You are on page 1of 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

NAPZA merupakan singkatan dari Narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya,
atau yang lebih dikenal oleh masyarakat sebagai Narkoba. Jenis dari zat ini memiliki macam-
macam efek dengan berbagai mekanisme mempengaruhi system saraf. Berdasarkan efeknya
terhadap system saraf pusat (SSP), maka terbagi menjadi 3 golongan, yaitu: Stimulan,
Depresan dan Halusiogen. Pemakaian NAPZA ini tidak mengenal berdasarkan usia, status
derajat social, status ekonomi miskin atau kaya, status pekerjaan, status agama maupun RAS.
Semua kalangan bisa terjerumus untuk menggunakan narkoba dan bisa menjadi pengedar
obat-obat terlarang tersebut. Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang
terjerumus kedalam penyalahgunaan narkoba. Faktor-faktor tersebut yaitu: faktor keluarga,
pribadi, maupun faktor lingkungan. NAPZA dapat digunakan dengan cara dihirup,
disuntikkan (intravena) ataupun melalui oral. Menurut beberapa penelitian, laki-laki remaja
merupakan golongan yang terbanyak menjadi pecandu narkoba. Penggunaan zat ini akan
sangat membahayakan bagi tubuh terutama otak dan masa depan generasi muda. Masalah
penyalahgunaan NAPZA ini merupakan masalah yang sangat kompleks, yang memerlukan
upaya penanggulangan secara komprehensif dengan melibatkan kerjasama multidisipliner,
multisektor, dan peran serta masyarakat secara aktif yang dilaksanakan secara
berkesinambungan, konsekuen dan konsisten. Oleh karena itu kita semua perlu mewaspadai
bahaya dan pengaruhnya terhadap ancaman kelangsungan pembinaan generasi muda. Sektor
kesehatan memegang peranan penting dalam upaya penanggulangan penyalahgunaan
narkoba.

1.2. TUJUAN
1. Mahasiswa mengetahui jenis-jenis dari napza
2. Mahasiswa mengetahui bagaimana penggunaan napza di bidang kesehatan
3. Mahasiswa mengetahui bagaimana mekanisme kerja berdasarkan efek NAPZA (stimulan,
depresan dan halusinogen)
4. Mahasiswa mengetahui bagaimana mekanisme terjadinya gejala di skenario
5. Mahasiswa mengetahui perbedaan gejala putus zat dengan intoksikasi NAPZA
6. Mahasiswa mengetahui bagimana gejala dari pengunaan NAPZA
7. Mahasiswa mengetahui bagaimana penatalaksanaan keadaan putus zat

1

8. Mahasiswa mengetahui bagaimana prognosis dan komplikasi keadaan putus zat, serta
dampak negative yang timbul pada penggunaan napza

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. SKENARIO

2

 Psikotropika Terdiri dari 4 golongan: 1. ganja) 2. 22/1997. Golongan I: Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi. frekuensi nadi 100x/menit. Narkotika golongan III: digunakan untuk terapi dan IPTEK. Di tempat praktek dokter. Narkotika Golongan I: hanya digunakan untuk ilmu pengetahuan. Bagi pasien tersebut kebutuhan utamanya pada saat itu tidak ada yang lain. Kakaknya yang mengantarkan mengatakan bahwa pasien memiliki nafsu makan yang kurang. serta mempunyai potensi kuat 3 . potesi sangat tinggi untuk menyebabkan ketergantungan (contohnya: heroin. narkotika dibagi menjadi 3 golongan. cemas. Narkotika golongan II: digunakan untuk terapi pilihan terakhir dan IPTEK. sulit tidur. tidak untuk terapi. berpotensi tinggi untuk menyebabkan ketergantungan (contohnya: morfin. sering tampak kelelahan. selain mendapatkan “Serbuk Favoritnya”. pernapasan 28x/menit. pasien sering meminta “Serbuk Favoritnya” disertai dengan kalimat mengancam dokter. dan suhu 36. Kondisi seperti ini menurut kakak pasien sudah sering terjadinya selama beberapa bulan sebelumnya. Sebutkan dan jelaskan macam-macam napza!  Narkotika Berdasarkan Undang-Undang Narkotika No. kokain. berpotensi ringan untuk menyebabkan ketergantungan (contohnya: kodein). LBM IV SERBUK FAVORIT Seorang laki-laki berusia 23 tahun datang ke Praktek dokter bersama dengan kakaknya disertai perilaku agresif. bicara dengan nada cepat dan keras serta tampak bingung.2. 2. petidin) 3.80C. yaitu: 1. Dari pemeriksaan dokter didapatkan tekanan darah 100/60 mmHg. PERMASALAHAN 1. tangan gemetar.

Golongan III: Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan. 2. dan tranquilizer (anti cemas) dan lain-lain. 4. pendiam dan bahkan membuatnya tertidur dan tidak sadarkan diri. ekstasi). Golongan Halusinogen Adalah jenis NAPZA yang dapat menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah perasaan dan pikiran dan seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda sehingga seluruh perasaan dapat terganggu. Golongan II: Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalan terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. 4 . heroin/putaw. DUM). Jenis ini membuat pemakainya menjadi aktif. Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan NAPZA dapat digolongkan menjadi tiga golongan: 1. kokain. Contoh: Phenobarbital. Golongan IV: Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan. Zat psikotropika golongan III terdiri dari 9 macam. Nitrazepam (BK. kafein. Contoh: Amphetamine. Golongan ini tidak digunakan dalam terapi medis. kodein). hipnotik (otot tidur). Contoh: Diazepam. Zat psikotropika golongan II terdiri dari 14 macam. sedative (penenang). segar dan bersemangat. Zat psikotropika golongan I terdiri dari 26 macam 2. Zat yang termasuk golongan ini adalah: Amfetamin (Shabu. 3. 3. Golongan ini termasuk Opioida (morfin. LSD. Zat psikotropika golongan IV terdiri dari 60 macam. mengakibatkan sindroma ketergantungan. Golongan ini termasuk: kanabis (ganja). Golongan depresan (Downer) Adalah jenis NAPZA yang berfungsi mengurangi aktifitas fungsional tubuh. Golongan stimulant (Upper) Adalah jenis NAPZA yang dapat merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini membuat pemakaiannya merasa tenang. Mescalin. Contoh: Ekstasi.

kodein tidak digunakan sebagai analgesik. Dalam upaya penanggulangan NAPZA di masyarakat. b. Inhalasi (gas yang dihirup) dan solven (zat pelarut) mudah menguap berupa senyawa organik. yang terdapat pada berbagai barang keperluan rumah tangga. Vodca. dan sering menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari – hari dalam kebudayaan tertentu. 2. 3. Morfin. Apabila rasa nyeri makin hebat maka dosis yang digunakan juga makin tinggi. Minuman Alkohol: mengandung etanol etil alkohol. Kekuatannya sekitar 1/12 dari morfin. Penghapus Cat Kuku. Kokain digunakan sebagai penekan rasa sakit dikulit. 2. Golongan A: kadar etanol 1 – 5 % (Bir). Ada 3 golongan minuman beralkohol: a. yang berpengaruh menekan susunan saraf pusat. Johny Walker). hidung dan tenggorokan. Jika digunakan bersamaan dengan Narkotika atau Psikotropika akan memperkuat pengaruh obat/zat itu dalam tubuh manusia. digunakan untuk anestesi (bius) khususnyauntuk pembedahan mata. berbentuk tepung halus berwarna putih atau cairan berwarna putih. Tembakau: pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas di masyarakat. pemakaian rokok dan alkohol terutama pada remaja. meliputi: 1. Semua analgetik narkotika 5 . tetapi sebagai anti batuk yang kuat. Tiner. Kodein merupakan analgesik lemah. Bensin. c. b. Manson House. Golongan C: kadar etanol 20 – 45 % (Whisky. Sebutkan dan jelaskan penggunaan napza di bidang kesehatan! 1) Penggunaan Narkotika dalam Bidang Kedokteran a. kantor. Morfin adalah hasil olahan dari opium atau candu mentah.  Zat Adiktif Lainnya Yang termasuk Zat Adiktif lainnya adalah: bahan/zat yang berpengaruh psikoaktif diluar Narkotika dan Psikotropika. Golongan B: kadar etanol 5 – 20 % (Berbagai minuman anggur) c. terutama digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri yang hebat yang tidak dapat diobati dengan analgetik non narkotika. Oleh karena itu. karena rokok dan alkohol sering menjadi pintu masuk penyalahgunaan NAPZA lain yang berbahaya. harus menjadi bagian dari upaya pencegahan. Morfin mempunyai rasa pahit. Yang sering disalahgunakan adalah: Lem. dan sebagai pelumas mesin.

menambah kewaspadaan. Heroin mempunyai kekuatan yang dua kali lebih kuat dari morfin dan sering disalahgunakan orang. kecanduan alkohol. dan juga dalam bentuk cairan. Alkohol dapat membunuh kuman penyakit. mengobati parkinson kegemukan. 2) Penggunaan Psikotropika Dalam Bidang Kedokteran Penggunaan obat-obat yang tergolong psikotropika dalam bidang kesehatan antara lain: a. digunakan sebagai analgesia. Antagonis opioid (analgetik narkotika) telah dibuat untuk mengobati overdosis opioid dan ketergantungan opioid dan digunakan sebagai analgesia bagi penderita rasa nyeri. Mekanisme kerja obat opioid Reseptor opioid diklasifikasikan menjadi 3 yaitu: a. Reseptor ð (delta) c. Bagaimana mekanisme kerja berdasarkanapza (Stimulant. Methadone. nikotin yang terdapat pada rokok dapat digunakan sebagai obat untuk memulihkan ingatan seseorang. Morfin juga digunakan untuk mengurangi rasa tegang pada penderita yang akan dioperasi. Pada dosis tertentu. b. Asam barbiturat (pentobarbital dan secobarbitol) sering digunakan untuk menghilangkan cemas sebelum operasi (obat penenang) b. sehingga biasanya digunakan untuk membersihkan alat-alat kedokteran pada proses sterilisasi. Daya kerja meperidin lebih pendek dari morfin. Reseptor µ (mu) b. demerol. menambah keyakinan diri dan konsentarsi 3) Penggunaan Zat Adiktif dalam Bidang Kedokteran a. Hal ini karena nikotin dapat merangsang sensor penerima rangsangan di otak. saat ini Methadone banyak digunakan orang dalam pengobatan ketergantungan opium. Meperidin (sering juga disebut petidin. d. digunakan untuk mengurangi depresi. DEPRESAN 1. f. bubuk. atau dolantin). Amfetamin (dan turunannya). dapat menimbulkan adiksi (ketagihan). depresan dan halusinogen)? A. Reseptor K (kappa) 6 . Obat ini bisa ditemukan dalam bentuk pil. 3. e. Heroin adalah obat bius yang sangat mudah membuat seseorang kecanduan karena efeknya sangat kuat. Heroin disebut juga putaw. Obat ini efektif untuk diare. menghilangkan rasa kantuk dan lelah. keracunan zat tertentu.

hypothalamus. Pelepasan asetikolin Inhibisi pelepasan asetikolin terjadi di daerah striatum oleh respetor (delta). Ketiga jenis reseptor ini adalah reseptor utama yang memediasi efek utama dari opioid dan merupakan bagian dari reseptor protein Guanine yang berpasangan (G protein coupled receptor) dan menginhibisi adenilsiklase menyebabkan penurunan formasi siklik AMP sehingga aktivitas neurotransmitter terhambat. Opioid berintraksi secara stereospesifik dengan reseptor protein di membran sel dalam SSP (sistem saraf pusat). Ketiga reseptor ini merupakan reseptor spesifik yang terdapat pada otak dan medulla spinalis yang berfungsi untuk transmisi dan modulasi nyeri. medulla oblongata dan medulla spinalis. pada bagian nervus terminal diperifer dan pada sel-sel traktus gastrointestinal serta daerah lainnya. Pelepasan dopamin diinhibisi oleh aktivitas reseptor (kappa) 2. Didalam sistem saraf visceral. opioid bekerja pada pleksus myenterikus dan pleksus submukous yang menyebabkan efek konstipasi. di daerah amigdala dan hipokampus oleh reseptor (mu). Selain itu juga meningkatkan refluks K+ pada postsinaptik (hiperpolarisasi) dan mereduksi Ca+ influks pada presinaptik yang juga turut berperan dalam menghambat pelepasan neurotransmitter. EFEK INHIBISI OPIOID DALAM PELEPASAN NEUROTRANSMITER Tempat kerjanya: Ada 2 tempat kerja obat opioid yang utama yaitu susunan saraf pusat dan visceral. hipokampus. daerah periakuaduktal. sistem mesolimbik. nigrostriatal. thalamus. Pelepasan noradrenalin Opioid menghambat pelepasan noradrenalin dengan mengaktivasi reseptor (mu) yang berlokasi didaerah noradrenalin. Mekanisme kerja barbiturat  Barbiturat menyerang tempat ikatan tertentu pada reseptor GABA A sehingga kanal klorida terbuka lebih lama yang membuat klorida lebih banyak masuk 7 . Didalam susunan saraf pusat opioid berefek di beberapa daerah termasuk korteks.

B. Reseptor GABA ini merupakan tempat dimana obat golongan benzodiazepin bekerja seperti diazepam. neurotransmitter inhibisi utama di otak. dan meningkatkan pernafasan. Setelah mengikat. dll. Mekanisme kerja metafetamin: a) Meningkatkan aktivitas neurotransmitter norepinefrin dan dopamine dengan cara memblokade re-uptake-nya di ujiung saraf b) Neurotransmitter bekerja pada sistem saraf simpatis meningkatkan kewaspadaan. Peningkatan GABA yang terkait pada reseptor meningkatkan frekuensi membuka terkait kanal ion Cl-. Mekanisme kerja benzodiazepine Benzodiazepin memperantarai kerja asam amino GABA (gamma Amino Butyric Acid). akibatnya menghasilkan penghambatan potensial aksi. sehingga memperkuat efek penghambatan potensial aksi. Benzodiazepin menimbulkan efeknya dengan terkait ke tempat khusus di reseptor GABA. meningkatkan denyut jantung. dan c) Menghambat re-uptake katekolamin pada sinaps sehingga kadar katekolamin di dalam otak meningkat sehingga member efek euforik. 2. ia akan mengikat frekuensi dari pembukaan reseptor tersebut. ketika diazepam mengikat reseptor. karena saluran reseptor GABA dengan selektif memasukkan anion klorida ke dalam neuron. 3. Diazepam menyebabkan peningkatan konduktivitas dari reseptor GABA. ketika neurotransmitter GABA mengikat dengan reseptor. 8 . dimana ia akan mengingat pada sisi lain selain sisi aktif dari reseptor GABA. benzodiazepin mengunci reseptor GABA menjadi konformasi yang meningkatkan peningkatan GABA. STIMULAN 1. Mekanisme kerja kokain a) Menghambat insisiasi dan konduksi pada susunan saraf tepi sehingga member efek anastesi b) Merangsang langsung pada susunan saraf pusat. aktivitas reseptor GABA menghiperpolarisasi neuron sehingga terjadi inhibisi.masuk kedalam sel. Hal ini menghasilkan hiperpolarisasi dari membran sel. ia memicu perubahan konformasi dari pori-pori sehingga memungkinkan lebih banyak Cl. Diazepam akan mengikat pada reseptor GABA secara alosterik. sehingga menyebabkan hiperpolarisasi dan pengurangan sensitivitas sel-sel GABA.

walaupun beberapa jenis halusinogen diingesti melalui inhalasi. serotonin dan dopamin otak. atau penyuntikan intravena. Di dalam otak dapat menghasilkan tingkat dopamin yang lebih tinggi. zat tersebut akan merangsang sistem saraf pusat penggunaanya. HALUSINOGEN Walaupun banyak sekali zat halusinogen yag bervariasi dalam efek farmakologisnya. Bagaimana mekanisme terjadinya gejala di skenario? Ketika seorang menggunakan ‘upper”.  Menahan lapar dalam waktu yang sangat lama. dan tidak ada gejala putus halusinogen. data pada saat ini menunjukkan bahwa LSD bekerja sebagai agonis parsial di reseptor serotonin pascasinaptik. Kehilangan neurotransmisi pada pusat emosional menyebabkan kecemasan  Dengan energi yang bertambah dan meledak-ledak. 4. Tidak ada ketergantungan fisik pada halusinogen. Zat bekerja pada sistem neurotransmitter noerepineprin. Sebagian besar halusinogen diabsorbsi setelah ungesti oral. Tetapi. suatu ketergantungan psikologis dapat terjadi pada pengalaman yang menginduksi tilikan (insight during experience) dimana pemakai mungkin menghubungkannya dengan episode pemakaian halusinogen. maka pecandu shabu akan memiliki kecenderungan untuk bertindak lebih agresif. biasanya dalam empat sampai tujuh hari. LSD dapat dianggap sebagai prototip umum halusinogen. dihisap seperti rokok. Kontorversi adalah tentang apakah LSD bekerja sebagai antagonis atau agonis. jumlah dopamin yang berlebihan di dalam otak akan menghasilkan gejala yang muncul diskenario  Kerusakan nukleus akumbens akibat stimulasi yang berlebihan menyebabkan hancurnya reseptor dopamin dan serotonin. walaupun biasanya diterima bahwa efek utama adalah pada system serotoninergic. disertai dengan kondisi tubuh yang sensitive dan mudah tersinggung. Toleransi juga pulih dengan cepat. C. bisa hampir dalam waktu seminggu. Toleransi untuk LSD dan halusinogen lain berkembang dengan cepat dan hamper lengkap setelah tiga sampai empat hari pemakaian kontinu. Hal ini akan membuat tubuh mereka kekurangan nutrisi dan akan 9 . Efek farmakologis dasar dari LSD masih kontroversial.

kecemasan. b. Pengobatan dengan depresansia susunan saraf pusat seperti barbiturat. a. yaitu singkatan darinarkotika. dan bahan-bahan (atau obat- obatan. psikotropika. Sebutan yang mirip di masyarakat adalah “narkoba”. mual. kini sering disebut dengan NAPZA. akibat kecelakaan. insomnia. Agitasi ekstrim. atau penyalah gunaan obat. delirium dan konvulsi yang mungkinterjadi pada penghentian 2. Gejala penghentian obat (gejala putus obat. Prosesmenghilangkan narkoba dan alkohol dari tubuh dikenal sebagai detoksifikas. withdrawal syndrome) adalah munculnya kembali gejala penyakit semula atau reaksi pembalikan terhadap efek farmakologik obat. karena penghentian pengobatan. keringat. Kematian dapat terjadi akibat overdosis dalam rangka pengobatan penderita. Gejala Putus Zat (Withdrawl Syndrome) Withdrawl Sindrom terjadi pada individu yang kecanduan obat dan alkohol yangmenghentikan atau mengurangi penggunaan obat pilihan mereka. Contoh yang banyak dijumpai misalnya: 1. dan tremor adalah hanya beberapadari gejala fisik dan psikologis dari penghentian obat dan alkohol yang mungkin terjadiselama detoksifikasi. rasa bingung. Jelaskan perbedaan gejala putus zat dengan intoksikasi napza! Zat psikoaktif. benzodiazepin dan alkohol. opioid. Keracunan (Intoksikasi) NAPZA Intoksikasi atau keracunan NAPZA memiliki efek farmakologik pada obat-obat yang masuk dalam kelompok NAPZA terutama adalah terhadap SSP. Efek pada SSP dari obat golongan ini sangat bervarìasi tergantung pada jenis obat. terlihat sangat kurus sekali. psikotropika. dan gamma-hidroksibutirat (GHB) (Goldstein. 5. takikardi. dan dosis obat yang dipakai. nyeri tubuh. 10 . dapat bersifat depresi maupun stimulasi pada otak. kepekaan individu. Jadi pasien tersebut tidak memiliki nafsu makan. dan zat adiktif lain. sedatif hipnotik-. stimulan. seperti anoreksia. zat adiktif lain) berbahaya. Withdrawl syndrome terutama berfokus pada Withdrawl darietanol. yang merupakan akronim dari narkotika. 2009).

Golongan Opioid Opioid berasal dari kata Opium. Gejala putus obat karena narkotika (Goldstein. Sejumlah besar narkotik sintetik (opioid) telah dibuat. Sindroma diatas menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam hal sosial. A. Gejala-gejalanya tidak karena kondisi medis umum ataupun gangguan mental lainnya. Papaver somniverum. B. Saat ini Methadone banyak digunakan orang dalam pengobatan ketergantungan opioid. dan hydromorphone. termasuk morfin. Gejala-gejalanya tidak karena kondisi medis umum ataupun gangguan mental lainnya. 6. 4. termasuk meperidine (Demerol). B. Antagonis opioid telah dibuat untuk mengobati overdosis opioid dan 11 . Nama opioid juga digunakan untuk opiat. Krisis Addison akut yang muncul karena penghentian terapi kortikosteroid. 2009). 3. methadone (Dolphine). yang mengandung kira-kira 20 alkaloid opium. Jus dari bunga opium. gangguan kognitif. Opiat alami lain atau opiat yang disintesis dari opiat alami adalah heroin.cat: zat yang berbeda dapat memberi sindroma yang mirip atau sama. yaitu suatu preparat atau derivat dari opium dan narkotika sintetik yang kerjanya menyerupai opiat tetapi tidak didapatkan dari opium. *DSM-IV-TR Diagnostic Criteria for Substance Withdrawal (Putus Zat) A. Tingkah laku maladaptif yang bermakna secara klinis atau perobahan psikologis karena efek dari zat terhadap sitim saraf pusat (mis. keadaan siap tempur. C. B. kodein. Terjadinya sindroma zat spesifik karena penghentian mendadak (atau pengurangan) penggunaan zat yang lama dan berat. pekerjaan atau area fungsi-fungsi penting lainnya C. Terjadinya sindroma reversible zat spesifik karena barusan menelannya atau terpapar olehnya. hipertensi berat dan gejala aktivitas simpatetik yang berlebihan karena penghentianterapi klonidin. pentazocine (Talwin). C. B. Perbedaan Kriteria Diagnosis antara Intoksikasi Zat dan Gejala Putus Zat *DSM-IV-TR Diagnostic Criteria for Substance Intoxication (Intoksikasi Zat) A A. C. Bagaimana gejala yang dihasilkan dari pengunaan NAPZA? NARKOTIKA 1. sosial dan fungsi pekerjaan) yang terjadi segera setelah penggunaan zat. 5. dan propocyphene (Darvon). penilaian. labilitas mood.

yaitu : 1. atau gangguan fungsi sosial atau pekerjaan) yang berkembang selama. 5. Perilaku maladaptif atau perubahan psikologis yang bermakna secara klinis (misalnya euforia awal diikuti oleh apatis. Sejumlah senyawa dengan aktivitas campuran agonis dan antagonis telah disintesis dan senyawa tersebut adalah pentazocine. naltrxone (Trexan). dan morphin. biasanya setelah suatu periode satu sampai dua minggu pemakaian kontinu atau pemberian antagonis narkotik. butorphanol (Stadol). Kebingungan dalam identitas seksual. gangguan pertimbangaan. levalorphane dan apomorphine. Kerusakan penglihatan pada malam hari. Gejala Putus Zat Gejala putus obat dimulai dalam enam sampai delapan jam setelah dosis terakhir. Mengantuk atau koma 2. 6. atau segera setelah pemakaian opioid. Gejala Intoksikasi Konstraksi pupil (atau dilatasi pupil karena anoksia akibat overdosis berat) dan satu (atau lebih) tanda berikut. Gejala putus obat dari ketergantungan opioid adalah: 12 . Tetapi beberapa gejala mungkin menetap selama enam bulan atau lebih lama. atau segera setelah pemakaian opioid. candu. heroin. Kelas obat tersebut adalah nalaxone (Narcan). dan buprenorphine (Buprenex). disforia. Kematian karena overdosis. Penurunan hasrat dalam hubungan sex. Berbicara cadel 3. Efek yang ditimbulkan antara lain : 1.ketergantungan opioid. Beberapa penelitian telah menemukan bahwa buprenorphine adalah suatu pengobatan yang efektif untuk ketergantungan opioid. codein. nalorphine. 3. 2. demerol. Beberapa jenis opioid antara lain metadon. yang berkembang selama . Gangguan atensi atau daya ingat 4. Mengalami pelambatan dan kekacauan pada saat berbicara. Sindroma putus obat mencapai puncak intensitasnya selama hari kedua atau ketiga dan menghilang selama 7 sampai 10 hari setelahnya. 7. Kerusakan pada liver dan ginjal. agitasi atau retardasi psikomotor. Peningkatan resiko terkena virus HIV dan hepatitis dan penyakit infeksi lainnya melalui jarum suntik. 4.

Pada tiap waktu selama sindroma abstinensi. Diare berat 3. tremor. Kokain dalam dosis rendah dapat disertai dengan perbaikan kinerja pada beberapa tugas kognitif. mual. disregulasi temperatur. Euforia c. Gangguan dalam pertimbangan d. Gejala Intoksikasi Pada penggunaan Kokain dosis tinggi gejala intoksikasi dapat terjadi : a. iritabilitas. Peningkatan harga diri dan perasan perbaikan pada tugas mental dan fisik. Lakrimasi 6. dan muntah. Rinorea 5. seperti penyakit jantung. dan kecanduan opiat mungkin menetap selama sebulan setelah putus zat. Golongan Koka Efek yang ditimbulkan antara lain : a. Takikardi 12. Demam 9. Agitasi b. Piloereksi 7. Elasi b. suatu suntikan tunggal morfin atau heroin menghilangkan semua gejala. Perilaku seksual yang impulsif. Hipertensi 11. cenderung agresif 13 . Gejala penyerta putus opioid adalah kegelisahan. Kram otot parah dan nyeri tulang 2. 1. Disregulasi temperatur Seseorang dengan ketergantungan opioid jarang meninggal akibat putus opioid. bradikardia. Kram perut 4. Iritabilitas c. Menguap 8. Gejala residual seperti insomnia. Dilatasi pupil 10. kecuali orang tersebut memiliki penyakit fisik dasar yang parah. 2. depresi. kelemahan.

Kanabis juga digunakan untuk pengobatan glaukoma dan mempunyai efek aditif dengan efek alkohol. sedatif. Takikardi g. Midriasis Gejala Putus Zat Setelah menghentikan pemakaian Kokain atau setelah intoksikasi akut terjadi depresi pascaintoksikasi (crash) yang ditandai dengan disforia. e. gejala putus kokain bisa berlangsung sampai satu minggu. Keterampilan motorik terganggu. kelelahan. dan mencapai puncaknya pada dua sampai empat hari. kadang-kadang agitasi. Gangguan pada keterampilan motorik tetap ada setelah efek euforia dan persepsi subyektif menghilang. Orang yang mengalami putus Kokain seringkali berusaha mengobati sendiri gejalanya dengan alkohol. Meninggikan kepekaan pemakai terhadap stimuli eksternal 2. Peningkatan aktivitas psikomotor menyeluruh dan kemungkinan gejala mania f. Pada pemakaian berat. anhedonia. kecemasan. Golongan Kanabis Efek yang ditimbulkan Efek euforia telah dikenali. iritabilitas. 3. 4. atau obat antiensietas seperti diazepam (Valium). Hipertensi h. Pada pemakaian kokain ringan sampai sedang. Efek medis yang potensial adalah sebagai analgesik. Belakangan ini juga telah berhasil digunakan untuk mengobati mual sekunder yang disebabkan terapi kanker dan untuk menstimulasi nafsu makan pada pasien dengan sindroma imunodefisiensi sindrom (AIDS). yang seringkali digunakan secara kombinasi. Pada dosis tinggi pemakai mungkin juga merasakan depersonalisasi dan derealisasi. Gejala Intoksikasi 1. Perlambatan waktu secara subjektif. hipnotik. gejala putus Kokain menghilang dalam 18 jam. Membuat warna-warna tampak lebih terang 3. hipersomnolensi. antikonvulsan dan hipnotik. Gejala putus Kokain juga dapat disertai dengan kecenderungan untuk bunuh diri. Selama 8 sampai 12 jam 14 .

6. setelah menggunakan kanabis. Pemabuk atau pengguna alkohol yang berat dapat terancam masalah kesehatan yang serius seperti radang usus. inkoordinasi motorik dan bisa sampai tidak sadarkan diri. yaitu bicara cadel. Berefek pada fungsi fisik . Merasa lebih bebas mengekspresikan diri. seperti rasa senang. koordinasi motorik dan pemusatan perhatian. yaitu gangguan untuk memusatkan perhatian dan daya ingat terganggu. Dalam jumlah yang kecil. e. 7. tetapi efeknya berbeda-beda. Ditandai dengan adanya gangguan kognitif. 15 . Pada kenyataannya mereka tidak mampu mengendalikan diri seperti yang mereka sangka mereka bisa. persepsi. Delirium yang disebabkan karena intoksikasi. sempoyongan. Bila dikonsumsi lebih banyak lagi. Dalam keadaan tersebut dapat terjadi panik yang didasarkan karena rasa takut yang tidak jelas dan tidak terorganisir. Pengguna biasanya merasa dapat mengendalikan diri dan mengontrol tingkah lakunya. mesin berat. dan kerusakan otak. Kemampuan mental mengalami hambatan. f. waktu reaksi.motorik. Oleh sebab itu banyak ditemukan kecelakaan mobil yang disebabkan karena mengendarai mobil dalam keadaan mabuk. pandangan menjadi kabur. kemampuan unjuk kerja. motor. gangguan daya ingat. tergantung dari jumlah/kadar alkohol yang dikonsumsi. tanpa ada perasaan terhambat b. akan muncul efek sebagai berikut : a. Dosis tinggi juga mengganggu tingkat kesadaran pemakai. penyakit liver. ALKOHOL Efek yang ditimbulkan Efek yang ditimbulkan setelah mengkonsumsi alkohol dapat dirasakan segera dalam waktu beberapa menit saja. 5. pemakai mengalami suatu gangguan keterampilan motorik yang mengganggu kemampuan mengendarai mobil. Menjadi lebih emosional (sedih. marah secara berlebihan). alkohol menimbulkan perasaan relax. rasa sedih dan kemarahan. c. dan pengguna akan lebih mudah mengekspresikan emosi. d. Reaksi kecemasan singkat yang dicetuskan oleh pikiran paranoid. senang. Pemakai yang tidak pengalaman lebih mudah mengalami gejala kecemasan dari pada pemakai yang berpengalaman.

Penggunaan jangka panjang a. sehingga efeknya jadi berlipat ganda. g. Hiperaktifitas otonomik (berkeringat. Kecemasan f. b. Perlemakan hati b. perabaan PSIKOTROPIKA 1. efek keracunan dari penggunaan kombinasi akan lebih buruk lagi dan kemungkinan mengalami over dosis akan lebih besar. Peradangan lambung d. Agitasi Psikomotor e. Pelajar yang belajar untuk ujian. pengendara truk jarak 16 .obatan berbahaya lainnya. Kejang g. Halusinasi atau ilusi pengelihatan. Myopati g. Pikun (psikosis korsakof) i. pendengaran. Amphetamine Efek yang ditimbulkan Amphetamine tipikal digunakan untuk meningkatkan daya kerja dan untuk menginduksi perasaan euforik. Pengkerutan hati ( kanker hati ) c. Kadang-kadang alkohol digunakan dengan kombinasi obat . Insomnia c. Mual atau Muntah d. Bila ini terjadi. Kardiomiopati h. Polineuritis f. denyut nadi melebihi 100) peningkatan tremor tangan. Cacat pada janin (pada ibu hamil yang mengonsumsi alkohol) Gejala Putus Zat Penghentian atau penurunan pemakaian alkohol yang telah berlangsung lama atau pemakaian yang berat bisa mengalami gejala seperti di bawah ini : a. Radang pankreas e.

Berkeringat atau mengigil e. crystal meth. Amphetamine merupakan zat yang adiktif. konfusi. Rasa lapar yang tidak pernah kenyang 2. Kecemasan b. koma Gejala Putus Zat a. ice. kejang. shabu-shabu. Takikardi b. Halusinogen (LSD) Ketergantungan Zat Pemakaian jangka panjang jarang terjadi. Mimpi yang menakutkan g. Kelemahan otot. Mual atau muntah f. Kram otot dan lambung j. nyeri dada. Gejala Intoksikasi Sindroma intoksikasi amfetamin serupa dengan intoksikasi kokain. speed. ecstasy. diskinesia. depresi pernapasan. Penurunan berat badan g. yaitu a. Gemetar c. methamphetamine dan methylphenidate (Ritalin). Jenis obat-obatan yang tergolong kelompok amphetamine adalah : dextroamphetamine (Dexedrin). Tidak terdapat adiksi fisik. jauh. Nyeri kepala h. Letargi e. aritmia jantung. distonia. pekerja yang sering dituntut bekerja mengejar deadline. Mood disforik d. dan atlet. namun demikian adiksi psikologis dapat terjadi walaupun jarang. Fatigue f. Obat tersebut beredar dengan nama jalanan: crack. Berkeringat banyak i. Dilatasi pupil c. Penurunan atau peningkatan tekanan darah d. Agitasi atau retardasi psikomotor h. Hal ini disebabkan karena 17 .

direalisasi. ilusi. tetapi ketergantungan secara psikologis sering dialami oleh pengguna PCP. Perasaan depersonalisasi g. Menjadi simpatik. Takikardi e. Inkoordinasi 3. Phenycyclidine (PCP) Efek yang ditimbulkan Efek PCP adalah mirip dengan efek halusinogen seperti lysergic acid diethylamide (LSD). Tempo yang cepat c. Konfusi dan disorganisasi pikiran l. pengalaman menggunakan LSD berbeda-beda dan karena tidak terdapat euforia seperti yang dibayangkan. tampak pelupa dan fantasi yang aktif b. Menjadi tidak komunikatif. Tremor i. Perubahan persepsi ( depersonalisasi. Gejala Intoksikasi a. Gangguan persepsi tempat dan waktu j.dsb ) c. Ketergantungan secara fisik jarang ditemui. Rasa geli dan melayang yang penuuh kedamaian f. Pandangan kabur h. Kecemasan m. halusinasi. Isolasi diri h. paranoid. bersosialisasi dan suka bicara pada suatu saat dan bersikap bermusuhan pada waktu lainnya 18 . Gejala Klinis a. tetapi karena farmakologi yang berbeda dan adanya efek klinis yang berbeda diklasifikasikan sebagai kategori obat yang berbeda. dsb) b. Badan yang hangat e. Berkeringat f. Halusinasi visual dan auditorius i. Perubahan citra tubuh yang mencolok k. Perilaku maladaptif (kecemasan. Euforia d. gangguan dalam pertimbangan. Dilatasi pupil d. Palpitasi g.

menyeringai. ilusi sensorik. Melakukan gerakan kepala memutar. Gejala psikologis lain pada dosis tinggi dapat berupa rasa ketakutan. n. aseton. Gangguan psikotik x. pelemas otot. Kekakuan otot q. dan N2O. thinner. Ketergantungan fisik dan psikologis berkembang terhadap semua obat-obatan ini. nistagmus dan hipertermia o. Gejala neurologis dapat termasuk bicara 19 . dan adjuvan anestetik.Mepobramate (Equanil) . Gangguan kecemasan 4.Diazapam (Valium) . Sedatif.Dana glutethimide (Doriden) Obat-obatan ini sebenarnya diresepkan sebagai antipiretik. Semua obat dalam kelas ini dan alkohol memiliki toleransi silang dan efeknya adalah adiktif. paranoid t.Barbiturat contoh secobarbital (Seconal) . Hipnotik. Suka berkelahi atau menyerang secara irasional u. Gejala Klinis Dalam dosis awal yang kecil inhalan dapat menginhibisi dan menyebabkan perasaan euforia. halusinasi auditoris dan visual dan distorsi ukuran tubuh. Muntah berulang r. anestetik. Delirium w. Gangguan mood y. kegembiraan. Inhalansia Yang termasuk dalam golongan ini adalah Aica Aibon (lem). dan sensasi mengambang yang menyenangkan. Lekas marah. Ansiolitik Jenis obat-obatan yang tergolong kelompok sedatif-hipnotik atau ansiolitik adalah benzodiazepin. ZAT ADIKTIF 1. Bunuh diri atau membunuh v. dan semuanya disertai gejala putus obat.Qualone (Quaalude) . menghentak p. seperti : . Hipertensi. Bicara dan menyanyi berulang s.

berkeringat. aspirasi muntah atau kecelakaan atau cedera. karena paralisis (kegagalan) pernafasan. muntah. labilitas emosi dan gangguan ingatan. Menghisap rokok meningkatkan mood. menurunkan ketegangan dan menghilangkan perasaan depresif. 2. dan kadang- kadang disertai waham dan halusinasi. bertindak sebagai relaksan otot skeletal. yang tidak jelas (menggumam. Penggunaan dalam waktu lama dapat menyebabkan iritabilitas. Tetapi pemaparan jangka panjang disertai dengan penurunan aliran darah serebral. dan kemampuan untuk memecahkan masalah. penurunan kecepatan bicara. Dosis 60 mg pada orang dewasa dapat mematikan. Efek yang ditimbulkan Efek merugikan yang paling serius adalah kematian yang disebabkan karena depresi pernafasan. berbeda dengan efek stimulasinya pada sistem saraf pusat. Sindroma putus inhalan tidak sering terjadi. Ketergantungan Ketergantungan nikotin berkembang cepat karena aktivasi sistem dopaminergik area segmental ventral oleh nikotin (sistem yang sama dipengaruhi oleh Kokain dan Amphetamin). aritmia jantung. mual. asfiksiasi. belajar. kalaupun ada muncul dalam bentuk susah tidur. Orang kemungkinan merokok jika orangtuanya atau saudara kandungnya merokok dan yang berperan sebagai model peran atau tokoh identifikasi merokok. takikardia. Penggunaan inhalan dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan kerusakan hati dan ginjal yang ireversibel dan kerusakan otot yang permanen. Ada penelitian terakhir juga menyatakan suatu diatesis genetik ke arah ketergantungan nikotin. 20 . kegugupan. iritabilitas. Nikotin adalah zat kimia yang sangat toksik. Komponen psikoaktif dari tembakau adalah nikotin. dan ataksia) . Nikotin Efek yang ditimbulkan Efek stimulasi dari nikotin menyebabkan peningkatan perhatian. waktu reaksi. Perkembangan ketergantungan dipercepat oleh faktor sosial yang kuat yang mendorong merokok dalam beberapa lingkungan dan oleh karena efek kuat dari iklan rokok. Pemaparan nikotin dalam jangka pendek meningkatkan aliran darah serebral tanpa mengubah metabolisme oksigen serebral.

. Naltrekson dapat digunakan secara oral untuk terapi keracunan dan ketergantungan obat opioid. Gejala putus obat yang ditimbulkan oleh metadon tidak sekuat dari yang ditimbulkan oleh morfin atau heroin tetapi berlangsung lebih lama. Antagonis opioid umumnya tidak menimbulkan banyak efek kecuali bila sebelumnya telah ada efek agonis opioid atau bila endogen opioid sedang aktif misalnya pada keadaan stress atau syok. Selain itu kemungkinan timbulnya adiksi ini lebih kecil daripada bahaya adiksi morfin. karena kemampuannya untuk mengantagonis semua kerja opioid. Bagaimana penatalaksanaan keadaan putus zat? Penatalaksanaan dapat dilakukan di pusat rehabilitasi. Penanganan ketergantungan alcohol biasanya dilakukan dengan terapipsikososial. ditambah dengan pemberian 21 . rumah sakit. Tahap rehabilitas medis (detoksifikasi) Pecandu diperiksa kesehatan fisik dan mental. misalnya Metadon: Metadon merupakan obat yang memiliki efek analgesic dan antitusif. Selain itu metadon juga digunakan sebagai pengganti morfin atai opioid lain (misalnya heroin) untuk mencegah atau mengatasi gejala-gejala putus obat yang ditimbulkan oleh obat-obat tersebut. Kemudian ditentukan apakah pecandu tersebut perlu diberikan obat tertentu untuk mengurangi gejala putus zat yang diderita. dan timbulnya lebih lambat. Pasien harus bebas dari opiate sebelum pemberian naltrekson.7. Acamprosate . Bila penggunaan alcohol dihentikan akan timbul gejala putus obat (gejala yang timbul serta beratnya ketergantungan ditentukan oleh jumlah dan lamanya konsumsi). Obat ini dikontraindikasikan pada pasien hepatitis akut dan gagal ginjal. Intoksikasi alcohol kronik (alkoholisme) Penggunaan alcohol menyebabkan terjadinya toleransi secara farmakokinetik dan farmakodinamik.Sebagai terapi substitusi. dan pusat pengobatan di masyarakat. detoksifikasi juga diterapkan sebagai pengobatan jangka panjang. contohnya . Selain diterapkan sebagai pengobatan jangka pendek (antidote pada kejadian overdosis dan sebagai peredam atau pencegah putus obat). Pencegah kekambuhan misalnya Naltreksone: Naltreksone merupakan obat yang tergolong dalam antagonis opioid. Tahap-tahap rehabilitasi terdiri dari: 1.

kemudian secara bertahap dosisnya diturunkan. Diberbagai tempat rehabilitasi (khususya yang telah dibangun di Indonesia). pecandu biasanya mengalami kekambuhan kronis sehingga perlu berulang kali menjalani terapi ketergantungan. Tahap bina lanjut (after care) Tahap ini pecandu diberikan kegiatan sesuai minat dan bakat untuk mengisi kegiatan sehari-hari. 2. 3. bufrenorphin. Tahap rehabilitasi nonmedis Pecandu ikut serta dalam program rehabilitasi tahap ini. namun tetap dalam pengawasan. artinya seorang pecandu langsung menghentikan penggunaan narkoba/zat adiktif. pecandu dapat ditempatkan kembali ke sekolah atau tempat kerja maupun lingkungan masyarakat. Obat yang digunakan ialah disulfiram dan neltrakson. Setelah gejala putus obat hilang. pecandu dikeluarkan dan diikutsertakan dalam sesi konseling (rehabilitasi nonmedis). dan nalrekson. Cold turkey. pecandu menjalani berbagai program diantaranya therapeutic communities (TC). Untuk pengguna opioda hard core addict (pengguna opioda yang telah bertahun-tahun menggunakan opioda suntikan). dan diberikan dalam dosis yang sesuai dengan kebutuhan pecandu. metadone. 12 steps (dua belas langkah. a. hanya digunakan untuk pasien-pasien ketergantungan heroin (opioda). Metode ini merupakan metode tertua. Beberapa obat yang sering digunakan adalah kodein. Keempat obat di atas telah banyak beredar di Indonesia dan perlu adanya kontrol 22 . wawancara motivasional dan kelompok menolong diri sendiri telah terbukti efektif. Kebutuhan heroin (narkotika ilegal) diganti (substitusi) dengan narkotika legal. diantaranya: pendekatan keagamaan. Obat-obatan ini digunakan sebagai obat detoksifikasi. b. yaitu: Pendekatan psikologis seperti terapi perilaku kognitif. Metode alternative c. dll). Metode ini bnayak digunakan oleh beberapa panti rehabilitasi dengan pendekatan keagamaan dalam fase detoksifikasinya. dengan mengurung pecandu dalam masa putus obat tanpa memberikan obat-obatan. obat sebagai penunjang keberhasilan terapi. Untuk setiap tahap rehabilitasi diperlukan pengawasan dan evaluasi secara terus- menerus terhadap beberapa metode terapi dan rehabilitasi yang digunakan. Terapi substitusi opioda.

Komplikasi Medik-psikiatri (Ko-morbiditas) Gangguan tidur. Bagaimana komplikasi dan prognosis keadaan putus zat. pengadilan akan memberikan hukuman untuk mengikuti program 12 langkah. role modeling. mania. keterampilan untuk bertahan bersih dari narkoba. cemas sampai panik dan paranoid sering ditemukan pada penyalahgunaan alkohol dan sedatif hipnotika. gangguan cemas. e. Akibat pemakaian yang lama: Opiat (heroin. keadaan ini dijumpai pada penyalahguna stimulansia Gangguan psikotik. Depresi. pada penyalahguna heroin/ putaw. Therapeutic community (TC). Komplikasi Medik 1. merupakan program yang disebut Drug Free Self Help Program. putaw) o Paru: bronkhopneumonia. sharing norma dan nilai-nilai. komunikasi terbuka. depresi berat kadang-kadang percobaan bunuh diri. Paranoid. di Amerika Serikat. vocasional dan pendidikan. b. cemas sampai panik. yaitu manajemen perilaku. d. psikosis. emosi/psikologis. 8. serta dampak negatif yang timbul pada penggunaan napza? KOMPLIKASI a. Program TC. intelektual & spiritual. cemas. metode ini mulai digunakan pada akhir 1950 di Amerika Serikat. agitasi. acuh tak acuh dan gangguan daya ingat. depresi berat. Pecandu yang mengikuti program ini dimotivasi untuk mengimplementasikan ke 12 langkah ini dalam kehidupan sehari-hari. edema paru o Jantung: endocarditis 23 . penggunaan untuk menghindari adanya penyimpangan/penyalahgunaan obat-obatan ini yang akan berdampak fatal. kehilangan motivasi. hubungan kelompok dan penggunaan terminologi unik. jika seseorang kedapatan mabuk atau menyalahgunakan narkoba. feedback dari keanggotaan. Metode 12 steps. gangguan fungsi seksual. format kolektif untuk perubahan pribadi. Tujuan utamanya adalah menolong pecandu agar mampu kembali ke tengah masyarakat dan dapat kembali menjalani kehidupan yang produktif. program ini mempunyai sembilan elemen yaitu partisipasi aktif. Aktivitas dalam TC akan menolong peserta belajar mengenal dirinya melalui lima area pengembangan kepribadian. sering ditemukan pada penyalahguna ganja. struktur & sistem.

shabu) o Perdarahan intrakranial o Denyut jantung tidak teratur o Malnutrisi & anemia o Gangguan jiwa (depresi berat.Cerna: tukak lambung. psikosis. kurus. cimeng) o Daya tahan tubuh turun  mudah infeksi o Kerusakan mukosa mulut  hitam & kotor o Radang saluran nafas kronis Kokain o Aritmia jantung o Ulkus lambung o Perforasi septum nasi o Kerusakan paru o Malnutrisi & anemia Alkohol o Sal. perdarahan usus. Akibat alat suntik & bahan pencampur yang tidak steril: o Hepatitis o Endokarditis o HIV/AIDS o Infeksi kulit/abses pada bekas suntikan 24 . jantung & ginal o Cepat lelah o Kulit membiru 2. ekstasi. otak. kanker o Hepar: sirosis hepatis & kanker hati Stimulansia (amfetamin. Akibat pola hidup yang berubah: o Berkurangnya selera makan o Kurangnya perhatian terhadap mutu makanan & kebersihan diri o kurang gizi. pucat. penyakit kulit & gigi berlubang 3. paranoid) Inhalansia o Toksis pada hepar. o Hepar: hepatitis C o Penyakit menular seksual & HIV/AIDS Kanabis (ganja. paru.

membohong. menipu. karena heroin menekan susunan saraf pusat. mengancam.DAMPAK NEGATIF Dampak negatif penyalahgunaan narkoba: a. sukar bernafas dan menyebabkan kematian  Tindak kekerasan  Bronkhopnoumonia  Endokarditis PROGNOSIS Keberhasilan dari penatalaksanaan penyalahgunaan obat/zat memerlukan proses yang sangat panjang. menodong. 25 . Problem fisik  Abses pada kulit sampai septichemia  Infeksi karena emboli. Sebab – sebab kematian  Reaksi heroin akut menyebabkan kolaps-nya kardiovaskular dan akhirnya meninggal  Overdose. sampai membunuh) d. Resiko tinggi untuk relaps selama terapi hampir selalu ada. Problem sosial  Gangguan interaksi di rumah tangga sampai lingkungan masyarakat  Kecelakaan lalu lintas  Prilaku kriminal sampai tindak kekerasan  Gangguan prilaku sampai anti-sosial (mencuri. Problem psikiatri  Gejala withdrawal menyebabkan prilaku agresif  Suicide  Depresi berat sampai skizofrenia c. dapat sampai stroke  Endokarditis  Hepatitis (B dan C)  HIV/AIDS  Injeksi menyebabkan trauma pada jaringan saraf lokal b.

KESIMPULAN 26 . BAB III PENUTUP 3.1.

dan Zat Adiktif lain) adalah bahan/zat/obat yang bila masuk kedalam tubuh manusia akan mempengaruhi tubuh terutama otak/susunan saraf pusat. DAFTAR PUSTAKA Departemen Farmakologi dan Terapeutik FK UI. glutamate (NMDA). 27 . dan fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan. (2012). Menghasilkan perubahan pada neurotransmitter inhibisi dan eksitatori sehingga mengganggu keseimbangan neurochemical di otak sehingga dapat menyebabkan gejala dari putus obat. Berdasarkan data penelitian pengguna NAPZA di dunia. Farmakologi dan Terapi. Dari pemaparan di skenario. dan opiates. seperti menyebabkan perubahan mood. ketagihan (adiksi) serta ketergantungan (dependensi) terhadap NAPZA. NAPZA (Narkotika. secara eksternal menyebabkan perubahan perilaku. Jakarta. Bagian Farmakologi FK UI. termasuk interaksi dengan gamma-aminobutyric acid (GABA). Kebanyakan dari efek klinis tersebut dapat dijelaskan oleh interaksi dari suatu zat dengan berbagai macam neurotransmitter dan neuroreseptor di otak. Psikotropika. Beberapa substansi tersebut menyebabkan kelainan status mental secara internal. Edisi 5. sehingga menyebabkan kesehatan fisik. dilaporkan hampir 40% penduduk di dunia pernah menggunakan NAPZA dalam hidup mereka. psikis. didapatkan adanya gejala-gejala fisik yang diakibatkan keadaan putus zat (abstinensia).

(2012). Hadisukanto. Hadisukanto G. Jakarta. (2009). Gangguan Penggunaan Zat. G. (2010). (2009). Surabaya. Penyalahgunaan & Ketergantungan NAPZA. 180(2):203-15 Hawari. Goldstein D. Jakarta. (2010) Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis. Relationship of alcohol dose to intensity of withdrawal signs inmice. (2010). Edisi II. 138-69 Maramis. D.Elvira. Husain AB. Edisi II. Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas PPDGJ – III dan DSM 5. Jakarta. S. 28 . FK UI (hlm: 37- 64). Rusdi. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya (hlm: 34). in Buku Ajar Psikiatrik edited by Elvira SD. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Jakarta. Dadang.. Maslim. Sadock. Buku Ajar Psikiatri FK UI. p. Benjamin J. Willy F. Badan Penerbit FKUI: Jakarta. Journal of Pharmacology and Experimental Therapeutics. (2013). Airlangga University Press (hlm:369-383). Badan Penerbit FK UI. Edisi II. EGC (hlm: 86-146).