Laboratorium adalah sarana yang dipergunakan untuk melakukan pengukuran, penetapan

,
dan pengujian terhadap bahan yang digunakan untuk penentuan formula obat yang akan
dibuat. Laboratorium Kesehatan adalah sarana kesehatan yang melaksanakan pengukuran,
penetapan dan pengujian terhadap bahan yang berasal dari manusia atau bahan yang
bukan berasal dari manusia untuk penentuan jenis penyakit, penyebab penyakit, kondisi
kesehatan dan faktor yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan perorangan dan
masyarakat.

Untuk dapat menerapkan K3 yang baik, fasilitas laboratorium harus memenuhi beberapa
persyaratan berikut ini:
1. Harus mempunyai sistem ventilasi yang memadai agar sirkulasi udara berjalan lancar.
2. Harus mempunyai alat pemadam kebakaran terhadap bahan kimia yang berbahaya yang
dipakai.
3. Harus menyediakan alat pembakar gas yang terbuka untuk menghindari bahaya
kebakaran.
4. Meja yang digunakan harus diberi bibir untuk menahan tumpahan larutan yang mudah
terbakar, korosif dan melindungi tempat yang aman dari bahaya kebakaran
5. Menyediakan dua buah jalan keluar untuk keluar dari kebakaran dan terpisah sejauh
mungkin.
6. Tempat penyimpanan di laboratorium di desain untuk mengurangi sekecil mungkin risiko
oleh bahan-bahan berbahaya dalam jumlah besar.
7. Harus tersedianya alat Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K).
8. Kesiapan menghindari panas sejauh mungkin dengan memakai alat pembakar gas yang
terbuka untuk menghindari bahaya kebakaran.
9. Untuk menahan tumpahan larutan yang mudah terbakar dan melindungi tempat yang
aman dari bahaya kebakaran dapat disediakan bendung bendung talam.

2.1. Identifikasi Masalah Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Laboratorium Kesehatan Dan
Pencegahannya

A. Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan. Biasanya
kecelakaan menyebabkan, kerugian material dan penderitaan dari yang paling ringan
sampai kepada yang paling berat. Kecelakaan di laboratorium dapat berbentuk 2 jenis
yaitu :

Penyebab kecelakaan kerja dapat dibagi dalam kelompok : 1.1. Pencegahannya : • Pakai sepatu anti slip • Jangan pakai sepatu dengan hak tinggi. Cara kerja 2. Keletihanan dan kelemahan daya tahan tubuh. Terpeleset dan terjatuh adalah bentuk kecelakaan kerja yang dapat terjadi di laboratorium. dislokasi. Kondisi berbahaya (unsafe condition). Sifat pekerjaan e. Kecelakaan kerja. terutama bila mengabaikan kaidah ergonomi. • Pemeliharaan lantai dan tangga 2. Cacat tubuh yang tidak kentara (bodily defect) c. yang dapat terjadi antara lain karena: a. Akibatnya: • cedera pada punggung. Akibatnya : • Ringan: memar • Berat: fraktura. Proses kerja d. bahan dan lain-lain b. biasanya karena lantai licin. yaitu perbuatan berbahaya dari manusia. Perbuatan berbahaya (unsafe act). d. Lingkungan kerja c. yaitu yang tidak aman dari: a. . Kecelakaan medis. memar otak. Sikap dan perilaku kerja yang tidak baik Beberapa contoh kecelakaan yang banyak terjadi di laboratorium : 1. Terpeleset. peralatan. Mengangkat beban Mengangkat beban merupakan pekerjaan yang cukup berat. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan pelaksana b. Mesin. tali sepatu longgar • Hati-hati bila berjalan pada lantai yang sedang dipel (basah dan licin) atau tidak rata konstruksinya. jika yang menjadi korban adalah petugas laboratorium itu sendiri. jika yang menjadi korban adalah pasien 2. dll.

kompor) bahan desinfektan yang mungkin mudah menyala (flammable) dan beracun. Hepatitis B Pencegahannya : • Gunakan alat suntik sekali pakai • Jangan tutup kembali atau menyentuh jarum suntik yang telah dipakai tapi langsung dibuang ke tempat yang telah disediakan (sebaiknya gunakan destruction clip).Kebakaran terjadi bila terdapat 3 unsur bersama sama yaitu: oksigen. Pencegahannya : • Konstruksi bangunan yang tahan api • Sistem penyimpanan yang baik terhadap bahan-bahan yang mudah terbakar • Pengawasan terhadap kemungkinan timbulnya kebakaran • Sistem tanda kebakaran  Manual yang memungkinkan seseorang menyatakan tanda bahaya dengan segera  Otomatis yang menemukan kebakaran dan memberikan tanda secara otomatis • Jalan untuk menyelamatkan diri • Perlengkapan dan penanggulangan kebakaran. • Penyimpanan dan penanganan zat kimia yang benar dan aman. • Bekerja di bawah pencahayaan yang cukup 4. . • Timbul keracunan akibat kurang hati-hati. bahan yang mudah terbakar dan panas. Akibatnya : • Timbulnya kebakaran dengan akibat luka bakar dari ringan sampai berat bahkan kematian.Pencegahannya : • Beban jangan terlalu berat • Jangan berdiri terlalu jauh dari beban • Jangan mengangkat beban dengan posisi membungkuk tapi pergunakanlah tungkai bawah sambil berjongkok • Pakaian penggotong jangan terlalu ketat sehingga pergerakan terhambat. Akibatnya : • Tertusuk jarum suntik • Tertular virus AIDS. Mengambil sample darah/cairan tubuh lainnya. Risiko terjadi kebakaran (sumber: bahan kimia. 3.

uap timah dan keracunan timah. tegangan tinggi. zat kimia/solvent yang menyebabkan kerusakan hati. faktor kimia (pemaparan dalam dosis kecil namun terus menerus seperti antiseptik pada kulit. colli. Berbeda dengan Penyakit Akibat Kerja. dan bagi petugas Kebersihan menangani limbah yang infeksius senantiasa kontak dengan bahan yang tercemar kuman patogen. yang bersumber dari pasien. debu beracun mempunyai peluang terkena infeksi Pencegahan : . radiasi dll. Penyakit Akibat Hubungan Kerja (PAHK) sangat luas ruang lingkupnya. Secara teoritis kemungkinan kontaminasi pekerja LAK sangat besar. Virus yang menyebar melalui kontak dengan darah dan sekreta (misalnya HIV dan Hep. misalnya karena tergores atau tertusuk jarum yang terkontaminasi virus. bacilli dan staphylococci. sebagai contoh dokter di RS mempunyai risiko terkena infeksi 2 sampai 3 kali lebih besar dari pada dokter yang praktek pribadi atau swasta. gawat darurat. Sebagai contoh antara lain debu silika dan Silikosis. Faktor Lingkungan kerja sangat berpengaruh dan berperan sebagai penyebab timbulnya Penyakit Akibat Kerja. Menurut Komite Ahli WHO (1973). mempercepat terjadinya serta menyebabkan kekambuhan penyakit. Angka kejadian infeksi nosokomial di unit Pelayanan Kesehatan cukup tinggi. faktor psikologis (ketegangan di kamar penerimaan pasien. benda-benda yang terkontaminasi dan udara. dengan kemungkinan besar berhubungan dengan pekerjaan dan kondisi tempat kerja.2. Pajanan di tempat kerja tersebut memperberat. Penyakit Akibat Hubungan Kerja adalah “penyakit dengan penyebab multifaktorial. faktor ergonomi (cara duduk salah.). faktor fisik dalam dosis kecil yang terus menerus (panas pada kulit. pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab.2. Akan tetapi penyebab terjadinya akibat kesalahan faktor manusia juga (WHO). karantina dll. terutama kuman-kuman pyogenic. Penyakit Akibat Kerja & Penyakit Akibat Hubungan Kerja di laboratorium kesehatan Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi yang kuat dengan pekerjaan. harus ada hubungan sebab akibat antara proses penyakit dan hazard di tempat kerja. Penyakit akibat kerja di laboratorium kesehatan umumnya berkaitan dengan faktor biologis (kuman patogen yang umumnya berasal dari pasien). B) dapat menginfeksi pekerja hanya akibat kecelakaan kecil dipekerjaan.) 1) Faktor Biologis Lingkungan kerja pada Pelayanan Kesehatan favorable bagi berkembang biaknya strain kuman yang resisten. cara mengangkat pasien salah).

dioksan) dan hanya sedikit saja oleh karena alergi (keton). Menggunakan desinfektan yang sesuai dan cara penggunaan yang benar. b. Hindari penggunaan lensa kontak. celemek. Menggunakan kabinet keamanan biologis yang sesuai. Gangguan kesehatan yang paling sering adalah dermatosis kontak akibat kerja yang pada umumnya disebabkan oleh iritasi (amoniak. sisa bahan infeksius dan spesimen secara benar f. Semua bahan cepat atau lambat ini dapat memberi dampak negatif terhadap kesehatan mereka. Bahan toksik ( trichloroethane. Menggunakan alat pelindung diri (pelindung mata. Melakukan pekerjaan laboratorium dengan praktek yang benar (Good Laboratory Practice) d. ”Material safety data sheet” (MSDS) dari seluruh bahan kimia yang ada untuk diketahui oleh seluruh petugas laboratorium. .a. Menggunakan alat pelindung pernafasan dengan benar. karena dapat melekat antara mata dan lensa. Sterilisasi dan desinfeksi terhadap tempat. desinfektan dikenal sebagai zat yang paling karsinogen. Kebersihan diri dari petugas. Pencegahan : a. h. Seluruh pekerja harus mendapat pelatihan dasar tentang kebersihan. dan dilakukan imunisasi. Menggunakan karet isap (rubber bulb) atau alat vakum untuk mencegah tertelannyabahan kimia dan terhirupnya aerosol. jas laboratorium) dengan benar. tetrachloromethane) jika tertelan. Pengelolaan limbah infeksius dengan benar g. demikian pula dengan solvent yang banyak digunakan dalam komponen antiseptik. sarung tangan. epidemilogi dan desinfeksi. Bahan korosif (asam dan basa) akan mengakibatkan kerusakan jaringan yang irreversible pada daerah yang terpapar. peralatan. c. d. c. Sebelum bekerja dilakukan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan dalam keadaan sehat badani. terhirup atau terserap melalui kulit dapat menyebabkan penyakit akut atau kronik. bahkan kematian. b. e. punya cukup kekebalan alami untuk bekrja dengan bahan infeksius. e. 2) Faktor Kimia Petugas di laboratorium kesehatan yang sering kali kontak dengan bahan kimia dan obat- obatan seperti antibiotika.

5. laboratorium. teknologi dan seni berupaya menyerasikan alat. 4) Faktor Fisik Faktor fisik di laboratorium kesehatan yang dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja meliputi: a. Terimbas kecelakaan/kebakaran akibat lingkungan sekitar. kebolehan dan batasan manusia untuk terwujudnya kondisi dan lingkungan kerja yang sehat. dengan berkembangnya teknologi pemeriksaan. Pencegahan : 1. misalnya tenaga operator peralatan. Kebisingan. Filter untuk mikroskop 5) Faktor Psikososial . Posisi kerja yang salah dan dipaksakan dapat menyebabkan mudah lelah sehingga kerja menjadi kurang efisien dan dalam jangka panjang dapat menyebakan gangguan fisik dan psikologis (stress) dengan keluhan yang paling sering adalah nyeri pinggang kerja (low back pain). Pencahayaan yang kurang di ruang kamar pemeriksaan. secara populer kedua pendekatan tersebut dikenal sebagai To fit the Job to the Man and to fit the Man to the Job Sebagian besar pekerja di perkantoran atau Pelayanan Kesehatan pemerintah. 2. Pengaturan jadwal kerja yang sesuai. ruang perawatan dan kantor administrasi dapat menyebabkan gangguan penglihatan dan kecelakaan kerja. nyaman dan tercapai efisiensi yang setinggi-tingginya. proses dan lingkungan kerja terhadap kemampuan. Menurunkan getaran dengan bantalan anti vibrasi 4. penggunaannya meningkat sangat tajam dan jika tidak dikontrol dapat membahayakan petugas yang menangani. bekerja dalam posisi yang kurang ergonomis. Pelindung mata untuk sinar laser 6. getaran akibat mesin dapat menyebabkan stress dan ketulian b. hal ini disebabkan peralatan yang digunakan pada umumnya barang impor yang disainnya tidak sesuai dengan ukuran pekerja Indonesia. Terkena radiasi Khusus untuk radiasi. Pendekatan ergonomi bersifat konseptual dan kuratif. e. Pengaturan ventilasi dan penyediaan air minum yang cukup memadai. c. Pengendalian cahaya di ruang laboratorium. Suhu dan kelembaban yang tinggi di tempat kerja d. 3.3) Faktor Ergonomi Ergonomi sebagai ilmu. aman. cara.

Menyusun Prosedur Kerja Tetap (Standard Operating Procedure) untuk masing-masing instalasi dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaannya 4. B. 3. Hubungan kerja yang kurang serasi antara pimpinan dan bawahan atau sesama teman kerja. Pengendalian Penyakit Akibat Kerja Dan Kecelakaan Melalui Penerapan Kesehatan Dan Keselamatan Kerja A. Persyaratan penerimaan tenaga medis.3. alat-alat radiology. UU No.Beberapa contoh faktor psikososial di laboratorium kesehatan yang dapat menyebabkan stress : a. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan 4. Pengaturan jam kerja. d. Pengendalian melalui Administrasi / Organisasi (Administrative control) Pengendalian melalui Administrasi / Organisasi (Administrative control) antara lain: 1. c. dan tenaga non medis yang meliputi batas umur. 2. Peraturan Menteri Kesehatan tentang higene dan sanitasi lingkungan. Pelayanan kesehatan sering kali bersifat emergency dan menyangkut hidup mati seseorang. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. dll) dan melakukan pengawasan agar prosedur tersebut dilaksanakan . UU No. lembur dan shift 3. 5. para medis. UU No. jenis kelamin. syarat kesehatan 2. Untuk itu pekerja di laboratorium kesehatan di tuntut untuk memberikan pelayanan yang tepat dan cepat disertai dengan kewibawaan dan keramahan-tamahan b. 14 Tahun 1969 Tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Petugas kesehatan dan non kesehatan 2. Beban mental karena menjadi panutan bagi mitra kerja di sektor formal ataupun informal. Melaksanakan prosedur keselamatan kerja (safety procedures) terutama untuk pengoperasian alat-alat yang dapat menimbulkan kecelakaan (boiler. Pekerjaan pada unit-unit tertentu yang sangat monoton. Peraturan/persyaratan pembuangan limbah dll. Pengendalian Melalui Perundang-undangan (Legislative Control) Pengendalian melalui perundang-undangan antara lain : 1. Peraturan penggunaan bahan-bahan berbahaya 6.

proses kerja dan petugas kesehatan dan non kesehatan (penggunaan alat pelindung) 3. Pemeriksaan Awal Adalah pemeriksaan kesehatan yang dilakukan sebelum seseorang calon / pekerja (petugas kesehatan dan non kesehatan) mulai melaksanakan pekerjaannya. alat kerja. C.5. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang status kesehatan calon pekerja dan mengetahui apakah calon pekerja tersebut ditinjau dari segi kesehatannya sesuai dengan pekerjaan yang akan ditugaskan kepadanya. Dengan deteksi dini. Disini diperlukan system rujukan untuk menegakkan diagnosa penyakit akibat kerja secara cepat dan tepat (prompt-treatment). Perbaikan sistim ventilasi. Melaksanakan pemeriksaan secara seksama penyebab kecelakaan kerja dan mengupayakan pencegahannya. Pengendalian Melalui Jalur Kesehatan (Medical Control) Pengendalian melalui jalur kesehatan yaitu upaya untuk menemukan gangguan sedini mungkin dengan cara mengenal (Recognition) kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang dapat tumbuh pada setiap jenis pekerjaan di unit pelayanan kesehatan dan pencegahan meluasnya gangguan yang sudah ada baik terhadap pekerja itu sendiri maupun terhadap orang disekitarnya. Pemerikasaan kesehatan awal ini meliputi: • Anamnese umum • Anamnese pekerjaan • Penyakit yang pernah diderita • Alrergi • Imunisasi yang pernah didapat • Pemeriksaan badan • Pemeriksaan laboratorium rutin . dan lain-lain D. maka penatalaksanaan kasus menjadi lebih cepat. Pengendalian Secara Teknis (Engineering Control) Pengendalian secara teknis (Engineering Control) antara lain: 1. Isolasi dari bahan-bahan kimia. Pencegahan sekunder ini dilaksanakan melalui pemeriksaan kesehatan pekerja yang meliputi: 1. Substitusi dari bahan kimia. mengurangi penderitaan dan mempercepat pemulihan kemampuan produktivitas masyarakat pekerja. alat kerja atau proses kerja 2.

• Pemeriksaan tertentu: • Tuberkulin test • Psiko test 2. 3. Pemeriksaan Khusus Yaitu pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pada khusus diluar waktu pemeriksaan berkala. Controlling (pengawasan). makin kecil jarak waktu antar pemeriksaan berkala. 1. Organizing (Organisasi) Berfungsi untuk : a) Menyusun garis besar pedoman keamanan kerja laboratorium . Actuating (pelaksanaan). sesuai dengan resiko kesehatan yang dihadapi dalam pekerjaan. Makin besar resiko kerja. Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Laboratorium perusahaan melakukan beberapa tindakan untuk mencegah kecelakaan kerja yang terjadi bagi pekerjanya khususnya di bagian laboratorium yaitu dengan menerapkan Sistem Manajemen Kebijakan dan Keselamatan Kerja yang dimulai dari beberapa tahapan yaitu : Planning (perencanaan). yaitu pada keadaan dimana ada atau diduga ada keadaan yang dapat mengganggu kesehatan pekerja. 2. Planning (Perencanaan) Berfungsi untuk menentukan kegiatan yang akan dilakukan di masa mendatang guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan khususnya keselamatan dan kesehatan kerja di laboratorium. E. Ruang lingkup pemeriksaan disini meliputi pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus seperti pada pemeriksaan awal dan bila diperlukan ditambah dengan pemeriksaan lainnya. Pemeriksaan Berkala Adalah pemeriksaan kesehatan yang dilaksanakan secara berkala dengan jarak waktu berkala yang disesuaikan dengan besarnya resiko kesehatan yang dihadapi.Organizing (organisasi).

yaitu: adanya rencana dan adanya instruksi-instruksi dan pemberian wewenang kepada bawahan. penyuluhan. Actuating (Pelaksanaan) Berfungsi untuk mendorong semangat kerja pekerja. Memastikan semua petugas laboratorium memahami cara-cara menghindari risiko bahaya dalam laboratorium c. mengerahkan aktivitas pekerja. perlu diperhatikan 2 prinsip pokok. Untuk dapat menjalankan pengawasan. pelatihan pelaksana-an keamanan kerja laboratorium c) Memantau pelaksanaan pedoman keamanan kerja laboratorium d) Memberikan rekomendasi untuk bahan pertimbangan penerbitan izin laboratorium e) Mengatasi dan mencegah meluasnya bahaya yang timbul dari suatu laboratorium 3. mengkoordinasikan berbagai aktivitas pekerja menjadi aktivitas yang kompak (sinkron). mematuhi segala peraturan demi keselamatan kerja bersama di laboratorium. Memantau dan mengarahkan secara berkala praktek-praktek laboratorium yang baik.b) Memberikan bimbingan. benar dan aman b. Melakukan penyelidikan/pengusutan segala peristiwa berbahaya atau kecelakaan. Dalam pengawasan perlu adanya sosialisasi tentang perlunya disiplin. Melakukan tindakan darurat untuk mengatasi peristiwa berbahaya dan mencegah meluasnya bahaya tersebut. Mengembangkan sistem pencatatan dan pelaporan tentang keamanan kerja laboratorium e. d. karena usaha pencegahan bahaya yang bagaimanapun baiknya akan sia-sia bila peraturan diabaikan. sehingga semua aktivitas pekerja sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Controlling (Pengawasan) Berfungsi untuk mengusahakan agar pekerjaan-pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan atau hasil yang dikehendaki. 4. Dalam laboratorium perlu dibentuk pengawasan laboratorium yang tugasnya antara lain : a. Sosialisasi perlu dilakukan terus menerus. .