A.

KKM (KRETERIA KETUNTASAN MINIMAL)
1. PENGERTIAN
Istilah kriteria dalam penilaian sering juga disebut sebagai tolak ukur atau standar.
Kriteria, tolak ukur, standar adalah sesuatu yang digunakan sebagai patokan atau batas minimal
untuk sesuatu yang diukur.[1] Kriteria Ketuntasan Minimal adalah salah satu prinsip penilaian
pada kurikulum berbasis kompetensi, yakni menggunakan kriteria tertentu dalam menentukan
kelulusan peserta didik. Kriteria yang digunakan adalah nilai yangpaling rendah untuk
menyatakan peserta didik mencapai ketuntasan. Kriteria Ketuntasan Minimal biasanya
menggunakan sepuluh jenjang penilaian yaitu dari 1 sampai 10 atau dari 1 sampai 100.
2. FUNGSI
Fungsi pembuatan KKM adalah:
a. Memudahkan evaluator (guru) dalam melakukan penilaian terhadap objek yang akan
dinilai karena ada patokan yang diikuti.
b. Untuk menjawab dan mempertanggungjawabkan hasil penilaian yang sudah dilakukan.
c. Untuk mengekang masuknnya unsur subjektif yang ada pada diri penilai.
d. Dengan adanya KKM, maka hasil evaluasi akan sama meskipun dilakukan dalam waktu yang
berbeda dan dalam kondisi fisik penilai yang berbeda pula.
e. Memberikan arahan kepada evaluator (guru) apabila evaluatornya lebih dari satu.[2]
3. KETENTUAN PENETAPAN KKM.
Dalam penetapan nilai ketuntasan belajar minimum dilakukan melalui analisis ketuntasan
minimum pada setiap indikator, KD dan SK. Ketuntasan belajar ideal untuk setiap indikator
adalah 1-100 %, dengan batas minimal ideal minimum 75 %. Dalam menetapkan KKM sekolah
harus mempertimbangkan kompleksitas, kemampuan rata-rata siswa, dan Sumber Daya
pendukung.[3]
a. Tingkat kompleksitas (kerumutan dan kesulitan) setiap indikator, KD dan SK per mata
pelajaran yang harus dicapai siswa. Tingkat kompleksitas tinggi maka akan menuntut
kemampuan berfikir tingkat tinggi, penalaran dan kecermatan siswa. Semakin tinggi tingkat
kompleksitas mata pelajaran maka semakin sulit untuk dicapai, sehingga rata-rata nilainya
sangat rendah. Semakin rendah tingkat kompleksitas mata pelajaran maka semakin mudah
untuk dicapai sehingga rata-rata nilainya semakin tinggi.
b. Tingkat kemampuan (intake) rata-rata siswa pada sekolah/madrasah yang bersangkutan.
Kondisi rata-rata kemampuan peserta didik dijadikan acuan standar keberhasilan pembelajaran.

Kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran pada masig- msaing sekolah/madrasah.[6] Kriteria ketuntasan minimal ditetapkan oleh satuan pendidikan berdasarkan hasil musyawarah guru mata pelajaran di satuan pendidikan atau beberapa satuan pendidikan yang memiliki karakteristik yang hampir sama. 5. Semakin rendah tingkat ketercukupan dan kesesuaian daya dukung sekolah/madrasah maka semakin sulit untuk mencapai hasil belajar yang ditetapkan sehingga rata-rata nilainya sangat rendah. Semakin rendah rata-rata kemampuan peserta didik maka semakin sulit untuk dapat mencapai sehingga nilai rata-ratanya sangat rendah. Angka maksimal 100 merupakan kriteria ketuntasan ideal. serta menunjukkan semangat belajar yang besar dan percaya pada diri sendiri. LANGKAH-LANGKAH PENETAPAN KKM Penetapan KKM dilakukan oleh guru atau kelompok guru mata pelajaran. Langkah penetapan KKM adalah sebagai berikut: . Semakin tinggi tingkat ketercukupan dan kesesuaian daya dukung sekolah/madrasah maka semakin mudah mencapai hasil belajar sehngga nilainya sangat tinggi. Semakin tinggi rata-rata kemampuan peserta didik. Kriteria ketuntasan menunjukkan persentase tingkat pencapaian kompetensi sehingga dinyatakan dengan angka maksimal 100 (seratus). yaitu calon evaluator. Target ketuntasan secara nasional diharapkan mencapai minimal 75. maka semakin mudah untuk mencapai hasil belajar sehingga nilainya sangat tinggi. Mulyasa juga menegaskan bahwa pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila telah mencapai 75% dari jumlah kompetensi yang disampaikan. c. dengan maksud agar pada waktu menerapkannya tidak ada masalah karena mereka telah memahami. Satuan pendidikan dapat memulai dari kriteria ketuntasan minimal di bawah target nasional kemudian ditingkatkan secara bertahap. mental maupun sosial dalam proses pembelajaran. Semakin tercukupi sumber daya baik yang berupa sumber daya manusia maupun yang lainnya.[5] 4. Pertimbangan pendidik atau forum MGMP secara akademis menjadi pertimbangan utama penetapan KKM. semakin tinggi tingkat keefektifan pembelajaran.[4] E. YANG BERHAK MENYUSUN KKM KKM atau tolak ukur sebaiknya dibuat bersama dan sebaiknya dibuat oleh orang-orang yang membutuhkannya atau menggunakannya. Peserta didik harus terlibat secara aktif baik dalam fisik. bahkan tau apa yang melatar belakanginya.

5. 7. 4. Hal tersebut antara lain: tingkat kesukaran materi. 3. orang tua. 6. selanjutnya dibagi dengan jumlah KD untuk menentukan KKM mata pelajaran 8. 2. KKM dicantumkan dalam LHB pada saat hasil penilaian dilaporkan kepada orang tua/wali peserta didik. Berikut adalah langkah-langkah dalam menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM): 1. Jumlahkan seluruh KKM KD. dan potensi siswa. 4. Semakin tinggi sumber daya pendukung maka nilainya semakin tinggi. 3. selanjutnya dibagi tiga untuk menentukan KKM setiap KD. 2. Hitunglah jumlah Kompetensi Dasar (KD) setiap mata pelajaran setiap kelas. Jumlah nilai setiap komponen. Semakin komplek (sukar) KD maka nilainya semakin rendah. Guru atau kelompok guru menetapkan KKM mata pelajaran dengan mempertimbangkan tiga aspek kriteria. Aspek sumber daya pendukung (sarana). Aspek intake.1. Tentukan kekuatan/ nilai untuk setiap aspek / komponen sesuai dengan kemampuan masing-masing aspek. Hasil penetapan KKM oleh guru atau kelompok guru mata pelajaran disahkan oleh kepala sekolah untuk dijadikan patokan guru dalam melakukan penilaian. yaitu peserta didik. yaitu kompleksitas. dan semakin mudah KD maka nilainya semakin tinggi. Semakin tinggi kemampuan awal siswa (intake) maka nilainya semakin tinggi pula. Aspek kompleksitas. KKM yang ditetapkan disosialisaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. daya dukung. sarana yang tersedia dan kemampuan siswa. Pedoman yang selanjutnya dikenal dengan istilah Kriteria Ketuntasan Minimal atau sering disingkat dengan KKM ini. dan dinas pendidikan. tergantung pada kompleksitas KD. Berikut contoh tabelnya: . SK hingga KKM mata pelajaran. dikonstruk dari berbagai hal yang mana hal tersebut berkaitan erat dengan faktor yang harus dilibatkan dalam mencapai kompetensi di setiap mata pelajaran. Hasil penetapan KKM indikator berlanjut pada KD. KKM setiap mata pelajaran pada setiap kelas tidak sama.

Aspek yang dianalisis Kriteria dan Skala Penilaian Sedang 65. Rendah 80- Kompleksitas Tinggi < 65 79 100 Sedang 65- Daya dukung Tinggi 80-100 Rendah < 65 79 Sedang 65- Intake siswa Tinggi 80-100 Rendah < 65 79 Atau dengan menggunakan poin/skor pada setiap kriteria yang ditetapkan Aspek yang dianalisis Kriteria Penskoran Kompleksitas Tinggi (1) Sedang (2) Rendah (3) Daya dukung Tinggi (3) Sedang (2) Rendah (1) Intake siswa Tinggi (3) Sedang (2) Rendah (1) Contoh: Mapel : Kimia Kelas/Semester : X/2 Sekolah : Standar kompetensi : Memahami sifat-sifat larutan non elektrolit dan elektrolit. serta reaksi oksidasi-reduksi. Kriteria Kompetensi Kriteria pencapaian ketuntasan Ketuntasan Dasar/Indikator belajar siswa (KD/indicator) Minimal Kompleksita Daya intake KD Mapel s dukung .

4. (80) (70) 2. menjelaskan penye- bab kemampuan laru-tan elektrolit Tinggi (65) Tinggi Renda 70 meng-hantarkan (80) h (65) arus listrik.A. Mengidentifikasi sifat larutan non elektrolit berdasarkan data hasil percobaan Rendah (80) Tinggi Sedang 77 1. menjelaskan bahwa larutan elektrolit dapat berupa senyawa ion dan senyawa kovalen polar Langkah penghitungannya: . mengelompokkan larutan ke dalam larutan elektrolit dan non elektrolit berdasarkan sifat Tinggi (65) Tinggi Renda 65 hantaran listriknya (80) h (65) 3. menyimpulkan (80) (70) gejala-gejala hantaran arus listrik dalam berbagai larutan berdasarkan Sedang (70) Tinggi Sedang 73 hasil pengamatan.

6 3 b.3 3 c.5 4 4 Nilai KKM Mapel merupakan angka bulat. 65+80+65 =70 3 Mencari nilai KKM Mapel: ∑KKM KD ∑KD/indikator 77+73+70+70 290 = = 72.5 dibulatkan menjadi 73 B. 80+80+70 =76. 65+80+65 = 70 3 d. maka nilai KKM 72. 70+80+70 =73. Untuk mencari KKM per KD ∑bobot soal 3 a. LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN PENILAIAN KELAS Menurut Sarwiji Suwandi dan Asep Jihad langkah-langkah penilaian adalah: .

mendemonstrasikan. Contah: a. mempraktikkan. seperti: mengidentifikasi. Apabila tuntutan indikatornya memuat unsur penyelidikan. Indikator-indikator pencapaian hasil belajar dari setiap kompetensi dasar merupakan acuan yang digunakan acuan untuk melakukan penilaian. b. KD : 1.[8] 3. membedakan. 1.1 mengidentifikasi identitas diri. dan mendeskripsikan. harus memeperhatikan ciri indikator.Contoh penetapan SK. Pemetaan Standar Kompetensi. menyimpulkan.[7] 2. Penetapan indikator pencapaian belajar Indikator dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur. maka tehnik penilaiannya adalah proyek. menghitung. serta sikap saling menghormati dalam kemajemukan keluarga. 1. menceritakan kembali. maka tehnik penilaiannya adalah unjuk kerja. c.[9] Menurut Daryanto langkah-langkah penilaian adalah: . Apabila tuntutan indikator melakuan sesuatu. Penetapan tehnik penilaian Dalam memilih tehnik penilaian. maka tehnik penilaiannya adalah tertulis. dan kerabat. keluarga. Indikator ini dikembangkan oleh guru dengan memperhatikan perkembangan dan kemampuan setiap peserta didik.2 menceritakan pengalaman diri Indikator : · siswa dapat meyebutkan identitas diri secara lisan di depan teman temannya · Siswa dapat menceritakan pengalamannya dalam bentuk karangan sederhana. Kompetensi Dasar dan Indikator Pemetaan standar kompetensi dilakukan untuk untuk memudahkan guru dalam memnentukan tehnik penilaian. Apabila tuntutan indikatorny berkaitan dengan pemahaman konsep. KD dan indikator SK : memahami identitas diri dan keluarga.

Cara menetapkan skor yang biasanya adalah 1 point untuk setiap jawaban benar. Perencanaan evaluasi belajar mencakup perencanaan tujuan pelaksanaan evaluasi. Kesimpulan-kesimpulan ini harus mengacu pada tujuan dilakukannya evaluasi. . Penafsiran Data. memilih tehnik yang akan dipergunakan dalam evaluasi. dan tipe tes yang dipergunakan misalnya multiple-chioce. menetapkan aspek-aspek yang dinilai (kognitif. Misalnya dengan melaksanakan wawancara. c) Menata soal. tes belajar. Analisis ini dilakukan untuk memberikan makna terhadap data yang telah berhasil dihimpun dalam kegiatan evaluasi. Penelitian Data (Verifikasi Data). Pengumpulan data dilaksanakan dengan melaksanakan pengukuran. Pengumpulan Data. 5. kelompok soal essay dll) d) Menetapkan skor. afektif dan psikomotorik). Perencanaan.[11] 3. wawancara.[10] Suatu tes belajar dapat dikatakan sebagai tes yang baik apabila materi yang tercamtum dalam item-item tes tersebut merupakan pilihan yang cukup representatif terhadap materi pelajaran yang diberikan di kelas yang bersangkutan. check list dll). Data yang berhasil dihimpun harus disaring lebih dahulu sebelum diolah lebih lanjut. menentukan kriteria yang akan dijadikan peganga atau patokan dalam evaluasi dan menentukan frekuensi dari kegiatan evaluasi (kapan dan berapa kali evaluasi dilaksanakan). Verifikasi ini dilakukan untuk memilih data yang baik dan data yang kurang baik. tergantung pada data yang diolah dan dianalisis. 4. chek list. 1. pengelompokan soal-soal menurut bentuknya (kelompok soal multiple-choice. Penafsiran data ini merupakan verbalisasi dari makna yang terkandung dalam data yang telah mengalami pengolahan dan penganalisisan yang pada akhirnya dapat dikemukakan kesimpulan-kesimpulan tertentu. sehingga nanntinya dapat dipilih item-item yang baik. banyaknya item yang akan ditulis hendaknya lebih banyak daripada item yang diperlukan. jenis aspek yang akan diuji. 2. Tehnik yang digunakan dalam analisis data ini bisa berupa tehnik statistik dan non-statistik. proporsi jumlah item dari tiap-tiap sub materi. menyusun alat-alat ukur yang dipergunakan (angket. essay) b) Menulis soal. Pengolahan dan Analisis Data. Langkah-langkah daalam menyusun tes belajar adalah sebagai berikut: a) Menyusun lay-out (ruang lingkup.

[13] 7.[15] . Tindak Lanjut Hasil Evaluasi. dan menentukan keberhasilan peserta didik dalam suatu proses pembelajaran. Tindakan evaluasi harus senantiasa diikuti dengan adanya tindak lanjut yang yang konkret untuk memperbaiki kegiatan dan hasil belajar yang kurang memuaskan. Selain itu wali kelas juga menyampaikan laporan hasil evaluasi itu kepada sekolah tentang pencapaian kompetensi siswa dan hambatan yang dihadapinya selama mengajar. Laporan ini memberikan bukti sejauh mana tujuan pendidikan yang diharapkan oleh anggota masyarakat khususnya orang tua dapat tercapai. Hasil pengukuran secara umum dapat dikatakan bisa membantu.[14] Laporan hasil belajar siswa ini disampaikan oleh wali kelas kepada orang tua siswa yang memuat didalamnya prestasi siswa (pencapaian kompetensi). menentukan kebutuhan peserta didik. Laporan Hasil Evaluasi.[12] Hasil pengukuran memiliki fungsi utama untuk memperbaiki tingkat penguasaan peserta didik. memperjelas tujuan instruksional.6.

Tindak Lanjut Hasil Evaluasi g. Langkah-langkah pelaksanaan evaluasi: a. SARAN. Pengumpulan Data c. Kriteria yang digunakan adalah nilai yangpaling rendah untuk menyatakan peserta didik mencapai ketuntasan Fungsi KKM adalah untuk mempermudah. yakni menggunakan kriteria tertentu dalam menentukan kelulusan peserta didik. DAFTAR PUSTAKA . standar adalah sesuatu yang digunakan sebagai patokan atau batas minimal untuk sesuatu yang diukur. tolak ukur. Penafsiran Data f. KESIMPULAN Istilah kriteria dalam penilaian sering juga disebut sebagai tolak ukur atau standar. karena mungkin ada yang kurang tepat dengan reperensi yang ada. mempertanggungjawabkan dan menjadi arahan bagi evaluator. BAB III PENUTUP A.[16] Kriteria Ketuntasan Minimal adalah salah satu prinsip penilaian pada kurikulum berbasis kompetensi.Dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan maka dari itu kritik dan sarannya sangat kami harapkan agar penilisan makalah berikutnya bisa menjadi lebih baik dari penulisan makalah ini. Makalah ini juga hannya salah satu bahan pegangan perkuliahan semata. Adapun saran dari penyusun yaitu. Laporan Hasil Evaluasi B. Kriteria. Perencanaan b. Penelitian Data (Verifikasi Data) d. Pengolahan dan Analisis Data e.

Daryanto. 2009 Pengembangan Model Kurikulum Tingkat Sauan Pendidikan (KTSP) pada Sekolah/Madrasah. Susilo. h.h. 32. 2010 Evaluasi Pembelajaran Yogyakarta: Multi Pressindo. (Bandung: Remaja Rosdakarya. Muhaimin. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Wayan dan Sunartana. Surabaya: Usaha Nasional. Muhammad Joko.Jakarta: Rajawali Pers. Bandung: Remaja Rosdakarya. Suharsimi. 36 [4] Muhaimin. Nurkancana.h. Yogyakarta: Pustaka Belajar. [1] Suharsimi Arikunto. Jihad. 30. E. 97-98 [5] E. (Jakarta: Rajawali Pers. Arikunto. Ibid. 2008 KTSP seri SNP Pembalajaran Berbasis Kompetensi dan Konstekstua. 131 [6] Suharsimi Arikunto. 2008). 2008. 2010).Sarwiji. Evaluasi. [3] Mansur Muslich.32. 2006). [2] Suharsimi Arikunto. IV. cet. Muslich. cet. Evaluasi. Surakarta: Yuma Pustaka. Pengembangan Model Kurikulum Tingkat Sauan Pendidikan (KTSP) pada Sekolah/Madrasah. 2010. 2011. Ibid. Abdul. IV. . 2006 Implementasi Kurukulum 2004: Panduan Belajar KBK. Jakarta: Bumi Aksara. (Jakarta: Bumi aksara. IV. Suwandi. Mansur.Jakarta: Rineka Cipta. Mulyasa. Evaluasi Program Pendidikan: Pedoman Teoritis Praktis bagi Mahasiswa dan Praktisi Pendidika. Implementasi Kurukulum 2004: Panduan Belajar KBK. h. Asep dan Haris. 2010 Evaluasi Pendidikan. Model-model Asesmen dalam Pembelajaran. Evaluasi Program Pendidikan: Pedoman Teoritis Praktis bagi Mahasiswa dan Praktisi Pendidikan.Jakarta: Bumi aksara. KTSP seri SNP Pembalajaran Berbasis Kompetensi dan Konstekstual. Mulyasa.h. cet. 1986 Evaluasi Pendidikan. 2009). (Jakarta: Bumi Aksara.h.

30. Evaluasi Pembelajaran. 141-142 [9] Asep Jihad dan Abdul Haris. 2001). h.com/2015/12/makalah-kriteria-ketuntasan-minimal- kkm.blogspot. cet. VI. (Yogyakarta: Multi Pressindo. . 59-62 [14] Daryanto. Email This Sumber Dari: http://zhenhal. 2010). 52-57 [13] Anas Sudijono. (Jakarta: Rineka Cipta. h. h. 2011). Pengembanga. IV. Op-Cit. 165 [16] Suharsimi Arikunto. 148 [11] [12]Wayan Nurkancana dan Sunartana. Ibid. 162 [15] Daryanto. (Jakarta: RajaGrafindo Persada. 98-103 [8] Sarwiji Suwandi.. Evaluasi Program Pendidikan: Pedoman Teoritis Praktis bagi Mahasiswa dan Praktisi Pendidikan. cet. IV. III. (Surakarta: Yuma Pustaka. (Jakarta: Bumi aksara. 2010). Evaluasi Pendidikan. 1986). cet. Model-model Asesmen dalam Pembelajaran. Ibid. cet. III. h. cet. 119 [10] Sarwiji Suwandi. Model-model. Evaluasi Pendidikan. 2010). I.h. cet. h. (Surabaya: Usaha Nasional. Evaluasi Pendidika. Pengantar Evaluasi Pendidikan.html#ixzz4Z7ZAi2GV . [7] Muhaimin.