REMEDIAL SYARIAH

NAMA : M IKMAN ROMDONI

KELAS : AKUNTANSI 6B SORE

NIM : 1406020022

1. Jawab :
A. Masa Rasululah & Khaifah Abu Bakr Ash-Shiddiq
Kewajiban dalam menunaikan Zakat berdampak pada didirikannya
institusi Baitul Maal oleh Rasulullah SAW yang berfungsi sebagai lembaga
penyimpan Zakat beserta pendapatan lain yang diterima oleh negara.
Pada pemerintaha Rasulullah SAW memiliki 42 pejabat yang digaji
berdasarkan spesialisasi dalam peran dan tugas masing-masing. Adnan
dan Labatjo (2006) memandang bahwa praktik Akuntansi pada lembaga
baitulmal di zaman Rasulullah baru berada pada tahap penyiapan
personal yang menangani fungsi-fungsi lembaga keuangan negara. Pada
masa tersebut, harta kekayaan yang diperoleh negara langsung
didistribusikan setelah harta tersebut diperoleh. Dengan demikian, tidak
terlalu diperlukan pelaporan atas penerimaan dan pengeluaran
Baitulmaal. Hal sama pun berlanjut pada masa Khalifah Abu Bakr Ash-
Shiddiq.

Masa Khaifah Umar Ibn Khattab
Perkembangan pemerintahan Islam hingga meliputi Timur Tengah, Afrika
dan Asia di Zaman Khalifah Umar Ibn Khattab telah meningkatkan
penerimaan negara secara signifikan. Dengan demikian, kekayaan negara
yang disimpan di Baitulmaal juga makin besar. Para sahabat
merekomendasikan perlunya pencatatan untuk pertanggung jawaban
penerimaan dan pengeluaran negara. Selanjutnya, Khalifah Umar Ibn
Khattab mendirikan unit khusus bernama Diwan, yang bertugas membuat
laporan keuangan Baitulmaal sebgaii bentuk akuntabilitas Khalifah atas
dan Baitulmaal yang menjadi tanggung jawabnya (Zaid, 2001)

Masa Daulah Bani Umayyah
Pada masa khalifah Umar bin abdul Aziz (681-720 M), dikembangkannya
reliabilitas laporan keuangan Pemerintahan berupa praktik pengeluaran
bukti penerimaan Uang. Kemudian pada masa Khalifah Al Waleed bin
Abdul Malik (705-715 M), mengenalkan catatan dan Register yang terjilid
dan tidak terpisah seperti sebelumnya (Lasyin, 1973, dalam Zaid, 2001)

Masa Rasululah & Khaifah Abu Bakr Ash-Shiddiq
Kewajiban dalam menunaikan Zakat berdampak pada didirikannya
institusi Baitul Maal oleh Rasulullah SAW yang berfungsi sebagai lembaga
penyimpan Zakat beserta pendapatan lain yang diterima oleh negara.
Pada pemerintaha Rasulullah SAW memiliki 42 pejabat yang digaji
berdasarkan spesialisasi dalam peran dan tugas masing-masing. Adnan
dan Labatjo (2006) memandang bahwa praktik Akuntansi pada lembaga
baitulmal di zaman Rasulullah baru berada pada tahap penyiapan
personal yang menangani fungsi-fungsi lembaga keuangan negara. Pada
masa tersebut, harta kekayaan yang diperoleh negara langsung
didistribusikan setelah harta tersebut diperoleh. Dengan demikian, tidak
terlalu diperlukan pelaporan atas penerimaan dan pengeluaran
Baitulmaal. Hal sama pun berlanjut pada masa Khalifah Abu Bakr Ash-
Shiddiq.

Masa Khaifah Umar Ibn Khattab
Perkembangan pemerintahan Islam hingga meliputi Timur Tengah, Afrika
dan Asia di Zaman Khalifah Umar Ibn Khattab telah meningkatkan
penerimaan negara secara signifikan. Dengan demikian, kekayaan negara
yang disimpan di Baitulmaal juga makin besar. Para sahabat
merekomendasikan perlunya pencatatan untuk pertanggung jawaban
penerimaan dan pengeluaran negara. Selanjutnya, Khalifah Umar Ibn
Khattab mendirikan unit khusus bernama Diwan, yang bertugas membuat
laporan keuangan Baitulmaal sebgaii bentuk akuntabilitas Khalifah atas
dan Baitulmaal yang menjadi tanggung jawabnya (Zaid, 2001)

Masa Daulah Bani Umayyah
Pada masa khalifah Umar bin abdul Aziz (681-720 M), dikembangkannya
reliabilitas laporan keuangan Pemerintahan berupa praktik pengeluaran
bukti penerimaan Uang. Kemudian pada masa Khalifah Al Waleed bin
Abdul Malik (705-715 M), mengenalkan catatan dan Register yang terjilid
dan tidak terpisah seperti sebelumnya (Lasyin, 1973, dalam Zaid, 2001)

Masa Daulah Abbasiyah
Evolusi perkembangan pengelolaan buku Akuntansi mencapai tingkat
tertinggi pada masa Daulah Abbasiyah. Akuntansi diklasifikasikan pada
beberapa spesialisasi, antara lain Akuntansi Peternakan, akuntansi
Pertanian, Akuntansi Bendahara, Akuntansi Konstruksi, Akuntansi Mata
Uang dan Pemeriksaan buku (auditing) (Zaid, 2001). Pada masa itu,
sistem pembukuan telah menggunakan model buku besar, yang meliputi
sebagai berikut :

 Jaridah Al-Kharaj (mirip receivable subsidiary ledger), merupakan
pembukuan pemerintah terhadap piutang pada individu atas zakat
tanah, hasil pertanian, serta hewan ternak yang belum dibayar dan
cicilan yang telah dibayar (Lasyin, 1973, dalam Zaid, 2001). Piutang
dicatat di satu kolom dan cicilan pembayaran dikolom yang lain.

 Jaridah An-Nafaqaat (jurnal pengeluaran), merupakan pembukuan
yang digunakan untuk mencatat pengeluaran Negara

 Jaridah Al-Maal (Jurnal Dana), merupakan pembukuan yang
digunakan untuk mencatat penerimaan dan pengeluaran dana
zakat.

 Jaridah Al-Musadareen, merupakan pembukuan yang digunakan
untuk mencatat penerimaan denda atau sita dari individu yang tidak
sesuai dengan Syari’ah, termasuk dari Pejabat yang korup.

Adapun untuk pelaporan, telah dikembangkan berbagai laporan akuntansi,
antara lain sebagai berikut :
 Al-Khitmah, menunjukkan total pendapatan dan pengeluaran yang
dibuat setiap bulan (Bin Jafar, 1981 dalam Zaid, 2001)

 Al-Khitmah al-Jame’ah, laporan keuangan komprehensif yang
berisikan gabungan antara laporan laba-rugi dan neraca
(pendapatan, pengeluaran, surplus dan defisit, belanja untuk asset
lancar maupun Asset Tetap) yang dilaporkan di Akhir Tahun. Dalam
perhitungan dan penerimaan zakat, utang zakat, diklasifikasikan
dalam laporan keuangan menjadi 3 Kategori, yaitu Collectable Debts
dan Uncollectable Debts (Lasyin, dalam Zaid, 2001)

Evolusi perkembangan pengelolaan buku Akuntansi mencapai tingkat
tertinggi pada masa Daulah Abbasiyah. Akuntansi diklasifikasikan pada
beberapa spesialisasi, antara lain Akuntansi Peternakan, akuntansi
Pertanian, Akuntansi Bendahara, Akuntansi Konstruksi, Akuntansi Mata
Uang dan Pemeriksaan buku (auditing) (Zaid, 2001). Pada masa itu,
sistem pembukuan telah menggunakan model buku besar, yang meliputi
sebagai berikut :

 Jaridah Al-Kharaj (mirip receivable subsidiary ledger), merupakan
pembukuan pemerintah terhadap piutang pada individu atas zakat
tanah, hasil pertanian, serta hewan ternak yang belum dibayar dan
cicilan yang telah dibayar (Lasyin, 1973, dalam Zaid, 2001). Piutang
dicatat di satu kolom dan cicilan pembayaran dikolom yang lain.

 Jaridah An-Nafaqaat (jurnal pengeluaran), merupakan pembukuan
yang digunakan untuk mencatat pengeluaran Negara

 Jaridah Al-Maal (Jurnal Dana), merupakan pembukuan yang
digunakan untuk mencatat penerimaan dan pengeluaran dana
zakat.

 Jaridah Al-Musadareen, merupakan pembukuan yang digunakan
untuk mencatat penerimaan denda atau sita dari individu yang tidak
sesuai dengan Syari’ah, termasuk dari Pejabat yang korup.

Adapun untuk pelaporan, telah dikembangkan berbagai laporan akuntansi,
antara lain sebagai berikut :

 Al-Khitmah, menunjukkan total pendapatan dan pengeluaran yang
dibuat setiap bulan (Bin Jafar, 1981 dalam Zaid, 2001)

 Al-Khitmah al-Jame’ah, laporan keuangan komprehensif yang
berisikan gabungan antara laporan laba-rugi dan neraca
(pendapatan, pengeluaran, surplus dan defisit, belanja untuk asset
lancar maupun Asset Tetap) yang dilaporkan di Akhir Tahun. Dalam
perhitungan dan penerimaan zakat, utang zakat, diklasifikasikan
dalam laporan keuangan menjadi 3 Kategori, yaitu Collectable Debts
dan Uncollectable Debts (Lasyin, dalam Zaid, 2001)

B. Masa Daulah Abbasiyah karena pada masa ini telah berkembang pesat
akuntansi yaitu berupa Jaridah Al-Kharaj (mirip receivable subsidiary
ledger), merupakan pembukuan pemerintah terhadap piutang pada
individu atas zakat tanah, hasil pertanian, serta hewan ternak yang belum
dibayar dan cicilan yang telah dibayar (Lasyin, 1973, dalam Zaid, 2001).
Piutang dicatat di satu kolom dan cicilan pembayaran dikolom yang lain.
Jaridah An-Nafaqaat (jurnal pengeluaran), merupakan pembukuan yang
digunakan untuk mencatat pengeluaran Negara Jaridah Al-Maal (Jurnal
Dana), merupakan pembukuan yang digunakan untuk mencatat
penerimaan dan pengeluaran dana zakat.Jaridah Al-Musadareen,
merupakan pembukuan yang digunakan untuk mencatat penerimaan
denda atau sita dari individu yang tidak sesuai dengan Syari’ah, termasuk
dari Pejabat yang korup.

Adapun untuk pelaporan, telah dikembangkan berbagai laporan akuntansi,
antara lain sebagai berikut :

1. Al-Khitmah, menunjukkan total pendapatan dan pengeluaran yang
dibuat setiap bulan (Bin Jafar, 1981 dalam Zaid, 2001)
2. Al-Khitmah al-Jame’ah, laporan keuangan komprehensif yang
berisikan gabungan antara laporan laba-rugi dan neraca
(pendapatan, pengeluaran, surplus dan defisit, belanja untuk asset
lancar maupun Asset Tetap) yang dilaporkan di Akhir Tahun. Dalam
perhitungan dan penerimaan zakat, utang zakat, diklasifikasikan
dalam laporan keuangan menjadi 3 Kategori, yaitu Collectable Debts
dan Uncollectable Debts (Lasyin, dalam Zaid, 2001)

2. Jawab :
a. Pendekatan Deduktif Pendekatan deduktif adalah pendekatan
yang digunakan dalam membentuk teori yang dimulai dari dalil-dalil dasar
tindakan-tindakan dasar untuk mendapatkan kesimpulamn logis tentang
pokok yang sedang dipertimbangkan. Jika diterapkan dalan akuntansi,
maka pendekatan deduktif dimulai dengan dalil dasar akuntansi atau
alaan dasar akuntansi dan tindakan dasar akuntansi untuk mendapatkan
prinsip akuntansi dengan cara yang logis yang bertindak sebagai
penentun dan dasar pengembangan teknik akuntansi.

Pendekatan ini berjalan dari umum (dalil dasar tentang lingkungan
akuntansi) ke khusus (pertama ke prinsip akuntansi, dan kedua pada
teknik akuntansi). Apabila pada saat ini kita beranggapan, bahwa dalil
dasar tentang lingkungan akuntansi terdiri dari tujuan dan pernyataan,
maka langkah yang digunakan bagi pendekatan deduktif akan meliputi
sebagai berikut:

1. Menetapkan “tujuan” laporan keuangan
2. Memilih “aksioma” akuntansi
3. Memperoleh “prinsip” akuntansi
4. Mengembangkan “teknik” akuntansi.

Oleh karena itu, menurut teori akuntansi yang diperoleh secara
deduktif, teknik ini berkaitan dengan prinsip dan aksioma serta menurut
suatu cara yang sedemikian rupa sehingga apabila prinsip dan oksioma
serta tujuan benar, maka teknik pun harus menjadi benar. Struktur teoritis
akuntansi ditetapkan menurut rangkaian tujuan, aksioma, prinsip, teknik
yang bertumpu pada suatu perumusan tujuan akuntansi yang tepat.
Dalam hal ini diperlukan juga suatu perumusan tujuan akuntansi yang
tepat. Dalam hal ini diperlukan juga suatu pengujian yang tepat terhadap
suatu teori yang dihasilkan.

Pendekatan Induktif Pendekatan induktif terhadap pembentukan
suatu teori dimulai dari pengamatan dan pengukuran serta menuju kearah
kesimpulan yang digeneralisasi. Apabila diterapkan pada akuntansi, maka
pendekatan induktif dimulai dari pengamatan informasi keuangan
perusahaan, dan hasilnya untuk disimpulkan, atas dasar hubungan
kejadian, kesimpulan dan prinsip akuntansi. Penjelasan-penjelasan
deduktif dikatakan berjalan dari khusus menuju kearah umum.
Pendekatan induktif pada suatu teori melibatkan empat tahap:

1. Pengamatan dan pencatatan seluruh pengamatan;
2. Analisis dan pengklasifikasian pengamatan tersebut
untuk mencari hubungan yang berulang kali
yaknihubungan yang sama dan serupa;
3. Pengambilan generalisasi dan prinsip akuntansi induktif
dari pengamatan tersebut yang menggambarkan
hubungan yang berulang terjadi;
4. Pengujian generalisasi

Tidaklah seperti halnya dengan masalah pengambilan keputusan
secara deduksi, kebenaran atau kepalsuan dalil tidak tergantung pada
dalil lain tetapi harus dibuktikan secara empiris.sedangkan dalam hal
induksi, kebenaran dalil tergantung pada pengamatan kejadian yang
cukup memadai dari hubungan yang berulang kali terjadi. Oleh karena itu,
tidaklah mengherankan kalau beberapa penulis induktif terkadang
mengemukakan pemikiran deduktif, dan penulis deduktif terkadang
mengemukakan pemikiran induktif. Juga menarik perhatian untuk
diperhatikan bahwa ketika Littleton, seorang teoritis induktif, dan Paton
seorang teoritikus deduktif bekerja sama, hasilnya bersifat campuran,
yang membuktikan suatu perpaduan antara dua pendekatan.

B. kelemahan pendekatan induktif yaitu terlalu rumit dan sulit di
pahami oleh masyarakat awam karena suatu teori dimulai dari
pengamatan dan pengukuran serta menuju kearah kesimpulan yang
digeneralisasi. Apabila diterapkan pada akuntansi, maka pendekatan
induktif dimulai dari pengamatan informasi keuangan perusahaan, dan
hasilnya untuk disimpulkan, atas dasar hubungan kejadian, kesimpulan
dan prinsip akuntansi. Penjelasan-penjelasan deduktif dikatakan berjalan
dari khusus menuju kearah umum, kelebihanya hasilnya lebih memuaskan
dan detail karena prosesnya, kelebihanya hasilnya memuaskan karena
detail prosedur yang diterapkan sangat evektif.

kelebihan pendekatan deduktif pendekatan yang digunakan dalam
membentuk teori yang dimulai dari dalil-dalil dasar tindakan-tindakan
dasar untuk mendapatkan kesimpulamn logis tentang pokok yang sedang
dipertimbangkan.

c.mengunakan pendekatan deduktif karena ada proses tindakan sesuai
dalil dalil untuk mendapatkan kesimpulan yang logis jadi masyarakat
mudah menerima dan memahaminya dan pendektan ini lebih moderent
untuk masyarakat.

3. Jawab :
a. 5 Jenis-jenis Lembaga Keuangan Syariah

1. Bank Umum Syariah/ Perbankan Syariah
Perbankan Syariah adalah Badan Usaha yang menjalankan fungsi
menghimpun dana dari pihak yang surplus dana kemudian menyalurkan
kepada pihak yang defisit dana dan menyediakan jasa keuangan lainnya
berdasarkan prinsip syariah Islam.

Secara garis besar produk perbankan syariah dapat dibagi menjadi tiga
yaitu Produk penyaluran dana ( Murabahah, As_salam, Istishna,Ijarah,
Musyarakah, dan Mudharabah) produk penghimpunan dana (Prinsip
Wadiah dan Prisip Mudharabah), dan produk jasa yang diberikan bank
kepada nasabahnya seperti Sharf (Jual Beli Valuta Asing).

2. Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS)

Menurut undang-undang (UU) Perbankan No. 7 tahun 1992, BPR adalah
lembaga keuangan yang menerima simpanan uang hanya dalam bentuk
deposito berjangka tabungan, dan atau bentuk lainnya yang
dipersamakan dalam bentuk itu dan menyalurkan dana sebagai usaha
BPR. Pada UU Perbankan No. 10 tahun 1998, disebutkan bahwa BPR adlah
lemabaga keuangan bank yang melaksanakan kegiatan usahanya secara
konvensional atau berdasarkan prinsip syariah.

Pengaturan pelaksanaan BPR yang menggunakan prinsip syariah tertuang
pada surat Direksi Bank Indonesia No. 32/36/KEP/DIR/tentang Bank
Perkreditan Rakyat Berdasarkan Prinsip Syariah tanggal 12 Mei 1999.
Dalam hal ini pada teknisnya BPR syariah beroperasi layaknya BPR
konvensional namun menggunakan prinsip syariah.

Usaha-usaha BPR Syariah

UU BPR Syariah kemudian dipertegas dalam kegiatan operasional BPR
Syariah dalam pasal 27 SIK DIR. BI 32/36/1999, sebagai berikut:

a) Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan yang
meliputi:

Ø Tabungan berdasarkan prinsip wadiah dan mudharabah.

Ø Deposito berjangka berdasarkan prinsip mudharabah.
Ø Bentuk lain yang menggunakan prinsip wadiah atau mudharabah.

b) Melakukan penyaluran dana melalui:

Ø Transaksi jual beli melalui prinsip murabahah, istishna, salam, ijarah,
dan jual beli lainnya.

Ø Pembiayaan bagi hasil berdasarkan prinsip mudharabah, musyarakah,
dan bagi hasil lainnya.

Ø Pembiayaan lain berdasarkan prinsip rahn dan qardh.

c) Melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan BPR Syariah
sepanjang disetujui oleh Dewan Syariah Nasional.

3. Asuransi Syariah

Kata asuransi berasal dari bahasa inggris, “insurance”. Dalam bahasa
arab istilah asuransi biasa diungkapkan dengan kata at-tamin yang secara
bahasa berarti tuma’ ninatun nafsi wa zawalul khauf, tenangnya jiwa dan
hilangnya rasa takut.

Asuransi menurut UU RI No.2 th. 1992 tentang usaha perasuransian, yang
dimaksud dengan asuransi yaitu perjanjian antara dua belah pihak atau
lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri dengan pihak
tertanggung, dengan menerima premi asuransi untuk memberikan
penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan, atau
kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum
kepada pihak ketiga yang mungkin diderita tertanggung, yang timbul dari
suatu peristiwa yang tak pasti atau untuk memberikan suatu pembayaran
yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seeseorang yang
dipertanggungkan.

Sedangkan pengertian asuransi syariah menurut fatwa DSN-MUI adalah
usaha saling melindungi dan tolong-menolong diantara sejumlah orang
atau pihak melalui investasi dalam bentuk asset dan atau tabarru
memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui
akad yang sesuai dengan syariah.
Pendapat Ulama Tentang Asuransi

Pada awalnya para ulama berbeda pendapat dalam menentukan
keabsahan praktek hukum asuransi, disanalah menjadi kontroversial, dari
masalah ini dapat dipilah menjadi dua kelompok yaitu; adanya ulama
yang mengharamkan asuransi, dan ada juga yang memperbolehkan
asuransi.

Asuransi syariah haram karena:

a) Gharar : Terlihat dari unsur ketidakpastian tentang sumber dana
yang digunakan untuk menutupi klaim dan hak pemegang polis.

b) Maysir adalah Yaitu unsur judi yang gambarkan dengan
kemungkinan adanya pihak yang dirugikan di atas keuntungan pihak yang
lain,

c) Riba adalah Asuransi

d) Asuaransi obyek bisnisnya digantungkan pada hidup matinya
seseorang, yang berarti mendahului takdir Allah SWT

e) Argumentasi ulama dalam memperbolehkan asuransi, adalah :

f) Tidak terdapat nash Al-Qur’an atau Hadist yang melarang asuransi

g) Dalam asuransi terdapat kesepakatan dan kerelaan antara kedua
belah pihak

h) Asuransi menguntungkan kedua belah pihak

i) Asuransi mengandung unsur kepentingan umum, sebab premi-premi
yang dapat diinvestasikan dalam kegiatan pembangunan

j) Asuransi termasuk akad mudharobah antara pemegang polis
dengan perusahaan asuransi

4. Pegadaian Syariah

Menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata pasal 1150, gadai adalah
suatu hak yang diperoleh pihak yang mempunyai piutang atas suatu
barang bergerak. Barang bergerak tersebut diserahkan oleh pihak yang
berutang kepada pihak yang berpiutang. Pihak yang berutang
memberikan kekuasaan kepada pihak yang mempunyai piutang untuk
memiliki barang yang bergerak tersebut apabila pihak yang berutang
tidak dapat melunasi kewajibannya pada saat berakhirnya waktu
pinjaman.

Mekanisme Operasional Pegadaian Syariah

Sesuai dengan landasan konsep di atas, pada dasarnya Pegadaian Syariah
berjalan di atas dua akad transaksi Syariah yaitu.

1. Akad Rahn. Rahn yang dimaksud adalah menahan harta milik si
peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya, pihak yang
menahan memperoleh jaminan untuk mengambil kembali seluruh atau
sebagian piutangnya. Dengan akad ini Pegadaian menahan barang
bergerak sebagai jaminan atas utang nasabah.

2. Akad Ijarah. Yaitu akad pemindahan hak guna atas barang dan atau
jasa melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan
kepemilikan atas barangnya sendri. Melalui akad ini dimungkinkan bagi
Pegadaian untuk menarik sewa atas penyimpanan barang bergerak milik
nasabah yang telah melakukan akad.

Rukun dari akad transaksi tersebut meliputi :

a. Orang yang berakad : 1) Yang berhutang (rahin) dan 2) Yang berpiutang
(murtahin).

b. Sighat ( ijab qabul)

c. Harta yang dirahnkan (marhun)

d. Pinjaman (marhun bih)

Dari landasan Syariah tersebut maka mekanisme operasional Pegadaian
Syariah dapat digambarkan sebagai berikut : Melalui akad rahn, nasabah
menyerahkan barang bergerak dan kemudian Pegadaian menyimpan dan
merawatnya di tempat yang telah disediakan oleh Pegadaian. Akibat yang
timbul dari proses penyimpanan adalah timbulnya biaya-biaya yang
meliputi nilai investasi tempat penyimpanan, biaya perawatan dan
keseluruhan proses kegiatannya. Atas dasar ini dibenarkan bagi Pegadaian
mengenakan biaya sewa kepada nasabah sesuai jumlah yang disepakati
oleh kedua belah pihak.

Pegadaian Syariah akan memperoleh keutungan hanya dari bea sewa
tempat yang dipungut bukan tambahan berupa bunga atau sewa modal
yang diperhitungkan dari uang pinjaman.. Sehingga di sini dapat
dikatakan proses pinjam meminjam uang hanya sebagai ‘lipstick’ yang
akan menarik minat konsumen untuk menyimpan barangnya di
Pegadaian.

Adapun ketentuan atau persyaratan yang menyertai akad tersebut
meliputi :

1. Akad. Akad tidak mengandung syarat fasik/bathil seperti murtahin
mensyaratkan barang jaminan dapat dimanfaatkan tanpa batas.

2. Marhun Bih ( Pinjaman). Pinjaman merupakan hak yang wajib
dikembalikan kepada murtahin dan bisa dilunasi dengan barang yang
dirahnkan tersebut. Serta, pinjaman itu jelas dan tertentu.

3. Marhun (barang yang dirahnkan). Marhun bisa dijual dan nilainya
seimbang dengan pinjaman, memiliki nilai, jelas ukurannya,milik sah
penuh dari rahin, tidak terkait dengan hak orang lain, dan bisa diserahkan
baik materi maupun manfaatnya.

4. Jumlah maksimum dana rahn dan nilai likuidasi barang yang
dirahnkan serta jangka waktu rahn ditetapkan dalam prosedur.

5. Rahin dibebani jasa manajemen atas barang berupa: biaya
asuransi,biaya penyimpanan,biaya keamanan, dan biaya pengelolaan
serta administrasi.

Untuk dapat memperoleh layanan dari Pegadaian Syariah, masyarakat
hanya cukup menyerahkan harta geraknya ( emas, berlian, kendaraan,
dan lain-lain) untuk dititipkan disertai dengan copy tanda pengenal.
Kemudian staf Penaksir akan menentukan nilai taksiran barang bergerak
tersebut yang akan dijadikan sebagai patokan perhitungan pengenaan
sewa simpanan (jasa simpan) dan plafon uang pinjaman yang dapat
diberikan. Taksiran barang ditentukan berdasarkan nilai intrinsik dan
harga pasar yang telah ditetapkan oleh Perum Pegadaian. Maksimum
uang pinjaman yang dapat diberikan adalah sebesar 90% dari nilai
taksiran barang.

Setelah melalui tahapan ini, Pegadaian Syariah dan nasabah melakukan
akad dengan kesepakatan :

1. Jangka waktu penyimpanan barang dan pinjaman ditetapkan selama
maksimum empat bulan .

2. Nasabah bersedia membayar jasa simpan sebesar Rp 90,-
( sembilan puluh rupiah ) dari kelipatan taksiran Rp 10.000,- per 10 hari
yang dibayar bersamaan pada saat melunasi pinjaman.

3. Membayar biaya administrasi yang besarnya ditetapkan oleh
Pegadaian pada saat pencairan uang pinjaman.

Nasabah dalam hal ini diberikan kelonggaran untuk;

a) Melakukan penebusan barang/pelunasan pinjaman kapan pun
sebelum jangka waktu empat bulan,

b) Mengangsur uang pinjaman dengan membayar terlebih dahulu jasa
simpan yang sudah berjalan ditambah bea administrasi,

c) Atau hanya membayar jasa simpannya saja terlebih dahulu jika
pada saat jatuh tempo nasabah belum mampu melunasi pinjaman
uangnya.

Jika nasabah sudah tidak mampu melunasi hutang atau hanya membayar
jasa simpan, maka Pegadaian Syarian melakukan eksekusi barang
jaminan dengan cara dijual, selisih antara nilai penjualan dengan pokok
pinjaman, jasa simpan dan pajak merupakan uang kelebihan yang
menjadi hak nasabah. Nasabah diberi kesempatan selama satu tahun
untuk mengambil Uang kelebihan, dan jika dalam satu tahun ternyata
nasabah tidak mengambil uang tersebut, Pegadaian Syariah akan
menyerahkan uang kelebihan kepada Badan Amil Zakat sebagai ZIS.

5. Reksa Dana Syariah

Reksadana adalah sebuah wadah dimana masyarakat dapat
menginvestasikan dananya dan oleh pengurusnya (manajer investasi)
dana itu diinvestasikan ke portfolio efek. Reksadana merupakan jalan
keluar bagi para pemodal kecil yang ingin ikut serta dalam pasar modal
dengan modal minimal yang relatif kecil dan kemampuan menanggung
resiko yang sedikit. Pada reksadana syariah sudah tentu dana akan
disalurkan kepada saham syariah dan surat berharga syariah seperti
sukuk.

Saham syariah adalah kepemilikan atas usaha tertentu dimana usaha
tersebut harus sesuai dengan prinsip syariah Islam. Sedangkan kegiatan
transaksi saham syariah tidak berbeda jauh dengan saham konvensional.
Oleh sebab itu, sudah menjadi kewajiban pejuang ekonomi syariah untuk
terus mengkaji saham syariah lebih syar’i dalam transaksinya. Akad
antara investor dengan lembaga hendaknya dilakukan dengan sistem
mudharabah/qiradh.

Sukuk adalah surat berharga yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah
sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap aset surat berharga
syariah, yang dijual kepada individu atau perseorangan melalui agen
penjual dengan volume minimum yang telah ditentukan. Tujuan
penerbitan sukuk adalah membiayai anggaran perusahaan, divesifikasi
sumber pembiayaan, memperluas basis investor, mengelola portofolio
pembiayaan. Dalam melakukan transaksi Reksadana Syariah tidak
diperbolehkan melakukan tindakan spekulasi, yang didalamnya
mengandung gharar seperti najsy (penawaran palsu).

Perbedaan Reksa dana Syariah dan Konvensional
Ada beberapa hal yang membedakan antara reksa dana konvensional dan
reksa dana syariah. Dan tentunya ada beberapa hal yang juga harus
diperhatikan dalam investasi syariah ini.

a. Kelembagaan

Dalam syariah islam belum dikenal lembaga badan hukum seperti
sekarang. Tapi lembaga badan hukum ini sebenarnya mencerminkan
kepemilkikan saham dari perusahaan yang secara syariah diakui. Namun
demikian, dalam hal reksa dana syariah, keputusan tertinggi dalam hal
keabsahan produk adalah Dewan Pengawas syariah yang beranggotakan
beberapa alim ulama dan ahli ekonomi syariah yang direkomendasikan
oleh Dewan Pengawas Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia. Dengan
begitu proses didalam akan terus diikuti perkembangannya agar tidak
keluar dari jalur syariah yang menjadi prinsip investasinya.

b. Hubungan Investor dan Perusahaan

Akad antara investor dengan lembaga hendaknya dilakukan dengan
sistem mudharabah. Secara teknis, al-mudharabah adalah akad
kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama menyediakan
seluruh (100%) modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola.
Keuntungan secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang
dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi, ditanggung oleh
pemilik modal selama kerugian tersebut bukan akibat kelalaian si
pengelola. Seandainya kerugian tersebut karena kecurangan atau
kelalaian pengelola maka pengelola harus bertanggungjawab atas
kerugian tersebut. Dalam hal ini transaksi jual beli, saham-saham dalam
reksa dana syariah dapat diperjual belikan. Saham-saham dalam reksa
dana syariah merupakan yang harta (mal) yang dibolehkan untuk
diperjual belikan dalam syariah. Tidak adanya unsur penipuan (gharar)
dalam transaksi saham karena nilai saham jelas. Harga saham terbentuk
dengan adanya hukum supply and demand. Semua saham yang
dikeluarkan reksa dana tercatat dalam administrasi yang rapih dan
penyebutan harga harus dilakukan dengan jelas.
c. Kegiatan Investasi Reksa Dana

Dalam melakukan kegiatan investasi reksa dana syariah dapat melakukan
apa saja sepanjang tidak bertentangan dengan syariah, diantara investasi
tidak halal yang tidak boleh dilakukan adalah investasi dalam bidang
perjudian, pelacuran, pornografi, makanan dan minuman yang
diharamkan, lembaga keuangan ribawi dan lain-lain yang ditentukan oleh
Dewan Pengawas Syariah. Dalam kaitannya dengan saham-saham yang
diperjual belikan dibursa saham, BEJ sudah mengeluarkan daftar
perusahaan yang tercantum dalam bursa yang sesuai dengan syariah
Islam atau saham-saham yang tercatat di Jakarta Islamic Index (JII).
Dimana saham-saham yang tercantum didalam indeks ini sudah
ditentukan oleh Dewan Syariah.

Dalam melakukan transaksi reksa dana syariah tidak diperbolehkan
melakukan tindakan spekulasi, yang didalamnya mengandung gharar
seperti penawaran palsu dan tindakan spekulasi lainnya.

6. Obligasi Syariah

Obligasi syariah di dunia internasional dikenal dengan sukuk. Sukuk
berasal dari bahasa Arab “sak” (tunggal) dan “sukuk” (jamak) yang
memiliki arti mirip dengan sertifikat atau note. Dalam pemahaman
praktisnya, sukuk merupakan bukti (claim) kepemilikan. Sebuah sukuk
mewakili kepentingan, baik penuh maupun proporsional dalam sebuah
atau sekumpulan aset.

Jika ditinjau dari aspek akad, obligasi dapat dimodifikasi ke pelbagai jenis
seperti obligasi saham, istisna, murabahah, musyarakah, mudharabah
ataupun ijarah, namun yang lebih populer dalam perkembangan obligasi
syariah di Indonesia hingga saat ini adalah obligasi mudharabah dan
ijarah.

Obligasi syariah di Indonesia mulai diterbitkan pada paruh akhir tahun
2002, yakni dengan disahkannya Obligasi Indosat obligasi yang
diterbitkan ini berdasarkan prinsip mudharabah. Obligasi mudharabah
mulai diterbitkan setelah fatwa tentang obligasi syariah (Fatwa DSN-MUI
No.32/DSN-MUI/ /2002)dan obligasi syariah mudharabah (Fatwa DSN-MUI
No.33/DSN-MUI/ /2002). Sedangkan obligasi syariah ijarah pertama kali
diterbitkan pada tahun 2004 setelah dikeluarkannya fatwa tentang
obligasi syariah ijarah (Fatwa DSN-MUI No.41/DSN-MUI/ /2003).

Penerapan mudharabah dalam obligasi cukup sederhana. Emiten
bertindak selaku mudharib, pengelola dana dan investor bertindak
sebagai shahibul mal, alias pemilik modal. Keuntungan yang diperoleh
investor merupakan bagian proporsional keuntungan dari pengelolaan
dana oleh investor.

Perbedaan Obligasi Syariah dan Obligasi Konvensional

1) Dari sisi orientasi, obligasi konvensional hanya memperhitungkan
keuntungannya semata. Tidak demikian pada obligasi syariah, disamping
memperhatikan keuntungan, obligasi syariah harus memperhatikan pula
sisi halal-haram, artinya setiap investasi yang diharamkan dalam obligasi
pada produk-produk yang sesuai dengan prinsip syariah.

2) Obligasi konvensional, keuntungannya di dapat dari besaran bunga
yang ditetapkan, sedangkan obligasi syariah keuntungan akan diterima
dari besarnya margin/fee yang ditetapkan ataupun dengan sistem bagi
hasil yang didasakan atas aset dan prooduksi.

3) Obligasi syariah disetiap transaksinya ditetapkan berdasarkan akad.
Diantaranya adalah akad mudharabah, musyarakah, murabahah, salam,
istisna,dan ijarah. Dana yang dihimpun tidak dapat diinvestasikan kepasar
uang dan atau spekulasi di lantai bursa. Sedangkan untuk obligasi
konvensional tidak terdapat akad disetiap transaksinya.
7. Koperasi Syariah

Koperasi sebagai sebuah istilah yang telah diserap ke dalam bahasa
Indonesia dari kata ‘Cooperation’ (Inggris). Secara semantic koperasi
berarti kerja sama. Kata koperasi mempunyai padanan makna dengan
kata syirkah dalam bahasa Arab. Syirkah ini merupakan wadah kemitraan,
kerjasama, kekeluargaan, kebersamaan usaha yang sehat baik dan halal
yang sangat terpuji dalam islam.

Menurut Row Ewell Paul koperasi merupakan wadah perkumpulan
(asosiasi) sekelompok orang untuk tujuan kerja sama dalam bidang bisnis
yang saling menguntungkan diantara anggota perkumpulan.

Bung Hatta dalam buku Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun
mengkategorikan delapan nilai sebagai spirit koperasi yaitu:

1) Kebenaran untuk menggerakan kepercayaan (trust)

2) Keadilan dalam usaha bersama

3) Kebaikan dan kejujuran mencapai perbaikan

4) Tanggung jawab dalam individualitas dan solidaritas

5) Paham yang sehat, cerdas dan tegas

6) Kemauan menolong diri sendiri

7) Menggerakan keswasembadaan dan otoaktif

8) Kesetiaan dalam kekeluargaan.

Dalam implementasinya tujuh nilai yang menjiwai koperasi versi Hatta,
dituangkan dalam tujuh prinsip operasional koperasi secara internal dan
eksternal,yaitu:

1) Keanggotaan sukarela dan terbuka

2) Pengendalian oleh anggota secara demokratis

3) Partisipasi ekonomis anggota

4) Otonomi dan kebebasan

5) Pendidikan, pelatihan dan informasi
6) Kerjasama antarkoperasi

7) Kepedulian terhadap komunitas.

8. Pasar Modal Syariah

Istilah sekuritas (securities) seringkali disebut juga dengan efek, yakni
sebuah nama kolektif untuk macam-macam surat berharga, misalnya
saham, obilgasi, surat hipotik, dan jenis surat lain yang membuktikan hak
milik atas sesuatu barang. Dengan istilah yang hampir sama, sekuritas
juga dapat dipahami sebagai promissory notes/commercial bank notes
yang menjadi bukti bahwa satu pihak mempunyai tagihanpada pihak lain.
Adapun,yang dimaksud dengan sekuritas syariah atau efek syariah adalah
efek sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan di
bidang pasar modal yang akad, pengelolaan perusahaan, maupun cara
penerbitannya memenuhi prinsip-prinsip syariah.

Diantara bank-bank islam yang ada, terdapat dua pendapat yang berbeda
dalam menyikapi surat berharga. Pertama, mayoritas bank islam menolak
perdagangan surat berharga. Kedua, bank islam di Malaysia, dalam
beberapa kondisi termasuk juga bank islam di Indonesia, menerima
transaksi surat berharga.

Alasan penyangkalan mereka yang enolak surat berharga adalah karena
di dalamnya terkandung bai ad-dyn (jual beli utang). Sementara itu islam
secara tegas telah engharamkan jual beli utang. Reaksi yang berbeda
dikemukakan oleh pendapat kedua, yakni mereka yang mengabsahkan
transaksi surat berharga. Umumnya mereka menyandarkan pada prinsip
bahwa surat berharga tersebut haruslah di endors(dijamin) oleh pihak
penerbit, kemudian surat berharga tersebut haruslah timbul dari aktivatas
yang tidak bertentangan dengan syariah. Jadi, selama kedua hal ini tidak
dilanggar, tarnsaksi surat berharga menjadi sah karenanya.

Sehubungan dengan pembahasan sekuritas syariah ini, ada tiga kategori
sekuritas. Pertama, segala jenis sekuritas yang menawarkan
predetermined fixed income tidak diperbolehkan dalam islam, karena
termasuk kategori riba. Dengan demikian, interest bearing security baik
long term maupun short term. Akan masuk daftar instrument investasi
yang tidak sah. Saham preferen (preference stock), debenture, treasury
securities and consul, dan commercial papers masuk dalam kategori ini.

Kategori kedua, sekuritas- sekuritas yang berbeda dalam grey area
(questionable) karena dicurigai sarat dengan gharar, meliputi produk-
produk derivates, seperti forward, future dan juga options.

Kategori ketiga, yakni sekuritas yang diperbolehkan, baik secara penuh
maupun dengan catatan-catatan meliputi, saham, dan islmic bonds, profit
loss sharing based, government securities, penggunaan institusi pasar
sekunder dan mekanismenya semisal margin trading. Karena sering seklai
catatan-catatannya begitu dominan.

4. Jawab :

a. Sebutkan dan jelaskan transaksi-transaksi yang dilarang karena
barang/jasanya diharamkan,sistem dan prosedur perolehan keuntungan
yang diharamkan dan transaksi yang tidak sah akadnya? berikan
contohnya untuk memperjelas ?

b. Transaksi short selling telah dinyatakan terlarang oleh Bapepam.
Transaksi ini pada dasarnya juga dilarang oleh syariat islam. Masuk
kategori apakah pelarangan atas transaksi short selling?

Jawaban :

a. Berikut jenis jenisnya :

 Tadlis, yaitu sebuah situasi di mana salah satu dari pihak yang
bertransaksi berusaha untuk menyembunyikan informasi dari pihak yang
lain (unknown to one party) dengan maksud untuk menipu pihak tersebut
atas ketidaktahuan akan informasi objek yang diperjualbelikan. Hal ini
bisa penipuan berbentuk kuantitas (quantity), kualitas (quality), harga
(price), ataupun waktu penyerahan (time of delivery) atas objek yang
ditransaksikan. Sebagai contoh : apabila kita menjual hp second dengan
kondisi baterai yang sudah sangat lemah, ketika kita menjual hp tersebut
tanpa memberitahukan (menutupi) kepada pihak pembeli, maka transaksi
yang kita lakukan menjadi haram hukumnya.

 Ikhtikar. Ikhtikar adalah sebuah situasi di mana produsen/penjual
mengambil keuntungan di atas keuntungan normal dengan cara
mengurangi supply (penawaran) agar harga produk yang dijualnya naik.
Ikhtikar ini biasanya dilakukan dengan membuat entry barrier (hambatan
masuk pasar), yakni menghambat produsen/penjual lain masuk ke pasar
agar ia menjadi pemain tunggal di pasar (monopoli), kemudian
mengupayakan adanya kelangkaan barang dengan cara menimbun stock
(persediaan), sehingga terjadi kenaikan harga yang cukup tajam di pasar.
Ketika harga telah naik, produsen tersebut akan menjual barang tersebut
dengan mengambil keuntungan yang berlimpah. Sebagai contoh: ketika
akan dirumorkan oleh pemerintah bahwa tarif bbm akan dinaikan, maka
marak terjadinya penimbunan bbm oleh para penjual nakal. Hal ini
mereka lakukan agar dapat menjual bbm dengan tarif yang sudah
dinaikkan, sehingga mereka mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

 Bai’ Najasy adalah sebuah situasi di mana konsumen/pembeli
menciptakan demand (permintaan) palsu, seolah-olah ada banyak
permintaan terhadap suatu produk sehingga harga jual produk itu akan
naik. Cara yang bisa ditempuh bermacam-macam, seperti menyebarkan
isu, melakukan order pembelian, dan sebagainya. Ketika harga telah naik
maka yang bersangkutan akan melakukan aksi ambil untung dengan
melepas kembali barang yang sudah dibeli, sehingga akan mendapatkan
keuntungan yang besar. Sebagai contoh : ini sangat rentan terjadi ketika
pelelangan suatu barang. Biasanya yang mengadakan pelelangan bekerja
sama dengan beberapa peserta pelelangan dimana mereka bertugas
untuk berpura-pura melakukan penawaran terhadap barang yang dilelang,
dengan kata lain untuk menaikkan harga barang yang dilelang tersebut.

b. kategori apakah pelarangan atas transaksi short selling.
Short Selling atau penjualan cepat dapat digolongkan ke dalam Bai’
Najasy dimana short selling merupakan prektek perjanjian penyerahan
syrat berharga yang dilakukan sebelum tanggal yang ditentukan agar
dapat diperoleh dengan harga yang jauh lebih murah sebelum tanggla
penyerahan.

5. Jawab :
a. empat fungsi bank syariah skema non riba :

Berdasarkan pasal 4 UU No 21 Tahun 2008 tentang perbankan syariah,
disebutkan bahwa Bank Syariah wajib menjalankan fungsi menghimpun
dan menyalurkan dana masyarakat. Bank Syariah juga dapat menjalankan
fungsi sosial dalam bentuk lembaga baitulmal, yaitu menerima dana
yang berasal dari zakat, infak, sedekah, hibah atau dana sosial lainnya
(antara lain denda terhadap nasabah atau ta’azir) dan menyalurkannya
kepada organisasi pengelola zakat

Dalam beberapa literatur perbankan syariah dengan beragam skema
transaksi yang dimiliki dalam skema non – riba memiliki setidaaknya ada
empat fungsi, yaitu :

1. Fungsi Manajemen Investasi

Dengan fungsi ini, bank syariah bertindak sebagai manajer investasi dari
pemilik dana (shahibul maal) dalam hal dana tersebut harus dapat
disalurkan pada penyaluran yang produktif, sehingga dana yang dihimpun
dapat menghasilkan keuntungan yang akan dibagihasilkan antara bank
syariah dan pemilik dana.

2. Fungsi Investor

Dalam penyaluran dana , bank syariah berfungsi sebagai investor
(pemiliik dana). Sebagai investor, penanaman dana yang dilakukan oleh
bank syariah harus dilakukan pada sektor – sektor yang produktif dengan
resiko yang minim dan tidak melanggar ketentuan syariah. Selain itu
dalam menginvestasikan dana bank syariah harus menggunakan alat
investasi yang sesuai dengan syariah. Investasi yang sesuai dengan
syariah meliputii akad jual beli (murabahah, salam, dan istishna), akad
investasi (mudharabah dan musyarakah), akad sewa – menyewa (ijarah
dan iijarah muntahiya bittaamlik), dan akad lainnya yang diperbolehkan
oleh syariah.

3. Fungsi Sosial

Fungsi sosial bank syariah merupakan sesuatu yang melekat pada bank
syariah. Setidaknya ada dua instrumen yang digunakan oleh bank syariah
dalam menjalankan fungsi sosialnya, yaitu:

a. Instrumen Zakat, Infak, Sadaqah, dan wakaf (ZISWAF)

Instrumen ZISWAF berfungsi untuk menghimpun ZISWAF dari masyarakat,
pegawai bank, serta bank sendiri sebagai lembaga milik para insvestor ,
dana yang dihimpun melalui instrumen ZISWAF selanjutnya akan
disalurkan kepada yang berhak dalam bentuk bantuan atau hibah untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya

b. Instrumen Qardhul Hasan

c. Instrumen Qardhul Hasan berfungsii menghimpun dana dan
penerimaan yangg tidak memenuhi kriteria halal serta dana infak dan
sedekah yang tidak ditentukan peruntukannya secara spesifik oleh
pemberi. Selajutnya dana Instrumen Qardhul Hasan Disalurkan untuk :

a) Pengadaan atau perbaikan kualitas fasilitas sosial dan fasilitas
umum masyarakat (terutama bagi dana yang berasal dari penerimaan
yang tidak memenuhi kriteria halal)

b) Sumbangan atau hibah kepada yang berhak

c) Pinjaman tanpa bunga yang diprioritaskan pada masyarakat
golongan ekonomi lemah, tetapi memiliki potensi dan kemampuan untuk
mengembalikan pinjaman tersebut.

4. Fungsi Jasa Keuangan
Fungsi jasa keuangan yang dijalankan oleh bank syariah tidaklah berbeda
dengan bank konvensional, seperti memberikan layanan kliring, transfer,
inkaso, pembayaran gaji, letter of quarantee, letter of credit, dan lain
sebagainya. Akan tetapi, dalam hal mekanisme mendapatkan keuntungan
dari transaksi tersebut, bank syariah harus tetap menggunakan skema
yang sesua

SOAL II (KASUS)

TABUNGAN MUDHARABAH
2 Mei 2016 Tabungan mudharobah a.n zaidah Rp. 5.700.000

Kas Rp. 5.700.000

6 Mei 2016 Giro bank indonesia Rp. 2.500.000

Kas Rp. 2.500.000

15 Mei 2016 Tabungan mudharabah a.n zaidah Rp. 550.000

RAK cabang cabang surabaya Rp. 550.000

31 Mei 2016 Hak pihak ketiga atas bagi hasil Rp. 210.000

Tab. mudharabah Rp. 210.000

31 Mei 2016 Tab. mudharabah a.n zaidah Rp. 20.000

Titipan Kas negara pajak tabungan Rp. 20.000
GIRO WADIAH

3 Juni 2016 Kas Rp. 59.000.000

Giro Wadiah zainudin Rp.
59.000.000

7 Juni 2016 RAK cabang solo Rp. 4.000.000

Giro wadiah a.n zainudin Rp. 4000.000

21 Juni 2016 Giro wadiah zainudin Rp. 12.000.000

Giro pada bank Indonesia Rp.12.000.000

31 Juni 2106 Beban bonus Giro Wadiah Rp. 100.000

Giro Wadiah Zainudin Rp. 100.000

31 Juni 2016 Giro wadiah Zainudin Rp. 25.000

Titipan Kas negara Pajak Giro Rp. 25.000

DEPOSITO MUDHARABAH

4 Juli 2016 Kas Rp. 30.000.000

Deposito mudharabah zulaikha Rp. 30.000.000

20 Juli 2016Hak pihak ketiga atas bagi hasil deposito mudharabah
Rp.38.000.000

bagi hasil belum dibagikan deposito
Rp.38.000.000

1 Agustus 2016 Bagihasil belum dibagikan deposito Rp.120.000

tabungan mudharobah zulaikha Rp.
96.000

titipan kas negara pajak deposito Rp.
24.000
1 Agustus 2016 Deposito mudharabah zulaikha Rp.
30.000.000

Kas Rp. 30.000.000

2. Jawab :

10 september 2016 kas PT.mulia santosa Rp.
57.000.000

kerugian bencana alam Rp.57.000.000

10 September 2016 kerugian PT mulia santosa Rp.
49.000.000

kesalah pada mudharib Rp.
49.000.000

3. Jawab

2 Februari 2016 pos lawan komitmen admniastratif pembiayaan
Rp.80.000.000 kewajiban komitmen administratif
pem Rp 80.000.00

Kas rek nasabah ibu aisah Rp. 600.000

pendapatan adm Rp.600.000

12 febuari 2016 pembiayaan tahap awal mudharabah Rp. 35.000.000

kas rek nasabah Rp.35.000.000

2 maret 2016 pembiayaan tahap kedua mudharabah Rp.
25.000.000

kas rek nasabah Rp.25.000.000