MAKALAH KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

APPENDICITIS

Disusun oleh :

Sunartiningsih

72.20.001.D.15.086

Dosen Koordinator :

Mayusef Sukmana, M.Kep

AKADEMI KEPERAWATAN PEMPROV

1 KALIMANTAN TIMUR

2015 / 2016

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS)

Kata Pengantar

Syukur Alhamdulillah kami panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. Karena

atas berkat dan rahmat Nya lah terutama rahmat kesehatan dan kesempatan sehingga

penulis dapat menyusun makalah dengan judul “Appendicitis”. Dalam kesempatan ini

kami ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada bapak Mayusef Sukmana,

M.Kep selaku dosen pembimbing mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah.

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas Keperawatan Medikal Bedah yang

diberikan oleh dosen koordinator. saya menyadari bahwa dalam makalah ini masih

jauh dari sempurna. Untuk karena itu mohon untuk dimaklumi dan diberikan saran

serta kritik yang bersifat membangun akan sangat bermanfaat dalam kesempurnaan

makalah ini.

Samarinda, 22 Maret 2016

Penyusun

2

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS)

Daftar Isi

Cover Halaman 1

Kata Pengantar 2

Daftar Isi 3

BAB I (Pendahuluan)

A. Latar Belakang 4

B. Tujuan 6

BAB II (Pembahasan)

A. Konsep Dasar Teori

1. Definisi Appndiks 7

2. Definisi Appendicitis 9

3. Morfologi Appendicitis 10

4. Patofisiologi Appendicitis 10

5. Epidimologi Appendicitis 11

6. Klasifikasi Appendicitis 12

7. Gejala Appendicitis 16

8. Diagnosa Banding Appendicitis 18

9. Komplikasi Appendicitis 19

10. Pencegahan Appendicitis 21

B. Konsep Dasar ASKEP

1. Pengkajian 22
3

2. Diagnosa 28

3. Intervensi 30

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS)

4. Implementasi 31

5. Evaluasi 37

BAB III (Penutup)

A. Kesimpulan 39

B. Saran 40

Daftar Pustaka 41

4

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS)

tetapi penyakit ini tidak dapat di ramalkan dan mempunyai kecenderungan progresif dan mengalami perforasi. Apendisitis diduga disebabkan oleh bacteria. Serangan berulang dapat terjadi 5 bila appendiks tidak di angkat (Arif Mansjoer. Apendiks adalah ujung seperti jari yang kecil panjangnya kira-kira 10 cm. 2000 . 309). 2002 : 1097). Kasus apendisitis di negara berkembang merupakan kasus yang paling sering ditemui. observasi aman untuk di lakukan dalam masa tersebut (Arif Mansjoer. Apendisitis adalah penyakit yang jarang mereda dengan spontan. parasite seperti E. Bila KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . BAB I Pendahuluan A. Apendiks berisi makanan dan mengosongkan diri secara teratur ke dalam sekum. dan makanan – makanan yang rendah serat dan makanan biji-bijian seperti jambu biji (Sjamsuhidayat. hitolytica. 2005 : 567). Latar Belakang Salah satu masalah sistem pencernaan yang sering dijumpai oleh masyarakat yaitu apendisitis atau sering di sebut usus buntu. Karena pengosongannya tidak efektif dan lumennya kecil. Keterlambatan diagnosis akan meningkatkan mordibitas dan mortalitas bila terjadi komplikasi. melekat pada sekum tepat di bawah katup ileosekal. 2006 : 655). apendiks cenderung menjadi tersumbat dan terutama rentan terhadap infeksi(apendisitis) (Brunner. (Adam. Karna perforasi jarang terjadi dalam 8 jam pertama. Dengan diagnosis yang akurat serta pembedahan. 310). 2000 . tingkat mortalitas dan mordibitas penyakit ini sangat kecil. maka pasien dipersiapkan untuk menjalani pembedahan. dan appendik segera dibuang setiap saat. Setelah diagnosa apendisitis ditegakkan.

derajat inflamasi. Untuk mengetahui diagnosa banding appendicitis i. Untuk mengetahui epidimologi appendicitis f. B. Untuk mengetahu patofisiologi appendicitis e. M. Untuk mengetahui definisi appendicitis c. pembedahan dilakukuan sebelum ruptur dan tanda peritonitis. Pemberian antibiotik biasanya diindikasikan. Tujuan Khusus a. 2005 . Untuk mengetahui pencegahan appendicitis 6 KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . 2. 449). Tujuan Umum Tujuan umum dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen koordinator mata kuliah Kperawatan Medikal Bedah I yaitu bapak Mayusef Sukmana. Untuk mengetahui definisi appendiks b. dan penggunaan metode bedah terbuka atau laparoskopi (Price Sylvia. Untuk mengetahui morfologi appendicitis d.Kep. Untuk mengetahui komplikasi appendicitis j. Waktu pemulangan pasien bergantung pada seberapa dini penegakan diagnosis apendisitis. perjalanan pasca bedah umumnya tanpa disertai penyulit. Tujuan 1. Untuk mengetahui klasifikasi appendicitis g. Untuk menegtahui gejala appendicitis h.

Pada bayi appendiks berbentuk kerucut. BAB II Pembahasan A. Konsep Dasar Teori 1.4%. Pada appendiks terdapat tiga tanea coli yang menyatu dipersambungan sekum dan berguna untuk mendeteksi posisi appendiks. Posisi appendiks adalah retrocaecal (di belakang sekum) 65. subcaecal (di bawah sekum) 2.01%. lebar pada pangkal dan menyempit kearah ujung. Appendiks disebut tonsil abdomen karena ditemukan banyak 7 jaringan limfoid. seperti terlihat pada gambar dibawah ini. jumlahnya meningkat selama pubertas sampai puncaknya berjumlah sekitar 200 folikel antara usia 12-20 tahun KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . Appendiks memiliki lumen sempit di bagian proksimal dan melebar pada bagian distal. Keadaan ini menjadi sebab rendahnya insidens appendicitis pada usia tersebut. pertumbuhan dari sekum yang berlebih akan menjadi appendiks yang akan berpindah dari medial menuju katup ileocaecal. Anatomi Appendiks merupakan organ yang berbentuk tabung dengan panjang kira-kira 10 cm dan berpangkal pada sekum.26%. Gejala klinik appendicitis ditentukan oleh letak appendiks. Definisi Appendiks a. Appendiks pertama kali tampak saat perkembangan embriologi minggu ke delapan yaitu bagian ujung dari protuberans sekum. preileal (di depan usus halus) 1%.28%. Pada saat antenatal dan postnatal. dan postileal (di belakang usus halus) 0. Jaringan limfoid pertama kali muncul pada appendiks sekitar dua minggu setelah lahir. pelvic (panggul) 31.

Setelah itu. mengalami atropi dan menghilang pada usia 60 tahun. sedangkan persarafan simpatis berasal dari nervus torakalis X. dan menetap saat dewasa. Persarafan parasimpatis berasal dari cabang nervus vagus yang mengikuti arteri mesenterika superior dari arteri appendikularis. Bila terjadi penyumbatan pada arteri ini. Arteri appendiks termasuk end arteri. maka 8 appendiks mengalami ganggren. Fisiologi KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . b. Oleh karena itu. nyeri viseral pada appendicitis bermula di sekitar umbilikus. Appendiks didarahi oleh arteri apendikularis yang merupakan cabang dari bagian bawah arteri ileocolica.

dan cacing usus. Imunoglobulin ini sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi yaitu mengontrol proliferasi bakteri. Hambatan aliran lendir di muara appendiks tampaknya berperan pada patogenesis appendicitis. fekalith 35%. dan sebab lainnya 1%. dan Enterobius vermikularis. Erosi membran mukosa appendiks dapat terjadi karena parasit seperti Entamoeba histolytica. Lendir itu secara normal dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum.400 kasus. pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh sebab jumlah jaringan sedikit sekali jika dibandingkan dengan jumlah di saluran cerna dan seluruh tubuh. Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh Gut Associated Lymphoid Tissue (GALT) yang terdapat disepanjang saluran cerna termasuk appendiks ialah Imunoglobulin A (Ig-A). Definisi Appendicitis Appendicitis adalah infeksi pada appendiks karena tersumbatnya lumen oleh fekalith (batu feces). Obstruksi lumen merupakan penyebab utama appendicitis. Bila KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . Appendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Obstruksi yang disebabkan hiperplasi jaringan limfoid submukosa 60%. benda asing 4%. Infeksi yang terjadi dapat mengakibatkan pernanahan. serta mencegah penetrasi enterotoksin dan antigen intestinal lainnya. hiperplasi jaringan limfoid. Trichuris trichiura. 2. netralisasi virus. 9 Appendicitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu (apendiks). Penelitian Collin (1990) di Amerika Serikat pada 3. 50% ditemukan adanya faktor obstruksi. Namun.

dan suram. dan muskularis propria. Konstipasi akan menaikkan tekanan intrasekal. hanya sedikit eksudat neutrofil ditemukan di seluruh mukosa. submukosa. tumor apendiks. dan cacing askaris dapat pula menyebabkan sumbatan. Penyebab lain yang diduga dapat menimbulkan apendisitis adalah erosi mukosa apendiks karena parasit seperti E. fekalit. Morfologi Appendicitis Pada stadium paling dini. Semuanya ini akan mempermudah timbulnya apendisitis akut (Sjamsuhidajat. Usus buntu besarnya sekitar kelingking tangan dan terletak di perut kanan bawah (Smeltzer. Kriteria histologik KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . histolytica (Sjamsuhidajat. 3. 4. Pembuluh subserosa mengalami bendungan dan sering terdapat infiltrat neutrofilik perivaskular ringan. De Jong. Perubahan ini menandakan apendisitis akut dini bagi dokter bedah. granular. De Jong. Etiologi Appendicitis Apendisitis akut merupakan infeksi bakteria. Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor yang diajukan sebagai faktor pencetus disamping hiperplasia jaringan limfe. 2004). infeksi bertambah parah. Berbagai hal berperan sebagai faktor pencetusnya. usus buntu itu bisa pecah. Brenda 2002). Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. Usus buntu merupakan saluran usus yang ujungnya buntu dan menonjol dari bagian awal usus besar atau sekum (cecum). yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa. 2004). Suzanne C & Bare. Reaksi peradangan mengubah serosa yang normalnya berkilap 10 menjadi membran yang merah.

Kondisi ini mengundang invasi mikroorganisme yang ada di usus besar memasuki luka dan menyebabkan proses radang akut. kemudian terjadi proses irreversibel meskipun faktor obstruksi telah dihilangkan. Edema dinding appendiks menimbulkan gangguan sirkulasi darah sehingga terjadi ganggren. KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . untuk diagnosis apendisitis akut adalah infiltrasi neutrofilik muskularis propria. Appendicitis dimulai dengan proses eksudasi pada mukosa. sub mukosa. Patofisiologi Appendicitis Appendicitis merupakan peradangan appendiks yang mengenai semua lapisan dinding organ tersebut. warnanya menjadi hitam kehijauan yang sangat potensial ruptur. dan muskularis propia. Pembuluh darah pada serosa kongesti disertai dengan infiltrasi sel radang neutrofil dan edema. 5. Pada semua dinding appendiks tampak infiltrasi radang neutrofil. Obstruksi intraluminal appendiks menghambat keluarnya sekresi mukosa dan menimbulkan distensi dinding appendiks. Biasanya neutrofil dan ulserasi juga terdapat di dalam mukosa (Crawford. Kumar. warnanya menjadi kemerah- merahan dan ditutupi granular membran. 2007). Adanya kongesti vena dan iskemia arteri menimbulkan luka pada dinding appendiks. Tanda patogenetik primer diduga karena obstruksi lumen dan ulserasi mukosa menjadi langkah awal terjadinya appendicitis. Pada perkembangan selanjutnya. Sirkulasi darah pada dinding appendiks akan terganggu. lapisan serosa ditutupi oleh fibrinoid supuratif disertai nekrosis lokal disebut appendicitis akut supuratif. dinding menebal karena edema dan 11 pembuluh darah kongesti.

serta kelompok umur 5-14 tahun 58 orang (14. 35-44 tahun 15 orang (15. Jaringan ini menyebabkan terjadinya perlengketan dengan jaringan sekitarnya. serta kelompok umur 15-24 tahun 41 orang (41.0%).7%) laki-laki dan 113 orang (28. 55-64 tahun 1 orang (1.0%). KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) .8%). 25-34 tahun 102 orang (25.4%). Epidemiologi Appendicitis a. 20-24 tahun 99 12 orang (24.8%).532 orang (42%) perempuan. Penelitian Khanal (2004) di Rumah Sakit Tribhuvan Nepal pada 99 penderita appendicitis didapat 76 orang (76. Appendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh dengan sempurna.0%). 25-34 tahun 38 orang (38. 15-19 tahun 114 orang (28. kulit hitam 12%. Distribusi Appendicitis 1) Distribusi Appendicitis Berdasarkan Orang Penelitian Omran et al (2003) di Kanada pada 65. Penelitian Salari (2007) di Iran pada 400 penderita appendicitis didapat 287 orang (71.5%).2%). dan lainnya 7%.5%). tetapi akan membentuk jaringan parut.143 orang (58%) laki-laki dan 27. Penelitian Nwomeh (2006) di Amerika Serikat pada 788 penderita appendicitis didapat proporsi kulit putih 81%. 6. dan ≥35 tahun 27 orang (6.4%).5%). dan 65-74 tahun 1 orang (1. Pada suatu saat organ ini dapat mengalami peradangan kembali dan dinyatakan mengalami eksaserbasi. Perlengketan tersebut dapat kembali Universitas Sumatera Utara menimbulkan keluhan pada perut kanan bawah.2%) perempuan.675 penderita appendicitis didapat 38.8%) laki-laki dan 23 orang (23.3%) perempuan. 45-54 tahun 3 orang (3.

6 per 10.2 menjadi 9.7 menjadi 13.6%) daripada perkotaan (30. Penelitian Ballester et al (2003) di Spanyol terjadi peningkatan kasus appendicitis dari 11.2 per 10.000 penduduk periode tahun 1973-1993.7 menjadi 9.5 per 100. dan 18 per 1. Penelitian Bisset (1997) di Skotlandia terjadi penurunan kasus appendicitis dari 19.000 penduduk periode tahun 1975-1991.000 penduduk periode tahun 1998-2003. IR appendicitis 5 per 1. 2) Distribusi Appendicitis Berdasarkan Tempat Penelitian Richardson et al (2004) di Afrika Selatan. Penelitian Walker (1995) di Afrika Selatan terjadi peningkatan kasus appendicitis dari 8.000 penduduk di perkotaan. Penelitian Penfold et al (2008) di Amerika Serikat pada Universitas Sumatera Utara anak umur 2-20 tahun didapat bahwa perforasi appendicitis lebih cenderung di pedesaan (69.000 penduduk di periurban. Determinan Appendicitis 13 1) Faktor Host a) Umur KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . b. 9 per 1.000 penduduk di pedesaan.000 penduduk periode tahun 1987-1994.4%) 3) Distribusi Appendicitis Berdasarkan Waktu Penelitian Dombal (1994) di Amerika Serikat terjadi penurunan kasus appendicitis dari 100 menjadi 52 per 100.

4 : 1. Appendicitis dapat terjadi pada semua usia dan paling sering pada dewasa muda.6 Universitas Sumatera Utara per 100. Penelitian Addins (1996) di Amerika Serikat.3 per 10. Penelitian Addins (1996) di Amerika Serikat. kista ovarium. Sex Specific Morbidity Rate (SSMR) pria : wanita yaitu 8. Penelitian Richardson et al (2004) di Afrika Selatan.7 per 1.8 : 6. Penelitian Gunerhan (2008) di Turki didapat SSMR pria : wanita yaitu 154.5 : 1. appendicitis tertinggi pada usia 10-19 tahun dengan Age Specific Morbidity Rate (ASMR) 23.4 : 10. b) Jenis Kelamin Penelitian Omran et al (2003) di Kanada.7 : 1. Kesalahan diagnosa appendicitis 15-20% terjadi pada perempuan karena munculnya gangguan yang sama dengan appendicitis seperti pecahnya folikel ovarium.000 penduduk dengan rasio 1. kehamilan ektopik.7 : 144. 14 Penelitian Ponsky (2004) di Children's National Medical Center Amerika Serikat dengan desain Case Control pada anak KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . dan penyakit ginekologi lain. c) Ras Faktor ras berhubungan dengan pola makan terutama diet rendah serat dan pencarian pengobatan.000 penduduk dengan rasio 1.000 penduduk dengan rasio 1. Hal ini berhubungan dengan hiperplasi jaringan limfoid karena jaringan limfoid mencapai puncak pada usia pubertas. IR kulit putih : kulit hitam yaitu 2.3 per 10. IR kulit putih : kulit hitam yaitu 15. salpingitis akut.000 penduduk.000 penduduk dengan rasio 1.9 : 1.07: 1.2 per 10.

95% CI: 1. Lactobacilus sp.24 kali lebih besar pada anak kulit hitam (OR: 1. 95% CI: 1. 2) Faktor Agent Proses radang akut appendiks disebabkan invasi mikroorganisme yang ada di usus besar.10–1.01-1. Bakteri penyebab perforasi yaitu bakteri anaerob 96% dan aerob 4%. Pseudomonas sp.19.29) dibandingkan anak bukan penderita ruptur appendicitis. Penelitian Smink (2005) di Boston dengan desain Case Control pada anak umur 0-18 tahun didapat penderita ruptur appendicitis 1. 3) Faktor Environment Urbanisasi mempengaruhi transisi demografi dan terjadi perubahan pola makan dalam masyarakat seiring dengan peningkatan penghasilan yaitu konsumsi tinggi lemak dan rendah serat.24-2.66 kali lebih besar pada anak keturunan Asia (Odds Ratio [OR]: 1.13 kali lebih besar pada anak kulit hitam (OR: 1.24. umur 5-17 tahun didapat penderita ruptur appendicitis 1.13. 95% Confidence Interval [CI] : 1.39) dan 1.30) dibandingkan anak bukan penderita ruptur appendicitis. Pada kultur ditemukan kombinasi antara Bacteriodes fragililis dan Eschericia coli. Kebiasaan konsumsi rendah serat mempengaruhi defekasi dan KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . dan Bacteriodes splanicus. Splanchicus sp.23) dan 1.19 kali lebih besar pada anak hispanik (OR: 1. 95% CI: 1. Penelitian epidemiologi menunjukkan peran konsumsi rendah 15 serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya appendicitis.66.10–1.

edema. Ditandai dengan KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . mual. Gejala diawali dengan rasa nyeri di daerah umbilikus. dan kemerahan. Appendicitis Akut 1) Appendicitis Akut Sederhana (Cataral Appendicitis) Proses peradangan baru terjadi di mukosa dan sub mukosa disebabkan obstruksi. dan di dalam lumen terdapat eksudat fibrinopurulen. mukosa appendiks jadi menebal. hiperemia. 2) Appendicitis Akut Purlenta (Supurative Appendicitis) Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema menyebabkan terbendungnya aliran vena pada dinding appendiks dan menimbulkan trombosis. dan tidak ada eksudat serosa. Mikroorganisme yang ada di usus besar berinvasi ke dalam dinding appendiks menimbulkan infeksi serosa sehingga serosa menjadi suram karena dilapisi eksudat dan fibrin. Klasifikasi Appendicitis Adapun klasifikasi appendicitis berdasarkan klinikopatologis adalah sebagai berikut: a. Pada appendicitis Universitas Sumatera Utara kataral terjadi leukositosis dan appendiks terlihat normal. 16 Pada appendiks dan mesoappendiks terjadi edema. anoreksia. edema. fekalith menyebabkan obstruksi lumen sehingga memiliki risiko appendicitis yang lebih tinggi. hiperemia. 7. Sekresi mukosa menumpuk dalam lumen appendiks dan terjadi peningkatan tekanan dalam lumen yang mengganggu aliran limfe. muntah. malaise. Keadaan ini memperberat iskemia dan edema pada apendiks. dan demam ringan.

kolon dan peritoneum sehingga membentuk gumpalan massa flegmon yang melekat erat satu dengan yang lainnya. dan pelvic. lateral dari sekum. nyeri lepas di titik Mc Burney. Appendicitis Perforasi Appendicitis perforasi adalah pecahnya appendiks yang sudah 17 ganggren yang menyebabkan pus masuk ke dalam rongga perut sehingga KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . rangsangan peritoneum lokal seperti nyeri tekan. Appendicitis Abses Appendicitis abses terjadi bila massa lokal yang terbentuk berisi nanah (pus). d. b. Appendicitis Infiltrat Appendicitis infiltrat adalah proses radang appendiks yang penyebarannya dapat dibatasi oleh omentum. biasanya di fossa iliaka kanan. Dinding appendiks berwarna ungu. usus halus. c. Nyeri dan defans muskuler dapat terjadi pada seluruh perut disertai dengan tanda-tanda peritonitis umum. hijau keabuan atau merah kehitaman. Pada appendicitis akut gangrenosa terdapat mikroperforasi dan kenaikan cairan peritoneal yang purulen. dan nyeri pada gerak aktif dan pasif. sekum. retrocaecal. Selain didapatkan tanda-tanda supuratif. 3) Appendicitis Akut Ganggrenosa Bila tekanan dalam lumen terus bertambah. defans muskuler. subcaecal. aliran darah arteri mulai terganggu sehingga terjadi infrak dan ganggren. appendiks mengalami gangren pada bagian tertentu.

dan muntah yang timbul selang beberapa jam dan 18 merupakan kelanjutan dari rasa sakit yang timbul permulaan. mual. e. Pada dinding appendiks tampak daerah perforasi dikelilingi oleh jaringan nekrotik. di seluruh abdomen atau di kuadran kanan bawah merupakan gejala-gejala pertama. sub mukosa dan muskularis propia mengalami fibrosis. dinding appendiks menebal. Appendicitis Kronis Appendicitis kronis merupakan lanjutan appendicitis akut supuratif sebagai proses radang yang persisten akibat infeksi mikroorganisme dengan virulensi rendah. kekakuan otot. Secara histologis. khususnya obstruksi parsial terhadap lumen. c. Rasa nyeri menetap dan secara progesif bertambah hebat apabila pasien bergerak. Demam tidak tinggi (kurang dari 380 C). 8. dan konstipasi. terjadi peritonitis umum. Rasa sakit di daerah epigastrum. dan kadang-kadang berupa kejang. Rasa sakit ini samar-samar. ringan sampai moderat. dan serosa. Terdapat infiltrasi sel radang limfosit dan eosinofil pada sub mukosa. radang kronik appendiks secara makroskopik dan mikroskopik. Diagnosa appendicitis kronis baru dapat ditegakkan jika ada riwayat serangan nyeri berulang di perut kanan bawah lebih dari dua minggu. Anoreksia. b. KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . daerah periumbilikus. Pembuluh darah serosa tampak dilatasi. Gejala Appendicitis Beberapa gejala yang sering terjadi yaitu: a. Sesudah empat jam biasanya rasa nyeri itu sedikit demi sedikit menghilang kemudian beralih ke kuadran bawah kanan. muskularis propia.

c. Gastroenteritis Ditandai dengan terjadi mual. rasa nyeri tidak nyata. Nyeri tekan mungkin ditemukan juga di daerah panggul sebelah kanan jika appendiks terletak retrocaecal. Ditandai dengan nyeri perut kanan disertai dengan perasaan mual dan nyeri tekan perut. mengantuk. Letak appendiks mempengaruhi letak rasa nyeri. dan diare mendahului rasa sakit. Pada wanita hamil rasa nyeri terasa lebih tinggi di daerah abdomen dibandingkan dengan biasanya. e. Sakit perut lebih ringan. Diagnosa Banding Appendicitis Banyak masalah yang dihadapi saat menegakkan diagnosis appendicitis karena penyakit lain yang memberikan gambaran klinis yang hampir sama dengan appendicitis. dan terdapat nyeri lokal. Pada usia lanjut. Appendicitis pada bayi ditandai dengan rasa gelisah. Nyeri tekan didaerah kuadran kanan bawah. Demam dengue 19 KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . panas dan leukositosis kurang menonjol dibandingkan appendicitis akut. b. Limfadenitis Mesenterika Biasanya didahului oleh enteritis atau gastroenteritis. Rasa nyeri ditemukan di daerah rektum pada pemeriksaan rektum apabila posisi appendiks di pelvic. 9. d. muntah. hiperperistaltis sering ditemukan. diantaranya: a.

f. Batu ureter KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . Tidak ada tanda radang dan nyeri biasa hilang dalam waktu 24 jam. g. i. d. e. Dimulai dengan sakit perut mirip peritonitis dan diperoleh hasil positif untuk Rumple Leed. Gangguan alat reproduksi perempuan Folikel ovarium yang pecah dapat memberikan nyeri perut kanan bawah pada pertengahan siklus menstruasi. dan hematokrit yang meningkat. Kehamilan ektopik Hampir selalu ada riwayat terlambat haid dengan keluhan yang tidak jelas seperti ruptur tuba dan abortus. Divertikulosis Meckel Gambaran klinisnya hampir sama dengan appendicitis akut dan sering dihubungkan dengan komplikasi yang mirip pada appendicitis akut sehingga diperlukan pengobatan serta tindakan bedah yang sama. Kehamilan di luar rahim disertai pendarahan menimbulkan nyeri mendadak difus di pelvic dan bisa terjadi syok hipovolemik. Suhu biasanya lebih tinggi daripada appendicitis dan nyeri perut bagian bawah lebih difus. Infeksi panggul pada wanita biasanya disertai keputihan dan infeksi urin. Infeksi Panggul Salpingitis akut kanan sulit dibedakan dengan appendicitis akut. Ulkus peptikum perforasi Sangat mirip dengan appendicitis jika isi gastroduodenum 20 mengendap turun ke daerah usus bagian kanan sekum. trombositopeni. h.

Proporsi komplikasi appendicitis 10-32%. sedangkan tenaga medis meliputi kesalahan diagnosa. Adapun jenis komplikasi diantaranya: a. 10. Anak-anak memiliki dinding appendiks yang masih tipis. hematuria. 10-15% terjadi pada anak-anak dan orang tua. Komplikasi 93% terjadi pada anak-anak di bawah 2 tahun dan 40-75% pada orang tua. menunda diagnosa. skrotum. Abses Abses merupakan peradangan appendiks yang berisi pus. Teraba massa lunak di kuadran kanan bawah atau daerah pelvis. dan terlambat melakukan penanggulangan. Kondisi ini menyebabkan peningkatan angka morbiditas dan mortalitas. dan terjadi demam atau leukositosis. penis. omentum lebih pendek dan belum berkembang sempurna memudahkan terjadinya perforasi. 21 b. paling sering pada anak kecil dan orang tua. Jika diperkirakan mengendap dekat appendiks dan menyerupai appendicitis retrocaecal. terlambat merujuk ke rumah sakit. sedangkan pada orang tua terjadi gangguan pembuluh darah. Perforasi KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . Massa ini mula- mula berupa flegmon dan berkembang menjadi rongga yang mengandung pus. Nyeri menjalar ke labia. Komplikasi Appendicitis Komplikasi terjadi akibat keterlambatan penanganan appendicitis. Faktor keterlambatan dapat berasal dari penderita dan tenaga medis. Faktor penderita meliputi pengetahuan dan biaya. Hal ini terjadi bila appendicitis gangren atau mikroperforasi ditutupi oleh omentum. CFR komplikasi 2-5%.

Pencegahan Primer Pencegahan primer bertujuan untuk menghilangkan faktor risiko terhadap kejadian appendicitis. gangguan sirkulasi. 11. Perforasi adalah pecahnya appendiks yang berisi pus sehingga bakteri menyebar ke rongga perut. c. Pencegahan Appendicitis a. merupakan komplikasi berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. tetapi meningkat tajam sesudah 24 jam. dan leukositosis. Bila infeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum menyebabkan timbulnya peritonitis umum. usus meregang. muntah.50 C. Upaya yang dilakukan antara lain: 22 1) Diet Tinggi Serat KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . nyeri abdomen. tampak toksik. demam. panas lebih dari 38. dan leukositosis terutama polymorphonuclear (PMN). nyeri tekan seluruh perut. Upaya pencegahan primer dilakukan secara menyeluruh kepada masyarakat. Peritonitis Peritonitis adalah peradangan peritoneum. dan hilangnya cairan elektrolit mengakibatkan dehidrasi. baik berupa perforasi bebas maupun mikroperforasi dapat menyebabkan peritonitis. Perforasi. Peritonitis disertai rasa sakit perut yang semakin hebat. Aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik. syok. dan oligouria. Perforasi jarang terjadi dalam 12 jam pertama sejak awal sakit. Perforasi dapat diketahui praoperatif pada 70% kasus dengan gambaran klinis yang timbul lebih dari 36 jam sejak sakit.

Pengerasan feces memungkinkan adanya bagian yang terselip masuk ke saluran appendiks dan menjadi media kuman/bakteri berkembang biak sebagai infeksi yang menimbulkan peradangan pada appendiks. Hasil penelitian membuktikan bahwa diet tinggi serat mempunyai efek proteksi untuk kejadian penyakit saluran pencernaan. Pencegahan Sekunder KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . Berbagai penelitian telah melaporkan hubungan antara konsumsi serat dan insidens timbulnya berbagai macam penyakit.40 Serat dalam makanan mempunyai kemampuan mengikat air. Konstipasi menaikkan tekanan intracaecal sehingga terjadi sumbatan fungsional appendiks dan meningkatnya pertumbuhan flora normal kolon. respon fisiologi pada pemasukan makanan dan keteraturan pola aktivitas peristaltik di kolon. Individu yang makan pada waktu yang sama setiap hari mempunyai suatu keteraturan waktu. 23 b. Makanan yang mengandung serat penting untuk memperbesar volume feces dan makan yang teratur mempengaruhi defekasi. Frekuensi defekasi yang jarang akan mempengaruhi konsistensi feces yang lebih padat sehingga terjadi konstipasi. 2) Defekasi Yang Teratur Makanan adalah faktor utama yang mempengaruhi pengeluaran feces. dan pektin yang membantu mempercepat sisi-sisa makanan untuk diekskresikan keluar sehingga tidak terjadi konstipasi yang mengakibatkan penekanan pada dinding kolon. selulosa.

Jika saat dilakukan pemeriksaan ini terasa nyeri. apabila ditekan akan terasa nyeri dan bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri. Pencegahan sekunder meliputi diagnosa dini dan pengobatan yang tepat untuk mencegah timbulnya komplikasi 1) Diagnosa Appendicitis Diagnosa yang dilakukan antara lain: a) Pemeriksaan Fisik (1) Inspeksi Pada appendicitis akut tidak ditemukan gambaran yang spesifik dan terlihat distensi perut. (3) Pemeriksaan Rektum Pemeriksaan ini dilakukan pada appendicitis untuk menentukan letak appendiks apabila letaknya sulit diketahui. maka kemungkinan appendiks yang meradang terletak di daerah pelvic. Apabila tekanan di perut kiri bawah dilepaskan juga akan terasa nyeri pada perut kanan bawah yang disebut tanda Blumberg (Blumberg Sign). Nyeri tekan perut kanan bawah merupakan kunci diagnosa appendicitis. Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasakan nyeri pada perut kanan bawah yang disebut tanda Rovsing (Rovsing Sign). 24 (4) Pemeriksaan Uji Psoas dan Uji Obturator KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . (2) Palpasi Pada daerah perut kanan bawah.

maka tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri. Pada KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . Angka sensitivitas dan spesifisitas CRP yaitu 80% dan 90%. Uji psoas dilakukan dengan rangsangan otot psoas lewat hiperektensi sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan. sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serum yang meningkat. maka tindakan ini akan menimbulkan nyeri. CRP adalah salah satu komponen protein fase akut yang akan meningkat 4-6 jam setelah terjadinya proses inflamasi. dapat dilihat melalui proses elektroforesis serum protein.000-18. Bila appendiks yang meradang menempel di m. (2) Radiologi 25 Terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi (USG) dan Computed Tomography Scanning (CT-scan). Bila appendiks yang meradang kontak dengan obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui letak appendiks yang meradang. Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara 10. b) Pemeriksaan Penunjang (1) Laboratorium Terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan C-reactive protein (CRP).000/mm3 (leukositosis) dan neutrofil diatas 75%. Pada uji obturator dilakukan gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang. psoas mayor. kemudian paha kanan ditahan.

Pemeriksaan Barium enema dan Colonoscopy merupakan pemeriksaan awal untuk kemungkinan karsinoma colon. (3) Analisa Urin Bertujuan untuk mendiagnosa batu ureter dan kemungkinan infeksi saluran kemih sebagai akibat dari nyeri perut bawah. (5) Serum Beta Human Chorionic Gonadotrophin (B-HCG) Untuk memeriksa adanya kemungkinan kehamilan. (7) Pemeriksaan Foto Polos Abdomen 26 KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . dan pankreas. Tingkat akurasi USG 90-94% dengan angka sensitivitas dan spesifisitas yaitu 85% dan 92%. pemeriksaan USG ditemukan bagian memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada appendiks. sedangkan CT-Scan mempunyai tingkat akurasi 94-100% dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi yaitu 90-100% dan 96-97%. kandung empedu. (4) Pengukuran Enzim Hati dan Tingkatan Amilase Membantu mendiagnosa peradangan hati. (6) Pemeriksaan Barium Enema Untuk menentukan lokasi sekum. sedangkan pada pemeriksaan CT-scan ditemukan bagian yang menyilang dengan fekalith dan perluasan dari appendiks yang mengalami inflamasi serta adanya pelebaran sekum.

Bila diperkirakan terjadi perforasi maka abdomen dicuci dengan garam KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . 2) Penatalaksanaan Medis Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada penderita appendicitis meliputi penanggulangan konservatif dan operasi. Tidak menunjukkan tanda pasti appendicitis. Penundaan appendektomi dengan pemberian antibiotik dapat mengakibatkan abses dan perforasi. Pencegahan Tersier Tujuan utama dari pencegahan tersier yaitu mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat seperti komplikasi intra-abdomen. (2) Operasi Operasi Bila diagnosa sudah tepat dan jelas ditemukan appendicitis maka tindakan yang dilakukan adalah operasi membuang appendiks (appendektomi). Pada abses appendiks dilakukan drainage (mengeluarkan nanah). (1) Penangnggulangan Konservatif Penanggulangan konservatif terutama diberikan pada penderita yang tidak mempunyai akses ke pelayanan bedah berupa pemberian antibiotik. Pada penderita appendicitis perforasi. 27 Komplikasi utama adalah infeksi luka dan abses intraperitonium. sebelum operasi dilakukan penggantian cairan dan elektrolit. c. tetapi mempunyai arti penting dalam membedakan appendicitis dengan obstruksi usus halus atau batu ureter kanan. serta pemberian antibiotik sistemik. Pemberian antibiotik berguna untuk mencegah infeksi.

nyeri dirasakan seperti tertusuk tusuk. jenis kelamin. fisiologis atau antibiotik. nyeri dirasakan pada luka bekas operasi dengan skala (0-10) dan nyeri timbul memberat ketika bergerak. e. b. Jenis kelamin dalam hal ini klien adalah laki - laki berusia lebih dari 50 tahun. Pengkajian a. Pasca appendektomi diperlukan perawatan intensif dan pemberian antibiotik dengan lama terapi disesuaikan dengan besar infeksi intra-abdomen. Konsep Dasar Askep 1. agama. pekerjaan. KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . B. pendidikan. Pola – pola fungsi kesehatan 1) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat 28 Timbulnya perubahan pemeliharaan kesehatan karena di rawat di rumah sakit. umur. penghasilan dan alamat. suku bangsa/ras. Riwayat penyakit dahulu Kebiasaan makan makanan rendah serat yang dapat menimbulkan konstipasi sehingga meningkatkan tekanan intrasekal yang menimbulkan timbulnya sumbatan fungsi appendiks dan meningkatkan pertumbuhan kuman folar kolon sehingga menjadi appendisitis akut. bahasa yang dipakai. Identitas klien Merupakan biodata klien yang meliputi : nama. Riwayat penyakit sekarang Timbul keluhan nyeri perut. d. c. Keluhan utama Keluhan utama nyeri bekas luka operasi.

dan pasien akan dilatih untuk berkemih. pengecap. setelah 6 jam pasien diharapkan pasien sudah mampu untuk bergerak miring kanan dan miring kiri dan dilanjutkan dengan duduk kemudian berjalan. 2) Pola nutrisi dan metabolisme Klien yang di lakukan anasthesi tidak boleh makan dan minum seblum flatus. Namun. pendengaran. peraba. KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . 4) Pola aktivitas dan latihan Adanya keterbatasan aktivitas karena kondisi klien yang lemah. dan penciuman tidak mengalami gangguan 7) Pola persepsi dan konsep diri Klien dapat mengalami cemas karena ketidaktahuan tentang perawatan post operasi appendiks. 6) Pola kognitif perseptual Sistem pengelihatan. 8) Pola hubungan dan peran Karena klien harus menjalani perawatan dirumah sakit maka 29 dapat mempengaruhi hubungan dan peran klien baik dalam keluarga. 5) Pola tidur dan istirahat Rasa nyeri akibat post operasi dan perubahan situasi karena hospitalisasi dapat mempengaruhi pola tidur dan istirahat. pasien masih menggunakan dower chateter karena masih dalam pengaruh anastesi. tempat kerja. 3) Pola eliminasi Setelah menjalani post operasi appendiks. dan masyarakat.

b. 10) Pola penanggulangan stress Stress dapat dialami klien karena kurang pengetahuan tentang perawatan post operasi. Diagnosa Keperawatan a. Diagnosa Post-tindakan 1) Nyeri akut berhubungan trauma jaringan dan refleks spasme otot sekunder akibat operasi 2) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme sekunder akibat pembedahan 30 KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . Diagnosa Pre-tindakan 1) Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi dan spasme otot polos sekunder akibat infeksi gastrointestinal. Gali adanya stress pada klien dan mekanisme koping klien terhadap stres tersbut 11) Pola tata nilai dan kepercayaan Adanya dower chateter dan nyeri post operasi memerlukan adaptasi klien dalam menjalankan ibadahnya . 2) Hipertermia berhubungan dengan penyakit atau trauma. 2. 9) Pola reproduksi seksual Klien tidak mengalami masalah produksi karena bekas operasi tidak ada hubungannya dengan alat reproduksi. 4) Ansietas berhubungan dengan krisis situasional. 3) Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah.

x 24 jam diharapkan pasien dapat melakukan manajemen nyeri dengan kriteria hasil : a) Pasien tampak lebih tenang. b) Beri lingkungan yang nyaman. R/ : Untuk mengetahui tingkat nyeri pasien dan membandingkan sebelum dan sesudah dilakukan intervensi. b) Pasien dapat melakukan aktivitas ringan. seperti bermain dengan orang tua. c) Lakukan tehnik distraksi. Intervensi a... 3) Defisit pengetahuan (perawatan luka post operasi) berhubungan dengan kurangnya paparan informasi mengenai perawatan luka post operasi. c) Pasien tidak meringis kesakitan lagi. R/ : Lingkungan berpengaruh terhadap keadaan nyeri pasien. 31 KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . Intervensi : a) Observasi skala nyeri pasien.. Diagnosa Pre-tindakan 1) Diagnosa 1 : Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi dan spasme otot polos sekunder akibat infeksi gastrointestinal Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama . 3.

d) Pantau perkembangan nyeri pasien... c) Lakukan kompres air hangat. R/ : Keadaan lingkungan berpengaruh terhadap keadaan pasien. d) Ukur TTV. 32 R/ : Untuk mengetahui perubahan suhu tubuh pasien. Intervensi : a) Observasi TTV.. R/ : Untuk membandingkan TTV sebelum dan sesudah intervensi dilakukan. 2) Diagnosa 2 : Hipertermia berhubungan dengan penyakit atau trauma Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama . R/ : Untuk segera mengambil tindakan rujukan apabila nyeri yang dialami pasien sudah tidak dapat ditoleransi lagi. R/ : Dengan mengalihkan perhatian pasien diharapkan perhatian pasien tidak terfokus pada nyeri sehingga pasien dapat memanajemen nyeri. KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . R/ : Untuk mengembalikan fungsi termostat dalam keadaan normal.5 – 37. x 24 jam diharapkan suhu tubuh pasien dapat turun menjadi rentang normal (36.5o C / aksila). b) Beri lingkungan yang nyaman.

3) Diagnosa 3 : Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ... c) Pasien tampak segar.. R/ : Untuk menjaga keseimbangan volume cairan tubuh. R/ : Untuk memenuhi kebutuhan cairan pasien..x 24 jam diharapkan cemas pasien berkurang. dengan kriteria hasil : KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) ... c) Apabila pasien menunjukkan tanda-tanda dehidrasi. Intervensi : a) Kaji tanda-tanda dehidrasi pasien. jangan memberi cairan per oral karena pasien yang akan dilakukan tindakan apendiktomi harus dipuasakan. berikan cairan melalui intravena.x 24 jam diharapkan kebutuhan cairan pasien dapat terpenuhi dengan kriteria hasil : a) Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit normal. R/ : Untuk melihat apakah pasien mengalami tanda-tanda dehidrasi agar dapat mengetahui tindakan yang harus dilakukan. 4) Diagnosa 4 : Ansietas berhubungan dengan krisis situasional Tujuan : 33 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama . mukosa bibir tidak kering) b) Pasien tidak merasa haus. b) Awasi cairan masuk dan cairan keluar.

b) Lakukan BHSP apabila keadaan emosi pasien saat itu memungkinkan. b) Pasien kooperatif dengan tindakan keperawatan dan tindakan medis yang akan dilakukan. R/ : Dengan mengetahui keadaan pasien saat itu. e) Berikan feed back positif dan berikan support kepada pasien. R/ : Agar emosi pasien dapat tersalurkan sehingga pasien merasa lebih tenang. 34 KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . d) Biarkan pasien mengungkap perasaannya. R/ : Sebelum melakukan tindakan keperawatan. a) Pasien tampak tenang. R/ : Agar pasien merasa nyaman dan merasa ada yang mendukungnya. c) Eksplorasi perasaan pasien. R/ : Untuk menggali lebih jauh apa yang dirasakan pasien. Intervensi : a) Kaji keadaan emosi pasien. jadi kita dapat menentukan tindakan dan waktu yang tepat untuk melakukan tindakan keperawatan. kita harus melaksanakan pendekatan agar tindakan keperawatan yang dilakukan lebih mudah.

b) Beri lingkungan yang nyaman. Diagnosa Post-tindakan 1) Diagnosa 1 : Nyeri akut berhubungan trauma jaringan dan refleks spasme otot sekunder akibat operasi Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama . Intervensi : a) Observasi skala nyeri pasien. R/ : Dengan mengalihkan perhatian pasien diharapkan perhatian pasien tidak terfokus pada nyeri sehingga pasien dapat memanajemen nyeri. d) Beri analgetik 35 R/ : Untuk mengurangi nyeri pasien. c) Pasien dapat melakukan aktivitas ringan.x 24 jam. b) Pasien tampak tenang.. b. KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . diharapkan nyeri yang dialami pasien berkurang dengan kriteria hasil : a) Pasien tidak meringis. c) Lakukan tehnik distraksi. R/ : Untuk mengetahui tingkat nyeri pasien dan membandingkan sebelum dan sesudah dilakukan intervensi. R/ : Lingkungan berpengaruh terhadap keadaan nyeri pasien. seperti bermain dengan orang tua.

R/ : Untuk melihat apakah ada tanda-tanda infeksi (kalor. dolor. dan perubahan fungsi). dolor. 36 KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . b) Lakukan perawatan luka.. R/ : Ganti balutan agar luka post-op tetap kering. e) Berikan salep betadine di atas luka pasien. c) Jaga luka agar tetap steril.. 2) Diagnosa 2 : Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme sekunder akibat pembedahan Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama . tumor. pus. perubahan fungsi) Intervensi : a) Kaji tanda-tanda infeksi pada pasien. R/ : Untuk menghindari perkembangan bakteri pada luka. menjaga luka agar tetap kering. lubor. R/ : Untuk mencegah infeksi pada luka.. tumor. jaringan nekrotik. d) Informasikan kepada keluagra pasien untuk tidak membuka balutan luka. R/ : Luka yang lembab menyebabkan infeksi karena bakteri dapat berkembang. lubor.x 24 jam diharapkan luka pasien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi (kalor.

e) Evaluasi tingkat pengetahuan pasien.. d) Berikan kesempatan kepada orang tua pasien untuk mengungkapkan perasaannya. Intervensi: a) Kaji tingkat pengetahuan orang tua pasien. c) Berikan penjelasan mengenai perawatan luka kepada orang tua pasien. R/ mempermudah perawat dalam melakukan tindakan keperawatan. R/ memberikan penjelasan kepada orang tua pasien.. 37 KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) .x 24 jam diharapkan tingkat pengetahuan orang tua pasien tentang perawatan luka dapat meningkat. b) Lakukan BHSP. 3) Diagnosa 3 : Defisit pengetahuan (perawatan luka post operasi) berhubungan dengan kurangnya paparan informasi mengenai perawatan luka post operasi Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama . R/ memberikan kesempatan kepada orang tua pasien untuk mengungkap kesulitan yang dihadapi. R/ untuk mengetahui keberhasilan intervensi. R/ menentukan cara penyampaian informasi kepada keluarga pasien.

Implementasi Implementasi dilakukan sesuai dengan perencanaan yang dibuat 5.5 - o C / aksila). 38 KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . perubahan fungsi) 3) Tingkat pengetahuan orang tua pasien tentang perawatan luka dapat meningkat.5 – 37. 3) Kebutuhan cairan pasien dapat terpenuhi 4) Cemas pasien berkurang b) Diagnosa Post-tindakan 1) Nyeri yang dialami pasien berkurang 2) Luka pasien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi (kalor. 4. tumor. dolor. Evaluasi a) Diagnosa Pre-tindakan 1) Pasien dapat melakukan manajemen nyeri 2) Suhu tubuh pasien dapat turun menjadi rentang normal (36. lubor.

Hambatan aliran lendir di muara appendiks tampaknya berperan pada patogenesis appendicitis Appendicitis adalah infeksi pada appendiks karena tersumbatnya lumen oleh fekalith (batu feces). dan suram. Obstruksi lumen merupakan penyebab utama appendicitis. Appendiks disebut tonsil abdomen karena ditemukan banyak jaringan limfoid. Pada stadium paling dini. Biasanya neutrofil dan ulserasi juga terdapat di dalam mukosa. Lendir itu secara normal dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. hanya sedikit eksudat neutrofil ditemukan di seluruh mukosa. Kriteria histologik untuk diagnosis apendisitis akut adalah infiltrasi 39 neutrofilik muskularis propria. jumlahnya meningkat selama pubertas sampai puncaknya berjumlah sekitar 200 folikel antara usia 12-20 tahun dan menetap saat dewasa. granular. dan Enterobius vermikularis. Reaksi peradangan mengubah serosa yang normalnya berkilap menjadi membran yang merah. Erosi membran mukosa appendiks dapat terjadi karena parasit seperti Entamoeba histolytica. dan cacing usus. hiperplasi jaringan limfoid. Trichuris trichiura. Jaringan limfoid pertama kali muncul pada appendiks sekitar dua minggu setelah lahir. Appendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. submukosa. Perubahan ini menandakan apendisitis akut dini bagi dokter bedah. dan muskularis propria. Kesimpulan Appendiks merupakan organ yang berbentuk tabung dengan panjang kira- kira 10 cm dan berpangkal pada sekum. BAB III Penutup A. KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) .

40 KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . Oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Saran Dalam penyusunan makalah ini kami menyadari sebagai manusia biasa tak lepas dari kekurangan.B.

id/280/1/BAB%20I.ac. Diakses pada tanggal 18 Maret 2017.pdf Handayani. 2012. Jakarta: EGC NANDA. 2.unipdu. ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.ums. Diagnosis Keperawatan NANDA : Definisi dan Klasifikasi.id/18672/ 41 KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH (APPENDICITIS) . 2016. Diakses pada tanggal 18 Maret 2017 http://eprints.Daftar Pustaka Brunner & Suddarth. J POST APPENDIKTOMY DI BANGSAL MAWAR RSUD Dr SOEDIRAN MANGUN SUMARSO WONOGIRI. Kirom.ac. Asuhan Kperawatan Pada Pasien Appendicitis. Diakses pada tanggal 18 Maret 2017 http://repository. 2012. 2017. M. 2008.ac.pdf Anonim. http://eprints. Esti.usu. Keperawatan Medikal Bedah Vol. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Post Operasi Appendicitis Dengan Nyeri Di Pavilliun Mawar RSUD JOMBANG.id/bitstream/123456789/19162/4/Chapter%20II.