You are on page 1of 35

ANITA K.

W

LBM 3 SERING PUSING DAN TIDAK BISA SANTAI

1. Pasien mengalami sulit tidur, berdebar2, kepala pusing, keringat dingin, (hiperaktivitas
otonom)?

Jawab :

Sistem limbik merupakan jaringan interaktif yang kompleks, ini berkaitan dengan emosi, pola
perilaku, sosio seksual dan kelangsungan hidup dasar, motivasi dan belajar. Adanya stimulasi
pada daerah tertentu dalam sistem limbik akan menimbulkan sensasi subyektif, salah satu
diantaranya adalah kecemasan. Kecemasan dapat mempengaruhi sistem limbik sebagai kontrol
emosi yang dapat meningkatkan sistem syaraf otonom (terutama sistem syaraf simpatis). Syaraf
otonom berkaitan dengan pengendalian organ-organ dan secara tidak sadar. Dimana serabut-
serabut syaraf simpatis mensarafi otot jantung, otot tidak sadar semua pembuluh darah serta
semua organ dalam seperti lambung, pankreas, dan usus. Melayani serabut-serabut motorik
pada otot tak sadar dalam kulit. Hal ini dapat meningkatkan ketegangan otot yang akan
menyebabkan peningkatan persepsi nyeri seseorang (Potter, 2001).

Stresor dapat menyebabkan pelepasan epinefrin dari adrenal melalui mekanisme berikut ini:

Ancaman dipersepsi oleh panca indera, diteruskan ke korteks serebri, kemudian ke sistem
limbik dan RAS (Reticular Activating System), lalu ke hipotalamus dan hipofisis. Kemudian
kelenjar adrenal mensekresikan katekolamin dan terjadilah stimulasi saraf otonom (Mudjaddid,
2006).

Hiperaktivitas sistem saraf otonom akan mempengaruhi berbagai sistem organ dan
menyebabkan gejala tertentu, misalnya: kardiovaskuler (contohnya: takikardi), muskuler
(contohnya: nyeri kepala), gastrointestinal (contohnya: diare), dan pernafasan (contohnya:
nafas cepat).

Kecemasan atau anxietas akan merangsang respon hormonal dari hipotalamus yang akan
mengsekresi CRF ( Cortisocoprin- Releasing Factor) yang meneybabkan sekresi hormon-
hormon hipofise. Salah satu dari hormon tersebut adalah ACTH (Adreno- Corticotropin
Hormon). Hormon tersebut akan merangsang korteks adrenal untuk mengsekresi kortisol
kedalam sirkulasi darah (2,15). Peningkatan kadar kortisol dalam darah akan mengakibatkan

1
ANITA K.W

peningkatan renin plasma, angiotensin II dan peningkatan kepekaan pembuluh darah terhadap
katekolmin (26), sehingga terjadi peningkatan tekanan darah.

Selain itu hipotalamus juga berfungsi sebagi pusat dari system saraf otonom(15,29). Sistem ini
terbagi atas system simpatis dan system parasimpatis(23,30). Menurut Salan (26) pada anxietas
sedang terjadi sekresi adrenalin berlebihan yang menyebabkan peningkatan tekanan darah,
sedangkan pada anxietas yang sangat berat dapat terjadi reaksi yang dipengaruhi oleh
komponen parasimpatis sehingga akan mengakibatkan penurunan tekanan darah dan frekuensi
denyut jantung. Pada kecemasan yang kronis kadar adrenalin terus meninggi, sehingga
kepekaan terhadap rangsangan yang lain berkurang dan akan terlihat tekanan darah meninggi.

Menurut Iskandar (21) pada Gangguan Cemas Menyeluruh yang terutama berperan adalah
neurotransmiter serotonin. Pada saat ini telah diidentifikasi tiga reseptor serotonin, yaitu : 5-
HT1, 5-HT2 dan 5-HT3 (23,31). Menurut Kabo(33) reseptor 5-HT1 bersifat sebagai inhibitor,
sedangkan reseptor 5-HT2 dan reseptor 5-HT3 bersifat sebagai eksitator. Menurut Gothert (31)
aktivasi reseptor 5-HT1 akan mengurangi kecemasan sedangkan aktivasi reseptor 5-HT2 akan
meningkatkan tekanan darah.

2
ANITA K.W

Sumber : Adiwena, Nuklear. 2007.Anxietas. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
IslamIndonesia.

2. Bagaimana mekanisme cemas secara fisiologis dan patologis?

Jawab :

 KECEMASAN NORMAL

Kecemasan normal. Sering dialamai oleh semua manusia. Perasaan tsb ditandai dengan rasa
ketakutan yang difus, tidak menyenangkan dan samar-samar, seringkali disertai gejala otonom
seperti nyeri kepala, berkeringat, palpitasi, kekakuan pada dada, dan gangguan lambung ringan.

3
ANITA K.W

Seseorang yg cemas mungkin juga merasa gelisah. Kumpulan gejala tertentu yg ditemukan
selama kecemasan cenderung bervariasi dari orang ke orang.

Kecemasan ialah respon terhadap suatu ancaman yang sumbernya tidak diketahui, internal,
samar-samar atau konfliktual. Sedang ketakutan ialah respon dari ancaman yang sumbernya
diketahui, eksternal, jelas atau bukan bersifat konfliktual.

Kecemasan memperingatkan adanya ancaman eksternal dan internal dan memiliki kualitas
menyelamatkan hidup. Pada tingkat yang lebih rendah kecemasan memperingatkan ancaman
cedera pada tubuh, rasa takut, keputusasaan, kemungkinan hukuman, atau frustasi dari
kebutuhan tubuh dan social, perpisahan dari orang yang dicintai, gangguan pada keberhasilan
dan status seseorang dan akhirnya ancaman pada keutuhan dan kesatuan seseorang.
Kecemasan segera mengarahkan seseorang untuk mengambil langkah yang diperlukan untuk
mecegah ancaman atau meringankan akibatnya, contoh orang yang cemas akan nilai ujiannya
maka ia akan belajar dengan giat. Jadi kecemasan mencegah kerusakan dengan cara
menyadarkan seseorang untuk melakukan tindakan tertentu yang mencegah bahaya.

 KECEMASAN PATOLOGIS

Kecemasan yang didasari tanpa sebab yang jelas dan tidak berpotensi untuk mengancam
jiwanya. Mungkin disertai dengan gejala otonom seperti kecemasan normal. Kecemasan yang
patologis adalah kecemasan yang berlebihan terhadap stimuli internal atau eksternal, dan tidak
berfungsi untuk menyelamatkan keutuhan jiwanya.

 Gangguan Panik

 Ada dua kriterla Gangguan panik : gangguan panik tanpa agorafobia dan gangguan panik
dengan agorofobia kedua gangguan panik ini harus ada serangan panik.

1. Klasifikasi

a. Normal / fisiologis

i. Ditandai oleh rasa ketakutan yang difus, tidak menyenangkan, samar-
samar, sering kali disertai gejala otonomik seperti nyeri kepala,
berkeringat, palpitasi,kekakuan pada dada, gangguan labung ringan

4
ANITA K.W

biasanya kevemasan ini disebabkan karena pusat fasomotor dipengaruhi
dengan vara tertenu sehingga dipengaruhi oleh arteri kevil dikulit

ii. contoh : bayi yang terancam perpisahan dengan orang tuanya atau oleh
hilangnya cinta, bagi anak-anak pada hari pertama sekolahnya, bagi
remaja pada kencan pertamanya, bagi orang dewasa saat mereka
merenungkan usia tua dan kematian

iii. efek kecemasan itu mempengaruhi motorik, visceral, berfikir, persepsi,
belajar.

b. Patologis

i. Teori psikologis

A. Psikoanalitik

Kecemasan dibagi 4 :

1. Kecemasan id atau impuls

2. Kecemasan perpisahan

3. Kecemasan kastrasi

4. Kecemasan superego

B. Perilaku

C. Eksistensial

ii. Teori biologis

A. System saraf otonom

B. Neurotransmitter

C. Penelitian pencitraan otak

D. Penelitian genetika

E. Pertimbangan neuro anatomis

5
ANITA K.W

Teori psikoanalitik:
Freud menyatakan bahwa kecemasan sebagai sinyal, kecemasan menyadarkan ego untuk
mengambil tindakan defensif terhadap tekanan dari dalam diri. misal dengan menggunakan
mekanisme represi, bila berhasil maka terjadi pemulihan keseimbangan psikologis tanpa
adanya gejala anxietas. Jika represi tidak berhasil sebagai suatu pertahanan, maka dipakai
mekanisme pertahanan yang lain misalnya konvensi, regresi, ini menimbulkan gejala.

Teori perilaku:
teori perilaku menyatakan bahwa kecemasan adalah suatu respon yang dibiasakan terhadap
stimuli lingkungan spesifik. Contoh : seorang dapat belajar untuk memiliki respon kecemasan
internal dengan meniru respon kecemasan orang tuanya.

Teori eksistensial:
Konsep dan teori ini adalah, bahwa seseorang menjadi menyadari adanya kehampaan yang
menonjol di dalam dirinya. Perasaan ini lebih mengganggu daripada penerimaan tentang
kenyataan kehilangan/ kematian seseorang yang tidak dapat dihindari. Kecemasan adalah
respon seseorang terhadap kehampaan eksistensi tersebut.

Sistem saraf otonom:
Stimuli sistem saraf otonom menyebabkan gejala tertentu. Sistem kardiovaskular takikardi,
muskular nyeri kepala, gastrointestinal diare dan sebagainya.

Neurotransmiter:
Tiga neurotrasmiter utama yang berhubungan dengan kecemasan berdasarkan penelitian pada
binatang dan respon terhadap terapi obat yaitu : norepinefrin, serotonin dan gamma-
aminobutyric acid.

Penelitian genetika:
Penelitian ini mendapatkan, hampir separuh dan semua pasien dengan gangguan panik
memiliki sekurangnya satu sanak saudara yang juga menderita gangguan.

Penelitian pencitraan otak:

6
ANITA K.W

Contoh: pada gangguan anxietas didapati kelainan di korteks frontalis, oksipital, temporalis.
Pada gangguan panik didapati kelainan pada girus para hipokampus.

Sumber : TATALAKSANA DIAGNOSIS DAN TERAPI GANGGUAN ANXIETAS Dr. Evalina Asnawi
Hutagalung, Sp.KJ

3. Mengapa pada pasien ini didaptkan ketegangan motorik? Kencang di daerah tengkuk,
gemetar, badan sakit semua.

Jawab :

Gejala Psikis

Ada reseptor di otak yang menerima neurotransmitter GABA. Ketika GABA di transmisikan ke
reseptor, neuron diperintahkan untuk berhenti menembak/eksitsasi. Pada gangguan kecemasan
terjadi ketika GABA tidak dapat mengikat secara akurat ke sel reseptor atau ketika ada terlalu
sedikit reseptor GABA. Tanpa jumlah yang tepat dari penerimaan GABA, neuron berlebihan
akan menyebabkan orang untuk tidak menerima pesan cukup untuk berhenti maka orangnya
akan terus tegang, cemas, gelisah.

Sumber : Stefen & Florian; Patofisiologi

1) Teori Psikologis

a. Teori Psikoanalitik

 Menurut Freud, kecemasan sebagai sinyal guna menyadarkan ego untuk
mengambil tindakan defensif terhadap tekanan dari dalam diri.

 Kecemasan id atau impuls berhubungan dengan ketidaknyamanan primitif
dan difus dari seorang bayi jika mereka merasa terlanda oleh kebutuhan dan
stimuli dimana keadaan tidak berdaya mereka tidak memungkinkan
pengendalian.

 Kecemasan perpisahan terjadi pada anak-anak yang agak besar tapi masih
dalam masa praoedipal, yang takut kehilangan cinta atau bahkan
ditelantarkan oleh orangtuanya jika mereka gagal mengendalikan dan

7
ANITA K.W

mengarahkan impulsnya sesuai dengan standar dan kebutuhan
orangtuanya.

 Kecemasan Kastrasi menandai anak oedipal, khususnya dalam hubungan
dengan impuls seksual anak yang sedang berkembang, dicerminkan dalam
kecemasan kastrasi dari dewasa.

 Kecemasan Superego merupakan akibat langsung dari perkembangan akhir
superego yang menandai berlalunya kompleks Oedipus dan datangnya
periode latensi prapubertal.

b. Teori Perilaku

 Menyatakan bahwa kecemasan adalah suatu respon yang dibiasakan
terhadap stimuli lingkungan spesifik.

 Ex : seseorang dapat belajar untuk memiliki suatu respon kecemasan
internal dengan meniru respon kecemasan orangtuanya.

c. Teori Eksistansial

 Bahwa seseorang menjadi menyadarinya adanya kehampaan yang menonjol
di dalam dirinya, perasaan yang mungkin lebih mengganggu daripada
penerimaan kematian mereka yang tidak dapat dihindari.

 Kecemasan adalah respon seseorang terhadap kehampaan eksistensi dan
arti yang berat tersebut.

2) Teori Biologis

a. Sistem Saraf Otonom

 Stimulasi sistem saraf otonom menyebabkan gejala tertentu (cor : takikardia,
muskular : nyeri kepala, GIT : diare, pernafasan : nafas cepat)

b. Neurotransmitter

 NE, serotonin & GABA

 NE  agonis adrenergik beta & antagonis adrenergik-alfa2  pencetus

8
ANITA K.W

c. Penelitian Pencitraan Otak

 Kelainan di korteks frontalis, occipital, dan temporal

d. Penelitian Genetika

 Penelitian ini mendapatkan, hampir separuh dan semua pasien
dengan gangguan panik memiliki sekurangnya satu sanak saudara
yang juga menderita gangguan

Sinopsis Psikiatri, Kaplan & Sadock ed. 7 jilid dua

A. TEORI PSIKOLOGIS

o Teori Psikoanalitik

o Teori perilaku

o Teori Eksistensial

B. TEORI BIOLOGIS

o Susunan Saraf Otonom

o Neurotransmiten

o Penelitian genetika

o Penelitian Pencitraan Otak

Teori psikoanalitik:
Freud menyatakan bahwa kecemasan sebagai sinyal, kecemasan menyadarkan ego untuk mengambil
tindakan defensif terhadap tekanan dari dalam diri. misal dengan menggunakan mekanisme represi,
bila berhasil maka terjadi pemulihan keseimbangan psikologis tanpa adanya gejala anxietas. Jika
represi tidak berhasil sebagai suatu pertahanan, maka dipakai mekanisme pertahanan yang lain
misalnya konvensi, regresi, ini menimbulkan gejala.

Teori perilaku:

9
ANITA K.W

teori perilaku menyatakan bahwa kecemasan adalah suatu respon yang dibiasakan terhadap stimuli
lingkungan spesifik. Contoh : seorang dapat belajar untuk memiliki respon kecemasan internal
dengan meniru respon kecemasan orang tuanya.

Teori eksistensial:
Konsep dan teori ini adalah, bahwa seseorang menjadi menyadari adanya kehampaan yang menonjol
di dalam dirinya. Perasaan ini lebih mengganggu daripada penerimaan tentang kenyataan kehilangan/
kematian seseorang yang tidak dapat dihindari. Kecemasan adalah respon seseorang terhadap
kehampaan eksistensi tersebut.

Sistem saraf otonom:
Stimuli sistem saraf otonom menyebabkan gejala tertentu. Sistem kardiovaskular takikardi, muskular
nyeri kepala, gastrointestinal diare dan sebagainya.

Neurotransmiter:
Tiga neurotrasmiter utama yang berhubungan dengan kecemasan berdasarkan penelitian pada
binatang dan respon terhadap terapi obat yaitu : norepinefrin, serotonin dan gamma-aminobutyric
acid.

Penelitian genetika:
Penelitian ini mendapatkan, hampir separuh dan semua pasien dengan gangguan panik memiliki
sekurangnya satu sanak saudara yang juga menderita gangguan.

Penelitian pencitraan otak:
Contoh: pada gangguan anxietas didapati kelainan di korteks frontalis, oksipital, temporalis. Pada
gangguan panik didapati kelainan pada girus para hipokampus.

Sumber : TATALAKSANA DIAGNOSIS DAN TERAPI GANGGUAN ANXIETAS Dr. Evalina Asnawi
Hutagalung, Sp.KJ

Ketegangan Motorik

10
ANITA K.W

11
ANITA K.W

4. Mengapa pasien merasa khawatir, ketakutan, dan cemas (gejala psikis)?

Jawab :

Kecemasan adalah perilaku yang muncul karena adanya situasi yang oleh orang yang
mengalaminya dianggap membahayakan keadaan psikologisnya. Adapun ketakutan muncul
karena adanya situasi yang secara subyektif dianggap membahayakan keadaan fisik orang yang
mengalaminya.

Jadi hal yang mendasar dijadikan pembeda adalah apakah situasi tersebut membahayakan
keadaan psikologis ataukah keadaan fisik, kalau keadaan psikologis maka disebut kecemasan
dan sebaliknya jika fisik, maka disebut ketakutan.

Orang cemas ketika akan mengikuti ujian, karena jika tidak lulus ujian, maka ancaman
kegagalan bisa membahayakan keadaan psikologis orang tersebut. Orang takut ketika berada di
atas ketinggian, karena jika ia jatuh, maka tubuhnya akan mengalami cidera atau bahkan
kematian.

Orang cemas ketika disuruh berpidato di depan orang banyak, karena jika ia gagal berpidato
dengan baik, maka rasa malu akan membahayakan keadaan psikologisnya, terutama harga
dirinya. Orang takut ketika dikejar anjing galak, karena jika anjing tersebut berhasil
menggigitnya, maka tubuhnya akan terluka dan sakit.

Fobia adalah bentuk kecemasan dan ketakutan yang berlebihan yang bercirikan:

 di luar proporsi tuntutan situasi;

12
ANITA K.W

 tidak dapat diterangkan atau dicari alasannya;

 di luar kontrol kehendak;

 menjurus ke penghindaran situasi yang ditakuti;

 menetap dalam waktu yang lama;

 tidak mampu menyesuaikan diri (tidak adaptif); dan

 tidak tergantung usia maupun tahap perkembangan tertentu.

Sumber : Marks, Miller dkk dalam De Clerq, Tingkah Laku Abnormal: Dari Sudut Pandang
Perkembangan

a. Cemas  respon terhadap suatu ancaman yang sumbernya tidak diketahui, internal,
samar-samar atau konfliktual (memiliki kualitas menyelamatkan hidup)

b. Rasa takut  respon dari suatu ancaman yang asalnya diketahui, eksternal, jelas atau
bahkan bersifat konflik.

c. Panic  tidak disertai dengan adanya stimulus situasional yang dapat dikenali, spontan
dan tidak diperkirakan. terjadi anxietas berat (severe attack of autonomic anxiety)
selama 1 bulan, serangan disertai (4 gejala/lebih) gejala spt palpitasi, sesak napas, nyeri
dada, rasa takut mati, gemetar, mual, takut menjadi gila dll yang terjadi tiba2 dan
mencapai puncaknya dalam 10 menit (<20 menit).

(Kaplan & PPDGJ)

Pembeda Cemas Takut Panik
Halusinasi - - +
Waham - - +
Keinginan Bunuh - - +
diri
Objek Belum bertemu Sudah bertemu Tidak bisa
menyebutkan
Gejala somatik + + +
Disorganisasi - - +

13
ANITA K.W

5. Mengapa gejala muncul terumata saat penderita di tempat umum atau keramaian?

1. Gangguan Fobia.

Kata fobia berasal dari kata Yunani phobos, berarti “takut”. Takut adalah perasaan cemas dan
agitasi sebagai respon terhadap suatu ancaman.

Gangguan Fobia adalah ketakutan terhadap suatu benda atau kejadian atau situasi tertentu
yang sedemikian besarnya sehingga orang akan selalu berusaha menghindarkan diri. Fobia
spesifik ialah rasa takut yang tidak rasional terhadap suatu objek (objek fobia) atau situasi
misalnya serangga atau hewan, ruang kecil, air, elevator, atau terbang. Objek atau situasi
tersebut menyebabkan individu mengalami ansietas yang ekstrem atau menimbulkan respon
panik.

Gangguan Agorafobia

Agorafobia berasal dari bahasa Yunani yang berarti “takut kepada pasar” yang sugestif untuk
ketakutan berada di tempat-tempat terbuka dan ramai. Orang-orang dengan agoraphobia takut
untuk pergi berbelanja di tok0-toko yang penuh sesak; berjalan di jalan ramai; menyebrangi
jembatan; naik bus, kereta api, atau mobil; makan dirumah makan; atau keluar dari rumah.

 Gejala gangguan panic dengan Agorafobia

Klien mengalami tingkat ansietas atau takut tertinggi yang berlangsung 15 samapi 30 menit
disertai empat atau lebih gejala gangguan panic, selain itu ada gejala-gejala berikut :

 Takut terhadap tempat atau situasi yang individu yakin bahwa serangan panic atau
perilaku yang memalukan akan terjadi atau terhadap tempat atau situasi yang diyakini
tidak mungkin melarikan diri darinya.
 Menghindari tempat atau situasi tersebut, distress yang ekstrem
 Individu menyadari bahwa responnya ekstrem.
 Gejala Agorafobia tanpa Gangguan panic
 Sangat khawatir akan memperlihatkan perilaku seperti panic ketika berada
diluar rumah atau ketika berada di blok atau kota tempat tinggal, berada
bersama orang lain dilingkungan luar rumah.
 Menghindari situasi tersebut atau menoleransi hanya ketika merasa stress
dan takut.
 Individu menyadari bahwa responnya ekstrem.
 Faktor Presipitasi
Stressor pencetus mungkin berasal dari sumber internal atau eksternal. Stressor
pencetus dapat dikelompokkan menjadi 2 katagori :
1. Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang
akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktifitas hidup sehari- hari.
2. Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas, harga diri
dan fungsi sosial yang terintegrasi seseorang.

14
ANITA K.W

 Mekanisme Koping
Ketika mengalami ansietas individu menggunakan berbagai mekanisme koping untuk
mencoba mengatasinya dan ketidakmampuan mengatasi ansietas secara konstruktif
merupakan penyebab utama terjadinya perilaku patologis. Ansietas tingkat ringan
sering ditanggulang tanpa yang serius.
Tingkat ansietas sedang dan berat menimbulkan 2 jenis mekanisme koping:
1. Reaksi yang berorientasi pada tugas, yaitu upaya yang disadari dan berorientasi
pada tindakan untuk memenuhi secara realitis tuntutan situasi stress.
2. Mekanisme pertahanan ego, membantu mengatasi ansietas ringan dan sedang, tetapi
jika berlangsung pada tingkat sadar dan melibatkan penipuan diri dan distorsi realitas,
maka mekanisme ini dapat merupakan respon maladaptif terhadap stress.

 Agorafobia

- Gejala psikologis, perilaku atau otonom.

- Gejala primer dari anxietas

- Anxietas yang timbul harus terbatas. Dari 2 situasi berikut : banyak orang, tempat
umum, pergi keluar rumah & berpergian sendiri

- Menghindari situasi fobik harus atau sudah merupakan gejala yang menonjol (penderita
menjadi house bound)

 PPDGJ-III

1. Gangguan anxietas fobik

- Agoraphobia

- Fobia social

- Fobia khas/terisolasi

- Gangguan anxietas fobik lainnya

- Gangguan anxietas fobik yang tidak teridentifikasi

15
ANITA K.W

2. Gangguan anxietas lainnya

- Gangguan panic/anxietas paroksismal episodic

- Gangguan cemas menyeluhur

- Gangguan campuran anxietas dan depresi

- Gangguan anxietas campuran lainnya

- Gangguan anxietas lainnya YDT

- Gangguan anxietas lainnya YTT

3. Gangguan obsesif kompulsif

- Predominan pikiran obsesif/pengulangan

- Predominan tindakan kompulsif/obsesional rituals

- Campuran pikiran dan tidakan obsesif

- Gangguan kompulsif lainnya

- Gangguan kompulsif YDT

4. Reaksi terhadap stress berat dan gangguan penyesuaian

- Reaksi stress akut

- Gangguan stress pasca trauma

- Gangguan penyesuaian

- Reaksi stress berat lainnya

- Reaksi stress YTT

1. Gangguan disosiatif (konversi)

- Amnesia disosiatif

- Fugue disosiatif

- Stupor disosiatif

16
ANITA K.W

- Gangguan trans dan kesurupan

- Gangguan motorik disosiatif

- Konvulsi disosiatif

- Anastesia dan kehilangan sensorik disosiatif

- Gangguan disosiatif campuran

- Gangguan disosiatif lainnya

- Gangguan disosiatif YTT

2. Gangguan somatoform

- Gangguan somatisasi

- Gangguan somatoform tak terinci

- Gangguan hipokondri

- Disfungsi otonomik somatoform

- Gangguan nyeri somatoform menetap

- Gangguan somatoform lainnya

- Gangguan somatoform YTT

3. Gangguan neurotic lainnya

- Neurasthenia

- Sindom depersonalisasi/derealisasi

- Gangguan neurotic lainnya YDT

- Gangguan neurotic YTT

 KAPLAN (DSM-IV)

17
ANITA K.W

1. Gangguan panic

- Gangguan panic tanpa agoraphobia

- Gangguan panic dengan agoraphobia

- Agoraphobia tanpa riwayat gangguan panic

2. Gangguan cemas umum

3. Gangguan fobik

4. Gangguan obsessif kompulsif

5. Gangguan stress pasca trauma

PANIK  keadaan dimana seseorang mengalami depersonalisasi dan derealisasi

6. Apakah hubungan gejala dengan usia dan jenis kelamin?
Jawab :
 3,8% wanita
 1,8% pada pria
 Sering muncul pada usia 20 tahun
 Dan jarang terjadi pada usia diatas 40 tahun
MEDICASTORE.COM

EPIDEMIOLOGI GANGGUAN CEMAS
1. Gangguan panik :
 Prevalensi 1,5-5% gangguan panik 3-5,6% serangan panik
 Wanita 2-3 kali lebih sering dibanding laki-laki
 Agorafobia 0,6-6% > ¾ penderita agoraphobia dengan
gangguan panik
 Comorbiditas: - 91% pasien gangguan panik dan 84% yang dengan
agoraphobia ada comorbid paling sedikit satu dari gangguan berikut:
a. Gangguan depresi
b. Gangguan cemas (ansietas) lain
c. Gangguan kepribadian
d. Gangguan yang berkaitan dengan penggunaan zat/obat

2. Gangguan Cemas Menyeluruh:
 Prevalensi 3-8%
 Rasio wanita : pria = ( 2 : 1 )
 Usia datang ke klinik pada umur 20 th (sering)

18
ANITA K.W

 Paling sering 50-90% coexists (terjadi bersamaan dengan gangguan
fobia sosial, fobia spesifik, gangguan panik, depresi)

3. Obsesif konpulsi (OCD):
 Prevalensi pada populasi umum. 2-3%
 10% dari pasien berobat jalan pada klinik psikiatri
 Usia rata-rata onset pada 20 th
 Anak laki-laki lebih sering
 Penderita OCD disertai gangguan mental lain, 67% depresi berat, 25
% social fobia

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KECEMASAN

1) Faktor eksternal

a. Ancaman integritas fisik, meliputi ketidakmampuan fisiologis atau gangguan terhadap
terhadap kebutuhan dasar (penyakit, trauma fisik, jenis pembedahan yang akan dilakukan).

b. Ancaman sistem diri antara lain : ancaman terhadap identitas diri, harga diri, dan
hubungan interpersonal, kehilangan serta perubahan status atau peran (Stuart and Sundeen,
1998).

2) Faktor internal :

Menurut Stuart and Sundeen (1998) kemampuan individu dalam merespon terhadap penyebab
kecemasan ditemukan oleh :

a. Potensi stressor

Stressor psikososial merupakan setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan perubahan
dalam kehidupan seseorang sehingga orang itu terpaksa mengadakan adaptasi (Smeltzer&Bare,
2001).

b. Maturitas

Individu yang memiliki kematangan kepribadian lebih sukar mengalami gangguan akibat
kecemasan, karena individu yang matur mempunyai daya adaptasi yang lebih besar terhadap
kecemasan (Hambly, 1995).

c. Pendidikan dan status ekonomi

19
ANITA K.W

Tingkat pendidikan dan status ekonomi yang rendah akan menyebabkan orang tersebut mudah
mengalami kecemasan. Tingkat pendidikan seseorang atau individu akan berpengaruh terhadap
kemampuan berfikir, semakin tinggi tingkat pendidikan akan semakin mudah berfikir rasional
dan menangkap informasi baru termasuk dalam menguraikan masalah yang baru
(Stuart&Sundeen, 1998).

d. Keadaan fisik

Seseorang yang akan mengalami gangguan fisik seperti cidera, operasi akan mudah mengalami
kelelahan fisik sehingga lebih mudah mengalami kecemasan, di samping itu orang yang
mengalami kelelahan fisik mudah mengalami kecemasan (Oswari, 1998).

e. Tipe kepribadian

Orang yang berkepribadian A lebih mudah mengalami gangguan akibat kecemasan daripada
orang dengan kepribadian B. Adapun ciri- ciri orang dengan kepribadian A adalah tidak sabar,
kompetitif, ambisius, ingin serba sempurna, merasa diburu waktu, mudah gelisah, tidak dapat
tenang, mudah tersinggung, otot- otot mudah tegang. Sedang orang dengan tipe kepribadian B
mempunyai ciri- ciri berlawanan dengan tipe kepribadian A. Karena tipe keribadian B adalah
orang yang penyabar, teliti, dan rutinitas (Stuart&Sundeen, 1998).

f. Lingkungan dan situasi

Seseorang yang berada di lingkungan asing ternyata lebih mudah mengalami kecemasan
dibanding bila dia berada di lingkungan yang biasa dia tempati (Hambly, 1995).

g. Umur

Seseorang yang mempunyai umur lebih muda ternyata lebih mudah mengalami gangguan
akibat kecemasan daripada seseorang yang lebih tua, tetapi ada juga yang berpendapat
sebaliknya (Varcoralis, 2000).

h. Jenis kelamin

Gangguan panik merupakan suatu gangguan cemas yang ditandai oleh kecemasan yang
spontan dan episodik. Gangguan ini lebih sering dialami oleh wanita daripada pria (Varcoralis,
2000).

Menurut Frued dalam Stuart and Sundeen (1998), ada 2 tipe kecemasan yaitu:

20
ANITA K.W

a. Kecemasan primer

Kejadian traumatik yang diawali saat bayi akibat adanya stimuli tiba- tiba dan trauma pada saat
kelahiran, kemudian berlanjut dengan kemungkinan tidak tercapainya rasa puas akibat
kelaparan atau kehausan. Penyebab kecemasan primer adalah ketegangan atau dorongan yang
diakibatkan oleh faktor internal.

b. Kecemasan sub sekunder

Sejalan dengan peningkatan ego dan usia. Frued melihat ada jenis kecemasan lain akibat
konflik emosi diantara 2 elemen kepribadian yaitu id dan super ego. Freud menjelaskan bila
terjadi kecemasan maka posisi ego sebagai pengembang id dan super ego berada pada kondisi
bahaya.

Sedangkan menurut Rasmun (2004), kemampuan individu dalam merespon kecemasan
dipengaruhi oleh beberapa faktor. Antara lain:

1) Sifat stressor dapat berubah secara tiba- tiba atau berangsur- angsur dan dapat
mempengaruhi seseorang dalam menanggapi kecemasan, tergantung mekanisme koping
seseorang.

2) Jumlah stressor yang bersamaan

Pada waktu yang sama terdapat sejumlah stressor yang harus dihadapi bersama. Semakin
banyak stressor yang dialami seseorang, semakin besar dampaknya bagi fungsi tubuh
sehingga jika terjadi stressor yang kecil dapat mengakibatkan reaksi yang berlebihan.

3) Lama stressor

Memanjangnya stressor dapat menyebabkan menurunnya kemampuan individu mengatasi
stres, karena individu telah berada pada fase kelelahan, individu sudah kehabisan tenaga untuk
menghadapi stressor tersebut.

4) Pengalaman masa lalu

Pengalaman masa lalu individu dalam menghadapi kecemasan dapat mempengaruhi individu
ketika menghadapi stressor yang sama karena karena individu memiliki kemampuan
beradaptasi atau mekanisme koping yang lebih baik, sehingga tingkat kecemasan pun akan
berbeda dan dapat menunjukkan tingkat kecemasan yang lebih ringan.

21
ANITA K.W

5) Tingkat perkembangan

Tingkat perkembangan individu dapat membentuk kemampuan adaptasi yang semakin baik
terhadap stressor. Pada tiap tingkat perkembangan terdapat sifat stressor yang berbeda
sehingga resiko terjadi stres dan kecemasan akan berbeda pula.

7. Apa saja macam-macam gangguan cemas?

DSM IV

 Ggn.panik dengan atau tanpa agoraphobia
 Agoraphobia tanpa riwayat ggn.panik
 Fobia spesifik
 Fobia social
 Ggn. Stress pascatraumatik
 Ggn.stres akut
 Ggn.kecemasan umum

PPDGJ

F40 GANGGUANANXIETAS FOBIK
F40.0 Agorafobia
.00 Tanpa gangguan panik
.01 Dengan gangguan panik
F40.1 Fobia sosial.
F40.2 Fobia khas (terisolasi)
F40.8 Gangguan anxietas fobik lainnya
F40.9 Gangguan anxeitas fobik YTT
F41 GANGGUANANXIETAS LAINNYA
F41.0 Gangguan panik (anxietas paroksismal episodik)
F41.1 Gangguan anxietas menyeluruh
F41.2 Gangguan campuran anxietas dan depresif
F41.3 Gangguan anxietas campuran lainnya
F41.8 Gangguan anxietas lainnya YDT
F41.9 Gangguan anxietas YTT
F42 GANGGUANOBSESIF-KOMPULSIF
F42.0 Predominan pikiran obsesif atau pengulangan
F42.1 Predominan tindakan kompulsif [obsessional ritual
F42.2 campuran pikiran dan tindakan obsesif
F42.8 Gangguan obsesif-kompulsif lainnya
F42.9 Gangguan obsesif-kompulsif YTT
F43 REAKSI TERHADAP STRES BERAT dan GANGGUAN PENYESUAIAN
F43.0 Reaksi stres akut
F43.1 Gangguan stres pasca-trauma

22
ANITA K.W

F43.2 Gangguan penyesuaian
.20 Reaksi depresif singkat
.21 Reaksi depresif berkepanjangan
.22 Reaksi campuran anxietas dan depresif
23 Dengan predominan gangguan emosi lainnya
.24 Dengan predominan gangguan tingkah laku
.25 Dengan gangguan campuran dari emosi dan tingkah laku.
.28 Dengan gejala predominan lainnya YDT
F43.8 Reaksi stres berat lainnya
F43.9 Reaksi stres berat YTT
F44 GANGGUAN DISOSIATIF ILKONVERSII
F44.0 Amnesia disosiatif
F44.1 Fugue disosiatif
F44.2 Stupor disosiatif
F44.3 Gangguan trans dan kesurupan
F44.4 Gangguan motorik disosiatif
F44.5 Konvulsi disosiatif
F44.6 Anestesia dan kehilangan sensorik disosiatif
F44.7 Gangguan disosiatif (konversil)campuran
F44.8 Gangguan disosiatif (konversi) lainnya
.80 Sindrom Ganser
.81 Gangguan kepribadian multipel
.82 Gangguan disosiatif konversisementara terjadi pada masa kanak dan remaja

F44.9 Gangguan disosiatif (konversi] YTT

F45GA N G G UAN SO MATO FO RM
F45.0 Gangguan somatisasi
F45.1 Gangguan somatoform tak terind
F45.2 Gangguan hipokondrik
F45.3 Disfungsi otonomik somatoform
.30 Jantung dan Sistem kardiovaskular
.31 Saluran pencernaan bagian atas
.32 Saluran pencernaan bagian bawah
.33 Sistem pernafasan
.34 Sistem genitourinaria
.38 Sistem atau organ lainnya
F45.4 Gangguan nyeri somatoform menetap
F45.8 Gangguan somatoform lainnya
F45.9 Gangg-uar-, somatoform YTT

F48 GANGGUAN NEUROTIK LAINNYA
F48.0 Neurastenia
F48.1 Sindrom depersonalisasi-derealisasi
F48.8 Gangguan neurotik lainnya YDT
F48.9 Gangguan. Neurotik YTT

23
ANITA K.W

Macam Fobia :

 Fobia sederhana = rasa takut yg jelas terhadap obyek / situasi yg jelas
 Fobia sosial = rasa takut akan keramaian masyarakat
 Bacillofobia = takut akan kuman penyakit
 Claustrofobia = takut berada dlm ruangan tertutup
 Nekrofobia = takut mayat
 Aerofobia = takut berada di tempat yg tinggi
 Aichmofobia = takut benda2 tajam
 Planofobia = takut berada di tempat yg terbuka dan luas
 Agorafobia = takut di tempat terbuka
 Algofobia = takut terhadap rasa nyeri
 Eritrofobia = takut warna merah ( darah )
 Panfobia = takut segala sesuatu
 Xenofobia = takut orang asing
 Zoofobia = takut binatang
 Ailurofobia = takut kucing
Simtomatologi

8. Pemeriksaan fisik & penunjang yg dilakukan dokter

24
ANITA K.W

25
ANITA K.W

Diagnosis kecemasan dapat ditegakkan berdasarkan gejalagejala yang muncul sesuai
dengan kriteria Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) edisi III
atau dengan menggunakan Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRSA), The Taylor
Minnesota Anxiety Scale (TMAS) dan instrumen lainnya.

(Hawari, 2006).

Skala HARS Menurut Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) yang dikutip Nursalam (2003)
penilaian kecemasan terdiri dan 14 item, meliputi:

1. Perasaan Cemas firasat buruk, takut akan pikiran sendiri, mudah tensinggung.
2. Ketegangan merasa tegang, gelisah, gemetar, mudah terganggu dan lesu.

26
ANITA K.W

3. Ketakutan : takut terhadap gelap, terhadap orang asing, bila tinggal sendiri dan takut
pada binatang besar.
4. Gangguan tidur sukar memulai tidur, terbangun pada malam hari, tidur tidak pulas dan
mimpi buruk.
5. Gangguan kecerdasan : penurunan daya ingat, mudah lupa dan sulit konsentrasi.
6. Perasaan depresi : hilangnya minat, berkurangnya kesenangan pada hoby, sedih,
perasaan tidak menyenangkan sepanjang hari.
7. Gejala somatik: nyeni path otot-otot dan kaku, gertakan gigi, suara tidak stabil dan
kedutan otot.
8. Gejala sensorik: perasaan ditusuk-tusuk, penglihatan kabur, muka merah dan pucat
serta merasa lemah.
9. Gejala kardiovaskuler : takikardi, nyeri di dada, denyut nadi mengeras dan detak jantung
hilang sekejap.
10. Gejala pemapasan : rasa tertekan di dada, perasaan tercekik, sering menarik napas
panjang dan merasa napas pendek.
11. Gejala gastrointestinal: sulit menelan, obstipasi, berat badan menurun, mual dan
muntah, nyeri lambung sebelum dan sesudah makan, perasaan panas di perut.
12. Gejala urogenital : sering keneing, tidak dapat menahan keneing, aminorea, ereksi
lemah atau impotensi.
13. Gejala vegetatif : mulut kering, mudah berkeringat, muka merah, bulu roma berdiri,
pusing atau sakit kepala.
14. Perilaku sewaktu wawancara : gelisah, jari-jari gemetar, mengkerutkan dahi atau kening,
muka tegang, tonus otot meningkat dan napas pendek dan cepat.

Cara Penilaian kecemasan adalah dengan memberikan nilai dengan kategori:

0 = tidak ada gejala sama sekali

1 = Satu dari gejala yang ada

2 = Sedang/ separuh dari gejala yang ada

3 = berat/lebih dari ½ gejala yang ada

4 = sangat berat semua gejala ada

Penentuan derajat kecemasan dengan cara menjumlah nilai skor dan item 1-14 dengan hasil:

27
ANITA K.W

1. Skor kurang dari 6 = tidak ada kecemasan.

2. Skor 7 – 14 = kecemasan ringan.

3. Skur 15 – 27 = kecemasan sedang.

4. Skor lebih dari 27 = kecemasan berat.

sistem otak yang terganggu dalam gangguan cemas adalah kondisi terkait fungsional
sistem yang melibatkan banyak faktor sistem di otak, ada sistem saraf otonom, sistem
aksis hipotalamus-pituitary-adrenal, serta sistem neurotransmitter monoamine (terkait
tiga sistem lainnya yaitu serotonin,dopamin dan norepineprine). Sistem yang terganggu
ini bukan bersifat anatomis yang bisa dicek masalahnya dengan pemeriksaan CT-Scan
atau MRI. Pemeriksaan EEG juga tidak bisa mengungkapkan apa yang terjadi di dalam
tiga sistem yang saya sebutkan di atas. Paling mungkin dan yang banyak diteliti adalah
pemeriksaan dengan menggunakan f-MRI (functional MRI) dan PET-SCAN.

Diagnosis pasien depresi atau cemas sampai saat ini masih menggunakan pedoman
diagnosis yang sudah diakui secara internasional yaitu ICD-10 (WHO) atau DSM-IV TR
(American Psychiatric Association).

9. Dd

GANGGUAN NEUROSIS , SOMATOFORM DA GANGGUAN TERKAIT STRESS

F40 GANGGUAN ANXIETAS FOBIK
Definisi
Suatu ketakutan yg irasional terhdap suatu situasi atau benda tertentu.
Etiologi
 Merupakan intoksikasi stimulansia (halusinogenika) dan jarang oleh karena sebab
organic seperti tumor otakk kecil atau serebrovaskuler
 Genetic
Klasifikasi
Menurut PPDGJ :
i. Agoraphobia
1. Tanpa gangguan panic
2. Dengan gangguan panik
ii. Fobia social
iii. Fobia khas
iv. Gangguan anxietas fobik lainnya

28
ANITA K.W

v. Gangguan anxietas fobik ytt
Tanda dan gejala
 Ada perilaku menghindar
 Gejala psikologis , perilaku yg timbul harus merupakan gejala primer
psikologis
Diagnosis
 Agoraphobia
Criteria diagnosis:
 Semua kriteria dibawah ini harus dipenuhi untuk diagnosis pasti :
 Gejala psikologik, perilaku atau otonomik yang timbul harus merupakan
manifestasi primer dari anxietasnya dan bukan sekunder dari gejala-gejala
lain seperti misalnya waham atau pikiran obsesif
 Anxietas yang timbul harus terbatas pada (terutama terjadi dalam hubngan
dengan) setidaknya dua dari situasi berikut : banyak orang/ keramaian,
tempat umum, bepergian keluar rumah, dan bepergian sendiri, dan
 Menghindari situasi fobik harus atau sudah merupakan gejala yang menonjol
(penderita mejadi ”house bound”)
F40.00 = tanpa gangguan panik
F40.01 = Dengan gangguan panik
 Fobia social
Criteria diagnosis
Semua kriteria dibawah ini harus dipenuhi untuk diagnosis pasti :
 Gejala psikologik, perilaku atau otonomik yang timbul harus merupakan
manifestasi primer dari anxietasnya dan bukan sekunder dari gejala-gejala lain
seperti misalnya waham atau pikiran obsesif
 Anxietas harus mendominasi atau terbatas pada situasi tertentu (outside the
family circle); dan
 Menghindari situasi fobik harus atau sudah merupakan gejala yang menonjol
(penderita mejadi ”house bound”)
Bila terlalu sulit membedakan antara fobia sosial dengan agorafobia, hendaknya
diutamakan diagnosis agorafobia (F40.0)
 Fobia Khas (Terisolasi)
Criteria diagnosis:
Semua kriteria dibawah ini harus dipenuhi untuk diagnosis pasti:

29
ANITA K.W

 Gejala psikologik, perilaku atau otonomik yang timbul harus merupakan
manifestasi primer dari anxietasnya dan bukan sekunder dari gejala-gejala
lain seperti misalnya waham atau pikiran obsesif
 Anxietas harus terbatas pada adanya objek atau situasi fobik tertentu
(highly spesific situations) dan
 Situasi fobik tersebut sedapat mungkin dihindarinya
Pada fobia khas ini umumnya tidak ada gejala psikiatrik lain, tidak seperti
halnya agorafobia dan fobia sosial

Gangguan Anxietas Fobik Gejala Khas/Mencolok
Agorafobia Anxietas yang timbul terbatas pada 2 dari situasi: banyak
orang/keramaian,tempat umum, bepergian keluar rumah &
bepergian sendiri.
Fobia Sosial Anxietas harus mendominasi atau terbatas pada situasi sosial
tertentu (outside the family circle)
Fobia Khas (Terisolasi) Anxietas harus mendominasi /terbatas pada adanya objek
/situasi fobik tertentu (highly spesific situation)

Penatalaksanaan
 Farmakologis:
Benzodiazepine, penghambat MAOI, zat pemblok beta ( demam panggung)
Amat cemas ditambah klorazepam im atau iv
 Non farmakologis ;
Terapi kognitif : mengintervensi kadar keyakinan yg salah
Mengontrol ketakutan : control nafas dalam

F41 GANGGUAN ANXIETAS LAINNYA
Klasifikasi
i. F41.0 Gangguan panic
ii. F41.1Gangguan cemas menyeluruh
iii. F41.2Gangguan campuran anxietas dan depresi
iv. F41.3Gangguan anxietas campuran lainnya
v. F41.8Gangguan anxietas lainnya
vi. F41.9Gagguan anxietas ytt

Gangguan Anxietas Fobik Gejala/Manfes
Gangguan Panic  Adanya beberapa kali serangan anxietas
berat dlm masa kira-kira 1 bulan;pd
keadaan yg sebenarnya scr objektif tdk
membahayakan,tdk terbatas pd situasi yg

30
ANITA K.W

tlah diketahui/diduga sebelumnya, dpt
terjadipula anxietas antisipatorik (timbul
setelah membayangkan sesuatu yg
menghawatirkan terjadi.
Gangguan Cemas Menyeluruh  Menunjukkan anxietas sbg gjala primer
yang berlangsung hamper tiap hari untuk
beberapa minggu-bulan yg tdk
terbatas/harus menonjol pd situasi khusus
saja
 Gjalanya biasanya mencakup
unsur2:kecemasan(kawatir nasip
buruk,sulit konsentrasi),ketegangan
motorik (gelisah,sakit
kepala,gemetaran,tdk dpt
santai),overaktivitas otonomik(kpla trasa
ringan,berkeringat,jntung berdebar2,sesak
nafas,mulut kering)
Gangguan Campuran Anxietas & Depresi Terdapat gjala2 anxietas maupun depresi dimana
masing2 tdk menunjukkan rangkaina gjala yg
cukup berat untuk menegakkan diagnosis
tersendiri
Gangguan Anxietas Campuran Lainnya Memenuhi criteria gangguan anxietas menyeluruh
dan juga menunjukkan cirri-ciri yg menonjol dari
kategori gangguan F40-F49 tp tdk memenuhi
kriterianya scr lengkap

10. Tatalaksana

Jawab :

Terapi pada ansietas pada umumnya dapat dilakukan dengan 2 cara yakni terapi psikologis
(psikoterapi) atau terapi dengan obat-obatan (farmakoterapi). Angka-angka keberhasilan terapi
yang tinggi dilaporkan pada kasus-kasus dengan diagnosis dini. Psikoterapi sederhana sangat
efektif, khususnya dalam konteks hubungan pasien dan dokter yang baik, sehingga dapat
membantu mengurangi farmakoterapi yang tidak perlu.

1. Terapi Psikologis

Penyuluhan psikiatrik atau psikologis dan manipulasi lingkungan tidak jarang pula
dibutuhkan. Biasanya terapi-terapi psikologis pada ansietas tersebut merupakan bagian dari
manajemen untuk mengatasi kebanyakan kondisi medis. Namun untuk melakukan psikoterapi
semacam itu tidak selalu mungkin dapat dilakukan, khususnya yang ada dalam rumah sakit.

31
ANITA K.W

Jangkauan dari ketersediaan pelayanan seringkali terbatas, dan tidak semua pasien siap untuk
menyetujui sebuah skenario tertentu.

Terapi pada ansietas tidak harus dilakukan oleh seorang psikiatri, namun seharusnya dapat
diterapkan oleh semua dokter yang berkompeten, sehingga keterbatasan pelayanan dapat
diatasi(House cit Stark, 2002). Memberikan informasi selalu menjadi langkah awal dalam
menolong pasien ansietas, yang mana informasi yang diberikan harus sesuai dengan kadarnya
dan selalu memberikan harapan yang besar bagi setiap individu untuk sembuh. Kebanyakan
pasien menginginkan sebuah kejelasan dan informasi mengenai kondisi yang sedang ia alami,
dengan melakukan tindakan tadi, menunjukkan kepada pasien bahwa mereka benar-benar
diperdulikan dan dirawat.

Komunikasi yang efektif adalah esensial dalam pemberian informasi, dokter-dokter terlatih
dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan terbuka dari pasien, mampu memahami kondisi
psikis, dan kemampuan memberikan nasehat-nasehat yang baik sangat dibutuhkan, sehingga
akan tercipta komunikasi yang efektif. Yang mana akan mampu membantu pasien dalam
mengurangi beban psikisnya(House cit Stark, 2002)

2. Terapi Religi

Terapi ini sering digolongkan sebagai sebuah terapi psikis, namun sayangnya tidak semua
dokter berkompeten mampu melakukannya, dan terapi ini biasanya hanya dapat dilakukan oleh
seorang yang memang ahli dalam bidang spiritual. Terapi religi biasanya membantu pasien
untuk lebih tenang dan memberi waktu pasien untuk memahami dirinya sendiri, sehingga
menciptakan sebuah kesadaran dalam diri sendiri. Hal ini cenderung lebih efektif karena
kesadaran tersebut muncul dari diri sang pasien sendiri.

Terapi ini dilakukan melalui sharing kepada ahli religi yang dipercaya oleh penderita, dan
kemudian ahli religi tersebut memberi nasehat-nasehat untuk lebih mendekatkan diri kepada
Tuhan, namun tak jarang juga terapi semacam ini dilakukan secara invidual tanpa seorang
agamawan yang membimbing. Terapi semacam ini terkadang pada akhirnya juga membentuk
sebuah karakteristik atau watak yang baru dari penderita.

3. Terapi farmakologi

Beberapa jenis obat-obatan biasanya dapat digunakan untuk mengatasi dan mengurangi
ansietas, dan masing-masing obat memiliki keuntungan dan kekurangan masing-masing.

32
ANITA K.W

Penggunaan suatu zat dalam jangka waktu yang lama pun tidak akan membuahkan hasil yang
baik untuk kesehatan fisik sang pasien sendiri

Obat-obatan yang paling sering digunakan dalam mengatasi ansietas adalah
benzodiazepine(BDPs)(Fracchione, 2004). Adapun beberapa jenis obat yang lazim digunakan
adalah :

 Diazepam

 Lorazepam

 Alprazolam

 Propanolol

 Amitriptilin

Farmakoterapi (1) : gol. benzodiazepin

 Diazepam (Valium®, Stesolid® ) : dosis anjuran 10-30 mg/hari

 Klordiazepoksida (Cetabrium® Tensinyl® ) : dosis anjuran 15-30 mg/hari

 Lorazepam (Ativan® Renaquil® ) : 2-3 x 1 mg/hari

Farmakoterapi (2) : gol. benzodiazepin

 Clobazam (Frisium® Clobazam DM® ) : 2-3 x 10 mg/ hari

 Bromazepam (Lexotan® ) : 3 x 1,5 mg/hari

 Oxazolam (Serenal-10® ) : 2-3 x 10 mg/hari

 Chlorazepate (Tranxene 5-10® ) : 2-3 x 5 mg/hari

Farmakoterapi (3) : gol. benzodiazepin

33
ANITA K.W

 Alprazolam (Xanax® Alganax® Frixitas® ) : 3 x 0.25 – 0,5 mg/hari

 Prazepam (Equipax® ) : 2-3 x 5 mg/hari

Farmakoterapi (4) : non-benzodiazepin

 Sulpiride (Dogmatil® ) : 100 – 200 mg/hari

 Buspirone (Buspar® Tran-Q® ) : 15 – 30 mg/hari

 Hydroxyzine (Iterax® ) : 3 x 25 mg/hari

Gangguan Panik

TERAPI

Konseling dan medikasi.
Konseling: ajari pasien untuk diam ditempat sampai serangan panik berlalu, konsentrasikan diri untuk
mengatasi anxietas bukan pada gejala fisik, rileks, latihan pernafasan. Identifikasikan rasa takut
selama serangan. Diskusikan cara menghadapi rasa takut saya tidak mengalami serangan jantung,
hanya panik, akan berlalu.

Medikasi : banyak pasien tertolong melalui konseling dan tidak membutuhkan medikasi. Bila serangan
sering dan berat, atau secara bermakna dalam keadaan depresi beri antidepresan (imipramin 25 mg
malam hari, dosis bisa sampai 100-150 mg malam selama 2 minggu ). Bila serangan jarang dan
terbatas beri anti anxietas, jangka pendek (lorazepam 0,5 1 mg 3 dd 1 atau alprazolam 0,25 1 mg 3 dd 1)
hindari pemberian jangka panjang dan pemberian medikasi yang tidak perlu.

Gangguan Fobik

TERAPI

Konseling dan medikasi: dorong pasien untuk dapat mengatur pernafasan, membuat daftar situasi
yang ditakuti atau dihindari, diskusikan cara-cara menghadapi rasa takut tersebut. Dengan konseling
banyak pasien tidak membutuhkan medikasi. Bila ada depresi bisa diberi antidepresan lmipramin 50

34
ANITA K.W

150 mg/ hari. Bila ada anxietas beri antianxietas dalam waktu singkat, karena bisa menimbulkan
ketergantungan. Beta blokerdapat mengurangi gejala fisik. Konsultasi spesialistik bila rasa takut
menetap

GangguanObsesif-kompulsif

TERAPI

Konseling dan medikasi : mengenali, menghadapi, menantang pikiran yang berulang dapat
mengurangi gejala obsesd, yang pada akhirnya mengurangi perilaku kompulsif. Latihan pernafasan.
Bicarakan apa yang akan dilakukan pasien untuk mengatasi situasi, kenali dari perkuat hal yang
berhasil mengatasi situasi. Bila diperlukan bisa diberi Klomipramin 100 - 150 mg, atau golongan
Selected Serotonin Reuptake Inhibitors.
Konsultasi spesialistik bila kondisi tidak berkurang atau menetap.

GANGGUAN ANXIETAS MENYELURUH

TERAPI

Konseling dan medikasi: informasikan bahwa stres dan rasa khawatir keduanya mempunyai
efek fisik dan mental. Mempelajari keterampilan untuk mengurangi dampak stres merupakan
pertolongan yang paling efektif. Mengenali, menghadapi dan menantang kekhawatiran yang
berlebihan dapat mengurangi gejala anxietas. Kenali kekhawatiran yang berlebihan atau pikiran
yang pesimistik. Latihan fisik yang teratur sering menolong. Medikasi merupakan terapi
sekunder, tapi dapat digunakan jika dengan konseling gejala menetap. Medikasi anxietas :
misal Diazepam 5 mg malam hari, tidak lebih dari 2 minggu, Beta bloker dapat membantu
mengobati gejala fisik, antidepresan bila ada depresi. Konsultasi spesialistik bila anxietas berat
dan berlangsung lebih dan 3 bulan.

Sumber : TATALAKSANA DIAGNOSIS DAN TERAPI GANGGUAN ANXIETAS Dr. Evalina Asnawi
Hutagalung, Sp.KJ

35