You are on page 1of 17

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT karena atas berkah dan

rahmat-Nya penulis bisa menyelesaikan tugas “Hidrologi Terapan I”, laporan

“Hidrometri” ini disusun atas amanat dari dosen mata kuliah Hidrologi Terapan I

Bapak Drs. Rakhmat Yusuf MT, tak lupa salawat dan salam mudah-mudahan

selalu tercurahkan kepada jungjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada

keluarganya, kepada sahabatnya, dan mudah-mudahan kepada kita selaku

umatnya yang taat kepada ajarannya sampai hari akhir.

Dalam pembuatan makalah ini penulis tidak bekerja sendirian banyak

pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini yang tidak

dapat disebutkan satu- perasatu.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak

kekurangannya, oleh karena itu penulis meminta saran dan kritik yang

membangun untuk membuat makalah ini jauh lebih sempurna.

Bandung, Juni 2015

Penulis

1

............................................................................................................ 2 2............. 9 PEMBAHASAN........................ 11 4............................................................................... ii BAB I........2 Tujuan Praktikum. 1 1....................... DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.................................................................................................................2 Saran............................................................................................... 9 BAB 4................................................................ 2 2...................................................................... i DAFTAR ISI..............................................................1 Latar Belakang.......................................... 1 PENDAHULUAN..................1 Hidrometri...............2 Kualitas Air............ 11 4...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................1 1.................................................................................................................................................. 5 BAB 3........................................................................1 BAB II............... 11 DAFTAR PUSTAKA...........................................12 2 ........1 Kesimpulan........................................................................... 11 PENUTUP.......... 2 DASAR TEORI.....

1 Latar Belakang Secara singkat. BAB I PENDAHULUAN 1. Untuk mencari debit sungai dan kecepatan rata-rata sungai. Aliran sungai di setiap sungai rata-rata bberbeda karena dipengaruhi oleh morfometri sungai itu sendiri. Hidrologi adalah ilmu yang mempelajari tentang air khususnya tentang perputaran air yang ada di alam (siklus hidrologi). 1. tetapi juga di bahas kajian ilmu yang mempelajari tentang danau (limnology). air laut (oceanografi) dan juga es (crylogy). airtanah (geohidrologi).2 Tujuan Praktikum 1. tetapi yang menjadikan ilmu hidrologi ini ada adalah kerena adanya proses-proses yang unik dan khusus yang dapat menjadi sebuah perhitungan dalam sebuah kajian ilmu. Sementara Hidrometri adalah Ilmu pengetahuan yang mempelajari pengukuran air pada siklus hidrologi. sehingga debitnya pun pasti akan berbeda pada setiap titik walaupun titik-titik itu masih berada dalam satu sungai. Untuk mencari nilai nilai kekasaran penampang sungai (koefisien Manning) 1 . Didalam hidrologi pun tidak hanya membahas mengenai sungai saja (potamology). 2. Walaupun jumlah air didunia ini tetap.

pelampung atau peralatan lain. kecepatan aliran diukue dengan menggunakan alat ukur kecepatan seperti current meter. maka diperlukan data pengamatan debit dalam waktu panjang. yang memungkinkan pengamatan secara kontinyu dan teratur. pengukuran elevasi dasar sungai dilakukan hanya satu kali. Berdasarkan data hujan 4. Pengkuran di lapangan 2.1 Hidrometri Debit aliran sungai (Q) adalah jumlah air yang mengalir melalui tampang lintang sungai tiap satu satuan waktu yang dinyatakan dalam meter kubik per detik (m³/s). Mengingat bahwa debit aliran sangat bervariasi dari waktu ke waktu. elevasi muka air dan debit serta data lainnya. Kemudian dengan mengukur elevasi muka air untuk berbagai kondisi mulai dari debit kecil sampai debit besar (banjir). Berdasarkan data debit dari stasiun didekatnya 3. Pengukuran debit sungai dapat dilakukan dengan pemasangan alat di suatu lokasi di sungai yang ditetapkan. Pengukuran debit dilakukan dengan langkah – langkah : 1. BAB II DASAR TEORI 2. Luas tampang aliran diperoleh dengan mengukur elevasi permukaan air dan dasar sungai. Pemilihan lokasi pengukuran 2. Kedua parameter tersebut dapat di ukur pada suatu stasiun di sungai. Debit di suatu lokasi sungai dapat diperkirakan dengan cara : 1. Berdasarkan pembangkitan data debit Debit aliran diperoleh dengan mengalikan luas tampang aliran dan kecepatan aliran. Apabila dasar dan tebing sungai tidak berubah. Pengukuran kedalaman sungai 2 .

Hitungan debit 6. Membuat rating curve yaitu hubungan antara elevasi muka air dengan debit 7. Pengukuran elevasi muka air secara kontinyu atau harian 4.2615n+0. Tipe mangkok berputar terhadap sumbu vertikal. Ada dua tipe alat ukur. Hubungan antara jumlah putaran perdetik (n) dan kecepatan alairan (v) mempunyai bentuk linier berikut: V = aN+b Keterangan: a dan b : konstanta yang diperoleh dari kalibrasi alat jika n<2.018 jika n>2. Pengukuran kecepatan aliran 5. Jumlah putaran per satuan waktu dapat dikonversi menjadi kecepatan arus. yaitu tipe mangkok (price-cup current meter) dan baling- baling (propellen current meter). Dari rating curve yang telah dibuat pada langkah ke 6.02 v : kecepatan arus (m/s) N : jumlah putaran per detik 3 .3. Presentasi dan publikasi data terukur dan terhitung 1. sedangkan tipe baling-baling berputar terhadap sumbu horizontal. Current Meter Pengukuran kecepatan arus dengan current meter paling banyak dilakukan.2543n+0.22 v=0.22 v=0. di cari debit aliran berdasarkan pencatatan elevasi muka air 8.

ü Ukur lebar permukaan sungai.pengukuran dimulai dari tepi kanan atau kiri. Ada tiga macam pelampung yaitu pelampung permukaan. tinggi muka air. Pilih lokasi pengukuran debit dengan syarat. tentukan interval seksi (tidak boleh besar dari 1/20 total lebar) ü Siapkan current meter (periksa jalannya putaran baling-baling dan bunyi "siren hrn"). ü Pilih cara pengukuran kecepatan aliran. nomor current meter. pelampung dengan kaleng. ü Ukur jarak dari tepi air (titik nol) sampai dititik seksi tempat pengukuran kecepatan aliran (catat dalam kolom 1). untuk mendapatkan kecepatan rerata pada vertikal. 4 . ü Catat tanggal pengukuran. dan arus kecepatan aliran. sesuai dengan point d (dilihat tabel berikut) 2.Cara Kerja: 1.syarat sebagai berikut: ü Tentukan arah penampang melintang. nilai terukur di kalikan dengan koefisien yang biasanya adalah 0. harus tegak lurus arah aliran.85. nama sungai. ü Saat mulai pengukuran harap dicatat:Waktu/jam. pelampung batang. Metode Pelampung Pengukuran kecepatan arus dengan menggunakan pelampung yaitu dengan mengukur selang waktu yang diperlukan oleh pelampung untuk menempuh suatu jarak tertentu. Apabila digunakan pelampung permukaan. ü Ukur kedalaman air pada seksi tersebut (d) dengan mistak ukur / stik current meter (catat dalam kolom 2. lokasi pengukuran.

Suhu Suhu pada suatu perairan dipengaruhi oleh oleh musim. luas penampang basah (A) ditetapkan berdasarkan pengukuran lebar permukaan air dan kedalaman air. Persamaan debit yang diperoleh adalah : Q =Ax K x U Keterangan : Q = debit aliran (m³/dt) U = kecepatan pelampung (m/dt) A = luas penampang basah (m²) K = koefisien pelampung K = 1 — 0. prinsip pengukuran dengan metode ini adalah kecepatan aliran diukur dengan menggunakan pelampung. kedalaman badan air. Perubahan suhsu akan mempengaruhi pola kihidupan dan aktivitas 5 . komposisi substrat. kekeruhan. 2008). ketinggian dari permukaan (altitude). lintang (latitude).2 Kualitas Air 1. Suhu akan mempengaruhi aktivitas metabolisme dan perkembangbiakan dari ikan. Suhu yang tinggi akan berpengaruh terhadap reaksi- reaksi kimia dan reaksi enzimatik pada proses perombakan bahan organik dimana laju perombakan akan makin cepat untuk menghasilkan bentuk yang lebih stabil dan unsur hara (Anriana. Suhu berpengaruh pada secara langsung terhadap proses perombakan bahan organik. dan cahaya.0116() 2. Parameter Fisika – Kimia Perairan a.

Organisme akuatik memiliki kisaran suhu terteu yang disukai bagi pertumbuhannya. Menurut Effendi (2003).Denga kata lain.Pengukuran kecerahan sebaiknya dilakukan pada saat cuaca cerah. Setiap penigkatan suhu sebesar 10ºC akan menigkatkan proses komposisi dan konsumsi oksingen menjadi 2-3 kali lipat.Pengukuran Suhu ü Thermometer Dicelupkan kedalam air selama 3 menit. padatan tersuspensi dan ketelitian orang yang melakukan pengukuran . makin sedikit oksigen yang terkandung di dalamnya. 2003). b. aktivitas mikroorganisme merupakan suhu optimum yang berbeda-beda. Perubahan suhu juga menghasilkan pola sirkulasi dan stratifikasi yang berperan dalam perairan. 2003). peningkatan suhu ini disertai dengan penurunan kadar oksigen terlarut sehingga keberadaan oksigen sering kali tidak mampu memenuhi kebutuhan oksigen bagi organisme akuatik untuk melakukan metabolisme dan respirasi (Effendi.biologi di dalam air termasuk pengaruhnya terhadap penyebaran ikan menurut batas kisaran toleransinya. 6 . waktu pengukuran. Kecerahan air tergantung pada warna dan kekeruhan. Namun. Di samping itu. Cara Kerja 1. Kecerahan Kecerahan merupakan ukuran trasparansi perairan yang ditentukan secara visual dengan menggunakan secchi disk (Effendi. Kecerahan merupakan parameter fisika yang penting karena berkaitan erat dengan aktivitas fotosintesis dari alga dan mikrofita. makin tinggi kenaikan suhu air.nilai kecerahan juga sangat di pengaruhi oleh keadaan cuaca. ü Dilakukan dengan cara membelakangi cahaya matahari.

ü Dicatat dalam skala berapa ºC. ü Dibaca nilai suhu pada skala dengan cepat. ü Dimasukkan kedalam perairan sampai benar-benar tidak terlihat. ü Dihitung kecerahan dengan rumus ü Dicatat hasil perhitungnya. 2. ü Dibersihkan dengan tisu pad bagian kaca optiknya secara searah. ü Diturunkan kedalam. Pengukuran Salinitas ü Dibersihkan kaca refraktometer dengan aquades mengunakan washing bottle. ü Ditarik pelan-pelan sehigga tampak permata kali dan diberi tanda (D2). 7 . Pengukuran Kecerahan ü Disiapkan secchi disk. ü Diambil air sampel dengan pipet tetes. ü Dihitung panjang (D2) dengan tongkat skala. ü Dilihat sampai tidak tampak pertama kali diberi tanda (D1). 3. ü Diangkat kepermukaan.ü Diangkat thermometer. ü Diukur panjang d1 dengan tongkat skala. ü Diteteskan pada optik refraktometer sebanyak 1 tetes.

0 .9 11. begitu pula sebaliknya.2°C pada jam 14. 0. 0. Suhu dalam air sangat di pengaruhi oleh berapa banyak penyinaran matahari yang terjadi. ü Diarahkan pada arah cahaya matahari.2 penyinaran 3. 8 . 3. II g Bening 0.0 . ü Dicatat hasil pengamatannya. Pengukuran Kualitas Air Titik Pengamatan Parameter Fisika Parameter Kimia Suhu Kecerahan Salinitas pH DO Ca 1.41 10. ü Ditentukan salinitas perairan dengan melihat skala pada sisi kanan atas.0 . 3.5 2. Jika penyinaran matahari sangat tinggi maka suhu didalam air akan meningkat. I Tergantun Keruh 0.9 matahari keruh Dengan menggunakan secchi disk kami mengukur kecerahan sehingga didapat hasilnya adalah : 20 cm Suhu pada saat terjadi pengkuran adalah 27.00.ü Ditutup pelan-pelan agar tidak terdapat gelembut udara pada kaca refrak tometer. III Lebih 0.41 10.

58 32 55 0.155 28 952 147.109 43 198.76 40 32 42 0.6 21 0.190 0 2 72 0.145 45 1800 260.578 1.12 5 30.4 27 0. dari data tersebut juga dapat kita lihat bahwa berbeda kecerahan airnya maka berbeda pula kadar DO dan Ca dalam air tersebut. vertikal Rai Depth Putaran Pule NO Pengukura luas Debit (cm) (cm) (30det) s (N) lebar n titik rata-rata (cm^ (cm^3/s (cm) 2) ) 1.099 2 1336.165 32 800 131.303 28 560 169.56 5 34.53 40 32 60 0.36 38 7.00 50 40 40 0.157 0.140 40 1900 265.123 36 1404 172.4 44 0.861 1.228 33 304. BAB 3 PEMBAHASAN kecepatan di bagian penampang Met.274 0 10 362 40 16 13 1.490 0. 3 115 0.465 9 .081 6 0.800 0.27 5 8 29 0.69 30.089 1 0.75 45 36 48 0.553 0.249 0 1 32 0.150 2 0.193 2 5 194 0.079 6 0.075 1 1336.23 38 7.303 0.121 34 1360 164.188 33 251.6 32 0.60 9 324 30 12 20 0. Untuk pH tidak kami ukur karena terjadi kerusakan pada alat yang kami bawa.14 8 54 0.155 0.139 3 4 160 0.070 8 6 230 0.23 0.288 0.278 6 0. 8 296 0.4 22 0.53 40 8 15 0.28 10 35 0.6 33 0.975 0.32 9 28 0.139 3 1827. 7 263 0.26 43 8.381 4 0.176 1 0.049 8 0.

0254 4.1 Kesimpulan -Debit sungai yang terjadi adalah sebesar 0.1747 m/s -Nilai kekasaran penampang sungai (koef.2 Saran Lakukan pengukuran pada saat cuaca stabil 10 . 1 BAB 4 PENUTUP 4. Manning) sebesar 0.1707 m³/s -Kecepatan Rata-rata sungai sebesar 0.

11 .

2002. Sastrodarsono Suyono dan Kensaku Takeda. RD. Hidrologi untuk Pengairan. DAFTAR PUSTAKA Asdak Chay .1999.New York: McGraw-Hill. Handbook of Hydrology.Gadjah Mada.Press:Yogyakarta. Maidment. Pradnya 12 . Hidrologi dan Pengeloaan daerah Aliran Sungai. (1989).

LAMPIRAN 13 .

FOTO SELAMA KEGIATAN 14 .

15 .