You are on page 1of 23

LAPORAN PENDAHULUAN

COMBUSTIO

A. Definisi Luka Bakar
Ada beberapa definisi combustio yang dikemukakan oleh beberapa ahli,
diantaranya :
1. Luka bakar adalah kerusakan jaringan tubuh (kulit) yang disebabkan
oleh berbagai hal antara lain jilatan api, air panas dan zat kimia (Dr.
Med. A. Ramlidan Pamoentjah, 1996 ).
2. Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak dengan suhu
tinggi seperti api, air panas, listrik, bahan kimia dan radiasi, juga dapat
disebabkan oleh kontak suhu rendah (Kapita Selekta Kedokteran Jilid
2, 2000)
3. Luka bakar adalah kerusakan jaringan tubuh atau cidera traumatic
yang sisebabkan oleh panas (air panas, api, uap panas) aliran listrik,
bahan kimia, radiasi (agen radioaktif).
4. Luka bakar adalah kerusakan jaringan tubuh terutama kulit akibat
langsung atau ekspose dengan sumber panas (thermal), kimia, elektrik
dan radiasi (Joyce, MB, 1997).
5. Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh trauma panas yang
memberikan gejala, ergantung luas dalam dan lokasi lukanya (Tim
Bedah, FKUA, 1999).
Klasifikasi Luka Bakar
a. Kedalaman luka bakar
Respons lokal terhadap luka bakar tergantung pada dalamnya
kerusakan kulit. Adapun klasifikasinya sebagai berikut :
a) Luka bakar derajat satu
Epidermis mengalami kerusakan atau cedera dan sebagian dermis
turut cedera. Luka tersebut bisa terasa nyeri, tampak merah dan
kering seperti luka bakar matahari atau mengalami lepuh/bullae.
b) Luka bakar derajat dua

1

Meliputi destruksi epidermis serta lapisan atas dermis dan cedera
pada bagian dermis yang lebih dalam. Luka bakar tersebut terasa
nyeri, tampak merah dan mengalami eksudasi cairan. Pemutihan
jaringan yang terbakar diikuti oleh pengisian kembali kapiler,
folikel rambut masih utuh.
c) Luka bakar derajat tiga
Meliputi destruksi total epidermis serta dermis dan pada sebagian
kasus, jaringan yang berada dibawahnya. Warna luka bakar sangat
berpariasi mulai dari warna putih hingga merah, coklat atau hitam.
Daerah yang terbakar tidak terasa nyeri karena serabut – serabut
sarafnya hancur. Luka bakar tersebut tampak seperti bahan kulit.
Folikel rambut dan bahan keringat turut hancur.
b. Keparahan luka bakar
a) Luka bakar minor
Cedera ketebalan parsial dengan LPTT lebih kecil dari 15% pada
orang dewasa atau LPTT 10% pada anak – anak atau cedera
ketebalan penuh LPTT kurang dari 2% yang tidak disertai
komplikasi.
b) Luka bakar sedang tak terkomplikasi
Ketebalan parsial dengan LPTT dari 15% sampai 25% pada orang
dewasa atau LPTT dari 10% sampai 20% pada anak – anak atau
cedera ketebalan penuh dengan LPTT kurang dari 10% tanpa
disertai komplikasi.
c) Cedera luka bakar mayor
Cedera ketebaln parsial dengan LPTT lebih dari 25% pada orang
dewasa atau lebih dari 20% pada anak – anak. Cedera ketebalan
penuh dengan LPTT 10% atau lebih besar.

Penentuan luas luka bakar
1) Penggunaan “Rule Of Nine”
Metode ini membagi permukaan tubuh pada dewasa kedalam
persentase yang sama dengan 100%
Keterangan :
a) Kepala dan leher 9%

2

tangan . sengatan listrik  Mengenai muka. perineum. 3 . telinga. b. Luka bakar berat  Cedera ketebalan parsial dengan LPTT > 25% pada orang dewasa LPTT > 20% pada anak – anak  Cedera ketebalan penuh dengan LPTT ≥ 10%  Cedera inhalasi.25% pada orang dewasa  LPTT > 10% . kaki. gagal jantung kongestif.20% pada anak – anak.  Luka pada seseorang yang sebelumnya telah memiliki peyakit (diabetes mellitus. GGK). Luka bakar moderate/sedang  Ketebalan parsial dengan LPTT > 15% . mata. b) Ekstremitas atas kiri 9% c) Ekstremitas atas kanan 9% d) Tubuh bagian belakang 18% e) Tubuh bagian depan 18% f) Genitalia 1% g) Ekstremitas bawah kiri kanan 18% 100% 2) Klasifikasi tingkat kegawatan luka bakar : a.

2000) dan (Long. yang sering memasuki benda konduktif kedalam colokan listrik yang menggigit atau menghisap kabel listrik yang tersambung (Herndon dkk. 4. air panas.  Ketebalan penuh dengan LPTT < 10%  Tidak ada luka / komplikasi lain  Tidak ada riwayat penyakit sebelumnya. c. Luka bakar listrik Cedera listrik yang disebabkan oleh aliran listrik dirumah merupakan insiden tertinggi pada anak – anak yang masih kecil. Dasar cedera menjadi lebih berat dari cedera yang terlihat. E. atau kontak dengan objek panas. Luka bakar termal Agen pecendera dapat berupa api. 1996). luka bakar api berhubungan dengan asap atau cedera inhalasi (cedera terbakar. serta konsentrasi dan suhu agen. Luka bakar ringan  Ketebalan parsial dengan LPTT > 15% pada orang dewasa LPTT < 20% pada anak  Ketebalan penuh dengan LPTT < 2%  Tanpa komplikasi B. Patofisiologi 4 . Luka bakar radiasi Luka bakar bila terpapar pada bahan radioaktif dosis tinggi. C. (Doenges. kontak dan kobaran api). 1996). Etiologi Penyebab luka pada luka bakar adalah : 1. 3.M. Luka bakar kimia Terjadi dari tife atau kandungan agen pencedera. 2. Terjadi dari tife /voltase aliran yang menghasilkan proporsi panas untuk tahanan dan mengirimkan jalan sedikit tahanan (contoh saraf memberikan tahanan kecil dan tulang merupakan tahanan terbesar).

Kehilangan volume cairan akan mempengaruhi nilai normal cairan dan elektrolit tubuh yang selanjutnya akan terlihat dari hasil laboratorium. sehingga air. 2) Ekskresi kalium. 3.Akibat pertama luka bakar adalah syok karena kaget dan kesakitan. Hilangnya kemampuan mengendalikan suhu. Akibat luka bakar. Peningkatan mineral kortikoid 1) Retensi air. 2. Donna (1991) mengatakan bahwa kehilangan cairan tubuh pada pasien luka bakar dapat disebabkan oleh beberapa factor antara lain : a. Kelenjar keringan dan uap. Mengingat permeabilitas menyebabkan udem dan menimbulkan bula dengan serta elektrolit. Banyak kehilangan reseptor sensori. fungsi kulit yang hilang berakibat terjadi perubahan fisiologi. Cairan tubuh terbuang. diantaranya adalah : 1. 4. Perbedaan tekanan osmotic intra dan ektrasel. 5 . b. natrium. Pembuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi rusak dan permeabilitas tinggi. Kerusakan kulit akibat luka bakar menyebabkan kehilangan cairan tambahan karena penguapan yang berlebihan. 5. natrium dan klorida. klorida dan protein akan keluar dari sel dan menyebabkan terjadinya edema yang dapat berlanjut pada keadaan hipovolemi dan hemo konsentrasi. Sel darah di dalamnya ikut rusak sehingga dapat menjadi anemia. Hilangnya daya lindung terhadap infeksi. Peningkatan permeabilitas pembuluh darah : keluarnya elektrolit dan protein dari pembuluh darah. Luka bakar mengakibatkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah. c. cairan masuk ke bula yang terbentuk pada luka bakar derajat III dan pengeluaran cairan dari keropeng luka bakar derajat III. Hal ini menyebabkan berkurangnya volume cairan intravaskuler.

3) Respon gastro intestinal Respon umum yang biasa terjadi pada pasien luka bakar > 20% adalah penurunan aktivitas gastrointestinal. hemokonsentrasi sel darah merah. maka aliran plasma ke ginjal dan GFR (laju filtrasi glomelurus) mengakibatkan haluaran urin akan menurun. penurunan perfusi pada organ mayor dan edema menyeluruh. 6 . Burn syok (syok hipovolemik) atau syok luka bakar merupakan komplikasi yang sering dialami pasien dengan luka bakar luas karena hipovolemik yang tidak segera diatasi. maka jaringan interstisial dapa ditarik kembali ke intravaskuler dan akan terjadi vase dieresis. Manifestasi sistemik tubuh terhadap kondisi ini (Brunner and Suddart. Hal ini disebabkan oleh kombinasi efek respon hipovolemik dan neurologic serta respon endokrin terhadap perlukaan luas. 2002) adalah berupa : 1) Respon kardiovaskuler Perpindahan cairan dari intravaskuler ke ekstravaskuler melalui kebocoran kapiler yang mengakibatkan kehilangan Na. air dan protein plasma serta edemajaringan yang diikuti dengan penurunan curah jantung. Dengan resusitasi cairan yang adekuat. Jika resusitasi cairan untuk kebutuhan intravaskuler tidak adekuat atau terllambat diberikan. 2) Respon renalis Dengan menurunnya volume intravaskuler. maka akan memungkinkan terjadinya gagal ginjal akut. Pemasangan NGT akan mencegah distensi abdomen. Seluruh system tubuh menunjukkan perubahan reaksi fisiologi sebagai respon kompensasi terhadap luka bakar. Luka bakar akan mengakibatkan tidak hanya kerusakan kulit tetapi juga mempengaruhi system tubuh pasien. yang luas (mayor) tubuh tidak mampu lagi untuk mengkompensasi sehingga timbul berbagai macam komplikasi.

Takikardi 8. Sesak 6. 2. Hipertropi jaringan parut: Pembentukan jaringan parut terjadi pada 6 bulan post luka bakar dengan warna awal merah muda dan menimbulkan rasa gatal. Nyeri 2. Pemberian posisi yang baik dan benar sejak dini 7 . 4) Respon imunologi a) Respon barier mekanik Kulit berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri yang penting dari organism yamg mungkin masuk. aktifitas gastrointestinal akan kembali normal pada 24 – 48 jam setelah luka bakar. muntah dan potensi aspirasi. Terjadi gangguan integritas kulit akan memungkinkan mikroorganisme masuk kedalam tubuh. Tarcypnea 9. Mual muntah E. Tubuh terasa panas 5. Kontraktur Komplikasi yang hampir selalu menyertai luka bakar dan menimbulkan gangguan fungsi pergerakan. Edema 7. Komplikasi 1. untuk mencegahan dapat dilakukan dengan cara : a. D. Dengan resusitasi yang adekuat. Pertumbuhan jaringan perut tidak dapat dicegah tetapi dengan tindakan konserpatif dapat diantisipasi sejak minggu awal fase penyembuhan luka. Kesemutan 3. b) Respon imun seluler. Manifestasi klinis 1. Kehausan 4. Kulit terbakar atau melepuh 10.

Ht. 8. ureum.lain. 10. Laboratorium : Hb. albumin. 5. thrmbosit. F. Pembilasan luka bakar kimia dengan air diteruskan kateter 8 . Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap. khususnya pada cedera inhalasi asap. Penatalaksanaan 1. 11. BUN dan kreatinin mengkaji fungsi ginjal. 12. 3. Rontgen : foto thorax dan lain – lain. leukosit. analisa gas darah (bila perlu). Elektrolit serum mendeteksi ketidakseimbangan cairan dan biokimia. 2. CVP : untuk mengetahui tekanan vena sentral. G. gula darah. diperlukan pada luka bakar lebih dari 30% dewasa dan lebih dari 20% pada anak. hapusan luka. Kadar karbon monoksida serum meningkat pada cedera inhalasi asap. EKG 4. breathing & circulation ) untuk cidera paru yang ringan udara pernafasan dilembabkan dan pasien didorong supaya batuk sehingga sekret di saluran nafas dapat dikeluarkan dengan pengisapan untuk situasi yang lebih parah diperlukan pengeluaran sekret dengan penghisapan bronkus dan pemberian preparat bronkodilator serta mukolitik. Ambulasi dilakukan 2-3 kali sehari sesegera mungkin. Preasure garment adalah pakaian yang dapat memberikan tekanan yang bertujuan menekan terjadinya hipertropi tetapi mendukung terjadinya kontraktur. Gas darah arteri (GDA) dan sinar X dada mengkaji fungsi pulmonal. b. Jika terpasang alat-alat perlu dihisapkan atau dibantu (ambulasi pasif) c. Urinalisis menunjukkan mioglobin dan hemokromogen menandakan kerusakan otot pada luka bakar ketebalan penuh luas. elektrolit. LED : mengkaji hemokpnsentrasi 6. protein. Koagulasi memeriksa factor – factor pembekuan yang dapat menurunkan pada luka bakar pasif. dan lain. urine lengkap. Penatalaksanaan Medis Prioritas pertama perhatikan ABC (airway. 9. kreatinin. 7. Pemeriksaan penunjang 1.

Infeksi Didefinisikan sebagai pertumbuhan dan organisme pada luka yang berhubungan dengan reaksi jaringan dan tergantung pada banyak mikroorganisme patogen dan mengikat dengan virulensi dan resistensi dari pasien. infeksi dan penanganan luka a. kolonisasi merupakan pertumbuhan jaringan luka tetapi tidak ada tanda-tanda infeksi. b. Penatalaksanaan Keperawatan Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu penyembuhan luka. fetidin) c. 2) Fase fibroblastik Fase yang dimulai pada hari ke 4-20 pasca luka bakar sampai timbul fibroblast yang membentuk kolagen berwarna kemerahan 3) Fase maturasi Terjadi proses pematangan kolagen berlangsung 8 bulan sampai lebih dari satu tahun dan berakhir jika tidak ada tanda-tanda radang. Analgetik : (morfin. Infeksi beda dengan kolonisasi. Obat – obatan a. Penyembuhan Terbagi dalam 3 fase : 1) Fase inflamasi : Fase yang berentang dari terjadinya luka bakar sampai 3-4 hari pasca luka bakar. Antasida : kalau perlu 2. c. Penanganan luka 1) Pendinginan luka 9 . urin indwelling dipasang untuk memungkinkan pemantauan haluaran urin dan faal ginjal yang lebih adekuat / akurat. Daerah luka mengeluarkan serotonin dan timbul epitelisasi. Antibiotic : tidak diberikan bila pasien datang < 6 jam sejak kejadian b.

2) Debridemen Membersihkan luka dari jaringan nekrosis atau bahan lain yang menempel pada luka. 3) Pembedahan Dilakukan tindakan ekskaratomi merupakan tindakan pembedahan utama untuk mengatasi perfusi jaringan yang tidak adekuat karena adanya eschar yang menekan vaskuler dan dapat dilakukan eksisi tangensial yaitu tindakan membuang jaringan sampai tepat diatas fasia dimana tahap fleksus pembuluh darah sehingga bisa dilakukan operasi fandus kulit ( skin graf ). 10 . Dilakukan untuk mengurangi perluasan kerusakan fisik sel. Pasien memerlukan ruangan khusus serta terpisah dengan pasien yang lain yang bisa menimbulkan infeksi silang. mencegah terjadinya infeksi luka mempercepat proses penyembuhan. mencegah dehidrasi dan membersihkan luka sekaligus mengurangi nyeri. 4) Terapi isolasi dan manipulasi lingkungan Karena luka bakar mengakibatkan imunosupresi tubuh dalam tahap awal cedera.

c. pada umur 2 tahun lebih rentan terkena infeksi. gangguan pernapasan). 2000) a. obat- obatan e) Kadar fisik disekitar luka bakar f) Peristiwa yang terjadi saat luka sampai masuk rumah sakit g) Beberapa keadaan lain yang memperberat luka bakar 2) Riwayat kesehatan dahulu Penting untuk menentukan apakah pasien. Pemeriksaan fisik dan psikososial 11 . b. Identitas pasien Resiko luka bakar setiap umur berbeda-beda: anak di bawah 2 tahun dan diatas 60 tahun mempunyai angka kematian lebih tinggi. Konsep Asuhan keperawatan 1. mempunyai penyakit yang merubah kemampuan untuk memenuhi keseimbangan cairan dan daya pertahanan terhadaap infeksi (seperti DM. gagal jantung.H. Pengkajian (Doengoes. sirosis hepatis. Riwayat kesehatan 1) Riwayat kesehatan sekarang a) Sumber kecelakaan b) Sumber panas atau pennyebab yang berbahaya c) Gambaran yang mendalam bagaimana luka bakar terjadi d) Faktor yang mungkin mempengaruh seperti alkohol.

contoh luka bakar derajat pertama secara eksteren sensitive untuk disentuh. perubahan tonus. paralisis (cedera listrik pada aliran saraf). kecacatan. keuangan. kerusakan retinal. kesemutan. Tanda : perubahan orientasi. 6) Neurosensori Gejala : area batas. marah. warna mungkin hitam kemerahan bila terjadi mioglobin. diuresis (setelah kebocoran kapiler dan mobilisasi cairan ke dalam sirkulasi). laserasi korneal. 3) Integritas ego Gejala : masalah tentang keluarga.1) Aktivitas / istirahat Tanda : penurunan kekuatan. pekerjaan. aktivitas kejang (syok listrik). kulit putih dan dingin (syok listrik). anoreksia. Tanda : ansietas. mengindikasikan kerusakan otot dalam. vasokontriksi perifer umum dengan kehilangan nadi. 4) Eliminasi Tanda : haluaran urine menurun / tak ada selama fase darurat. ketergantungan. 7) Nyeri Gejala : berbagai nyeri. perilaku. pembentujkan oedema jaringan (semua luka bakar). penurunan refleks tendon dalam (RTD) pada cedera ekstremitas. tahanan keterbatasan rentang gerak pada areal yang sakit. rupture membrane timpani (syok listrik). menarik diri. disritmia (syok listrik). gerakan udara dan 12 . 2) Sirkulasi Tanda (dengan cedera luka bakar lebih dari 20% APTT) : hipotensi (syok). ditekan. penurunan ketajaman penglihatan (syok listrik). penurunan nadi perifer distal pada ekstremitas yang cedera. mual / muntah. menyangkal. takikardia (syok / ansietas / nyeri). afek. menangis. penurunan bising usus / tak ada. gangguan masa otot. 5) Makanan / cairan Tanda : oedema jaringan umum. khususnya pada luka bakar kutaneus lebih besar dari 20% sebagai stress penurunan motilitas / peristaltik gastrik.

oedema lingkar mulut dan atau lingkar nasal. Tanda : serak. nekrosis. pucat dengan pengisian kapiler lambat pada adanya penurunan curah jantung sehubungan dengan kehilangan cairan / status syok. secret jalan napas dalam (ronchi). luka bakar ketebalan sedang derajat kedua sangat nyeri. Bulu hidung kosong. merah. Cedera api : terdapat area cedera campuran dalam sehubungan dengan variasi intensitas yang dihasilkan bekuan terbakar. Cedar kimia : tampak luka bervariasi sesuai agen penyebab. mukosa hidung dan mulut kering. indikasi cedera inhalasi. perubahan suhu. Penampilan luka bervariasi dapat meliputi luka 13 . ketidakmampuan menelan sekresi oral dan sianosis. ulkus. oedema laryngeal). jalan napas atau stridor / mengii (obstruksi sehubungan dengan laringospasme. stridor (oedema laryngeal). Kulit mungkin coklat kekuningan dengan tekstur seperti kulit sama halus. lepuh pada faring posterior. luka bakar derajat tiga tidak nyeri. 9) Keamanan Tanda : Kulit umum : destruksi jaringan dalam mungkin tidak terbukti selama 3 – 5 hari sehubungan dengan proses trobus mikrovaskuler pada beberapa luka. bunyi napas : gemericik (oedema paru). batuk mengii. 8) Pernapasan Gejala : terkurung dalam ruangan tertutup. Ceder secara umum lebih dalam dari tampaknya secara perkutan dan kerusakan jaringan dapat berlanjut sampai 72 jam setelah cedera. atau jaringan parut tebal. semetara respon pada ketebalan derajat kedua tergantug pada keutuhan ujung saraf. lepuh. Area kulit tak terbakar mungkin dingin / lembab. partikl karbon dalam sputum. terpajang lama (kemungkinan cedera inhalasi). Cedera listrik : cedera kutaneus eksternal biasanya lebih sedikit dibawah nekrosis. Pengembangan thorax mungkin terbatas pada adanya luka bakar lingka dada.

Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan melalui rute abnormal. kontraksi otot tetanik sehubungan dengan syok listrik). luka bakar dari gerakan aliran pada proksimal tubuh tertutup dan luka bakar termal sehubungan dengan pakaian terbakar. kerusakan perlindungn kulit. 2. aliran masuk / keluar (eksplosif). Kerusakan integritas kulit b/d destruksi lapisan kulit. e. Resiko infeksi b/d pertahanan primer tidak adekuat. Kurang pengetahuan b/d penanganan luka bakar 14 . f. b. kesembuhan luka dan penanganan luka bakar. 2000) a. kecelakaan sepeda motor. jaringan traumatic. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan edema dan efek inhalasi asap. Diagnose keperawatan (Doengoes. Adanya fraktur / dislokasi (jatuh. status hipermetabolik. d. Resiko kerusakan perfusi jaringan b/d luka bakar melingkari ekstremitas atau luka bakar listrik dalam. g. c. Nyeri b/d serabut saraf yang terbuka.

Untuk memastikan terapi yang infeksi pada luka tepat. Kaji status penggantian 1. 2. Untuk mempertahankan proses menunjukkan tanda-tanda mati. Jaga pasein untuk tidak penyembuhan luka penyembuhan luka dengan 3. Untuk mengetahui 15 . Luka sembuh tanpa berefitelisasi dan bergranulasi tanda-tanda kerusakan 4. Anjurkan diet tinggi kalori atau imflamasi protein dan kalori yang dan protein meningkat dikarenakan peningkatan metabolisme dan katabolisme 5. Intervensi No Diagnosa Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi Rasional Keperawatan 1 Kerusakan integritas Setelah dilakukan asuhan 1. 3. Untuk memenuhi kebutuhan 4. Untuk mencegah perlengketan secara terpisah jaringan akibat kontak yang lama 2 Kurang volume cairan Setelah dilakukan asuhan 1. 6.. Bersihkan luka dan kulit 1. Pantau tanda dan gejala 5. Untuk menurunkan resiko kulit berhubungan keperawatan selama .. Pertahankan perawatan luka jaringan yang sedang . Balut jari-jari dan kaki 6.x24 sekitarnya dengan teratur infeksi dan untuk meningkatkan dengan cedera panas jam diharapkan pasien dan angkat jaringan yang proses penyembuhan luka 2. Untuk menghindari kerusakan menggaruk luka criteria hasil : 3..

Menunjukkan 3. Beri posisi ekstensi akibat latihan fisik yang serta dampak mengalami penurunan nyeri dilakukan untuk mendapatkan emosional cedera dengan criteria hasil : kembali posisi ekstensi . kalium serum. hematokrit. adekuat natrium serum.x24 pembentukan kontraktur 2. Untuk mencegah peningkatan 16 . Untuk mengidentifikasi evaporasi dari luka selama periode akut pasca 3.. Perfusi jaringan yang glukosa. fosfor.x24 cairan keseimbangan cairan yang peningkatan jam diharapkan pasien sesuai 2. elektrolit . Untuk mengganti kehilangan magnesium) cairan yang berhubungan 4. Pantau hasil laboratorium ketidakseimbangan cairan dan terbakar dengan criteria hasil : (hemoglobin.. berhubungan dengan keperawatan selama . Untuk mengevaluasi status permaebilitas mempertahankan status hari retensi cairan atau dieresis kehilangan akibat hidrasi cairan yang adekuat 3.... Untuk meminimalkan dengan cedera keperawatan selama . Ajarkan latihan ROM 1.. dan 4. Untuk meminimalkan nyeri jaringan dan saraf jam diharapkan pasien 2. protein serum. Berikan cairan kristaloid dengan luka bakar dan/ atau cairan koloid per protocol. Pantau berat badan setiap 2. pantau efek dan pertahankan jalur intravena 3 Nyeri berhubungan Setelah dilakukan asuhan 1.

penuruhan minimal atau tidak ada Hb.x24 dan gejala komfresi sirkulasi sirkulasi yang adekuat berhubungan dengan jam diharapkan pasien yang berhubungan dengan luka bakar mempertahankan sirkulasi oedema 2. Lakukan pengangkatan bagi organisme tidak adekuat. Untuk mengeliminasi reservoir pertahanan primer jam diharapkan pasien tidak sop 2. 5 Resiko perubahan Setelah dilakukan asuhan 1. penekanan respon tanda-tanda infeksi inflamasi. Pantau dengan cermat tanda 1. Oleskan obat topical dan bakteri perlindungan kulit. Untuk memastikan adanya dan pertahanan infeksi di hilangkan 4.... Kaji denyut nadi yang sirkumferensial yang optimal ke daerah distal 2.x24 tangan yang benar sesuai terhadan agen infeksius 2.. Pertahankan tehnik cuci 1. Untuk mengendalikan proliferasi jaringan mati kerusakan infeksi luka dengan criteria 3. Untuk mengetahui adanya melemah dan pengisian pada ekstermitas yang penurunan perfusi distal 17 . luka menunjukkan sekunder tidak serangkain biakan luka flora luka tanda-tanda infeksi adekuat.. Redakan iritasi nyeri 4 Resiko infeksi Setelah dilakukan asuhan 1. Untuk meminimalkan paparan berhubungan dengan keperawatan selama .. hasil : pasang balutan pada luka jaringan traumatic . penurunan nyeri 3. Untuk memastikan perfusi perfusi jaringan keperawatan selama . menunjukkan tanda-tanda 3. kemungkinan sumber sesuai indikasi 4. Kaji data dasar dan lakukan peningkatan atau penurunan .

. pola dan bunyi nafas normal 18 . Jalan nafas yang normal sangat bersihan jalan nafas keperawatan selama . Untuk mencegah penurunan tinggi dari jantung adekuat pada sirkulasi ekstermitas 4. Posisikan ektermitas lebih ... tidak berwarna dan encer . Aktivitas ini dapat adekuat dengan criteria hasil : meningkatkan pembuangan . mampu mempertahankan 2. Kelembaban dapat di lembabkan saluran nafas secara normal mengencerkan secret dan 3. Sekresi respirasi sekresi minimal. terbakar dengan criteria hasil : kapiler yang memanjang 3. Ajarkan pasien untuk nafas dan bersihan jalan nafas mempermudah ekspektorasi dalam dan batuk efektif 3. Untk mencegah penurunan ekstermitas yang pada ektermitas yang cedera sirkulasi ke ekstermitas terbakar dapat dipertahankan 6 Ketidakefektifan Setelah dilakukan asuhan 1.x24 melalui pemberian posisi mempengaruhi respirasi. Jalan nafas normal . Berikan oksigen yang sudah inhalasi asap. Hindari balutan yang ketat 4. Pertahankan jalan nafas 1. perfusi distal yang 3. Frekuensi respirasi. b/d edema dan efek jam diharapkan pasien pasien yang tepat 2.

pemikiran untuk 3. Terbatasnya pendidikan b/d proses keperawatan selama . Kaji persiapan pasien dan 1. Menyatakan dasar keluarganya. Jelaskan pentingnya 4.x24 keluarga untuk belajar mengurangi kemampuan pasien penanganan luka jam diharapkan pasien dan dan keluarganya untuk bakar keluarga mengungkapkan menerima informasi 2..7 Kurang pengetahuan Setelah dilakukan asuhan 1... Tinjau proses penanganan 3. Jelaskan lama waktu yang harapan pasien untuk sembuh diperlukan untuk sembuh dari luka bakar 19 . Kaji kemampuan pasien dan dasar untuk penjelasan dan penangana luka bakar dengan keluarga tentang perawatan indikasi yang menunjukkan kriteria hasil : dan penyakit diruah sakit harapan pasien serta . Informasi ini memberikan data pemahaman tentang 2. Kejujuran meningkatkan 5. Mengetahui apa yang akan berbagai aspek luka bakar bersama pasien terjadi mempersiapkan pasien penanganan yang dan keluarganya dan keluarganya dalam berbeda menghadapi kejadian mendatang 4. Informasi ini dapat mendukung partisipasi pasien dalam dan mempercepat penyembuhan perawatan untuk luka memperoleh hasil yang optimal 5.

20 .

Pasien mengalami penurunan nyeri d. page 111). Implementasi Pelaksanaan/implementasi merupakan tahap keempat dalam proses keperawatan dengan melaksanakan berbagai strategi keperawatan (tindakan keperawatan) yang telah direncanakan. Dalam tahap pelaksanaan terdapat dua tindakan yaitu tindakan mandiri dan tindakan kolaborasi (Aziz Alimul. Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi luka e. an Hipoksia mengikat an gas sirkulasi intravaskuler onkotik pembuluh Nyeri perfusi n volume tidak Pada nafas laring ruang Penguap hemokonsent elektrolit. Pasien dan keluarga mengungkapkan pemahaman tentang penangana luka bakar WOC Combustio Baha Termal Radiasi listrik n Kimia Biologi Luka Psikologi Kurang s bakar s pengetahuan 21 Hb tidak Peningkata Hipovolemia Ektravasasi Kerusak mampu Keracun n Gangguan Cairan Tekanan Gangguan Kekuranga Ansietas Pola Ob. diantaranya bahaya fisik dan perlindungan kepada pasien. Evaluasi a. Pasien mempertahankan sirkulasi yang optimal ke daerah distal pada ekstermitas yang terbakar f. 4. n kulit makro Resiko Kerusakan tinggi integritas otak jaringan cairan . 5.O. Dalam tahap ini perawat harus mengetahui berbagai hal. Pasien mampu mempertahankan saluran nafas secara normal dan bersihan jalan nafas adekuat g. Pasien mempertahankan status hidrasi cairan yang adekuat selama periode akut pasca terbakar c. kemampuan dalam prosedur tindakan. Gagal Edema nafas Jalan CO Di dan cairan Kerusaka (H. teknik komunikasi. pemahaman tentang hak-hak pasien tingkat perkembangan pasien. Pasien menunjukkan tanda-tanda penyembuhan luka b. 2009.

dkk. DAFTAR PUSTAKA Doenges E. Edisi 3.Rencana asuhan keperawatan : pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawat pasien.Jakarta : EGC 22 . Marilynn. (1999).

(1991). Jakarta : EGC 23 .Buku ajar keperawatan medical bedah brunner and suddarth.Remcana asuhan keperawatan : pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Suzanne C dan Brenda G Bare.Smeltzer.Jakarta : EGC Marylin E.Jakarta :EGC Long.Rencana asuhan dan dokumentasi keperawatan. (1996). Edisi 8. Edisi 3. (2000). Donna. BC.Bandung : Yayasan ikatan Alumni Pendidikan keperawatan.perawatan medical bedah (suatu pendekatan proses keperawatan)Jilid 3. Doenges. (2001). Edisi 2.