You are on page 1of 12

LAPORAN PENDAHULUAN BRONKOPNEUMONIA

PADA An.R DI RUANG ANGGREK RST
BHAKTI WIRA TAMTAMA
SEMARANG

Oleh :
Hidayati Hasanah
1708052

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA SEMARANG
2017

Definisi Bronkopnemoni adalah suatu peradangan paru yang terjadi pada jaringan paru atau alveoli yang biasanya didahului oleh infeksi traktus respiratus bagian atas selama beberapa hari yang dapat disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri. penderita bronchopneumonia mengalami tanda dan gejala yang khas seperti menggigil. Manifestasi Klinis Bronchopneumonia biasanya didahului oleh suatu infeksi di saluran pernafasan bagian atas selama beberapa hari. jamur. adanya lapisan mukus. hidung kemerahan. jamur dan benda asing lainnya. bakteri. protozoa. mikobakteri. Bakteri : Streptococcus. Candida albicans 4. demam. Orang yang normal dan sehat mempunyai mekanisme pertahanan tubuh terhadap organ pernafasan yang terdiri atas : reflek glotis dan batuk. Pada tahap awal. C. Influenzae. 2002). B. dan riketsia antara lain: 1. Broncopneumoni adalah salah satu jenis pneumonia yang mempuny ai pola penyebaran berbercak teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi di dalam broncus dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya. Terjadi karena kongesti paru yang lama. Timbulnya bronchopneumonia disebabkan oleh virus. 2. Virus : Legionella pneumoniae 3. BAB I KONSEP MEDIS A. atau terjadi aspirasi flora normal yang terdapat dalam mulut dan karena adanya pneumocystis cranii. Etiologi Secara umun individu yang terserang bronchopneumonia diakibatkan oleh adanya penurunan mekanisme pertahanan tubuh terhadap virulensi organisme patogen. Mycoplasma (Sandra M. gerakan silia yang menggerakkan kuman keluar dari organ. Aspirasi makanan. saat bernafas menggunakan otot aksesorius dan bisa . Jamur : Aspergillus spesies. dan sekresi humoral setempat. mikoplasma. sebab lain dari pneumonia adalah akibat flora normal yang terjadi pada pasien yang daya tahannya terganggu. sekresi orofaringeal atau isi lambung ke dalam paru-paru 5. 2001). Nettina. virus. nyeri dada pleuritis. Staphylococcus. Frekuensi komplikasi pulmonari batuk produktif yang lama tanda dan gejalanya biasanya suhu meningkat pernafasan meningkat (Smeltzer & Suzanne C. Klebsiella. H. batuk produktif.

timbul sianosis. Patofisiologi Sebagian besar penyebab dari bronkopneumonia ialah mikroorganisme (jamur. 2000). Tidak Hanya terkumpul di bronkus. bakter. virus) & sebagian kecil oleh penyebab lain seperti hidrokarbon (bensin. . Serta aspirasi ( masuknya isi lambung ke dalam saluran napas). Bakteri ini dapat membuat flora normal dalam usus menjadi agen pathogen sehingga timbul masalah GI tract (Zul Dahlan. di mana ketika terjadi peradangan ini tubuh dapat menyesuaikan diri maka timbulah gejala demam pada penderita. Reaksi peradangan ini dapat menimbulkan secret. Tidak Hanya menginfeksi saluran napas. Reaksi ini menyebabkan peradangan. Semakin lama secret semakin menumpuk di bronkus maka aliran bronkus menjadi semakin sempit & pasien dapat merasa sesak. Awalnmya mikroorganisme dapat masuk melalui percikan ludah ( droplet) infasi ini dapat masuk ke saluran pernapasan atas & menimbulkan reaksi imunologis dari tubuh. bakteri ini dapat juga menginfeksi saluran cerna ketika ia terbawa oleh darah. & sejenisnya). Terdengar adanya krekels di atas paru yang sakit dan terdengar ketika terjadi konsolidasi (pengisian rongga udara oleh eksudat). lama kelamaan secret dapat sampai ke alveolus paru & mengganggu sistem pertukaran gas di paru. D. minyak tanah.

Pemeriksaan Penunjang Tubuh . Pathway (Panduan belajar mandiri.2015) Virus bakteri jamur aspirasi Masuk saluran cerna bagian atas Bronkus. broncholus Reaksi peradangan pada broncus dan alveoli Secresi mucus Stimulasi kemoreseptor Fibrosis dan Bercak-bercak Meningkat hipotalamus pelebaran menyebar di seluruh Permukaan Akumulasi secret Set point bertanbah Atelektasis bronkus Obstruksi jalan napas Respon menggigil Gangguan disfusi Gangguan ventilasi O2 & CO2 Peningkatan frekuensi Reaksi peningkatan Pernapasan panas tubuh Gangguan Pertukaran Gas Merangsang RAS Hipertermi REM menurun Merangsang sel-sel epitel Pasien terjaga untuk memproduksi mukus Gangguan Pola Tidur Evaporasi meningkat Mukus kental Distensi abdomen Bersihkan Jalan Defisit Volume Napas tidak Cairan Efektif Muntah Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan F.E.

Kebutuhan nutrisi dan cairan d. Kebutuhan istirahat c. Analisa gas darah untuk mengevaluasi status oksigenasi dan status asam basa. Abses paru : Pengumpulan pus pada jaringan paru yg mengalami peradangan. b. dan sefalosforin. Kultur darah untuk mendeteksi bakteremia e. Penatalaksanaan medis yang dapat diberikan adalah: a. dan urin untuk tes imunologi untuk mendeteksi antigen mikroba. Infiltrat multiple seringkali dijumpai pada infeksi stafilokokus dan haemofilus. Sampel darah. 3. Komplikasai 1. c. Emfisema : Terdapatnya pus pada rongga pleura. Terapi oksigen (O2) b. Pemeriksaan Laboratorium a. d. b. eritromicin. . penisilin. G. Laringoskopi/ bronkoskopi untuk menentukan apakah jalan nafas tersumbat oleh benda padat (Sandra M. Rontgenogram Thoraks Menunjukkan konsolidasi lobar yang seringkali dijumpai pada infeksi pneumokokal atau klebsiella. Penatalaksanaan keperawatan yang dapat diberikan pada klien bronkopneumonia adalah: a. c. Nebulizer. Antibiotic seperti . Nettina. Untuk dapat menegakkan diagnosa keperawatan dapat digunakan cara: a. Pemeriksaan Radiologi a. agar dapat mengencerkan dahak yang kental dan pemberian bronkodilator. Mencegah komplikasi gangguan rasa nyaman 2. d. b. sputum. Penatalaksanaan 1. Mengontrol suhu tubuh e. kindomisin. H. Pemeriksaan darah Pada kasus bronchopneumonia oleh bakteri akan terjadi leukositosis (meningkatnya jumlah neutrofil). Digunakan untuk pemeriksaan mikroskopis dan untuk kultur serta tes sensitifitas untuk mendeteksi agen infeksius. Atelektasis : Pengembangan paru yang tidak sempurna. Kemoterafi untuk mikoplasma pneumonia dapat diberikan therapy eritromicin 4x 500 mg / hari atau tetrasiklin 3-4 x 500mg/ hari. Pemeriksaan sputum Bahan pemeriksaan yang terbaik diperoleh dari batuk yang spontan dan dalam. 2. Menjaga kelancaran pernapasan b. 2001).

Infeksi sistomik 6. .4. Meningitis : Peradangan pada selaput otak. Endokarditis : Peradangan pada endokardium. 5.

4. BAB II KONSEP KEPERAWATAN A. disertai batuk ada secret tidak bisa keluar. kemungkinan friction rub. takipnea. 5. Nutrisi. Keluhan utama Saat dikaji biasanya penderita bronchopneumonia akan mengeluh sesak nafas. pernapasan tidak teratur/ireguler. Imunisasi Anak yang tidak mendapatkan imunisasi beresiko tinggi untuk mendapat penyakit infeksi saluran pernapasan atas atau bawah karena system pertahanan tubuh yang tidak cukup kuat untuk melawan infeksi sekunder. bunyi nafas krekels. Riwayat gizi buruk atau meteorismus (malnutrisi energi protein = MEP) 10. Pemeriksaan fisik a. melaporkan anak sulit bernapas. Sistem kardiovaskuler: takikardi. 7. retraksi dada. Penderita biasanya menggunakan otot bantu pernfasan. Lingkungan pabrik atau banyak asap dan debu ataupun lingkungan dengan anggota keluarga perokok. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan. Pengkajian 1. Riwayat penyakit sekarang Penyakit bronchitis mulai dirasakan saat penderita mengalami batuk menetap dengan produksi sputum setiap hari terutama pada saat bangun pagi selama minimum 3 bulan berturut-turut tiap tahun sedikitnya 2 tahun produksi sputum (hijau. 9. Riwayat kesehatan lingkungan Pemeliharaan ksehatan dan kebersihan lingkungan yang kurang juga bisa menyebabkan anak menderita sakit. nama. pernapasan cuping hdidung. b. pergerakan dada asimetris. Sistem pernapasan: sesak napas. wheezing. perkusi redup pada daerah terjadinya konsolidasi. dasar kuku. jenis kelamin. 8. ada . umur. 2. Demografi meliputi. dan pekerjaan. warna kulit pucat dengan sianosis bibir. terpaan polusi kima dalam jangka panjang misalnya debu/ asap. Riwayat penyakit dahulu Biasanya penderita bronchopneumonia sebelumnya belum pernah menderita kasus yang sama tetapi mereka mempunyai riwayat penyakit yang dapat memicu terjadinya bronchopneumonia yaitu riwayat merokok. iritability. 6. Riwayat penyakit keluarga Biasanya penyakit bronchopneumonia dalam keluarga bukan merupakan faktor keturunan tetapi kebiasaan atau pola hidup yang tidak sehat seperti merokok. putih/kuning) dan banyak sekali. batuk produktif atau non produktif. ronki. 3. dada terlihat hiperinflasi dengan peninggian diameter AP.

membran mukosa kering. lemah. kejang. ubun-ubun cekung. pucat. Sistem endokrin: tidak ada kelainan. Hipertermi berhubungan dengan inflamasi terhadap infeksi saluran nafas ditandai dengan peningkatan suhu tubuh. Diagnosa Keperawatan 1. atau dehidrasi. 4. Marilynn. lemah secara umum. akral teraba panas. Intervensi Keperawatan No Diagnos Tujuan Intervensi a . sakit kepala yang ditandai dengan menangis terus pada anak-anak atau malas minum. anoreksia yang berhubungan dengan toksin bakteri bau dan rasa sputum. kulit kering i. Sistem pencernaan: anak malas minum atau makan. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolus kapiler. Sistem integumen: turgor kulit menurun. c. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi. ganggguan pengiriman oksigen. Orang tua cemas dengan keadaan anaknya yang bertambah sesak dan pilek.2000). 3. 5. akral hangat. gangguan kapasitas pembawa aksigen darah. g. sianosis. h. mengigil. Sistem lokomotor/muskuloskeletal: Tonus otot menurun. peningkatan produksi sputum. Sistem saraf: demam. 2. 6. distensi abdomen atau gas. e. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan berlebih. Sistem eliminasi: anak atau bayi menderita diare. sputum/sekret. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan inflamasi trakeobronkial. orang tua mungkin belum memahami alasan anak menderita diare sampai terjadi dehidrasi (ringan sampai berat). mungkin belum memahami tentang tujuan dan cara pemberian makanan/cairan personde. Sistem penginderaan: tidak ada kelainan (Doenges. penurunan masukan oral. muntah. Gangguan pola tidur berhubungan dengan sesak dan batuk produktif C. f. Pada orang tua yang dengan tipe keluarga anak pertama. B. d. pembentukan edema. berat badan menurun.

Untuk memaksimalkan oksigenasi III .5C) dengan KH: .5 – . nafas bersih dan jelas. bantu jam diharapakan Jalan nafas tindakan untuk memperbaiki keefektifan pasien efektif dengan bunyi upaya batuk. Kolaborasi pemberian obat antimikroba . Observasi warna kulit. adanya perbaikan dan batuk efektif . Observasi karakteristik batuk. Menunjukkan sering mengubah posisi. Anjurkan pasien untuk banyak minum 37. Catat ventilasi dan oksigenasi adanya sianosis jaringan dengan GDA dalam . Kolaborasi pemberian ventilasi dan oksigenasi oksigen dengan benar sesuai dengan jaringan indikasi . kaji frekuensi. Kaji Tanda-tanda vital terutama keperawatan selama 3x24 frekuensi pernafasan . . Kolaborasi terapi Nebulizer untuk . Bantu rentang normal dan tidak ada tindakan kenyamanan untuk mengurangi distres pernafasan. TTV normal . Pasien tidak gelisah II Setelah dilakukan tindakan . demam dan menggigil Kriteria Hasil: .I Setelah dilakukan tindakan . Berikan kompres dingin basah pada keperawatan selama 3x24 ketiak. Berikan posisi yang nyaman buat pasien. jam diharapakan Perbaikan membran mukosa dan kuku. nafas dalam. kening (untuk jam diharapkan suhu pasien sugesti) turun atau normal (36. Awasi suhu tubuh. Kaji suhu tubuh pasien Setelah dilakukan asuhan . . keperawatan selama 3x24 dan kemudahan pernafasan . pasien tidak gelisah. Kriteria Hasil: misalnya posisi semi fowler . lipatan paha. Jalan napas besih tidak mengencerkan dahak ada sputum . Tinggikan kepala dan dorong . Pertahankan lingkungan tetap sejuk . kedalaman.

. Orientasi terhadap . pasien makan membran mukosa . osmolalitas urine normal. BJ retensi cairan (BUN . Monitor status hidrasi ( kelembaban keperawatan selama 3x24 membran mukosa. pasien tidak menggigil. Menunjukkan . Kriteria hasil: . Kolaborasi dokter jika tanda cairan lembab. Hmt . Tidak ada tanda tanda dehidrasi. . keperawatan selama5x24 jam . Jadwalkan pengobatan pernafasan sedikitnya 1 jam sebelum makan. Dorong keluarga untuk membantu turgor kulit baik. . total protein ) . Elastisitas . tidak ada rasa berlebih muncul meburuk haus yang berlebihan . Kolaborasi pemberian cairan IV waktu dan tempat baik V . Identifikasi faktor yang menimbulkan Setelah dilakukan tindakan mual/ muntah. jika teratasi dengan kriteria hasil: diperlukan . Mempertahankan urine output sesuai . pernafasan) IV Setelah dilakukan tindakan . Monitor hasil lab yang sesuai dengan dengan usia dan BB. nadi. Berikan wadah tertutup untuk sputum nutrisi kurang teratasi dan buang sesering mungkin. bantu kebersihan mulut. albumin. akral teraba hangat . nadi adekuat. warna kulit tidak ada kemerahan. Berikan makan porsi kecil dan sering peningkatan nafsu makan termasuk makanan kering atau makanan . urin. darah. jam defisit volume cairan tekanan darah ortostatik ).

Anjurkan kepada orang tua klien untuk jam gangguan pola tidur selalu disamping klien klien teratasi dengan kriteria . . Kondisikan agar lingkungan selalu hasil: kondusif/ tenang dan hening . Tidur 12-13 Jam perhari pemberian O2 . badan VI Setelah dilakukan tindakan . yang menarik untuk pasien. Berikan posisi yang nyaman/semi fowler keperawatan selama 2 x 24 saat klien tidur . Klien tidak rewel . Klien bisa tidur nyenyak . Evaluasi status nutrisi umum. Sesak napas klien berkurang/hilang . ukur berat meningkatkan berat badan dasar. Kolaborasi dengan dokter untuk . Mempertahankan/ .

Ilmu Penyakit Dalam Edisi III. Edisi 3. Jakarta : Balai penerbit FK UL . 2002. Marilynn. Pedoman Praktik Keperawatan. 2001.2000. Jakata: EGC. Nettina. Jakarta :EGC Panduan belajar mandiri. Phatoflodiagram Penyimpangan Kebutuhan Dasar Mausia (KDM) Smeltzer. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Suzanne C. Sandra M. 2015. Jakarta : EGC Zul Dahlan . Volume I. DAFTAR PUSTAKA Doenges. Rencana Asuhan Keperawatan.2000.