You are on page 1of 9

REVALUASI ASET TETAP

A. Revaluasi aset berdasarkan standar akuntansi keuangan no 16 (revisi 2011)

Pernyataan standar akuntansi keuangan pada IFRS menggunakan basis


revaluasi dan nilai wajar dalam menilai aset meliputi IAS 16 tentang property, planet
and equipment, IAS 38 tentang intangible asset, IAS 40 tentang investment property
dan IAS 41 tentang agriculture perlu diperhatikan bahwa nilai wajar tidak hanya pada
standar akuntansi dalam keuangan tersebut tetapi juga pada standar lainnya.
Perspektif revaluasi aset dalam peraturan menteri keuangan tersebut hanya
mengatur revaluasi yang mengakibatkan penambahan nilai aset tetap yang selanjutnya
diakui sebagai penghasilan yang dikenal pajak penghasilan.

B. Revaluasi aset berdasarkan undang-undang perpajakan


Pasal 19 undang-undang pajak penghasilan bahwa dengan pertimbangan
adanya perkembangan harga yang mencolok atau adanya perubahan kebijakan
dibidang moneter yang dapat menyebabkan kekurangan keserasian antara biaya dan
penghasilan yang dapat berakibat adanya beban pajak yang kurang wajar.
Undang-undang selanjutnya memberikan kewenangan kepada menteri
keuangan untuk mengatur dalam pasal 19:
1. Ayat (1) Menteri keuangan berwenang menetapkan peraturan tentang
penilaian kembali aktiva (istilah yang digunakan dalam undang-undang pajak
penghasilan) dan faktor penyesuaian apabila terjadi ketidaksesuaian antara
unsur-unsur biaya dengan penghasilan karena perkembangan harga.
2. Ayat (2) Mengatur akibat revaluasi yaitu atas selisih lebih aktiva diakui
sebagai penghasilan dan dikenal dengan peraturan menteri keuangan
sepanjang tidak melebihi tarif pajak tertinggi sebagaimana dimaksud dalam
pasal 17 ayat (1) undang-undang Pph.

Dari pasal 17 ayat (1) undang-undang pajak penghasilan bahwa tarif tertinggi
untuk wajib pajak orang pribadi sebesar 30% sedangkan untuk wajib pajak badan
sebesar 28% dan sejak tahun 2010 tarif pajak PPh Badan diturunkan menjadi 25%.
Perbedaan yang paling mendasar dalam melakukan penilaian kembali
berdasarkan peraturan menteri keuangan No.79 Tahun 2008. Peraturan Menteri
Keuangan lebih ditujukan untuk penilaian kembali yang mengakibatkan
bertambahnya nilai aset tetap bukan diartikan sebagai penurunan Nilai aset tetap.
Pengaruh perbedaan Ketentuan Penilaian Kembali terhadap Pajak Tangguhan

C. Wajib pajak yang dapat mengajukan revaluasi aset tetap


Wajib pajak yang dapat melakukan dan mengajukan permohonan revaluasi :
1. wajib pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap (BUT) yang selanjutnya
disebut perusahaan, dapat melakukan penilaian kembali aset tetap perusahaan
untuk tujuan perpajakan, dengan syarat telah memenuhi semua kewajiban
pajaknya sampai dengan masa pajak terakhir sebelum masa pajak dilakukannya
penilaian kembali.
2. Wajib pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap tidak termasuk wajib
pajak yang memperoleh izin menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa inggris
dan mata uang dolar Amerika Serikat.

D. Aset tetap yang dapat dinilai kembali


Aset tetap perusahaan yang dapat dinilai kembali adalah aset tetap berwujud
yang terletak atau berada di Indonesia yang dimiliki dan dipergunakan untuk
mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang merupakan objek pajak.
Peniaian kembali dapat meliputi seluruh atau sebagian aset tetap perusahaan termasuk
aset tetap perusahaan yang sudah dilakukan penilaian kembali berdasarkan ketentuan
yang berlaku sebelumnya dan dilakukan paling banyak satu kali dalam tahun buku
yang sama.

E. Nilai Pasar atau Nilai Wajar


Penilaian kembali aset tetap perusahaan harus dilakukan berdasarkan nilai
pasar atau nilai wajar aset tetap tersebut yang berlaku pada saat penilaian kembali
yang ditetapkan oleh perusahaan jasa atau ahli penilai yang diakui/memperoleh izin
pemerintah.
Nilai pasar atau nilai wajar yang ditetapkan oleh perusahaan jasa penilai atau
ahli penilai yang diakui oleh pemerintah ternyata kemudian tidak mencerminkan
keadaan yang sebenarnya, maka Direktur Jenderal Pajak akan menetapkan kembali
nilai pasar atau nilai wajar aset bersangkutan.
F. Perhitungan pajak penghasilan atas selisih penilaian kembali
Selisih lebih penilaian kembali di atas nilai sisa buku fiskal semula dikenakan
pajak penghasilan yang bersifat final sebesar 10%. Apabila wajib pajak tidak
memungkinkan untuk melunasi sekaligus pajak penghasilan yang terutang atas selisih
lebih penilaian kembali dapat mengajukan permohonan pembayaran secara angsuran
paling lama 12 bulan sesuai ketentuan pasal 9 ayat (4) Undang-Undang ketentuan
umum dan tata cara perpajakan.
Dalam halnya besarnya pajak penghasilan yang terutang lebih dari
Rp.2.000.000.000.000,00 (dua triliun rupiah), wajib pajak dapat mengajukan
permohonan pembayaran secara angsuran.
Besarnya angsuran yang ditetapkan secara prorata setiap tahun sesuai dengan
lamanya masa angsuran yang diatur:

Keterlambatan pembayaran pajak dikenakan sanksi administrasi berupa bunga


sesuai ketentuan yang diatur dalam undang-undang ketentuan umum dan tata cara
perpajakan beserta peraturan pelaksanaan. Permohonan pembayaran secara angsuran
kepada kepala kantor wilayah dengan menggunakan formulir yang telah ditetapkan
bersamaan dengan pengajuan permohonan persetujuan penilaian kembali aset tetap
perusahaan, menggunakan formulir sesuai keputusan Direktur Jenderal Pajak
bersamaan dengan penerbitan keputusan persetujuan atau penolakan Direktur Jenderal
Pajak.

G. Permohonan penilaian kembali


Wajib pajak yang melakukan penilaian kembali aset tetap perusahaan untuk
tujuan perpajakan wajib mendapatkan persetujuan Direktur Jenderal Pajak dengan
memngajukan permohonan kepada Kepala Kantor Wilayah paling lambat 30 hari
kerja setelah tanggal dilakukannya penilaian kembali aset tetap dengan melampirkan
lampiran sebagai berikut :
1. Fotokopi surat izin usaha jasa penilai yang dilegalisir oleh instansi pemerintah
yang berwenang menerbitkan surat izin usaha tersebut.
2. Laporan penilaian perusahaan jasa penilai atau ahli penilai profesional yang
diakui pemerintah.
3. Daftar penilaian kembali aset tetap perusahaan untuk tujuan perpajakan.
4. Laporan keuangan tahun buku terakhir sebelum penilaian kembali aset tetap
yang telah diaudit akuntan publik.
5. Surat keterangan tidak mempunyai tunggakan pajak dari Kepala Kantor
Pelayanan Pajak tempat wajib pajak terdaftar.

H. Dasar Penyusutan Aset Tetap


Dasar penyusutan fiskal aset tetap :
1. Perusahaan yang telah memperoleh persetujuan kembali yaitu mulai bulan
dilakukannya penilaian kembali adalah nilai sisa buku fiskal baru.
2. Perusahaan yang tidak memperoleh persetujuan penilaian kembali
menggunakan dasar penyusutan fiskal dan sisa masa manfaat fiskal semula
sebelum dilakukannya penilaian kembali.
Aset tetap perusahaan kelompok bangunan dan bukan bangunan yang
penyusutannya menggunakan metode garis lurus merupakan nilai perolehan fiskal
baru aset tetap perusahaan tersebut pada tanggal penilaian kembali. Dasar penyusutan
fiskal dan sisa masa manfaat fiskal aset tetap perusahaan untuk menghitung
penyusutan dalam bagian tahun pajak sampai dengan bulan sebelum bulan
dilakukannya penialaian kembali adalah dasar penyusutan fiskal dan sisa masa
manfaat fiskal pada awal tahun pajak yang bersangkutan dan penyusutan fiskal
dihitung secara prorata sesuai dengan banyaknya bulan dalam bagian tahun pajak.
I. Batas waktu pembayaran
Pajak penghasilan final yang terutang atas selisih lebih penilaian kembali aset
tetap perusahaan harus dibayar lunas ke kas negara dengan menggunakan surat
setoran pajak (SSP) paling lambat 15 (lima belas) hari kerja setelah tanggal
diterbitkannya keputusan persetujuan Direktur Jenderal Pajak atau paling lambat pada
tanggal jatuh tempo setiap angsuran pembayaran dalam hal wajib pajak memperoleh
keputusan persetujuan kepala kantor wilayah atau keputusan persetujuan Direktur
jenderal pajak.
Atas keterlambatan pembayaran dan atas angsuran pembayaran pajak
dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sesuai ketentuan umum Undang-Undang
ketentuan umum dan Tata Cara perpajakan.

J. Wajib pajak melakukan pengalihan


Sanksi tambahan PPh Final sebesar 20% karena melakukan pengalihan aset
tetap tersebut harus dibayar lunas ke kas negara paling lambat 15 hari kerja setelah
akhir bulan terjadinya pengalihan aset tetap.
Sebagai unsur pengecualian dari ketentuan di atas dalam hal :
1. Pengalihan aset tetap perusahaan yang bersifat force majeur berdasarkan
keputusan atau kebijakan pemerintah atau keputusan pengadilan
2. Pengalihan aset tetap perusahaan dalam rangka memenuhi persyaratan
penggabungan,peleburan,atau pemekaran usaha untuk tujuan perpajakan
3. Penarikan aset tetap perusahaan dari penggunaan karena mengalami kerusakan
berat yang tidak dapat diperbaiki lagi

K. Penyesuaian aturan dalam penilaian kembali aset tetap


Ketentuan baru tentang penilaian kembali aktiva (aset) tetap perusahaan untuk
tujuan perpajakan yaitu peraturan menteri keuangan N0 79/PMK.03/2008 berlaku
pada tanggal 23 Mei 2008, akan tetapi terhadap perusahaan yang telah mengajukan
permohonan izin penilaian kembali aset tetap perusahaan sebelumnya berlakunya
peraturan menteri keuangan ini dan atas permohonan tersebut belum diterbitkannya
surat keputusannya, diproses berdasarkan keputusan Menteri Keuangan N0.
486/KMK.03/2002.

L. Pajak penghasilan wajib pajak tertentu


Pembayaran Pajak Penghasilan untuk Wajib Pajak melakukan penilaian
kembali yang mendapat Persetujuan Khusus harus dilunasi sebelum permohonan
penilaian kembali diajukan kepada Direktorat Jenderal Pajak. Perlu mendapatkan
perhatian terhadap Wajib Pajak Perlakuan Khusus, yaitu:
1. Dalam hal hasil penilaian kembali aktiva tetap yang ditetapka oleh kantor jasa
penilai public atau ahli penilai, yang memperoleh izin dari pemerintah lebih besar
daripada nilai perkiraan nilai pasar atau nilai wajar yang diajukan dalam
permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b Permenkeu
No. 191/2015 tentang belum melakukan penilaian kembali aktiva tetap, atas
selisih tersebut dikenakan Pajak Penghasilan bersifat final.
2. Dalam hal hasil penilaian embali aktiva tetap yang ditetapkan oleh kantor jasa
penilai public atau ahli penilai, yang memperoleh izin dari pemerintah lebih kecil
daripada nilai perkiraan nilai pasar atau nilai wajar yang diajukan dalam
permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf Permenkeu
191ntahun 2015 tentang belum melakukan penilaian kembali aktiva tetap yang
menyebabkan terjadinya kelebihan pembayaran pajak, atas kelebihan pembayaran
pajak tersebut merupakan pajak yang seharusnya tidak terutang
3. Dalam hal Wajib Pajak yang mengajukan permohonan penilaian kembali aktiva
tetap adalah Wajib Pajak yang memperoleh izin menyelenggarakan pembukuan
dengan menggunakan bahasa inggris dan satuan mata uang Dollar AS, selisih
lebih nilai aktiva tetap yang digunakan sebagai dasar pengenaan Pajak
Penghasilan dan PPh final harus dikonversi terlebih dahulu ke dalam satuan mata
uang Rupiah dengan menggunakan kurs yang ditetapkan dalam Keputusan
Menteri Keuangan angn berlaku pada tanggal pembayaran.
4. Dalam hal Wajib Pajak tidak melakukan penilaian kembali aktiva tetap yang
ditetapkan oleh kantor jasa penilai public atau ahli penilai, yang memperolh izin
dari pemerintah, sesuai jangka waktu sebagaimana dimaksud dalamPasal 5 ayat
(4) mengenai kelengkapan dokumen, permohonan dianggap batal atas
pembayaran Pajak Penghasilan yang telah dilunasi diperlakukan sebagai pajak
yang seharusnya tidak terutang.

M. Aset yang diajukan permohonan


Penilaian kembali aset tetap perusahaan dilakukan terhadap :
1. Seluruh aset tetap berwujud, termasuk tanah yang berstatus hak milik atau hak
guna bangunan
2. Seluruh aset tetap berwujud tidak termasuk tanah
Aset tetap berwujud tersebut yang telah dilakukan penilaian kembali tidak
dapat dilakukan penilaian kembali sebelum lewat jangka waktu 5 tahun terhitung
sejak penilaian kembali terakhir.

N. Akuntansi penilaian kembali aset tetap


1. Penilaian kembali aset tetap perusahaan harus dilakukan berdasarkan nilai pasar
atau nilai wajar aset tetap tersebut yang berlaku pada saat penilaian kembali aset
tetap yang ditetapkan oleh perusahaan jasa penilai atau ahli penilai, yang
memperoleh izin dari pemerintah.
2. Nilai pasar atau nilai wajar yang ditetapkan oleh perusahaan jasa penilai atau ahli
penilai ternyata tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya, Direktur jenderal
pajak menetapkan kembali nilai pasar atau nilai wajar aset yang bersangkutan.
3. Penilaian kembali aset tetap perusahaan dilakukan dalam jangka waktu paling
lama 1 tahun sejak tanggal laporan perusahaan jasa penilai atau ahli penilai.
4. Selisih antara nilai pengalihan aset tetap perusahaan dengan nilai sisa buku fiskal
pada saat pengalihan merupakan keuntungan atau kerugian berdasarkan ketentuan
undang-undang pajak penghasilan.
5. Selisih lebih penilaian kembali aset tetap perusahaan di atas nilai sisa buku
komersial semula setelah dikurangi dengan pajak penghasilan harus dibukukan
dalam neraca komersial pada perkiraaan modal dengan nama selisih lebih
penilaian kembali aset tetap perusahaan tanggal...

O. Tarif pajak penghasilan atas penilaian kembali aset tetap


Setelah dilakukan penilaian kembali ternyata terdapat selisih lebih yaitu selisih
lebih penilaian kembali aset tetap di atas nilai sisa buku fiskla semula, dikenakan
pajak penghasilan sebesar 10% yang pengenaannya bersifat final.
Wajib pajak dapat melakukan penilaian kembali aset tetap untuk tujuan
perpajakan dengan mendapatkan perlakuan khusus dengan tariff:
1. 3% untuk permohonan yang diajukan sejak berlakunya Peraturan Mentri ini
sampai dengan tanggal 31 Desember 2015
2. 4% untuk permohonan yang diajukan sejak tanggal 1 Januari 2016 sampai
tanggal 30 Juni 2016
3. 6% untuk permohonan yang diajukan sejak tanggla 1 Jul 2016 sampai dengan
tanggal 31 Desember 2016, yang dikenakan atas selisih lebih nilai aktiva tetap
hasil penilaian kembali atau hasil perkiraan penilaian kembali oleh Wajib
Pajak, di atas nilai sisa buku fiskal semula.

P. Dasar penyusutan dalam hal dilakukan penilaian kembali aset tetap


1. Dasar penyusutan fiskal aset tetap yang telah memperoleh persetujuan penilaian
kembali adalah nilai pada saat penilaian kembali aktiva tetap
2. Masa manfaat fiskal aset tetap yang telah dilakukan penilaian kembali aset tetap
perusahaan disesuaikan kembali menjadi masa manfaat penuh untuk kelompok
aset tersebut.
3. Perhitungan penyusutan dimulai sejak 1 Januari 2016
4. Bagi Wajib Pajak yang pada saat permohonan memenuhi ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5 (1) huruf a angka 2 atau memnuhi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 (1) huruf b dan pada tahun 2016 atau 2017 telah melakukan
penilaian kembali aktiva tetap yang dilakukan oleh kantor jasa penilai public atau
ahli penilai, yang memperoleh izin dari pemerintah, serta telah memperoleh
keputusan persetujuan penilaian kembali aktiva tetap sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 (6), ketentuan penyusutan fiskal aktiva tetap adalah sebagai berikut:
a. Dasar penyusutan fiskal aset tetap adalah nilai pada saat penilaian
kembaliaktiva tetap
b. Masa manfaat fiskal aset tetap disesuaikan kembali menjadi masa manfaat
penuh untuk kelompok aktiva tetap tersebut
c. Perhitungan penyusutan dihitung sejak bulan dilakukannya penilaian kembali
aktiva tetap

Q. Pengenaan tambahan pajak penghasilan


Apabila terjadi selisih lebih penilaian kembali di atas nilai sisa buku fiskal
semula, maka dikenakan tambahan pajak penghasilan yang bersifat final dengan tarif
sebesar tarif tertinggi pajak penghasilan wajib pajak badan dalam negeri yang berlaku
pada saat penilaian kembali dikurangi dengan 10%. Hal tersebut dikenakannya, dalam
hal perusahaan melakukan pengahilan aset tetap berupa:
1. Aset tetap kelompok 1 (satu) dan kelompok 2 (dua) yang telah memperoleh
persetujuan penilaian kembali sebelum berakhirnya masa manfaat yang baru
dimaksud dalam butir 2 dasar penyusutan
2. Aset tetap kelompok 3, kelompok 4, bangunan dan tanah telah memperoleh
persetujuan penilaian kembali sebelum lewat jangka waktu 10 tahun.
Ketentuan tersebut di atas tidak berlaku bagi:
1. Pengalihan aset tetap perusahaan yang bersifat force majeur berdasarkan
keputusan atau kebijakan pemerintah atau keputusan pengadilan.
2. Pengalihan aset tetap perusahaan dalam rangka penggabungan, peleburan, atau
pemekaran usaha yang mendapat persetujuan
3. Penarikan aset tetap perusahaan dari penggunaan karena mengalami kerusakan
berat yang tidak dapat diperbaiki lagi

R. Wajib Pajak kategori khusus


Wajib pajak yang dimaksus, yaitu Wajib Pajak yang meliputi Wajib Paja dalam
negeri, Bentuk Usaha Tetap, dan wajib pajak orang pribadi yang melakukan
pembukuan termasuk:
1. Wajib Pajak yang memperoleh izin menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa
Inggris dan mata uang Dollar AS
2. Wajib Pajak pada saat penetapan penilaian kembali nilai aktiva tetap oleh kantor
jasa penilai public atau ahli penilai, yang memperoleh izin dari pemerintah.

S. Ketentuan penilaian kembali bagi BUMN/BUMD


Dalam hal pihak yang melakukan penilaian kembali aktiva tetap untuk tujuan
perpajakan dilakukan oleh BUMN atau BUMD, penetapan nilai aktiva tetap hasil
penilaian kembali dapat dilkukan oleh Penilai Pemerintah di lingkungan Direktorat
Jenderal Kekayaan Negara.