 OTONOMI DAERAH

Perbedaan utama dan mendasar dari otonomi khusus dan otonomi biasa
terletak pada letak kewenangan pemerintahannya dimana terdapat
beberapa ketentuan yang sangat berbeda antara otonomi biasa dan
otonomi khusus sesuai dengan keistimewaan daerahnya, hal ini didasari
karena otonomi khusus menitikberatkan pemberian kewenangan khusus
demi aspirasi dan hak-hak masyarakat setempat sedangkan otonomi
biasa lebih berlaku umum. Di bawah ini akan terlihat perbedaan mendasar
antara kewenangan – kewenangan yang dimiliki pemerintahan daerah
terhadap otonomi biasa yang dimiliki daerahnya, dengan pemerintah
daerah terhadap otonomi khusus yang dimiliki daerahnya :

Kewenangan Pemerintah Daerah Otonomi Biasa
Penyelenggaraan urusan pemerintahan dibagi berdasarkan kriteria
eksternalitas, akuntabilitas, dan efisiensi dengan memperhatikan
keserasian hubungan antar susunan pemerintahan. Dalam
menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan
daerah, pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk
mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas
otonomi dan tugas pembantuan. Pemerintahan daerah dalam
menyelenggarakan urusan pemerintahan memiliki hubungan dengan
pemerintah pusat dan dengan pemerintahan daerah lainnya. Hubungan
tersebut meliputi hubungan wewenang, keuangan, pelayanan umum,
pemanfaatan sumber daya alam, dan sumber daya lainnya. Hubungan
keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam, dan
sumber daya lainnya dilaksanakan secara adil dan selaras. Hubungan
wewenang, keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam
dan sumber daya lainnya menimbulkan hubungan administrasi dan
kewilayahan antarsusunan pemerintahan.

Pemerintah Daerah juga diberikan hak untuk mendapatkan sumber
keuangan yang antara lain berupa : kepastian tersedianya pendanaan dari
Pemerintah sesuai dengan urusan pemerintah yang diserahkan;
kewenangan memungut dan mendayagunakan pajak dan retribusi daerah
dan hak untuk mendapatkan bagi hasil dari sumber-sumber daya nasional
yang berada di daerah dan dana perimbangan lainnya; hak untuk
mengelola kekayaan Daerah dan mendapatkan sumber-sumber
pendapatan lain yang sah serta sumber-sumber pembiayaan. Dengan
pengaturan tersebut, dalam hal ini pada dasarnya Pemerintah
menerapkan prinsip uang mengikuti fungsi. Dalam rangka meningkatkan
kesejahteraan rakyat, daerah dapat mengadakan kerja sama dengan
daerah lain yang didasarkan pada pertimbangan efisiensi dan efektifitas

Kerja sama tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk badan kerjasama antar daerah yang diatur dengan keputusan bersama. kelurahan dan gampong. mengusulkan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur. Aceh pun memiliki pengadilan sendiri yaitu pengadilan Syari’at Islam yang dilaksanakan oleh sebuah Mahkamah Syar’iyah. Kemudian rencana persetujuan internasional yang berkaitan langsung dengan pemerintahan Aceh yang dibuat oleh pemerintah pusat dilakukan dengan konsultasi dan pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. sinergi dan saling menguntungkan. daerah dapat bekerja sama dengan pihak ketiga. Pemerintah Aceh pun dapat berpartisipasi secara langsung dalam kegiatan seni. Ada beberapa kekhususan kewenangan yang terdapat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yaitu antara lain pembagin daerah yang terdiri dari kabupaten/kota. kecamatan. yang dipimpin oleh seorang Gubernur. Dalam penyediaan pelayanan publik. Dalam naskah kerja sama tersebut dicantumkan frasa pemerintah Aceh sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. serta calon walikota dan wakil walikota di Aceh. Untuk rencana pembentukan undang- undang oleh Dewan Perwakilan Rakyat yang berkaitan langsung dengan Pemerintahan Aceh dilakukan dengan konsultasi dan pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. budaya dan olahraga internasional. yang terdiri dari Mahkamah Syar’iah Aceh sebagai pengadilan . Kewenangan – kewenangan sebagaimana dijelaskan diatas ini berlaku umum dengan daerah lainnya. Kewenangan Khusus Pemerintah Daerah Otonomi Khusus  Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 (UUPA) menegaskan bahwa Aceh adalah daerah provinsi yang merupakan kesatuan masyarakat hukum yang bersifat istimewa dan diberi kewenangan khusus untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pemerintah Aceh juga dapat mengadakan kerja sama dengan lembaga atau badan di luar negeri kecuali yang menjadi kewenangan Pemerintah.pelayanan publik. calom bupati dan wakil bupati. Kemudian penduduk Aceh dapat membetuk partai politik lokal yang memiliki hak untuk mengikuti pemilu guna memilih anggota DPRA dan DPRK. mukim.

mengadili.tingkat banding dan Mahkamah Syar’iah berwenang memeriksa. Tidak hanya itu. memutus dan menyelesaikan perkara yang meliputi bidang Ahwal al-syakhisyah (hukum keluarga). . muamalah (hukum perdata). dan jinayah (hukum pidana) yang didasarkan atas syari’at Islam dengan hukum acara yang ditetapkan berdasarkan Qanun. lambang dan hymne daerah. Aceh juga berhak untuk memiliki bendera.

TUGAS MAKALAH : HUKUM TATA NEGARA (PERBEDAAN BENTUK PEMERINTAHAN DAERAH OTONOMI KHUSUS DENGAN DAERAH YANG TIDAK KHUSUS) NAMA : AVIZAR HIDAYAT STAMBUK : D 101 13 065 RUANG : BT 1 (A) .