You are on page 1of 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Allah mengisyaratkan kepada kita untuk mengambil pelajaran
dan contoh dari peristiwa yang telah berlalu, baik dari para nabi
maupun umat terdahulu. Allah SWT berfirman:
‫ح‬ ‫ل‬
‫دثيثث ا‬
‫ححح د‬‫ن ح‬ ‫م ا ح‬
‫ك ا ح‬ ‫ب ح‬ ‫عب لحرة ة دليِلودل ي اللل لحب ا د‬ ‫م د‬ ‫صه د ل‬
‫ص د‬ ‫ن دف ي قح ح‬ ‫قد ل ح‬
‫ك ا ح‬ ‫لح ح‬
‫ يٍءء‬
‫شحح ل‬ ‫ل ح‬ ‫ل ل‬
‫كحح ل‬ ‫صلي ح‬
‫ف د‬‫ن ثي حد حثي لهد يِلوحت ح ل‬ ‫دثيقح ال ل د‬
‫ذ ي ب حلي ل ح‬ ‫ص د‬ ‫فت ححر ى يِلوحل حك د ل‬
‫ن تح ل‬ ‫ثي ل ل‬
‫ن‬ ‫قنولم ٍء ثي لؤ ل د‬
‫ملننو ح‬ ‫ة لد ح‬
‫م ث‬
‫ح ح‬
‫د ى يِلوححر ل‬
‫يِلوحهل ث‬
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran
bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah
cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab)
yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai
petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman (Q.S Yusuf:111).
Sebagai umat nabi Muhammad rujukan utama umat muslim
dalam berperilaku tentu saja baginda nabi itu sendiri karena
memang beliau adalah teladan sempurna bagi kita. Allah SWT
berfirman:
‫ل‬
‫ن ك ححح ا ح‬
‫ن‬ ‫محح ل‬
‫ة لد ح‬
‫سن ح ة‬
‫ح ح‬‫سنوحة ة ح‬ ‫ل الل لهد أ ل‬ ‫سنو د‬ ‫م دف ي حر ل‬ ‫ن ل حك ل ل‬ ‫ك ا ح‬ ‫لح ح‬
‫قد ل ح‬

‫خحر يِلوحذ حك ححر الل ل ح‬
‫ه ك حدثليثرا‬ ‫م الل د‬
‫ه حيِلوال للي حنول ح‬
‫جنو الل ل ح‬
‫ثي حلر ل‬
Sungguh, pada diri Rasulullah itu ada suri teladan yang baik
bagimu, yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah
dan yakin akan kedatangan hari Kiamat serta banyak
mengingat Allah (Q.S al-Ahzâb:21).
Mengkaji dan meneladani kehidupan Rasulullah maupun para
sahabanta yang saleh bisa kita lakukan dengan mengkaji sîrâh.
Di saat degradasi moral generasi muda mulai mengkhawatirkan,
mengajarkan sîrâh kepada mereka merupaka solusi yang perlu
diusahakan dengan sungguh-sungguh. Kesungguhan itu harus
bagi seorag pendidik maupun praktisi pendidikan diwujudkan

1
dalam bentuk pengkajian tentang sîrâh itu sendiri dan metode
mengajarkannya.
Berdasarkan latar belakang itulah, penulis tertarik menulis
makalah dengan judul: Metode Pengajaran Sîrâh.

B. Rumusan Masalah
Masalah dalam penulisan makalah ini dirumuskan dalam
pertanyaan berikut.
1. Apa pengertian sîrâh?
2. Apa saja bidang kajian sîrâh?
3. Apa urgensi mempelajari sîrâh?
4. Apa tujuan pengajaran sîrâh?
5. Bagaimana metode mengajarkan sîrâh?

C. Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui pengertian sîrâh
2. Mengetahui bidang-bidang kajian sîrâh
3. Mengetahui urgensi mempelajari sîrâh?
4. Mengetahui tujuan pengajaran sîrâh?
5. Mengetahui metode mengajarkan sîrâh?

D. Metode Penulisan
Penulisan makalah ini menggunakan metode deskriptif yaitu
memamparkan teori-teori yang berhubungan dengan
pembahasan baik dari buku maupun internet.

E. Sistematika Penulisan
Makalah ini terdiri dari tiga bab yaitu: Bab I Pendahuluan
yang memuat latar belakang masalah penulisan, rumusan
masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistemtika
penulisan. Bab II Pembahasan yang memuat teori-teori seputar
sîrâh dan metode pengajarannya. Bab III Penutup yang memuat
kesimpulan dan saran.

2
BAB II
PEMBAHASAN

3
A. Hakikat Sîrâh
‘Umar (2008:1147) mengemukakan bahwa secara etimologis
istilah sîrâh memiliki empat makna:
1) Mashdar atau bentuk nomina yang diturunkan dari bentuk

verba ‫ر ف ي‬
‫ س ا ح‬/ ‫ س احر على‬/ ‫ س احر إلى‬/ ‫س احر‬.
2) Jalan, cara, dan tingkah laku. Makna ini terdapat dalam
contoh kalimat berikut:
‫ك ان ذا سليرة حسنة‬
Dia berperilaku baik
3) Keadaan, sebagaimana firman Allah SWT:
‫ه ا سدليرت حه ا ا ل‬
‫ليِلوحلى‬ ‫سن لدعليد ل ح‬
‫ح ح‬ ‫ ح‬...
Kami akan mengembalikannya pada keadaan semula
(Thâhâ:21)
4) Sejarah kehidupan manusia.
Hampir senada dengan pendapat di atas, Abu Husain

(1979:120) menakrifkan kata sîrâh sebagai “‫ة دفحح ي‬
‫قحح ل‬ ‫الط ل د‬
‫رثي ح‬
‫سن لةد‬
‫ يءد حيِلوال س‬
‫ش ل‬‫”ال ل‬ ‘jalan dan cara tertentu’. Kata tersebut berasal

dari kata dasar “‫سلي ححر‬
‫ ” ح‬atau ada juga yang mengatakan dari kata
“‫س احر‬
‫ ” ح‬yang keduanya berarti berjalan baik pada malam maupun
siang hari.
Makna-makna etimologis di atas memperlihatkan adanya
suatu karakteristik bahwa sîrâh berarti sejarah kehidupan
seseorang yang di dalamnya memuat cara dia menjalani
kehidupannya sehari-hari.
Adapaun secara terminologis, sîrâh didefinisikan “An
historical work on life of prophet Muhammad, or any of his
companions, or his successors” ‘sebuah karya sejarah tentang
kehidupan Nabi Muhammad, para sahabat, atau para penerusnya
beliau’ (al-Khudrawi, 2004:260).
Sâlim (1982:191) menyebutkan bahwa sîrâh nabawiyah
mencakup pembahasan tentang kehidupan kepemimpinan,
pemikiran, dan keseharian Rasulullah SAW. Sîrâh nabawiyah juga

4
mengkaji bagaimana metode Rasulullah menyampaikan dakwah
dan menampilkan dakwahnya baik dalam aspek perilaku,
kepribadian, maupun politik, serta bagaimana mengatasi
hambatan di dalamnya. Secara lebih sistematis, Ahmad
(1980:143) mengklasifikasikan pembahasan sîrâh nabawiyah
menjadi dua, yakni perjalanan hidup Muhammad sebelum masa
kenabiannya, mulai dari kelahiran sampai beliau diutus menjadi
rasul. Serta perjalanan Muhammad setelah diangkat menjadi
rasul hingga wafatnya beliau.
Melihat definisi dan cakupan pembahasan sîrâh di atas, maka
kita dapat memperoleh perbedaan antara sîrâh dengan tarîkh
(sejarah). Sîrâh pembahasannya lebih menekankan pada satu
sosok dan kehidupannya yang dibahas secara rinci, sedangkan
tarîkh lebih terpokus pada suatu peristiwa tertentu secara umum.
Hawani (2013) memberi diferensiasi antara sîrâh dengan tarîkh
seperti berikut:
Aspek Sîrâh Tarîkh (sejarah)
Bidang Kajian Sîrâh Nabawiyah Sejarah pembahasannya
pembahasannya hanya mengenai
bertumpu kepada peristiwa-peristiwa yang
perjalanan dan kisah dianggap penting yang
hidup Nabi terjadi pada masa
Muhammad SAW lampau. Lebih difokuskan
secara rinci. kepada perkembangan
Pembahasan juga peradaban ataupun
menekankan sifat perkembangan suatu
pribadi, akhlak serta zaman.
cara beliau menjalani
kehidupan sehari
yang bisa diteladani.
Sumber Sîrâh Nabawiyah Sejarah melalui sumber

5
Kajian bersumber hanya primer (bukti-bukti dan
dari ayat Al-Quran, rujukan yang kukuh),
hadits nabi, dan sekunder (penyelidikan),
riwayat para sahabat dan lisan (saksi).
beliau.
Sifat Sîrâh Sejarah kepada peristiwa
mengkhususkan dan pelakunya.
kepada seseorang
individu.
Kedudukan Kedudukan fakta Sejarah bisa saja berubah
Sîrâh Nabawiyah dengan ditemukannya
tidak bisa berubah sumber ataupun bukti
karena kejadian telah yang lebih awal (baru)
tercatat di dalam al- atau jelas dari sumber
Quran, hadits dan sebelumnya (lebih tua)
riwayat sahabat
(tidak ada yang baru)
Tujuan Sîrâh Nabawiyah
bertujuan sebagai
pemberi teladan,
contoh dan
pendukung sejarah
Islam.
Sementara itu Ibnu Khaldûn (http:/ / www.imamu.edu.sa)
menerangkan bahwa sîrâh merupakan bagian dari tarîkh, oleh
karena itu maka tarîkh lebih umum dibanding sîrâh karena tarîkh
mencakup sejarah perjalanan hidup nabi, khulafâu al-Rasyidîn,
Dinasti Umayah, dan sebaginya.

B. Kitab-Kitab Ternama Tentang Sîrâh Nabawiyah
Al-Umuri (Abu al-Jauzaa, 2006) menyabutkan beberapa karya
tentang Sîrâh Nabawiyah yang terkenal sebagai berikut:

6
1) Sîrâh Ibnu Hisyam. Sîrâh ini merupakan ringkasan dan koreksi
atas Sîrâh Ibnu Ishak. Selain membuang riwayat-riwayat
Israiliyyat dan syair-syair yang menjiplak, Ibnu Hisyam juga
menambahkan data-data bahasa dan silsilah sehingga
menjadikan Sîrâh Ibnu Hisyam sebagai kitab yang
mengundang simpati mayoritas ulama’. Tulisan-tulisan
senada yang mengacu belakangan juga mnegacu pada Sîrâh
Ibnu Hisyam ini. Sebenarnya gaya penulisan Ibnu Hisyam
tentang kehidupan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam
dari aspek-aspek peperangan sangat mirip dengan yang
ditulis dalam kitab-kitab hadits shahih. Itulah yang membuat
Sîrâh Ibnu Hisyam menjadi sangat terkenal dan punya nilai
tersendiri. Sîrâh Ibnu Hisyam ini diulas oleh Al-Hafidh As-
Suhaili (wafat tahun 581 H) dalam kitabnya Raudlul-Anfu
yang sudah dicetak.
2) Ath-Thabaqah Al-Kubra. Jilid pertama dan jilid kedua kitab
karya Muhammad bin Sa’ad (wafat tahun 230 H) ini khusus
menerangkan tentang sîrâh. Harus diakui bahwa Ibnu Sa’ad
memang seorang ulama tsiqah yang sangat teliti terhadap
riwayat-riwayatnya, seperti yang diungkapkan oleh
Abdurrahman Al-Khathib Al-Baghdadi dan Ibnu Hajar
Al-‘Asqalani. Akan tetapi, ia juga mengutip riwayat dari
beberapa perawi dla’if, seperti Al-Waqidi yang kutipan-
kutipannya banyak dicurigai oleh Ibnu An-Nadim “mencuri”
dari tulisan-tulisannya. Namun, berdasarkan pengamatan
yang cermat, Ibnu Sa’ad adalah seorang penulis yang
memiliki metode tersendiri. Selain sering mengutip Al-Waqidi,
ia juga sering mengutip dari guru-guru yang lain yang cukup
terkenal seperti ‘Affan bin Muslim, ‘Ubaidillah bin Musa, dan
Al-Fadlal bin Dakin. Ketiganya adalah para ulama ahli hadits
yang tsiqah.

7
3) Tarikh Khalifat Al-Khayyath. Khalifat Al-Khayyath (wafat tahun
240 H) adalah seorang ulama ahli hadits yang tsiqah. Ia
adalah salah seorang guru Imam Al-Bukhari dalam menulis
kitabnya Shahih Al-Bukhari. Kitabnya adalah sejarah umum
yang pada bagian pertama membahas tentang potongan-
potongan peristiwa Sîrâh, dan menempatkan Ibnu Ishaq
sebagai referensi utamanya
4) Ansab Al-Asyraf. Kitab karya Ahmad bin Yahya bin Jabir Al-
Baladziri (wafat tahun 279 H) ini berisi sejarah umum yang
cukup sistematik. Pada bagian awal kitab ini, Al-Baladziri
khusus membahas tentang sîrâh. Menurut para ulama ahli
hadits, Al-Baladziri adalah seorang perawi yang dla’if. Ibnu
Hajar Al-‘Asqalani menuturkan data biografi Al-Baladziri
dalam kitabnya Lisanul-Miizaan, yang membahas tentang
para perawi yang dla’if.
5) Tarikh Ar-Rusul wal-Muluk. Bagian pertama kitab tulisan
Muhammad bin Jarir Ath-Thabari (wafat tahun 310 H) ini
khusus membahas tentang sîrâh. Ath-Thabari adalah seorang
perawi yang tsiqah yang menempatkan Ibnu Ishaq sebagai
referensi utamanya. Metode yangdigunakan Ath-Thabari tidak
menganggap penting kritik yang menyoroti tentang riwayat
dari aspek shahih dan dla’ifnya. Ia mengemukakan riwayat
berikut sanad-sanadnya begitu saja, dan menyerahkan tugas
untuk meneliti dan mentarjih kepada pembaca.
6) Ad-Durar fii Ikhtishar Al-Maghazi was-Sair. Kitab ini ditulis oleh
Ibnu Abdil-Barr Al-Qurthubi (wafat tahun 463 H), seorang
ulama ahli hadits terkemuka pada jamannya. Kitab ini
berorientasi pada kitab Sîrâh Ibnu Hisyam, Sîrâh Musa bin
‘Uqbah, Tarikh Ibnu Khaitsamah, dan beberapa kitab hadits.
(Muqaddimah Kitab Ad-Durar, Syauqi Dla’if, halaman 8). Ia
tidak menegaskan telah mengutip dari Waqidi, kecuali hanya

8
dalam satu bagian saja. (Ad-Durar, Ibnu Abdil-Barr, halaman
39). Akan tetapi, ia mengaku mengutip riwayat Al-Maghazi
milik Al-Waqidi. (Ad-Durar, Ibnu Abdil-Barr, halaman 276).
Dalam menulis kitabnya, ia menyatakan secara umum
mengikuti pola Ibnu Ishaq. (Ad-Durar, Ibnu Abdil-Barr,
halaman 29; dan Muqaddimah Ad-Durar, Syauqi Dla’if,
halaman 12). Dan ia tidak terikat harus menyebutkan sanad.
7) Jawami’us-Sîrâh. Kitab karya Ibnu Hazm Adh-Dhahiri (wafat
tahun 456 H) ini sama sekali tidak menyinggung cara
penyebutan sanad, dan juga tidak menunjukkan sumber-
sumbernya. Ia juga mengadakan unggulan di antara riwayat-
riwayat, menetapkan riwayat unggulan dalam kitabnya, dan
mengadakan penelitian terhadap peristiwa-peristiwa sejarah.
(Jawami’us-Sîrâh, bagian muqaddimah, halaman 10). Ia
menggunakan pola penyimpulan untuk membersihkan sîrâh
dari syair dan kisah-kisah
8) Al-Kamil fit-Tarikh. Kitab sejarah umum yang ditulis oleh Ibnul-
Atsir Al-Jazairi (wafat tahun 632 H), seorang ulama ahli
sejarah yang tsiqah ini, beberapa bagiannya khusus
membahas tentang sîrâh.
9) Uyun Al-Atsar fii Funun Al-Maghazi wasy-Syama’il was-Sair.
Kitab ini ditulis oleh Ibnu Sayidin-Naas (wafat tahun 734 H),
seorang ulama ahli hadits yang tsiqah. Al-Hafidh Adz-Dzahabi
dan Al-Hafidh Ibnu Katsir juga menganggapnya tsiqah. Dalam
kitabnya itu ia banyak mengutip kisahkitab-kitab hadits dan
juga kitab-kitab tentang peperangan yang sebelumnya. Ia
juga menyebutkan sumber-sumbernya pada bagian
muqaddimah kitabnya.
10) Zaadul-Ma’ad fii Hadyi Khairil-‘Ibaad. Kitab ini ditulis oleh
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (wafat tahun 751 H), seorang
ulama terkemuka pada jamannya. Kitab ini sangat penting

9
karena isinya mencakup tentang perilaku, akhlaq, adab, fiqih,
dan cerita-cerita peperangan.
11) As-Sîrâh An-Nabawiyyah. Kitab ini ditulis oleh Al-Hafidh
Adz-Dzahabi (wafat tahun 784 H), seorang penulis yang
tsiqah dan memiliki kekuatan intelektual yang tajam,
terutama dalam menggunakan kaidah-kaidah para ulama ahli
hadits. Dalam kitb ini ia hanya mengkritik sebagian riwayat
saja.
12) Al-Bidayah wan-Nihayah. Kitab yang ditulis oleh Al-Hafidh
Ibnu Katsir (wafat tahun 774 H) ini merupakan kitab sejarah
umum yang beberapa bagiannya khusus membahas tentang
sîrâh. Ibnu Katsir adalah termasuk imam tsiqah yang
mutahaqqiq. Adz-Dzahabi, Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, dan Ibnu
Al-Ammad Al-Hanbali juga menganggapnya sebagai ulama
yang tsiqah.
13) Imat’ Al-Asma’. Kitab ini ditulis dengan ringkas tanpa
menyebutkan sanad oleh Al-Muqrizi, seorang ulama yang
tsiqah. Akan tetapi, menurut As-Sakhawi, kitab ini banyak
mendapatkan kritikan.
14) Al-Mawahib Al-Ladduniyyah bil-Manhi Al-Muhammadiyyah,
oleh Ahmad bin Muhammad Al-Qasthalani (wafat tahun 923
H).
15) Syarah Al-Mawahib Al-Ladduniyyah, oleh Muhammad bin
Abdul-Baqi’ Az-Zarqani (wafat tahun 1122 H).
Kedua kitab di atas (nomor 14 dan 15) termasuk kitab-kitab
yang secara lengkap membahas tentang perilaku, akhlaq,
dan sîrâh Nabi.
16) As-Sîrâh Al-Halbiyyah. Kitab karya Burhanuddin Al-Halbi
(wafat tahun 841 H) ini berisi sisipan-sisipan dan cerita-cerita
israiliyyat. Ia sengaja membuang sanad riwayat-riwayatnya.
Ia cukup menyebutkan perawi hadits, mengulas riwayat-
riwayat yang gharib, dan memberikan tambahan komentar-
komentar lain.

10
17) Subulul-Hadyi war-Rasyad fii Sîrâh Khairil-‘Ibaad. Kitab
tulisan Muhammad bin Yusuf Ad-Dimasyqi Asy-Syaami (wafat
tahun 942 H) ini telah dipilih oleh lebih dari dua ribu orang
penulis.

C. Urgensi Pengajaran Sîrâh
Sâlim (1982:192) menyebutkan bahwa sîrâh memiliki
beberapa urgensi bagi pendidik. Urgensi-urgensi tersebut adalah
sebagai berikut:
1) Dapat membentuk generasi muslim yang bertutur dan
berperilaku berdasar pada Rasulullah SAW dan para sahabat.
2) Cara hidup dan perilaku Rasulullah SAW dan para sahabat
dapat dijadikan dasar membina generasi yang tegas dan
tidak mudah goyah.
3) Mengajarkan bahwa kematian merupakan tujuan tertinggi
yang akan mengantarkan mereka pada kehidupan yang
kekal.
Adapun menurut Kurnia (2009) urgensi mempelajari sîrâh
adalah:
1) Memahami pribadi kenabian Rasulullah Sholallahu ‘alaihi
Muhammad
2) Mendapat gambaran pribadi ideal dalam semua aspek
kehidupan.
3) Memahami kitab Allah / Al-Qur’an, seperti memahami asbab
al-nuzûl.
4) Mendapat pengetahuan yang benar, baik itu aqidah, syariat
& akhlak, seperti tata cara shalat yang sesuai dengan yang
diajarkan Nabi Muhammad SAW.
5) Adanya contoh dalam berdakwah dan pembinaan umat.

D. Tujuan Pengajaran Sîrâh
Rasyidin (tt:49) menyebutkan bahwa pengajaran sîrâh
bertujuan untuk:
1) Membiasakan siswa membaca sîrâh / tarikh agar cendrung
pada nilai-nilai kebenaran, dan mengkuti jejak kehidupan
para Nabi dan para Shalihin dalam kehidupan mereka.

11
2) Membentuk dan membangun jiwa siswa cinta yang besar
kepada para Nabi dan Shalihin, serta menjadikannya sebagai
manusia model, untuk dicontoh dan diikuti jelak
kehidupannya, yang diterapkan dalam kehidupan mereka.
3) Sîrâh merupakan teknik penyampaian yang mudah untuk
memahami Islam dan penterapannya, baik untuk akhlak,
ibadah, muamalah, juga hukum. Dengan itu, sîrâh bertujuan
untuk menjelaskan dan memudahkan siswa memahami dan
mengaflikasikan Islam dalam kehidupan.
4) Mengikat dan menumbuhkan keimanan, serta menanamkan
dan membina akhlak siswa.
5) Sîrâh merupakan media untuk mempersatukan umat Islam,
dan menyamakan arah tujuan di antara mereka.
Sementara itu Al-Buthy (2009:2-3) mengungkapkan bahwa
tujuan mempelajari adalah sebagai berikut:
1) Memahami kepribadian Rasulullah SAW melalui napak tilas
kehidupan yang beliau alami. Hal ini perlu dilakukan untuk
membuktikan bahwa Rasulullah SAW bukanlah sosok jenius
yang sangat terpandang di kalangan kaumnya. Lebih dari itu,
beliau adalah utusan Tuhan yang risalahnya didukung oleh
wahyu Allah SWT yang diturunkan langsung dari hadiratNYa.
2) Agar setiap dapat menemukan suri teladan paling luhur
dalam segala sendi kehidupan. Setelah itu, menjadikan sang
suri teladan tersebut sebagai figur yang segala tindak-
tanduknya diikuti. Tidak diragukan lagi, contoh luhur apapun
yang dicari manusia, mereka pasti dapat menemukannya
dalam pribadi Rasulullah SAW dengan sangat jelas dan
sempurna. Itulah alasan Allah SWT sendiri menasbihkan
Rasulullah SAW sebagai teladan bagi umat manusia,
sebagaimana firmanNYa:
‫ل‬
‫ن ك ححح ا ح‬
‫ن‬ ‫محح ل‬
‫ة لد ح‬
‫سن ح ة‬
‫ح ح‬‫سنوحة ة ح‬ ‫ل الل لهد أ ل‬ ‫سنو د‬ ‫م دف ي حر ل‬ ‫ن ل حك ل ل‬ ‫ك ا ح‬ ‫لح ح‬
‫قد ل ح‬

‫خحر يِلوحذ حك ححر الل ل ح‬
‫ه ك حدثليثرا‬ ‫م الل د‬
‫ه حيِلوال للي حنول ح‬
‫جنو الل ل ح‬
‫ثي حلر ل‬

12
Sungguh, pada diri Rasulullah itu ada suri teladan yang baik
bagimu, yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah
dan yakin akan kedatangan hari Kiamat serta banyak
mengingat Allah (Q.S al-Ahzâb:21).
3) Agar setiap orang, melalui pemahaman yang lebih baik
terhadap sîrâh nabi dapat semakin mudah memahami al-
Qur’ân sekaligus merasakan semangat dan hal yang
diinginkan olehnya. Apalagi sebagian besar ayat al-Qur’ân
memang ditafsirkan dan dijelaskan oleh hadis Rasulullah
SAW.
4) Agar setiap muslim dapat menghimpun sebanyak mungkin
manfaat yang terkandung di dalam peradaban dan ajaran
islam yang benar, baik menyangkut ranah akidah, hukum,
maupun akhlak. Apalagi, tidak disangsikan bawa kehidupan
Rasulullah SAW adalah potret paling nyata yang menghimpun
semua prinsip pokok ajaran dan hukum islam.
5) Agar setiap da’i dan guru muslim dapat menerapkan berbagai
metode pendidikan dan pengajaran yang diwariskan
Rasulullah SAW. Beliau adalah seorang guru, juru penerang,
sekaligus murabbi paling utama yang telah berhasil dengan
gemilang dalam menerapkan semua metode pendidikan
paling cemerlang di sepanjang fase dakwah yang beliau
jalani.

E. Metode dan Prosedur Pengajaran Sîrâh
Ahmad (1982:196-200) menyebutkan beberapa metode
pengajaran sîrâh sebagai berikut.
1. Metode Pengajaran Sîrâh
a. Al-Tharîqah al-Thûliyah
Pada metode ini, sîrâh nabi Rasulullah SAW dan sahabatnya
disampaikan berdasarkan urutan waktu kejadiannya. Dimulai dari
kelahiran kemudian masa kerasulan, masa hijrah, wafatnya
beliau sampai masa kekhalifahan sesudahnya. Metode ini

13
dilaksanakan dengan mengkaji perjalanan hidup Rasulullah
seluruhnya dan tanpa harus menentukan sikap tertetu.

b. Al- Tharîqah al-‘Ardhiyah
Dalam metode ini, guru menyoroti beberapa sikap penting
dalam kehidupan Rasulullah atau para sahabat dengan
mengabaikan urutan waktu kejadiannya. Pada metode ini
dipelajari/ didiskusikan bagaimana sikap Rasulullah terhadap para
pendukung maupun lawannya. Bagaimana perlakuan Rasulullah
terhadap para isteri dan sahabatnya. Bagaimana cara
mengemukakan pendapatnya dalam musyawarah. Bagimana
sikap beliau dalam menghadapi pekerjaannya, serta sikap
penting lainnya yang perlu dimunculkan.

c. Al- Tharîqah al-Qishshah
Pada metode ini, guru menyampaikan kepada siswa sebuah
kisah yang sesuai sesuai dengan usianya. Kisah tersebut
hendaknya mengandung permasalahan yang menuntut siswa
untuk menyelesaikannya. Kisah itu juga bukan kisah yang dibuat-
buat atau imajinatif dan harus bisa mendorong siswa untuk
mencari solusi dari permaslahan yang ada dalam kisah tersebut.
Dalam menyusun/ menyampaikan kisahnya, hendaknya
memenuhi tiga aspek ini:
1) Muqaddimah
Yang dimaksud mukadimah di sini adalah pendahuluan
singkat mengenai ide/ pemikiran yang terkandung dalam kisah
yang akan disampaikan. Pendahuluan ini disampaikan melalui
cara yang menarik perhatian siswa dan mampu menggerakan
perasaan mereka agar memperhatikan tema yang akan
disampaikan.
2) ‘Uqdah (permasalahan)
Permasalahan yang disampaikan di sini adalah permasalahan
yang menggambarkan situasi-situasi sulit yang dialami
Rasulullah atau sahabat. Permsalahan ini membutuhkan

14
penyelesaian. Guru dikatakan berhasil dalam metode ini apabila
dia bisa mempengaruhi siswa untuk mencari penyelesaian
permasalahan yang dihadapi atau paling tidak siswa terdorong
untuk untuk mengetahui apa solusi permasalahan tersebut.
3) Al-Hâl (penyelesaian)
Pada bagian ini disampaikan jawaban untuk keluar dari
permasalahan yang dihadapi, jika merujuk pada sîrâh tentu saja
disampaikan bagaimana Rasulullah atau sahabat mengatasi
kondisi sulit yang dihadapi. Penyelesaian tersebut sebagai
penjelasan bagaimana gambaran akhlak, kepribadian, sikap
religius yang dimilikinya.

d. Al- Uslûb al-Dzâti
Metode ini memerlukan kesungguhan siswa dan hanya cocok
untuk siswa tingkat akhir. Pada metode ini siswa dituntun untuk
belajar mandiri membaca materi yang akan dipelajari, setelah itu
siswa akan diberi beberapa pertanyaan untuk dijawab dan
mungkin juga guru dengan siswa melakukan dialog tentang
pelajaran yang dipelajari.

e. Al- Uslûb al-Masrahiyah
Pada metode ini, siswa memerankan suatu karakter tertentu
yang berkaitan dengan tema pembelajaran. Karakter atau cerita
yang dimainkan harus disesuaikan dengan tingkat intelektual
siswa. Tahapan-tahapan metode ini adalah sebagai berikut:
1) Pendahuluan, yaitu guru menyampaikan latar belakang cerita
yang sesuai dengan tema pembelajaran.
2) Penyampaian, yaitu menyampaikan tema pembelajaran
melalui cerita yang menarik tentang karakter tertentu yang
patut diteladani.
3) Kesimpulan, yaitu mendiskusikan nilai-nilai yang terkandung
dalam drama yang dimainkan.
4) Aplikasi

15
Secara sistematis model pembelajaran dengan bermain peran
ini dapat digambarkan sebagai berikut:

(Institut Pendidikan Guru, 2011:57)

2. Prosedur Pengajaran Sîrâh
Rasyidin (tt:50-54) menguraikan langkah-langkah pengajaran
sîrâh sebagai berikut:
a. Muqaddimah
Guru memulai pelajaran sîrâh dengan muqaddimah singkat
yang menyentuh dan membangkitkan perasaan mereka rasa
penasaran ingin mendengarkan sîrâh / tarikh yang akan
disampaikan guru. Untuk ini dapat dilakukan dengan melalui
tanya – jawab antara guru dan siswa.

b. Penyajian
1) Memberitahukan kepada siswa pelajaran yang akan
disampaikan, serta menulis topik yang akan disamapaikan
dipapan tulis, setelah penulisan tanggal, bulan dan tahun.
2) Memperlihatkan media kepada siswa, dan mulai bercakap-
cakap untuk samapai kepada tujuan yang diharapkan.
3) Menyajikan sîrâh dengan bentuk ceritra, menggunakan
bahasa yang menarik dan mudah dipahami siswa.

16
4) Sîrâh disajikan dengan cara bertahap, dan berkelanjutan,
yang berpindah dari satu tahap kepada tahap berikutnya.
Tiap tahap mempunyai makna tersendiri, namun mempunyai
ide dasar yang berhubungan dengan tahapan – tahapan yang
lainnya.
5) Berhenti pada saat sedang berceritra, di kala guru ingin
memunculkan nilai – nilai qurani yang terkandung pada sîrâh
tersebut, misalnya ; akhlak, tauhid atau hukumKemudian
melanjutkan sîrâh hingga akhir.
6) Guru mengkaitkan sîrâh itu dengan pribadi kehidupan siswa,
karena inti dari pelajaran sîrâh adalah agar siswa dapat
mengikuti dan meniru amaliyah para Nabi, shahabat dan
shalihin, serta mengambil pelajaran daripadanya.
7) Untuk menambah kesempurnaan nilai pelajaran atau faedah
dari sîrâh, hendaknya guru membandingkan antara amaliyah
para Nabi, Shalihin dari isi ceritra dengan kehidupan manusia
yang dijumpai pada saat sekarang, sehingga siswa dapat
merasakan dan berpikir sendiri.

c. Asosiasi
Pada bagian ini yang dapat dilakuakn guru antara lain;
menghubungkan pelajaran sîrâh dengan pelajaran Agama yang
lain seperti tauhid , akhlak, dan fikih. Dan menghubungkan
sesuatu yang diperoleh dari sîrâh dengan kehidupan yang
dialami. Hal ini untuk menggetarkan hati siswa mempunyai
kecendrungan yang kuat untuk hidup dalam masyarakat yang
islami

d. Kesimpulan
Guru menyimpulkan isi sîrâh, dan menuliskan ide – ide pokok
dari sîrâh tersebut pada papan tulis, untuk memudahkan siswa
mengingat, dan mengambil pelajaran.

17
e. Aplikasi
Guru bermunaqasyah dengan siswa tentang isi pelajaran
sîrâh yang telah disampaikan, untuk mengukur sejauhmana
pelajaran telah dimiliki mereka. Atau dengan cara ; meminta
siswa menuliskan bagian –bagian penting yang terkandung pada
sîrâh , mendemontrasikan ceritra, dan meminta sebagian siswa
menceritrakan kembali ceritra cara yang baik

f. Penutup
Berisikan buku sumber, Pekerjaan Rumah, dan buku anjuran
lain untuk memperkaya sîrâh./ tarikh.

F. Evaluasi Pengajaran Sîrâh
Contoh evaluasi pengajaran sîrâh
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan
benar.
1) Siapa nama paman Rasulullah yang senantiasa melindungi
beliau dari musuh-musuhnya?
2) Mengapa Rasulullah menyebut tahun wafatnya paman dan
isteri beliau dengan sebutan ‘âm al-Huzni?
3) Mengapa Rasulullah berdakwah secara sembunyi-sembunyi
pada awal masa dakwahnya?
4) Ceritakanlah perjalanan Rasulullah ke Thaif.
5) Bagaimana sikap kafir terhadap dakwah Rasul?
6) Apakah kamu ingin mencontoh sifat terpuji Rasulullah?
Mengapa?

G. Contoh Rencana Pembelajaran Sîrâh
Berikut adalah contoh rencana pembelajaran menurt Ahmad
(1980:304-306) yang dikolaborasikan dengan format Rasyidin
(tt:99):

‫تحضير الدرس‬

‫ م‬2013 ‫ ديسيمبر‬5 : ‫التاريخ‬

18
‫‪ :‬اللولى‬ ‫ص ة‬
‫الح ص‬
‫السن ة الدراسي ة ‪ / 3 :‬الفترة ‪1‬‬
‫‪ :‬الرابع‬ ‫الفصل‬
‫‪ :‬السيرة النبوي ة‬ ‫المادة‬
‫موضوع الدرس ‪ :‬حب الرسول ص‪.‬م للولده‬
‫الدعداد ‪:‬‬
‫لول ‪ :‬الهدف الع ام‪:‬‬ ‫أ ص‬
‫تعرثيححف التلمليححذ أن البححنوة مقدسححة يِلوأن حححب البحح اء‬
‫لبن ائهم ش يء غرسه الله ف ي القلنوب˛ يِلوأن رسنول اللححه‬
‫ص‪.‬م ك ان محب ا ليِلولهده عطفنوف علليهم مع م ا عنده من‬
‫مسؤللي ات الرس الة يِلوبن اء الديِلولة السسلملية‪.‬‬
‫ثانيا ‪ :‬الدهدف الخاص‬
‫تححدرثيس منوضححنوع )حححب الرسححنول ص‪.‬م ليِلولهده( يِلوبليحح ان‬
‫كليف ك ان ثيع امل أيِلولهده˛ يِلوكم أنجب من البنلين يِلوالبن ات‪.‬‬
‫ثالثثثا ‪ :‬الوسثثائل التعليمي صثث ة المسثثتخدم ة فثثي‬
‫الدرس‬
‫‪ -‬صنورة تمثليل ع ائلححة سححعليدة يِلوالب بليححن أبنحح ائه ثيلعححب‬
‫معهم يِلوثيس اعدهم ف ي أعم الهم‪.‬‬
‫صنورة حدثيقة به ا أطف ال بلعبنون مع يِلوالدهم‪.‬‬ ‫‪-‬‬
‫رابعا ‪ :‬خطوات التدريس‬
‫التمهيد‪:‬‬
‫م ا الذ ي ثينتج عن حب النوالد ليِلولهده؟‬ ‫‪-‬‬
‫كليف تعرف حب النوالدثين لك؟‬ ‫‪-‬‬
‫بم اذا ترهد جمليل النوالدثين؟‬ ‫‪-‬‬
‫لم اذا ثيأمرن ا السلم بأن نحب النوالدثين؟‬ ‫‪-‬‬

‫‪19‬‬
‫ك ان الرسنول ثيحب أبن اءه يِلوثيعطف علليهم فمحح اذا تعححرف عححن‬ ‫‪-‬‬
‫ذلك؟‬
‫م اذا ثينتظر النوالد من يِلولده؟‬ ‫‪-‬‬

‫العرض‪:‬‬
‫ببدأ المعلم بإعلن هدرسه يِلوبلي ان أهمليته يِلوكت ابة‬ ‫‪-‬‬
‫عننوانه على السبنورة‪ .‬ثم ثيبدأ ف ي من اقشة التلمليذ‬
‫بأسئلة التمهليد‪.‬‬
‫ثيعرض يِلوس ائله يِلوبليدأ الحنوار حنوله ا لليصل المنوقف‬ ‫‪-‬‬
‫التعلليم ي الذ ي ثيرثيد غرسه ف ي نفنوس التلمليذ‪.‬‬
‫ثيتدرج مع التلمليذ ب الحنوار مركزا على المنواقف الت ي‬ ‫‪-‬‬
‫تبلين حب الرسنول لبن ائه يِلوعطفه علليهم‪.‬‬
‫ذكر بعض المثلة عن عطف الرسنول يِلوحبه لبن ائه‬ ‫‪-‬‬
‫ف ي مختلف مراحل أعم ارهم‪.‬‬
‫قراءة المنوضنوع من الكت اب المدرس يِلومن اقشة‬ ‫‪-‬‬
‫التلمليذ فليه‪.‬‬
‫الربط‪:‬‬
‫ن فحح ي الرسححنول محمححد ص‪.‬م أسححنوة‬
‫أيِلوضححح للتلمليححذ أ ن‬
‫حسنة للمسلملين‪ .‬يِلومن أخلقه حب الع ائلة‪ .‬اذا نرثيد أن‬
‫تتحلى بمثل صححف ات رسححنولن ا العظليححم˛ فعللينحح ا أن نكححرم‬
‫النوالدثين يِلوأن نرحم إخنوتن ا‪.‬‬
‫التقويم‪:‬‬
‫كليف استقبل الرسنول صحلى اللحه علليححه يِلوسححلم مليلهد‬ ‫‪-‬‬
‫بن اته؟‬

‫‪20‬‬
‫اذكر منوقف ا ثيدل على حب الرسنول ليِلولهده يِلوأحف اهده؟‬ -
‫م اذا فعل الرسنول حلين علم ثيمرض يِلولده إبراهليم؟‬ -
‫لمحح اذا غضححب الرسححنول مححن المحح ام علحح ي فحح ي أحححد‬ -
‫المنواقف؟‬
‫علححى أ ي شحح يء ثيححدل حححب الرسححنول لبنحح اته يِلوعطفححه‬ -
‫علليهن؟‬

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Sîrâh adalah sejarah tentang perjalana hidup seseorang. Jika
sîrâh dinisbatkan kepada nabi Muhammad, maka sîrâh
tersebut mengkaji perjalanan hidup nabi Muhammad SAW
(Sîrâh Nabawiyah).
2. Sîrâh berbeda dengan tarikh, karena sîrâh pembahasaanya
lebih khusus, sifatnya tetap, dan sumbernya al-Qur’ân dan al-
Hadits.
3. Sîrâh dapat diajarkan dengan berbagai metode mulai dari
bercerita lengkap sesuai urutan waktu kejadiannya sampai
bermain peran.
4. Langkah-langkah pengajaran sîrâh adalah: pendahuluan,
penyampaian materi, asosiasi, kesimpulan, dan penutup.

B. Saran
Jika sîrâh kita anggap penting dalam proses pembentukan
generasi muslim yang tangguh, maka mempelajari metodenya

21
pun merupakan keniscayaan. Oleh karena itu, sebagai insan
pendidikan kita wajib mengetahui bahkan mengembangkannya.

DAFTAR PUSTAKA

Abu Hasan, A.F. (1979). Mu’jam Maqâyîs al-Lughah. Dâr al-Fikr

Al-Buthy, S.R. (2009). Fiqh al-Sîrâh al-Nabawiyah Ma’a Mûjaz li
Tarikh al-Khilâfah al-Rasyîdah. Terjemahan Nur, F.S. (2010).
Fikih Sîrâh. Bandung: Mizan Publika.

Al-Khudrawi, D. (2004). Dictionary of Islamic Terms. Damakus: al-
Yamamah

Institut Pendidikan Guru. (2011): pedagogi Pendidikan Islam.
Kemetrian Pelajaran Malaysia.

Rasidin. D. (Tanpa Tahun). Metodik Khusus Pengajaran Agama
Islam. [online]. Tersedia:
http:/ / file.upi.edu/ Direktori/ FPBS/ JUR._PEND._BAHASA_ARAB/
195510071990011-

22
DEDENG_ROSIDIN/ METODIK_KHUSUS_PENDIDIKAN_AGAMA_I
SLAM.pdf[3 November 2013].

Umar, M.A.H. (2008). Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyah al-
Mu’ashîrâh: ‘Ālim al-Kutub
http:/ / dian-kurnia.blogspot.com/ 2009/ 08/ urgensi-mempelajari-
sîrâh-nabawiyah.html
http:/ / lagendahawa.blogspot.com/ 2013/ 01/ pim-sîrâh-
perbandingan-sîrâh-dan-sejarah.html

http:/ / myquran.org/ forum/ index.php?topic=835.0

http:/ / www.imamu.edu.sa/ cps/ contents/ Documents

23