You are on page 1of 22

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat dan

hidayah-Nya. Sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan penulisan Makala ini sebagai

tugas Mata kulia Komunikasi Informasi dan Konseling Obat . Kami telah menyusun Tugas

Makala ini dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Namun tentunya sebagai manusia

biasa tidak luput dari kesalahan dan kekurangan. Harapan kami, semoga bisa menjadi koreksi

dimasa mendatang agar lebih baik lagi dari sebelumnya.
Tak lupa ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Dosen Mata Kuliahkomunikasi

Informasi Dan konseling Obat atas bimbingan, dorongan dan ilmu yang telah di berikan kepada

kami. Sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan makala ini tepat waktunya dan insya

Allah sesuai yang kami harapkan. Dan kami ucapkan pula kepada rekan-rekan dan semua pihak

yang terkait dalam penyusunan makalah ini.
Mudah-mudahan makala ini bisa memberikan sumbangan pemikiran sekaligus

pengetahuan bagi kita semuanya. Amin

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR……………………………………………………………. i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………… ii

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang……………………………………………………….
I.2 Tujuan………………………………………………………………….
I.3 Rumusan……………………………………………………………….

BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................

II.1 Industri Kosmetik……………………………………………………..
II.2 Kosmetik……………………………………………………………….
II.3 Cara Pembuatan Kosmetik………………………………………….
II.4 Persyaratan Pembuatan Kosmetik…………………………………
II.5 Undang-Undang Kosmetik………………………………………….
II.6 Faktor-faktor Industri Kosmetik……………………………………..
II.7 Keterkaitan Pendirian Kosmetik…………………………………….
II.8 Dampak Positif dan Negatif …………………………………………

BAB III PEMBAHASAN…………………………………………………………..

BAB IV KESIMPULAN……………………………………………………………

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………....

BAB I

PENDAHULUAN

I. minyak zaitun dan air mawar pada zaman Romawi (Schneider G.1 Latar Belakang Kata kosmetik berasal dari bahasa Yunani kosmetike tekhneyang berarti "teknik berpakaian dan berhias". Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menganalisa strategi pemasaran adalah dengan menggunakan teori permainan yaitu suatu model . Pihak perusahaan kosmetik harud lebih teliti dalam menggali informasi mengenai preferensi konsumen dan mampu menerapkan strategi pemasaran yang tepat.Bukti arkeologi penggunaan kosmetik bisa ditelusuri sejak zaman Mesir kuno dan Yunani kuno. Untuk mampu bersaing dan memuaskan konsumen tentunya suatu produk harus mempunyai keunggulan kompetitif dibandingkan dengan produk pesaing serta dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Menurut sejumlah sumber. Disisi lain konsumen memiliki penilaian dan harapan sendiri terhadap kosmetik yang mereka gunakan. yang berarti "susunan" dan "hiasan". sehingga banyak bermunculan produk baru dipasaran yang dapat menimbulkan persaingan cukup ketat. dari kata kosmetikos berarti "terampil dalam menyusun atau mengatur" dan juga dari kata kosmos. Dari data International Cosmetics Club Menyebutkan bahwa impor produk kosmetik mencapai Rp 4 miliar sampai Rp 10 miliar perbulan. Bahkan pada tahun 2006 impor selama setahun mencapai Rp 1 triliun. perkembangan awal kosmetik bisa diketahui sejakbangsa Mesir kuno menggunakan minyak jarak sebagai pengganti balsem. Hal ini menunjukkan bahwa pemakaian kosmetik di Indonesia sangat besar. 2005). Sementara itu untuk pasaran lokal. Hal ini memberikan peluang bagi industri kosmetik di Indonesia. kosmetik seolah menjadi kebutuhan primer bagi sebagian kaum wanita.Bukti awal penggunaan kosmetik ditemukan dimakam firaun pada zaman Mesir kuno. Dalam hal ini diperlukan antisipasi kemungkinan-kemungkinan strategi yang akan diterapkan oleh perusahaan pesaing. menurut persatuan Kosmetik Indonesia (Potosmi) omzet penjualan kosmetik bisa mencapai Rp 40 miliar untuk satu perusahaan besar dalam satu bulan. Seiring perkembangan zaman. Industri kosmetik di Indonesia saat ini berkembang pesat. atau penggunaan krim kulit yang terbuat darililin lebah.

II.1 Tujuan Dapat mengetahui dan memahami tentang industri kosmetik dan cara pembuatan kosmetik yang baik. Makalah ini memaparkan berbagai permasalahan terkait industri kosmetik.3 Rumusan Masalah 1. faktor produksi serta dampak berdirinya suatu industri farmasi. antara lain bagaimana klasifikasi industri kosmetik dipandang dari berbagai segi perspektif. 2008). kosmetik seakan menjadi kebutuhan dasar dan tolak ukur untuk tampil lebih percaya diri. 3. Apa sajakah persyaratan yang di lakukan dalam mendirikan industri kosmetik 2. matematika yang digunakan dalam situasi konflik atau persaingan antara berbagai kepentingan yang saling berhadapan sebagai pesaing (Darmaji. Dampak positif dan negative dari industry kosmetik BAB II TINJAUAN PUSTAKA . Penggunaan kosmetik pada saat ini sudah menjadi trend bagi masyarakat. Keberadaan industri kosmetik menjadi penting mengingat permintaan konsumen yang tinggi. 4. Factor dan keterkaitan apa saja yang mempengaruhi proses pelaksanaan dalam mendirikan industry kosmetik. II. Persyaratan apa sajakah yang perlu di perhatikan dalam memilih bahan kosmetik menurut perundang-undangan.

Berbadan usaha berupa perseroan terbatas. Industri farmasi yang memproduksi obat dapat mendistribusikan atau menyalurkan hasil produksinya langsung kepada pedagang besar farmasi.1 Industri Kosmetik Menurut definisi yang tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1799/MENKES/PER/XII/2010 Tentang Industri Farmasi. industri farmasi adalah badan usaha yang memiliki izin dari Menteri Kesehatan untuk melakukan kegiatan pembuatan obat atau bahan obat. c. dan kontrasepsi untuk manusia. termasuk produk biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis. instalasi farmasi rumah sakit. Adapun persayaratan untuk mendapatkan izin tersebut adalah: a. pendidikan dan pelatihan. klinik. Industri farmasi memiliki fungsi pembuatan obat dan atau bahan obat. Memiliki rencana investasi dan kegiatan pembuatan obat. apotek.serta penelitian dan pengembangan. pusat kesehatan masyarakat. Setiap pendirian industri farmasi wajib memperoleh izin industri farmasi dari Direktur Jendral Pembinaan Kefarmasian dan Alat Kesehatan Menteri Kesehatan RI.II. peningkatan kesehatan. pemulihan. Memiliki NPWP. dan toko obat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sedangkan bahan obat adalah bahan baik yang berkhasiat maupun tidak berkhasiat yang digunakan dalam pengolahan obat dengan standar mutu sebagai bahan baku farmasi. pencegahan. Industri farmasi dapat melakukan kegiatan proses pembuatan obat dan atau bahan obat untuk semua tahapan dan atau sebagian tahapan. Sedangkan industri farmasi yang menghasilkan bahan obat dapat mendistribusikan atau menyalurkan hasil produksinya langsung kepada pedagang besar bahan baku farmasi dan instalasi farmasi rumah sakit sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. penyembuhan. b. . Adapun obat didefinisikan sebagai bahan atau paduan bahan.

khasiat / kemanfaatan. 1970. II. serta. dituangkan. Memilki secara tetap paling sedikit 3 (tiga) orang Apoteker Warga Negara Indonesia. penilaian (assessment). Apabila dalam proses farmakovigilans tersebut industri farmasi menemukan obat dan atau bahan obat hasil produksinya yang tidak memenuhi standard dan atau persyaratan keamanan. Selain persayaratan di atas. Industri farmasi juga diharuskan melakukan farmakovigilans (seluruh kegiatan tentang pendeteksian. Kosmetik adalah bahan atau campuran bahan untuk digosok. d. Pada abad ke – 19. pemahaman. Komisaris dan direksi tidak pernah terlibat. yaitu selain untuk kecantikan juga untuk kesehatan. Kosmetik Menurut Wall dan Jellinenk. dan mutu. Industri farmasi dapat membuat obat secara kontrak kepada industri farmasi lain yang telah menerapkan CPOB.Perkembangan ilmu kosmetik serta industrinya baru dimulai secara besar-besaran pada abad ke-20. khasiat / kemanfaatan. diletakkan. dan pengawasan mutu. Industri farmasi wajib menyampaikan laporan industri secara berkala kepada Direktur Jenderal Pembinaan Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementrian Kesehatan tetang jumlah dan nilai produksi setiap obat dan atau bahan obat yang dihasilkan. e. industri farmasi wajib melaporkan hal tersebut kepada Kepala BPOM. produksi. Industri farmasi pemberi kontrak dan industri farmasi penerima kontrak bertanggung jawab terhadap keamanan. dan pencegahan efek samping atau masalah lainnya terkait dengan penggunaan obat). Industri farmasi pemberi kontrak wajib memiliki izin industri farmasi dan paling sedikit memiliki 1 (satu) fasilitas produksi sediaan yang telah memenuhi persyaratan CPOB. Sertifikat CPOB berlaku selama 5 (lima) tahun sepanjang memenuhi persyaratan. pemakaian kosmetik mulaimendapat perhatian. masing-masing sebagai penanggung jawab pemastian mutu. kosmetik dikenal manusia sejakberabad – abad yang lalu. dan mutu obat. dipercikkan. baik langsung atau tidak langsung dalam pelanggaran peraturan perundang-undangan dibidang kefarmasian.2. atau disemprotkan . industri farmasi juga wajib memenuhi persyaratan CPOB yang dibuktikan dengan sertifikat CPOB.

memelihara. menambah daya tarik atau mengubah rupa. Definisi kosmetik dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No.  Diterapkannya CPKB secara konsisten oleh Geriodic Kosmetik CPKB memuat aspek-aspek pokok sebagai berikut: . kuku. II. Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB) merupakan salah satu faktor penting untuk dapat menghasilkan produk kosmetik yang memenuhi standar mutu dan keamanan. Definisi tersebut jelas bahwa kosmetik bukan suatu obat yang dipakai untuk pengobatan maupun pencegahan penyakit (Tranggono.  Meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk kosmetik Indonesia dalam era pasar bebas. dan tidak termasuk golongan obat.3. Adapun tujuan dari CPKB adalah. dan organ kelamin bagian luar). bibir. mengubah penampakan. memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit. menambah daya tarik. 445/MenKes/Permenkes/1998 adalah sediaan atau paduan bahan yang siap untuk digunakan pada bagian luar badan (epidermis. 2007). gigi. melindungi supaya tetap dalam keadaan baik. Penerapan CPKB merupakan persyaratan kelayakan dasar untuk menerapkan sistem jaminan mutu dan keamanan yang diakui dunia internasional. Secara Umum:  Melindungi masyarakat terhadap hal-hal yang merugikan dari penggunaan kosmetik yang tidak memenuhi persyaratan standar mutu dan keamanan. dan rongga mulut untuk membersihkan. pada bagian badan manusia dengan maksud untuk membersihkan. Secara Khusus :  Dengan dipahaminya penerapan CPKB oleh para pelaku usaha Kosmetik sehingga bermanfaat bagi perkembangan Geriodic Kosmetik. Terlebih lagi untuk mengantisipasi pasar bebas di era globalisasi maka penerapan CPKB merupakan nilai tambah bagi produk kosmetik Indonesia untuk bersaing dengan produk sejenis dari negara lain baik di pasar dalam negeri maupu internasional. rambut.

. Untuk mencapai tujuan yang konsisten dan dapat diandalkan. mutu rendah atau tidak efektif. Bangunan dan Fasilitas 5. instruksi-instruksi. Penangan Keluhan dan Penarikan Produk. Prinsipnya adalah Industri kosmetik harus membuat produk sedemikian rupa agar sesuai dengan tujuanp enggunaanya. tugas dan fungsi. Pengawasan Mutu. Dokumentasi. 10. 1. dan hendaknya diperhatikan elemen-elemen penting yang ditetapkan dalam pedoman ini. 12.  Sistem mutu harus dibentuk dan disesuaikan dengan kegiatan perusahaan. memenuhi persyaratan dan tidak menimbulkan resko yang membahayakan penggunanya karena tidak aman. 4. 9. prosedur prosedur. diperlukan manajemen mutu yang didesain secara menyeluruh dan diterapkan secara benar. 8. Peralatan. Sanitasi dan Higiene. Penyimpanan. Personalia. 7. Unsur dasar sistem manajemen mutu adalah :  Dijabarkannya struktur organisasi. Sistem Manajemen Mutu. 11. tanggungjawab. 13. Manajemen bertanggung jawab untuk pencapaian tujuan ini melalui suatu “Kebijakan Mutu” yang memerlukan partisipasi dan komitmen dari semua jajaran disemua departemen di dalam perusahaan. 2. sifat dasar produk-produknya. 3. Kontrak Produksi dan Pengujian. Ketentuan Umum. 6. Audit Internal. Sistem Manajemen Mutu Sistem Manajemen Mutu. Produksi. 1. proses dan sumber daya untuk menerapkan manajemen mutu.

penutup rambut dan alas kaki yang sesuai dan memakai sarung tangan serta masker apabila diperlukan.Kualifikasi dan Tanggung Jawab. Tiap personil hendaklah memahami tanggung jawab masing –masing . serta dilakukan pengujian terhadapnya untuk menentukan diluluskan atau ditolak. proses dan peralatan. termasuk instruksi mengenai hygiene yang berkaitan dengan pekerjaan.  Semua personil harus memahami prinsip Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB). mempunyai sikap dan kesadaran yang tinggi untuk melaksanakannya melalui pelatihan berkala dan berkelanjutan.  Personil yang bekerja di area produksi hendaklah tidak berpenyakit kulit. penyakit menular atau memiliki luka terbuka. baik fisik maupun mental. . Personalia Sumber daya manusia sangat penting dalam pembentukan dan penerapan period pemastian mutu yang memuaskan dan pembuatan kosmetik yang benar. Organisasi. Oleh sebab itu kosmetik bertanggung jawab untuk menyediakan personel berkualitas dalam jumlah yang memadai untuk melaksanakan semua tugas. B. 2. Produksi dan Pengawasan Mutu setidak-tidaknya berpendidikan minimal setara dengan Sekolah Menengah Tingkat Atas. memakai pakaian kerja. Seluruh personil hendaklah memahami prinsip CPKB dan memperoleh pelatihan awal dan berkesinambungan. serta mengenakan pakaian kerja yang bersih.  Pelaksanaan period mutu harus menjamin bahwa apabila diperlukan.  Personil di Bagian Pengolahan. A. Persyaratan umum personalia:  Semua personil harus memenuhi persyaratan kesehatan. dilakukan pengambilan contoh bahan awal. mempunyai pengalaman praktis sesuai dengan prosedur.  Personil harus tersedia dalam jumlah yang memadai. produk antara dan produk jadi. yang didasarkan atas hasil uji dan kenyataan- kenyataan yang dijumpai yang berkaitan dengan mutu.

C. dan penerapan prosedur pengawasan mutu dan mempunyai wewenang (bila diperlukan) menunjuk personil untuk memeriksa. peralatan. Sarjana Farmasi. produk ruahan. Kepala Bagian Pengawasan Mutu. untuk melaksanakan supervisi langsung di setiap bagian produksi dan unit pemeriksaan mutu. area produksi dan dokumentasi. bagian produksi dan pengawasan mutu hendaklah dipimpin oleh orang yang berbeda dan tidak ada keterkaitan tanggungjawab satu sama lain.  Kepala Bagian Produksi hendaklah independen. (contoh struktur organisasi Kepala Bagian Produksi dapat dijabat oleh seorang Apoteker.Kepala Bagian Pengawasan Mutu hendaklah mempunyai wewenang dan tanggung jawab penuh dalam semua aspek pengawasan mutu seperti penyusunan. Sarjana Farmasi. memiliki wewenang serta tanggung jawab penuh untuk mengelola produksi kosmetik mencakup tugas operasional produksi. Uraian tugas yang mencakup tanggung jawab dan wewenang setiap personil inti (“Key Personil”) seperti Kepala Bagian Produksi. Sarjana Kimia atau tenaga lain yang memperoleh pendidikan khusus di bidang produksi kosmetik dan mempunyai pengalaman dan keterampilan dalam kepemimpinan sehingga memungkinkan melaksanakan tugas sebagai seriodicenal. Kepala Bagian Teknik dan Kepala Bagian Personalia hendaknya dirinci dan didefi nisikan secara jelas.  Kepala Bagian Pengawasan Mutu dapat dijabat oleh seorang Apoteker. produk antara. Pelatihan  Semua personil yang langsung terlibat dalam kegiatan pembuatan harus dilatih dalam pelaksanaan pembuatan sesuai dengan prinsip- . meloloskan dan menolak bahan awal. Dalam struktur organisasi perusahaan.Hendaknya tersedia personil yang terlatih dalam jumlah yang memadai. personil. dan produk jadi yang dibuat sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan dan disetujui. Sarjana Kimia atau tenaga lain yang memperoleh pendidikan khusus dibidang pengawasan mutu produk kosmetik.

Materi pelatihan dapat berupa pengenalan CPKB secara umum untuk semua personil di pabrik dan materi khusus untuk bagian tertentu. Apabila dalam proses farmakovigilans tersebut industri farmasi menemukan obat dan atau bahan obat hasil produksinya yang tidak memenuhi standard dan atau persyaratan . tenaga ahli atau oleh pelatih dari luar perusahaan. Memilki secara tetap paling sedikit 3 (tiga) orang Apoteker Warga Negara Indonesia. (Menkes/per/VIII/2010) II. Adapun persayaratan untuk mendapatkan izin tersebut adalah: a. masing-masing sebagai penanggung jawab pemastian mutu. Pelatihan CPKB dapat diberikan oleh atasan yang bersangkutan.  Catatan hasil pelatihan harus dipelihara dan keefektifannya harus dievaluasi. dan pencegahan efek samping atau masalah lainnya terkait dengan penggunaan obat). Komisaris dan direksi tidak pernah terlibat. industri farmasi juga wajib memenuhi persyaratan CPOB yang dibuktikan dengan sertifikat CPOB. Perhatian khusus harus diberikan untuk melatih personil yang bekerja dengan material berbahaya. baik langsung atau tidak langsung dalam pelanggaran peraturan perundang–undangan di bidang kefarmasian. e. Berbadan usaha berupa perseroan terbatas. Memiliki NPWP (Nomer Pokok Wajib Pajak).  Program pelatihan diberikan secara berkesinambungan paling sedikit sekali dalam setahun untuk menjamin agar personil terbiasa dengan persyaratan CPKB yang berkaitan dengan tugasnya. b. d. Pelatihan hendaklah dilakukan menurut program tertulis yang telah disetujui oleh Kepala Bagian Produksi dan atau Kepala Bagian Pengawasan Mutu atau Bagian lain yang terkait. produksi. serta. Sertifikat CPOB berlaku selama 5 (lima) tahun sepanjang memenuhi persyaratan.4. pemahaman. Selain persayaratan di atas. penilaian (assessment). c. prinsip Cara Pembuatan yang Baik. misalnya Bagian Produksi atau Pengawasan Mutu. Memiliki rencana investasi dan kegiatan pembuatan obat. dan pengawasan mutu. Industri farmasi juga diharuskan melakukan farmakovigilans (seluruh kegiatan tentang pendeteksian.

II. Perintah pemusnahan obat dan atau bahan obat jika terbukti tidak memenuhi persyaratan keamanan. khasiat / kemanfaatan. rambut.1. atau mutu. b. khasiat / kemanfaatan. . Pencabutan izin industri farmasi.5 Menurut peraturan kepala badan pengawas obat dan makanan tentang persyaratan menurut nomor 1176/ MENKES/PER/VII/2010 TAHUN 2010 tentang kosmetik 1.Industri farmasi wajib menyampaikan laporan industri secara berkala kepada Direktur Jenderal Pembinaan Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementrian Kesehatan tetang jumlah dan nilai produksi setiap obat dan atau bahan obat yang dihasilkan.Menurut MENKES/PER/VII/2010 TAHUN 2010 Pasal 1 Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan: . industri farmasi wajib melaporkan hal tersebut kepada Kepala BPOM. dan mutu obat. khasiat / kemanfaatan. d. Penghentian sementara kegiatan. e.Industri farmasi pemberi kontrak dan industri farmasi penerima kontrak bertanggung jawab terhadap keamanan. Industri farmasi pemberi kontrak wajib memiliki izin industri farmasi dan paling sedikit memiliki 1 (satu) fasilitas produksi sediaan yang telah memenuhi persyaratan CPOB. khasiat / kemanfaatan. kuku. Industri farmasi dapat membuat obat secara kontrak kepada industri farmasi lain yang telah menerapkan CPOB. keamanan. c. Pembekuan izin industri farmasi.Kosmetika adalah bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan pada bagian luar tubuh manusia (epidermis. f. dan mutu. Industri Farmasi yang melakukan pelanggaran peraturan dapat dikenai sanksi berupa: a. dan mutu. Peringatan secara tertulis. mewangikan. mengubah penampilan dan/atau memperbaiki bau badan atau melindungi atau memelihara tubuh pada kondisi baik. Larangan mengedarkan untuk sementara waktu dan atau perintah untuk penarikan kembali obat dan atau bahan obat dari peredaran bagi obat dan atau bahan obat yang tidak memenuhi standard dan persyaratan keamanan. bibir dan organ genital bagian luar) atau gigi dan membran mukosa mulut terutama untuk membersihkan.

Bahan Kosmetika harus memenuhi persyaratan mutu sebagaimana tercantum dalam Kodeks Kosmetika Indonesia atau standar lain yang diakui atau sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Masalah topografi dalam pendirian industry kosmetik akan berhubungan dengan aksesbilitas industry tersebut dalam memasarkan produknya.Bahan Kosmetika adalah bahan atau campuran bahan yang berasal dari alam dan/atau sintetik yang merupakan komponen kosmetika termasuk bahan pewarna. bahan tertentu dilarang digunakan dalam pembuatan kosmetika. Pemilihan lokasi yang baik harus mempertimbangkan aspek aksesbilitas terhadap bahan baku dan pasar. 6. Lahan sebagai sumberdaya. 3. Iklim tidak mempengaruhi proses pelaksanaan dalam industry kosmetik.Selain bahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). memancarkan.MENURUT MENKES/PER/VII/2010 TAHUN 2010( PASAL 2) 1. II. Industry kosmetik menggunakan lahan sebagai lokasi/ tempat pendirian bangunan industry. 4.Bahan Kosmetika sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa bahan yang diperbolehkan digunakan dalam pembuatan kosmetika. 2. dan menghamburkan. berupa fixed capital yang tidak langsung habis. contohnya bangunan industry serta financial capital berupa modal uang. . Kepala Badan adalah Kepala Badan yang tugas dan tanggung jawabnya dibidang pengawasan obat dan makanan. Physical factor (faktor fisik daerah). 3. Capital (modal).Bahan Pengawet adalah bahan atau campuran bahan yang digunakan untuk mencegah kerusakan kosmetika yang disebabkan oleh mikrooganisme 5 Bahan Tabir Surya adalah bahan yang digunakan untuk melindungi kulit dari radiasi sinar ultra violet dengan cara menyerap.6 Faktor yang mempengaruhi Industri Kosmetik Menurut Whynne Hammond 1.Bahan Pewarna adalah bahan atau campuran bahan yang digunakan untuk memberi dan/atau memperbaiki warna pada kosmetika 2. 3. Industry kosmetik membutuhkan modal dalam jumlah yang besar. 2. bahan pengawet dan bahan tabirsurya. 2.

Transportasi Industri kosmetik membutuhkan sarana transportasi dalam perolehan bahan baku dan pendistribusian hasil produksi. dan proses pemasaran menjadi faktor dalam hubungan operasional suatu industry. terutama masyarakat sekitar lokasi industry kosmetik. seperti kebutuhan alat produksi dan proses pemasaran. Kebutuhan bahan mentah. service links. Keterkaitan Antar Faktor Industry kosmetik termasuk Tangible Nature Links. process meliputi cara mengolah bahan baku menjadi bahan jadi. anti ageing. process. outputs merupakan hasil dari process bahan baku. II. lipstick. sedangkan distribution terdiri dari pemasaran hasil produksi. serta distribution. Bahan baku berupa campuran zat kimia (bahan pemutih. yang meliputi process link. Industri kosmetik berdiri karena kebutuhan wanita untuk mempercantik diri. Human and Change Factors. 5.7 Keterkaitan pendirian Industri Kosmetik Setiap industri membutuhkan hubungan operasional dengan industry lain dalam mewujudkan keberlanjutan industrynya. Inputs meliputi perolehan dan pengumpulan bahan baku. Industri kosmetik dalam pengelolaannya meliputi inputs. Daerah pemasaran industry kosmetik yakni daerah perkotaan dengan system penawaran secara langsung produk kosmetik pada para wanita. 8. pertukaran informasi. Keterkaitan Antar Sektor . sub contracting links. Hal ini disebut Industrial Linkages. c. pencerah) menghasilkan barang berbeda berupa bedak. Maksud dari keterkaitan ini adalah industry kosmetik memiliki keterkaitan terhadap proses produksi. 6. Keterkaitan Antar Industri Industry kosmetik termasuk multi destination interplant linkages. b. Pemilihan tenaga kerja mempertimbangkan segi kulaitas tenaga kerja yang berupa keterampilan dan ketekunan. Industry kosmetik menggunakan tenaga kerja upahan yang bersal dari mana saja. 7. a. dll yang dapat diproduksi oleh pabrik yang berbeda-beda. lotion. outputs. danmarketing links. Labour (tenaga kerja). Management (Pengelolaan Usaha). Marketing (Pemasaran). 4. artinya industry ini memiliki bahan baku yang sama tapi mampu menghasilkan barang dalam industry yang berbeda.

II. Industri kosmetik memiliki keterkaitan dengan sector jasa. lipstick. melalui bekerja sebagai karyawan di industry kosmetik 2) Terbukanya usaha-usaha lain di luar bidang industry kosmetik. Terpenuhinya berbagai kebutuhan masyarakat. yang menginginkan kulit putih dengan menggunakan produk kosmetik. Dampak Positif Terbukanya lapangan kerja.8 Dampak Positif dan Negatif dalam pendirian Industri Kosmetik a. 1) Pendapatan masyarakat meningkat. akibat keinginan yang tidak bias dibatasi. b. Industry kosmetik membutuhkan banyak tenaga kerja dalam proses pengolahannya. Limbah dalam suatu industri adalah buangan yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungannya karena tidak mempunyai nilai ekonomi. dll membutuhkan sector perdagangan dalam proses pendistribusiannya agar sampai pada konsumen.Limbah mengandung bahan pencemar yang bersifat racun dan bahaya. terutama bagi masyarakat sekitar lokasi industry. 3) Hilangnya kepribadian masyarakat budaya Indonesia yang berkulit sawo matang menjadi sifat kebaratan. Indonesia melakukan eksport dan import produk kosmetik dari dan ke luar negeri. Keterkaitan spasial. Hasil pengolahan dalam industri kosmetik menghasilkan produk berupa bedak. artinya produk kosmetik diminati oleh semua manusia di setiap wilayah di dunia. terutama bagi wanita yang ingin meningkatkan daya tarik/ kecantikan melalui produk kosmetik. Limbah dapat berupa polusi udara. polusi air. Oleh sebab itu. d. Dalam kegiatan industri akan diikuti dengan dampak negatif . maupun polusi tanah. 4) Muncul peralihan mata pencaharian dari pertanian menjadi non pertanian (buruh indusri kosmetik) 5) Industry pabrik yang didirikan di kota mengakibatkan tingkat urbanisasi menjadi tinggi dan menyebabkan muncul pemukiman kumuh. Dampak Negatif 1) Terjadi pencemaran lingkungan akibat limbah dari industry kosmetik. berdirinya industry kosmetik menjadikan kesempatan kerja terbuka lebar. Industry kosmetik memiliki keterkaitan internasional. 2) Tingkat konsumerisme masyarakat menjadi tinggi. lotion.

Bahan beracun dan berbahaya banyak digunakan sebagai bahan baku industri kosmetik maupun sebagai penolong. Limbah industri yang toksik akan memperburuk kondisi lingkungan dan akan meningkatkan penyakit pada manusia dan kerusakan pada komponen lingkungan lainnya. patogenik. baik dari jumlah maupun kualitasnya. Keberadaan limbah yang bersumber dari industri kosmetik cukup mengkhawatirkan. yaitu bahan berbahaya dan beracun. oksidator dan reduktor. BAB III PEMBAHASAN Industri kosmetik di Indonesia saat ini berkembang pesat. Beracun dan berbahaya dari limbah ditunjukkan oleh sifat fisik dan kimia bahan itu sendiri.Pada umumnya limbah industri kosmetik mengandung limbah B3. Beberapa kriteria berbahaya dan beracun telah ditetapkan antara lain mudah terbakar. Dari data International Cosmetics Club Menyebutkan bahwa impor produk kosmetik mencapai Rp 4 miliar . mudah membusuk dan lain-lain. mutagenik. limbah industri terhadap lingkungan hidup manusia. Padahal limbah industri kosmetik sangat potensial sebagai penyebab terjadinya pencemaran. limbah B3 adalah sisa suatu usaha atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan beracun yang dapat mencemarkan atau merusak lingkungan hidup sehingga membahayakan kesehatan serta kelangsungan hidup manusia dan mahluk lainnya. kehadirannya dapat merusakkan kesehatan bahkan mematikan manusia atau kehidupan lainnya sehingga perlu ditetapkan batas-batas yang diperkenankan dalam lingkungan pada waktu tertentu. korosif. iritasi bukan radioaktif.Dalam jumlah tertentu dengan kadar tertentu.Menurut PP 18/99 pasal 1. mudah meledak.

industri kosmetik adalah badan usaha yang memiliki izin dari Menteri Kesehatan untuk melakukan kegiatan pembuatan obat atau bahan obat. Sedangkan bahan obat adalah bahan baik yang berkhasiat maupun tidak berkhasiat yang digunakan dalam pengolahan obat dengan standar mutu sebagai bahan baku farmasi. antara lain bagaimana klasifikasi industri kosmetik dipandang dari berbagai segi perspektif. Sertifikat CPOB berlaku selama 5 (lima) tahun sepanjang memenuhi persyaratan. Hal ini menunjukkan bahwa pemakaian kosmetik di Indonesia sangat besar. kosmetik seolah menjadi kebutuhan primer bagi sebagian kaum wanita. Makalah ini memaparkan berbagai permasalahan terkait industri kosmetik. sehingga banyak bermunculan produk baru dipasaran yang dapat menimbulkan persaingan cukup ketat. Sementara itu untuk pasaran lokal. dan pencegahan efek . kosmetik seakan menjadi kebutuhan dasar dan tolak ukur untuk tampil lebih percaya diri. dan kontrasepsi untuk manusia. Penggunaan kosmetik pada saat ini sudah menjadi trend bagi masyarakat. Seiring perkembangan zaman. Adapun obat didefinisikan sebagai bahan atau paduan bahan. menurut persatuan Kosmetik Indonesia (Potosmi) omzet penjualan kosmetik bisa mencapai Rp 40 miliar untuk satu perusahaan besar dalam satu bulan. pemahaman. Menurut definisi yang tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1799/MENKES/PER/XII/2010 Tentang Industri kosmetik. penilaian (assessment). faktor produksi serta dampak berdirinya suatu industri farmasi Selain persayaratan di atas. Hal ini memberikan peluang bagi industri kosmetik di Indonesia. termasuk produk biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis. industri farmasi juga wajib memenuhi persyaratan CPOB yang dibuktikan dengan sertifikat CPOB. Disisi lain konsumen memiliki penilaian dan harapan sendiri terhadap kosmetik yang mereka gunakan. pencegahan. Industri farmasi juga diharuskan melakukan farmakovigilans (seluruh kegiatan tentang pendeteksian. Keberadaan industri kosmetik menjadi penting mengingat permintaan konsumen yang tinggi. Bahkan pada tahun 2006 impor selama setahun mencapai Rp 1 triliun. penyembuhan.sampai Rp 10 miliar perbulan. peningkatan kesehatan. pemulihan.

industri farmasi wajib melaporkan hal tersebut kepada Kepala BPOM. khasiat / kemanfaatan. Industri farmasi pemberi kontrak wajib memiliki izin industri farmasi dan paling sedikit memiliki 1 (satu) fasilitas produksi sediaan yang telah memenuhi persyaratan CPOB. Setiap industri membutuhkan hubungan operasional dengan industry lain dalam mewujudkan keberlanjutan industrynya. khasiat / kemanfaatan. dan mutu obat. Industri farmasi wajib menyampaikan laporan industri secara berkala kepada Direktur Jenderal Pembinaan Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementrian Kesehatan tetang jumlah dan nilai produksi setiap obat dan atau bahan obat yang dihasilkan. Apabila dalam proses farmakovigilans tersebut industri farmasi menemukan obat dan atau bahan obat hasil produksinya yang tidak memenuhi standard dan atau persyaratan keamanan. BAB IV KESIMPULAN III. dan proses pemasaran menjadi faktor dalam hubungan operasional suatu industry. samping atau masalah lainnya terkait dengan penggunaan obat). Industri farmasi dapat membuat obat secara kontrak kepada industri farmasi lain yang telah menerapkan CPOB. Terlebih lagi untuk mengantisipasi pasar bebas di era globalisasi maka penerapan CPKB merupakan nilai tambah bagi produk kosmetik Indonesia untuk bersaing dengan produk sejenis dari negara lain baik di pasar dalam negeri maupu internasional. Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB) merupakan salah satu faktor penting untuk dapat menghasilkan produk kosmetik yang memenuhi standar mutu dan keamanan. pertukaran informasi. Industri farmasi pemberi kontrak dan industri farmasi penerima kontrak bertanggung jawab terhadap keamanan. Kebutuhan bahan mentah.1 Kesimpulan . dan mutu. Penerapan CPKB merupakan persyaratan kelayakan dasar untuk menerapkan sistem jaminan mutu dan keamanan yang diakui dunia internasional.

adapun hal yang perlu di perhatikan dalam pendirian industry kosmetik tidak boleh menyalahi aturan pemerintah apabila melakukan pelanggaran peraturan dapat . pemulihan. pencegahan.kosmetik dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No. Industri Kosmetik Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1799/MENKES/PER/XII/2010 Tentang Industri kosmetik adalah badan usaha yang memiliki izin dari Menteri Kesehatan untuk melakukan kegiatan pembuatan obat atau bahan obat. peningkatan kesehatan.1. Adapun Persyaratan yang harus di perhatiakan dalam mendirikan industry kosmetik . dan organ kelamin bagian luar). menambah daya tarik.memiliki NPWP. 2. industri farmasi juga wajib memenuhi persyaratan CPOB yang dibuktikan dengan sertifikat CPOB. serta tidak pernah terlibat. mengubah penampakan. baik langsung atau tidak langsung dalam pelanggaran peraturan perundang-undangan dibidang kefarmasian. masing-masing sebagai penanggung jawab pemastian mutu. memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit. termasuk produk biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis. penyembuhan. Selain persayaratan di atas. Memilki secara tetap paling sedikit 3 (tiga) orang apoteker Warga Negara Indonesia. 445/MenKes/Permenkes/1998 adalah sediaan atau paduan bahan yang siap untuk digunakan pada bagian luar badan (epidermis. dan rongga mulut untuk membersihkan.berbadan usaha berupa perseroan terbatas. melindungi supaya tetap dalam keadaan baik.memiliki rencana investasi dan kegiatan pembuatan obat. bibir. produksi. sebagai bahan atau paduan bahan. rambut. gigi. kuku. dan pengawasan mutu.

2 Saran Untuk menyempurnaan pembuatan Makala ini.Industri farmasi pemberi kontrak dan industri farmasi penerima kontrak bertanggung jawab terhadap keamanan. pemusnahan obat dan bahan obatnya terbutik tidak memenuhi persyaratan kaeaman. dikenai sanksi berupa Peringatan secara tertulis. dan mutu sediaan kosmetik farmasi wajib menyampaikan laporan industri secara berkala kepada Direktur Jenderal Pembinaan Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementrian Kesehatan tetang jumlah dan nilai produksi setiap obat dan atau bahan obat yang dihasilkan. Larangan mengedarkan. Alur perjinan Industri kosmetik pemberi kontrak wajib memiliki izin industri kosmetik dan paling sedikit memiliki 1 (satu) fasilitas produksi sediaan yang telah memenuhi persyaratan CPOB.kedepannya kami mengharapkan adanya saran dan kritikan dari semua pihak baik dosen. khasiat / kemanfaatan. penghentian sementara 3. maupun seluruh mahasiswa yang membaca Makala ”pendirian industry kosmetik” terdapat kesalahan dankekurangan yang terdapat di dalamnya . III.

Ph. Pharm. Tanggal 20 Agustus 2010 Tentang Ijin Produksi Kosmetik. Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1775/MENKES/PER/VIII/2010. Sven Gohla. D. Kosmetika dan Perbekalan Kesehatan . 445/MenKes/Permenkes/1998 Tentang Bahan.com/: diakses pada tanggal 19 Maret 2016 Günther Schneider. Gramedia Pustaka Utama. Peraturan Menteri Kesehatan RI No.Editor: Joshita Djajadisastra. Zat Pengawet. Jörg Schreiber. Substratum. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. Wiley-VCH. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1799/MENKES/PER/XII/2010. Uwe Schönrock. Hartmut Schmidt-Lewerkühne. Xenia Petsitis. RI Tranggono. http://www. Wolfgang Pape. Zat Warna.html Darmadji. Weinheim. Jakarta.com/cosmetic-club-international- limited-1621889. 2007. Hellmut Ippen and Walter Diembeck. DAFTAR PUSTAKA Cosmetic Club International Limited. F Latifah . Annegret Kuschel. Waltraud Kaden. 140/Menkes/Per/1991 tentang Wajib daftar Alkes. MS. Tentang Industri Farmasi.cdrex.. 2008. Tabir Surya Pada Kosmetika Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Persatuan Perusahaan Kosmetik Indonesia. http:)//perkosami.Skin Cosmetics" in Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry 2005.

5 Tahun 1984 tentang Perindustrian .Peraturan Pemerintah 18/99 pasal 1 dan Undang-Undang No.