You are on page 1of 21

MAKALAH MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN

RUMAH SAKIT

Kelompok 1:

Dilla Fadhila G1B008117 Nia Atiniah G1B012043
Fajarwati G1B011020 Agustin Citriya S G1B012049
Rica Cahyani G1B012003 Shella Puspawinaya G1B012057
Lenny Rachmawati G1B012008 Faza Khairani B G1B012062
Leti Siana G1B012016 Drestanta D G1B012068
Sahida Woro P G1B012021 Wiji Prasetyo A G1B012082
Heryansyah G1B012025 Widya Nevri N G1B012090
Tri Wahyuningsih G1B012032 Isni Kurnia Dewi G1B012094
Putri Puspitasari G1B012037 Linggih Indriyani G1B012097

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
PURWOKERTO

2014

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pelayanan di bidang kesehatan merupakan salah satu bentuk pelayanan
yang paling banyak dibutuhkan oleh masyarakat. Kristiadi (1994) menyatakan
bahwa tugas pemerintah yang paling dominan adalah menyediakan barang-
barang publik (public utility) dan memberikan pelayanan (public service)
misalnya dalam bidang pendidikan, kesejahteraan sosial, kesehatan,
perkembangan perlindungan tenagakerja, pertanian, keamanan dan
sebagainya. Tidak mengherankan apabila bidang kesehatan perlu untuk selalu
dibenahi agar bisa memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik untuk
masyarakat. Pelayanan kesehatan yang dimaksud tentunya adalah pelayanan
yang cepat, tepat, murah dan ramah. Mengingat bahwa sebuah negara akan
bisa menjalankan pembangunan dengan baik apabila didukung oleh
masyarakat yang sehat secara jasmani dan rohani.
Berangkat dari kesadaran tersebut, rumah sakit yang ada di Indonesia
baik milik pemerintah maupun swasta, selalu berupaya untuk memberikan
pelayanan yang terbaik kepada pasien dan keluarganya. Baik melalui
penyediaan peralatan, pengobatan, tenaga medis yang berkualitas sampai pada
fasilitas pendukung lainnya seperti tempat penginapan, kantin, ruang tunggu,
apotik dan sebagainya. Dengan demikian masyarakat benar-benar memperoleh
pelayanan kesehatan yang cepat dan tepat. Rumah sakit sebagai salah satu
fasilitas pelayanan kesehatan memiliki peran yang sangat strategis dalam
upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat (Aditama,
2006).
Masalah manajemen atau pelayanan di rumah sakit pada akhir-akhir
ini memang banyak menjadi bahan pembahasan di lingkungan masyarakat.
Sering sekali masyarakat yang menggunakan fasilitas ini mengalami kesulitan
dalam memenuhi berbagai persyaratan agar dapat memperoleh layanan
kesehatan yang diinginkan. Sebenarnya perbaikan terhadap mutu rumah sakit

Pemerintah dan rumah sakit  Meningkatkan kualitas manajemen pelayanan rumah sakit di Indonesia  Dapat menenerapkan kebijakan manajemen pelayanan rumah sakit di Indonesia dengan baik dan tepat. Mengetahui pengertian dari rumah sakit. baik dari segi mutu. . B. 4. D. kemudahan prosedur administrasi. Mengetahui dan memahami jenis-jenis rumah sakit yang ada di Indonesia. Manfaat 1. Jolly dan Gerbaud (1992) menyebutkan bahwa pasien yang dirawat di rumah sakit bukan saja mengharapkan pelayanan medis dan keperawatan yang baik. Bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi demand terhadap pelayanan kesehatan dan rumah sakit? C. Jelaskan struktur organisasi rumah sakit umum di Indonesia? 5. 5. makanan yang enak serta utamanya adanya hubungan baik antara staf rumah sakit dengan para pasien. Tujuan 1. Apakah definisi dari rumah sakit? 2. Mengetahui dan memahami manajemen pelayanan rumah sakit. dan juga dengan adanya perkembangan zaman yang sudah mendesak untuk melakukan perbaikan- perbaikan. 3. Bagaimanakah manajamen pelayanan rumah sakit? 4. Jelaskan jenis-jenis rumah sakit yang ada di Indonesia? 3. tarif. Bukan saja karena banyaknya keluhan-keluhan masyarakat yang merasa kecewa dengan pelayanan rumah sakit. Mengetahui dan memahami struktur organisasi rumah sakit umum di Indonesia. Identifakasi Masalah 1. baik dari layanan administrasi maupun medis memang benar-benar mutlak dibutuhkan. 2. Mengetahui dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi demand terhadap pelayanan kesehatan dan rumah sakit.

Masyarakat  Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.  Mendapatkan pelayanan rumah sakit sesuai dengan standar pelayanan kesehatan.2. .

BAB II ISI A. 2009). pelayanan penunjang medik dan non medik. terpadu dan berkesinambungan (Siregar. Rumah Sakit diselenggarakan berasaskan Pancasila dan didasarkan kepada nilai kemanusiaan. dan gawat darurat. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan pendekatan pemeliharaan. pelayanan dan asuhan keperawatan. 2004). penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang diselenggarakan secara menyeluruh. rawat jalan. Pada umumnya tugas rumah sakit adalah menyediakan keperluan untuk pemeliharaan dan pemulihan kesehatan. serta mempunyai fungsi sosial. tugas rumah sakit umum adalah melaksanakan upaya kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan dan pemeliharaan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan rujukan. persamaan hak dan anti diskriminasi. Menurut undang-undang tentang rumah sakit dijelaskan bahwa rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap. perlindungan dan keselamatan pasien. peningkatan kesehatan (promotif). kesehatan rujukan dan atau upaya kesehatan penunjang. Rumah sakit mempunyai beberapa fungsi. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 983/Menkes/SK/XI/1992. . (Depkes. etika dan profesionalitas. manfaat. pendidikan dan pelatihan. Pengertian Rumah Sakit Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat dan tempat yang digunakan untuk menyelenggarakannya disebut sarana kesehatan. pemerataan. yaitu menyelenggarakan pelayanan medik. pencegahan penyakit (preventif). Sarana kesehatan berfungsi melakukan upaya kesehatan dasar. keadilan.

RS Provinsi. 2004). RS Kabupaten)  RS BUMN/ABRI  RS Swasta yang menggunakan dana investasi dari sumber dalam negeri (PMDN) dan sumber luar negeri (PMA). penelitian dan pengembangan. jenis pelayanan dan kelasnya. administrasi umum dan keuangan (Siregar.51 Menkes/SK/II/1979). 3. Di RS kelas D hanya terdapat pelayanan medis dasar Pemerintah sudah meningkatkan status semua RS Kabupaten menjadi kelas C (Munijaya. dan sebagainya). dan anak). pelayanan rujukan upaya kesehatan. Berdasarkan jenis pelayanan  RS Umum  RS Jiwa  RS Khusus (mata. 2004). kusta. penyakit dalam. rehabilitasi. . B. Berdasarkan kepemilikannya. 1. dibedakan tiga macam RS  RS Pemerintah (RS Pusat. Berdasarakan kelasnya  RS kelas A RS kelas A tersedia pelayanan spesialistik yang luas termasuk subspesialistik  RS kelas B (pendidikan dan nonpendidikan) RS kelas B mempunyai pelayanan minimal sebelas spesialistik dan subspesialistik terdaftar.  RS kelas C RS kelas C mempunyai minimal empat spesialistik dasar (bedah. paru. kangker.  RS kelas D (Kepmenkes No. 2. Jenis-jenis Rumah Sakit yang ada di Indonesia Di Indonesia dikenal tiga jenis RS sesuai dengan kepemilikan. kebidanan. jantung.

134 Menkes/SK/IV/78 th. d. . dan kesehatan anak (Munijaya. Sebagai tempat penelitian  Pasal 4 : a. Melaksanakan sistem rujukan g. Melaksanakan usaha rehabilitasi medik c. c. Melakasanakan usaha pendidikan dan latihan medis dan paramedic f. kelas B. Keputusan menteri kesehatan NO. Rumah Sakit Umum kelas B adalah RSU yang melaksanakan pelayanan kesehatan yang spesialistik yang luas. kelas C b. Rumah Sakit Umum kelas A adalah RSU yang melaksanakan pelayanan kesehatan yang spesialistik paling sedikit 4 spesialis dasar yaitu Penyakit Dalam. Melaksanakan usaha pelayanan medik b. 2004). Penyakit Bedah. Penyakit kebidanan / kandungan.  Pasal 3 : Untuk menyelenggarakan tugas tersebut Rumah Sakit mempunyai fungsi : a. Rumah Sakit Umum kelas A adalah RSU yang melaksanakan pelayanan kesehatan yang spesialistik dan subspesialistik yang luas. Usaha pencegahan komplikasi penyakit dan peningkatan pemulihan kesehatan d. Melaksanakan usaha perawatan e. 1978 tentang susunan organisasi dan tata kerja Rumah Sakit Umum di Indonesia antara lain:  Pasal 1 : Rumah sakit umum adalah organisasi di lingkungan Departemen Kesehatan yang berada di bawah dan bertanggungjawab langsung kepada Dirjen Pelayanan Medik  Pasal 2 : Rumah sakit umum mempunyai tugas melaksanakan pelayanan kesehatan (caring) dan penyembuhan (curing) penderita serta pemulihan keadaan cacat badan dan jiwa (rehabilitation). Rumah Sakit Umum yang dimaksud dalam keputusan ini adalah RS kelas A.

Masalah manajemen rumah sakit pada akhir-akhir ini memang banyak disorok. Masyarakat tidak saja menghendaki mutu pelayanan kedokteran yang baik. ilmu kedokteran (termasuk di Indonesia) telah berkembang tidak saja ke tingkat spesialis dalam bidang- bidang ilmu kedokteran. Manajemen Pelayanan Rumah Sakit Selain masalah-masalah manajemen. tetapi juga perkembangan zaman yang memang sudah mendesak ke arah perbaikan-perbaikan itu (Sulastomo. rumah sakit kita juga menghadapi masalah-masalah yang lebih mendasar.C. dan tarif. teknologi yang dipergunakan juga semakin meningkat. kemudahan. Apakah RS harus tetap merupakan instansi sosial yang non-profit making atau diperbolehkan profit making? Dalam Majalah Manajemen (No. yaitu aspek-aspek filosofi. Masalah-masalah yang dahulu belum termasuk bidang kedokteran sekarang menjadi tugas bidang . 4. Mei 1981) telah dikemukakan sebuah artikel: “Organisasi Rumah Sakit Mengapa Kurang Efektif?” Artikel tersebut ditulis oleh J. Karena itu. tetapi juga semakin meluas. manajemen rumah sakit yang tidak baik akan menimbulkan pelayanan kesehatan yang semakin mahal atau sebaliknya. Dalam hal ini perlu disadari bahwa dengan perkembangan tersebut. Sadiman. Demand masyarakat yang semakin meningkat dan meluas. 2. 2000). Selain dengan ini. Tidak saja atas keluhan-keluhan masyarakat yang merasa kecewa dengan pelayanan rumah sakit. baik dari segi mutu. Perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran yang cepat. dan mengemukakan aspek- aspek hubungan antara pengurus/yayasan yang memiliki rumah sakit dengan direksi rumah sakit serta kemungkinan adanya kekaburan mengenai menejemen organisasi rumah sakit. Setidak-tidaknya ada beberapa alasan untuk meningkatkan kemampuan manajemen rumah sakit : 1. bahwa rumah sakit tidak dapat berjalan dan bangkrut. Bisa dipahami bahwa investasi dalam dunia kedokteran dan rumah sakit akan semakin mahal (termasuk human invesment-nya). Dalam 10-20 tahun terakhir. tetapi sudah ke superspesialisasi. pelayanan rumah sakit pada dasarnya memang cenderung menjadi “mahal”.

rumah sakit seperti ini membawa missi sosial dan karena itu tidak profit making. Dengan semakin luasnya bidang kegiatan rumah sakit. terutama pada sekitar tahun 1975. Sudah tentu. 3. Fenomena ini telah menumbuhkan polemik baru dari segi filosofi. yang dikelola dengan motivasi yang agak berlainan. ada kesan bahwa rumah sakit seperti ini dikelola “asal jalan” dan semata-mata mengutamakan pelayanan medis pasien- pasien yang dirawat. Dapat dipengerti bahwa karenanya beban rumah sakit akan semakin berat. yaitu apakah rumah sakit dimungkinkan dikelola secara “bisnis” dalam arti menjadi suatu instansi .hubungan masyarakat dan bahkan aspek-aspek hukum/legalitas. Sebagian rumah sakit swasta didirikan oleh lembaga- lembaga/yayasan. pengelolaan keuangan. Baru pada akhir-akhir ini. 2000). semakin diperlukan unsur-unsur penunjang medis yang semakin luas pula. 2000). Belum lagi kehendak pasien yang menghendaki unsur penunjang non-medis yang semakin meningkat sesuai dengan kebutuhan manusia masa kini. Kerugian yang ada biasanya akan ditangani lembaga- lembaga keagamaan/sosial yang bersangkutan. Terjadi apa yang disebut proses medicalization.khususnya dengan latar belakang keagamaan atau lembaga- lembaga sosial lainnya. Makin lama makin dirasakan perlunya pengingkatan pengelolaan rumah sakit secara professional (Sulastomo. dari donasi/sumbangan yang diperolehnya (Sulastomo. yang biasanya diprakarsai oleh kalangan masyarakat atau orang-orang yang terhormat. muncul rumah sakit swasta di kota-kota besar. Rumah sakit di Indonesia untuk sebagian besar (±70%) dimiliki oleh Pemerintah. misalnya: masalah- masalah administrasi. Meskipun rumah sakit ini tidak secara berteras terang merupakan lembaga yang profit making. kedokteran. akhirnya toh tidak dapat disembunyikan bahwa rumah sakit ini mempunyai kemampuan finansial yang kuat tentunya sulit untuk menyatakan bahwa rumah sakit ini mempunyai kemampuan finansial yang kuat yang tentunya sulit untuk menyatakan bahwa rumah sakit ini adalah non-profit making dan sosial semata-mata. Mungkin karena sifat non-profit making inilah.

masalah-masalah ini . dapur dan bahkan imbalan jasa dokter dan paramedis dengan mengikuti harga pasar. 2000). hamir seluruh rumah sakit swasta menghadapi realita kehidupan yang semakin meterialistis. Meskipun demikian. keperluan mengelola rumah sakit sesuai dengan prinsip-prinsip manajemen adalah sangat mutlak (Sulastomo.menjadi semakin kompleks. ada anggapan bahwa dokter-dokter (secara profesional) sayang apabila menangani masalah-masalah yang nonmedis (Sulastomo. Dalam keadaan inilah. yaitu Pancasila dan UUD 1945 (Sulastomo. Dalam keadaan sekarang. Tidak terlepas dalam hubungan ini adalah rumah sakit pemerintah di mana meskipun seluruh biaya eksploitasi/personel/gedung dan lain sebagainya ditanggung oleh pemerintah (secara teoritis). therapy. Pelayanan administrasi/penunjang/hubungan masyarakat dan aspek-aspek hukum/peraturan rumah sakit semakin luas. perawatan pasien. Pengelolaan rumah sakit sehari-hari menjadi wewenang dan tugas dereksi rumah sakit sendiri. rumah sakit toh tidak mungkin dikelola semata-mata sosial. listrik. 2000). air. citra rumah sakit akan terbebtuk oleh pelaksanaan tugas sehari-hari (Sulastomo.yang profit making? Polimik ini sudah tentu menyangkut landasan kenegaraan/falsafah kenegaraan kita. betapapun (mungkin) kebijaksanaan yang diberikan oleh pengurus yayasan/pemiklik rumah sakit mungkin sudah baik. . yang dengan sendirinya mempengaruhi jalannya organisasi-organisasi rumah sakit. Pada dasarnya. Hal ini memerlukan penanganan manajemen secara lebih profesional. seolah-olah ketinggalan “kereta”. dalam perkembangan dewasa ini. dari segi manajemen. Hospital managemen telah berkembang menjadi ilmu yang tersendiri. Seperti dikatakan di atas. 2000). Sebaliknya. Masalah itu perlu dikemukakan. karena peranan dokter adalah sangat kuat dan pengelolaan rumah sakit di Indonesia dewasa ini. yaitu penyelenggaraan organisasi diagnostik. rumah sakit yang selama ini memang lebih mementingkan aspek sosial. 2000). Rumah sakit harus membayar teknologi kedokteran.

rumah tangga. khusus di Indonesia. saling mengisi dan mengontrol. tentunya dianjurkan adanya pemisahan yang jelas. Tidak berlebihan bahwa para manager rumah sakit di Indonesia telah banyak belajar dari pengalaman. 3. karena dari segi personalia sering tidak dapat dipisahkan tugas seorang dokter yang menjadi direksi rumah sakit yang sekaligus merawat pasien (Sulastomo. sehingga tercapai keseimbangan untuk mengarahkan tujuan dan hendak dicapai oleh rumah sakit itu. Direksi Rumah Sakit. 2. karena peranan yang besar dari para dokter dalam badan- badan tersebut. Staf Kedokteran (medical staff) Ketiga badan ini. Tahap sekarang masalah ini memang (dalam batas-batas tertentu) tidak dapat dihindari. 2000). ketiga badan ini pada umumnya masih sering terjadi semacam conflict of interest dari masisng-masing anggota badan tersebut. Pemilik Rumah Sakit/Yayasan/Governing Board. 2000). ketiga badan ini dapat membentuk semacam “Badan Musyawarah” yang merumuskan dan menampung permasalahan- . Tetapi. Masalah ini dalam tahap pertama tentunya dapat dikurangi dengan suatu job discription yang sejelas-jelasnya. 2000). Tentunya akan sangat ideal. namun dalam menghadapi perumahsakitan yang semakin kompleks. untuk kemudahan komunikasi. sesuai dengan fungsi dan wewenangnya. Struktur Organisasi Rumah Sakit Umum Di Indonesia Dengan memperhatikan uraian di atas jelaslah bahwa ada tiga bahan yang semestinya sangat penting dengan tugas dan wewenang yang cukup jelas.m sehingga kemampuan rumah sakit menyelenggarakan rumah sakit itu dapat ditingkatkan (Sulastomo. D. masalah ini perlu dipecahkan. dengan perkembangan rumah sakit yang semakin kompleks. perlengkapan dan lain sebagainya (Sulastomo. apabila seorang direktur adalah seorang dokter yang telah memperoleh pendidikan dalam Hospital Management. yaitu: 1. administrasi/keuangan. Dalam hubungan ini. Di masa depan. penyediaan/logistik.

pemulasaran jenazah. 2000). pendidikan dan pelatihan (diklat). rawat inap. Beberapa jenis instalasi RS yang ada pada RS kelas A adalah instalasi rawat jalan. pengawasan dan penilaian mutu pelayanan mutu pelayanan medis. sebelum diputus oleh yayasan/Governing Board/pemilik rumah sakit (Sulastomo. rawat intensif. rawat darurat. Komite medik (KM) juga diberikan jabatan nonsturktural yang fungsinya menghimpun anggota yang terdiri dari para kepala staf medik fungsional (SMF). bedah sentral. Instalasi RS diberikan tugas untuk menyiapkan fasilitas agar pelayanan medis dan keperawatan dapat terlakasana dengan baik. patologi anatomi. 2004). gizi. Wadir Umum dan Keuangan 4. laboratorium. Pembinaan tenaga medis dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan etika profesi (Munijaya. Instalasi RS dipimpin oleh seorang kepala yang diberikan jabatan nonstruktural. 543/VI/1994 adalah sebagai berikut : a. Wakil direktur terdiri dari: 1. Direktur b. Pembinaan. KM diberikan dua tugas utama yaitu menyusun standar pelayanan medis dan memberikan pertimbangan kepada direktur dalam hal : 1. 2004).permasalahan yang ada. Untuk Rumah Sakit Umum Kelas A. Wadir Pelayanan Medik dan Keperawatan 2. patologi klinik. sterilisasi sentral. program pelayanan medis. hak-hak klinis khusus kepada SMF. pengamanan dan ketertiban lingkungan dan binatu (Munijaya. . perpustakaan. serta penelitian dan pengembangan (litbang) 2. farmasi. Wadir Komite Medik Tiap-tiap wadir diberikan tanggung jawab dan wewenang mengatur beberapa bidang/ bagian pelayanan dan keperawatan dan instalasi. pemeliharaan sarana rumah sakit(PSRS). susunan organisasinya diatur sesuai dengan SK Menkes No. Wadir Penunjang Medik dan Instalasi 3.

Masyarakat yang berkunjung ke RS bertujuan untuk memperoleh pelayanan medis karena kejadian sakit yang dideritanya. 134). Medik Depkes RI berdasarkan usulan dari direktur RS. pencegahan penyakit. 2004). KM dibentuk berdasarka SK Dirjen Yan. penyuluhan. Susunan organisasi RSU kelas B hampir sama dengan kelas A. Disini tidak ada wakil direktur. Semua kepala SMF diangkat oleh Dirjen Yan. tujuan mereka yang berkunjung dan jenis pelayanannya. 2004). peningkatan dan pemulihan kesehatan. Mereka mempunyai tugas pokok menegakkan diagnosis. memberikan pengobatan. pelatihan dan penelitian pengembangan pelayanan medis. bedanya hanya terletak pada jumlah dan jenis masing-mamsing SMF. dan etika (Munijaya. jumlah SMF yang dimiliki minimal 15 buah yaitu (1) Bedah (2) Kesehatan Anak (3) Kebidanan dan Penyakit Kandungan (4) Penyakit Dalam (5) Penyakit Saraf (6) Penyakit Kulit dan kelamin (7) THT (8) Gigi dan Mulut (9) Mata (10) Radiologi (11) Patologi Klinik (12) Patologi Anatomi (13) Kedoteran Kehakiman (14) Rehabilitasi Medik (15)Anestesi (Munijaya. audit medik. dokter spesialis. Dibawah wadir KM terdapat panitia infeksi nosokomial. SMF yang menggantikan UPF (Unit Pelaksanaan Fungsional) terdiri dari dokter umum. Medik Depkes RI sesuai dengan usul Direktur RS. Masa kerja Wadir KM adalah tiga tahun. panitia rekam medis. Untuk RSU kelas B tidak ada subspesialisnya (Munijaya. dapat dibayangkan bahwa manajemen sebuah RS hampir mirip dengan manajemen hotel. tetapi dilengkapi . Dengan mengkaji struktur orgaisasi dan tugas-tugas pokok RS. dokter gigi. sedangkan mereka yang berkunjung ke hotel adalah untuk bersenang-senang (Munijaya. 2004). Untuk RS kelas A. Yang berbeda. 2004). farmasi dan terapi. Pembentukan KM di RS sangat diperlukan untuk membantu tugas-tugas direktur RS dalam menjaga mutu dan etika pelayanan RS. Masing-masing Wadir juga dilengkapi sekertariat khusus dan bidang- bidang yang dibagi lagi menjadi subbagian dan seksi (sesuai dengan SK Menkes No. Susunan organisasi RS kelas C dan D lebih sederhana jika dibandingkan dengan kelas A dan kelas B. dan dokter subspesialis.

data epidemiologi yang ada sebagian besar menggambarkan puncak gunung es yaitu demand. dengan staf khusus yang mengurusi administrasi. variabel- variabel ekonomi seperti tarif. Berdasarkan situasi ini maka demand pelayanan kesehatan dapat ditingkatkan atau dikurangi. terutama yang berlokasi di ibu kota provinsi (Munijaya. bukan kebutuhan (needs). Keputusan petugas medis ini akan mempengaruhi penilaian seseorang akan status kesehatannya. Faktor-faktor ini dapat diwakilkan dalam pola epidemiologi yang seharusnya diukur berdasarkan kebutuhan masyarakat. budaya dan norma-norma sosial di masyarakat. jenis kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan juga akan ikut menentukan peningkatan kelas sebuah RS di suatu wilayah. pengiklanan. Kebutuhan Berbasis Fisiologis Kebutuhan berbasis pada aspek fisiologis menekankan pentingnya keputusan petugas medis yang menentukan perlu tidaknya seseorang mendapat pelayanan medis. pengaruh jumlah dokter dan fasilitas pelayanan kesehatan dan pengaruh inflasi. penilaian pribadi akan status kesehatannya. Faktor-faktor ini satu sama lain saling terkait secara kompleks (Trisnantoro. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Demand Terhadap Pelayanan Kesehatan Dan Rumah Sakit Menurut Fuchs (1998). Dunlop dan Zubkoff (1981) faktor-faktor yang mempengaruhi demand pelayanan kesehatan antara lain: kebutuhan berbasis pada aspek fisiologis. ada tidaknya sistem asuransi dan penghasilan. 2004). Akan tetapi. Disamping faktor-faktor tersebut terdapat faktor lain misalnya. 2006). Indonesia sebagai negara Timur sejak dahulu telah mempunyai pengobatan . Secara umum. E. Kondisi ini berpengaruh pada jenis pelayanan medis dan jumlah staf profesional (medis dan paramedic) yang dipekerjakan pada tiap-tiap RS ini. variabel-variabel demografis dan organisasi. penilaian pribadi akan status kesehatan dipengaruhi oleh kepercayaan. Penilaian Pribadi akan Status Kesehatan Secara sosio-antropologis.

Sangat penting untuk dicatat bahwa hubungan negatif ini secara khusus terlihat pada keadaan pasien yang mempunyai pilihan. Pelayanan ini sudah berumur ratusan tahun sehingga dapat dilihat bahwa demand terhadap pelayanan pengobatan alternatif ada dalam masyarakat. Akan tetapi. sehingga elastisitas harga bersifat inelastik. ada pula sebagian pelayanan kesehatan yang bersifat barang inferior. Sebagian masyarakat sangat memperhatinkan status kesehatannya. jenis pekerjaan. Masalah tarif rumah sakit merupakan hal yang kontroversial. Akan tetapi tarif yang rendah dengan subsidi yang tidak cukup dapat menyebabkan mutu pelayanan turun bagi orang miskin dan hal ini menjadi masalah besar dalam manajemen rumah sakit. keharusan untuk operasi dan berbagai tindakan medik lainnya. Disamping itu. operasi segera akibat kecelakaan lalu lintas. maka faktor tarif mungkin tidak berperan dalam mempengaruhi demand.alternatif dalam bentuk pelayanan dukun ataupun tatib. maka korban dapat meninggal atau cacat seumur hidup. Keputusan dari dokter mempengaruhi length of stay. Pernyataan normatif di masyarakat memang mengharapkan bahwa tarif rumah sakit harus rendah agar masyarakat miskin mendapat akses. Variabel-Variabel Ekonomi Tarif Hubungan tarif dengan demand terhadap pelayanan kesehatan adalah negatif. Sebagai contoh. Semakin tinggi tarif maka demand akan menjadi semakin rendah. Apabila tidak ditolong segera. untuk berbagai masalah kesehatan jiwa peranan dukun masih besar. masalah persepsi mengenai risiko sakit merupakan hal yang penting. tingkat demand pasien sangat dipengaruhi oleh keputusan dokter. yaitu adanya kenaikan penghasilan masyarakat justru menyebabkan . Pada keadaan yang membutuhkan penanganan medis segera. sebagian lain tidak memperhatikannya. Sebagai contoh. Penghasilan Masyarakat Kenaikan penghasilan keluarga akan meningkatkan demand untuk pelayanan kesehatan yang sebagian besar merupakan barang normal. Pada pelayanan rumah sakit.

di Amerika Serikat masyarakat tidak membayar langsung ke pelayanan kesehatan. Dengan kata lain. Faktor penghasilan masyarakat dan selera mereka merupakan bagian penting dalam analisis demand untuk keperluan pemasaran rumah sakit. Ada pula kecenderungan mereka yang berpenghasilan tinggi tidak menyukai pelayanan kesehatan yang menghabiskan waktu banyak. dikenal pula program pemerintah dalam bentuk jaminan kesehatan untuk masyarakat miskin dan orang tua. faktor asuransi kesehatan menjadi penting dalam hal demand pelayanan kesehatan. Hal ini diantisipasi oleh rumah sakit-rumah sakit yang menginginkan pasien dari golongan mampu. Sementara itu. Asuransi Kesehatan dan Jaminan Kesehatan Pada negara-negara maju.Variabel Demografis dan Umur Faktor umur sangat mempengaruhi demand terhadap pelayanan preventif dan kuratif. Program pemerintah ini sering disebut sebagai asuransi sosial. Sebagai contoh. tetapi melalui sistem asuransi kesehatan. Adanya asuransi kesehatan dan jaminan kesehatan dapat meningkatkan demand terhadap pelayanan kesehatan. Variabel. Di samping itu. Dengan demikian.penurunan konsumsi. demand terhadap pelayanan kesehatan preventif menurun. Masa tunggu dan antrian untuk mendapatkan pelayanan medis harus dikurangi dengan menyediakan pelayanan rawat jalan dengan perjanjian misalnya. Seseorang yang tercakup oleh asuransi kesehatan akan terdorong menggunakan pelayanan kesehatan sebanyak-banyaknya. Dengan demikian. Semakin tua seseorang sendiri meningkat demandnya terhadap pelayanan kuratif. Asuransi kesehatan bersifat mengurangi efek faktor tarif sebagai hambatan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan pada saat sakit. Hal ini terjadi pada rumah sakit pemerintah di berbagai kota dan kabupaten. semakin mendekati saat . hubungan asuransi kesehatan dengan demand terhadap pelayanan kesehatan bersifat positif. semakin banyak penduduk yang tercakup oleh asuransi kesehatan maka demand akan pelayanan kesehatan (termasuk rumah sakit) menjadi semakin tinggi. Peningkatan demand ini dipengaruhi pula oleh faktor moral hazard.

Berbagai rumah ssakit di Indonesia telah memperhatikan faktor pengiklanan sebagai salah satu cara peningkatan demand. Pertama. Jenis Kelamin Penelitian di Amerika Serikat menunjukan bahwa demand terhadap pelayanan kesehatan oleh wanita ternyata lebih tinggi dibanding dengan laki- laki. karena angka kerja wanita lebih rendah maka kesediaan meluangkan waktu untuk pelayan\an kesehatan lebih besar dibanding dengan laki-laki. Iklan merupakan faktor yang sangat lazim digunakan dalam bisnis komoditas ekonomi untuk meningkatkan demand. dan pengobatan alternatif sudah lazim melakukan iklan di surat kabar dan majalah. sektor pelayanan kesehatan secara tradisional dilarang karena bertentangan dengan etika dokter dan apabila akan diberikan maka dalam bentuk informasi mengenai pelayanan rumah sakit. serta inflasi. dukun. Pendidikan Seseorang dengan pendidikan tinggi cenderung memiliki demand yang lebih tinggi. Fenomena ini terlihat pada pola demografi di negara maju yang berubah menjadi masyarakat tua. Faktor-Faktor Lain Berbagai faktor lain yang mempengaruhi demand pelayanan kesehatan. Patut dicatat bahwa pelayanan kesehatan tradisional seperti para tabib. dan konsekuensinya untuk menggunakan pelayanan kesehatan. Akan tetapi.kematian. wanita memiliki insidensi penyakit yang lebih tinggi dibanding dengan laki-laki. Aakan tetapi. . seseorang merasa bahwa keuntungan dari pelayanan kesehatan preventif akan lebih kecil dibandingkan deangan saat masih muda. Hasil ini sesuai dengan dua perkiraan. pada kassus-kasus yang bersifat darurat perbedaan antara wanita dan laki-laki tidaklah nyata. Pengeluaran untuk pelayanan kesehatan menjadi sangat tinggi. Kedua. Pendidikan yang lebih tinggi cenderung meningkatkan kesadaran akan status kesehatan. yaitu pengiklanan. tersedianya dokter dan fasilitas pelayana kesehatan.

Faktor ini haarus diperhatikan oleh rumah sakit karena pada saat inflasi tinggi. kemudian mengubahnya ke Indonesia akibat takut terkena SARS (Trisnantoro. Ada kemungkinan penduduk Indonesia yang demand mencari pengobatan biasa kle Singapura. 2006). Fuchs (1998) menyatakan bahwa pada asumsi semua faktor lain tetap. Tersedianya dokter dan fasilitas pelayanan kesehatan merupakan faktor lain yang meningkatkn demand. ataupun pada resesi ekonomi. Kehadiran dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan dengan peralata operasi akan meningkatkan demand untuk pelayana bedah caesar. Justru bangsal-bangsal VIP tidak menurun penghuninya. Ketika kasus SARS merebak di Singapura.ah satu dugaan adalah pasien kaya yang biasa pergi ke Jakarta atau Singapura. . bahkan menunjukan kecenderungan naik. pengamatan menunjukan bahwa BOR kelas VIP di sebuah kota besar di Indonesia ternyata meningkat. dan asuransi kesehatan. Sal. kenaikan jumlah dokter spesialis bedah sebesar 10% akan meningkatkan jumlah operasi sebesar 3%. mengubah perilakunya untuk mencari penyembuhan pada rumah sakit di Yogyakarta. Kehadiran dokter gigi akan meningkatkan demand untuk pelayanan kesehatan mulut. jumlah relatif pendapatan keluarga. demand terhadap pelayanan kesehatan akan dapat terpengaruh. Efek inflasi terhadap demand terjaadi melalui perubahan-perubahan pada tarif pelayanan rumah sakit. Keberadaan dokter spesialis THT akan meniongkatkan demand untuk operaasi Tonsilektomi. tercatat berbagai rumah sakit di Yogyakarta tidak mengalami penurunan demand. Pada saat krisis ekonomi di Indonesia.

Ada tiga bahan yang semestinya sangat penting dengan tugas dan wewenang yang cukup jelas dalam struktur organisasi rumah sakit umum di Indonesia. misalnya: masalah-masalah administrasi. pelayanan dan asuhan keperawatan. administrasi umum dan keuangan. jenis pelayanan dan kelasnya. hubungan masyarakat dan bahkan aspek- aspek hukum/legalitas. Tidak terlepas dalam hubungan ini adalah rumah sakit pemerintah di mana meskipun seluruh biaya eksploitasi/personel/gedung dan lain sebagainya ditanggung oleh pemerintah (secara teoritis). Ketiga badan ini. yaitu menyelenggarakan pelayanan medik. yaitu: Pemilik Rumah Sakit/Yayasan/Governing Board. sesuai dengan fungsi dan wewenangnya. Direksi Rumah Sakit dan Staf Kedokteran (medical staff. rawat jalan. semakin diperlukan unsur- unsur penunjang medis yang semakin luas pula. Di Indonesia dikenal tiga jenis RS sesuai dengan kepemilikan. pengelolaan keuangan. Demand masyarakat yang semakin meningkat dan meluas. dan gawat darurat. Kemampuan manajemen rumah sakit perlu ditingkatkan dengan alasan: perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran yang cepat. BAB III PENUTUP A. seolah-olah ketinggalan “kereta”. dan semakin luasnya bidang kegiatan rumah sakit. Dari segi manajemen. Kesimpulan Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat. pendidikan dan pelatihan. rumah sakit yang selama ini memang lebih mementingkan aspek sosial. keperluan mengelola rumah sakit sesuai dengan prinsip-prinsip manajemen adalah sangat mutlak. Rumah sakit mempunyai beberapa fungsi. sehingga . pelayanan penunjang medik dan non medik. penelitian dan pengembangan. pelayanan rujukan upaya kesehatan. saling mengisi dan mengontrol. Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap.

apotik dan sebagainya. . Baik melalui penyediaan peralatan pengobatan. diharapkan memberikan pelayanan yang lebih baik dari sebelumnya kepada pasien dan keluarganya. ruang tunggu. Dengan demikian masyarakat benar-benar memperoleh pelayanan kesehatan yang cepat dan tepat. Rumah sakit-rumah sakit yang ada di Indonesia baik milik pemerintah maupun swasta. penilaian pribadi akan status kesehatannya. tercapai keseimbangan untuk mengarahkan tujuan dan hendak dicapai oleh rumah sakit itu. pengiklanan. ada tidaknya sistem asuransi dan penghasilan. B. Faktor-faktor ini satu sama lain saling terkait secara kompleks. kantin. Disamping faktor-faktor tersebut terdapat faktor lain misalnya. pengaruh jumlah dokter dan fasilitas pelayanan kesehatan dan pengaruh inflasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi demand pelayanan kesehatan antara lain: kebutuhan berbasis pada aspek fisiologis. variabel-variabel demografis dan organisasi. variabel-variabel ekonomi seperti tarif. Saran Perbaikan terhadap mutu rumah sakit baik dari layanan administrasi maupun medis. tenaga medis yang berkualitas sampai pada fasilitas pendukung lainnya seperti tempat penginapan.

A. 1992. 1994. 2000. Kristiadi. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Gde. Yogyakarta : UGM . Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi dalam Manajemen Rumah Sakit. Jakarta Munijaya. Manajemen Administrasi Rumah Sakit. Charles. JP. Tjandra Yoga. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT Jolly D. Cetakan I. Manajemen Kesehatan. 2004. 2009. Subbagian Tata Usaha Ketua LAN RI. Laksono. Farmasi Rumah Sakit Teori dan Penerapan. Siregar. 2004. Jakarta: Penerbit EGC Sulastomo. Geneva: WHO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Trisnantoro. 2006. DAFTAR PUSTAKA Aditama. danGerbaud I. Administrasi /Manajemen Pembangunan (Kumpulan Tulisan). Hospital of Tomorrow.. Depkes RI. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Manajemen Kesehatan. 2006. A.