You are on page 1of 1

A.

Sifat dan Uji Bioaktivitas BSLT

Sebanyak 5 mg isolat dilarutkan dalam 1 mL kloroform. Larutan yang terbentuk
disebut larutan induk dengan konsentrasi 5000 µg/mL. Larutan induk kemudian dipipet
sebanyak 10, 25, 50, 75, dan 100 µL dan dimasukkan ke dalam masing-masing vial yang
berbeda. Selanjutnya masing-masing vial dibiarkan sampai pelarutnya menguap. Ke dalam
masing-masing vial dimasukkan 10 ekor larva Artemia salina, kemudian ditambah air laut
sampai volumenya mencapai 5 mL dan dibiarkan selama 24 jam. Setelah 24 jam dihitung
jumlah larva Artemia salina yang mati. Hasil yang diperoleh dianalisis probit dengan
menggunakan program SPSS 16 for windows untuk menentukan besarnya LC50 senyawa hasil
isolasi (Mc Laughlin, et al., 1991).

Berdasarkan hasil uji pendahuluan aktivitas antikanker dengan menggunakan metode
brine shrimp lethality test (BSLT), menunjukkan bahwa isolat A positif memiliki potensi
sebagai antikanker. Hasil dari analisis probit menggunakan SPSS 16 diperoleh harga LC 50
sebesar 67,378 µg/mL.

Adanya aktivitas antikanker pada tumbuhan paku Adiantum philippensis L. karena
kandungan terpenoidnya terutama golongan triterpenoid membuat tumbuhan ini berpotensi
untuk menjadi obat antikanker. Senyawa terpenoid dikenal sebagai salah satu golongan
senyawa kimia dalam tanaman yang memiliki aktivitas antikanker dan antioksidan (Lisdawati,
2002).

Dari hasil pengujian dengan uji BSLT maka senyawa hasil isolasi dapat digolongkan
sebagai zat yang toksik karena harga LC 50 senyawa neohop-13(18)-ena terletak antara 5-
75µg/mL. Dengan demikian senyawa tersebut mempunyai peluang untuk digolongkan
sebagai senyawa yang bersifat antikanker. Menurut Anderson (1991), bahwa senyawa murni
dianggap memiliki aktivitas biologi apabila nilai LC50 < 200µg/mL. Namun demikian untuk
lebih memastikan berapa besar aktivitas antikanker dari senyawa isolat perlu dilakukan uji
langsung pada sel kanker.