You are on page 1of 19

Tutorial Klinik

Katarak Senilis Imatur

Disusun untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti
Ujian Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Obstetri dan Ginekologi
RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

Diajukan Kepada Yth :
dr. NS Meida Sp.M
Disusun Oleh :
Bramastha Adi Pradana
20110310150

BAGIAN STASE MATA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2017

Pasien juga sering melihat cincin di sekitar cahaya lampu. RM : 125126 B. Pasien belum pernah sakit seperti ini dan belum pernah berobat ke dokter spesialis mata sebelumnya. PEMERIKSAAN I. silau. M Umur : 68 tahun Jenis kelamin : Perempuan Alamat : Moyudan Sleman Pekerjaan : IRT Agama : Islam Tanggal periksa : 7 Maret 2017 No. Biaya pengobatan ditanggung oleh BPJS II. Pemeriksaan Obyektif Status Present : . Pasien mengeluh pandangan kabur saat melihat jauh dan lebih jelas saat melihat dekat. Pemeriksaan Subyektif Autoanamnesa dilakukan pada tanggal 7 maret 2017 pukul 13. kemeng dan mengganjal. IDENTITAS PASIEN Nama : Ny. Riwayat Penyakit Dahulu :  Riwayat Hipertensi : +  Riwayat Diabetes Melitus : +  Riwayat Penyakit Jantung : -  Riwayat Asma : -  Riwayat Alergi : - Riwayat Penyakit Keluarga :  Riwayat Hipertensi : -  Riwayat Diabetes Melitus : + Riwayat Sosial Ekonomi : Pasien ibu rumah tangga. Pasien juga mengeluh pandangan kedua mata terasa kabur. Keluhan ini terasa sejak ± 1 bulan yang lalu.30 di Poli Mata PKU Muhammadiyah Keluhan Utama : Mata kanan dan kiri seperti ada selaput putih. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke poli spesialis mata RS PKU Muhammadiyah dengan keluhan mata kanan dan kiri seperti ada selaput putih.A.

reguler  RR : 20 x/menit.5 Pergerakan bola Pergerakan bola mata : Normal mata : Normal Superior (+) Superior (+) Inferior (+) Parese / Paralisis Inferior (+) Medial / Nasal (+) Medial / Nasal (+) Lateral / Temporal (+) Lateral / Temporal (+) Medial Superior (+) Medial Superior (+) Medial Inferior (+) Medial Inferior (+) Lateral Superior (+) Lateral Superior (+) Lateral Inferior (+) Lateral Inferior (+) Tumbuh Normal Tumbuh Normal Trikiasis (-) Trikiasis (-) Suprasilia & Silia Distikiasis (-) Distikiasis (-) Madorosis (-) Madorosis (-) Hordeolum (-) Hordeolum (-) Kalazion (-) Kalazion (-) Ektropion (-) Ektropion (-) Entropion (-) Palpebra Superior Entropion (-) Ptosis (-) Ptosis (-) Xanthelasma (-) Xanthelasma (-) Trauma (-) Trauma (-) . Keadaan umum : Baik  Kesadaran : Composmentis  Vital Sign  Tekanan darah : 120/80 mmHg  Nadi : 84 x/menit. reguler  Suhu : Afebris  Status gizi : Cukup Status Oftalmika : Oculi Dextra Oculi Sinistra 5/60 Visus 6/7.

5 mm Bentuk reguler Bentuk reguler Refleks cahaya Refleks cahaya Pupil langsung (+) langsung (+) Refleks cahaya tak Refleks cahaya tak langsung (+) langsung (+) . Hordeolum (-) Hordeolum (-) Kalazion (-) Kalazion (-) Ektropion (-) Ektropion (-) Entropion (-) Palpebra Inferior Entropion (-) Ptosis (-) Ptosis (-) Xanthelasma (-) Xanthelasma (-) Trauma (-) Trauma (-) Hiperemis (-) Hiperemis (-) Konjungtiva Palpebra Anemis (-) Anemis (-) Injeksi (-) Injeksi (-) Pinguekula (-) Pinguekula (-) Konjungtiva Bulbi Pterygium (-) Pterygium (-) Sekret (-) Sekret (-) Hiperemis (-) Konjungtiva Forniks Hiperemis (-) Ikterik (-) Sklera Ikterik (-) Ulkus (-) Ulkus (-) Sikatriks (-) Sikatriks (-) Kornea Edema (-) Edema (-) Panus (-) Panus (-) Jernih Jernih Dangkal (-) Dangkal (-) COA Hifema (-) Hifema (-) Hipopion (-) Hipopion (-) Kripte melebar (-) Kripte melebar (-) Sinekia (-) Iris Sinekia (-) Rubeosis Iridis (-) Rubeosis Iridis (-) Diameter 2.5 mm Diameter 2.

Pemeriksaan Obyektif Status Present :  Vital Sign . Pasien mengeluh pandangan kabur saat melihat jauh dan lebih jelas saat melihat dekat. kemeng dan mengganjal. Keluhan ini terasa sejak ± 1 bulan yang lalu. silau. RESUME I. Riwayat Penyakit Dahulu :  Riwayat Hipertensi : +  Riwayat Diabetes Melitus : +  Riwayat Penyakit Jantung : -  Riwayat Asma : -  Riwayat Alergi : - II. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke poli spesialis mata RS PKU Muhammadiyah dengan keluhan mata kanan dan kiri seperti ada selaput putih. Pasien juga sering melihat cincin di sekitar cahaya lampu. Sebagian lensa keruh Lensa Sebagian lensa keruh Palpasi : Normal Palpasi : Normal Tekanan bola mata (fluktuatif) (fluktuatif) III. Pasien belum pernah sakit seperti ini dan belum pernah berobat ke dokter spesialis mata sebelumnya. Pasien juga mengeluh pandangan kedua mata terasa kabur. Pemeriksaan Kekeruhan Penunjang pada lensa Kekeruhan pada lensa  Slitlamp (ODS)  Funduscopi (ODS)  Pemeriksaan darah rutin + GDS C. Pemeriksaan Subyektif Keluhan Utama : Mata kanan dan kiri seperti ada selaput putih.

DIAGNOSIS BANDING 1. ODS Katarak Senilis Imatur F. reguler  Suhu : Afebris Status Oftalmologi :  Visus  OD : 5/60  OS : 6/7.d fl No 1 S 4 dd gtt 1 ods G.5  Lensa  ODS : Lensa keruh sebagian D.  Tekanan darah : 120/80 mmHg  Nadi : 84 x/menit. Medikamentosa :  Levo mg500 No X S1 dd 1  As mef mg500 No X S1 dd 1  Polydex e. DIAGNOSIS KERJA 1. Non Medikamentosa :  Operasi katarak  Jika perlu. ODS Katarak Senilis Imatur 2. ODS Katarak Komplikata Diabetes Melitus 3. PROGNOSIS . TERAPI I. ODS Retinopati Diabetikum E. reguler  RR : 20 x/menit. konsul ke doter spesialis penyakit dalam (untuk penatalaksanaan Diabetes Melitus dan hipertensi). II.

Quo ad Vitam : Dubia ad bonam Quo ad Sanam : Dubia ad bonam Quo ad Kosmetikam : Dubia ad bonam H. Masalah yang di kaji Macam-macam jenis katarak? .

inklusi sitomegalik) 6. merokok dan heerediter. Penyakit predisposisi 4. Perubahan protein lainnya akan akan mengakibatkan perubahan warna lensa menjadi kuning atau coklat. Katarak akibat penuaan merupakan penyebab umum gangguan penglihatan. Kimia 3. Genetik dan gangguan perkembangan 5. toksin. Temuan tambahan mungkin berupa vesikel diantara serat-serat lensa atau migrasi sel epitel dan pembesaran . pada lensa katarak secara karakteristik terdapat agregat-agregat protein yang menghamburkan berkas cahaya dan mengurangi transparansinya. tetapi banyak juga faktor lain yang mungkin terlibat seperti trauma. Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa. histoplasmosis. Dalam bahasa Indonesia disebut bular dimana penglihatan seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh. BAB II TINJAUAN PUSTAKA KATARAK A. Pasca EKEK (Katarak sekunder) C. usia 7. toksoplasmosis. Infeksi virus dimasa pertumbuhan janin (rubella. DEFINISI Katarak adalah setiap kekeruhan yang terjadi pada lensa. PATOGENESIS Patogenesis katarak belum sepenuhnya dimengerti. penyakit sistemik. denaturasi protein lensa. Katarak berasal dari bahasa Yunani Katarrhakies. atau keduanya. ETIOLOGI Katarak disebabkan oleh berbagai faktor seperti : 1. Inggris Cataract dan Latin cataracta yang berarti air terjun. B. Penuaan merupakan penyebab katarak yang terbanyak. Fisik 2. Walaupun demikian.

Katarak juvenil biasanya merupakan bagian dari satu sediaan penyakit keturunan lain. Sejumlah faktor yang diduga turut berperan dalam terbentuknya katarak.stadium matur. Glaukoma . trauma atau infeksi prenatal dimana kelainan utama terjadi di nukleus lensa.Kekeruhan lensa terjadi pada saat masih terjadi perkembangan serat-serat lensa. dan stadium hipermatur. 1. sel-sel epitel yang menyimpang. katarak juvenil dan katarak senilis. Katarak juvenil merupakan katarak yang terjadi pada anak-anak sesudah lahir. Katarak senilis adalah jenis katarak yang paling sering dijumpai. sinar UV. Katarak kongenital dapat berkembang dari genetik. . stadium imatur. dan malnutrisi. KLASIFIKASI KATARAK Berdasarkan waktu perkembangannya katarak diklasifikasikan menjadi katarak kongenital.Biasanya konsistensinya lembek seperti bubur dan disebut sebagai soft cataract. antara lain kerusakan oksidatif (dari pusat radikal bebas). Kekeruhan sebagian pada lensa yang sudah didapatkan pada waktu lahir dan umumnya tidak meluas dan jarang sekali mengakibatkan keruhnya seluruh lensa 2. Uveitis + Glaukoma Berdasarkan stadiumnya. D. Telah diketahui bahwa katarak senilis berhubungan dengan bertambahnya usia dan berkaitan dengan proses penuaan lensa. Insipien Imatur Matur Hipermatu r Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Massif Cairan Normal Bertambah Normal Berkurang Lensa (air (air + masa masuk)dangk lensa al keluar) Iris Normal Terdorong Normal Tremulans Bilik mata Normal Dangkal Normal Dalam depan Sudut bilik Normal Sempit Normal Terbuka mata Shadow Negatif Positif Negatif Pseudopos test Penyulit . katarak dibagi menjadi stadium insipien. 3.

maka sinar dapat masuk ke dalam mata tanpa ada yang dipantulkan. Stadium imatur. maka sinar oblik yang mengenai bagian yang keruh ini akan dipantulkan lagi. Tak ada bayangan iris. Keadaan ini disebut shadow test (+) 3. Kalau tidak ada kekeruhan di lensa. Shadow test (-).1. Dengan melebarkan pupil. dengan syarat harus diperiksa lebih lanjut dengan midriatika. Gambaran ini disebut spokes of a wheel yang nyata bila pupil dilebarkan. 2. Kekeruhan terutama terdapat di bagian posterior dan bagian belakang nukleus lensa.akibat bayangan iris pada lensa yang keruh.oleh karena pada katarak polaris anterior juga terdapat shadow test (-). sehingga pada pemeriksaan. Oleh karena kekeruhan dibagian posterior lensa. Stadium matur . Shadow test membedakan stadium matur dari imatur. Kadang- .terutama mengenai korteks anterior. Stadium insipien. sedangkan aksis relatif masih jernih. Pada stadium ini lensa telah menjadi keruh seluruhnya. akan tampak bahwa kekeruhan hanya terdapat pada daerah pupil saja. Kekeruhan belum mengenai seluruh lapisan lensa. karena kekeruhan terletak di daerah pupil. Di pupil tampak lensa yang seperti mutiara. terlihat di pupil ada daerah yang terang sebagai refleks pemantulan cahaya pada daerah lensa yang keruh dan daerah yang gelap. yang belum menimbulkan gangguan visus. Stadium yang paling dini. sehingga semua sinar yangmelalui pupil dipantulkan kembali di permukaan anterior lensa. Kekeruhan terutama terdapat pada bagian perifer berupa bercak-bercak seperti baji (jari-jari roda).

walaupun masih stadium imatur. sehingga isi korteks yang cair dapat keluar dan lensa menjadi kempis. Korteks lensa yang konsistensinya seperti bubur telah mencair. Stadium hipermatur. Pada stadium ini juga terjadikerusakan kapsul lensa. walaupun lensanya belumkeruh seluruhnya. dengan warna yang lain daripada bagian yang diatasnya. Selain itu terdapat jenis katarak lain : Katarak rubella :  Ditularkan melalui Rubella pada ibu hamil Katarak Brunesen  Katarak yang berwarna coklat sampai hitam. nukleus ini terbayang sebagai setengah lingkaran di bagian bawah. bilik mata depan menjadi dangkal. visus tetap buruk. yaitu kecoklatan. hanya dapat menghitung jari. bahkan dapat lebih buruk lagi1/300 atau satu per tak hingga. sehingga nukleus lensa turun oleh karena daya beratnya ke bawah. hanya ada persepsi cahaya. yang di bawahnya terdapat nukleus lensa. Hal ini tidak selalu terjadi. kadang. Melalui pupil. dapat timbul suatu keadaan yang disebut intumesensi yaitu penyerapan cairan bilik mata depan oleh lensa sehingga lensamenjadi cembung dan iris terdorong ke depan.Pada umumnya terjadi pada stadium II. Keadaan ini disebut katarak Morgagni. Keadaan ini disebut vera matur. dengankoreksi. Pada perjalanan dari stadium I ke stadium IV. yang menjadi lebih permeabel. 4. pada daerah yang keruh. terutama pada nucleus lensa .

 Mempunyai tanda khusus yaitu selamanya dimulai di korteks atau dibawah kapsul menuju ke korteks atau dibawah kapsul menuju sentral  Pada lensa terlihat kekeruhan titik subkapsular ayng sewaktu-waktu menjadi katarak lamelar.  Dapat terjadi pada pasien diabetes mellitus dan myopia tinggi. PATOFISIOLOGI Lensa mengandung tiga komponen anatomis yaitu :  Nukleus à zone sentral  Korteks à perifer  Kapsul anterior dan posterior Sebagian besar katarak terjadi karena suatu perubahan fisik dan perubahan kimia pada protein lensa mata yang mengakibatkan lensa mata menjadi keruh. agen-agen fisik (radiasi. Perubahan kimia pada protein inti lensa mengakibatkan pigmentasi progresif sehingga nukleus menjadi kuning atau kecokelatan juga terjadi . aruslistrik. Katarak Sekunder  Adanya cincin Soemmering (akibat kapsul pesterior yang pecah) dan  Mutiara Elsching (epitel subkapsular yang berproliferasi) Katarak Traumatika Dapat terjadi akibat trauma mekanik.  Meningkatkan insidens maturasi katarak  Pada lensa terlihat kekeruhan tebaran salju subkapsularyang sebagian jernih dengan pengobatan. panas dan dingin) (Ilyas. Katarak Diabetik :  Akibat adanya penyakit Diabetes Mellitus. Katarak Komplikata :  Katarak akibat penyakit mata lain seperti radang dan proses degenerasi.Perubahan fisik (perubahan pada serabut halus multiple (zonula) yang memanjang dari badan silier ke sekitar lensa) menyebabkan hilangnya transparansi lensa. 2009) E.

Bentuk lamel kapsul berkurang atau kabur .Menebal dan kurang elastic (1/4 dibanding anak) . Proses pada korteks Timbulnya celah-celah di antara serabut-serabut lensa. 1983). Pada keadaan ini lensa menjadi lebih hipermetrop. Lama kelamaan nukleus lensa yang pada mulanya berwarna putih menjadi kekuning-kuningan. penderita seolah-olah mendapatkan kekuatan baru untuk melihat dekat pada usia yang bertambah (Wijana. yang berisi air dan penimbunan kalsium sehingga lensa menjadi lebih tebal. Kapsul . Pada nukleus ini kemudian terjadi penimbunan pigmen. Perubahan lensa pada usia lanjut : 1. Karena itulah dinamakan katarak brunesen atau katarak nigra. Berhubung adanya perubahan refraksi ke arah miopia pada katarak kortikal. Penyebab pada katarak senilis belum diketahui pasti. maka serabut-serabut lensa bagian tengah menjadi lebih padat (nukleus). mengalami dehidrasi. penimbunan ion kalsium dan sklerosis. Perubahan ini dapat terjadi karena meningkatnya usia sehingga terjadi penurunan enzim yang menyebabkan proses degenerasi pada lensa. namun diduga terjadi karena: a. penurunan konsentrasi glutation dan kalium. peningkatan konsentrasi natrium dan kalsium serta peningkatan hidrasi lensa.Lebih irregular . menjadi lebih miop.Terlihat bahan granular 2. Serat lensa . Epitel → makin tipis . b.Sel epitel (germinatif) pada ekuator bertambah besar dan berat . Proses pada nukleus Oleh karena serabut-serabut yang terbentuk lebih dahulu selalu terdorong ke arah tengah.Bengkak dan fakuolisasi mitokondria yang nyata 3.Pada korteks kerusakan serat sel jelas . lalu menjadi coklat dan kemudian menjadi kehitam-hitaman. lebih cembung dan membengkak.Mulai presbiopia .

Slit lamp 4. Pandangan seperti ada kabut atau air terjun 3. Korteks tidak berwarna karena : . gatal . Pengurangan ketajaman penglihatan secara bertahap 2. berasap. Gangguan mengendarai kendaraan malam hari. Penglihatan ganda (diplopia) PEMERIKSAAN FISIK MATA 1. 3. penglihatan tertutup film 2. Lampu dan matahari sangat mengganggu 5.Sinar tidak banyak mengubah protein pada serat muda.Kadar asam askorbat tinggi dan menghalangi fotooksidasi. Pemeriksaan opthalmoskop (sebaiknya pupil dilatasi) G. Kesulitan membaca bila tidak cukup cahaya 6. Sering berganti kacamata G. Perubahan daya lihat warna 3.Bila letak bayangan jauh dan besar berarti kataraknya imatur. sedangkan bayangan dekat dan kecil dengan pupil terjadi katarak matur. Sering meminta resep ganti kacamata 6. GEJALA DAN TANDA 1. Pemeriksaan ketajaman penglihatan 2. DIAGNOSIS ANAMNESIS :  Penurunan ketajaman penglihatan secara bertahap (gejala utama katarak)  Mata tidak merasa sakit. lampu besar sangat menyilaukan mata 4. F. atau merah  Gambaran umum gejala katarak yang lain seperti : 1. Silau. Berkabut. Melihat lensa dengan penlight dan loop Dengan penyinaran miring (45 derajat dari poros mata) dapat dinilai kekeruhan lensa dengan mengamati lebar pinggir iris pada lensa yang keruh (iris shadow). sinar ultraviolet lama kelamaan merubah proteinnukleus lensa 4. Brown sclerotic nucleus. . Miopia 5. PENATALAKSANAAN . . sehingga penglihatan di malam hari lebih nyaman dibandingkan siang hari 4.

Dapat dilakukan pada zonula zinn yang telah rapuh/ berdegenerasi/ mudah diputus.Tidak timbul katarak sekunder .Bila katarak menimbulkan penyulit seperti uveitis atau glukoma. Ekstraksi lensa diindikasikan apabila penurunan penglihatan mengganggu aktivitas normal penderita. Kerugian : Insisi yang lebih besar dapat mengakibatkan : .Penyembuhan dan rehabilitasi visual tertunda . juga dilakukan pada tempat-tempat di mana teknologi fakoemulsifikasi tidak tersedia. Sebagian kapsul anterior dan seluruh kapsul posterior ditinggal. forsep kapsul) b. EKEK (Ekstraksi Katarak Ekstra Kapsuler) Dilakukan dengan merobek kapsul anterior. Terapi pembedahan : 1. EKIK (Ekstraksi Katarak Intra Kapsuler) Teknik ini sudah jarang digunakan setelah adanya teknik EKEK. tidak cukup untuk melakukan pekerjaan sehari-hari atau visus < 6/12. Cara ini umumnya dilakukan pada katarak dengan lensa mata yang sangat keruh sehingga sulit dihancurkan dengan teknik fakoemulsifikasi. . karena lensa harus . 2. meskipun visus masih baik untuk bekerja. Teknik ini membutuhkan sayatan yang lebar. Bila visus meskipun sudah dikoreksi. lebih besar dibandingkan dengan teknik EKEK. dilakukan operasi juga setelah keadaan menjadi tenang. Bila sudah masuk dalam stadium matur karena dapat meninmbulkan penyulit . Keuntungan : . termasuk kapsul lensa. Selain itu. Pada EKIK dilakukan pengangkatan seluruh lensa.2 a. endolftalmitis.Astigmatisma yang signifikan .Diperlukan instrumen yang tidak terlalu canggih (lup operasi. Pada teknik ini dilakukan sayatan 12-14 mm.Inkarserasi iris dan vitreus . cryoprobe. mengeluarkan nukleus dan korteks. uveitis. Tidak ada terapi medis untuk katarak.Lebih sering menimbulkan penyulit seperti glaukoma. Indikasi pembedahan pada katarak senilis : .

Kerugian : Dapat timbul katarak sekunder. Fakoemulsifikasi Fakoemulsifikasi adalah teknik ekstrakapsular yang menggunakan getaran-getaran ultrasonik untuk mengangkat nucleus dan korteks melalui insisi limbus yang kecil (2-5 mm). sehingga mempermudah penyembuhan luka pasca-operasi. Posisi anatomis yang lebih baik untuk pemasangan IOL . Setelah lensa dikeluarkan. Kerugiannya kurve pembelajaran lebih lama. traumatik dan kebanyakan katarak senilis.5 . perlengketan vitreus dengan iris dan kornea . Mengurangi insidensi ablasio retina. Lalu dilakukan penjahitan untuk menutup luka.2 a. 3.4 Teknik ini menghasilkan insidensi komplikasi luka yang lebih rendah. Keuntungan : 1. biaya tinggi. dan komplikasi saat operasi bisa lebih serius. edema kornea. dan keuntungan insisi limbus yang kecil agak berkurang kalau akan dimasukkan lensa intraokuler. proses penyembuhan dan rehabilitasi visual lebih cepat. b. Teknik ini bermanfaat pada katarak kongenital. Menyediakan barier yang menahan pertukaran beberapa molekul antara aqueous dan vitreus .1. Menurunkan akses bakteri ke kavitas vitreus yang dapat menyebabkan endofthalmitis. Luka insisi lebih kecil (8-12 mm) dibanding EKIK 2. disamping perbaikan penglihatan juga lebih baik. tepat di posisi semula. oleh karenanya mengontrol kedalaman COA sehingga meminimalkan risiko prolaps vitreus. lensa buatan/ Intra Ocular Lens (IOL) dipasang untuk menggantikan lensa asli. Teknik ini membuat sistem yang relatif tertutup sepanjang fakoemulsifikasi dan aspirasi. Teknik ini dihindari pada penderita dengan zonulla zinii yang rapuh. Mengurangi resiko hilangnya vitreus durante operasi . Karena kapsul posterior utuh maka : . Teknik ini kurang efektif pada katarak senilis yang padat. dikeluarkan dalam keadaan utuh.

Tidak boleh mengangkat benda berat. dan edema macula sistoid. Oleh karenanya penting untuk mengobservasi pasien katarak paska operasi dengan interval waktu tertentu yaitu pada 1 hari. H. Status oftalmologik  Tidak dijumpai tanda-tanda infeksi  TIO normal  Saluran air mata lancar 2. I. Kontrol teratur untuk evaluasi luka operasi dan komplikasi setelah operasi. peningkatan TIO. Keadaan umum/sistemik  Hasil pemeriksaan laboratorium darah rutin. 5. waktu pembekuan. dislokasi atau malposisi IOL. 4. Koreksi ini diberikan 3 bulan pasca operasi. PROGNOSIS Prognosis penglihatan untuk pasien anak-anak yang memerlukan pembedahan tidak sebaik prognosis untuk pasien katarak senilis. Angka komplikasi katarak adalah rendah. sehingga perlu dikoreksi dengan lensa S+10D untuk melihat jauh. Sedangkan untuk melihat dekat perlu diberikan kacamata S+3D. Perawatan pasca operasi : 1. keadaan penyakit tersebut harus terkontrol. waktu perdarahan. dan mengejan keras. 1 minggu. Persiapan operasi : 1. menggosok mata. maka mata yang tidak mempunyai lensa lagi (afakia) visusnya 1/60. Diberikan tetes antibiotika dengan kombinasi antiinflamasi 3. karena . Bila tanpa pemasangan IOL. ablasio retina. kadar gula darah dalam batas normal  Tidak dijumpai batuk produktif  Pada penderita DM atau hipertensi. Komplikasi yang sering terjadi endoftalmitis. Mata dibebat 2. berbaring di sisi mata yang baru dioperasi. dan 3 bulan setelah operasi katarak. Komplikasi dapat terjadi intra operasi atau segera sesudahnya atau periode pasca operasi lambat. KOMPLIKASI Komplikasi operasi katarak bervariasi berdasarkan waktu dan luasnya. 1 bulan.

iris.Prognosis untuk perbaikan ketajaman pengelihatan setelah operasi paling buruk pada katarak kongenital unilateral dan paling baik pada katarak kongenital bilateral inkomplit yang proresif lambat.adanya ambliopia dan kadang-kadang anomali saraf optikus atau retina.  Fungsi retina baik Dilakukan dengan pemeriksaan persepsi warna.  Fungsi makula baik  Fungsi optik disc baik  Fungsi N. Opticus (N. dengan cara menyorotkan cahaya merah dan hijau di depan mata yang kemudian dengan sentolop cahaya diarahkan ke mata.Prognosis penglihatan pasien dikatakan baik apabila:  Fungsi media refrakta baik Dilakukan dengan melihat kejernihan serta keadaan media refrakta mulai dari kornea. pupil dan lensa melalui lampu sentolop maupun slit lamp.II) baik  Fungsi serebral baik  Tidak terdapat kelainan refraksi  Tidak ada amblopia .

Daftar Pustaka Bobrow JC. Jogjakarta Vaughan DG. 2008.Ilmu Penyakit Mata. Paul R. EGC. American Academy of Ophthalmology. Oftalmologi Umum.Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ilmu Kesehatan Mata. Jakarta Suhardjo. 2007. Universitas Gajah Mada. Mark HB. David B et al. 2012. Edisi 17. H. Lens and Cataract. Edisi 4. Section 11. Taylor A. Singapore Ilyas.S.2013. Hartono. Jakarta .