You are on page 1of 13

Hukum Internasional sebagai Instrumen Politik: Mendedah

Hegemoni Negara Maju

Dalam Rangka Pemenuhan Tugas Mata Kuliah Hukum Internasional,

dalam ampuan:

Dr. Agus Pramono S.H., M.Hum.

Gerry Pindonta Ginting

11010113130460

Fakultas Hukum
Universitas Diponegoro
Semarang, 2014

dan berbagai aspek kehidupan negara lainnya telah diatur dalam hukum internasional. Bagaimana korelasi antara teori hegemoni dari Antonio Gramsci dengan wujud dominasi hukum internasional? b. Penggunaan laut. Bab I Pendahuluan Latar Belakang Dewasa ini. Telah banyak kasus yang menunjukan bahwa dalam pelaksanaan hukum internasional. Perumusan Masalah Adapun inti dari permasalahan yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah: a. Selain mengatur dalam setiap aspek kehidupan ekonomi dan politik dari satu negara. pengangkutan barang dan penumpang. Bagaimana hukum internasional dijadikan negara maju sebagai alat untuk menghegemoni negara lain? . cukup sulit untuk menemukan aktivitas negara yang belum diatur sebelumnya oleh hukum internasional. yang pada akhirnya memaksa negara berkembang untuk patuh dan bahkan lebih jauh. hukum internasional mengatur hampir seluruh aktivitas dari negara.Hukum internasionaljuga mengkoordinasi dan memfasilitasi kerjasama antar negara yang saling tergantung satu sama lain. Bagaimana peran hukum internasional sebagai instrumen politik negara maju? c. kekuatan bersenjata. Namun. udara. hak asasi manusia. pos. bentuk keterikatan ini pada akhirnya memunculkan geliat dominasi antar negara. ruang angkasa. hukum internasional juga memperhatikan masalah nasionalitas. perlindungan lingkungan serta keamanan nasional. negara-negara maju kerap mendominasi dalam hal pengaturan kaidah-kaidah internasional. melegitmasi hal tersebut sebagai hal yang wajar. dengan menggunakan teori hegemoni dari Antonio Gramsci sebagai landasan pijak teoritik. Singkatnya. Hukum internasional juga menjadi perangkat utama pengaturan perdagangan internasional dan keuangan. ekstradisi. Tulisan ini akan menyorot bagaimana hukum internasional dijadikan sebagai instrumen politik bagi negara-negara maju untuk kemudian dijadikan alat untuk menghegemoni negara-negara lain.

Gramci juga mengkarakterisasikan hegemoni dalam istilah “pengaruh kultural”. Antonio Gramci dapat dipandang sebagai pemikir politik terpenting setelah Marx. Pertama. pengertian semacam itu sudah dikenal oleh orang Marxis lainnya sebelum Gramci. 1981) hal. Pengantar Teori Hegemoni Teori hegemoni merupakan salah satu teori politik yang paling penting sejak abad 20. Teori ini sendiri merupakan hasil pemikiran dari Antonio Gramci (1891-1937)ketika dipenjara. Gramsci mencetuskan bahwa hegemoni adalah: Sebuah pandangan hidup dan cara berpikir yang dominan. Femia. Jurnal PS Seni. Bab II Pembahasan A. 2012 2 Joseph V. seperti Karl Marx.2 Maka dalam hal ini. yang akhirnya dibukukan dengan judul “Selection from The Prissons Notebook”. (ideologi) 1 Saptono. yang membedakan teori hegemoni Gramci dengan penggunaan istilah serupa sebelumnya adalah. Menurut Femia. yang di dalamnya sebuah konsep tentang kenyataan disebarluaskan dalam masyarakat baik secara institusional maupun perorangan. Sigmund Freud dan Sigmund Simmel.1 Sebenarnya teori hegemoni bukanlah hal yang baru bagi tradisi Marxis. Teori Hegemoni: Sebuah Teori Kebudayaan Kontemporer. dianggap sebagai landasan paradigma alternatif terhadap teori Marxis tradisional mengenai paradigma base-superstructure (basis-suprastruktur). sedangkan pemakaian iistilah itu sebelumnya hanya menunjuk pada relasi antara proletariat dan kelompok lainnya. Gagasanya tentang hegemoni. yang sedikit banyak dipengeruhi oleh filsafat hukum Hegel. Namun. Gramsci’s Political Thought: Hegemony. Kedua. ia menerapkan konsep itu lebih luas bagi supremasi satu kelompok atau lebih atas lainnya dalam setiap hubungan sosial. tidak hanya “kepemimpinan politik dalam sebuah sistem aliansi” sebagaimana dipahami generasi Marxis terdahulu. Consciousness and the Revolutianary Process (Oxford: Oxford University Press. Teori-teori Gramsci muncul sebagai kritik dan alternatif bagi pendekatan dan teori perubahan sosial sebelumnya yang didominasi oleh determinisme kelas dan ekonomi Marxisme tradisional. .

negara (state).. dan semua relasi sosial. yaitu ekonomi (economic). 3 Nezar Patria. Pengaruh “roh” ini membentuk moralitas. 116 4 Femia. Antonio Gramsci: Negara & Hegemoni (Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Cit. pencapaian kekuasaan negara. dunia politik yang menjadi arena dari hegemoni. adat. norma. 78 . terutama dari intelektual dan hal-hal yang menunjuk pada moral. memberikan kepada kelas yang mendirikannya baik prestise maupun tampilan kesatuan sejarah kelas penguasa dalam bentuk konkret. yang dihasilkan dari hubungan organik antara negara atau masyarakat politik dan civil society. serta seluruh hubungan-hubungan sosial. mendiktekan seluruh cita rasa. dominasi merupakan lembaga dan manifestasi perorangan. Dalam hal ini. Hegemony(Sussex: Tavistock Publications. yang diperluas mencakup wilayah hegemoni. Ada tiga tingkatan yang dikemukakan oleh Gramsci. 1999) hal. maupun kebudayaan sekelompok masyarakat yang akhirnya berubah menjadi doktrin terhadap kelompok masyarakat lainnya dimana kelompok yang didominasi tersebut secara sadar mengikutinya.5Ruang ekonomi menjadi fundamental. prinsip-prinsip politik. 3 Berdasarkan pemikiran Gramsci tersebut dapat dijelaskan bahwa hegemoni merupakan suatu kekuasaan atau dominasi atas nilai-nilai kehidupan. Negara dengan segala aspeknya. Namun. Dalam konteks ini dapat dirumuskan bahwa konsep hegemoni merujuk pada pengertian tentang situasi sosial politik. memiliki sebuah signifikasi yang khusus. khususnya dalam makna intelektual dan moral. 1986) hal. yaitu hegemoni total (integral). Konsep hegemoni terkait dengan tiga bidang. juga menampilkan momen perkembangan tertinggi dari sejarah sebuah kelas. Dalam terminologinya “momen” filsafat dan praktek sosial masyarakat menyatu dalam keadaan seimbang. hal 5Robert Bocock. konsekueensi yang dibawanya bagi kemungkinan perluasan dan pengembangan penuh dari hegemoni itu telah muncul secara parsial. Op. Kelompok yang didominasi oleh kelompok lain (penguasa) tidak merasa ditindas dan merasa itu sebagai hal yang seharusnya terjadi. kebiasaan moral. dan rakyat (civil society). prinsip-prinsip religius dan politik. religi. hegemini yang merosot (decadent) dan hegemino yang minimum4.

145: "Unified Germany was achieving the strength to dominate Europe all by itself — an occurrence which Great Britain had always resisted in the past when it came about by conquest". Fungsitersebut sebenarnya merupakan salah satu dari berbagai fungsi hukum internasional.Bentuk-bentuk persetujuan masyarakat atas nilai-nilai masyarakat dominan ini dilakukan dengan penguasaan basis-basis pikiran. potentially dominant. Kritik Antonio Gramsci Terhadap Pembangunan Dunia Ketiga (Yogayakarta: Pustaka Pelajar. pendidikan. hegemoni satu kelompok atas kelompok-kelompok lainnya dalam pengertian Gramscian bukanlah sesuatu yang dipaksakan. Hal ini membuat kekuasaan tidak bergantung pada seseorang. dapat dipahami sebagai suatu aturan atau kaidah yang berlaku bagi subyeknya. Singkatnya. pemerintahan). Segala pemberontakan karenanya dapat ditindas dengan polisi dan militer lokal tanpa campur tangan langsung dari pihak hegemon. serta dalam proses penyatuan Jerman7 B. misalnya pada imperium Spanyol dan Britania. kultural dan intelektual guna menciptakan pandangan dunia bersama bagi seluruh masyarakat. power". Maka dalam hal ini. hal. . Di sini terlihat adanya usaha untuk menaturalkan suatu bentuk dan makna kelompok yang berkuasa . ekonomi. penguasaan tidak dilakukan dengan kekerasan. untuk memformalkan dominasinya. Teori politik Gramsci penjelasan bagaimana ide-ide atau ideologi menjadi sebuah instrumen dominasi yang memberikan pada kelompok penguasa legitimasi untuk berkuasa.. Hegemoni itu harus diraih melalui upaya-upaya politis. Diplomacy (1994). melainkan melalui bentuk-bentuk persetujuan masyarakat yang dikuasai. 6 Sugiono Muhadi. dan kemampuan-kemampuan afektif masyarakat melalui konsensus yang menggiring kesadaran masyarakat tentang masalah-masalah sosial ke dalam pola kerangka yang ditentukan lewat birokrasi (masyarakat dominan).] European coalitions were likely to arise to contain Germany’s Nazis growing. dikatakan bahwa proses penyatuan Jerman ditindak aparatus penyelenggara tindakan yang diatur dalam kaidah-kaidah internasinal. Fungsi Hegemon Hukum Internasional Fungsi hukum internasional dalam konteks ilmu hukum.6 Namun dalam hal ini. 1999) hal. kemampuan kritis. melainkan pada aturan tindakan. sebagaimana diuraikan dalam berbagai buku teks. Dalam hubungan internasional. hegemon (pemimpin) menentukan politik negara bawahannya melalui imperialisme budaya.. 142-146 7Henry Kissinger. hal. misalnya bahasa (lingua franca penguasa) dan birokrasi (sosial. 137-8: "[.

Hubungan antar negara tidak lepas dari kepentingan yang saling bersinggungan. Hukum juga dijadikan alat pemaksa bagi keinginan penguasa terhadap rakyatnya. dengan menempatkannya sebagai: 1. C. hukum dapat dijadikan instrumen oleh penguasa untuk mengubah perilaku masyarakatnya. Disini hukum internasional berfungsi sebagai alat atau instrumen yang harus dibedakan dengan hukum internasional sebagai suatu kiedah. Hukum dalam bentuk peraturan perundang-undangan kerap dijadikan alat untuk melegitimasi kekuasaan demi kebaikan ataupun sebaliknya. kerap kali ditemukan situasi dimana hukum dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu sebagai alat untuk mencapai suatu kepentingan. Hukum Internasional sebagai Instrumen Politik Keberadaan hukum tidaklah dapat dilihat semata-mata sebagai kaidah atau norma yang harus dipatuhi. Dalam praktek dan kenyataan. Pengubah Konsep Hukum internasional sebagai instrumen politik memiliki manfaat untuk mengubah atau memperkenalkan suatu ketentuan. perang melawan terorisme. asas. Permasalahan yang dihadapi oleh satu negara akan bersinggungan dengan kedaulatan negara lain. Konsep ini bila diterima oleh mayoritas masyarakat internasional akan memiliki daya ikat. . Dalam tulisan ini. Eksistensi hukum internasional yang berfungsi sebagai instrumen politik didasarkan pada realitas hubungan antar negara. kaidah ataupun konsep. Bahkan. Hukum internasional dapat dimanfaatkan sebagai instrumen politik dalam proses hegemoni. fungsi demikian dari hukum internasional akan disebut sebagai hukum internasional sebagai instrumen politik. masalah lingkungan hidup dan masalah hak asasi manusia (HAM). Terlebih lagi di era global dimana batas fisik seolah tidak ada (borderless). Oleh karenanya negara dapat memanfaatkan hukum internasional untuk mengubah atau memperkenalkan suatu konsep. seperti masalah perdagangan internasional. Manfaat ini berangkat dari kenyataan bahwa hukum internasional dibentuk oleh negara. Fungsi lain dari hukum internasional adalah sebagai instrumen yang digunakan oleh pemerintahan suatu negara untuk mencapai tujuan nasionalnya (international law as instrument of national policy).

hal. “Hukum Internasional sebagai Instrumen Politik: Beberapa Pengalaman Indonesia sebagai Studi Kasus” dalam Arena Hukum: Jurnal Ilmu Hukum Universitas Brawijaya. Sesuai dengan kesepakatan para anggota ASEAN. Jepang. terutama Amerika Serikat terhadap ASEAN mengenai krisis pelanggaran HAM yang terjadi di Myanmar. termasuk Jepang dan Jerman. 1986) hal. 2. hukum internasional dimanfaatkan untuk mengubah frame suatu konsep yang ada.8Namun. 119 . 108 10 Antonio Cassese. Salah satu cara yang paling efektif adalah dengan mengakomodasi suatu konsep baru ke dalam perjanjian internasional. Dia mengatakan bahwa hukum internasional bagi negara berkembang “ […]is instrumental in bringing about social change”10 Maka dalam hal ini. Untuk mewujudkan kehendak ini. Secara otomatis. Australia. bukan berarti bahwa satu negara dalam waktu singkat dapat melakukannya. Ibid. mengingat Piagam PBB dibuat pada saat dunia baru mengakhiri perang dengan sejumlah negara.9 Negara berkembang sendiri tidak jarang menggunakan perjanjian internasional untuk mengubah wajah hukum internasional yang euro-centris. Mengingat intervensi yang perlu dilakukan merupakan salah satu bentuk intervensi pengecualian. mereka tidak diperbolehkan melakukan intervensi terhadap urusan dalam negeri anggota lainnya. Pembentukan atau mengamandemen perjanjian internasional memerlukan proses dan waktu. Namun di sini. Jerman dan beberapa negara lain pernah menghendaki adanya perubahan pada keanggotaan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK-PBB). maka Piagam PBB harus diamandemen –dan tentunya memakan waktu yang tak sebentar. Karena negara yang akan diintervensi secara terbukti telah melakukan pelanggaran kemanusiaan atas rakyatnya. International Law in a Divided World. (Oxford: Oxford University Press. hal. Pemanfaatan hukum internasional dalam konteks demikian disinyalir oleh Cassese dalam bukunya yang berjudul International Law in a Divided World. 106 9Jepang dan Jerman sangat berkepentingan untuk mengamandemen dua pasal Piagam PBB yang masih menyebut “enemy state”. Kehendak ini merupakan konsep baru dari konsep yang selama ini dianut. Sebagai contoh. Amerika Serikat mendesak dan mengecam ASEAN mengignat parahnya krisis kemanusiaan yang terjadi di Myanmar. Salah satu contohnya adalah desakan negara-negara maju. Sarana Intervensi Urusan Domestik 8 Juwana. banyak pihak yang juga ikut mendesak agar ketentuan ASEAN atas prinsip non-intervensi negara sedikit dilonggarkan.

anak-anak. ataupun dilakukan atas dasar hubungan antara penjajah dengan pihak yang dijajah. 108 12 Juwana. Cassese mengatakan.12 Dalam masalah HAM. pendidikan dan kebudayaan. Perjanjian internasional dibuat sedemikian rupa sehingga berimplikasi pada kewajiban bagi negara peserta untuk mentransformasikan ketentuan yang ada dalam perjanjian internasional ke dalam hukum nasionalnya. serta isu-isu lainnya tanpa dianggap sebagai pelanggaran. Op. baik mengenai isu kemanusiaan. Cara yang paling efektif untuk melakukan intervensi adalah dengan memanfaatkan perjanjian internasional sebagai salah satu produk hukum internasional. Untuk keperluan ini sudah tidak dapat lagi ditempuh cara-cara berupa ancaman atau penggunaan kekerasan. bahkan tidak boleh bertentangan dengan. hal. Intervensi yang dilakukan tidak terlepas dari kepentingan nasionalnya. 107 . perjanjian internasional yang telah diikuti. it was therefore only natural for them to preach lawabidance and to attempt to live up to legal imperatives which had been forges precisely to reflect and protect their interests. Perjanjian internasional kerap digunakan oleh negara maju untuk melakukan intervensi terhadap masalah domestik negara berkembang. negara asing yang menggunakan peran International Non Governmental Organization untuk turut campur dalam urusan domestik negara lain dengan berbagai alasan. hal. Kebanyakan negara maju yang merupakan negara barat membungkus kepentingannya dengan hukum internasional.. keterlibatan negara maju dalam urusan domestik negara berkembang disebabkan oleh tidak diperhatikannya masalah HAM oleh elit politik negara 11Ibid.11 Hukum internasional dimodifikasi sebagai legalitas untuk ikut campur dalam urusan domestik negara lain dalam mencapai tujuan nasional negaranya tanpa dianggap sebagai suatu pelanggaran. Hukum internasional sebagai instrumen politik bertolak pada keinginan negara demi kepentingan nasionalnya untuk turut campur dalam urusan domestik negara lain tanpa dianggap sebagai pelanggaran. Contohnya. Dengan demikian hukum nasional suatu negara harus mencerminkan. […] law was moulded by Western countries in such a way as to suit their interests. Sehingga hal ini merupakan suatu disguised intervention. lingkungan. Cit.

14Negara berkembang. sebagaimana diargumentasikan oleh Cassese. “[…]protects them from undue interference by powerful States”15 Hukum internasional juga kerap digunakan suatu negara untuk menekan negara lain.13 Maka dari itu. maka bisa dikatakan bahwa salah satu pemanfaatan hukum internasional dalam politik hegemoni adalah sebagai instrumen untuk menekan. Op. bukan otoritarian seperti masa pemerintahan Saddam Husein. Untuk mencegah 13 Pelanggaran HAM oleh kebanyakan pemerintahan negara berkembang memang kerap terjadi dan tidak dapat disangkal. dan salah satu media yang paling ampuh untuk digunakan sebagai alat intervensi adalah perjanjian-perjanjian internasional. Terlebih lagi intervensi yang dilakukan oleh negara maju dianggap bermotifkan kepentingan ekonomi.16 Negara maju berusaha mengintervensi urusan dari negara-negara berkembang. Sementara hukum internasional juga dimanfaatkan oleh negara yang mendapat tekanan untuk menolak tekanan tersebut. dari negara lain. agar segera membentuk pemerintahan baru yang demokratis. negara maju merasa perlu untuk turut memberi pengaruh. maka dapat disimpulkan bahwa hukum internasional memegang peran penting sebagai alat politik hegemoni dari negara-negara maju. Negara menggunakan hukum internasional untuk menekan negara lain agar mengikuti kebijakannya. Alat Penekan Fungsi hukum internasional sebagai instrumen politik berangkat dari fakta bahwa dalam interaksi internasional negara saling pengaruh mempengaruhi.Dari gambaran diatas. bahkan cenderung kejam.berkembang dalam menjalankan roda pemerintahan. hal. 14Ibid. Hanya saja yang sering menjadi keberatan dari negara berkembang adalah arogansi negara maju sebagai penjunjung nilai kemanusian seolah melupakan sejarah masa lampaunya. Contohnya adalah tekanan yang dilakukan AS terhadap pemerintahan Irak paska perang Irak. demi mencegah berulangnya dan meluasnya pelanggaran HAM oleh pemerintahan negara berkembang. hal. 119 . Perjanjian internasional akan dirancang oleh negara maju yang esensinya akan berpengaruh pada kebijakan dan hukum nasional dari negara berkembang. sering menggunakan hukum internasional dalam rangka.. Cit. 109 15 Cassese. 3. atau menolak tekanan. Dari ketiga poin diatas.

http://aliabdillah. diakses pada tanggal 12 Oktober 2014 17Dorongan yang dilakukan dapat bersifat persuasif hingga bersifat paksaan dengan memanfaatkan ketergantungan negara berkembang terhadap negara maju. karena pada awalnya negara maju banyak yang merupakan negara penjajah dan hukum interasional dibuat untuk melindungi kepentingan mereka. ia menciptakan rasa wajar bagi negara-negara berkembang atas penghegemonian negara- negara maju. 156 . Untuk mencegah tindakan yang melanggar HAM oleh pemerintahan negara berkembang maka dibuat perjanjian internasional yang melarang tindakan-tindakan tertentu. Ibid. hal. Demikian pula untuk mencegah kebijakan yang merusak lingkungan hidup akan dirancang suatu perjanjian internasional yang memperhatikan masalah lingkungan hidup. 16Dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar. Lewat berbagai aturan dan kaidah yang ‘ditampakan’ sebagai sesuatu yang disetujui bersama. ini membawa konsekuensi bagi negara berkembang untuk mentransformasikan ketentuan dalam perjanjian internasional ke dalam hukum nasionalnya. Dengan demikian hukum nasional negara berkembang akan mencerminkan nilai-nilai yang dipercaya oleh negara maju. Sedangkan negara berkembang merupakan negara bekas jajahan negara maju yang hampir tidak pernah diperhatikan.tumblr. Hikmahanto Juwana mengatakan bahwa sangat wajar bilamana negara maju sangat menghormati hukum internasional.17 Bila akhirnya negara berkembang menjadi peserta. Disinilah hukum internasional menampakkan dirinya sebagai instrumen politik yang memegang salah satu peran dalam proses hegemoni dari negara-negara maju atas negara lain.kebijakan menutup pasar oleh negara berkembang maka dibuat perjanjian internasional yang berimplikasi pada liberalisasi perdagangan internasional.com/post/29904421659/komentar-atas-pidato- pengukuhan-guru-besar-prof. Selanjutnya negara berkembang akan didorong oleh negara maju untuk mengikuti berbagai perjanjian internasional yang dirancang olehnya. Prof.

Bab III Penutup Kesimpulan Pada akhirnya. Saran Untuk menghindari bentuk-bentuk hegemoni dari negara maju. dan diyakini sebagai kaidah utama dalam kehidupan internasional negara-negara. hukum internasional dengan segala tujuan mulianya malah menjadi instrumen politik negara-negara maju untuk menghegemoni negara lain. negara berkembang harus bisa terus meningkatkan perannya dalam perkembangan hukum internasional dan bisa memberikan suatu posisi tawar yang diperhitungkan dalam dunia internasional. Ia menjadi persetujuan bersama. Dan tanpa adanya tindakan-tindakan kritis sebagai penguatan posisi. negara-negara berkembang hanya akan terus melanggengkan bentuk dominasi ini. .

Oxford: Oxford University Press Femia. Joseph V.London: Butterworths Artikel Internet . Nezar. 1999. Oxford: Oxford University Press Muhadi. Consciousness and the Revolutianary Process. diperlukan perancang dan negosiator yang handal dalam perjanjian internasional. Hal ini dapat dimulai sejak dalam tingkat pendidikan kampus. Maka peran kampus pun menjadi sangat vital dalam melahirkan para negosiator dan para perancang perjanjian internasional yang ulung. Gramsci’s Political Thought: Hegemony. Antonio. Kritik Antonio Gramsci Terhadap Pembangunan Dunia Ketiga. IA. Kekuatan dan posisi negara berkembang dalam perjanjian internasional ditentukan oleh siapa yang mewakilinya dalam melakukan perjanjian. Yogayakarta: Pustaka Pelajar Patria. Sussex: Tavistock Publications Cassese. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Shearer. Maka diperlakukan seorang negosiator dan perancang hukum internasional yang handal. Hal ini diperlukan agar posisi tawar negara-negara berkembang tidak lagi diremehkan oleh negara maju. 1999. Sugiono. 1981. Daftar Pustaka Buku Bocock. Hegemony.Antonio Gramsci: Negara & Hegemoni.International Law in a Divided World. Selain itu. Robert.. Starke’s Introduction to International Law 11th ed. 1986.. 1986. 1994.

Hukum Internasional Sangat Eropa-sentris. Desember 2011.ui. http://www. Juni 2011. diakses pada tanggal 11 Oktober 2014 Hukum Internasional sebagai Instrumen Politik: Beberapa Pengalaman Indonesia sebagai Studi Kasus.com/2009/05/hukum-internasional-sebagai- instrumen_14. diakses pada tanggal 11 Oktober 2014 Gramsci dan Hegemoni.php/jki/article/viewFile/1108/1016. diakses pada tanggal 11 Oktober 2014 Kejahatan Perang oleh Jepang (Studi Kasus Terhadap Jugun-Ianfu sebagai Hegemoni Kebudayaan di Indonesia Periode 1942-1945). http://links. Mei 2009.org. http://bilstuf. diakses pada tanggal 11 Oktober 2014 .html.org/previous-isuue/138-juni-2011/1127-hukum-internasional- sangat-eropa-sentris.blogspot.html.au/node/1351.ac. http://journal.id/index.tabloiddiplomasi.