You are on page 1of 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apakah definisi dari retardasi mental?
2. Apa sajakah etiologi dari retardasi mental?
3. Bagaimanakah patofisiologi dari retardasi mental?
4. Bagaimanakah diagnosa dan gejala dari retardasi mental?
5. Bagaimanakah penanganan dari retardasi mental?
6. Apa sajakah komplikasi dari retardasi mental?
7. Apa sajakah manifestasi klinis dari retardasi mental?
8. Bagaimanakah asuhan keperawatan anak dengan retardasi mental?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui definisi dari retardasi mental.
2. Untuk mengetahui etiologi dari retardasi mental.
3. Untuk mengetahui patofisiologi dari retardasi mental.
4. Untuk mengetahui diagnosa dan gejala dari retardasi mental.
5. Untuk mengetahui penanganan dari retardasi mental.
6. Untuk mengetahui komplikasi dari retardasi mental.
7. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari retardasi mental.
8. Untuk mengetahui asuhan keperawatan anak dengan retardasi mental.

D. MANFAAT

Dengan membaca semua rangkaian yang telah dikerjakan dalam
makalah ini, diharapkan mahasiswa dapat memahami tentang Askep
Retardasi Mental : definisi retardasi mental, etiologi dari retardasi mental,
patofisiologi dari retardasi mental, diagnosa dan gejala dari retardasi
mental, penanganan dari retardasi mental, komplikasi dari retardasi
mental, manifestasi klinis dari retardasi mental, dan asuhan keperawatan
retardasi mental.

misalnya kemampuan kognitif. 2005: 386).F. DEFINISI RETARDASI MENTAL Retardasi mental adalah kelainan atau kelemahan jiwa dengan inteligensi yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak). tetapi gejala yang utama ialah inteligensi yang terbelakang. American Association on Mental Deficiency (AAMD) membuat definisi retardasi mental yang kemudian direvisi oleh Rick Heber (1961) sebagai suatu penurunan fungsi intelektual secara menyeluruh yang terjadi pada masa perkembangan dan dihubungkan dengan gangguan adaptasi sosial. bahasa. Retardasi mental ditandai dengan adanya keterbatasan intelektual dan ketidakcakapan dalam interaksi sosial (Sandra. 2010). motorik. sehingga berpengaruh pada tingkat kecerdasan secara menyeluruh. BAB II PEMBAHASAN A. Retardasi mental (RM) adalah suatu keadaan dimana seseorang memiliki kemampuan mental yang tidak mencukupi (WHO). 2001). dan sosial. Retardasi mental merupakan keadaan dengan intelegensi kurang (abnormal) atau dibawah rata-rata sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa kanak-kanak). Retardasi mental berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa edisi ke III adalah suatu keadaan perkembangan jiwa yang terhenti atau tidak lengkap. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo: kurang atau sedikit dan fren: jiwa) atau tuna mental (W. Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan. Maramis. Retardasi mental adalah disabilitas yang dicirikan dengan keterbatasan bermakna baik dalam fungsi intelektual dan dalam keterampilan adaptif seperti yang ditunjukan dalam keterampilan . Retardasi mental juga dapat terjadi dengan atau tanpa gangguan jiwa atau gangguan fisik lainnya (Maslim. yang terutama ditandai oleh terjadinya hendaya keterampilan selama masa perkembangan.

yaitu : ringan. . sosial. mereka biasanya dapat menguasai kecakapan sosial dan vokasional cukup sekedar untuk berdikari. sensori. motorik. Pada usia prasekolah (0-5 tahun) dapat mengembangkan kecakapan sosial dan komunikatif. dan praktik. sedang. dan sering tidak dapat dibedakan dan anak yang tanpa retardasi mental. Disabilitas ini dimulai sebelum usia 18 tahun. Dengan dukungan personal yang tepat secara terus-menerus. 1. Lima prinsip berikut esensial dalam penerapan definisi ini : 1. dan perilaku. Kelompok ini membentuk sebagian besar (sekitar 85%) dan kelompok retardasi mental. Pengkajian yang valid mempertimbangkan perbedaan budaya dan bahasa juga perbedaan faktor-faktor komunikasi.adaptif konseptual. Pada individu keterbatasan sering bersamaan dengan kekuatan. Suatu tujuan yang penting dalam menentukan keterbatasan adalah untuk membangun suatu suatu bentuk dukungan yang diperlukan. 4. 3. bahwa terdapat empat tingkat gangguan intelektual. 2. sampai pada usia yang lebih lanjut. fungsi hidup orang yang mengalami retardasi mental umumnya akan meningkat. 1994) yang dikutip Lumbantobing (2001). Keterbatasan dalam fungsi yang ada harus dipertimbangkan dalam konteks lingkungan komunitas khususnya teman sebaya dan budaya individu. Washington. mereka dapat memperoleh kecakapan akademik sampai setara kira-kira tingkat enam (kelas 6 SD). Retardasi Mental Ringan Retardasi mental ringan ini secara kasar setara dengan kelompok retardasi yang dapat dididik (educable). 5. mempunyai sedikit hendaya dalam bidang sensorimotor. Klasifikasi menurut DSM IV (American Psychiatric Association. Pada usia remaja. Sewaktu masa dewasa. berat dan sangat berat.

3. penyandang retardasi mental ringan biasanya dapat hidup sukses didalam masyarakat. jika tidak didapatkan hambatan yang menyertai yang membutuhkan perawatan khusus. Mereka dapat bepergian dilingkungan yang sudah dikenal. Retardasi Mental Berat Kelompok retardasi mental ini membentuk 3-4% dari kelompok retardasi mental. dan dengan pengawasan yang sedang dapat mengurus atau merawat diri sendiri. Anak tersebut dapat memperoleh manfaat dari latihan kecakapan sosial dan akupasional namun rnungkin tidak dapat rnelampaui pendidikan akademik lebih dari tingkat dua (kelas dua SD). Kelompok individu dan tingkat retardasi ini memperoleh kecakapan komunikasi selama masa anak dini. 4. Retardasi Mental Sangat Berat . bimbingan dan pertolongan. Dengan bantuan yang wajar. namun mungkin membutuhkan supervisi. 2. baik secara berdikari atau dengan pengawasan. Mereka rnemperoleh manfaat dan latihan vokasional. Sewaktu usia dewasa mereka dapat melakukan kerja yang sederhana bila diawasi secara ketat. Kebanyakan dapat menyesuaikan diri pada kehidupan di masyarakat bersama keluarganya. Sewaktu usia sekolah mereka dapat belajar bicara dan dapat dilatih dalam kecakapan mengurus diri yang sederhana. Selama masa anak-anak sedikit saja atau tidak mampu berkomunikasi bahasa. terutama bila mengalami tekanan sosial atau tekanan ekonomi. Retardasi Mental Sedang Retardasi mental sedang secara kasar setara dengan kelompok yang biasa disebut: dapat dilatih (trainable).

ETIOLOGI RETARDASI MENTAL Terjadinya retardasi mental tidak dapat dipisahkan dari tumbuh kembang seorang anak. Pada tahun-tahun pertama kehidupan hubungan yang erat. Perawatan kesehatan dasar (Imunisasi. yang rnengakibatkan retardasi rnentalnya. penimbangan bayi secara teratur. Kebutuhan fisis-biomedis (asuh) b. rekreasi 2. B. Kesegaran jasmani. mengurus diri dan kemampuan komunikasi dapat ditingkatkan dengan latihan-latihan yang adekuat. sanitasi f. . Sewaktu masa anak-anak. Papan (pemukiman yang layak) e. Perkembangan motorik. mesra dan selaras antara ibu dan anak merupakan syarat mutlak untuk menjamin suatu proses tumbuh kembang yang selaras. 1. merupakan kebutuhan paling penting) c. Kebutuhan akan stimulasi mental (asah). Pada sebagian besar individu dengan diagnosis ini dapat diidentifikasi kelainan neurologik. menunjukkan gangguan yang berat dalam bidang sensorimotor. Sandang g. Seperti diketahui faktor penentu tumbuh kembang seorang anak pada garis besarnya adalah faktor genetik/heredokonstitusional yang menentukan sifat bawaan anak tersebut dan faktor lingkungan. ASI. Higiene. mental maupun sosial. dan lain lain) d. yaitu: a. Merupakan cikal bakal proses pembelajaran (pendidikan dan pelatihan) pada anak. Kebutuhan emosi/kasih sayang (asih). Yang dimaksud dengan lingkungan pada anak dalam konteks tumbuh kembang adalah suasana (milieu) dimana anak tersebut berada. Pangan (gizi. Kelompok retardasi mental sangat berat membentuk sekitar 1- 2% dan kelompok retardasi mental. baik fisis. 3. pengobatan sederhana. Dalam hal ini lingkungan berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang. Beberapa diantaranya dapat melakukan tugas sederhana ditempat yang disupervisi dan dilindungi. Kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang ini secara garis besar dapat digolongkan menjadi 3 golongan.

Biasanya merupakan retardasi mental ringan 2. Secara fisis tampak berkelainan/aneh 4. Kelainan/penyimpangan tumbuh kembang pada anak terjadi akibat gangguan pada interaksi antara anak dan lingkungan tersebut. Etiologi retardasi mental dapat terjadi mulai dari fase pranatal. Tampak sejak lahir atau usia dini 3. Kalaupun kematian dapat diatasi. Tidak terdapat kelainan fisis maupun laboratorium 4. dan banyak diantaranya yang dapat dicegah. Beberapa penulis secara terpisah menyebutkan lebih dari 1000 macam penyebab terjadinya retardasi mental. ketrampilan. moral-etika dan sebagainya). sebagian besar anak yang telah berhasil tetap hidup ini mengalami akibat menetap dari penyimpangan tersebut yang dikategorikan sebagai kecacatan. Penyebab biologis atau sering disebut retardasi mental tipe klinis mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: 1. perinatal dan postnatal. Ditinjau dari penyebab secara langsung dapat digolongkan atas penyebab biologis dan psikososial. Perkembangan ini pada usia balita disebut sebagai perkembangan psikomotor. perinatal maupun postnatal 5. Stimulasi mental ini membantu perkembangan mental psikososial (kecerdasan. Mempunyai latar belakang kekurangan stimulasi mental (asah) . bahkan dapat berakhir dengan kematian. Pada umumnya merupakan retardasi mental sedang sampai sangat berat 2. kreativitas. Keadaan ini dapat menyebabkan morbiditas anak. Diketahui pada usia sekolah 3. Jelaslah bahwa dalam aspek pencegahan terjadinya retardasi mental praktek pengasuhan anak dan peran orangtua sangat penting. termasuk retardasi mental. sehingga kebutuhan dasar anak tidak terpenuhi. Mempunyai latar belakang biomedis baik pranatal. kepribadian. Tidak berhubungan dengan kelas sosial Penyebab psikososial atau sering disebut tipe sosiokultural mempunyai ciri-ciri sebagai berikut 1. kemandirian.

Penyebab pranatal a. dapat diperkirakan bahwa retardasi mental di Indonesia yang terbanyak adalah tipe sosio-kultural. Prematuritas b. Penyebab perinatal a. Intoksikasi (timah hitam. Meningitis f. Hidrosefalus g. Sindrom dismorfik e. Infeksi (meningitis. Etiologi retardasi mental tipe klinis atau biological dapat dibagi dalam 1. Gangguan metabolic d. Perdarahan intraventrikular 3. Kernikterus d. Trauma c. PATOFISIOLOGI RETARDASI MENTAL Prenatal Retardasi Mental Pasca natal Ketidakmampuan kognitif (IQ <70-75) . golongan sosio ekonomi rendah masih merupakan bagian yang besar dari penduduk. Kejang lama d. Intoksikasi 2. Kelainan kromosom b. merkuri) C. ensefalitis) b. Penyebab postnatal a. Infeksi intrauterine f. Kelainan genetik /herediter c. Asfiksia c. Hipoglikemia e. Ada hubungan dengan kelas sosial Melihat struktur masyarakat Indonesia. 5.

DIAGNOSIS & GEJALA RETARDASI MENTAL Diagnosis retardasi mental tidak hanya didasarkan atas tes intelegensia saja. melainkan juga dari riwayat penyakit. melainkan harus dinilai berdasarkan sejumlah besar ketrampilan spesifik yang berbeda. Pemeriksaan fisis pada anak retardasi mental biasanya lebih sulit dibandingkan pada anak normal. laporan dari sekolah. . hidrosefali. misalnya perubahan bentuk kepala: mikrosefali. gangguan pertumbuhan gigi dan ekspresi wajah yang tampak tumpul. pemeriksaan fisis. karena anak retardasi mental kurang kooperatif. prilaku adaptif dan hasil tes psikometrik. Pada anak yang berumur diatas 3 tahun dilakukan tes intelegensia. Namun. penilaian tingkat kecerdasan harus berdasarkan semua informasi yang tersedia. yaitu lidah yang menjulur keluar. laporan dari orangtua. Yang perlu dinilai tidak hanya intelegensia saja melainkan juga adaptasi sosialnya. Berbicara berbahasa ketrampilan merawat Gangguan pertumbuhan Gangguan komunikasi Kurang perawatan diri dan perkembangan D. pemeriksaan penunjang. Selain pemeriksaan fisis secara umum (adanya tanda-tanda dismorfik dari sindrom-sindrom tertentu) perlu dilakukan pemeriksaan neurologis. Dari anamnesis dapat diketahui beberapa faktor risiko terjadinya retardasi mental. termasuk temuan klinis. tingkat kecerdasan intelegensia bukan satu-satunya karakteristik. serta penilaian tingkat perkembangan. Wajah pasien dengan retardasi menral sangan mudah dikenali seperti hipertelorisme. perdarahan intra kranial pada bayi dengan ubun-ubun masih terbuka. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) kepala dapat membantu menilai adanya kalsifikasi serebral. Pada pemeriksaan fisik pasien dengan retardasi mental dapat ditemukan berbagai macam perubahan bentuk fisik. dan down syndrome. laboratorium.

diklasifikasikan menjadi mild retardation (tingkat IQ 50 atau 55 sampai sekitar 70). serta perkembangan bicara dan bahasa. pekerjaan. Dibawah ini sekilas tentang perubahan perilaku terkait usia pada anak dengan keterbelakangan mental : . keterampilan sosial-interpersonal. moderate mental retardation (tingkat IQ 35 atau 40 sampai 50 atau 55). Pada bayi dapat dinilai perkembangan motorik halus maupun kasar. pemeriksaan ferriklorida dan asam amino urine dapat dilakukan sebagai screening PKU. Beberapa pemeriksaan penunjang lain dapat dilakukan untuk membantu seperti pemeriksaan BERA.Pemeriksaan laboratorium dilakuka atas indikasi. Tingkatan keterbelakangan mental menurut APA. CT-Scan. penggunaan sumber dalam komunitas. kesehatan dan keamanan. severe mental retardation (tingkat IQ 20 atau 25 sampai 35 atau 40). perhatian diri sendiri. dan MRI. Pemeriksaan analisis kromosom dilakukan bila dicurigai adanya kelainan kromosom yang mendasari retardasi mental tersebut. Fungsi intelektual secara signifikan dibawah rata-rata: IQ sekitar 70 atau kurang menurut tes IQ yang diadakan secara individu. waktu luang. dan profound mental retardation (tingkat IQ dibawah 20 atau 25). yaitu: 1. keterampilan akademik fungsional. 3. self dierection. karena kebanyakan tes psikologis ditujukan pada anak yang lebih besar. 2. mensyaratkan tiga diagnosis keterbelakangan mental. Terjadi sebelum berusia 18 tahun. Biasanya penderita retardasi mental juga mengalami keterlambatan motor dan American Psychiatric Association (APA) pada tahun 1994. Kesulitan yang dihadapi adalah kalau penderita masih dibawah umur 2-3 tahun. Ketidakmampuan atau kelemahan yang terjadi bersamaan dengan fungsi adaptasi saat ini (yakni efektivitas seseorang dalam memenuhi standar yang diharapkan pada usianya dengan kelompok budayanya) setidaknya dalam bidang berikut ini: yaitu komunikasi. kehidupan rumah tangga.

Usia sekolah (6 – 21 tahun): biasanya berjalan kecuali jika terdapat ketidakmampuan motorik. dapat mengambil mamfaat dari pelatihan mengenai kesehatan dan kebiasaan lain yang dapat diterima. Anak prasekolah (0 – 5 tahun): lebih lambat daripada rata-rata dalam berjalan. Dewasa (21 tahun keatas): melakukan tugas tanpa keterampilan atau semi terampil sederhana pada kondisi yang diawasi. 3. namun pengamat sambil lalu tidak melihat keterbelakangan ini. mendapat mamfaat dari pelatihan mengerjakan sendiri (misalnya makan sendiri). 2. sedikit atau tidak berbicara. Usia sekolah (6 – 21 tahun): Belajar keterampilan motorik- pemahaman dan kognisi (membaca dan arithmatic) di kelas tiga sampai kelas enam oleh remaja tahap ini. Dewasa (21 tahun keatas): Biasanya mencapai keterampilan sosial dan kejuruan yang diperlukan untuk merawat diri. memerlukan petunjuk dan pengawasan ketat dalam lingkungan yang dapat dikendalikan. 2. dapat memahami dan merespon pembicaraan. 3. berpartisipasi pada permainan sederhana dan melakukan perjalanan sendiri di tempat yang dikenal.Keterbelakangan Mental Ringan (IQ = 50 -70) 1. Dewasa (21 tahun keatas): melakukan kegiatan rutin sehari-hari dan memperbesar perawatan diri sendiri. Keterbelakangan Mental Berat (IQ = 20 – 34) 1. dan berbicara. Keterbelakangan Mental menengah (IQ = 35 – 49) 1. makan sendiri. Anak prasekolah (0 – 5 tahun): sebagian besar perkembangan kelihatan dengan jelas terlambat. membutuhkan bimbingan dan bantuan ketika berada pada kondisi ekonomi sulit atau stress sosial. . mampu merawat diri sendiri. Anak prasekolah (0 – 5 tahun): perkembangan motorik sangat tertunda. 3. dapat belajar untuk menyesuaikan diri secara sosial. 2. Usia sekolah (6 – 21 tahun): belajar berkomunikasi dan merawat kesehatan dasar dan kebutuhan keamanan.

Anak prasekolah (0 – 5 tahun): keterbelakangan ekstrem disemua bidang. Dewasa (21 tahun keatas): barangkali dapat berjalan dan berbicara dengan cara primitive. tidak dapat merawat diri sendiri. perlu diambil anamnesis dari orang tua dengan teliti mengenai: kehamilan. . kemampuan sensorik minimal. 1. Pentingnya Pendidikan dan Latihan untuk Penderita Retardasi Mental a. harus diawasi dengan ketat. 3. Keterbelakangan Mental Sangat Berat (IQ dibawah 20) 1. E. Untuk itulah maka mereka perlu mendapatkan layanan konseling. Untuk mendiagnosis retardasi mental dengan tepat. Usia sekolah (6 – 21 tahun): semua bidang perkembangan tampak jelas tertunda. melainkan juga pada orang tuanya. persalinan. Konseling dilakukan secara fleksibel dan pragmatis dengan tujuan agar orang tua penderita mampu mengatasi bebab psiko-sosial pada dirinya terlebih dahulu. PENANGANAN RETARDASI MENTAL Penanganan terhadap penderita retardasi mental bukan hanya tertuju pada penderita saja. Siapapun orangnya pasti memiliki beban psiko-sosial yang tidak ringan jika anaknya menderita retardasi mental. respon berupa emosi dasar dan mendapatkan manfaat dari pelatihan dalam penggunaan anggota badan dan mulut. mendapatkan mamfaat dari aktivitas fisik regular. membutuhkan bantuan perawatan diri. tetapi membutuhkan bantuan perawatan diri. 2. Oleh karena itu agar orang tua dapat berperan secara baik dan benar maka mereka perlu memiliki kesiapan psikologis dan teknis. Dan bila perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium. Latihan untuk mempergunakan dan mengembangkan kapasitas yang dimiliki dengan sebaik-baiknya. apalagi jika masuk kategori yang berat dan sangat berat. dan pertumbuhan serta perkembangan anak.

b. skoliosis 10. F. Disfungsi tiroid 8. Paralisi serebral 2. obstuksi usus halus. Masalah-masalah perilaku atau psikiatrik 4. membersihkan badan dan berpakaian sendiri. seperti deformitas kaki. MANIFESTASI KLINIS . Untuk mengikat perhatian mereka tindakan yang dapat dilakukan adalah dengan merangsang indera. yaitu: a. c. Latihan di sekolah: belajar keterampilan untuk sikap social. Melatih penderita retardasi mental pasti lebih sulit dari pada melatih anak normal antara lain karena perhatian penderita retardasi mental mudah terinterupsi. Kesulitan makan G. dst. dan d. Masalah-masalah ortopsdik. KOMPLIKASI RETARDASI MENTAL 1. Kelainan kongenital yang berkaitan seperti malformasi esophagus. dan defek jantung 7. Jenis-jenis Latihan untuk Penderita Retardasi Mental Ada beberapa jenis latihan yang dapat diberikan kepada penderita retardasi mental.. c. 2. Latihan di rumah: belajar makan sendiri. Pendidikan dan latihan diperlukan untuk memperbaiki sifat- sifat yang salah. sehingga ketergantungan pada pihak lain menjadi berkurang atau bahkan hilang. Dengan latihan maka diharapkan dapat membuat keterampilan berkembang. Latihan teknis: latihan diberikan sesuai dengan minat dan jenis kelamin penderita. Latihan moral: latihan berupa pengenalan dan tindakan mengenai hal-hal yang baik dan buruk secara moral. Konstipasi (akibat penurunan motilitas usus akibat obat-obatan antikonfulsi. Defisit komunikasi 5. Gangguan kejang 3. Gangguan sensoris 9. kurang mengkonsumsi makanan berserat dan cairan) 6. b.

proses pikir ). akademik fungsional. Diabetes maternal. Lingkar kepala diatas atau dibawah normal ( kadang-kadang lebih besar atau lebih kecil dari ukuran normal ). Kondisi neonatal termasuk meningitis danperdarahan intracranial. 1. tonus otot abnormal ( lebih sering tonus otot lemah ). Gagal melewati tahap perkembangan yang penting 4. pemeliharaan kesehatan dan keamanan. Gangguan metabolism sejak lahir ( Fenilketonuria ). GangguanSindrom ( distrofiotot Duchene ). Riwayat Kesehatan 1) Riwayat kesehatan sekarang Pasien menunjukkan Gangguan kognitif ( pola. PENGKAJIAN Pengkajian terdiri atas evaluasi komprehensif mengenai kekurangan dan kekuatan yang berhubungan dengan ketrampilan adaptif . Infeksi. Lambatnya ketrampilan ekspresi dan resepsi bahasa. lambatnya pertumbuhan. Lambatnya keterampilan mengungkapkan dan menangkap bahasa. interaksisosial. Abrupsio plasenta. dan terlambatnya perkembangan motoris halus dan kasar. ciri-ciri dismorfik. Keterlambatan perkembangan motorik halus dan kasar H. a. Gangguan kognitif 2. pembentukan ketrampilan rekreasi dan ketenangan dan bekerja. penggunaan sarana-sarana di masyarakat pengarahan diri. perawatan diri. 2) Riwayat kesehatan dahulu Kemungkinan besar pasien pernah mengalami Penyakit kromosom ( Trisomi 21 ( Sindrom Down). Lingkar kepala diatas atau dibawah normal 5. Sindrom Fragile X. Kelahiran premature. Gangguan degenerative. Kemungkinan keterlambatan pertumbuhan 6. Kemungkinan gambaran disformik 8.komunikasi. Gagal melewati tahap perkembangan yang utama. ASUHAN KEPERWATAN RETARDASI MENTAL 1. 3) Riwayat kesehatan keluarga . 3. Cederakepala. neurofibromatosis ( tipe 1). Kemungkinan tonus otot abnormal 7.

tdk mempunyai kemampuan gerak sempurna . nistagmus. cuping melengkung ke atas. c. dll d) Hidung : Jembatan/punggung hidung mendatar. Pengakajian dapat dilakukan melalui: 1) Neuroradiologi dapat menemukan kelainan dalam struktur kranium. misalnya klasifikasi atau peningkatan tekanan intrakranial. penumpukan glikogen pada otot dan neuron. plagiosepali (btk kepala tdk simetris) b) Rambut : Pusar ganda. terutama dari ibu tersebut. dll h) Muka : Panjang filtrum yang bertambah. dll e) Mulut : Bentuk “V” yang terbalik dari bibir atas. a) Kepala : Mikro/makrosepali. 3) Biopsi otak hanya berguna pada sejumlah kecil anak retardasii mental. juling. Ada kemungkinan besar keluarga pernah mengalami penyakit yang serupa atau penyakit yang dapat memicu terjadinya retardasi mental. deposit lemak dalam otak dan kadar fenilalanin yang tinggi. Juga tidak mudah bagi orang tua untuk menerima pengambilan jaringan otak dalan jumlah kecil sekalipun karena dianggap menambah kerusakan otak yang memang tidak adekuat. Atau dapat melakukan pengkajian sebagai berikut: 1) Lakukan pengkajian fisik. halus. langit-langit lebar/melengkung tinggi f) Geligi : Odontogenesis yang tdk normal g) Telinga : Keduanyaletakrendah. mudah putus dan cepat berubah c) Mata : Mikroftalmia. 4) Penelitian bio kimia menentukan tingkat dari berbagai bahan metabolik yang diketahui mempengaruhi jaringan otak jika tidak ditemukan dalam jumlah besar atau kecil. rambut jarang/tdk ada. b. ukuran kecil. 2) Ekoesefalografi dapat memperlihatkan tumor dan hamatoma. misalnya hipeglekimia pada neonatus prematur. hipoplasia i) Leher : Pendek.

11) Bantu dengan tes diagnostik misalnya: analis kromosom. meningitis. ibujari gemuk dan lebar. 7) Penyimpangan lingkungan 8) Gangguan psikiatrik (misalnya. konsumsi obat. rubella). dll m) Kaki : Jari kaki saling tumpang tindih. lebar. American Assiciation of Mental Retardation Adaptif Behavior Scale. dll l) Genitalia : Mikropenis. 3) Dapatkan riwayat keluarga. panjang & tegap/panjang kecil meruncing diujungnya. 5) Infeksi maternal prenatal (misalnya. tomografi.d kelainan fs. 15) Penurunan aktivitas spontan 16) Penurunan kesadaran terhadap suara getaran 17) Peka rangsang. teruma yang melibatkan otak (misalnya. dll k) Dada & Abdomen : Terdapat beberapa putting. DIAGNOSA KEPERAWATAN a. Autisme). Stanford. binet. gemuk 2) Lakukan pengkajian perkembangan. teruma mengenai retardasi mental dan gangguan herediter dimana retardasi mental adalah salah satu jenisnya yang utama 4) Dapatkan riwayat kesehatan unutk mendapatkan bukti- bukti adanya trauma prenatal. 6) Nutrisi tidak adekuat. Kognitif . klinodaktil. 10) Abnormalitas kromosom. 9) Infeksi. 12) Lakukan atau bantu dengan tes intelegensia. disfungsimetabolik. 2. besar. j) Tangan : Jari pendek dan tegap atau panjang kecil meruncing. campak) atau suhu tubuh tinggi. Scale. pascanatal. 18) Menyusui lambat. elektro ersafalografi. 13) Observasi adanya manifestasi dini dari retardasi mental: 14) Tidak responsive terhadap kontak. testis tidakturun. Wechsler Intellence. Kontak mata buruk selama menyusui. radiografi. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b. atau cedera fisik. buncit. ensefalitis. alkoholisme. perinatal.

kesulitan bicara /kesulitan adaptasi sosial . Defisit perawatan diri b. Gangguan interaksi sosial b.d.d kelainan fs. Gangguan komunikasi verbal b.d.b. perilaku agresif/ketidakseimbangan mobilitas fisik e. perubahan mobilitas fisik/kurangnya kematangan perkembangan d.d. kognitif c. Risiko cedera b.

Maramis. Disfungsi tiroid. Gangguan sensoris. 2. laporan dari sekolah. pemeriksaan penunjang. 4. pemeriksaan fisis. Konseling dilakukan secara fleksibel dan pragmatis dengan tujuan agar orang tua penderita mampu mengatasi bebab psiko-sosial pada dirinya terlebih dahulu. Diagnosis retardasi mental tidak hanya didasarkan atas tes intelegensia saja. tetapi gejala yang utama ialah inteligensi yang terbelakang. BAB III PENUTUP A. Seperti diketahui faktor penentu tumbuh kembang seorang anak pada garis besarnya adalah faktor genetik/heredokonstitusional yang menentukan sifat bawaan anak tersebut dan faktor lingkungan. Gangguan kejang. Masalah-masalah perilaku atau psikiatrik. laporan dari orangtua. 5. Retardasi mental adalah kelainan atau kelemahan jiwa dengan inteligensi yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak). seperti deformitas kaki. Kelainan congenital.F. Kemungkinan keterlambatan pertumbuhan. Gagal melewati tahap perkembangan yang penting. 2005: 386). Manifestasi klinis yang terjadi pada retardasi mental adalah Gangguan kognitif. laboratorium. Terjadinya retardasi mental tidak dapat dipisahkan dari tumbuh kembang seorang anak. 3. melainkan juga dari riwayat penyakit. skoliosis dan Kesulitan makan 6. Komplikasi yang sering terjadi pada retardasi mental adalah Paralisi serebral. Kemungkinan tonus otot abnormal. Konstipasi. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo: kurang atau sedikit dan fren: jiwa) atau tuna mental (W. SIMPULAN 1. Kemungkinan gambaran disformik dan Keterlambatan perkembangan motorik halus dan kasar . Lingkar kepala diatas atau dibawah normal. Masalah-masalah ortopsdik. Defisit komunikasi. Lambatnya keterampilan mengungkapkan dan menangkap bahasa. Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan.

SARAN Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca terutama mahasiswa keperawatan diharapkan dapat menggunakan makalah ini sebagai referensi untuk menambah pengetahuan tentang keperawatan anak dan diharapkan para pembaca bisa memberikan kritik dan saran untuk dapat menjadikan kami lebih baik lagi dalam penulisan makalah kami selanjutnya. diagnosa keperawatan. implementasi dan evaluasi. Asuhan keperawatan dari retardasi mental terdiri atas pengkajian keperawatan. B. intervensi keperawatan. . 7.

W. 2005. Jakarta : EGC Maramis. 2009. DAFTAR PUSTAKA Betz and Sowde. Dorlan. Kamus Saku Kedokteran Dorlan Edisi 2008. Newman.F. Buku Saku Keperawatan Pediatri Edisi 5. 2011. Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press. . Jakarta: EGC.