You are on page 1of 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1; Latar Belakang
Latar Belakang Setiap orang tentu akan menemukan kesulitan dan cobaan
hidup. Mungkin dia tidak merasa sedemikian berputus asa sehingga bunuh diri, tetapi
dia mempunyai pengalaman depresi sewaktu-waktu. Yang terkadang diaplikasikan
atau dicurahkan dalam beberapa bentuk, dan tak jarang membawa mereka kedalam
pemikiran yang menyulitkan, dan lain sebagainya. Biasanya semua orang tidak
mengakui bahwa mereka telah terpelosok ke dalam kancah penderitaan. Banyak dari
mereka berpikir tentang tingkat-tingkat depresi yang mereka sebut ”perasaan sedih”
atau seperti yang dilakukan oleh wanita dengan menangis. Tapi mereka sadar bahwa
sekali waktu kehidupan mereka tidak bahagia. Jelaslah ada perbedaan antara
ketidakbahagiaan dan penyakit mental. Bagaimanapun juga, bentuk depresi yang
paling ringan akan menumpulkan ketajaman kehidupan yang paling keras. Sehingga
beberapa orang yang terjebak dalam kesedihan ataupun ketidakbahagiaan lainnya,
mengambil langkah berbahaya yang dapat merugikan dirinya, yaitu dengan tindakan
bunuh diri dan sebagainya. Untuk itu makalah ini disusun sedemikian rupa guna
membantu pembaca agar lebih mudah memahami maksud dari depresi. Selain itu,
agar dapat memberikan pengetahuan atau wawasan bagi para pembaca. Pada zaman
modern ini, banyak manusia yang mengalami stress, kecemasan, dan kegelisahan.
Sayangnya, masih saja ada orang yang berpikir bahwa stress dan depresi bukan benar-
benar suatu penyakit. Padahal, dibandingkan AIDS yang menjadi momok saat ini,
stres dan depresi jauh lebih bertanggung jawab terhadap banyak kematian. Karena,
kedua hal tersebut merupakan sumber dari berbagai penyakit.
Stres dan depresi yang dibiarkan berlarut membebani pikiran dan dapat
mengganggu system kekebalan tubuh. Apabila kita berada dalam emosi yang negative
seperti rasa sedih, benci, iri, putus asa, kecemasan, dan kurang bersyukur dengan
nikmat yang ada, maka system kekebalan kita menjadi lemah. Depresi merupakan
salah satu masalah kesehatan mental utama saat ini, yang mendapat perhatian serius.
Dinegara-negara berkembang, WHO memprediksikan bahwa pada tahun 2020 nanti
depresi akan menjadi salah satu penyakit mental yang banyak dialami dan depresi
berat akan menjadi penyebab kedua terbesar kematian setelah serangan jantung.
Berdasarkan data WHO tahun 1980, hampir 20%-30% dari pasien rumah sakit di
Negara berkembang mengalami gangguan mental emosional seperti depresi.

1 | Depresi
1.2; Ruang lingkup
Ruang Lingkup Makalah ini membahas tentang depresi secara general atau
universal. Namun, sesuai dengan literatur yang kami miliki maka makalah ini dibatasi
oleh ruang lingkup bahasan yang meliputi pengertian depresi dan tanda gejalanya
serta ciri-ciri kepribadian penderita depresi.

1.3; Tujuan
Adapun tujuan yang inin dicapai dalam penulisan makalah ini antara lain:
1. Memahami tentang pengertian depresi;
2. Faktor penyebab depresi;
3. Memahami tentang gejala depresi;
4. Memahami tentang ciri-ciri kepribadian penderita depresi;
5. Membantu mengurangi timbulnya gejala depresi baik di lingkungan
masyarakat maupun pribadinya;
6. Cara menanggulangi depresi dalam diri;
7. Memperluas wawasan mengenai penyakit psikis, khusunya depresi, agar
dapat digunakan sebagai dasar pengetahuan untuk berpartisipasi dalam
memberikan informasi bagi masyarakat.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Depresi

2 | Depresi
Philip L.Rice (1992), Depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional
berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir,berperasaan, dan berperilaku)
seseorang. Pada umumnya mood yang secara dominan muncul adalah perasaan yang tidak
berdaya dan kehilangan harapan. (ninda, apa yang dimaksut dengan depresi, 2011)

Depresi adalah gangguan alam perasaan (mood) yang ditandai dengan
kemurungan dan kesedihan yang mendalam dan berkelanjutan sehingga hilangnya
kegairahan hidup, tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas (Reality Testing
Ability, masih baik), kepribadian tetap utuh atau tidak mengalami keretakan
kepribadian (Splitting of personality), perilaku dapat terganggu tetapi dalam batas-
batas normal (Hawari Dadang, 2006).

Depresi merupakan gangguan mental yang sering terjadi di tengah masyarakat.
Berawal dari stres yang tidak diatasi, maka seseorang bisa jatuh ke fase depresi.
Penyakit ini kerap diabaikan karena dianggap bisa hilang tanpa pengobatan. Padahal,
depresi yang tidak diterapi dengan baik bisa berakhir dengan bunuh diri. Selain itu,
depresi yang berat juga menimbulkan berbagai penyakit fisik, seperti ganggguan
pencernaan, asma, gangguan pada pembuluh darah, penurunan produktivitas, dan
lain-lain. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 2020 depresi
akan menjadi beban global karena akan menjadi penyakit kedua di dunia dengan
jumlah pasien terbanyak setelah jantung iskemik. Prevalensi penyakit depresi
diperkirakan 5% - 10% per tahun. Depresi dapat terjadi pada siapa saja, baik anak-
anak maupun dewasa, pria maupun wanita, ataupun dari ras apa saja. (marianne,
2011)

Menurut ilmu kesehatan jiwa (psikiatri),depresi merupakan penyakit yang
bagian-bagianya terdiri dari sindroma klinik. Sindroma klinik berkaitan dengan
gangguan alam perasaan, alam pikir, dan tingkah laku motoriknya yang menurun
(berkurang). (sani ibrahim, 1997)

Depresi adalah suatu gangguan perasaan hati dengan ciri sedih, merasa
sendirian, rendah diri, putus asa, biasanya disertai tanda–tanda retardasi psikomotor
atau kadang-kadang agitasi, menarik diri dan terdapat gangguan vegetatif
seperti insomnia dan anoreksia (Kaplan Sadock,2003).
secara pasti bagaimana gen bekerja. Dan tidak ada bukti langsung bahwa ada
penyakit depresi yang disebabkan oleh faktor keturunan. 2. Susunan kimia otak dan

3 | Depresi
tubuh Beberapa bahan kimia di dalam otak dan tubuh memegang peranan yang besar
dalam mengendalikan emosi kita. Pada orang yang depresi ditemukan adanya
perubahan dalam jumlah bahan kimia tersebut. Hormon adenalin yang memegang
peranan utama dalam mengendalikan otak dan aktivitas tubuh, tampaknya berkurang
pada mereka yang mengalami depresi. Pada wanita, perubahan hormon dihubungkan
dengan kelahiran anak dan menopause juga dapat meningkatkan risiko terjadinya
depresi. 3. Faktor usia Berbagai penelitian mengungkapkan bahwa golongan usia
muda yaitu remaja dan orang dewasa lebih banyak terkena depresi. Hal ini dapat
terjadi karena pada usia tersebut terdapat tahap-tahap serta tugas perkembangan yang
penting, yaitu peralihan dari masa anak-anak kemasa remaja, remaja ke dewasa, masa
sekolah ke masa kuliah atau bekerja, serta masa pubertas hingga ke pernikahan.
Namun sekarang ini usia rata-rata penderita depresi semakin menurun, yang
menunjukkan bahwa remaja dan anak-anak semakin banyak yang terkena depresi.
Survei masyarakat terakhir melaporkan adanya prevalensi yang tinggi dari gejala-
gejala depresi pada golongan usia dewasa muda yaitu 1844 tahun.

4. Gender Wanita dua kali lebih sering terdiagnosis menderita depresi daripada
pria. Bukan berarti wanita lebih mudah terserang depresi, bisa saja karena wanita
lebih sering mengakui adanya depresi daripada pria. Dan dokter lebih dapat
mengenali depresi pada wanita. Bagaimanapun, tekanan pada wanita yang
mengarahkan pada depresi. Misalnya, seorang diri dirumah dengan anak-anak kecil
lebih jarang ditemui pada pria daripada wanita. Ada juga perubahan hormonal dalam

siklus menstruasi yang berhubungan dengan kehamilan dan kelahiran dan juga
menopause yang membuat wanita lebih rentan menjadi depresi atau menjadi pemicu
penyakit depresi. 5. Gaya hidup Banyak kebiasaan dan gaya hidup tidak sehat
berdampak pada penyakit misalnya penyakit jantung juga dapat memicu kecemasan
dan depresi. Tingginya tingkat stress dan kecemasan digabung dengan makanan yang
tidak sehat dan kebiasaan tidur serta tidak olahraga untuk jangka waktu yang lama
dapat menjadi faktor beberapa orang yang mengalami depresi penelitian menunjukkan
bahwa kecemasan dan depresi berhubungan dengan gaya hidup yang tidak sehat pada
pasien berisiko penyakit jantung. Gaya hidup yang tidak sehat misalnya tidur tidak
teratur, makan tidak teratur, pengawet dan pewarna buatan, kurang berolahraga,
merokok, dan minum-minuman keras. 6. Penyakit fisik Penyakit fisik dapat
menyebabkan depresi. Perasaan terkejut karena mengetahui kita memiliki penyakit

4 | Depresi
serius dapat mengarahkan pada hilangnya kepercayaan diri dan penghargaan diri, juga
depresi. Alasan terjadinya depresi cukup kompleks. Misalnya, depresi sering terjadi
setelah serangan jantung, mungkin karena seseorang merasa mereka baru saja
mengalami kejadian yang dapat menyebabkan kematian atau karena mereka tiba-tiba
menjadi orang yang tidak berdaya. Pada individu lanjut usia, penyakit fisik adalah
penyebab yang paling umum terjadinya depresi.

7. Obat-obatan Beberapa obat-obatan untuk pengobatan dapat menyebabkan
depresi. Namun bukan berarti obat tersebut menyebabkan depresi, dan menghentikan
pengobatan dapat lebih berbahaya daripada depresi. 8. Obat-obatan terlarang
Marijuana/Ganja, Heroin/ Putauw, Kokain, Ekstasi dan Sabu-sabu. 9. Sinar matahari

Kebanyakan dari kita merasa lebih baik dibawah sinar matahari daripada
mendung, tetapi hal ini sangat berpengaruh pada beberapa individu. Mereka baik-baik
saja ketika musim panas tetapi menjadi depresi ketika musim dingin. Mereka disebut
menderita seasonal affective disorder (SAD). 10.Kepribadian Aspek-aspek
kepribadian ikut pula mempengaruhi tinggi rendahnya depresi yang dialami serta
kerentanan terhadap depresi. Ada individu-individu yang lebih negative, pesimis, juga
tipe kepribadian.

2.2 Proses Terjadinya Masalah Depresi
Masalah Depresi disebabkan oleh banyak faktor antara lain : faktor heriditer
dan genetik, faktor konstitusi, faktor kepribadian pramorbid, faktor fisik, faktor
psikobiologi, faktor neurologik, faktor biokimia dalam tubuh, faktor keseimbangan
elektrolit dan sebagainya. Depresi biasanya dicetuskan oleh trauma fisik seperti
penyakit infeksi, pembedahan, kecelakaan, persalinan dan sebagainya, serta faktor
psikik seperti kehilangan kasih sayang atau harga diri dan akibat kerja keras. Depresi
merupakan reaksi yang normal bila berlangsung dalam waktu yang pendek dengan
adanya faktor pencetus yang jelas, lama dan dalamnya depresi sesuai dengan faktor
pencetusnya. Depresi merupakan gejala psikotik bila keluhan yang bersangkutan tidak
sesuai lagi dengan realitas, tidak dapat menilai realitas dan tidak dapat dimengerti
oleh orang lain. Penyebab depresi terbagi menjadi beberapa aspek menurut Beck
yaitu:

1. Aspek Yang Dimanifestasikan Secara Emosional

5 | Depresi
a) Perasaan kesal atau patah hati (dejected mood); perasaan ini
menggambarkan keadaan sedih, bosan dan kesepian yang dialami individu. Keadaan
ini bervariasi dari kesedihan sesaat hingga kesedihan yang terus - menerus.

b) Perasaan negatif terhadap diri sendiri ; perasaan ini mungkin berhubungan
dengan perasaan sedih yang dijelaskan di atas, hanya bedanya perasaan ini khusus
ditujukan kepada diri sendiri.

c) Hilangnya rasa puas ; maksudnya ialah kehilangan kepuasan atas apa yang
dilakukan. Perasaan ini dapat terjadi pada setiap kegiatan yang dilakukan termasuk
hubungan psikososial, seperti aktivitas yang menuntut adanya suatu tanggung jawab.

d) Hilangnya keterlibatan emosional dalam melakukan pekerjaan atau
hubungan dengan orang lain ; keadaan ini biasanya disertai dengan hilangnya
kepuasan diatas. Hal ini dimanifestasikan dalam aktivitas tertentu, kurangnya
perhatian atau rasa keterlibatan emosi terhadap orang lain.

e) Kecenderungan untuk menangis diluar kemauan ; gejala ini banyak dialami
oleh penderita depresi, khususnya wanita. Bahkan mereka yang tidak pernah
menangis selama bertahun-tahun dapat bercucuran air mata atau merasa ingin
menangis tetapi tidak dapat menangis.

f) Hilangnya respon terhadap humor ; dalam hal ini penderita tidak
kehilangan kemampuan untuk mempersepsi lelucon, namun kesulitannya terletak
pada kemampuan penderita untuk merespon humor tersebut dengan cara yang wajar.
Penderita tidak terhibur, tertawa atau puas apabila mendengar lelucon.

2. Aspek depresi yang dimanifestasikan secara kognitif

a) Rendahnya evaluasi diri ; hal ini tampak dari bagaimana penderita
memandang dirinya. Biasanya mereka menganggap rendah ciri - ciri yang sebenarnya
penting, seperti kemampuan prestasi, intelegensi, kesehatan, kekuatan, daya tarik,
popularitas, dan sumber keuangannya.

b) Citra tubuh yang terdistorsi ; hal ini lebih sering terjadi pada wanita.
Mereka merasa dirinya jelek dan tidak menarik.

c) Harapan yang negatif ; penderita mengharapkan hal - hal yang terburuk dan
menolak uasaha terapi yang dilakukan.

6 | Depresi
d) Menyalahkan dan mengkritik diri sendiri ; hal ini muncul dalam bentuk
anggapan penderita bahwa dirinya sebagai penyebab segala kesalahan dan cenderung
mengkritik dirinya untuk segala kekurangannya.

e) Keragu-raguan dalam mengambil keputusan ; ini merupakan karakteristik
depresi yang biasanya menjengkelkan orang lain ataupun diri penderita. Penderita
sulit untuk mengambil keputusan, memilih alternatif yang ada, dan mengubah
keputusan.

3. Aspek yang dimanifestasikan secara motivasional Meliputi pengalaman
yang disadari penderita, yaitu tentang usaha, dorongan, dan keinginan. Ciri utamanya
adalah sifat regresif motivasi penderita, penderita tampaknya menarik diri dari
aktifitas yang menuntut adanya suatu tanggung jawab, inisiatif bertindak atau adanya
energi yang kuat.

4. Aspek depresi yang muncul sebagai gangguan fisik Meliputi kehilangan
nafsu makan, gangguan tidur, kehilangan libido, dan kelelahan yang sangat. Individu
mengalami depresi jika individu mengalami gajala-gejala rasa, seperti sedih, pesimis,
membenci diri sendiri, kehilangan energi, kehilangan konsentrasi, dan kehilangan
motivasi. Selain itu individu juga kehilangan nafsu makan, berat badan menurun,
insomnia, kehilangan libido, dan selalu ingin menghindari orang lain.Dengan
demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa aspek depresi adalah gejala depresi yang
dapat dimanifestasikan secara emosional, kognitif, motivasional, fisik dan
pencernaan, raut wajah sedih, retardasi, dan agitasi. Gejala yang dimanifestasikan
secara emosional terdiri dari perasaan kesal atau patah hati, perasaan negatif terhadap
dirinya, hilangnya rasa puas, hilangnya keterlibatan emosional,kecenderungan untuk
menangis diluar kemauan, dan hilangnya respon terhadap humor. Sedangkan gejala
yang dimanifestasikan secara kognitif meliputi sikap menyimpang penderita, baik
terhadap diri, pengalaman, dan masa depannya. Gejala yang dimanifestasikan secara
motivasional meliputi pengalaman yang disadari penderita, yaitu tentang usaha,
dorongan, dan keinginan , sedangkan gejala yang muncul sebagai gangguan fisik
apabila terjadi gangguan saraf otonom dan hipotalamus.

POHON MASALAH

7 | Depresi
2.3 Gejala-Gejala Depresi
Sebelum mengenali gejala depresi, ada baiknya kita mengenal arti dari gejala.
Gejala adalah sekumpulan peristiwa, perilaku atau perasaan yang sering (namun tidak
selalu) muncul pada waktu yang bersamaan. Gejala depresi adalah kumpulan dari
perilaku dan perasaan yang secara spesifik dapat dikelompokkan sebagai depresi.
Individu yang terkena depresi pada umumnya menunjukkan gejala fisik, gejala psikis,
dan gejala sosial yang khas, seperti murung, sedih berkepanjangan, sensitif, mudah
marah dan tersinggung, hilang semangat kerja, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya
konsentrasi, dan menurunnya daya tahan, seperti berikut ini.

1. Gejala Fisik

a. Kelakuan yang aneh pada waktu tidurGangguan alam perasaan: depresiResiko
mencederai diri Koping maladaptif

b. Kelesuan – apatis – omong kosong

c. Hilangnya nafsu makan

d. Kehilangan nafsu seks

e. Penyakit-penyakit fisik yang ringan

2. Gejala Psikis

8 | Depresi
a. Kehilangan rasa percaya diri Orang yang mengalami depresi cenderung
memandang segala sesuatu dari sisi negatif, termasuk menilai diri sendiri. Mereka
senang sekali membandingkan antara dirinya dengan orang lain. Orang lain dinilai
lebih sukses, pandai, beruntung, kaya, lebih berpendidikan, lebih berpengalaman,
lebih diperhatikan oleh atasan, dan pikiran negatif lainnya.

b. Sensitif Orang yang mengalami depresi senang sekali mengaitkan segala sesuatu
dengan dirinya. Perasaannya sensitif sekali, sehingga sering peristiwa yang netral jadi
dipandang dari sudut pandang yang berbeda oleh mereka, bahkan disalahartikan.
Akibatnya, mereka mudah tersinggung, mudah marah, perasa, curiga akan maksud
orang lain, mudah sedih, murung, lebih suka menyendiri.

c. Merasa diri tidak berguna Perasaan ini muncul karena mereka merasa menjadi
orang yang gagal terutama di bidang atau lingkungan yang mereka kuasai.

d. Perasaan bersalah Mereka memandang suatu kejadian yang menimpa dirinya
sebagai suatu hukuman atau akibat dari kegagalan mereka melaksanakan tanggung
jawab yang seharusnya dikerjakan. Banyak pula yang merasa

dirinya menjadi beban bagi orang lain dan menyalahkan diri mereka atas situasi
tersebut.

e. Perasaan terbebani Banyak orang yang menyalahkan orang lain atas kesusahan
yang dialaminya. Mereka merasa terbeban berat karena merasa terlalu dibebani
tanggung jawab yang berat.

3. Gejala Sosial Masalah depresi yang berawal dari diri sendiri pada akhirnya
mempengaruhi lingkungan dan pekerjaan atau aktivitas rutin lainnya. Lingkungan
tentu akan bereaksi terhadap perilaku orang yang depresi tersebut yang pada
umumnya negatif. Problem sosial yang terjadi biasanya berkisar pada masalah
interaksi dengan rekan kerja, atasan, atau bawahan. Masalah ini tidak hanya berbentuk
konflik, namun masalah lainnya juga seperti perasaan minder, malu, cemas jika
berada di antara kelompok dan merasa tidak nyaman untuk berkomunikasi secara
normal. Mereka merasa tidak mampu untuk bersikap terbuka dan secara aktif
menjalin hubungan dengan lingkungan sekalipun ada kesempatan.

2.4 Ciri-Ciri Kepribadian Penderita Depresi

9 | Depresi
Ada beberapa ciri kepribadian orang-orang tertentu yang mudah terkena depresi bila
dihadapkan pada situasi yang sulit, yaitu:

1. Individu yang sangat perasa dan tidak percaya diri.

2. Merasa diawasi.

3. Cenderung menjadi korban keraguan berat.

4. Cenderung mendramatisir.

5. Jika dihadapkan situasi yang sulit dimana perasaan mereka tak
dipertimbangkan, mereka akan sedih, tidak puas, dan depresi.

6. Kepribadian histeris.

Antara orang yang normal dan orang yang mengalami depresi dapat dibedakan
satu sama lain melalui tingkah laku mereka atau ciri-ciri kepribadiannya. Ciri-ciri
penderita depresi adalah sebagai berikut:

1. Mood dalam keadaan tertekan, berbeban berat, merasa sedih yang
berkepanjangan, dan adanya perasaan kosong atau hampa.

2. Minat untuk melakukan aktivitas menjadi kurang dan tidak ada semangat
dalam melakukan apapun. Padahal biasanya minat beraktivitas sangat tinggi
dan bersemangat.

3. Berat badan bertambah atau menurun sebanyak 5% dari berat badan semula
(normal).

4. Pola tidur berubah. Bisa juga menderita kesulitan tidur atau insomnia,
bahkan sebaliknya yaitu merasa kebanyakan tidur.

5. Kondisi tubuh jadi cepat merasa lelah dan merasa tidak berenergi.

6. Adanya perasaan menjadi orang yang tak berguna dan tak berharga.
Cenderung untuk meremehkan diri sendiri dan putus asa.

7. Sulit berkonsentrasi dan menjadi lamban dalam berpikir.

8. Muncul keinginan untuk bunuh diri.

2.5 Tips-Tips Mencegah Depresi

10 | D e p r e s i
Adapun tips yang disarankan dan juga dianjurkan untuk mencegah terjadinya depresi
antara lain.

1. Terbuka dan jangan suka memendam masalah. Di dunia ini tidak ada orang yang
luput dari masalah. Orang yang tidak mempunyai masalah cenderung tidak mempunyai
pegangan. Sedikit sekali ada orang yang selalu bisa mengatasi masalahnya sendiri, jadi
berbagilah kepada teman dekat.

2. Curhat dan Sharing. Kalau masalah tidak bisa dipecahkan secara sendiri lebih baik
mengajak temam untuk sharing, atau siapa pun orang yang kita percayai. Karena dengan
begitu siapa tahu kita bisa mendapat bantuan solusi untuk memecahkan masalah. Kalaupun
enggak, paling tidak dengan berbagi cerita, perasan jadi lebih enteng dan pikiran tidak stres.
Kalau beginim jadi bisa mikirin solusinya lagi kan.

3. Kerjakan banyak hal. Saat waktu senggang dan masih muda, banyak cara untuk
menghilangkan beban perasaan. Selain olahraga, membaca buku, menonton dan istirahat
adalah pentung artinya dalam hidup.

4. Mencoba yang belum pernah. Bukan berarti coba-coba sesuatu yang mengundang
risiko, akan tetapi menguji nyali diri untuk melakukan tantangan yang dapat men-supprt diri.

5. Banyak cara untuk meraih cita-cita, mewujudkan keyakinan dan harapan asal
dengan sungguh dan pantang menyerah. Cara berserah diri dan sabar adalah pegangan supaya
tidak terpeleset ke jurang kebimbangan.

2.6 Cara Menanggulangi Depresi
1. Obat Antidepresan

Ada beberapa obat antidepresan yaitu: a. Lithium. Lithium adalah obat yang
digunakan untuk mengobati gangguan bipolar. b. MAOIs c. Tricyclics. d. SSRIs

2. CBT

Pendekatan CBT memusatkan perhatian pada proses berpikir klien yang berhubungan
dengan kesulitan emosional dan psikologi klien. Pendekatan ini akan berupaya membantu
klien mengubah pikiran-pikiran atau pernyataan diri negative dan keyakinan-keyakinan

11 | D e p r e s i
pasien yang tidak rasional. Jadi fokus teori ini adalah mengganti cara-cara berfikir yang tidak
logis menjadi logis.

3. Terapi

   Interpersonal Terapi Interpersonal adalah bantuan psikoterapi jangka pendek yang
berfokus kepada hubungan antara orang-orang dengan perkembangan simtom penyakit
kejiwaan.

4. Konseling

kelompok dan dukungan sosial Konseling secara kelompok adalah pelaksanaan
wawancara konseling yang dilakukan antara seorang konselor professional dengan beberapa
pasien sekaligus dalam kelompok kecil

5. Berolahraga

Keadaan mood yang negative seperti depresi, kecemasan, dan kebingungan
disebabkan oleh pikiran dan perasaan yang negative pula. Salah satu cara yang dapat
dilakuakan untuk menghasilkan pikiran dan perasaan positif yang dapat menghalangi
munculnya mood negative adalah dengan berolahraga.

6. Diet (mengatur pola makan)

Simtom depresi dapat diperparah oleh ketidakseimbangan nutrisi di dalam tubuh.
Ketidakseimbangan nutrisi yang dapat menyebabkan depresi semakin parah yaitu:

; Konsumsi kafein secara berkala. 
; Konsumsi sukrosa (gula) 
; Kekurangan biotin, asam folat dan vitamin B, C, kalsium, tembaga, magnesium 
; Kelebihan magnesium
; Ketidakseimbangan asam amino
; Alergi makanan
7. Terapi

Humor Sudah lama professional medis mengakui bahwa pasien yang
mempertahankan sikap mental yang positif dan berbagai tawa, merespons

lebih baik terhadap pengobatan. Respons psiologis dari tertawa termasuk meningkatkan
pernapasan, sirkulasi, sekresi hormone dan enzim pencernaan dan peningkatan tekanan darah.

12 | D e p r e s i
8. Berdoa

Banyak orang mempunyai kecenderungan alami untuk berpaling pada agama dalam
memperoleh kekuatan dan hiburan. Bagi yang percaya, keyakinan yang kuat dan menjadi
anggota aliran agama tertentu serta tujuan yang sama dapat menanggulangi penderitaan dan
depresi. Berdoa merupakan salah satu cara untuk mengatasi depresi. Mengambil waktu untuk
berdoa memberi kesempatan kepada kita menghentikan kegiatan kita dan jalan arus hidup
kita.

9. Hidroterapi dan Hidrotermal

Hidroterapi adalah penggunaan air untuk pengobatan penyakit terapi. Hidrotermal
adalah penggunaan efek temperature air misalnya mandi air panas, sauna, dan lain-lain.
Pengobatan dari hidroterapi berdasarkan efek mekanis dan atau termal dari air. Tubuh
bereaksi pada stimulus panas dan dingin. Saraf mengantarkan rangsangan yang dirasakan
kulit kedalam tubuh, dimana merangsang system imun, memengaruhi hormone stres,
meningkatkan aliran tubuh dan mengurang rasa sakit.

Pada penderita depresi harus kita hadapi dengan sikap serius dan mengerti, selain itu
hendaknya jangan menghibur, memberi harapan palsu, bersikap optimis, dan bergurau karna
akan memperbesar rasa tidak mampu dan rendah diri. Untuk mengatasi dengan cepat,
gunakan obat –obatan penenang, bukan obat anti depresan. (mansjoer, 1999)

2.7 Cara Mengukur Depresi
Menurut sugiyono (2009) variable penelitian merupakan ‘’ suatu atribut atau sifat / nilai dari
orang, objek, atau kegiatan yang memeiliki variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk di pelajari dan di tarik kesimpulanya’’. Dalam penelitian ini terdapat dua variable yang
akan di teliti yaitu :

Variable 1 (x) : Depresi

Variable 2 (y) : Kualitas hidup aspek sosial

Depresi dalam penelitian ini adalah mengukur tingkat depresi dan mengungkap tingkat
depresi yang dia alami individu dengan mengunakan skala BDI (beck Depression Inventory) .
BDI terdiri dari 21 klompok pernyataan, masing-masing mengambarkan manifestasi depresi
yang spesifik dari 4 pernyataan yang mengambarkan tingkat intensitas gejala. Gejala –gejala
depresi dikelompokan dalam empat manifestasi, yaitu :

13 | D e p r e s i
1). Manifestasi Emosional

Manifestasi Emosional dari Depresi yaitu adanya gejala-gejala seperti keadaan sedih,
menangis, mudah tersinggung, adanya perasaan pesimis, tidak puas, dan perasaan bersalah.

2). Manifestasi Kognitif.

Menggambarkan gejala-gejala seperti perasaan gagal, kebencian pada diri sendiri,
adanya perasaan menyalahkan diri sendiri, bimbang, dan adanya penyimpangan citra tubuh.

3). Manifestasi Motifasional

Mengambarkan keinginan untuk bunuh diri, menarikdiri dari lingkungan sosial, tidak
mampu untuk mengambil keputusan, dan kemunduran dalam pekerjaan.

4). Manifestasi Vegetatif Dan Fisik

Menggambarkan danya gangguan tidur, merasa lelah, kehilangan selera makan,
penurunan berat badan, gejala psikosomatis dan kehilangan libido.

(efendi, 2010)Untuk mengukur tingkat depresi ada istilah test dibawah ini.

PETUNJUK : Isi jawaban yang paling sesuai dengan keadaan anda atau apa yang anda
rasakan akhir-akhir ini pada kolom nilai sebelah kanan pertanyaan.

A. Tidak pernah sama sekali beri nilai 0

B. Kadang-kadang beri nilai 1

C. Sering mengalami beri nilai 2

D. Selalu mengalaminya (setiap hari) beri nilai 3

NO PERTANYAAN NILAI

1 Aku merasa sedih dan tidak bahagia

2 Aku merasa kecil dan tak ada harapan masa depan

3 Aku merasa gagal sebagai orang

4 Aku tak dapat menikmati / bosan segala hal

14 | D e p r e s i
5 Aku merasa bersalah

6 Aku merasa pantas dihukum

7 Aku kecewa dan benci terhadap diri sendiri

8 Aku menyalahkan diri untuk semua kejadian buruk

9 Aku ingin bunuh diri jika ada kesempatan

10 Aku menangis atau tak bisa menangis meski ingin

11 Aku merasa terganggu

12 Aku kehilangan minat terhadap orang lain

13 Aku sulit membuat keputusan apapun

14 Penampilanku tidak menarik atau buruk

15 Aku mendapat kesulitan untuk bekerja

16 Aku sulit tidur dan sering terbangun dimalam hari

17 Aku merasa lelah untuk melakukan apapun

18 Aku tidak mempunyai selera makan

19 Aku kehilangan berat badan (2 Kg sampai 6 KG)

Aku khawatir keadaan fisik sehingga sulit memikirkan yang
20 lain

21 Aku kehilangan minat terhadap seks sama sekali

15 | D e p r e s i
J U M LAH

SCORE
0 – 9 Memiliki derajat depresi MINIMAL ( tidak ada depresi)
10 – 16 Memiliki derajat depresi RINGAN
17 – 29 Memiliki derajat depresi SEDANG
30 – 63 Memiliki derajat depresi BERAT
ika nilai anda lebih dari 16 segera hubungi dokter anda untuk mendapatkan terapi
adekuat.

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Depresi adalah gangguan mood (kondisi emosional) berkepanjangan yang mewarnai
seluruh proses mental (berpikir, berperasaan, dan berperilaku) seseorang

dan kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang lain seolah ada penghalang yang
tampak atau timbul tanpa alasan yang jelas. Individu yang terkena depresi pada umumnya
menunjukkan gejala fisik, gejala psikis, dan gejala sosial yang khas. Orang yang mudah

16 | D e p r e s i
sekali mengalami depresi biasanya memiliki beberapa kepribadian tertentu. Penderita depresi
memiliki ciri kepribadian yang berbeda dengan orang normal. Hal ini merupakan pengaruh
pikiran dari orang yang mengalami depresi tersebut terhadap situasi sulit yang sedang
dialaminya.

3.2. Saran
Adapun saran dari kami untuk perkembangan profesi keperawatan sebagai berikut:

1. Sebaiknya perawat dapat memberikan motivasi bagi penderita depresi, baik
depresi ringan bahkan depresi berat, tidak menggunakan kata-kata yang membuat penderita
patah semangat.

2. Perawat diharapkan dapat mengontrol pasien/penderita depresi dari tindakan yang
atau hal-hal yang kecil hingga hal yang besar sekalipun untuk mencegah terjadinya suatu
tindakan fatal diluar dugaan.

3. Komunikasi secara kontinyu dengan penderita depresi, agar penderita tersebut
merasa dihargai, dibutuhkan dan dihibur.

Biografi Tokoh Psikologi Edward Lee Thorndike

Edward Lee Thorndike yang lahir 31 Agustus 1874 Williamsburg, Massachusetts,
adalah seorang psikolog Amerika yang menghabiskan hampir seluruh karirnya di Teachers
College, Columbia University. Masa kanak-kanak dan Pendidikannya adalah sebagai anak
seorang pendeta Metodis di Lowell, Massachusetts. Thorndike lulus dari The Roxbury
Sekolah Latin (1891), di West Roxbury, Massachusetts, Wesleyan University (BS 1895),
Harvard University (MA 1897), dan Columbia University (PhD. 1898). 

Setelah lulus, Thorndike kembali ke minat awal, Educational Psychology. Pada tahun
1898 ia menyelesaikan PhD di Columbia University di bawah pengawasan James McKeen
Cattell, salah satu pendiri psikometri. Pada tahun 1899, setelah satu tahun tidak bahagia, kerja
awal di College for Women dari Case Western Reserve di Cleveland, Ohio, ia menjadi
instruktur psikologi di Teachers College di Columbia University, dimana ia tinggal selama
sisa kariernya, mempelajari manusia belajar, pendidikan, dan mental,pengujian. 

Karyanya pada perilaku binatang dan proses pembelajaran menuju teori connectionism dan
membantu meletakkan dasar ilmiah psikologi pendidikan modern. Dia juga bekerja

17 | D e p r e s i
di industri pemecahan masalah, seperti karyawan ujian dan pengujian..Pada 29 Agustus 1900,
ia menikah Elizabeth Moulton dan mereka punya lima anak. Dia adalah seorang anggota
dewan dari Psychological Corporation, dan menjabat sebagai presiden American
Psychological Association pada tahun 1912. Thorndike pada tahun 1937 menjadi Presiden
kedua Psychometric Society, mengikuti jejak Leon Louis Thurstone yang telah mendirikan
masyarakat dan jurnal Psychometrika tahun sebelumnya. Edward Lee Thorndike meninggal 9
Agustus 1949. 

Diantara Thorndike yang paling terkenal terlibat kontribusi penelitiannya pada kucing
belajar bagaimana melepaskan diri dari kotak-kotak teka-teki dan perumusan terkait hukum
efek. Undang-undang menyatakan bahwa akibat tanggapan yang diikuti oleh konsekuensi
yang memuaskan akan terhubung dengan situasi, dan lebih kemungkinan akan berulang
ketika situasi kemudian dijumpai. Jika tanggapan yang diikuti oleh konsekuensi permusuhan,
asosiasi dengan situasi menjadi lebih lemah. kotak teka-teki Percobaan sebagian didorong
oleh ketidaksukaan Thorndike untuk pernyataan bahwa binatang memanfaatkan kemampuan
luar biasa seperti wawasan dalam memecahkan masalah mereka: "Di pertama-tama, sebagian
besar buku tidak memberi kita psikologi, melainkan pidato binatang. Mereka semua telah
tentang kecerdasan hewan, tidak pernah tentang hewan kebodohan. Dari hewan itu sendiri".

Thorndike dimaksudkan untuk membedakan dengan jelas apakah atau tidak kucing
melarikan diri dari kotak-kotak teka-teki yang menggunakan wawasan. Thorndike's
instrumen dalam menjawab pertanyaan ini sedang belajar terungkap dengan memplot kurva
waktu yang dibutuhkan untuk binatang untuk melarikan diri dari kotak setiap kali itu berada
di dalam kotak. Dia beralasan bahwa jika hewan-hewan itu menunjukkan wawasan, maka
waktu untuk melarikan diri mereka akan tiba-tiba jatuh ke sebuah periode diabaikan, yang
juga akan ditampilkan dalam kurva belajar tiba-tiba drop, sedangkan binatang yang lebih
biasa menggunakan metode trial and error akan menunjukkan kurva bertahap. Menemukan-
Nya adalah menunjukkan bahwa kucing secara konsisten menunjukkan pembelajaran dan
pemahaman secara bertahap. 

Thorndike menafsirkan temuan-temuan dalam hal asosiasi. Ia menegaskan bahwa
hubungan antara kotak dan gerakan kucing digunakan untuk melarikan diri itu diperkuat oleh
masing-masing melarikan diri. Serupa, meskipun ide radikal diambil ulang oleh BF Skinner
dalam perumusan persyaratan instrumental. Analisis asosiatif melanjutkan untuk mencari
sebagian besar dalam perilaku bekerja melalui abad pertengahan, dan sekarang jelas dalam

18 | D e p r e s i
beberapa pekerjaan dalam perilaku modern maupun modern. Thorndike didukung Dewey
fungsionalisme dan menambahkan komponen stimulusrespon dan menamainya koneksionis.
Teorinya menjadi kebutuhan pendidikan selama 50tahun.Thorndike ditetapkan tiga kondisi
yang dapat memaksimalkan pembelajaran :  Hukum efek menyatakan bahwa kemungkinan
terulangnya respon umumnya diatur oleh konsekuensi atau efek pada umumnya dalam bentuk
hadiah atau hukuman.  Hukum kemutakhiran menyatakan bahwa respon yang paling baru
cenderung mengatur kambuhnya.  Hukum latihan menyatakan bahwa asosiasi stimulus-
respon diperkuat melalui pengulangan. 

Thorndike juga mempelajari bahasa dan dipengaruhi bantu pekerjaan International Auxiliary
Language Association, yang dikembangkan Interlingua. Thorndike meletakkan keahlian
pengujian bekerja untuk Angkatan Darat Amerika Serikat selama Perang Dunia I. Dia
menciptakan baik tes Alpha dan Beta, nenek moyang untuk hari ini ASVAB, sebuah ujian
pilihan ganda, yang dikelola oleh Amerika Serikat Pengolahan Komando Militer Entrance,
digunakan untuk menentukan kualifikasi untuk enlistment di Amerika Serikat angkatan
bersenjata. Untuk klasifikasi tujuan, prajurit diberikan tes Alpha. Dengan kesadaran bahwa
beberapa tentara tidak bisa membaca cukup baik untuk menyelesaikan tes Alpha, tes Beta
(terdiri dari gambar dan diagram) telah diberikan. Kontribusi semacam itu berlabuh bidang
psikologi dan mendorong perkembangan kemudian psikologi pendidikan. 

Thorndike percaya bahwa "Instruksi harus mengejar ditetapkan, tujuan yang berguna
secara sosial." Thorndike belajar "Adult Learning", dan percaya bahwa kemampuan untuk
belajar tidak menurun sampai umur 35, dan hanya kemudian pada tingkat 1 persen per tahun,
akan melawan pikiran dari waktu yang "Anda tidak bisa mengajari anjing tua trik baru." Itu
kemudian ditampilkan [who?] Bahwa kecepatan belajar, bukan kuasa menolaknya dengan
usia belajar. Thorndike juga menyatakan hukum efek, yang mengatakan perilaku yang diikuti
oleh konsekuensi yang baik cenderung akan diulang kembali di masa depan.Thorndike adalah
salah satu pelopor pertama pembelajaran aktif, mengusulkan sebuah teori yang membiarkan
anak-anak belajar sendiri, daripada menerima instruksi dari guru. Thorndike Teori Belajar: 

Bentuk yang paling dasar dari belajar adalah coba-coba belajar.  Belajar adalah tidak
incremental berwawasan.  Belajar tidak ditengahi oleh ide-ide.  Semua mamalia belajar
dengan cara yang sama.  Hukum kesiapan: Interferens dengan tujuan perilaku diarahkan
menyebabkan frustrasi dan menyebabkan seseorang untuk melakukan sesuatu yang mereka
tidak ingin lakukan adalah juga frustasi.  a) Ketika seseorang sudah siap untuk melakukan

19 | D e p r e s i
beberapa tindakan, untuk melakukannya adalah memuaskan.  b) Ketika seseorang sudah
siap untuk melakukan beberapa tindakan, bukan untuk melakukannya adalah
menjengkelkan.  c) Ketika seseorang tidak siap untuk melakukan beberapa tindakan dan
dipaksa untuk melakukannya, itu menjengkelkan.  Hukum Latihan: Kita belajar dengan
melakukan. Kita lupa dengan tidak melakukan, walaupun untuk tingkat yang kecil saja.  a)
Sambungan antara stimulus dan respon diperkuat sebagaimana mereka digunakan. (Hukum
digunakan) 

b) Sambungan antara stimulus dan respon yang lemah karena mereka tidak
digunakan. (Hukum tidak digunakan)  Hukum efek: Jika respon dalam sambungan ini
diikuti oleh keadaan yang memuaskan, kekuatan sambungan jauh meningkat sedangkan jika
diikuti oleh sebuah keadaan yang mengganggu, maka kekuatan sambungan marginal
menurun.  Multiple Responses: Seorang pelajar akan terus mencoba beberapa tanggapan
untuk memecahkan masalah sebelum benar-benar terpecahkan.  Menetapkan atau Sikap:
Apa yang sudah dimiliki pelajar, seperti pengalaman belajar sebelumnya, keadaan sekarang
pelajar, dll, sementara itu mulai mempelajari tugas baru.  Hal melebihi of Elements:
Berbagai tanggapan terhadap lingkungan yang sama akan dipicu oleh persepsi yang berbeda
dari lingkungan yang bertindak sebagai rangsangan untuk tanggapan. Persepsi yang berbeda
akan tunduk pada hal melebihi dari berbagai elemen untuk perceivers berbeda. 
menggunakan teknik-teknik solusi analog digunakan untuk memecahkan masalah. 
Asosiatif Shifting: Biarkan rangsangan S dipasangkan dengan respon R. Sekarang, jika Q
stimulus disajikan bersamaan dengan S rangsangan berulang-ulang, maka stimulus Q akan
mendapatkan respon dipasangkan dengan R. 

ABSTRAK

1; Salah satu manfaat terapi kognitif dan senam otak pada lansia adalah menurunkan tingkat
depresi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh terapi kognitif dan senam otak
terhadap tingkat depresi lansia di Panti Wredha. Metode penelitian quasi experiment,
desain pre-post test design with control group. Sampel penelitian secara purposive
sampling berjumlah 56 responden, terdiri 28 responden kelompok intervensi dan 28
responden kelompok kontrol. Instrumen penelitian untuk mengetahui tingkat depresi
menggunakan kuesioner Geriatric Depression Scale yang berjumlah 15 pertanyaan. Hasil
penelitian didapatkan tingkat depresi menurun lebih bermakna pada kelompok intervensi
yang mendapatkan terapi kognitif dan senam otak dibanding kelompok kontrol yang
hanya mendapat terapi kognitif yaitu selisih 1,18 poin (p< 0,005, α= 0,05 ). Rekomendasi

20 | D e p r e s i
terapi kognitif dan senam latih otak menjadi bagian program kerja lansia di puskesmas
dan panti. (surya prasetya, 2010)
2; Berdasarkan teori kognitif, sikap pesimis dan depresi disebabkan oleh adanya pikiran-
pikiran yang negatif, yaitu konsep negatif tentang masa depan, dirinya, dan dunia luar.
Seseorang yang depresi dan mempunyai sikap yang pesimis, menginterpretasikan suatu
kejadian dengan cara yang negatif, yaitu memusatkan perhatiannya pada aspek-aspek
yang negatif dari kejadian tersebut. Selain ha1 tersebut ia juga tidak mempunyai harapan
yang baik tentang masa depannya. Seseorang tersebut dalam menjelaskan suatu peristiwa
cenderung pesimis, yaitu melihat suatu peristiwa yang tidak mengenakkan sebagai
sesuatu ha1 yang permanen, universal dan internal, sedangkan peristiwa yang
menyenangkan dilihat sebagai euatu ha1 yang temporer, spesifik, dan eksternal. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pelatihan berpikir positif untuk
menangani sikap yang pesimis dan gangguan depresi. Subjek penelitian adalah
mahasiswa STIE-YKPN Yogyakarta sebanyak 33 orang, 17 orang masuk dalam
kelompok eksperimen, 16 orang lainnya masuk dalam kelompok kontrol yang juga
sebagai kelompok waiting l s . it Alat penelitian yang digunakan adalah Egdk DePre,s
sion I nventow ( B D I ) dan Skala Optimisme Seligman yang telah diadaptasi ke dalam
bahasa Indonesia. Rancangan 6 C,ontrol penelitian yang digunakan adalah -P SrouP
D9sign, dengan analisis data menggunakan analisis non parametrik, yaitu dengan teknik
Wilcoxon T-test. (lestari, 1994)
3; Diabetes melitus adalah penyakit kronik, menyebabkan perubahan dalam hidup dan
menimbulkan berbagai macam komplikasi sehingga membuat penderita Diabetes Melitus
manunjukan reaksi psikologis yang negatif diantaranya kecemasan yang meningkat dan
depresi. Untuk mengatasi itu penderita Diabetes Melitus membutuhkan dukungan sosial.
Oleh karena itu dilakukan penelitian selama bulan Februari-Maret 2009. Tujuan
penelitian ini adalah untuk membuktikan adanya hubungan antara dukungan sosial
dengan derajat depresi pada penderita diabetes melitus dengan komplikasi. Jenis
penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional, teknik
sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Besar sampel sebanyak 30 orang.
Instrumen penelitian berupa kuesioner Skala Inventori L-MMPI, Skala Dukungan Sosial,
Skala BDI (Beck Depression Inventory). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji
korelasi product moment dari Pearson melalui program SPSS 15 for Windows.
Berdasarkan analisis data dengan uji korelasi product moment dari Pearson dengan
derajat kemaknaan α = 0,01 dapat diketahui bahwa ada hubungan yang bermakna antara
dukungan sosial dengan derajat depresi dengan nilai koefisien korelasi r = -0,465. Dengan
demikian hipotesis diterima. Simpulan yang didapat dalam penelitian ini adalah ada
hubungan antara dukungan sosial dengan derajat depresi pada penderita diabetes melitus
dengan komplikasi yang signifikan. (sholichah, 2009)

21 | D e p r e s i
4; Dampak dari meningkatnya jumlah penduduk lansia di Indonesia adalah semakin
meningkat pula jumlah lansia yang tinggal di panti wreda. Perubahan kehidupan yang
dialami, membuat para lansia rentan mengalami depresi, terutama bagi lansia yang
tinggal di panti wredaDukungan sosial yang berasal dari keluarga bagi lansia yang tinggal
di panti wreda sangat penting, ada atau tidak adanya dukungan sosial dipercaya dapat
mempengaruhi depresi. Penelitian berusaha mengungkapkan hubungan antara dukungan
sosial yang bersumber dari keluarga, dengan depresi pada lanjut usia. Subjek penelitian
adalah 35 kelayan Panti Wreda Wening Wardoyo Jawa Tengah, berusia 60 tahun ke atas,
dengan masa tinggal di panti tersebut setidaknya selama satu tahun, sehat jasmani dan
dapat berkomunikasi dengan baik. Metode pengumpulan data menggunakan skala, yaitu
skala depresi dengan 34 aitem sahih (α = 0,928 ) dan 36 aitem sahih (α = 0,972) pada
skala dukungan sosial. Berdasarkan analisis data dengan regresi sederhana, dihasilkan p =
0,003 (p < 0,05) dengan rxy = -0,487 berarti terdapat hubungan negatif yang signifikan
antara dukungan sosial dengan depresi. Efektifitas regresi sebesar 0,237 artinya depresi
23,7% ditentukan oleh dukungan sosial. Sedangkan 76,3% sisanya dijelaskan oleh faktor-
faktor lain yang tidak diungkap dalam penelitian. (Indrawati, 2011)
5; Depresi merupakan salah satu gangguan kesehatan mental yang sering ditemui pada
lanjut usia (lansia). Depresi pada lansia berbeda dengan depresi pada pasien yang lebih
muda karena gejala-gejala depresi sering berbaur dengan keluhan somatik. Depresi pada
lansia dihubungkan dengan kualitas hidup yang jelek, kesulitan dalam fungsi sosial dan
fisik, kepatuhan yang jelek terhadap terapi, dan meningkatnya morbiditas dan mortalitas
akibat bunuh diri dan penyebab lainnya. Prevalensi depresi pada lansia di masyarakat
menurut penelitian-penelitian pada komunitas di seluruh dunia adalah berkisar dari 3-
15%. Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan metode cross sectional terhadap 50
orang lansia di Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Medan Baru yang berusia di atas 65
tahun dan tidak memiliki gangguan kognitif. Metode pengambilan sampel dilakukan
dengan cara consecutive sampling. Instrumen yang digunakan ialah Geriatric Depression
Scale 30-item. Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran depresi pada lansia di
masyarakat berupa proporsi depresi pada lansia serta gambaran depresi berdasarkan jenis
kelamin dan usia lansia. Dari penelitian diperoleh 26% responden mengalami lansia. Tiga
puluh tiga persen lansia berjenis kelamin laki-laki mengalami depresi, lebih banyak
daripada lansia perempuan (20,7%). Depresi pada lansia old-old (27,8%) sedikit lebih
banyak pada depresi pada lansia young-old (25%). Prevalensi depresi pada lansia di
masyarakat, khususnya di Kelurahan Padang Bulan cukup tinggi, melebihi proporsi rata-
rata. Perlu dilakukan analisis lebih mendalam mengenai penyebab tingginya prevalensi
depresi pada lansia sebab depresi pada lansia merupakan hal yang memperburuk kualitas
hidup lansia. (Saragih, 2011)

22 | D e p r e s i
DAFTAR PUSTAKA

ninda. (2011). apa yang dimaksut dengan depresi. depresi, http://ninda-
psikologi.blogspot.co.id/2011/10/depresi.html.

mansjoer, a. (1999). kapita selekta kedokteran. jakarta: Media Aesculapius.

Lumongga Namora. 2009. Depresi Tinjauan Psikologis. Jakarta: Kencana Pranada

Indrawati, E. S. (2011). HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN
DEPRESI PADA LANJUT USIA YANG TINGGAL DI PANTI WREDA WENING
WARDOYO JAWA TENGAH. HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL
DENGAN DEPRESI PADA LANJUT USIA YANG TINGGAL DI PANTI WREDA
WENING WARDOYO JAWA TENGAH,
http://www.ejournal.undip.ac.id/index.php/psikologi/article/view/2910.

Gunarsa, Singgih D. & Gunarsa, Ny. Y Singgih. 1995. Psikologi Keperawatan. Jakarta: PT.
BPK Gunung Mulia ( hal 89)

sholichah, d. r. (2009). Hubungan antara dukungan sosial dengan derajat depresi pada
penderita diabetes melitus dengan komplikasi. depresi,
https://digilib.uns.ac.id/dokumen/detail/14833.

23 | D e p r e s i
Saragih, E. C. (2011). Gambaran Depresi pada Lanjut Usia. Gambaran Depresi
pada Lanjut Usia, http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/22288.

Maramis. 2012. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press (hal
94, 131,339, 385)

Latipah, Eva. 2012. Pengantar Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Pedagogia (hal 191)

widyarsono, s. (2013). hubungan antara depresi dengan kualitas hidup aspek
sosial pada orang dengan HIV/Aids (ODHA).
http://repository.upi.edu/3220/6/S_PSI_0906860_CHAPTER3.pdf.

Sunaryo. 2004. Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta: EGC (hal 70, 149)

lestari, a. (1994). pelatihan berpikir positif untuk menangani sikap pesimis dan gangguan
depresi. pelatihan berpikir positif untuk menangani sikap pesimis dan gangguan
depresi, http://etd.repository.ugm.ac.id/index.php?
mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ=html&buku_id=16418.

efendi, r. (2010). mengukur depresi. mengukur depresi,
https://rusmanefendi.wordpress.com/2010/07/28/mengukur-depresi/.

surya prasetya, a. (2010). penurunan tingkat depresi lansia dengan terapi kognitif senam
latihan otak. jurnal keperawatan indonesi,
http://www.jki.ui.ac.id/index.php/jki/article/view/230.

Sadock, Benjamin J.. 2010. Buku Ajar Psikiatri Klinis. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC

http://tokoh-ilmuwan-penemu.blogspot.com/2010/03/tokoh-psikologi-edward-
leethorndike.html.

24 | D e p r e s i
sani ibrahim, a. (1997). Depresi aku ingin mati. jakarta: Dua As-As.

marianne. (2011). depresi dan penangananya.
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/28312.

25 | D e p r e s i