You are on page 1of 10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.DEFINISI

DDST (Denver Development Screening Test) adalah salah satu metode screening
terhadap parameter perkembangan anak berdasarkan usia anak (Soetjiningsih, 1998). Testini
mudah dan cepat (15-20 menit) secara individual dengan partisipasi aktif dari orangtuadan
pemeriksa.Dan perlu diingat bahwa test ini bukanlah test diagnostic atau test IQ melainkan
tes pemantauan dan pemeriksaan pekembangan anak yang dilakukan secara berkala dan
teratur sejak anak lahir sampai usia 6 tahun.

“Denver scale” adalah test screening untuk masalah kognitif dan perilaku pada anak
pra sekolah. Test ini dikembangkan wlliam K. Frankenburg (yang mengenalkan pertama kali)
dan J.B.Doods pada tahun 1967. DDST dipublikasikan oleh Denver Developmental Material,
Inc., di Denver, Colorado. DDST merefleksikan persentase kelompok anak usia tertentu yang
dapat menampilkan tugas perkembangan tertentu. Test ini dapat dilakukan oleh dokter
spesialis, tenaga profesional kesehatan lainnya, atau tenaga professional kesehatan dalam
layanan social. Dalam perkembangan lainnya DDST mengalami beberapa kali revisi. Revisi
terakhir adalah Denver II yang merupakan hasil revisi dan standarisasi dari DDST dan
DDST-R (revised denver developmental screening test). Perbedaaan denver II dengan
screening terdahulu terletak pada item-item test, bentuk, interprestasi dan rujukan.
Pembahasan mengenai DDST dalam sejarahnya tidak terlepas dari denver developmental
material. Denver developmental material bermanfaat bagi petugas kesehatan yang memberi
perawatan langsung pada anak. Dengan prosedur yang sederhana dan cepat, metoda ini dapat
digunakan oleh tenaga professional maupun paraprofessional. Prosedur tersebut dirancang
untuk perkembangan anak yang optimal sejak lahir hingga usia 6 tahun melalui panduan dan
identifikasi yang memerlukan evaluasi tambahan. Materi pokok, yakni PDQ II, apparent
answered questionnaire, dan the denver II, merupakan program surveilans perkembangan
yang tepat untuk situasi ketika waktu yang tersedia sempit.
B.MANFAAT
Penyimpangan perkembangan pada bayi dan anak usia dini sering kali sulit dideteksi
dengan pemeriksaan fisik rutin. DDST dikembangkan untuk membantu petugas kesehatan
dalam mendeteksi perkembangan anak usia dini.
Menurut study yang dilakukan oleh The public health agency of Canada, DDST adalah
metode test yang paling banyak digunakan untuk masalah perkembangan anak.
Denver II dapat digunakan untuk berbagai tujuan, antara lain :
1. Menilai tingkat perkembangan anak sesuai dengan usianya
2. Menilai tingkat perkembangan anak yang tampak sehat
3. Menilai tingkat perkembangan anak yang tidak menunjukan gejala kemungkinan adanya
kelainan perkembangan
4. Memastikan anak yang diduga mengalami kelainan perkembangan
5. Memantau anak yang beresiko mengalami kelainan perkembangan

6.Untuk melihat perkembangan personal social, motorik halus, bahasa, motorik kasar
padaanak mulai umur 1 bulan sampai 6 tahun.

C. Perkembangan Menurut DDST II
Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh
yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses
pematangan. Disini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh,
organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing
dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan tingkah
laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya (Soetjiningsih, 1997).
Denver II adalah revisi utama dari standardisasi ulang dari Denver Development Screening
Test (DDST) dan Revisied Denver Developmental Screening Test (DDST-R). Adalah salah
satu dari metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak. Tes ini bukan tes diagnostik
atau tes IQ. Waktu yang dibutuhkan 15-20 menit.
1. Aspek Perkembangan yang dinilai
• Terdiri dari 125 tugas perkembangan.
• Tugas yang diperiksa setiap kali skrining hanya berkisar 25-30 tugas
• Ada 4 sektor perkembangan yang dinilai :
a. Personal Social (perilaku sosial)
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan
lingkungannya.
b. Fine Motor Adaptive (gerakan motorik halus)
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu,
melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan otot-otot
kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat.
Language (bahasa)
Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, mengikuti perintah dan berbicara
spontan
c. Gross motor (gerakan motorik kasar)
Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.
2. Cara menghitung usia anak
Telah disebutkan di awal bahwa penerapan DDST ditunjukan untuk menilai perkembangan
anak berdasarkan usianya. Dengan demikian, sebelum melakukan test ini, terlebih dahulu kita
harus mengetahui usia anak tersebut. Untuk menghitung usia anak, kita dapat mengikuti
langkah-langkah berikut
a. Tulis tanggal, bulan, dan tahun dilaksanakan test
b. Kurangi dengan cara bersusun tanggal, bulan, dan tahun kelahiran anak
c. Jika jumlah hari yang dikurangi lebih besar, ambil jumlah hari yang sesuai dari angka
bulan didepannya
d. Hasilnya adalah usia anak dalam tahun,bulan, dan hari
e. Ubah usia anak ke dalam satuan bulan jika perlu
f. Jika pada saat pemeriksaan usia anak dibawah 2 tahun, anak lahir kurang dari 2 minggu
atau lebih dari HPL, lakukan penyesuaian prematuritas dengan cara mengurangi umur anak
dengan jumlah minggu tersebut

3. Alat yang digunakan
a. Alat peraga :
benang wol merah, kismis/ manik-manik, Peralatan makan, peralatan gosok gigi, kartu/
permainan ular tangga, pakaian, buku gambar/ kertas, pensil, kubus warna merah-kuning-
hijau-biru, kertas warna (tergantung usia kronologis anak saat diperiksa).
b. Lembar formulir DDST II
Buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara melakukan tes dan cara
penilaiannya.
4. Prosedur DDST terdiri dari 2 tahap, yaitu:
a) Tahap pertama: secara periodik dilakukan pada semua anak yang berusia :
• 3-6 bulan
• 9-12 bulan
• 18-24 bulan
• 3 tahun
• 4 tahun
• 5 tahun
b) Tahap kedua: dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya hambatan perkembangan pada
tahap pertama. Kemudian dilanjutkan dengan evaluasi diagnostik yang lengkap.
5. Pelaksanaan test
Penting untuk anak :
• Dibutuhkan kerjasama yang aktif dan anak sehingga anak harus merasa aman dan senang
• Anak tidak sedang sakit
• Anak tidak ngantuk, lapar,huas, sedang marah, rewel
• Ruangan cukup luas, cukup ventilasi dan kesan menyenangkan bagi anak
• Ajak anak bermain
Penting untuk orang tua
• Diberitahu bahwa ini bukan test IQ
• Beritahu tujuan test
• Beritahu ortu bahwa pemeriksaan tidak mengharapkan anak dapat melakukan semua tugas
yang diberikan kepada anak
Penting untuk pelaksana test
a. Item-item test sebaiknya disajikan secara fleksibel. Akan tetapi lebih dianjurkan mengukuti
petunjuk berikut :
• Item yang kurang memerlukan keaktifan anak sebaiknya didahulukan, misalnya sektor
personal-sosial, baru kemudian dilanjutkan dengan sector motorik halus-adaptif
• Item yang lebih mudah didahulukan. Berikan pujian pada anak jika ia dapat menyelesaikan
tugas dengan baik, juga saat ini mampu menyelesaikan tetapi kurang tepat. Ini ditunjukan
agar anak tidak segan untuk menjalani test berikutnya
• Item dengan alat yang sama sebaiknya dilakukan secara berurutan agar penggunaan watu
agar lebih efesien
• Hanya alat-alat yang akan digunakan saja yang diletakan diatas meja
• Pelaksanaan test untuk semua sector dimulai dari item yang terletak di sebelah kiri garis
umur, lalu dilanjutkan ke item di sebelah kanan garis umur
b. Jumlah item yang dinilai tergantung pada lama waktu tersedia, yang terpenting
pelaksanaanya mengacu pada tujuan test, yaitu mengidentifikasi perkembangan anak dan
menentukan kemampuan anak yang relatif lebih tinggi
6. Cara pengukuran :
a. Tentukan umur anak pada saat pemeriksaan
b. Tarik garik pada lembar DDST II sesuai dengtanumur yang telah ditentukan
c. Lakukan pengukuran pada anak tiap komponen dengan batasan garis yang ada milai dari
motorik kasar, bahasa, motorik halus, dan personal social
d. Tentuka hasil penilaian apakah normal, meragukan dan abnormal
e. Tetapkan umur kronologis anak, tanyakan tanggal lahir anak yang akan diperiksa. Gunakan
patokan 30 hari untuk satu bulan dan 12 bulan untuk satu tahun.
f. Jika dalam perhitungan umur kurang dari 15 hari dibulatkan ke bawah, jika sama dengan
atau lebih dari 15 hari dibulatkan ke atas.
g. Tarik garis berdasarkan umur kronologis yang memotong garis horisontal tugas
perkembangan pada formulir DDST.
h. Setelah itu dihitung pada masing-masing sektor, berapa yang P dan berapa yang F.
i. Berdasarkan pedoman, hasil tes diklasifikasikan dalam: Normal, Abnormal, Meragukan dan
tidak dapat dites.
• Abnormal
Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan, pada 2 sektor atau lebih
Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih keterlambatan Plus 1 sektor atau lebih
dengan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tersebut tidak ada yang lulus pada kotak
yang berpotongan dengan garis vertikal usia
meragukan Bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih
Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tidak
ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia.
• Tidak dapat dites
Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil tes menjadi abnormal atau meragukan.
• Normal
Semua yang tidak tercantum dalam kriteria di atas.

Pada anak-anak yang lahir prematur,usia disesuaikan hanya sampai anak usia 2 tahun
7. Cara penilaian
Cara melakukan penilaian DDST, peneliti menentukan usia anak, kemudian menarik garis
usia pada lembar DDST sesuai dengan usia anak. Dilakukan tes pada keempat sektor yang
dimulai dari item pada sebelah kiri garis usia, kemudian mulai dilakukan pemeriksaan pada
keempat sektor yaitu personal sosial, motorik halus, bahasa dan motorik kasar.
Setelah dilakukan tes, dilakukan penilaian, apakah Lulus (Passed = P), gagal tetapi belum
melampaui batas umur (Fail = F), gagal karena sudah melampaui batas umur (Delay = D)
ataukah anak tidak mendapatkan kesempatan tugas atau anak menolak melakukan tugas (No
opportunity = NO). Setelah itu dihitung pada masing-masing sector, berapa yang P, F, dan D,
8. Penilaian test prilaku
Penilaian prilaku dilakukan setelah test selesai. Dengan mengguanakan skala pada lembar
test, penilaian ini dapat membandingkan prilaku anak selama test dengan prilaku sebelumnya.
Kita boleh menanyakan kepada orang tua atau pengasuh apakah prilaku anak selama test
dengan prilaku sebelumnya, kita boleh menanyakan kepada orang tua atau pengasuh apakag
prilaku anak sehari-hari sama dengan prilakunya saat itu, terkadang anak tengah dalam
kondisi, sakit, atau marah sewaktu menjalani tersebut. Jika demikian test dapat ditunda dan
dilanjutkan pada hari lain saat anak telah kooperatif
9. Pemberian nilai untuk setiap itemnya
a. L =lulus /lewat (P= pass). Anak dapat melalkukan item dengan baik atau baik atau orang
tua / pengasuh melaporkan secara terpercaya bahwa anak dapat menyelesaikan item tersebut
(item tertanda L)
b. G= gagal (F=fail). Anak tidak dapat melakukan item dengan baik atau orang tua / pengasuh
melaporkan secara terpercaya bahwa anak tidak dapat melakukan item tersebut (khusus yang
bertanda L)
c. M = menolah (R=refusal). Anak menolak atau melakukan test untuk item tersebut.
Penolakan dapat dikurangi dengan mengatakan kepada anak apa yang harus dilakukanya
(khususnya item tanpa tanda L )
d. Tak = tak ada kesempatan (NO opportunity). Anak tidak mempunyai kesempatan untuk
melakukan item kerena ada hambatan (khusus item yang bertanda L )
10. Penilaian Peritem
a. Penilaian item “Lebih” (advance) nilai lebih tidak perlu diperhatikan dalam penilaian test
secara keseluruhan (karena biasanya hanya dapat dilakukan oleh anak yang lebih tua )
b. Penilaian itm “OK“ atau normal. Nilai tidak perlu di perhatikan dalam penilaian test secara
keseluruhan. Nilai OK dapat diberikan pada anak dalam kondisi berikut
• Anak “gagal” (G) atua “menolak” (M) melakukan tugas untuk item disebelah kanan garis
usia, kondisis ini wajar karena item disebelah kanan garis usia pada dasarnya merupakan
tugas untuk anak yang lebih tua.
• Anak “Lulus” / Lewat (L), “Gagal” (G) atau “Menolak” (M) melakukantugas untuk item
didaerah putih kotak (daerah 25 %-75%). Jika anak lulus, sudah tentu hal ini dianggap
normal
c. Penilaian item P = peringkatan (C=caution)
Nilai “Peringatan” diberikan jika anak “Gagal” (G) atau “Menolak” (M) melakukan tugas
untuk item yang dilalui oleh garis usia pada daerah gelap kotak (daerah 75% - 90%). Hal ini
karena hasil riset menunjukkan bahwa sebanyak 75% - 90% anak di usia tersebut sudah
berhasil (Lulus) melakukan tugas tersebut. Dengan kata lain, mayoritas anak sudah bisa
melaksanakan tugas dengan baik
d. Penilaian item T= “Terlambar” (D = Delayed).
Nilai “Terlambat” diberikan jika anak “Gagal” (G) atau “Menolak” (M) melakukan tugas
untuk item di sebelah kiri garis usia sebab tugas tersebut memang ditujukan untuk anak yang
lebih muda. Seorang akan seharusnya mampu melakukan tugas untuk kelompok usia yang
lebih muda, yang tentunya berupa tugas-tugas yang lebih ringan. Jika, tugas untuk anak yang
leblih muda tidak dapat dilakukan atau ditolak, anak tentu akan mendapatkanpenilaian T
(terlambat). Huruf T ditulis di sebelah kanan item dengan hasil penilaian “Terlambar”. Perlu
diperhatikan bahwa ada dua macam T. Pertama, terlambat karena anak mengalami kegagalan
(G). T jenis ini memungkinkan anak mendapat interpretasi penilaian akhir “Suspek”. Kedua,
terlambat karena anak menolak melaksanakan tugas (M). T jenis ini memungkinkan anak
mendapat interpretasi penilaian akhir “Tak dapat diuji”
e. Penilaian item “Tak ada kesempatan” (No Opportunity). Nilai “Tak” ini tidak perlu
diperhatikan dalam penilaian tes secara keseluruhan. Nilai “Tak ada kesempatan” diberikan
jika anak mendapat skor “Tak” atau tidak ada kesempatan untuk mencoba atau melakukan
tes.
Test skrining perkembangan dari denver
D. Petunjuk pemakaian
1. Usahakan anak tersenyum dengan memberikan senyum, berbicara atau memberikan
isyarat, jangan sentuh anak
2. Anak harus melihat tangan beberapa detik
3. Orang tua dapat membantu mengajari menyikat gigi dan menaruh pasta gigi diatas sikat
4. Anak tidak diharapkan mampu mengikat sepatu atau mengancingkan/resleting dibelakang
5. Gerakan benang perlahan dalam bentuk suatu lengkungan dari satu sisi ke sisi yang lain
6. Lulus jika anak mencoba melihat terus dimana benang menyilang, benang harus dilepaskan
dengan cepat dari tangan pemeriksa
7. Lulus jika anak mengambil kismis dengan bagian ibu jari dan jari
8. Menggaris dapat bervariasi hanya 30 derajat
9. Buat kepalan dengan ibu jari yang menunjuk ke atas dan goyangkan hanya ibu jari, lulus
jika anak menirukan dan tidak menggerakan semua jari lain selain ibu jari
10. Lulus bila menggambar selain bentuk tertutup, gagal dalam pergerakan yang terus
menerus .
11. garis mana yang lebih panjang ?(bukan lebih besar). Putar kertas terbaik dan ulangi (lulus
3 dari 3 atau 5 dari 6)
12. lulus bila garis yang bersilang dekat dengan titik tengah
13. biarkan anak meniru dahulu, dan jika gagal perlihatkan
14. dalam memberikan nilai, setiap pasangan (2 lengan, 2 tungkai dll) dihitung sebagai satu
bagian
15. tempatkan satu kubus dalam gelas dan goyangkan perlahan dekat telinga anak, tetapi
jangan terlihat ulangi dengan telinga lain
16. tunjuk gambar dan minta anak menyebutkannya
17. dengan menggunakan boneka beritahu anak, tunjukan pada saya hidung, mata,telinga,
mulut, tangan, kaki, perut, rambut,
18. dengan menggunakan gambar, tanya kepada anak, yang mana yang terbang ? berbunyi
meong ? berbicara ?
19. tanyakan kepada anak apa yang kamu lakukan jika kamu sedang kedinginan
20. lulus jika anak secara benar menempatkan dan mengatakan beberapa bnyak balok pada
kertas
Observasi :
Suatu garis digambar dari atas sampai bawah berdasarkan usia anak, pemeriksa harus
menguji masing-masing tonggak yang disilang dengan garis ini. Setiap tongak mempunyai
potongan yang menunjukan presentase populasi “standar” yang harus mampu melakukan
tugas ini. Kegagalan dalam melakukan suatu hal yang dilalui oleh 90 % anak-anak adalah
signifikan, dua kegagalan dari empat hal utama menunjukan keterlambatan perkembangan,
haruslah diketahui bahwa test ini merupakan alat skrening untuk keterlambatan
perkembangan, tetapi bukan test “intelegensia”
Fungsional anak saat ini memberikan pengertian kedalam karakteristik anak sekarang.
Perkembangan bahasa, motorik, dan sosial anak dan kematangannya direfleksikan dalam
tingkah lakunya sekarang. Tanyakan pertanyaan “ bagaimana anda melukiskan sifat anak
anda sebagai pribadi ?
E. Macam Tes Perkembangan
a. Skala Intelegensi Wechsler untuk anak usia prasekolah dan sekolah
Penggunaan tes ini untuk anak usia prasekolah (4 sampai 6,5 tahun), merupakan
pengembangan dari penggunaan tes ini sebelumnya yaitu untuk anak-anak yang lebih besar
dan orang dewasa. Tes ini memberikan informasi diagnostik yang berguna untuk penilaian
terhadap perkembangan anak yang mengalami kesulitan belajar dan retardasi mental.
b. Skala perkembangan menurut Gessel
Tes ini digunakan pada anak mulai usia 4 minggu sampai 6 tahun, yang bertujuan untuk
menetukan tahap kematangan dan kelengkapan kegiatan suatu sistem yang sedang
berkembang. Skala Gessel dibagi dalam 4 kelompok utama yaitu perilaku motorik, perilaku
adaptif, perilaku bahasa dan perilaku sosial.
c. Tes skrining perkembangan menurut Denver
Denver Developmental Screening Test (DDST) merupakan metode skrining terhadap
kelainan perkembangan anak dan bukan merupakan tes diagnostik atau tes IQ. DDST
memenuhi semua persyaratan yang diperlukan untuk metode skrining yang baik. Tes ini
mudah dilakukan dan cepat (15-20 menit) dapat diandalkan dan menunjukkan validitas yang
tinggi.
c. Frakenburg melakukan revisi dan restandarisasi kembali terhadap DDST dan juga tugas
perkembangan pada sektor bahasa ditambah, yang kemudian hasil revisi dari DDST
dinamakan Denver II yang mempunyai beberapa perbaikan yaitu peningkatan 86 % pada
sektor bahasa, dua pemeriksaan untuk artikulasi bahasa, skala umur baru, kategori baru untuk
interpretasi kelainan ringan, skala penilaian tingkah laku, dan materi training yang baru.
Denver juga mengelompokkan tugas perkembangan menjadi empat aspek, yaitu :
1. Personal Social (kepribadian atau tingkah laku sosial). Yaitu aspek yang berhubungan
dengan kemauan diri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.
2. Fine Motor Adaptif (gerakan motorik halus). Yaitu aspek yang berhubungan dengan
kemampuan anak untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-
bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan oleh otot-otot kecil tetapi memerlukan koordinasi
yang cermat.
3. Language (bahasa). Yaitu kemampuan untuk memberikan respon terhadap suara, mengikuti
perintah dan berbicara spontan.
4. Gross Motor (perkembangan motorik kasar). Yaitu aspek yang berhubungan dengan
pergerakan dan sikap tubuh.
D.4 parameter yang dimulai pada DDST II :
1. .Personal Social (kepribadian / tingkah laku)Meliputi : Aspek kemampuan diri,
bersosialisasi, dan berinteraksi dengan lingkungan.

2.Fine Motorik Adaptive (Gerakan Motorik Halus)Meliputi : memegang sesuatu dan
menggambar

3.Language (bahasa)Meliputi : respon suara, mengikuti perintah, dan berbicara spontan

4.Gross Motor (Perkembangan Motorik Kasar)Meliputi : Aspek yang berhubungan
dengan pergerakan dan sikap tubuh.

Pertumbuhan (Growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah,
ukuranatau dimensi tingkat, sel organ, maupun individu yang bisa diukur dengan ukuran
berat,ukuran panjang, umur tulang dan kesinambungan metabolic (referensi kalsium dan
nitrogen tubuh).

Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam strukturdan
fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan diramalkan sebagai hasil dari
proses pematangan. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual, dan tingkah laku
sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya.