You are on page 1of 48

1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Teknik produksi tanaman merupakan studi yang mempelajari
tentang cara-cara teknik bercocok tanam yang baik dengan tujuan untuk
mengembangkan hasil pertanian menjadi lebih baik lagi. Dalam studi ini
mempelajari bagaimana cara mengembangkan suatu potensi hasil dari
suatu tanaman. Pengembangan potensi dari tanaman dapat dilakukan
dengan penanaman varietas unggul, penggunaan mulsa, perlakuan
perlakuan khusus pada tanaman tertentu, penambahan bahan organik
maupun komponen lainnya seperti bakteri rizhobium pada legume dan
perawatan serta pengolahan panen dan pasca panen yang baik.Semua
hal yang dipelajari pada studi ini bertujuan untuk mengembangkan potensi
dari tanaman yang ditanam serta dapat mengembangkan nilai jual dari
tanaman itu sendiri.
Beberapa tanaman penting dalam bidang pertanian masih belum
dapat menghasilkan hasil yang maksimal dalam produksinya.Tanaman
tebu, rosella, kapas, kedelai, jagung, padi, kailan, kacang panjang, tomat,
semangka, ubi jalar, kastuba dan tanaman lainnya masih belum mencapai
produksi yang maksimal.Semua tanaman tersebut pasti memiliki teknik
khusus dalam bercocok tanamnya.Misalnya pemberian mulsa pada tomat,
semangka dan lainnya.Pembalikan batang dan daun pada ubi jalar,
pemberian rizhobium pada kacang kacangan.Pada tanaman tebu biasa
dilakukan pembersihan daun tidak optimal atau istilah jawanya
“roges”.Yaitu kegiatan yang dilakukan dengan memotong atau mengurangi
jumlah daun yang tidak optimal, seperti daun kering dan yang mati dengan
tujuan memaksimalkan fotosintesis dan menjaga kebersihan pada
lingkungan tanam.
Dalam praktikum teknik produksi tanaman pada komoditas
tanaman tebu dilakukan dengan beberapa teknik khusus yaitu parameter
perlakuan untuk tanaman tebu, yaitu dalam metode penanaman, seperti

1
teknik bagal, budcip, budset, dan lonjoran.Dimana teknik tersebut
diharapkan dapat bermanfaat dan diterapkan pada tanaman tebu.

1.2 Tujuan
Tujuan diadakannya praktikum teknologi produksi tanaman untuk
mengetahui bagaimana cara budidaya tanaman tebu dengan baik dan
benar, serta untuk mengetahui perbandingan pertumbuhan dan hasil antar
tanaman tebu dengan menggunakan teknik budchips, bagal, dan lonjoran.

2 TINJAUAN PUSTAKA

1 Perkembangan dan Produksi Tanaman Tebu di Indonesia
Produktivitas tebu rata-rata selama lima tahun terakhir ini adalah
sebesar 935.1 ku/ha. Produksi tebu dari musim tanam 2003/2004 hingga
2007/2008 mengalami peningkatan, namun peningkatan tersebut
disebabkan karena peningkatan luas areal tanam yang meningkat setiap
tahunnya. Namun produktivitas lebih fluktuatif setiap tahunnya, bahkan

2
cenderung tidak mengalami peningkatan yang berarti. Pada musim tanam
2004/2005 produktivitas mengalami peningkatan jika dibandingkan
dengan musim tanam 2003/2004, peningkatan ini disebabkan karena
curah hujan musim tanam 2004/2005 lebih tinggi jika dibandingkan curah
hujan musim tanam sebelumnya. Tanaman tebu menghendaki
ketersediaan air yang cukup banyak pada awal pertumbuhan (inisiasi
tunas) sampai pada fase pemanjangan batang. Ketersediaan air yang
berlebih merangsang pertumbuhan anakan, panjang ruas, dan diameter
batang tebu sehingga bobot tebu per hektar yang dihasilkan tinggi. Namun
pada fase pembentukan gula di batang hingga pemasakan tanaman tebu
menghendaki ketersediaan air yang sedikit, hal inilah yang menyebabkan
rendemen tebu pada musim tanam 2004/2005 lebih rendah jika
dibandingkan musim tanam sebelumnya (Supriyadi, 1992).
Produktivitas tertinggi terjadi pada musim tanam 2006/2007 yaitu
sebesar 1 005.1 ku/ha. Sama halnya padamusim tanam 2004/2005,
tingginya produktivitas tebu pada musim tanam tersebut terjadi karena
peningkatan total luas area tanam dan curah hujan jika dibandingkan
dengan musim tanam 2005/2006. Penurunan produktivitas terbesar terjadi
pada musim tanam 2007/2008, yaitu sebesar 112.2 ku/ha. Penurunan
produktivitas tersebut dikarenakan rendahnya curah hujan pada musim
tanam saat itu. Rendahnya curah hujan berakibat baik pada nilai
rendemen tebu. Nilai rendemen pada musim tanam 2007/2008
merupakan nilai rendemen tertinggi, hal ini disebabkan sinar matahari
optimum karena tidak terhalangi awan sehingga proses pembentukan gula
tinggi (Supriyadi, 1992).

2 Tanaman Tebu
Klasifikasi ilmiah dari tanaman tebu adalah sebagai berikut (Tarigan
dan Sinulingga, 2006):
Kingdom: Plantae
Divisi: Spermathophyta
Sub Divisi: Angiospermae

3
Kelas: Monocotyledone
Ordo: Glumiflorae
Famili: Graminae
Genus: Saccharum
Spesies: Saccharum officinarum L.

Gambar1. Tanaman Tebu (Balai Penelitian dan Pengembangan
Pertanian, 1992)
Tanaman tebu mempunyai batang yang tinggi, tidak bercabang dan
tumbuh tegak. Tanaman yang tumbuh baik, tinggi batangnya dapat
mencapai 3—5 meter atau lebih. Pada batang terdapat lapisan lilin yang
berwarna putih dan keabu-abuan. Lapisan ini banyak terdapat sewaktu
batang masih muda. Ruas-ruas batang dibatasi oleh buku-buku yang
merupakan tempat duduk daun. Pada ketiak daun terdapat sebuah
kuncup yang biasa disebut “mata tunas”. Bentuk ruas batang dan warna
batang tebu yang bervariasi merupakan salah satu ciri dalam pengenalan
varietas tebu (Wijayanti, 2008).
Tebu memilki daun tidak lengkap, karena hanya terdiri dari helai
daun dan pelepah daun saja. Daun berkedudukan pada pangkal buku.
Panjang helaian daun antara 1—2 meter, sedangakan lebar 4—7 cm, dan
ujung daunnya meruncing (Supriyadi, 1992). Pelepah tumbuh memanjang
menutupi ruas. Pelepah juga melekat pada batang dengan posisi duduk
berselang seling pada buku dan melindungi mata tunas (Miller dan Gilbert,
2006).
Pada tanah yang cocok akar tebu dapat tumbuh panjang mencapai
0,5—1,0 meter. Tanaman tebu berakar serabut maka hanya pada ujung
akar-akar muda terdapat akar rambut yang berperan mengabsorpsi unsur-

4
unsur hara (Wijayanti, 2008). Tanaman tebu memiliki akar setek yang
disebut juga akar bibit, tidak berumur panjang, dan hanya berfungsi pada
saat tanaman masih muda. Akar ini berasal dari cincin akar dari setek
batang, disebut akar primer (Miller dan Gilbert, 2006).Kemudian pada
tanaman tebu muda akan tumbuh akar tunas. Akar ini merupakan
pengganti akar bibit, berasal dari tunas, berumur panjang, dan tetap ada
selama tanaman tebu tumbuh (James, 2004).

Gambar2. Stadium Pertumbuhan Tebu (Saccharum officinarum L.)
Dalam fisiologi pertumbuhan tanaman (Bidwell, 1979) stadium
pertumbuhan batang tebu merupakan pertumbuhan raya atau grand
growth period, sebagaimana digambarkan pada Gambar Stadium
pertumbuhan batang tebu digambarkan dengan penambahan panjang
pada bulan-bulan pertumbuhan, serta akumulasi panjang batang tebu.
Gambaran kurva yang menanjak seperti sigmoid merupakan bagian dari
stadium pertumbuhan raya.
Pertambahan biomasa tebu yang berupa bobot kering massa
bertambah secara linier sejak awal stadium atau pada umur 4-5 bulan
sejak tebu ditanamkan dan berakhir pada umur tebu 9-10 bulan. Besarnya
berat kering 51biomassa tebu sangat tergantung pada lokasinya dan lama
periode pertumbuhan, serta lama hari dan kualitas penyinaran matahari
(Barnes, 1974).

3 Budidaya Tanaman Tebu

5
Tanaman tebu tergolong tanaman rumput-rumputan dan tanaman
C4 yang merupakan tanaman pengubah energi surya menjadi energi
biokima yang terefisien. Sifat khas tanaman tebu yang lain adalah efisien
dalam menggunakan air, responsif terhadap pemupukan, sanggup hidup
pada tanah marjinal, dan tahan dikepras (Supriadi, 1992).
Daerah penyebaran tebu berada di antara 35o garis LS dan 39o
garis LU. Tebu dapat hidup pada berbagai ketinggian, mulai dari pantai
sampai dataran tinggi (1400 mdpl). Namun, mulai ketinggian 1.200 mdpl,
pertumbuhannya menjadi lambat. Bentuk lahan yang baik untuk tanaman
tebu adalah tanah datar sampai berombak lemah dengan kemiringan
kurang dari 8%, berstruktur sedang sampai berat, struktur baik dan
mantap, tidak tergenang air, kadar garam kurang dari 1 milimush/cm3,
kadar klor kurang dari 0,06%, serta kadar natrium kurang dari 12%
(Supriadi, 1992).
Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman tebu adalah tanah
yang dapat menjamin ketersediaan air secara optimal dengan derajat
keasamaan (pH) berkisar antara 5,7 –7. Apabila tebu ditanam pada tanah
dengan pH dibawah 5,5, maka perakarannya tidak dapat menyerap air
maupun unsur hara dengan baik. Apabila pH tanah berada diatas 7,5,
tanaman akan sering mengalami kekurangan unsur P, karena mengendap
sebagai kapur pospat. Faktor iklim yang cocok untuk pertumbuhan
tanaman tebu yang curah hujan tahunan berkisar antara 1500 –3000 mm,
suhu optimal antara 24o–30o C, dengan beda suhu antara siang dan
malam tidak lebih dari 10oC dan kecepatan angin tidak lebih dari
10km/jam. Pertumbuhan tanaman tebu tidak banyak dipengaruhi oleh
kelembapan udara, asalkan kadar air tanah cukup tersedia, sedangkan
radiasi sinar matahari sangat besar peranannya, terutama untuk
fotosintesis yang selanjutnya akan mengatur pertunasan dan
pemanjangan batang (Tim Penebar Swadaya, 2000).
Berikut merupakan budidaya tebu menurut Edhi (1994):

1 Pembibitan

6
Bibit yang akan ditanam berupa bibit pucuk,bibit batang muda, bibit
rayungan dan bibit siwilan

a) Bibit pucuk Bibit diambil dari bagian pucuk tebu yang akan digiling
berumur 12 bulan. Jumlah mata (bakal tunas baru) yang diambil 2-3
sepanjang 20 cm. Daun kering yang membungkus batang tidak dibuang
agar melindungi mata tebu. Biaya bibit lebih murah karena tidak
memerlukan pembibitan, bibit mudah diangkut karena tidak mudah rusak,
pertumbuhan bibit pucuk tidak memerlukan banyak air. Penggunaan bibit
pucuk hanya dapat dilakukan jika kebun telah berporduksi.

b) Bibit batang muda Dikenal pula dengan nama bibit mentah / bibit
krecekan. Berasal dari tanaman berumur 5-7 bulan. Seluruh batang tebu
dapat diambil dan dijadikan 3 stek. Setiap stek terdiri atas 2-3 mata tunas.
Untuk mendapatkan bibit, tanaman dipotong, daun pembungkus batang
tidak dibuang.1 hektar tanaman kebun bibit bagal dapat menghasilkan
bibit untuk keperluan 10 hektar.

c) Bibit rayungan (1 atau 2 tunas) Bibit diambil dari tanaman tebu khusus
untuk pembibitan berupa stek yang tumbuh tunasnya tetapi akar belum
keluar. Bibit ini dibuat dengan cara:

1. Melepas daun-daun agar pertumbuhan mata tunas tidak terhambat.

2. Batang tanaman tebu dipangkas 1 bulan sebelum bibit rayungan
dipakai.

3. Tanaman tebu dipupuk sebanyak 50 kg/ha Bibit ini memerlukan banyak
air dan pertumbuhannya lebih cepat daripada bibit bagal. 1 hektar
tanaman kebun bibit rayungan dapat menghasilkan bibit untuk 10 hektar
areal tebu.

Kelemahan bibit rayungan adalah tunas sering rusak pada waktu
pengangkutan dan tidak dapat disimpan lama seperti halnya bibit bagal. d)
Bibit siwilan Bibit ini diambil dari tunas-tunas baru dari tanaman yang

7
pucuknya sudah mati. Perawatan bibit siwilan sama dengan bibit
rayungan.

Pengolahan Media Tanam Terdapat dua jenis cara mempersiapkan
lahan perkebunan tebu yaitu cara reynoso dan bajak. Persiapan Disebut
juga dengan cara Cemplongan dan dilakukan di tanah sawah. Pada cara
ini tanah tidak seluruhnya diolah, yang digali hanya lubang tanamnya

2. Pembukaan Lahan

a) Pada lahan sawah dibuat petakan berukuran 1.000 m2. Parit membujur,
melintang dibuat dengan lebar 50 cm dan dalam 50 cm. Selanjutnya
dibuat parit keliling yang berjarak 1,3 m dari tepi lahan.

b) Lubang tanam dibuat berupa parit dengan kedalaman 35 cm dengan
jarak antar lubang tanam (parit) sejauh 1 m. Tanah galian ditumpuk di atas
larikan diantara lubang tanam membentuk guludan. Setelah tanam, tanah
guludan ini dipindahkan lagi ke tempat semula.

3. Teknik Penanaman

Penentuan Pola Tanam Umumnya tebu ditanam pada pola
monokultur pada bulan Juni-Agustus (di tanah berpengairan) atau pada
akhir musim hujan (di tanah tegalan/sawah tadah hujan). Terdapat dua
cara bertanam tebu yaitu dalam aluran dan pada lubang tanam.

Pada cara pertama bibit diletakkan sepanjang aluran, ditutup tanah
setebal 2-3 cm dan disiram. Cara ini banyak dilakukan dikebun Reynoso.
Cara kedua bibit diletakan melintang sepanjang solokan penanaman
dengan jarak 30-40 cm. Pada kedua cara di atas bibit tebu diletakkan
dengan cara direbahkan. Bibit yang diperlukan dalam 1 ha adalah 20.000
bibit.Cara Penanaman Sebelum tanam, tanah disiram agar bibit bisa
melekat ke tanah.

8
a) Bibit stek (potongan tebu) ditanam berimpitan secara memanjang agar
jumlah anakan yang dihasilkan banyak. Dibutuhkan 70.000 bibit stek/ha.

b) Untuk bibit bagal/generasi, tanah digaris dengan kedalaman 5-10 cm,
bibit dimasukkan ke dalamnya dengan mata menghadap ke samping lalu
bibit ditimbun dengan tanah. Untuk bibit rayungan bermata satu, bibit
dipendam dan tunasnya dihadapkan ke samping dengan kemiringan 45
derajat, sedangkan untuk rayungan bermata dua bibit dipendam dan
tunasnya dihadapkan ke samping dengan kedalaman 1 cm. Satu hari
setelah tanam lakukan penyiraman jika tidak turun hujan. Penyiraman ini
tidak boleh terlambat tetapi juga tidak boleh terlalu banyak.

4. Pemeliharaan Tanaman

a) Sulaman pertama untuk tanaman yang berasal dari bibit rayungan
bermata satu dilakukan 5-7 hari setelah tanam. Bibit rayungan sulaman

disiapkan di dekat tanaman yang diragukan pertumbuhannya. Setelah itu
tanaman disiram. Penyulaman kedua dilakukan 3-4 minggu setelah
penyulaman pertama.

b) Sulaman untuk tanaman yang berasal dari bibit rayungan bermata dua
dilakukan tiga minggu setelah tanam (tanaman berdaun 3-4 helai).
Sulaman diambil dari persediaan bibit dengan cara membongkar tanaman
beserta akar dan tanah padat di sekitarnya. Bibit yang mati dicabut,
lubang diisi tanah gembur kering yang diambil dari guludan, tanah disirami
dan bibit ditanam dan akhirnya ditimbun tanah. Tanah disiram lagi dan
dipadatkan.

c) Sulaman untuk tanaman yang berasal dari bibit pucuk. Penyulaman
pertama dilakukan pada minggu ke 3. Penyulaman kedua dilakukan
bersamaan dengan pemupukan dan penyiraman ke dua yaitu 1,5 bulan

9
setelah tanam.Kedua penyulaman ini dilakukan dengan cara yang sama
dengan point (b) di atas.

d) Penyulaman ekstra dilakukan jika perlu beberapa hari sebelum
pembumbunan ke 6. Adanya penyulaman ekstra menunjukkan cara
penanaman yang kurang baik.

e) Penyulaman bongkaran. Hanya boleh dilakukan jika ada bencana alam
atau serangan penyakit yang menyebabkan 50% tanaman mati. Tanaman
sehat yang sudah besar dibongkar dengan hati-hati dan dipakai menyulan
tanaman mati. Kurangi daun-daun tanaman sulaman agar penguapan
tidak terlalu banyak dan beri pupuk 100-200 Kg/ha.

5. Penyiangan

Penyiangan gulma dilakukan bersamaan dengan saat pembubunan
tanah dan dilakukan beberapa kali tergantung dari pertumbuhan gulma.
Pemberantasan gulma dengan herbisida di kebun dilaksanakan pada
bulan Agustus sampai November dengan campuran 2-4 Kg Gesapas 80
dan 3-4 Kg Hedanol power.

6. Pembubunan

Sebelum pembubunan tanah harus disirami sampai jenuh agar
struktur tanah tidak rusak.

a) Pembumbunan pertama dilakukan pada waktu umur 3-4 minggu. Tebal
bumbunan tidak boleh lebih dari 5-8 cm secara merata. Ruas bibit harus
tertimbun tanah agar tidak cepat mengering.

b) Pembumbun ke dua dilakukan pada waktu umur 2 bulan.

c) Pembumbuna ke tiga dilakukan pada waktu umur 3 bulan.

d) Perempalan Daun-daun kering harus dilepaskan sehingga ruas-ruas
tebu bersih dari daun tebu kering dan menghindari kebakaran.

10
Bersamaan dengan pelepasan daun kering, anakan tebu yang tidak
tumbuh baik dibuang. Perempalan pertama dilakukan pada saat 4 bulan
setelah tanam dan yang kedua ketika tebu berumur 6-7 bulan.

7. Pemupukan

Pemupukan dilakukan dua kali yaitu saat tanam atau sampai 7 hari
setelah tanam dengan dosis 7 gram urea, 8 gram TSP dan 35 gram KCl
per tanaman (120 kg urea, 160 kg TSP dan 300 kg KCl/ha).dan (2) pada
30 hari setelah pemupukan ke satu dengan 10 gram urea per tanaman
atau 200 kg urea per hektar. Pupuk diletakkan di lubang pupuk (dibuat
dengan tugal) sejauh 7-10 cm dari bibit dan ditimbun tanah. Setelah
pemupukan semua petak segera disiram supaya pupuk tidak keluar dari
daerah perakaran tebu. Pemupukan dan penyiraman harus selesai dalam
satu hari. Agar rendeman tebu tinggi, digunakan zat pengatur tumbuh
seperti Cytozyme (1 liter/ha) yang diberikan dua kali pada 45 dan 75 Hari.

8. Pengairan dan Penyiraman

Pengairan dilakukan dengan berbagai cara:

a) Air dari bendungan dialirkan melalui saluran penanaman.

b) Penyiraman lubang tanam ketika tebu masih muda. Waktu tanaman
berumur 3 bulan, dilakukan pengairan lagi melalui saluran-saluran kebun.

c) Air siraman diambil dari saluran pengairan dan disiramkan ke tanaman.
d) Membendung got-got sehingga air mengalir ke lubang tanam.

Pengairan dilakukan pada saat:

a) Waktu tanam

b) Tanaman berada pada fase pertumbuhan vegetatif

c) Pematangan.

11
9. Hama dan Penyakit

Hama Penggerek batang bergaris (Proceras cacchariphagus),
penggerek batang berkilat (Chilitrae auricilia), penggerek batang abu-abu
(Eucosma schismacaena), penggerek batang kuning (Chilotraea
infuscatella), penggerek batang jambon (Sesmia inferens)

Gejala: daun yang terbuka mengalami khlorosis pada bagian
pangkalnya; pada serangan hebat, bentuk daun berubah, terdapat titik-titik
atau garis-garis berwarna merah di pangkal daun; sebagian daun tidak
dapat tumbuh lagi; kadang-kadang batang menjadi busuk dan berbau
tidak enak.Pengendalian: dengan suntikan insektisida Furadan 3G (0,5
kg/ha) pada waktu tanaman berumur 3-5 bulan. Suntikan dilakukan jika
terdapat 400 tanaman terserang dalam 1 hektar.

Tikus Pengendalian: dengan gropyokan secara bersama atau
pengemposan belerang pada lubang yang dihuni tikus. Penyakit :

a) Pokkahbung Penyebab: Gibbrela moniliformis. Bagian yang diserang
adalah daun, pada stadium lanjut dapat menyerang batang. Gejala:
terdapat noda merah pada bintik khlorosis di helai daun, lubang-lubang
yang tersebar di daun, sehingga daun dapat robek, daun tidak membuka
(cacat bentuk), garis-garis merah tua di batang, ruas membengkak.
Pengendalian: memakai bibit resisten, insektisida Bulur Bordeaux 1% dan
pengembusan tepung kapur tembaga.

b) Dongkelan Penyebab: jamur Marasnius sach-hari Bagian yang diserang
adalah jaringan tanaman sebelah dalam dan bibit di dederan/persemaian.
Gejala: tanaman tua dalam rumpun mati tiba-tiba, daun tua mengering,
kemudian daun muda, warna daun menjadi hijau kekuningan dan terdapat
lapisan jamur seperti kertas di sekeliling batang. Pengendalian: tanah
dijaga agar tetap kering.

12
c) Noda kuning Penyebab: jamur Cercospora kopkei . Bagian yang
diserang daun dan bagian-bagaian dengan kelembaban tinggi. Gejala:
noda kuning pucat pada daun muda yang berubah menjadi kuning terang.
Timbul noda berwarna merah darah tidak teratur; bagian bawah tertutup
lapisan puiih kotor. Helai daun mati berwarna agak kehitaman.
Pengendalian: adalah dengan memangkas dan membakar daun yang
terserang. Kemudian menyemprot dengan tepung belerang ditambah
kalium permanganat.

d) Penyakit nanas Penyebab: adalah jamur Ceratocytis paradoxa. Bagian
yang diserang adalah bibit yang telah dipotong. Gejala: warna merah
bercampur hitam pada tempat potongan, bau seperti buah nanas.
Pengendalian: luka potongan diberi ter atau desinfeksi dengan 0,25%
fenylraksa asetat.

e) Noda cincin Bagian yang diserang daun, lebih banyak di daerah lembab
daripada daerah kering. Penyebab: jamur Heptosphaeria sacchari,
Helmintosporium sachhari, Phyllsticta saghina. Gejala: noda hijau tua di
bawah helai daun, bagian tengah noda menjadi coklat; pada serangan
lanjut, warna coklat menjadi jernih, daun kering. Pengendalian: mencabut
tanaman sakit dan membakarnya.

f) Busuk bibit Bagian yang diserang adalah bibit dengan gejala tanaman
kekuningan dan layu. Penyebab: bakteri. Gejala: bibit yang baru ditanam
busuk dan buku berwarna abu-abu sampai hitam. Pengendalian:
menanam bibit sehat, perbaikan sistim pembuangan air yang baik, serta
tanah dijaga tetap kering.

g) Blendok Bagian yang diserang adalah daun tanaman muda berumur
1,5-2 bulan pada musim kemarau.Penyebab: Xanthomonas albilicans.
Gejala: terdapat pada khlorosis pada daun; pada serangan hebat seluruh
daun bergaris hijau dan putih; titik tumbah dan tunas berwarna merah.
Pengendalian: Menanam bibit resisten (2878 POY, 3016 POY), Lakukan

13
desinfeksi para pemotong bibit, merendam bibit dalam air panas 52,5oC
dan lonjoran bibit dijemur 1-2 hari.

h) Virus mozaik Penyebab: Virus. Pengendalian: menjauhkan tanaman
inang, bibit yang sakit dicabut dan dibakar.

10. Panen

Ciri dan Umur Panen Umur panen tergantung dari jenis tebu:

a) Varitas genjah masak optimal pada < 12 bulan

b) Varitas sedang masak optimal pada 12-14 bulan,

c) Varitas dalam masak optimal pada > 14 bulan.

Panen dilakukan pada bulan Agustus pada saat rendeman
(persentase gula tebu) maksimal dicapai.

Cara Panen

a) Mencangkul tanah di sekitar rumpun tebu sedalam 20 cm.

b) Pangkal tebu dipotong dengan arit jika tanaman akan ditumbuhkan
kembali. Batang dipotong dengan menyisakan 3 buku dari pangkal
batang.

c) Mencabut batang tebu sampai ke akarnya jika kebun akan
dibongkar.Potong akar batang dan 3 buku dari permukaan pangkal
batang.

d) Pucuk dibuang.

e) Batang tebu diikat menjadi satu (30-50 batang/ikatan) untuk dibawa ke
pabrik untuk segera digiling Panen dilakukan satu kali di akhir musim
tanam.

14
Perkiraan Produksi Hasil Tebu Rakyat Intensifikasi I di tanah sawah
adalah 120 ton/ha dengan rendemen gula 10% sedangkan hasil TRI II di
tanah sawah adalah 100 ton dengan rendemen 9%. Di tanah tegalan
produksi tebu lebih rendah lagi yaitu pada TRI I tegalan adalah 90 ton/ha
dan pada TRI II tegalan sebesar 80 ton/ha.

11. Pascapanen

1. Pengumpulan Hasil tanam dari lahan panen dikumpulkan dengan cara
diikat untuk dibawa ke pengolahan.

2. Penyortiran dan Penggolongan Syarat batang tebu siap giling supaya
rendeman baik:

a. Tidak mengandung pucuk tebu

b. Bersih dari daduk-daduk (pelepah daun yang mengering)

c. Berumur maksimum 36 jam setelah tebang.

4 Pengaruh Jenis Bibit Tebu pada Pertumbuhan dan Hasil
Tanaman Tebu
Secara konvensional, bibit tebu berasal dari batang tebu dengan 2-
3 mata tunas yang belum tumbuh yang disebut bagal (Indrawanto et al.,
2010). Selain bibit bagal, dikenal juga bibit tebu yang berasal dari satu
mata tunas yaitu mata ruas tunggal (budset) dan mata tunas tunggal
(budchip). Bibit mata ruas tunggal berasal dari batang dengan panjang
kurang dari 10 cm yang terdiri dari satu mata tunas sehat dan berada di 2
tengah, sedangkan bibit mata tunas tunggal berasal dari mata tunas yang
diambil dengan memotong sebagian ruas batang tebu dengan pemotong
bud chip (Hunsigi, 2001).
Pemakaian mata tunas tunggal sebagai bahan tanam dapat
meningkatkan produktivitas tebu karena dapat menghasilkan jumlah
anakan per tanaman yang lebih banyak dibandingkan dengan bibit bagal.

15
Bibit mata tunas tunggal dapat menghasilkan 10 anakan tiap tanaman
dibandingkan dengan bibit bagal hanya 5 anakan tiap tanaman (Gujja et
al.,2009). Anakan bibit mata tunas tunggal akan tumbuh lebih serempak
dan lebih banyak, karena bibit sengaja dibuat tercekam dengan hanya
ditempatkan pada media tanam yang sedikit, sehingga pada saat bibit
ditanam di kebun akan tumbuh dengan jumlah anakan dan pertumbuhan
yang seragam (Hunsigi, 2001).

3 BAHAN DAN METODE

1 Waktu dan Tempat

Kegiatan praktikum teknologi produksi tanaman Tebu dilaksanakan
setiap hari rabu mulai pukul 13.00 hingga 16.25 bertempat di Lahan
Percobaan Jatimulyo Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Penanaman
Alat yang digunakan saat penanaman bibit tebu yaitu cangkul yang
berfungsi untuk membuat bedengan, serta menggemburkan tanah agar
bibit dapat dengan mudah di tanam, botol 1,5 yang berfungsi sebagai
tempat untuk mengisi selain itu, alat untuk menyiram tanaman dapat
berupa botol, kaleng bekas, dan ember. Sedangkan untuk bahan-
bahannya sendiri yaitu berupa bibit tebu yang berjumlah tigas batang
tebu dan air yang digunakan untuk menyiram setelah bibit selesai
ditanam.
2 Pemupukan dan penyulaman
Alat yang digunakan dalam pemupukan yaitu cangkil yangberfungsi
untuk membuat lubang di sisi tanaman yang nantinya diisi pupuk SP36
dan dan ZA, spray yang berfungsi untuk menyemprot Plant Growth
Promoting Rhizobacteria (PGPR) ke bagian permukaan tanah, dan alat

16
penyiram yang dapat berupa botol, kaleng bekas, ataupun ember
khusus untuk menyiram tanaman.
Bahannya berupa Pupuk ZA dan pupuk SP36 yaitu bahan untuk
pemupukan, PGPR yang digunakan untuk memacu pertumbuhan
tanaman, dan air yang digunakan untuk menyiram tanaman setelah
setelah dilakukan pemupukan dan bahan campuran untuk
penyemprotan PGPR.

3.2.3 Penentuan sampel
Alat yang digunakan dalam penentuan sampel yaitu tongkat kecil
yang berfungsi untuk memberi tanda tanaman yang dijadikan sebagai
sampel, cangkil yang digunakan untuk menyiangi gulma, penggaris
atau meteran yang digunakan untuk menghitung tinggi tanaman, form
pengamatan yang berfungsi untuk memasukkan data pengamatan,
spray yang berfungsi untuk menyemprot Plant Growth Promoting
Rhizobacteria (PGPR) ke bagian permukaan tanah, dan alat penyiram
yang dapat berupa botol, kaleng bekas, ember, ataupun gembor khusus
untuk menyiram tanaman. Bahan yang digunakan yaitu air yang
berfungsi untuk menyiram tanaman dan bahan campuran untuk
penyemprotan PGPR, dan PGPR yang digunakan untuk memacu
pertumbuhan tanaman.

3.2.4 Pengamatan dan Pemeliharaan
Alat yang digunakan dalam pengamatan yaitu , penggaris atau
meteran yang digunakan untuk menghitung tinggi tanaman, form
pengamatan yang berfungsi untuk memasukkan data pengamatan,
cangkil yang digunakan untuk menyiangi gulma, dan alat penyiram
yang dapat berupa botol, kaleng bekas, dan ember untuk menyiram
tanaman.
Bahan yang digunakan yaitu air yang berfungsi untuk menyiram
tanaman.

17
3.2.5 Pembumbunan
Alat yang digunakan dalam pembumbunan yaitu cangkil yang
digunakan untuk menyiangi gulma dan membuat gundukan tanah
disekitar tanaman, penggaris atau meteran yang digunakan untuk
menghitung tinggi tanaman, form pengamatan yang berfungsi untuk
memasukkan data pengamatan, dan alat penyiram yang dapat berupa
botol, kaleng bekas, dan ember untuk menyiram tanaman.
Bahan yang digunakan yaitu air yang berfungsi untuk menyiram
tanaman.
3.2.6 Perawatan dan Penyiraman Rutin
Alat yang digunakan dalam kegiatan perawatan dan peyuraman
rutin yaitu cangkil yang digunakan untuk menyiangi gulma, dan alat
penyiram yang dapat berupa botol, kaleng bekas, dan ember untuk
menyiram tanaman. Bahan yang digunakan yaitu air yang berfungsi
untuk menyiram tanaman.

3.3 Cara Kerja
1 Penanaman
Saat penanaman, yang pertama dilakukan saat di lahan yaitu
menggemburkan tanah dengan menggunakan cangkil serta melakukan
penyiangan jika terdapat gulma ataupun bekas-bekas tanaman
sebelumnya, dengan cara diambil dengan menggunakan cangkil
ataupun tangan kosong. Setelah dilakukanyaotu membuat lubang
tanam yang nantinya akan ditanami bibit tebu. Setelah itu bibit tebu
ditutupi oleh tanah. Setelah penenaman selesai dilakukan, siram lubang
tanam dan sekitar lubang tanam dengan menggunakan botol ataupun
kaleng apabila disekitar plot lahan terdapat air atau dengan ember.
2 Pemupukan dan Penyulaman
Sama seperti saat penanaman, hal yang pertama dilakukan saat
di lahan yaitu menggemburkan tanah dengan menggunakan cangkil
serta melakukan penyiangan jika terdapat gulma ataupun bekas-bekas
tanaman sebelumnya, dengan cara diambil dengan menggunakan
cangkil ataupun tangan kosong. Setelah dilakukan penggemburan

18
tanah selanjutnya yaitu membuat lubang di sisi tanaman tanam untuk
manaruh pupuk di lubang tersebut berupa pupuk ZA dan pupuk SP3),
kemudian tutup lubang pupuk dengan menggunakan cangkil ataupun
cangkul. Setelah dilakukan pemupukan, selanjutnya adalah
penyemprotan PGPR ke permukaan tanah dengan menggunakan
spray, dengan perbandingan 1 liter air dengan 1 tutup botol PGPR.
Setelah pengaplikasian PGPR langkah terakhir, yaitu , siram lubang
tanam dan sekitar lubang tanam dengan menggunakan botol ataupun
kaleng apabila disekitar plot lahan terdapat air atau dengan ember.
dengan menggunakan botol ataupun kaleng apabila disekitar plot lahan
terdapat air atau dengan ember.
3.3.3 Penentuan sampel
Hal yang pertama dilakukan
saat di lahan yaitu menggemburkan tanah dengan menggunakan
cangkil serta melakukan penyiangan jika terdapat gulma ataupun
bekas-bekas tanaman sebelumnya, dengan cara diambil dengan
menggunakan cangkil ataupun tangan kosong. Kemudian melakukan
penentuan sampel pada tanaman yang datanya akan dimasukkan
kedalam form pengamatan dengan cara membuat tanda dengan
menggunakan tongkat-tongkat kecil yang tujuannya untuk
memudahkan pemberian tanda atau sampel sebanyak 5 sampel tunas.
Setelah dilakukan penentuan sampel, langkah berikutnya yaitu
melakukan pengamatan pada tanaman yang nantinya datanya akan
dimasukkan ke dalam form pengamatan. Parameter pengamatan yang
dilakukan yaitu berupa tinggi tanaman yang dihitung dengan
menggunakan penggaris, jumlah daun, jumlah tunas, dan jumlah daun.
Setelah melakukan pengamatan, selanjutnya adalah penyemprotan
PGPR ke permukaan tanah dengan menggunakan spray, dengan
perbandingan 1 liter air dengan 1 tutup botol PGPR. Setelah
pengaplikasian PGPR langkah terakhir, yaitu siram lubang tanam dan
sekitar lubang tanam dengan menggunakan botol ataupun kaleng
apabila disekitar plot lahan terdapat air atau dengan

19
3.3.4 Pengamatan dan Pemeliharaan
Hal yang pertama dilakukan saat di lahan yaitu menggemburkan
tanah dengan menggunakan cangkil serta melakukan penyiangan jika
terdapat gulma ataupun bekas-bekas tanaman sebelumnya, dengan
cara diambil dengan menggunakan cangkil ataupun tangan kosong.
Selanjutnya melakukan pengamatan pada tanaman yang nantinya
datanya akan dimasukkan ke dalam form pengamatan. Parameter
pengamatan yang dilakukan yaitu berupa tinggi tanaman yang dihitung
dengan menggunakan penggaris, dan jumlah daun. Setelah dilakukan
pengamatan, selanjutnya yaitu melakukan penyiraman lubang tanam
dan sekitar lubang tanam dengan menggunakan botol ataupun kaleng
apabila disekitar plot lahan terdapat air atau dengan ember.
3.3.5 Pembumbunan
Hal yang pertama dilakukan saat di lahan yaitu menggemburkan
tanah dengan menggunakan cangkil serta melakukan penyiangan jika
terdapat gulma ataupun bekas-bekas tanaman sebelumnya, dengan
cara diambil dengan menggunakan cangkil ataupun tangan kosong.
Selanjutnya melakukan pengamatan pada tanaman yang nantinya
datanya akan dimasukkan ke dalam form pengamatan. Parameter
pengamatan yang dilakukan yaitu berupa tinggi tanaman yang dan
jumlah daun. Setelah dilakukan pengamatan, selanjutnya yaitu
melakukan penyiraman lubang tanam dan sekitar lubang tanam
dengan menggunakan botol ataupun kaleng apabila disekitar plot lahan
terdapat air atau dengan ember. Langkah terakhir yaitu melakukan
pembumbunan, yaitu membuat gundukan tanah di sisi-sisi tanaman,
dengan menggunakan cangkul.

3.3.6 Perawatan dan Penyiraman Rutin
Saat melakukan perawatan dan penyiraman rutin, hal yang
dilakukan yaitu hanya penggemburan tanah dan penyiraman tanaman.
Hal yang pertama dilakukan saat di lahan yaitu menggemburkan tanah
dengan menggunakan cangkil serta melakukan penyiangan jika
terdapat gulma ataupun bekas-bekas tanaman sebelumnya, dengan

20
cara diambil dengan menggunakan cangkil ataupun tangan kosong.
Terakhir yaitu melakukan penyiraman lubang tanam dan sekitar lubang
tanam dengan menggunakan botol ataupun kaleng apabila disekitar
plot lahan terdapat air atau dengan ember.

3.4 Parameter Pengamatan
Parameter pengamatan yang dilakukan yaitu berupa tinggi tanaman
yang dihitung dengan menggunakan penggaris, dan jumlah daun yang
dihitung secara manual. Parameter Pengamatan dilakukan dengan cara
menghitung tinggi tunas tebu yang sudah dijadikan sampel, mulai dari
buku sampai dengan ujung daun. Kemudian jumlah daun dihitung secara
manual hanya pada tunas yang dijadikan sampel.
Untuk waktu pengamatan sendiri dimulai saat umur tanaman 3
Minggu Setelah Tanam (MST) atau pada saat penentuan sampel, karena
saat 3 MST, tinggi tunas tebu telah ideal untuk dilakukan pengamatan.

21
4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Kondisi Umum Lahan
Kegiatan Praktikum dilakuan di Lahan Praktikum Fakultas Pertanian
Universitas Brawijaya. Terletak di Jalan Kembang Kertas, Kelurahan
Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur.
Pada kegiatan sebelum tanam dilakukan pengambilan sample tanah yang
bertujuan untuk mengetahui sifat fisika dan kimia tanah. Sampel tanah
yang diujikan terdiri dari 2 kedalaman yang berbeda. Sample tanah diuji di
Laboratorium Fisika Tanah dan Kimia Tanah, Gedung Tanah Fakultas
Pertanian Universitas Brawijaya. Dari hasil uji Laboratorium didapatkan
hasil sebagai berikut.
Tabel 1. Hasil Uji Laboratorium Sifat Fisika Sample Tanah
No. Sample ke- Berat Isi (g/cm³) Berat Jenis (g/cm³) (Porositas %)
1. 1 (0-15 cm) 0.92 2,25 59,04
2. 2 (15-30) 1,21 2,49 51,22
Dapat dilihat dari data tabel diatas, sampel ke-satu (0-15 cm) memiliki
berat isi sebesar 0,92 g/cm 3, berat jenis 2,25 g/cm 3, dan memiliki porositas
tanah sebesar 59,04%. Untuk sampel ke-dua (15-30) memiliki berat isi
sebesar 1,21 g/cm3, berat jenis 2,49 g/cm3, dan memiliki porositas tanah
sebesar 51,22%.
Selain melakukan pengujian fisika tanah, maka pengujian juga di
lakukan untuk mendapatkan sifat kimia tanah, diantaranya pengujian
sampel pH tanah kesatu mendapatkan hasil pH H 2O sebesar 6,0 dan pH
KCL 1N sebesar 5,4. Untuk sampel kedua mendapatkan hasil pH H 2O
sebesar 6,1 dan pH KCL 1N sebesar 5,6. Ini menandakan bahwa tanaman
tebu dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang memiliki pH antara 6,0 –
7,5 akan tetapi masih bisa toleran terhadap pH yang tidak tinggi lebih dari
8,5 dan tidak lebih rendah dari 4,5 (Indrawanto, 2010).
Pada hasil pengukuran C-Organik sampel pertama sebesar 2,01%
dan sample kedua sebesar 1,43%. Hasil pengukuran N total sample
pertama sebesar 0,19% dan sample kedua sebesar 0,14%. Kadar C/N
sample pertama adalah 11 dan sample kedua sebesar 10. Jumlah KTK
(Kapasita Tukar Kation) sample pertama adalah 34,38 me/100g

22
sedangkan pada sample kedua adalah 37,79 me/100g. Jumlah basa dari
kedua sample cenderung rendah yaitu 15,10 pada sample pertama dan
16,59 pada sample kedua. Dari kedua sample tersebut memiliki kadar
pasir, debu dan liat yang berbeda. Sample pertama memiliki kadar pasir
9%, kadar debu 45% dan kadar liat 46%. Sample kedua memiliki kadar
pasir 6%, kadar debu 37% dan kadar liat 55%. Perbedaan kadar tersebut
menyebabkan tekstur tanah antar sample juga berbeda, sample pertama
bertekstur liat berdebu dan sample kedua memiliki tekstur liat.
Dari hasil uji lab fisika dan kimia dapat disimpulkan bahwa jenis
tanah yang ada pada komoditas tebu yaitu vertisol. Vertisol adalah jenis
tanah mineral yang mempunyai warna abu kehitaman, bertekstur liat
dengan kandungan lempung lebih dari 30% pada horizon permukaan
sampai kedalaman 50 cm yang didominasi jenis
lempung montmorillonit sehingga dapat mengembang dan mengerut
(Buckman dan Brady, 1982).
Secara umum dapat disebutkan bahwa tanah ini memiliki sifat-sifat
fisik dan kimia yang agak jelek sampai sedang.Oleh sebab itu nilai
produktivitas tanahnya rendah sampai sedang (E. Saifudin Sarief,
1993).Secara kimiawi Vertisol tergolong tanah yang relatif kaya akan hara
karena mempunyai cadangan sumber hara yang tinggi, dengan kapasitas
tukar kation tinggi dan pH netral hingga alkali (Deckers, 2001). Akan tetapi
tingkat kesuburannya dapat bervariasi menurut asal bahan induknya
(Prasetyo, 2007).
Tanah vertisol memiliki kapasitas tukar kation yang tinggi.Tingginya
kapasitas tukar kation ini disebabkan oleh tingginya kandungan liat yang
terbungkus mineral Montmorillonit dengan muatan tetap yang
tinggi.Kandungan bahan organik sungguhpun tidak selalu harus tinggi
mempunyai kapasitas tukar kation yang sangat tinggi. Kation-kation dapat
tukar yang dominan adalah Ca dan Mg dan pengaruhnya satu sama lain
sangat berkaitan dengan asal tanah (Lopulisa, 2004).
Dalam perkembangan klasifikasi ordo Vertisol, pH tanah dan
pengaruhnya tidak cukup mendapat perhatian.Walaupun hampir semua

23
tanah dalam ordo ini mempunyai pH yang tinggi.Tapi pada daerah-daerah
tropis dan subtropis umumnya dijumpai Vertisol dengan pH yang
rendah.Dalam menilai potensi Vertisol untuk pertanian hendaknya
diketahui bahwa hubungan pH dengan Al terakstraksi berbeda dibanding
dengan ordo lainnya.pH dapat tukar nampaknya lebih tepat digunakan
dalam menentukan nilai pH Vertisol masam dibanding dengan kelompok
masam dari ordo-ordo lainnya. Perbedaan tersebut akan mempunyai
implikasi dalam penggunaan tanah ini untuk pertumbuhan tanaman.
Batas-batas antara antara kelompok masam dan tidak masam berkisar
pada pH 4,5 dan sekitar 5 dalam air (Lopulisa, 2004).
Tumbuhan penutup tanahnya (vegetasinya) terdiri dari padang
rumput, stepa dan savanna. Bisa dipergunakan untuk tegalan,
perkebunan tebu, kapas, tembakau, persawahan (padi sawah), tanaman
jagung kedelai dan hutan jati (E. Saifudin Sarief, 1993).Dari pernyataan
tersebut terdapat kemungkinan lahan yang ditanami komoditas tebu
sebelumnya ditanami oleh tanaman padi.Karena tanah cenderung basah
dan tergenang oleh air serta pada lahan tersebut masih banyak ditanami
padi.Dan tanah jenis vertisol juga cocok untuk ditanami tanaman padi
maupun tebu.
4.2 Panjang Tanaman Tebu
Berikut adalah tabel data hasil pengamatan panjang tanaman tebu
pada usia 3minggu setelah tanam (mst) sampai 9 minggu setelah tanam
(mst).
Tebel 2 .Panjang Tanaman Tebu
Umur Tanaman Minggu Setelah Tanam
No
Perlakuan Kelas (cm)
.
3 4 5 6 7 8 9
1 Lonjoran D 23 33.62 54.5 77.7 96.5 104.6 114.6
2 Lonjoran C 9.84 32.76 51.3 72.8 82.66 87.7 -
3 Budchip X 65.1 77.9 95.9 107 117.1 128.6 -
4 Budchip B 44.6 52.8 60.7 70.6 81.6 91.8 104.4
5 Bagal V 8.2 53.4 75.98 88.76 104.86 118.96 136.86
6 Bagal AD 29.5 63.1 84.2 96.4 116.4 131.3 -

Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa dengan
menggunakan perlakuan lonjoran, rata- rata panjang tanaman tebu kelas
D terus mengalami peningkatan. Rata-rata panjang tanaman pada saat 3

24
minggu setelah tanam adalah 23 cm , rata-rata panjang tanaman pada
saat 4 minggu setelah tanam adalah 33.62 cm , rata-rata panjang
tanaman pada saat 5 minggu setelah tanam adalah 54.5 cm, rata-rata
panjang tanaman pada saat 6 minggu setelah tanam adalah 77.7 cm,
rata-rata panjang tanaman pada saat 7 minggu setelah tanam adalah 96.5
cm, rata-rata panjang tanaman pada saat 8 minggu setelah tanam adalah
104.6 cm, dan rata-rata panjang tanaman pada saat 9 minggu setelah
tanam adalah 114.6 cm.
160
140
120
Lonjoran D 100
Lonjoran C Budchip X Budchip B Bagal V
80
Panjang Tanaman (cm)
60
40
20
Bagal AD
0
3 4 5 6 7 8 9
Umur Tanaman (mst)

Gambar3. Panjang Tanaman Tebu
Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa panjang tanaman
tebu dengan perlakuan lonjoran kelas D dan C, perlakuan Budchip kelas
X dan B, dan Perlakuan Bagal kelas V dan AD setiap minggunya terus
meningkat. Peningkatan paling baik terjadi perlakuan Budchip karena
pada saat penanaman bibit tebu sudah ada daunnya. Dan bpada
perla,uan budchips daun tumbuh langsug keatas dan sedangkan
perlakuan lonjoran tumbuh daun ke arah samping terlebh dahulu baru ke
atas.
Andreas (2013) menyatakan perlakuan bud chips dengan posisi
penanaman horizontal dengan daya tumbuh (89%) dan bud chips dengan
posisi penanaman vertikal daya tumbuh (87%) menunjukkan daya tumbuh
nyata lebih tinggi dibandingkan dengan kombinasi yang lain dan bagal.

4.3 Jumlah Daun Tanaman Tebu

25
Berikut adalah tabel data perbandingan rata-rata jumlah daun
tanaman tebu pada usia 2 sampai 9 minggu setelah tanam.
Tabel .3 Jumlah Daun pada Tanaman Tebu
No Umur Tanaman (Minggu Setelah Tanam)
Perlakuan Kelas
. 3 4 5 6 7 8 9
1 Lonjoran D 2.6 3.2 4.6 5.8 6.6 7.6 8
2 Lonjoran C 2 4 5 6 9 9 -
3 Budchip B 2.8 3.8 5.4 11.8 17.4 26.2 -
4 Budchip X 5.8 13 19.6 25 29.4 34.6 -
5. Bagal V 1 3 5 6 9 14 16
6. Bagal AD 2.6 4.6 6.2 6.8 8 8 -
Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa dengan
menggunakan perlakuan lonjoran, rata-rata jumlah daun pada tanaman
tebu kelas D mengalami peningkatan. Rata-rata jumlah daun saat umur
tanaman 3 minggu setelah tanam adalah 2,6 daun, rata-rata jumlah daun
saat 4 minggu setelah tanam adalah 3,2 daun, rata rata jumlah daun saat
5 minggu setelah tanam adalah 4,6 daun, rata-rata jumlah daun saat 6
minggu setelah tanam adalah 5,8 daun, rata-rata ju

mlah daun saat 7 minggu setelah tanam adalah 6,6 daun, rata-rata
jumlah daun saat 8 minggu setelah tanam adalah 7,6, dan rata rata jumlah
daun pada pengamatan terakhir yaitu saat 9 minggu setelah tanam adalah
8 daun.
Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa rata-rata jumlah daun
pada perlakuan budchip lebih banyak daripada perlakuan lain. Hal ini
disebabkan karena sudah terdapat daun pada saat penanamannya.
Ciri-ciri suatu klon unggul tebu lonjoran yang akan memberikan
potensi hasil tinggi adalah memilki sifat jumlah batang besar, ukuran
batang yang panjang, daya berkecambah yang tinggi, diameter batang
sedang, ruas tidak pendek, memiliki sudut daun yang relaltif tegak, dan
jumlah daun tidak terlalu banyak (Djojosoewardho cit. Sudarti 1994).

Berikut adalah grafik jumlah daun tanaman tebu.

26
40
35
30
25 Lonjoran D
20 Lonjoran C
Jumlah Daun
15 Budchip B
10 Budchip X
5 Bagal V
0 Bagal AD
3 4 5 6 7 8 9
Umur Tanaman (mst)

Gambar4.Jumlah Daun Tanaman Tebu
Berdasarkan grafik diatas dapat diketahui bahwa jumlah daun saat
3 minggu setelah sampai 9 minggu setelah tanam pada semua perlakuan
yaitu lonjoran kelas D dan C, Budchip kelas B dan X, serta bagal kelas V
dan AD mengalami peningkatan. Dapat dilihat dalam grafik bahwa
peningkatan paling baik terjadi pada perlakuan budchip karena sudah
terdapat helai daun pada saat penanaman.
Banyaknya jumlah daun pada budchip mempengaruhi
pertumbuhan panjang tanaman. Oleh sebab itu maka panjang tanaman
dengan perlakuan budchip juga lebih panjang daripada perlakuan lainnya.
Daun ialah organ utama fotosintesis pada tanaman. Meningkatnya
jumlah daun tidak terlepas dari adanya aktifitas pemanjangan sel yang
merangsang terbentuknya daun sebagai organ fotosintesis terutama pada
tanaman tingkat tinggi (Gardner et al, 1991). Semakin banyak jumlah daun
mengakibatkan tempat fotosintesis bertambah sehingga fotosintat yang
dihasilkan juga semakin meningkat. Fotosintat ters ebut didistribusikan ke
organorgan vegetatif tanaman sehingga memacu pertumbuhan tanaman.
4.4 Jumlah Anakan Tanaman Tebu
Berikut adalah tabel data hasil jumlah anakan tanaman tebu pada
usia 3minggu setelah tanam (mst) sampai 9 minggu setelah tanam (mst).

Tebel 4.Jumlah Anakan Tanaman Tebu
No Perlakuan Kelas Umur Tanaman Minggu Setelah Tanam

27
(cm)
.
3 4 5 6 7 8 9
1 Lonjoran D 0 0 0 0 0 1.2 1.2
2 Lonjoran C 0 0 0 1 1 9 -
3 Budchip X 2 4.8 5.8 6.4 6.2 6.6 -
4 Budchip B 0 0.8 1.6 3.2 5.6 7.4 9.4
5 Bagal V 0 0 1 2 2 2 2
6 Bagal AD 0 1.6 2 2.6 5 5.2 -

Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa dengan
menggunakan perlakuan lonjoran, rata- rata jumlah anakan tebu kelas D
terus mengalami peningkatan. Rata-rata jumlah anakan pada saat 3
minggu setelah tanam adalah 0 anakan, rata-rata jumlah anakan pada
saat 4 minggu setelah tanam adalah 0 anakan, rata-rata jumlah anakan
pada saat 5 minggu setelah tanam adalah 0 anakan, rata-rata jumlah
anakan pada saat 6 minggu setelah tanam adalah 0 anakan, rata-rata
jumlah anakan pada saat 7 minggu setelah tanam adalah 0 anakan, rata-
rata jumlah anakan pada saat 8 minggu setelah tanam adalah 1.2
anakan , dan rata-rata jumlah anakan pada saat 9 minggu setelah tanam
adalah 1.2 anakan.
Lonjoran D
PanjangLonjoran
Tanaman (cm)
C
Budchip X
Budchip
Umur B (mst)
Tanaman
Bagal V

Gambar 5.Jumlah Anakan Tanaman Tebu

Berdasarkan data di atas dapat diketahuin bahwa jumlah anakan
tebu dengan perlakuan lonjoran kelas D dan C, perlakuan Budchip kelas X
dan B, dan Perlakuan Bagal kelas V dan AD setiap minggunya terus terus
bertambah. Pertambhan anakan tebu paling baik terjadi pada perlakuan
Budchip karena pada saat penanaman bibit tebu Budchip mata tunas
tersebut diambil dengan memotong mata tunas dari batang tebu, jadi pada
saat penanaman sudah ada jumlah anakan pada bibit tebu, dan media
tanam bibit tanaman tebu ditempatkan pada media tanam yang sedikit.
Secara konvensional, bibit tebu berasal dari batang tebu dengan 2-
3 mata tunas yang belum tumbuh yang disebut bagal (Indrawanto et al.,
2010). Selain bibit bagal, dikenal juga bibit tebu yang berasal dari satu

28
mata tunas yaitu mata ruas tunggal (bud set) dan mata tunas tunggal (bud
chip). Bibit mata ruas tunggal berasal dari batang dengan panjang kurang
dari 10 cm yang terdiri dari satu mata tunas sehat dan berada di 2 tengah,
sedangkan bibit mata tunas tunggal berasal dari mata tunas yang diambil
dengan memotong sebagian ruas batang tebu dengan pemotong bud chip
(Hunsigi, 2001).
Pemakaian mata tunas tunggal sebagai bahan tanam dapat
meningkatkan produktivitas tebu karena dapat menghasilkan jumlah
anakan per tanaman yang lebih banyak dibandingkan dengan bibit bagal.
Bibit mata tunas tunggal dapat menghasilkan 10 anakan tiap tanaman
dibandingkan dengan bibit bagal hanya 5 anakan tiap tanaman (Gujja et
al.,2009). Anakan bibit mata tunas tunggal akan tumbuh lebih serempak
dan lebih banyak, karena bibit sengaja dibuat tercekam dengan hanya
ditempatkan pada media tanam yang sedikit, sehingga pada saat bibit
ditanam di kebun akan tumbuh dengan jumlah anakan dan pertumbuhan
yang seragam (Yuliardi, 2012).

4.5 Keragaman Arthropoda
Berikut ini merupakan table keragaman antropoda pada tanaman
tebu kelas D dengan menggunakan perlakuan lonjoran

Tabel 5.Keragaman Arthropoda pada tanaman tebuperlakuan lonjoran
kelas D
Gambar
No Nama Populasi Peran
Dokumentasi Literatur
1 - - - -
2 - - - -
3 - - - -

Tebel 6. Keragaman Arthropoda pada Tanaman Tebu Teknik Lonjoran
Kelas C
No Spesies Foto Populasi Peran

1 Nama Lokal:Belalang Hama
Hijau

29
Nama Ilmiah:Oxya
Chinensis

Hama
2 Nama Lokal:penggerek
batang
Nama Ilmiah:Sesamia
Inferens

3 Nama Lokal:semut
NamaIlmiah:Dolichoderus Musuhalami
thoracicus
Smith

Nama Lokal:Belalang
hitam
4 Nama Ilmiah:Dissosteira
carolina

Tabel 7. Keragaman Arthropoda pada tanaman tebuperlakuan Bud chips
kelas X
No. Spesies Foto Populasi Peran
1. Nama Lokal : Kumbang Spot M 2 ekor Hama
Nama Latin : Menochilus
sexmaculatus
Kingdom : Animalia

Filum : Arthropoda

Kelas : Insecta

Ordo : Coleoptera

Famili : Minochilas

Genus : Menochilus

30
Spesies : Menochilus
sexmaculatus

2. Nama Lokal : Laba-laba 3 ekor Musuh Alami
Nama Latin : Lycora sp
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Archnida
Ordo : Araida
Famili : Lycosidae
Genus : Lycora
Spesies : Lycora sp

Nama Lokal : Belalang hijau
Nama Latin : Oxya chinensis
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Orthoptera
Famili : Acrididae
Genus : Oxya
Spesies : Oxya chinensis

Tabel8.Keragaman Arthropoda pada tanaman tebuperlakuan Bud Chips
Kelas B
Spesies Gambar Peran
No Perlakuan Kelas
Nama Nama Dokumentasi Literatur
Lokal Ilmiah

Orycts
Kumbang
1 Bagal 1 AA rhinoc Hama
tanduk
eros

Sumber:
Murwandono

31
Oxya
Belalang
2 Bagal 1 AA chinen Hama
Hijau
sis

Sumber:
Djumali

Valang
Belalang a
3 Bagal 2 V Hama
Cokelat nigrico
rnis

Sumber:
Djumali

Aranei
Laba- Musuh
4 Bud chip 1 B dae
Laba Alami
sp.

Sumber:
Khuluq

Oxya
Belalang
5 Bud chip 2 K chinen Hama
Hijau
sis

Sumber:
Djumali

Dolich
oderin
Semut Musuh
6 Lonjoran 1 D ae
Hitam Alami
thoraci
cus
Sumber:
Djumali

32
Oxya
Belalang
7 Lonjoran 2 E chinen Hama
Hijau
sis

Sumber:
Djumali

Tabel 9.Keragaman Arthropoda pada tanaman tebuperlakuan Bagal Kelas
AD
No Spesies Foto Populasi Peran

1 2 Hama

Belalanghijau
(Oxyachinensis)

2 Laba-laba 1 Musuhalami
(Araneidae)

Tabel 10.Keragaman Arthropoda pada tanaman tebuperlakuan Bagal
Kelas V
No Spesies Foto Populasi Peran
1 Nama Lokal : Belalang Hijau 1 Hama

Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Orthoptera
Famili : Acrididae
Genus : Oxya
Spesies : Oxya chinensis

33
2 Nama Lokal : Metallic Blue Ladybug 1 Musuh Alami

Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Coleoptera
Famili : Coccinellidae
Genus : Halmus
Spesies : Halmus chalybeus

3 Nama Lokal : Kepinding Tanah 1 Serangga
Lain
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Hemiptera
Famili : Pentatomidae
Genus : Scotinophara
Spesies :Scotinophara coarctata

4 Nama Lokal : Penggerek Batang Tebu 2 Hama

Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Class : Insecta
Ordo : Lepidoptera
Family : Pyralidae
Genus : Chilo
Spesies : Chilo saccharip
hagus B

Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa keragaman
artropoda terbanyak terdapat pada perlakuan budchip milik kelas C, dan
keragaman arthtropoda terendah yaitu pada perlakuan lonjoran kelas D.

4.6 Intensitas Serangan Penyakit
Berikut adalah tabel data intensitas serangan penyakit tanaman
tebu pada perlakuan lonjoran, budchip, dan bagal.
Tabel6.Tabel intensitas penyakit tanaman tebu
No Umur Tanaman (Minggu Setelah Tanam)
Perlakuan Kelas
. 3 4 5 6 7 8 9
1 Lonjoran D 0 0 0 0 0 0 0
2 Lonjoran C 0 0 0 0 0 0 0
3 Budchip B 0 0 0 0 0 0 0
4 Budchip X 0 0 0 0 0 0 0
5. Bagal V 0 0 0 0 0 0 0

34
6. Bagal AD 0 0 0 0 0 0 0
Dari data diatas dapat diketahui bahwa tanaman tebu dengan
perlakuan lonjoran milik kelas D tidak terserang penyakit. Hal ini
disebabkan bibit yang ditanam berasal dari indukan yang baik. Perawatan
pada tebu yaitu pemberian pupuk, penyiangan gulma, pembubunan, dan
juga pengairan sudah dilakukan, hal itu juga membuat pertumbuan tebu
berjalan optimal dan meminimalkan dalam serangan hama maupun
penyakit.

Berikut adalah grafik intensitas penyakit tanaman tebu.
1
0.9
0.8
0.7
Lonjoran D
0.6
0.5 Lonjoran C
Intensitas Penyakit
0.4 Budchip B
0.3 Budchip X
0.2
Bagal V
0.1
0 Bagal AD
3 4 5 6 7 8 9
Umur Tanaman (mst)

Gambar 6. Intensitas Penyakit Tanaman Tebu
Dari grafik di atas dapat diketahui bahwa di ketiga perlakuan yaitu
lonjoran kelas D dan C, Budchip kelas B dan X, serta Bagal kelas V dan
AD tidak terserang penyakit. Hal ini disebabkan karena pada setiap
perlakuan dilakukan perawatan rutin sehingga memungkinkan tanaman
tidak terserang penyakit.
4.7 Pembahasan Umum

35
Pengamatan panjang tanaman tebu dengan perlakuan lonjoran,
budchip, dan bagal. Panjang tanaman budchip mempunyai tinggi yang
lebih daripada dua perlakuan lainnya (lonjoran dan bagal). Karena
perlakuan budchip daun langsung tumbuh keatas, sedangkan perlakuan
lonjoran daun tumbuh kesamping lalu keatas.
Pengamatan jumlah daun tanaman tebu dengan perlakuan
lonjoran, budchip, dan bagal.Jumlah daun tanaman tebu paling banyak
adalah perlakuan budchip daripada dua perlakuan lainnya (lonjoran dan
bagal). Hal ini disebabkan karena sudah terdapat daun pada saat
penanamannya.
Pengamatan jumlah anakan tanaman tebu dengan perlakuan
lonjoran, budchip, dan bagal. Jumlah anakan tanaman tebu terbanyak
adalah perlakuan budchip daripada perlakuan lainnya (lonjoran dan
bagal). Karena pada saat penanaman bibit tebu Budchip mata tunas
tersebut diambil dengan memotong mata tunas dari batang tebu, jadi
pada saat penanaman sudah ada jumlah anakan pada bibit tebu, dan
media tanam bibit tanaman tebu ditempatkan pada media tanam yang
sedikit.
Pengamatan keragaman arthopoda tanaman tebu lonjoran tidak
ada keragaman arthopoda dikarenakan perlakuan lonjoran melakukan
penyiangan gulma yang menyebabkan serangga tidak menyukai
keadaan tersebut.
Pengamatan serangan intensitas penyakit pada tanaman tebu tidak
terjadi serangan penyakit di semua perlakuan lonjoran, budchip dan bagal.
Karena Hal ini disebabkan bibit yang ditanam berasal dari indukan yang
baik. Perawatan pada tebu yaitu pemberian pupuk, penyiangan gulma,
pembubunan, dan juga pengairan sudah dilakukan, hal itu juga membuat
pertumbuan tebu berjalan optimal dan meminimalkan dalam serangan
hama maupun penyakit.

36
5. KESIMPULAN
Tanah pada lahan Praktikum Fakultas Pertanian Universitas
Brawijaya. Terletak di Jalan Kembang Kertas, Kelurahan Jatimulyo,
Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Provinsi Jawa Timurcenderung
basah dan tergenang oleh air serta pada lahan tersebut masih banyak
ditanami padi. Dan tanah jenis vertisol juga cocok untuk ditanami tanaman
padi maupun tebu.
Panjang tanaman tebu dengan tiga perlakuan yaitu budchip, bagal,
dan lonjoran mengalami peningkatan setiap minggunya. Peningkatan
paling baik terjadi pada perlakuan budchip .
Rata-rata jumlah daun tanaman tebu baik perlakuan budchip,
bagal, maupun lonjoran mengalami peningkatan. Rata-rata jumlah daun
paling banyak terjadi pada tanaman tebu dengan perlakuan budchip.
Insentitas penyakit pada tanaman tebu dengan perlakuan budchip,
bagal, maupun lonjoran sebesar 0 atau bisa dikatakan tanaman tebu
dengan tiga perlakuan yang berbeda tersebut tidak terserang penyakit.
Pada lahan tebu dengan perlakuan lonjoran kelas D tidak
ditemukan serangga jenis apapun. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi lahan
dan perawatan yang baik.

37
DAFTAR PUSTAKA

Barnes, A. C., 1974. The Sugar Cane. Leonard Hill, London.
Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 1992. 5 Tahun (1987-
1991)
Bidwell, R.G.S., 1979. Plant Physiology. Mac Millan Publishing Co. Inc.,
New York
Buckman dan Nyle.C. Brady., 1982. Ilmu Tanah. Bhatara Karya Aksara.
Jakarta
Deckers, J., O Spaargaren and F. Nachtergaele.2001. Vertisols: Genesis
properties andsoilscape management for sustainabledevelopment.
p. 3-20. In Syers, J. K, F. W.T. Penning De Vries, and P.
Nyamudeza(Eds): The Sustainable Management ofVertisols.
IBSRAM Proceeding No. 20.
E. Saifuddin Sarief ; penyunting, Tjun Surjaman Bandung : Pustaka
Buana, 1993 xv, 163 hlm. : ilus. ; 19 cm. Bibliografi : hlm. 160-161.
Bandung.
Gardner, P. F., R. B. Pearce dan R. L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman
Budidaya.Universitas Indonesia (UIPress). Jakarta
Gujja, B., Loganandhan N., V. Vinoud G., Manisha A., Sashi B., dan
Alwara S. 2009. Sustainable Sugarcane Initiative : Improving
Sugarcane Cultivation in India. Icrishat, Patancheru
Hunsigi, G. 2001. Sugarcane in Agriculture and Industry. Eastern Press,
India.
Indrawanto C. 2010. Budidaya dan pasca panen tebu.ESKA Media.
Jakarta
James, G. 2004. Sugarcane. Blackwell Publishing Company. Oxford OX4
2Dq, UK. 216 hlm.
Lopulisa, Christianto., 2004. Tanah-Tanah Utama Dunia. Lembaga
Penerbitan Universitas Hasanuddin : Makassar

38
Miller, J.D. and R.A. Gilbert. 2006. Sugarcane Botany: A Brief View.
Agronomy Department, Florida Cooperative Extension Service,
Institute of Food and Agricultural Sciences, University of Florida. 6
hlm.
Prasetyo, B.H. 2007.Perbedaan Sifat-Sifat Tanah Vertisol Dari Berbagai
Bahan Induk.Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia. Volume 9, No.
1, Halaman 20-31.
Sudarti, L. 1994. Varietas Tebu Lahan Kering (Saccharum officinarum L.)
Pada Daerah Bercurah Hujan Tinggi. Institut Pertanian Bogor.
Skripsi.
Supriyadi, A., 1992. Rendemen Tebu. Kanisius.Yogyakarta. 72 hal.
Sutardjo, Edhi. 1994. Budidaya Tanaman Tebu. Bumi Aksara. Jakarta
Tarigan, B. Y. dan J. N. Sinulingga, 2006. Laporan Praktek Kerja
Lapangan di Pabrik Gula Sei Semayang PTPN II Sumatera Utara.
Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Wijayanti, W. A. 2008. Pengelolaan Tanaman Tebu (Saccharum
Officinarum L.) di, Pabrik Gula Tjoekir Ptpn X, Jombang,
JawaTimur. (Skripsi). Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Yuliardi, R. 2012. Bud Chip. <http://jccry.blogspot.com/2012/08/bud-
chip.html>. Diakses pada 19 Oktober 2013.

39
LAMPIRAN

Lampiran 1. Loog Book kegiatan praktikum Lapang TPT Kelompok Tebu
Kelas D
N
Tanggal Kegiatan Deskripsi Dokumentasi
o
Pembibitan
dilakukan oleh
14
Pembibitan praktikan yang
1 Septembe -
Padi SRI mendapatkan
2016
komoditas
padi
Lahan
dipersiapkan
21
Persiapan untuk ditanami
2 Septembe -
Lahan berbagai
r 2016
komoditas
tanaman
Pengambilan
sampel tanah
dilakukan
28 Pengambila
untuk
3 Septembe n Sampel
mengetahui
r 2016 Tanah
sifat dan
karakteristik
tanah

Penaman
pertama kali
5 Oktober
4 Penanaman berbagai
2016
komoditas

40
Perawatan
dengan
12 Perawatan
pembumbuna
5 Oktober dan
n, penyiraman
2016 Pemupukan
dan
pemupukan

Mencari
sampel terbaik
dari komoditas
tebu, serta
perawatan
19 Penentuan
dengan
6 Oktober Sampel dan
pembumbuna
2016 Perawan
n dan

penyirama

Mengamati
sampel
dengan
Perawatan mencatatat
24
dan tinggi, jumlah
7 Oktober
Pengamata daun, dan
2016 -
n jumlah anakan
serta
melakukan
penyiraman
Mengamati
sampel
dengan
Perawatan mencatatat
31
dan tinggi, jumlah
8 Oktober -
Pengamata daun, dan
2016
n jumlah anakan
serta
melakukan
penyiraman
9 9 Perawatan Mengamati
November dan sampel

41
dengan
-
mencatatat
tinggi, jumlah
Pengamata daun, dan
2016
n jumlah anakan
serta
melakukan
penyiraman

Mengamati
sampel
dengan
-
Perawatan mencatatat
16
dan tinggi, jumlah
10 November
Pengamata daun, dan
2016
n jumlah anakan
serta
melakukan
penyiraman
Mengamati
sampel
dengan
mencatatat
Perawatan tinggi, jumlah
23
dan daun, dan
11 November -
Pengamata jumlah anakan
2016
n serta
melakukan
penyiraman

Mengamati
sampel
dengan
Perawatan mencatatat
30
dan tinggi, jumlah
12 November -
Pengamata daun, dan
2016
n jumlah anakan
serta
melakukan
penyiraman

42
Melakukan
7 perawatan
13 Desember Perawatan terakhir
2016 komoditas
tebu

Lampiran 2. Data Pengamatan Praktikum Parameter Panjang Tanaman

Pengamatan ke-... MST
TS
3 4 5 6 7 8 9
1 29 cm 41 cm 64 cm 92 cm 107 cm 118 cm 128 cm
2 24 cm 35,5 cm 57 cm 75 cm 95,5 cm 98 cm 115 cm
3 21,5 cm 32,5 cm 49 cm 67 cm 99 cm 105 cm 112 cm
4 23 cm 33,5 cm 57 cm 86,5 cm 96,7 cm 114 cm 122 cm
5 17,5 cm 25,6 cm 45,5 cm 68 cm 84,3 cm 88 cm 96 cm
Rata2 23 cm 33,62 cm 54,5 cm 77,7 cm 96,5 cm 104,6 cm 114,6 cm
Ket : TS: Tanaman Sample; MST: Minggu Setelah Tana

Lampiran 3. Data Pengamatan Praktikum Parameter Jumlah Daun

Pengamatan ke-... MST
TS
3 4 5 6 7 8 9
1 3 4 4 6 6 8 8
2 3 3 5 5 6 7 7
3 3 3 5 6 7 8 8
4 2 3 4 6 7 8 8
5 2 3 5 6 7 7 9
Rata2 2,6 3,2 4,6 5,8 6,6 7,6 8
Ket : TS: Tanaman Sample; MST: Minggu Setelah Tanam

Lampiran 4. Data Pengamatan Praktikum Parameter Jumlah Anakan

Pengamatan ke-... MST
TS
3 4 5 6 7 8 9
1 0 0 0 0 0 1 1
2 0 0 0 0 0 1 1
3 0 0 0 0 0 2 2
4 0 0 0 0 0 0 0
5 0 0 0 0 0 2 2
Rata2 0 0 0 0 0 1,2 1,2
Ket : TS: Tanaman Sample; MST: Minggu Setelah Tanam

Lampiran 5. Data Pengamatan Praktikum Parameter Indeks Penyakit

TS Pengamatan ke-... MST

43
3 4 5 6 7 8 9
1 0 0 0 0 0 0 0
2 0 0 0 0 0 0 0
3 0 0 0 0 0 0 0
4 0 0 0 0 0 0 0
5 0 0 0 0 0 0 0
Rata2 0 0 0 0 0 0 0

Perhitungan Indeks Penyakit (IP)

∑ (n x v) x 100( )
ZxN

Pengamatan 3 MST
1. Tanaman Sampel 1

¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 3

2. Tanaman Sampel 2

¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 3

3. Tanaman Sampel 3

¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 3

4. Tanaman Sampel 4

¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 2

5. Tanaman Sampel 5

¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 3

44
Pengamatan 4 MST

1. Tanaman Sampel 1
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x4
2. Tanaman Sampel 2
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 3
3. Tanaman Sampel 3
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 3
4. Tanaman Sampel 4
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 3

5. Tanaman Sampel 5
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 3

Pengamatan 5 MST

1. Tanaman Sampel 1
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x4
2. Tanaman Sampel 2
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 5
3. Tanaman Sampel 3
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 5
4. Tanaman Sampel 4
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x4
5. Tanaman Sampel 5
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 5

45
Pengamatan 6 MST

1. Tanaman Sampel 1
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 6
2. Tanaman Sampel 2
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 5
3. Tanaman Sampel 3
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 6
4. Tanaman Sampel 4
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 6
5. Tanaman Sampel 5
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 6

Pengamatan 7 MST

1. Tanaman Sampel 1
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 6
2. Tanaman Sampel 2
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 6
3. Tanaman Sampel 3
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 7
4. Tanaman Sampel 4
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 7
5. Tanaman Sampel 5
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 7

46
Pengamatan 8 MST

1. Tanaman Sampel 1
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 8
2. Tanaman Sampel 2
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 7
3. Tanaman Sampel 3
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 8
4. Tanaman Sampel 4
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 8
5. Tanaman Sampel 5
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 7

Pengamatan 9 MST

1. Tanaman Sampel 1
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 8

2. Tanaman Sampel 2
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 7
3. Tanaman Sampel 3
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 8
4. Tanaman Sampel 4
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 8
5. Tanaman Sampel 5
¿
∑ (0 x 0) x 100 ( ) =0
0x 9

47
48