You are on page 1of 7

NAMA : SINTA MEIDIASARI

NIM : 151001084

KELAS :S1 KEPERAWATAN II-B

TUGAS 1

1. Perbedaan tipe panas pada tipes, DHF, batuk dan pilek, faringitis,
meningitis.
 Tipes :
a. Awalnya, demam yang dialami tidak terlalu tinggi dan suhu
akan terus meningkat bertahap sampai > 38 derajat
Celcius.
b. Demam pada penyakit tipes dapat terjadi naik turun,
puncak demam biasanya terjadi pada malam hari. Suhu
tubuh berkisar antara 38,5°C sampai 40°C.
c. Untuk penderita tifus, biasanya panas timbul pada sore
dan malam hari. Pagi menjelang siang sudah mulai turun,
lalu sore harinya kembali panas.
 DHF :
a. Mendadak panas tinggi selama 2 – 7 hari, tampak lemah
lesu suhu badan antara 38ºC sampai 40ºC atau lebih.
Pada hari kelima biasanya demamnya turun. Tapi hati-hati,
walaupun demamnya turun tapi bukan berarti semakin
baik. Ini merupakan fase yang berbahaya karena
merupakan fase kritis.
b. Demam pada DBD mempunyai siklus demam yang khas
disebut siklus demam pelana kuda. Ciri-ciri demam DBD
atau demam pelana kuda :
Hari 1-3 Fase Demam Tinggi
Demam mendadak tinggi dan disertai sakit kepala hebat,
sakit di belakang mata, badan ngilu dan nyeri, serta mual

Hari 4-5 Fase Kritis Fase demam turun drastic dan sering mengecoh seoalah terjdi kesembuhan. Tipe-tipe kejang menurut penyakit meningitis. Kondisi ini dapat terjadi karena trombosit turun yang mengakibatkan kelainan pada pembuluh darah. kejadian syok/dengue syok syndrome dipercepat oleh dehidrasi (kekurangan cairan). maka kebanyakan kasus kematian penderita DBD adalah akibat dari pendarahan yang berlanjut dari kondisi syok tersebut. Epilepsi : . atau muntah. Bila menunggu terjadinya pola pelana yang biasanya terjadi pada hari kelima maka kadang sudah terlambat untuk ditangani. Pada Fase Kritis. Namun inilah fase kritis kemungkinan terjadinya “Dengue Shock Syndrome”.  Meningitis : Demam tinggi 2. epilepsi. Hal terpenting yang harus dilakukan adalah pada hari ketiga (Fase Demam Tinggi) sebelum terjadinya pola pelana. Hari 6-7 Fase Masa Penyembuhan Fase demam kembali tinggi sebagai bagian dari reaksi tahap penyembuhan. Karena darah bocor.  Faringitis : a. Namun bila penanganannya cepat dan benar maka diharapkan masuk pada Fase Masa Penyembuhan. penderita sudah diperiksakan ke dokter untuk memastikan kemungkinan DBD. terkadang diserti bercak merah di kulit (tidak selalu). a.  Batuk dan Pilek : a. dan tetanus. kejang demam. Meningitis : b.

Dokter ahli saraf mengklasifikasikan kejang-kejang secara parsial atau general. Kejang- kejang yang memiliki intensitas yang paling sering terjadi.  Tonic-clonic seizures (juga disebut grand mal).  Atonic seizures.  Myoclonic seizures. Juga dikenal dengan drop attack.Ada beberapa jenis kejang pada epilepsi. kaku dan gemetar. Kejang-kejang ini memiliki dikarakteristikan oleh gerakan tubuh yang halus dan mencolok. Empat tipe dari kejang-kejang general adalah :  Absence seizures (juga disebut petit mal). Memiliki karakteristik dengan hilangnya kesadaran. Kejang-kejang ini biasanya menyebabkan hentakan atau kedutan secara tiba-tiba pada tangan dan kaki. kejang- kejang ini menyebabkan hilangnya keselarasan dengan otot-otot dan dengan tiba-tiba collapse dan terjatuh. dan dapat menyebabkan hilangnya kesadaran secara singkat. Pada beberapa kasus. kejang-kejang dapat dimulai secara parsial dan kemudian menjadi general. dan hilangnya kontrol terhadap kandung kemih Kejang-Kejang Parsial (Sebagian) . Kejang-Kejang General Kejang-kejang yang melibatkan seluruh bagian otak disebut kejang-kejang general. berdasarkan bagaimana aktivitas otak yang tidak normal dimulai.

 Simple partial seizures (kejang-kejang parsial sederhana). Kejang-kejang ini tidak menghasilkan kehilangan kesadaran. gula darah rendah (hipoglikemia). itu karena anda kehilangan kewaspadaan selama beberapa waktu.  Complex partial seizures (kejang-kejang parsial kompleks). Ketika kejang-kejang muncul sebagai hasil dari aktifitas otak yang tidak normal pada satu bagian otak tersebut. . Setelah evaluasi penuh untuk memperkirakan risiko kambuh. mengecap. Kejang-kejang jenis ini terdiri dari dua kategori. Demam yang berhubungan dengan (atau demam) kejang mungkin terjadi selama masa bayi dan biasanya hilang saat anak-anak berusia 6 tahun. Kejang Provokasi Kejang Provokasi adalah kejang tunggal yang mungkin terjadi sebagai akibat dari trauma. Kejang-kejang ini menghasilkan perubahan kesadaran. seperti tangan atau kaki. atau penyalahgunaan alkohol atau narkoba. vertigo dan berkedip terhadap cahaya. atau mendengar. merasakan. dan gejala sensorik secara spontan seperti perasaan geli. mencium. Kejang-kejang ini bisa juga menghasilkan hentakan bagian tubuh secara tidak sengaja. Kejang-kejang ini mungkin akan mengubah emosi atau berubahnya cara memandang. ilmuan menyebutnya kejang-kejang parsial atau sebagian. natrium darah rendah. demam tinggi. pasien yang menderita kejang tunggal mungkin tidak memerlukan pengobatan.

c. Kejang demam dibagi atas : 1. Anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam. misalnya infeksi SSP.5. Hal ini karena kejang merupakan gejala saja. tanpa gerakan fokal.  Kejang berbentuk umum (bangkitan kejang tonik dan atau klonik). Oleh karena itu. Bila anak berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami kejang didahului demam. Kejang disertai demam pada bayi berumur kurang dari 1 bulan tidak termasuk dalam kejang demam. Kejang demam terjadi pada 2-4% anak dengan umur berkisar antara 6 bulan sampai 5 tahun. Pasien dengan epilepsi mengalami lebih dari satu jenis kejang. sangat penting agar ahli saraf juga mendiagnosa jenis epilepsi Anda. Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berumur 6 bulan – 5 tahun.  Kejang hanya sekali / tidak berulang dalam 24 jam. Jenis kejang ini dapat diobati dengan intervensi psikiater. Selain kejang karena epilepsi ada pula kejang non-epilepsi (disebut pseudoseizures) yang tidak disertai dengan aktivitas listrik abnormal di otak dan mungkin disebabkan oleh masalah psikologis atau stres. pikirkan kemungkinan lain. . insidens tertinggi pada umur 18 bulan. atau epilepsi yang kebetulan terjadi bersama demam. kemudian kejang demam kembali tidak termasuk dalam kejang demam. dan bukan hanya jenis kejangnya saja. Kejang demam : Definisi : Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal lebih dari 380c) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam sederhana (simple febrile seizure).6  Berlangsung singkat (< 15 menit) dan umumnya akan berhenti sendiri.

Pada keadaan yang lebih berat terjadi epistothonus (posisi cephalic tarsal). Dapat terjadi spasme diafragma dan otot – otot pernapasan lainnya. d. Kejang berulang terjadi pada 16% diantara anak yang mengalami kejang demam. dan laringospasme.  Kejang fokal atau parsial satu sisi. Kemudian diikuti kaku buduk. 2. di mana pada saat kejang badan penderita melengkung dan bila ditelentangkan hanya kepada dan bagian tarsa kaki saja yang menyentuh dasar tempat berbaring. Kejang fokal adalah kejang parsial satu sisi.  Kejang berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam. sukar membuka mulut lebar – lebar). . gaya berjalan khas seperti robot. sukar menelan. Suhu tubuh normal hingga subfebris. kaku otot perut. atau kejang umum yang didauhului kejang parsial. atau kejang umum yang didahului kejang parsial. Kejang lama terjadi pada 8 % bangkitan kejang demam. Kejang berulang adalah kejang 2 kali atau lebih dalam 1 hari.6  Berlangsung lama (> 15 menit). Pada saat kejang penderita tetap dalam keadaan sadar. Sekujur tubuh berkeringat. Tetanus : Pertama biasanya rasa sakit pada luka. Kejang demam kompleks (Complex febrile seizure)5. Kejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit atau kejang berulang lebih dari 2 kali dan diantara bangkitan kejang anak tidak sadar. diantara 2 bangkitan kejang anak sadar. diikuti trismus (kaku rahang. rhisus sardonicus (wajah setan).  Kejang demam sederhana merupakan 80% diantara seluruh kejang demam.