Penanganan Ansietas Pada Pasien Diabetes Mellitus dengan Teknik

Relaksasi Otot Progresif

I. Diabetes Mellitus
A. Definisi
Diabetes adalah suatu penyakit karena tubuh tidak mampu mengendalikan jumlah
gula, atau glukosa dalam aliran darah. Ini menyebabkan hiperglikemia, suatu keadaan
gula darah yang tingginya sudah membahayakan (Setiabudi, 2008).
B. Etiologi
Penyebab diabetes mellitus sampai sekarang belum diketahui dengan pasti tetapi
umumnya diketahui karena kekurangan insulin adalah penyebab utama dan faktor
herediter memegang peranan penting.
1. Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM)
Sering terjadi pada usia sebelum 30 tahun. Biasanya juga disebut Juvenille
Diabetes, yang gangguan ini ditandai dengan adanya hiperglikemia (meningkatnya
kadar gula darah) (Bare&Suzanne,2002). Faktor genetik dan lingkungan merupakan
faktor pencetus IDDM
2. Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM)
Virus dan kuman leukosit antigen tidak nampak memainkan peran terjadinya
NIDDM. Faktor herediter memainkan peran yang sangat besar. Riset melaporkan
bahwa obesitas salah satu faktor determinan terjadinya NIDDM sekitar 80% klien
NIDDM adalah kegemukan.
C. Manifestasi Klinis
1. Sering BAK
2. Sering minum
3. Sering makan
4. Penurunan berat badan
5. Malaise atau kelemahan ( Bare & Suzanne, 2002)
D. Penatalaksanaan
Diabetes Mellitus jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan berbagai
penyakit dan diperlukan kerjasama semua pihak untuk meningkatan pelayanan
kesehatan. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan berbagai usaha, antaranya:
a. Perencanaan Makanan.
b. Latihan Jasmani
Dianjurkan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali seminggu) selama kurang
lebih 30 menit yang disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi penyakit
penyerta.
c. Obat
1) Sulfonilurea
Obat golongan sulfonylurea bekerja dengan cara :
a) Menstimulasi penglepasan insulin yang tersimpan.

sedang. gangguan pencernaan. percaya diri . berdebar-debar. B. 2) Biguanid: Preparat yang ada dan aman dipakai yaitu metformin. Tingkatan Ansietas Peplau (dalam. ketakutan. 2012). Menurut Videbeck (2008). 2. takut akan pikirannya sendiri. merasakan. Definisi Ansietas adalah perasaan was-was. 2008). gelisah. atau dikenal juga sebagai gangguan cemas. Takut sendirian. tidak tenang. Videbeck. C. Manifestasi Keluhan-keluhan yang sering dikemukan oleh orang yang mengalami ansietas (Hawari. 6. antara lain sebagai berikut : 1. Respons fisik 1) Ketegangan otot ringan 2) Sadar akan lingkungan 3) Rileks atau sedikit gelisah 4) Penuh perhatian 5) Rajin b. mimpi-mimpi yang menegangkan. berat dan panik. Takut merupakan penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya. Ansietas. takut pada keramaian dan banyak orang. 4. 2008) ada empat tingkat kecemasan yang dialami oleh individu yaitu ringan. Ansietas didefinisikan sebagai kondisi kejiwaan di mana adanya perasaan subjektif berupa kegelisahan. Merasa tegang. berpikir. b) Menurunkan ambang sekresi insulin. mudah terkejut. atau firasat-firasat buruk. khawatir. gangguan perkemihan. dan melindungi diri sendiri. respons dari ansietas ringan adalah sebagai berikut : a. atau tidak nyaman seakan-akan akan terjadi sesuatu yang dirasakan sebagai ancaman ansietas berbeda dengan rasa takut. Stimulasi sensori meningkat dan membantu individu memfokuskan perhatian untuk belajar. sedangkan ansietas adalah respon emosional terhadap penilaian tersebut (Keliat. misalnya rasa sakit pada otot dan tulang. Keluhan-keluhan somatik. khawatir. Ansietas A. sakit kepala dan sebagainya. Cemas. Ansietas ringan adalah perasaan bahwa ada sesuatu yang berbeda dan membutuhkan perhatian khusus. c) Meningkatkan sekresi insulin sebagai akibat rangsangan glukosa.S 3) Insulin II. firasat buruk. 5. merupakan gejala kejiwaan atau psikiatri yang paling sering muncul di masyarakat. mudah tersinggung. Gangguan pola tidur. 3. Respon kognitif 1) Lapang persepsi luas 2) Terlihat tenang. 1. Gangguan konsentrasi dan daya ingat. bertindak. sesak nafas. pendengaran berdenging (tinitus). menyelesaikan masalah.

3) Perasaan gagal sedikit 4) Waspada dan memperhatikan banyak hal 5) Mempertimbangkan informasi 6) Tingkat pembelajaran optimal c. pola tidur berubah. individu menjadi gugup atau agitasi. mulai berkeringat 4) Sering mondar-mandir. Ansietas berat. Menurut Videbeck (2008). sakit kepala. nada suara tinggi 6) Tindakan tanpa tujuan dan serampangan 7) Rahang menegang. respons dari ansietas sedang adalah sebagai berikut : a. Respon fisik : 1) Ketegangan otot sedang 2) Tanda-tanda vital meningkat 3) Pupil dilatasi. Respons emosional 1) Perilaku otomatis 2) Sedikit tidak sadar 3) Aktivitas menyendiri 4) Terstimulasi 5) Tenang 2. nyeri punggung b. respons dari ansietas berat adalah sebagai berikut : a. yakni ada sesuatu yang berbeda dan ada ancaman. mengertakan gigi 8) Mondar-mandir. berteriak 9) Meremas tangan. memukul tangan 5) Suara berubah : bergetar. nada suara tinggi 6) Kewaspadaan dan ketegangan menigkat 7) Sering berkemih. gemetar b. Menurut Videbeck (2008). Respons emosional 1) Tidak nyaman 2) Mudah tersinggung 3) Kepercayaan diri goyah 4) Tidak sabar 5) Gembira 3. Respons kognitif 1) Lapang persepsi menurun 2) Tidak perhatian secara selektif 3) Fokus terhadap stimulus meningkat 4) Rentang perhatian menurun 5) Penyelesaian masalah menurun 6) Pembelajaran terjadi dengan memfokuskan c. memperlihatkan respons takut dan distress. Respons kognitif . Respons fisik 1) Ketegangan otot berat 2) Hiperventilasi 3) Kontak mata buruk 4) Pengeluaran keringat meningkat 5) Bicara cepat. Ansietas sedang merupakan perasaan yang menggangu bahwa ada sesuatu yang benar-benar berbeda.

Respons emosional 1) Sangat cemas 2) Agitasi 3) Takut 4) Bingung 5) Merasa tidak adekuat 6) Menarik diri 7) Penyangkalan 8) Ingin bebas 4. Respons kognitif 1) Persepsi sangat sempit 2) Pikiran tidak logis. karena hilangnya kontrol. putus asa 5) Marah. terganggu 3) Kepribadian kacau 4) Tidak dapat menyelesaikan masalah 5) Fokus pada pikiran sendiri 6) Tidak rasional 7) Sulit memahami stimulus eksternal 8) Halusinasi. Menurut Videbeck (2008). individu kehilangan kendali dan detail perhatian hilang. respons dari panik adalah sebagai berikut : a. atau freeze 2) Ketegangan otot sangat berat 3) Agitasi motorik kasar 4) Pupil dilatasi 5) Tanda-tanda vital meningkat kemudian menurun 6) Tidak dapat tidur 7) Hormon stress dan neurotransmiter berkurang 8) Wajah menyeringai. ilusi mungkin terjadi c. maka tidak mampu melakukan apapun meskipun dengan perintah. Panik. 1) Lapang persepsi terbatas 2) Proses berpikir terpecah-pecah 3) Sulit berpikir 4) Penyelesaian masalah buruk 5) Tidak mampu mempertimbangkan informasi 6) Hanya memerhatikan ancaman 7) Preokupasi dengan pikiran sendiri 8) Egosentris c. waham. Respon emosional 1) Merasa terbebani 2) Merasa tidak mampu. tidak berdaya 3) Lepas kendali 4) Mengamuk. Respons fisik 1) Flight. fight. mulut ternganga b. takut 8) Lelah . sangat takut 6) Mengharapkan hasil yang buruk 7) Kaget.

meliputi paparan terhadap infeksi virus dan bakteri. kecelakaan. Faktor Predisposisi Stressor predisposisi adalah semua ketegangan dalam kehidupan yang dapat menyebabkan timbulnya kecemasan (Suliswati. Konflik antara id dan superego atau antara keinginan dan kenyataan dapat menimbulkan kecemasan pada individu. 2. Sumber internal. Frustasi akan menimbulkan rasa ketidakberdayaan untuk mengambil keputusan yang berdampak terhadap ego. E. Gangguan fisik akan menimbulkan kecemasan karena merupakan ancaman terhadap integritas fisik yang dapat mempengaruhi konsep diri individu. perubahan biologis normal (misalnya : hamil). yang dapat memicu terjadinya kecemasan berkaitan dengan krisis yang dialami individu baik krisis perkembangan atau situasional. 2005). 4. kekurangan nutrisi. Sumber eksternal. Sumber internal : kesulitan dalam berhubungan interpersonal di rumah dan tempat kerja. 5. Ancaman terhadap harga diri meliputi sumber internal dan eksternal. Ancaman terhadap integritas fisik. penyesuaian terhadap peran baru. polutan lingkungan. Medikasi yang dapat memicu terjadinya kecemasan adalah pengobatan yang mengandung benzodizepin. yang dialami individu dan tidak terselesaikan dengan baik. Stressor presipitasi kecemasan dikelompokkan menjadi dua bagian.D. regulasi suhu tubuh. Berbagai ancaman terhadap integritas fisik juga dapat mengancam harga diri. Konsep diri terganggu akan menimbulkan ketidakmampuan individu berpikir secara realitas sehingga akan menimbulkan kecemasan. 6. meliputi kegagalan mekanisme fisiologis sistem imun. 2005). Ketegangan dalam kehidupan tersebut dapat berupa : 1. 3. 7. . b. Faktor presipitasi Stresor presipitasi adalah semua ketegangan dalam kehidupan yang dapat mencetuskan timbulnya kecemasan (Suliswati. Peristiwa traumatik. Konflik emosional. a. karena benzodiazepine dapat menekan neurotransmiter gamma amino butyric acid (GABA) yang mengontrol aktivitas neuron di otak yang bertanggung jawab menghasilkan kecemasan. Pola mekanisme koping keluarga atau pola keluarga menangani stress akan mempengaruhi individu dalam berespon terhadap konflik yang dialami karena pola mekanisme koping individu banyak dipelajari dalam keluarga. tidak adekuatnya tempat tinggal. 2. Riwayat gangguan kecemasan dalam keluarga akan mempengaruhi respons individu dalam berespons terhadap konflik dan mengatasi kecemasannya. yaitu : 1. Ketegangan yang mengancam integritas fisik yang meliputi : a. 8.

Manfaat Relaksasi Progresive Banyak manfaat nyata dari latihan relaksasi progresif. Definisi Relaksasi otot progresif adalah satu teknik dalam terapi perilaku untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan. perubahan status pekerjaan. Indikasi Indikasi lain untuk nyeri otot. insomnia. Tindakan 1) Jelaskan kembali tujuan terapi dan prosedur yang akan dilakukan 2) Pasien berbaring atau duduk bersandar (ada sandaran untuk kaki dan bahu) 3) Lakukan latihan nafas dalam dengan manarik nafas melalui hidung dan dihembuskan melalui mulut . antara lain : menurunkan ketegangan otot mengurangi tingkat kecemasan. Persiapan Identifikasi tingkat cemas klien. tekanan kelompok. b. sakit kepala. dan sebagainya. masalah-masalah yang berhubungan dengan stress seperti hipertensi. perceraian. daerah nyeri. Memberikan dan meningkatkan pengalaman subjektif bahwa ketegangan fisiologis bisa direlaksasikan sehingga relaksasi akan menjadi kebiasaan berespon pada keadaan-kaadaan tertentu ketika otot tegang c. tidak gaduh dan alami 2) Tempat tidur atau kursi dengan sandaran rileks ada penopang untuk kaki dan bahu c. 4. Kontraindikasi terapi ini adalah pada pasien marah. 2. Penatalaksanaan dengan Progressive Muscle Relaxation (PMR) 1. Relaksasi otot progresif merupakan suatu terapi relaksasi yang diberikan kepada pasien dengan menegangkan otot-otot tertentu dan kemudian relaksasi (Smeltzer and Bare. relaksasi dalam dapat mencegah manifestasi psikologis maupun fisiologis yang diakibatkan stress. F. Membantu pasien menurunkan stres tanpa pharmakologi b.Teknik ini dapat digunakan oleh pasien tanpa bantuan terapis dan mereka dapat menggunakannya untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan yang dialami sehari-hari di rumah. Alat-alat 1) Ruang yang sejuk. Menurunkan stess pada individu. 3. sosial budaya. tingkat nyeri dan kekakuan otot. depresi ringan. Sumber eksternal : kehilangan orang yang dicintai. 5. b. cemas. Prosedur Teknik Relaksasi a. Kaji kesiapan pasien dan perasaan pasien. 2002). Burn dalam Utami (2002) melaporkan beberapa keuntungan yang diperoleh dari relassasi progresif. Tujuan a.

Jakarta : EGC Smeltzer. Tutup mata dan rasakan otot otot lebih rileks DAFTAR PUSTAKA Hawari. (2012). Angkat kepala ke belakang. Ulangi gerakan sebanyak 3 kali c. letakkan tangan dan lengan dipangkuan buka selebar ruas jari. Jakarta: EGC Suliswati. kemudian lemas kan. a. (2005). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Manajemen Stres Cemas dan Depresi. (2002).C & Bare. . Proses keperawatan kesehatan jiwa. Ulangi gerakan sebanyak 3 kali b. S. Ulangi gerakan sebanyak 3 kali d. Jakarta : EGC Videbeck. tegangkan. D. Buku Ajar Medikal Bedah Edisi 8 Volume 2.G.A. B. Ulangi gerakan sebanyak 3 kali f. Konsep Dasar Keperawatan Jiwa. Katupkan bibir ke dalam mulut dengan kuat dan dorong lidah ke langit- langit kemudian lemaskan. Tutup mata dengan rapat. Ulangi gerakan sebanyak 3 kali e. betis 5) Bimbing pasien untuk mengencangkan otot tersebut selama 5 sampai 7 detik. B. (2008). (2008). tengkuk. Tekan tumit pada lantai. kemudian perlahan tundukkan kepala ke depan. leher.4) Bersama pasien mengidentifikasi (pasien dianjurkan dan dibimbing untuk mengidentifikasi) daerah-daerah otot yang sering tegang misalnya dahi. bahu. Tarik nafas dalam dr hidung tahan semampunya lalu keluarkan dr mulut. kemudian lemaskan. kemudian lemas kan. Indonesia. Ulangi gerakan sebanyak 3 kali h. Kerutkan dahi seperti mendekatkan kedua alis. Keliat. Jakarta: EGC. gerakan sebanyak 3 kali g. angkat telapak kaki ke atas dengan jari di buka selebar ruas jari. Jakarta : FK Universitas. kemudian bimbing pasien untuk merelaksasikan otot 20 sampai 30 detik.