Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah

Kabupaten Banyumas

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Sampah
Sampah adalah limbah yang bersifat padat terdiri dari zat organik dan zat anorganik
yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan
dan melindungi investasi pembangunan (SK SNI T-13-1990-F).
Menurut Azrul Azwar (1983) sampah adalah sebagian dari sesuatu yang tidak
terpakai, tidak disenangi atau sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari
kegiatan yang dilakukan oleh manusia (termasuk kegiatan Industri) tetapi bukan biologis dan
umumnya bersifat padat. Sampah dapat didefinisikan sebagai buangan yang dihasilkan dari
aktivitas manusia dan hewan berupa padatan, yang dibuang karena sudah tidak berguna atau
tidak dibutuhkan lagi (Tchobanoglous et al., 1993).

2.2 Karakteristik Dan Komposisi Sampah

Menurut Damanhuri (2010) sampah berdasarkan komposisinya dapat digolongkan
sebagai:

1. Sampah organik atau sampah basah, lebih bersifat sampah yang cepat terdegradasi
(cepat membusuk), terutama yang berasal dari sisa makanan. Sampah yang
membusuk (garbage) adalah sampah yang dengan mudah terdekomposisi karena
aktivitas mikroorganisme.

2. Sampah anorganik atau sampah kering, pada umumnya terdiri atas bahan-bahan
kertas, logam,plastik, gelas, kaca, dan lain-lain. Sampah kering (refuse) sebaiknya
didaur ulang, apabila tidak makadiperlukan proses lain untuk memusnahkannya,
seperti pembakaran.

Tabel 2 1
Komposisi Sampah Rumah Tangga

Komposisi Komposisi Mikro Komponen
Makro

CAGAYANA II-1
21080114140116

Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
Kabupaten Banyumas

Organik Organik dapat dikomposkan Sisa makanan, sampah dapur,
sampah daun

Organik non compostable Potongan kayu

Plastik Plastik dapat didaur ulang Bahan plastik : PE, PS, PP,
HDPE, LDPE, PVC

Plastik tak dapat didaur ulang Plastik kemasan

Kertas Duplex Kertas semi lusuh

Logam Kaleng Kemasan kaleng

Kain Potongan kain Kain perca

Gelas/kaca Gelas utuh Botol gelas

Gelas pecah Pecahan

Lain-lain B3 Batu batre, bolam bekas

Karet Sandal bekas
Sumber: Nur Tjahjo, 2001
Selain komposisi, maka karakteristik lain yang biasa ditampilkan dalam penanganan
sampah adalah karakteritik fisika dan kimia. Karakteristik tersebut sangat bervariasi,
tergantung pada komponen-komponen sampah (Damanhuri dan Padmi, 2010).
a. Karakteristik fisika: yang paling penting adalah densitas, kadar air, kadar volatil,
kadar abu, nilai kalor, distribusi ukuran
b. Karakteristik kimia: khususnya yang menggambarkan susunan kimia sampa tersebut
yang terdiri dari unsur C, N, O, P, H, S, dsb.

2.3 Sumber Dan Timbulan Sampah
Ada beberapa kategori sumber sampah yang dapat digunakan sebagai acuan, yaitu:
(Darmasetiawan, 2004)
1. Sumber sampah dari daerah perumahan
2. Sumber sampah dari daerah komersil (pasar, pertokoan, hotel, restoran)
3. Sumber sampah dari fasilitas umum (perkantoran,rumah sakit ,sekolah, jalan, dll )
4. Sumber sampah dari fasilitas sosial ( masjid, gereja,dll)

CAGAYANA II-2
21080114140116

150-0.100-0.3 Besaran Timbulan Sampah Berdasarkan Klasifikasi Kota CAGAYANA II-3 21080114140116 .100 8. Rata-rata timbulan sampah biasanya akan bervariasi dari hari ke hari.010-0.25 0. Cara hidup dan mobilitas penduduk e.15 0.10-0.05-0. Pasar Per meter2/hari 0.050 9.50-0. atau per luas bangunan. makin besar timbulan sampahnya c. Tingkat hidup: makin tinggi tingkat hidup masyarakat.75-2. Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Kabupaten Banyumas 5.400 2.350 6. Rumah semi permanen Per orang/hari 2. 2000).020 7.10 0. dan antara satu negara dengan negara lainnya.005-0. antara satu daerah dengan daerah lainnya. Iklim: di negara barat. timbulan sampah akan mencapai angka minimum pada musim panas d.020-0.75 0. atau per panjang jalan (Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi Permukiman.025-0. Rumah permanen Per orang/hari 2.300 Sumber : SNI-19-3983-1995 Tabel 2.00 0. Jalan arteri sekunder Per meter/hari 0. Rumah non permanen Per orang/hari 1. Jumlah penduduk dan tingkat pertumbuhan b.300-0.350 3. antara lain (Damanhuri dan Padmi. debu hasil pembakaran alat pemanas akan bertambah pada musim dingin f. Jalan kolektor sekunder Per meter/hari 0.250-0. Sekolah Per murid/hari 0.50 0. Sumber sumber lain Timbulan sampah adalah banyaknya sampah yang timbul dari masyarakat dalam satuan volume maupun berat per kapita per hari.2 Besaran Timbulan Sampah Berdasarkan Komponen-komponen Sumber Sampah No.350-0. Sumber sampah Satuan Volume(ltr) Berat (kg) 1.00-2.10-0.010-0. Kantor Per pegawai/hari 0.15 0.100 5.50-3. Cara penanganan makanannya. Jalan lokal Per meter/hari 0.25-2. Musim: di Negara barat.60 0.00 0. 2010): a.15 0.300 4.10-0.20-0. Variasi ini terutama disebabkan oleh perbedaan. Tabel 2. Toko/ruko Per petugas/hari 2.025 10.

2.80 Kota kecil 2. 1989) : 1.70 – 0. biaya operasi dan pemeliharaan relatif murah.4 Metode Pembuangan Akhir Pembuangan akhir sampah adalah merupakan rangkaian atau proses terakhir dalam sistem pengelolaan persampahan pada suatu tempat yang dipersiapkan. Sistem penimbunan lebih mudah dilaksanakan CAGAYANA II-4 21080114140116 .625 – 0.5 – 2. karena kapasitas yang dihasilkan relatif kecil. ditimbun atau dibuat kompos. Pengolahan sampah seperti pembakaran atau lainnya diartikan juga sebagai pembuangan akhir.75 0. Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Kabupaten Banyumas Volume Berat Klasifikasi Kota (L/orang/hari) (kg/orang/hari) Kota sedang 2. Macam teknologi pengolahan sampah : 1. c. b. Sistem insinerasi/pembakaran (insineration) 2. yaitu (Purwasasmita.70 Sumber: SNI-19-3983-1995 2. Kriteria Penanganan Sistem Pengelolaan Sampah (off site) : a. Sistem yang direncanakan harus dapat meningkatkan kualitas lingkungan. yang dapat dipilih sesuai dengan kondisi kota yang ada. tetapi sebenarnya setiap pembuangan masih menghasilkan suatu sisa pengolahan (residu) yang masih tetap harus dibuang. Sistem Pengomposan (composting) 3. b. meningkatkan estetika kota dan membuat lokasi tempat penimbunan akhir dapat memberi nilai tambah. misalnya dengan dibakar. Kriteria Penanganan Setempat (on site) : a. ada dua bentuk penanganan sampah kota.25 0. Modal. aman serta tidak mengganggu lingkungan.75 – 3. Mudah diatasi oleh masing-masing penghasil sampah secara perorangan dan berkelompok. Dapat dilaksanakan di daerah yang tidak begitu padat (kepadatan relatif rendah) dan lahan yang tersedia masih cukup luas. Sistem Penimbunan (landfilling) Sistem pengolahan sampah yang tepat untuk suatu komunitas yang besar seperti daerah perkotaan adalah sistem penimbunan. Menciptakan lapangan kerja Teknik pengolahan sampah untuk daerah perkotaan dapat dilakukan dengan berbagai macam teknologi. Berdasarkan bentuknya.

Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Kabupaten Banyumas karena mempunyai fleksibilitas penampungan sampah yang lebih tinggi dan tidak memerlukan pengkondisian atau pengolahan awal. Sistem ini sebenarnya tidak termasuk sistem sanitary landfill.1.4 Teknologi Pembuangan Akhir Sampah di TPA Teknologi No Keterangan Pembuangan Akhir 1 Open Dumping Tidak dianjurkan 2 Controlled Land fill Minimal untuk dilaksanakan 3 Sanitary Landfill Untuk kota besar/raya 4 Improved Sanitary Lanfill Untuk kota raya Sumber : Dinas Pemukiman dan Tata Ruang Jateng. Teknologi pembuangan akhir sampah yang dianjurkan dan yang dilarang digunakan dapat dilihat pada Tabel 2.1. Untuk menghindari perkembangan vektor penyakit seperti lalat sebaiknya dilakukan penyemprotan dengan pestisida dan sedapat mungkin lokasinya jauh dari pemukiman. Proses perataan dan pemadatan sampah tetap dilakukan untuk memudahkan pembongkaran sampah serta penggunaan TPA semaksimal mungkin. Fleksibilitas penampungan di sini berkaitan dengan jumlah kapasitas penampungan dan berbagai jenis karakteristik sampah.4. 2. TPA menjadi sumber pencemar dengan jangkauan lokal dan global.2 Sistem Controlled Landfill Prinsip pembuangan akhir dengan sistem ini yaitu penutupan sampah dengan lapisan tanah dilakukan setelah TPA penuh dengan timbulan sampah yang dipadatkan atau setelah mencapai tahap (periode) tertentu.1 Sistem Open Dumping Sistem Open Dumping merupakan sistem yang tertua yang dikenal manusia dalam pembuangan sampah.4. yaitu: 2. Di tingkat global TPA menghasilkan gas yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim (Bebassari. Di tingkat lokal TPA merupakan sumber lindi yang mencemari badan air dan air tanah serta menghasilkan sumber asap dan bau. ada 3 sistem pembuangan akhir sampah. Dengan sistem ini. tapi merupakan perbaikan dari sistem open dumping.1 Metode Pembuangan Akhir Sampah di Lahan Urug Berdasarkan tipe lahan urug.4. CAGAYANA II-5 21080114140116 . 2003 2. dimana sampah hanya dibuang/ ditimbun di suatu tempat tanpa dilakukan penutupan dengan tanah.4 sebagai berikut : Tabel 2. 2004).

1 Metode Area Metode ini digunakan untuk lahan dengan letak muka air tanah yang dekat dengan permukaan tanah. Dapat digunakan untuk daerah datar atau sedikit bergelombang. 2. untuk meminimisasi mobilisasi air lindi dan gas methan yang terbentuk. 2.2. CAGAYANA II-6 21080114140116 .2.3 Sistem Sanitary Landfill Merupakan teknologi pengolahan sampah secara biologis dalam kondisi anaerobik.4. 2. Site yang ada digali. hingga penutupan akhir yang juga harus dilapisi dengan lapisan tanah penutup akhir. Ciri metode slope/rampyaitu: 1.4. 3.3 Metode Parit/Trench Metode ini digunakan untuk lahan dengan kedalaman yang cukup untuk penutupan sampah dengan menggunakan tanah yang tersedia disana. Operasi selanjutnya seperti metode area.2 Jenis Lahan Urug Berdasarkan kondisi site yang ada. serta muka air tanah yang cukup jauh dengan permukaan tanah. Setelah pengurugan akan membentuk slope. dipadatkan dan ditutup harian. Tanah penutup diambil dari tanah galian. Ciri metode parit / trenchyaitu: 1. sampah ditebarkan dalam galian. 2. Diterapkan pada site yang relatif datar.2 Metode Slope/Ramp Merupakan aplikasi dari metode area. Digunakan bila air tanah cukup rendah sehingga zona non aerasi di bawah landfill cukup tinggi (≥ 1. dimana sampah dikuburkan dengan menggunakan tanah penutup secara berkala pada setiap ketebalan sampah tertentu. Sebagian tanah digali. 2. lahan urug saniter dibagi menjadi(Damanhuri.2. sampah diurug pada tanah.4. 3. 3. 1995): 2. Sel-sel sampah dibatasi oleh tanah penutup.5 meter).1. Ciri-ciri metode area yaitu: 1. Lapisan dasar lahan urug saniter dilapisi dengan lapisan sintetik membran dengan permeabilitas rendah. operasi berikutnya seperti metode area.4. Lapisan penutup harian dan lapisan penutup akhir mengambil tanah dari lokasi lain di luar lahan urug saniter. Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Kabupaten Banyumas 2.4. 4. hanya lapisan tanah penutup diambil dari lahan urug tersebut. 2. Setelah lapisan pertama selesai.

Sampah yang dibuang di lokasi TPA adalah hanya sampah perkotaan tidak dari industri. kondisi badan air sekitarnya. Sampah yang dibuang ke TPA harus telah melalui pengurangan volume sampah (program 3 R) sedekat mungkin dari sumbernya. Rencana pengembangan jaringan jalan yang ada. daur ulang. 2. jenis tanah. angin. 4.5.2. teknis dan lingkungan.5 Perencanaan Tempat Pemrosesan akhir 2. 5. Rencana pengembangan kota dan daerah. Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Kabupaten Banyumas 2. Perencanaan TPA sampah perkotaan perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. Teknologi pengelolaan limbah seperti reduksi sumber. kelulusan tanah. Tidak semua limbah mempunyai nilai ekonomis untuk didaur ulang.4. Pemilihan lokasi TPA sampah perkotaan harus sesuai dengan ketentuan yang ada. metode ini sedikit menyulitkan pada upaya meminimisasi air hujan yang akan masuk ke dalam lahan urug saniter. kedalaman air tanah. 2. d. 2. karena : 1. CAGAYANA II-7 21080114140116 . Kota-kota yang sulit mendapatkan lahan TPA di wilayahnya. untuk menentukan rencana jalan masuk TPA. Kemampuan ekonomi Pemerintah Daerah setempat dan masyarakat. perlu melaksanakan model TPA regional serta perlu adanya institusi pengelola kebersihan yang bertanggung jawab dalam pengelolaan TPA tersebut secara memadai. Kondisi fisik dan geologi seperti topografi. e. 2. pengaruh pasang surut. c. rumah sakit yang mengandung B3. iklim.1 Ketentuan-Ketentuan Umum Ketentuan-ketentuan umum berkaitan dengan perencanaan tempat pembuangan akhir antara lain (SK SNI 03-3241-1994) : 1.4 Metode Pitt/Canyon/Quarry Metode ini menggunakan lahan dengan jurang yang terbentuk secara alami. curah hujan.2 Tempat Pembuangan Akhir Dengan Lahan Urug Tempat Pembuangan Akhir dengan lahan urug sulit dihilangkan dari pengelolaan limbah. Terjadinya biaya operasi dan pemeliharaan TPA. untuk menentukan teknologi sarana dan prasarana TPA yang layak secara ekonomis. daur pakai atau minimisasi limbah tidak dapat menyingkirkan limbah secara menyeluruh. tata guna lahan serta rencana pemanfaatan lahan bekas TPA. b. untuk menentukan metode pembuangan akhir sampah. 3.5. Rencana TPA didaerah lereng agar memperhitungkan masalah kemungkinan terjadinya longsor.

Timbulan limbah tidak dapat direduksi sampai tidak ada sama sekali. Tanah penutup akhir diaplikasikan pada seluruh permukaan setelah pengoperasian lahan urug selesai. Final lift meliputi lapisan tanah penutup. dan dioperasikan secara baik. dan bila aplikasinya pada pengelolaan sampah kota melibatkan rekayasa yang memperlihatkan aspek sanitasi lingkungan. 4. Cara penyingkiran limbah ke dalam tanah dengan pengurugan atau penimbunan yang dikenal sebagai landfilling diterapkan mula-mula pada sampah kota. Landfilling merupakan cara yang sampai saat ini paling banyak digunakan. Dapat dikatakan landfilling merupakan usaha terakhir. maka perlu dirancang.5. Sel/ Cell Sel merupakan volume sampah pada lahan urug selama satu periode operasi (satu hari operasi). Upaya yang tidak kalah pentingnya adalah mencari sebuah lahan yang baik sehingga dampak negatif yang mungkin timbul dapat diperkecil (Damanhuri. lalat dan vektor penyakit pada lahan urug dan mengontrol masuknya air ke dalam lahan urug. Sel meliputi penyimpanan limbah padat dan tanah penutup di sekitarnya. untuk meminimasi dampak negatif kesehatan masyarakat dan lingkungan. Guna mengurangi sebanyak mungkin dampak negatif yang ditimbulkan. karena bukan cara yang ideal. Beberapa limbah sulit diurai secara biologis. Teknologi pengolah limbah tetap menghasilkan residu yang harus ditangani lebih lanjut. Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Kabupaten Banyumas 3. 1995). penerimaan perkolasi air dan mendukung vegetasi permukaan. 2. penempatan saluran drainase. Landfill merupakan penimbunan akhir sampah yang akan diberikan tanah penutup setiap akhir pengoperasian. penempatan pipa recovery gas.3 Pengertian dan Susunan Sel Pada Lahan Urug Pengertian awal berkenaan dengan landfill / lahan urug adalah sebagai berikut : 1. terutama untuk menyingkirkan limbah padat. Landfill terdiri dari beberapa lift. Umumnya terdiri dari multi lapisan tanah dan geomembran yang dirancang untuk meningkatkan permukaan drainase. mudah dan luwes dalam menerima limbah. hal ini untuk menjaga kestabilan kemiringan lahan urug. CAGAYANA II-8 21080114140116 . Tujuan tanah penutup adalah untuk mengontrol sampah berterbangan. sulit dibakar. Lift Yaitu lapisan sel lengkap yang menyelimuti area aktif pada lahan urug. teknik ini juga diterapkan untuk mengolah limbah B3. mencegah tikus. Di negara industri. karena relatif murah. dibangun. 3. 5. maka cara ini dikenal sebagai sanitary landfill (lahan urug saniter). Landfill Yaitu fasilitas fisik yang digunakan untuk penimbunan sisa limbah padat ke dalam permukaan tanah. atau diolah secara kimia. 2. Tahap penutup harian biasanya berupa 6-12 inci tanah asal atau material alternatif seperti kompos. Terasering sering digunakan bila ketinggian lahan urug mencapai 50-75 ft.

1995 Pemantauan lingkungan meliputi aktifitas pengumpulan dan analisa air untuk mengetahui pergerakan lindi dan gas pada lahan urug. 5. Postclosure adalah aktifitas monitoring dan pemeliharaan lahan urug yang telah selesai masa pakai (Tchobanoglous.4 berikut. run-off yang tak terkontrol dan air irigasi yang terkontrol di lahan urug. Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Kabupaten Banyumas 4. kekuatan dan pemanfaatan lahan setelah ditutup kelak. karbon dioksida (CO2). dan tanah penutup harian.8 Susunan Sel Suatu Lahan Urug Sumber : Damanhuri. Terdiri dari lapisan padatan tanah liat dan geomembran untuk mencegah perpindahan lindi dan gas. 6. pengumpul gas. terdiri dari gas metana (CH 4). Gas Gas yang dihasilkan di lahan urug merupakan campuran gas-gas hasil pementukan sampah organik.5. yang mungkin membutuhkan waktu sampai lebih dari 30 tahun. Lindi mengandung bermacam turunan senyawa kimia dari pelarutan penyimpanan sampah pada lahan urug dan hasil reaksi kimia dan biokimia yang terjadi di lahan urug. Landfill closure merupakan langkah- langkah yang dapat diambil untuk menutup dan mengamankan lahan urug saat operasi pengisian telah selesai.4 Sistem Penutup Akhir Aplikasi penutup akhir pada lahan-urug akan memegang peranan penting. amonia dan sisa senyawa organik. Fasilitas penunjang lingkungan meliputi liners. pengumpul lindi. Penutup akhir ini diharapkan tetap berfungsi walaupun sarana ini sudah tidak digunakan lagi. produk utama dekomposisi anaerobik dari fraksi organik biodegradable sampah rumah tangga di lahan urug. Lindi sering terkumpul pada pertengahan titik pada lahan urug. oksigen. Gambar 2. 2. estetika. keselamatan. Susunan sel pada lahan urug dijelaskan pada gambar 2. Rancangan penutup akhir hendaknya mempertimbangkan aspek kesehatan. Fungsi yang diharapkan adalah : CAGAYANA II-9 21080114140116 . nitrogen. Lindi Lindi merupakan hasil perkolasi air hujan. permeabilitas. 1993). Liners Yaitu material (buatan atau alami) yang digunakan sebagai saluran pada sisi dasar lahan urug.

7. Lapisan pendukung tanaman dan drainase lateral tersebut berfungsi untuk melindungi bagian bawahnya dari adanya variasi musim. Rancangan lapisan drainase tersebut didasarkan atas kondisi yang terburuk dari curah hujan yang ada. Dengan grading yang baik. Pengontrol terhadap gas yang terbentuk sehingga tidak menurunkan kualitas udara. Pencegah kemungkinan erosi 9. 5. partikel halus dari top soil akan dapat bergerak ke bagian lapisan drainase yang dapat menyumbat lapisan drainase. menggunakan geomembran pula untuk sistem penutupnya. Pengontrol binatang atau vektor-vektor penyakit yang dapat memasukkan penyakit pada ekosistem. maka akan terjadi kenaikan tinggi hidrolis yang dapat membawa cemaran ke bagian di bawahnya. Lapisan tersebut dapat tersusun dari materi yang sama seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Bila hal ini terjadi. Pada lahan-urug sampah kota. Bagian paling bawah dari sistem penutup ini adalah lapisan subgrade untuk menanggulangi apabila permukaan lahan urug tidak stabil. oleh karenanya. 4. 2. seperti kerikil. Pengurangan kemungkinan kebakaran dengan mencegah emisi udara ke dalam. Pengatur tampilan lahan urug dari sudut estetika. Pengaman terhadap adanya kontak langsung limbah dengan manusia. maka air infiltrasi dapat dikumpulkan. Laju infiltrasi akibat presipitasi yang berakibat pada timbulan lindi tidak boleh melebihi kemampuan sistem pengumpul lindi tersebut. kemungkinan pemanfaatan gas bio tersebut menjadi salah satu pilihan. Lapisan filter dari geotekstil dapat diletakkan dibawah top soil atau diatas lapisan drainase. Drainase lateral dibawah media pendukung tanaman (top soil) terdiri dari media berpori. 3. Geotekstil akan berperan untuk membatasi kedua media tersebut. Dengan kondisi yang bersifat anaerob. dipasang sistem pengumpul gas. maka gas yang terbentuk sebagian besar adalah karbon dioksida dan methana. terbuat dari media berpori seperti pasir/kerikil atau sistem perpipaan. geonet atau geokomposit. sistem pengumpul gas ini merupakan keharusan karena limbah yang berada disana adalah biodegradable. Pengontrol terbangnya debu 10. drainase lateral ini dilengkapi pula dengan sistem perpipaan. Pengontrol gerakan air ke sarana supaya timbulan lindi dibatasi. 11. atau bahan campuran. Dalam beberapa kasus. disusun satu atau lebih lapisan penahan lainnya. Dibawah lapisan drainase lateral. CAGAYANA II-10 21080114140116 . 6. Penjamin stabilitas lahan-urug akibat kemungkinan bergeraknya massa limbah 8. Penjamin agar tanaman atau tumbuhan dapat tumbuh secara baik setelah sarana ditutup. Dibawah lapisan penahan tersebut. Pengontrol limpasan air agar ke luar sarana. serta mengurangi migrasi cemaran. Lapisan ini akan membantu pembentukan kemiringan (kontur) yang diinginkan untuk mempercepat drainase lateral dan mengurangi tinggi hidrolis. Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Kabupaten Banyumas 1. Sasarannya adalah menyalurkan sebanyak mungkin presipitasi yang masuk sehingga tidak mengalir ke bawahnya. yaitu geomembran. tanah liat. Tanpa adanya lapisan geotekstil. Biasanya lahan urug yang menggunakan liner geomembran.

struktur geologi dan kemampuan pengelola untuk menentukan seberapa dalam sebuah TPA boleh untuk dikupas. maka aliran limpasan dari luar dihindari dengan pengaturan drainase permukaan. maka adanya geogrid akan menambah kapasitas tegangan pada penutup dengan mendistribusikan tegangan yang terjadi sehingga mengurangi settlement yang bersifat diferensial. maka pengukuran ini membutuhkan dibedakannya kepadatannya (bulk density) sampah dalam berbagai keadaan. Struktur geologi perlu mendapat perhatian. Keuntungan lain yang diperoleh dengan pengupasan dasar adalah tersedianya alas TPA dengan besar dan arah kemiringan yang diinginkan.0 meter atau lebih (SNI T-11-1991-03). namun hendaknya dirancang dari awal disesuaikan dengan kondisi topografi sekitanya atau kegunaan lahan tersebut setelah pasca operasi. sehingga memungkinkan adanya zone penyangga dari tanah tersebut seandainya lindi dari atas menembus ke bawah. Disamping sistem penutup di atas. Kepadatan sampah pada bak sampah dirumah adalah tidak sama dengan kepadatan sampah di gerobak (yang kadangkala diperpadat dengan penginjakan oleh petugas). misalnya terdapatnya lapisan yang sulit untuk dikupas dan terdapat lapisan yang tidak diinginkan. pengupasan yang kurang sistematis akan merubah rancangan dari dasar TPA sehingga dapat menimbulkan masalah dalam mengalirkan lindi. agar menghasilkan sebuah TPA yang bila ditutup akan menyatu dengan lingkungannya serta sesuai fungsinya. Sasarannya adalah bagaimana menghindari sebanyak mungkin air masuk ke area penimbunan yang masih aktif. Ketinggian maksimum hendaknya mempertimbangkan kemampuan operasi penimbunan sampah serta kestabilan dari timbunan tersebut. pengupasan dasar TPA dilaksanakan bersamaan sehingga sistem penyaluran lindi dapat dengan baik diatur sesuai dengan yang direncanakan. Namun hal ini membutuhkan pengawasan yang ketat khususnya terhadap muka air tanah. Di Indonesia pengukuran timbulan sampah menerapkan sistem satuan volume (basah). Konsekuensinya. Ketinggian maksimum timbunan sampah akan menentukan landscape akhir dari TPA tersebut kelak. sehingga mempermudah pengelolaan lindi. Grading final dari sebuah TPA tidak ditentukan secara sembarangan. yang berperan mencegah penetrasi akar ke dalam lapisan di bawahnya. Sistem penutup ini dapat pula memasukkan lapisan penahan tambahan di bawah top soil. Selanjutnya. Lapisan ini biasanya terdiri dari materi semacam kerikil. Pengupasan yang tidak disertai data lapangan akan mengakibatkan masalah. Jarak yang diijinkan untuk dasar TPA dengan air tanah sebesar 3. Idealnya. Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Kabupaten Banyumas Sistem penutup dapat pula menggunakan lapisan geogrid untuk menambah kesatuan dari sistem itu. Kontrol aliran ini dapat pula dilakukan dengan pengaturan kemiringan serta penanaman tanaman. Tanah penutup dapat diambil dari pengupasan dinding dan dasar lahan. kepadatan pada alat transportasi akan ditentukan oleh jenis truk CAGAYANA II-11 21080114140116 . Karena terjadinya penurunan permukaan tidak dapat dihindari dan besarannya tidak seragam disetiap titik.

Penelitian pada timbunan sampah setinggi 2. Penelitian skala pilot menunjukkan bahwa settlement mekanis maksimum adalah sebesar 15-25% dari tinggi awal. Penurunan ini terjadi akibat konsolidasi sampah. sehingga akan mempercepat stabilitas sampah. Pembagian lahan menjadi beberapa area kerja akan memudahkan dalam pengelolaan lahan secara keseluruhan. disamping dapat mendata jumlah dan jenis sampah yang masuk ke dalam area kerja tersebut. Ketersediaan tanah penutup memegang peranan sangat penting agar TPA tersebut dapat beroperasi dengan baik. Namun sebaiknya asumsi settlement karena proses biologis tidak diperhitungkan dalam perancangan. kepadatan sampah di suatu tempat akan tergantung pada ketinggian sampah tersebut. 3. penyebaran dan pemadatan sampah secara lapis perlapis akan menambah kepadatan sampah dibanding bila dilakukan sekaligus sampah ketinggian tertentu. Demikian pula kepadatan di TPA akan ditentukan oleh aplikasi pemadatannya dan ditentukan oleh aplikasi alat berat serta jenisnya. Rasio tanah penutup sebesar 15%. Timbulan sampah (dihitung terhadap densitas gerobak yang mendekati angka densitas truk) sebesar 2. 4. yang terjadi pada minggu pertama. Setelah itu tinggi permukaan TPA relatif stabil. Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Kabupaten Banyumas dan mekanisme pemadatannya.6-0. 2. Penanganan yang baik diarea penimbunan akan meningkatkan masa layan lahan. akan membutuhkan waktu yang sulit diukur. baik secara mekanis maupun biologis. Rasio kepadatan sampah di TPA dan di truk (sudah termasuk tanah penutup harian) sebesar 0. Dengan demikian estimasi kebutuhan TPA yang langsung dihitung dari timbulan di sumber akan menghasilkan perkiraan yang berlebihan bila TPA tersebut dioperasikan secara lapis perlapis dan dipadatkan dengan alat berat. Sebuah TPA yang sebelumnya dirancang secara baik akhirnya menjadi open dumping akibat masalah tanah penutup yang tidak diterapkan karena berbagai alasan.65 ton/m3.50-0. Apabila terjadi.5 l/org/hari.0-2. Kepadatan di urugan atau timbunan sebesar 0. Secara teoritis. Disamping itu. Degradasi yang terjadi belum tentu diikuti oleh settlement. akan menambah kapasitas lahan sehingga memperlama masa layan. Peranan pengurugan. karena : 1. CAGAYANA II-12 21080114140116 . 2.0 m yang ditutup tanah penutup setebal 20 cm terungkap bahwa timbunan tersebut akan tetap memungkinkan fase aerobik yang ditandai dengan panas timbunan di sekitar 50oC. Konsep timbunan aerobik tersebut sebetulnya dapat pula dikembangkan lebih jauh misalnya dengan mengatur agar suatu timbunan sampah dibiarkan sampai sekitar 10-15 hari sebelum diatasnya ditimbun sampah baru.60 ton/m3. aplikasi timbunan sampah semacam itu akan memungkinkan berlangsungnya fase aerobik yang lebih lama. Pendekatan yang bisa diturunkan dalam menghitung kapasitas lahan sebuah lahan- urug dengan tanah penutup harian dengan asumsi sebagai berikut : 1. Adanya penurunan permukaan (settlement) timbunan sampah.

maka sebaiknya tanah tersebut dicampur dengan tanah tertentu (seperti pasir) agar memperkecil IP tersebut. Lalat akan turun dengan sendirinya di timbunan yang telah berusia 7 hari. volume sampah yang dibuang.5 Perencanaan Kebutuhan Luas Lahan Dan Kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sanitary Landfill Perhitungan lahan untuk lahan urug akan mencakup perhitungan produksi sampah dan kapasitas TPA. kedalaman atau ketebalan lapisan yang direncanakan. Produksi sampah ditentukan antara lain oleh jumlah penduduk. 2. kedalaman dasar TPA. Penggunaan steel wheel compactor agak kurang bermanfaat untuk menambah kepadatan sampah.000) (2. kepadatan sampah dan kemampuan pengurangan volume sampah di sumber.2) Keterangan : H = luas total lahan (m3) L = luas lahan setahun I = umur lahan (tahun) CAGAYANA II-13 21080114140116 . laju generasi sampah (generation rate).5. ketinggian timbunan. Masalah ketersediaan liner dan tanah penutup merupakan kendala yang berkaitan dengan biaya operasional dan pemeliharaan.1) Keterangan : Vt = Volume sampah yang masuk per tahun (m3/ tahun) h = Tinggi zona rencana (m) 2. 1. Daya tampung tersebut dipengaruhi oleh metode lahan urug yang digunakan. Kebutuhan luas lahan H=LxIxJ (2. laju generasi sampah. Perhitungan awal kebutuhan lahan TPA per tahun Kebutuhan lahan= Vt / (h x 10. karena sebagian sampah kita adalah sisa makanan dan tanpa alat itupun kepadatan yang relatif baik sudah dicapai. Nilai kelulusan antara 10 -4-10-6 cm/det cukup baik untuk itu. Disamping itu agar tanah penutup tidak retak pada saat panas. Tanah penutup disarankan untuk tidak terlalu kedap agar proses penguraian sampah secara aerobik masih bisa berlangsung dengan baik pada sel timbunan teratas. Aplikasi tanah penutup pada suatu timbunan dilaksanakan maksimal sebelum 5 hari. Ditinjau dari daya tampung lokasi yang digunakan untuk TPA sebaiknya dapat menampung pembuangan sampah minimum selama 5 tahun beroperasi. Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Kabupaten Banyumas Pemadatan sampah di timbunan dengan mengandalkan alat berat bulldozer atau loader yang biasa digunakan di TPA Indonesia akan mengahasilkan kepadatan timbunan sampai 0. maka Indeks Plastisitas tanah yang baik adalah lebih kecil dari 40%. densitas sampah sebelum dipadatkan dan persentase pengurangan volume setelah dipadatkan. Kapasitas lokasi TPA tergantung pada luas lokasi.Tanah penutup dapat mencegah timbulnya lalat. Bila tidak.70 ton/m3.

perhitungan kapasitas harus dikurangi oleh faktor untuk menghitung volume yang terpakai oleh tanah penutup. kompaksi sampah akibat tekanan berlebihan. Penentuan Volume Nominal Lahan Urug Kapasitas volume nominal dari lokasi usulan lahan urug ditentukan melalui timbulan awal beberapa jenis lahan urug. DPU dalam Hairunnisa.4) Keterangan : V = Volume sampah padat dan tanah penutup per orang per tahun (m3/org/tahun) R = Laju generasi sampah perorang pertahun (kg/org/tahun) D = Densitas (kepadatan) sampah sebelum dipadatkan yang tiba di TPA (kg/m3) P = Persentase pengurangan volume karena pemadatan dengan alat berat 3-5 kali lintasan (50%-75%). Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Kabupaten Banyumas J = ratio luas lahan total dengan luas lahan efektif 1. DPLP Dirjen Cipta Karya. dapat menentukan kriteria desain. Untuk perhitungan kebutuhan lahan untuk sanitary landfill dapat digunakan rumus sebagai berikut : (Materi Training Penataran Bidang Persampahan. CAGAYANA II-14 21080114140116 . Volume nominal lahan urug ditentukan dengan mengalikan area rata-rata antara dua kontur berdekatan dengan tinggi lift dan menjumlahkan keseluruhan volume lift. Langkah berikutnya menentukan area permukaan untuk tiap lift. 3.2. Jika tanah penutup dari tempat lain. maupun pemadatan karena berat sendiri. Cv = Volume tanah penutup (m3/org/tahun) A = Luas TPA yang diperlukan pertahun (m2/ tahun) N = Jumlah penduduk yang dilayani (orang) d = Tinggi atau kedalaman sampah padat dan tanah penutup (m) Rasio pemadatan merupakan pengurangan volume sampah setelah mengalami proses pemadatan atau kompaksi ditempat pembuangan karena sengaja dipadatkan. Kapasitas total aktual lahan urug bergantung pada berat spesifik sampah yang masuk lahan urug. dan kehilangan massa karena dekomposisi biologi.3) CN A d (2. maka perhitungan volume berhubungan dengan volume sampah yang ditempatkan di lokasi. 2004) R p  V   1   Cv D 100  (2. Jika tanah penutup digali dari lokasi lahan urug.

2-0.2 0.6.1-0.3 0. Jalan masuk TPA harus memenuhi kriteria sebagai berikut : a. persentase distribusi komponen.3 Anorganik Gelas atau kaca 0.5 0.1 Fasilitas Umum 1. Jalan masuk Jalan masuk dipergunakan untuk kelancaran angkutan sampah dari jalan kota menuju lokasi TPA.5 0.3 Debu.2-0. nilai pemadatan tinggi dapat tercapai.6 0. Jika limbah disebar dengan lapisan tipis dan pemadatan melawan permukaan miring. kemiringan permukaan jalan 2-3% kearah saluran drainase.4 0.25 0.1-0.33 Kertas 0.15 Logam non besi 0. Dapat dilalui kendaraan truk sampah dari 2 arah.35 0.6 Fasilitas Tempat Pemrosesan Akhir 2.6-1.3 0.4 Kaleng 0. Dengan pemadatan minimal. Lebar jalan 8 m.1-0.3-0.4 0.18 0. Untuk itu harus dibuat jalan yang sesuai dengan berat kendaraan serta frekuensi jumlah kendaraan yang ada. Pengaruh Pemadatan Komponen Sampah Densitas sampah bervariasi akibat mode operasi lahan urug. batu.15 0. Tabel 2.15 Karton 0.0 0.1-0. abu.1-0.75 Sumber : Tchobanoglous.1-0.6 0.4 0.4 0. CAGAYANA II-15 21080114140116 . dll 0.3 0. tipe jalan kelas 3 dan mampu menahan beban perlintasan dengan tekanan gandar 10 ton dan kecepatan kendaraan 30 km/jam (sesuai dengan ketentuan Ditjen Bina Marga).3 0.2-0.18 Plastik 0.18 0.2 0.2-0.4 0.2 Kayu 0.2-0.5 Faktor-Faktor Pemadatan Berbagai Komponen Sampah Pada Lahan Urug Faktor-faktor pemadatan untuk berbagai komponen Pemadatan Kisaran Pemadatan normal Pemadatan baik Organik Sampah makanan 0.10 Tekstil 0.9 0.18 0. berat spesifik akan berkurang dari pemadatan di kendaraan pengumpul. b.3 0. 1993 2.15 Karet 0.3 Sampah Taman 0.25 0.3 Kulit 0.1-0. Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Kabupaten Banyumas 4. pemadatan komponen sampah.4 0.85 0.35 0.15 Logam besi 0.

kamar mandi/WC. bengkel. gudang. Drainase TPA berfungsi untuk mengurangi volume air hujan yang jatuh pada area timbunan sampah sehingga juga mengurangi jumlah lindi yang terbentuk serta mencegah penyebarannya keluar lokasi TPA. fasilitas menunjang keamanan pekerja ataupun fasilitas yang ada didalam TPA. tampilan rencana tapak dan rencana pengoperasian TPA. c. yaitu kantor. gudang. Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Kabupaten Banyumas c. Luas bangunan kantor tergantung pada lahan yang tersedia dengan mempertimbangkan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan antara lain pencatatan sampah. 2. pos pemeriksaan atau pos jaga. Jalan operasi Jalan ini diperuntukkan pengangkutan sampah dari pintu masuk area landfill menuju sel- sel sampah. Jenis jalan bersifat permanen. daerah kantor. Jalan operasi yang dibutuhkan dalam pengoperasian TPA terdiri dari 2 jenis. tempat cuci kendaraan. 4. tempat cuci berfungsi mengalirkan air dari luar TPA agar tidak melintasi TPA. Jalan dilengkapi dengan rambu-rambu lalu lintas utnuk menjaga ketertiban lalu lintas kendaraan. Panjang jalan masuk sekitar 2-3 km dari jalan besar atau jalan utama. Ruangan atau landasan manuver. Selain itu saluran ini juga CAGAYANA II-16 21080114140116 . Ketentuan teknis drainase TPA ini adalah sebagai berikut: a. yaitu: a. Jalan ini sifatnya sementara dan sesudah selesai pembentukan suatu jalan ini akan menjadi sel baru berikutnya. Jalan penghubung antar fasilitas. bengkel. Drainase Drainase TPA berfungsi untuk mengurangi volume air hujan yang jatuh pada area timbunan sampah sehingga juga mengurangi jumlah lindi yang terbentuk serta mencegah penyebarannya keluar lokasi TPA. disekeliling timbunan terakhir. ruang kerja pengendali dan ruang istirahat. b. pos jaga. Jenis drainase dapat berupa drainase permanen disekeliling TPA meliputi jalan utama. setiap saat dapat ditimbun dengan sampah. Perkerasan jalan berupa aspal atau adukan beton. tempat cuci kendaraan. Bangunan Penunjang Bangunan penunjang ini adalah sebagai pusat pengendalian kegiatan di TPA baik teknis maupun administrasi. Jalan operasi penimbunan sampah. jenis jalan bersifat temporer. tempat parkir. 3.

002778 C . Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Kabupaten Banyumas mengalirkan limpasan air hujan dari dari dalam TPA agar keluar dari TPA sebanyak mungkin sehingga mencegah peresapan ke bawah yang akan menimbulkan terjadinya lindi. b.6) Keterangan : Q = debit aliran air hujan (m3/detik) A = luas penampang basah saluran (m2) R = jari-jari hidrolis (m) S = kemiringan N = konstanta c. selanjutnya setelah sel selesai tidak diperlukan lagi keberadaannya. I . Pagar Pagar berfungsi untuk menjaga keamanan TPA dapat berupa pagar tanaman sehingga sekaligus dapat juga berfungsi sebagai daerah penyangga setebal 5 m untuk mengurangi atau mencegah dampak negatif yang terjadi dalam TPA seperti keluarnya sampah dari TPA ataupun mencegah pemandangan yang kurang menyenangkan (Darmasetiawan. Drainase sementara dibuat secara lokal pada zone yang akan dioperasikan yaitu saluran di sekitar pembentukan sel-sel menuju ke arah saluran drainase tetap. Saluran ini hanya berfungsi selama pembentukan sel tersebut. Kapasitas saluran dihitung dengan persamaan manning. Pagar Kerja CAGAYANA II-17 21080114140116 . Pengukuran besarnya debit dihitung dengan persamaan sebagai berikut D = 0. Q  1  A  R 3 S 2 2 1 n (2. 2004).7) Keterangan : Q = debit aliran air hujan (m3/detik) C = angka pengaliran I = intensitas hujan maksimum (mm/jam) A = luas daerah aliran (Ha) 5. A (m3/det) (2. 6.

Pembentukan dasar TPA harus dilakukan secara bertahap sesuai dengan urutan zona atau blok dengan urutan pertama sedekat mungkin ke kolam pengolah lindi. kecuali residu dari hasil pembakaran. 2. 2004). Koefisien permeabilitas lapisan dasar TPA harus lebih kecil dari 10-6 cm/detik. Pembentukan dasar TPA a. Ventilasi gas CAGAYANA II-18 21080114140116 . 2. Saluran pengumpul lindi Fasilitas ini dimaksudkan agar lindi yang dihasilkan oleh sanitary landfill tidak mencemari lingkungan disekitar TPA. baru ditimbun dengan lapisan sampah berikutnya. Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Kabupaten Banyumas Pagar kerja merupakan pagar portabel yang dipasang disekitar pembuatan sel untuk mencegah atau mengurangi kecepatan angin yang dapat menyebarkan sampah ringan dalam lokasi atau bahkan keluar lokasi (Darmasetiawan. luas dan waktu kerja (Darmasetiawan. 7. d. c. 2004).6. 3. Lapisan dasar TPA harus kedap air sehingga lindi terhambat meresap kedalam tanah dan tidak tercemari air tanah. setiap lapisnya direkomendasikan ketebalannya 0. ketebalan lapisan tanah penutup timbulan sampah +20 cm. tiap lapis dapat lebih tebal. Ketebalan timbunan sampah padat pada sistem lahan urug. Timbulan sampah berlapis. lapisan pertama sebaiknya dibiarkan selama 3 bulan. sedangkan ketebalan lapisan tanah penutup terakhir pada bagian permukaan adalah +50 cm. Dasar TPA harus dilengkapi saluran pipa pengumpul lindi dan kemiringan minimal 2% ke arah saluran pengumpul maupun penampung lindi. Papan Nama Papan nama berisi nama TPA.6 m. Ketebalan yang lebih kecil akan menyebabkan kebutuhan tanah untuk lapisan penutup menjadi lebih besar.2 Fasilitas Perlindungan Lingkungan 1. b. Pelapisan dasar kedap air dapat dilakukan dengan cara melapisi dasar TPA dengan tanah lempung yang dipadatkan (2 cm x 25 cm) atau geomembrane setebal 5 mm. Ketebalan lapisan tanah penutup. pengelola. Ketebalan lapisan yang lebih besar akan menyebabkan pemadatan dengan alat berat (compactor atau buldozer) menjadi kurang efektif.

penutupan antara (setebal 30-40 cm) dan penutupan tanah akhir (setebal 50-100 cm. Kerapatan pohon adalah 2-5 m untuk tanaman keras. Lebar jalur hijau minimal. tergantung rencana peruntukan bekas TPA nantinya) d. sampah lama atau kompos. c. b. berkembang biaknya lalat atau binatang pengerat dan mengurangi timbulan lindi. Diatas tanah penutup akhir harus dilapisi dengan tanah media tanam (top soil/vegetable earth) g. Tanah Penutup Tanah penutup dibutuhkan untuk mencegah sampah berserakan. 4. c. 6. b. f. untuk lahan urug saniter penutupan tanah dilakukan setiap hari. Tahapan penutupan tanah untuk lahan urug saniter terdiri dari penutupan tanah harian (setebal 15-20 cm). dapat digunakan reruntukan bangunan. Kemiringan tanah penutup akhir hendaknya mempunyai grading dengan kemiringan tidak lebih dari 30 derajat (perbandingan 1:3) untuk menghindari terjadinya erosi. debu sapuan jalan. 5. Jenis tanah penutup adalah jenis tanah yang tidak kedap air. Sumur uji CAGAYANA II-19 21080114140116 . e. dengan ketentuan sebagai berikut : a. timbulnya bau. Jenis tanaman adalah tanaman tinggi dikombinasi dengan tanaman perdu yang mudah tumbuh dari rimbun. Dalam kondisi sulit mendapatkan tanah penutup. Periode penutupan tanah harus disesuaikan dengan metode pembuangannya. Daerah penyangga ini dapat berupa jalur hijau atau pagar tanaman disekeliling TPA. bahaya kebakaran. Kemiringan tanah penutup harian harus cukup untuk dapat mengalirkan air hujan keluar dari atas lapisan penutup tersebut. hasil pembersihan saluran sebagai pengganti tanah penutup. Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Kabupaten Banyumas Ventilasi gas yang berfungsi untuk mengalirkan dan mengurangi akumulasi tekanan gas. a. Daerah penyangga/ Zone penyangga Daerah penyangga dapat berfungsi untuk mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan pembuangan akhir sampah terhadap lingkungan sekitar.

Untuk lahan-urug limbah industri. Gabungan desain liner menggunakan geomembran dan lapisan tanah liat untuk lebih melindungi dan secara hidrolik lebih efektif dari tipe individu. Pasir atau kerikil berfungsi mengumpulkan dan menyalurkan lindi yang mungkin bercampur dalam lahan urug. Liner ketiga ini berfungsi untuk menghambat perkolasi lindi yang membawa cemaran yang lolos dari sistem di atasnya agar tidak terbawa ke air tanah (Damanhuri. Geotekstil sebagai filter. dengan dua sistem pengumpul lindi.6. Geomembrane dan geokomposit sebagai lapisan penghalang. dilokasi sekitar penimbunan dan pada lokasi setelah penimbunan. Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Kabupaten Banyumas Sumur uji ini berfungsi untuk memantau kemungkinan terjadinya pencemaran lindi terhadap air tanah disekitar TPA dengan ketentuan sebagai berikut : a. maka lindi yang masih lolos dari sistem pertama diharapkan terkumpul sebanyak mungkin. Sistem Eropa lebih menekankan pada penggunaan liner alamiah dan sedikit mungkin menggunakan geosintesis. Lapisan geotekstil digunakan untuk menimimasi pencampuran tanah dan lapisan pasir atau kerikil. Dengan sistem sekunder inilah dapat diukur kebocoran yang terjadi pada sistem primer. perataan. b. Sistem pengumpul lindi sekunder berfungsi hampir serupa dengan sistem pengumpul primer. biasanya menggunakan sistem liner ganda. Disamping itu dikenal pula lapisan geokomposit misalnya tanah liat yang mengandung natrium montmorillonit yang dilapiskan pada geotekstil. Penempatan lokasi harus tidak pada daerah yang akan tertimbun sampah. Sistem ini tersusun dari media alam. 2.4 Pengontrolan Lindi 1. sehingga membentuk lapisan tanah yang tipis dengan permeabilitas yang rendah. pemadatan sampah dan penggalian atau pemindahan tanah 2.6. c. Pelapis dasar yang dianjurkan. misalnya tanah liat dipadatkan. Dengan adanya sistem sekunder. atau campuran liat dengan tanah asli setempat. CAGAYANA II-20 21080114140116 . Sistem Liner untuk Sampah Perkotaan Berfungsi untuk meminimasi infiltrasi lindi menuju tanah subpermukaan dibawah lahan urug sehingga mengeleminasi potensial kontaminasi air tanah. Kedalaman sumur 20-25 m dengan luas 1 m2. Jenis geosintesis yang biasa digunakan sebagai pelapis dasar adalah : a. terdapat penyaring ketiga.3 Alat berat Pemilihan alat berat harus mempertimbangkan kegiatan pembuangan akhir seperti pemindahan sampah. Di luar kedua sistem tersebut. 1995). b. Geonet sebagai sarana drainase c. terutama untuk lahan-urug limbah B3 adalah dengan geosintesis atau dikenal sebagai flexible membran liner (FML). Lokasi sumur uji harus terletak pada area pos jaga (sebelum lokasi penimbunan sampah. Lapisan akhir tanah digunakan untuk melindungi lapisan penghalang dan drainase.

ketebalan lapisan 3-5 ft digunakan dibawah geomembran untuk menambah perlindungan. Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Kabupaten Banyumas Penggunaan material yang mempunyai kemampuan adsorpi yang tinggi untuk mengurangi pencemaran sebetulnya sudah lama diterapkan pada lahan-urug sampah kota. CAGAYANA II-21 21080114140116 . Lahan umumnya terletak diluar kota. Pendeteksi lindi berada antara liner pertama dan kedua. maka diperlukan ‘karpet kerikil’ setebal 20-30 cm. b.25 m tanah yang relatif kedap dan dipadatkan sampai densitas Proctor 95%. Lahan untuk landfill sampah kota termasuk kategori kelas 2. Lapisan adsorptif ini diletakkan di bagian bawah dari geomembran. Untuk landfill sampah kota di Indonesia perlu dipertimbangkan hal-hal seperti : a. Disarankan pula bahwa kemiringan dasar TPA mengarah ke titik tertentu yaitu tempat lindi terkumpul untuk ditangani lebih lanjut. Untuk memperlancar aliran serta menjaga agar liner tersebut tidak rusak. Pada beberapa instalasi. masing-masing dilengkapi dengan lapisan drainase dan sistem pengumpul lindi. biodegradasi. Sistem Liner Untuk Monofill Sistem ini biasanya terdiri dari dua geomembran. yaitu lahan semi-permeable dengan nilai kelulusan antara 10-5 sampai 10-7 cm/detik. sehingga masalah pencemaran lindi perlu dipertimbangkan. Lindi akan terkumpul dengan lebih baik bila dasar TPA tersebut dilengkapi dengan pipa pengumpul lindi (Damanhuri. Intensitas hujan di Indonesia yang cukup tinggi. Bahan dengan daya adsorpsi dapat bercampur dengan lempung atau dilapiskan pada geomembran. sebab geomembran berfungsi sebagai penahan hidrolis yang pertama. b. maka tetap dibutuhkan penyiapan dasar TPA yang baik. Pada dasarnya tanah mempunyai kemampuan untuk mengadsopsi dan mendegradasi pencemar. Abu terbang (fly ash) berkarbon tinggi : bahan yang dapat menahan cemaran organik. Contoh liner komposit adalah : a. namun adanya lapisan liner tambahan akan lebih menjamin hal tersebut diatas. 1995). Disarankan bahwa dasar TPA sampah di Indonesia dilapis 2x0. dimana kadangkala berdekatan dengan perumahan penduduk yang belum terjangkau oleh sistem PDAM yang baik. penukaran ion. pengendapan dan pengenceran. c. Natrium bentonit dan zeolit : bahan yang dapat menahan trasport cemaran organik. 2. Campuran tanah bentonit dengan tanah asli dapat mengurangi nilai permeabilias sehingga dapat mengurangi transport cemaran secara diffusif. Tanah liat dengan modifikasi kandungan organik : lebih efektif untuk menahan cemaran organik dengan berat molekul lebih tinggi. sehingga beban adsopsi pada media komposit di bawahnya bisa lebih ringan. Walaupun tanah dasar TPA relatif baik dilihat dari sudut kelulusan. Tanah liner yang dipilah mempunyai kemampuan adsorpsi.

Desain tidak memperbolehkan lindi ditampung pada dasar lahan urug karena akan menyebabkan tekanan hidrolik. Kapasitas tangki tergantung pada tipe fasilitas pengolah yang ada dan nilai buangan maksimum diijinkan untuk fasilitas pengolahan. Lapisan tanah liat yang tipis mencegah keretakan (Tchobanoglous. Dasar Berpipa Bagian dasar dibagi menjadi potongan persegipanjang oleh pembatas tanah liat pada jarak tertentu. Perhitungan drainase berdasarkan persamaan Manning. 1995). 2. (Tchobanoglous. 1993). Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Kabupaten Banyumas 3. Jarak pembatas tergantung pada lebar sel lahan urug.6. yang kemudian lindi diolah atau didaur-ulang. Kemiringan umumnya berkisar antara 1-5%.5 Fasilitas Pengangkut. selain itu juga lapisan tanah liat hanya menggunakan satu jenis tanah liat saja. dan ke saluran yang lebih besar. kemudian ditutup oleh lapisan pasir lahan urug dioperasikan sebagai penyaring lindi sebelum dikumpul dan diolah. Tangki berdinding ganda lebih digunakan dari pada dinding tunggal dengan alasan keamanan dengan bahan plastik lebih aman digunakan daripada bahan logam.5-1%. Pengumpul dan Penyimpanan Lindi Penggunaan metode pengumpul lindi harus dilakukan secara hati-hati untuk menjamin sambungan pipa aman.1 Sistem Pengumpul Lindi 1. Konstruksi Liner Tanah Liat Ketelitian sangat diperlukan dalam konstruksi lapisan tanah liat. 2. untuk mencegahnya desain lapisan tanah liat harus sebesar 4-6 inci dengan kecukupan kompaksi antara penempatan lapisan. Pada beberapa lahan urug. Teras dimiringkan sehingga lindi yang terkumpul pada permukaan akan dibuang ke saluran pengumpul lindi. Alternatif pengumpul lindi cenderung menempatkan pipa pada lahan urug. Tanah liat tidak boleh mengering. lindi dikumpulkan dan dibawa ke tangki penampung. Kedalaman aliran pipa berlubang meningkat dari atas ke bawah. dasar dibagi menjadi beberapa teras dengan kemiringan. Pipa pengumpul lindi ditempatkan memanjang pada geomembran.6. Teras Miring Untuk menghindari akumulasi lindi pada dasar. Pipa berlubang ditempatkan pada tiap saluran pengumpul lindi untuk membawa lindi ke saluran utama. dan slope saluran drainase antara 0. Umumnya didesain dengan waktu 1-3 hari produksi lindi pada waktu puncak produksi lindi. CAGAYANA II-22 21080114140116 . 2. dikarenakan problem serius penggunaan tanah liat cenderung membentuk keretakan karena desiccation. untuk diolah atau reaplikasi pada permukaan lahan urug.