You are on page 1of 10

TUGAS KELOMPOK

MAKALAH MATA KULIAH HUKUM KEUANGAN NEGARA

“TOPIK BAHASAN: SEJARAH PERKEMBANGAN HUKUM KEUANGAN NEGARA
DI INDONESIA”

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 3, dengan anggota:

No. Urut Daftar
No Nama Mahasiswa NPM
Hadir
1 Aji Anggara Mukti 153060021410 5
2 Alza Tamara 153060021470 8
3 Andri Mesach Djorghy 153060021489 10
4 Aulia Amani Wahdah 153060021379 11
5 Danan Giriatmojo 153060021344 14
6 Deandra Magnolia Munthe 153060021395 15
7 Elzami Haqie 153060021208 19
8 Fajar Firdzatul Nugraha 153060021549 20
9 Mgs Rahman Septian 153060021521 27
10 Siti Choirunnisa 153060021188 34
11 Suryagus Benedictus 153060021376 36
12 Teguh Darmawanto 153060021449 37
13 Tri Setya 153060021472 38

KELAS 4N
PRODI D-III AKUNTANSI
POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN
BULAN MARET 2017
2

Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Iskandar selaku dosen pengampu. Penyusunan makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Keuangan Negara. Sejarah Hukum Keuangan Negara di Masa Kemerdekaan---------------------2 III. 8 Maret 2017 Penyusun DAFTAR ISI Kata Pengantar---------------------------------------------------------------------------------------i Daftar Isi---------------------------------------------------------------------------------------------ii Pembahasan-----------------------------------------------------------------------------------------1 I. Sejarah Hukum Keuangan Negara di Masa Reformasi--------------------------3 Daftar Pustaka--------------------------------------------------------------------------------------iii 1 . Karena atas rahmat dan karunia-Nya. Sejarah Hukum Keuangan Negara di Masa Kolonialisme----------------------1 II. Semoga dengan penyusunan makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pemahaman diri penyusun tentang mata kuliah ini. Mohon maaf bila dalam penulisan makalah ini terdapat kesalahan. kami dapat menyusun makalah ini tentang Sejarah Perkembangan Hukum Keuangan Negara di Indonesia. Tangerang. KATA PENGANTAR Puji syukur atas kehadirat Tuhan YME. Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Kritik dan saran atas penyusunan makalah ini sangat kami harapkan. Sejarah Hukum Keuangan Negara di Masa Orde Baru-------------------------2 IV.

2) Pencabutan pasal mengenai sokongan kepada Belanda dilakukan pada tahun 1903. pemerintahan Hindia Belanda telah menetapkan Indische Comptabiliteiswet (ICW) atau Undang-undang Perbendaharaan yang mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1967. Dalam perkembangannya. PEMBAHASAN I. antara lain dengan UU Nomor 9 Tahun 1968 tentang Perubahan Tahun Anggaran. 7) Peraturan tentang tuntutan ganti rugi yang ditujukan kepada pengawai negeri dan bendaharawan yang merugikan negara. 3) Gubernur Jenderal adalah penguasa pengurusan umum keuangan negara. di antaranya adalah: 1) Tuntutan ganti rugi mulai dikenakan pada tahun 1895 dan bukan hanya kepada bendaharawan. Pada awal berlakunya. 4) Pengawasan terhadap pengurusan keuangan negara dilakukan oleh Algemeene Rekenkamer yang diangkat oleh Raja. ICW sudah mengalami beberapa perubahan. 4) Perubahan pada tahun 1917 menentapkan bahwa Gubernur Jenderal mempunyai wewenang untuk menentapkan sementara anggaran serta menetapkan perhitungan anggaran dan berwenang menggunakan sisa anggaran lebih atau menutup sisa 2 . Lembaga ini selanjutnya menjadi cikal bakal Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). ICW memuat hal-hal antara lain sebagai berikut: 1) Anggaran rutin dan anggaran modal ditetapkan setahun sekali. ICW telah mengalami beberapa kali perubahan. pengelolaan keuangan negara telah diatur dan diberlakukan di Hindia Belanda. 3) Perubahan pada tahun 1912 menetapkan bahwa Hindia Belanda merupakan satu Badan Hukum tersendiri yang terpisah dari Negara Belanda. segala sesuatu yang semula diatur atau harus diputuskan dari Negara Belanda sejak tahun 1912 bisa dilakukan sendiri di Hindia Belanda. Sedangkan untuk pelaksanaan pemeriksaan pertanggungjawaban keuangan negara digunakan Instructure en verdure bepalingen voor de Algemene Rakenhower (IAR) Staatsblad 1933 Nomor 320. 2) Sisa anggaran yang masih ada sesudah tahun anggaran berakhir harus ditetapkan dengan UU. termasuk hasil milik dan beban yang harus dipikulnya. Terakhir dengan UU Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara. tetapi juga kepada yang bukan bendaharawan. 5) Sumbangan-sumbangan Hindia Belanda untuk Belanda tetap diteruskan. Pada waktu itu juga berlaku Reglement voorhet Administratief (RAB) Staatsblad 1933 Nomor 381. Sebelum kemerdekaan. Dengan perubahan ini. 6) Tata cara pertanggungjawaban pengurusan keuangan negara yang ditujukan kepada Algemeene Rekenkamer. Sejarah Hukum Keuangan Negara di Masa Kolonialisme Sejak zaman Kolonialisme Belanda. Pada tahun 1864.

1) Panitia Soedarmin tahun 1969-1974 menghasilkan susunan konsep RUU tentang pengurusan Keuangan Negara. 3) Panitia Ahli Departemen Keuangan. Sejarah Hukum Keuangan Negara di Masa Orde Baru Upaya perbaikan peraturan perundang-undangan tentang keuangan negara terus dilakukan. Hal ini terkait dengan dibentuknya Volks Raad (Perwakilan Rakyat). Kemudian pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. II. Sejarah Hukum Keuangan Negara di Masa Kemerdekaan Setelah kemerdekaan Republik Indonesia. Berdasarkan UU Darurat Nomor 3 Tahun 1954 yang disahkan dengan UU Nomor 12 Tahun 1954. Seiring dengan berjalannya waktu. anggaran kurang. Ke-empat tim tersebut adalah : 1) Panitia Achmad Natanegara yang menghasilkan konsep RUU Keuangan Republik Indonesia “UKRI” tahun 1945-1947. 2) Panitia Hermans berhasil menyusun RUU Pokok tentang Pengurusan Keuangan Negara disingkat “UUPKN” (dalam bahasa Belanda) tahun 1950-1957. ICW juga mengalami beberapa kali perubahan. 2) Panitia Gandhi tahun 1975-1983 menghasilan susunan konsep RUU semula berjudul “Undang-undang tentang Cara Pengurusan dan Pertanggungjawaban Keuangan 2 . 2. di Hindia Belanda meskipun pengesahannya masih dilakukan oleh raja. dengan hasil konsep RUU tahun 1959-1962. hal ini dibuktikan dengan dibentuk tim kepanitian yang bertugas untuk menyusun RUU Keuangan Negara atau RUU Perbendaharaan Negara selama masa orde baru (1966-1998). pemerintah terus mengupayakan perbaikan peraturan perundang-undangan keuangan negara guna memperbaiki kelemahan dan kekurangan. 5) Perubahan pada tahun 1925 menetapkan kebijaksanaan keuangan dilimpahkan ke Hindia Belanda di mana Gubernur Jenderal harus bekerja sama dengan Volks Raad untuk penetapannya. III. di antaranya adalah : 1. walau kebanyakan diantaranya hanya berhasil menghasilkan konsep-konsep perundangan. sistem Stelsel hal (virement Stelsel) diubah menjadi stelsel kas. Dengan UU Nomor 9 Tahun 1968 ditetapkan perubahan tahun anggaran yang semula dari 1 Januari sampai 31 Desember menjadi dari 1 April sampai 31 Maret. Harus dicatat. Tim tim panitia dan hasil-hasilnya antara lain. sedangkan kerajaan Belanda hanya memberikan garis-garis besarnya. 4) Panitia Ahli Departemen Keuangan dan Politisi. tetapi itu sudah sangat berarti bagi perbaikan peraturan perundangan tentang keuangan negara dimasa mendatang. tidak menghasilkan konsep RUU tahun 1963-1965. bahwa upaya untuk menyusun UU yang mengatur pengelolaan keuangan negara telah dirintis sejak awal berdirinya Negara Indonesia. tahun anggaran diubah kembali ke 1 Januari sampai 31 Desember yang tetap berlaku hingga sekarang. Tercatat terdapat empat tim telah dibentuk dengan tugas menyusun RUU Keuangan Negara atau RUU Perbendaharaan Negara pada masa kemerdekaan sebelum Orde Baru.

dimana sisi penerimaan dan sisi pengeluaran negara selalu dijaga berimbang. 4) 1984-1988 Panitia Soegito mengolah kembali RUU hasil panitia Gandhi yang kemudian diberi judul “Undang-undang tentang Perbendaharaan Negara. Rochmat Soemitro. inflasi dan stabilitas makroekonomi dapat terjaga dengan baik. Dengan kata lain. pemerintah mampu mengkontrol tekanan politik yang mendorong pengeluaran ke tingkat yang tidak berkelanjutan. berubah menjadi “Undang undang tentang Keuangan Negara”. dan karenanya tidak ada kebutuhan untuk mencetak uang untuk membiayainya. serta pada krisis ekonomi 1998 dimana utang luar negeri mencapai 5. dimana sebagian penerimaan negara sebenarnya bersumber dari utang luar negeri. rezim orde baru terus bergantung pada utang luar negeri. yang mencapai puncaknya pada 1986 dan 1988.8% dari PDB seiring krisis jatuhnya harga minyak dunia. secara ketat mengadopsi prinsip “anggaran berimbang”.3% dari PDB. Dengan adopsi prinsip “anggaran berimbang”. masing-masing mencapai 5. dibentuk tahun oleh Departemen Kehakiman dan menyusun konsep RUU semula berjudul “Undang-undang tentang Perbendaharaan Negara” kemudian menjadi “Undang-undang tentang Pokok-Pokok Perbendaharaan Negara”. Dengan terjaganya pengeluaran. namun jelas terlihat di sepanjang periode kekuasaannya. maka tidak ada defisit anggaran. 3) 1983-1984 Panitia Prof. 5) 1990 Tim Intern Badan Pemeriksa Keuangan. berhasil menyusun konsep RUU Undang-undang tentang Keuangan Negara 6) 1989-1993 Panitia Taufik mengkaji ulang hasil Panitia Soegito dan hasilnya tetap diberi judul “Undang-undang tentang Perbendaharaan Negara”. tujuan stabilitas makroekonomi secara umum dapat dicapai yang ditandai dengan turunnya hiperinflasi secara cepat dan dijaga di tingkat yang rendah. dimana total pengeluaran dijaga selalu identik dengan total penerimaan. Namun ketergantungan pada utang luar negeri secara umum gagal diturunkan. berubah menjadi “Undang-undang tentang Pengurusan dan Pertanggungjawaban Keuangan Negara”. Negara” berubah menjadi “Undang-undang tentang Pengurusan dan Pertanggungjawaban Keuangan Negara”. Dengan menjamin bahwa pengeluaran ditentukan oleh penerimaan. Meski menggunakan jargon utang luar negeri hanyalah pelengkap pembiayaan pembangunan. Pengelolaan keuangan negara pasca 1966. dan akhirnya berubah menjadi “Undang- undang tentang Perbendaharaan Negara”. yang dalam APBN diperlakukan sebagai bagian dari penerimaan negara dan disebut dengan istilah “penerimaan pembangunan”.4% dan 6. disiplin anggaran yang berkontribusi besar dalam stabilitas makroekonomi era orde baru ini diraih dengan “manipulasi akuntansi” keuangan negara. Dengan demikian. Dr. Terlepas dari kinerja yang mengesankan. anggaran menjadi “berimbang” hanya karena komponen defisit anggaran diperlakukan sebagai “penerimaan”. 3 .

termasuk menyangkut sistem pengelolaan keuangan negara. Sejarah Hukum Keuangan Negara di Masa Reformasi Dengan keluarnya tiga paket perundang-undangan di bidang keuangan negara. anggaran terpadu dan kerangka pengeluaran jangka menengah pada tahun anggaran 2005 dan 2006. sistem pengelolaan anggaran negara di Indonesia terus berubah dan berkembang sesuai dengan dinamika manajemen sektor publik. serta negara sebagai basis yang harus diformulasikan dengan baik dan mendukung kegiatan negara. Peraturan Menteri Keuangan. perkembangan pengelolaan keuangan negara jangan sampai ditujukan untuk kepentingan. Kelemahan 5 peraturan perundang-undangan dalam bidang keuangan negara menjadi salah satu penyebab terjadinya bentuk penyimpangan dalam pengelolaannya. kemanfaatan. Demikian pula. Peraturan Dirjen dan sebagainya guna menutup kelemahan-kelemahan tersebut. Terjadinya kebocoran keuangan negara yang jumlahnya bernilai triliunan rupiah. Perpaduan antara kemajemukan dan kesatuan bangsa harus menjadi ciri logis yang mengatur pengelolaan keuangan negara. Mengingat Undang-Undang tentang Keuangan Negara ini masih belum berjalan secara efektif. merupakan sebuah tantangan yang harus kita jawab bersama. tentu saja juga harus dilakukan revisi. terutama karena belum tesedianya perangkat peraturan pelaksanaan yang memadai. Pengelolaan keuangan negara yang mewujudkan dirinya sebagai landasan konsep bagi prospek negara Indonesia. dan UU No. yaitu UU No. Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang disahkan 9 Maret 2003. Tantangan ini telah dijawab melalui langkah konkret dengan kehadiran UndangUndang No. Ternyata masih banyak kendala yang dihadapi. dan keinginan jangka pendek dan keuntungan pihak elit tertentu dalam negara dan masyarakat. Kehadiran undang-undang ini diharapkan dapat memberikan garis yang jelas dan tegas kepada pemerintah dalam mengatur keuangan dan aset negara. 17 Tahun 2003 4 . UU No. apalagi perundangan sebelumnya sudah tidak mampu menjawab tantangan perubahan zaman. di tengah kondisi anggaran negara yang masih mengalami defisit cukup besar. Dalam periode itu pula telah dikeluarkan berbagai Peraturan Pemerintah. Oleh sebab itu. kemandirian badan hukum sebagai satu basis. Era reformasi terus bergerak hingga hari ini. yang diharapkan menjadi kerangka hukum yang kokoh dalam upaya mendorong terwujudnya tata cara pengelolaan keuangan negara yang bersih dari korupsi. sehingga konsepsi otonomi daerah sebagai satu basis. Pemerintah telah menerapkan pendekaan anggaran berbasis kinerja. sehingga masih banyak terjadi multi tafsir dalam implementasi di lapangan. tetapi sebagai upaya untuk melakukan reformasi perundangan warisan kolonial patut kita hargai. meski Indonesia mendapat penerimaan sangat besar dari oil boom dan memiliki peluang meningkatkan penerimaan pajak dari pertumbuhan ekonomi yang tinggi IV. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. jika dalam perkembangannya nanti pelaksanaan UU ini tidak dapat mengakomadasi perkembangan yang ada. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan tanggung Jawab Keuangan Negara.

dimana rakyat menentukan kepentingan dan tujuannya sendiri. peraturan perundang-undangan pengelolaan 6 keuangan negara hanya akan menjadi bagian dari kepentingan pihak tersebut. yang diharapkan dapat menjadi kerangka hukum yang kokoh dalam upaya mendorong terwujudnya tata cara pengelolaan keuangan negara yang bersih dari korupsi. Apalagi penyusunannya mengabaikan teori hukum dan mengutamakan kepentingan politik tetentu. serta badan hukum publik lainnya. Perpaduan antara kemajemukan dan kesatuan bangsa harus menjadi ciri logis yang mengatur keuangan negara. Oleh sebab itu. serta negara sebagai basis yang lain harus diformulasikan dengan baik dan mendukung kegiatan negara Indonesia. peraturan perundang-undangan pengelolaan keuangan negara pemberian dalam tataran peraturan perundang-undangan harus mengutamakan kepentingan rakyat atau harus sesuai dengan konsepsi mengenai negara dan pemerintahan dari bangsa itu sendiri sebagai satu kesatuan yang utuh dan komprehensif. sehingga hakikat kedaulatan rakyat tidak akan pernah terwujud dalam keuangan negara. Semua pihak harus menyadari peranan ini demi untuk kepentingan negara dan tidak untuk menguntungkan salah satu pihak manapun. tentu saja juga harus dilakukan revisi. Negara sebagai suatu badan hukum publik yang independen juga menyandang hak dan kewajiban sebagaimana layaknya subyek hukum lainnya. perkembangan hukum keuangan negara jangan sampai ditujukan untuk kepentingan. Prospek hukum keuangan negara tidak akan pernah memudar jika semua pihak mengambil peran atas kesadaran di dalam negara terdapat elemen yang berwujud badan hukum. jika dalam perkembangannya nanti pelaksanaan UU No. tetapi sebagai upaya untuk melakukan reformasi perundang-undangan warisan kolonial patut kita hargai.(UU No. Mengingat Undang-Undang tentang Keuangan Negara ini masih belum berjalan secara efektif. Sekali lagi negara dan pemerintah tidak diadakan untuk dirinya sendiri dan melayani dirinya sendiri sehingga wujud pengelolaan keuangan negara harus benar-benar diformulasikan sebagai wujud kedaulatan rakyat. apalagi perundangan sebelumnya sudah tidak mampu menjawab tantangan perubahan zaman. prospek pengelolaan keuangan negara adalah prospek kepentingan rakyat untuk berdaulat atas hak yang dimilikinya bagi kemajuan bangsa dan negara. dan keinginan jangka pendek dan keuntungan pihak elit tretentu dalam negara dan masyarakat. Penyelenggaraan negara-pun dilaksanakan oleh orang perorangan yang mewakili dan menjadi kepercayaan 5 . Dengan kata lain.17/2003) tentang Keuangan Negara yang 9 Maret 2003. Demikian pula. Filosofis lainnya adalah bahwa landasan hukum pengelolaan keuangan negara harus mampu direfleksikan dalam konstitusi atau undang-undang dasarnya sesuai dengan konsepsi teori hukum. 17/2003 tentang Keuangan Negara ini tidak dapat mengakomodasi perkembangan yang ada. Hukum keuangan negara yang mewujudkan dirinya sebagai landasan konsep bagi prospek negara Indonesia.. kemandirian bdan hukum sebagai satu basis. Kehadiran undang-undang ini diharapkan dapat memberikan garis yang jelas dan tegas kepada pemerintah dalam mengatur keuangan dan aset negara. baik itu orang perorangan maupun badan hukum perdata. Oleh sebab itu. kemanfaatan. sehingga konsepsi otonomi daerah sebagai satu basis.

keanggotaan dalam suatu negara tidaklah bersifat sukarela. Depkeu). Jika proyek sudah selesai atau dihentikan tidak ada kesinambungan dalam pertanggungjawaban terhadap asset dan kewajiban yang dimiliki proyek tersebut. Pemisahan anggaran rutin dan anggaran pembangunan tersebut semula dimaksudkan untuk menekankan arti pentingnya pembangunan. ada MAK yang diciptakan untuk belanja rutin dan ada MAK lain yang ditetapkan untuk belanja pembangunan. Format Anggaran Terpadu Menghilangkan Tumpang Tindih. yang merupakan warga negaranya. Pengeluaran rutin mencakup belanja pegawai. Sebelum diberlakukannya Undang – Undang No. Negara merupakan suatu organisasi yang unik. yang memiliki otoritas yang bersifat memaksa diatas subyek hukum pribadi yang menjadi warga negaranya. Menurut 1 Pengeluaran rutin didefinisikan sebagai pengeluaran untuk keperluan operasional untuk menjalankan kegiatan rutin pemerintahan. Namun sedikit berbeda dari badan hukum lainnya. pengelola atau penyelenggara negara. 1) Duplikasi antara belanja rutin dan belanja pembangunan oleh karena kurang tegasnya pemisahan antara kegiatan operasional organisasi dan proyek. 2 Pengeluaran pembangunan didefinisikan sebagai pengeluaran yang menghasilkan nilai tambah aset. Walau demikian pengurusan pengelolaan atau penyelenggaraan jalannya negara juga tidak luput dari mekanisme pertanggung jawaban oleh para pengurus. Belanja Negara dibedakan atas pengeluaran rutin1 dan pengeluaran pembangunan2(dualbudgeting). walaupun proyek hanya bersifat sementara. baik fisik maupun non fisik. subsidi dan belanja lain-lain. namun dalam pelaksanaannya telah menunjukan banyak kelemahan3. 4) Proyek yang menerima anggaran pembangunan diperlakukan sama dengan satuan kerja. Pengelolaan APBN dalam Sistem Manajemen Keuangan Negara. maka sistem penganggaran mengacu pada praktek – praktek yang berlaku secara internasional. yaitu sebagai entitas akuntansi. 2) Penggunaan dual budgeting mendorong dualisme dalam penyusunan daftar perkiraan mata anggaran keluaran (MAK) karena untuk satu jenis belanja. Mei 2004 dalam Suminto. belanja barang. Hal ini selain menimbulkan ketidakefisienan dalam pembiayaan kegiatan pemerintahan.17 Tahun 2003. dari seluruh anggota negara. 3) Analisis belanja dan biaya program sulit dilakukan karena anggaran belanja rutin tidak dibatasi pada pengeluaran untuk operasional dan belanja anggaran pembangunan tidak dibatasi pada pengeluaran untuk investasi. Makalah sebagai bahan penyusunan Budget in Brief 2004 (Ditjen Anggaran. 17 Tahun 2003. juga menyebabkan ketidakjelasan keterkaitan antara output /outcome yang dicapai dengan penganggaran organisasi. 6 . 3 Anggito Abimanyu. pembayaran bunga. Sebagaimana diamanatkan oleh Undang – Undang No. Kompas. khususnya proyek – proyek non-fisik. yang dilaksanakan dalam periode tertentu (pengeluaran berkaitan dengan proyek-proyek yang meliputi belanja modal dan belanja penunjang).

I account Sistem Penganggaran 11 – 15 Pokok kebijakan fiskal. semua pengeluaran Negara yang selama ini “mengandung‟ nama lain – lain yang tersebar di hampir semua pos belanja Negara. namun tetap mengacu GFS Manual 2001 dan Undang – Undang No. efektif. sistem penganggaran belanja Negara secara implisit menggunakan sistem unified budget. ekonomis. Beberapa Perubahan Pengaturan Hukum Keuangan Negara dalam Undang Undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara Pokok-Pokok Perubahan Pasal Deskripsi Prinsip 3 Tertib. dalam format dan struktur I-account yang baru. taat pada tertib. 17 Tahun 2003. serta pimpinan kementerian/lembaga selaku pengguna anggaran. taat pada per UU an. dimana tidak ada pemisahan antara pengeluaran rutin dan pembangunan. 3) Ketiga. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. semua pengeluaran Negara yang sifatnya bantuan/subsidi dalam Dalam melaksanakan perubahan format dan struktur belanja Negara telah dilakukan dengan melakukan penyesuaian – penyesuaian. 1) Pertama. GFS (Government Financial Statistics) Manual 2001. rencana kerja dan anggaran 7 . dalam format dan struktur baru diklasifikasikan sebagai belanja lain – lain. surplus atau defisit disebutkan secara jelas dalam APBN. 17 Tahun 2003 tentang Keuangaan Negara dan Undang – Undang No. dan bertanggung jawab Otoritas 6 Presiden memegang kendali pengelolaan keuangan negara sebagai the chief of executive Kebijakan Fiskal 8 dan 13 Ada desain kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi makro sebagai acuan penyusunan APBN Struktur APBN 12 Berorientasi program. mengatur pemisahan fungsi pejabat pengelola keuangan Negara yang terdiri dari : Menteri Keuangan selaku manajer Keuangan Negara dan Bendahara Umum Negara (BUN). Menteri Teknis Selaku Pengguna Anggaran Sistem administrasi keuangan Negara sesuai dengan Undang – Undang No. Beberapa catatan penting berkaitan dengan perubahan dan penyesuaian format dan struktur belanja Negara yang baru antara lain format dan struktur baru diklasifikasikan sebagai subsidi.17 Tahun 2003 2) Kedua. transparan. belanja Negara tetap dipisahkan antara belanja pemerintah pusat dan belanja untuk daerah. karena pos belanja untuk daerah yang berlaku selama ini tidak dapat diklasifikasikan ke dalam salah satu pos belanja Negara sebagaimana diatur dalam Undang – Undang No. berbasis kinerja. sehingga klasifikasi menurut ekonomi akan berbeda dari klasifikasi sebelumnya. efisien.

2013.kemenkeu.ac. Adrian. Hukum Keuangan Negara.id/fakta-pengelolaan-awal-apbn-dari-orde-lama-ke-orde-baru/ http://www. berbasis prestasi kerja Pertanggungjawaban 30 – 33 Prinsip akuntabilitas dan penegasan control parlemen DAFTAR PUSTAKA Sutedi. Hukum Keuangan Negara.id/bitstream/123456789/57251/3/Chapter%20II.id/Wide/sebelum-kemerdekaan 8 . W. 2012. MBA http://repository.id/data/documents/pkj-2011-9. Jakarta : Sinar Grafika. Dr. Disarikan dari buku BPK dan Pengawasan Keuangan Negara karya Prof.or.bphn. Dr. http://keuangan.usu. Bahrullah Akbar.co/sejarah-keuangan-negara/.pdf http://ideas.go. Riawan.go. Jakarta : Kompas Gramedia. Chandra.pdf http://www.