You are on page 1of 2

M.

Fariz Alexfan
2011510045

PENGOLAHAN LIMBAH ELEKTRONIK
Sampah elektronik mengandung berbagai jenis zat, mulai dari yang masuk
kategori tidak berbahaya sampai dengan yang sangat berbahaya dan memberikan potensi
ancaman bagi kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Secara umum sampah elektronik
terdiri dari logam, kayu, plastik, keramik, karet, gas dsb.

Berbeda dengan sampah rumah tangga yang biasanya bersifat dapat diuraikan
(degradable), sampah elektronik memiliki potensi bahaya terhadap kesehatan dan lingkungan
karena kandungan racun, bahkan beberapa diantaranya bersifat karsinogenik yang dapat
memicu penyakit kanker. Jenis sampah ini apabila tidak ditangani dan dikelola dengan baik
akan berpotensi menimbulkan ancaman bagi kesehatan manusia dan lingkungan hidup.

Pembuangan sampah elektronik tanpa melalui prosedur yang benar menimbulkan
masalah baru karena banyaknya potensi ancaman terhadap kesehatan dan permasalahan
lingkungan yang serius di masa depan. Pembuangan sampah elektronik dengan cara
penimbunan bukan merupakan solusi yang baik, oleh karena itu diperlukan suatu cara terbaik
untuk menangani masalah tersebut adalah dengan untuk mendaur ulang sampah elektronik.

Biaya daur ulang Sampah Listrik dan Elektronika juga dipengaruhi oleh banyak
faktor yang meliputi pengumpulan dan pengangkutan peralatan ini untuk industri daur
ulang. Terlepas dari biaya, ada juga pengolahan biaya di industri daur ulang yang melibatkan
pemilahan, pembongkaran, pengecilan ukuran, pemisahan sampah, pembakaran,
pembuangan di TPA. Hal ini bahkan menjadi lebih semakin mahal dengan produk yang terus
menerus diproduksi dengan kompleksitas yang lebih. Produk kompleks diindikasikan
oleh banyaknya jenis bahan atau komponen yang digunakan dalamproduk. Semakin
kompleks produk yang didaur ulang, semakin besar biaya yang diperlukan untuk
mendaur ulang, sehingga kadang-kadang tidak ekonomis untuk dilakukan.

Permasalahan teknis dan praktis masalah pengelolaan sampah elektronik
harus diatasi, terutama terkait dengan pengumpulan dan transportasi sampah elektronik
perlu didesain sehingga secara teknik dan ekonomis layak untuk dilaksanakan.
Pemerintah di Negara-negara berkembang hendaknya mampu menemukan cara terbaik
untuk mengurangi sampah elektronik dan mendorong penggunaan kembali serta daur
ulang produkusak atau usang. Untuk itu diperlukan adanya kerangka formal yang
mengatur hal tersebut dalam upaya menerapkan peraturan ketat dan memberikan
kewajiban bagi produsen untuk mendaur ulang sampah elektronik yang diakibatkan oleh
produk mereka.

Proses daur ulang sampah elektronik saat ini telah menjadi industri baru,
namun dalam banyak kasus bukanlah merupakan industri yang menguntungkan
untuk dilaksanakan. Akibatnya, banyak pihak yang mengelola industri ini, terutama

sehingga manfaat dari industri daur ulang sampah elektronik ini belum sepenuhnya memberikan manfaat bagi sebagian besar anggota masyarakat. terutama di pelabuhan yang strategis.di Negara-negara berkembang tidak banyak yang tertarik untuk melakukan proses pengumpulan dan pengolahan sampah elektronik. Hal lain adalah ada kecenderungan industri ini menggunakan tenaga kerja murah dalam kegiatannya. Selain itu pengawasan kegiatan ekspor dan impor di pelabuhan lebih ditingkatkan untuk menghindari kegiatan ekspor impor e-waste. menggunakan sistem Extended Producer Responsibility (EPR) dalam mengelola e-waste.. dan lingkungan. Sistem pengelolaan e-waste juga harus didukung oleh partisipasi masyarakat. . Rekomendasi yang diberikan untuk pengelolaan e-waste di Indonesia adalah membuat peraturan yang spesifik mengenai pengelolaan e-waste. dengan memperhatikan aspek sosial. ekonomi. sehingga dibutuhkan sosialisasi mengenai kesadaran akan pentingnya mengelola e-waste. Kemudian.