You are on page 1of 34

DESAIN PENELITIAN

Desain penelitian menurut Mc Millan dalam Ibnu Hadjar adalah rencana dan struktur
penyelidikan yang digunakan untuk memperoleh bukti-bukti empiris dalam menjawab
pertanyaan penelitian. Definisi lain mengatakan bahwa desain (design) penelitian adalah rencana
atau rancangan yang dibuat oleh peneliti, sebagai ancar – ancar kegiatan yang akan
dilaksanakan. Desain penelitian ini merupakan kerangka atau perincian prosedur kerja yang akan
dilakukan pada waktu meneliti, sehingga diharapakan dapat memberikan gambaran dan arah
mana yang akan dilakukan dalam melaksanakan penetian tersebut, serta memberikan gambaran
jika peneletian itu telah jadi atau selesai penelitian tersebut diberlakukan.Desain penelitian yang
baik dapat memudahkan kita dalam melakukan penelitian.
Yang dimaksud rancangan penelitian adalah pokok – pokok atau tiang – tiang dari suatu
usul penelitian yang menggambarkan suatu penelitian itu dilakukan dan bagaimana hasil - hasil
penelitian itu diperkirakan setelah selesai nanti. Literatur lain menjelaskan bahwa ada kemiripan
antara desain penelitian dengan proposal penelitian atau usulan penelitian, sama karena bagian –
bagian dari desain penelitian, dalam perkembangannya terkadang tercantum dalam proposal
penelitian.
Proposal atau usul penelitian dibuat oleh peneliti apabila ia membutuhkan bantuan dana,
agar pihak yang member bantuan memahami betul apa yang dilakukan peneliti dan berapa besar
manfaat hasil penelitian yang diharapkan, maka ia harus membuat proposal atau usulan
secara lengkap. Selain desain, juga dicantumkan perincian rencana kebutuhan penggunaan dana,
sehingga setiap melakukan penelitian, kita harus membuat proposalnya terlebih dahulu, itulah
sebabnya pengertian desain dan proposal kemudian dikacaukan atau cenderung disamakan.
Setiap bagian dari suatu rancangan penelitian dipaparkan bagaimana cara menyusunnya,
apa-apa yang harus dikemukakan didalamnya, bagaimana cara menyambungnya dengan bagian-
bagian yang lain, sehingga membentuk rangkaian yang kokoh dalam suatu format laporan yang
utuh. Utuh disini dimaksudkan memenuhi syarat – syarat yang diminta sebagai suatu kerangka
penelitian ilmiah.
Apabila studi penelitian kita telah diformulasikan, maka tahap berikutnya adalah
menyusun rencana penelitian, setelah itu barulah rencana tersebut dijalankan dengan beberapa
pertimbangan yaitu ; pendekatan apa saja yang akan dipakai dalam menyelesaikan penelitian,
metode apakah yang dipakai, dan strategi apa saja yang lebih efektif dan efisien. Keputusan

mengenai rencana tergantung pada maksud, tujuan studi, masalah penelitian. Ketika maksud
tujuan telah disusun secara berurutan, maka penelitian kita mempunyai batasan yang eksplisit
atau terarah sehingga perhatian dapat dipusatkan terhadap target yang telah ditentukan.
Umumnya rancangan penelitian itu terdiri dari ; judul atau topik penelitian, latar belakang
masalah penelitian, penegasan masalah, tujuan meneliti, kegunaan hasil penelitian, landasan
teori, penelaahan kepustakaan, metodologi (teknik sampling, metode pengumpulan data, dan
metode analisis data), langkah-langkah jadwal kerja, dan pembiayaan.
Hal – hal yang perlu kita perhatikan ketika memulai melaksanakan desain
penelitian adalah ;
1. dalam menetapkan judul penelitian, diharapkan menarik minat peneliti, mampu untuk
dilaksanakan peneliti, mengandung kegunaan praktis dan penting untuk diteliti, hindari
terjadinya duplikasi judul dengan judul yang lain.
2. dalam merumuskan masalah penelitian, peneliti wajib mengajukan pertanyaan terhadap
dirinya tentang hal-hal yang akan dicari jawabanya melalui kegiatan penelitian, setelah
muncul batasan-batasan masalah, kemudian batasan itu menjadi poin-poin fokus
penelitiannya.
3. buatlah tujuan penelitian yang merupakan rumusan kalimat yang menunjukan adanya
sesuatu hal yang diperoleh setelah penelitian itu selesai.
4. didalam kegunaan hasil penelitian, harap disajikan hasil apa saja yang akan
disumbangkan untuk kemajuan ilmu pengetahuan yang merupakan flow up dari
kesimpulan.
5. kesimpulan yang ditulis pada pada akhir laporan penelitian merupakan jawaban yang
diperoleh antara problematic, tujuan penelitian, dan kesimpulan harus sinkron.

Jenis – jenis Desain Penelitian
1. desain penelitian dilihat dari perumusan masalahnya;
a. Penelitian eksploratif
b. Peneltian uji hipotesis
2. desain penelitian berdasarkan metode pengumpulan data;
a. Penelitian pengamatan
b. Peneltian Survai

3. desain penelitian dilihat dari pengendalian variabel-variabel oleh peneliti;
a. Penelitian eksperimental
b. Penelitian ex post facto
4. Desain penelitian menurut tujuannya;
a. Penelitian deskriptif
b. Penelitian komparatif
c. Penelitian asosiatif
5. Desain penelitian menurut dimensi waktunya ;
a. Penelitian Time Series
b. Penelitian Cross Section
6. Desain Penelitian dilihat dari lingkungan studi dapat dikelompokkan;
a. Studi Lapangan
b. Eksperimen Lapangan
c. Ekspreimen Laboratorium

MACAM-MACAM RANCANGAN PENELITIAN
Secara garis besar, penelitian kedokteran, penelitian kesehatan, dan penelitian
epidemiologi dapat dibagi berdasarkan beberapa aspek sebagai berikut.
Berdasarkan tujuan, penelitian kedokteran dapat dibagi menjadi penelitian eksploratif,
penelitian deskriptif, penelitian analitik (prospektif dan retrospektif), dan penelitian
eksperimental. Berdasarkan pendekatan yang digunakan maka penelitian dapat dibagi
menjadi penelitian cross sectional dan longitudinal, sedangkan ditinjau dart keterlibatan peneliti
dalam intervensi dapat dikelompokkan menjadi penelitian observasional dan penelitian
intervensional. Rancangan penelitian intervensional dapat berupa eksperimental,
noneksperimental, dan eksperimental semu.

Penelitian eksperimental dan penelitian eksperimental semu dapat dilakukan di rumah
sakit (clinical trial) berupa uji coba dalam pengobatan dan pencegahan (Therapeutic and
prophylactic trial) atau percobaan inetodologis berupa alas yang digunakan atau prosedur
pelayanan kesehatan atau prosedur pengobatan, dan lain-lain. Penelitian eksperimental
dapat pula dilakukan di lapangan (field trial) yang biasanya dilakukan dalam bentuk penelitian

Uji klinis dapar dilakukan dengan beberapa rancangan sebagai berikut. atau eksploratif dengan kasus-kontrol atau cross sectional diikuti longitudinal. Praintervensi–pascaintervensi dengan kelompok kontrol alokasi intervensi dilakukan secara random. Praintervensi–pascaintervensi 3. Pasca-intervensi dengan kontrol EKSPERIMENTAL SEMU 1. Kontrol Historikal 4. 2. tetapi dalam hal tertentu digunakan untuk penelitian analitik atau penelitian eksploratif digabung dengan penelitian deskriptif. praintervensi-pascaintervensi tanpa kelompok kontrol. Penelitian uji lapangan terdiri dari rancangan sebagai berikut. Praintervensi–pascaintervensi dengan kelompok kontrol tanpa randomisasi . sedangkan penelitian noneksperimental meliputi rancangan hanya pascaintervensi. Uji Lapangan (Field Trial) Field trial banyak digunakan dalam penelitian operasional pada program pelayanan kesehatan primer. Praintervensi–pascaintervensi dengan kelompok kontrol tanpa random alokasi. Hanya pasca intervensi 2. misalnya cross sectional merupakan penelitian deskriptif. Secara skematis. 3. 1.operasional (operations research). Pembagian rancangan penelitian di atas sifatnya tidak mudak dan Bering terjadi tumpang tindih hingga dalam satu penelitian dapat terdiri dart dua model rancangan. Rancangan deret berkala 2. dan lain-lain. Praintervensi–pascaintervensi dengan kelompok kontrol 2. Rancangan silang (cross over design). Perbandingan kelompok statik PENELITIAN EKSPERIMENTAL 1. Praintervensi–pascaintervensi dengan sampel terpisah 3. berbagai rancangan penelitian kedokteran dan epidemiologis dapat digambarkan sebagai berikut. NON EKSPERIMENTAL 1.

tergantung dari tujuan penelitian. Dari penelitian deskriptif akan dihasilkan hipotesis tentang adanya hubungan sebab- akibat. Analisis dan kesimpulan pengujian hipotesis dapat menghasilkan hipotesis baru atau dilakukan penelitian deskriptif baru untuk menghasilkan hipotesis dan seterusnya. Bila penelitian bertujuan untuk menelusuri faktor-faktor penyebab penyakit menggunakan klasifikasi yang telah ads maka penelitian seperti itu merupakan kombinasi antara eksploratif dan deskriptif dan disebut penelitian eksploratif–deskriptif. Berdasarkan hasil tersebut dilakukan penelitian analitik (prospektif atau retrospektif) atau penelitian eksperimental (uji klinis atau uji lapangan) untuk menguji hipotesis. Bila tujuan penelitian untuk mengetahui prevalensi penyakit tertentu dalam suatu populasi dan menguraikan ciri-ciri penderita untuk memperoleh informasi yang lebih mendalam agar dapat digunakan sebagai dasar untuk mengadakan penelitian yang spesifik maka rancangan penelitian yang paling sesuai ialah penelitian deskriptif cross sectional. Siklus tersebut dapar digambarkan sebagai berikut. Secara umum. STRATEGI PEMILIHAN RANCANGAN PENELITIAN Setelah diketahui bahwa terdapat bermacam-macam rancangan penelitian kini timbul pertanyaan rancangan mana yang akan digunakan? Untuk menentukan rancangan penelitian yang tepat. kita dapat memilih rancangan penelitian eksperimental atau noneksperimental. Walaupun dikembangkan berbagai model rancangan penelitian tetapi sebenarnya semua model rancangan penelitian tersebut berhubungan satu dengan yang lain hingga berupa suatu siklus yang disebut siklus penelitian. perlu diketahui strategi pemilihan rancangan penelitian yang akan digunakan. Penelitian yang bertujuan untuk memberikan penjelasan fungsi organ tubuh pada orang normal atau menentukan batas normal atau membandingkan dengan penyakit lain maka . Bila penelitian bertujuan untuk menelusuri faktor penyebab timbulnya penyakit baru yang penyebab dan mekanisme terjadinya penyakit belum diketahui maka rancangan penelitian yang paling sesuai ialah kombinasi antara kasus–kontrol dan eksploratif (explorative case control design). Dari siklus penelitian tersebut tampak bahwa penelitian tidak pernah berhenti untuk meningkatkan ilmu kedokteran.

Misalnya. Kedua rancangan penelitian menggunakan kelompok kontrol sebagai pembanding dan terdapat hipotesis spesifik untuk mengungkapkan adanya hubungan sebab-akibat. PENELITIAN EKSPERIMENTAL vs PENELITIAN ANALITIK Antara penelitian eksperimental dan penelitian analitik terdapat beberapa perbedaan dan persamaan sebagai berikut. Rancangan penelitian analitik dapat dilakukan dengan dun cara. Perbedaan antara rancangan penelitian eksperimental dan rancangan penelitian analitik terletak pada peran peneliti dalam intervensi. yaitu prospektif (kohor) dan retrospektif (kasus-kontrol). tetapi bila tidak memungkinkan dapat digunakan rancangan noneksperimental. Bila intervensi secara aktif dan terencana dilakukan oleh peneliti dengan mengendalikan faktor-faktor tertentu untuk mengungkapkan hubungan sebab- akibat maka penelitian demikian disebut penelitian eksperimental. penelitian kadar kolesterol darah pada remaja atau glukosa toleransi tes dan lain- lain. Kedua rancangan penelitian tersebut masing-masing mempunyai keuntungan dan kerugian. Antara rancangan penelitian eksperimental dan rancangan penelitian analitik terdapat persamaan berikut. Bila penelitian yang akan dilakukan bertujuan untuk mencari adanya hubungan sebab- akibat antara faktor risiko dengan timbulnya penyakit maka rancangan penelitian yang sesuai adalah penelitian eksperimen atau penelitian analitik.rancangan penelitian yang paling sesuai dengan tujuan tersebut adalah penelitian eksplanatori. Bila yang diteliti merupakan penyakit yang jarang terjadi atau penyakit dengan face laten . Bila "invervensi" tidak dilakukan oleh peneliti. tetapi dilakukan oleh alam atau subjek yang bersangkutan secara sengaja atau tidak dan peneliti hanya secara pasif mengamati perubahan yang terjadi untuk mengetahui adanya hubungan sebab-akibat maka penelitian seperti itu disebut penelitian analitik. Rancangan mana yang akan digunakan ergantung dari tujuan yang hendak kita capai. Bila penelitian yang akan dilakukan merupakan penelitian di lapangan untuk memperbaiki program pelayanan kesehatan dimasa yang akan datang maka rancangan penelitian yang paling sesuai untuk digunakan adalah penelitian operasional (Operations Research = OR) dalam hal ini bila memungkinkan gunakan rancangan eksperimental atau eksperimental semu.

Dibandingkan dengan penelitian- penelitian yang lain. yakni survey analytic cross- sectional. Penelitian cross sectional ini sering juga disebut penelitian transversal. A. dari analisis korelasi dapat diketahui seberapa jauh kontribusi faktor resiko tertentu terhadap adanya suatu kejadian tertentu (efek). dan survey analytic cohort (prospective). Hipertensi merupakan salah satu faktor resiko dari penyakit jantung (efek). RANCANGAN PENELITIAN CROSS-SECTIONAL Survey cross-sectional ialah suatu penelitian utnuk mempelajari korelasi antara faktor- faktor resiko dengan efek. Yang dimaksud faktor efek adalah suatu akibat dari adanya faktor resiko. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui efektivitas atau efisiensi obat atau prosedur pengobatan atau metode diagnostik maka rancangan penelitian yang sesuai dengan tujuan terebut adalah rancangan penelitian eksperimental (uji klinis). Artinya. tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variable subjek pada saat pemeriksaan. survey analitik case control (retrospective). ANALITIK Survei analitik adalah survey atau penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu terjadi. Kemudian melakukan analisis dinamika korelasi antara fenomena. dengan cara pendekatan.yang lama sebaiknya menggunakan rancangan kasus-kontrol dan bila tujuan penelitian untuk membandingkan insidensi penyakit sebaiknya dilakukan dengan rancangan prospektif (kohor). baik antara faktor resiko dengan faktor efek. Merokok adalah suatu faktor resiko untuk terjadinya penyakit kanker paru (efek). antar faktor resiko. observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach). metode penelitian ini merupakan yang paling lemah karena penelitian ini paling mudah dilakukan dan sangat sederhana. Pengertian-pengertian yang perlu . maupun antar faktor efek. survey analitik ini dibedakan dalam 3 pendekatan (jenis). dan serin digunakan dalam penelitian-penelitian epidemiologi. sedangkan faktor resiko adlaah suatu fenomena yang mengakibatkan terjadinya efek (pengaruh). Di dalam penelitian (survey) analitik. Hal ini tidak berarti bahwa semua subjek penelitian diamati pada waktu yang sama. Secara garis besar.

Faktor resiko adalah berbeda dengan agen (penyebab penyakit). Berdasarkan jenisnya. Faktor-faktor anatomi atau konstitusi tertentu 2. sehingga terjadi efek sakit. psikologik. bahwa penelitian cross-sectional adalah suatu penelitian dimana variabel-variabel yang termasuk faktor resiko dan variabel-variabel yang termasuk efek diobservasi sekaligus pada waktu yang sama. dan juga untuk penelitan jenis analitik yang lain. Faktor resiko intrinsic ini dibedakan menjadi: a. sehingga terjadi efek (sakit). yaitu manusia. biologic. tanpa ventilasi dan lembab. permusuhan. basil mycobacterium merupaka “agen” dari penyakit TB paru. penuh pertentangan. Penyakit atau efek b. Faktor resiko yang berasal dari lingkungan (faktor resiko ekstrinsik) yang mmudahkan seseorang terjangkit suatu penyakit tertentu. maupun sosial budaya dan perilaku.dipahami dalam penelitian cross sectional. Faktor jenis kelamin dan usia b. Faktor resiko yang berasal dari organism itu sendiri (faktor instrinsik). dan sebagainya merupakan faktor resiko untuk penderita stress. Sedangkan faktor resiko ialah suatu kondisi yang memungkinkan adanya mekanisme hubungan antara agen penyakit dengan induk semang (host) dan penjamu. kimiawi. faktor ekstrinsik ini dapat berupa: keadaan fisik. Seperti yang disebutkan di depan. Contoh. Orang-orang yang bekerja di perusahaan yang menggunakan bahan-bahan kimia tertentu mempunyai resiko untuk penyakit-penyakit yang disebabkan oleh bahan-bahan kimia tersebut. keadaan yang gaduh. Agen penyakit adalah mikroorganisme atau kondisi lingkungan yang beraksi secara langsung pada individu sehingga individu tersebut menjadi sakit. Misalnya: keadaan perkampungan yang padat penduduk merupakan faktor resiko untuk penyakit infeksi saluran pernapasan akut. yaitu: 1. Agen merupaka suatu faktor yang harus ada untuk terjadinya penyakit. merupakan faktor resiko terjadinya kontak antara mycobacterium tersebut dengan orang. Agen penyakit (penyebab penyakit) Faktor resiko ialah faktor-faktor atau keadaan-keadaan yang mempengaruhi perkembangan suatu penyakit atau status kesehatan tertentu. . di antaranya adalah: a. Ada dua macam faktor resiko. rumah yang padat penghuni. Sedangkan kondisi lingkungan jelek. Faktor resiko untuk terjadinya penyakit tersebut c.

Variabel independen (resiko) yang dikendalikan: paritas. Melakukan observasi atau pengukuran variabel-variabel yang merupakan faktor resiko dan efek sekaligus berdasarkan status keadaan variabel pada saat itu (pengumpulan data) 4. umur ibu.Variabel dependen (efek) : BBL . Demikian pula batas waktunya ditentukan. Menetapkan subjek penelitian 3. Melakukan analisis korelasi dengan cara membandingkan proporsi antar kelompok- kelompok hasil observasi (pengukuran) Contoh sederhana: ingin mengetahui hubungan antara anemia besi pada ibu hamil dengan berat badan bayi lahir (BBL) dengan menggunakan rancangan atau pendekatan cross sectional. Dari analisis ini akan diperoleh bukti adanya atau tidak adanya hubungan antara anemia dengan BBL. Tahap keempat Mengolah dan menganalisis data dengan cara membandingkan antara BBL dari ibu-ibu yang Hb darah ibu. Tahap ketiga Melakukan pengumpulan data. perawatan kehamilan. paritas. dan sebagainya. . mengukur berat badan bayi yang sedang dilahirkan. Tahap pertama Mengidentifikasi variabel-variabel yang akan diterliti dan kedudukannya masing- masing. menanyakan umur. Subjek penelitian di sini adalah ibu-ibu yang baru melahirkan namun perlu dibatasi dari daerah mana mereka ini akan diambil. rumah sakit bersalin.Variabel independen (resiko) : anemia besi . apakah lingkup rumah sakit umum. memeriksa Ph darah ibu. Kemudian bagaimana cara pengambilan sampelnya. apakah berdasarkan teknik random atau non-random. Tahap kedua Menetapkan subjek penelitian atau populasi dan sampelnya. dan variabel-variabel kendali yang lain. . atau rumah bersalin. Mengidentifikasi variabel-variabel penelitian dan mengidentifikasi faktor resiko dan faktor efek 2. Caranya. Rancangan ini dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah penelitian cross sectional adalah sebagai berikut: 1. observasi atau pengukuran terhadap variabel dependen-independen dan variabel-variabel yang dikendalikan secara bersamaan (dalam waktu yang sama).

variabel independen: perilaku ibu dalam memberikan makanan . Identifikasi kasus d. Tahap pertama Mengidentifikasi variabel dependen (efek) dan variabel-variabel independen (faktor resiko) . Seperti telah disebutkan di atas bahwa rancangan penelitian ini mempunyai keunggulan: mudah dilaksanakan. Diperlukan subjek penelitian yang besar b. Tidak dapat menggambarkan perkembangan penyakit secara akurat c. pendapatan keluarga. Kesimpulan korelasi faktor resiko dengan faktor efek paling lemah bila dibandingkan dengan dua rancangan epidemiologi yang lain B. Melakukan pengukuran “retrospekstif” (melihat ke belakang) untuk melihat faktor resiko f.variabel independen lain: pendidikan ibu. dan sebagainya Tahap kedua Menetapkan objek penelitian. sederhana. Di samping itu. baik variabel resiko maupun variabel efek. Tahap-tahap penelitian case control ini adalah sebagai berikut: a. Namun demikian rancangan ini mempunyai keterbatasan-keterbatasan antara lain: a. . dan hasilnya dapat diperoleh dengan cepat. Tidak valid untuk meramalkan suatu kecenderungan d. efek (penyakit atau status kesehatan) diidentifikasi pada saat ini. ekonomis dalam hal waktu.variabel dependen: malnutrisi . Menetapkan objek penelitian (populasi dan sampel) c. jumlah anak. RANCANGAN PENELITIAN “CASE CONTROL” Penelitian “case control” adalah suatu penelitian (survey) analitik yang menyangkut bagaimana faktor resiko dipelajari dengan menggunakan pendekatan “retrospective”. dalam waktu yang bersamaan dapat dikumpulkan variabel yang banyak. yaitu populasi dan sampel penelitian. Namun demikian perlu dibatasi pasangan ibu dan balita daerah mana yang menjadi populasi dan sampel penelitian ini. Melakukan analisis dengan membandingkan proporsi antara variabel-variabel objek penelitian dengan variabel-variabel control Contoh sederhana: penelitian ingin membuktikan hubungan antara malnutrisi (kekurangan gizi) pada anak balita dengan perilaku pemberian makanan oleh ibu. Pemilihan subjek sebagai control e. Dengan kata lain. kemudian faktor resiko diidentifikasi adanya atau terjadinya pada waktu yang lalu. Objek penelitian di sini adalah pasangan ibu dan anak balitanya. Identifikasi variabel-variabel penelitian (faktor resiko dan efek) b.

Pengukuran variabel yang retrospective. Dari sini akan diperoleh bukti atau tidak adaya hubungan antara perilaku pemberian makanan dengan malnutrisi pada anak balita. Yang dimaksud kasus di sini adalah anak belita yang memenuhi kriteria malnutrisi yang telah ditetapkan. Pemilihan kontrol hendaknya didasarkan kepada kesamaan karakteristik subjek pada kasus. Tidak dapat diketahui efek variabel luar karena secara teknis tidak dikendalikan . yaitu anak balita yang menderita malnutrisi. Pada kenyataannya memang sulit untuk memilih kelompok kontrol yang mempunyai karakteristik yang sama dengan kelompok kasus. misalnya berat per uurnya kurang dari 75% standar Harvard. Tahap keenam Melakukan pengolahan dan analisis data. objektivitas. Adanya pembatasan atau pengendalian faktor resiko sehingga hasil penelitian lebih tajam dibanding dengan hasil rancangan cross sectional c. Analisis data dilakukan dengan membandingkan proporsi perilaku ibu yang baik dan yang kurang baik dalam hal memberikan makanan kepadaa anaknya pada kelompok kasus. Tidak menghadapi kendala etik seperti pada penelitian eksperimen atau cohort d. Biasanya menggunakan metode 24 jam (24 hours recall). letak geografisnya. Misalnya ciri-ciri masyarakatnya. dengan proporsi perilaku ibu yang sama pada kelompok kontrol. Oleh sebab itu sebagian besar ciri-ciri tersebut kiranya dapat dianggap mewakili. yaitu pasangan ibu-ibu dengan anak balita mereka. yaitu dari kasus (anak balita yang malnutrisi) itu diukur atau ditanyakan kepada ibunya dengan menggunakan metode “recall” mengenai perilaku atau kebiasaan memberikan makanan kepada anaknya. Kasus diambil dari populasi yang telah ditetapkan. Recall di sini maksudnya menanyakan kepada ibu anak balita kasus tentang jenis-jenis makanan serta jumlahnya yang diberikan kepada anak balita selama periode tertentu. Tahap keempat Pemilihan subjek sebagai kontrol. Adanya kesamaan ukuran waktu antara kelompok kasus dengan kelompok kontrol b. Kelebihan Rancangan Penelitian Case Control a. sosial ekonominya. dan sebagainya. dan reliabilitasnya kurang karena subjek penelitian harus mengingat kembali faktor-faktor resikonya b.Tahap ketiga Mengidentifikasi kasus. Tidak memerlukan waktu lama (lebih ekonomis) Kekurangan Rancangan Penelitian Case Control a. Tahap kelima Melakukan pengukuran secara retrospektif.

Mengobservasi perkembangan subjek sampai batas waktu yang ditentukan. Identifikasi faktor-faktor rasio dan efek b. RANCANGAN PENELITIAN COHORT Penelitian cohort atau sering disebut penelitian prospektif adalah suatu penelitian survei (non eksperimen) yang paling baik dalam mengkaji hubungan antara faktor risiko dengan efek (penyakit). Memilih subjek yang akan menjadi anggota kelompok kontrol e. Artinya faktor risiko yang akan dipelajari diidentifikasi dulu kemudian diikuti ke depan secara prospektif timbulnya efek. c. yaitu penyakit atau salah satu indikator status kesehatan. Skema 12. selanjutnya mengidentifikasi timbul tidaknya efek pada kedua kelompok f. Pemilihan subjek dengan faktor risiko positif dari subjek dengan efek negatif d.4 Rancangan Penelitian Cohort . Seperti telah diuraikan sebelumnya penelitian cohort adalah suatu penelitian yang digunakan untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor risiko dengan efek melalui pendekatan longitudinal ke depan atau prospektif. Menetapkan subjek penelitian (menetapkan populasi dan sampel) c. Kadang-kadang sulit memilih kontrol yang benar-benar sesuai dengan kelompok kasus karena banyaknya faktor resiko yang harus dikendalikan C. Kesimpulan hasil penelitian ini akan membandingkan proporsi subjek yang menjadi sakit (efek positif) antara kelompok subjek yang diteliti dengan faktor risiko positif dengan kelompok subjek dengan faktor risiko negatif (kelompok kontrol). Menganalisis dengan membandingkan proporsi subjek yang mendapat efek negatif baik pada kelompok risiko positif maupun kelompok kontrol. Langkah-langkah penatalaksanaan penelitian cohort antara lain sbb : a.

Analisis dilakukan dengan membandingkan proporsi orang-orang yang menderita Ca Paru. Variabel dependen : Ca paru . . Tahap kedua : menetapkan subjek penelitian. Variabel independen : merokok . Tahap kelima . Dapat mengatur komparabilitas antara dua kelompok (kelompok subjek dan kelompok kontrol) sejak awal penelitian .prospektif Efek - Contoh sederhana : penelitian yang ingin membuktikan adanya hubungan antara cancer paru (efek) dengan merokok (risiko) dengan menggunakan pendekatan atau rancangan retrospektif. yaitu populasi dan sampel penelitian. misalnya selama 10 tahun ke depan untuk mengetahui adanya perkembangan atau terjadinya Ca Paru. diantaranya kelompok perokok dan kelompok tidak merokok. Beberapa keunggulan penelitian cohort a. Variabel pengendali : umur. dan juga mengidentifikasi subjek yang tidak merokok (risiko negatif) sejumlah yang kurang lebih sama dengan kelompok merokok. pekerjaan dan sebagainya. Tahap keempat : mengobservasi perkembangan efek pada kelompok otang-orang yang merokok (risiko positif) dan kelompok orang yang tidak merokok (kontrol) sampai pada waktu tertentu. Tahap pertama : mengidentifikasi faktor efek (variabel dependen) dan risiko (variabel independen) serta variabel-variabel pengendali (variabel kontrol). Misalnya yang menjadi populasi adalah semua pria si suatu wilayah atau tempat tertentu. baik yang merokok maupun yang tidak merokok. mengolah dan menganalisis data. dengan umur antara 40 sampai dengan 50 tahun. Tahap ketiga : mengidentifikasi subjek yang merokok (risiko positif) dari populasi tersebut. Efek + Faktor risiko + prospektif Efek - Populasi (sampel) Efek + Faktor risiko .

b. Penelitian eksploratif dapat diibaratkan orang yang sedang "menjala ikan" dengan harapan dapat menemukan sesuatu yang berharga. penelitian eksploratif antara lain digunakan untuk menelusuri kemungkinan adanya hubungan sebab-akibat timbulnya penyakit baru yang sebelumnya tidak pernah ada. PERENCANAAN Dalam bidang kedokteran. Kemungkinan adanya subjek penelitian yang drop out dan akan mengganggu analisis hasil d. baik terhadap faktor risiko maupun efek dari waktu ke waktu Keterbatasan penelitian cohort a. Dapat secara langsung menetapkan besarnya angka risiko dari suatu waktu ke waktu yang lain c. dan faktor-faktor penyebabnya belum diketahui demikian pula dengan mekanisme terjadinya penyakit tersebut dan oleh karena itu belum dapat dibuat hipotesis yang spesifik untuk dilakukan penelitian analitik. Ada keseragaman observasi. Setelah itu disusul dengan menemukan populasi studi dan subjek studi untuk mengetahui ciri-ciri individu yang dijadikan . penelitian eksploratif biasanya diawali dengan ditemukannya kasus baru yang belum pernah ada sebelumnya. PENELITIAN EKSPLORATIF PENDAHULUAN Rancangan penelitian eksploratif banyak digunakan dalam bidang antropologi dan sosiologi. Karena faktor risiko yang ada pada subjek akan diamati sampai terjadinya efek (mungkin penyakit) maka hal ini berarti kurang atau tidak etis. Perencanaan penelitian eksploratif diawali dengan pertanyaan penelitian kemudian ditentukan tujuan untuk menemukan apakah menggunakan kontrol atau tidak. Memerlukan sarana dan pengelolaan yang rumit c. Memerlukan waktu yang cukup lama b. Dalam bidang kedokteran. selain itu penelitian eksploratif juga diharapkan dapat menemukan faktor yang diperkirakan sebagai penyebab hingga dapat dilakukan penelitian lanjutan.

Misalnya.sasaran penelitian dan variabel-variabel penting yang berkaitan dengan penyakit yang dimaksud untuk diukur. atau pola hidup tertentu atau mengkonsumsi obar-obatan atau ciri-ciri demografis atau keadaan lingkungan dan hal-hal lain yang mungkin berkaitan dengan penyebab penyakit yang dicari. saat gejala awal mulai timbul. apa selama kehamilan makan obat tertentu. umur. subjek studi tidak hanya terbatas pada penderita. Tujuan Pada umumnya. saudara dan kerabat dekat. dipersiapkan juga instrumen pengumpulan data serta pemeriksaan yang dibutuhkan. pertanyaan yang berkaitan dengan keturunan. atau orang-orang yang dianggap berkaitan dengan timbulnya penyakit. Pertanyaan penelitian Menentukan pertanyaan penelitian yang mengarah kepada perkiraan faktor yang menyebabkan timbulnya penyakit yang akan diteliti. PELAKSANAAN PENELITIAN Pengumpulan Data Setelah dilakukan persiapan secara cermat clan akurat. penelitian eksploratif bertujuan untuk mengadakan penelusuran dan mengungkapkan faktor-faktor yang dapat diperkirakan sebagai penyebab timbulnya penyakit baru yang belum diketahui sebab dan mckanisme terjadinya. Di samping itu. dan lain-lain. Misalnya. apa yang tclah dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. riwayat persalinan. tetapi juga keluarga penderita termasuk orang tua. pertumbuhan. Subjek Studi Pada penelitian eksploratif. kondisi saat dilahirkan. apa ada keluarga yang pernah menderita penyakit serupa. Misalnya. melakukan penelusuran terhadap perkiraan faktor penyebab timbulnya AIDS pada awal ditemukannya penyakit itu. lalu dilakukan pengumpulan . Variabel yang Akan Diukur Karena faktor penyebab atau faktor risiko timbulnya penyakit belum diketahui maka variabel yang akan diukur cukup banyak.

Susun pedoman wawancara yang akan digunakan sebagai pegangan. Tentukan kriteria sasaran yang akan diwawancarai. 3. Analisis Data Analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif Berta mengarah pada perkiraan faktor penyebab timbulnya penyakit lalu dan dengan hati-hati ditarik kesimpulan untuk dibuat laporan lengkap. Suasana pelaksanaan harus tenang dan aman. Tentukan pewawancara. 2. 4. pemeriksaan patologi anatomi. Wawancara Mendalam Wawancara mendalam merupakan salah satu teknik pengumpulan data dalam studi kualitatif untuk memperoleh informasi yang mendalam tentang pendapat. Pelaksanaan 1. pemeriksaan radiologis. Tentukan tempat dan waktu wawancara. 2. Persiapan 1. persepsi. sesuai kebutuhan.data dengan metode kuantitatif dan metode kualitatif menggunakan teknik wawancara mendalam terhadap penderita dan keluarganya. dan diskusi kelompok terarah (FGD). dan tahap analisis atau tahap penarikan kesimpulan. yaitu tahap persiapan. Awali dengan memperkenalkan diri dan ciptakan suasana rapport dengan melakukan . di samping pemeriksaan fisik clan pemeriksaan penunjang. clan lain-lain. Pada prinsipnya. seperti pemeriksaan laboratorium. Wawancara mendalam juga dapat digunakan untuk menelusuri berbagai hal yang diperkirakan sebagai faktor yang berkaitan dengan timbulnya penyakit baru yang belum pernah ada. 5. penerimaan atau kepercayaan masyarakat terhadap program pelayanan yang telah ada (evaluatif) atau program pelayanan kesehatan yang akan dijalankan. Adakan perjanjian dengan responden tentang waktu yang tepat. kegiatan wawancara mendalam terdiri dari tiga tahap. Cari sasaran sesuai kriteria. tahap pelaksanaan. Di bawah ini akan diuraikan secara garis besar metode kualitatif dengan teknik wawancara mendalam. 3.

1. pemanasan. Penarikan kesimpulan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak bias. Untuk mengurangi ketegangan pada awal wawancara. 1. Analisis dan Kesimpulan 1. 2. . Wawancara mendalam hanya dapat dilakukan pada jumlah responden yang tidak banyak (20-30). kegiatan FGD terdiri dari tiga tahap. ajukan pertanyaan yang mudah dijawab berdasarkan minas responden walaupun tidak berkaitan dengan topik bahasan. 2. yaitu:  persiapan. Membutuhkan keahlian khusus untuk melakukan wawancara mendalam. 3. Penulisan laporan hasil wawancara. 2. Berilah kesempatan yang seluas-luasnya kepada responden untuk menjawab atau menceritakan pendapat atau kejadian yang pernah dialaminya dan lain-lain. Secara garis besar. Jelaskan maksud dan tujuan wawancara dan jelaskan juga bahwa semua keterangan yang diberikan sangat bermanfaat. Pewawancara harus memahami benar topik bahasan. 5. Analisis dilakukan secara kualitatif. 2. 3. Keterbatasan 1. kemudian baru masuk ke dalam topik yang sebenarnya. Mintalah pada responden untuk memberikan penjelasan yang jujur dan seluas-luasnya.  pelaksanaan. Kesimpulan bersifat subjektif DISKUSI KELOMPOK TERARAH (FOCUS GROUP DISCUSSION-FGD) Untuk mengatasi keterbatasan tenaga pewawancara pada wawancara mendalam dilakukan wawancara secara kelompok yang biasanya terdiri dari 6-12 orang. Membutuhkan waktu yang relatif lama. Salah satu bentuk wawancara kelompok ini ialah diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion = FGD). 4.

sebagian ahli menyatakan bahwa kelompok diskusi tidak harus homogen asalkan di dalam kelompok diskusi itu tidak terdapat perbedaan Yang mencolok. 2. Menentukan tujuan dan penyusunan pedoman diskusi sesuai dengan pokok bahasan. 5. tingkat sosial ekonomi. FGD yang bertujuan untuk mengetahui faktor penyebab rendahnya akseptor IUD walaupun fasilitas untuk pelayanan IUD cukup baik dengan tenaga pemasang IUD yang terlatih dan logistik serta biaya yang sangat murah. Menentukan fasilitator yang akan memimpin diskusi. 1.  analisis dan penarikan kesimpulan. Banyaknya kelompok FGD dalam hal ini terdiri dari kelompok ibu-ibu akseptor IUD. 4. Setiap kelompok diskusi diusahakan agar homogen dalam hal jenis kelamin. . umur. akseptor non-IUD. 6. dan lain-lain. kelompok bukan akseptor. Semua peserta dapat berperan aktif Namun. suami akseptor IUD dan suami akseptor bukan IUD. tape recorder dan dokumentasi. Menentukan jumlah peserta dalam satu kelompok dan banyaknya kelompok yang digunakan sesuai dengan tujuan penelitian. Mempersiapkan daftar perranyaan yang akan digunakan. 5. dan tingkat pemahaman. Masing-masing peserta dalam tiap kelompok harus diberi batasan atau kriteria yang jelas. Mempersiapkan pentranskripsi dan fasilitas lain. yang dinamakan akseptor IUD ialah ibu-ibu pasangan usia subur yang selama dua tahun terakhtr menggunakan alat kontrasepsi IUD dan untuk akseptor non-IUD ialah ibu-ibu pasangan usia subur yang menggunakan alat kontrasepsi Selain IUD selama dua tahun terakhir. Mencari peserta diskusi yang sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. 3. Misalnya. Hal ini dimaksudkan agar dalam diskusi. tokoh agama dan tokoh masyarakat. tingkat pendidikan. Fasilitator hendaknya mempunyai jenis kelamin yang sama dengan peserta diskusi walaupun syarat ini tidak mutlak dan fasilitator harus memahami masalah yang akan didiskusikan serta dapat menjalin hubungan baik dengan peserta. Misalnya. Menentukan kriteria peserta diskusi. seperti lokasi diskusi. Persiapan Pada tahap persiapan dilakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut. serta uang transport bagi peserta.

Selama diskusi. Pendapat pertama mengatakan bahwa biarkan yang bersangkutan mengemukakan pendapatnya dan pembicaraannya jangan dipotong karena bila tersinggung maka untuk selanjutnya ia akan menarik diri dan tidak bersedia mengemukakan pendapatnya. Pelaksanaan Kegiatan pada tahap pelaksanaan FGD adalah sebagai berikut. 1. 5. tetapi memberikan kebebasan peserta dalarn mengemukakan pendapatnya. Dalam hal ini fasilitator dapat menentukan apakah ia akan menganut pendapat yang pertama atau pendapat yang kedua. Semua pembicaraan dalam diskusi dicatat dan direkam sebagai bahan yang akan digunakan dalam analisis dan penulisan laporan. Fasilitator membimbing diskusi ke arah permasalahan yang menjadi pokok bahasan. Bila terdapat peserta yang menanyakan pendapat fasilitator hendaknya dialihkan dengan mengatakan bahwa nanti akan diberikan pendapatnya dan katakan bahwa salah seorang peserta masih belum memberikan pendapatnya. 2. setelah diskusi selesai dapat saja fasilitator mernberikan pendapatnya. Mula-mula fasilitator beserta timnya memperkenalkan diri pada peserta diskusi dan menjelaskan tujuan diskusi serta dimohon agar setiap peserta berperan aktif Selain itu. Dengan demikian. fasilitator hendaknya tidak mengemukakan pendapatnya sendiri tentang pokok bahasan. peserta akan lupa dan tidak menanyakan lagi. 4. Bila dalam kelompok terdapat peserta yang mendominasi dan kurang memberikan kesempatan pada peserta lain maka ada dua pendapat untuk mengatasi kedaaan ini. diberitahukan pula bahwa setiap jawaban atau penjelasan peserta sangat penting artinya dan semua jawaban tidak ada yang salah. fasilitator tidak menggurui. 3. Pendapat kedua mengatakan bahwa keadaan tersebut harus diinterupsi karena hal tersebut sudah merupakan sifat dari orang yang bersangkutan dan dalam kehidupan sehari-hari pembicarannya sering diinterupsi hingga ia tidak akan tersinggung dan apa yang dikhawatirkan oleh pendapat pertama tidak beralasan. 6. . Setelah diskusi selesai ucapkan terima kasih atas partisipasi peserta diskusi. 6. Mengadakan perjanjlan dengan peserta tentang tempat dan waktu pelaksanaan diskusi.

lha mencretnya nggak hilang malah tambah". Misalnya. Misalnya. clan penerimaan masyarakat terhadap program pelayanan kesehatan. sikap. pemberian oralit pada penderita diare. Ada pendapat lain dalam melakukan analisis. Menghemat waktu dan biaya. 5. Analisis dan penulisan laporan harus dilakukan oleh fasilitator. "Kalau saya sih nggak begitu setuju dengan oralit diberikan pada anak saya yang mencret. 3. 2.Analisis dan kesimpulan Analisis data dilakukan secara kualitatif dan semua pembicaraan serta komentar peserta tidak diinterpretasi. Hasilnya tidak dapat dikuantifikasi dan bersifat subj ektif berdasarkan persepsi . Hasil FGD dapat digunakan bersama-sama atau sebagai data yang melengkapi data kuantitatif. Apa yang dikatakan oleh peserta diskusi tersebut dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menarik kesimpulan. Memperoleh pengetahuan yang mendalam tentang pendapat. Memperoleh informasi yang mendalam tentang perilaku tiap individu. 4. yaitu analisis dilakukan oleh beberapa orang kemudian hasilnya dicocokkan dan bila terdapat hal yang berbeda dilakukan diskusi untuk kemudian diambil keputusan bersama. Keuntungan 1. Hal ini dilakukan agar kesimpulan dapat lebih objektif KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN Pengumpulan data dengan teknik FGD memiliki beberapa keuntungan dan kerugian sebagai berikut. Kerugian 1. tetapi ditulis apa adanya. 2. Memperoleh data yang tidak dapat diperoleh dengan cars kuantitatif. 6. Dapat dilakukan pada sasaran yang lebih banyak dibandingkan wawancara mendalam. Kurangnya tenaga fasilitator yang ahli.

perlu dilakukan persiapan yang baik dan bila perlu dibentuk tim sesuai dengan keahlian masing-masing. tentukan teknik pengumpulan data yang akan digunakan termasuk pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan seperti pemeriksaan laboratorium clan pemeriksaan radiologis serta pemeriksaan lain yang dibutuhkan. Selanjutnya. dapat dikemukakannya DES sebagai faktor penyebab kanker vagina pada remaja diawali dengan laporan kasus di Amerika serikat. tindakan yang . Sebaiknya. PERSIAPAN Agar laporan kasus dapat dilakukan dengan baik dan bermanfaat bagi perkembangan ilmu kedokteran. pembahasan. yaitu paradigma deterministik maka dalam dunia kedokteran sering dijumpai kasus -kasus penyakit yang jarang terjadi atau belum pernah dijumpai sebelumnya atau penyakit yang telah lama menghilang di suatu daerah. Beberapa kelemahan dalam laporan kasus yang masih harus diperbaiki antara lain dalam melakukan pengumpulan data. malaria. Walaupun menurut pakar penelitian. PELAKSANAAN Pada tahap pelaksanaan dilakukan pengumpulan data. laporan kasus tidak dapat dianggap sebagai suatu penelitian karena tidak mengikuti kaidah-kaidah penelitian yang lazim digunakan. namun bagi dunia kedokteran hal tersebut tidak merupakan masalah karena dari laporan kasus banyak diternukan berbagai penyebab penyakit baru. Adanya kasus- kasus penyakit yang jarang terjadi atau belum pernah terjadi perlu dilaporkan untuk memberikan informasi kepada masyarakat Ilmiah dan untuk menambah wawasan ilmu kedokteran atau dapat digunakan untuk mengadakan penelitian yang mendalam guns menemukan faktor yang diperkirakan sebagai penyebab tirnbulnya penyakit tersebut. fasilitator hingga sering kali kurang meyakinkan. fasilitator adalah peneliti. dan lepra. LAPORAN KASUS PENDAHULUAN Sesuai dengan paradigma yang dianut para klinisi. misalnya penyakit gigantisme. Sebagai contoh. akromegali.

KOMENTAR Walaupun pars pakar penelitian menyatakan bahwa laporan kasus bukan suatu penelitian karena tidak mengikuti kaidah-kaidah penelitian yang berlaku. Dari laporan kasus dapat dikembangkan penelitian yang lebih mendalam untuk mengetahui penyebab penyakit. Laporan kasus hendaknya ditujukan pada penyakit-penyakit yang sangat jarang terjadi di mana faktor penyebab dan mekanisme terjadinya penyakit masih belum jelas dan penelusuran dilakukan secara mendalam hingga dapat diungkapkan hal-hal baru yang sebelumnya tidak diketahui atau penyakit dengan gejala yang tidak lazim. misalnya orang rua.dilakukan serta hasilnya. (Medika. Di samping itu. November 2002) KEUNTUNGAN 1. dilakukan jugs pemeriksaan fisik. Laporan kasus yang dilakukan dengan benar akan mernperkaya pengetahuan ilmu kedokteran. No. penyakit yang saat ini dikenal dengan AIDS dan lain-lain . Subjek studi dalarn laporan kasus hendaknya tidak hanya penderita Baja. tetapi termasuk orang yang berhubungan dengan penyakit yang dilaporkan. laporan kasus tentang osteomielitis pada anak yang tampak sehat tanpa demam. namun cukup banyak penyakit yang kits kenal saat ini diawali dengan laporan kasus. Misalnya. Pengumpulan data pada laporan kasus dilakukan dengan wawancara mendalam tentang riwayat terjadinya penyakit untuk memperoleh gambaran tentang perkiraan faktor penyebab penyakit atau faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit tersebut. saudara. Misalnya. Di samping wawancara mendalam. I I tahun ke XXVIII. dan penarikan kesimpulan. Laporan harus ditulis selengkap-lengkapnya agar dapat dipelajari dan ditelaah sejawat lain yang mungkin menemui kasus serupa. pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lain yang dibutuhkan untuk memperkuat dugaan faktor yang diperkirakan berkaitan dengan penyebab penyakit agar dapat digunakan untuk memberikan pengobatan yang sebaik-baiknya. Laporan kasus dapat menambah wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu kedokteran. atau kerabat dekat lain. tindakan atau perawatan serta pengobatan yang diberikan termasuk basil pengobatan harus dilaporkan secara rinci. 2.

Laporan kasus yang dipublikasikan kurang lengkap dan terinci. Penelusurannya kurang mendalam karena pengumpulan data dilakukan secara kuantitatif dengan teknik wawancara terstruktur. Hal ini disebabkan oleh penelusuran melalui metode kualitatif kurang dipahami oleh sebagian klinisi dan ini merupakan tantangan bagi para klinisi untuk mempelajari metode kualitatif. Metode penelitian deskriptif digunakan untuk memecahkan atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang. Metode penelitian deskriptif sering digunakan dalam program pelayanan. Laporan kasus seperti di atas kurang mempunyai arti dalam pengembangan ilmu kedokteran. METODE PENELITIAN DESKRIPTIF Metode penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif. 2. Kesulitan lain yang dihadapi dalam laporan kasus terletak pada analisis dan penarikan kesimpulan karena data yang diperoleh dari wawancara mendalam berupa data lunak dan bersifat subjektif hingga tidak dapat dikuantifikasi. Oleh karena itu. diawali dengan laporan kasus. 3. Survei . terutama dalam rangka mengadakan perbaikan dan peningkatan program-program pelayanan kesehatan tersebut. Jenis-jenis Penelitian Deskriptif 1. Dalam kenyataan Bering dijumpai laporan kasus tidak dilakukan pada penyakit yang jarang terjadi. penarikan kesimpulan tidak hanya didasarkan dari hasil wawancara Baja. KERUGIAN 1. tetapi harus ditunjang dengan hasil pemeriksaan fisik dan hasil pemeriksaan penunjang agar kesimpulan tidak bias.

adalah suatu survei deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui kejadian dan distribusi penyakit di dalam masyarakat atu populasi. Unit yang menjadi kausu tersebut dianalisis secara mendalam baik dari segi yang berhubungan dengan keadaan kasus. b. Studi Perbandingan Dilakukan dengan cara membandingkan persamaan dan perbedaan sebagai fenomena untuk mencari faktor-faktor apa. meliputi berbagai aspek yang luas. dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran tentang pendapat umum terhadap suatu program pelayanan kesehatn yang sedang berjalan dan yang menyangkut seluruh lapisan masyarakat. sekelompok penduduk yang terkena suatu masalah atau kelompok masyarakat di suatu daerah. 3. maupun tindakan dan reaksi kasus terhadap suatu perlakuan. d. adalah suatu survei deskriptif yang ditujukan kepada rumah tangga. Studi atau penelahan kasus Dilakukan dengan cara meneliti suatu permasalahan melalui suatu kasus yang terdiri dari unit tunggal. namun dianalisis secara mendalam. Survei ini dapat sekaligus digunakan untuk mengetahui insiden suatu penyakit. Survei pendapat umum. kejadian-kejadian khusus yang muncul sehubungan dengan kasus. Meskipun di dalam studi kasus ini yang diteliti hanya berbentuk unit tunggal. dalam melaksanakan survei biasanya hasilnya dibuat suatu analisis secara kuantitatif terhadap data yang telah dikumpulkan. Pada umumnya survei bertujuan untuk membuat penilaian terhadap suatu kondisi dan penyelanggarakan suatu program di masa sekarang. Suatu cara penelitian deskriptif yang dilakukan terhadap sekumpulan objek yang biasanya cukup banyak dalam jangka waktu tertentu. faktor yang mempengaruhi. Biasanya pengumpulan data dilakukan dengan wawancara kepada kepala keluarga. atau situasi bagaimana yang menyebabkan timbulnya suatu peristiwa tertentu. Unit tunggal di sini dapat berarti satu orang. c. kemudian hasilnya digunakan untuk menyusun perencanaan perbaikan program tersebut. Studi ini dimulai dengan mengadakan pengumpulan . Oleh sebab itu. Survei rumah tangga. Jenis masalah survei dapat digolongkan sebagai berikut : a. Survei analisis jabatan. 2. bertujuan untuk mengetahui tentang tugas dan tanggung jawab para petugas kesehatan serta kegiatan-kegiatan para petugas tersebut sehubungan denga pekerjaan mereka. Survei Morbiditas. serta penggunaan berbagai teknik secara intergratif.

dan sejauh mana hubungan antara keduanya . atau sekaligus membandingkan suatu gejala dan faktor- faktor yang mempengaruhinya dari dua atau beberapa kelompok sampel. Misalnya memperkirakan kemungkinan keberhasilan menurunkan angka kematian bayi berdasarkan pada besarnya cakupan imunisasi. Untuk mengetahui korelasi antara suatu variable dengan variable lain tersebut diusahakan dengan mengidentifikasi variable yang ada pada suatu objek. kemudian dibandingkan dengan situasi lain. waktu lahir. 4. Koefisien korelasi yang diperoleh selanjutnya dapat dijadikan dasar untuk menguji hipotesis penelitian yang dikemukakan terhadap masalah tersebut. Studi Korelasi Studi korelasi ini pada hakikatnya merupakan penelitian atau penelaahan hubungan antara dua variable pada suatu situasi atau sekelompok sebjek. Hal ini dilakukan untuk melihat hubungan antara gejala satu dengan gejala yang lain. fakta tentang faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya gejala tertentu. Dalam uji statistik biasanya menggunakan analisis koralasi secara sederhana dapat dilakukan dengan cara melihat skor atau nilai rata-rata dari variable yang satu dnegan skor rata-rata dari variable lain. Dalam bidang kesehatan. hubungan antara pendidikan ibu dengna status gizi anak balita. studi prediksi ini digunakan terutama: . kemsidan diidentifikasi pula cariabel lain yang ada pada obejek yang sama dan dilihat apakah ada hubungan antar keduanya. maupun pada objek yang diperbandingkan. misalnbya penelitian untuk mengetahui apakah ada hubungan antara berat badan bayi. Studi Prediksi Studi ini digunakan untuk memperkirakan tentang kemungkinan munculnya suatu gejala berdasarkan gejala lain yang sudah muncul dan diketahui sebelumnya. dsb. atau variable satu dengan variable lain. Selanjutnya ditetapkan bahwa suatu faktor yang menyebabkan munculnya suatu gejala pada objek yang diteliti itulah sebenarnya yang menyebabkan gejala tersebut. 5. dengan jumlah paritas dari ibu. baik pada objek yang diteliti. dengan membuktikan apakah ada hubungan kedua variable tersebut. hubungan antara angka kematian anak balita dengan kelengkapan imunisasi.

Misalnya memperkirakan skor intelegensi anak dari pengikuran BB per umur pada anak. 3. . Untuk melihat apakah munculnya suatu gejala itu ada hubungannya dengan gejala lain. 6. 2. Dalam melakukan uji statistic biasanya analisis regresi sebagaimana dengan teknik korelasi. Membuat asumsi yang menjadi dasar perumusan hipotesis penelitian. misalnya memperkirakan penurunan angka kematian akibat kecelakaan dari berlakunya aturan penggunan helm bagi kjendaraan bermotor. Untuk membuat perkiraan terhadap suatu atribut dari hasil pengukuran. Misalnya memperkirakan status gizi anak balita dari status social ekonomi orang tua mereka. penelitian evaluasi tentang program perbaikan gizi. Misalnya memperkirakan kemungkinan wabah muntaber dari hasil pemeriksaan air minum penduduk. dan sebagainya. Dalam mengolah hasil penelitian evaluasi ini biasanya menggunakan analaisis statistic sederhana saja. Untuk membuat perkiraaan terhadap suatu pengukuran dari suatu atribut. Merumuskan hipotesis penelitian. Misalnya analisis presentase. d. Merumuskan dan memilih teknik pengumpulan data. a. 6. Penelitian Evaluasi Penelitian evaluasi dilakukan untuk menilai suatu program yang sedang atau sudah dilakukan. Untuk membuat perkiraaan terhadap suatu pengukuran dari pengukuran orang lain. 4. Hasil dari penelitian ini digunakan untuk perbaikan dan atau peningkatan program-programn tersebut. Menentukan kriteria atau katagori untuk mengklasifikasikan data. maka prediksi penafsiran analisis statistika didasarkan pada koefisien yang diperoleh. Untuk membuat perkiraan terhadap suatu atribut dari atribut lain. dan sampai seberapa besar derajat hubungan tersebut. Merumuskan dan mengadakan pembatasan masalah kemudian diadakan studi pendahuluan. 5. penelitian tentang program poemberantasan penyakit menular. Memilih masalah yang akan diteliti. c. Misalnya penelitian evaluasi tentang perkembangn layanan Puskesmas. Langkah-langkah Penelitian Deskriptif 1. b.

7. Melakukan pengolahan dan analisis data. Menyusun dan mempublikasikan laporan penelitian. Melaksanakan penelitian atau pengumpulan data untuk menguji hipotesis. 9. Metode penelitian deskriptif degunakan untuk memecahkan atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang. Pengertian Metode penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif. menelaah suatu kasus tunggal. khususnya di bidang pelayanan kesehatan. Menarik kesimpulan atau generalisasi. 8. mengadakan perbandingan antara suatu hal dengan hal yang lain. PENELITIAN DESKRIPTIF A. B. Menentukan teknik dan alat pengumpulan data. Masalah yang layak diteliti menggunakan metode deskriptif adalah masalah yang dewasa ini sedang dihadapi. Langkah-langkah Penelitian Deskriptif  Memilih masalah yang akan diteliti  Merumuskan dan mengadakan pembatasan masalah. kemudian berdasarkan masalah tersebut diadakan studi perndahuluan untuk menghimpun informasi dan teori-teori sebagai dasar untuk menyusun kerangka konsep penelitian  Membuat asumi atau anggapan-anggapan yang menjadi dasar perumusan hipotesis penelitian  Merumuskan hipotesis penelitian  Merumuskan dan memilih teknik pengumpulan data  Menentukan criteria atau kategori untuk mengadakan klasifikasi data  Menetukan teknik dan alat pengumpulan data yang akan digunakan  Melaksanakan penelitian atau pengumpulan data untuk menguji hipotesis  Melakukan pengolahan dan analisa data (menguji hipotesis)  Menarik kesimpulan atau generalisasi  Menyusun dan mempublikasikan laporan penelitian C. 10. Masalah-masalah ini baik yang berkaitan dengan penelaahan terhadap masalah yang mencakup aspek yang cukup banyak. 11. ataupun untuk melihat hubungan antara suatu gejala dengan peristiwa yang mungkin akan timbul dengan munculnya gejala tersebut. Jenis-jenis Penelitian Deskriptif .

Identifikasi dan pembatasan masalah 3. Menentukan variabel bebas dan terikat b. Menyusun rencana eksperimen a. o Survey  suatu cara penelitian deskriptif yang dilakukan terhadap sekumpulan objek yang biasanya cukup banyak dalam jangka waktu tertentu. Memilih desain eksperimen . Tinjauan literatur 2. Jenis-jenis survey:  Survei Rumah Tangga  Survei Morbiditas  Survei Pendapat Umum o Studi atau Penelaahan Kasus  dilakukan dengan cara meneliti suatu permasalahan melalui kasus yang terdiri dari unit tunggal. Tujuan utamanya adalah untuk mengetahui suatu hubungan sebab akibat dengan intervensi yang kemudian hasil dari suatu intervensi tersebut dibandingkan dengan kelompok yang tidak mendapatkan perlakuan (kontrol). o Penelitian Evaluasi  dilakukan untuk menilai suatu program yang sedang atau sudah dilakukan.atau situasi bagaimana yang menyebabkan timbulnya suatu peristiwa tertentu. Merumuskan hipotesis 4. Percobaan dalam hal ini melakukan intevensi terhadap obyek yang akan diteliti. Langkah-langkah penelitian eksperimental : 1. o Studi Kolerasi  melakukan penelitian atau penelaahan hubungan antara dua variabel pada suatu situasi atau sekelompok subjek o Studi Prediksi  digunakan untuk memperkirakan tentang kemungkinan munculnya suatu gejala berdasarkan gejala lain yang sudah muncul dan diketahui sebelumnya. Perlakuan yang diberikan akan menyebabkan perubahan pada suatu obyek. Khasnya adalah trial / percobaan. sebagai akibat dari perlakuan tertentu. o Studi Perbandingan  dilakukan dengan cara membandingkan persamaan perbedaan sebagai fenomena untuk mencari faktor-faktor apa. METODE PENELITIAN EKSPERIMENTAL Penelitian eksperimental adalah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui suatu gejala atau pengaruh yang timbul.

Sasaran / obyek yang diteliti 2. Menentukan sampel d. Kematangan (maturitas) : secara biologis maupun psikologis c. Menyusun hipotesis statistik 5. Instrumen (Instrumentation) f. Seleksi (selection) : ciri atau sifat sebagai patokan eliminasi d. Sejarah (history) : pengalaman subyek penelitian sebelumnya b. Kontrol Kontrol adalah suatu kelompok atau individu yang tidak dikenai perlakuan atau percobaan. Skor rata-rata (mean) Kegunaan kontrol dalam penelitian adalah : 1. Untuk menentukan inklusi dan eksklusi 3. Variabel terikat 5. Eksperimen 7. Untuk mencegah munculnya faktor yang tidak diharapkan berpengaruh pada variabel terikat 2. Prosedur tes (testing) : subyek mengingat jawaban saat pre-test dan mengubahnya saat post-test e. Faktor-faktor yang dikontrol dalam sebuah eksperimen : 1. Pengumpulan data tahap akhir 8. Populasi dan sampel 7. Menyusun outline prosedur pengumpulan data f. Mengolah dan menganalisis data 9. Hasil penelitian ini harus diolah dan dianalisis dengan uji statistic yang cermat sehingga dapat dilakukan generalisasi yang memadai. Variabel bebas 4. Untuk menggambarkan secara kuantitatif hubungan variabel bebas dan terikat VALIDITAS 1. Pengumpulan data tahap awal 6. Menyusun laporan Penelitian jenis ini biasanya hanya menggunakan sampel yang relatif kecil bila dibandingkan populasi. Kelompok ekperimen dan kelompok kontrol 6. c. Peneliti 3. Mortalitas (mortality) . Faktor yang mempengaruhi validitas eksternal adalah : a. Validitas internal Validitas internal berhubungan dengan identifikasi perubahan hasil eksperimen sebagai akibat perlakuan yang diberikan. Menyusun alat eksperimen dan alat ukur e.

One group pretest-postest 01 (Pretest) X (eksperimen) 02 (Posttest) c. d. Static group comparison X (eksperimen) 02 (Posttest) Eksperimen 02 (Posttest) Kontrol 2. Validitas eksternal Validitas eksternal berhubungan dengan kemungkinan generalisasi dari hasil eksperimen. Efek seleksi berbagai “bias” Setiap sampel memiliki karakteristik yang menentukan suatu generalisasi yang didapat. Sehingga dalam pelaksanaannya diperlukan control yang cermat. Pre eksperimen a. Post-test only X (eksperimen) 02 (Posttest) b. b. Agar sampel representatif terhadap populasi perlu dilakukan identifikasi dan control yang tepat. g. True experiment a. Gangguan penanganan perlakuan berganda Hal ini berpengaruh jika telah diberikan perlakuan lebih dari sekali terhadap subyek. Efek prosedur eksperimen Hal ini berpengaruh jika subyek sadar sedang menjadi sebuah sampel dari percobaan. c. Hal ini yang dapat menimbulkan generalisasi tapi tidak pada seluruh populasi. Regresi ke Arah Nilai Rata-rata (Regression Toward The Mean) : terjadi jika ada nilai ekstrem tinggi atau rendah pada hasil eksperimen saat pre-test yang kemudian mendekati nilai mean saat post-test 2. Efek pelaksanaan pre-test Tidak seluruh sampel yang diberi pre-test. Pre-test post-test with control group 01 (Pretest) X (eksperimen) 02 (Posttest) Eksperimen 01 (Pretest) 02 (Posttest) Kontrol 01 (Pretest) Xa 02 (Posttest) Ekperimen a . Rancangan Penelitian Eksperimental 1. Faktor yang berpengaruh pada validitas eksternal adalah: a.

Separate sample pretest posttest Pretest Perlakuan Posttest 02 X Eksperimen X 02 Kontrol Suatu ekperimen dikatakan semu apabila tidak dapat memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan : 1. Post-test only control group X (eksperimen) 02 (Posttest) Eksperimen 02 (Posttest) Kontrol 3. Quasi experiment a. Kontrol terhadap variabel berpengaruh terhadap eksperimen tidak dilakukan MENENTUKAN VARIABEL . Non-equivalent control group Pretest Perlakuan Posttest 01 X 02 Eksperimen 01 02 Kontrol d. Randomized Salomon four group 01 (Pretest) X (eksperimen) 02 (Posttest) Eksperimen 01 (Pretest) 02 (Posttest) Kontrol X (eksperimen) 02 (Posttest) Kontrol 02 (Posttest) Kontrol c. Tidak ada randomisasi 2. (eksperimen) 01 (Pretest) Xb (eksperimen) 02 (Posttest) Eksperimen b 01 (Pretest) 02 (Posttest) Kontrol b. Control time series Pretest Perlakuan Posttest 01 02 03 04 X 05 06 07 08 Eksperimen 01 02 03 04 X 05 06 07 08 Kontrol c. Time series Pretest Perlakuan Posttest 01 02 03 04 X 05 06 07 08 b.

Variabel dapat dipelajari yang kemudian bisa ditarik kesimpulan. antecedent. d. Varibel laten adalah variabel yang tidak dapat diukur langsung. tetapi melalui suatu dimensi atau indikator dari masing-masing variabel. Hal itu bisa terjadi setelah masalah sudah difahami dengan jelas dan sudah dikaji sacara teoritis. Oleh karena itu kita harus mengetahui terlebih dahulu macam dari variabel itu. Menurut Prihantoro (dalam http://www. Dalam variabel ini merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel terikat. Dengan adanya masalah itu. Variabel Kontrol : adalah variabel yang yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga hubungan variabel bebas terhadap variabel terikat tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti. Variasi dalam variabel tersebut diperoleh dari sekelompok sumber data atau obyek yang bervariasi. Hubungan antara variabel yang satu ke variabel yang lain perlu kita ketahui bagamana hubungannya.verypdf. b. Dari pertanyaan-pertanyan yang ada pada rumusan masalah tersebut nantinya akan menjawab variabel penelitian. Dalam Penelitian Kuantitatif dilaksanakan berdasarkan pada filsafat positivisme. predictor. e. Rumusan masalah pada umumnya berupa kalimat pertanyaan. b. . Variabel Dependen (variabel terikat) / variabel endogen / output : merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat. variable penelitian dinbedakan menjadi : a. Suatu penelitian selalu berawal dari adanya masalah. Macam variabel tersebut adalah : a. sehingga variabel bebas tidak langsung mempengaruhi berubahnya atau timbulnya variabel terikat. Variabel Moderator : variabel yang mempengaruhi (memperkuat dan memperlemah) hubungan antara variabel bebasa dan variabel terikat. Variabel Independen (variabel bebas) / variabel eksogen : variabel ini sering disebut sebagai variabel stimulus. Suatu variabel mengandung variasi.com/ to remove this watermark). Variabel intervening : variabel ini merupakan variabel penyela/antara yang terletak diantara variabel bebas dan variabel terikat. Dan pada penelitian kuantitatif masalah yang ada pun juga sudah jelas. Menurut Sugiono (2009) menyatakan bahwa “Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut. karena adanya variabel bebas. yang kemudian ditarik kesimpulannya”. Variabel manifest adalah variabel yang dapat diukur langsung. Variabel control digunakan oleh peneliti bila akan melakukan penelitian yang bersifat membandingkan. c. kemudian rumusan masalah dapat dikembangakan. maka peneliti dapat menentukan variabel penelitiannya.

Memilih responden yang tepat merupakan satu keharusan untuk memperoleh data/informasi yang memiliki tingkat akurasi dan presisi yang tinggi. Objek penelitian. Asumsi merupakan suatu gagasan primitif. berkaitan dengan variabel-variabel yang dipilih oleh peneliti. yang sesuai dengan tema penelitian yang menjadi fokus kajian peneliti. namun . dan lain sebagainya. maka seorang peneliti tidak cukup hanya berdasarkan pada teori-teori saja dalam menentukan variabel-variabel penelitiannya. jenis pekerjaan. karena belum tentu variabel-variabel yang dipilih berdasarkan teori-terori tadi. penentuan variabel-variabel penelitian melalui studi pendahuluan merupakan salah satu upaya dari peneliti untuk memilih variabel- variabel yang tepat. Dengan demikian. Sementara subjek penelitian. melakukan studi pendahuluan di samping melakukan kajian teori. misalnya tingkat pendidikan. Sebelum memilih variabel yang akan diteliti. Oleh karena itu sangatlah dianjurkan apabila seorang peneliti dalam menentukan judul penelitiannya. bermanfaat dan bermakna. Karakteristik- karakteristik yang melekat pada responden tersebut kemudian disesuaikan dengan kebutuhan akan data/informasi yang akan digunakan untuk menjelaskan masalah/variabel yang dikaji Diskusi pada kelompok II membahas menenai asumsi dan hipotesis pada penelitian kauntitatif. Asumsi merupakan latarbelakang intelektual suatu jalur pemikiran.. dengan tujuan untuk menentukan objek dan subjek penelitian yang tepat. yang secara empirik merupakan variabel masalah dan variabel penyebab yang determinan. yang mempengaruhi variabel masalah. Memilih responden yang terpercaya antara lain dilakukan dengan mengkaji karakteristik- karakteristik yang melekat pada responden tersebut. jenis keahlian yang dimiliki. Oleh karena itu peneliti harus menetapkan responden yang reliabel (terpercaya) dalam memberikan data/informasi yang dibutuhkan untuk menjelaskan permasalahan yang diteliti. berkaitan dengan responden. Hal ini berarti bahwa untuk melakukan penelitian atau memperoleh hasil penelitian yang berkualitas. Studi pendahuluan merupakan salah satu aktivitas atau kegiatan persiapan yang dilakukan oleh seorang peneliti. perlu melakuakan kajian teoritis dan melakukan studi pendahuluan terlebih dahulu pada obyek yang akan diteliti. Hipotesis tidak selalu ada pada penelitian kuantitatif. jenis kelamin. baik variabel masalah (y) maupun variabel-variabel yang diduga merupakan variabel yang mempengaruhi variabel masalah. merupakan variabel yang sesuai secara empirik perlu untuk diteliti.

Salah satu teknik yang bisa digunakan dalam membuat kajian teori adalah memperhatikan judul penelitian. di dalam judul tersebut tampak beberapa gambaran secara tersurat mengenai hal-hal apa saja yang perlu dibahas dalam sebuah penelitian. . maupun teknik analisis data. apa saja temuan- temuannya. agar tidak terjadi duplikasi. karakteristik siswa kelas 6. Memperdalam pengetahuan penelitian mengenai hal-hal yang menyangkut masalah dan bidang yanag akan diteliti maupun berbagai metode yang termasuk dalam rancangan penelitian. 1. selanjutnya adalah menentukan kerangka teorinya. Mencari informasi yang relevan dengan masalah yang akan diteliti 2. Kajian pustaka di dalam sebuah penelitian memang sering dirancukan dengan kajian teori. Kerangka teori setidak-tidaknya membahas ketiga aspek tersebut – dalam contoh penelitian di atas.hipotesis setidak-tidaknya menjadi hal utama untuk memberikan gambaran pertama pada sebuah penelitian. Misalnya penelitian dengan judul Meningkatkan Kemampuan Mengarang Siswa Kelas 6 dengan Gambar Seri. Setidaknya. Mengkaji hasil-hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian yang akan dilaksanakan sehingga dapat diketahui apa saja yang sudah diteliti. Dari judul ltersebut ada bagian-bagian tersirat: kemampuan mengarang (bagian dari keterampilan berbahasa). 3. dalam hal ini kedua istilah tersebut memiliki makna yang sama di dalam sebuah penelitian yaitu untuk mempertanggungkawabkan penelitian secara logis. dan gambar berseri. pengembangan instrumen. Setelah menentukan bagian-bahian tersirat dari sebuah penelitian. Mengkaji teori-teori yang relevan dengan masalah yang akan diteliti sebagai landasan dan acuan teoretis yang tepat 4. Mendapatkan informasi tentang aspek-aspek mana saja dan topik yang sama yang barangkali sudah pernah diteliti. Namun. penarikan sampel. Kajian pustaka dalam penelitian kuantitatif yang dilakukan sebelum penelitian mempunyai tujuan-tujuan sebagai berikut. dan bagian-bagian mana yang diteliti 5.