ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA

DENGAN PENELANTARAN, PENGABAIAN DAN KEKERASAN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Keperawatan Gerontik
Fasilitator Ibu Eka Mishbahatul M. Has, S.Kep.Ns., M.Kep.

Oleh:
Kelompok 6 Kelas AJ-2 B19

1. Lusia Saun Selong 131611123087
2. Nindhita Dyah Satiti 13161123088
3. Rifa Rindayani Syafitri 131611123089
4. Anindita Nayang Safitri 131611123091
5. Sumariono Efendi 131611123092
6. Alvianita Agiswi Suyadi 131611123070

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS
FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penyusunan makalah dengan judul “Asuhan Keperawatan pada Lansia dengan
Penelantaran, Pengabaian dan Kekerasan”.
Dalam penyelesaian makalah ini, penulis banyak mengalami kesulitan dan
hambatan, namun berkat bimbingan semua pihak akhirnya makalah ini dapat

terselesaikan. Dengan kerendahan hati, perkenankanlah penulis menyampaikan
rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bimbingan kepada
penulis, antara lain :
1. Prof. Dr. Nursalam, M.Nurs (Hons), selaku Dekan Fakultas Keperawatan
Universitas Airlangga.
2. Ibu Rista Fauziningtyas, S.Kep.,Ns., M.Kep selaku penanggungjawab mata
ajar Keperawatan Gerontik Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga.
3. Ibu Eka Mishbahatul M. Has, S.Kep.Ns., M.Kep. selaku fasilitator mata
ajar Keperawatan Gerontik Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga.
4. Teman-teman anggota kelompok 6 yang telah membantu menyelesaikan
penyusunan makalan ini.
5. Berbagai pihak yang tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu yang
telah membantu menyelesaikan penyusunan makalah ini..
Penulis menyadari bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang
sempurna. Begitu pula dengan penyusunan makalah ini tidak luput dari
kekurangan. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun,
guna memperbaiki makalah ini. Semoga makalah ini dapat berguna dan
bermanfaat bagi pembaca.

Surabaya, Desember 2016

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................2
DAFTAR ISI.........................................................................................3
BAB I....................................................................................................4

PENDAHULUAN.................................................................................4
A. Latar Belakang.................................................................................. 4
B. Rumusan Masalah.............................................................................. 5
C. Tujuan............................................................................................. 5
BAB II...................................................................................................7
TINJAUAN TEORI..............................................................................7
A. Definisi........................................................................................... 7
B. Klasifikasi Penganiayan Menurut Pakar...................................................7
C. Tanda-tanda Korban Penganiayaan.........................................................9
D. Kemungkinan Indikator Potensial maupun Aktual Penganiayaan Lansia.........10
BAB III................................................................................................15
TINJAUAN KASUS...........................................................................15
A. Pengkajian..................................................................................... 16
B. ANALISA DATA............................................................................. 32
C. DIAGNOSA KEPERAWATAN............................................................33
D. RENCANA KEPERAWATAN.............................................................35
BAB IV...............................................................................................39
PENUTUP...........................................................................................39
A. Kesimpulan.................................................................................... 39
B. Saran............................................................................................ 39
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................41

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Lansia merupakan kelompok usia yang memiliki masalah yang
beragam. Pada lansia sering ditemukan penurunan dalam berbagai aspek
seperti penurunan fisik, intelektetual dan kognitif. Semua kekurangan dan
keterbatasan yang terdapat pada lansia menyebabkan lansia dilihat sebelah
mata oleh kelompok usia yang lain. Semakin bertambahnya usia permasalahan

Padahal sudah terdapat peraturan perundangan yang mengatur tentang kesejahteraan lansia dan sudah banyak perda yang sudah dibuat untuk kesejahteraan lansia. dan kekerasan keuangan.5% dan diramalkan pada tahun 2020 terjadi peningkatan yaitu menjadi 10%. Permasalah yang biasanya muncul pada lansia adalah nyeri pada sendi bahkan bisa menyebabkan gangguan keseimbangan pada lansia. Pada lansia penurunan fisik pasti terjadi karena adanya efek dari proses penuaan. diberitakan bahwa terjadi pembuangan pasien lansia di Bandar Lampung. Lanjut usia yang terlantar di wilayah perkotaan di Indonesia mencapai 13. Sepatutnya rumah sakit tidak melakukan hal seperti diatas. namun tidak banyak rumah yang terdapat lansia didalamnya melakukan modifikasi lingkungan. kekerasan dan penelantaran psikologis. Dengan bertambahnya jumlah . pada sebagian orang akan dianggap merepotkan. pelakunya tidak lain adalah petugas dari rumah sakit. dan tidak memiliki keluarga. jenis kekerasan dan penelantaran dibagi menjadi kekerasan dan penelantaran fisik. Resiko jatuh pada lansia dapat dihindari dengan memodifikasi lingkungan.com.pada lansia akan semakin banyak. termasuk perawat.4% yang tidak mendapatkan perawatan dari keluarga dan masyarakat. Menurut Badan Pusat Statistik dalam Infodatin 2015. Kebutuhan rasa aman lansia tidak bisa dipenuhi oleh keluarga atau masyarakat. tubuh semakin lemah sehingga membutuhkan perawatan yang meningkat. Lansia juga sering menjadi korban kekerasan oleh kelompok usia lain. Hal ini dapat menimbulkan penelantaran. Kebutuhan lansia yang semakin banyak. Gangguan keseimbangan ini dapat menyebabkan resiko jatuh pada lansia. Rumah sakit sebelumnya bisa berkerjasama dengan dinas sosial sehingga tidak menelantarkan lansia. pengabaian dan kekerasan pada lansia. Peningkatan jumlah ini patutu diwaspadai oleh bergai pihak. Kasus lain yang terjadi pada lansia adalah penelantaran. Menurut Robert & Greene (2009). Ini membuktikan bahwa lansia di Indonesia dapat dikatakan masih diabaikan. pada tahun 2015 jumlah penduduk lansia mencapai 8. Di Indonesia jumlah penduduk lansia semakin tahun semakin meningkat. Pada tanggal 2 Februari 2014 dalam republica. Alasan dibuang karena lansia ini diketahui sakit (fisik) dan gangguan kejiwaan.

pengabaian dan kekerasan pada lansia 3. Tujuan Tujuan Umum Mahasiswa mampu menjelaskan tentang asuhan keperawatan pada lansia dengan kasus penelantaran. pengabaian dan kekerasan pada lansia 2. Oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan pembahasan tentang asuhan keperawatan yang diberikan pada lansia dengan penelantaran. dan kekerasan 4. Menjelaskan asuhan keperawatan pada lansia dengan kasus penelantaran. pengabaian dan kekerasan . penduduk lansia maka semakin banyak pula kasus penelantaran. pengabaian dan kekerasan. penanganan dan rehabilitasi pada lansia yang mengalami kasus diatas. Menjelaskan definisi tentang penelantaran. pengabaian dan kekerasan yang akan muncul. pengabaian dan kekerasan Tujuan Khusus 1. B. pengabaian. perawat harus mampu melakukan pencegahan. pengabaian dan kekerasan? C. Rumusan Masalah Bagaimana asuhan keperawatan lansia dengan kasus penelantaran. Menjelasakan penatalaksanaan pada lansia dengan kasus penelantaran. Menjelaskan jenis dari penelantaran. Dari uraiang diatas.

cidera. BAB II TINJAUAN TEORI A. perorangan atau sekelompok orang atau masyarakat yang mengakibatkan atau kemungkinan besar mengakibatkan . Kekerasan adalah penggunaan kekuatan fisik dan kekuasaan. atau penderitaan kelemahan mental. Definisi Menurut O’Malley (1979) penganiayan adalah kegiatan menyakiti yang disengaja untuk menimbulkan nyeri fisik. hukuman yang tidak beralasan atau pencabutan hak oleh pemberi asuhan pelayan yang diperlukan untuk mempertahakan kesehatan mental dan fisik. ancaman atau tindakan terhadap diri sendiri.

dilupakan b. ketakutan. Pengabaiaan (neglect) didefinisikan sebagai jenis penganiayaan yang mengacupada kegagalan oleh pengasuh untuk memberikan yang diperlukan. 2000). memar/trauma. bilur. kelainan perkembangan atau perampasan hak (Bagong dkk. diisolasi. bantuan ke kamar mandi c. ancaman menakut- nakuti. kurangnya supervisi b. abrasi atau laserasi b. isolasi. Penganiayaan medis: menahan obat atau alat bantu lain yang diperlukan 2. d. penganiayaan seksual. Penganiayaan psikologis : penyerangan verbal. kerugian psikologis. penyalahgunaan uang atau hak milik d. Penganiayaan materi: pencurian. Pengabaian pasif: diabaikan. Menurut Douglas Hickey dan Noele penganiayaan dibagi menjadi empat: a. Penelantaran adalah keadaan dimana seseorang tidak memenuhi kebutuhan dasar (fisik dan emosional) yang berlangsung terus menerus misalnya seperti tidak memberikan sandang. Penganiayaan psikologis: penyerangan verbal. Pengabaian aktif: menahan hubungan pertemanan. latihan fisik. direstran secara fisik. isolasi . 3. Pengabaian verbal atau emosional: memanggil nama. makan perawatan medis. c. Penganiayaan fisik: pemukulan langsung. Pengabaian fisik: dipukul ditampar. 2007). memperlakuakn seperti anak kecil. intimidasi. Klasifikasi Penganiayan Menurut Pakar 1. terkiliir. B. makanan. 2012). kematian. menghina. ancaman. penghinaan. obat. Menurut Lau dan Kosbreg a. perawatanyang sesuai dengan usia meski secara finansial mampu melakukannya atauditawarkan berarti keuangan atau lainnya untuk melakukannya (USDHHS. Penganiayaan fisik : Malnutrisi. Menurut O’Malley penganiayaan dibagi menjadi empat: a. dislikasi. makanan dan papan yang memadai serta menempatkan di tempat dengan lingkungan yang bebahaya (Adi. cidera (misalnya: memar. tidak memberikan perawatan pribadi. menakut-nakuti. dibakar. ditinggal sendiri. memar. ancaman.

diisolasi. pengasuhan. Penggunaan salah obat 15. penggunaan dana. Obat berlebihan atau kurang 11. Fraktur 5. dibakar. Pengabaian aktif: penolakan atau gagal memnuhi tugas. restrain fisik b. misal ditampar. diintimidasi. atau cidera. menakut-nakuti. c. Dehidrasi 14. memar. Pengabaian pasif : penolakan atau kegagalan memenuhi tugas pennngasuhan diluar upaya yag disadari dan secara intensif berusaha menimbulkan distress fisik atau emosional pada lansia (misalnya pengabaian. Penganiayaan materi: eksploitasi ilegal. layanan tidak diawasi) C. Penganiayaan materi: mencuri atau menyalahgunakan uang atau meteri d. Penganiayaan fisik: penderitaan untuk menimbulkan nyeri fisik. Luka bakar 8. Malnutrisi 16. Sedai berlebihan 9. Abrasi atau lecet 4. dilukai. Tanda-tanda Korban Penganiayaan 1. Menurut Wolf dan pilemer (1984) a. diancam. Ansietas 10. Kedinginan . Terklir 6. atau tidak tepat. atau sumber-sumber lain d. dihina. termsuk upaya yang disadari atau disengaja untuk menimbulkan stress fisik atau emosional pada lansia (misalnya ditinggalkan atau pengingkaran secara sengaja pemberian layan makan dan kesehatan) e. Kondisi yang tidak diobati tetapi sebelumnya diobati 13. Dekubitus 12. Dislokasi 7. Pelannggaran hak: dipaksa keluar rumah seseorang atau dipaksa untuk pindah ke tempat lain 4. Penganiayaan psikologis: tindakan menimbulkan penderitaan mental (misalnya memanggil nama. Laserasi 3. c. Kontusio 2. memperlakuakan seperti anak-anak. kekerasan fisik (dikurung berlawana dengan keinginan seseorang). pennganiaayan seksual.

Kemungkinan Indikator Potensial maupun Aktual Penganiayaan Lansia Area Pengkajian Respon yang berisiko atau alasan kunjungan penganiayaan/ pengebaian Masalah primer/ alasan Data riwayat yang bertentangan dengan temuan fisik kunjungan Ketidakmampuan fisiki atau psikologi akut atau kronis Ketidakmampuan untuk berpartisipasi secara mandiri dalam aktivitas sehari-hari Keterlambatan yang tidak sesuai untuk membawa lansia ke fasilitas kesehatan Keengganan dari pihak pemberi asuhan untuk memberi informasi tentang kondisi lansia Reaksi pemberi asuhan yang tidak sesuai dengan perawat bertindak berlebihan atau tidak bertindak Kesehatan keluarga sama sekali Lansia Penyalahgunaan zat Tumbuh di rumah yang penuh kekerasan Anak dari lansia Ketergantungan lansia yang berlebihan terhadap anak Dianiaya oleh orang tua sebagai anak Hubungan antagonistik diantara saudara kandung Ketergantunga yang berlebihan terhadap lansia Penyalahgunaan zat Riwayat hubungan kekerasan dengan saudara kandung lainnya atau pasangan Saudara kandung Hubungan antagonis diantara saudara kandung Ketergantungan yang berlebihan dari satu saudara kandung atau lebih terhadap saudara kandung yang lain tau terdapat saling ketergantungan . Depresi D. 17. Hygiene buruk 18.

atau kerabat. kurang aktivitas diluar) Penyalahgunaan zat . keanehan pilihan makanan) Makanan atau minuman yang tidak tepat Asupan diet yang tidak sesuai dengan hasil pemeriksaan Obat atau medikasi Asupan makanan atau minuman yang tidak adekuat Obat atau medikasi yang tidak diindikasikan karena kondisi fisik Dosis obat atau medikasi (baik dari yang diresepkan amupun obat bebas Kepribadian sosial Obat tidak diminum sesuai resep Pemberi asuhan memiliki harapan yang tidak realistik terhadap lansia Isolasi sosial (sedikit atau tidak kontak dengan teman. tetangga.Anggota lain dan hubungan Riwayat adanya penganiayaan atau pengabaian atau keluarga kematian karena kekerasan Rumah tangga Kekerasan atau tindakan agresi digunakan untuk menyelesaikan konflik dan menyelesaikan masalah Riwayat penganiayaan atau pengabaian diantara anggota keluarga Kemiskinan Sedikita atau tidak adanya teman atau tetangga atau sistem pendukung lain yang tersedia Jumlah situasi stres yang berlebihan yang diahadapi selama periode singkat (pengangguran kematian kerabat atau orang dekat lainnya) Riwayat Kesehtan Lansia Anak-anak Riwayat ketidakmampuan fisik atau psikologis kronis Paruh baya Riwayat ketidakmampuan fisik atau psikologis kronis Nutrisi Riwayat masalah dengan makanan (gastrointestinal.

Disiplin anak-anak. Riwayat penganiayaan pasangan (sebagai korban/penganiaya) Riwayat hubungan antogonistik diantara anggota keluarga (antara anggota keluarga secara umum termasuk lansia) Perbedaan usia yang jauh antara lansia dan pasangan Masalah keluarga yang banyak Ketergantungan yang berlebihan terhadap pasangan. tidak konsisten Emosional/pelanggaran hak Riwayat pemberi asuhan atau orang lain yang “kehilangan kendali” atau “memukul terlalu keras” Ancaman manakut-nakuti Memperlakukan seperti anak-anak Mencaci-maki Berteriak Mengusir dari rumah Memaksa masuk ke institusi Melarang menikah Tidur Mencegah penggunaan uang secara bebas Eliminasi Isolasi Penyakit - - Penyakit kronis atau kecacatan .tidak tepat. tidak tepat. atau orang dekat lainnya Fisik Keyakinan bahwa penggunaan hukuman fisik merupakan hal yang tepat Mengancam dengan instrumen sebagai alat untuk menghukum Penggunaan instrumen untuk memberi hukuman fisik Hukuman fisik yang berlebihan.

perubahan berat badan. Pemanfaatan layanan terutama pada lansia yang diketahui menderita kesehatan konvusi. Fisik: memar. Pembedahan atau Ketidakmampuan yang memerlukan pengobatan hospitalisasi khusu dari pemberi perawatan atau orang lain Operasi atau penyakit yang membutuhkan hospitalisasi lama atau berulang Pemberi perawatan menolak hospitalisasi untuk lansia Uji diagnostik Pemberi perawatan menunjukan kecemasan berlebihan terhadap hospitalisasi lansia Pemberi perawatan menolak dilakukannya uji diagnostik lebih lanjut pada lansia Pemberi asuhan bertindak terlalu berlebihan atau tidak bertindak sama sekali terhadap hasil diagnostik Keamanan berulang Riwayat kejadian terdahulu yang tidak mendukung cidera aktual Tidak dilakukannya tindakan kewaspadaan yang tepat. bekas luka cakaran. apatis. harga diri rendah. bekas disundut api. perdarahan. depresi. paranoid. disorientasi. perubahan pola makan. agitasi. atau dengan ketidakmampuan fisik yang membatasi mobilitas Tidak sering Tinjauan sistem tubuh Pemberi perawatan menunjukan kecemasan berlebihan terhadap hospitalisasi pada lansia Sering kali ke layananan kesehatan - Deteksi tanda dan gejala pada lansia yang mengalami tindakan kekerasan dan penelantaran 1. patah tulang. disorientasi . infeksi alat kelamin (kekerasan seksual) 2. menangis. Psikologis: gangguan tidur.

keterlibatan anggota keluarga terhadap masalah keuangan. Beliau mengatakan mempunyai 3 orang anak perempuan. Finansial: keluhan tentang kelaparan. dua dari anaknya telah menikah dan berkeluarga. BAB III TINJAUAN KASUS Bpk. Bpk. Anak pertamanya tinggal di Sidoarjo. T (71 th) sudah 2 minggu tinggal di panti werda. 3. ketidakmampuan untuk membayar kewajiban bulanan. anak kedua dahulu tinggal satu rumah dengannya sedangkan anak ketiganya tinggal di sebelah rumahnya. T tinggal bersama anak keduanya serta menantunya sedangkan istrinya telah .

dan tidak perlu lagi mengikuti kegiatan diluar. Anak- anaknya juga mengatakan bahwa ia sudah tua. keluarganya juga selalu menggunakan nada yang keras seperti marah saat berkomunikasi dengannya. T mengatakan ia merasa kesepian dirumah. T mengatakan beliau adalah pensiunan dari angkatan laut yang dahulunya bekerja di bagian permesinan kapal selam maupun kapal laut. T Umur : 71 tahun Agama : Islam Alamat asal : Ngagel Rejo Tanggal datang : 3 oktober 2016 . A. T mengatakan sangat senang dalam memperbaiki. Bpk. meninggal 11 tahun yang lalu. sehingga sering ditinggal sendiri dirumah oleh keluarganya dan dititipkan kepada pengasuh yang dipanggil kerumah. Pengkajian 1. namun anak-anaknya selalu memarahi dan mengatakan bahwa tindakan yang dilakukan hanya merusak barang dan ia lebih baik tidur saja dikamar. sebab keluarganya seperti malas untuk berkomunikasi dengannya dikarenakan telinga kananya sudah tidak bisa mendengar dan telinga kirinya sudah mengalami penurunan pendengaran. Bpk. ataupun memodifikasi suatu barang maupun ruangan sendiri sesuai dengan keinginannya. IDENTITASKLIE : N Nama : Tn. Bpk.

S Hubungan : Anak Pekerjaan : Ibu rumah tangga Alamat : Ngagel Rejo 3 STATUS KESEHATAN SEKARANG : . KELUARGA Nama : Ny. Integumen Ya Tidak Lesi / luka : √ . terkadang duduk di ruang tamu. Kondisi Umum Ya Tidak Kelelahan : √ Perubahan BB :  Perubahan nafsu : √ makan Masalah tidur : √ Kemampuan ADL : √ KETERANGAN : Klien mengatakan tenaganya tidak sekuat saat masih muda dahulu. AGE RELATED CHANGES(PERUBAHAN TERKAIT PROSES MENUA) FUNGSI FISIOLOGIS 1. namun klien mengatakan mengalami penurunan pendengaran.2 DATA : . 4. Klien mengatakan di rumah maupun di panti hanya banyak melakukan aktivitas di atas tempat tidur. Keluhan utama: Klien mengatakan tidak ada keluhan seperti rasa sakit pada dirinya. 2.

Kepala Ya Tidak Sakit kepala :  Pusing :  Gatal pada kulit kepala : √ KETERANGAN : Tidak ada keluhan yang dirasakan klien 5. Hematopoetic Ya Tidak Perdarahan abnormal : √ Pembengkakankellimfe : √ Anemia : √ KETERANGAN : TD: 140/90 mmHg N: 87x/menit 4. Mata Ya Tidak Perubahan : √ penglihatan Pakai kacamata : √ Kekeringan mata : √ Nyeri : √ Gatal : √ Photobobia : √ . Pruritus : √ Perubahan pigmen : √ Memar : √ Pola penyembuhan lesi : √ KETERANGAN : Tidak terdapat gangguan pada sistem integument 3.

Telinga Ya Tidak Penurunan pendengaran :  Discharge : √ Tinitus : √ Vertigo : √ Alat bantu dengar : √ Riwayat infeksi : √ Kebiasaan membersihkan : √ telinga Dampak pada ADL : Tidak terdapat gangguan pada ADL KETERANGAN : Telinga kanan tidak dapat mendengar. Diplopia : √ Riwayat infeksi : √ KETERANGAN : Mata nampak merah. sedangkan telinga kiri mengalami penurunan pendengaran 7. berair 6. Hidung sinus Ya Tidak Rhinorrhea : √ Discharge : √ Epistaksis : √ Obstruksi : √ Snoring : √ Alergi : √ Riwayat infeksi : √ KETERANGAN : Tidak terdapat gangguan pada hidung sinus .

Mulut.8. tenggorokan Ya Tidak Nyeri telan : √ Kesulitan menelan : √ Lesi : √ Perdarahan gusi : √ Caries : √ Perubahan rasa : √ Gigi palsu : √ Riwayat Infeksi : √ Pola sikat gigi : 2x/hari pagi hari setelah mandi dan malam sebelum tidur KETERANGAN : Gigi ada yang copot 2 digeraham atas 1 gigi geraham bawah depan 9 Leher . Ya Tidak Kekakuan :  Nyer i tekan : √ Massa : √ KETERANGAN : Tidak ada keluhan yang dirasakan klien 10 Pernafasan . Ya Tidak Batuk : √ Nafas pendek : √ .

Kardiovaskuler Ya Tidak Chest pain : √ Palpitasi : √ Dipsnoe : √ Paroximal nocturnal : √ Orthopnea : √ Murmur : √ Edema : √ KETERANGAN : Tidak terdapat gangguan pada kardiovaskuler 12. Hemoptisis : √ Wheezing : √ Asma : √ KETERANGAN : Klien mengatakan tidak ada keluhan. 11. . Gastrointestinal Ya Tidak Disphagia : √ Nausea / vomiting :  Hemateemesis : √ Perubahan nafsu : √ makan Massa : √ Jaundice : √ Perubahan pola BAB :  Melena : √ Hemorrhoid : √ Pola BAB : 1x/ hari KETERANGAN : Klien makan sedikit – sedikit tapi sering. RR 14x/mnt.

warna kuning KETERANGAN : Tidak terdapat gangguan pada sistem perkemihan 14 Reproduksi (laki- . Ya Tidak Dysuria : √ Frekuensi : 4 kali sehari Hesitancy : √ Urgency : √ Hematuria : √ Poliuria : √ Oliguria : √ Nocturia : √ Inkontinensia : √ Nyeri berkemih : √ Pola BAK : 4 kali sehari. laki) Ya Tidak Lesi : √ Disharge : √ Testiculer pain : √ Testiculer massa : √ Perubahan gairah : √ sex Impotensi : √ Reproduksi (perempuan) Lesi : Discharge : .13 Perkemihan .

..................................... Postcoital bleeding : Nyeri pelvis : Prolap : Riwayat menstruasi : .................... Ya Tidak Nyeri Sendi :  Bengkak : √ Kaku sendi : √ Deformitas : √ Spasme : √ Kram : √ Kelemahan otot : √ Masalah gaya : √ berjalan Nyeri punggung : √ Pola latihan : klien mengatakan tiap pagi jalan-jalan pagi namun sekarang jarang karena mudah lelah Dampak ADL : Dalam pemenuhan ADL klien mampu mandiri KETERANGAN : Klien mengatakan tidak ada keluhan 16 Persyarafan ... Aktifitas seksual : Pap smear : KETERANGAN : - 15 Muskuloskeletal .... Ya Tidak Headache :  Seizures : √ ........

Pada saat terbangun merasa susah bernafas. POTENSI PERTUMBUHAN PSIKOSOSIAL DAN SPIRITUAL : Psikososial YA Tidak Cemas : √ Depresi : √ Ketakutan : √ Insomnia : √ Kesulitan dalam mengambil : √ keputusan Kesulitan konsentrasi : √ Mekanisme koping : Mekanisme koping kurang adaptif Persepsi tentang kematian : klien mengatakan setiap manusia akan mengalami kematian Dampak pada ADL : klien mudah lelah dalam melakukan kegiatan yang berat Keterangan : klien sulit untuk tidur pada siang dan malam hari. Klien sulit untuk memulai tidur dan mudah terbangung pada malam hari karena mimpi buruk. Pada saat malam hari klien dapat tertidur pulas hanya sekitar 3-4 jam/hari. Syncope : √ Tic/tremor : √ Paralysis : √ Paresis : √ Masalah memori : √ KETERANGAN : Klien mengatakan tidak ada keluhan 5. Spiritual  Aktivitas ibadah klien mengatakan melakukan sholat 5 waktu namun jarang mengikuti pengajian yang ada di wilayah sekitar tempat tinggalnya .

LINGKUNGAN :  Kamar : kamar klien memiliki penerangan yang cukup  Kamar mandi : lantai kamar mandi licin dan tidak terdapat pegangan. ADDITIONAL RISK FACTOR Klien mengatakan terkadang merokok. dan hal tersebut masih dilakukan hingga saat dipanti .  Hambatan :- 6. closet jongkok  Dalam rumah : lantai rumah tidak licin. penerangan baik  Luar rumah : terdapat taman dan kursi duduk di depan kompleks kamar 7. dan sangat suka makan makanan yang berlemak serta tidak suka makan sayuran.

mengoleskan selai . menyeka. menalikan renda/tali) 4 Berhias 0 = butuh bantuan dalam perawatan pribadi 5 5 = mandiri (mencuci wajah. tetapi bisa melakukan sesuatu menyiram) dengan mandiri 10 = mandiri 8 Naik turun tangga 0 = Tidak mampu 10 . misal makana cair. gosok gigi. 5 = butuh bantuan. bercukur) 5 Kontrol Bowel (BAB) 0 = inkontiensia/ membutuhkan bantuan enema untuk 10 BAB 5 = sesekali BAB tidak sadar (occasional accident) 10 = Kontrol BAB baik 6 Kotrol Bladder (BAK) 0 = inkontiensia atau memakia kateter dan tidak 10 mampu merawat kateter dan baik 5 = sesekali BAK tidak sadar (occasional accident) 10 = Kontrol BAK baik 7 Penggunaan toilet 0 = Tidak mampu 10 (mencuci. Keramas. 1. Kemampuan ADL Tingkat kemandirian dalam kehidupan sehari-hari (Indeks Barthel) No Kriteria Skor Skor yang didapat 1 Makan 0 = tidak mampu 10 5 = dengan bantuan (memaotong makanan. memakai resleting. dll atau membutuhkan menu makanan tertentu. bubur) 10 = mandiri 2 Mandi 0 = dependen 5 5 = mandiri 3 Berpakaian 0 = dependen 10 5 = butuh bantuan 10 = mandiri (mengancingkan.

tidak dapat duduk 15 tempat tidur dan dengan seimbang sebaliknya 5 = dengan bantuan lebih banyak (1 aau 2 orang yang membantu) 10 = dengan bantuan lebih sedikit 15 = mandiri TOTAL SKOR 100 Interpretasi: 0-20 = ketergantungan total 21-60 = Ketergantungan berat 61-90 = ketergantungan sedang 91-99 = ketergantungan ringan 100 = mandiri (Lewis. Carole & Shaw.72 m (50 yard) 10 Berpindah ( dari kursi ke 0 = tidak mampu berpindah. mampu memosisikan kursi roda di pojok ruangan 10 = berjalan dengan bantuan 1 orang > 45. Keiba.72 m (50 yard) 5 = mandiri dengan kursi roda > 45. pegangan) sejauh > 45. 5 = dengan bantuan 10 = mandiri 9 Mobilisasi di permukaan 0 = tidak mampu mobilisasi atau berjalan/kursi roda < 15 datar 45. 2006) Kogni .72 m (50 yard) 15 = berjalan mandiri (mungkin dengan bantuan alat.72 m (50 yard).

........ Musim : ..........tif 2.... 72 5).... 79 4).3 (tiappoinnilai 1) 1)………......... . 86 3)..... Hari :........ kertas)........ piring................... Tanggal : 2 Orientasi 5 5 Dimanasekarangkitaberada ? Negara: …………………… Panti : ………………… Propinsi: …………………...... Minta klien untuk mengulangi kata berikut : “ tidak ada.... piring 3)...... MMSE (Mini Mental Status Exam) Nama : Tgl/Jam: No Aspek Nilai Nilai Kriteria Kognitif maksima Klien l 1 Orientasi 5 3 Menyebutkan dengan benar : Tahun : ..... Jawaban : 1). menjawab : 1) Kursi 2).......... dan.... atau tetapi ) Klien menjawab : Minta klien untuk mengikuti perintah berikut yang terdiri 3 langkah..... 6 Bahasa 9 8 Menanyakan pada klien tentang benda (sambil menunjukan benda tersebut).. Wisma/Kamar : ………… Kabupaten/kota : ……………………………………… 3 Registrasi 3 3 Sebutkan 3 namaobyek (misal : kursi. Kertas 4 Perhatiandankalkulas 5 4 Meminta klien berhitung mulai dari 100 kemudia i kurangi 7 sampai 5 tingkat.... 2)…………… 3)…………... jika........... 65 5 Mengingat 3 2 Mintaklienuntukmengulangiketigaobyekpadapoink e.... Ambil kertas ditangan anda 5)........ 93 2)............. Bulan : . kemudian ditanyakankepadaklien.... Lipat dua ........ 4). . 2).............. 1)..................... 3)......

17 : gangguan kognitif berat Kesimpulan : tidak ada gangguan kognitif 2. 7). Menyalin gambar 2 segi lima yang saling bertumpuk Total nilai 30 25 Interpretasihasil : 24 – 30 : tidak ada gangguan kognitif 18 – 23 : gangguan kognitif sedang 0 . Perintahkan kepada klien untuk menulis kalimat dan 9). “Tutup mata anda” 8). GDS . Perintahkan pada klien untuk hal berikut (bila aktifitas sesuai perintah yang dituliskan di kertas nilai satu poin. Taruh dilantai. 6).

2006) Interpretasi :Jika Diperoleh skore 5 atau lebih. Anda puas dengan kehidupan anda saat ini 0 1 1 2. Anda takut ada sesuatu yang buruk terjadi pada anda 1 0 0 7. Anda menemukan bahwa hidup ini sangat luar biasa 0 1 0 12.Pengkajian Depresi Jawaban No Pertanyaan Ya Tdk Hasil 1. Anda memiliki motivasi yang baik sepanjang waktu 0 1 1 8. Anda merasa bahwa hidup anda hampa / kosong 1 0 1 4. maka diindikasikan depresi 3. Anda tidak tertarik dengan jalan hidup anda 1 0 0 13. Anda merasa memiliki banyak masalah dengan ingatan anda 1 0 0 11. Fungsi sosial lansia APGAR KELUARGA DENGAN LANSIA Alat Skrining yang dapat digunakan untuk mengkaji fungsi sosial lansia . Anda sering merasa bosan 1 0 1 5. Anda lebih senang tinggal dirumah daripada keluar melakukan 1 0 1 sesuatu hal 10. Anda sering merasakan butuh bantuan 1 0 0 9. Anda merasa diri anda sangat energik / bersemangat 0 1 1 14. Anda merasa bosan dengan berbagai aktifitas dan kesenangan 1 0 1 3. Anda lebih merasa bahagia di sepanjang waktu 0 1 1 8. Anda berfikir bahwa orang lain lebih baik dari diri anda 1 0 0 Jumlah 9 (Geriatric Depressoion Scale (Short Form) dari Yesafage (1983) dalam Gerontological Nursing. Anda merasa tidak punya harapan 1 0 1 15.

6 = Disfungsi sedang > 6 = Fungsi baik Smilkstein. NO URAIAN FUNGSI SKORE 1. Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman) AFFECTION 0 saya mengekspresikan afek dan berespon terhadap emosi-emosi saya seperti marah. ANALISA DATA Data Fokus Problem . Hampir tidak pernah : skore 0 Intepretasi: < 3 = Disfungsi berat 4 . Saya puas dengan cara teman-teman saya dan saya RESOLVE 0 meneyediakan waktu bersama-sama Kategori Skor: TOTAL 3 Pertanyaan-pertanyaan yang dijawab: 1). Saya puas dengan cara keluarga (teman. Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman) GROWTH 1 saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan aktivitas / arah baru 4. Selalu : skore 2 2). Saya puas bahwa saya dapat kembali pada ADAPTATION 1 keluarga (teman-teman) saya untuk membantu pada waktu sesuatu menyusahkan saya 2. 1978 dalam Gerontologic Nursing and health aging 2005 B. Kadang-kadang : 1 3). PARTNERSHIP 1 teman)saya membicarakan sesuatu dengan saya dan mengungkapkan masalah dengan saya 3. sedih/mencintai 5.

Lebih banyak melakukan aktivitas di tempat tidur . Klien kecewa dengan anak-anaknya DO: .Saat diajak berbicara klien meminta diulang karena pertanyaan tidak terdengar . Klien malu untuk melakukan hobinya di panti karena masih ingat respon dari keluarga .Pandangan terlihat kosong . Terjadi disfungsi sosial berat . Saat dilakukan tes bisik telinga klien yang sebelah kanan tidak mampu mendengarkan. sulit memulai tidur dan pada saat terbangun sulit untuk bernafas DO: .Klien nampak menyendiri DS: klien mengatakan masih merasaka Sindrom pasca trauma kesepian dan depresi.Klien kurang percaya diri dalam melakukan hobinya karena terbiasa dianggap remeh .klien mengalami depresi .DS: klien mengatakan mengalami Harga diri rendah penurunan pendengaran sehingga malas untuk berbincang-bincang dengan teman sekamarnya.jam tidur klien 3-4 jam/hari .Mengalami gangguan tidur .klien nampak lelah. DO: .Klien nampak kurang berinteraksi dengan teman sekamarnya .Pernah mengalami penganiayaan secara psikologis DS: klien mengatakan mengalami Gangguan pola tidur insomnia. dan sebelah kiri mampu mendengarkan namun terjadi penurunan .Skor apgar keluarga 3. mata merah dan berair .

DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Gangguan pola tidur 3.C. Harga diri rendah . Sindrom pasca trauma 2.

Evaluasi alam perasaan (misalnya: tanda Trauma O. Domain 9 Koping/ Toleransi N.D.Agresi stabil yang disfungsional . Bantu pasien untuk mencari aspek pemicu . Bantu pasien untuk mengidentifikasi pikiran I. riwayat pribadi) F.Amenesia disosiasi . Bantu klien untuk mengidentifikasi sumber- . fisik.Perilaku menghindar Psikososial sumber tersedia (teman sekamar atau J. Bantu pasien untuk melakukan manajemen Trauma P. gangguan alam perasaan . Riwayat penganiayaan W. R. tidak dapat diidentifikasi . U. Berikan umpan balik terhadap pekerjaan L. RENCANA KEPERAWATAN A. Domain III Kesehatan a. Faktor yang berhubungan: V.Mengamuk S. dan pengambilan keputusan) H. Observasi fungsi kognitif (misalnya: terhadap peristiwa traumatik yang Q. Kelas M Kesejahteraan gejala. kemampuan penuh tekanan menanggapi situasi dengan tepat. Manajemen alam perasaan E. M.Marah sekeliling sesuatu . mengurangi perasaan takut. NOC C. 1204 Keseimbangan alam siklus tidur/ bangun G.Menunjukkan alam perasaan yang dan perasaan yang mendasari alam perasaan . 00141 Sindrom Pasca Sosial 2. Penyesuaian emosi dalam konsentrasi. psikologi.Keputusasaan . Batasan karakteristik: .Duka cita yang stabil mengekspresikan perasaan dengan . Evaluasi perubahan alam perasaan seksual) atau gelisah dari sumber-sumber yang AA.Mimpi buruk T. 1402 Kontrol Kecemasan diri 8. perhatian.Menunjukkan minat terhadap melibatkan klien dalam memperbaiki .Malu . Kelas 1 Respons Pasca Psikososial 1. Domain III Kekuatan 7. ingatan. tegaang 9. NIC D.Menunjukkan tingkat energy 5. Skala outcome: 4. Bantu pasien untuk memfasilitasi dalam .Tingkat derpresi menurun 6. Diagnosa Keperawaatan B. Tindakan personal untuk yang sudah dilakukan klien (misalnya: fisik. Respons maladaptif kontinu perasaan 3. Kelas O Kontrol Diri petugas panti) K.

Terjadi penurunan intensitas 1. Pengurangan kecemasan . Hindari gangguan yang tidak perlu diberikan untuk Tidur/Istirahat AJ. 0004 Tidur waktu istirahat AE. Ciptakan lingkungan yang tenang dan mendukung AD. 9. Jam tidur (4) 4. Dorong verbalisasi perasaan. 000198 Gangguan pola AK. Domain 4 : Aktivitas/ AH. presepsi dan . Bantu klien mengidentifikasi situasi yang dapat menyebabkan kecemasan 11. Ajari klien terapi modalitas (terapi Z. Klien mampu menggunakan ketakutan koping yang adaptif 7. Berikan pujian pada perilaku yang baik yang menimbulkan stress 6. Lakukan BHSP kecemasan 2. Manajemen lingkungan: Kenyamanan Istirahat Kesehatan 1. Pola tidur (4) (gunakan prinsip keselarasan tubuh) kualitas tidur akibat faktor . Klien mampu menggunakan mengalami kecemasan relaksasi untuk mengurangi 8. Hindari cahaya langsung pada mata tidur . Domain I Fungsi a. Diskusikan tentang harapan klien terhadap . AC. Klien mampu merencanakan 4. Kualitas tidur (4) 5. Posisikan klien untuk memfasilitasi kenyamanan AF. Sesuaikan suhu rungan jika memungkinkan . Outcome yang diharapkan: b. Indentifikasi tanda dan gejala saat . Kaji untuk tanda verbal dan nonverbal kecemasan AB. Interupsi jumlah waktu dan . Dengarkan klien dengan seksama strategi koping untuk situasi 5. Kelas 1 : AI. Diskusikan perilaku yang dapat mengurangi kecemasan kecemasan Y. Kontrol diri terhadap autogenik) kecemasan 10. Diharapakan klien: 3. X. Libatkan keluarga klien dalam berdiskusi . Kelas A Pemeliharaan Energi 2. Mengurangi penyebab kecemasan yang dialami kecemasan 3.

Evaluasi laporan terkait dengan relaksasi yang dicapai secara teratur 8. Tujukkan dan praktikkan teknik relaksasi 6. Dorong klien untuk mengambil posisi yang nyaman dan pakian yang longgar 5. relaksasi nafas dalam) 3. AG. AO. b. Peningkatan harga diri: AP. Evaluasi dan dokumentasikan respon terhadap relaksasi AN. Jelaskan rasionalisasi dan manfaat relaksasi serta jenis relaksasi yang tersedia 2. Pemulihan terhadap BB. Kelas 2 Harga diri AY. Batasan karakteristik . Harga diri BA. Berikan diskripsi detail terkait intervensi relaksasi yang dipilih (relaksasi autogenik. AT.Meremehkan kemampuan . Terapi Relaksasi 1. 00120 Harga diri rendah kekerasan: emosi pendengaran situasional AZ. Tingkat stress AR. Ciptakan lingkungan yang tenang dengan menggunakan pencahayaan yang redup 4. eksternal . Kesulitan memulai tidur (4) AM. AL. Peningkatan komunikasi: pengurangan AQ. Dorong klien untuk mengulang praktik teknik relaksasi 7. Domain 6 Presepsi diri AX. Munculnya presepsi negatif tentang makna diri sebagai respons terhadap situasi saat ini AS.

BC.Gangguan citra tubuh . BF. BD.Gangguan fungsi . BM. .Gangguan peran sosial . BJ.Faktor yang berhubungan .Ungkapan negative tentang diri AU. menghadapi situasi .Tidak berdaya . AV. BG. Perilaku tidak asertif . BH. Tantangan situasi terhadap harga diri . BL.Riwayat kehilangan AW. BI. BK. BE. BN. BO.

dan depresi. Makalah ini disusun untuk memberikan tambahan ilmu kepada mahasiswa dalam menyusun asuhan keperawatan lansia dengan masalah penelantaran. dan penganiayaan medis. Menurut Douglas Hickey dan Noele penganiayaan dibagi menjadi empat. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada kasus lansia dengan penelantaran. gangguan pola tidur dan/atau harga diri rendah. yaitu: penganiayaan fisik. kelainan perkembangan atau perampasan hak (Bagong dkk. PENUTUP BR. sedai berlebihan. dan pengabaian fisik. Kekerasan adalah penggunaan kekuatan fisik dan kekuasaan. dekubitus. pengabaian verbal atau emosional. penganiayaan psikologis. pengabaian dan kekerasan adalah sindrom pasca trauma. penganiayaan materi: pencurian. pengabaian dan kekerasan. terklir. obat berlebihan atau kurang. BX. perorangan atau sekelompok orang atau masyarakat yang mengakibatkan atau kemungkinan besar mengakibatkan memar/trauma. Tanda-tanda yang dapat muncul pada klien dengan indikasi penganiayaan: kontusio. abrasi atau lecet. kedinginan. A. psikologis. pengabaian aktif. 2000). Saran BZ. kondisi yang tidak diobati tetapi sebelumnya diobati. BU. dislokasi. BT. BY. hygiene buruk. penggunaan salah obat. B. BW. malnutrisi. aserasi. Kesimpulan BS. BV. dan finansial. Deteksi tanda dan gejala pada lansia yang mengalami tindakan kekerasan dan penelantaran dapat dilihat dari aspek fisik. BP. Sehingga jika mahasiswa menemukan kasus diatas mahasiswa dapat menggunakan cara diatas. ancaman atau tindakan terhadap diri sendiri. . luka bakar. Menurut O’Malley penganiayaan dibagi menjadi empat. penyalahgunaan uang atau hak milik. BAB IV BQ. fraktur. kematian. dehidrasi. kerugian psikologis. ansietas. yaitu: pengabaian pasif.

(2006. CE. CH. DE. CY.aspx DH. CL. CG. Dipetik April 8. CJ. CW. CO. CN. . CB. CP. CZ. DI. CQ. Keiba. DG. CA.com/Article/The-Original-Barthel-Index- of-ADLs. 2015. DAFTAR PUSTAKA DF. DD. CV. dari Advance Health Care Network: http://physical-therapy. CT. CD.advanceweb. September 25). Lewis. CU. DC. CR. DB. CC. Advance Health Care Network. Carole & Shaw. CX. CF. CK. DA. CS. CI. CM.