidak real. Meskipun akal budi telah mengalami suatu perkembangan panjang serta berbelit-belit. Contoh yang terkenal adalah pandangan psikiater Prancis. Freud mengembangkan psikoanalisis dalam usahanya untuk menyembuhkan pasien-pasien neurosis. Harus disetujui dengan Freud bahwa fungsi-fungsi psikis manusia pada permulaan hidupnya praktis sama dengan nol. putusan hati nurani itu mengikat saya begitu saja. dengan itu ia terkurung saja dalam batinnya dan tidak terarah pada pembangunan dunia. Tidak ada keberatan juga untuk menerima penjelasan Freud tentang asal- usul Superego. David Jones menekankan bahwa Freud sering kali mencampuradukkan rasa kecemasan yang patologis dengan rasa bersalah moral. Superego bersifat lebih luas daripada hati nurani saja. Bisa saja Superego terbentuk karena internalisasi dari perintah-perintah dan larangan-larangan orang tua.Tentang hubungan antara hati nurani dan Superego. Hati nurani pun demikian. Di antara murid-murid Freud memang ada yang menilai setiap rasa bersalah sebagai patologis. Sekalipun Superego (sebagai dasar psikologis bagi hati nurani dalam arti etis) belum terdapat pada permulaan hidup seorang manusia dan telah terbentuk dalam suatu proses yang kompleks. salah satu buku terakhir yang ditulisnya. Freud sendiri tidak menolak perasaan-perasaan moral. terlepas dari masalah bagaimana hati nurani itu sampai terbentuk. Sampai-sampai ia memberi kesan seolah seseorang secara psikis lebih sehat selama kurang “diganggu” oleh perasaan moral seperti rasa bersalah. hati nurani berada dalam keadaan tidak normal. Dalam buku Pengantar Baru pada Psikoanalisis (1933). karena sikapnya naif). Janganlah dia membiarkan dirinya terganggu oleh penderitaan yang tidak berguna itu. Hesnard (1882-1969) dalam bukunya Moral tanpa Dosa. Rasa bersalah sebagai kecemasan untuk kecenderungan-kecenderungan tak teratur harus menghilang dan diganti dengan rasa hormat bagi orang lain yang tidak boleh ia rugikan dengan . A. Bila hati nurani mengatakan. dan dari situ mengalami suatu perkembangan berbelit-belit sampai akhirnya mencapai taraf kedewasaan. Banyak ahli psikologi berpendapat bahwa Freud telah menggariskan inti perkembangan itu dengan tepat melalui teorinya tentang internalisasi. Tapi asal–usul itu tidak mengurangi sedikit pun martabat serta kewibawaan hati nurani. Sebab. Terutama ia harus melepaskan diri dari kebiasaan untuk menaruh perasaan bersalah. Superego juga meliputi fungsi-fungsi observasi-diri dan “ideal dari aku” (gambaran yang dipakai subyek untuk mengukur dirinya dan sebagai standar yang harus dikejar). Dalam konteks itu ia menjumpai juga rasa bersalah yang abnormal. Sebagaimana telah kita lihat. Tidak dapat disangkal. Demikian halnya juga dengan hati nurani. Tapi kesan ini tidak benar dan disebabkan oleh Freud yang tidak membedakan dengan tajam antara perasaan cemas yang patologis dan perasaan moral yang otentik. Artinya. dapat dikatakan bahwa sebaiknya Superego dipahami sebagai dasar psikologis bagi fenomena etis yang kita sebut “hati nurani” atau lebih tepat kita katakan sebagai dasar psikologis bagi fungsi seperti hati nurani yang etis. menurut pandangan Freud. misalnya. Suatu keberatan yang sering dikemukakan terhadap pandangan Freud mengenai Superego adalah bahwa ia terutama menyoroti bentuk patologis dari hati nurani. namun kebenaran tetap mengikatnya. bahwa saya tidak boleh menipu orang lain (biarpun orang tertentu sebenarnya mudah sekali untuk ditipu. Sebab. ia mengatakan bahwa selain hati nurani.

Psikoanalisis Freud mempunyai jasa besar dalam memperlihatkan bahwa rasa bersalah sering kali tercampur dengan unsur-unsur patologis. bahwa rasa bersalah selalu patologis. Namun tidak boleh kita tarik kesimpulan seperti yang sebenarnya dilakukan oleh Hesnard. terpancar dari kepribadian yang utuh. Psikoanalisis justru dapat membantu kita untuk membedakan antara rasa bersalah yang kurang sehat serta rasa bersalah yang otentik. dan masyarakat. sesamanya. sehubungan dengan suatu kasus kejahatan yang telah ditemukan pada hari itu. Tentu saja semua itu omong kosong belaka dan ia sendiri tahu bahwa ia belum pernah bersalah terhadap siapa pun. tentu rasa bersalah pada dirinya akan lebih besar lagi. dan dapat menjaga agar rasa bersalah itu sedapat mungkin otentik. Contoh ekstrem ini bisa dilengkapi dengan banyak contoh lain di mana dengan cara lebih halus rasa bersalah tercampur dengan kecemasan yang tidak sehat. Moral harus menjadi semacam teknik untuk mewujudkan kebahagiaan bagi manusia. Salah satu contoh dari Freud sendiri menyangkut seorang pasien yang mau tidak mau harus bertanya pada dirinya sendiri. Rasa bersalah bisa sampai menyiksa seseorang di luar batas. . apakah bukan dialah pembunuh yang sedang dicari polisi. Tetapi seandainya ia benar-benar seorang pembunuh yang dicari oleh polisi.perbuatannya. artinya.