You are on page 1of 17

WEB OF CAUTION

ASUHAN KEPERAWATAN PENYAKIT EFUSI PLEURA

Oleh :

KELOMPOK IV

PROGRAM STUDI S I KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

BAB I

atau dapat berupa darah atau pus (Baughman C Diane. tumor. (1997) ada 3 jenis cairan yang terbentuk. penyakit kolagen. yaitu cairan pleura transudat. Egc. Efusi pleural adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara permukaan visceral dan parietal. sindroma meig. . tuberkulosis. proses penyakit primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. KONSEP PENYAKIT EFUSI PLEURA A. B. eksudat dan hemoragis 1. infark paru. pneumonia dan sebagainya. trauma. ifark paru. 2000). Efusi pleural adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleural. Definisi Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan dari dalam kavum pleura diantara pleura parietalis dan pleura viseralis dapat berupa cairan transudat atau cairan eksudat ( Pedoman Diagnosis danTerapi / UPF ilmu penyakit paru. 2002). 2. Transudat dapat disebabkan oleh kegagalan jantung kongestif (gagal jantung kiri). radiasi. proses penyakit primer jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. Efusi hemoragis dapat disebabkan oleh adanya tumor. sindroma nefrotik. syndroma vena cava superior. Eksudat disebabkan oleh infeksi. Efusi dapat berupa cairan jernih. ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi (Smeltzer C Suzanne. 1994. 111). asites (oleh karena sirosis kepatis). eksudat. yang mungkin merupakan transudat. TB. tumor. Etiologi Berdasarkan teori dari Guyton dan Hall . Effusi pleura adalah penimbunan cairan pada rongga pleura (Price & Wilson 2005). Secara normal. 3.

dalam keadaan duduk permukaan cairan membentuk garis melengkung (garis Ellis Damoiseu). pada perkusi didapati daerah pekak. batuk. 3. Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan. Menurut Sarwono Waspadji. (2000). Efusi yang unilateral tidak mempunyai kaitan yang spesifik dengan penyakit penyebabnya akan tetapi effusi yang bilateral ditemukan pada penyakit-penyakit dibawah ini :Kegagalan jantung kongestif. Kadang beberapa penderita tidak menunjukkan gejala sama sekali. 2. subfebril (tuberkulosis). tumor dan tuberkolosis. panas tinggi (kokus). diantaranya: 1. menggigil. fremitus melemah (raba dan vocal). lupus eritematosus systemic. Tanda dan Gejala Tanda penyakit efusi pleura menurut Sarwono Waspadji. asites. B. sindroma nefrotik. Gejala lainnya yang mungkin ditemukan: a) Batuk b) Pernafasan yang cepat c) Demam d) Cegukan . dan nyeri dada pleuritis (pneumonia). Bagian yang sakit akan kurang bergerak dalam pernapasan. effusi dibagi menjadi unilateral dan bilateral. infark paru. Bila cairan banyak. karena cairan akan berpindah tempat. (2000) Gejala yang paling sering ditemukan (tanpa menghiraukan jenis cairan yang terkumpul ataupun penyebabnya) adalah sesak nafas dan nyeri dada (biasanya bersifat tajam dan semakin memburuk jika penderita batuk atau bernafas dalam). Berdasarkan lokasi cairan yang terbentuk. penderita akan sesak napas. setelah cairan cukup banyak rasa sakit hilang. banyak keringat. Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena pergesekan. Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam.

bertambahnya tekanan hidrostatis akibat kegagalan jantung dan tekanan negatif intra pleura apabila terjadi atelektasis paru (Alsagaf H. Patofisiologi Dalam keadaan normal hanya terdapat 10-20 ml cairan di dalam rongga pleura. Bila cairan tertimbun secara perlahan-lahan maka jumlah cairan yang cukup besar mungkin akan terkumpul dengan sedikit gangguan fisik yang nyata. . Akumulasi cairan pleura dapat terjadi apabila tekanan osmotik koloid menurun misalnya pada penderita hipoalbuminemia dan bertambahnya permeabilitas kapiler akibat ada proses keradangan atau neoplasma. 1995). karena adanya tekanan hidrostatis pleura parietalis sebesar 9 cm H2O. Jumlah cairan di rongga pleura tetap. Kemungkinan penyebab efusi antara lain (1) penghambatan drainase limfatik dari rongga pleura. (2) gagal jantung yang menyebabkan tekanan kapiler paru dan tekanan perifer menjadi sangat tinggi sehingga menimbulkan transudasi cairan yang berlebihan ke dalam rongga pleura (3) sangat menurunnya tekanan osmotik kolora plasma. pada akhirnya akan menyebabkan gagal nafas. 623-624). Efusi pleura berarti terjadi pengumpulan sejumlah besar cairan bebas dalam kavum pleura. Efusi pleura akan menghambat fungsi paru dengan membatasi pengembangannya. Kondisi efusi pleura yang tidak ditangani. yang memecahkan membran kapiler dan memungkinkan pengaliran protein plasma dan cairan ke dalam rongga secara cepat (Guyton dan Hall . Egc. Gagal nafas didefinisikan sebagai kegagalan pernafasan bila tekanan partial Oksigen (Pa O2)≤ 60 mmHg atau tekanan partial Karbondioksida arteri (Pa Co2) ≥ 50 mmHg melalui pemeriksaan analisa gas darah.C. Derajat gangguan fungsi dan kelemahan bergantung pada ukuran dan cepatnya perkembangan penyakit. 1997. Mukti A. jadi juga memungkinkan transudasi cairan yang berlebihan (4) infeksi atau setiap penyebab peradangan apapun pada permukaan pleura dari rongga pleura.

Tuberkulosis Kerusakan Pembesaran Bendungan pada Pneumonia nefron tumor dapat vena & kapiler Bakteri pyrogenik menyumbat pulmonal Kerusakan virus saluran getah nefron Pengeluaran bening Tekanan hidrostatik vena & endrogen dan Peradangan Pembesaran tumor kapiler Partikel besar mudah keluar pirogen dapat menyumbat (protein) Chemiocal respon Cairan terdorong keluar kapiler aliran protein pada Sub febris — Febris pluera hipoalbumin Bradikinin. Sarwono Waspadji. Port de’ entry untuk Pengembangan paru Aktivitas norepineprin perut. 623-624). anoreksia. 1997. Egc. Kelemahan dan kelelahan serofinin mikro organisme bertambah sesak bila menurun makan Me aktivitas saraf Merangsang ujung saraf MK : Intoleransi aktivitas MK: Resiko terjadi simpatis –saraf pusat infeksi Asupan nutrisi kurang Memicu RAS. prostagladin Demam. Price & Wilson 2005. cerotinin. suhu>37. Ketidak efektifan pola Pe  O2 nafas . Egc. Mukti A. aktivitas hipotalamus MK : gangguan organ tubuh pemenuhan nutrisi Obstruksi jalan napas Korteks cerebri akibat produksi MK : bersihan jalan napas REM mucus belebih tidak efektif Persepsi nyeri MK: gangguan rasa MK : gangguan istirahat nyaman nyeri tidur Sumber : Alsagaf H. 1997. Web Of Caoution Efusi Pleura Infeksi neoplasma Gagal Jantung Kongestif gagal ginjal Fungsi hepar Plueritis. Guyton dan Hall . 2000. NANDA.8˚C Akumulasi cairan & Tekanan koloid osmotic Permeabilitas membrane protein di rongga kapiler pulmonal pluera pluera MK :hipertermi Cairan masuk kerongga Cairan berpindah keluar pleura dari dinding torak & kapiler paru Eksudat EFUSI PLUERA Transudat Tekanan intrapleura sesak Mendesak diafragma Perubahan tekanan dekompresi Kompensasi tubuh untuk Kontraksi otot-oto dalam & diluar paru memenuhi kebutuhan 02 pernapasan Mendesak gaster tidak tercapai MK: Pola Napas tidak Penurunan otot-otot dengan me frekuensi Penggunaan ernergi efektif bantu pernapasan Pengeluaran zar Perasaan penuh pada respirasi untuk pernafasan vasoaktif (bradikinin. sel getah bening histomin. mual. 1995. 2015-2017 (Guyton dan Hall .

Suara perkusi redup sampai peka tegantung jumlah cairannya. kurang jelas di punggung. Pemeriksaan Fisik Deviasi trakhea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan cairan pleura yang signifikan mungkin akan ditemukan. ruang antar iga melebar. Pendorongan mediastinum ke arah hemithorax kontra lateral yang diketahui dari posisi trakhea dan ictus kordis. pada perkusi didapati daerah pekak. Fremitus tokal menurun terutama untuk effusi pleura yang jumlah cairannya > 250 cc. pada auskultasi daerah ini didapati vesikuler melemah dengan ronki. Bagian yang sakit akan kurang bergerak dalam pernapasan. mungkin saja akan ditemukan tanda-tanda auskultasi dari atelektasis kompresi di sekitar batas atas cairan. yaitu daerah pekak karena cairan mendorong mediastinum kesisi lain. Disamping itu pada palpasi juga ditemukan pergerakan dinding dada yang tertinggal pada dada yang sakit. fremitus melemah (raba dan vocal). Didapati segitiga Garland. Garis ini paling jelas di bagian depan dada. Segitiga Grocco-Rochfusz. dan dibaliknya ada kompresi atelektasis dari parenkian paru. pergerakan pernafasan menurun. Bila cairannya tidak mengisi penuh rongga pleura. yaitu daerah yang pada perkusi redup timpani dibagian atas garis Ellis Domiseu. Pada permulaan dan akhir penyakit terdengar krepitasi pleura. iga mendatar. karena cairan akan berpindah tempat. RR cenderung meningkat dan Px biasanya dyspneu. Pada posisi duduk cairan makin ke atas makin tipis. Pemeriksaan fisik per sistem: 1) Sistem Respirasi Inspeksi pada pasien efusi pleura bentuk hemithorax yang sakit mencembung. dalam keadaan duduk permukaan cairan membentuk garis melengkung (garis Ellis Damoiseu). Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan. Auskultasi suara nafas menurun sampai menghilang. Ditambah lagi dengan tanda i – e artinya bila penderita . maka akan terdapat batas atas cairan berupa garis lengkung dengan ujung lateral atas ke medical penderita dalam posisi duduk.D. Garis ini disebut garis Ellis-Damoisseaux.

adanya massa padat atau cairan akan menimbulkan suara pekak (hepar. normal berada pada ICS – 5 pada linea medio claviculaus kiri selebar 1 cm. Mukty Abdol.79) 2) Sistem Cardiovasculer Pada inspeksi perlu diperhatikan letak ictus cordis. apakah abdomen membuncit atau datar. Ida Bagus. diminta mengucapkan kata-kata i maka akan terdengar suara e sengau. turgor kulit perut untuk mengetahui derajat hidrasi pasien. asites. Auskultasi untuk menentukan suara jantung I dan II tunggal atau gallop dan adakah bunyi jantung III yang merupakan gejala payah jantung serta adakah murmur yang menunjukkan adanya peningkatan arus turbulensi darah. 1994. Pada palpasi perlu juga diperhatikan. penciuman. yang disebut egofoni (Alsagaf H. Perkusi untuk menentukan batas jantung dimana daerah jantung terdengar pekak. Adakah composmentis atau somnolen atau comma. Hal ini bertujuan untuk menentukan adakah pembesaran jantung atau ventrikel kiri. tepi perut menonjol atau tidak. penglihatan. perabaan dan pengecapan. Widjaya Adjis. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran jantung. 3) Sistem Pencernaan Pada inspeksi perlu diperhatikan. 5) Sistem Muskuloskeletal . umbilicus menonjol atau tidak. perlu juga memeriksa adanya thrill yaitu getaran ictus cordis. 4) Sistem Neurologis Pada inspeksi tingkat kesadaran perlu dikaji Disamping juga diperlukan pemeriksaan GCS. adakah massa (tumor. Palpasi untuk menghitung frekuensi jantung (health rate) dan harus diperhatikan kedalaman dan teratur tidaknya denyut jantung. Perkusi abdomen normal tympanik. juga apakah lien teraba. vesika urinarta. selain itu juga perlu di inspeksi ada tidaknya benjolan-benjolan atau massa. dan bagaimana dengan refleks fisiologisnya. refleks patologis. adakah nyeri tekan abdomen. apakah hepar teraba. Selain itu fungsi-fungsi sensoris juga perlu dikaji seperti pendengaran. feces). Auskultasi untuk mendengarkan suara peristaltik usus dimana nilai normalnya 5-35 kali permenit. tumor).

Pada palpasi perlu diperiksa mengenai kehangatan kulit (dingin. dengan permukaan daerah lateral lebih tinggi daripada bagian medial. evaluasi pengobatan. palpasi pada kedua ekstremetas untuk mengetahui tingkat perfusi perifer serta dengan pemerikasaan capillary refil time. hangat. pada Px dengan effusi biasanya akan tampak cyanosis akibat adanya kegagalan sistem transport O2. E. 6) Sistem Integumen Inspeksi mengenai keadaan umum kulit higiene. pasti terdapat udara dalam rongga tersebut yang dapat berasal dari luar atau dari dalam paru-paru sendiri. Pada inspeksi perlu diperhatikan adakah edema peritibial. mendeteksi kekambuhan dan CT planing radiasi. mediatinum dan pembuluh darah besar  mendeteksi adanya efusi pleura Disamping diagnosa kanker paru CT Scan juga dapat digunakan untuk menuntun tindakan trans thoracal needle aspiration (TTNA). Kadang-kadang sulit membedakan antara bayangan cairan bebas dalam pleura dengan adhesi karena radang (pleuritis). bronkus. Dengan inspeksi dan palpasi dilakukan pemeriksaan kekuatan otot kemudian dibandingkan antara kiri dan kanan. Disini perlu pemeriksaan foto dada dengan posisi lateral dekubitus. demam). Bila permukaannya horisontal dari lateral ke medial. . Pemeriksaan Diagnostik 1) Foto Thorax Permukaan cairan yang terdapat dalam rongga pleura akan membentuk bayangan seperti kurva. warna ada tidaknya lesi pada kulit. 2) CT – SCAN Pada kasus kanker paru Ct Scan bermanfaat untuk mendeteksi adanya tumor paru juga sekaligus digunakan dalam penentuan staging klinik yang meliputi :  menentukan adanya tumor dan ukurannya  mendeteksi adanya invasi tumor ke dinding thorax. Kemudian texture kulit (halus-lunak-kasar) serta turgor kulit untuk mengetahui derajat hidrasi seseorang.

6 > 0. 5) Pemeriksaan Laboratorium Dalam pemeriksaan cairan pleura terdapat beberapa pemeriksaan antara lain : a. dan penyakit pleural pada tuberkulosis kronik tahap lanjut. 787).6 Kadar LDH dalam serum Berat jenis cairan effusi < 1.5 > 0. paningkatan dead space.016 > 1. secara biokimia diperiksakan juga cairan pleura : . Kadar amilase. Pemeriksaan Biokimia Secara biokimia effusi pleura terbagi atas transudat dan eksudat yang perbedaannya dapat dilihat pada tabel berikut : Transudat Eksudat Kadar protein dalam effusi 9/dl <3 >3 Kadar protein dalam effusi < 0. 1990. Kadar pH dan glukosa. .3) Kultur sputum : dapat ditemukan positif Mycobacterium tuberculosis 4) Fungsi paru : Penurunan vital capacity.016 Rivalta Negatif Positif Disamping pemeriksaan tersebut diatas.5 Kadar protein dalam serum Kadar LDH dalam effusi (1-U) < 200 > 200 Kadar LDH dalam effusi < 0. peningkatan rasio residual udara ke total lung capacity. Biasanya meningkat pada paulercatilis dan metastasis adenocarcinona (Soeparman. arthritis reumatoid dan neoplasma . Biasanya merendah pada penyakit-penyakit infeksi.

keganasan. Misotel banyak : Jika terdapat mesotel kecurigaan TB bisa disingkirkan. Mesotelioma : sangat kental dan berdarah c. enterobacter. Empiema anaerob : berbau busuk . Empiema : kental dan keruh . Bakteriologis Jenis kuman yang sering ditemukan dalam cairan pleura adalah pneamo cocclis. pseudomonas. trauma dada dan keganasan. Pada pleuritis TB kultur cairan terhadap kuman tahan asam hanya dapat menunjukkan yang positif sampai 20 % (Soeparman. sering dijumpai pada pankreatitis atau pneumoni.kasus keganasan dapat ditemukan sel ganas. kuning-kehijauan . parasit dan jamur Eritrosit : mengalami peningkatan 1000-10000/ mm3 cairan tampak kemorogis. klebsiecla. Transudat : jernih. E-coli.000 (mm3): empiema Netrofil : pneumonia. limfoma. pankreatilis. Sitologi : Hanya 50 . Eksudat : kuning. Sisanya kurang lebih terdeteksi karena akumulasi cairan pleura lewat mekanisme obstruksi.b. preamonitas atau atelektasis (Alsagaff Hood. 1998: 788). Eosinofil meningkat : emboli paru. infark paru. Bila erytrosit > 100000 (mm3 menunjukkan infark paru. Analisa cairan pleura . 1995 : 147.148) d.60 % kasus. Perhitungan sel dan sitologi Leukosit 25. TB paru Limfosit : tuberculosis. poliatritis nodosa. Hilothorax : putih seperti susu . kekuningan . .

Komplikasi Menurut (Mansjoer. kalk dan bieomisin) melalui selang interkostalis untuk melekatkan kedua lapisan pleura dan mencegah cairan terakumulasi kembali 4) Tirah baring Tirah baring ini bertujuan untuk menurunkan kebutuhan oksigen karena peningkatan aktivitas akan meningkatkan kebutuhan oksigen sehingga dyspnea akan semakin meningkat pula 5) Biopsi pleura. Penatalaksanaan Penatalaksanaan pada efusi pleura ini adalah (Mansjoer. 2001) 1) Thorakosentasis Drainase cairan jika efusi pleura menimbulkan gejala subjektif seperti nyeri. dispnea dan lain-lain. 2001). Cairan efusi sebanyak 1-1.F. untuk mengetahui adanya keganasan G.5 liter perlu dikeluarkan segera untuk mencegah meningkatnya edema paru. diberikan obat (tetrasiklin. komplikasi efusi pleura yaitu:  Infeksi  Fibrosis paru . Jika jumlah cairan efusi lebih banyak maka pengeluaran cairan berikutnya baru dapat dilakukan 1 jam kemudian 2) Pemberian antibiotik Jika ada infeksi 3) Pleurodesis Pada efusi karena keganasan dan efusi rekuren lain.

f. Keluhan Utama Keluhan utama merupakan faktor utama yang mendorong pasien mencari pertolongan atau berobat ke rumah sakit. nyeri pleuritik. c. jenis kelamin. agama atau kepercayaan. Perlu juga ditanyakan mulai kapan keluhan itu muncul. Pengkajian a. rasa berat pada dada. TB paru dan lain sebagainya. asma. bahasa yang dipakai. Riwayat Penyakit Dahulu Perlu ditanyakan apakah pasien pernah menderita penyakit seperti TBC paru. suku bangsa. Hal ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya faktor predisposisi. umur. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien dengan effusi pleura biasanya akan diawali dengan adanya tanda-tanda seperti batuk. Riwayat Psikososial . gagal jantung. pneumoni. rasa berat pada dada. sesak nafas. d. Apa tindakan yang telah dilakukan untuk menurunkan atau menghilangkan keluhan-keluhannya tersebut. berat badan menurun dan sebagainya. trauma. Riwayat Penyakit Keluarga Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit-penyakit yang disinyalir sebagai penyebab effusi pleura seperti Ca paru. Biasanya pada pasien dengan effusi pleura didapatkan keluhan berupa sesak nafas. BAB II KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN 1. e. Identitas Pasien Pada tahap ini perawat perlu mengetahui tentang nama. status pendidikan dan pekerjaan pasien. nyeri pleuritik akibat iritasi pleura yang bersifat tajam dan terlokasilir terutama pada saat batuk dan bernafas serta batuk non produktif. b. alamat rumah. asites dan sebagainya.

kebutuhan O2 jaringan akan kurang terpenuhi. Karena keadaan umum pasien yang lemah. kita perlu melakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan untuk mengetahui status nutrisi pasien. Meliputi perasaan pasien terhadap penyakitnya. Kemungkinan adanya riwayat kebiasaan merokok. d) Pola aktivitas dan latihan Akibat sesak nafas. Untuk memenuhi kebutuhan ADL nya sebagian kebutuhan pasien dibantu oleh perawat dan keluarganya. pasien akan lebih banyak bed rest sehingga akan menimbulkan konstipasi. Disamping itu pasien juga akan mengurangi aktivitasnya akibat adanya nyeri dada. tapi kadang juga memunculkan persepsi yang salah terhadap pemeliharaan kesehatan. Peningkatan metabolisme akan terjadi akibat proses penyakit. Perlu ditanyakan kebiasaan makan dan minum sebelum dan selama MRS pasien dengan effusi pleura akan mengalami penurunan nafsu makan akibat dari sesak nafas dan penekanan pada struktur abdomen. minum alcohol dan penggunaan obat-obatan bias menjadi faktor predisposisi timbulnya penyakit. b) Pola nutrisi dan metabolisme Dalam pengkajian pola nutrisi dan metabolisme. bagaimana cara mengatasinya serta bagaimana perilaku pasien terhadap tindakan yang dilakukan terhadap dirinya. selain akibat pencernaan pada struktur abdomen menyebabkan penurunan peristaltik otot-otot tractus degestivus. pasien dengan efusi pleura keadaan umumnya lemah. e) Pola tidur dan istirahat . c) Pola eliminasi Dalam pengkajian pola eliminasi perlu ditanyakan mengenai kebiasaan defekasi sebelum dan sesudah MRS. Pasien akan cepat mengalami kelelahan pada aktivitas minimal. g. Pola-pola fungsi kesehatan a) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat Adanya tindakan medis danperawatan di rumah sakit mempengaruhi perubahan persepsi tentang kesehatan.

g) Pola persepsi dan konsep diri Persepsi pasien terhadap dirinya akan berubah. tiba- tiba mengalami sakit. Selain itu akibat perubahan kondisi lingkungan dari lingkungan rumah yang tenang ke lingkungan rumah sakit. Pasien yang tadinya sehat. secara langsung pasien akan mengalami perubahan peran. demikian juga dengan proses berpikirnya. berisik dan lain sebagainya. Dalam hal ini pasien mungkin akan kehilangan gambaran positif terhadap dirinya. dimana banyak orang yang mondar-mandir. mengurus suaminya. Disamping itu. i) Pola reproduksi seksual Kebutuhan seksual pasien dalam hal ini hubungan seks intercourse akan terganggu untuk sementara waktu karena pasien berada di rumah sakit dan kondisi fisiknya masih lemah. sesak nafas dan peningkatan suhu tubuh akan berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan tidur dan istitahat. j) Pola penanggulangan stress Bagi pasien yang belum mengetahui proses penyakitnya akan mengalami stress dan mungkin pasien akan banyak bertanya pada perawat dan dokter yang merawatnya atau orang yang mungkin dianggap lebih tahu mengenai penyakitnya k) Pola tata nilai dan kepercayaan Sebagai seorang beragama pasien akan lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan dan menganggap bahwa penyakitnya ini adalah suatu cobaan dari Tuhan . peran pasien di masyarakat pun juga mengalami perubahan dan semua itu mempengaruhi hubungan interpersonal pasien. f) Pola hubungan dan peran Akibat dari sakitnya. pasien tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai seorang ibu yang harus mengasuh anaknya. sesak nafas. nyeri dada. h) Pola sensori dan kognitif Fungsi panca indera pasien tidak mengalami perubahan. misalkan pasien seorang ibu rumah tangga. Pasien mungkin akan beranggapan bahwa penyakitnya adalah penyakit berbahaya dan mematikan. Adanya nyeri dada.

177) 5. kelas 2. 469) 4. hal. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi jalan nafas. Nutrisi. ketidak mampuan makan e. Keamanan/perlindungan. 2015-2017. agen injury: fisik ditandai dengan mengkomunikasikan nyeri secara verbal (NANDA. ketidak mampuan mencerna makanan f.2. cidera fisik. ketidak mampuan mengabsorbsi nutrient g. hal. kenyamanan fisik. Domain 2. Domain 11. 457) 7. Risiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuat pertahanan tubuh primer (cairan tubuh statis). mucosa sekret berlebihan. kelas 1. Domain 4. kelas 4. 2015-2017. kurang asupan makanan (NANDA : 2015-2016. eksudat dalam alveoli. respon kardiovaskuler/pulmonal. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen dengan kebutuhan (NANDA : 2015-2016. Nyeri akut berhubungan dengan gangguan biokimia.aktivitas/istirahat. 405) 6. Makanan. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan: a. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi ditandai dengan peningkatan suhu tubuh diatas rentang normal (NAND:2015-2016. Respon kardiovaskuler/pulmonal. Domain 11. kelas 4. Diagnosa 1.keamanan/perlindungan. kelas 1. kelas 6. kelas 1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan sindrom hipoventilasi yang ditandai dengan dispnea dan penggunaan otot aksesorius pernapasan (NANDA. factor ekonomi c. Aktivitas/istirahat. domain 4. domain 12. Keamanan/perlindungan. hal. gangguan psikososial d. domain 11. termoregulasii. 406) 2. hal. prosedur invasiv (NANDA:2015-2016.kenyamanan. 242) . 243) 3. hal. factor biologis b. infeksi. hal. (NANDA. 2015-2017. hal.

556) . auskultasi suaranapas c.fasilitasi pasien untuk 1) suhu tubuh dipertahankan mengidentifikasi pola pada 3 ditingkatkan ke 5 2) tingkat pernapasan respon yang biasanya dipertahankan pada 3 dipakai ketika ditingkatkan ke 5(hal. 237) alveoli. 444)  pengaturan posisi berhubungan dengan . dan status 2) akumulasi sputum nafas. 306  status pernapasan ditandai dengan dispnea (NIC. laboratorium (hal. status pernapasan  penghisapan 1) suara auskultasi lender pada jalan napas pernapasan dipertahankan .tentukan suction mulut pada 3 ditingkatkan ke 5 dan trkhea (hal. mucosa sekret pernapasan dipertahankan pada 2 . suhu. 558) (hal.dispnea saat latihan diminta untuk dipertahankan pada 3 pemeriksaan ditingkatkan ke 5(hal. Rencana Keperawatan Tujuan Keperawatan (NOC: Rasional Rencana Keperawatan (NIC) Keperawatan 2015-2017 a. monitor aliran oksigen Ketidakefektifan pola nafas (hal.monitor tekanan darah. 600) (hal. b. 599)  terapi oksigen . eksudat dalam ditingkatkan ke 5 (hal. 500) ventilasi dan penggunaan otot .berikan oksigen tambahan seperti yang diperintahkan . hal. 2015-2017. hal. 16) dipertahankan pada 3  dukungan ditingkatkan ke 5 (hal.ambil specimen yang ditingkatkan ke 5 . berikan posisi semi sindrom hipoventilasi yang fowler (hal.dipsnea saat istirahat aksesorius pernapasan dipertahankan pada 3 a) monitor asam basaa . kepatenan jalan napas  monitor tanda- Bersihan jalan nafas tidak 1) frekuensi pernapasan tanda vital efektif berhubungan dipertahankan pada 2 . monitor suara paru berlebihan. 559) emosional d. menghadapi rasa takut. 560) 228)  status pernapasan b) manajemen batuk c) fisioterapi dada . dengan obstruksi jalan ditingkatkan ke 5 nadi. pertukaran gas sebelum dan sesudah 1) saturasi oksigen suction (hal. 90) (NOC: 2015-2017.3. tanda-tanda vital .

Dochterman. Volume 2. Joanne M. Diagnosis Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi 2009-2011. & Bulecheck. Jakarta NANDA International. and Perry. Kapita Selekta Kedokteran. 2004. Patricia A.. Jakarta : EGC. 2008. dkk. Fundamental Keperawatan. Arif. Anne Griffin. Sue et al. Nursing Outcomes Classification : Fourth Edition. Moorhead. Jakarta: Penerbit Buku kedokteran EGC ansjoer. DAFTAR PUSTAKA Potter.Buku ajar fisiologi kedokteran. Media Aesculapius. 2001. Gloria N. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah (Brunner & Suddart). 2006. United States of America : Mosby . Jilid I. Nursing Interventions Classification : Fourth Edition. 2011. Suzanne (2002). Jakarta: EGC Guyton & Hall. United States of America : Mosby.2008. Jakarta: Penerbit Buku kedokteran EGC Smeltzer.