1.1.

Pendahuluan
Skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat dengan tanda dan gejala yang

yang beraneka ragam, baik dalam derajat maupun jenisnya dan seringkali

ditandai dengan suatu perjalanan kronik dan berulang. Menurut penelitian di

berbagai negara, prevalensinya pada populasi umum berkisar 1%-3%. Di

Indonesia jumlah pasien gangguan jiwa berat sudah sudah cukup

memprihatikan, yakni mencapai 6 juta orang atau sekitar 2,5% dari jumlah

total penduduk.1

1.2. Definisi

Skizofrenia berasal dari bahasa Yunani, schizein yang berarti terpisah atau

pecah dan phrenyang artinya jiwa. Menurut Eugen Bleuler, skizofrenia adalah

suatu gambaran jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau ketidak

harmonisan antara proses berpikir, perasaan dan perbuatan.3

Skizofrenia dideskripsikan sebagai sindrom dengan variasi penyebab

(banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau

“deteriorating”) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada

pertimbangan pengaruh genetik, fisik dan sosial budaya.5

Gangguan skizofrenik umumnya ditandai oleh distorsi pikiran dan persepsi

yang mendasar dan khas, dan oleh afek yang tidak wajar (inappropriate) atau

tumpul (blunted). Kesadaran yang jernih dan kemampuan intelektual biasanya

tetap dipertahankan walaupun defisit kognitif tertentu dapat berkembang

kemudian. Gangguan ini melibatkan fungsi yang paling mendasar yang

Emil kraepelin kraepelin menerjemahkan istilah demence precoce dari morel menjadi demensia prekoks. Skizofrenia merupakan gangguan mental yang mengakibatkan kerusakan berat dan mengakibatkan disabilitas. Pasien dengan demensia prekoks digambarkan memiliki perjalanan penyakit yang memburuk dalam jangka waktu lama dan gejala klinis umum berupa halusinasi dan waham.2 b. keunikan dan pengarahan diri (self-direction). tak seperti konsep Kraepelin tentang demensia prekoks.memberikan kepada orang normal suatu perasaan kepribadian (individuality). Meski Krapelin telah mengakui bahwa sekitar 4 persen pasiennya sembuh sempurna dan 13 persen mengalami remisi yang signifikan.2 .emosi. Dua tokoh tersebut adalah :2 a.4 1. Eugen Bleuler Bleuler mencetuskan istilah skizofrenia. skizofrenia tak harus memiliki perjalanan penyakit yang memburuk. suatu istilah yang menekankan proses kognitif (demensia) dan awitan dini (prekoks) yang nyata dari gangguan ini. Bleuler menekankan bahwa. Sejarah Besarnya masalah klinis skizofrenia secara terus menerus telah menarik perhatian tokoh-tokoh utama psikiatri dan neurologi sepanjang sejarah gangguan. para peneliti di kemudian hari seringkali salah menyatakan bahwa krepelin menganggap demensis prekoks memiliki perjalan penyakit dengan perburukan yang tak terhindarkan. yang menggantikan demensia prekoks dalam literatur.Ia memilih istilah tersebut untuk menunjukkan adanya skisme (perpecahan) antara pikiran.dan perilaku pada pasien dengan gangguan ini.3.

Bleuler juga mengidentifikasi gejala asesoris (sekunder).000 dengan beberapa variasi geografik. prevalensi seumur hidup skizofrenia sekitar 1% yang berarti bahwa kurang lebih 1 dari 100 orang akan mengalami skizofrenia selama masa hidupnya.Awitan terjadi lebih dini pada pria disbanding wanita.2 1.dan ambivalensi.4. Empat A Bleuler mengidentifikasi gejala fundamental (atau primer) skizofrenia yang spesifik untuk membangun teori mengenai perpecahan mental internal pada pasien. Epidemiologi Di Amerika Serikat. Gender dan Usia Skizofrenia setara prevalensinya pada pria dan wanita.yang dirangkum menjadi empat A:asosiasi. Usia puncak awitan adalah 8 sampai 25 tahun untuk pria dan 25-35 tahun untuk wanita. dan ambivalensi.yang banyak menambah pemahaman mengenai skizofrenia.Namun kedua jenis kelamin tersebut berbeda awitan dan perjalanan penyakitnya.khususnya kelonggaran. .5 sampai 5. Lebih dari separuh pasien skizofrenik wanita pertama kali dirawat di Rumah sakit psikiatri sebelum usia 25 tahun. insidensi tahunan skizofrenia berkisar antara 0.9 persen. Tidak seperti pria. autism. c.gangguan afektif. Studi Epidemiologic Catchment Area (ECA) yang disponsori National Institute of Mental Health (NIMH) melaporkan prevalensi seumur hidup sebesar 0. afek.5 a. autisme. wanita menunjukkan dua puncak kedua terjadi pada usia paruh baya.6 sampai 1.0 per 10. Menurut DSM IV TR. Gejala tersebut meliputi gangguan asosiasi.

5 c. Hampir 90% pasien yang menjalani pengobatan skizofrenia berusia antara 15 dan 55 tahun. hasil akhir dari pasien skizofrenik wanita lebih baik disbanding hasil akhir pada pasien pria. Secara umum. viral). Distribusi Geografik Sejumlah regio geografis bumi. gangguan ini dicirikan sebagai skizofrenia awitan lambat. Infeksi dan Musim saat lahir Suatu temuan yang kuat dalam peneitian skizofrenia adalah bahwa orang-orang yang mengalami skizofrenia adalah kemungkinan besar dilahirkan di musim dingin dan awal musim semi dan lebih jarang yang dilahirkan di akhir musim semi dan musim panas.Kurang lebih 3-10% wanita mengalami awitan penyakit diatas usia 40 tahun. seperti Irlandia memiliki prevalensi skizofrenia yang luar biasa tinggi. dan para peneliti menginterprestasikan kantung skizofrenia geografis ini sebagai kemungkinan dukungan terhadap teori kausa skizofrenia infektif (contohnya. Faktor Reproduktif .5 b. Bila awitan terjadi setelah umur 45 tahun.Beberapa studi menunjukkan bahwa frekuensi skizofrenia meningkat setelah pajanan influenza yang terjadi dimusim dingin selama trimester kedua kehamilan.5 d. Hipotesis lain adalah bahwa orang dengan predisposisi genetic terhadap skizofrenia mengalami penurunan keuntungan biologis untuk bertahan dari cobaan spesifik musim.

kebijakan terbuka dirumah sakit. deinstitusonalisasi dirumah sakit pemerintah.5 e. Penyakit Medis Orang dengan skizofrenia memiliki angka kematian akibat kecelakaan dan penyebab alami yang lebih tinggi daripada populasi umum. Taksirannya bervariasi. Penggunaan obat psikoterapeutik. Sejumlah studi melaporkan bahwa . Akibat faktor tersebut. dan keluarga biologis derajat pertama memiliki resiko terkena penyakit ini sepuluh kali lebih besar dibanding populasi umum. Sejumlah studi menunjukkan bahwa hingga 80 persen dari semua pasien skizofrenia mengalami penyakit medis yang signifikan pada saat yang bersamaan dan bahwa hingga 50 persen kondisi ini mungkin tidak terdiagnosis. Sebagian besar survei telah melaporkan bahwa lebih dari tiga perempat pasien skizofrenia merokok kretek. dibanding kurang dari setengah pasien psikiatri lain secara keseluruhan.5 g. jumlah anak yang dilahirkan dari orang tua skizofrenia terus meningkat. Penggunaan Zat Merokok Kretek. semuanya telah menyebabkan angka pernikahan dan kesuburan diantara pasien skizofrenia. Risiko Bunuh Diri Bunuh diri merupakan penyebab utama kematian pada orang yang menderita skizofrenia. namun hingga 10% orang dengan skizofrenia mungkin meninggal akibat percobaan bunuh diri.5 f. penekanan pada rehabilitasi dan perawatan berbasis masyarakat untuk pasien skizofrenia.

Pengamatan ini menyatakan bahwa stressor social disuasana perkotaan mempengaruhi timbulnya skizofrenia pada orang yang beresiko.5 h. Kurang lebih 30 sampai 50 persen pasien skizofrenia mungkin memenuhi kriteria penyalahgunaan atau ketergantungan alkohol.Hipotesis aliran menurun menyatakan bahwa orang yang terkena bergeser kea tau gagal berpindah dari kelompok .merokok kretek dikaitkan dengan penggunaan obat antipsikotik dalam dosis yang lebih tinggi.000 orang dan tidak terdapat di kota dengan penduduk kurang dari 10000 orang. mungkin karena meningkatkan laju metabolism obat-obatan tersebut. jumlah pasien skizofrenik yang tdk seimbang berada pada kelompok sosioekonomi lemah. Faktor populasi Prevalensi skizofrenia senantiasa berkorelasi dengan kepadatan populasi local dikota dengan populasi lebih dari 1 juta orang. suatu pengamatan yang dijelaskan oleh dua hipotesis alternative.5 i. Efek kepadatan penduduk sejalan dengan pengamatan bahwa insiden skizofrenia pada anak dengan salah satu atau kedua orang tua skizofrenik dua kali lebih tinggi di perkotaan disbanding di masyarakat pedesaan. Korelasi ini lebih lemah dikota yang berpenduduk 100.Di Negara maju. dua zat lain yang paling sering digunakan adalah kanabis dan kokain. Faktor sosioekonomi dan Kultural Skizofrenia digambarkan terdapat pada semua kebudayaan dan kelompok status sosioekonomi.5 Zat lain.000 sampai 500.

0 skizofrenia Kembar monozigotik pasien skizofrenia 47.5. dan perjalanan penyakit yang berbeda-beda.0 Anak yang kedua orangtua menderita 40. respon terhadapat terapi.sosioekonomi lemah akibat penyakit ini.0 skizofrenia Anak dengan salah satu orangtua 12. Hipotesis penyebab social menyatakan bahwa stress yang di alami anggota kelompok sosioekonomi lemah berperan dalam timbulnya skizofrenia.0 Saudara kandung bukan kembar pasien 8. mungkin dengan kausa yang heterogen.0 1. Etiologi Skizofrenia didiskusikan seolah-olah sebagai suatu penyakit tunggal namun kategori diagnostiknya mencakup sekumpulan gangguan.5 . Pasien skizofrenia menunjukkan presentasi klinis.Prevalensi Skizofrenia pada Populasi Spesifik3 Populasi Prevalensi (%) Populasi umum 1.5 Tabel 1. tapi dengan gejala perilaku yang sedikit banyak serupa.0 penderita skizofrenia Kembaran dizigotik pasien skizofrenia 12.

Meski demikian. Neuropatologi. termasuk sistem limbik. 5 d. Neurotransmitter Lain. Keempat area ini saling terhubung sehingga disfungsi satu area dapat melibatkan proses patologi primer ditempat lain.5 c.5 b. obat yang meningkatkan aktivitas dopaminergik. Faktor Genetik Serangkaian studi genetik secara meyakinkan mengusulkan adanya kompone genetik dalam pewarisan sifat skizofrenia. Meski neurotransmitter dopamin telah menjadi pusat perhatian sebagian besar penelitian skizofrenia. Satu studi melaporkan peningkatan reseptor D4 pada sampel otak postmortem pasien skizofrenia. GABA. Hipotesis Dopamin Rumusan paling sederhana hipotesis dopamin tentang skizofrenia menyatakan bahwa skizofrenia timbul akiban dopaminergik yang berlebihan.Kembar monozigot memiliki angka . system limbik.Hipotesis dopamin tentang skizofrenia terus diperbarui dan diperluas. terdapat peningkatan jumlah penelitian yang mengindikasikan adanya peran patofisiologi area otak tertentu.a. Neuropeptida. korteks frontal. dan reseptor dopamin baru terus diidentifikasi.Teori ini berkembang berdasarkan dua pengamatan.Pertama kemanjuran serta potensi sebagian besar obat antipsikotik. dalam satu dekade belakangan.Kedua. Glutamat. terdapat peningkatan perhatian yang ditujukan kepada neurotransmitter lain contohnya seperti serotonin dan norepinefrin. Neurobiologi Kausa skizofrenia belum diketahui. serebelum dan ganglia basalis.

Telah banyak dilaporkan adanya hubungan antara lokasi kromosom dan skizofrenia sejak penerapan teknik biologi molekuler dilakukan secara luas. dan 22 juga diaggap terlibat. Skisme dan Keluarga yang Menyimpang Theodore Lidz mendeskripsikan dua pola perilaku keluarga yang abnormal. 11. Meskipun.5 e. dengan skisme yang prominen antara kedua orang tua salah satu orang tua sangat dekat dengan anak dengan jenis kelamin berbeda. Faktor Psikososial Jika skizofrenia merupakan penyakit otak. infark miokardium dan diabetes) yang perjalanan penyakitnya dipengaruhi stres psikososial. namun lengan panjang kromosom 5. terdapat suatu hubungan yang menyimpang antara anak dengan salah satu orang tua yang melibatkan perebutan kekuasaan antar orang tua yang mengakibatkan dominasi salah satu orang tua. klinisi masa sekarang dapat memanfaatkan penggunaan teori dan pedoman yang relevan yang dibuat berdasarkan pengamatan dan hipotesis dimasa lampau ini. para pembuat teori menyatakan faktor psikososial berperan dalam terjadinya skizofrenia. Diagnosis Pedoman Diagnostik Skizofrenia5 .6.5 f. secara historis. Pada tipe keluarga lain.5 1.Pada satu tipe keluarga. Lokus pada kromosom 6. maka penyakit ini mungkin sejalan dengan penyakit organ lain (contohnya. dan 18. 8.kejadian bersama yang paling tinggi. lengan pendek kromosom 19. Lebih dari separuh dari seluruh kromosom dikaitkan dengan skizofrenia pada berbagai laporan. serta kromosom X paling sering disebut.

suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien . 5 “delusional perception” = pengalaman inderawi yang tak wajar biasanya bersifat mistik atau mukjizat. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang jelas) : (a) “Thought echo” = isi pikiran dirinya sendiri yang berualang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras). atau kekuatan dan kemampuan manusia super (misalnya mampu mengendalikan cuaca. atau berkomunikasi dengan mahkluk asing dari dunia lain). misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu.5 (d) waham waham menetap jenis lainnya yang menurut budaya setempat dianggap tidak serta wajar dan sesuatu yang mustahil. 5 “delusion of passivity” = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar. 5 (c) halusinasi auditorik5 : . 5 “delusion of influence” = waham dipengaruhi oleh sesuatu kekuatan tertentu.5 (b) “delusion of control” = waham dikendalikan oleh sesuatu kekuatan dari luar.5 “Thought insertion or withdrawal” = isi pikiran yang asing dari luar masuk kedalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar (withdrawl).jenis suara halusinasi lain yang berasal dari satu bagian tubuh.mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri . 5 “Thought broadcasting” = isi pikirannya disiarkan keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya.5 atau paling sedikit dua gejala di bawah yang harus selalu ada secara jelas : .

tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau mediksi neuroleptika. ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan yang menetap atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan bulan terus menerus5. atau bunyi tawa (laughing). bicara yang jarang. 5 Adanya gejala – gejala khas tersebut diatas telah selama kurun waktu satu bulan atau lebih. 5 (h) Gejala-gejala “negatif” seperti sikap sangat apatis.5 .Halusinasi dan/atau waham harus menonjol. atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi peluit (whistling). (a) Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah. posisi tubuh tertentu. apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas.0 Skizofrenia Paranoid Pedoman Diagnostik  Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis Skizofrenia  Sebagai tambahan : . 5 (g) perilaku katatonik. biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja social. seperti keadaan gaduh-gelisah.5 Jenis-Jenis Skizofrenia5 F20. atau fleksibilitas cerea. mendengung (humming). (f) arus pikiran yang terputus atau yang mengalami sisipan yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan atau neologisme. negativisme. (e) Halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja. mutisme dan stupor. dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar.

1 Skizofrenia Hebefrenik5 Pedoman Diagnostik5  Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis Skizofrenia  Diagnosis hebefrenik untuk pertama kalinya hanya ditegakkan pada usia remaja atau dewasa muda (onset biasanya mulai 15-25 tahun). tetapi waham dikendalikan (delusion of control).  Untuk diagnosis hebefrenik yang meyakinkan umumnya diperlukan pengamatan kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya. tertawa menyeringai (grimaces). sering disertai oleh cekikikan atau perasaan puas diri (self-satisfied). atau lain-lain perasaan tubuh. senyum sendiri (self-absorbed smiling). halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol. 5 (c) Waham dapat berupa hampir setiap jenis. atau keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam. atau ”passivity” (delusion of passivity). atau bersifat seksual. 5 F.20.Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan serta mannerisme. 5 - Gangguan afektif. (b) Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa. ada kecendrungan untuk selalu menyendiri. dan perilaku menunjukan hampa tujuan dan hampa perasaan. atau oleh sikap tinggi hati (tofty manner). namun tidak harus demikian untuk menegakkan diagnosis. serta gejala katatonik secara relatif tidak nyata/tidak menonjol. dipengaruhi delusion of influence). . adalah yang paling khas. Afek pasien dangkal (shallow) dan tidak wajar (inappropriate).  Keperibadian premorbid menunjukkan ciri khas : pemalu dan senang menyendiri (solitary). untuk memastikan bahwa gambaran yang khas berikut ini memang benar bertahan : . dorongan kehendak dan pembicaraan. mengibuli secara bersenda .

atau pergerakkan kearah yang berlawanan). yang tidak dipengaruhi oleh stimuli eksternal). 5 . yaitu perilaku tanpa tujuan (aimless) dan tanpa maksud (empty of purpose).20. dan ungkapan kata yang diulang-ulang (reitterated phrases). 5 (d) Negativisme (tampak jelas perlawanan yang tidak bermotif terhadap semua perintah atau upaya untuk menggerakkan. 5  Gangguan afektif dan dorongan kehendak serta gangguan proses pikir umumnya menonjol. sehingga perilaku penderita memperlihatkan ciri khas. proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu (rambling) serta inkoheren. Dorongan kehendak (drive) dan yang bertujuan (determinination) hilang serta sasaran ditinggalkan. filsafat dan tema abstrak lainnya. Adanya status preokupasi yang dangkal dan bersifat dibuat-buat terhadap agama. 5 (c) Menampilkan posisi tubuh tertentu secara sukarela mengambil dan mempertahankan posisi tubuh tertentu yang tidak wajar atau aneh. 5 F. 5 .2 Skizofrenia Katatonik Pedoman Diagnostik5  Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis Skizofrenia  Satu atau lebih dari perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran klinisnya : (a) Stupor (amat berkurangnya dalam reaktivitas terhadap lingkungan dan dalam gerakannya serta aktivitas spontan) atau mutisme (tidak berbicara). makin mempersukar orang memahami jalan pikiran pasien. gurau (pranks). (b) Gaduh-gelisah (tampak jelas aktivitas motorik yang bertujuan. keluhan hipokondriakal. Halusinasi dan waham mungkin ada tetapi biasanya tidak menonjol (fleeting and fragmentary delusión and halucinations).

(e) Rigiditas (mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk melawan upaya menggerakkan dirinya). 5 (f) Fleksibilitas corea/”waxy flexibility” (mempertahankan anggota gerak dan tubuh dalam posisi yang dapat dibentuk dari luar).  Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca- skizofrenia. sikap pasif dan ketiadaan inisiatif. F.5 Skizofrenia Residual Pedoman Diagnostik  Untuk suatu diagnosis yang menyakinkan.3 Skizofrenia Tak Terinci (Undifferentiated) Pedoman Diagnostik5  Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia  Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid. 5 F. dan posisi tubuh. atau katatonik. kemiskinan dalam kuantitas atau isi pembicaraan. 5 (c) Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana insentitas dan frekuensi gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah . herbefrenik. 5 (b) Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas dimasa lampau yang memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia. dan pengulangan kata-kata serta kalimat kalimat.20. kontak mata. misalnya perlambatan psikomotorik. komunikasi non verbal yang buruk seperti dalam ekspresi muka. perawatan diri dan kinerja sosial yang buruk. afek yang menumpul. aktivitas menurun. Persyaratan berikut ini harus dipenuhi semua : (a) Gejala ”negatif” dari skizofrenia yang menonjol.20. dan (g) Gejala-gejala lain seperti ”command automatism” (kepatuhan secara otomatis terhadap perintah). modulasi suara.

6 Skizofrenia Simpleks Pedoman Diagnostik  Diagnosis skizofrenia simpleks sulit dibuat secara menyakinkan karena tergantung pada pemantapan perkembangan yang berjalan perlahan dan progresif dari : . dan penarikan diri secara sosial. depresi kronik atau institusionalisasi yang dapat menjelaskan disabilitas negatif tersebut. bermanifestasi sebagai kehilangan minat yang mencolok. 5 (d) Tidak terdapat dementia atau penyakit gangguan otak organik lain. 5 . atau manisfestasi lain dari episode psikotik. waham. 5  Gangguan ini kurang jelas gejala psikotiknya dibandingkan subtipe skizofrenia lainnya. Disertai dengan perubahan-perubahan perilaku pribadi yang bermakna. tidak berbuat sesuatu. tanpa tujuan hidup.20.Gejala ”negatif” yang khas dari skizofrenia residual tanpa didahului riwayat halusinasi . . 5 F. sangat berkurang minimal dan telah timbul sindrom negatif dari skizofrenia.