You are on page 1of 2

Rumah Sakit perlu mengembangkan kebijakan pengelolaan Obat untuk meningkatkan

keamanan, khususnya Obat yang perlu diwaspadai (highalert medication). High-alert
medication adalah Obat yang harus diwaspadai karena sering menyebabkan terjadi
kesalahan/kesalahan serius (sentinel event) dan Obat yang berisiko tinggi menyebabkan
Reaksi Obat yang Tidak Diinginkan (ROTD). Kelompok Obat high-alert diantaranya:
a. Obat yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip (Nama Obat Rupa dan Ucapan
Mirip/NORUM, atau Look Alike Sound Alike/LASA).
b. Elektrolit konsentrasi tinggi (misalnya kalium klorida 2meq/ml atau yang lebih pekat,
kalium fosfat, natrium klorida lebih pekat dari 0,9%, dan magnesium sulfat =50%
atau lebih pekat).
c. Obat-Obat sitostatika. (PMK NO 58 THN 2014)

Obat yang termasuk golongan High Alert :
No Obat kategori High Alert Alasan Sebagai Obat High Alert
.
1. Elektrolit Pekat, yaitu NaCL >0,9% (mis. Dapat menyebabkan hiperkalemia jika
3% dan 15%), KCl injeksi, injeksi digunakan pada konsentrasi pekat, yang
kalium fosfat berdampak lebih lanjut yaitu asidosis dan
nekrosis jaringan (CMAJ, 2004).

<2,5 meq (Hipokalemia) atau >7,0 meq/L
(Hiperkalemia) dapat menyebabkan henti
jantung.

Label High alert diperlukan untuk menjamin
larutan tersebut diencerkan sebelum
digunakan.

2. Adrenergic Agonis, yaitu Epinefrin, Nor Adrenergic Agonis bekerja sebagai
Epinefrin, phenylefrin, vasokontriktor yang sangat poten dan
merupakan stimulant jantung, yakni
memperkuat dan mempercepat konstraksi
otot jantung sehingga menyebabkan curah
jantung meningkat akibatnya kebutuhan
jantung akan oksigen juga meningkat.
3. Narkotika injeksi, yaitu Morfin, Pethidin, Pada dosis tinggi morfin dapat menyebabkan
Fentanyl gangguan pernafasan dan hipotensi dengan
gangguan peredaran darah dan
memperdalam koma. Kematian dapat
disebabkan karena kegagalan pernafasan.

Dosis yang tinggi atau pemberian pethidin

6. kerusakan otak organik.Gangguan metabolisme lemak harus menjadi perhatian. yaitu Midazolam Keran dapat menimbulkan Insomnia pada psikosis. yaitu Propofol. Antikoagulan. 4.Hepovolemia atau pasien lemah. 2014 endmartini@yahoo. gangguan hati 5. Sediaan Sitostatika injeksi Asam folat dapat menurunkan respon terapi MTX. apnea. 8. Sumber : ISMP (Institute For Safe Medication Practices). insufisiensi pernapasan. Anestesi injeksi. hati.com . yaitu Heparin Pada penggunaan yang tidak tepat dapat terjadi perdarahan serius seperti pada gastrointestinal dan intraperitonial 7. obstruksi saluran nafas. dengan cepat secara intravena dapat menyebabkan terjadinya depresi pernafasan secara cepat. pernafasan. Ketamin Gangguan fungsi jantung. MTX jika diberikan bersama trimetropim/ sulfametoksazol akan terjadi peningkatan ES supresi sumsum tulang. hipotensi. desaturasi oksigen. karena bisa mengakibatkan terminasi pada trisemester I.Monitor tanda hipotensi. Obat sedatif injeksi. 9. Kemampuan mengemudi dan mengoperasikan mesin berkurang. Monitor lemak darah pada pasien yang beresiko. ginjal. Hindari pada kehamilan.Jangan untuk anestesi obstetric. Antiaritmia (Amiodaron) Pada kondisi pasien tertentu dapat menyebabkan reaksi hipersentivitas seperti reaksi anafilaksis dan reaksi angioedema. kolaps sirkulasi peripherial. bradikardia bahkan berhentinya denyut jaantung. Insulin U-500 Efek Hipoglikemia yang disebabkan oleh penggunaan insulin yang tidak tepat.Resiko kejang bila diberikan pada pasien epilepsy. Dapat meningkatkan efek sitotoksik penggunaan obat sitostatika (Vinkristin) dengan obat Allopurinol. depresi berat.