Blok 17 Modul

1 1

BAB I

1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
NAPZA merupakan akronim dari Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat
Aditif lainnya. Menurut UU No. 35 Tahun 2009 mengenai Narkotika, Narkotika zat
atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun
semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran,
hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat
menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan.
Dewasa ini penyalahgunaan narkotika dari tahun ke tahun prevalensinya terus
meningkat. Pada tahun 2011 data dari UNODC (United Nation Office on Drugs and
Crime) diperkirakan bahwa antara 167 juta sampai 315 juta atau 3,6% sampai dengan
6,9% penduduk dunia usia 15-64 tahun menggunakan narkotika minimal sekali dalam
setahun. Dari 354 jenis narkotika baru yang ditemukan 29 jenis ditemukan di
Indonesia (Kemenkes RI, 2014).
Di Indonesia sendiri juga terjadi peningkatan kasus penggunaan NAPZA. Dari
data BNN dan POLRI pada tahun 2012 jumlah pengguna narkotika jauh melebihi
pengguna psikotropika dan zat aditif lainnya. Dan selama tahun 2008 hingga 2012
pengguna NAPZA terus meningkat. Karena semakin meningkatnya kasus di
masyarakat mengenai penggunaan narkotika inilah yang membuat kami Oleh karena
itulah kami membahas mengenai gangguan mental dan perubahan perilaku pada
orang yang menyalahgunakan NAPZA.
1.2 Manfaat dan Tujuan Modul
Mahasiswa mampu menjelaskan mengenai penggolongan NAPZA, bagaimana
mekanisme kerjanya, faktor-faktor apa saya yang membuat seseorang
menyalahgunakan NAPZA, penegakan diagnosis, komplikasi serta penanganan pada
seseorang yang menyalahgunakan NAPZA. Termasuk ke dalamnya gangguan mental

Blok 17 Modul
2 1

dan perubahan perilaku pada orang yang menyalahgunakan NAPZA. Agar kelak

1
dapat membantu mahasiswa untuk menegakkan diagnosis di klinik.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Skenario
Pertobatan Ginan
Berasal dari perasaan ditekan oleh lingkungan dan rasa ingin tahu yang besar,
Ginan memulai kisah panjang hidupnya sebagai pengguna NAPZA. Tepatnya sejak

Blok 17 Modul
3 1

tahun 1993, Ginan mengonsumsi obat-obatan anti depressan seperti Pil Koplo dan

1
BK.
Ketika duduk di bangku SMA, Ginan lantas mencoba mwngonsumsi ganja. Efek
sampingnya, matanya bengkak, tapi nafsu makan semakin meningkat. Di tahun
keduanya di bangku SMA, Ginan mencoba mengonsumsi putaw. Perekonomian yang
pas-pasan membuat Ginan mengonsumsi putaw dengan cara dibakar dan disuntik
agar lebih hemat penggunaannya. Ketika uangnya habis untuk membeli putaw,
Ginan ,mulai menjual perabotan di kamar dan rumahnya.
Kantor polisi, pusat rehabilitasi, bahkan pondok pesantren pun pernah
dirasakannya. Namun semua itu tidak mmbuat Ginan jera dan meninggalkan
NAPZA. Lama kelamaan keluarganya semakin jengah dengan kondisi Ginan. Ginan
diusir dari rumah lalu tinggal di jalan. Seiring waktu, satu per satu temannya pun
pergi meninggalkan Ginan.
Ginan yang merasa kurang cocok dengan putaw kembali mengonsumsi ganja.
Sedikit berbeda dengan sebelumnya, kini Ginan mengonsumsi ganja dengan sabu-
sabu serta minuman beralkohol. Sabu-sabu yang dikonsumsinya membuat Ginan
takut berlebihan atau paranoid. Meskipun demikian, Ginan berani mencuri buku-buku
perpustakaan kampusnya untuk dijual demi membeli sabu-sabu.
Tahun 2000, Ginan divonis menderita HIV. Dia senpat tak percaya, sebab
disangkanya HIV hanya bisa menular lewat seks bebas, sesuatu yang selama ini tidak
pernah dilakukannya. Keajaiban yang dialaminya, berkali-kali selamat dari over dosis
(OD).
Dia memulai proses pengobatan dengan pemeriksaan fisik yang disertai
konseling adiksi dan kondisi psikis. Terapi substitusi opiate selama beberapa waktu
untuk mengurangi rasa sakaw juga pernah dijalaninya. Dokter menekankan bahwa
semua pengobatan, keberhasilannya tetap dari kemauan orang tersebut untuk pulih.

2.2 Step 1: Identifikasi Kata Sulit
1. Adiksi : kecanduan/ketergantungan terhadap obat yang bersifat

Bagaimana melakukan konseling adiksi dan konseling kondisi psikis? 6. biasanya memakai metadon. Pada kadar berapa alkohol bisa menyebabkan gangguan perilaku? 10. Apa pemeriksaan yang bisa dilakukan? 8. Blok 17 Modul 4 1 memaksa (harus dipenuhi). 4. 6. NAPZA : singkatan dari Narkotika. 10. Merupakan zat yang bila masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi tubuh terutama pada SSP. dan fungsi sosial karena terjadi kebiasaan. 3. 5. Bagaimana pengaruh NAPZA terhadap lingkungan? . BK : merupakan jenis hipnotic sedative seperti pil koplo. Ganja : menyebabkan euforia. Apa faktor yang membuat Ginan ingin mencoba? 2. Mengapa tidak ada efek saat Ginan berganti obat? 9. Sabu-sabu : golongan stimulansia yang bisa menyebabkan hiperaktivitas. Terapi substitute : terapi pengganti opiat dengan obat yang kadarnya opiate lebih rendah. obat tidur. dan Zat Adiktif lainnya. 8. HIV : Human Immunideficiency Virus. sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik. Overdosis : kelebihan dosis obat dalam waktu lama sehingga menyebabkan gangguan fungsi tubuh. Sakaw : gejala putus obat yang membuat pemakai obat tersiksa. 11. Apa saja jenis NAPZA? 3. Mengapa Ginan menjadi adiksi? 7. ketagihan. 7. dan meningkatkan nafsu makan. Obat penenang. Apa hubungan HIV dengan NAPZA dan apa komplikasinya? 5. dan ketergantungan. 9. psikis. Psikotropika.3 Step 2: Identifikasi Masalah 1. 1 2. 2. Pil koplo : merupakan jenis hipnotic sedative. Apa gejala yang bisa timbul dari pemakaian NAPZA? 4. Putaw : penyakit yang diturunkan secara genetic. virus yang menyerang kekebalan tubuh sehigga menimbulkan berbagai gejala penyakit karena penurunan imun. hipoaktivitas.

kokain. Blok 17 Modul 5 1 1 2. thinner.4 Step 3: Brain Storming 1. Contoh : morfin. bergairah. amfetamin . Gejala yang timbul tergantung pada sifat obatnya a. Lingkungan . heroin. panik b. shabu-shabu. Psikotropika : zat/obat yang berkhasiat melalui pengaruh selektif SSP yang menyebakan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. euforia. contoh : shabu-shabu. tenang. amfematmin . Namun metode pemakaian NAPZA dan efek dari pemakaian NAPZA lah yang bisa menjadi media transmisi dari HIV. Sebagai contoh : . Stimulan. Halusinatif 3. ekstasi. putaw . hilangnya rasa.Teman-teman yang juga pemakai 2.Narkotika : zat/obat dari tanaman atau bukan baik sintetik atau semisintetik yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran. Zat adiktif lainnya : bahan/zat yang berpengaruh psikoaktif di luar narkotika dan psikotropika. Individu . NAPZA bukan merupakan penyebab HIV. bensin.Pergaulan .Rasa ingin tahu yang tinggi . mabuk. dan menimbulkan ketergantungan dan kecanduan. semaangta tinggi. mengantuk. Depresan.Tidak keren kalau tidak mencoba b. morfin. mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri. Depresan : pasif. pil koplo. halusinasi 4. Contoh : ekstasi. Stimulan : terus aktif. tidur c. meliputi minuman alkohol dan inhlansia seperti lem. .Kurang edukasi . Halusinatif : ketakutan.Keluarga kurang care . petidin. NAPZA . ganja. Berdasarkan sifatnya : . Faktor yang membuat Ginan ingin mencoba antara lain : a. contoh : miras. dan nail remover.

. Pemakaian jarum suntik bergantian yang tidak steril. Pemeriksaan psikis 8. yang memungkinkan 1 ada teman penderita yang mengidap HIV sehingga ia bisa tertular melalui jarum yang tidak steril tersebut. . Selain itu. bila penderita sudah memakai terus-menerus dalam jangka waktu lama bila dihentikan akan terjadi sakaw yang membuat penderita sangat sakit.Reseptor yang dirangsang tidak terpengaruh.Anamnesis : autoanamnesis dan heteroanamnesis . 7. Kulit penderita yang tidak intak tergores luka dari teman yang menderita HIV. . Blok 17 Modul 6 1 . Bila digunakan terus menerus maka akan terbenuk reseptor baru sehingga tubuh cenderung ingin terus memakai dan membuat penderita kecanduan. Pemakai NAPZA cenderung memliki perilaku untuk berhubungan seksual bebas sehingga memungkinkan ia tertular HIV. Pemeriksaan urin . Dibahas pada DKK 2 6. .Zat pengganti juga termasuk zat adiktif jadi meskipun diganti tubuh tidak merasa karena dianggap sama-sama adiktif meskipun efek yang ditimbulkan nanti bisa berbeda. bekas suntikan. dan melihat kondisi umum pasien . Pemeriksaan yang dilakukan meliputi : . Komplikasi dibahas pada DKK 2 5. Tidak ditemukannya gejala saat berganti obat kemungkinan bisa dikarenakan : . penderita tidak ingin merasakan sakit itu sehingga mau tidak mau ia terus mengonsumsi obat itu. Adiksi/kecanduan bisa dikarenakan cara kerja obat yang bekerja langsung di SSP sehingga zat tersebut akan menempati resptor-reseptor di SSp.Pemeriksaan fisik : melihat adanya bekas luka.

. Blok 17 Modul 7 1 9.Lingkungan sekitar merasa was-was karena penggunaan NAPZA di luar kepentingan medis merupakan perbuatan yang bisa dikenai hukum sehingga bisa memebuat lingkungan sekitar penderita enjauhinya atau menasehati supaya segera menghentikan pemakaian obat tersebut.5 Step 4: Peta Konsep . Berikut masing-masing golongan kadar alkohol : .Golongan C : 21-45% Kadar normal alkohol Untuk laki-laki < 10 unit/10 ml/8 gram Untuk perempuan < 3 unit 10. Pengaruh NAPZA terhadap lingkungan.Golongan A : 1-5% . Hubungan sosial penderita dengan lingkungan sekitar akan mengalami gangguan karena adanya masalah komunikasi antara penderita dan lingkungan. antara lain : . 2.Golongan B : 6-20% . Gangguan perilaku karena alkohol tergantung pada ketahanan masing-masing 1 individu.

Blok 17 Modul 8 1 1 Individu Lingkungan Toleransi Ketergantungan Penggunaan NAPZA Adiksi Intoksikasi Gejala penyalahgunaan obat : Overdosis Putus obat Penegakan Diagnosis : Anamnesis Pemeriksaan fisik Pemeriksaan psikiatri Komplikasi Pemeriksaan Laboratorium Penanganan : Terapi Rehabilitasi 2.6 Step 5: Learning Objective .

narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman.1 Penggolongan NAPZA Menurut Undang Undang No. b. kokain. (contoh: Heroin/putauw. Blok 17 Modul 9 1 Mahasiswa mampu menjelaskan tentang : 1 1. Faktor penyalahgunaan NAPZA 4. ganja). Mekanisme kerja NAPZA 3. Narkotika Golongan II : . a. 2. Kegiatan belajar mandiri ini dilaksanakan dari hari Senin. baik sintetis maupun semisintetis. hilangnya rasa. Penanganan penyalahgunaan NAPZA 2. Gejala intoksikasi dan putus obat 5. yang dibedakan ke dalam golongan-golongan.7 Step 6 Belajar Mandiri Dalam tahap belajar mandiri ini. 27 Maret 2015. Narkotika Golongan I : Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan. yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran. dan tidak ditujukan untuk terapi serta mempunyai potensi sangat tinggi menimbulkan ketergantungan. Komplikasi penyalahgunaan NAPZA 7. 24 Maret 2015 sampai dengan hari Jum’at. Penggolongan NAPZA 2.8.8 Step 7 Sintesis Masalah 2. setiap individu kelompok melakukan kegiatan belajar baik mandiri maupun kelompok dengan mempelajari semua hal yang berkaitan dengan learning objectives dari berbagai sumber referensi yang bisa didapat. mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri. Penegakan diagnosis penyalahgunaan NAPZA 6. dan dapat menimbulkan ketergantungan. 9 Tahun 2009 tentang Narkotika.

petidin).kokain. a. petidin.ganja atau kanabis. d. b. daun kokain. Psikotropika Golongan III : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan (contoh: pentobarbital. marihuana. c. flunitrazepam). candu. c. yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. shabu. Blok 17 Modul 10 1 Narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan 1 dapat digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan (contoh: morfin. Psikotropika Golongan I : Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. yaitu serbuk kokain. pasta kokain. hashis. lsd). Psikotropika dibedakan dalam golongan-golongan sebagai berikut. dan/atau tujuan ilmu pengetahuan serta menpunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan . Menurut Undang Undang No. Narkotika Golongan III : Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan (contoh: kodein). Narkotika yang sering disalahgunakan adalah narkotika Golongan I: Opiat (morfin. metilfenidat atau ritalin). (contoh : ekstasi. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika yang dimaksud dengan psikotropika adalah zat atau obat. Psikotropika Golongan II : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi. baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika. ( contoh amfetamin. Psikotropika Golongan IV : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan . herion atau putauw).

Kafein (Depkes RI. bromazepam. antara lain : Lem. Selain itu yang tergolong ke dalam zat adiktif adalah . 1 fenobarbital. pemakaian rokok dan alkohol terutama pada remaja. harus menjadi bagian dari upaya pencegahan. keinginan kuat untuk mengonsumsi bahan tersebut. karena rokok dan alkohol sering menjadi pintu masuk penyalahgunaan napza lain yang lebih berbahaya (Depkes RI.8. thinner. dan fenomena fisiologis. yang terdapat pada berbagai barang keperluan rumah tangga. 109 Tahun 2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan. Yang sering disalah gunakan. Minuman berakohol (Depkes RI. Blok 17 Modul 11 1 mengakibatkan sindrom ketergantungan (contoh: diazepam. klonazepam. meningkatnya toleransi dan dapat menyebabkan keadaan gejala putus zat. memberi prioritas pada penggunaan bahan tersebut daripada kegiatan lain. kesulitan dalam mengendalikan penggunaannya. bensin (Depkes RI. pil koplo). Pada upaya penanggulangan napza di masyarakat. 2008) 2. 2008) . kantor dan sebagai pelumas mesin. 2008) . kognitif. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. Zat adiktif adalah bahan yang menyebabkan adiksi atau ketergantungan yang membahayakan kesehatan dengan ditandai perubahan perilaku. penghapus cat kuku. 2008) .2 Mekanisme Kerja NAPZA Alkohol . klordiazepoxide. Tembakau : pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas di masyarakat. seperti pil bk. nitrazepam. Inhalansia (gas yang dihirup) dan solven (zat pelarut) mudah menguap berupa senyawa organik.

Blok 17 Modul 12 1 Alkohol dimetabolisme dalam tubuh melalui bantuin dua enzim alkohol 1 dehidrogenase (ADH) dan aldehid dehidrogenase. 2004). dan metilfenidat) menimb ulkan efek primer dengan menyebabkan pelepasan katekolamin. Fluiditas membran berperan penting dalam pada fungsi reseptor. serotonin 5-HT3. Alkohol diubah menjadi asetaldehid dengan bantuan ADH. sementara aktivitas kanal ion yang dikaitkan dengan reseptor glutamat dan kanal kalsium voltage-gated mengalami inhibisi (Saddock & Saddock. disebutkan bahwa membran menjadi rigid atau kaku. Jaras ini disebut sebagai jaras sirkuit reward dan . Beberapa studi secara spesifik menemukan bahwa aktivitas kanal ion alkohol yang dikaitkan dengan reseptor asetilkolin nikotinik. Hipotesis mendukung bahwa alkohol menyisipkan diri ke dalam membran sehingga mengakibatkan peningkatan fluiditas membran pada penggunaan jangka pendek. dari terminal prasinaptik. 2004). dan asetaldehid diubah menjadi asetat dengan enzim aldehid dehidrogenase. Efeknya terutama poten untuk neuron dopaminergik yang berjalan dari area tegmental ventral ke korteks serebri dan area limbic. kanal ion. terutama dopamine. Fokus terbesar efek alkohol berada pada kanal ion. Amfetamin Amfetamin klasik (dekstrometorfetamin. Teori efek biokimiawi yang selama ini dianut adalah efek pada membran neuron. jaringan yang mengandung proporsi air yang tinggi mendapat alkohol dalam konsentrasi tinggi (Saddock & Saddock. Tidak ada satu target molekuler yang telah teridentifikasi sebagai mediator afek alkohol. dan GABA tipe A ditingkatkan oleh alkohol. Alkohol secara menyeluruh terlarut dalam cairan tubuh. dan protein fungsional terkait membran lainnya. metamfetamin. Sedang pada penggunaan jangka panjang.

Ganja Komponen utama ganja (kanabis) adalah (-)-Δ9-tetra-hidrokanabinol (Δ9- THC) yang dalam tubuh manusia cepat diubah menjadi hidroksi-9-THC. dan DOM) menyebabkan pelepasan katekolamin (dopamine dan norepinefrin) serta serotonin. Suatu penelitian pada hewan menunjukkan bahwa kanabioid memengaruhi neuron monoamine dan asam γ-aminobutirat. Blok 17 Modul 13 1 aktivasinya mungkin menjadi mekanisme adiktif utama untuk amfetamin 1 (Saddock & Saddock. MDEA. dengan konsentrasi yang lebih rendah di korteks serebri. dituasi. 2004). neurotransmitter yang dianggap jaras neurokimiawi utama untuk halusinogen. Reseptor kanabioid ditemukan dalam konsentrasi tinggi di ganglia basalis. yang berikatan dengan adennilil siklase secara inhibitorik. anggota reseptor terkait protein. Reseptro kanabis tidak ditemukan di batang otang otak. diantaranya rute pemberian. Oleh karena itu efek klinis amfetamin desainer merupakan campuran efek amfetamin klasik dan halusinogen (Saddock & Saddock. MMDA. Reseptor kanabioid. Amfetamin desainer (MDMA. 2004).Hingga saat ini masih menjadi perdebatan apakah kanabioid menstimulasi pusat reward otak. ekspektasi penggun. 2004). dan serebelum. pengalaman pengguna sebelumya. serta kerentanan biologis pengguna terhadap efek kanabioid (Saddock & Saddock. berkaitan dengan protein G inhibitorik (G 1). Selain itu banyak variable memengaruhi sifat psikoaktif kanabis. oleh karena itu berefek minimal terhadap fungsi respirasi dan kardiak. metabolit yang aktif di sistem saraf pusat. hipokampus. Kokain . teknik penghirupan. dosis.

dan reseptor opioid-δ. dan sedasi. dieresis. konstipasi. 2004). Selain memblokade reuptake dopamine. Kokain berefek langsung setelah waktu singkat (30-60 menit). R reseptor opioid-κ terlibat dalam analgesia. namun metabolitnya dapat terdapat dalam darah dan urin selama 10 hari (Saddock & Saddock. norepenefrin dan serotonin. Opioid Terdapat beberapa reseptor opioid. diantaranya reseptor opioid-μ. Sejumlah data mengindikasikan bahwa sifat adiktif rewarding opioid diperantarai melalui aktivasi neuron dopaminergikarea tegmental ventral yang ke korteks serebri dan sistem limbic (Saddock & Saddock. Reseptor opioid-μ terlibat dalam regulasi danmediasi analgesia. kokain juga menghambat reuptake katekolamin utama lain. Opioid juga memiliki efek signifikan terhadap sistem dopaminergik dan noradrenergic.8. Sedangkan reseptor opioid-δ mungkin terlibat dalam analgesia (Saddock & Saddock. 2009: 126). Psikologis . depresi napas.Blokade ini meningkatkan konsentrasi dopamine di celah sinaps dan menyebabkan aktivasi reseptor dopamine tipe 1 (D1) maupun tipe 2 (D2). dan mungkin juga tipe 3 (D3). reseptor opioid-κ. 2004). 2004). Kokain juga dikaitkan dengan penurunan aliran darah serebri. 1. Blok 17 Modul 14 1 Efek farmakologiknya berkaitan dengan blokade kompetitif reuptake 1 dopamine oleh transporter dopamine.3 Faktor Penyalahgunaan NAPZA Faktor predisposisi dari penyalahgunaan NAPZA adalah sebagai berikut (Townsend. dan ketergantungan. 2.

Blok 17 Modul 15 1 a. dan harga diri rendah.4 Gejala Intoksikasi dan Putus Obat . Superego individu tersebut lemah. b. 2009: 126). 2009: 126). mengakibatkan hilangnya perasaan bersalah atas perilaku buruk mereka (Townsend. 2009: 126). toleransi frustasi rendah. Hal ini terbukti terutama pada alkoholisme dan sedikit tampak pada penyalahgunaan zat lain. Anak dalam keluarga tersebut mempunyai model peran negatif dan belajar merespons situasi yang penuh ketegangan dengan cara yang sama (Townsend. Statistik dugaan tersebut tidak meyakinkan pada penyalahgunaan zat lain walaupun anak orang yang mengalami gangguan yang berhubungan dengan zat berisiko tinggi mengalami gangguan tersebut (Townsend. Sering kali salah satu orang tua lalai atau berlaku sangat berkuasa atau kejam. dengan ciri-ciri memiliki kontrol impuls buruk. Genetik : Faktor genetik terlibat dalam terjadinya gangguan yang 1 berhubungan dengan zat.8. 2009: 126) . Teori Psikodinamika : teorti ini memperkirakan bahwa individu yang menyalahgunakan zat mengalami keterbelakangan ego karena gagal memenuhi tugas separation-individuation. 2. Hal ini terjadi ketika produksi metabolisme alkohol bereaksi dengan amina biologis aktif (Townsend. yang bertanggung jawab atas kecanduan alkohol. Sekitar setengah anak-anak yang orang tuanya pecandu alkohol juga menjadi pecandu alkohol sehingga timbul dugaan keterlibatan faktor keturunan. 2. b. Psikososial a. Penyalahgunaan zat bisa menjadi bukti metode primer dalam mengurangi stress. Teori Dinamika Keluarga : Teori ini menghubungkan predisposisi gangguan yang berhubungan dengan zat dan disfungsi sistem keluarga. Individu tersebut terlalu bergantung pada orang lain. sedangkan orang tua satunyya belaku lemah dan tak berguna. Biokimia : Hipotesis fisiologis kedua menghubungkan kemungkinan alkohol bisa memproduksi zat lain seperti morfin di otak.

takikardi. labil. kejang Amfetamin dan Bermusuhan. agitasi psikomotor. nistagmus. bermusuhan. paranoid. apati. merasa hebat. amat Ansietas. letih. hambatan dalam membuat keputusan. peningkatan selera makan. menarik diri. halusinasi Kokain Euphoria. gagasan tekanan darah. paranoid. mual muntah Kafein Gelisah. peningkatan psikomotor. curiga. insomnia / hipersomnia. agitasi takikardi. keputusan. insomnia.kehilangan selera membuat keputusan. insomnia.1 Gejala intoksikasi dan putus obat beberapa golongan NAPZA 1 Jenis Obat Intoksikasi Putus Zat Alkohol Agresif. ketagihan zat. Depresi. inkoordinasi. berkeringat. iritabilitas. jalan pikiran dan bicara melantur. hipersomnia. berkeringan. kedutan otot. waktu berjalan lambat. mual/muntah. aritmia jantung. Blok 17 Modul 16 1 Tabel 2. sempoyongan. depresi. amat waspada. euphoria. ansietas. ansietas. emosi peningkatan tekanan darah. malaise. agitasi psikomotor. bunuh diri menggigil. gagasan bunuh diri. lemah. iritabilitas. iritabilitas. gembira. merasa hebat. sensahi Gelisah. alam perasaan depresi. insomnia. hambatan dalam membuat Tremor. gugup. keluhan gastrointestinal. sakit merah kepala. konjungtiva merah. . hambatan insomnia. peningkatan tekanan darah. ansietas. agitasi psikomotor Kanabis Euphoria. hambatan membuat keputusan. dieresis. periode tak kenal lelah. halusinasi. Sakit kepala muka merah. muka iritabilitas. makan takikardi. pelo. Zat Sejenis waspada. gangguan perhatian. takikardi. alam perasaan depresi. iritabilitas. dilatasi pupil. agitasi psikomotor. letih.

peningkatan selera makan. suka menyerang. lakrimasi / rinorea. tremor. dilatasi keputusan. gelisah. ansietas. tidak berespon terhadap nyeri. penurunan frekuensi napas dan insomnia tekanan darah Fensiklidin dan Suka berkelahi. - Zat Sejenis impulsive. konstipasi. hambatan dalam membuat keputusan. limbung. tremor. agitasi psikomotor. mengantuk. somnolen. pelo. halusinasi. Blok 17 Modul 17 1 dilatasi pupil. insomnia Opioid Euphoria. berkeringat atau menarik diri 1 menggigil. hambatan dalam membuat otot. frustasi. sulit konsentrasi. kejang. mual/muntah. iritabilitas. nistagmus. disartia. koma. pelo. demam. iritasi mata Nikotin . ataksia. sakit kepala. sakit disforia. Ketagihan. depresi refleks. piloereksi / berkeringat. hiperakusis. otot kaku. meningkatnya tekanan darah dan frekuensi jantung. delirium . euphoria. diare. sering menguap. - adipati. suka menyerang. letargi. letargi. hambatan dalam membuat keputusan. penambahan berat badan. mual. sempoyongan. konstriksi pupil. penurunan frekuensi jantung. delirium Inhalan Suka bermusuhan. nistagmus. pupil. mual muntah. penglihatan kabur. marah. apati. Ketagihan.

atau menyebut jumlah dosis penggunaan yang besar. ansiolitik hambatan dalam membuat keputusan. 2009: 139-142) 2. tremor. Impuls seksual atau agresif tidak Mual/muntah. berkeringat. atau orang tuanya marah. iritabilitas. Blok 17 Modul 18 1 Sedatif. pada tahun 1983 telah diterbitkan buku Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia (PPDGJ). takikardi. ansietas.5 Penegakan Diagnosis Penyalahgunaan NAPZA Penegakkan diagnosis pada penderita/penyalahguna NAPZA sering kali tidak mudah dilakukan oleh kerena adanya stigma di masyarakat terhadap penyalahguna. bingung (Townsend. Di Indonesia. Sebaliknya.8. insomnia. pelo. sempoyongan. mengganti metode diagnosis multiaksial . alam perasaan labil. serta perasaan malu. inkoordinasi. yang menggunakan metode diagnosis multiaksial. dipecat dari pekerjaan. 1 Hipnotik. malaise. Diagnosa Multiaksial Sejak tahun 1974 telah dikembangkan metode diagnosis multiaksial. lemah. misalnya mengaku pernah menggunakan semua jenis zat psikoaktif yang ditanyakan kepadanya. dan dapat dihambat. dikeluarkan dari sekolah. kejang ganguan perhatian atau ingatan. khususnya dalam bidang psikiatrik. Kesulitan lain disebabkan oleh pengguna sering kali tidak berterus terang karena takut ancaman hukuman. hipotensi ortostatik. disorientasi. terdapat juga pengguna zat psikoaktif yang membesar-besarkan masalahnya. 2005: 209). hal ini dilakukan agar ia dipandang hebat (Joewana. Hal ini membuat pasien bersifat tertutup dan menghindar untuk mengatakan keadaan yang sebenarnya.

mengkritik. Anamnesa terdiri atas pemeriksaan fisik. elektrofisiologi. pemeriksaan psikiatrik. Kelima aksis dalam diagnosis multiaksial adalah sebagai berikut: Aksisi I : Gangguan klinis Kondisi lain yang dapat menjadi pusat perhatian klinis Aksis II : Gangguan kepribadian Retardasi mental Aksis III : Kondisi medis umum Aksis IV : Masalah psikososial dan lingkungan Aksis V : Asesmen fungsi secara global Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menegakkan diagnosis : A. pemeriksaan laboratorium. penuh perhatian dan menerima pasien apa adanya. dan evaluasi social (Joewana. Metode 1 diagnostic multiaksial mengikuti DSM-IV. karena hal ini akan menyebabkan pasien tertutup sehingga akan mengganggu proses autoanamnesis. tes psikologis. Sikap mental diatas diharapkan dapat menciptakan suasana hubungan terapeutik petugas Puskesmas-Pasien. Urutan pelaksanaannya dapat dilakukan alloanamnesis terlebih dahulu atau sebaliknya dan dapat juga bersamaan tergantung situasi dan kondisi. Blok 17 Modul 19 1 diperoleh diskripsi yang lebih menyeluruh tentang kondisi penyakit pasien. . menyalahkan. Teknik Wawancara Wawancara dapat dilakukan secara alloanamnesis maupun autoanamnesis. mengejek. Diagnose multiaksial dapat ditetapkan berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan medis.  Berempati (dapat memahami dan meraba rasakan masalahnya)  Tidak menghina. 2005: 210). 2005: 209-210). Sikap Mental Petugas  Bersikap positif. menertawakan. Autoanamnesis Tahap pertama autoanamnesa bertujuan untuk membentuk rasa percaya pasien terhadap terapis sehingga pasien merasa yakin bahwa data tentang dirinya akan terjamin kerahasiannya di tangan terapis (Joewana. Fluoroskopi. B.

Terapis dapat menanyakan apakah pasien mempunyai kesulitan pada pelajarn atau masalah lain di sekolah. dan bai yang sudah berkeluarga. 2005: 212-212). Berapa jumlah setiap kali mengkonsumsi? f. Sebaliknya. terapis dapat langsung menanyakan seputar penggunaan zat psikoaktif tersebut. Bagaimana cara mengkonsumsi zat tersebut? g. Alasan menggunakan zat tersebut? j. menanyakan apakah ada masalah dengan pasangan. terutama bila zat psikoaktif yang digunakan ditolak oleh masyarakat umum atau dilarang oleh undang-undang. terapid menanyakan apakah ada masalah di tempat kerja. apakah mengalami kesulitan tidur. Apa pernah dirawat di rumah sakit atau di panti rehabilitasi? Alloanamnesis Biasanya seorang anak menggunakan zat psikoaktif secara sembunyi-sembunyi. Sejak usia berapa menggunakan zat tersebut? c. bila langsung menanyakan seputar penggunaan zat psikoaktif. Zat psikoaktifa apa yang satu bula terakhir ini masih digunakan dan kapan terakhir dikonsumsi? d. Apakah pernah bertukar jarum suntik? i. Zat psikoaktif apa saja yang pernah dikonsumsi? b. Blok 17 Modul 20 1 Bila pasien bersikap terbuka dan mengakui secara terus terang tentang 1 penggunaan zat psikoaktif. bagaimana cara mensterilkan jarum suntiknya? h. melainkan tanyakan apa masalah yang dihadapinya dan apa yang terapis dapat lakukan untuk membantunya. tidak diketahui oleh orang tuanya. Bila dengan cara menyuntik. Sudah berapa lam penggunaan zat psikoaktif itu mempunyai masalah dan usaha apa saja yang sudah dilakukan untuk mengatasinya (Joewana. Berapa kali setiap hari dikonsumsi? e. teman atau guru. Orang tua baru mulai ragu apakah anaknya menggunakan zat psikoaktif atau tidak dari perubahan perilaku atau . apakah ada masalah dengan orangtua. Setelah mengetahui data pribadi dan data demografis. Bagi mereka yang sudah bekerja. pertanyaan yang perlu diajukan kepada pengguna zat psikoaktif agar dapat menetapkan diagnosis multiaksial adalah: a. Komplikasi apa saja yang pernah dialami selama pemakaian zat tersebut? k.

sikap wawancara. riwayat perkawinan. Apakah sifatnya berubah? e. Apakah sering berpergian malam hari dan tanpa memberitahu kepergiannya? c. Apakah sering berbohong? f. 2005: 213). 2005: 214). riwayat pendidikan. Tabel 2. riwayat pekerjaan. Pemeriksaan Penampilan pasien. perlu ditanyakan pula kepada orang tua perihal riwayat pertumbuhan dan perkembangan anak. 2005: 214). guru. Apakah sering tidak masuk sekolah? d.2 Hasil pemeriksaan fisik Pemeriksaa Hasil Keterangan n . pola tidur.gejolak emosi dan lain-lain perlu diobservasi. Pemeriksaan fisik hendaknya tidak hanya terbatas untuk menemukan gejala-gejala yang disebutkan dibawah ini (Joewana. atau orang dekat lainnya 1 berkisar pada perubahan perilaku dan kebiasaan tersebut (Joewana. Apakah anggota kelyarga sering kehilangan uang atau benda berharga? Penggunaan zat psikoaktif seringa terdapat pada mereka yang sebelumnya menderita gangguan jiwa atau gangguan kepribadian. Aloanamnesa terhadap orang tua. Oleh karena itu. dan ciri-ciri masa kanak dan remaja (Joewana. Apakah terjadi perubahan dalam pola tidur. a. makan. Dibawah ini diuraikan beberapa gejala klinis yang sering ditemukan berkaitan dengan penggunan zat psikoaktif. C. Blok 17 Modul 21 1 kebiasaan hidupnya. dengan memperhatikan tanda-tanda dan gejala yang ada. tampak mengantuk? b. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik harus dilakukan dengan cermat dan menyeluruh. Petugas harus cepat tanggap apakah pasien perlu mendapatkan pertolongan kegawat darurat atau tidak.

dan inhalan. putus alcohol. amfetamin. Blok 17 Modul 22 1 Kesadaran Somnolen Pada intoksikasi opiode. opiod walaupun pada darah awalnya tekanan darah naik Hidung Rinore Putus zat opioid Ulkus atau Pada pengguna kokain secara inhalan perforasi Paru Bronchitis Sering pada pengguna tembakau. dosis tinggi Tekanan Naik Pada pemakaian amfetamin. atau opioid. ganja Turun Pada putus alcohol. kokain. sedative hipnotik. LSD. sedative-hipnotik. atau . dan kokain Pada keadaan kelebihan dosis yang berat zat Berkabut apapun Pada putus zat sedative-hipnotik atau alkoho. adanya penyakit Turun infeksi Pada intoksikasi opioid Pernapasan Lambat Pada pemakaian sedative-hipnotik. alcohol atau Cepat dan opioid dangkal Pada intoksikasi sedative-hipnotik. 1 alkoho. pada intoksikasi amfetamin atau PCP Denyut nadi Bertambah Pada intoksikasi amfetamin atau LSD. atau pada putus zat Sopor koma amfetamin. pada putus cepat zat opioida Lambat Pada intoksikasi opioida. sedative-hipnotik. ganja Tuberculosis Sering pada pengguna zat psikoaktif berat Fibrosis Pada pengguna zat psikoaktif secara suntikan Kanker intravena Pada perokok tembakau jantung Takikardia Pada intoksikasi amfetamin. alcohol atau inhalan Suhu badan Naik Pada pengguna LSD. kokain.

sedative hipnotik. kokain. Depresi : putus amfetamin. 2005: 217). inhalan Gangguan Isi Pikiran . sedative-hipnotik. inhalan. amfetamin. alcohol Pada intoksikasi inhalan atau putus zat sedative- hipnotik Lambung Gastritis Pada pengguna alcohol Hepar Sirosis Pada pengguna alcohol yang berat Berlemak Pada pengguna alcohol yang berlebihan Hepatitis B/C Pada pengguna opioida secara intravena (Joewana. Agresif : intoksikasi amfetamin. kafein Cadel : intoksikasi alcohol. kokain Retardasi : pada intoksikasi opioida. inhalan. halusinogen. kokain. alcohol. sedative-hipnotik. sedative- 1 Aritmia hipnotik. sedative-hipnotk. atau pada putuss zat alcohol. Labil : intoksitasi sedative-hipnotik. ganja. dan putus zat opioid. kafein. kokain. Gangguan Psikomotorik Apatis : pada putus zat amfetamin. kafein. dan nikotin Impulsiff . alcohol Gangguan Bicara Banyak bicara : intoksitasi alkoho. opioid. sedative hipnotik. Blok 17 Modul 23 1 halusinogen. intoksikasi Iritabel : intoksikasi alcohol . kokain. alcohol Disforia : pengguna pemula ganja atau opioid Euphoria : intoksikais semua jenis zat psikoaktif Gelisah : penggunaan amfetamin. nikotin. Gangguan Emosi Agitatif : intoksikasi amfetamin. 2005: 214-217) Pemeriksaan Psikiatrik Bertujuan mengetahui ada tidaknya gangguan psikiatirk yang sering kali terdapat bersamaan dengan penggunaan zat psikoaktif (Joewana. pada putus zat opioid. kokain. sedative-hidptonik. sedative-hipnotik.

Blok 17 Modul 24 1 Waham : pada intoksikasi amfetamin. Pemeriksaan Laboratorium Analisis air seni diperlukan untuk memgetahui zat psikoaktif apa saja yang dikonsumsi pasien. Pemeriksaan ini diperlukan juga untuk mengetahui taraf intelegensi. 2005: 218). halusinogen. ganja. putus alcohol Ilusi : intoksikasi halusinogen Sinestesi : intoksikasi halusinogen Gangguan Daya Ingat dan Atensi Amnesia : putus alcohol atau sedative-hipnotik Demensia : pada pengguanaan alcohol yang cukup lama dan banyak (Joewana.3 Jangka waktu sesudah mengkonsumsi yang masih terdeteksi Zat psikoaktif Lamanya . pada 1 putus obat sat alcohol Depersonalisasi: pada intoksikasi halusinogen Gangguan Persepsi Halusinasi : intoksikasi amfetamin. kokain. Air seni sebaiknya diambil kurang dari 48 jam sejak penggunaan zat psikoaktif terakhir karena setalah 48 jam. Harus dijaga agar yang diperiksa adalah benar air seni pasien dan bukanny air seni orang lain (Joewana. dan minat untuk kepentingan terapi dan rehabilitasi (Joewana. Hal ini penting karena sering kali gangguan kepribadian dan retardasi mental menjadi salah satu faktor yang ikut menyebabkan seseorang menggunakan zat psikoaktif. banyak zat yang tidak terdeteksi lagi dalam air seni. 2005: 219-220). 2005: 217-218) Pemeriksaan Psikologis Pemeriksaan psikologis diperlukan untuk menentukan diagnosis aksis II pada metode multiaksial. Tabel 2. halusinogen. yaitu adanya gangguan kepribadian dan retardasi mental. bakat.

berjangka kerja 7 hari panjang Ganja 7-10 hari Heroin 1-2 hari Kodein 2 hari Kokain 2-4 hari Metadon 3 hari Morfin 2-5 hari (Joewana. 2005: 212). Pemeriksaan EEG yang dilaksanakan pada saat tidur sering menunjukkan adanya kelainan pada saat putus zat amfetamin. Pada peminum alcohol berat perlu dilakukan pemeriksaan EKG. foto tengkorak. Kelainan itu dapat menetap sampai beberapa meiggu atau bulan. Pada pengguna ganja yang berat dapat terjadi perubahan EEG sampai tiga bulan sesudah penggunaan ganja terakhir. dan bila perlu dilakukan CT-Scan (Joewana. EEG. Penunjang lain . Blok 17 Modul 25 1 1 Amfetamin 2 hari Barbiturat. EKG. berjangka kerja pendek 1 hari Barbiturat. USG. CT Scan. EMG. berjangka kerja panjang 21 hari Benzodiazepine 3 hari Benzodiazepine. dan MRI sedangkan pemeriksaan elektofisiologi berupa EEG. dan EMG. 2005: 220) Pemeriksaan Flouroskopi dan Elektrofisiologis Pemeriksaan Flouroskopi berupa foto paru.

kesehatan jiwa. Selain itu. dikonsumsi melalui suntikan. atau granuloma . Sering terjadi pada penggunaan secara suntikan. dapat merugikan kesehatan jasmani. penggunaan zat psikoaktif juga merugikan keluarga. 2. emboli tersebut bisa menyebabkan terjadi multiinfark paru. Blok 17 Modul 26 1 Untuk menunjang diagnosis dan komplikasi dapat pula dilakukan pemeriksaan 1 laboratirium darah rutin dan lain-lain sesuai kebutuhan (HbsAg.8. Evaluasi Psikologik.6 Komplikasi Penyalahgunaan NAPZA Penggunaan zat psikoaktif. sakarin. Evaluasi Sosial). dan kehidupan sosial penggunanya. HIV. Bahan Lain yang Dicampurkan atau Bahan Pelarut. lingkungan dan masyarakat luas. tepung. Kadang kadang zat yang seharusnya digunakan secara oral. komplikasi medis bisa disebabkan oleh : 1. misalnya beberapa jenis psikostimulan atau sedatif-hipnotik. Selain itu. Di paru. Senyawa tersebut tidak larut dengan baik dalam air sehingga masih ada bagian kecil yang tidak larut akan masuk dalam peredaran darah sebagai emboli. pedagang gelap heroin mencampur heroin dengan senyawa lain yang lebih murah harganya antara lain kinin. allumunium sulfas (tawas). dan sebagainya. fibrosis paru. Komplikasi medis bisa disebabkan oleh sifat kimiawi atau farmakologis bahan pencampur itu (misalnya tawas atau kinin). Dalam usaha memperoleh keuntungan yang lebih besar. cokelat. terutama bila dalam jumlah yang berlebihan dan dalam jangka waktu yang cukup lama dan cukup sering. atau karena bahan pencampur itu tidak steril. Komplikasi Medis Komplikasi medis bisa disebabkan oleh pengaruh langsung zat psikoaktif itu sendiri. Tes fungsi hati.

Kamtodaktilia. Alat suntik atau zat yang disuntikkan bila tidak steril. selulitis. suatu keadaan ketika jari jari tidak dapat lurus kembali setelah fleksi (ditekuk). Gangren (pembusukan jaringan) dapat terjadi akibat suntikan intraarterial sehingga terjadi pembengkakan dan sianosis (kulit menjadi kebiru- biruan). Bila emboli masuk ke pembuluh darah retina. mengandung kuman stafilokokus atau streptokokus. biasanya berderet-deret sepanjang vena di lengan atau bagian tubuh lain dalam bantuk hiperpigmentasi dan disebut needle track. dapat terjadi pada mereka yang menyuntikkan intravena pada jari jari (Joewana. hepatitis b dan c. keluarga pasien atau temannya mencoba menolong pasien dengan memberinya minum kopi. sepsis. tetapi ada kalanya tidak bisa hilang. Cara Mengkonsumsi atau Bahan yang Tidak Steril Kadang kadang alat suntik mengandung bahan fibrogenik yang akan menimbulkan bekas pada tempat suntikan. 3. 2. Purpura atau urtikaria dapat terjadi karena reaksi alergis. 2005: 206). Kuman ini akan menyebabkan terjadinya abses di tempat suntikan. Pinjam meminjam jarum suntik menjadi salah satu penyebab penting dalam penularan HIV/AIDS. susu atau . hal ini dapat 1 menyebabkan kebutaan (Joewana. 2005: 205-206). tidak jarang ditempat suntikan terjadi gelembung atau bula. Bila dalam usaha melakukan sterilisasi alat suntik dipakai air panas. endokarditis. Blok 17 Modul 27 1 benda asing. ketika pasien tidak sadar. dan tromboflebitis. Bekas ini kadang-kadang bisa hilang. Penularan juga bisa terjadi karena jarum suntik dari dua atau lebih orang yang menyuntik menyedot heroin dari tempat heroin dilarutkan (cooker) yang sama atau penyuntik yang satu menyedotkan heroin dan dimasukkan ke alat suntik temannya dari arah belakang (back load). biasanya permanen. Cara Memberi Pertolongan yang Salah Pada keadaan kelebihan dosis. Popping scar tissue adalah jaringan parut yang menggembung akibat suntikan subkutan.

Alkohol juga mengganggu refleks glotis sehingga tidak jarang terjadi pneumonia aspiratif dan abses paru. Alkohol dapat menimbulkan indurasi (pengerasan) selaput lendir usus sehingga penyerapan sari makanan oleh dinding usus halus terganggu. dapat terjadi karies dentis. Karena kurang menjaga kebersihan gigi. Kemungkinan mendapat serangan stroke lebih besar pada pengguna alkohol karena alkohol meningkatkan tekanan darah. antara lain berupa dermatofitosis dan kudis. 2005: 207). tidak jarang pengguna zat . Akibatnya. Ginekomastia terjadi karena kemampuan hati untuk memetabolisme hormon estrogen terganggu sehingga kadar estrogen meningkat. Kerusakan organ tubuh tersebut. Alkohol merupakan tumor promoter. Alkohol juga dapat menyebabkan terjadinya trombositopenia dan membesarnya payudara laki laki (ginekomastia) akibat rusaknya hati oleh alkohol. dapat terjadi anemia aplastik (Joewana. lebih lanjut dapat menyebabkan penyakit lain. terutama sistole. waktu dan uang tersita habis untuk mencari dan menggunakan zat psikoaktif. perhatian. sering terjadi penyakit infeksi akibat daya tahan tubuh berkurang. Cara Hidup Pengguna Zat Psikoaktif Pada pengguna zat psikoaktif yang berat. Penyerapan sari makanan yang terganggu akan mengakibatkan terjadinya malnutrisi. Penyakit kulit akibat kurang menjaga kebersihan. Karena kerusakan sumsum tulang belakang akibat inhalan. 2005: 207). 4. Akibat Tidak Langsung dari Zat Psikoaktif yang Dipakai Mengonsumsi zat psikoaktif tertentu dalam jumlah berebih untuk jangka waktu yang cukup lama dapat menyebabkan terjadinya kerusakan organ tubuh. Oleh karena terdesak kebutuhan uang yang semakin meningkat untuk membeli zat psikoaktif (akibat berkembangnya toleransi terhadap zat psikoaktif yang dikonsumsi). 5. Blok 17 Modul 28 1 minuman lain yang justru dapat menyebabkan terjadinya pneumonia aspiratif 1 akibat minuman tersebut salah masuk paru (Joewana. Perhatian terhadap kebutuhan makan dan kebersihan diri kurang.

atau hamil di luar kandungan (Joewana. sedangkan kebutuhan akan zat psikoaktif semakin bertambah akibat adanya toleransi. atau lingkungan terlalu menyalahkan dirinya dan memojokkan dirinya. sekolah. Akibat pada kehidupan sosial. ia tidak berpenghasilan. 2. penggunaan zat psikoaktif dapat memberi akibat lain : 1. Sebaliknya. 2005: 207- 208). Sementara itu. Akibat pada kehidupan mental emosional. lama kelamaan menjual barang barang milik keluarga. teman. keadaan putus zat. atau akibat perubahan kondisi mental dan emosional menyebabkan pengguna zat psikoaktif tidak dapat belajar atau bekerja dengan baik sehingga prestasi belajar dan bekerja menjadi buruk dengan akibat tidak naik kelas. maupun masyarakat sehingga ia menggunakan zat psikoaktif. dan berdosa setelah gagal berusaha berhenti menggunakan zat psikoaktif. pengguna dapat jatuh dalam keadaan depresi. baik lingkungan keluarga. semuanya untuk membeli zat psikoaktif. marah dan destruktif (Joewana. diskors. terlebih bila keluarga. mudah tersinggung. Keadaan intoksikasi akut. 2005: 207). Karena menganggur pengguna zat psikoaktif akan mengalami frustasi dan akan semakin parah menggunakan zat psikoaktif. dikeluarkan dari sekolah atau pekerjaan. hepatitis c. kecewa. bersalah. Kelompok ini seringkali memperlihatkan perilaku kasar. Akibat Lain Selain komplikasi medis. telepon genggam. mulai dari yang berharga sampai yang kurang berharga. Karena rasa putus asa. hiv/aids. motor dan sebagainya). Mereka mulai menjual harta milik pribadi (jam tangan. Bila kebutuhan uang tidak dapat . pengguna menyalahkan lingkungannya. Blok 17 Modul 29 1 psikoaktif perempuan menjadi pekerja seks komersial dengan resiko menderita 1 penyakit venerik.

misalnya dengan meningkatkan kemampuan pasien untuk mengambil keputusan. Detoksifikasi biasanya memberi hasil yang baik. detoksifikasi tanpa diikuti dengan terapi pasca detoksifikasimenyebabkan pasien cepat kambuh. Terapi pascadetoksifikasi ditujukan kepada penyakit komorbiditas. membuat pasien menjadi seorang yang lebih tegas dalam menghadapi tekanan kelompok. 2. perkelahian. dan mengubah sikap keluarga tehadap pasien (Joewana.8. Masalah finansial yang dialami pengguna akan mendorong pengguna untuk berbuat kriminal dengan konsekuensi di bidang hukum (akibat kriminal). mencuri. gangguan panic. 2005: 254). depresi. dan sindrom putus zat. ansietas. ia mulai melakukan kejahatan diluar. hal ini dapat memicu pertengkarab dalam keluarga sampai pada perceraian (Joewana. atau mengalami kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan lain (terjatuh dari tempat tinggi) karena pengaruh zat psikoaktif pada saat intoksikasi. dan untuk mengurangi atau menghilangkan factor resiko. seperti adanya berbagai macam gangguan kepribadian. mengubah persepsi pasien yang salah tentang dirinya maupun lingkungannya. mulai dari meminta 1 uang secara paksa. dan merampok. meningkatkan kemampuan interaksi interpersonal. meningkatkan rasa tanggung jawab terhadap keluarga dan masyarakat. 2005: 254). Akibat sosial lain adalah memburuknya hubungan pengguna dan orang tua serta saudaranya. Pelanggaran hukum juga bisa terjadi akibat perilaku agresif. 2005: 208). Bagi yang sudah menikah. Blok 17 Modul 30 1 dipenuhi dari keluarga.7 Penanganan Penyalahgunaan NAPZA Detoksifikasi adalah terapi untuk melepaskan pasien dari kelebihan dosis. . artinya pasien dapat dibebaskan dari pengaruh zat psikoaktif yang dikonsumsinya. artinya menggunakan zat psikoaktif lagi (Joewana. Detoksifikasi merupakan tahap awal dari proses terapi gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif. Akan tetapi. maupun psikosis. intoksikasi. menodong.

lakukan massage jantung eksternal dan berikan adrenalin intrakardial. 4. pasien sebaiknya mengikuti program lanjutan (after-care program) untuk memperkecil kemungkinan kambuh (relapse). Blok 17 Modul 31 1 Terapi pascadetoksifikasi dulu disebut habilitasi mental/emosional atau 1 rehabilitasi mental dan rehabilitasi sosial. kondisi sosial. hindari oksigen bila mungkin karena akan menghambat pernapasan spontan. Jaga agar pernapasan berjalan lancer : luruskan posisi kepala. bila perlu beri napas buatan. dan pasang respirator (10-12 kali/menit). 3. 2005: 254-255). 2005: 255-257). Ada pula istilah rehabilitasi edukasional yang maksudnya adalah memelihara dan meningkatkan pengetahuan pasien serta mengusahakan agar pasien dapat mengikuti pendidikan lagi. pasang intubasi trakeal. jangan sampai napas pasien yang berbau alcohol mengelabui kita terhadap kemungkinan adanya kelebihan dosis zat lain atau adanya gejala putus zat. 1. Juga memberi keterampilan yang dapat dimanfaatkan oleh pasien untuk mencari nafkah (Joewana. Detoksifikasi Berikut ini adalah langkah-langkah yang harus diambil dalam menghadapi kondisi medis yang dapat berikatan fatal akibat penggunaan zat psikoaktif (Joewana. Setelah selesai mengikuti terapi pascadetoksifikasi. Sebagai contoh. atau bau napas pasien. sedangkan rehabilitasi vokasional bertujuan menentukan kemampuan kerja pasien serta cara mengatasi penghalang atau rintangan untuk penempatan dalam pekerjaan yang sesuai. Usahakan agar peredaran darah berjalan lancer : bila jantung berhenti berdenyut. Periksa dan catat semua tanda vital. bila terjadi . 2. Jangan menentukan kondisi medis pasien dengan berdasarkan penampilannya. singkirkan semua sumbatan pada saluran napas. perilaku pengantar. sesuai dengan kemampuan intelegensi dan bakatnya.

bila dilakukan dapat dipakai furosemid 40-100 mg secara regular. 17. 9. Lakukan pemeriksaan fisik secara cepat untuk mengetahui ada tidaknya perdarahan. Sesudah keadaan kritis teratasi. Blok 17 Modul 32 1 fibrilasi. dapat diulang setiap 20 menit bila diperlukan. Terapi pada Intoksikasi Akut Intoksikasi Opioid . bila sirkulasi darah tidak memadai. Bila terdapat kemungkinan terjadi hipoglikemia. sampai dipastikan perlu cairan infus.v terbanyak 50 cc. Ambil darah 10 cc untuk pemeriksaan toksikologi dan 40cc untuk pemeriksaan darah rutin. pertimbangkan untuk memberi plasma expander atau vasopressor.v 10 mg. pertimbangkan untuk menginduksi muntah atau lakukan kuras lambung. Bila pasien dalam keadaan koma. Pasang infus dan beri tetesan lambat. 16. Elektrolit. gula darah. 12. 15. 11. Bilak penggunaan zat psikoaktif secara oral belum berlangsung lama. 14. 10. lakukan perawatan pasien koma yang memadai. Jangan memberikan obat lain untuk menghindari kemungkinan terjadinya interaksi obat yang merugikan pasien. trauma dan sebagainya. menjaga jangan sampai terjadi decubitus. Diuresis jarang dilakukan. dan BUN. termasuk menjaga keseimbangan elektrolit dan cairan. Lakukan EKG bila dijumpai gangguan irama jantung. perawatan mata. 5. setiap 2-4 jam selama 24-48 jam. bila perlu melalui kateter untuk keperluan pemeriksaan toksikologis. Jangan lupa memperhatikan keseimbangan elektrolit dan air. bersihkan tenggorokan dan mulut 18. Sesudah itu. beri infus 1 50cc sodium bikarbonat (3. Jika terjadi kejang berikan diazepam i. 7. Antagonis diberikan bila diketahui zat apa yang dikonsumsi pasien. gunakan defibrillator. 6. beri glukosa 50% i. 8. Awasi kemungkinan terjadinya kejang: kendurkan oakaian yang terlalu menekan badan. Tamping air seni sebanyak 50cc. Bila tekanan darah tidak kunjung naik menjadi normal. baru tetesan dipercepat sesuai kebutuhan. lakukan observasi mula-mula setiap 15 menit selama 4 jam.75g) untuk atasi asidosis. 13.

minuman air dingin. Waspada terhadap kemungkinan timbulnya gejala putus opioid akibat pemberian narcan (Joewana. dapat diberikan diazepam 10-30 mg/oral atau parenteral. Pertimbangkan sungguh-sungguh untuk intubasi karena pemberian diazepam intravena dapat menyebabkan terjadinya spasmu otot laring atau apneu.2-0. Intoksikasi Kokain Bila suhu naik. Bila ada kemungkinan kejang. Bersikaplah penuh pengertian. berikan kompres dingin. dan 72 jam bila pasien menggunakan metadon. Untuk mempercepat ekskresi kokain. pengaruh ganja tersebut akan hilang. dapat diberikan diazepam 10-30 mg/oral atau parenteral atau berikan klordiazepoksid 10-25 mg/oral dan dapat diulang sekali setiap jam bila diperlukan (Joewana. Bila diperlukan. dapat diulang sesudah 3-10 menit sampai 2-3 kali. Intoksikasi Ganja Ciptakan suasana yang tenang.intramuscular. . 2005: 257). atau klordiazepoksid 10-25 mg/oral diberikan secara perlahan-lahan dan dapat diulang setiap 15-20 menit. atau subkutan. Blok 17 Modul 33 1 Beri nalokson HCL (narcan) sebanyak 0. Jelaskan bahwa semua yang dialaminya hanya bersifat sementara akibat ganja dan bahwa dalam waktu 4-8 jam. diberikan obat antihipertensi. dilakukan asidifikasi air seni dengan memberi amonium klorida 500mg/oral setiap 3-4 jam.4 mg (1 cc) atau 0. Bila belum berhasil. ajak bicara tentang apa yang sedang dialami pasien. Mengajak bicara dan menenangkan pasien dengan cara tersebut disebut talking the patient down. Oleh karena narcan mempunyai jangka waktu kerja hanya 2-3 jam. sebaiknya pasien tetap dipantau selam sekurang- kurangnya 24 jam bila pasien menggunakan heroin. 2005: 257-258). Bila tekanan darah naik. atau selimut hipotermik.01 mg/kg berat 1 badan secara intravena.

2005: 258). Antipsikosis yang dianjurkan adalah haloperidol atau risperidon (Joewana. akan terjadi peningkatan efek antikolinergik. push-up. 2005:259). 2005:258). kompres es. bila pasien gelisah. perlu diberikan antagonis opioid (narcan) 0. Boleh diberikan minuman kopi kental.m. beri haloperidol 3 kali 2-5 mg. 2005:258). dapat diberikan diazepam 10-30 mg/oral atau parenteral. Intoksikasi Halusinogen Bila suhu badan meningkat. karena narcan berjangka waktu kerja pendek. Bila alcohol belum terlalu lama diminum diusahakan agar dimuntahkan (Joewana. Blok 17 Modul 34 1 Bila timbul gejala psikosis (agitasi). bila perlu. seperti meloncat-loncat. atau i.4 mgi. tetapi tidak stimulant lain. dapat diberikan beta-blocker. Bila kejang.v sebanyak 50-20 mg. pemberian narcan dapat diulang setiap 30 menit (Joewana. bila terjadi 1 takikardia. Intoksikasi Amfetamin Terapi pada intoksikasi amfetamin sama seperti pada terapi intoksikasi kokain. pasien dapat disuruh mandi air dingin bergantian dengan mandi air hangat. sekaligus untuk menurunkan tekanan darah (Joewana. Bila pasien juga menggunakan opioid. jangan menggunakan antipsikosis yang mempunyai khasiat antikolinergik karena bila yang dikonsumsi pasien kebetulan STT atau mengandung PCP. Berikan aktivitas jasmani. Intoksikasi Alcohol Bila keadaan memungkinkan.v. atau beri selimut hipotermik. Dapat juga diberikan klordiazepoksid 10-25 mg/oral dan dapat diulang sesudah 30-60 menit. sit-up. Bila diperlukan antipsikosis. beri diazepam i. beri minum air dingi. seperti propranolol. Terapi Putus Ganja .

merugikan kehidupan sosial dan keluarganya (Joewana. Blok 17 Modul 35 1 Jarang ditemukan gejala putus ganja dan bila ditemukan. 2005:262). Bila perlu pasien cukup diberikan terapi suportif (Joewana. Yang paling sering digunakan adalah diazepam sebanyak 20 mg/oral setiap 2 jam. terapis harus memberitahukan bahwa proses penyembuhan belum selesai. . gejalanya ringan yang 1 akan hilang dengan sendirinya. Bila terdapat gangguan fungsi hati. Terapi Putus Alcohol Diberikan benzodiazepine yang berjangka kerja panjang (klordiazepoksid. Dapat diberikan antidepresi bila perlu (Joewana. Dosis tersebutditurunkan setiap hari sekitar 10-20% (Joewana. Terapi Pasca Detoksifikasi Setelah detoksifikasi selesai. Terapi Putus Amfetamin Rawat di tempat yang tenang dan biarkan pasien tidur dan makan sepuasnya. Dapat diberikan antidepresi (Joewana. 2005:262). pasien baru menyelesaikan tahap awal dari proses penyembuhan yang berlangsung lebih lama. Bila tidak terdapat gangguan fungsi hati. maksimal 100 mg pada hari pertama. Terapi Putus Kokain Rawat pasien di tempat yang tenang dan biarkan tidur dan makan sepuasnya. Terapis menyadarkan pasien bahwa perilaku penggunaan zat psikoaktif oleh pasien adalah perilaku yang merugikan kesehatan pasien. 2005:265). 2005:263). Hati-hati terhadap kemungkinan percobaan bunuh diri. 2005:262). Waspada terhadapt kemungkinan timbulnya depresi dengan ide bunuh diri. pada umumnya digunakan benzodiazepine berjangka kerja panjang. diazepam) atau yang berjangka kerja pendek (oksazepam atau lorazepam). sebaiknya digunakan benzodiazepine berjangka kerja pendek.

. keputusan untuk mengikuti terapi pascadetoksifikasi atau tidak. misalnya diabetes mellitus atau hipertensi 1 setelah diobati pasien harus mengubah pola hidupnya (diet. Program terapi pascadetoksifikasi ada yang nonpanti (pasien tetap tinggal dirumah seperti orang sakit yang berobat jalan di unit rawat jalan rumah sakit) dan yang tinggal di panti (seperti orang sakit yang dirawat unit rawat inap rumah sakit) (Joewana. Kemungkinan kambuh lebih kecil dan bila kambuh terjadi setelah abstinensi yang lebih lama. Walaupun demikian. Bila pasien telah memutuskan akan mengikuti terapi pascadetoksifikasi. Terapis hendaknya berhati-hati dalam menilai terapi pascadetoksifikasi baru yang sering dipasrkan tanpa adanya bukti berupa penelitian ilmiah apakah “terapi” itu memang mempunyai nilai terapeutik. Blok 17 Modul 36 1 Sama seperti penyakit kronis lain. Keberhasilan terapi pascadetoksifikasi sangat dipengaruhi oleh motivasi pasien. 2005:266). Pasien yang dapat menyelesaikan program terapi pascadetoksifikasi biasanya hasilnya lebih baik daripada mereka yang tidak menyelesaikan program tersebut. terapis bersama pasien dan keluarganya membicarakan terapi pascadetosifikasi mana yang sesuai untuk pasien (Joewana. pasien masih harus mengikuti program terapi pasca detoksifikasi. Pasien tidak harus mengikuti semua program tersebut. Program terapi pascadetoksifikasi banyak ragamnya. Untuk mengubah perilaku penggunaan zat psikoaktif itulah. berada ditangan pasien. 2005:266). banyak olahraga. dsb).

dan lainnya. Ketersediaan NAPZA itu sendiri juga memengaruhi seseorang untuk mengkonsumsi. serta rehabilitasi edukasi. faktor keluarga. ansietas. pemeriksaan fisik. 4. Tetapi sebagian besar pada kasus putus obat mengalami depresi. Masing-masing jenis memiliki reseptornya masing-masing yang bila teraktivasi akan menimbulkan efek yang berbeda dan di lokasi yang berbeda. Penanganan penyalahgunaan NAPZA dilakukan dengan detoksifikasi.1 Kesimpulan Dari diskusi yang telah disajikan dalam bentuk makalah ini dapat disimpulkan bahwa: 1. Blok 17 Modul 37 1 BAB III 1 PENUTUP 3. Penegakan diagnosis penyalahgunaan NAPZA dengan menggunakan diagnosis multiaksial. Pada kasus intoksikasi sebagian besar mengalami euforia dan hiperaktivitas. 7. Tahapan yang dilakukan adalah dengan anamnesa. 6. Penggolongan NAPZA didasari oleh efek yang dihasilkannya. Narkotika sendiri dibagi menjadi 3 golongan berdasarkan pengembangan ilmu pengetahuan dan pemakaian dalam bidang kesehatan. 5. dan terkadang halusinasi. pemeriksaan laboratorium. pemeriksaan psikologis. tetapi pada golongan sedatif akan hipoaktivitas. neoplasma usus ataupun lambung. serta pemeriksaan penunjang lainnya yang diperlukan. rehabilitasi sosial. Komplikasi penyalahgunaan NAPZA dapat berupa komplikasi medis seperti HIV/AIDS. serta lingkungan. 2. Mekanisme kerja dari berbagai jenis NAPZA berbeda-beda. endokarditis. Psikotropika juga dibagi berdasarkan pemakaian dalam bidang kesehatan dan ilmu pengetahuan.2 Saran . 3. Faktor penyalahgunaan NAPZA sendiri meliputi faktor dari dalam diri individu. Gejala intoksikasi dan putus obat dari berbagai jenis NAPZA tentunya berbeda- beda. 3. rehabilitasi mental/emosi.

. Keluarga dan orang-orang terdekat pengguna juga sudah seharusnya memberi semangat untuk lepas seutuhnya dari NAPZA. Oleh karena itu jika ada seseorang yang menyalahgunakan NAPZA sebaiknya segera dilaporkan dan diberikan penanganan baik medis maupun nonmedis. kepolisian maupun RSKO. Dan bagi penulis sendiri ada baiknya mengulang terus menerus pembelajaran mengenai gejala psikis dan perilaku mengenai penyalahgunaan NAPZA dan substance abuse agar lebih mudah di klinis nantinya. maka adalah kewajiban 1 seluruh masyarakat. Banyak dari kasus NAPZA tidak terekspos. baik itu di BNN. Blok 17 Modul 38 1 Untuk mengurangi kasus penyalahgunaan NAPZA.

php? file=download/pusdatin/buletin/buletin-napza. Jakarta. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.go.depkes. 2008. Jakarta. Sekretariat Negara. 2009. Republik Indonesia. 2009. Jakarta: Penerbit EGC.id/download. Satya. 2004. Jakarta: EGC . 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Jakarta: Penerbit EGC.J. Buku Ajar Psikiatri Klinis Edisi 2. Blok 17 Modul 39 1 DAFTAR PUSTAKA 1 Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Saddock. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat Psikoaktif (Penyalahgunaan NAPZA) (ed. Joewana. Undang Undang No.. B. Republik Indonesia. Diunduh dari www. Undang Undang No. 2). Townsend Mary C. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Psikiatri: Rencana Asuhan dan Medikasi Psikotropik. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.A. 2014. 1997. Saddock. Sekretariat Negara. V. 2005.pdf pada 25 Maret 2015 pukul 19:55. Pedoman Pelayanan Medik Gangguan Penggunaan Napza. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.