UNIVERSITAS MULAWARMAN

FAKULTAS TEKNIK
PS S1 TEKNIK PERTAMBANGAN

PROPOSAL
SKRIPSI

Nama : Heprianoor
NIM : 1009045007
Peminatan : Penirisan Tambang
Judul Penelitian : Rancangan Sistem Penyaliran Tambang Berdasarkan
Kemajuan Tambang di PT. Pamapersada Nusantara
District KPC
Pembimbing 1 : Dr. Ir. Harjuni Hasan, M.Si.
Pembimbing 2 : Ir. Sakdillah, MM.T.
Dilaksanakan : Semester Genap 2013/2014

1. Judul Penelitian

Rancangan Sistem Penyaliran Tambang Berdasarkan Kemajuan Tambang di PT.
Pamapersada Nusantara District KPC

2. Latar Belakang Masalah

Pada masa mendatang, produksi batubara Indonesia diperkirakan akan terus meningkat;
tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri (domestik), tetapi juga untuk
memenuhi permintaan luar negeri (ekspor). Hal ini mengingat sumber daya batubara
Indonesia yang masih melimpah, di lain pihak harga BBM yang tetap tinggi, menuntut
industri yang selama ini berbahan bakar minyak untuk beralih menggunakan batubara.

1

Demikian pula halnya dengan permintaan batubara dari negara-negara pengimpor
mengakibatkan produksi akan semakin meningkat pula.

Berbagai macam metode penambangan batubara dapat dilakukan perusahaan untuk
meningkatkan serta memaksimalkan produksi. Salah satunya metode penambangan
tambang terbuka yang banyak dijumpai di KalimantanTimur. Salah satu ciri utama
metode tambang terbuka adalah adanya pengaruh iklim pada kegiatan penambangan.
Elemen-elemen iklim tersebut antara lain : hujan, panas (temperature), tekanan udara
dan sebagainya, yang dapat mempengaruhi kondisi tempat kerja, untuk kerja alat dan
kondisi pekerja, yang selanjutnya dapat mempengaruhi produktivitas tambang.

Air tambang memiliki pengaruh besar terhadap produktivitas tambang. Apabila tidak
segera dilakukan penanganan yang baik maka air tambang akan mempengaruhi
produktivitas alat kerja, kemantapan lereng yang terganggu karena kondisi jenuh,
menimbulkan air asam tambang (acid main drainage) serta tergenangnya area bukaan
tambang menyebabkan kegiatan penambangan mengalami hambatan yang kesemuanya
itu tentunya akan mempengaruhi produksi tambang. Untuk mengatasi hal tersebut
diperlukan rancangan sistem penyaliran yang baik dan bisa diaplikasikan untuk
memperlancar kegiatan produksi, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.

3. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka masalah yang akan di bahas yaitu
merencanakan sistem penyaliran tambang yang dapat berfungsi secara efektif dan
efisien, sehingga dapat mencapai hasil yang optimal.

4. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :
a. Untuk menentukan dimensi dan lokasi penempatan saluran terbuka dan
sumuran (sump).
b. Untuk menentukan jumlah gorong-gorong (culvert)
c. Untuk menentukan jenis dan jumlah pompa.

2

5. Batasan Masalah

Batasan masalah pada penelitian ini adalah :
1. Peneliti tidak mengkaji masalah settling pond
2. Peneliti tidak mengkaji masalah ekonomi, akan tetapli lebih bersifat teknis.

6. Tinjauan Pustaka

6.1 Daur Hidrologi

Air secara keseluruhan di bumi ini diperkirakan berjumlah 1.366 juta km3, yang
distribusinya dapat dilihat pada Tabel III-1. Dari jumlah tersebut hanya sekitar 2,6 %
berupa air tawar dan hanya sekitar 220 ribu km3 di antaranya yang dapat dimanfaatkan
oleh manusia.
Tabel 6.1 Jumlah Air di Muka Bumi
Jumlah Persentase
Bagian dari hidrosfer
(km3) (%)
Lautan 1338.105 96,5
Air bawah tanah 23,4.106 1,7
Air bawah tanah tawar 105,3.105 0,76
Kelembaban tanah 16.500 0,001
Salju, es, gletser 24,2.106 1,766
Danau :
- air tawar 91.000 0,007
- air asin
85.400 0,006
Daerah rawa
Sungai 11.470 0,0008
Air di atmosfir
2.120 0,0002
12.900 0,001
Sumber : Rudi Sayoga, Sistem Penyaliran Tambang, 1999

Air di Bumi mengalami suatu siklus melalui serangkaian peristiwa yang belangsung
terus-menerus, di mana kita tidak tahu kapan dan dari mana berawalnya dan kapan pula
akan brakhir. Serangkaian peristiwa tersebut dinamakan siklus hidrologi (hidrologic
cycle) dan dapat digambarkan seperti pada Gambar 6.1.

3

kebanyakan hujan rencana mempunyai karakteristik secara umum sama dengan karakteristik hujan yang terjadi pada masa lalu. Hujan rencana bukan kejadian hujan yang diukur secara aktual dan kenyataannya. hujan yang identik dengan hujan rencana tidak pernah dan tidak akan terjadi.1 Siklus Hidrologi Sirkulasi air yang berpola siklus itu tidak pernah berhenti dari atmosfir ke bumi dan kembali ke atmosfir melalui kondensasi. Dengan demikian. yaitu hujan aktual dan hujan rencana. 6. Kejadian hujan dapat dipisahkan menjadi dua grup. presipitasi. menggambarkan karakteristik umum kejadian hujan yang diharapkan terjadi pada masa mendatang. Namun demikian. Pemanasan air samudera oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi tersebut dapat berjalan secara kontinyu. evaporasi. Kejadian hujan aktual adalah rangkaian data pengukuran di stasiun hujan selama periode tertentu. Sumber : hydrological cycle by google Gambar 6. Hujan rencana adalah hyetograph hujan yang mempunyai karakteristik terpilih.2 Curah Hujan 4 . yang bergantung pada pergerakan bumi terhadap matahari dan rotasi bumi pada porosnya. dan transpirasi serta terkait dengan perubahan ruang dan waktu.

1 Liter = 1 dm3 = 10-3 m-3 10-3 m3 / 1m2 = 10-3 atau 1 mm Tabel 6. tidak meresap.3 Keadaan dan Intensitas Curah Hujan Keadaan Curah Curah Hujan Hujan 1 Jam 24 Jam Hujan sangat ringan <1 <5 Hujan ringan 1–5 5 . dinyatakan dalam millimeter (mm) atau merupakan ketinggian air hujan yang berkumpul dalam tempat yang datar. artinya dalam satu meter persegi (1 m 2) pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter. 1999 Tabel 6. Sistem Penyaliran Tambang.02 – 0.100 Hujan sangat deras > 20 > 100 Sumber : Rudi Sayoga. dan tidak mengalir.25 Bunyi curah hujan terdengar Hujan deras 0. 1999 5 . tidak menguap.Curah hujan adalah jumlah air yang jatuh pada satu satuan luas. Derajat curah hujan dinyatakan dalam curah hujan per satuan waktu dan disebut intensitas hujan yang menyatakan ukuran hujan. Sistem Penyaliran Tambang.25 – 1. seluruh drainase meluap Sumber : Rudi Sayoga. Curah hujan 1 (satu) millimeter.02 Tanah agak basah atau dibasahi sedikit Hujan lemah 0.20 Hujan normal 5 – 10 20 .2 Derajat dan Intensitas Hujan Intensitas Curah Derajat Hujan Kondisi Hujan (mm/menit) Hujan sangat lemah 0.20 50 .50 Hujan lebat 10 .05 – 0.00 Air tergenang diseluruh permukaan tanah dan terdengar bunyi dari genangan Hujan sangat deras > 1.05 Tanah menjadi basah semua Hujan normal 0.00 Hujan seperti ditumpahkan.

Freeport di Papua. Hujan ini nyaris terjadi sepanjang hari.14cm) dan diletakkan kurang lebih 1 m dari permukaan tanah. 3) Hujan Siklon. Berhubungan dengan front udara.14cm x 14.00 denga demikian akan dihasilkan curah hujan harian.2. Hujan tipe ini umumnya bercurah hujan tinggi dan terjadi dalam waktu relatif singkat. daerah hujannya terbatas dan intensitasnya bervariasi dari hujan sangat ringan sampai sangat lebat.1 Pengukuran Curah Hujan Pengukuran curah hujan dilakukan dengan menggunakan alat pengukur hujan. Tipe hujan ini dapat ditemui di daerah Bogor dan di daerah Grasberg wilayah kerja PT. yaitu front udara panas dan front udara dingin. yaitu : 1) Alat penakar hujan biasa mempunyai luas bukaan 200cm2 (14. Diakibatkan oleh naiknya udara panas ke daerah udara dingin. 2) Hujan Orografis. Diakibatkan oleh naiknya massa udara lembab karena punggung pegunungan. yang nantinya dapat dipakai sebagai dasar perencanaan debit limpasan hujan pada daerah penelitian. Tipe hujan ini ditemui di daerah khatulistiwa. dan dinyatakan dalam mm persatuan waktu. biasanya pada pukul 07. Udara panas tersebut mendingin dan terjadi kondensasi. Hujan tipe ini umumnya berjangka waktu lama dengan curah hujan relatif kecil. yaitu : 1) Hujan Konvektif. 6. Pengukuran umumnya dilakukan sekali dalam sehari.Intensitas curah hujan adalah jumlah curah hujan dalam jangka waktu tertentu. Hujan tipe ini umumnya berjangka waktu pendek. biasanya disertai dengan badai atau angin siklon. 6 . Berdasarkan pergerakan udara penyebab hujan dapat dibedakan tiga tipe hujan. Perhitungan intensitas curah hujan bertujuan untuk mendapatkan curah hujan yang sesuai. Biasanya terjadi di pinggiran benua.

2. Ada dua macam seri data yang dipergunakan dalam analisis frekuensi yaitu: 1. 2) Alat penakar hujan otomatis dimana pencatatan dilakukan otomatis secara berkesinambungan sehingga dihasilkan data intensitas hujan yang akurat. Series data ini disebut seri data maksimum (maximum annual series).2. 100. 40. 5. 15. Hujan rancangan ini digunakan untuk menentukan intensitas hujan yang diperlukan dalam perhitungan debit limpasan menggunakan metode rasional. 30. 50. Data maksimum tahunan: tiap tahun diambil hanya satu besaran maksimum yang dianggap berpengaruh pada analisa selanjutnya. MTN 027#C b. Dalam penelitian ini dihitung hujan harian rancangan dengan kala ulang 1. 20. b = alat penakar hujan otomatis) 6. (a) (b) Sumber : a.2 Analisis Frekuensi (Hujan Rencana) Analisis frekuensi adalah prosedur memperkirakan frekuensi suatu kejadian pada masa lalu atau masa yang akan datang. Prosedur tersebut dapat digunakan menentukan hujan rancangan dalam berbagai kala ulang berdasarkan distribusi yang paling sesuai antara distribusi hujan secara teoritik dengan distribusi hujan secara empirik. dan 200 tahun.2 Alat Penakar Hujan (a = alat penakar hujan manual. 25. 10. 7 . Searching google Gambar 6.

dengan rumus : ƩCH X= n Dimana : X = Rata-rata intensitas curah hujan n = Jumlah data curah hujan ƩCH = Jumlah keseluruhan data curah hujan 2...1 Dimana : CHR = Curah hujan rencana E.J. Menghitung deviasi standar ( S ). Curah hujan akan menunjukkan suatu kecenderungan pengulangan.. Gumbel X = Data curah hujan rata-rata S = Standar deviasi Sm = Koreksi simpangan Yt = Koreksi varians Ym = Rata-rata nilai Ym 1. yang berarti kemungkinan/probabilitas perioda terulangnya suatu tingkat curah hujan tertentu.…. Rumus 6. Hal ini terlihat data yang dianalisis mencakup suatu jangka waktu yang panjang (misalnya 30 tahun). Sehubungan dengan hal tersebut dalam analisis curah hujan dikenal istilah periode kemungkinan ulang (return period). Metode ini lebih realistis dibandingkan metode maximum annual series sehingga beberapa ahli menyarankan menggunakan cara partial series. 2004). (Suripin. Gumbel : CHR = X + ( Yt−Ym Sm ) S ……………………. dengan rumus : 8 . Satuan periode ulang adalah tahun. Menentukan curah hujan rencana (CHR).2. Seri parsial: dengan menetapkan besaran tertentu sebagai batas bawah selanjutnya semua besaran data yang lebih besar dari batas bawah tersebut diambil kemudian dianalisis dengan cara yang lazim. Menghitung curah hujan rata-rata ( X ). dengan rumus Emil J.

........Rumus 6................. dengan rumus : Ym=−ln −ln { ( ( n+1 ) −m n+1 )} .... Menghitung koreksi rata-rata ( Ym ). S= √ Ʃ ( Xi− X ) n−1 . Menghitung koreksi simpangan ( Sm )..Rumus 6......2 Dimana : S = Standar deviasi Xi = Data ke-1 X = Rata-rata intensitas curah hujan n = Jumlah data 3.............................3 Di mana : Sm = Koreksi simpangan Ym = Nilai Ym ke-n Ỹm = Rata-rata nilai Ym n = Jumlah data 4........5 Di mana : Ym = Koreksi rata-rata n = Jumlah urut data m = Nomor urut data Rumus yang dapat digunakan untuk mengolah data curah hujan harian kedalam satuan jam adalah dengan Rumus Mononobe : 9 ... dengan rumus : Sm= √ Ʃ ( Ym−Ỹm ) ( n−1 ) ................Rumus 6..................... dengan rumus : Yt =−ln −ln { T )} ( T −1 ...........Rumus 6................4 Dimana : Yt = Reduksi variasi T = Periode ulang hujan 5.................... Menghitung koreksi variasi ( Yt )........................

.. Buatlah titik di sepanjang batas tepi daerah yang telah dibatasi.. Kondisi ini tergantung dari daerah tangkapan hujan yang juga dipengaruhi beberapa faktor.. Hubungkan setiap punggungan (puncak) gunung atau bukit yang ada pada peta topografi....... Untuk menghitung luas daerah yang telah dibatasi dapat menggunakan rumus : 1 2{ 2 1 L= ( X ∗Y ) −( X 1∗Y 2 ) } . m ( R24 )  24  I    24  t  ... antara lain kondisi topografi...Rumus 6... Luas daerah tangkapan hujan diukur pada peta kontur.....……………....... 4....... 3....3 Daerah Tangkapan Hujan ( Catchment Area ) Catchment Area atau daerah tangkapan hujan ditentukan berdasarkan kondisi topografi daerah yang akan diteliti... Daerah tangkapan hujan ini biasanya dibatasi oleh pegunungan dan bukit-bukit yang diperkirakan akan mengumpulkan air hujan.. 2..6 Di mana : I = Intensitas curah hujan perjam (mm/jam) R24 = Intensitas curah hujan dalam satuan hari (mm/hari) t = Durasi hujan (jam) 6.. rapat tidaknya vegetasi serta keadaan geologi. kemudian tentukan koordinat setiap titik..7 10 .. Langkah – langkah mengetahui berapa luas catchment area suatu daerah : 1...... Semua air yang mengalir dipermukaan belum tentu menjadi sumber air dari suatu sistem penyaliran.Rumus 6.. maka luas dihitung berdasarkan batas polygon tersebut..... yaitu dengan menarik titik-titik yang tertinggi disekelilingi tambang dan membentuk polygon tertutup. dengan melihat kemungkinan arah mengalirnya air.2. Batasi tiap daerah di mana tangkapan air hujannya akan berkumpul disatu tempat....

daerah 0.5 3-15 Tumbuhan yang jarang 0. 1999 6.7 Tumbuhan yang jarang 0. L = Luas catchment area (m2) X1 = Koordinat X untuk titik 1 X2 = Koordinat X untuk titik 2 Y1 = Koordinat Y untuk titik 1 Y2 = Koordinat Y untuk titik 2 6. kebun 0. perkebunan 0.7 Penimbunan Hutan 0.2. Waktu konsentrasi dapat dihitung dengan rumus dari “Kirpich”.5 Waktu Konsentrasi (Tc) Waktu konsentrasi adalah waktu yang diperlukan hujan untuk mengalir dari titik terjauh ke tempat penyaliran. sebagai berikut: 11 . Koefisien limpasan dipengaruhi oleh faktor-faktor tutupan tanah. kemiringan dan lamanya hujan. perkebunan 0.6 >15 Perumahan.4 Limpasan ( Run Off ) Koefisien limpasan merupakan salah satu penentu ketelitian hasil perhitungan dimana merupakan parameter yang menggambarkan hubungan curah hujan dan limpasan. daerah tambang 0.8 Tanpa tumbuhan.2.2 <3 Hutan.4 Hutan.9 Sumber : Rudi Sayoga.6 Tanpa tumbuhan.3 Perumahan dengan kebun 0.4 Koefisien limpasan Koefisien Limpasan Kemiringan (%) Tutupan (C) Sawah. rawa 0.4 Perumahan 0. yaitu memperkirakan persentase dari jumlah air hujan yang masuk menjadi limpasan langsung di permukaan. Tabel 6.

......... Besarnya air limpasan tergantung oleh beberapa faktor.... (mm/jam) A = luas daerah tangkapan hujan................2. yaitu air hujan yang mengalir di atas permukaan tanah.........3 Penyaliran pada Tambang Terbuka Pengendalian air tambang terbuka dapat dibedakan menjadi dua........Persamaan 6.278 x C x I x A........... sehingga tidak semua air hujan yang jatuh ke permukaan bumi akan menjadi sumber bagi sistem penyaliran dan kolam pengendapan........... (m3/detik) C = Koefisien limpasan (tanpa satuan pada Tabel 3.8 Dimana : Tc = Waktu terkumpulnya air (menit) L = Jarak terjauh sampai titik pengaliran (feet) S = Beda ketinggian dari titik terjauh sampai ke tempat berkumpulnya air (gradien) % 6.Persamaan 6....77 S -0.........................2) I = Intensitas curah hujan (mm/jam).... Rumus Rasional adalah sebagai berikut : Q = 0.6 Debit Limpasan Air limpasan disebut juga air permukaan..... maka limpasan air permukaan akan segera meningkat sesuai dengan peningkatan intensitas curah hujan.............. Besarnya air limpasan adalah besarnya curah hujan dikurangi oleh besarnya penyerapan (infiltrasi) dan penguapan (evaporasi)....... Bila curah hujan melampaui kapasitas infiltrasi. untuk rancangan paritan durasi hujan yang dipakai dalam Persamaan Mononobe sama dengan waktu konsentrasi (tc) pada periode ulang tertentu.........382 ........ yaitu : 12 .. (km2) 6.9 Di mana : Q = Debit air limpasan. Penentuan debit air limpasan maksimum ditentukan dengan menggunakan Metode Rasional...0078 L 0...Tc = 0..........

sistem paritan dan sistem pemompaan. 4) Small Pipe with Vacuum Pump. dan pembuatan paritan). Pada metode ini digunakan batang anoda serta katoda. Cara ini diterapkan pada lapisan batuan yang inpermiabel (jumlah air sedikit) dengan membuat lubang bor. Dalam metode ini dibuat lubang bor kemudian dimasukkan pompa ke dalam lubang bor dan pompa akan bekerja secara otomatis jika tercelup air. sehuingga air tanah terkumpul pada bagian ini dan selanjutnya dipompa ke atas dan dibuang ke luar daerah penambangan. 2) Metode Pemompaan Dalam (Deep Well Pump). Kedalam lubang bor 50 meter sampai 60 meter. Bilamana elemen-elemen dialiri arus listrik maka akan terurai. Antara pipa isap dengan dinding lubang bor diberi kerikil-kerikil kasar (berfungsi sebagai penyaring kotoran) dengan diameter kerikil lebih besar dari diameter lubang. Metode ini digunakan untuk material yang mempunyai permeabilitas rendah dan jenjang tinggi. H + pada katoda (di sumur besar) dinetralisir menjadi air dan terkumpul pada sumur lalu dihisap dengan pompa. Mine Drainage merupakan upaya untuk mencegah masuk/mengalirnya air ke areal front kerja.1. 3) Metode Elektro Osmosis.4 Kolam Penampungan 13 . 2. Mine Dewatering merupakan upaya untuk mengeluarkan air yang telah masuk ke dalam tambang. Cara penanganannya dengan pembuatan sump (sumuran tunda). Beberapa metode penyaliran Mine drainage adalah : 1) Metode Siemens. 6. rongga antara pipa lubang bor kedap udara sehingga air akan terserap ke dalam lubang bor. Pada tiap jenjang dari kegiatan penambangan dibuat lubang bor kemudian ke dalam lubang bor dimasukkan pipa dan disetiap bawah pipa tersebut diberi lubang-lubang. Bagian ujung ini masuk ke dalam lapisan akuifer. misalnya metode pengalihan aliran air permukaan (river diversion. Di bagian atas antara pipa dan lubang bor disumbat supaya saat ada isapan pompa. Kemudian dimasukkan pipa yang ujung bawahnya diberi lubang-lubang. Hal ini umumnya dilakukan untuk menangani air tanah dan air yang berasal dari sumber air permukaan.

3 Sump Tata letak sump dipengaruhi oleh sistem drainase tambang yang disesuaikan dengan geografis tambang dan kestabilan lereng tambang. Kemudian settling pond yang berfungsi menetralkan kandungan-kandungan air sehingga layak untuk dialirkan ke perairan sekitar. Sump pada pit aktif adalah sump temporary yang letaknya menyesuaikan kemajuan tambang. Gambar 6. Pada daerah penambangan kolam penampungan terdiri atas sump yang berfungsi menampung air sebelum dialirkan ke settling pond. serta dapat berfungsi untuk mengendapkan lumpur. Ada dua sistem penyaliran tambang : 1) Sistem penyaliran memusat Sump-sump akan ditempatkan pada tiap jenjang (bench). Letak sump yang ideal adalah di bawah high wall pada titik terendah agar mengurangi sempitnya front loading.1 Sumuran (Sump) Kolam penampungan (sump) merupakan kolam penampungan air untuk menampung air limpasan yang dibuat sementara sebelum air itu dipompakan. 6. 2) Sistem penyaliran tidak memusat 14 .4. dengan sistem pengalirannya dari jenjang paling atas menuju jenjang di bawahnya sehingga akhirnya akan dipusatkan di main sump (balong induk) untuk kemudian dipompa keluar tambang.Berfungsi sebagai penampung air hujan maupun rembesan air tanah sebelum dipompa keluar area penambangan.

baik secara terencana yang digambarkan pada peta jangka pendek atau tidak terencana sebelumnya. 2) Sump tandem (tandem sump) atau sump transit Penempatannya pada jenjang tambang dan biasanya di bagian lereng tepi tambang. Dilakukan bila kedalaman tambang relatif dangkal dengan keadaan geografis dari luar tambang memungkinkan untuk mengalirkan air langsung dari sump keluar tambang. Berdasarkan fungsi dan penempatannya.4 Settling pond Air hasil kegiatan pemompaan air tambang ini disalurkan ke kolam penampungan (settling pond) yang terdiri dari 3 kompartemen. 6.2 Sarana Kolam Pengendapan (Settling pond) Kolam pengendapan (settling pond) adalah suatu daerah yang dibuat khusus untuk menampung air limpasan sebelum dibuang langsung menuju daerah pengaliran umum. 3) Main Sump (Balong Induk) Dibuat sebagai penampung air terakhir. Pada umumnya sump ini dibuat di elevasi terendah dalam tambang (dasar tambang). sump dibedakan menjadi : 1) Sump temporer (Temporary sump) Dibuat pada daerah front tambang. Sedangkan kolam pengendapan untuk daerah penambangan adalah kolam yang dibuat untuk menampung dan mengendapkan air limpasan yang berasal dari daerah penambangan maupun daerah sekitar penambangan sebelum air tersebut dibuang langsung menuju tempat penampungan umum seperti sungai maupun danau. Gambar 6. yaitu : 15 .4.

Kompartemen ketiga.1.5. untuk kolam menstabilkan air tambang dan titik penaatan kualitas air tambang sebelum air tambang tersebut disalurkan ke perairan umum atau sungai. biasanya fluida kental. Kompartemen pertama. Pompa perpindahan positif digunakan secara luas untuk pemompaan fluida selain air. untuk penanganan (treatment) kualitas pH air tambang yang dihasilkan. Pompa perpindahan positif selanjutnya digolongkan berdasarkan cara perpindahannya : 16 . 6. untuk mengendapan kandungan lumpur yang ikut larut dalam aliran air tambang yang terpompa. Kompartemen kedua.5. 6. 3. untuk selanjutnya disalurkan ke perairan umum hal ini sebagai upaya pencegahan terjadinya air asam tambang. Air tambang harus disalurkan ke settling pond terlebih dulu. yaitu cairan diambil dari salah satu ujung dan pada ujung lainnya dialirkan secara positif untuk setiap putarannya.1.1 Klasifikasi pompa 6. dimana air tambang harus ber-pH standard sesuai batasan baku mutu air tambang yang diijinkan. Tujuan pemompaan adalah mengalirkan air dan menyisakan lumpur agar lokasi tersebut dapat digali untuk keperluan penambangan.1 Pompa Perpindahan Positif Pompa perpindahan positif dikenal dengan caranya beroperasi. 2.5 Pompa Pompa adalah alat untuk memindahkan fluida cair dari tempat yang rendah ke tempat yang lebih tinggi.

cam atau baling-baling dorong. Untuk alasan ini. 6.2 Pompa Dinamik Pompa dinamik juga dikarakteristikan oleh cara pompa tersebut beroperasi.1. Sehingga jika pipa pengantarnya tersumbat. sejumlah cairan yang sudah ditetapkan dipompa setelah setiap putarannya.5.1) Pompa Reciprocating jika perpindahan dilakukan oleh maju mundurnya jarum piston. Terdapat dua jenis pompa dinamik : 1) Pompa sentrifugal merupakan pompa yang sangat umum digunakan untuk pemompaan air dalam berbagai penggunaan industri. yaitu impeler yang mengubah energi kinetik menjadi tekanan atau kecepatan yang diperlukan untuk memompa fluida.2 Bagaimana Sebuah Pompa Sentrifugal Bekerja Pompa sentrifugal merupakan salah satu peralatan yang paling sederhana dalam berbagai proses pabrik. 2) Pompa Rotary jika perpindahan dilakukan oleh gaya putaran sebuah gir. Pompa-pompa tersebut digunakan untuk layanan khusus dengan kondisi khusus yang ada di lokasi industri. 17 . Biasanya lebih dari 75% pompa yang dipasang di sebuah industri adalah pompa sentrifugal. Pada seluruh pompa jenis perpindahan positif. Pompa reciprocating hanya digunakan untuk pemompaan cairan kental dan sumur minyak. 2) Pompa dengan efek khusus terutama digunakan untuk kondisi khusus di lokasi industri. pompa ini dijelaskan di bawah lebih lanjut. 6. tekanan akan naik ke nilai yang sangat tinggi dimana hal ini dapat merusak pompa.5.

Hitung keperluan debit pompa.5. Cairan meninggalkan impeler pada kecepatan tinggi.2000. 4. Hitung volume maksimum air yang masuk. 6. 5. Ukuran pompa tidak terlalu besar sehingga investasi tidak mahal. atau dalam hal jet pump oleh tekanan buatan. Volute atau cincin difffuser stasioner mengubah energi kinetik menjadi energi tekanan. Tentukan durasi pemompaan sehingga air tidak mengganggu terhadap kesinambungan operasi penambangan. sehingga menyebabkan cairan berputar. Langkah-langkah pemilihan pompa : 1. 2) Baling-baling impeler meneruskan energi kinetik ke cairan. 2.3 Penentuan Kapasitas Pompa Pertimbangan yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut : 1. 3) Impeler dikelilingi oleh volute casing atau dalam hal pompa turbin digunakan cincin diffuser stasioner.5 Aliran fluida dalam pompa sentrifugal 1) Cairan dipaksa menuju sebuah impeler oleh tekanan atmosfir. pompa dan kompresor. 2. Hitung total dinamik head. 3. Tentukan tipe dan ukuran pompa.4 Gambar 6. Sumber : Sularso. 18 . Ukuran pompa tidak terlalu kecil sehingga tidak menggangu kelangsungan produksi.

.......... Termasuk dalam hambatan tersebut adalah waktu untuk pulang pergi ke permuka kerja..Rumus 3...... dan lain-lain..Beberapa pengertian yang dapat menunjukan keadaan alat mekanis dan efektifitas penggunaannya antara lain : 1...........Rumus 3..... hambatan karena keadaan cuaca................ pelumasan dan pengisian bahan bakar...... R = Repair hours atau jumlah jam untuk perbaikan Waktu untuk perbaikan dan waktu yang hilang karena menuggu alat perbaikan termasuk juga waktu untuk penyediaan suku cadang (spare parts) serta waktu untuk perawatan preventif....... Availability Index atau Mechanical Availability Merupakan suatu cara untuk mengetahui kondisi mekanis yang sesungguhnya dari alat yang sedang dipergunakan... Waktu ini meliputi pula tiap hambatan (delay time) yang ada.... W AI = X 100 W +R .................. Physical Availability atau Operational Availability Merupakan catatan mengenai keadaan fisik dari alat yang sedang dipergunakan..................... pindah tempat........ 2..11 19 ........... W +S PA= X 100 W + R+ S ..........................................10 Di mana : W = Working hours atau jumlah jam kerja alat Waktu yang dibebankan kepada seorang operator suatu alat yang dalam kondisi dapat dioperasikan artinya tidak rusak...........

............ Use of Availability Menunjukan berapa persen waktu yang dipergunakan oleh suatu alat untuk beroperasi pada saat alat tersebut dapat dipergunakan (availability).Di mana: S = Standby hours Jumlah jam suatu alat yang tidak dapat dipergunakan padahal alat tersebut tidak rusak dan dalam keadaan siap beroperasi W+R+S = Schedule hours Jumlah seluruh jam jalan dimana alat dijadwalkan untuk beroperasi Physical Availability pada umumnya selalu lebih besar daripada Availability Index... 20 ........ Tingkat effisiensi dari sebuah alat mekanis naik jika angka Physical Availability mendekati angka Availability Index..12 Angka Use of Availability biasanya dapat memperlihatkan seberapa efektif suatu alat yang tidak sedang rusak dapat dimanfaatkan...... Hal ini dapat menjadi ukuran seberapa baik pengelolaan (management) peralatan yang dipergunakan......Rumus 3..................... Effective Utilization sebenarnya sama dengan pengertian effisiensi kerja... Effective Utilization Menunjukan berapa persen dari seluruh waktu kerja yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk kerja produktif. 3............. 3............... W UA= X 100 W +S .........

......5 Julang (Head) Julang yaitu energi yang diperlukan untuk mengalirkan sejumlah air pada kondisi tertentu atau energi per satuan jenis air. Kurangi pemasangan belokan seminimal mungkin..5..... b....... Hindari kavitasi-kerusakan impeller a. m(meter) 21 . Kurangi resistensi a.... hp = 0).... H = ha + ∆hp + hℓ + hv …………………………....... 2.......13 Di mana : W+R+S = T = Total Hours Available atau Schedule hours (Jumlah jam kerja tersedia) 6.Rumus 6..14 Dimana : H = Head total.... W EU = X 100 W + R+ S . m(meter) ∆hp = Julang karena tekanan (pada pertambangan umumnya sama..... m(meter) Ha = Head static. Jaga posisi strainer jangan terlalu dekat dengan permukaan air hindari pusaran yang mengakibatkan masuknya udara ke dalam pompa.... 6. m(meter) hv = Julang kecepatan keluar.....5..... Total Head adalah tenaga yang harus dimilki oleh pompa untuk mengalirkan air sesuai dengan yang direncanakan... Dalam menentukan kapasitas atau debit pompa maka hal yang harus diperhatikan adalah Total Head........ Rumus 6..... b........ Pasang pipa dengan diameter yang sesuai... m(meter) hℓ = Julang kerugian..... Jaga tinggi pompa dari permukaan air jangan sampai melebihi kemampuan tinggi isapnya (2-6 meter). c....... Usahakan pemasangan pipa se-vertikal mungkin untuk mengurangi panjang pipa..4 Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pemasangan Pompa 1.

5.5. Ha = h2 . (m/detik) 2) Julang kerugian gesek (hf) Julang kerugian gesek adalah kehilangan yang disebabkan oleh adanya gesekan air pada pipa.2 Head Losses (hℓ) Head losses adalah energi untuk mengatasi kerugian-kerugian yang timbul akibat aliran fluida dan terdiri dari julang kerugian gesek dalam pipa.Rumus 6.h1 …………………………………………………. katup dan perubahan diameter pipa.17 22 .5. (m/detik) g = Percepatan gravitasi.6. 1) Julang pada katup isap (hfa) v hfa = f x 2 xg ……………………………….……Rumus 6. Untuk mengetahui apakah aliran di dalam pipa turbulen atau laminer digunakan persamaan Reynold : vx D Re = γ ………………………….16 Di mana : hfa = Julang pada katup f = Koefisien kerugian isap pipa v = Kecepatan rata-rata aliran di dalam pipa.5. julang kerugian pada belokan. m(meter) 6.15 Dimana : Ha = Head static h2 = Tempat pembuangan air.Rumus 6.. m(meter) h1 = Ketinggian air mula-mula.1 Head Static Head static adalah kehilangan tenaga pada pompa yang disebabkan oleh perbedaan ketinggian air dengan tempat pembuangan.

307x10-6 0..9980 1.18 Di mana : L = Panjang pipa.554x10-6 0.. m (meter) Tabel 3.9998 1.801x10-6 0.04325 40 0. Rumus 6.………….Dimana : Re = Bilangan Reynold v = Kerapatan rata-rata aliran di dalam pipa. (m/detik) 23 . 4 Julang kerugian gesek dapat dihitung dengan rumus : Lx v ² Hfb = λ x D x2 g ……………………. (m/detik) γ = Viskositas kinematik zat cair.9998 1. (m2/detik) D = Diameter dalam pipa.01251 20 0.07520 50 0.658x10-6 0.9957 1.520x10-6 0.00889 10 0.5 Sifat-sifat fisik air Temperatur Kerapatan Viskositas kinematik Tekanan uap jenuh 2 (°c) (kg/l) (m /dtk) (kgf/cm2) 0 0. dinyatakan dengan : v² hfc = Kb x 2xg ………………………….792x10-6 0. (m/detik) λ = Koefisien gesek pipa g = Percepatan gravitasi. m(meter) v = kecepatan rata-rata aliran di dalam pipa.12578 Sumber : Hidrologi untuk Pengairan.. (m/detik) 3) Julang belokan pipa (shock head) Julang belokan pipa adalah kehilangan yang diakibatkan oleh perubahan aliran dalam pipa karena adanya belokan pipa atau karena adanya perubahan penampang.….00623 5 1.9983 1.0000 1.02383 30 0.19 Di mana : Kb = Koefisien sudut belokan v = Kecepatan rata-rata aliran di dalam pipa. Suyono. Rumus 3.9923 1.004x10-6 0. (m/detik) g = percepatan gravitasi.

265 6. Ukuran pipa pada discharge maupun suction.3 Head Velocity (hv) Head velocity atau julang kecepatan keluar adalah kehilangan tenaga yang diakibatkan oleh kecepatan aliran yang keluar melalui pipa. (m/detik) g = Percepatan gravitasi.6 koefisien nilai sudut belokan (Kb) Sudut (*) 5 10 15 22.236 0.016 0.20 Dimana : hv = Julang kecepatan keluar. Rumus 6.130 0.154 0.6. alluminium.5.062 0.471 1.Nilai Kb dapat dilihat pada tabel berikut : Koefisien nilai sudut belokan (Kb) Tabel 6. Poly-ethylene (HDPE) 3.044 0. minimal harus sama dengan ukuran discharge dan suction pompa.1 Hal-hal yang Harus Diperhatikan pada Pemipaan Pompa 1. tembaga.5.5.320 0.066 0. m(meter) v = Kecepatan rata-rata aliran di dalam pipa.024 0.034 0.165 0. dinyatakan dengan : v² Hv = 2xg ………………………………….684 1. stainless steel 2) Golongan Non-Metal : PVC.5.6 Pemipaan Pemipaan adalah bagian terpenting dari pemilihan pompa itu sendiri.129 Kb kasar 0. pipa plastik (selang). diantaranya adalah : 1) Golongan Metal : Besi. 24 .042 0. Ada beberapa jenis material dari pipa. (m/detik) 6.5 30 45 60 90 halus 0.

kurangi belokan. Kebocoran pada pipa suction. atau mungkin terjadi kecelakan tambang. peralatan dan menghambat penangan material.1 Efek Langsung dari Air Terhadap Penambangan 1. Menambah waktu dan biaya perawatan (maintenance) alat. elbow menggantung untuk menghindari friksi.6 Dampak Air terhadap Penambangan Pengaruh atau efek tidak langsung dari air tambang (air tanah maupun limpasan) terhadap aktifitas penambangan sebenarnya dengan mudah dapat dilihat. 6.2. Memasang pipa suction yang terlalu panjang. Kebanyakan efeknya menyangkut biaya dan keselamatan kerja.6. 2. ukuran pipa discharge maupun suction lebih besar dari ukuran discharge maupun suction pompa. 6. Dianjurkan. 4. 5. 3. Longsoran lereng akibat resapan air dapat menghentikan aktifitas produksi dan merusak front penambangan.5. Memasang strainer lebih besar dari ukuran sudut pompa. perolehan bijih rendah. Misalnya air digunakan untuk proses pengolahan bahan galian atau keperluan lainnya. Instalansi pipa sebaiknya selurus mungkin.2 Efek Air Tak Langsung Terhadap Penambangan 1. Mengurangi efisiensi kerja karyawan.6. ban atau kecelakaan akibat penggunaan listrik. 2.2 Hal-hal yang Harus Dihindari dalam Pemipaan 1. 6. Tidak memasang check-valve pada pipa discharge. Berikut ini diuraikan efek langsung maupun tidak langsung dari air terhadap aktifitas penambangan maupun di luar areal penambangan. 25 . Biaya penyaliran mungkin menjadi biaya prinsip. Untuk pipa suction agar dibuat sependek dan sesederhana mungkin. Memasang pipa lebih kecil dari ukuran pompa.6. 2. 4. 6. 3.

Disamping itu juga dilakukan studi terhadap literatur-literatur yang terkait yang mendukung penelitian ini. Bobot material yang terangkut menjadi tinggi. Terjadi penyumbatan pada pipa-pipa akibat pompa senantiasa menghisap air lumpur. termasuk juga kajian yang telah dilakukan sebelumnya. Produktifitas pengangkutan menurun. Analisa data 26 . Mengetahui keakuratan data sehingga kerja menjadi efisien 4. 5. 12. 4. Pengolahan Data Dilakukan dengan melakukan perhitungan terhadap data yang telah diperoleh kemudian disajikan dalam bentuk tabel 5. Metodologi Adapun langkah-langkah dalam pengerjaan tugas skripsi ini sebagai berikut : 1. 2. 8.3. 7. 9. Harus membersihkan material pengotoran akibat longsoran tanah di areal penambangan. Studi literatur Studi ini dilakukan berkaitan dengan permasalahan yang ada. Lumpur membuat produk menjadi tidak dapat diterima oleh proses berikutnya. Menganggu aktifitas peledakan. 10. Mengurangi kestabilan lereng. Kemungkinan runtuhan membawa serta gas beracun. 7. Mengumpulkan dan mengelompokkan data agar lebih mudah dianalisis b. 6. Kualitas commodity menurun. Pengelompokan Data a. Membersihkan debu-debu halus dari alat angkut dan jalan masuk tambang. sehingga menambah jam kerja yang tidak produktif. Pengambilan Data Pelaksanaan untuk memperoleh data yang diperlukan dari berbagai sumber dalam penyusunan skripsi 3. 11.

a. Kesimpulan Kesimpulan diperoleh setelah dilakukan analisis mengenai rancangan sistem penyaliran tambang. Rancangan sistem penyaliran tambang 6. Analisis air limpasan permukaan e. Analisis intensitas curah hujan c. Analisis luas daerah tangkapan hujan (catchment área) b. Analisis dimensi sump d. Studi Literatur 27 .

Pengambilan dan Pengelompokan Data Data Curah Hujan Peta Topograf Data Spesifkasi Pompa Curah Hujan Rencana Intensitas Curah Hujan Catchment Area Debit Limpasan Debit Limpasan Inpit Debit Limpasan Outpit Volume Limpasan Volume Sump Debit Aktual Pompa Dimensi Saluran dan Kebutuhan Culvert Rancangan Sistem Penyaliran Pembahasan Kesimpulan Gambar 7.1 Diagram Alir Penelitian 8. Relevansi 28 .

2 Hasil penelitian ini dapat memberikan wawasan dan pengetahuan kepada mahasiswa Minggu Keterangan Kegiatan 1 2 3 4 5 6 Pelaksanaan di lapangan Perencanaan penelitian Penelitian dan disesuaikan dengan pengambilan data kondisi tempat penelitian Pengolahan data Penyusunan skripsi pertambangan khususnya mengenai sistem perencanaan penirisan tambang. Jadwal Kegiatan Adapun jadwal kegiatan penelitian yaitu : Tabel 9.1 Jadwal kegiatan 29 . kebutuhan pompa yang sesuai untuk digunakan. saluran air. diharapkan dapat memberikan hasil : 1 Mengetahui dimensi sumuran (sump). 9.Dalam melaksanakan penelitian ini.

Prosedur Melakukan Pengukuran Debit Pompa. ANDI Offset : Yogyakarta 5. Samarinda. 2. & Thaib Siri. Tugas Akhir. Keusaku. Tim Penyusun FT.S. Winarno. Budiarto. Daftar Pustaka 1. Training Departement-HO. Sistem Penyaliran Tambang. 2011. 2010. 2003. Gautama. Universitas Mulawarman : Samarinda 30 . MTN : Jakarta 8. Agus. Pradnya Paramita. 1999. 2009. & Takeda. Hasywir. Yogyakarta. Diktat Hidrogeologi. MTN : Jakarta 6. Hartono. Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknologi Mineral UPN Veteran. Suripin. 2010. Suyono. Panduan Skripsi. 7.. PT. Technical Departement-HO. Seminar dan Praktek Kerja Lapangan. R.. Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknologi Mineral ITB.10. 3... Sosrodarsono. Dewatering System. Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan. Fakultas Teknik Universitas Mulawarman. Jakarta 4. Cetakan Kesepuluh. 2006. Panduan Mata Kuliah Penirisan Tambang. Bandung. 2011... Hidrologi untuk Pengairan.

31 .