BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perdarahan Antepartum adalah perdarahan jalan lahir setelah kehamilan
usia 20 minggu dengan insiden 2-5%.
Berdasarkan laporan World Health Organization, 2008 angka kematian ibu
di dunia pada tahun 2005 sebanyak 536.000. Kematian ini dapat disebabkan oleh
25% perdarahan, 20% penyebab tidak langsung, 15% infeksi, 13% aborsi yang
tidak aman, 12% eklampsi, 8% penyulit persalinan, dan 7% penyebab lainnya.
Perdarahan yang terjadi pada kehamilan muda disebut abortus sedangkan pada
kehamilan tua disebut perdarahan antepartum. Yang termasuk perdarahan
antepartum adalah plasenta previa, solusio plasenta, rupture uteri. Plasenta Previa
adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga
menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum.
Penyebab plasenta previa belum diketahui dengan secara pasti, namun
kerusakan dari endometrium pada persalinan sebelumnya dan gangguan
vaskularisasi desidua dianggap sebagai mekanisme yang mungkin menjadi faktor
penyebab terjadinya plasenta previa.
Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007
menyebutkan Angka Kematian Ibu (AKI) sebanyak 228 per 100.000 kelahiran
hidup pada periode tahun 2003 sampai 2007. Pada tahun 2009 Angka Kematian
Ibu (AKI) masih cukup tinggi, yaitu 390 per 100.000 kelahiran hidup. Dari hasil
survey tersebut terlihat adanya peningkatan angka kematian ibu di Indonesia.
Sedangkan Angka kematian ibu selama tahun 2006 sebanyak 237 per 100.000
kelahiran hidup. Dari total 4.726 kasus plasenta previa pada tahun 2005 didapati
kurang lebih 40 orang ibu meninggal akibat plasenta previa itu sendiri. Sedangkan
pada tahun 2006 dari total 4.409 kasus plasenta previa didapati 36 orang ibu
meninggal akibat plasenta previa.

1

Di negara berkembang seperti di Indonesia kejadian operasi kejadian
sectio caesaria yang semakin banyak. Indikasi sectio caesarea antara lain :
Ibu/Janin : Distosia (Ketidakseimbangan sepalopelvik, kegagalan induksi
persalinan, kerja rahim yang abnormal). Ibu : Penyakit pada ibu (Eklapmsia, DM,
Penyakit Jantung, Ca servik) , pembedahan sebelumnya, sumbatan padajalan lahir.
Janin : Gangguan pada janin, Prolaps tali, Mal presentasi. Plasenta : Plasenta
previa, Abrupsion plasenta. Untuk menekan kematain ibu dan janin salah satu cara
bisa dilakukan dengan tindakan operasi. Tindakan persalinan yang biasa dilakukan
adalah bedah Caesar. Sedangkan di Indonesia pada tahun 2009 dilaporkan oleh
beberapa peneliti berkisar antara 2,4 - 3,56 % dari seluruh kehamilan sekitar 5 dari
500 kelahiran setiap tahunnya.

1.2 Tujuan Penulisan
a. Melengkapi syarat Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) di Rumah Sakit
Umum Daerah Solok periode 5 Desember 2016-11 Februari 2017.
b. Untuk memenuhi tugas Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) case report di
bagian obstetri dan ginekologi di RSUD Solok 5 Desember 2016 – 11
Februari 2017.

2

1. Kejadian plasenta previa terjadi kira-kira 1 dari 200 persalinan. Pada beberapa Rumah Sakit Umum Pemerintah dilaporkan angka kejadian plasenta previa berkisar 1.1 Plasenta Previa 2. sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir yang ditandai dengan perdarahan uterus yang dapat keluar melalui vagina tanpa adanya rasa nyeri pada kehamilan trimester terakhir. Sedangkan di negara maju angka kejadiannya lebih rendah yaitu kurang dari 1 % yang mungkin disebabkan oleh berkurangnya wanita yang hamil dengan paritas tinggi.2 Insiden Plasenta Previa Plasenta previa lebih banyak terjadi pada kehamilan dengan paritas tinggi. dan sering terjadi pada usia di atas 30 tahun.1 Defenisi Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada bagian segmen bawah rahim.9 %. Uterus yang cacat juga dapat meningkatkan angka kejadian plasenta previa. Plasenta previa parsialis adalah plasenta yang menutupi sebagian ostum uteri internum 3 . Plasenta previa totalis atau komplit adalah plasenta yang menutupi seluruh osteum uteri internum b. 2.7 % sampai dengan 2.3 Klasifikasi a.1.1. 2. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. insiden dapat meningkat diantaranya sekitar 1 dari 20 persalinan pada ibu yang paritas tinggi.

cacat rahim misalnya bekas bedah sesar. kerokan. mungkin sebagai akibat dari proses radang atau atrofi. Paritas tinggi.4 Etiologi Penyebab blastokista berimplantasi pada segmen bawah uteri belum diketahui dengan pasti. Hipoksemia akibat karbon monoksida hasil pembakaran rokok menyebabkan plasenta menjadi hipertrofi sebagai upaya kompensasi. miomektomi. dijumpai insidensi plasenta previa lebih tinggi dua kali lipat. Pada perempuan perokok. usia lanjut. c. Plasenta yang terlalu besar seperti pada kehamilan 4 . Cacat bekas bedah sesar berperan menaikkan insiden dua sampai tiga kali.1.1: Klasifikasi Plasenta Previa 2. Plasenta previa marginalis adalah plasenta yang tepinya berada pada pinggir ostium uteri internum d. Mungkin secara kebetulan saja blastokista menimpa desidua di daerah segmen bawah uterus tanpa latar belakang lain yang mungkin. Plasenta letak rendah adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim demikian rupa sehingga tepi bawahnya berada pada jarak lebih kurang 2 cm dari ostium uteri internum. Gambar 2. dan sebagainya berperan dalam proses peradangan dan kejadian atrofi di endometrium yang semuanya dapat dipandang sebagai sebagai faktor resiko terjadinya plasenta previa. Teori lain mengemukakan sebagai salah satu penyebabnya adalah vaskularisasi desidua yang tidak memadai.

Dengan melebarnya isthmus uteri menjadi segmen bawah uterus. Oleh karena fenomena pembentukan segmen bawah rahim itu perdarahan pada plasenta previa betapa pun pasti akan terjadi (unavoidable bleeding). maka plasenta yang berimplantasi sedikit banyak akan mengalami laserasi akibat pelepasan pada desidua sebagai tapak plasenta. Sebagaimana diketahui tapak plasenta terbentuk dari jaringan maternal yaitu. Demikianlah perdarahan akan berulang tanpa sesuatu sebab lain (causeless). Darah yang keluar berwarna merah segar tanpa rasa nyeri (painless). Pada tempat laserasi itu akan terjadi perdarahan yang berasal dari sirkulasi maternal yaitu ruangan intervillus dari plasenta.5 Patofisiologi Pada usia kehamilan yang lanjut. Perdarahan di tempat itu relatif dipermudah dan diperbanyak oleh karena segmen bawah rahim dan serviks tidak mampu berkontraksi dengan kuat karena elemen otot yang dimilikinya sangat minimal. tapak plasenta akan mengalami pelepasan. umumnya pada trimester ketiga dan mungkin juga lebih awal. Pada plasenta yang menutupi seluruh ostium uteri internum perdarahan terjadi lebih awal dalam kehamilan oleh karena segmen bawah rahim terbentuk lebih dahulu pada bagian terbawah yaitu pada ostium uteri internum. dengan akibat pembuluh darah pada tempat itu tidak akan tertutup dengan sempurna. 5 . oleh karena telah mulai terbentuknya segmen bawah uterus.ganda dan eritroblastosis fetalis bisa menyebabkan pertumbuhan plasenta melebar ke segmen bawah uterus sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum 2. maka laserasi baru akan mengulang kejadian perdarahan. Oleh karena pembentukan segmen bawah rahim itu berlangsung progresif dan bertahap. Demikian pula pada waktu serviks mendatar (effacement) dan membuka (dilatation) ada bagian tapak plasenta yang terlepas. bagian desidua basalis yang bertumbuh menjadi bagian dari uri. Perdarahan akan berhenti karena terjadi pembekuan kecuali jika ada laserasi mengenai sinus yang besar dari plasenta pada mana perdarahan akan berlangsung lebih lama dan lebih banyak.1.

Perdarahan pertama berlangsung tidak banyak dan dapat berhenti sendiri. misalnya dalam kala tiga karena plasenta sukar melepas dengan sempurna (retentio plasenta). Kedua kondisi ini berpotensi meningkatkan kejadian perdarahan pasca persalinan pada plasenta previa. tetapi cenderung lebih banyak pada perdarahan berikutnya. akibatnya plasenta melekat lebih kuat pada dinding uterus.1. bahkan plasenta perkreta yang pertumbuhan vilinya bisa sampai menembus ke buli-buli. Namun perdarahan dapat kembali terjadi tanpa sebab yang jelas setelah beberapa waktu kemudian. sangat jarang terjadi koagulopati pada plasenta previa. Untuk berjaga- jaga mencegah syok hal tersebut perlu dipertimbangkan. Dengan demikian. Berhubung tempat perdarahan terletak dekat dengan ostium uteri internum. Perdarahan pertama sudah biasa terjadi pada kehamilan di bawah 30 minggu tetapi lebih separuh kejadiannya pada umur kehamilan 34 minggu ke atas. Perdarahan pertama biasanya sedikit. Hal yang perlu diperhatikan adalah segmen bawah rahim yang tipis dan mudah diinvasi oleh permukaan vili dari trofoblas.Sebaliknya. dan ke rektum bersama plasenta previa. Plasenta akreta dan inkreta lebih sering terjadi pada uterus yang sebelumnya pernah mengalami bedah sesar. Perdarahan biasanya terjadi diatas akhir trimester kedua.6 Gambaran Klinik Ciri yang menonjol dari plasenta previa adalah perdarahan uterus yang keluar melalui vagina tanpa disertai dengan adanya nyeri. Dan saat perdarahan berulang 6 . atau setelah uri lepas karena segmen bawah uteri tidak dapat berkontraksi dengan baik 2. maka perdarahan lebih mudah mengalir ke luar rahim dan tidak membentuk hematom retroplasenta yang mampu merusak jaringan lebih luas dan melepaskan tromboplastin ke dalam sirkulasi maternal. Segmen bawah rahim dan serviks yang rapuh dan mudah robek oleh sebab kurangnya elemen otot yang terdapat di sana. Lebih sering terjadi plasenta akreta dan plasenta inkreta. pada plasenta previa parsialis atau letak rendah perdarahan baru terjadi pada waktu mendekati atau mulai persalinan.

Pada plasenta previa ini tidak ditemui nyeri maupun tegang pada perut ibu saat dilakukan palpasi. Selanjutnya penanganan plasenta previa bergantung kepada : a.biasanya perdarahan yang terjadi lebih banyak dan bahkan sampai mengalir. d. Bila pasien dalam keadaan syok karena pendarahan yang banyak. 2. harus segera diperbaiki keadaan umumnya dengan pemberian infus atau tranfusi darah. e. Keadaan umum pasien. Paritas dan kemajuan persalinan.Perdarahan sedikit . Jenis plasenta previa. Jumlah perdarahan yang terjadi. USG transvaginal dan MRI. b. 2. Penanganan Ekspektif Kriteria : . Umur kehamilan/taksiran BB janin. Karena letak plasenta pada plasenta previa berada pada bagian bawah. .1. Vaginal toucher harus dihindari pada semua ibu yang mengalami perdarahan antepartum sampai terdiagnosis bukan sebagai plasenta previa.1. maka pada palpasi abdomen sering teraba bagian terbawah janin masih tinggi diatas simfisis dengan letak janin tidak dalam letak memanjang. dirawat di rumah sakit tanpa periksa dalam. c.8 Penatalaksanaan Semua pasien dengan perdarahan per vagina pada kehamilan trimester ketiga.Umur kehamilan kurang dari 37 minggu.Belum ada tanda-tanda persalinan 7 . 1.7 Diagnosis Plasenta previa dapat didiagnosis dengan melihat gejala klinis dan pemeriksaan obstetri menggunakan USG. Pemeriksaan spekulum dapat dilakukan untuk menilai vagina dan serviks. kadar hb. Beberapa metode pemeriksaan penunjang telah digunakan untuk mendiagnosis plasenta previa diantaranya USG transabdominal.

tekanan darah. 6. Pematangan paru 5. Pembukaan masih kecil dan perdarahan banyak. 3. 2. 2. Plasenta previa totalis. plasenta previa marginalis atau plasenta previa parsialis pada pembukaan lebih dari 5 cm 2. Plasenta previa pada primigravida. Keadaan umum pasien tidak baik ibu anemis Hb < 8 gr%. Pemeriksaan USG. multigravida dengan plasenta previa letak rendah b. Untuk menentukan tindakan selanjutnya SC atau partus pervaginum. Infus 3. Penanganan aktif Kriteria 1. Profause bleeding. Plasenta terletak di sebelah belakang (posterior). Awasi perdarahan terus-menerus. BB janin ≥ 2500 gram. Periksa Hb. . perdarahan sangat banyak dan mengalir dengan cepat. Plasenta previa parsialis jika : a. Ada tanda-tanda persalinan. infus transfusi darah terpasang. dilakukan pemeriksaan dalam kamar operasi. Rencana Penanganan : 1. Partus per vaginam (pemecahan selaput ketuban). 6. Tokolitik 4. 2.1. kadar Hb 8 gr% atau lebih. c.Keadaan umum baik. nadi dan denyut jantung janin. 3. 7. dilakukan pada: a. b. Anak mahal. Indikasi Seksio Sesarea : 1. fetal distres 5.9 Komplikasi 8 . golongan darah. Plasenta previa janin letak lintang atau letak sungsang 4. Istirahat baring mutlak. Umur kehamilan ≥ 37 minggu. Sebagian besar OUI ditutupi plasenta. Perdarahan banyak 500 cc atau lebih. 2. 4.

Prematuritas e. Rawat inap yang lebih radikal ikut berperan terutama bagi kasus yang pernah melahirkan dengan seksio sesarea atau bertempat tinggal jauh dari fasilitas yang diperlukan.10 Prognosis Prognosis ibu dan anak pada plasenta previa dewasa ini lebih baik jika dibandingkan dengan masa lalu. nasib janin masih belum terlepas dari komplikasi kelahiran prematur baik yang lahir spontan maupun karena intervensi seksio sesarea. a.1. Hal ini berkat diagnosis yang lebih dini dan tindak invasif dengan USG di samping ketersediaan transfusi darah dan infus cairan telah ada di hampir semua rumah sakit kabupaten. Karenanya kelahiran prematur belum sepenuhnya bisa dihindari sekalipun tindakan konservatif diberlakukan. Kelainan letak janin d. Penurunan jumlah ibu hamil dengan paritas tinggi dan usia tinggi berkat sosialisasi program keluarga berencana menambah penurunan insiden plasenta previa. Identitas Pasien Nama : Ny. bahkan syok b. Namun. E Nama Suami : Tn ES Umur : 27 tahun Umur : 28 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Pendidikan : SMP Alamat : Sungai Lasih Pekerjaan : Supir Agama : Islam Agama : Islam Status Perkawinan : Menikah Alamat : Sungai Lasih Pendidikan : SMA Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga 9 . Kematian pada ibu dan janin 2.1. BAB III LAPORAN KASUS 3. Infeksi-sepsis c. Respiratory Distress Syndrome f. Anemia.

Tanggal masuk RS : 05 Januari 2017 No Rekam Medik : 140872 3.00 WIB. Anak pertama lahir perempuan dengan berat 3200 gram Riwayat Penyakit Dahulu . Riwayat Hipertensi : disangkal . Keluhan Utama Keluar darah dari kemaluan sejak 1 jam yang lalu Riwayat Penyakit Sekarang . ANC 6 kali ke bidan . Gerak anak dirasakan sejak usia kehamilan 4 bulan . . Keluar air-air yang banyak dari kemaluan (-) . Riwayat Hamil Muda : Mual (-). Riwayat Penyakit Paru : disangkal . Nyeri pinggang menjalar ke ari-ari (-) . tidak nyeri. datang sendiri diantar keluarga pada tanggal 05 Januari 2017 pukul 19. . Riwayat Penyakit Jantung : disangkal . Keluar lendir bercampur darah dari kemaluan (-) . dan tidak disertai nyeri. Riwayat Penyakit Ginjal : disangkal . Pasien sempat dirawat di RB Yasmin. darah yang keluar lebih sedikit daripada saat ini. Tidak Haid sejak 8 bulan yang lalu . Muntah (-).Dua minggu yang lalu sempat mengeluhkan keluar darah dari kemaluan ketika beristirahat. Anamnesa Seorang pasien wanita berusia 27 tahun datang ke Ponek RSUD Solok. HPHT : 05-05-2016 TP: 12-02-2017 .2. Riwayat Diabetes Melitus : disangkal . Dilakukan USG dan dikatakan letak plasenta di bawah. Darah keluar saat pasien sedang beristirahat (duduk). dengan keluhan keluar darah dari kemaluan sejak 1 jam yang lalu. Riwayat Asma : disangkal . PPV (-) . berwarna merah segar. Riwayat Alergi : disangkal 10 . membasahi 2 helai kain. berwarna merah segar.Pasien datang dengan keluhan keluar darah dari kemaluan sejak 1 jam yang lalu.

kehamilan pertama pasien dengan sectio caesaria atas indikasi malpresentasi. siklus haid 1 x 28 hari setiap bulan. menggosok gigi 2 kali sehari.Riwayat Hipertensi : disangkal . Riwayat Kontrasepsi Pasien tidak menggunakan alat kontrasepsi.Pekerjaan suami: Supir Riwayat Habitual: . Riwayat Menstruasi Menarche usia 13 tahun.Riwayat Asma : disangkal . Riwayat Imunisasi Riwayat imunisasi TT(-) Riwayat Psikososial .Pendidikan terakhir istri: SMA . Usia kehamilan cukup bulan. BB lahir 3200 gram. lamanya 5–6 hari. dan mengganti pakaian 2 kali sehari 11 .Riwayat Penyakit Menular : disangkal .Riwayat Diabetes Melitus : disangkal .Pekerjaan istri: Ibu rumah tangga . Riwayat minum minuman beralkohol (-) .Riwayat Penyakit Keluarga .Riwayat Penyakit Kejiwaan : disangkal Riwayat Perkawinan Pasien telah menikah 1 kali pada tahun 2014. nyeri haid (-) Riwayat Kehamilan/ Abortus/ Persalinan Pada tanggal 12-10-2015. Riwayat merokok (-) .Riwayat Penyakit Jantung : disangkal .Pendidikan terakhir suami: SMA . banyaknya 2-3 kali ganti duk per hari. Pasien menikah pada usia 24 tahun. Riwayat hygiene: Pasien mandi 2 kali sehari. usia anak sekarang 1 tahun. Lahir anak perempuan.

wheezing (-/-) 2.Palpasi: ictus cordis teraba 2 jari medial LMCS RIC V . Telinga : simetris kiri dan kanan.Suhu : 36. e. refleks fisiologis (+). gallop (-).Inspeksi: iktus cordis tidak terlihat . Ekstremitas : Akral hangat.28 kg/m2 h. Keadaan umum : sedang b. Paru . Jantung . Genitalia : Status Obsetrikus j. Palpasi: fremitus kiri dan kanan sama . ronkhi (-/-). Vital Signs: . Thoraks 1. sianosis (-) f. . Tinggi badan : 162 cm g. Abdomen : Status Obsetrikus i. tidak mudah dicabut b. Mulut : bibir merah muda. Leher : . oedema (-). 3.5⁰C d.Nadi : 76 x/menit . refleks patologis (-) II. sekret (-/-).Inspeksi: normo chest. Berat badan setelah kehamilan : 61 kg f.Palpasi : JVP 5-2 cm H2O g.Nafas : 18 x/ menit . Status Generalisata a. Perkusi: sonor di kedua lapangan paru .Tekanan darah : 120/80 mmHg . Auskultasi: vesikular.Inspeksi : tidak ada pembesaran kelenjar getah bening. sekret (-/-).Perkusi: redup . BMI : 23. sklera ikterik (-/-) c. Kesadaran : kompos mentis c. simetris kiri dan kanan pada saat statis dan dinamis. Status Obstretikus 12 . Mata : conjungtiva anemis (-/-).3. tidak ada pembesaran kelenjar tiroid . rambut hitam. Hidung : septum deviasi (-/-). polip (-/-) d. murmur (-) h.Auskultasi: reguler. sianosis (-). Kepala : normochepal. Status gizi : normal I. Berat badan sebelum kehamilan : 55 kg e. Pemeriksaan Fisik a.

Inspeksi : Perut tampak membuncit sesuai dengan usia kehamilan.PPV : (+) 2. Abdomen : 1.VT : tidak dilakukan 3. keras.000/uL . Palpasi : . Inspeksi: . Tampak sikatrik bekas luka operasi SC pada garis transversal bagian bawah 2. a.HIV : (-) b. besar. L4 : Konvergen His : (-) 3. areola dan papilla hiperpigmentasi (+/+) c.L1 : Tinggi fundus uteri 2 jari di bawah processus xiphoideus (28 cm) Teraba massa bulat. Palpasi : .150/uL .Hematokrit : 33. Pemeriksaan Penunjang a.Hemoglobin : 11.Trombosit : 264. lunak dan bernodule . L3 : Teraba massa bulat.HbsAg : (-) .2 g/dL . Genitalia: 1. Wajah : chloasma gravidarum (-) b. Pemeriksaan USG 13 . Pemeriksaan Laboratorium . melenting . Mammae : membesar (+/+).4 % .Leukosit : 10.4.V/U : tenang . L2 : Teraba tahanan terbesar janin sebelah kanan Teraba bagian-bagian kecil janin sebelah kiri . Auskultasi : Bising usus (+) normal DJJ :142-150 x/menit d. Perkusi : Tympani 4.

Diagnosis G2P1A0H1 gravid 34-35 minggu + HAP e. perdarahan pervaginam dan DJJ .c Plasenta Previa + bekas SC satu kali + JHTIU preskep Sikap : . IVFD RL 20 tetes per menit . Gravid 34-35 minggu Plasenta berimplantasi pada segmen bawah rahim JHTIU preskep 3. Asam mefenamat 3x1 tablet . Injeksi dexamethason 2x2 ampul (IV) 2 hari . Bedrest total .Kontrol keadaan umum.5. vital sign. Ca Lactos 1x1 Rencana: Ekspektatif Laporan perkembangan Pasien 14 . Amoxisilin 3x1 tablet . SF 1x1 tablet .

5 °C PPV: (+) ± 10 cc DJJ: 138-145x/menit 06-01-2017 Keadaan Umum: Sedang 01.00 WIB Keadaan Umum: Sedang Vital Sign:  Tekanan Darah:110/70 mmHg  Nadi: 75x/menit  Nafas: 18x/menit  Suhu: 36.6°C PPV: (+) ± 15 cc 15 . Tanggal/Jam Follow up 05-01-2017 09.00 WIB Vital Sign:  Tekanan Darah: 110/70 mmHg  Nadi: 77x/menit  Nafas: 18x/menit  Suhu: 36.5 °C PPV: (+) ± 10 cc DJJ: 135-142x/menit 05-01-2017 Keadaan Umum: Sedang 11.00 WIB Vital Sign:  Tekanan Darah: 110/70 mmHg  Nadi: 74x/menit  Nafas: 19x/menit  Suhu: 36.

2017 Keadaan Umum: Sedang 05. Abdomen: perut tampak membuncit sesuai usia kehamilan His (-) DJJ: 135-142 x/menit . Vital sign:  Tekanan darah: 100/60 mmHg  Nadi: 80 x/menit  Nafas: 18x/menit  Suhu: 36. Genitalia: 16 .00 WIB Vital Sign:  Tekanan Darah: 110/70 mmHg  Nadi: 73x/menit  Nafas:19x/menit  Suhu: 36.00 WIB Vital Sign:  Tekanan Darah: 110/70 mmHg  Nadi: 78x/menit  Nafas: 18x/menit  Suhu: 36. Keadaan umum: sedang .1° . sklera ikterik -/- . nyeri(-) O: 06. DJJ: 132-142x/menit 06-01-2017 Keadaan Umum: Sedang 03. Kesadaran: CMC .7 °C PPV: (+) ± 15 cc DJJ: 134-140x/menit 06. warna merah segar.30 WIB . Mata: konjungtiva anemis -/-.4°C PPV: (+) ± 20 cc DJJ: 130-137x/menit 06-01-2017 S :Keluar darah dari kemaluan sedikit.01.

SF 1x1 tablet . vital sign.00 WIB) dan ketiga (pukul 22.00 WIB) . perdarahan pervaginam dan DJJ 17 .Amoxisilin 3x1 tablet .c Plasenta Previa + bekas SC satu kali + JHTIU preskep P:  Kontrol keadaan umum. Kesadaran: CMC .Injeksi dexamethason 2x2 ampul (IV).c Plasenta Previa + bekas SC satu kali + JHTIU preskep P:  Kontrol keadaan umum.5° .Asam mefenamat 3x1 tablet . Vital sign:  Tekanan darah: 120/80 mmHg  Nadi: 80 x/menit  Nafas: 18x/menit  Suhu: 36.Ca Lactos 1x1  Bedrest total 07-01-2017 S :Keluar darah dari kemaluan (-) O: 07. perdarahan pervaginam dan DJJ  IVFD RL 20 tetes per menit . vital sign.00 WIB .  V/U: tenang  PPV: (+) ± 20 cc A : G2P1A0H1 gravid 34-35 minggu + HAP e. Mata: konjungtiva anemis -/-. Keadaan umum: sedang . sklera ikterik -/- . Abdomen: perut tampak membuncit sesuai usia kehamilan His (-) DJJ: 140-146 x/menit . injeksi dexamethason kedua (pukul 10. Genitalia:  V/U: tenang  PPV: (-) A : G2P1A0H1 gravid 34-35 minggu + HAP e.

Nyeri pinggang menjalar ke ari-ari (-). nafas 18 x/menit dan suhu 36. ANC 6 kali ke bidan. besar. Dua minggu yang lalu sempat mengeluhkan keluar darah dari kemaluan ketika beristirahat.5⁰C.  IVFD RL 28 tetes per menit . Tidak Haid sejak 8 bulan yang lalu. keras. Gerak anak dirasakan sejak usia kehamilan 4 bulan. Keluar lendir bercampur darah dari kemaluan (-). Riwayat hamil muda : mual (-). Darah keluar saat pasien sedang beristirahat (duduk).Injeksi dexamethason keempat (pukul 10. Ca Lactos 1x1 14. Anak pertama lahir perempuan dengan berat 3200 gram. Keluar air-air yang banyak dari kemaluan (-). TP: 12-02-2017. nadi 76 x/menit.00 WIB Pasien pulang BAB IV ANALISA KASUS Seorang pasien wanita berusia 27 tahun datang ke Ponek RSUD Solok.00 WIB. datang sendiri diantar keluarga pada tanggal 05 Januari 2017 pukul 19. melenting. HPHT : 05-05-2016. PPV (-). dan tidak disertai nyeri. Pada status obstetrik abdomen dari inspeksi perut tampak membuncit sesuai dengan usia kehamilan dan sikatrik bekas luka SC pada garis transversal bagian bawah. Pasien sempat dirawat di RB Yasmin. 2 ampul . L2: teraba tahanan terbesar janin sebelah kanan dan teraba bagian-bagian kecil janin sebelah kiri. lunak dan bernodule. SF 1x1 tablet .berwarna merah segar. Amoxisilin 3x1 tablet . teraba massa bulat. Pada palpasi didapatkan L1: tinggi fundus uteri 2 jari di bawah processus xiphoideus (28 cm). berwarna merah segar. muntah (-). L3: teraba massa bulat. darah yang keluar lebih sedikit daripada saat ini. Asam mefenamat 3x1 tablet . membasahi 2 helai kain. DJJ: 142- 18 . His: (-). dengan keluhan keluar darah dari kemaluan sejak 1 jam yang lalu. L4: konvergen. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 120/80 mmHg. tidak nyeri.00 WIB). Dilakukan USG dan dikatakan letak plasenta di bawah.

Pasien kemudian dianjurkan bedrest total.berwarna merah segar. 150x/menit. Hal ini sesuai dengan teori dimana perdarahannya bisa terjadi berulang dan biasanya biasanya perdarahan yang terjadi lebih banyak. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang didapakan diagnosa kerja pasien: G2P1A0H1 gravid 34-35 minggu + HAP e. perdarahan pervaginam dan DJJ. Pada pemeriksaan laboratorium darah rutin dalam batas normal.JHTIU preskep. Selain itu perdarahan seperti ini sudah terjadi sebelumnya dengan volume yang lebih sedikit. Hal ini sesuai dengan gambaran klinik plasenta previa yaitu ciri yang menonjol adalah perdarahan uterus yang keluar melalui vagina tanpa disertai dengan adanya nyeri. VT tidak dilakukan. HbsAg negatif. Pasien juga dikontrol keadaan umum. vital sign. 19 . setelah itu pematangan paru sudah selesai.2 g/dL maka direncanakan penanganan ekspektatif. Terapi awal masih dilanjutkan.c Plasenta Previa + bekas SC satu kali + JHTIU preskep. asam mefenamat 3x1 tablet. kadar Hb 11. diberikan IVFD RL 20 tetes per menit. PPV (+). Diagnosis plasenta previa ditegakkan berdasarkan anamnesa yakni keluhan pasien keluar darah dari kemaluan sejak 1 jam yang lalu.00 WIB. Pada tanggal 07-01-2017 perdarahan pervaginam tidak ada. Berdasarkan anamnesa. perdarahannya tidak banyak. Darah keluar saat pasien sedang beristirahat (duduk). membasahi 2 helai kain. pasien boleh pulang siang hari. Pada pemeriksaan USG didapatkan: usia kehamilan 34-35 minggu+plasenta berimplantasi pada segmen bawah rahim. amoxisilin 3x1 tablet.Pada pemeriksaan genitalia V/U : tenang. Pada keesokan harinya tanggal 06-01-2017 perdarahan pervaginam sudah berkurang. belum ada tanda-tanda persalinan. SF 1x1 tablet. Ca Lactos 1x1. dan tidak disertai nyeri. injeksi dexamethason keempat pada pukul 10. injeksi dexamethason 2x2 ampul (IV) selama 2 hari. keadaan umum baik. Karena usia kehamilan pasien masih kurang dari 37 minggu. Kemudian dilakukan pemeriksaan USG dan didapatkan plasenta berimplantasi pada segmen bawah rahim.

In : Williams Obstetrics.2007.2004.id/46235/5/TINJUNG_JATININGRUM_22010111130088_ Lap.Jakarta:EGC 20 . pukul 19.Universitas Sumatera Utara (diakses pada 06 Januari 2017.id/bitstream/123456789/23239/4/Chapter%20II. http://repository.30 WIB) Manuaba.pdf.Prosuder Tetap OBSTETRI & GINEKOLOGI. The Mc Graw – Hill Companies.pdf.30 WIB) Jatiningrum. In: Journal Obstetrics and Gynecology. Flamm BL. http://eprints. pukul 20.”Plasenta Previa”.30 WIB) Cunningham FG.pdf. pukul 19.KTI_Bab_II.2015. Univeritas Diponegoro (diakses pada 06 Januari 2017. Geiger AM.Pengantar Kuliah Obstetri. Universitas Sumatera Utara (diakses pada 06 Januari 2017.ac.ac.2011.dkk. 90(6): 907 – 1010.Jakarta:EGC Arrifin. Hanafiah.id/download/fk/obstetri- tmhanafiah2. Vaginal Birth After Cesarean: An Admission Skoring System. New York : 2001 . DAFTAR PUSTAKA Achadiat.2004. 537 – 63. Leveno KJ.undip.usu. Chrisdiono M. Gant NF. 1997.http://library.ac. Cesarean Section and Postpartum Hysterectomy. 21sted.usu.”Vaginal Birth After Caesarian”.

2012. Predictive Score for Vaginal Birth After Cesarean Section.Obstetri Patologi.pdf. Sarwono.id/25812/3/BAB_I.00 WIB) Prawirohardjo.http://eprints. pukul 19.pdf.http://repository. Benshushan A.2014. 174: 192 – 8 Yusad. Tanos V.2005.”Plasenta Previa”.id/bitstream/123456789/31399/4/Chapter %20II.http://eprints.ums.Jakarta:EGC Weinstein D. pukul 19.Jakarta: PT Bina Pustaka Previa”.Surakarta: Universitas Sebelas Maret (diakses pada 06 Januari 2017.ums.”Plasenta Previa”.pdf.ac. In: American Journal Obsterics and Gynecology .2011.id/20391/2/BAB_I.Ilmu Kebidanan.usu.ac. dkk.Universitas Sumatera Utara (diakses pada 06 Januari 2017. et al.Surakarta: Universitas Sebelas Maret (diakses pada 06 Januari 2017.30 WIB) Sastrawinata.00 WIB) 21 . 1996. pukul 19.Megawati.ac.