You are on page 1of 9

Filipina Sebagai Negara Berkembang

Negara berkembang adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan dan


mengkategorikan negara-negara di dunia yang memiliki standar hidup relatif rendah, sektor
industri yang kurang berkembang, skor Indeks Pembangunan Manusia atau Human
Development Index (HDI) berada pada tingkat menengah ke bawah, serta rendahnya
pendapatan perkapita. Tidak ada definisi tetap negara berkembang yang diakui secara
internasional, namun beberapa organisasi internasional, seperti World Bank dan UNDP
memiliki klasifikasi sendiri untuk mengelompokkan negara maju dan negara berkembang.

Berikut ini adalah ciri-ciri negara berkembang menurut pendapat Daedjoeni dan M.
Todaro dan JW. Svhoorl dalam bukunya yang berjudul Modernisasi :

Sebagian besar penduduk bekerja di bidang pertanian

Pendapatan per kapita rendah yaitu di bawah 10.000 US$

Tingkat pertumbuhan penduduknya tinggi yaitu di atas 2%

Tingkat pengangguran sangat tinggi dikarenakan kurangnya lapangan pekerjaan

Kualitas sumber daya manusianya rendah, sehinga penguasaan ilmu dan teknologi
terhambat

Pendidikan formal dan non formal kurang memadai

Ketergantungan terhadap negara maju sangat tinggi

Mayoritas penduduk (>70%) tinggal di pedesaan

Berdasarkan beberapa penjelasan awal diatas maka negara Filipina dapat dikategorikan
sebagai negara berkembang. Filipina merupakan sebuah negara kepulauan yang terdiri dari
7.107 pulau dan terletak di Asia Tenggara. Filipina merupakan anggota dari PBB sejak
diterima pada 24 Oktober 1945. Filipina juga merupakan negara pendiri ASEAN, dan
merupakan anggota WTO, APEC, dan Gerakan Non-Blok.

Ekonomi Filipina menempati peringkat ke 40 dunia berdasarkan IMF. Menurut


Sensus 2009, Filipina mempunyai kira-kira 92,2 juta penduduk. Pertumbuhan penduduk per
tahunnya sebesar 2,1% dan sekarang Filipina sedang mengalami masalah kepadatan
penduduk karena angka kelahirannya tinggi.

Filipina terkenal dengan pertanian padi bukitnya yang memiliki luas 4.000 mil serta
secara tradisional tanpa penggunaan pupuk. Sehingga dinyatakan sebagai Warisan Dunia oleh
UNESCO pada tahun 1995. Rakyat Filipina telah mengembangkan sistem cocok tanam Padi
yang sangat maju, yang menyediakan makanan pokok bagi masyarakatnya.

Filipina menetapkan pendidikan wajib yang mesti di tempuh para siswa dan siswi di
negara itu adalah 13 tahun. Kebijakan itu diambil sebagai salah satu upaya mengurangi angka
kemiskinan. Untuk memudahkan para siswa dan siswi Filipina untuk bersaing dengan siswa
dan siswi dari negara lain di tingkat global, Bahasa Inggris menjadi bahasa utama di dunia
pendidikan di Filipina.

Nation-Building Filipina

Filipina terdiri dari 7.100 pulau yang mengelompokkan beragam etnis bahasa dan
agama. Pasca kemerdekaan, elit yang berkuasa pada saat itu terinspirasi oleh pengalaman
Amerika sehingga mereka menerapkan kebijakan asimilasi dengan sungguh-sungguh.
Pemerintah Filipina mencoba untuk mengasimilasi kelompok etnis lainnya ke satu dalam satu
bangsa; seperti membuat bahasa dan sistem pendidikan yang sama.

Dalam hal perbedaan agama Filipina bisa dikatakan tidak menghadapi masalah
yang serius, karena cenderung homogen. Lebih dari 90% dari total populasi sebenarnya
Kristen (84% adalah Katolik), dan Muslim terdiri dari hanya 4% dari populasi (Kepulauan
Sulu dan Mindanao). Selain itu, pemerintah telah menerapkan langkah-langkah rekonsiliasi
dengan Islam, seperti pembentukan Komisi Integrasi Nasional tahun 1957.

Di sisi lain, terbaginya Filipina ke berbagai kelompok bahasa, membuat komunikasi


antar kelompok menjadi sulit. Di Filipina, perbedaan dapat dianggap menjadi penghalang
yang lebih besar dalam proses nation-building.

Kelompok bahasa di Filipina (1990)


Nomor %
Bahasa Tagalog 16,910,595 27. 9
Cebuano 14,710,199 24.3
Bahasa Ilocano 5,923,842 9.8
Hiligaynon 5,647,928 9.3
Bikol 3,519,165 5.8
Waray 2,433,300 4.0
Pampango 1,897,319 3.1
Pangasina 1,164,267 1.9
Lainnya 8,339,705 13,8
Sumber: Data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (1995).

1
Manila, di Luzon, merupakan pusat politik dan ekonomi Filipina, dan bahasa yang
digunakan di daerah ini adalah Tagalog. Berdasarkan latar belakang tersebut bahasa Tagalog
dipilih sebagai bahasa nasional dengan nama Filipinodibawah pemerintahan Quezon pada
tahun 1937. Istilah Filipino digunakan untuk memperkuat kesan bahasa Nasional sebagai
bahasa Kebangsaan. (Yamamoto, 2007: 205)

Pada saat yang sama, pemerintah Filipina juga menerapkan kebijakan pendidikan
dengan menggunakan bahasa nasional. Pada awalnya pemerintah menjadikan bahasa nasional
diajarkan sebagai subjek studi. Kemudian bahasa nasional digunakan sebagai media
pengajaran untuk mata pelajaran lain melalui kebijakan Bilingual, di bawah pemerintahan
Marcos pada tahun 1973. (Yamamoto, 2007: 205)

Sebagai upaya lain dalam mempromosikan bahasa nasional, presiden Marcos juga
melakukan kebijakan migrasi. Sebagai bagian dari kebijakan pembangunan, Marcos
mewajibkan penduduk dari daerah utara, yang berbahasa Tagalog, bermigrasi ke Selatan.
Selain itu, migrasi dari kelompok Bisayans dan Mountain Province ke daerah perkotaan juga
dilakukan mempromosikan penyebaran bahasa nasional

Kemunculan Kelompok Separatis

Meningkatnya kemiskinan serta ketidaksetaraan antara antar etnis di Filipina


memunculkan gerakan separatis oleh kelompok etnis Filipina, terutama kelompok-kelompok
bangsa Moro. Mereka merasa mereka diabaikan dalam proses pembangunan dan merasa
bahwa mereka akan baik independen dari pemerintah pusat Filipina. Sejak zaman kolonial,
Muslim Filipina berjuang untuk mewujudkan harapan dan aspirasi mereka di bidang ekonomi
dan sosial. 210 Pada masa perjuangan dari kelompok tersebut, perundingan dan pertempuran
berdarah terus berlangsung hingga menewaskan setidaknya 120 ribu orang di pulau selatan
Mindanao.(Banlaoi, 2004: 211)

Pada akhirnya, ketegangan ini berhasil diatasi pada 27 Maret 2014 lalu, Filipina dan
kelompok pejuang Bangsa Moro menandatangani perjanjian damai. Sekarang, dengan adanya
perjanjian ini, pemerintah otonom bangsa Moro bisa membuat anggaran sendiri serta
memiliki kekuatan polisi sendiri. Sebuah badan transisi sudah ditempatkan di sana dengan
pemilihan lokal yang dijadwalkan pada 2016.(Banlaoi, 2004: 211)

2
Proses State Bulding

State-Building Filipina dimulai oleh Organisasi pejuang revolusi Filipina yang


bernama Katipunan saat memulai tindakan revolusinya pada Agustus 1896. Pemimpin
revolusi ini adalah AndrsBonifacio. Namun karena terjadinya perebutan kekuasaan di antara
para pejuang revolusi, AndrsBonifacio pun terbunuh dan digantikan oleh
EmilioAguinaldo.Katipunan memulai pemilihan presiden dan wakil presidennya pada 22
maret 1897 di San Francisco deMalabn, Cavite yang hanya dilakukan oleh anggota
Katipunan. Pada 1 November 1897 di Biak-na-Bato di kota San Miguel deMayumo di
Bulacan, berdirilah Republik Biak-na-Bato. Konstituisnya dirumuskan oleh IsabeloArtacho
dan Felix Ferrer.(Wikipedia, Republic of Biak-na-Bato, 2014)

Berdasarkan konstitusi tersebut, lembaga-lembaga pemerintahannya berupa

1. Dewan Tertinggi Pemerintahan, yang diberikan wewenang kekuasaan tertinggi Republik,


yang dipimpin oleh Presiden dan empat sekretaris departemen: interior, urusan luar negeri,
keuangan, dan perang.
2. Dewan Tertinggi Rahmat dan Keadilan memiliki wewenang untuk membuat keputusan
dan menegaskan atau menyangkal kalimat yang diberikan oleh pengadilan lain, dan untuk
menentukan aturan untuk administrasi peradilan.
3. Untuk Majelis Perwakilan Rakyat pada saat itu direncanakan akan diselenggarakan setelah
revolusi untuk membuat konstitusi baru dan memilih pengurus Dewan baru dari
Pemerintah dan Perwakilan rakyat.(Wikipilipinas, 2009)

Setelah Proklamasi kemerdekaan dilakukan oleh EmilioAguinaldo pada 12 Juni 1898,


Kongres Malolos (Majelis Nasional) kemudian dibentuk pada 15 September 1898
berdasarkan hasil pemilu yang diadakan pada tanggal 23 Juni sampai 10 September 1898.
Kegiatan Majelis ini dilakukan di Katedral Malolos. Pada tahun 1899, Konstitusi pun selesai
dirumuskan dan diproklamasikan pada 22 Januari 1899 dan EmilioAguinaldo pun menjadi
presidennya.

Berdasarkan konstitusi tersebut. Kekuasaan dibagi menjadi tiga yaitu legislatif


(Majelis Nasional), eksekutif (Presiden) dan yudikatif (Mahkamah Agung). Sistem
pemerintahan yang dianut adalah sistem Parlementer.

Namun Republik Filipina pertama ini berakhir setelah penangkapan dan penyerahan
EmilioAguinaldo kepada pasukan Amerika pada tanggal 23 Maret 1901 di Palanan, Isabela.

3
Filipina pun kemudian di administrasi dengan yang disebut dengan Pemerintah Insular.
Dinamai demikian karena pemerintahan di jalankan di bawah otoritas Biro Hubungan Insular
Amerika Serikat (United States Bureau of InsularAffairs). Kata insular merujuk kepada
wilayah Amerika Serikat yang terpisah. Pemerintahannya pada saat itu terdiri dari Presiden
Amerika, Kongres Amerika, Gubernur Jendral Amerika, Komisi Filipina sebagai upperhouse
dan Majelis Filipina sebagai lowerhouse.(Pforr, 2011)

Amerika Serikat Kemudian mengeluarkan Undang-Undang kemerdekaan Filipina


pada 24 Maret 1934. Undang-undang ini menciptakan pemerintahan transisi berupa
Persemakmuran untuk menyiapkan kemerdekaan penuh Filipina yang ditetapkan untuk
tanggal 4 Juli 1946.(Pforr, 2011)

Pemerintahan Persemakmuran Filipina diresmikan pada pagi hari 15 November 1935,


dalam upacara yang diselenggarakan di tangga Gedung Legislatif di Manila. Acara ini
dihadiri oleh kerumunan sekitar 300.000 orang. Sistem pemerintahan Persemakmuran
Filipina menampilkan kekuatan eksekutif yang dilaksanakan oleh Presiden, kekuatan
legislatif yang dilaksanakan oleh Majelis Nasional unikameral dan kekuatan yudisial yang
dilaksanakan oleh Mahkamah Agung.Pada tahun1939 dan 1940, Majelis Nasional pun diganti
menjadi Kongres bikameral, yang terdiri dari Senat, dan dari Dewan Perwakilan Rakyat.
(Wikipedia, Commonwealth of the Philippines, 2014)

Pada 8 Desember 1941, Jepang menginvasi Filipina. Jendral Douglas MacArthur


kabur ke Australia pada 11 Maret 1942. Para pejuang pertahanan di Semenanjung Bataan
yang terdiri dari orang Amerika dan Filipina pun menyerah pada 9 April 1942. General
MasaharuHomma membubarkan Persemakmuran Filipina dan membentuk Komisi Eksekutif
Filipina sebagai pemerintah sementara dengan Vargas sebagai ketua pertama pada Januari
1942.(Wikipedia, Commonwealth of the Philippines, 2014)

Kemudian pasukan sekutu MacArthur's kembalike Filipina di Leyte pada 20 Oktober


1944. Pasukan sekutu dan Persemakmuran Filipina yang sudah bangkit lagi, terus maju ke
Manila. Pertarungan berakhir sampai 2 September 1945 saat Jepang secara resmi menyerah.
Persemakmuran Filipina pun kemudian berakhir ketika Amerika Serikat mengakui
kemerdekaan Filipina pada 4 Juli 1946. Sistem pemerintahan masih berbentuk sama dengan
Persemakmuran Filipina.(Wikipedia, Commonwealth of the Philippines, 2014)

4
Pada 17 Januari 1973, Ferdinand Marcos mendeklarasikan Hukum Militer atas respon
dari pengeboban Plaza Miranda. Pengeboman ini padahal rencana Marcos sendiri. Namun di
media, Marcos mengatakan bahwa ini ulah Komunis. Hal ini beliau lakukan demi
memperteguh kekuasaannya. Konstitusi Republik Filipina 1973 kemudian di ratifikasi dan
mengubah sistem pemerintahan dari presidensial menjadi parlementer. Presiden bertindak
sebagai kepala negara , kekuatan eksekutif dilaksanakan oleh Perdana Menteri dengan
bantuan kabinet, dan kekuatan legislatif dipegang oleh Majelis Nasional Unikameral.
Marcosdisini menjabat sebagai Presiden sekaligus Perdana Menteri.(History of the
Philippines (196586), 2014)

Pada 22-25 Februari 1986 Revolusi Kekuatan Rakyat pun terjadi. Revolusi ini
dilakukan oleh jutaan rakyat Filipina di Metro Manila demi mengakhiri rezim otoriter
Ferdinand Marcos dan kemudian mengangkat Corazon Aquino sebagai presiden. (Wikipedia,
People Power Revolution, 2014)

Undang-undang Kebebasan kemudian di umumkan oleh presiden Aquino pada 25


maret 1986 sebagai konstitusi sementara. Dalam konstitusi ini, kekuasaan legislatif dan
eksekutif dipegang oleh Presiden dan terus berlanjut sampai para anggota legislatif
ditentukan. Setelah Lembaga legistaltif ditentukan, Filipina kembali menganut sistem
pemerintahan yang dirumuskan saat menjadi persemakmuran.

Hambatan dalam Program Pembangunan


Setelah Perang Dunia II, Filipina mengadopsi sejumlah kebijakan ekonomi
proteksionis dan anti-pasar yang mengakibatkan pembangunan terhambat. Pembangunan
jalan tak kunjung selesai dan sistem irigasi tidak pernah dibangun, dan buruknya kondisi
pelabuhan dan bandara lumpuh. Pihak yang mendapat implikasi oleh keadaan ini sebagian
besar adalah keluarga petani skala kecil. Di provinsi-provinsi di mana mereka tinggal,
sekolah tidak kunjung dibangun, hanya ada rumah sakit dengan fasilitas pelayanan kesehatan
yang buruk dengan sarana akses yang terbatas. Anggota parlemen Filipina telah mencoba
untuk menyatakan bahwa pengendalian populasi akan memecahkan masalah kemiskinan
bangsa, namun sudah banyak statistik dan studi yang membuktikan kegagalan kebijakan
tersebut. (White, 2011 )

Selain itu, budaya korupsi yang sudah mengakar juga menjadi tantangan bagi
pembangunan negara. Saat ini di Filipina telah mengalokasikan miliaran uang telah untuk

5
proyek-proyek infrastruktur, pengembangan masyarakat, dan meningkatkan kehidupan dan
kesehatan rakyat Filipina. Namun sayangnyasebagian besar dana tersebut hilang untuk suap
dan korupsi.Sejak tahun 1988 pemerintah telah kehilangan 100 juta peso per hari, atau
36.500.000.000peso(sekitar 25 miliar rupiah) per tahun. (Elliott, 2008)

Kesimpulan
Sebagai negara berkembang Filipina menghadapi banyak masalah. Sejak masa penjajahan,
sumber daya Filipina sudah dikuras oleh negara penjajah. Setelah meredeka, Filipina juga
harus menyatukan berbagai etnis untuk membentuk suatu bangsa. State buildingnya pun
mengalami berkali-kali jatuh bangun dimana setelah awal merdeka langsung di jajah Amerika
dan setelah menjadi persemakmuran mereka mereka malah diperintah oleh rezim otoriter.
Masalah tidak hanya berhenti disitu saja, juga harusmenghadapi beberapa hambatan dalam
proses pembangunannya, seperti kemiskinan dan korupsi.

6
Solusi dalam Pembangunan

Semua program pembangunan Filipina dilaksanakan oleh National Economic and


Development Authority atau yang disingkat dengan NEDA. NEDA adalah lembaga tingkat
kabinet independen dari pemerintah Filipina yang bertanggung jawab untuk pembangunan
ekonomi dan perencanaan. NEDA dipimpin oleh Presiden Filipina sebagai ketua dewan
NEDA, dengan Sekretaris Sosial Ekonomi Perencanaan, merangkap NEDA Direktur
Jenderal, sebagai wakil ketua. NEDA didirikan pada tahun 1973.

Progam NEDA untuk meningkatkan pembangunan di Filipina adalah Philippine


Development Plan 2011-2016. Philippine Development Plan 2011-2016 (PDP) mengadopsi
kerangka pertumbuhan yang inklusif, yang merupakan pertumbuhan tinggi yang
berkelanjutan, menciptakan lapangan kerja massal, dan mengurangi kemiskinan . Dengan
pemerintahan yang baik dan antikorupsi sebagai tema menyeluruh dari setiap intervensi, PDP
diterjemahkan ke dalam tujuan yang spesifik, tujuan, strategi, program dan proyek semua hal
yang ingin kita capai dalam jangka menengah .

Melalui PDP, NEDA berniat untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang cepat dan
berkelanjutan dan pembangunan, meningkatkan kualitas hidup dari Filipina, memberdayakan
masyarakat miskin dan terpinggirkan dan meningkatkan kohesi sosial bangsa Filipina.
Kerangka kebijakan pembangunan strategis PDP fokus pada peningkatan transparansi dan
akuntabilitas dalam pemerintahan, memperkuat makroekonomi, meningkatkan daya saing
industri kita, memfasilitasi pembangunan infrastruktur, penguatan sektor keuangan dan
mobilisasi modal, meningkatkan akses ke pelayanan sosial yang berkualitas, meningkatkan
perdamaian dan keamanan untuk pengembangan, dan memastikan integritas ekologi .

PDP akan berfungsi sebagai panduan Filipina dalam merumuskan kebijakan dan
melaksanakan program pembangunan untuk enam tahun ke depan . Hal ini memungkinkan
Filipina untuk bekerja secara sistematis untuk memberikan rakyat Filipina kesempatan yang
lebih baik sehingga dapat keluar dari kemiskinan.

Terdapat 10 Chapter atau Bab dalam PDP, antara lain :

1. Mengejar Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif


2. Kebijakan Ekonomi Makro
3. Industri yang Kompetitif dan Sektor Pelayanan
4. Sektor Pertanian dan perikanan yang Kompetitif dan Berkelanjutan

7
5. Percepatan Pembangunan Infrastruktur
6. Menuju Sektor Keuangan yang Tangguh dan Inklusif
7. Pemerintahan dan Supremasi Hukum yang Baik
8. Pembangunan Sosial
9. Perdamaian dan Keamanan
10. Konservasi, Perlindungan, dan Rehabilitasi Lingkungan dan Sumber Daya Alam