You are on page 1of 26

HUBUNGAN KETERATURAN MINUM OAT TERHADAP PASIEN

TUBERCULOSIS YANG RELAPS DI PUSKESMAS BAROMBONG

NAMA : NENO ARISMAYANTI
NIM : 10542 0104 08

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2012
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular yang menjadi masalah
kesehatan di dunia karena Mycobacterieum tuberculosa telah menginfeksi sepertiga
penduduk dunia. Pada tahun 1993 World Health Organization (WHO) mencanangkan
kedaruratan Global penyakit tuberkulosis paru (TB Paru), karena sebagian besar
negara di dunia penyakit tuberkulosis paru tidak terkendali. Ini disebabkan banyaknya
penderita yang tidak berhasil disembuhkan, terutama penderita menular (BTA
Positif). Pada tahun 1995 diperkirakan setiap tahun terjadi sekitar 9 juta penderita
baru tuberkulosis paru dengan kematian 3 juta orang (WHO, Treatment of
Tuberculosis, Guidelines for National Program, 1997).
Diperkirakan 95% kasus TB Paru dan 98% kematian akibat TB Paru di dunia,
terjadi pada negara-negara berkembang. Sekitar 75% pasien TB Paru adalah
kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). Diperkirakan
seorang pasien TB Paru dewasa, akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4
bulan. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya
sekitar 20-30%. Jika ia meninggal akibat TB Paru, maka akan kehilangan
pendapatannya sekitar 15 tahun. Selain merugikan secara ekonomis, TB Paru juga
memberikan dampak buruk lainnya secara sosial stima bahkan dikucilkan oleh
masyarakat (Depkes RI, 2008).
Situasi tuberkulosis paru di dunia semakin memburuk, jumlah kasus TB Paru
meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan, terutama pada negara yang
dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah TB Paru besar (big burden
countries). Menyikapi hal tersebut, pada tahun 1993, WHO mencanangkan sebagai
kedaruratan dunia (global emergency).
Di Indonesia, tuberkulosis paru merupakan masalah utama kesehatan
masyarakat. Jumlah pasien TB Paru di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia

3 Apakah ada hubungan keteraturan minum OAT terhadap jumlah pasien yang relaps di puskesmas barombong? I.3.000 dan angka insidensi 110 per 100. Diperkirakan pada tahun 2004.000 orang (Achmadi.000 dibanding Sumatra sebesar 160 per 100. 2008). memberikan estimasi prevalensi tuberculosis berdasarkan pemeriksaan BTA positif sebesar104 per100. setiap tahun ada 539. Perbedaan juga terlihat di bawah 45 tahun dan di atas 45 tahun di mana yang tua Tiga kali lebih besar di Banding dengan yang muda.2 Bagaimana gambaran keteraturan minum OAT pada pasien tuberculosis di puskesmas barombong? I.2. Bila dirinsi secara regional.1 Tujuan Umum Mengetahui hubungan keteraturan minum OAT terhadap pasien yang relaps di puskesmas barombong? .00 orang.setelah India dan China dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB Paru didunia. Angka Nasional tuberkulosis paru SP (Survei Prevalensi) SKRT tuberkulosis paru mengindikasikan sebesar 119 per 100. Perbedaan yang bermakna ditemukan antara kawasan Jawa Bali yakni 59 per 100.2. I.000.2 Rumusan Masalah Berdasarkan hal tersebut di atas.3 Tujuan Penelitian I.000.000. Untuk kawasan luar Jawa bali.000.000 dengan luar Jawa Bali 174 per 100.000 dan insidensi sebesar 62 per 100.000 penduduk (Depkes RI. permasalahan yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah : I. sedangkan luar Jawa Bali masing-masing 198 (prevalensi) dan 172 (insidensi) per 100. maka prevalensi untuk Jawa Bali sebesar 67 per 100. Insiden kasus TB Paru BTA positif sekitar 110 per 100. KTI memberikan angka yang lebih tinggi yaitu 189 per 100.000 dengan batas bawah 66 dan batas atas 142 pada selang kepercayaan 95%.000 kasus baru dan kematian 101. 2005). Dari hasil survei prevalensi yang di tumpangkan pada SKRT 2004.1 Bagaimana prevalensi pasien tuberculosis di puskesmas barombong? I.2.

2 Tujuan Khusus I. I. I.4.3.3. I.3.1 Mengetahui prevalensi pasien tuberculosis di puskesmas barombong.2.4. I. I.4.4 Mengatahui gambaran keteraturan minum OAT pada pasien tuberculosis di puskesmas barombong I.2.3. I.3. dan pengalaman langsung dalam pelaksaan penelitian.2 Bagi Instansi Terkait (Puskesmas dan Dinas Kesehatan) Sebagai bahan pertimbangan dan pemikiran bagi program pemberantasan penyakit tuberculosis.2.1 Bagi Masyarakat Memberikan kesadaran kepada masyarakat agar lebih teratur dalam mengkonsumsi OAT.3 Mengetahui gambaran penderita TB yang minum OAT dan relaps.4 Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian ini diharapkan sebagai berikut : I. wawasan.3 Bagi Peneliti Menambah pegetahuan.2.2 Mengetahui gambaran penderita TB yang minum OAT dan tidak relaps. BAB II TINJAUAN PUSTAKA .

Selanjutnya menyebar ke getah bening setempat dan terbentuklah primer kompleks. Bentuknya sering agak melengkung dan kelihatan seperti manik – manik atau bersegmen. 2004) .1.1. Basil tuberkulosis termasuk dalam genus Mycobacterium.3) II.2) Mycobacterium tuberculosis masuk ke dalam jaringan paru melalui saluran napas ( droplet infection ) sampai alveoli.6 mikron. suatu anggota dari family dan termasuk ke dalam ordo Actinomycetales. ekskreta lain dan mempunyai resistensi tinggi terhadap antiseptik. Basil tuberkulosis dapat bertahan hidup selama beberapa minggu dalam sputum kering.1 Tuberkulosis II.1. Mycobacterium africanum dan Mycobacterium bovis.1Pengertian Tuberkulosis Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis tipe Humanus.2.1) Basil–basil tuberkel di dalam jaringan tampak sebagai mikroorganisme berbentuk batang. yang dalam perjalanan lebih lanjut sebagian besar akan mengalami penyembuhan. Mycobacterium tuberculosis menyebabkan sejumlah penyakit berat pada manusia dan juga penyebab terjadinya infeksi tersering . Jenis kuman tersebut adalah Mycobacterium tuberculosis.2 Epidemiologi Gambar II. terjadilah infeksi primer.1 Insidens TB didunia (WHO. dengan panjang berfariasi antara 1 – 4 mikron dan diameter 0. tetapi dengan cepat menjadi inaktif oleh cahaya matahari.II.3 – 0. sinar ultraviolet atau suhu lebih tinggi dari 60 0C. Infeksi primer dan primer kompleks dinamakan TB primer. Kuman tuberkulosis pertama kali ditemukan oleh Robert Koch pada tahun 1882.

dan sebagainya). Tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses olehmasyarakat. Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah: 1. Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan b. Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG e. TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat. Tidak memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan paduan obat yang tidak standar. akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal ini diakibatkan oleh: a. negara yang sedang berkembang. 4. Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat. gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis) d. pencatatan danpelaporan yang standar. Jika ia meninggal akibat TB. Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). seperti pada negara 2. Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan. Kegagalan program TB selama ini. 5. Infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara-negara yang mengalami krisis ekonomi atau pergolakan masyarakat. tidak dilakukan pemantauan. obat tidakterjamin penyediaannya. c. Diperkirakan seorang pasien TB dewasa. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20-30%. Selain merugikan secara ekonomis. maka akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun. Dampak pandemi HIV . 3. penemuan kasus /diagnosis yang tidak standar.

. hal ini memungkinkan basil TB tersebutberkembang biak dan menyebar melalui saluran limfe dan aliran darah.000 orang. Keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani. kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (multidrug resistance = MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. sedangkan yang melalui aliran darah akan mencapai berbagai organ tubuh.5) Sebagian basil TB difagositosis oleh makrofag di dalam alveolus tapi belum mampu membunuh basil tersebut.1. Droplet dengan ukuran 1 – 5 mikron yang dapat melewati atau menembus sistem mukosilier saluran nafas kemudian mencapai dan bersarang di bronkiolus dan alveolus. Situasi TB didunia semakin memburuk. Munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB. terutama pada negara yang dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah TB besar (high burden countries). TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. II.000 kasus baru dan kematian 101. Menyikapi hal tersebut.000 penduduk. Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. Basil TB yang menyebar melalui saluran limfe mencapai kelenjar limfe regional. Beberapa penelitian menyebutkan 25 % -50 % angka terjadinya infeksi pada kontak tertutup. yaitu secara inhalasi “ droplet nucleus “ yang mengandung basil TB.3 Patogenesis Penularan biasanya melalui udara.4) Karena di dalam tubuh pejamu belum ada kekebalan awal. Koinfeksi dengan HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan. dan di dalam organ tersebut akan terjadi proses dan transfer antigen ke limfosit . Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 110 per 100. Kuman TB hampir selalu dapat bersarang di dalam . Diperkirakan pada tahun 2004. Di Indonesia. Pada saat yang sama. setiap tahun ada 539. pada tahun 1993. jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan. sehingga basil dalam makrofag umumnya dapat tetap hidup dan berkembang biak. WHO mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency).

mengakibatkan pengosongan bahan setengah cair tersebut sehingga terbentuk rongga di dalam paru-paru. pubertas dan akil balig dan keadaan-keadaan yang menyebabkan turunnya imunitas seperti infeksi HIV. kelenjar limfe. Proses terakhir yang terjadi adalah hialinasi dan perkapuran. tetapi tidak selalu dapat berkembang biak secara luas. Untuk sementara. sedangkan basil TB di lapangan atas paru.3) II. Sebagian besar orang yang telah terinfeksi (80 – 90 %). Kemungkinan menjadi sakit terutama pada balita. penggunaan obat-obat imunosupresan yang lama. melunak.sumsum tulang. maka darah pekejutan akan membesar secara lambat dan seringkali terjadi perforasi ke dalam bronkus. Lesi-lesi ini akan pulih spontan. Infeksi yang alami. belum tentu menjadi sakit tuberkulosis. maka lesi akan dibungkus oleh fibroflas dan serat kolagen. diabetes melitus dan silikosis. tulang dan otak lebih mudah berkembang biak terutama sebelum imunitas terbentuk .4 Cara penularan . Jika lesi berkembang. ginjal. mencair atau jika multifikasi basil tuberculosis dihambat oleh kekebalan tubuh dan pengobatan yang diberikan. Kurang lebih 10 % individu yang terkena infeksi TB akan menderita penyakit TB dalam beberapa bulan atau beberapa tahun setelah infeksi. Mereka menjadi sakit (menderita tuberkulosis) paling cepat setelah 3 bulan setelah terinfeksi. Pada sebagian anak-anak atau orang dewasa mempunyai pertahanan alami terhadap infeksi primer sehingga secara perlahan dapat sembuh. Tetapi kompleks primer ini dapat lebih progresif dan membesar yang pada akhirnya akan muncul menjadi penyakit tuberkulosis setelah 12 bulan. setelah sekitar 4 – 8 minggu tubuh melakukan mekanisme pertahanan secara cepat. hati. dan keberadaan kuman dormant tersebut diketahui hanya dengan tes tuberkulin. dan mereka yang tidak sakit tetap mempunyai risiko untuk menderita tuberkulosis sepanjang hidupnya .1. Fokus primer yang terjadi dapat melebur dan menghilang atau terjadi perkejuan sentra yang terdiri atas otolitis sel yang tidak sempurna. kuman yang ada dalam tubuh berada dalam keadaan dormant (tidur).

Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan. Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. 5. Sebagian besar kuman TB menyerang paru. Cara penularan tuberculosis. 2. Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. 4. berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab. makin menular pasien tersebut. Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif. Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. ARTI sebesar 1%. sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. . Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. Risiko penularan setiap tahunnya di tunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama satu tahun. antara lain : 1. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak. Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). 4. Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif. Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negative menjadi positif. Pada waktu batuk atau bersin. tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Risiko Penularan 1. 3. 2. 3. ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%.

Dengan ARTI 1%. 2. Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah. maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian. Kasus kronik Pasien TB dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulang (kategori 2). diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk). Hal ini ditunjang dengan rekam medis sebelumnya dan atau riwayat penyakit dahulu. maka jumlahpasien TB akan meningkat. Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA positif. sehingga jika terjadi infeksi penyerta (oportunistic). seperti tuberkulosis. Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB. HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB. Kasus gagal pengobatan Pasien TB yang hasil pemeriksaan dahaknya positif atau kembali positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat.1. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas system daya tahan tubuh seluler (cellular immunity). 2. 3. 3.5 Klasifikasi Kasus TB Sesuai dengan pedoman penanggulangan TB Nasional dibagi menjadi : 1. diperkirakan diantara 100. Risiko Menjadi Sakit Tb 1. 4.000 penduduk rata-rata terjadi 1000 terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun. didiagnosis kembali dengan BTA positif (dahak atau kultur). Kasus kambuh (relaps) Pasien TB yang sebelumnya pernah mendapatkan pengobatan TB dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap. II. dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula. .

1 Tujuan Pengobatan Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien. Pada tahun 1995. program nasional penanggulangan TB mulai menerapkan strategi DOTS dan dilaksanakan di Puskesmas secara bertahap. mencegah kekambuhan. Rifampisin dan Ethambutol selama 6 bulan. 7) II. mencegah kematian. Tabel 1. TB ditanggulangi melalui Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP- 4). memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT.1. Sejak tahun 1969 penanggulangan dilakukan secara nasional melalui Puskesmas. PAS dan Streptomisin selama satu sampai dua tahun.6.1. Kasus gagal Pasien TB yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. sifat dan dosis OAT Jenis OAT Sifat Dosis yang direkomendasikan (mg/kg) Harian 3x seminggu Isoniazid (H) Bakterisid 5 10 (4-6) (8-12) . sifat dan dosis sebagaimana pada Tabel 1. Dalam pengobatan TB digunakan OAT dengan jenis.6) II. Setelah perang kemerdekaan.6 Upaya Penanggulangan TB dengan OAT Penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda namun terbatas pada kelompok tertentu. Para Amino Acid (PAS) kemudian diganti dengan Pirazinamid. 4. Sejak tahun 2000 strategi DOTS dilaksanakan secara Nasional di seluruh UPK terutama Puskesmas yang di integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar. Sejak 1977 mulai digunakan paduan OAT jangka pendek yang terdiri dari INH. Obat anti tuberkulosis (OAT) yang digunakan adalah paduan standar INH. Jenis.

2. Tahap Lanjutan a) Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit. Rifampicin (R) Bakterisid 10 10 (8-12) (8-12) Pyrazinamide (Z) Bakterisid 25 35 (20-30) (30-40) Streptomycin (S) Bakterisid 15 (12-18) Ethambutol (E) Bakteriostatik 15 30 (15-20) (20-35) II. dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi). Pada tahap awal (intensif) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. dilakukan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat.prinsip sebagai berikut: 1.1. c. Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan. OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat. Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap. .6. 3. Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat. Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan. biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. yaitu tahap awal (intensif) dan lanjutan. Tahap awal (intensif) a. namun dalam jangka waktu yang lebih lama.1 Prinsip pengobatan Pengobatan TB dilakukan dengan prinsip . b.

yaitu : Kategori 1 : o 2HRZE/4H3R3 o 2HRZE/4HR o 2HRZE/6HE Kategori 2 : o 2HRZES/HRZE/5H3R3E3 o 2HRZES/HRZE/5HRE Kategori 3 : o 2HRZ/4H3R3 o 2HRZ/4HR o 2HRZ/6HE b. 2) Paket Kombipak . Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. b) Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan. sedangkan kategori anak sementara ini disediakan dalam bentuk OAT kombipak. Paduan OAT yang digunakan di Indonesia a. Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. o Kategori 2 : 2HRZES/(HRZE)/5(HR)3E3. WHO dan IUATLD (International Union Against Tuberculosis and Lung Disease) merekomendasikan paduan OAT standar. Disamping kedua kategori ini. disediakan paduan OAT Sisipan : HRZE dan OAT Anak : 2HRZ/4HR 1) Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket berupa obat Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT). Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan TB di Indonesia: o Kategori 1 : 2HRZE/4(HR)3.

b. Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko terjadinya resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep. Kombinasi Dosis Tetap (KDT) mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB : 1. Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif c. Dosis paduan OAT KDT Kategori 1 Berat Badan (kg) Tahap Intensif Tahap Lanjutan tiap hari selama 56 hari 3 kali seminggu selama RHZE (150/75/400/275) 16 minggu RH (150/150) . Pasien baru TB paru BTA positif. 2. Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin efektifitas obat dan mengurangi efek samping. 3. Pirazinamid dan Etambutol yang dikemas dalam bentuk blister. Satu (1) paket untuk satu (1) pasien dalam satu (1) masa pengobatan. Rifampisin. Pasien TB ekstra paru Dosis yang digunakan untuk paduan OAT KDT Kategori 1: 2(HRZE)/4(HR)3 sebagaimana dalam Tabel 2 Tabel 2. dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai. 1. Adalah paket obat lepas yang terdiri dari Isoniasid. Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat menjadi sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien Paduan OAT dan peruntukannya. Kategori-1 Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru: a. Paduan OAT ini disediakan program untuk digunakan dalam pengobatan pasien yang mengalami efek samping OAT KDT. Paduan Obat Anti TB (OAT) disediakan dalam bentuk paket.

Dosis paduan OAT KDT Kategori 2 Berat Badan (kg) Tahap Intensif Tahap Lanjutan tiap hari 3 kali seminggu RHZE (150/75/400/275) + S RH (150/150) + E(400) Selama 56 hari Selama 28hari Selama 20 minggu 30-37 2 tab 4KDT 2 tab 4KDT 2 tab 2KDT . Kategori -2 Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya: • Pasien kambuh • Pasien gagal • Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat (default) Dosis yang digunakan untuk paduan OAT KDT Kategori 2: 2(HRZE)S/(HRZE)/ 5(HR)3E3 sebagaimana dalam Tabel 4 Tabel 4. 48 2. 30 – 37 2 tablet 4KDT 2 tablet 2KDT 38-54 3 tablet 4KDT 3 tablet 2KDT 55-70 4 tablet 4KDT 4 tablet 2KDT ≥ 71 5 tablet 4KDT 5 tablet 2KDT Dosis yang digunakan untuk paduan OAT Kombipak Kategori 1: 2HRZE/ 4H3R3 sebagaimana dalam Tabel 3 Tabel 3 Dosis paduan OAT Kombipak Kategori 1 Tahap Lama Dosis per hari / kali Jumlah Pengobatan Pengobatan hari/kali Tablet Kaplet Tablet Tablet menelan Isoniasd Rifampis Pirazinami Etambut obat @ 300 in@ 450 d @ 500 ol @ Mgr mgr mgr 250 mgr Intensif 2 bulan 1 1 3 3 56 Lanjutan 4 bulan 2 1 . .

1 2 . + 500 mg Streptomisin + 2 tab Etambutol inj. + 3 tab Etambutol 55-70 4 tab 4KDT 4 tab 4KDT 4 tab 2 KDT +1000mg streptomisin +4 tab etambutol inj. >71 5 tab 4KDT 5 tab 4KDT 5 tab 2 DKT +1000mg Streptomisin + 5 tab etambutol inj. kali a-tan a-tan 300 sin @ id @ @ 250 @ 400 menela Mgr 450 500 mgr mgr n obat mgr mgr Tahap 2 bulan 1 1 3 3 . 38-54 3 tab 4KDT 2 tab 4KDT 3 tab 4KDT 3 tab +750mg Streptomisin 2KDT inj. Dosis yang digunakan untuk paduan OAT Kombipak Kategori 2: 2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3) sebagaimana dalam Tabel 5 Tabel 5. - 28 harian ) Tahap 2 1 . Dosis paduan OAT Kombipak Kategori 2. Tahap Lama Tablet Kaplet Tablet Tablet Tablet Strept Jumlah Pengo Pengo Isonia Rifamp Pirazina etambut etambut omisis hari / b b sid @ i m ol ol n inj. 0. 60 lanjut an (dosis 3xse ming .75 gr 56 intens if (dosis 1 bulan 1 1 3 3 .

Dosis OAT Kombipak Sisipan : HRZE Tahap Lamanya Tablet Kaplet Tablet Tablet Jumlah Pengobatan Pengobatan Isoniasid Ripamfisi Pirazinami Etambuto hari/kali @300 n @ 450 d l menelan mgr mgr @ 500 mgr @ 250 obat Mgr Tahap 1 bulan 1 1 3 3 28 intensif . Dosis KDT Sisipan : (HRZE) Berat Badan (kg) Tahap Intensif tiap hari selama 28 hari RHZE (150/75/400/275) 30 – 37 2 tablet 4KDT 38 – 54 3 tablet 4KDT 55 – 70 4 tablet 4KDT ≥ 71 5 tablet 4KDT Paket sisipan Kombipak adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari) sebagaimana dalam Tabel 7. Tabel 7. • Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan aquabidest sebanyak 3. (1ml = 250mg). Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari) sebagaimana dalam Tabel 6.7ml sehingga menjadi 4ml. OAT Sisipan (HRZE) Paduan OAT ini diberikan kepada pasien BTA positif yang pada akhir pengobatan intensif masih tetap BTA positif. 3. • Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaan khusus. gu) Catatan: • Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk streptomisin adalah 500mg tanpa memperhatikan berat badan. Tabel 6.

Pada tahun 2003 WHO menyatakan insidens TB-MDR meningkat secara bertahap rerata 2% pertahun.61%.3% di seluruh dunia dan lebih dari 200 kasus baru terjadi di dunia. Prevalens TB diperkirakan WHO meningkat 4.5 Pola TB-MDR di Indonesia khususnya RS Persahabatan tahun 1995-1997 adalah resistensi primer 4. OAT yang resisten terhadap kuman tuberculosis akan semangkin banyak. TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat.6%-5. 8) Di Indonesia. Hasil surveilans secara global menemukan bahwa OAT yang resisten terhadap M. Hal ini patut diwaspadai karena prevalensnya cenderung menunjukan peningkatan.000 kasus TB-MDR baru per tahun.8% dan resistensi sekunder 22.000 pasien TB di 81 negara.2%. WHO memperkirakan ada 300. .6 Penelitian Aditama mendapatkan resistensi primer 6. Penelitian di RS Persahabatan tahun 1998 melaporkan proporsi kesembuhan penderita TB-MDR sebesar 72% menggunakan paduan OAT yang masih sensitive ditambah ofloksasin. ternyata angka TB-MDR lebih tinggi dari yang diperkirakan.86% sedangkan resistensi sekunder 15. (dosis harian) Penggunaan OAT lapis kedua misalnya golongan aminoglikosida (misalnya kanamisin) dan golongan kuinolon tidak dianjurkan diberikan kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut jauh lebih rendah daripada OAT lapis pertama.95%-26.07%. Di negara berkembang prevalens TB-MDR berkisar antara 4. saat ini 79% dari TB- MDR adalah “ super strains” yang resisten paling sedikit 3 atau 4 obat antituberkulosis Resisten ganda (multidrugs resistant tuberculosis/TB-MDR ) merupakan masalah terbesar terhadap pencegahan dan pemberantasan TB dunia. tuberculosis sudah menyebar dan mengancam program tuberkulosis kontrol di berbagai negara.6%-22. Pada survei WHO dilaporkan lebih dari 90.

Menurut kepustakaan terdapat banyak faktor yang menyebabkan pasien TB tersebut relaps (kambuh) kembali. tenaga dan hal penghambat lainnya. biaya. tetapi kami membatasi penelitian ini hanya pada keteraturan minum OAT .1 Dasar Pemikiran Variable Penelitian Berdasarkan tinjauan pustaka yang ditampilkan dan maksud serta tujuan penelitian maka disusunlah variabel pola pikir. Banyak negara sudah menerapkan strategi DOTS dalam penatalaksanaan TB hal ini tenyata sangat bermanfaat untuk meningkatkan angka kesembuhan sehingga mengurangi angka resitensi termasuk resitensi ganda. Selain itu diagnosis penyakit TB yang relaps harus dilakukan pemantauan perjalanan penyakit harus dilakukan secara tepat dan akurat. adanya keterbatasan waktu. Karena. Menurut kepustakaan yang ditampilkan. . 7) BAB III KERANGKA KONSEP III.

2 Kerangka Konsep Variable Independen Variable Dependen Minum Oat Pasien TB relaps Gambar III. Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan.ketidakteraturan minum OAT dapat mengakibatkan TB yang relaps apabila pengobatan pada pasien TB tidak sesuai dengan prinsip – prinsip sebagai berikut : 1. 3. dilakukan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). III. OAT atau dengan kata lain pengobatan TB yang tidak OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat. Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat. Cara ukur : Mencatat hasil dari rekam medic dan wawancara pasien TB di Puskesmas Barombong .3 Definisi Operasional a) Variable Dependen : Pasien Tb Relaps di Puskesmas Barombong Definisi : Pasien didiagnosis oleh dokter sebagai pasien TB relaps yakni pasien TB yang sebelumnya pernah mendapatkan pengobatan TB dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap. didiagnosis kembali dengan BTA positif (dahak atau kultur). dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi).2. Alat ukur : Menggunakan rekam medic dan wawancara langsung dengan pasien TB di Puskesmas Barombong. 2.1 Kerangka konseptual variable yang diteliti III.

Hasil ukur : Berdasarkan jumlah kasus yang didapatkan dari rekam medic pasien TB yang relaps di Puskesmas Barombong.1 Hipotesis Nol Tidak ada hubungan antara keteraturan minum OAT terhadap pasien TB yang relaps di Puskesmas Barombong. III.2 Hipotesis Alternative Ada hubungan antara keteraturan minum OAT terhadap pasien TB yang relaps di Puskesmas Barombong.4. III.4. b) Variabel Independen : Keteraturan Minum OAT Definisi : Berdasarkan hasil pemeriksaan yang didapatkan dari rekam medic pasien TB di Puskesmas Barombong. Alat ukur : Menggunakan data dari rekam medic dan wawancara pada Pasien TB Puskesmas Barombong.4 Hipotesis III. . Hasil ukur : Berdasarkan rekam medic dan wawancara pada pasien TB Puskesmas Barombong. Cara ukur : Berdasarkan rekam dan wawancara pada medic pasien Puskesmas Barombong.

3 POPULASI DAN SAMPEL . IV. BAB IV METODE PENELITIAN IV.1 DESAIN PENELITIAN IV.2 TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN Penelitian dilakukan di Puskesmas Barombong dan pengumpulan dan pengolahan data dilaksanakan pada tahun 2012.

Sumber Data : dari rekam medic dan wawancara pasien TB di Puskesmas Barombong. transfering) Langkah-langkah pengolahan data menurut Alimul (2007) adalah sebagai berikut: a.3. Dan prinsip simple random sampling yaitu kita menghitung terlebih dahulu jumlah populasi yang akan dipilih sampelnya.2.IV. Instrumen Pengumpulan Data : Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan yaitu laporan data rekam medik dan wawancara pasien TB di Puskesmas Barombong. coding. Editing dilakukan di lapangan sehingga bila terjadi kekurangan atau ketidaksengajaan kesalahan pengisian dapat segera dilengkapi atau disempurnakan.3. Populasi Populasi target : Populasi terjangkau : IV. Editing Editing bertujuan untuk meneliti kembali jawaban menjadi lengkap. Editing .5 Manajemen Data (editing.1.4 pengumpulan data Jenis data : data sekunder dari Puskesmas Barombong.Sampel IV. 4.3.3. Probability sampling prinsipnya bahwa setiap subjek dalam populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk terpilih dan untuk tidak terpilih sebagai sampel.4 Besar sampel dan rumus besar sampel IV.3 Kriteria seleksi IV. tabulating.5 Teknik sampling Teknik sampling yang digunakan yaitu probability sampling khususnya simple random sampling.3. Kemudian diambil sebagian dengan mempergunakan table random 4.

Penyajian data Data disajikan dalam bentuk tabel. Apabila probabilitas (p) lebih kecil daripada α (p<0. identitas dan temuan klinis dari data rekam medic pasien akan dirahasiakan oleh peneliti. dilakukan dengan cara memeriksa kelengkapan data. disusun dan ditata untuk disajikan dan dianalisis. b. 4. Tabulating Pada tahapan ini data dihitung. Coding Coding yaitu memberikan kode angka pada atribut variabel agar lebih mudah dalam analisa data. 4.1).6 Analisis data Data yang diperoleh melalui penelitian ini akan diolah menggunakan program Statistical Product and Service Solution (SPSS) dan variabel penelitian dianalisis dengan menggunakan uji Chi-Square pada taraf nyata 90% (α=0. melakukan tabulasi untuk masing-masing variabel. Dari data mentah dilakukan penyesuaian data yang merupakan pengorganisasian data sedemikian rupa agar dengan mudah dapat dijumlah.8. mamperjelas serta melakukan pengolahan terhadap data yang dikumpulkan. d. Jika sebaliknya hipotesis Ho diterima maka tidak ada hubungan yang signifikan. .1) maka hipotesis Ho ditolak berarti ada hubungan yang signifikan antara variabel-variabel penelitian dengan lama rawat inap pasien DBD. Aspek etika penelitian Pada penelitian ini. Transfering Tranfering data yaitu memindahkan data dalam media tertentu pada master tabel. 4.7. Coding dilakukan dengan cara menyederhanakan data yang terkumpul dengan cara memberi kode atau simbol tertentu. c. Serta sebelum dilakukan penelitian maka peneliti akan melampirkan surat ijin untuk melakukan penelitian.

Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberculosis. Prevention. Pengaruh Faktor Gizi dan Pemberian BCG terhadap Timbulnya Penyakit tuberkulosis Paru. Tuberculosis in Children Evolution. dkk. 1982. 2000. Cermin Dunia Kedokteran 5. J. Miller F. Jogyakarta : Gajah Mada University Press 2. John P. Epidemiologi Lingkungan. Ch Pudjarwoto. Jakarta : Pusdiknakes Depkes RI 6. Simanjuntak.Terjemahan Samik W. Pengawasan Penyehatan Pemukiman untuk Institusi Pendidikan Sanitasi Lingkungan. Edinburgh London Melbourne and New York 3. Epidemiology Treatment. REFERENSI 1. Edisi 2 cetakan pertama : Departemen Kesehatan Republik Indonesia ... Yogyakarta : Gajah Mada Uniersity Press 4.. Dasar Biologis dan Klinis Penyakit Infeksi. Juli. 1989. Edisi 4.. Misnadiarly.. Djasio. Soemirat. Sanropie. W.. Churchil Livingstone.. 1990. Stanford S. Herbert MS. 1994.

7.files.Diagnosis Dan Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Tb-Mdr. Jakarta (http://ppti. Soepandi Z.pdf) .wordpress. Jakarta : Departemen Pulmonologi & Ilmu kedokteran Respirasi FKUI-RS Persahabatan.com/2010/01/makalah-dr-priyanti-diagnosis-dan- faktor-yg-mempengaruhi-tb-mdr. Priyanti.