You are on page 1of 12

Laporan Praktikum Hari/Tanggal : Senin, 9 Mei 2016

Mikrobiologi Pangan PJ Dosen : CC. Nurwitri, DAA
Neny Mariyani, STP, Msi
Asisten : Dina Crownia, Amd

PEWARNAAN MIKROBA

Kelompok 8 / AP2

Rizky Adi Nugroho J3E115040

Eva Ayu Nabilah J3E115088

Eka Pratiwi Harisari J3E215138

SUPERVISOR JAMINAN MUTU PANGAN

PROGRAM DIPLOMA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2016

larutan iodin/mordan (pengintensifan warna utama). kristal violet. sementara bakteri gram negatif tidak. Dengan pewarnaan sederhana dapat mengetahui bentuk dan rangkaian sel-sel bakteri. begitu pula dengan bakteri. Hal tersebut juga berfungsi untuk mengetahui sifat fisiologisnya yaitu mengetahui reaksi dinding sel bakteri melalui serangkaian pengecatan (Jimmo. dimana sel-sel bakteri tersebut disuspensikan. Pewarnaan Kapsul . Bakteri gram positif akan mempertahankan zat warna metil ungu gelap setelah dicuci dengan alkohol. dan safranin (pewarna penutup). 2008). Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarnaan-pewarnaan sederhana karena sitoplasmanya bersifat basofilik (suka dengan basa). yaitu kristal violet (pewarna utama). dan karbol fuchsin (Dwidjoseputro. BAB I PENDAHULUAN A. Berikut merupakan teknik-teknik dalam pewarnaan mikroorganisme: a. Salah satu cara untuk mengamati bentuk sel bakteri sehingga mudah untuk diidentifikasi ialah dengan metode pengecatan atau pewarnaan. Bakteri yang hidup hampir tidak berwarna dan kontras dengan air. 1994). etanol 96% (peluntur zat warna utama). Pewarnaan Sederhana Pewarnaan sederhana merupakan teknik pewarnaan yang paling banyak digunakan. Adapun reagen yang digunakan ada 4 macam. c. Pewarna basa yang biasa digunakan untuk pewarnaan sederhana ialah metilen biru. Latar Belakang Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi. b. yaitu bakteri gram positif dan gram negatif berdasarkan dinding selnya. Zat-zat warna yang digunakan untuk pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkolin. Bakteri gram-negatif adalah bakteri yang tidak mempertahankan zat warna metil ungu pada metode pewarnaan gram. Disebut sederhana karena hanya menggunakan satu jenis zat warna untuk mewarnai organisme tersebut. struktur dan sifat-sifat yang khas. Pewarnaan Gram Pewarnaan gram adalah suatu pewarnaan yang bertujuan untuk membedakan atau mengklasifikasikan bakteri menjadi 2 kelompok.

BAB II METODELOGI . kering. endospora sulit dibedakan dengan badan inklusi. dingin. Pewarnaan Spora Endospora merupakan bentuk dorman dari sel vegetatif. d. Pewarnaan ini menggunakan larutan kristal violet panas. karena jika pembilasan dengan air dapat melarutkan kapsul. Tujuan Mengetahui dan memahami prosedur berbagai pewarnaan mikroorganisme dan mengelompokkan bakteri gram positif atau bakteri gram negatif. B. sehingga pembedaannya tampak jelas. 2002). radiasi. dan bahan kimia. lalu larutan tembaga sulfat sebagai pembilasan menghasilkan warna biru pucat pada kapsul. namun zat warna bisa menembusnya dengan cara memanaskan preparat (Hastowo. Namun jika dengan pewarnaan sederhana. Endospora tetap dapat dilihat di bawah mikroskop meskipun tanpa pewarnaan dan tampak sebagai bulatan transparan. Tujuan dilakukannya pewarnaan endospora adalah membedakan endospora dengan sel vegetatif. sehingga metabolismenya bersifat inaktif dan mampu bertahan dalam tekanan fisik dan kimia seperti panas. Garam tembaga juga memberi warna pada latar belakang yang berwana biru gelap (Hastowo. 2002). Dinding spora relatif tidak permeable.

5 H2O 20% Bilas dengan aquades Diamati dengan mikroskop dengen perbesaran 100x. 1. Pewarnaan (+) Safranin / K. dan diseka (+) Safranin 30 detik dan 1000x . Violet 1 Menit Kapsul Tutup cover glass Oleskan suspensi Oleskan suspensi ke gelas Objek ke gelas Objek(+) Aquades Oleskan 2-3 suspensi ke (+) Gliserol 10% gelas objek Kertas serap Inkubasi 3-5 hari Fiksasi Fiksasi Diamati dengan mikroskop Ratakan dengan gelas Diamati dengan mikroskop dengan dengan pebesaran 100x – 400x (+) Kristal violet 1100x menit– 400x(+) Malachitegreen 1 menit objek perbesaran Bilas dengan aquades Bilas dengan aquades (+) Iodium 1 menit (+) Safranin 30 detik Fiksasi Bilas dengan aquades Bilas dengan aquades (+) Kristal Violet (+) Etanol 90% 30 detik Diseka dengan kertas serap Cuci dengan CuSo4. Ditiriskan. Pewarnaan Spora 3. 400x. Pewarnaan Sederhana Oleskan 2-3 suspensi ke gelas objek Fiksasi (Slide Culture Steril) 1. Pewarnaan Gram 2. Pembuatan Slide Culture 2.

400x. dan 1000x BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN A. . Aureus c. Bacillus Muda b.coli a. S. Hasil Jenis Pewarnaan Hasil Pengamatan Pewarnaan sederhana (khamir) Pewarnaan Gram a. E. Diamati dengan mikroskop Bilas dengan aquades dengan pebesaran 1000x Diamati dengan mikroskop dengen perbesaran 100x. b.

1991). c. Pembahasan  Pewarnaan Sederhana Pada praktikum pewarnaan sederhana. Langkah pertama yaitu bunsen dinyalakan . Persiapan safranin komersial sering mengandung campuran dari kedua jenis. Dengan pewarnaan sederhana dapat mengetahui bentuk dan rangkaian sel-sel bakteri (Hadioetomo. 1994). digunakan suspensi khamir. Zat-zat warna yang digunakan untuk pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkolin. Safranin adalah noda biologis yang digunakan dalam histologi dan sitologi. Pewarnaan Kapsul Pewarnaan Spora Pembuatan Slide Culture B. Safranin juga digunakan sebagai indikator redok dalam kimia analitik (Dwidjoseputro. Safranin digunakan sebagai conterstain dalam beberapa protokol pewarnaan.

Langkah terakhir yaitu preparat yang telah jadi diamati dibawah mikroskop. Aureus. Langkah selanjutnya yaitu suspensi diberikan zat pewarna safranin sebanyak 1-2 tetes dan didiamkan selama 1 menit.  Pewarnaan Gram Pada praktikum ini digunakan 3 suspensi yaitu Bacillus muda. Lapisan terluar yaitu lipoposakarida (lipid) kemungkinan tercuci oleh alkohol. Setelah 1 menit. E. Setelah dilakukan pengamatan dibawah mikroskop dengan perbesaran 400 x. Kemudian suspensi diteteskan atau digoreskan pada gelas objek dan dilakukan fiksasi agar suspensi melekat pada gelas objek. Warna merah pada khamir muncul karena zat pewarna yang digunakan adalah safranin. didapatkan hasil bahwa bakteri Bacillus muda dan S. Langkah selanjutnya yaitu suspensi diberikan zat pewarna utama yaitu kristal violet dan didiamkan selama 1 menit dan dibilas dengan akuades. Bakteri gram positif memiliki . Langkah pertama yaitu bunsen dinyalakan yang sebelumnya meja kerja telah disterilkan dengan alkohol 70%.coli. bilas dengan akuades. Bakteri gram negatif memiliki 3 lapisan dinding sel. Setiap suspensi dilakukan percobaan diatas. dan S. Bilas kembali dengan akuades kemudian diberi pewarna penutup yaitu safranin dan didiamkan selama 30 detik. bilas dengan akuades dan dikeringkan dengan kertas saring. sedangkan E. Bilas safranin dengan akuades dan gelas objek dikeringkan dengan kertas serap. Setelah 2 menit. Aureus termasuk kedalam golongan bakteri gram positif karena dihasilkan warna sel pada mikroskop berwarna ungu/biru tua. Langkah selanjutnya suspensi ditetesi dengan etanol 96% hingga kristal violet sudah habis terbilas dan didimkan selama 30 detik. didapatkan hasil bahwa sangat terlihat jelas suspensi khamir yang berwarna merah.yang sebelumnya meja kerja telah disterilkan dengan alkohol 70%. Selanjutnya ditetesi dengan iodium/lugol dan didiamkan selama 2 menit. Bentuk suspensi khamir yaitu bulat dan terlihat menggerombol satu sama lainnya. Kemudian suspensi diteteskan atau digoreskan pada gelas objek dan dilakukan fiksasi agar suspensi melekat pada gelas objek.coli termasuk kedalam golongan bakteri berwarna merah muda. Selanjutnya gelas objek siap untuk diamati dibawah mikroskop. Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarnaan- pewarnaan sederhana karena sitoplasmanya bersifat basofilik (suka dengan basa). sehingga pada saat diwarnai dengan safranin akan berwarna merah. Setelah diamati dibawah mikroskop dengan perbesaraan 1000 x.

1991). Pada praktikum pewarnaan spora ini digunakan suspensi Bacillus Tua.  Pewarnaan Spora Pewarnaan spora merupakan pewarnaan dengan menggunakan malchit green dan safranin sebagai bahan pewarnanya. Pewarnaan safranin bertujuan untuk counterstein yang digunakan untuk melumuri bagian warna dari sel yang lain dari pada endospora. Lalu dilakukan fiksasi untuk melekatkan mikroorganisme di kaca preparat. Langkah yang pertama yaitu diawali dengan mengoleskan isolat bakteri (Bacillus SP) dengan tujuan agar isolat bakteri dapat merata dikaca preparat. Kemudian dicuci dengan air dialirkan dari atas. Sel bakteri gram positif mungkin akan tampak merah jika waktu dekolorisasi terlalu lama. A. Sedangkan bakteri gram negatif akan tampak ungu bila waktu dekolorisasi terlalu pendek (Hadioetomo. Setelah pewarnaan dengan kristal violet. Preparat diuapkan diatas air mendidih dengan tujuan untuk memperbesar pori-pori bakteri agar pada saat pewarnaan dapat menembus dinding endospora dan dijaga jangan sampai pewarna kering. xylnium mampu mensintesis . Prinsip pewarnaan spora didasarkan pada penggunaan zat warna malachite green dan safranin dimana pada hasil pewarnaan akan menghasilkan warna hijau pada spora dan warna merah pada sel vegatitifnya. terlihat warna hijau yang merupakan spora dari Bacillus sp yang masih utuh dan warna merah yang merupakan sel vegetatif dari Bacillus sp. Hasil dari pengamatan dengan perbesaran 1000x. salah satunya adalah sel bakteri gram positif yang nampak berwarna merah dan sebaliknya.  Pewarnaan Kapsul Pada pewarnaan kapsul ini digunakan suspensi Acetobacter xylinum. 1991). pori-pori dinding sel menyempit akibat dekolorisasi oleh alkohol sehingga dinding sel tetap menahan warna biru (Hadioetomo. yang bertujuan untuk menghilangkan malacite green dari seluruh bagian sel endospora. Setelah itu diberikan zat warna malchit green yangberfungsi sebagai pewarna primer yang digunakan untuk melumuri fiksasi panas. Bakteri ini digunakan dalam pembutan nata decoco. Namun terdapat beberapa kesulitan dalam pewarnaan gram ini.selapis dinding sel berupa peptidoglikan yang tebal. Hasil uji bakteri Bacillus sp menghasilkan bakteri gram positif.

Teknik ini bertujuan untuk mengamati sel kapang dengan menumbuhkan spora pada object glass yang ditetesi media pertumbuhan.2001) : 1. 1994). Kumpulan dari hifa disebut miselium ( tunggal = mycelium. jamak = hyphae). dan dilakukan pengamatan dibawah mikroskop dengan perbesaran 1000x Pewarnaan ini mengunakan dua reagen. Fungi yang bersifat multiselluler (kapang) Kapang adalah fungi multiseluler yang mempunyai filamen. Langkah-langkah pembuatan slide culture. Selanjutnya dilakukan pembilasan krista violet dengan menggunakan CuSo 4. Selanjutnya ditambahkan kristal violet dan dilakukan fiksasi lagi sampai kering. Mengamati morfologi kapang dengan metode SlideCulture (Microculture). Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh praktikan terlihat bahwa kapsul pada Acetobacter xylinum terlihat transparan.5 H2O 20 % sampai warna kristal violet hilang. tetapi jika spora telah timbul akan terbentuk berbagai warna tergantung dari jenis kapang. Pertumbuhannya mula-mula akan berwarna putih.  Pembuatan Slide Culture Secara umum fungi dapat dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan atas tipe selnya yaitu (Pelczar. dan pertumbuhannya pada makanan mudah dilihat karena penampakannya yang berserabut seperti kapas. Jamak = mycelia) (Pelczar.2001). Hasil pewarnaannya ialah kapsul akan berwarna biru terang kontras dengan warna ungu gelap dari sel (Hans. Kapang terdiri dari suatu thallus (jamak = thalli) yang tersusun dari filamen yang bercabang yang disebut hifa ( tunggal = hypha. yaitu : . selulosa dari gula yang dikonsumsi. Langkah awal yang digunakan yaitu mencelupkan dua sampai tiga kali jarum ose kedalam suspensi lalu diratakan dengan mengguakan gelas objek dan dilakukan fiksasi sampai kering. yaitu: kristal violet sebagai dekolorisator (penghapus warna utama) serta kopper sulfat sebagai pewarna tandingan teradsorbsi bahan kapsular yang mengalami dekolorisasi.nata yang dihasilkan berupa pelikel yang mengambang dipermukaan substrat. Fungi bersifat uniselluler (khamir) 2.

3. 5. Pada cawan petri tersebut disimpan batang penahan berbentuk U. Setelah diamati lebiih detail lagi kapang tempe ini terlihat seperti kapas dan ukuran konidia dari kapang tempe ini. Pengamatan yang dilakukan ini menggunakan kapang/jamur pada tempe.1. 4. . 2. setelah itu dilakukan pengamatan dengan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 100x dan 400x. lalu diidentifikasi. Disiapkan sebuah cawan petri steril yang di dalamnya diberi kertas saring steril yang dipotong bundar dan telah dilembabkan dengan menggunakan akuades steril. Tujuannya untuk menjaga kelembaban kultur dalam cawan petri. Fungi kemudian diinkubasi pada keempat blog agar dan ditutup gelas penutup steril. Blok agar steril kira-kira berukuran 1 cm2 dipotong dari medium PDA dalam cawan petri steril lain dan diletakkan di atas gelas objek dengan menggunakan pisau atau alat pemotong steril. Setelah beberapa hari diinkubasi dalam suhu kamar. slide dapat diamati dengan menggunakan mikroskop pada perbesaran rendah sampai tinggi. Hasil yang terlihat pada kapang tempe dengan perbesaran 100x yaitu terlihat benang-benang halus atau hifa pada kapang tempe. dan di atas batang penahan diletakkan gelas objek dan penutupnya yang steril. Pada perbesaran 100x bentuk atau marfologi dari kapang pada tempe sudah terlihat jelas.

Pewarnaan Gram digunakan 3 suspensi yaitu Bacillus muda. Setelah diamati lebiih detail lagi kapang tempe ini terlihat seperti kapas dan ukuran konidia dari kapang tempe ini. Pada perbesaran 100x bentuk atau marfologi dari kapang pada tempe sudah terlihat jelas. Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh praktikan terlihat bahwa kapsul pada Acetobacter xylinum terlihat transparan. Kesimpulan Pada praktikum pewarnaan sederhana. E. Pada praktikum pewarnaan spora ini digunakan suspensi Bacillus Tua. didapatkan hasil bahwa sangat terlihat jelas suspensi khamir yang berwarna merah. Hasil pewarnaannya ialah kapsul akan berwarna biru terang kontras dengan warna ungu gelap dari sel. Didapatkan hasil bahwa bakteri Bacillus muda dan S. BAB IV PENUTUP A. yaitu: kristal violet sebagai dekolorisator (penghapus warna utama) serta kopper sulfat sebagai pewarna tandingan teradsorbsi bahan kapsular yang mengalami dekolorisasi. Dan Pembuatan Slide Culture menggunakan kapang/jamur pada tempe. Aureus. Pewarnaan ini mengunakan dua reagen.coli termasuk kedalam golongan bakteri berwarna merah muda. terlihat warna hijau yang merupakan spora dari Bacillus tua yang masih utuh dan warna merah yang merupakan sel vegetatif dari Bacillus tua. Warna merah pada khamir muncul karena zat pewarna yang digunakan adalah safranin. . digunakan suspensi khamir. Bentuk suspensi khamir yaitu bulat dan terlihat menggerombol satu sama lainnya. sedangkan E.coli. Aureus termasuk kedalam golongan bakteri gram positif karena dihasilkan warna sel pada mikroskop berwarna ungu/biru tua. terlihat benang-benang halus atau hifa pada kapang tempe. dan S. Hasil dari pengamatan dengan perbesaran 1000x. Pada pewarnaan kapsul ini digunakan suspensi Acetobacter xylinum.

Sylvia T. 1994. Raja Gratindo Persada: Jakarta. Jimmo. Dasar-dasar Mikrobiologi. 1994. Universitas Indonesia : Jakarta. Hastowo. Mikrobiologi. DAFTAR PUSTAKA Dwidjoseputro. Saran Praktikan dalam pengerjaan pewarnaan mikroba harusnya lebih berhati-hati dan teliti agar tidak ada kesalahan dalam mengelompokkan bakteri gram positif dan negatif. Michael. Mikrobiologi Dasar. Pelezaer Jr. Analisis Mikroba Dilaboratorium. Pratiwi. 2002. 2001. Praktikan juga seharusnya steril agar tidak terjadi kontaminasi pada mikroba. http://Pembuatan_Preparat_dan_Pengecatannya_ Blogkita. Sugyo. Erlangga: Jakarta Hadioetomo. Rajawali Pers: Jakarta. Pembuatan Preparat dan Pengecetannya. Rineka Cipta: Bandung. Bibiana W. 2008.B. [diakses 7 Mei 2016] Lay. 1991. Mikrobiologi. ECS Chan. .html. Mikrobiologi Farmasi. Erlangga: Jakarta. 2004.