You are on page 1of 40

BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Footner mengemukakan 60% amputasi dilakukan pada klien dengan usia
diatas 60 tahun dan umumnya akibat iskemia (kematian jaringan) atau akibat penyakit
vascular perifer progresif (sering sebagai gejala sisa diabetes militus), gangren,
trauma, (cedera,remuk dan luka bakar) dan tumor gamas. Dari semua penyebab tadi
penyakit vascular parifer merupakan penyebab yang tertinggi amputasi pada
ekstremitas bawah.
Kehilangan ekstremitas atas memberikan masalah yang berbeda bagi pasien
dari pada kehilangan ekstremitas bawah karena ekstremitas atas mempunyai fungsi
yang sangat spesialistis. Amputasi dapat dianggap sebagai jenis pembedahan
rekonstruksi drastis dan digunakan untuk menghilangkan gejala, memperbaiki fungsi
dan menyelamatkan atau memperbaiki kwalitas hidup pasien.
Bila tim perawat kesehatan mampu berkomunikasi dengan gaya positif maka
pasien akan lebih mampu menyesuaikan diri terhadap amputasi dan berpartisipasi
aktif dalam rencana rehabilitasi. Karena kehilangan ektremitas memerlukan
penyesuaian besar. Presepsi pasien mengenai amputasi harus di pahami oleh tim
perawat kesehatan. Pasien harus menyesuaikan diri dengan adanya perubahan citra
diri permanen, yang harus diselaraskan sedemikian rupa sehingga tidak akan
menimbulkan harga diri rendah pada pasien akibat perubahan citra tubuh.
Menurut Crenshaw, dalam Vitriana (2002), amputasi pada alat gerak bawah
mencapai 85%-90% dari seluruh amputasi, dimana amputasi bawah lutut (transtibial
amputation) merupakan jenis operasi amputasi yang paling sering dilakukan. Angka
kejadian amputasi yang pasti di Indonesia saat ini tidak diketahui, tapi menurut
Vitriana (2002) di Amerika Serikat terjadi 43.000 kasus per tahun dari jumlah
penduduk 280.562.489 jiwa atau sekitar 0,02%, sedangkan dalam Raichle et al.
(2009) disebutkan bahwa terjadi kasus amputasi sekitar 158.000 per tahun dari jumlah
penduduk 307.212.123 atau sekitar 0,05%. Dengan demikian dapat diketahui bahwa
terjadi peningkatan kasus amputasi di Amerika Serikat, baik secara jumlah, maupun
secara persentase dari jumlah penduduk.
Untuk membantu mengatasi keterbatasan-keterbatasan aktivitas yang terjadi
pada seseorang yang kehilangan kaki akibat amputasi, digunakanlah prosthesis.
Dengan prosthesis diharapkan anggota gerak penderita dapat dilengkapi sehingga ia

1

dapat menjalankan aktivitasnya sehari-hari [Jumeno dan Toha, 2007]. Sedikitnya 90%
dari seluruh pasien dengan amputasi bawah lutut berhasil mempergunakan prosthesis
dibandingkan dengan amputasi di atas lutut (25%) [Toha, 2007].
Bila tim perawat kesehatan mampu berkomunikasi dengan gaya positif maka
pasien akan lebih mampu menyesuaikan diri terhadap amputasi dan berpartisipasi
aktif dalam rencana rehabilitasi. Karena kehilangan ektremitas memerlukan
penyesuaian besar. Presepsi pasien mengenai amputasi harus di pahami oleh tim
perawat kesehatan. Pasien harus menyesuaikan diri dengan adanya perubahan citra
diri permanen, yang harus diselaraskan sedemikian rupa sehingga tidak akan
menimbulkan harga diri rendah pada pasien akibat perubahan citra tubuh.

B. TUJUAN
a. Tujuan Umum
Dapat membuat / menyusun askep pada pasien dengan amputasi
b. Tujuan Khusus
Mahasiswa/i dapat menyusun pengkajian pada pasien amputasi
Mahasiswa/i dapat menyusun diagnosa pada pasien amputasi
Mahasiswa/i dapat menyusun intervensi pada pasien amputasi
Mahasiswa/i dapat menyusun implementasi pada pasien amputasi
Mahasiswa/i dapat menyusun evaluasi pada pasien amputasi

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
1. PENGERTIAN

2

Amputasi berasal dari kata “amputare“ yang kurang lebih diartikan “pancung“.
Amputasi dapat diartikan sebagai tindakan memisahkan bagian tubuh sebagian atau
seluruh bagian ekstremitas. Tindakan ini merupakan tindakan yang dilakukan dalam
kondisi pilihan terakhir manakala masalah organ yang terjadi pada ekstremitas sudah
tidak mungkin dapat diperbaiki dengan menggunakan tekhnik lain atau manakala
kondisi organ dapat membahayakan keselamatan tubuh klien secara utuh atau
merusak organ tubuh yang lain seperti dapat menimbulkan komplikasi infeksi.
Kegiatan amputasi merupakan tindakan yang melibatkan beberapa sistem tubuh
seperti sistem integumen, sistem persarafan, sistem muskuloskeletal dan sisem
cardiovaskuler.
Kegiatan amputasi merupakan tindakan yang melibatkan beberapa sistem tubuh
seperti sistem integumen, sistem persyarafan, sistem muskuloskeletal dan sisten
cardiovaskuler. Labih lanjut ia dapat menimbulkan madsalah psikologis bagi klien
atau keluarga berupa penurunan citra diri dan penurunan produktifitas.

2. ANATOMI & FISIOLOGI
a. Anatomi dan Fisiologi Tulang

Tulang terdiri dari sel-sel yang berbeda pada intra-seluler. Tulang berasal dari
embrionichyaline cartilage yang mana melalui proses “Osteogenesis” menjadi tulang.
Proses ini dilakukan oleh sel-sel yang disebut “Osteoblast”. Proses mengerasnya
tulang akibat penimbunan garam kalsium. Ada 206 tulang dalam tubuh manusia,
tulang dapat diklasifikasikan dalam enam kelompok berdasarkan bentuknya : (Arif
Muttaqin, 2008)

1) Tulang panjang (long bone), misalnya femur, tibia, fibula, ulna dan Hemerus.
Daerah batas disebut diafisi dan daerah yang berdekatan dengan garis epifisis
disebut metafasis. Di daerah ini sangat sering ditemukan adanya kelainan atau
penyakit karena daerah ini merupakan daerah metabolik yang aktif dan banyak
mengandung pembuluh darah. Kerusakan atau kelainan perkembangan pada
daerah lempeng epifisis akan menyebabkan kelainan pertumbuhan tulang. Tulang
pendek (short bone) bentuknya tidak teratur dan inti dari cancellous (spongy)
dengan suatu lapisan luar dari tulang yang padat, misalnya tulang-tulang karpal.
2) Tulang sutura (sutural bone) terdiri atas dua lapisan tulang padat dengan lapisan
luar adalah tulang concellous, misalnya tulang tengkorak.

3

3) Tulang tidak beraturan (irreguler bone) sama seperti dengan tulang pendek
mislanya tulang vertebrata.
4) Tulang sesamoid merupakan tulang kecil, yang terletak disekitar tulang yang
berdekatan dengan persendiaan dan didukung oleh tendon dan jaringan fasial,
misalnya patella.
5) Tulang pipih (flat bone), misalnya parietal, iga, skapula dan pelvis.

Fisiologi

Fungsi tulang adalah sebagai berikut : (Arif Muttaqin, 2008)
1) Mendukung jaringan tubuh dan memberikan bentuk tubuh
2) Melindungi organ tubuh (misalnya jantung, otak dan paru-paru) dan jaringan
lemak
3) Memberikan pergerakan
4) Membentuk sel-sel darah merah di dalam sum-sum tulang belakang (hema
topoiesis)
5) Menyimpan garam mineral, misalnya kalsium, fosfor.
Komponen utama jarinagan tulang adalah mineral dan jaringan organik (kolagen
dan proteoglikan). Kalsium dan fosfat membentuk suatu kristal garam
(hidroksiapatit), yang tertimbun pada matriks kolagen dan proteoglikan. Matriks
organis disebut juga osteoid. Sekitar 70% dari osteoid adalah kolagen tipe I yang
kaku dan memberikan tinggi pada tulang. Materi organ yang juga menyusun
tulang berupa proteoglikan (Atif Muttaqin, 2012).

b. Anatomi dan Fisiologi Otot

Otot (musculus) merupakan suatu organ atau alat yang memungkinkan tubuh dapat
bergerak. Ini adalah suatu sifat penting bagi organisme. Gerak sel terjadi karena
sitoplasma mengubah bentuk. Pada sel – sel, sitoplasma ini merupakan benang – benang
halus yang panjang disebut miofibril. Kalau sel otot mendapat rangsangan maka
miofibril akan memendek. Dengan kata lain sel otot akan memendekkan dirinya kearah
tertentu (berkontraksi).

Jenis – jenis Otot

1. Otot Rangka adalah otot lurik, volunter, dan melekat pada rangka.
a. Serabut otot sangat panjang, sampai 30 cm, berbentuk silindris. Dengan lebar
berkisar antara 10 mikron sampai 100 mikron.
b. Setiap serabut memiliki banyak inti, yang tersusun di bagian parifer.
c. Konstraksinya cepat dan kuat.

4

fungsinya menarik kulit ke belakang 2) Otot wajah terbagi atas : a. pencernaan. terbagi atas : a. d. fungsinya mengerutkan dahi dan menarik dahi mata b. berkisar antara 20 mikron (melapisi pembuluh darah) sampai 0. fungsinya sebagai penutup mata atau otot sfingter mata. b. Oksipitalis terletak di bagian belakang. Serabut terengolasi dan membentuk cabang dengan satu nukleus sentral. c. Fungsinya menarik. otot bibir atas mempunyai origo pinggir lekuk mata menuju bibir atas dan nasal. dibagi menjadi 2 bagian : a. fungsinya sebagian kecil membentuk gales aponeurotika disebut juga muskulus oksipitifrontalis. 5 . Jenis otot ini dapat ditemukan pada dinding organ berongga seperti kandung kemih dan uterus. reproduksi. a. Kontraksinya kuat dan lamban. Otot mata (Muskulus rektus okuli) dan otot bola mata sebanyak 4 buah. 3) Otot mulut / bibir dan pipi. Muskulus triangualis dan muskulus orbikularis oris / otot sudut mulut. Muskulus oblikus okuli / otot bola mata sebanyak 2 buah. Maskulus quadrates labi inferior. Otot Polos adalah otot tidak berlurik dan involunter. Muskulus orbikularis okuli / otot lingkar mata terdapat di sekeliling mata. OTOT KEPALA Otot bagian ini dibagi menjadi 5 bagian : 1) Otot pundak kepala. a. terdapat pada dagu merupakan kelanjutan pada otot leher. Panjangnya berkisar antara 85 mikron sampai 100 mikron dan diameternya sekitar 15 mikron. Kontraksi otot jantung kuat dan berirama. Serabut ini berukuran kecil. 3. serta pada dinding tuba. Muskulus quadrates labi superior. Muskulus frontalis. involunter. STRUKTUR OTOT TUBUH A. dan hanya ditemukan pada jantung. fungsinya memutar mata. c.5 mm pada uterus orang hamil. Seperti pada sistem respiratorik. Serabut otot berbentuk spindel dengan nukleus sentral yang terengolasi. Fungsinya menarik bibir ke bawah atau membentuk mimik muka ke bawah. fungsinya menarik sudut mulut ke bawah. b. Diskus terinterkalasi adalah sambungan kuat khusus pada sisi ujung yang bersentuhan dengan sel-sel otot tetangga. Muskulus levator palpebra superior terdapat pada kelopak mata. mengangkat kelopak mata atas pada waktu membuka mata. urinarius. b. dan sistem sirkulasi darah. b. Otot Jantung adalah otot lurik.2. c. d. c.

B. terbentang dari belakang kranium ke prosesus spinalis korakoid. C. 4) Muskulus Trapesius menarik bahu ke belakang ketika digunakan secara menyeluruh dan juga menarik skapula ke atas dan ke bawah. fungsinya mendorong lidah ke depan. fungsinya menarik rahang bawah ke depan. b. 2) Muskulus sternokleidomstoid di samping kiri kanan leher ada suatu tendo sangat kuat. Muskulus genioglosus. terdapat di samping leher menutupi sampai bagian dada. terdiri dari splenius dan semispinalis kapitis. 6 . c. Diantara otot ini dan taju besar tulang pangkal lengan terdapat kandung lendir. ke kiri dan ke kanan. terbagi atas : a. d. memutar kranium dan kalau keduanya bekerja sama merupakan fleksi kranium ke depan di samping itu sebagai alat bantu pernapasan. ketika bagian atas dan bagian bawah digunakan secara terpisah. Origo pada prosesus sifoid mandibula dan insersi muskulus orbikularis oris. Muskulus temporalis . Ketiga otot ini terdapat di belakang leher. Muskulus stiloglosus.Fungsinya menekan mandibula. Fungsinya untuk menahan makanan waktu mengunyah. 5) Otot lidah sangat berguna dalam membantu panca indra untuk mengunyah. 3) Muskulus longisimus kapitis. terbagi atas : a. fungsinya mengangkat rahang bawah pada waktu mulut terbuka. b. Muskulus buksinator. otot ini membentuk lengkung bahu dan berpangkal di bagian sisi tulang selangka lengan. Fungsinya menarik kepala ke samping. menggelengkan cranium. fungsinya menarik rahang bawah ke atas dan ke belakang. menarik bibir ke bawah dan mengerutkan kulit bibir. 4) Otot pengunyah / otot yang bekerja waktu mengunyah. OTOT LEHER Bagian otot ini dibagi menjadi 3 bagian : 1) Muskulus platisma. Muskulus pterigoid interus dan eksternus. Muskulus maseter. fungsinya menarik lidah ke atas dan ke belakang. 1) Muskulus deltoid (otot segitiga). Fungsinya untuk menarik kranium ke belakang. membentuk dinding samping rongga mulut. OTOT BAHU Otot bahu hanya meliputi sebuah sendi saja dan membungkus tulang pangkal lengan dan tulang belikat akromion yang teraba dari luar. Fungsinya mengangkat lengan sampai mendatar.

Otot ini berpangkal di lekuk sebelah bawah tulang belikat dan menuju ke prosesus sifoid besar tulang pangkal lengan. 4) Muskulus infraspinatus (otot bawah tulang belikat). tetapi yang terbanyak menuju ke bawah. Otot ini berpangkal di siku sebelah luar tulang belikat dan menuju ke prosesus sifoid besar tulang pangkal lengan. OTOT DADA Terdiri atas : 1) Otot dada besar (muskulus pektoralis mayor). 5) Otot dada sejati yaitu otot-otot sela kosta dalam. Diantara otot lengan bulat kecil dan otot lengan bulat besar terdapat kepala yang panjang dari muskulus triseps brakii. Fungsinya mengangkat lengan. IV dan V menuju prosesus korakoid. Fungsinya memutar lengan keluar. menarik lengan melalui dada. menuju taju kecil tulang pangkal lengan. korpus dan rawan kosta. Otot ini berpangkal di siku bawah tulang belikat dan menuju ke prosesus sifoid kecil tulang pangkal lengan. bagian dada atas sebelah bawah os klavikula. 5) Muskulus teres mayor (otot lengan bulat besar). Fungsinya menaikkan tulang belikat dan menekan bahu. 2) Muskulus subskapularis (otot depan tulang belikat) Otot ini mulai dari bagian depan tulang belikat. otot dada yang membantu pernafasan terdiri dari: 7 . berpangkal di kosta III. Fungsinya dapat memutar lengan ke dalam dan menengahkan lengan. D. merapatkan lengan ke dalam. Fungsinya menetapkan tulang selangka di sendi sebelah korpus dan menekan sendi bahu ke bawah dan ke depan. 3) Muskulus supraspinatus (otot atas tulang belikat). Otot ini berpangkal dilekuk sebelah atas menuju ke prosesus sifoid besar tulang pangkal lengan. Terdapat di bawah otot dada besar. di bawah ototnya terdapat kantung lender. 2) Otot dada kecil (muskulus pektoralis minor). 6) Muskulus teres minor (otot lengan belikat kecil). Fungsinya memutar lengan keluar. 3) Otot bawah selangka (muskulus subklavikula). Terdapat di antara klavikula dan ujung kosta I. Otot dada bagian dalam disebut juga dada sejati. Fungsinya menengahkan dan memutar tulang humerus kedalam. 4) Otot gergaji depan (muskulus seratus anterior). Berpangkal di kosta I sampai IX dan menuju ke sisi tengah tulang belikat. Fungsinya mengangkat dan menurunkan kosta waktu bernafas. Fungsinya bisa memutar lengan ke dalam. Pangkalnya terdapat di ujung tengah tulang selangka.

E. Muskulus interkostalis eksternal dan internal terdapat di antara tulang-tuang kosta. mempunyai lobang tempat lalu aorta vena dan esophagus. Muskulus diafragmatikus. OTOT PERUT Terdiri dari atas : 1) Muskulus abdominis internal (dinding perut). Bentuknya melengkung ke atas menghadap ke rongga toraks. otot perut lurus mulai dari pedang rawan kosta III di bawah dan menuju ke simfisis. Apeneurosis terbagi 2 dan ikut membentuk kandung otot perut lurus sebelah depan dan belakang muskulus rektus abdominis. Fungsinya menjadi batas antara rongga dada dan rongga perut. Serabut miring menuju ke atas dank e tengah. 3) Lapisan ke dua di bawah otot di bentuk oleh otot perut dalam(muskulus obliqus internus abdominis). 2) Lapisan sebelah luar sekali dibentuk otot miring luar (muskulus obliqus eksternus abdominis). Garis di tengah dinding perut dinamakan linea alba. b. 4) Muskulus transverses abdominis. Otot yang tebal dinamakan apeneurosis.merupakan alat istimewa yang di tengahnya mempunyai aponeourosis yang disebut sentrum tendieum. a. Serabut ototnya yang sebelah belakang menuju ke tepi tulang panggul (Krista iliaka). Otot yang masuk ke dalam formasi bagian bawah dinding perut atau dindig abdominal posterior : 8 . Berpangkal pada kosta V sampai kosta yang bawah sekali. otot sebelah luar (muskulus abdominis eksternal). Fungsinya mengangkat dan menurunkan tulang kosta ke atas dan ke bawah pada waktu bernafas. Kontraksi dan relaksasinya memperkecil serta memperbesar rongga toraks waktu bernafas. merupakan xifoid menuju artikule ke kosta III terus ke simfisis. Serabut yang tengah membentuk ikat yang terbentang dari spina iliaka anterior superior ke simfisis. Otot ini mempunyai 4 buah urat melintang. membentuk kandung otot yang terdapat di sebelah kiri dan kanan linea itu. Serabut yang depan menuju linea alba. Otot ini membentuk 4 buah otot yang bentuknya melintang dibungkus oleh muskulus abdominis dan otot vagina.

Muskulus seratus posterior superior. Gunanya menggerakkan tulang belikat ke atas dan ke tengah. ruas tulang vertebra V. tepi tulang vertebra dan kosta III di bawah. berpangkal pada ruas tulang vertebra yang kelima dari bawah fasia lumboid. terletak di belakang diafragma bagian bawah mediastinum. Fungsinya untuk sikap dan pergelangan vertebra. terdapat di antara kiri – kanan prosesus transversus dan prosesus spina. Terletak di bawah otot punggung lebar. Muskulus lumboid (otot belah ketupat). dan sebelah depan menyentuh kolon desendens. b) Otot antara ruas vertebra dan kosta Otot yang bekerja menggerakkan kosta atau otot bantu pernapasan. gunanya menutupi ketiak bagian belakang. berpangkal dari ujung prosesus sifoid. 2. Fungsinya mengangkat dan menarik sendi bahu. Muskulus iliakus terdapat pada sisi tulang ilium. Muskulus interspinalis transversi dan Muskulus semispinalis. Muskulus psoas. 9 . F. Fungsinya memelihara dan menjaga kedudukan kolumna vertebra dan pergerakan dari ruas os vertebra. Berpangkal di tulang oksipital. terletak dibawah otot belah ketupat dan berpangkal di ruas tulang leher keenam dan ke tujuh dari ruas os vertebra yang kedua. OTOT PUNGGUNG Otot punggung (bagian belakang tubuh). 3. Gunanya menarik os kosta ke atas waktu inspirasi. Trapezius (otot kerudung). Gunanya menarik tulang kosta ke bawah pada waktu bernapas. berpangkal di fasia lumbodorsalis dan menuju ke kosta V dari bawah. a. Terdapat di semua ruas-ruas tulang vertebra. vena dan kelenjar limfe b. menengahkan dan memutar tulang pangkal lengan ke dalam. otot ini di bagi menjadi 3 bagian : a) Otot yang ikut menggerakkan lengan 1. dari tulang leher V. 2. Muskulus latisimus dorsi (otot punggung lebar). Muskulus seratus inferior superior (otot gergaji belakang bawah). 2. sebelah belakang berfungsi menopang sekum. di sini menuju ke pinggir tengah tulang belikat. terdiri dari dua otot yaitu : 1. Bagian atas menarik scapula ke bagian medial dan yang bawah menarik ke bawah lateral. berhubungan dengan quadratus lumborum di dalamnya terdapat arteri. c) Otot punggung sejati 1. Muskulus sakrospinalis (muskulus erector spina). terletak disamping ruas tulang belakang kiri dan kanan.

Humerus Mengaduksi bahu. seperti menarik lonceng dan mendayung. Muskulus quadratus lumborum. mayor klavikula. 3) Kepala panjang dimulai pada tulang di bawah sendi dan ketiganya mempunyai sebuah otot yang melekat di olekrani otot-otot yang menghubungkan lengan atas dengan tubuh: Nama posisi Asal insersi Kerja Pektoralis Depan dada Sternum. Fungsinya mengangkat lengan. OTOT PANGKAL LENGAN ATAS a. Kepala yang panjang melekat di dalam sendi bahu. kepala yang pendek melekatnya disebelah luar dan yang kedua disebelah dalam. dan (lengkung menarik lengan kartilago iga-iga bisipital) melewati depan dada. Muskulus korakobrakialis. Fungsinya membengkokkan lengan bawah siku. sejati Rotasi internal bahu Latisimus Menyilang Torakal bawah. dan merotasi internal 10 . Humerus Mengaduksi bahu. b. Otot ini berpangkal di prosesus korakoid dan menuju ke tulang pangkal lengan. 3. Fungsinya membengkokkan lengan bawah siku. 3. 2) Kepala dalam dimulai di sebelah dalam tulang pangkal lengan. Otot itu ke bawah menuju ke tulang pengumpil. 2. Otot – otot ketul (fleksor) : 1. Otot ini meliputi dua buah sendi dan mempunyai dua buah kepala (kaput). Otot ini berpangkal dibawah otot segitiga di tulang pangkal lengan dean menuju prosesus sifoid di pangkal tulang radius. Muskulus brakialis (otot lengan dalam). Muskulus biseps braki (otot lengan berkepala 2). dorsi punggung dari vertebra lumbal (lengkung menarik lengan ke regio lumbal ke dan sekral serta bisipital) belakang dan ke bahu krista iliaka bawah. meratakan hasta dan mengangkat lengan. terletak antara krista iliaka dan os kosta. Di bawah uratnya terdapat kandung lender. terdiri dari dua lapisan : fleksi dari vertebra lumbalis dan di samping itu juga merupakan dinding bagian belakang rongga perut. G. Otot kedang (ekstensor): Muskulus triseps braki (otot lengan berkepala 3) 1) Kepala luar berpangkal di sebelah belakang tulang pangkal lengan dan menuju ke bawah kemudian bersatu dengan yang lain.

3. fungsinya fleksi ibu jari. OTOT LENGAN BAWAH 1. sendi antara radius dan tulang pengumpil sendi pergelangan. 4: muskulus fleksor policis ingus. fungsinya ekstensi falang kecuali ibu jari e. sendi jari. muskulus fleksor digitor sublimis. sendi tangan. 11 . Otot yang bekerja memutar radialis (pronator dan supinator) terdiri dari : muskulus pronator teres equadratus. Fungsinya fleksi jari kedua dan kelingking. berfungsi membengkokkan lengan di siku. Fungsinya dapat mengerjakan silang radius dan membengkokkanlengan bawah siku 2) Muskulus Palmaris ulnaris. b. Digitonum karpi radialis. Muskulus ekstensor karpi radialis brevis c. Otot-otot di sebelah metacarpal.muskulus Palmaris longus. bahu Seratus Di atas sisi torak Bagian depan Bagian medial Menarik skapula ke anterior dan di bawah iga ataas ke-8 batas skapula depan. antagonis skapula pada terhadap trapezius punggung H. Otot – otot di sebelah tulang ulna. Fungsinya dapat membengkokkan falang. Muskulus ekstensor karpi radialis longus b. fungsinya supunasi tangan. fungsinya ekstensi ibu jari 2. dan sebagian dalam gerak silang radius : a.: muskulus fleksor digitorumprofundus. Didalam lapis yang pertama terdapat otot-otot yang meliputi sendi siku. fungsinya pronasi tangan : muskulus spinator brevis. Lapis yang ke 4 ialah otot-otot untuk sendi antara tulang radius dan tulang pengumpil. fungsinya fleksi jari 1. Muskulus ekstensor karpi ulnaris. Muskulus ekstensor policis. Otot-otot ketul yang mengedangkan sikudan tangan serta ibu jari dan meratakan radius. 2. berfungsi mengetulkan lengan. muskulus fleksor karpi radialis. Otot-otot ini ada 4 lapis. Di antara otot-otot ini di sebut : 1) Muskulus pronator teres. Lapis yang pertama ke 2 di sebelah luar berpangkal di tulang pangkal lengan. Otot-otot ini berkumpul sebagai berikut : a. Ketiga otot ini fungsinya sebagai ekstensi lengan (menggerakkan lengan) d. Otot-otot kedang yang memainkan peranannya dalam pengetulang di atas sendi siku. membengkokkan tangan ke arah tulang ulna atau tulang radius.

OTOT – OTOT TANGAN Di tangan terdapat otot – otot tangan pendek terdapat di antara tulang – tulang telapak tangan atau membantu ibu jari tangan (thenar) dan anak jantung tangan (hipothenar). abduksi dan endorotasi dari femur dan bagian medius eksorotasi femur. Muskulus abduktor yang terdiri dari : a. Muskulus abduktor maldanus sebelah dalam b. B. Ketiga otot ini menjadi satu yang di sebut muskulus abduktor femoralis. Otot yang lain meluruskan ibu jari (telunjuk). b. 2. fungsinya mengangkat dan memutar kalkaneus ke bagian luar. Muskulus gluteus maksimus merupakan otot yang terbesar yang terdapat di sebelah luar ilium membentuk perineum. 1. Kedang Otot – otot di sebelah punggung atas. c. STRUKTUR OTOT EKSTREMITAS MANUSIA Terdiri atas : A. Fungsinya menyelenggarakan gerakan abduksi dari femur. Otot – otot lengan bawah mempunyai otot yang panjang di bagian bawah di dekat pergelangan dan di tangan. disebut otot kedang jari bersama yang meluruskan jari tangan. Sebelah posterior bagian luar terdapat : a. antagonis dari iliopsoas yaitu rotasi fleksi dan endorotasi femur. OTOT – OTOT TUNGKAI ATAS Muskulus femoris superior.gfungsinya. yang terletak di muka psoas mayor. Otot – otot tersebut menpunyai kandung otot. Sebelah anferior bagian dalam dari ilium terdapat: a. Muskulus psoas mayor. 12 . Fungsinya. Ketiga otot ini disebut juga otot iliopsoas. Muskulus abduktor longus sebelah luar. terbentang dari prosesus transversi lumbalis menuju trokanter minor dan iliakus b. Muskulus iliakus. berasal dari fosa iliaka menuju trokanter minor. c. I. OTOT – OTOT SEKITAR ILIUM Otot ini berasal dari tulang ilium atau kolumna vertebralismenuju ke pangkal paha. terdapat di bagian belakang dari sendiilium di bawah gluteus maksimus. Muskulus gluteus medius dan minimus. Muskulius psoas minor. Muskulus abduktor brevis sebelah tengah c. mempunyai selaput pembungkus yang sangat kuat dan disebut fasia lata yang dibagi atas 3 golongan yaitu : 1.

jari manis dan kelingking kaki. b. Fungsinya membengkokkan jari dan menggerakkan kaki kedalam. Fungsinya dapat mengangkat kaki sebelah luar. yang terdapat di bagian belakang femur terdiri dari : a. Otot kedang jempol. eksorotasi femur memutar keluar pada waktu lutut mengentul. 6. Muskulus semi tendinosus. Muskulus semi membranosus. 2. Berpangkal pada selaput antara tulang dan melekat pada pangkal falang. Muskulus falangus longus. Muskulus ekstensor talangus longus. Muskulus tibialis anterior. Fungsinya menggangkat pinggir kaki sebelah tengah dan membengkokkan kaki. 4. Muskulus ekstensor (quadriseps femoris) otot kepala empat. Melintang dan melekat di kondilus lateralis tulang femur. otot yang seperti selaput. Berpangkal pada fibula. 5. OTOT TUNGKAI BAWAH Terdiri dari : 1. Fungsinya membengkokkan tungkai bawah. Berpangkal pada kondilus fibula. c. Fungsinya membengkokkan falang. otot seperti urat. 13 . Muskulus sartorius.Otot ini merupakan otot yang terbesar dari : 1) Muskulus rektus femoris 2) Muskulus vastus lateralis eksternal 3) Muskulus vastus medialis internal 4) Muskulus vastus intermedial 5) Otot fleksor femoris. C. Bentuknya bentuknya panjang seperti pita. otot berkepala dua.otot – otot yang terdapat di belakang mata kaki luar dipaut oleh ikat silang dan ikat melintang. Biseps femoris. Funfsinya meluruskan kaki di sendi kalkaneus dan membengkokkan tungkai bawah patela (muskulus popliteus) yang : a. b. serta membantu gerakan fleksi femur dan membengkokkan keluar. Berpangkal pada tibia dan ototnya manuju metatarsal dan melekat pada tuas falang. Otot tulang tibia (muskulus tibialis posterior). Otot akiles (tendo achilles). d. Fungsinya membengkokkan otot bawah serta memutarkan ke dalam. 2. terdapat di bagian femur. Otot – otot tersebut di paut oleh ikat melintang dan ikat silang sehinggaotot itu bisa membengkokkan kaki ke atas. Fungsinya. fungsinya dapat meluruskan ibu jari kaki. Fungsinya meluruskan jari telinjuk ke tengah jari. Fungsinya memutar tibia kedalam (endorotasi). Otot kentul jari (muskulus fleksor falangus longus). otot penjahit. 3. Fungsinya membengkokkan femur dan meluruskan tungkai bawah. Fungsinya dapat membengkokkan kaki di sendi kalkaneus dan metatarsal di sebelah ke dalam. ototnya melewati falang dan melekat pada ruas falang.

tendon dan ligament termasuk jaringan penghubung yang berserat. Letaknya di punggung kaki. Pergerakan Otot menghasilkan gerakan pada tulang tempat otot tersebut melekat dan bergerak dalam bagian-bagian organ internal tubuh. 14 . Produksi panas Kontraksi otot secara metabolis menghasilkan panas untuk mempertahankan suhu normal tubuh. penyakit dan latihan fisik. 3. tendon dan ligament mempunyai struktur yang hirarki yang menyebabkan kebiasaan pergerakan. Tidak seperti otot. Penopang tubuh dan mempertahankan postur Otot menompang rangka dan mempertahankan tubuh saat berada dalam posisi berdiri atau saat duduk terhadap gaya gravitasi. Selain itu. Tendon dan ligament berperan penting dalam pergerakan otot. Tendon membantu terjadinya pergerakan sendi dengan mentransmisikan gaya mekanik (tekanan) dari otot ke tulang. 2. fungsinya dapat meluruskan jari kaki. tendon dan ligament dapat beradaptasi dengan perubahan lingkungan seperti luka. FISIOLOGI OTOT 1. Hal itu berkaitan dengan fungsi tendon dan ligament itu sendiri. Jika ditinjau dari ilmu biologi. 7. Otot kedang jari bersama. yang merupakan jaringan aktif dan bisa menghasilkan gaya mekanik. tendon dan ligament termasuk jaringan pasif yang tidak bisa berkontraksi untuk menghasilkan gaya. Ligament berfungsi sebagai penghubung antar tulang dan memberikan stabilitas pada sendi. TENDON DAN LIGAMEN Pada dasarnya.

σu). lebih kaku dari dominasi fiber elastic dan berkerutnya collagen fiber yang lurus. tendon lebih kaku.1 (ultimate strain. Hal ini membutuhkan ruang untuk mengerjakan tugas tertentu. ada perubahan kecil pada bahan dasar untuk mengalir dan secara konsekuen tendon menjadi lebih kaku. menunjukkan grafik dari kekuatan tarik- tegangan tendon. Bentuk kurva adalah hasil reaksi antara elastin fiber yang elastic dan viskoelatisitas collagen fiber. Diagram hysteresis 15 . Tendon menjadi kaku ketika kerutan diluruskan. Di waktu yang sama. terdapat ruang yang tidak tercukupi untuk mengikat lebih dari satu atau beberapa otot. Dibandingkan dengan otot. mempunyai kekuatan tarik lebih besar. cairan seperti bahan dasar pada collagen fiber untuk mengalir. atau tegangan kira-kira 60 MPa (ultimate stress. meskipun kekakuan dan viskoelastisitas dari collagen fiber dimulai untuk meningkatkan bagian dari beban yang digunakan.05). tendon memiliki gaya pegas yang elbih tinggi daripada linearly elastic materials. €u).04. menuntut gaya yang sangat kecil untuk regangan tendon. kerja sama otot ke tulang dibuat oleh tendon. tendon putus pada regangan kira-kira 0. yang mana disebut dengan yield strain (€ y). satu atau beberapa otot harus membagi beban pembangkit dan menahan muatan besar dengan tegangan yang lebih besar di daerah yang dekat untuk kerja sama tulang dimana luas permukaan tulang kecil. Oleh karena itu. Catatan bentuk kurva dari tegangan-regangan dalam gambar 6 adalah daerah dibawah kurva yang sangat kecil. Atau dengan kata lain. Ketika tendon diregangkan dengan cepat. Waktu yang ditempuh tendon untuk viskoelastisitas diilustrasikan dalam gambar 7 dan 8. Oleh karena itu. Tendon dipercaya sebagai fungsi tubuh dengan regangan hingga 0. Gambar 5. Paling umum artinya respon mekanik dari mengevaluasi tendon dan ligament adalah tes tegangan berporos tunggal. Sifat tendon ini memungkinkan otot untuk mentransmisikan gaya ke tulang tanpa menghabiskan energy untuk regangan tendon Sifat mekanika dari tendon dan ligament tergantung pada komposisinya yang bisa berubah-ubah. disekitar pergerakan dimana ruangnya terbatas. Pada regangan yang lebih tinggi. energy yang disalurkan ke tendon untuk regangan tendon dengan level tegangan lebih kecil daripada energy yang disalurkan ke regangan linearly elastic materials (dengan diagram tegangan-regangan berupa garis lurus) untuk level stress yang sama. dan dapat menahan tegangan yang lebih besar. Di sekeliling sendi-sendi pada tubuh kita. Tendon mampu menahan beban yang sangat besar dengan deformasi yang sangat kecil. Pada regangan yang rendah (meningkat hingga 0.

Seperti tendon. 3.infeksi. Secara umum menurut doenges (2000) penyebabamputasi adalah kecelakaan . Sifat mekanika ligament secara kualitatif mirip dengan tendon. tumor ganas . Kompisisi dan struktur ligament bergantung pada fungsinya dan posisinya dalam tubuh.2002). trauma. gangrene . Penyakit vaskuler perifer merupakan penyebab tertinggi amputasiekstermitas bawah( smeltzer. mereka viskoelastis dan hysteresis tereksplore tapi deformasi elastically naik hingga regangan mencapai €y = 0. dan energy terhenti disalurkan pada jaringan yang meregang. trauma. deformitas. dan gangguan congenital. mereka sering terdiri dari elastic fiber yang lebih besar porsinya yang menyebabkan extensibilitynya lebih besar tetapi kekuatannay lebih rendah dan lebih kaku. beberapa energy terpenuhi untuk meregangkannya saat digunakan untuk peregangan dengan menyebabkan aliran cairan yang terdapat pada bahan dasar. ETIOLOGI Penyakit vaskuler perifer progresif( sering terjadi sebagai gejala sisa diabetesmelitus). dapat disimpulkan penyebab amputasi adalahpenyakit vaskuler perifer . Footner. Berdasarkan pendapat diatas. Tindakan amputasi dapat dilakukan pada kondisi : 1) Fraktur multiple organ tubuh yang tidak mungkin dapat diperbaiki 16 .osteomilitis). bahan kompisisi terdiri dari collagen fiber ayng berkerut yang dikelilingi oleh bahan dasar. Mereka putus pada saat tegangan sekitar 20 MPa.trauma( cedera remuk. Sepeti tendon. Ligament juga punya aturan ekstabilan untuk otot skeletal. Dibandingkan dnegan tendon.deformitas congenital. Aturan mekanika ligament untuk mentransmisikan gaya dari satu tulang ke yang lain. Tendon dan ligament termasuk material keras dan tidak putus dengan mudah. Karena tendon dan ligament bersifat viscoelastis.infeksi ( misalnya infeksi akut :gangrene infeksi kronik . Catatan bahwa beberapa kerja selesai dalam meregangkan tendon daripada yang tertutupi ketika tendon sedang relaksasi dan meskipun beberapa energy hilang saat pemrosesan.25 (sekitar lima kali lebih daripada yield strain tendon) dan tegangan sekitar σy = 5 MPa.dan paralisis. kerusakan paling umum pada tendon dan ligament muncul pada titik pertemuan dengan tulang. penyakit . mengemukakan alasan diperlukannyaamputasi terjadi pada penyakit vascular perifer.ditunjukkan pada gambar 8yang menunjukkan waktu yang ditempuh untuk kelakuan proses dan tidak proses tendon.atautumor ganas.luka bakar).

KLASIFIKASI AMPUTASI  Berdasarkan pelaksanaan amputasi. Amputasi dilakukan sebagai salah satu tindakan alternatif terakhir. Biasanya merupakan tindakan yang memerlukan kerja yang cepat seperti pada trauma dengan patah tulang multiple dan kerusakan/kehilangan kulit yang luas. dibuat sayatan dikulit secara sirkuler sedangkan otot dipotong sedikit proximal dari sayatan kulit dan digergaji sedikit proximal dari otot. Amputasi tertutup dilakukan dalam kondisi yang lebih memungkinkan dimana dibuat skaif kulit untuk menutup luka yang dibuat dengan memotong kurang lebih 5 sentimeter dibawah potongan otot dan tulang. Amputasi terbuka dilakukan pada luka yang kotor. Amputasi darurat. dan persiapan untuk penggunaan protese ( mungkin ). 2) Kehancuran jaringan kulit yang tidak mungkin diperbaiki 3) Gangguan vaskuler/sirkulasi pada ekstremitas yang berat 4) Infeksi yang berat atau beresiko tinggi menyebar ke anggota tubuh lainnya 5) Adanya tumor pada organ yang tidak mungkin diterapi secara konservatif 6) Deformitas organ 7) Trauma 4. Amputasi terbuka dilakukan pada kondisi infeksi yang berat dimana pemotongan pada tulang dan otot pada tingkat yang sama. dibedakan menjadi : a. Amputasi selektif/terencana. Kegiatan amputasi dilakukan secara darurat oleh tim kesehatan. Merupakan amputasi yang terjadi sebagai akibat trauma dan tidak direncanakan. Kegiatan tim kesehatan adalah memperbaiki kondisi lokasi amputasi serta memperbaiki kondisi umum klien. Amputasi terbuka. maka kegiatan selanjutnya meliputi perawatan luka operasi/mencegah terjadinya infeksi. b. mempertahankan intaks jaringan.  Jenis amputasi yang dikenal adalah : a. Amputasi akibat trauma. seperti luka perang atau infeksi berat antara lain gangrene. Setelah dilakukan tindakan pemotongan. Amputasi tertutup dibuat flap kulit yang direncanakan luas dan bentuknya secara teliti untuk memperoleh kulit penutup ujung putung yang baik dengan lokasi bekas pembedahan 5. Amputasi jenis ini dilakukan pada penyakit yang terdiagnosis dan mendapat penanganan yang baik serta terpantau secara terus- menerus. Amputasi tertutup. c. b. MANIFESTASI KLINIS 1) Kehilangan anggota gerak (ektremitas atas atau bawah) 2) Nyeri pada bagian yang diamputasi yang berasal dari neuroma ujung saraf yangdekat dengan permukaan. menjaga kekuatan otot/mencegah kontraktur. 17 .

Penurunan kapasitas paru 18 . b. Sistem respirasi 1. c. Kecepatan metabolism Jika seseorang dalam keadaan immobilisasi maka akan menyebabkan penekanan pada fungsi simpatik serta penurunan katekolamin dalam darah sehingga menurunkan kecepatan metabolisme basal. Infeksi dapat terjadi pada semua pembedahan dengan peredaran darah yang buruk atau adanya kontaminasi serta dapat terjadi kerusakan kulit akibat penyembuhan luka yang buruk dan iritasi penggunaan protesis. Adapun pengaruhnya meliputi : a. PATOFISIOLOGI Amputasi terjadi karena kelainan extremitas yang disebabkan penyakit pembuluh darah. 7) Sedih dan harga diri rendah (self esteem) dan diikuti proses kehilangan 6. Amputasi harus dilakukan karena dapat mengancam jiwa manusia. 7. sehingga terjadi peningkatan diuresis. 4) Dermatitis pada tempat tekanan ditemukan kista (epidermal atau aterom) 5) Busitis (terbentuk bursa tekanan antara penonjolan tulang dan kulit) 6) Bila kebersihan kulit diabaikan terjadi folikulitis dan furunkulitis. hal ini menyebabkan pergeseran cairan intravaskuler ke luar keruang interstitial pada bagian tubuh yang rendah sehingga menyebabkan oedema. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit Adanya penurunan serum protein tubuh akibat proses katabolisme lebih besar dari anabolisme. infeksi dan kerusakan kulit. cedera dan tumor oleh karena penyebab di atas. 3) Edema yang apabila tidak ditangani menyebabkan hiperplasia varikosa dengankeronitis. Immobilitas menyebabkan sumber stressor bagi klien sehingga menyebabkan kecemasan yang akan memberikan rangsangan ke hypotalamus posterior untuk menghambat pengeluaran ADH. Perdarahan dapat terjadi akibat pemotongan pembuluh darah besar dan dapat menjadi masif. maka akan mengubah tekanan osmotik koloid plasma. KOMPLIKASI Komplikasi amputasi meliputi perdarahan.

Peningkatan denyut nadi Terjadi sebagai manifestasi klinik pengaruh faktor metabolik. Sistem Muskuloskeletal 1. 2. Sistem Kardiovaskuler 1. Orthostatik Hipotensi Pada keadaan immobilisasi terjadi perubahan sirkulasi perifer. endokrin dan mekanisme pada keadaan yang menghasilkan adrenergik sering dijumpai pada pasien dengan immobilisasi. 2.Pada klien immobilisasi dalam posisi baring terlentang. Penurunan cardiac reserve Dibawah pengaruh adrenergik denyut jantung meningkat. akibatnya klien merasakan pusing pada saat bangun tidur serta dapat juga merasakan pingsan. vasodilatasi lebih panjang dari pada vasokontriksi sehingga darah banyak berkumpul di ekstremitas bawah. b. maka kontraksi otot intercosta relatif kecil. 3. volume darah yang bersirkulasi menurun. jika secara mendadak maka akan terjadi peningkatan metabolisme (karena latihan atau infeksi) terjadi hipoksia. hal ini mengakibatkan waktu pengisian diastolik memendek dan penurunan isi sekuncup. Perubahan perfusi setempat Dalam posisi tidur terlentang. diafragma otot perut dalam rangka mencapai inspirasi maksimal dan ekspirasi paksa. Mekanisme batuk tidak efektif Akibat immobilisasi terjadi penurunan kerja siliaris saluran pernafasan sehingga sekresi mukus cenderung menumpuk dan menjadi lebih kental dan mengganggu gerakan siliaris normal. 3. Penurunan kekuatan otot 19 . d. dimana arteriol dan venula tungkai berkontraksi tidak adekuat. jumlah darah ke ventrikel saat diastolik tidak cukup untuk memenuhi perfusi ke otak dan tekanan darah menurun. pada sirkulasi pulmonal terjadi perbedaan rasio ventilasi dengan perfusi setempat.

Hal ini menyebabkan terjadinya atropi dan paralisis otot. Sistem perkemihan Dalam kondisi tidur terlentang.Dengan adanya immobilisasi dan gangguan sistem vaskuler memungkinkan suplai O2 dan nutrisi sangat berkurang pada jaringan. 2. Konstipasi Meningkatnya jumlah adrenergik akan menghambat pristaltik usus dan spincter anus menjadi kontriksi sehingga reabsorbsi cairan meningkat dalam colon. h. .Akumulasi endapan urine di renal pelvis akan mudah membentuk batu ginjal. f. Sistem Pencernaan 1. Anoreksia Akibat penurunan dari sekresi kelenjar pencernaan dan mempengaruhi sekresi kelenjar pencernaan dan mempengaruhi perubahan sekresi serta penurunan kebutuhan kalori yang menyebabkan menurunnya nafsu makan. renal pelvis ureter dan kandung kencing berada dalam keadaan sejajar. sehingga aliran urine harus melawan gaya gravitasi dan pelvis renal banyak menahan urine sehingga dapat menyebabkan : . Atropi otot Karena adanya penurunan stabilitas dari anggota gerak dan adanya penurunan fungsi persarafan. Kontraktur sendi Kombinasi dari adanya atropi dan penurunan kekuatan otot serta adanya keterbatasan gerak. Sistem integumen 20 . 3. menjadikan faeces lebih keras dan orang sulit buang air besar. 4. Osteoporosis Terjadi penurunan metabolisme kalsium. 2. demikian pula dengan pembuangan sisa metabolisme akan terganggu sehingga menjadikan kelelahan otot. g.Tertahannya urine pada ginjal akan menyebabkan berkembang biaknya kuman dan dapat menyebabkan ISK. Hal ini menurunkan persenyawaan organik dan anorganik sehingga massa tulang menipis dan tulang menjadi keropos.

 Biopsi : Mengkonfirmasikan diagnose masa benigna / maligna. kuning ( ++ ). 8. merah ( ++ + ). osteomielitis. b.  LED : Mengindikasikan respons inflamasi. pengontrolan edema sisa tungkai dengan balutan kompres lunak (rigid) dan menggunakan teknik aseptik dalam perawatan luka untuk menghindari infeksi. Pemeriksaan dilakukan dengan cara Benedict ( reduksi ). Hasil dapat dilihat melalui perubahan warna pada urine : hijau ( + ). Pemeriksaan Laboratorium  Pemeriksaan darah Pemeriksaan darah meliputi : GDS > 200 mg/dl. WOC (Terlampir) 9. Pemeriksaan Diagnostik  Foto rontgen : Mengidentifikasi abnormalitas tulang  CT-Scan : Mengidentifikasi lesi neoplastik . Percepatan penyembuhan dapat dilakukan dengan penanganan yang lembut terhadap sisa tungkai. Hb dan profil kogulasi. gula darah puasa >120 mg/dl dan dua jam post prandial > 200 mg/dl.  Kultur luka : mengidentifikasikan adanya luka atau infeksi dan organism penyebab. hyperemis dan akan normal kembali jika tekanan dihilangkan dan kulit dimasase untuk meningkatkan suplai darah. dan merah bata ( ++++ )\  Kultur pus Mengetahui jenis kuman pada luka dan memberikan antibiotik yang sesuai dengan jenis kuman. Jika hal ini dibiarkan akan terjadi ischemia. pembentukan hematoma.  Urine pemeriksaan didapatkan adanya glukosa kadar kalsium dalam urine. Tirah baring yang lama. Pemeriksaan Penunjang a. 21 . pada lansia mungkin mengalami kelembatan penyembuhan luka karena nutrisi yang buruk dan masalah kesehatan lainnya. 10. maka tubuh bagian bawah seperti punggung dan bokong akan tertekan sehingga akan menyebabkan penurunan suplai darah dan nutrisi ke jaringan. Penatalaksanaan Tujuan utama pembedahan adalah mencapai penyembuhan luka amputasi dan menghasilkan sisa tungkai (puntung) yang tidak nyeri tekan dengan kulit yang sehat .

a. Balutan lunak Balutan lunak dengan atau tanpakompresi dapat digunakan bila diperlukan inspeksi berkala sisa tungkai (puntung) sesuai kebutuhan. Luka didebridemen dan dibiarkan mengering. Gips diganti sekitar 10-14 hari. Bidai imobilisasi dapat dibalutkan pada balutan. Keuntungan menggunakan protesis sementara adalah membiasakan klien menggunakan protesis sedini mungkin. Amputasi bertahap Amputasi bertahap dilakukan bila ada gangren atau infeksi. Pertama- tama dilakukan amputasi guillotine untuk mengangkat semua jaringan nekrosis dan sepsis. temasuk defek faal. Hematoma puntung dikontrol dengan alat drainase luka untuk meminimalkan infeksi. Pada amputasi. Kadang protesis darurat baru diberikan setelah satu minggu luka sembuh. Artinya defek system musculoskeletal harus diatasi. Protesis ini bertujuan untuk mengganti bagian ekstremitas yang hilang. Protesis Kadang diberikan pada hari pertama pasca bedah sehingga latihan segera dapat dimulai. Pada ekstremitas bawah. Bila terjadi peningkatan suhu tubuh. Jika dalam beberapa hari infeksi telah terkontrol dank lien telah stabil. menyangga jaringan lunak dan mengontrol nyeri dan mencegah kontraktur. b. nyeri berat atau gips mulai longgar harus segara diganti. Hati-hati jangan sampai menjerat pembuluh darah. Kaoskaki steril dipasang pada sisi steril dan bantalan dipasang pada daerah peka tekanan. Sisa tungkai (punting) kemudian dibalut dengan gips elastic yang ketika mengeras akan memberikan tekanan yang merata. Balutan rigid tertutup Balutan rigid adalah balutan yang menggunakan plaster of paris yang dipasang waktu dikamar operasi. untuk penyakit pembuluh darah proteis sementara diberikan setelah 4 minggu. Sebaliknya untuk ekstremitas atas tujuan itu 22 . Balutan ini sering digunakan untuk mendapatkan kompresi yang merata. dilakukan amputasi definitife dengan penutupan kulit. d. Pada waktu memasang balutan ini harus direncanakan apakah penderita harus imobilisasi atau tidak dan pemasangan dilengkapi tempat memasang ekstensi prosthesis sementara (pylon) dan kaki buatan. tujuan protesis ini sebagian besar dapat dicapai. c.

Tujuan dari tahap ini adalah melatih pasien agar dapat hidup dengan anggota tubuh yang telah hilang. Tahap pasca operasi atau setelah operasi Pada tahap ini. Dokter juga akan memberikan dukungan kepada pasien. Jika bagian tubuh yang diamputasi adalah kaki pasien. bahkan dengan tangan miolektrik canggih yang bekerja atas sinyal miolektrik dari otot biseps dan triseps. Pasien juga dianjurkan untuk berbicara dengan ahli bagian tubuh palus untuk mempelajari berbagai jenis prostesis yang merupakan bidang keahliannya. pada kasus darurat. Penting untuk dicatat bahwa 23 . pasien amputasi sudah cukup sembuh dan mampu meninggalkan rumah sakit. Cara Kerja Perawatan Pasien Amputasi a. Tahap ini juga melibatkan penanganan nyeri dan dukungan kepada pasien untuk dapat bergerak kembali sehingga mempercepat proses pemulihannya. Meskipun pasien amputasi telah meninggalkan rumah sakit. Tujuan dari tahap ini adalah untuk menyembuhkan luka yang disebabkan oleh operasi. sehingga tidak muncul memar dan bengkak serta mengurangi kemungkinan resiko infeksi. untuk memutuskan rencana operasi dan memberitahu efek dari operasi. pasien dapat melakukan terapi kompres. Namun. Untuk menyembuhkan daerah bekas amputasi. Tujuan dari tahap ini adalah agar pasien dapat mengajukan pertanyaan dan membiasakan diri dengan tindakan yang akan dilakukan. c. melalui terapi dan rehabilitasi yang dibutuhkan pasien selama fase pemulihan. pasien juga akan dilatih untuk menggunakan kursi roda. dimulai dengan membersihkan daerah anggota badan bekas amputasi. b. Dokter akan merawat luka. pasien menginap di rumah sakit setelah operasi selama 5-14 hari. Tahap perawatan pasca akut rumah sakit atau rehabilitasi awal Dalam tahap ini. tahap ini dilewati karena pasien tidak dalam keadaan sehat dan sadar untuk mendiskusikan pilihannya. Tahap pra operasi atau sebelum operasi Tahap ini adalah tahap di mana dokter dan pasien berdiskusi untuk merencanakan operasi amputasi pasien. sulit dicapai. Dokter akan melakukan pemeriksaan. yaitu penggunaan krim perawatan kulit dan latihan untuk membuat tubuh dapat menopang berat dari prostesis yang akan dipasang nantinya. luka dari bekas luka membutuhkan waktu 3-4 minggu untuk menutup dan bahkan luka dalam membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sembuh.

setidaknya setalah satu tahun penggunaannya. pasien amputasi telah menjadi lebih kuat fisik dan kesehatannya dan telah siap untuk mendapatkan bagian tubuh palsu. Tahap ini biasanya dilakukan 4-6 bulan setelah operasi meskipun beberapa prostesis dapat dipasang lebih dulu. Kembalinya pasien ke masyarakat juga menjadi tujuan dari tahap ini sehingga pasien dapat meraih hidupnya dan kembali hidup mandiri. dokter akan menjelaskan informasi mengenai prostesis kepada pasien. pasien amputasi telah dapat menggerakan ototnya dengan tepat dan menghubungkannya dengan kaki palsunya. e. Pada tahap ini. pasien mungkin sudah menggunakan prostesis permanen. Namun. Tahap menstabilkan diri Tahap ini adalah tahap terakhir dalam proses pemulihan. pengelolaannya. Dalam tahap ini. kesehatan daerah tubuh bekas amputasi juga perlu diperhatikan karena akan menahan tekanan dan menanggung stres dari daerah bekas amputasi d. pasien akan dilatih bagaimana menggunakan prostesis untuk berjalan dengan baik tanpa menekannya secara berlebihan pada bagian tubuh lainnya. prostesis mungkin masih perlu disesuaikan secara berkala setelah pasien keluar dari rumah sakit. 24 . Tahap pemulihan atau pemasangan bagian tubuh palsu (prostesis) dan rehabilitasi Tahap rehabilitasi dimulai dari tahap ini. Pada titik ini. Pada saat ini. perawatan serta cara adaptasi dengan alat tersebut. Pasien amputasi dapat menerima satu atau lebih dari satu prostesis sementara hingga tubuhnya menyesuaikan diri dengan berat serta tekanan alat tersebut. Ketika memasang prostesis kaki.

suku/bangsa. penurunan berat badan. 4. Riwayat Kesehatan Sekarang Biasanya ditemukan klien kehilangan anggota gerak (ektremitas atas atau bawah). rasa nyeri dan gangguan neurosensori. diagnosa medis. alamat. stressing yang membuat perasaan klien tidak nyaman. nomor MR. c. Biodata Meliputi nama. sedih dan harga diri rendah (self esteem) dan diikuti proses kehilangan. 2. dermatitis pada tempat tekanan ditemukan kista (epidermal atau aterom). b. Riwayat Kesehatan Keluarga Biasanya tidak adanya penyakit turunan dari keluarga 3. jenis kelamin. cara masuk RS. gangguan sirkulasi. umur. anoreksia. nyeri pada bagian yang diamputasi. Pola persepsi dan penanganan kesehatan Biasanya menimbulkan persepsi yang negatif terhadap dirinya dan kecenderungan untuk tidak mematuhi prosedur pengobatan dan perawatan yang lama. terjadi folikulitis dan furunkulitis. Riwayat Kesehatan a. BAB II ASKEP TEORITIS A. busitis (terbentuk bursa tekanan antara penonjolan tulang dan kulit). pekerjaan. pendidikan. Pola nutrisi/Metabolisme Biasanya nafsu makan klien menurun. 25 . Riwayat Kesehatan Utama Biasanya keterbatasan aktivitas. agama. dan penggunaan diuretik. tanggal masuk. tanggal pengkajian. d. dll. Riwayat kesehatan dahulu Biasanya klien pernah mengalami kecelakan dan penyakit diabetes melitus. PENGKAJIAN 1.

amenorea. suasana yang membahagiakan klien. Pola Aktivitas/Latihan Biasanya klien tidak mampu melaksanakan aktivitas sehari-hari secara maksimal. malaise yang ditandai dengan kelemahan otot. infertilitas. Pola Seksualitas/reproduksi Biasanya terjadi gangguan potensi seksual. Pola Kognitif – Persepsi Biasanya terjadi perubahan persepsi dan tata laksana hidup sehat karena kurangnya pengetahuan tentang dampak amputasi sehingga menimbulkan persepsi yang negatif terhadap dirinya dan kecenderungan untuk tidak mematuhi prosedur pengobatan dan perawatan yang lama. sering terbangun dimalam hari dan kadang klien ada yang mengalami susah tidur.5. kelemahan. oleh karena itu perlu adanya penjelasan yang benar dan mudah dimengerti pasien. Pola keyakinan nilai 26 . gangguan kualitas maupun ereksi. 6. serta memberi dampak pada proses ejakulasi serta orgasme seperti penurunan libido.Bagaimana ekspresi hati dan perasaan klien. Pola Eliminasi Bisanya pola BAB dan BAK klien normal sesuai dengan kebiasaannya. penurunan rentang. tingkah laku yang menonjol. 13. 8. Pola Koping – Toleransi Stres Biasanya klien selama perawatan diberi obat penghilang stress dan mendapat sistem pendukung dari keluarga untuk menghindari stres dan emosi dalam kesehariannya. Pola Peran Hubungan Biasanya ditemukan kesulitan menentukan kondisi. 12. Pola Istirahat Tidur Biasanya waktu tidur lebih awal. Seperti kelelahan ektremitas. 9. misalnya tidak mampu bekerja. mempertahankan fungsi peran 10. Pola persepsi diri / konsep diri Biasanya klien merasa tidak percaya diri dan memiliki harga diri rendah terhadap hilangnya anggota gerak (amputasi). kehilangan tonus. 11. 7. stressing yang membuat perasaan klien tidak nyaman.

 Palpasi : Tidak ada kelainan  Perkusi : Tidak adanya gas. Abdomen  Inspeksi : Normal. Kepala  Inspeksi :Kulit kepala kering. Hidung dan sinus-sinus  Inspeksi : Normal  Palpasi : Tidak ditemukan kelainan e. irama nafas teratur h. Biasanya ada perubahan status kesehatan dan penurunan fungsi tubuh serta amputasi dapat menghambat klien dalam melaksanakan ibadah maupun mempengaruhi pola ibadah klien. atau masa di dalam abdomen. d. cairan. Sistem Kardiovaskuler  Inspeksi : Ketidaknormalan denyut atau dorongan  Palpasi : Tidak ada pulsasi  Perkusi : Dada sonor/normal  Auskultasi : - i. Telinga  Inspeksi : tidak ada lesi dan turgor kulit baik  Palpasi : tidak ada kelainan. j. 14. Pemeriksaan Fisik a. 27 . rambut rontok  Palpasi :Tidak ada nyeri tekan dan oedema b. Pengkajian Alat Kelamin  Alat Kelamin Pria  Inspeksi : Tidak ada kelainan  Palpasi : Nyeri tekan tidak ada. dan epididimis lunak  Alat Kelamin Wanita  Inspeksi : Tidak ada kelainan  Palpasi : Tidak adanya nyeri tekan pada vagina. Mata  Inspeksi : Keadaan mata secara umum normal  Palpasi : Tekanan bola mata normal.  Auskultasi : Bising usus (peristaltic). nyeri tekan tidak ada c. Leher  Inspeksi : Turgor kulit baik. Mulut dan Faring  Inspeksi : Normal  Palpasi : Tidak ditemukan kelainan f. Dada dan Paru-Paru  Inspeksi : Normal  Palpasi : Tidak ada krepitasi  Perkusi : Normal/sonor  Auskultasi : Suara nafas vesikuler. tidak ada kelenjar tiroid  Palpasi : Normal g.

k. b. kuning ( ++ ). pembentukan hematoma. dan merah bata ( ++++ )\  Kultur pus Mengetahui jenis kuman pada luka dan memberikan antibiotik yang sesuai dengan jenis kuman. Latihan penguatan kedua anggota gerak atas dan anggota gerak bawah yang sehat.  Biopsi : Mengkonfirmasikan diagnose masa benigna / maligna. Hasil dapat dilihat melalui perubahan warna pada urine : hijau ( + ).  Kultur luka : mengidentifikasikan adanya luka atau infeksi dan organism penyebab. Sistem Muskuloskeletal (Otot.  Tulang  Inspeksi : Normal  Palpasi : Tidak ada nyeri tekan o. kelemahan (flaksiditas). Hb dan profil kogulasi. Latihan ini berguna untuk mencegah 28 . 15.  Urine pemeriksaan didapatkan adanya glukosa kadar kalsium dalam urine. osteomielitis. Pemeriksaan dilakukan dengan cara Benedict ( reduksi ). Terapi a. Pemeriksaan Penunjang a. Tulang dan Persendian)  Otot  Inspeksi :-  Palpasi : Tonus otot menurun. gula darah puasa >120 mg/dl dan dua jam post prandial > 200 mg/dl. merah ( ++ + ).  LED : Mengindikasikan respons inflamasi. Pemeriksaan Diagnostik  Foto rontgen : Mengidentifikasi abnormalitas tulang  CT-Scan : Mengidentifikasi lesi neoplastik . Persendian  Inspeksi :-  Palpasi : Tidak ada nyeri tekan dan krepitasi. Mengguanakn teknik manual resisted dengan repetisi 5 – 10 kali setiap gerakan dan dikerjakan 1 atau 2 kali sehari dengan intensitas submaksimal atau sesuai dengan toleransi pasien. Pemeriksaan Laboratorium  Pemeriksaan darah Pemeriksaan darah meliputi : GDS > 200 mg/dl. 16.

Latihan ini adalah latihan awal untuk berjalan. Latihan penguatan pada stump dapat menggunakan tehnik manual resisted dengan repetisi 5 – 10 kali setiap gerakan dan dikerjakan 1 atau 2 kali sehari dengan intensitas tahanan submaksimal atau sesuai toleransi pasien. b. Latihan berjalan di parallel bars Pada masa awal pasien dapat berjalan dalam parallel bars. Latihan berjalan dengan kruk Sesuai dengan kruk dan tinggi badan. b. B. Latihan pada stump ini bertujuan agar tidak terjadi kontraktur. Post Operasi 29 . dan atropi pada otot – otot stump serta membantu mempertahankan serta meningkatkan peredaran darah pada stump. untuk latihan keseimbangan. latihan penguatan dan peregangan. bukan pada ketiak. Latihan pada stump Meliputi latihan luas gerak sendi. dan postur tubuh saat berjalan menggunakan alat bantu jalan. Tekanan atau tumpuan berat badan saat menggunakan lengan. mempertahankan panggul pada posisi netral dan meluruskan lututnya. c. Pasien diminta unuk mempertahankan posisi tegak sementara ia mengayunkan tubuhnya kedepan dan kebelakang. bagian atas kruk harus satu sampai dua inchi di bawah ketiak sehingga tidak tersandunfg dengan kruk tersebut dan untuk menjaga keseimbangan. DIAGNOSA KEPERAWATAN a. komplikasi sekunder seperti keterbatasan luas gerak sendi dan kelemahan otot agar nantinya dapat digunakan sebagai penyangga saat menggunakan kruk. kelemahan otot. d. Dalam melakukan latihan – latihan tersebut penderita dapat melakukan secara individu ataupun dengan bantuan dari terapis. Siku menekuk 150 ketika memegang kruk. Pre Operasi  Nyeri akut berhubungan dengan cidera fisik atau jaringan dan trauma saraf  Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan fungsi otot dan pergerakan akibat gangren  Kecemasan berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kegiatan perioperatif  Berduka yang antisipasi (anticipated griefing) berhubungan dengan kehilangan akibat amputasi.

 Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyaman.  Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri. PEMBERIAN ANALGESIK Aktifitas keperawatan :  Menentukan lokasi . karakteristik.  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi. dan 30 . dan factor presipitasi. INTERVENSI KEPERAWATAN a. frekuensi . Pre Operasi N DIAGNOSA NOC NIC o KEPERAWATAN 1.  Gangguan rasa nyaman : Nyeri akut berhubungan dengan insisi bedah sekunder terhadap amputasi  Resiko infeksi berhubungan dengan terjadinya iritasi  Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan otot akibat tirah baring lama post amputasi  Gangguan citra tubuh berhubungan dengan hilangnya salah satu anggota badan akibat amputasi  Kepedihan kronis berhubungan dengan hilangnya organ ekstremitas C. mutu.  Berikan analgesic untuk mengurangi nyeri. Nyeri akut berhubungan Kriteria Hasil : Manajemen Nyeri dengan cidera fisik atau  Mampu mengontrol nyeri Aktifitas Keperawatan :  Melaporkan bahwa nyeri  Lakukan pengkajian nyeri jaringan dan trauma saraf berkurang secara komprehensif  Mampu mengenali nyeri termasuk lokasi .  Kurangi factor presipitasi nyeri. setelah nyeri berkurang. durasi . kualitas .  Menyatakan rasa nyaman karakteristik .  Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau  Control lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri.

 Utamakan pemberian secara IV dibanding IM sebagai lokasi penyuntikan. dosis. serta melibatkan pasien dalam pemilihan tersebut  Tentukan jenis analgesik yang digunakan (narkotik. dan frekuensi yang ditentukan analgesik  Cek riwayat alergi obat  Mengevaluasi kemampuan pasien dalam pemilihan obat penghilang sakit. intensitas nyeri sebelum mengobati pasien  Periksa order/pesanan medis untuk obat.  Tentukan analgesik yang cocok. rute. rute pemberian dan dosis optimal. dan dosis. menurut agen protokol  Monitor TTV sebelum dan sesudah pemberian obat narkotik dengan dosis pertama atau jika ada catatan luar biasa. non narkotik atau NSAID) berdasarkan tipe dan tingkat nyeri.  Memberikan perawatan yang dibutuhkan dan aktifitas lain 31 . jika mungkin  Hindari pemberian narkotik dan obat terlarang lainnya.

yang memberikan efek relaksasi sebagai respon dari analgesi  Cek pemberian analgesik selama 24 jam untuk mencegah terjadinya puncak nyeri tanpa rasa sakit.  Berikan alat bantu jika diperlukan. terutama dengan nyeri yang menjengkelkan  Set harapan positif mengenai efektivitas obat analgesic untuk mengoptimalkan respons pasien  Mengurus analgesik atau pengobatan ketika memerlukan tindakan tanpa rasa sakit. 3. 2.  Ajarkan klien atau tenaga kesehatan lain tentang teknik ambulasi.  Kaji kemampuan klien dalam mobilisasi. peningkatan mobilitas  Konsutasikan dengan terapi  Memperagakan fisik. Hambatan mobilitas fisik Kriteria hasil : Contoh terapi : ambulasi berhubungan dengan  Klien meningkat dalam Aktivitas keperawatan : aktivitas fisik  Monitoring ttv sebelum atau penurunan fungsi otot dan  Mengerti tujuan dari sesudah latihan dan lihat pergerakan akibat gangren respon pasien saat latihan. Kecemasan berhubungan Kriteria Hasil : PENGURANGAN dengan kurang  Mampu mengontrol KECEMASAN kecemasan Aktivitas Keperawatan : pengetahuan tentang  Status kesehatan normal  Gunakan pendekatan yang kegiatan perioperatif 32 .  Bantu klien untuk menggunakan tongkat. penggunaan alat.

Kaji ketidaknyamanan 33 . durasi. Gangguan rasa nyaman : Kriteria Hasil : MANAJEMEN NYERI Nyeri akut berhubungan  Nyeri hilang Aktivitas Keperawatan :  Mampu mengontrol nyeri dengan insisi bedah Lakukan penilaian nyeri sekunder terhadap secara komprehensif amputasi dimulai dari lokasi. kualitas. termasuk sensasi yang akan dirasakan selama prosedur  Temani pasien untuk mengurangi ketakutan dan meningkatkan keamanan  Berikan pijatan punggung atau pijatan leher  Berikan obat untuk mengurangi kecemasan  Beri ketenangan. b. karakteristik. Post Operasi No Diagnosa Keperawatan NOC NIC 1. frekuensi. menenangkan  Dengan jelas menyatakan harapan untuk perilaku pasien  Jelaskan semua prosedur. yang bisa menentramkan hati  Jelaskan semua prosedur termasuk apa yang akan dirasakab pasien seperti pengalaman yang akan dirasakan selama prosedur  Tetap bersama pasien untuk meningkatkan rasa aman dan ketakutan pasien berkurang. intensitas dan penyebab.

nafsu makan. kesadaran. terutama untuk pasien yang tidak bisa mengkomunikasikannya secara efektif Pastikan pasien mendapatkan perawatan dengan analgesic Gunakan komunikasi yang terapeutik agar pasien dapat menyatakan pengalamannya terhadap nyeri serta dukungan dalam merespon nyeri Pertimbangkan pengaruh budaya terhadap respon nyeri Tentukan dampak nyeri terhadap kehidupan sehari-hari (tidur. hubungan sosial. secara nonverbal. aktivitas. performance kerja dan melakukan tanggung jawab sehari-hari) Evaluasi pengalaman pasien atau keluarga terhadap nyeri kronik atau yang mengakibatkan cacat Evaluasi bersama pasien dan tenaga kesehatan lainnya dalam menilai efektifitas 34 . mood.

 Jumlah leukosit dalam dan bersih terutama batas normal. setelah digunakan oleh  Menunjukkan perilaku pasien hidup sehat. berbeden dan mencegah timbulnya lainnya) yang nyaman infeksi. pengontrolan nyeri yang pernah dilakukan 2. Resiko infeksi Kriteria hasil : PENGONTROLAN berhubungan dengan  Klien bebas dari tanda INFEKSI terjadinya iritasi dan gejala infeksi Aktivitas Keperawatan :  Menunjukkan  Ciptakan linhkungan kemampuan untuk ( alat-alat.  Gunakan alat-alat yang baru dan berbeda setiap akan melakukan tindakan keperawatan ke pasien  Isolasikan pasien yang terkena penyakit menular  Tempatkan pasien yang harus diisolasi yang sesuai dengan kondisi pasien  Batasi jumlah pengunjung sesuai kondisi pasien  Ajari klien untuk mencuci tangan sebagai gaya hidup sehat pribadi  Instruksikan klien untuk mencuci tangan yang benar sesuai dengan yang telah diajarkan  Instruksikan kepada pengunjung untuk selalu 35 .

36 .  Jaga dan lindungai area atau ruangan yang diindikasikan dan digunakan untuk tindakan invasive. operasi dan gawat darurat. mencuci tanagn sebelum dan sesudah memasuki ruangan pasien  Gunakan sabun antimikroba untuk proses cuci tangan  Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan kepada pasien  Terapkan kewaspadaan universal  Gunakan selalu handscoon sebagai salah satu ketentuan kewaspadaan universal  Gunakan baju yang bersih atau gown ketika menangani pasien infeksi  Gunakan sarung tangan yang steril. 3. jika memungkinkan  Bersihkan kulit pasien dengan pembersih antibakteri. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan Kriteria Hasil:  Ambulasi.

tindakan individu untuk mempertahankan kesejajaran tubuh yang sesuai dan untuk mencegah peregangan otot skeletal  Gerakan terkoordinasi. menggunakan langkah- kemampuan untuk langkah yang benar mempertahankan  Berpindah dari dank e keseimbangkan postur kursi atau dari kursi tubuh  Performa mekanika tubuh. kemampuan otot untuk bekerjasama secara volunteer dalam menghasilkan suatu gerakan yang terarah 37 .kelemahan otot akibat tirah baring lama post  Memperlihatkan kemampuan untuk penggunaan alat bantu berjalan dari satu tempat amputasi secara benar dengan ketempat lain secara pengawasan mandiri atau dengan alat  Klien meminta bantuan bantu untuk aktivitas mobilitas jika perlu.  Melakukan aktivitas kemampuan untuk kehidupan sehari-hari berjalan dari satu tempat secara mandiri dengan ketempat lain dengan alat bantu kursi roda  Menyangga berat badan  Berjalan dengan  Keseimbangan.  Ambulasi: kursi roda.

kemajuan dan prognosis 38 . rentang pergerakan sendi……… aktif dengan gerakan atas inisiatif sendiri  Mobilitas.  Pergerakan sendi: aktif (sebutkan sendinya). Gangguan citra tubuh  Kaji secara verbal Kriteria hasil: berhubungan dengan dan nonverbal respon hilangnya salah satu klien terhadap tubuhnya  Body image positif anggota badan akibat  Monitor frekuensi amputasi  Mampu mengkritik dirinya mengidentifikasi  Jelaskan tentang kekuatan personal pengobatan. perawatan. kemampuan untuk bergerak secara terarah dalam lingkungan sendiri dengan atau tanpa alat bantu  Fungsi skeletal. kemmapuan untuk mengubah letak tubuh secara mandiri atau dengan alat bantu. 4. kemampuan tulang untuk menyokong tubuh dan memdasilitasi pergerakan  Performa berpindah.

SARAN Sehat merupakan sebuah keadaan yang sangat berharga. 39 . Tindakan amputasi merupakan bentuk operasi dengan resiko yang cukup besar bagi klien sehingga asuhan keperawatan perioperatif harus benar-benar adekuat untuk memcapai tingkat homeostatis maksimal tubuh. sebab dengan kondisi fisik yang sehat seseorang mampu menjalankan aktifitas sehari-harinya tanpa mengalami hambatan. spiritual dan sosial dalam proporsi yang cukup besar ke seluruh aspek tersebut perlu benar-benar diperhatikan sebaik-baiknya.Maka menjaga kesehatan seluruh organ yang berada didalam tubuh menjadi sangat penting mengingat betapa berpengaruhnya sistem organ tersebut terhadap kelangsungan hidup serta aktifitas seseorang. Manajemen keperawatan harus benar-benar ditegagkkan untuk membantu klien mencapai tingkat optimal dalam menghadapi perubahan fisik dan psikologis akibat amputas B. penyakit  Mendiskripsikan  Dorong klien secara faktual mengungkapkan perubahan fungsi tubuh perasaannya  Mempertahankan  Identifikasi arti interaksi sosial pengurangan melalui pemakaian alat bantu  Fasilitasi kontak dengan individu lain dalam kelompok kecil BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Asuhan keperawatan pada klien yang mengalami amputasi merupakan bentuk asuhan kompleks yang melibatkan aspek biologis.

At a Glace Medicine. 2002. Makasar: Bintang Lamumpatue http://ekokedapkedip. Numa. (2008). 2005. Pengantar Ilmu BedahOrtopedi.co.id/2013/11/askep-tn-f-dengan-post-op- amputasi. A. Jakarta: EGC Nanda. Patofisiologi: Konse klinis Proses-proses penyakit.html 40 . 2011. Chairudin. 2003. Jakarta: EGC Ningsih. Jakarta: Salemba Medika Price & wilson. Buku Saku Gangguan Muskuloskeletal : Aplikasi pada Praktik KlinikKeperawatan. 2005. Jakarta: EGC Rasyad.blogspot. Jakarta : EGC Davey. Diagnosis Keperawatan Defenisi &Klasifikasi 2012. Pattrick. DAFTAR PUSTAKA Brunner & suddarth. 2009Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gnagguan Sistem Muskuloskeletal. Internasional. Jakarta : Erlangga Muttaqin. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah .