Restu Suko Andrianto/16811127/Tutorial I

SKENARIO 1

SUPPORTING MANAGEMENT BUAT PUSING

Struktur organisasi adalah sistem formal dari aturan dan tugas serta hubungan otoritas yang mengawasi
bagaimana anggota organisasi berhubungan dengan sumber daya untuk mencapai tujuan organisasi. Struktur
organisasi secara umum dibedakan menjadi 5, antara lain fungsional, divisional, matriks, tim dan jaringan.
Struktur fungsional yaitu struktur organisasi yang terdiri dari orang-orang dengan keterampilan yang sama dan
melakukan tugas serupa. Kelebihan struktur ini yaitu penggunaan sumber daya yang efisien dan ekonomis.
Kekurangan struktur ini yaitu komunikasi yang buruk lintas departemen fungsional. Struktur divisional yaitu
departemen dikelompokkan ke dalam divisi mandiri terpisah berdasarkan kesamaan produk, program dan
geografis. Kekurangan struktur ini koordinasi yang buruk lintas divisi. Struktur matriks yaitu kombinasi struktur
fungsional dan divisional. Kelebihan struktur ini yaitu penggunaan sumberdaya yang lebih efisien. Kekurangan
yaitu konflik antar dua sisi matriks, dominasi kekuatan oleh salah satu sisi matriks. Struktur tim adalah organisasi
membentuk serangkaian tim untuk menyelesaikan tugas-tugas khusus. Kelebihan struktur ini yaitu mengurangi
waktu untuk merespon dan keputusan lebih cepat diambil. Kekurangan struktur ini yaitu loyalitas ganda dan
konflik, desentralisasi tidak terencana. Struktur jaringan adalah organisasi menjadi suatu pusat yang kecil,
terhubung secara elektronis dengan oragnisasi lainnya yang melakukan fungsi-fungsi vital. Kelebihannya adalah
biaya administrasi rendah, daya saing global. Kekurangannya adalah tidak ada pengendalian langsung dan
rendahnya loyalitas karyawan (Daft,2002).

Menurut PMK nomor 58 tahun 2014, pengorganisasian Instalasi Farmasi Rumah Sakit harus mencakup
penyelenggaraan pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai, pelayanan
farmasi klinik dan manajemen mutu, dan bersifat dinamis dapat direvisi sesuai kebutuhan dengan tetap menjaga
Instalasi Farmasi Rumah Sakit harus dikepalai oleh seorang Apoteker yang merupakan Apoteker penanggung
jawab seluruh Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit. Kepala Instalasi Farmasi Rumah Sakit diutamakan telah
memiliki pengalaman bekerja di Instalasi Farmasi Rumah Sakit minimal 3 (tiga) tahun mutu. Instalasi Farmasi
harus memiliki Apoteker dan tenaga teknis kefarmasian yang sesuai dengan beban kerja dan petugas penunjang
lain agar tercapai sasaran dan tujuan Instalasi Farmasi Rumah Sakit (Permenkes,2014).

Menurut PMK nomor 56 tahun 2014, Tenaga kefarmasian kefarmasian pada Rumah Sakit Umum tipe A terdiri
dari 1 apoteker sebagai kepala IFRS, 5 apoteker di rawat jalan, 5 apoteker di rawat inap, 1 apoteker di IGD, 1
apoteker di ICU, 1 apoteker sebagai koordinator penerimaan dan distribusi, 1 apoteker sebagai koordinator
produksi. Pada Rumah Sakit Umum tipe B terdiri dari 1 apoteker sebagai kepala IFRS, 4 apoteker di rawat jalan,
4 apoteker di rawat inap, 1 apoteker di IGD, 1 apoteker di ICU, 1 apoteker sebagai koordinator penerimaan dan
distribusi, 1 apoteker sebagai koordinator produksi. Pada Rumah Sakit Umum tipe C terdiri dari 1 apoteker
sebagai kepala IFRS, 2 apoteker di rawat jalan, 4 apoteker di rawat inap, 1 apoteker sebagai koordinasi
penerimaan. Pada Rumah Sakit Umum tipe D terdiri dari 1 apoteker sebagai kepala IFRS, 1 apoteker di rawat
jalan dan rawat inap, 1 apoteker sebagai koordinasi penerimaan (Permenkes,2014). Sedangkan menurut PMK
nomor 58 tahun 2014, kualifikasi Sumber Daya Manusia (SDM) Berdasarkan pekerjaan yang dilakukan, kualifikasi
SDM Instalasi Farmasi diklasifikasikan sebagai berikut:

 Untuk pekerjaan kefarmasian terdiri dari:
Apoteker
Tenaga Teknis Kefarmasian
 Untuk pekerjaan penunjang terdiri dari:
Operator Komputer/Teknisi yang memahami kefarmasian
Tenaga Administrasi
Pekarya/Pembantu pelaksana Untuk menghasilkan mutu pelayanan yang baik dan aman, maka dalam
penentuan kebutuhan tenaga harus mempertimbangkan kompetensi yang disesuaikan dengan jenis
pelayanan, tugas, fungsi, wewenang dan tanggung jawabnya.

Persyaratan SDM Pelayanan Kefarmasian harus dilakukan oleh Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian.
Tenaga Teknis Kefarmasian yang melakukan Pelayanan Kefarmasian harus di bawah supervisi Apoteker
(Permenkes,2014).

Jakarta. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. pelaporan dan prosedur administrasi untuk memperoleh informasi secara tepat dan akurat. 56 Tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit. 1993. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Indikator penggunaan obat yang baik terbagi menjadi tiga indikator : indikator peresepan (rata-rata resep yang terlayani. serta akses pelayanan Rumah Sakit. sedangkan dalam kasus yang terjadi pada skenario. dan indikator fasilitas (ketersediaan daftar obat essensial atau formularium dan ketersedian obat indikator) (WHO. Jakarta. 82 Tentang Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit. Permenkes RI. 1197 Tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. World Health Organization. diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kefarmasian terhadap pasien. jumlah apoteker pada RS tipe B sebanyak 13 orang. kinerja. mudah. tertib. Menurut Permenkes no. Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit atau SIMRS adalah suatu sistem teknologi informasi komunikasi yang memproses dan mengintegrasikan seluruh alur proses pelayanan Rumah Sakit dalam bentuk jaringan koordinasi. terbatasnya jumlah tenaga kefarmasian dapat diatasi dengan penambahan personil karena menurut PMK no. dan pelayanan Rumah Sakit. Permenkes RI. Penggunaan system informasi manajemen rumah sakit dapat meningkatkan efisiensi. Manajemen.. Permenkes RI. SIM RS bertujuan untuk meningkatkan efisiensi. How to Investigate Drug Use In Health Fasilities. seharusnya SIMRS yang digunakan sudah terintegrasi dengan baik didukung oleh kemampuan dari para karyawan yang memadai untuk mengoperasikan SIM serta ketertiban dari karyawan dalam pengisian SIM sehingga laporan untuk stok obat yang sudah sedikit dapat segera diketahui oleh karyawan lain. R. 2013. Syarat pelaksanaan pengelolaan dan pengembangan SIMRS harus dapat meningkatkan dan mendukung proses pelayanan kesehatan di Rumah Sakit yang meliputi kecepatan mengambil keputusan serta pengurangan biaya administrasi dalam pelaksanaan organisasi. khususnya bagian gudang. 2013). SIMRS harus menggunakan aplikasi dengan kode sumber terbuka (open source) yang disediakan oleh Kementerian Kesehatan atau menggunakan aplikasi yang dibuat oleh Rumah Sakit dan harus memenuhi persyaratan minimal yang ditetapkan oleh Menteri (Permenkes. kinerja. persentase obat yang dilabel dengan jelas. Jakarta.2013) Beberapa permasalahan yang terjadi terkait pelayanan kefarmasian seperti tenaga kefarmasian yang terbatas yang dapat mengakibatkan lamanya pelayanan (dispensing time) serta permasalahan dalam penggunaan sistem informasi manajemen yang belum terintegrasi dengan baik sehingga mengakibatkan kekosongan obat di satelit-satelit farmasi yang ada di rumah sakit. efektivitas.L. dibutuhkan dana yang cukup besar. Geneva. 2014. pasien mengetahui pengetahuan dosis dengan benar).1993). Peraturan Menteri Kesehatan RI No. rata-rata waktu penyiapan obat. namun hal tersebut dalat diatasi siring dengan peningkatan kualitas pelayanan yang kemudian dapat meningkatkan kepercayaan pasien. Meskipun disebutkan bahwa untuk menambah jumlah personil. 2004. persentase resep obat mengunakan obat essensial atau formularium). Syarat SIM RS yaitu harus terintegrasi baik dengan setiap sistem informasi di rumah sakit (Permenkes. Erlangga. Kemenkes RI. persentase resep obat dengan obat generik. 2014. Untuk masalah kekosongan obat. aman dan efisien. persentase resep antibiotik yang terlayani. 58 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit. Jakarta. World Health Organization. khususnya membantu dalam memperlancar dan mempermudah pembentukan kebijakan dalam meningkatkan sistem pelayanan kesehatan khususnya dalam bidang penyelenggaraan Rumah Sakit di Indonesia. persentase resep injeksi yang terlayani. . terpadu. efektivitas. akurat. Daftar Pustaka : Daft. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. Kemenkes RI. Drug Use Indicator (DUI) merupakan indikator penggunaan obat secara rasional tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Manfaat SIM RS adalah untuk membantu kegiatan pelayanan data dan informasi dengan lebih produktif. profesionalisme. apoteker yang ada hanya 5 orang. dan merupakan bagian dari Sistem Informasi Kesehatan.56 tahun 2014. cepat. Kemenkes RI.82 tahun 2013. 2002. Kemenkes RI. profesionalisme. transparan. indikator pelayanan pasien (rata-rata waktu konsultasi. serta akses. Dengan penambahan jumlah apoteker tersebut. Jakarta. Menkes RI.