You are on page 1of 17

1

I. PENDAHULUAN

A Latar Belakang

Salah satu jenis ikan budidaya yang berkembang pesat di

Indonesia adalah ikan nila (Oreochromis niloticus). Produksi

perikanan budidaya mengalami peningkatan terutama ikan nila

yaitu sebesar 7.116 ton pada tahun 2004 menjadi 220.900 ton pada

tahun 2008 atau meningkat sebesar 23,96%/tahun (Widyanti,

2009).

Ikan nila merupakan komoditas perairan darat yang banyak

digemari oleh masyarakat, baik lokal maupun mancanegara. Untuk

meningkatkan produksi ikan nila, budidaya secara intensif perlu

dilakukan dengan pemberian makanan yang berkualitas, kualitas air

juga diperhatikan. Pada budidaya ikan nila selain keberadaan

oksigen, NH3 merupakan faktor penghambat pertumbuhan, pada

tingkat konsentrasi 0,18 mg/l dapat menghambat pertumbuhan

ikan. Ikan nila juga merupakan salah satu jenis ikan budidaya air

tawar yang mempunyai prospek cukup baik untuk dikembangkan.

Hal ini disebabkan ikan nila memiliki beberapa keunggulan

dibandingkan dengan jenis ikan air tawar lainnya, yaitu mudah

dibudidayakan, memiliki daging yang tebal dan kandungan duri
2

yang sedikit sehingga dapat diolah menjadi berbagai produk

olahan (Putra dkk., 2011).

Usaha budidaya ikan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan

pakan yang cukup dalam jumlah dan kualitasnya untuk mendukung

kualitas yang maksimal. Faktor pakan menentukan biaya produksi

mencapai 60-70% dalam usaha budidaya ikan sehingga perlu

pengelolaan yang efektif dan efisien (Handajani, 2011). Beberapa

syarat bahan pakan yang baik untuk diberikan adalah memenuhi

kandungan gizi (protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral)

yang tinggi, tidak beracun, mudah diperoleh, mudah diolah dan

bukan sebagai makanan pokok manusia. Selama ini perkembangan

pakan ikan komersial umumnya masih bertumpu pada tepung ikan

sebagai sumber protein utama. Penurunan produksi tepung ikan

dan meningkatnya permintaan tepung ikan menyebabkan

terjadinya peningkatan harga tepung ikan secara signifikan. Dengan

semakin pesatnya perkembangan budidaya, tentu kebutuhan pakan

semakin meningkat. Ketersediaan pakan dalam jumlah yang cukup,

tepat waktu, bernilai nutrisi, dan berkesinambungan merupakan

salah satu faktor yang sangat penting dalam usaha budidaya ikan.

Nutrisi ikan merupakan ilmu yang mengkaji keterkaitan

nutrien dengan ikan. Pengetahuan akan nutrisi ikan penting dalam

menunjang kegiatan produksi budidaya perikanan. Faktor yang
3

mempengaruhi kebutuhan dan keseimbangan nutrien pada ikan,

proses pencernaan dan kecernaan hingga pada tahap interaksi

antara nutrient dengan berbagai bagian dari organism hidup,

termasuk komposisi pakan,pemanfaatan pakan oleh tubuh,

pelepasan energi yang diproduksi, sintesis untuk pertahanan dan

perawatan, pertumbuhan, reproduksi, dan control terhadap limbah

yang dihasilkan.

Berdasarkan latar belakang diatas maka perlu dilakukan praktikum nutrisi

ikan nila untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan yang berbeda (FF-999 dan

PF-1000) terhadap pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup ikan nila (O.

niloticus).

B. Tujuan dan Manfaat

Adapun tujuan dari praktikum nutrisi ikan nila adalah untuk mengetahui

pengaruh pemberian pakan yang berbeda (FF-999 dan PF-1000) terhadap

pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup ikan nila (O. niloticus).

Adapun manfaat dari praktikum nutrisi ikan ini adalah praktikan mendapat

wawasan dan pengetahuan mengenai pengaruh pemberian pakan yang berbeda (FF-

999 dan PF 1000) terhadap pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup ikan nila

(O. niloticus).
4

II. TINJAUAN PUSTAKA

A Klasifikasi dan Morfologi Ikan Nila (O. niloticus)

Menurut Martinus (2013), ikan nila (O. niloticus) mempunyai

klasifikasi sebagai berikut:

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Osteichtyes
Subkelas : Acanthopterygii
Ordo : Percomorphi
Subordo : Percoidea
Famili : Cichlidae
5

Genus : Oreochromis
Spesies : Orechromis
niloticus

Gambar 1. Ikan nila (O. niloticus)
(sumber : Putra dkk., 2011)

Morfologi ikan nila (O. niloticus) menurut Putri dkk., (2012),

mempunyai ciri-ciri bentuk tubuh bulat pipih, punggung lebih tinggi,

pada badan dan sirip ekor (caundal fin) ditemukan garis lurus

(vertikal). Pada sirip punggung ditemukan garis lurus memanjang.

Ikan Nila (O. niloticus) dapat hidup diperairan tawar dan

mereka menggunakan ekor untuk bergerak, sirip perut, sirip dada

dan penutup insang yang keras untuk mendukung badannya. Nila

memiliki lima buah sirip, yaitu sirip punggung (dorsal fin), sirip data

(pectoral fin) sirip perut (ventral fin), sirip 3 anal (anal fin), dan sirip
6

ekor (caudal fin). Sirip punggungnya memanjang dari bagian atas

tutup ingsang sampai bagian atas sirip ekor. Terdapat juga

sepasang sirip dada dan sirip perut yang berukuran kecil dan sirip

anus yang hanya satu buah berbentuk agak panjang. Sementara

itu, jumlah sirip ekornya hanya satu buah dengan bentuk bulat

(Handajani, 2011).

B Habitat Dan Kebiasaan Makan Ikan Nila

Ikan nila merupakan ikan konsumsi yang umum hidup di

perairan tawar, terkadang ikan nila juga ditemukan hidup di

perairan yang agak asin (payau). Ikan nila dikenal sebagai ikan

yang bersifat euryhaline (dapat hidup pada kisaran salinitas yang

lebar). Ikan nila mendiami berbagai habitat air tawar, termasuk

saluran air yang dangkal, kolam, sungai dan danau. Ikan nila dapat

menjadi masalah sebagai spesies invasif pada habitat perairan

hangat, tetapi sebaliknya pada daerah beriklim sedang karena

ketidakmampuan ikan nila untuk bertahan hidup di perairan dingin,

yang umumnya bersuhu di bawah 21°C (Centyana dkk., 2014).

Ikan nila mempunyai kemampuan tumbuh secara normal

pada kisaran suhu 14-38°C dengan suhu optimum bagi

pertumbuhan dan perkembangannya yaitu 25-30°C. Pada suhu

14°C atau pada suhu tinggi 38°C pertumbuhan ikan nila akan

terganggu. Pada suhu 6°C atau 42°C ikan nila akan mengalami
7

kematian. Kandungan oksigen yang baik bagi pertumbuhan ikan

nila minimal 4mg/L, kandungan karbondioksida kurang dari 5mg/L

dengan derajat keasaman (pH) berkisar 5-9 (Mujiono dkk., 2015).

Menurut Putra dkk., (2011), pH optimum bagi pertumbuhan nila

yaitu antara 7-8 dan warna di sekujur tubuh ikan dipengaruhi

lingkungan hidupnya. Menurut Widyanti (2009 ), ikan nila (O.

niloticus) adalah termasuk ikan pemakan campuran yaitu omnivora

yang cenderung herbivora sehingga lebih mudah beradaptasi

dengan jenis pakan yang dicampur dengan sumber bahan nabati.

C Kebutuhan Nutrisi Ikan Nila

Kebutuhan nutrisi ikan pada budidaya intensif akan terpenuhi

dengan pemberian pakan buatan. Komponen pakan yang

berkontribusi terhadap penyediaan materi dan energi tumbuh

adalah protein, karbohidrat dan lemak. Protein adalah nutrien yang

sangat dibutuhkan untuk perbaikan jaringan tubuh yang rusak,

pemeliharaan protein tubuh, penambahan protein tubuh untuk

pertumbuhan, materi untuk pembentukan enzim dan beberapa jenis

hormon serta sebagai sumber energi (Listyanti, 2011).

Kebutuhan protein ikan berbeda-beda menurut spesiesnya,

pada umumnya ikan membutuhkan protein sekitar 30-40% dalam

pakannya. Ikan air tawar dapat tumbuh baik dengan pemberian

pakan yang mengandung kadar protein 25-35% dengan rasio energi
8

berbanding protein sekitar 8 kkal/gram protein. Hal ini dipengaruhi

oleh beberapa faktor yakni spesies ikan, ukuran ikan, umur ikan,

temperatur air, kandungan energi pakan, kecernaan terhadap

nutrien dan kualitas atau komposisi dari nutrient (Mulyadi,

dkk.,2014).

Komposisi pakan FF-999 dan PF1000 dapat dilihat pada Tabel 1 berikut:

Tabel 1. Analisis komposisi pakan FF-999 dan PF1000
komposisi Pakan FF-999 Pakan PF 1000
Protein kasar 35% 41%
Lemak kasar 2% 5%
Serat kasar 3% 6%
Kadar abu 13% 16%
Kadar air 12% 10%
BETN 35% 22%

Karbohidrat merupakan salah satu sumber energi yang relatif

murah harganya. Pemberian energi yang optimal pada pakan ikan

adalah penting karena kelebihan atau kekurangan energi yang

dapat menyebabkan pertumbuhan berkurang. Energi untuk

pemeliharaan tubuh dan aktivitas lain harus terpenuhi terlebih

dahulu sebelum energi untuk pertumbuhan. Ikan karnivora

umumnya dapat memanfaatkan karbohidrat secara optimal pada

kadar 10-20% sedangkan ikan omnivora rata-rata pada kadar 30-

40%. Sedangkan ikan nila dapat memanfaatkan karbohidrat pakan

hingga 45% Widodo dkk., (2014).

Lemak dan minyak merupakan sumber energi yang tinggi

dalam pakan ikan. Lemak juga berfungsi sebagai pelarut vitamin A,
9

D, E, K dan sumber asam lemak esensial. Menurut Widodo dkk.,

(2014), kadar lemak 5% dalam pakan sudah mencukupi kebutuhan

ikan nila namun kadar lemak dalam pakan sebesar 12% akan

menghasilkan perkembangan yang maksimal. Pakan yang

mengandung suplemen vitamin yang diberikan ke spesies ikan lain,

ternyata ketika pakan tersebut diberikan kepada ikan tilapia

menunjukkan hasil yang baik.
10

III. METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum nutrisi ikan dilaksanakan pada Tanggal 03 s/d 22 Desember 2016.

Bertempat di Laboratorium Unit Pembenihan dan Pembesaran, Fakultas Perikanan

dan Ilmu Kelautan, Universitas Halu Oleo, Kendari.

B. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum Nutrisi Ikan dapat dilihat

pada Tabel 1.

Tabel 1. Alat dan Bahan Nutrisi Ikan Nila beserta Kegunaannya
No Alat dan Bahan Kegunaan
.
1. Alat:
- Lap kasar Membersihkan media pemeliharaan objek
- Akuarium Media pemeliharaan objek
- Aerasi Suplai oksigen
- Seser Membersihkan sisa pakan
- Timbangan analitik Menimbang objek pengamatan
- Selang Menyipon sisa pakan dan feses
- Kamera Dokumentasi
2 Bahan
- Ikan nila (O. niloticus) Objek pengamatan
- Air Media hidup objek
11

- Pakan FF 999 Pakan objek pengamatan
- Pakan PF 1000 Pakan objek sebagai perbandingan
C. Prosedur Kerja

Adapun prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum nutrisi ikan adalah

sebagai berikut:

- Membersihkan akuarium
- Mengisi air tawar pada akuarium sebanyak 80% dari volume akuarium
- Memasang aerasi sebagai suplai oksigen
- Mengambil ikan nila sebanyak 20 ekor dan ditimbang 1 persatu dan dimasukkan

kedalam akuarium
- Mencatat hasil timbangan sebagai berat awal
- Menghitung berapa banyak pakan yang dibutuhkan oleh objek pengamatan

perhari dengan pakan yang diberikan 5% dari bobot tubuhnya
- Praktikum ini menggunakan 2 jenis pakan yaitu pakan FF999 dan PF1000

sebagai perbandingannya.
- Frekuensi pemberian pakannya 2 kali sehari yaitu pagi pukul 07.00 dan sore

pukul 16.00
- Memberikan pakan dilakukan selama pemeliharaan1(9 hari)
- Penyiponan dilakukan setiap hari untuk mengurangi sisa pakan dalam akuarium
- Penimbangan akhir sebagai berat akhir (Wt)
- Menghitung pertumbuhan mutlak dan tingkat kelangsungan hidup ikan nila (O.

niloticus.
12

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
1. Pertumbuhan Mutlak Ikan Nila (O. niloticus)

Hasil pertumbuhan mutlak ikan nila (O. niloticus) yang diberi pakan yang

berbeda (FF-999 dan PF-1000) dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

3

2.5

2

1.5

Pertumbuhan Mutlak (g) 1

0.5

0
FF999 PF1000
-0.5

-1

Perlakuan

Gambar 2. Grafik Pertumbuhan Mutlak Ikan Nila (O. niloticus)

2. Tingkat Kelangsungan Hidup
13

Hasil pertumbuhan mutlak ikan nila (O. niloticus) yang diberi pakan yang

berbeda (FF-999 dan PF-1000) dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

90 85
80
70 65
60
50
Tingkat Kelangsungan Hidup (%) 40
30
20
10
0
ff999 pf1000
Perlakuan

Gambar 3. Grafik Tingkat Kelangsungan Hidup Ikan Nila(O. niloticus)
B. Pembahasan

Berdasarkan hasil praktikum, pada pemeliharaan ikan nila

sejumlah 20 ekor dengan berat keseluruhan yaitu 328.2 gram dan

jumlah berat keseluruhan yaitu 16.41 gram dengan pemberian pakan uji FF-999 5%

dari berat ikan dengan kandungan protein kasar 35%, lemak kasar 2%, serat kasar

3%, kadar abu 13%, kadar air 12% dan BETN 35%, diperoleh pertumbuhan mutlak

-0.52 g. Sedangkan pada pemeliharaan ikan nila yang diberi pakan

PF-1000 memiliki nilai pertumbuhan mutlak yang tinggi. Pakan PF-

1000 memiliki kandungan protein kasar 41%, lemak kasar 5%, serat kasar 6%, kadar

abu 16%, kadar air 10% dan BETN 22%. Pada pemeliharaan ikan nila dengan pakan

uji PF-1000 ini mengalami kenaikan berat selama 19 hari pemeliharaan yaitu 2.77

gram, jumlah ikan yang dipelihara juga adalah 20 ekor namun pada pengukuran akhir
14

ikan mengalami kematian sehingga tersisa 17 ekor, berbeda dengan pemeliharaan

ikan nila yang diberi pakan FF-999 yaitu pada pengukuran terakhir tersisa 13 ekor.

Pada pemeliharaan ikan nila yang diberi pakan PF-1000 memiliki nilai pertumbuhan

yang sangat tinggi. Hal ini diperkirakan dapat terjadi karena komposisi dari pakan

PF-1000 memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dari pada pakan FF-999. Hal

ini juga didukung oleh pernyataan Centyana (2014), bahwa pakan

buatan dengan kandungan protein sebesar 40-45% memberikan

pertumbuhan yang terbaik pada ikan nila. Selain itu kualitas air

yang baik dalam pemeliharaan ikan nila juga sangat menentukan

dalam pertumbuhan ikan.

Tingginya tingkat kelangsungan hidup yang diperoleh pada ikan yang diberi

pakan FF-999 yaitu 65% sedangkan ikan yang diberikan pakan PF-1000 yaitu 85%.

Hal ini diduga disebabkan oleh kualitas air pada pemeliharaan ikan nila (O. niloticus)

yang tidak stabil. Menurut Mujiono dkk., (2015), ikan nila mempunyai

kemampuan tumbuh secara normal pada kisaran suhu 14-38°C

dengan suhu optimum bagi pertumbuhan dan perkembangannya

yaitu 25-30°C. Pada suhu 14°C atau pada suhu tinggi 38°C

pertumbuhan ikan nila akan terganggu. Pada suhu 6°C atau 42°C

ikan nila akan mengalami kematian. Kandungan oksigen yang baik

bagi pertumbuhan ikan nila minimal 4mg/L, kandungan

karbondioksida kurang dari 5mg/L dengan derajat keasaman (pH)

berkisar 5-9.
15

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Adapun simpulan yang dapat ditarik dari praktikum nutrisi ikan nila (O.

niloticus) adalah sebagai berikut:

1. Pertumbuhan mutlak pemeliharaan ikan nila dengan pemberian pakan uji

FF-999 lebih rendah dari pada PF-1000 yaitu diperoleh -0.52 g pada FF-999 dan

2,77 pada pakan PF-1000.
2. Tingkat kelangsungan hidup pada FF-999 yaitu 65% dan pada PF-1000 yaitu 85%

dan ini dipengaruhi oleh kualitas air dan kemampuan ikan untuk bertahan hidup.

B. Saran

Adapun saran yang dapat saya ajukan pada praktikum nutrisi ikan ini adalah

agar praktikan dapat lebih mengontrol kualitas air dan pemberian pakan ikan dengan

benar.
16

DAFTAR PUSTAKA

Ardita, Nita., Budiharjo, Agung., dan Sari, S.L.A. 2015. Pertumbuhan
dan rasio konversi pakan ikan nila (Oreochromis niloticus)
dengan penambahan prebiotik. Jurnal bioteknologi. Vol 12. No.
1: 16-21
Arief, Muhammad., Fitriani, Nur., dan Subekti, Sri. 2014. Pengaruh
pemberian probiotik berbeda pada pakan komersial terhadap
pertumbuhan dan efisiensi pakan ikan nila (Orechromis
niloticus). Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 6. No. 1.
Centyana, Ega., Cahyoko, Yudi., dan Agustono. 2014. Substitusi
tepung kedelai dengan tepung biji koro pedang (Canavalia
ensiformis) terhadap pertumbuhan, survival rate dan efisiensi
pakan ikan nila merah. Jurnal ilmiah perikanan dan kelautan.
Vol. 6. No. 1.
Handajani, Hany. 2011. Optimalisasi substitusi tepung azolla
terfermentasi pada pakan ikan untuk meningkatkan
produktivitas ikan nila gift. Jurnal teknik industry. Vol. 12. No.
2 : 177–181.
Listyanti, Andhini Fitri. 2011. Aplikasi sinbiotik melalui pakan pada
ikan nila merah oreochromis niloticus yang diinfeksi
Streptococcus agalactiae. Fakultas perikanan dan ilmu
kelautan institut pertanian bogor. Bogor.
Martinus, Andri H. 2013. Produksi ikan nila merah (Orechromis
niloticus) jantan menggunakan madu lebah hutan. Fakultas
teknobiologi. Universitas atma jaya Yogyakarta, Yogyakarta.
Mujiono, Faisal., Sampekalo, Julius., dan Lumenta, Cyska. 2015.
Pertumbuhan benih ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan
menggunakan pakan komersil yang diberi tambahan
“bakasang”. Jurnal budidaya perairan. Vol. 3. No. 1: 187-194.
Mulyadi., Tang, Usman., dan Yani, E.S. 2014. Sistem resirkulasi
dengan menggunakan filter yang berbeda terhadap
pertumbuhan benih ikan nila (Oreochromis niloticus). Jurnal
akuakultur rawa indonesia. Vol. 2. No. 2 : 117-124.
Mulyani, Yenni Sri., Yulisman., dan Fitrani, Mirna. 2014. Pertumbuhan
dan efisiensi pakan ikan nila (Oreochromis niloticus) yang
dipuasakan secara periodik. Jurnal akuakultur rawa indonesia.
Vol. 2. No. 1 :01-12.
Putra, Iskandar., Setiyanto, D.Djoko., dan Wahyjuningrum,
Dinamella. 2011. Pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan
17

nila Oreochromis niloticus Dalam sistem resirkulasi. Jurnal
perikanan dan kelautan. Vol. 16. No. 1 : 56-63.
Putri, F.S., Zahidah, H., dan Haetami, K. 2012. Pengaruh pemberian
bakteri probiotik pada pellet yang mengandung kaliandra
(Calliandracalothyrsus) terhadap pertumbuhan benih ikan nila
(Oreochromis niloticus). Jurnal perikanan dan kelautan. Vol 3.
No. 4 : 283-291.
Setiawati, M., dan Suprayudi, M.A. 2003. Pertumbuhan dan efisiensi
pakan ikan nila merah (Oreochromis Sp.) Yang dipelihara pada
media bersalinitas. Jurnal akuakultur indonesia. Vol. 2. No,
1(27-30).
Widodo, Ari., M. Isa., dan T. Armansyah T.R. 2014. Analisis proksimat
protein dan pertumbuhan relatif ikan nila terpapar stres panas
yang diberi kombinasi suplemen daun jaloh dengan kromium
pada pakan. Jurnal medika veterinaria. Vol. 8. No. 2 : 91-94.
Widyanti, Widy. 2009. Kinerja pertumbuhan ikan nila Oreochromis
niloticus yang diberi berbagai dosis enzim cairan rumen pada
pakan berbasis daun lamtorogung leucaena leucocephala.
Fakultas perikanan dan ilmu kelautan institut pertanian Bogor.
Bogor.