You are on page 1of 4

KLORAMFENIKOL

1. Farmakodinamik
Kloramfenikol merupakan suatu antibiotik yang memiliki mekanisme kerja
menghambat sisntesis protein bakteri pada tingkat ribosom. Obat ini terikat pada ribosom
subunit 50S. Kloramfenikol menyekatkan ikatan persenyawaan aminoacyl dari molekul
tRNA yang bermuatan ke situs aseptor kompleks mRNA ribosom.
Kegagalanaminoacyl untuk menyatu dengan baik pada situs aseptor menghambat reaksi
transpeptidase yang dikatalisasi oleh peptidyl transferase. Peptida yang ada pada situs donor
pada kompleks ribosom tidak ditransfer ke asam amino aseptornya, sehingga sintesis protein
terhenti.
Kloramfenikol umumnya bersifat bakteriostatik. Pada konsentrasi tinggi
kloramfenikol kadang-kadang bersifat bakterisid terhadap kuman-kuman tertentu.
Kloramfenikol emiliki spektrum luas. Spektrum antibakteri kloramfenikol meliputi
Salmonella spp, Clamydia, Haemophillus, D. pneumoniae, S. pyogens, S. viridans, Neisseria,
Bacillus spp, C. diphtheriae, Mycoplasma, Rickettsia, Treponema dan kebanyakan kuman
anaerob.

2. Farmakokinetik
Setelah pemberian kloramfenikol melalui mata, absorpsi obat melalui kornea dan
konjunctiva, selanjutnya menuju humor aquos. Absorpsi terjadi lebih cepat bila kornea
mengalami infeksi atau trauma. Absorpsi sistemik dapat terjadi melalui saluran nasolakrimal.
Jalur ekskresi kloramfenikol utamanya melalui urin. Obat ini mengalami inaktivasi di hati.
Proses absorpsi, metabolisme dan ekskresi dari obat untuk setiap pasien, sangat bervariasi,
khususnya pada anak dan bayi. Resorpsinya dari usus cepat. Difusi kedalam jaringan, rongga,
dan cairan tubuh baik sekali, kecuali ke dalam empedu. Plasma-t1/2-nya rata-rata 3 jam.
Didalam hati, zat ini dirombak 90% menjadi glukoronida inaktif. Bayi yang baru dilahirkan
belum memiliki enzim perombakan secukupnya maka mudah mengalami keracunan dengan
akibat fatal. Ekskresinya melalui ginjal, terutama sebagai metabolit inaktif dan lebih kurang
10% secara utuh.

3. Penggunaan Klinik
Indikasi
Untuk terapi infeksi superficial pada mata yang disebabkan oleh bakteri, blepharitis, post
operasi katarak, konjungtivitis bernanah, traumatik keratitis, trakoma dan ulceratif keratitis.
Kontraindikasi
Pada pasien yang hipersensitif terhadap kloramfenikol. Pasien neonatus.
Interaksi Obat
Dapat menghambat respon terhadap terapi vitamin B12 atau asam folat.
Efek Samping
Rasa pedih dan terbakar mungkin terjadi saat aplikasi kloramfenikol pada mata. Reaksi
hipersensitivitas dan inflamasi termasuk mata merah, dan edema. Neuritis optikus,
penglihatan kabur selama beberapa menit setelah penggunaan. Pada terapi jangka panjang
ditemukan kasus anemia aplastik.
Sediaan
Tetes mata kloramfenikol 1 %; botol 5 mL.
Salep mata kloramfenikol 1 % (10mg/g); tube 5 g.
Dosis
Tetes mata 1-2 tetes atau sedikit salep mata setiap 3-6 jam.

Absorpsi Obat Pada Mata Absorpsi produk obat mata yang diberikan secara topikal dipengaruhi oleh beberapa faktor. Duvall. mengoleskan pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dan bola mata.Davis. Philadelphia: F.4). Katzung. Hal ini disebabkan oleh pengeluaran dan pengaliran air mata bertentangan dengan arah penembusan obat serta struktur kornea mata yang khas. Karena kapasitas Cul-de-sac terbatas. Beberpa obat ini bekerja pada sistem syaraf otonomik sehingga harus ditangani dengan hati-hati.. Kategori Farmakologi Produk Obat Mata Pembahasan yang menyeluruh tentang bahan terapeutik dan farmakologi yang digunakan di dalam ophtalmologi akan bermanfaat untuk memahami pengembangan sediaan-sediaan obat mata. 2005. 2008.6. Obat-obat tertentu yang dalam media asam termostabil (tahan panas) dapat menjadi termolabil (tidak tahan panas) ketika didapar mendekati kisaran pH fisiologis (kira-kira 7.H. K. A. laju sekresi dan laju aliran air mata. Davis’s Drug Guide For Nurses. larutan obat yang belum didapar dapat dipanaskan dahulu dalam otoklaf dan larutan dapar steril ditambahkan kemudian secara aseptis. Bertram G. Midriatik dan Sikloplegik 3. J.A. Ophtalmic Medications And Pharmacology. larutan atau suspensi. laju kedipan dan refleks tangisan yang disebabkan oleh pemberian obat. permukaan mata bukanlah suatu tempat yang baik untuk proses penyerapan obat oleh mata. Meskipun larutan untuk mata disterilkan dengan uap air mengalir dalam otoklaf dalam wadah akhirnya. absorpsi oleh jaringan vaskular konjungtiva. Pengobatan “dry eye syndrome” 5. Edisi Keenam. Ed. Beberapa obat tetes mata di pasaran dikemas dalam botol poletilen atau polipropilen dengan lubang yang dapat meneteskan 20-60 µl. Semua larutan untuk mata harus dibuat steril jika diberikan dan bila mungkin ditambahkan bahan pengawet yang cocok untuk menjamin sterilitas selama pemakaian.3. yaitu volume kapasitas mata yang terbatas untuk menahan bentuk sediaan yang diberikan. dapar. dan Vallerand. Bahan anti mikroba dan anti inflamasi 4.2. Jika diinginkan pH yang lebih tinggi. Larutan untuk mata adalah larutan steril yang dicampur dan dikemas untuk dimasukkan ke dalam mata. Bahan untuk pengobatan Glaukoma 2. Sebagian besar produk obat mata adalah sebagai berikut: 1. Oleh sebab itu penelitian pada akhir-akhir ini ditujukan pada sifat fisiko kimia dan stabilitas bahan aktif serta bagaimana meminimalkan kontaminasi mikroba dan partikel asing baik bahan kimia maupun bukan bahan kimia. metode yang digunakan tergantung pada sifat khusus dari sediaannya. Fourth Edition. Defenisi Obat Mata Sediaan obat mata adalah sediaan steril berupa salep. dan Kershner R. 2006. Sediaan larutan mata adalah yang paling umum digunakan dan juga paling disukai karena pemberiannya yang lebih mudah. Berbeda dengan mukosa usus yang merupakan organ untuk proses absorpsi. Dengan kekecualian garam basa kuat dengan asam lemah seperti natrium flourescein atau natrium sulfasetamid. dan Rahardja. maka sekitar 70-75% dari tetesan 50 µl akan terbuang karena luapan dan mengalir dari puncta lakrimal ke dalam . B. Cul-de-sac terendah mempunyai kapasitas sekitar 7 µl. H. digunakan pada mata dengan meneteskan. isotonisita. New Jersey: Slack Incorporated. II.H. Mata manusia dapat menerima sampai 3 µl larutan jika tidak berkedip. Jakarta: Elex Media Computindo. T. penetrasi obat-obat melintasi kornea dan sklera. Jakarta: EGC. Produk intra okular II. larutan obat mata yang paling biasa yang disiapkan dalam pembawa asam borat dapat dosterilkan dengan aman ada 121° C selama 15 menit. Farmakologi dasar dan klinik. Tjay. viskositas dan pengemasan yang cocok.. Second Edition. Selain steril preparat tersebut memerlukan pertimbangan yang cermat terhadapfaktor-faktor famasi seperti kebutuhan bahan antimikroba. Deglin. Obat-obat Penting. 1997.

Telah terbukti bahwa larutan hipertonis lebih dapat diterima dibandingkan larutan hipotenis. peranan pH dan konsentrasi bahan aktif dalam obat tetes mata juga mempengaruhi penetrasinya. basitrasina. Sehingga dalam kenyataan biasanya bahan aktif dilarutkan dalam larutan NaCl 0. Bahan-bahan yang bersifat mengecutkan selaput lender mata (adstringentia). Absorpsi obat yang dangkal ke dalam konjungtiva dengan pembuangan cepat dari jaringan okular oleh aliran darah perifer adalah mekanisme lain yang menyaingi absorpsi obat ke dalam mata. Tekanan osmotik air mata sama dengan tekanan 0.9% atau dalam pelarut lain dengan tonisitas yang sama. Obat mata ini pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga macam : 1. Jikaterjadi kedipan. bila konsentrasi NaCl terletak antara 0. misalnya asam borat. Bahan-bahan yang bersifat antiseptika (dapat memusnahkan kuman-kuman pada selaput lender mata). dan mempunyai tekanan osmose yang sama dengan tekanan osmose darah. (Anief. Obat tetes mata (guttae opthalmicae) 3. Salep mata Pada dasranya sebagai obat mata biasanya dipakai : 1. misalnya seng sulfat. dan sebagainya. Tetes mata harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan yaitu : 1. Efek samping sistemik yang signifikan telah dilaporkan terhadap pengobatan obat mata keras tertentu dengan mekanisme seperti ini. dapat dihitung bahwa 90 % dari volume yang diberikan dari 2 tetesan akan terbuang karena vlume sisa ditemukan 10 µl. protargol. Dalam beberapa literatur juga disebutkan bahwa tonisitas. Absorpsi obat trans kornea adalah lintasan paling efektif untuk membawa obat ke bagian depan dari mata. pH yang stabil.7-1. Pada pembuatan obat cuci mata tak perlu disterilkan. Hal ini juga merupakan mekanisme dimana pasien kadang-kadang dapat merasakan rasa pahit setelah pemberian obat tetes mata tertentu.93% b/v NaCl dalam air. Steril 2. 1999) Guttae Ophthalmicae Tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspense yang digunakan dengan cara meneteskan obat pada selaput lender mata di sekitar kelopak mata dan bola mata. formula dan teknik pembuatan yang dapat mempengaruhi ketersediaan hayati bahan aktif. Selain faktor fisiologis yang telah diuraikan di atas. saluran naso lakrimal. Kelebihan cairan memasuki puncta lakrimal superior dan inferior turun melalui kanalikuli dan kemudian masuk ke dalam lakrimal sac dan kemudian masuk ke dalam salura gastro intestinal. penetrasi obat ke dalam mata juga dipengaruhi oleh karakteristik sifat fisiko kimia bahan aktif. Untuk pembuatan obat mata ini perlu diperhatikan mengenai kebersihannya. Sedapat mungkin isohidris .8-0. sedangkan pada pembuatan obat tetes mata harus disterilkan. Larutan NaCl tidak menyebabkan rasa sakit dan tidak mengiritasi mata. Obat cuci mata (collyria) 2. kloramfenikol.4% b/v. 2.

membrane mukosa yang tipis ini merupakan exterior coating yang kontinu pada bagian yang putih dari mata dan aspek dalam dari penutup. 1989) Anatomi dan Fisiologi Obat tetes mata yang digunakan harus diserap masuk ke dalam mata untuk dapat member wfwk. maka sterilitas dicapai dengan menggunakan pelarut steril. berwarna putih. Sedapat mungkin isotonis Bila obatnya tidak tahan pemanasan. Karena itu sangat peka terhadap stimuli dan penjamahan. Permukaan luas dari salut sclera terdapat membrane konjungtiva. sebagian dihilangkan oleh aliran cairan melalui konjungtiva darah. Aquadestillata 5. Larutan Boraks – Asam Borat (pH = 6. Pada kornea ini banyak sekali urat syarat sensoris yang bebas dan berakhir antara sel-sel epitel dan permukaan. Pelarut yang sering digunakan adalah : 1. Isotonis dan pH yang dikehendaki diperoleh dengan menggunakan pelarut yang cocok. infeksi mikrobial atau lainnya. Jaringan konjungtiva mengandung banyak glandula mukosa yang uniseluler dan berguna untuk pemeliharaan mata umumnya. rapat. Mata terdiri dari kornea yang bening dan sclera yang tertutup oleh salut pelindung dan berserabut.3. dan melebar bila ada iritasi oleh zat asing. dan obatnya harus masuk melalui kornea menembus mata. Larutan obat tetes mata segera campur dengan cairan lakrimal dan meluas di permukaan kornea dan konjungtiva. dan menggunakan penambahan zat pengawet dan botol atau wadah yang steril. Bagian kornea merupakan jaringan vaskuler. dan sangat tipis. sistem limfe. Sel-sel epitel pada permukaannya mengandung komponen lipoid. dilarutkan obatnya secara aseptis. Saluran darah ini kolap. 2000) . Larutan basa lemah Boraks – Asam Borat (pH = 8) 4. Larutan NaCl 0. transparan. (Anief. Obat yang menembus ke dalam konjungtiva.9% (Widjajanti. Jaringan ini mengandung banyak saluran darah dan terutama kaya akan saluran limfe. Di bawah ini terletak sclera yang berserabut dan rapat.5) 3. Larutan 2% Asam Borat (pH = 5) 2. dan tidak ada saluran darah.