You are on page 1of 49

1

SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN
WILAYAH PESISIR & LAUTAN JAWA TIMUR
Oleh:

Dr Ir Sahri Muhammad, M.S.
Prof Dr.Ir. Soemarno, M.S.

INTISARI

Hingga sekarang pembangunan di Jawa Timur telah banyak menjangkau daerah pesisir.
Peningkatan penduduk, kebutuhan ekspor dan konsumsi hasil laut menyebabkan pemanfaatan
sumberdaya pesisir dan laut meningkat cepat. Produksi ikan laut Jawa Timur pada tahun 1999
adalah 288.816 ton yang berarti telah melampaui potensi sebesar 287.987 ton hasil
maksimum yang boleh ditangkap (MSY). Keadaan tersebut mengisyaratkan bahwa
pemanfaatan sumberdaya ikan laut telah memasuki tahapan yang kritis.

Selama ini sebagian besar masyarakat pesisir belum memperoleh manfaat yang besar dari
pembangunan di daerahnya. Oleh karena itu, pembangunan desa-desa di kawasan pesisir Jawa
Timur perlu semakin lebih memperhatikan kondisi sosial, ekonomi, budaya dan lingkungan
setempat. Di pihak lain, status sumberdaya di wilayah pesisir Jawa Timur juga menunjukkan
kondisi lingkungan dengan tingkat pencemaran yang makin meningkat, sumberdaya habitat
hutan mangrove dan terumbu karang yang menunjukkan tingkat kerusakan yang makin serius.

Propinsi Jawa Timur memiliki tidak kurang dari 79 pulau-pulau kecil yang terpusat di wilayah
Madura Kepulauan. Jumlah tersebut merupakan 0,44% jumlah pulau di Indonesia yang
mencapai 17.000 buah. Secara ekologi, pulau-pulau kecil sangat rentan, sebagian belum
didiami penduduk, dan memiliki keanekaragaman hayati yang perlu dilindungi.

Wilayah perairan laut Jawa Timur dapat dibagi menjadi lima tipikal wilayah sumberdaya, yaitu
(a) Wilayah Utara yang merupakan perairan Laut Jawa, dengan tipikal sumberdaya ikan yang
didominasi ikan layang (Decapterus spp.)dan ikan kuningan (Upenius spp.); (b) Wilayah
Madura Kepulauan, dengan tipikal sumberdaya ikan karang, (c) Wilayah Selat Madura dengan
tipikal ikan kurisi (Nemeptherus spp.), (d) Wilayah Laut Muncar dengan tipikal mono-species
ikan lemuru (Sardinella spp.) dan (e) Wilayah Selatan dengan tipikal sumberdaya ikan tongkol
dan tuna (Thunnus spp.). Pengawasan laut yang relatif lemah membuat kesulitan dalam
mengatasi pelanggaran dalam pengaturan penangkapan ikan.

Keadaan seperti di atas membutuhkan penanganan daerah pesisir dan laut yang lebih baik,
khususnya mencakup aspek wawasan, strategi, keterpaduan, penegakan hukum, pengelolaan
dan pengendalian sumberdaya serta penguatan kelembagaan, sehingga pemanfaatan
sumberdaya diharapkan dapat menjadi produk unggulan dalam pembangunan secara
berkelanjutan.

Adapun beberapa kegiatan prioritas untuk mengatasi masalah di atas meliputi :
A. Perencanaan dan Pengembangan Terpadu Coastal Zones.
B. Pemantauan dan Perlindungan Lingkungan Coastal Zones.
C. Pengelolaan Sumberdaya Secara Berkelanjutan.
D. Pemberdayaan dan Penguatan Kelembagaan Masyarakat.

2

E. Pembangunan Kepulauan Kecil Secara Berkelanjutan.
F. Keamanan dan Pemanfaatan Sumberdaya Zone Ekonomi Ekslusif (ZEE).

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Sumberdaya laut dan pesisir di Jawa Timur telah memberikan penghasilan kepada
masyarakat, khususnya mereka yang tinggal dan atau berusaha di daerah pesisir dan pulau-
pulau kecil dengan cara memanfaatan dan menjual produk laut yang bernilai tinggi.
Bertambahnya jumlah penduduk dan permintaan pasar hasil laut telah memacu peningkatan
dan tekanan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut secara berlebihan.
Selama 30 tahun PJP I telah banyak dilakukan penelitian untuk melakukan evaluasi
potensi dan prospek pengembangan sumberdaya laut Jawa Timur. Banyak penelitian dan
program pengembangan, khususnya yang memperoleh dukungan dana internasional, seperti
World Bank, ADB, dan FAO. Pada periode lima tahun terakhir, 1995 – 2000 beberapa
program penelitian untuk penataan wilayah pesisir dan kelautan yang mendapat dukungan
lembaga internasional seperti CORMEP (Coral Reef Rehabilitation and Management Project)
oleh Word Bank dan MREP (The Marine Resouce Evaluation and Planning Project) oleh
ADB, disamping dukungan anggaran APBN dan APBD untuk pengembangan dan
pemberdayaan masyarakat pesisir Jawa Timur.
Sekalipun telah banyak lembaga-lembaga pemerintah dan LSM yang menangani
masalah laut dan pesisir, namun masih banyak pula permasalahan yang timbul dari kegiatan
praktek-praktek pembangunan yang kurang memahami arti pembangunan berkelanjutan.
Beberapa permasalahan pengelolaan sumberdaya pesisir dan kelautan Jawa Timur dapat
diketengahkan sebagai berikut :
1. Penambangan batu karang yang merusak, diperkirakan tinggal 15%, yang menghancurkan
terumbu karang dan lingkungannya;
2. Penggunan potasium sianida (KCN) yang mengakibatkan beberapa jenis ikan karang
musnah;
3. Penggunaan alat tangkap ikan yang menguras sumberdaya yang mengakibatkan
pemanfaatan ikan laut secara berlebih (over fishing);
4. Konversi hutan mangrove di Jawa Timur, diperkirakan tinggal 10-15%, menjadi wilayah
pertambakan tanpa memperhatikan kaidah pengelolaan sumberdaya pesisir yang
berkelanjutan;
5. Peningkatan sedimen limbah dan bahan kimia beracun di wilayah pesisir, sebagai akibat
modernisasi pertanian dan industri yang tidak ramah lingkungan.
6. Belum tersedianya suatu mekanisme dan sistem perencanaan dan pemantauan serta
pendataan yang benar dan akurat, sehingga cadangan sumberdaya ikan di laut telah
terkuras tanpa kendali;
7. Rendahnya penghasilan dan kesejahteraan masyarakat pesisir, banyak nelayan yang masih
miskin, baik karena struktur sosial yang tidak adil (kemiskinan struktural), kukltural
maupun karena lingkusan pesisir yang kumuh karena belum tersedianya perencanaan dan
pengembangan wilayah pesisir secara terpadu dan berkesinambungan.

3

1.2. Perencanaan Strategis
Atas dasar permasalahan pengelolaan tersebut diatas, maka visi, misi, dan tujuan
penyelesaian permasalahan pengelolaan kawasan perairan laut dan pesisir di Jawa Timur
dirumuskan sebagai berikut :

1.2.1. Visi
Wilayah laut dan pesisir beserta segenap sumberdaya dan jasa-jasa yang terkandung di
dalamnya, merupakan sumber penghidupan dan sumber pembangunan yang dapat
dimanfaatkan secara berkelanjutan, untuk meningkatkan kemakmuran rakyat dalam
mewujudkan masyarakat pesisir yang sejahtera, maju dan mandiri.

1.2.2. Misi
Atas dasar visi tersebut, untuk mewujudkan masyarakat pesisir yang sejahtera, maju
dan mandiri,maka misi pengelolaan terpadu sumberdaya pesisr dan laut disusun sebagai
berikut :
(1) penataan & perencanaan terpadu;
(2) memperkuat kelembagaan;
(3) memperkuat pemantauan dan keterlibatan masyarakat;
(4) meningkatkan kesejahteraan masyarakat;
(5) pembangunan wilayah kepulauan terpencil
(6) menjamin pengelolaan dan pengamanan wilayah dan sumberdaya perikanan secara
berkelanjutan;

1.2.3. Tujuan
Tujuan pengelolaan terpadu sumberdaya dan lingkungan coastal zones di Jawa
Timur adalah sebagai berikut :
(1) keterpaduan dalam pembuatan perencanaan pengelolaan coastal zone;
(2) memperkuat kemampuan institusi;
(3) pengendalian sumberdaya perikanan pada tingkat MSY;
(4) pemberdayaan masyarakat;
(5) pemanfaatan pulau kecil sebatas keperluan masyarakat lokal; dan
(6) optimalisasi pemanfaatan dan pengamanan wilayah ZEE Selatan Jawa Timur.

II. POTENSI COASTAL ZONE JAWA TIMUR

Coastal zone Jawa Timur mempunyai peranan yang sangat penting bagi kesejahteraan
masyarakat pedesaan pantai dan pembangunan ekonomi wilayah secara keseluruhan. Wilayah
ini mengandung berbagai sumberdaya dan potensi ekonomi seperti aneka jenis ikan, obyek
wisata dan potensi geografis yang mendukung jalur lalulintas angkutan laut. Selain daripada
itu wilayah perairan pantai ini secara ekologis sangat kompleks dan rumit serta peka terhadap
berbagai macam gangguan alam dan gangguan oleh manusia.
Jawa Timur merupakan propinsi yang memiliki kawasan laut hampir empat kali luas
daratannya dengan garis pantai kurang lebih 2.916 km. Propinsi Iawa Timur memiliki kawasan

4

pesisir dan lautan yang luas beserta kandungan kekayaan sumberdaya hayati laut yang
melimpah, seperti ikan, rumput laut, hutan mangrove, terumbu karang, dan biota lainnya.
Sumberdaya hayati laut ini merupakan sumber pangan masa depan yang wajib dikembangkan
dan dilestarikan agar dapat tetap menjadi penunjang utama bagi kesejahteraan masyarakat.
Usaha peningkatan pendayagunaan sumberdaya hayati laut berperan ganda. Selain
meningkatkan lapangan kerja dan pendapatan masyarakat nelayan, penyediaan pangan khusus
protein hewani, dan juga dapat meningkatkan pendapatan negara. Berbagai permasalahan dapat
muncul oleh pemanfaatan pesisir dan lautan yang mengabaikan prinsip-prinsip linkungan. Laut
sering diperlakukan sebagai penampung sampah, limbah industri dan limpasan bahan kimia
pertanian. Ekaploitasi wilayah pesisir dan laut kian meluas, sehingga mempunyai dampak
negatif terhadap sumberdaya hayati laut.
Wilayah pesisir dan lautan merupakan salah satu sumberdaya alam yang mempunyai
sifat yang kompleks, dinamis, dan unik karena pengaruh dari dua ekosistem, yaitu ekosistem
lautan dan daratan. Di lain pihak wilayah pesisir merupakan wilayah tempat berbagai kegiatan
sosial dan ekonomi, antara lain, pemukiman, industri, perhubungan, dan areal produksi per-
tambakan. Sebagai suatu kawasan yang penting, keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya
pesisir hanya dimungkinkan dapat dicapai jika pengelolaan pesisir didasarkan pendekatan
pengelolaan lingkungan secara ramah dan terpadu.
Pendekatan tersebut memerlukan pemahaman terhadap karakteristik dari struktur,
fungsi, dan dinamika lingkungan wilayah pesisir. Pendekatan harus diarahkan pada pencapaian
keseimbangan antara potensi dan daya dukung sumberdaya alam, dipadukan dengan kebutuhan
sosial dan mengakomodasikan kegiatan kehidupan yang ada.
Pada hakekatnya pembangunan perikanan merupakan kegiatan untuk meningkatkan
pendapatan dan kesejahteraan petani dan nelayan melalui pengelolaan sumberdaya alam
dengan faktor produksi berupa tenaga kerja manusia, teknologi dan modal. Oleh karena itu
pembangunan perikanan diarahkan untuk mendapatkan hasil guna dan daya guna yang optimal
secara berkelanjutan yang berarti mengandung muatan teknologi, ekonomis, ekologis dan
sosiokultural. Aspek teknologi menunjang adanya efisiensi dan produktifitas, aspek eknomis
menghendaki adanya niali tambah yang selalu meningkat. Sementara itu aspek ekologis
mensyaratkan pembangunan sekaligus memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup.
Sedangkan aspek sosiokultural menunjang pemerataan yang menekankan pada pengembangan
sumberdaya manusia (SDM) dan kelembagaannya yang mengakomodasikan sepenuhnya
kebutuhan dan keterlibatan masyarakat nelayan dalam pengelolaan sumberdaya perikanan.
Nelayan Jawa Timur berdasarkan pada jangkauan daerah penangkapannya dapat
dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu: 1) nelayan yang bekerja di pantai; 2) lepas pantai, dan
3) laut lepas (samudera). Daerah-daerah penangkapan ini pada kenyataannnya tidak dapat
dipisahkan secara tegas. Pengelompokan ini berkaitan erat dengan kedalaman perairan, yang
kemudian mempengaruhi jenis ikan yang diburu pada masing-masing unit kerja, alat tangkap
yang dipakai, armada penangkapan dan modal kerja yang diperlukan. Disampin itu daerah-
daerah penangkapan ini, sampai saat ini masih didominasi oleh usaha nelayan skala kecil.
Wilayah pesisir dan lautan merupakan sumberdaya milik bersama (common property
resources), sehingga berlaku rejim open acces management artinya, siapa saja boleh
memanfaatkan wilayah ini untuk berbagai kepentingan. Setiap pengguna ingin memanfaatkan
secara maksimal dan sukar dilakukan pengendalian. Sifat dari kepemilikan bersama ini juga
menyebabkan pengguna (users) menjadi kurang peduli terhadap status sumberdaya, dan
cendrung menggunakan cara-cara yang disktruktif demi keuntungan jangka pendek. Sehingga
sering kali terjadi kehancuran ekosistem sebagai akibat dari tragedi bersama (tragedy of the
mommon).
Dengan karakteristik wilayah pesisir dan lautan seperti di atas, maka jelas bahwa
pemanfaatan wilayah pesisir dan laut secara optimal berkesinambungan hanya dapat terwujud
jika pengelolaannya dilakukan secara teradu, menerapkan prinsip-prinsip pembangunan
berkelanjutan (sustainabble development principles) dan pendekatan pembangunan secara

kegiatan rumah tangga dan kegiatan pertanian. padang lamun. Erosi ini diperburuk lagi oleh perencanaan dan pengembangan wilayah yang tidak tepat. Konflik penggunaan ruang di kawasan pesisir dan laut sering terjadi karena belum adanya tata ruang untuk kawasan ini yang dapat dijadikan acuan oleh segenap sektor yang berkepentingan. 5 berhati-hati (precauntionary approarch). pestisida. dan terumbu karang yang merupakan tempat pemijahan. Bahan utama yang terkandung dalam buangan limbah tdari ketiga sumber tersebut berupa sedimen. pengembangan masyarakat pesisir sebagi subyek dan obyek dari pembangunan sangat lemah. Kurangnya koordinasi dan kerjasama antar pelaku pembangunan dan sekaligus pengelola di kawasan pesisir. Banyaknya sumberdaya alam wilayah opesisir dan lautan telah mengalami over-eksploitasi. aquakultur. yaitu: kegiatan industri. Pengembangan tenaga ahli dan tenaga teknis. terumbu karang dan padang lamun. swasta dan masyarakat. (5) Kemiskinan masyarakat pesisir. dan mencari makan (nursery ground) sebagian besar biota laut. Hingga saat ini sebagian besar masyarakat pesisir masih diliit kemiskinan. (4) Rendahnya kualitas sumberdaya manusia (SDM). yaitu pemerintah. (2) Over-eksploitasi sumberdaya hayati laut. Hal ini disebabkan secara tradisional pendidikan. unsur hara. perhubungan dan pariwisata. asuhan. pertambangan dan energi. tetapi juga seringkali diakibatkan oleh penduduk miskin yang karena terpaksa (ketiadaan alternatif mata pencaharian) haurs mengeksploitasi sumberdaya pesisir dan laut yang secara ekologis rentan (seperti terumbu karang. Tingkat pencemaran di beberapa kawasan pesisir dan laut pada saat ini telah berada pada kondisi yang sangat memprihatinkan. Berbagai fomena keruskan lingkungan pesisir dan laut bukan hanya disebabkan oleh industrialisasi. Kurangnya koordinasi antar pelaku pengelola terlihat dalam berbagai kegiatan pembangunan pembangunan di kawasan pesisir masih dilakukan secara sektoral oleh masing-masing pihak. Sejumlah faktor yang menjadi pembatas dari aspek sumberdaya manusia adalah kurangnya pendekatan terpadu dan interdisipliner dalam pendidikan dan latihan. . Beberapa stok sumberdaya ikan telah mengalami kondisi tangkap lebih (over fishing). (7) Koflik penggunaan ruang. Secara spesifik permasalahan wilayah pesisir dan lautan adalah sebagai berikut: (1) Kerusakan fisik ekosistem wilayah pesisir dan laut umumnya terjadi pada ekosistem mangrove. pemukiman. Hilangnya mangrove dan rusaknya sebagian terumbu karang telah mengakibatkan terjadinya erosi pantai. Sementara itu banyak maslaha yang khas dalam pembangunan wilayah pesisir dan laut yang belam dapat dipecahkan karena keterbatasan sumberdaya masian. Beberapa kegiatan yang berpotensi menimbulkan koflik penggunaan ruang di kawasan pesisir dan laut adalah pertanian dan kegiatan di daerah hulu lainnya. Tidak adanya program yang khusus tentang pengelolaan wilayah pesisir dan laut. perikanan laut. Kondisi over fishing ini bukan hanya disebabkan oleh tingkat penangkapan yang melampaui potensi sumberdaya perikanan. organisme patogen. pelatihan dan kursus-kursus diarahkan untuk pembangunan yang berbasis di darat. dan sampah. Sumber utama pencemaran pesisir dan laut biasanya berasal dari kegiatan di darat (land based pollotion sources). tetapi juga disebabkan karena kualitas lingkungan laut sebagai habitat ikan mengalami penurunan atau kerusakan oleh pencemaran dan degradasi fisik hutan mangrove. (3) Pencemaran. (6) Kurangnya koordinasi dan kerjasama antar pelaku pembanugan (stake holder) kawasan pesisir. daerah asuhan dan pemijahan ikan) atau dengan cara-cara yang tidak ramah lingkungan seperti penggunaan bahan peledak dan racun untuk menangkap ikan.

Hutan mangrove dan estuaria mempunyai signifikansi ekologis yang spesifik sebagai spawning grounds. hutan mangrove dan terumbu karang juga menjadi penyangga alamiah terhadap gelombang laut. Beberapa obyek wisata pantai mempunyai potensi yang cukup besar untuk dikembangkan lebih lanjut. Industri. serta problematik yang berhubungan dengan aktivitas pembangunan di sepanjang kawasan pantai yang mengakibatkan berbagai dampak buruk terhadap sumberdaya pantai. Hukum pengelolaan wilayah pesisir dan laut meliputi semua peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan secara resmi oleh lembaga-lembaga pemerintah untuk mengatur hubungan manusia dengan sumberdaya wilayah pesisir dan lautan. mengalami kemerosotan .3. menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat dari tahun ke tahun. 6 Penyebab utama dari konflik tersebut. Pemukiman nelayan. Dune.1.2. Terumbu karang mengkonsentrasikan hara untuk mendukung ekosistem produktif dan produksi ikan yang tinggi di perairan sekitarnya. Nilai ekonomi dan nilai ekologi dari hutan mangrove ini telah banyak dirasakan oleh masyarakat sekitarnya dan secara tidak langsung juga oleh perekonomian wilayah. 2. tempat bersarang dan bereproduksi. termasuk udang. Nilai Sosial-ekonomi Kehutanan.1. Hal ini karena lemahnya penegakan hukum (law enforcement). nursing. Hutan mangrove tersebar di berbagai titik lokasi pantai. (8) Lemahnya penegakan hukum. Obyek wisata. terumbu karang. Sedangkan produksi perikanan tambak. dan pendatang. Sektor ekonomi ini sangat tergantung pada lingkungan alami yang tidak terganggu. hamparan pasir pantai. atau keperluan lainnya. erosi dan badai. Dengan adanya undang-undang pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir dan lautan seharusnya maslaha perbaikan lingkungan pesisir menjadi fokus utama dalam pengelolaan suatu kawasan atau wilayah pesisir. Pesisir. Sejumlah aktivitas industri kecil dan rumahtangga berlokasi di kawasan pantai. Nilai keunggulan lokasi pantai ini adalah kemudahan akses terhadap angkutan laut dan ketersediaan bahan baku ikan dalam jumlah besar. baik untuk memenuhi kebutuhan pangan. petani tambak. mangrove. Beberapa problem dan issue pembangunan kawasan pantai Problem utama dalam pembangunan wilayah pantai adalah kerusakan sumberdaya pantai oleh destruksi. 2. Tetapi pada kenyataannya kerusakan wilayah pesisir dan degradasi habitat selalu terjadi dan terus berlangsung. Kondisi ekologis zone pantai juga sangat penting bagi kegiatan wisata.1.1. estuartia. Perkampungan di kawasan pantai dihuni oleh para nelayan penangkap ikan. dan feeding grounds bagi berbagai jenis ikan yang bernilai ekonomis tinggi. pesisir. adalah karean tidak adanya aturan yang jelas tentang penataan ruang dan alokasi sumberdaya yang terdapat di kawasan pesisir dan lautan. seperti hutan mangrove. dan penggunaan yang tidak ekonomis. Sumberdaya pantai. over-eksploitasi.1. Hasil tangkapan ikan di perairan pantai ini berfluktuasi dari tahun ke tahun. Dalam rangka untuk melestarikan hutan mangrove ini harus dilaksanakan berbagai program khusus seperti penghijauan kawasan hutan mangrove yang telah rusak. Potensi Pengembangan 2. dan perairan pantai. terumbu karang. Perikanan tangkap dan aqua-kultur. 2. dan lainnya) menyediakan habitat bagi organisme yang berhubungan dengan laut. Sebagian potensi wisata pantai dan wisata bahari masih belum dikembangkan. Nilai Ekosistem Pantai Ekosistem pantai (Tambak ikan dan udang.

7 kualitas atau degradasi dan memerlukan penanganan yang serius. Penggunaan lahan dan air di zone pantai harus dilakukan secara terpadu. indutri. Beberapa spesies karang yang eksotik dipanen untuk pasar akuarium. Selain itu. .5.4. pemerataan. Pencemaran terutama dapat disebabkan oleh pembuangan limbah domestik cair dan padat dari daratan. (f). Bentuk-bentuk pengelolaan tradisional berbasis-lahan dan berbasis-laut harus dimodifikasi menjasdi bentuk pengelolaan yang efektif bagi daerah transisi antara laut dan darat. (b). Coastal Zone adalah unik dan mempunyai kebutuhan khusus untuk managemen dan perencanaan. 2. (e). lokasi industri. Setiap aspek dari kegiatan pengelolaan pantai berhubungan dengan air. mengorganisir. Air merupakan gaya integrator utama dalam sistem sumberdaya pesisir-pantai. Kawasan hutan mangrove ini dibuka untuk pemukiman. pelabuhan dan dermaga di sepanjang pantai secara langsung dan tidak langsung juga mempu nyai sumbangan terhadap penurunan kualitas ekosistem pantai. dan stabilitas nasional. Terumbu karang di beberapa lokasi menunjukkan gangguan akibat siltasi dan sedimentasi atau penurunan kualitas air laut akibat aktivitas aktivitas yang membuang limbah ke perairan pantai. Sumberdaya renewable harus dikelola untuk menyediakan benefit sosial-ekonomi yang optimum. Wilayah Pedesaan Pantai dengan Sistem Perikanan Tangkap Hakekat pembangunan adalah pembangunan manusia seutuhnya dan pembangunan bagi seluruh masyarakat. (d). dan mengendalikan penggunaan sumberdaya pantai untuk memenuhi kebutuhan pembangunan. (a). wisata pantai. meningkatnya kebu- tuhan kayu bakar juga mendorong over-eksploitasi hutan mangrove.1. Oleh karena itu strategi pembangunan selama ini bertumpu kepada Trilogi Pembangunan. (c). Manfaat ganda dari sumberdaya pesisir-pantai yang renewable diperoleh dengan jalan perencanaan & manajemen yang baik. budidaya tambak. Sebagian hutan mangrove dikonversi dan sebagian lainnya mengalami degradasi akibat over-eksploitasi. aktivitas penanaman kembali sangat terbatas. Perkembangan perkampungan nelayan. sehingga memerlukan tatanan kelembagaan yang spesifik dan rumit. Beberapa prinsip pengelolaan Pengelolaan dan pengembangan sumberdaya PESISIR-pantai mengandung makna mengembangkan. Aktivitas-aktivitas ini secara tidak langsung juga berdampak pada penurunan produksi perikanan tangkap dan budidaya. Dalam situasi seperti ini habitata dasar dan fungsi ekologisnya akan hilang dan kehilangan ini seringkali nilainya lebih besar dibandingkan dengan nilai yang dihasilkan oleh aktivitas substitutenya. Fokus dari pengelolaan pesisir-pantai adalah pada sumberdaya common-property.1. dan lainnya. Berbagai sarana fisik penunjang perekonomian telah berhasil dibangun dan diharapkan akan mampu mendorong akselari pencapaian tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih baik secara menyeluruh. Pembangunan sumberdaya pesisir-pantai secara berkelanjutan merupakan tujuan utama dari pengelolaan pantai. 2. Kunjungan wisata ke ekosistem terumbu karang ini juga dapat berdampak buruk kalau melampaui batas kongestinya. yaitu pertumbuhan ekonomi. Statistik menunjukkan bahwa luas hutan mangrove ini menunjukkan kecenderungan yang menurun dari tahun ke tahun.

Peter. - Marikultur Penangakapan ikan . . - Pelabuhan . . - Industri . . . = . . . . (3).: dampak besar. - Minyak & gas bumi . Wilayah pedesaan pantai dipandang sebagai suatu sistem yang secara struktural terdiri atas lima komponen (sub-sistem) yang saling berinteraksi secara dinamis . . hingga batas-batas tertentu dapat dikendalikan/ dikelola oleh "manusia" untuk mendapatkan output yang diinginkan. . . . yaitu : (1). yaitu (i) dengan memanipulasi input-input pengolaan. (2). . . - Aqua-kultur dan . Dua macam sasaran akhir dari upaya-upaya pembinaan yang seringkali dikemukakan adalah kesejahteraan masyarakat nelayan dan kelestarian sumberdaya perairan pantai. . Perilaku komponen-komponen tersebut di atas. 8 Beberapa aktivitas pembangunan yang dapat berdampak buruk terhadap eko-sistem pantai adalah sbb: Tipe Ekosistem: Aktivitas Ra. - Pertambangan . Trbu Pesi. - Pembangkit listrik . melibatkan banyak faktor yang saling kait-mengkait satu sama lain. . . = - Kehutanan . . . - pantai Penggunaan . Komponen Sosial- budaya dan Kelembagaan pedesaan. - Pemanfaatan air . baik secara sendirian maupun interaksinya dengan komponen lain. . - sumberdaya pantai Keterangan: Marago et al. - Manajemen garis . . . (4). .Delt Estu Ba. . . . . - Pengerukan . . . Sea. = . Komponen Sarana dan Prasarana Fisik. . = . - Pelayaran . . Upaya pengelolaan ini dapat dilakukan melalui tiga cara. . Komponen sumberdaya perairan pantai dan lingkungan hidup pedesaan pantai. . . dan (5). . Komponen sumberdaya Manusia (Nelayan). . . - Pembuangan limbah . . . . - Pemukiman .upaya pembinaan/pengembangan wilayah pedesaan pantai. Output-output inilah yang pada hakekatnya merupakan tujuan dan sasaran dari upaya. . . . . . . Pulau pembangunan wa a -aria kau nakan grass karng sir kecil Pertanian/perikanan . = . khususnya di wilayah Jawa Timur memepunyai lima macam komponen utama (subsistem). . = : dampak sangat besar Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan dapat dipahami bahwa permasalahan yang ada di wilayah pedesaan pantai sangat rumit. Komponen Perekonomian Pedesaan. . Perilaku interaksi dari subsistem-subsistem ini bersifat dinamis dan menghasilkan output-output tertentu. (1983). . . baik yang . Sistem Pedasaan Pantai. .

Ketiga ciri ini akan menentukan perilaku sektor basis dan pada akhirnya akan berdampak pada bentuk kelembagaan non-formal yang berkembang di pedesaan pantai. dan (iii) kombinasi antara (i) dan (ii). juragan darat. diwilayah pedesaan pantai telah berkem-bang kelembagaan non-formal yang spesifik sebagai akibat dari kegiatan ekonomi yang ada. Sarana dan prasarana produksi menjadi salah satu prasyarat penting dalam menentukan perilaku sub-sistem ekonomi. Sub-sistem Perairan Pantai dan Pesisir Dalam sistem wilayah pedesaan pantai.gaya perubahan yang berasal dari dari dalam dan luar. A. dan selanjutnya akan menentukan distribusi pendapatan dalam masyarakat pedesaan pantai. dan sebagai tempat pembuangan limbah.peluang transformasi struktural di wilayah pedesaan pantai. . Kelembagaan armada penangkapan ini ditandapi oleh eratnya hubungan antara nelayan pendega. Pada kenyataannya tingkat penguasaan sarana produksi ini akan menentukan posisi dalam kelembagaan bagi hasil dalam penangkapan. 9 berupa input material/teknologi. Secara fungsional sub-sistem ini dapat dibedakan menjadi dua. juragan laut. C. pengolah ikan dan pedagang ikan (dari dalam atau luar daerah). yaitu sebagai produsen input bagi sub-sistem ekonomi. Tiga ciri penting dari kegiatan ekonomi sektor basis di pedesaan pantai adalah (i) kegiatan penangkapan memperlakukan yang mahal dan biaya operasi yang banyak. produk-produk dari kegiatan ekonomi di sektor ini berupa komoditi primer dan sekunder dari perikanan tangkap yang dipasarkan ke luar daerah. (ii) operasi penangkapan memerlukan tenaga kerja yang banyak dan koperatif. D. yaitu (i) sarana dan prasaran ekonomi. Kelembagaan operasional penagkapan ini ternyata berdampak pada kelembagaan bagi hasil yang berlaku. Sub-sistem Kelembagaan Sosial Sebagaimana disinggung sebelumnya. Suatu teladan bentuk kelembagaan non-formal ini dapat ditemukan dalam hal penangkapan dengan purse-seine atau penangkapan dengan payang. (ii) sarana dan prasarana penunjang aktivitas kehidupan manusia. (ii) dengan merekayasa kelembagaan yang mengatur interaksi antar komponen tersebut sehingga perilakunya dapat lebih baik memanfaatkan input yang ada. dan rendahnya nilai tambah yang dapat dinikmati oleh masyarakat pedesaan pantai. B. produsen jasa amenitas bagi manusia. Permasalahan yang sering di jumpai adalah rendahnya keunggulan kompetitif produk dipasaran bebas. input kebijakan. Sub-sistem Sarana dan Prasarana Fisik Sub-sistem ini secara langsung berkaitan dengan sub-sistem kelembagaan sosial (formal dan non-formal). dan (iii) hasil tangkapan harus dipasarkan ke luar daerah dalam bentuk segar dan/atau olahan. Hingga batas-batas tertentu kelembagaan seperti di atas bersama dengan kelembagaan- kelembagaan lainnya akan menentukan peluang. Dalam ketiga hal ini potensi dan kemampuan sumberdaya alam ditentukan oleh karakteristik dan kualitas. Dengan demikian pembinaan pada sektor ini diharapkan dapat mengangkat sub-sistem perekonomian secara kesluruhan. Besarnya peluang tersebut ditentukan oleh kesiapan kelembagaan yang ada (formal dan non-formal) untuk mengakomodasikan gaya. Di wilayah pedesaan pantai umumnya kegiatan ekonomi di sektor basis sangat dominan. Sub-sistem Ekonomi Wilayah Pedesaan Perkembangan suatu wilayah ditentukan oleh kemampuannya menghasilakan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan domistiknya dan/atau dipasarkan keluar daerah dengan keuntungan kompetitif. Selanjutnya tingkat kesiapan tersebut oleh (i) efektifitas mekanisme kerja kelembagaan untuk menggalang partisipasi segenap masyarakat secara proporsional sesuai dengan kepentingannya. sumberdaya perairan pantai dan lingkungan hidup pedesaan mempunyai peranan ganda. Sehubungan dengan hal ini maka kegiatan ekonomi dapat dibedakan menjadi kegiatansektor bisnis yang menghasilakan produk untuk pasar domistik.

Tampaknya pola perilaku monsumtif di kalangan masyarakat pedesaan pantai menjadi salah satu ciri budaya yang serius dalam rangka pola pembinaan untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat pedesaan pantai. manusia lebih berperan sebagai produsen. Sebagai objek manusia lebih berperan sebagai konsumen. . 10 E. dan (ii) peubah-peubah skill ketebaga-kerjaan. yang kualitasnya ditentukan oleh tingkat pemenuhan kebutuhan fisik minum. sehingga kualitas ditentukan oleh (i) peubah-peubah skill managerial. dan (ii) perilaku komsumtifnya. Sebagai subyek. Sub-sistem Sumberdaya Manusia Sumberdaya manusia di wilayah pedesaan pantai menjadi subyek/pelaku yang mengendalikan sebagian besar perilaku sistem wilayah. Hal ini selanjutnya ditentukan oleh (i) produktivitas tenagakerja. dan sekaligus menjadi objek/sasaran dari perilaku tersbut.

. Sumberdaya perairan laut ternyata masih belum sepenuhya dimanfaatkan . Kedalaman laut Jawa antara 20-90 m dengan dasar perairan umumnya lumpur berpasir. yang dihasilkan dikawasan laut selatan Jawa Timur. Seronggi Raas. Dari berbagai jenis rumput laut yang mempunyai nilai ekonomis seperti Gracilaria sp.1. diversiifikasi komoditas diarahkan untuk menghasilkan jenis-jenis ikan yang disukai pasar manca negara antara lain jenis ikan tuna. Pembangunan perikanan pada hakekatnya adalah memanfaatkan sumberdaya yang ada tanpa merusak sumberdaya perikanan itu sendiri. Pantai utara hingga ke timur keadaannya melandai.1. B. Oleh karena itu inventarisasi dan identifikasi jenis dan potensi sumberdaya alam sangat diperlukan. Potensi tersebut tersebar di sepanjang Pantai Madura Kepulauan dan Bawean Kepulauan. pasir dan karang-karang. Gelidium sp. serta rintisan pemindahan nelayan dari daerah padat tangkap ke daerah yang potensial semisal dengan melalui peningkatan kualitas dan kuantitas armada perikanan di Pantai Selatan. dimana 850 km ditumbuhi mangrove. Penangkapan Ikan di laut Penangkapan ikan di laut diarahkan pada pemilihan daerah penangkapan baru yang masih potensial yaitu Selat Madura. Sapekan dan Pulau Kangean sekitar ± 750 Ha. Dengan memperhatikan data produksi perikanan tahun 1990 maka tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan yang sudah dikelola secara keseluruhan baru mencapai sekitar 40%. A. Gapura. Budidaya Laut Budidaya laut diarahkan pada rintisan pengembangan terhadap komoditi hasil perikanan yang sesuai dengan selera pasar dan sebagai pemasok kebutuhan dalam negeri maupun pasar luar negeri. sedangkan pantai selatan umumnya terjal. dan sekitar 300 km berupa tempat pemukiman nelayan. Perkembangan Produksi. 450 km berupa hutan belukar. dan Euchema sp. Hypnea sp. Perairan selat Bali mempunyai kedalaman 20-545 m dan dasarnya terdiri lumpur. C. Ekosistem Perikanan Pantai (Sistem Penangkapan) 3. COASTAL ECOSYSTEM 3. cakalang maupun udang barang (Lobster). maka kebutuhan ikan bandeng umpan menjadi semakin meningkat. Giligenting. Samudera Indonesia mempunyai kedalaman lebih 1000 m pada jarak 50 meter dari pantai. Salah satu tujuan pokok pembangunan perikanan adalah meningkatkan produksi perikanan dan produktifitas usaha perikanan dan meningkatkan kebutuhan bahan pangan yang lebih merata dalam rangka perbaikan gizi dan menciptakan lingkungan yang sehat. karenanya pengelolaan perairan laut diutamakan pada daerah-daerah pantai selatan terutama peningkatan pemanfaatan ZEE dan perairan kepulauan Madura. Jawa Timur memiliki perairan laut yang potensial untuk pengembangan budidaya rumput laut. Di Selat Madura. dasar lautnya berbatu dan berkarang dan pantainya banyak mempunyai teluk. Pada cabang usaha penangkapan . Perairan selat Madura bagian barat kedalamannya 20-90 meter.1. dan sebelah timur mencapai kedalaman 140 meter dan dasar lautnya berlumpur. Potensi perairan laut yang tersebar terdapat di Kabupaten Sumenep yaitu Kecamatan Dungkek. Makna Ekonomis dan Ekologis Wilayah Pantai/Pesisir Panjang pantai di Jawa Timur sekitar 1600 km. 11 III. Seiring dengan pengembangan kegiatan penangkapan ikan tuna dan cakalang.

F. dan Teri. Berdasarkan kenyataan tersebut. Pendidikan pendega yang umum dijumpai pada seluruh wilayah umumnya lulusan SD dan SLP. D. Kondisi Sistem Perikanan Pantai Usaha penangkapan ikan di laut dilakukan di perairan pantai Pacitan-Trenggalek- Tulungagung. Tampaknya penyuluhan teknologi dan perkreditan pada pendega jarang dilakukan. Biasanya musim ikan terjadi selama bulan September hingga Desember. Namun tingkat pendidikan di wilayah Lekok (Pasuruan) dan di Tlanakan (Pamekasan) pendidikan sangat rendah banyak yang buta huruf ataupun tidak lulus SD. Berdasarkan kenyataan bahwa pendega merupakan golongan nelayan yang berstatus ekonomi paling rendah. Pendapatan Pendega Berdasarkan Sumbernya Pendapatan pendega umumnya sebagian besar (+ 90%) bersumber dari sektor perikanan (usaha penangkapan ikan). Lemuru. E. Disamping itu terbatasnya jumlah dan kemampuan penyuluh menjadi pembatas tidak efektifnya pelaksanaan penyuluhan. baik berupa sawah. Ditinjau dari segi lokasi penelitian. sedangkan sisanya umumnya adalah hasil kekayaan (istrinya) yang umumnya pedagangan kecil (baik dagang ikan atau hasil pertanian) dari berburuh baik dari buruh industri pengolahan ikan atau komoditi lainnya. Sedangkan jenis alat tangkap lainnya ditinjau dari segi pendapatan pendega tidak tampak menyolok perbedaannya.1. A. Curahan Hari Kerja dan Pendapatan dari Sektor Penangkapan Ikan Pendapatan nelayan pendega berfluktuasi menurut keadaan musim ikan. dan kemudian pemasarannya sampai Jawa Tengah. maka di masa datang per tahun pendega menjadi salah satu sasaran penyuluhan untuk pengembangan usahanya. Jawa Timur. Pada musim paceklik pendega sangat rendah sebaliknya pada musim raya ikan pendapatan pendega cukup tinggi. tegal maupun tambak. umumnya nelayan mendaratkan ikannya di wilayah sendiri. Begitu pula kegiatan anak pada umumnya tidak dilibatkan dalam membantu ekonomi keluarga.2. Keadaan ini menuntut adanya usaha tradisi menabung pada musim raya ikan. maka usaha peningkatan keluarga pendega. dapat juga ditempuh melalui usaha memberikan kegiatan produktif pada isteri pendega. B. Aspek Sosial-Ekonomi Nelayan Pendega Tingkat pendidikan pendega sangat heterogen. 12 3. di antaranya adalah Jenis Ikan Tongkol kembung. Keadaan ini menunjukkan bahwa ketergantungan keluarga pendega pada sektor perikanan sangat tinggi. Ada sekitar 50 jenis ikan yang dapat ditangkap nelayan di perairan selat Madura. C. Berdasarkan hasil observasi di lapang menunjukkan bahwa tampaknya pendega bukan merupakan sasaran penyuluhan. Sementara ini pendega belum banyak mengem- . tidak tampak adanya variasi pendapatan antar wilayah penelitian. Tembang. Pemilikan Lahan Pertanian Umumnya keluarga pendega tidak memiliki lahan pertanian. Namun ditinjau dari segi alat tangkap yang digunakan tampaknya purse seine yang pendapatannya tertinggi dibandingkan dengan pendapatan dari alat tangkap lainnya. Penyuluhan Teknologi dan Perkreditan Penyuluhan teknologi dan perkreditan untuk pengembangan ekonomi keluarga pendega menunjukkan hasil beragam dan menghadapi banyak kendala. Layang. Kegiatan isteri umumnya pada urusan rumah tangga dan jarang sekali para isteri pendega yang bekerja. Mata Pencaharian Utama dan Sambilan Keluarga Pendega Nelayan pendega pada umumnya menggantungkan hidupnya pada sektor perikanan dan umumnya tidak mempunyai pekerjaan sambilan.

akibatnya kehidupannya sangat tergantung pada pemilik perahu (juragan) yang diikutinya. Semakin besarnya kebutuhan penurunan investasi masyarakat di sektor produktif sehingga akan muncul fenomena involusi. sehingga pada saat sekarang ini (terutama di perairan pantai utara Jawa Timur dan Selat Madura) telah megarah kepada eksploitasi yang berlebihan. 3. 13 bangkan usahanya. Penangkapan ikan di perairan pantai yang terus meningkat kepadatannya. Sedangkan respon terhadap pengembangan usaha penangkapan ikan secara berkelompok umumnya pendega cukup respon. Proses-proses degradasi Dinamika ekosistem pantai secara langsung dan tidak langsung sangat dikendalikan oleh aktivitas sosial-ekonomi masyarakat nelayan.3. serta perubahan perilaku kultural dari masyarakatnya. baik limbah domestik maupoun limbah proses produksi/pengolahan ikan. terutama di sekitar pemukiman nelayan yang padat. Upaya-upaya yang disarankan untuk memutuskan siklus involusi tersebut adalah (i) pemindahan sebagai tenaga kerja dari sektor primer dan sektor-sektor sekunder dan tersier untuk lebih memperbesar produktivitas tenagakerja. Dengan demikian permintaan terhadap produk-produk sekunder dan tersier dari luar daerah dapat manjadi semakin besar. Limbah ini semuanya pada akhirnya akan dibuang ke perairan pantai yang pada gilirannya juga akan menurunkan kualitas air.1. maka dimasa datang pendega menjadi kelompok yang tertinggal. maupun aktivitas lain dalam kehidupan sehari-hari di pemukiman penduduk. G.1. Kegiatan masyarakat sehari-hari di pemukiman nelayan akan menghasilkan berbagai jenis limbah. Kegiatan industri dan aktivitas produktif lain yang memerlukan lahan dan meng-hasilkan limbah. (2). Kegiatan-kegiatan manusia ini bersama-sama dengan proses alamiah akan menimbulkan proses-proses degradasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup pantai yang pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat keragaan ekosistem pantai. Hal ini disebabkan pendega umumnya tidak memiliki lahan pertanian. Pada saat-saat tertentu penagkapan ikan diperkiurakan telah mendekati atau melampaui batas Maximum Sustainable Yield (MSY). Hal seperti ini dikhawatirkan dapat mengganggu dinamika populasi ikan-ikan di perairan pantai. (ii) pembinaan kelembagaan (terutama non-formal) yang dapat mendorong gairah menabung dan perilaku produktif lainya dikalangan . Respon pendega yang cukup tinggi terhadap usaha pengembangan pengolahan ikan untuk keluarganya umumnya rendah. peternakan dan pembuatan jaring sangat rendah. Kalau keadaan ini dibiarkan terus berlangsung. Respon Pendega terhadap Pengembangan Usaha Respon pendega terhadap usaha pengembangan pertanian. Peningkatan rataan pendapatan setiap kapita biasanya dibarengi dengan berkurangnya pangsa relatif (pendapatan dan kesempatan kerja) dari sektor primer. Kebijakan Pembangunan/Pengelolaan perikanan pantai Proses pembangunan ekonomi diharapkan akan mendorong terjadinya perubahan struktur kelembagaan disuatu wilayah. Perubahan kultural akan ditentukan oleh ciri budaya yang telah ada. baik aktivitas penangkapan di laut . terutama dalam hal perilaku masyarakat pedesaan pantai sebagai konsumen. Beberapa proses degradasi ekosistem pantai yang penting adalah: (1). 3. aktivitas penunjang di daratan. (3).4. Dilingkungan pedesaan pantai dapat diantisipasi bahwa perubahan strukturakl dan kultural tersebut diatas akan terjadi dalam proporsi yang berbeda- beda. sedangkan responya terhadap pengembangan usaha pembuatan jaring yang rendah disebabkan segi permintaannya sangat sedikit. Apabila pendapatan meningkat maka diantisipasi akan terjadi pergeseran perilaku ke arah pola konsuntif yang ditandai oleh semakin besarnya proporsi konsumsi non-pangan. termasuk kosumsi jasa amenitas dalam makna yang positif maupun yang negatif. dan meningkatanya pangsa reltif dari sektor sekumder dan tersier.

proses inovasi teknologi ini diharapkan mampu melakukan tranformasi teknologi penangkapan ikan yang tradisional menjadi modern yang ditandai dengan penerapan teknologi yang efisien dan mampu mengatasi hambatan gelombang laut dan dapat menjelajahi kelutan Nusantara dan zone ekonomi eksklusif. dan (iii). industrialisasi pedesaan untuk mengolah hasil-hasil ikan tangkapan. mesin. Nelayan sebagai pelaku perbaikan teknologi ini akan semakin maju apabila mempunayai sikap mental kebaharian yang terampil. Upaya pembanguan ekonomi pedesaan pantai melalui keterkaitan antara sektor primer (penangkapan) dan sektor-sektor sekunder (industri pengolahan hasil perikanan). pembenahan kelambagaan perkreditan dan bagi hasil. Akan tetapi dua unsur pokok ini saja masih belum bisa menjamin keberhasilan pemabanguan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan sosial masyarakat pedesaan pantai. Pembinaan perilaku masyarakat dan kelembagaan sosial yang ada untuk dapat menjaga keseimbangan antara perilaku konsuntif dan produktif. Masyarakat pedesaan pantai akan dapat menjadi maju dan sejahtera hidupnya apabila mempunyai sikap mental yang mampu mendorong kje arah kemajuan tersebut. perbaikan kualitas manusia dan taraf hidup masyarakat pedesaan secara kualitas manuasia dan tarah hidup masyarakat pedesaan secara keseluruhan. Dengan demikian inovasi teknologi di sini mencakup teknologi perkapalan. fish-finder dan sarana komunikasi modern. Dampak sosial ekonomi yang diharapkan adalah terbukanya lapangan kerja baru dan perluasan kesempatan . inovasi teknologi penangkapan untuk memperbesar hasil tangkapan. Industrialisasi Pedesaan Pantai Proses industrialisasi pedesaan yang mengarah kepada kemajuan masyarakat pada mulanya merupakan masalah psikis atau mental (Alfian. Pada tingkat mampu proses industrialisasi pedesaan ini diharapkan oleh diversifi-kasi sumber pendapatan masyarakat dari berbagai aktivitas pengolahanhasil perikanan dan perda- gangan produk-produk olahan. Kesemuanya itu jelas membutuhkan bukan hanya sekedar mental bahari. Pada tahap selanjutnya. (ii). 1991). tetapi juga pengetahuan dan keterampilan penggunaan teknologi tertentu. Dengan demikian beberapa sikap menta. Dengan demikian beberapa macam sikap mental dan prilaku kultural tertentu di kalangan masyarakat pedesaan pantai yang dapat menjadi kendala bagi keberhasilan proses industrialisasi perlu dibina dan dibenahi sehingga sesuai dengan kebijakan dan strategi pembanguanan yang telah direncanakan. Inovasi Teknologi Penangkapan Inovasi teknologi penangkapan ikan pada dasarnya mengarah pada perbaikan efisiensi teknis dan ekonomis. memperbesar pendapatan masyarakat. perilaku kultural bahari merupakan sebuah karharusan. (2). alat penangkapan (jaring dan pancing) alat pembantu penangkapan antara lain seperti penggunaan lampu listrik. Dengan demiian inovasi dan teknologi penangkapan merupakan prasyarat pokok bagi berkembangnya industri pengolahan di pedesaan pantai. dan (ii). yaitu mengejar dan memburu ikan kemanapun daerah penangkapan bergerak dan berubah. Kultural bahari saat ini masih mengahadapi kultural tertentu (misalnya one-day fishing) yang dapat menjadi kendala dalam proses inovasi teknologi penangkapan ikan perlu dibina sejalan dengan strategi dan sasaran inovasi tersebut. renovasi sistem pemasaran yang mampu mengalokasikan nilai tambah yang lebih besar kepada masyarakat pedesaan pantai. Dampak sosial ekonomis yang diharapkan ialah terbukanya lapangan kerja baru dan perluasan kesempatan kerja yang ada. yaitu (i). Dengan demikian kebijakan pembinaan pantai harus bertumpu "kedua unsur pokok". (1). 14 masyarakat pantai. (iii) pembinaan prilaku masyarakat untuk tidak terlalu mengarah kepada prilaku konsuntif. Proses-proses transformasi tersebut beserta dampak sosial-ekonominya hanya mungkin terjadi kalau didukung oleh tersedianya bahan baku yang memadahi. Tiga macam "unsur penunjang" yang dipersyaratkan adalah : (i).

15 kerja yang ada. Makna Ekonomis dan Ekologis Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh pada tanah aluvial di pantai dan sekitar muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. Rhizophora. Di Indonesia. lempung. 3. selat yang terlindung dari ombak serta tempat-tempat lain yang serupa. (iii) pengembangan usaha pasca tangkap (industri pengolahan) ikan yang berskala kecil oleh masyarakat pedesaan pantai. dan (iv) pembinaan kegiatan menabung di kalangan nelayan. ekosistem bakau ialah ekosistem pantai yang komponen tumbuhannya ialah hutan. EKOSISTEM HUTAN MANGROVE 3. Ceriops. Secara ekologis hutan bakau mempunyai fungsi penting karena menjadi tempat lindung bagi banyak jenis flora maupun fauna. Pembenahan sistem kredit bagi nelayan dalam rangka usaha penangkapan ikan perlu diarahkan pada "sistem bagi hasil" antara sekelompok nelayan dengan lembaga pemberi kredit. perbaikan kualitas manusia dan taraf hidup keluarga nelayan secara keseluruhan. Scyphyphora dan Nypa. Pembenahan Kelembagaan Perkreditan dan Bagihasil Upaya pengkapan kelembagaan perkreditan di wilayah pedesaan pantai harus diarahkan pada empat sasaran pokok. Dalam proses inovasi teknologi penangkapan ikan terkait erat dengan tersedianya input dan sarana pembantu lainya. hutan bakau merupakan penghasil berbagai bahan baku industri. Sistem permodalan bagi hasil tersbut ternyata telah menjadi unsur penunjang inovasi teknologi penangkapan memerlukan unsur penunjang permodalan dan pemasaran yang "built in" seperti kelembagaan perkreditan bagi hasil jika mental kebaharian telah tumbuh yang memungkinkan kehidupan sebagian terbesar di laut. Lumnitzera. meningkatkan pendapatan nelayan pendaga. Bruguiera. yaitu (i) kemantapan koperasi nelayan (KUD nalayam). Berdasarkan pengalaman adanya ketidak-berhasilan kredit motor/perahu pada masa lalu. Ekosistem hutan bakau sangat unik dan sangat potensial. Lokasi ekosistem bakau ini umumnya adalah pantai-pantai dengan teluk dangkal. dan Jawa Timur khususnya. mendukung upaya budidaya perikanan.2. kayu bakar. (ii) pengembangan usaha penangkapan ikan oleh nelayan kecil. Exoecaria. Model ini akan menciptakan usaha nelayan berkongsi dengan sistem bagihasil. Hal ini sering membawa pada pertentangan kepentingan dalam pemanfaatannya. (3). beserta fauna dan habitatnya yang khas. Aegiceras. Pada saat ini hampir di seluruh pedesaan pantai yang diteliti telah berkembang suatu sistem penyediaan modal maupun kredit bagi-hasil yang beroprasi secara informal.1. delta. gambut dan pasir. arang. Xyloccarpus. yaitu untuk "memotori" perubahan dan inovasi teknologi penangkapan ikan yang telah ada sampai sekarang. sesungguhnya pertentangan ini dapat terhindarkan apabila semua pihak dapat menyadari peran lindung hutan bakau tersebut sesunggunya juga mencakup perlindungan terhadap kualitas lingkungan yang menjamin kelestarian usaha-usaha produksi . Secara ekonomis. Dengan demikian. bagian terlindung dari tanjung. Tanahnya bervariasi dari lumpur. yang biasanya ased modal. estuari. maka sistem perkreditan dengan model "angsuran kredit" patut dibenahi dan bila dipandang perlu dapat ditinggalkan. dan lain-lain. bahan penyamak. dan dicirikan oleh jenis-jenis pohon Avicenia. Sonneratia.2. Proses tranformasi tersebut pada dasarnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses industrialisasi pedesaan pantai secara keseluruhan.

Kelompok kedua umumnya berada di sepanjang pantai utara Jawa timur yang relatif landai. Situbondo. Secara teoritis daya regenerasi hutan bakau cukup kuat. terutama bila dibandingkan dengan kawasan ekologis lainnya seperti terumbu karang. (c). Kelompok pertama umumnya berada di kawasan pantai selatan Jawa Timur yang mempunyai pantai terjal. Sebagai penyangga produktivitas wilayah usaha perairan pantai dan laut. 16 seperti hasil hutan. pantai utara dapat dianggap lebih sensitif terhadap pengaruh faktor pencemaran dibandingkan pantai selatan. hasil pengamatannya di kawasan pantai Probolinggo dan sekitarnya menunjukkan bahwa umumnya hutan mangrove merupakan jalur sempit sejajar dengan jalan raya Surabaya- Banyuwangi yang terputus-putus di berbagai tempat oleh karena pemukiman atau peruntukkan lainnya. kerusakan hutan bakau umumnya berpengaruh luas terhadap ekosistem lainnya yang terkait dengannya. Namun demikian. 3. tambak dan perikanan pada umumnya. Data tahun 1991 yang berhasil dikumpulkan oleh Marsoedi. Hasil penelitian Fandeli (1992) juga menunjukkan hal yang serupa. et al. Pada hal justru pantai utara Jawa Timur yang mempunyai perkembangan sosial- ekonomi pesat. Blitar. Sumenep dan Bangkalan. sesuai dengan perannya seperti tersebut di atas. Selain dari itu. Selanjutnya dari hasil survei kasar. 1992). apabila sampai muncul kerusakan di kawasan hutan bakau hal yang mungkin sulit dikembalikan adalah hilangnya beberapa jenis flora maupun fauna langka dari kawasan hutan yang rusak tersebut..2. 1991). di kawasan pantai utara Jawa Timur tidak dijumpai hutan bakau (Sumitro. (b). Berperanan besar untuk melindungi pantai dan menghambat lepasnya butir-butir tanah ke lautan bebas serta mempercepat pengendapan pantai.. Berdasarkan atas nilai indeks sensitivitas lingkungan yang ditetapkan oleh Kantor Menteri Lingkungan Hidup (Anonymous. dan Badan Konservasi Sumberdaya Alam Daerah (BKSDA). dengan kriteria fisik seperti tersebut. Trenggalek. Hasil pengamatan visual menunjukkan pohon-pohon bakau pada umumnya hanya terdapat pada galengan tambak atau saluran irigasi atau dalam bentuk gerumbul-gerumbul kecil di sekitar pemukiman penduduk. Bersifat khas dan strategis untuk menyangga kelestarian kehidupan biota darat dan perairan baik laut maupun tawar. termasuk Perhutani. usaha penanaman . menunjukkan bahwa dari kurang lebih 859 km hutan bakau sepanjang pantai Jawa Timur. Malang. berbatu dengan ombak yang besar menghantam pantai setiap saat. Secara umum kawasan hutan bakau tersebut tidak lagi sebagai hutan lindung melainkan telah bergeser ke fungsi produksi. dengan pemilihan tempat secara acak. Lokasi penghijauan meliputi beberapa daerah di kabupaten-kabupaten Banyuwangi. sehingga sering dapat dengan lebih mudah dipulihkan apabila mengalami kerusakan. 1987). Lebar areal hutan paling panjang adalah 175m. Secara rinci peran lindung hutan bakau adalah sebagai berikut: (a). Namun demikian. Hal ini tentu tidak bersesuaian lagi dengan status mereka yang merupakan kawasan hutan lindung milik perum perhutani. berlumpur dengan ombak yang relatif tenang dan arus air lambat. 1992). dan berubah fungsi seiring dengan pesatnya perkembangan sosial- ekonomi. Kondisi fisik seperti inilah yang menjadi alasan mengapa kawasan bakau lebih banyak di pantai utara dibandingkan pantai selatan Jawa Timur. Usaha penanaman kembali pohon bakau ternyata telah banyak dilakukan di sepanjang pantai utara dan pantai madura termasuk madura kepulauan (Marsoedi. Pacitan. Hal serupa juga di jumpai di kawasan Blambangan-Banyuwangi (Soebiantoro. Jember. Umumnya penghijauan dilakukan oleh instansi di bawah departemen kehutanan. dan umumnya berkisar antara 50-60 m. et al. Hutan Mangrove dan Proses Degradasinya Pada dasarnya kondisi ekosistem pantai di Jawa Timur dapat dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan atas ciri-ciri fisik pantainya. Tampaknya kawasan pantai utara Jawa Timur sudah tidak lagi mempunyai kawasan hutan bakau perawan kecuali di kawasan- kawasan konservasi seperti Baluran. 230 ha dinyatakan rusak berat dan dari 700 ha rusak ringan.2. Dari sini dapat dipahami mengapa banyak kawasan bakau di pantai utara Jawa Timur yang telah rusak.

Sedang di satu sisi bahwa pelaksanaan permudaan buatan sering kali mengalami kegagalan. diperlukan adanya suatu penelitian dari usaha permudaan buatan tersebut dengan pengukur beberapa variabel yang terkait. et al. perindustrian dan lain-lain kegiatan ekonomi terhadap laju penyusutan kawasan bakau ini di sepanjang pantai utara Jawa Timur dan Madura.3. Menurut hasil sigi di Jawa Timur. Nybakken (1988) menyatakan bahwa ekosistem mangrove meru pakan suatu kawasan ekosistem rumit karena terkait dengan ekosistem darat dan ekosistem lepas pantai di luarnya. mereka umumnya mengkategorikan masalah penyusutan luasan hutan bakau dan usaha penghijauan kembali kawasan bakau sebagai masalah yang mendesak untuk ditangani. Umumnya dari genus Rhizophora. (Sumitro. total usaha penghijauan di luar usaha konservasi dan pengamanan hutan bakau tersebut telah dilakukan pada kawasan bakau seluas kurang lebih 1250 ha (Marsoedi. data rinci dalam skala yang lebih teliti mengenai laju perluasan wilayah tambak dan penyusutan hutan bakau di Jawa Timur sampai saat ini amat sulit didapatkan. serta intrusi air laut ke daratan dan fungsi kimia berperan menghasilkan bahan organik melalui dekomposisi orga nisme tanah mangrove.. Permudaan buatan adalah suatu kegiatan dalam usaha memperoleh hasil yang dikehendaki dengan penggu naan jenis bibit yang sesuai zone pertumbuhan dan jarak tanam yang dikehendaki. mampu berperan menahan gempuran ombak dan angin. Dinas Perikanan. adanya kemunculan lahan atau daratan baru seiiring dengan laju sedimentasi di daerah estuari. Hutan mangrove juga berperanan penting sebagai penunjang ekosistem wilayah pesisir terutama bagi kesejahteraan masyarakatnya. Hasil penelitian Marsoedi et al. 3. dan Pemerintah Daerah (BAPPEDA) setempat. Dinas Kehutanan. data akurat mengenai laju pertambahan daratan baru serta aktivitas perambahan oleh penduduk tidak pernah ada. karena mangrove mampu sebagai jembatan antara daratan dan lautan. Suksesi ekosistem bakau di lahan baru ini terlihat sering terganggu oleh aktivitas perambahan untuk tujuan-tujuan pertambakan atau ladang pembuatan garam. Sehingga banyak kawasan -kawasan yang rusak akibat eksploitasi yang berlebihan tanpa mengetahui keseimbangan antara perkembangan regenerasi dan pemanenan. 1992) menunjukkan ada dua puluh tujuh jenis tumbuhan bakau.) Hutan mangrove merupakan suatu ekosistem yang unik dengan berbagai macam fungsi dengan formasi khas daerah tropika dan terdapat di pantai rendah yang tenang serta berlumpur sedikit berpasir dengan pengaruh pasang surut air laut.2. di kawasan pantai utara yang landai. Avicenia. Selain itu juga dapat dengan mudah terlihat. Seperti halnya laju penyusutan hutan bakau. Maka sebagai usaha pelestariannya adalah dengan peremajaan atau penanaman kembali atau yang dikenal dibidang kehutanan dengan istilah permudaan buatan bagi hutan mangrove. Fungsi mangrove dilihat dari fungsi fisik. Sedang secara ekologis mampu menunjang kehidupan organisme-organisme yang secara langsung maupun tidak langsung hidupnya tergantung dari mangrove. tetapi sekedar menghijaukan kawasan bakau. pertumbuhan budidaya tambak. . Untuk itu. Data hasil inventarisasi kasar yang telah dilakukan di beberapa kawasan pantai Jawa Timur. dan Acanthus. (1991) tersebut juga menanpakan secara jelas sekali besarnya pengaruh laju tekanan pemukiman penduduk. Exoecaria. 1991). Sayangnya mangrove terma suk kawasan yang labil sehingga dikenal sebagai "fragile ecosystem" bila terjadi perubahan pengaruh pe-nunjang pertumbuhan dan perkem- bangannya. dan sering dikaitkan dengan kepentingan pertambakan baik yang modern maupun tradisional. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui prosentase tumbuh dan keberhasilan permudaan buatan jenis R. 17 kembali sering tidak bertujuan untuk menghutankan kembali kawasan bakau. PERMUDAAN BUATAN TANAMAN BAKAU (Rhizophora mucronata L. mucronata L. meskipun dari hasil kuwesener dan wawancara terhadap instansi terkait seperti. Sayangnya. Secara ekonomis mampu menunjang kesejahteraan masyarakat sekitar pantai disebabkan mangrove bisa dimanfaatkan dalam hal kayu dan non kayunya.

16 cm.21 pada petak ukur 6 dengan ketebalan sedi-mentasi 10. grifil dan cacing pantai yang beraktifitas membuat lubang-lubang tanah. sedimentasi setebal 11. 1995). Terdapat korelasi antara jenis tegakandengan pasang surut dan lamanya genangan air (Soemodihardjo. Curah hujan daerah pene litian rata-rata mencapai 1000-1500 mm dengan jenis tanah regusol dan gromosol kelabu. Menurut Arief dan Sugianto (1998).5 cm dan tinggi genangan 29 cm. bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman sendiri jenis organisme ini sangat menunjang karena proses dekomposisi dan hasil endapan serta seresah terjadi pada jenis tanah ini. Faktor physio graphy berpengaruh terhadap zonasi terutama dalam hal salinitas air dan serasah (Anonimous. Kemi-ringan lahan sangat berpengaruh juga terhadap ketebalan sedimentasi yang terbawa air pasang dan aliran sungai.1 persen protein dan setelah 12 bulan meningkat sampai 21 persen (Heald. 1971). Makro-bentos mampu mencerna daun segar dan memproduksi hingga membantu eksport unsur hara (Sukardjo. Kemiringan permukaan tanah ternyata mempengaruhi lamanya dan perluasan genangan.1 persen. maka tanaman akan beradaptasi karena sifatnya yang halophyt. mampu membuat tanah selalu dalam kondisi lunak. Disamping itu.2. Sehingga kawasan mang-rove dengan empang parit yang mampu menahan genangan ketika terjadi surut. karenanya pada daun tua ditemui kadar garam yang relatif tinggi. 18 Menurut hasil kajian Arifin Arief dan Agus Sugianto (1998). Proses ini melalui perakaran disekresikan serta disalurkan ke bagian-bagian tubuh tanaman terutama bagian daun-daun tua. 1980). sebab semakin ke atas daratan arus pasang surut semakin kecil dan kandungan lumpur dengan bahan organik tanah yang tinggi (Marsono dan Setyono. Jenis tanah ini secara umum sangat disukai oleh organisme tanah pantai disebabkan sangat mudah untuk ditem bus. mampu mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebesar 83 persen dalam suasana lingkungan dengan salinitas sebesar 5. 3. Pengelolaan Bakau SEBAGAI HABITAT KEPITING .73 cm dan terbesar adalah 2.72 yang berpengaruh terhadap pertumbuhan permudaan buatan dengan rata-rata diameter 1.73 cm dan tinggi semai tanaman rata-rata 43. hal ini disebabkan terjadinya curah hujan yang selalu berubah. Berarti bisa dipastikan bahwa hasil prosentase pertumbuhan diperoleh rata-rata sebesar 82. Daun mangrove yang mulai membu suk mengandung 3. tanah dan pasang surut serta sedimentasi yang terjadi.02 cm. 1979).83 persen. Dimana kondisi lunak akan merangsang organisme tanah untuk membuat lubang-lubang tanah sebagai penunjang aerasi udara bagi perna-fasan akar-akar mangrove. Pasang surut pada daerah genangan membawa serasah dan tebal sedimentasi yang berdampak bisa tumbuh dan berkem bangnya mangrove. Rhizophora mucronata L.3 %) serta banyak ditemui orga nisme jenis kepiting. karenanya konsentrasi kadar garam pada daun tua lebih tinggi.4. Kondisi tanah dengan analisis fisik secara mekanik diperoleh tanah bersifat lempung liat berpasir (33. luas areal penelitian 30. Hasil proses ini akan mengha silkan bahan organik tanah sebagai penunjang pertumbuhan dan perkem bangan mangrove permudaan buatan. Sesuai Soeroyo (1993) bahwa mangrove mampu memin dahkan garam dengan cara menyim pannya dalam daun yang lebih tua. 1993).57 salah satu sebab adanya proses tersebut. Organisme tanah yang disebut makrobentos sangat berpe-ranan dalam proses penghancuran seresah dan dekomposisi. Untuk salinitas sebenarnya tidak dibutuhkan terlalu tinggi bagi pertumbuhan tanaman tetapi bila terjadi salinitas yang tinggi. Lubang-lubang ini membawa oksigen ke bagaian akar tegakan mangrove (Ewuisie. Didalam pemilihan biji dipilih pada buah yang telah mengalami perubahan warna kuning pada bagian antara biji dengan hipokotil serta sesuai dari zone pertumbuhannya. dengan bahan endapan pasir dan liat. Salinitas pada petak ukur didapatkan rata-rata sebesar 2. Pada petak ukur didapatkan genang an air setinggi 21. 1993).81 ha dengan jarak tanam 3 x 2 m merupakan hasil penanaman sejak 12 Januari 1996 pada daerah bertopografi datar sedikit bergelombang dan beriklim tipe E klasifikasi Schmidt- Ferguson. Sehingga R. Diameter yang didapatkan secara rata-rata di seluruh petak ukur adalah 1. mucronata sangat sesuai tumbuh dan berkembang pada daerah zone dengan keadaan di atas yang bersifat salinitas.

Pelestarian sumberdaya bakau dan keanekaragaman sumber plasma nutfah yang terkandung di dalamnya. Setiap upaya pengelolaan seharusnya mempunyai makna: a. permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan kawasan bakau di Jatim diduga juga berhubungan dengan terjadinya degradasi hutan bakau akibat pencurian kayu. kesempatan kerja. Suatu hasil kajian menunjukkan bahwa secara umum kelemahan menejemen hutan bakau menyangkut banyak hal. b. Menjaga pola alamiah temporer dan spatial dari salinitas air permukaan dan ground- water (d). Pengendalian pembukaan tambak udang.1. Mempertahankan pola alamiah dan siklus aktivitas pasang surut dan run-off air hujan / air tawar (e). peningkatan akses untuk memperoleh informasi. e. Sebagai salah satu ekosistem di dunia yang secara ekologis paling produktif dan beragam. Konsistensi pengelolaan dan penanganan keanekaragaman hayati dan masalah ekologis hutan bakau. dan sedimentasi. Pengelolaan hutan bakau harus diarahkan agar segala pendayagunaann sosio- ekonomisnya tetap memperhatikan keseimbangan lingkungan serta kelestarian fungsi dan kemampuannya sehingga tetap dapat menjamin kemanfaatannya bagi generasi mendatang. tatanan lingkungan ini berfungsi sebagai penyangga kehidupan. 1992). modal kerja dan sarana produksi bagi penduduk di sekitar kawasan bakau. Ciri dari kelemahan menejemen tersebut antara lain adalah data luasan kawasan hutan bakau yang tidak akurat. Selain dalam hal menejemen. Agenda no. d. yang didalamnya terkandung keanekaragaman biota laut yang unik dan menarik. dan Strategi Nasional Pengelolaan keanekaragaman hayati. peningkatan lapangan kerja. delta dan rawa pantai non bakau. c. 21 Global Biodiversity Strategy (GBS) tahun 1992. meliputi sistem silvikultur. Permasalahan terakhir ini lebih terkait dengan kondisi sosial-ekonomi dan budaya masyarakat sekitar kawasan bakau yang belum sepenuhnya mendukung pengelolaan hutan bakau secara lestari. Pemanfaatan secara lestari sumberdaya bakau dan lingkungannya.3. Menjaga topografi dan karakter substrat hutan bakau dan saluran suplai air tawar (c).3. terumbu karang. pemanfaatan maupun rehabilitasinya. Produktivitas dan kekayaan jenis terumbu karang boleh dikata sebanding dengan hutan hujan tropika (Anonimous. pelaksanaan program kerja. dan Strategi Konservasi Alam Indonesia. erosi. 3. dan pengawasannya.l. perencanaan pengorganisasian/pelembagaan. 19 Beberapa tindakan pengelolaan yang diperlukan a. Pendahuluan Beranekaragam tipe ekosistem khas dijumpai di wilayah pesisir-pantai Pasir putih dan sekitarnya. penebangan kayu bakau. rumput laut. Hal ini tentu amat menyulitkan dalam pelaksanaan tata ruang. Mencermati aliran perdagangan flora maupun fauna langka di hutan bakau. Terumbu karang merupakan ekosistem khas. (a). Perlindungan terhadap proses ekologis dan sistem penyangga kehidupan dalam ekosistem bakau. sumberdaya manusia. perambahan yang tidak terkendali serta pemanfaatan yang melebihi daya dukung. seperti hutan mangrove. Selain menyediakan berbagai sumberdaya alam. Di Jawa Timur data luasan hutan bakau tersebut sering bervariasi menyolok antar instansi terkait satu dengan lainnya. Menjaga keseimbangan alamiah antara abrasi. Dari sini terlihat bahwa pengelolaan hutan bakau secara lestari harus terkait dengan pendidikan kesadaran berkonservasi. Hal ini berarti pula bersesuaian dengan deklarasi World Conservation Startegy (WCS) tahun 1979. EKOSISTEM TERUMBU KARANG DAN PENGELOLAANNYA 3. estuarin. serta seringkali . dan lainnya (b).

3. pengambilan karang untuk bahan bangunan dan tidak kalah pesatnya pemanfaatan daerah terumbu karang sebagai taman laut dijadikan objek wisata bahari. Jika habitat terumbu karang dapat berfungsi secara optimal. Sebagai ekosistem perairan yang memiliki produktivitas tinggi. Kepulauan Karimunjawa. maka produksi ikan-ikan karang akan dapat dimanfaatkan secara berkesinambungan dan akan memberikan keuntungan secara sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Oleh karena itu ekosistem terumbu karang yang sangat produktif dapat mendukung kehidupan nelayan setempat. pada hal perairan laut Indonesia demikian luasnya dan sangat kaya akan sumberdaya terumbu karangnya. kakap dan ikan hias. Menurut Salm (1984) hasil tangkapan ikan di perairan terumbu karang dan sekitarnya dapat mencapai 5. seperti ikan kerapu. antara lain di daerah Kepulauan Seribu. dan sepertiga seluruh jenis ikan kehidupannya bergantung pada lestarinya terumbu karang. yang layak dan memberikan prosfek yang cerah untuk meningkatkan pendapatan khususnya nelayan setempat. Disisi lain terumbu karang dapat dijadikan sebagai bahan bangunan. Dalam dekade terakhir ini terumbu karang baik langsung maupun tidak langsung telah dimanfaatkan oleh manusia secara optimal tanpa kendali. Sebagai salah satu ekosistem yang secara ekologis merupakan habitat berbagai jenis organisme laut. Berdasarkan pemikiran di atas upaya konservasi dan pengelolaan terumbu karang sebagai sumberdaya sangat penting dan berdimensi ganda.000 kg/nelayan/tahun. Konservasi dan pengelolaan terumbu karang haruslah secara menyeluruh baik ekosistem terumbu karang itu sendiri maupun sumberdaya ikan yang berasosiasi dengan terumbu karang. Terumbu karang berfungsi sebegai pelindung fisik.2. Sementara itu eksploitasi terhadap terumbu karang untuk berbagai tujuan terus berlangsung tanpa memperhatikan keadaan ekologisnya.3. disamping itu juga perairan laut Madura Kepulauan terdapat terumbu karang yang lamam dikenal oleh nelayan dan merupakan daerah perburuan /penangkapan ikan-ikan karang yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Pertimbangan Konservasi Konservasi dan pengelolaan terumbu karang secara lestari dan berkembang sangat penting artinya. tempat tinggal. Di perairan laut Indonsia diperkirakan luas terumbu karang mencapai 6. berpijah dan berkembang biak berbagai biota laut. 33 % kondisi masih bagus . serta melibatkan masyarakat pengguna dengan memperbaiki terumbu karang yang telah rusak melaui pembuatan terumbu karang buatan. bahan baku industri pupuk dan farmasi. terumbu karang juga merupakan habitat dari berbagai jenis organisme laut. mencari makan. membentang sepanjang 17.800 km 2.500 km (Anonimous. untuk masa kini dan masa yang akan datang. 20 merupakan daerah yang paling cantik bentuknya. Diperkirakan sekitar 260 jenis ikan hias hidup di perairan terumbu karang. maka sangatlah perlu dijaga kelisteriannya. pendekatan bioekologi terumbu karang serta alternatif pemanfaatan sumberdaya ikan-ikan karang melalui paket teknologi alat tangkap long line pot dan usaha budidaya laut harus dilakukan secara terintegrasi. Penelitian tentang kondisi ekologi terumbu karang di Indonesia tergolong masih sedikit. Hal lain yang menarik perhatian dari ekosistem terumbu karang terutama adalah besarnya kelimpahan dan keragaman biota yang berasosiasi. Bunaken Sulawesi Utara yang terkenal sebagai Taman Nasional Laut. antara lain usaha penangkapan ikan karang baik sebagai ikan hias maupun sebagai konsumsi secara besar-besaran yang menggunakan racun "potassium cyanida (KCN)". Sebagian sudah ditetapkan menjadi taman nasional luat. Secara umum dapat dikatakan bahwa kondisi terumbu karang di Indonesia saat ini adalah 14 % dalam kondisi kritis. Hal ini apabila terjadi terus menerus akan mengakibatkan kepunahan terumbu karang yang ada. 1992). Disamping itu mencari alternatif pemanfaatan sumberdaya ikan-ikan karang melalui paket teknologi alat tangkap yang ramah lingkungan serta pengalihan usaha ke budidaya laut. 46 % telah mengalami kerusakan.

000 km 2. . salinitas dan penetrasi cahayanya berada pada kondisi kritis bagi kehidupan terumbu karang. Nusa Tenggara (Sutarna dkk. Terumbu karang berfungsi sebagai daerah perlindungan. Sebagai contoh di daerah pantai Samudra Hindia bagian utara. Makin kompleks populasi karang akan memberikan pula relung (niche) ekologi yang lebih banyak bagi ikan-ikan karang. terutama pengambilan karang sebagai hiasan dan bahan bangunan serta usaha penangkapan berbagai jenis ikan hias yang menggunakan bahan racun pada kadar tertentu dengan tujuan agar supaya ikan tertangkap dalam keadaan pingsan. bahan baku industri pupuk dan farmasi tanpa memperhatikan prinsip-prinsip ekologi. Jika kegiatan yang berhubungan dengan terumbu karang tidak segera dilakukan dengan baik maka prosentas terumbu karang dengan kriteria kritis akan bertambah dengan cepat (Anonymous. tempat berkembang biak. aneka- ragam spesies dan ekosistem beradaptasi secara baik melalui simbiose internal dan intra komunitas. Teluk Persia bagian utara dan pantai di sekitar Hongkong tidak dijumpai terumbu karang karena merupakan daerah. 1987). mencari makan dan berpijah bagi berbagai jenis biota laut. Kekecualian tersebut terdapat di daerah lintang tinggi yang mendapat aliran arus hangat. 1983). 3. sebagai akibat pengeksploitasiannya yang tidak terkendali. Daerah Penyebaran Terumbu Karang Luas daerah terumbu karang di dunia sedikitnya mencapai 600. 1983. Penyebaran geografis terumbu karang dipengaruhi oleh suhu dan hampir semuanya hanya ditemukan pada perairan yang dibatasi oleh permukaan yang isoterm 20 o C (Barnes. Daerah yang mempunyai keragaman spesies karang yang lebih banyak akan lebih bervariasi populasi ikannya. mempunyai kestabilan. Di sisi lain terumbu karang sebagai sumberdaya dieksploitasi sebagai bahan bangunan. suhu dan pengenceran oleh air tawar yang melampaui batas toleransi bagi pembentukan dan pertumbuhan terumbu karang. terutama mendominasi perairan dangkal daerah tropis. 1971). Hal ini jelas akan berpengaruh terhadap ekosistem teumbu karang yang ada disekitarnya. 1983). dengan beberapa kekecualian. Nybakken. di Laut Tasmania (Sheppard.. Ekosistem Terumbu Karang A. dan pada 32 o LS. Oleh karena itu terumbu karang digolongkan sebagai salah satu ekosistem khas yang terdapat di daerah tropis dan sering digunakan untuk menentukan batas lingkungan perairan laut tropis (Odum. 1983 dalam Berwick. sebagai contoh yaitu dijumpainya terumbu karang di perairan Indo-Pasifik pada daerah 35o LU. 1987) dan di pantai Lombok Barat. 1971). Walaupun begitu di daerah tropis tidak akan terdapat terumbu karang bila suhu air laut. 1992). White. 21 dan kira-kira hanya 7 % yang kondisinya sangat bagus. Adanya kerusakan terumbu karang akan mengakibatkan pula perubahan keragaman organisme penghuni terumbu karang Menurut Risk (1972) di perairan terumbu karang terdapat indikasi adanya hubungan antara keragaman spesies ikan dengan kompleksitas substrat.3. yang tersebar di daerah antara 30o LU dan 30o LS. seperti pantai Barat Afrika dan sebagian besar pantai Barat Amerika Utara dan Selatan (Sheppard. perlu dijaga dan dilestarikan keberadaannya. industri dan pariwisata.3. Di beberapa bagian perairan laut saat ini berlansung perusakan terumbu karang sudah pada tingkat yang menghawatirkan. 1983 dalam Berwick. di dekat Kepulauan Jepang. Demikian juga halnya di daerah pantai tropis yang mendapat aliran arus dingin.daerah yang memiliki kekeruhan. Akan tetapi tidak kebal terhadap gangguan aktivitas manusia dan mudah sekali diserang oleh faktor-faktor perusak (ekosistem yang fragile) (Odum. 1987) serta Kepulauan Seribu. Bertambahnya berbagai aktivitas manusia yang berorientasi di daerah terumbu karang akan menambah tekanan dan sebagai dampaknya adalah turunnya kualitas terumbu karang. antara lain Teluk Ambon (Yusron dan Syahaetua. Mengingat terumbu karang mempunyai arti penting baik ditinjau dari segi ekologi sebagai penyangga kehidupan maupun segi potensi ekonomi berupa usaha perikanan. Keadaan serupa terjadi pula pada daerah terumbu karang di perairan Pasir Putih Selat Madura.

38o) C. seperti Gymnodinium microadriatum. B. distribusi dan stabilitas ekosistem terumbu karang adalah suhu. Karang hermatipik adalah karang yang mengahsilkan terumbu dan penyebarannya hanya ditemukan di daerah tropis. 1980. tetapi peran karang lunak juga tidak kalah penting dalam penyusunan fisik terumbu karang (Manuputty. 1981). karena cahaya matahari menentukan berlangsungnya proses fotosintesa bagi alga yang bersimbiosa di dalam jaringan karang (Berwick. Bahan Pembentuk Terumbu Karang Terumbu karang merupakan endapan (deposit) padat kalsium (CaCO 3). 1983). Penetrasi cahaya matahari memainkan peranan penting dalam pembentukan terumbu karang. yaitu sejenis alga unisular ( dinof. tersedianya aliran suplai makanan berupa plankton dan oksigen serta terhindarnya karang dari timbunan endapan (Sukarno. Barnes (1980) menyatakan bahwa terumbu karang dapat hidup sampai kedalaman 60 m. tidak ada terumbu karang yang berkembang pada perairan yang suhu minimum tahunannya di bawah 18o C. 1983). Selain itu zooxanthellae juga terdapat dalam berbagai jenis inverteb- . sedangkan suhu maksimumnya berkisar antara (35o . 1983). 1983. Karang terdiri dari dua kelompok. Arus diperlukan oleh terumbu karang. 1983).35 ) o/oo Nybakken. cahaya matahari. Walaupun penyusun utama ekosistem terumbu karang adalah karang batu.25o) C. Berwick. Menurut Berwick (1983) suhu optimum bagi terumbu karang berkisar antara (25o . 1983). Karang hermatipik bersimbiose dengan alga tersebut. 22 1980. Nybakken. Untuk hidupnya terumbu karang memerlukan air laut yang bersih dan jernih. Asosiasi simbiotik antara zooxanthellae dengan karang demikian eratnya hingga sangat menentukan metabolisme hewan terse. arus (pergerakan) air. 1986). 1983. yang terdapat di dalam jaringan karang. Nybakken (1983) menyatakan bahwa terumbu karang tidak dapat berkembang di perairan yang lebih dalam dari (50 .40o) C (Nybakken. karang batu (Scleractinia) merupakan penyusunan yang paling penting (Barnes. yaitu karang her-matipik dan karang ahermatipik. 1983).lagellata unisular). terutama karang hermatipik merupakan organisme laut sejati dan kebanyakan spesies sangat sensitif terhadap perubahan salinitas yang lebih tinggi atau lebih rendah dari salinitas normal air laut ( 30 . Sedangkan karang ahermatipik adalah karang yang tidak menghasilkan terumbu dan kelompok karang ini tersebar luas di seluruh dunia. tergantung pada jenisnya. kejernihan air. sedangkan karang ahermatipik tidak (Ditlev. Nybakken. Menurut Berwick (1983) dan Nybakken (1983). menurut Vaughan dalam Sukarno (1981) kedalam maksimum untuk terumbu karang adalah 45 m. Bewick. Menurut Barnes (1980) terdapat lebih dari 60 genera karang yang bersimbiose dengan zooxanthellae. 1980.70) m dan kebanyakan terumbu karanmg tumbuh pada kedalaman 25 m atau kurang. 1983). Yang menjadi perbedaan utamaantara karang hermatipik dengan karang ahermatipik adalah adanya simbiose mutualisme antara karang dengan zooxanthellae. apabila terjadi kekeruhan pada air laut akan mempengaruhi penetrasi cahaya matahari sehingga laju pertumbuhan dan produksi terumbu karang (Berwick. Selanjutnya dinyatakan bahwa substrat yang keras dan bersih dari lumpur diperlukan untuk membentuk koloni baru. salinitas. dan substrat (Barnes. sedangkan suhu maksimum yang dapat ditoleransi oleh terumbu karang adalah (36 o . Ditlev. 1980). kemampuannya untuk membentuk kerangka dan sebaran vertikalnya. menurut Ditlev (1980) pada perairan yang jernih di se-kitar samudera terumbu karang dapat mencapai kedalaman lebih dari 80 m. 1980. yang dihasilkan oleh karang dengan sedikit tambahan dari alga berkapur (Calcareous alga) dan organisme-organisme lain yang mensekresi kalsium karbonat (CaCO3) yang berperan dalam pembentukan terumbu karang modern. Oleh karena itu distribusi vertikal terumbu karang dibatasi oleh kedalaman efektif sinar matahari yang masuk. Nybakken. Berwick.but. Faktor- faktor pembatas bagi kehidupan.29o) C. 198. Terumbu karang. Perkembangan optimal untuk terumbu karang adalah pada perai- ran yang suhu rata-rata tahunannya (23 o .

Famili : Milleporidae Ordo : Stylasterina. 23 rata di terumbu karang sehingga memberikan petunjuk bahwa peranan alga tersebut sangat penting dalam ekosistem terumbu karang (Nybakken. Kebutuhan akan cahaya matahari tidak diragukan lagi adalah untuk zooxanthellae (Nybakken. Goreau (1961. Ektoderm merupakan jaringan terluar yang mempunyai cilia. Klasifikasi. yang terdiri dari bagian yang lunak dan bagian yang keras berbentuk kerangka kapur.kira 10 kali lebih cepat dari pada karang yang tidak membentuk terumbu (ahermatipik) dan tidak bersimbiose dengan zooxanthellae (Ditlev. kantung lendir (mucus) dan sejumlah nematokis (nematocyst). Oculinidae. 1983. Endoderm merupakan jaringan yang paling dalam dan sebagian besar berisi . 1984). 1980). C. Oleh karena itu karang hermatipik mempunyai sifat yang unik. yaitu perpaduan antara sifat hewan dan tumbuhan. menurut Ditlev (1980) adalah : Filum : Cnidaria Kelas : Anthozoa Sub kelas : Zooantharia Ordo : Scleractinia Sub ordo : Atrocoeniina Famili : Pocilloporiidae. Famili : Caryophylliidae Sub ordo : Dendrophylliina. Makanan yang masuk dicerna oleh filamen mesentry dan sisa makanan dikeluarkan melalui mulut. Merulinidae. Famili : Dendrophylliidae Sub kelas : Octocorallia Ordo : Stolonifera. kira. Pectinidae. 1983. Mesoglea adalah jaringan yang terletak antara ektoderm dan endoderm. Namun mekanisme zooxan-thellae meningkatkan laju pertumbuhan kerangka karang sampai saat ini belum diketahui secara jelas. Jaringan tubuh terumbu karang terdiri dari ektoderm. dalam Nybakken. Thamnasteriidae. mesoglea dan endoderm. Mussidae. Tetapi Barnes (1980) menjelaskan bahwa adanya proses fotosintesa oleh alga menyebabkan bertambahnya produksi kalsium karbonat dengan menghilangkan karbon dioksida dan merangsang reaksi kimia sebagai berukut : Ca(HCO3)2 <===> CaCO3 + H2CO3 <===> H2O + CO2 Fotosintesa oleh alga yang bersimbiose membuat karang pembentuk terumbu menghasilkan deposit cangkang yang terbuat dari kalsium karbonat. Organ mulutnya terletak di bagian atas yang sekaligus berfungsi sebagai anus. sehingga arah pertumbuhannya selalu bersifat fototropik positif. Nontji. Individu karang (koral) disebut polyp.Siderastredae. Sub ordo : Caryophylliina. Suharsono. Poritidae Sub ordo : Faviina Famili : Faviidae. 1983) menyatakan bahwa zooxanthellae meningkatkan laju proses kalsifikasi (pembentuk kapur) yang dilakukan oleh karang dan laju pertumbuhan koloni karang. Fungiidae. 1984). Anatomi Terumbu Karang Karang dapat hidup berkoloni maupun soliter. Famili : Helioporidae Kelas : Hydrazoa Ordo : Milleporina. bentuknya seperti agar- agar (jelly). Acroporidae Sub ordo : Agariciidae. Trachyphyllidae. Meandrinidae. Famili : Tubiporidae Ordo : Coenothecalia. Famili : Stylasteridae D.

zooxanthellae menyediakan makanan. Bila berkontraksi. 1981). 1983). Atol merupakan terumbu yang berbentuk cincin yang muncul dari perairan dalam dan jauh dari daratan.5 ton/km2/tahun dengan potensi perikanan karang seluruhnya mencapai 2. Banyaknya lubang dan celah di terumbu karang memberikan tempat tinggal. 1983). seperti pada sebagian besar anggota filumnya. dimana polyp karang menetap. Kondisi fisik terumbu karang yang kompleks memberikan andil bagi keragaman dan produktivitas biologinya. polyp memjadi kecil dan berada dalam cangkang sehingga menyulitkan predator yang akan memangsanya (Barnes. E. Menurut Barnes (1980) karang memangsa ikan-ikan kecil sampai zooplankton. terumbu penghalang (barrier reef) dan terumbu tepi (fringing reef). 1984). tempat mencari makan dan berkembang biak bagi ikan dan biota yang ada di perairan terumbu karang maupun yang berasal dari lingkungan sekitarnya. 1982. F. Pada bagian lantai terdapat dinding septa yang terbuat dari kapur tipis (radiating cacareous septa). Dari gambaran di atas tampak jelas bahwa ikan-ikan tersebut memberikan andil besar terhadap ekosistem terumbu karang. dalam Nybakken. 1987 dalam Aktani 1988). Umumnya berkontraksi. perlindungan. cangkang (terutama sklerosepta/septa) juga memberikan perlindungan. terumbu penghalang dibatasi oleh jarak lebih besar dan perairan lebih dalam dibandingkan dengan terumbu tepi (Nontji. Karang memiliki tentakel yang dipenuhi oleh kapsul-kapsul berduri (nematoksis) yang dipergunakan untuk menyengat dan menangkap mangsa (Nybakken. tergantung dari ukuran polyp karang. bila karang tidak menperoleh makanan. dinding yang mengelilingi cawan disebut theca dan lantai cawan disebut lempeng basal (basal plate). Karang merupakan hewan karnivora. perlindungan. 1988). Jenis-jenis ikan ekonomis penting tertentu memiliki asosiasi dengan ekosistem terumbu karang. tempat mencari makan dan berkembang biak bagi berbagai jenis ikan dan invertebrata yang ada di perairan terumbu karang maupun yang berasal dari lingkungan sekitarnya. Umumnya ukuran diameter polyp karang yang berbentuk koloni 1 . Tipe Terumbu Karang Bentuk umum struktur terumbu karang dapat digolongkan tiga tipe yaitu atol.7 juta metrik ton/tahun (Berwick. Suharsono. Rangka karang terdiri dari kristal kalsium karbonat dan disekresikan oleh epidermis yang berada di pertengahan bawah polyp. Cawan tersebut dinamakan calyx. sedangkan beberapa jenis yang soliter ada yang mencapai 25 cm. banyaknya lubang dan celah di terumbu karang memberikan tempat tinggal. Terumbu penghalang dan terumbu tepi keduanya berdekatan dengan daratan. Masing-masing komponen dalam komunitas ini mempunyai ketergantungan yang erat satu dengan yang lain (Nybakken.5 . 1987). Biota yang hidup di daerah terumbu karang merupakan suatu komunitas yang meliputi kumpulan kelompok biota dari berbagai tingkat trophik. Proses sekresi ini menghasilkan rangka cawan (skeletal cup). Selain mendapatkan makanan dari luar tubuhnya karang juga mendapatkan bahan makanan dari alga zooxanthellae yang bersimbiose dengannya. Ekologi Ikan-Ikan Karang Kondisi fisik terumbu karang yang kompleks memberikan andil bagi keragaman produktivitas biologinya. Disamping memberikan tempat hidup bagi polyp karang. Masing. 1980). Biota yang hidup di daerah terumbu karang merupakan suatu komunitas yang meliputi kelompok biota dari berbagai tingkat tropik. Menurut Salm (1984) . 1983) atau diduga sekitar 9 -12 % dari total hasil perikanan dunia yang bernilai 70 juta ton/tahun (White. tetapi menurut Barnes (1980) zooxanthel- lae yang bersimbiose berada di dalam jaringan gastroderm. Hal ini dibuktikan oleh Frazisket (1969. Hasil perikanan dari perairan terumbu karang dan perairan dangkal di sekitar berkisar antara 2.3 mm. 24 zooxanthellae (Nybakken.masing kompoenen dalam komunitas ini mempunyai ketergantungan yang erat antara satu dengan yang lain (Sukarno.

Atherinidae) dan karnivora. chaetodontidae) dan jenis omnivora yang mencabut polyp karang untuk mendapatkan algae yang berlindung di dalaam rangka karang (famili Acnthuridae. chaetodontidae). Monocanthidae. Balistidae. sehingga banyak ikan-ikan yang menempati wilayah tertentu. Pendapat lain menyatakan bahwa ikan-ikan tersebut memang memiliki relung (niche) ekologi yang lebih sempit sehingga lebih banyak spesies yang hanya bergerak (berakomodasi) di dalam area tertentu. Kekayaan jenis ikan karang sebanding dengan jenis karang yang ada.000 kg/nelayan/tahun. Maka sebagai akibatnya ikan-ikan karan terbatas dan terlokalisasi di area tertentu pada terumbu karang( Nybakken. Dapat dikatakan bahwa daerah pusat indo Pasifik. 25 hasil tangkapan ikan di perairan terumbu karang dan sekitarnya dapat mencapai 5. . yaitu jenis yang memakan karang (famili Tetra-odontidae. Hanya beberapa spesies saja yang planktivora (Clupeidae. Ikan yang omnivora jumlahnya mencapai 50 70 %. Dua kelompok ikan yang secara aktif memangsa koloni karang. yang biasanya ditujukan oleh prosentase penutupan karang hidup (life coverage). Balistidae. Perbedaan habitat terumbu karang dapat mendukung adanya perbedaan kumpulan ikan-ikan. Salah satu pendapat menerangkan bahwa diversitas spesies ikan karang yang tinggi disebabkan oleh banyaknya variasi habitat yang terdapat di terumbu karang. Fisiografi dasar perairan adalah faktor utama yang menentukan distribusi dan kelimpahan ikan-ikan karang. Kepulauan Filipina dan Indonesia yang kaya akan keragaman jenis karangnya mempunyai sejumlah besar spesies ikan dan jumlah tersebut menurun pada daerah yang semakin jauh dari kepulauan. Oleh karena itu interaksi intra dan inter spesies berperan penting dalam penentuan perwilayahan (spacing. Scaridae). Monocanthidae. 1988). Oleh karena itu keberadaan ikan-ikan karang juga sangat dipengaruhi oleh kondisi atau kesehatan terumbu karang. Kelompok ke dua sekitar 15 % adalah ikan herbivora dan pem-angsa karang. hampir meliputi semua ikan di terumbu karang (famili Tetra-odontidae.

1988) 3. 26 Piskovora Besar (hiu.3. seranida tengah (karangida) - kecil. Heyne pada tahun 1922 mencatat 21 jenis rumput laut yang bermanfaat.4. Dari berbagai jenis rumput laut yang bermanfaat di Indonesia. Karang perairan tengah (ikan kerapu kecil) betok laut. Daftar jenis-jenis rumput laut tersebut telah ditambah dan diperluas oleh Zaneveld pada tahun 1955 dengan memasukkan jenis-jenis yang ekonomis dari kawasan Asia Tenggara.ikan Pemangsa detritus Invertebrata bibir. Pendahuluan Inventarisasi rumput laut di beberapa tempat di Indonesia telah dilakukan sejak lama. RUMPUT LAUT 3.4. klupeida - Zooplankton - Herbivora ikan pakol. karangida. 1977 dalam Nybakken. Kelas Rhodophyceae dapat menghasilkan agar-agar dan karaginan. Produksi tersebut . barakuda Pemangsa ikan kecil Piskovora perairan (kerapu. Diantara jenis-jenis rumput laut yang terdapat di Indonesia. Indonesia dan Filipina merupakan negara penghasil Eucheuma terbesar dengan produksi sebesar 85 % dari jumlah total tanaman tersebut di dunia. karangida) Pemangsa karang (ikan buntal. kerapu. belosoh (belanak) bentik - Algae bentik Detritus Fitoplankton Gambar 3. ikan kakatua) Pemangsa invertebrata Pemangsa invertebrata bentik (ikan kepe-kepe . Hubungan trofik pada ikan-ikan karang (Sumber: Connel.1.

 Industri kosmetik. karang. Negara produsen Gracilaria yang terbesar adalah Chili dengan produksi mencapai sekitar 47 ribu ton berat kering per tahun. puding. Dalam dunia industri karaginan berbentuk garam dengan Sodium.. Kadar agar-agar. Menurut Perez. Calcium dan Potasium. Perez et al. et al.(Soegiarto et al. selain yang dikenal sebagai 'agar-agar'. karaginan dan algin yang dikandung oleh rumput laut tidaklah sama. dan dinamika) dan macam-macam substrat sangatlah menentukan terhadap pertumbuhan rumput laut. Rumput laut hidup sebagai filobentos dengan menancapkan atau melekatkan dirinya pada substrat pasir.. Cahaya matahari adalah faktor utama yang sangat dibutuhkan oleh tanaman laut guna melakukan fotosintesa. Tinggi rendahnya kandungan tersebut tergantung pada jenis rumput lautnya.  Industri konsumsi rumah tangga : Zat ini digunakan sebagai agen tambahan pada produk seperti pasta gigi. baik oleh perusahaan ataupun industri rumah. et al. dan Hypnea spp. Gracilaria spp. terutama mengandung bahan karaginan. batu ataupun kayu. Sebaliknya komoditas yang mempunyai pasaran ekspor seperti Eucheuma alvarezii. dan Algin adalah produk hasil olahan rumput laut dan merupakan zat yang cukup penting dalam dunia perdagangan dan industri. merupakan bahan dasar pokok untuk pembuatan agar-agar di Indonesia. kulit kerang. dan dengan menurunnya nilai rupiah terhadap beberapa mata uang asing telah membuat terpuruknya beberapa usaha komoditas tertentu. jelly rendah kalori dan makanan hewan piaraan. yaitu iota. Rumput laut tumbuh hampir di seluruh hidrosfir sampai batas kedalaman kurang dari 300 meter. penebal. Aplikasi agar hasil ekstraksi Gracilaria dipakai dalam berbagai industri. keju. 1978. es krim. farmasi dan bioteknologi. (1992) agar biasa dipakai dengan menggunakan kode E 407. Eucheuma alvarezii atau yang disebut dalam dunia perdagangan dengan Eucheuma cottonii adalah rumput laut yang mempunyai banyak kegunaan. Seiring dengan adanya krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak 1997 yang lalu. Zat-zat tersebut adalah fikoloid berbentuk polysacharida. Menurut Perez. kimiawi. Agar- agar. kosmetik. 1999). Aplikasi Karaginan hasil ekstraksi Eucheuma dipakai dalam berbagai industri. sedangkan Indonesia menghasilkan sekitar 2 ribu ton berat kering per tahun pada kurun waktu lima tahun terakhir. Pada saat ini produksi dan nilai ekspor Eucheuma dari Indonesia ke beberapa negara naik seiring dengan fluktuasi nilai dolar Amerika. suspensi dan stabilisator. (1992) ada empat jenis karaginan. lambda yang dihasilkan dari Chondrus crispus dan betha yang dihasilkan dari Eucheuma gelatinae. yang dihasilkan oleh Eucheuma spinosum. penebal. Rhodophyceae mengandung bahan yang disebut agar-agar dan karaginan. 1992) Rumput laut jenis Gelidium spp. suatu kedalaman dimana masih dapat ditembus oleh cahaya matahari. susu evaporasi. . jenis ini umumnya diekspor. shampo. suspensi dan stabilisator. zat ini digunakan sebagai gel. dan produk farmasi. bahkan juga daerah dan iklim ikut mempengaruhi kadarnya. Karaginan. mengandung karaginan yang banyak dibutuhkan oleh dunia industri. dalam kenyataannya menambah nilai ekspor dan devisa negara. 27 didapatkan dari hasil budidaya yang dimulai pada tahun delapan puluhan (Risjani. Iklim dan letak geografis menentukan pula jenis-jenis rumput laut yang tumbuh. Faktor-faktor oseanografis (fisika. yaitu:  Idustri pangan. Agar atau dalam bahasa populernya agar-agar yang dikandung rumput laut jenis ini merupakan produk hasil olahan rumput laut dan zat yang cukup penting dalam dunia perdagangan dan industri. sedangkan Eucheuma alvarezii menghasilkan karaginan jenis kappa. Algin dapat diekstrak dari Phaeophyta. fragmen karang mati. Aplikasi zat ini dapat dijumpai pada produk-produk coklat. Jenis rumput laut yang belum diolah tetapi cukup penting adalah Eucheuma spp. yaitu:  Idustri pangan : Karaginan digunakan sebagai gel.

4. lemak. Metode rakit yang banyak diterapkan di Jawa Timur ini praktis dilakukan pada perairan dengan kedalaman air pada saat surut lebih dari 60 cm. Inventarisasi usaha dan sumberdaya rumput laut di Jawa Timur belum dilakukan dan kurangnya informasi tentang hal ini menyebabkan sulitnya memperoleh data-data yang dibutuhkan bagi setiap institusi. .3. Adapun jenis-jenis yang bernilai ekonomis di daerah tersebut tersaji pada Tabel 3. serat kasar dalam beberapa jenis rumput laut juga berbeda bergantung jenisnya. dan di perairan sesuai dengan kondisi lingkungannya yang mendukung metode lepas dasar. Bali. Di daerah tersebut berbagai jenis rumput laut tumbuh di daerah pantai berkarang dan telah ditemukan lebih dari 30 jenis. di Jawa Timur terdapat berbagai spesies yang ekonomis penting dan dapat dikembangkan. jenis-jenis dari golongan Rhodophyceae dan Phaeophyceae yang dominan. yaitu Eucheuma dan Gracilaria. kecuali beberapa jenis dari golongan Phaeophyceae. Diantara jenis- jenis yang ditemukan di bagian selatan Jawa Timur. Kandungan air. Cara pertama masih belum dikembangkan khususnya untuk rumput laut jenis Eucheuma dan Gracilaria. Metode ini diterapkan berdasarkan metode yang dilakukan di perairan Filipina. sehingga Perez. Metode ini sering ditemukan di daerah pantai Nusa Penida.4. karbohidrat. Metoda lepas dasar biasanya diterapkan pada perairan terumbu karang dengan dasar perairan yang terdiri dari pasir bercampur pecahan karang dan kedalaman waktu surut antara 30-60 cm. 3. Seperti telah disebutkan diatas. dan sedikit serta terbatasnya informasi sumberdaya rumput laut di Jawa Timur. Berdasarkan sifat reproduksi vegetatif ini dikenal dua metode yang sudah banyak diterapkan yaitu metode lepas dasar dan metode rakit. pengusaha dan nelayan. dianggap masih belum lengkap dan masih memerlukan penyempurnaan dalam penyajiannya. Rhodophyceae dan Chlorophyceae. protein. maka penelitian tentang potensi sumberdaya rumput laut di Jawa Timur perlu dilakukan. Pengembangan sumberdaya spesies lain yang potensial belum dilakukan dan banyak spesies lain yang belum dikenal. et al (1992) menyebut metode ini dengan metode/sistem Filipina. Biasanya thallus tanaman diikatkan pada seuatas tali yang direntangkan dalam air dengan bantuan patok kayu atau bambu yang ditancapkan kedasar pasir. Budidaya rumput laut dapat diterapkan secara generatif melalui perkembangan spora dan vegetatif melalui pekembangan stek thallus. Mengingat pentingnya informasi sumberdaya ini. 28 Disamping mengandung bahan atau zat yang seperti tersebut diatas. Permasalahan Inventarisasi dan penilaian potensi sumberdaya rumput laut merupakan salah satu langkah awal dalam perencanaan pengembangan potensi sumberdaya perikanan. tetapi pada kenyataanya di Indonesia pada umumnya dan di Jawa timur pada khususnya hanya 2 jenis yang banyak dikenal oleh masyarakat pantai dan telah dibudidaya. Sistem ini dilakukan berdasarkan kemampuan setiap potong thallus untuk tumbuh dan membuat percabangan baru. Disamping itu data statistik Perikanan. Di Indonesia telah dikenal sistem budidaya berdasarkan sifat reproduksi vegetatif yang dapat dilakukan dengan mudah. rumput laut juga memiliki kandungan-kandungan lain. yang terdiri dari klass-klass Phaeophyceae.4.1. khususnya tentang sumberdaya rumput laut. Rakit biasanya terbuat dari bambu berupa petak atau persegi panjang yang ukurannya dibuat sesuai keinginan petani. Sumberdaya Rumput Laut di Jawa Timur Inventarisasi jenis-jenis rumput laut di Jawa Timur bagian Selatan telah dilakukan oleh peneliti-peneliti dari Universitas Brawijaya pada tahun 1993.2. lembaga. 3.

permeabilitas sedang. PERIKANAN Air Payau 1. Jenis-jenis rumput laut ekonomis.30oC. juga daerah dan iklim ikut mempengaruhi kadarnya. drainase agak cepat hingga agak baik. Kadar zat ini yang dikandung oleh genus Eucheuma berbeda satu dengan lainnya.1. Jenis rumput laut ini mengandung karaginan yang merupakan fikoloid berbentuk polysacharida. 3 Gracilaria spp.0.5. Jenis ini adalah jenis rumput laut merah (Rhodophyceae) yang menurut sistematika Dawson (1946) berada dibawah ordo Gigartinales. 3.5 dan kisaran optimumnya 6. Hasil Produksi ikan tambak yang diusahakan pada berbagai kondisi lahan dan manajemen belum diperoleh data yang akurat. 4 Eucheuma spinosum 5 Eucheuma cottonii 6 Hypnea spp. Curah hujan tidak menjadi masalah jika sumber air tawar (sungai) tersedia. Ordo Ceramiales dan Famili Solieriaceae. No Rumput laut 1 Gelidium spp. diantaranya: Eucheuma Eucheuma yang banyak dijumpai di Indonesia adalah Eucheuma cottonii atau alvarezii dan Eucheuma spinosum yang merupakan jenis rumput laut bermanfaat karena menghasilkan karaginan yang dipakai oleh industri. Tanah Persyaratan kebutuhan tanah untuk pencetakan tambak adalah : kedalaman tanam minimum 75 cm.4. 2. 3. Iklim Temperatur berkisar antara 15 . Disamping jenis jenis yang tumbuh secara alami. jenis lain seperti Gracilaria juga bermanfaat karena menghasilkan agar yang dipakai oleh industri. Tinggi rendahnya kandungan tersebut tergantung pada jenis (varietas) rumput lautnya. 29 Tabel 3.2 - 8.0-7. dan kisaran optimumnya 18-20oC. 2 Gelidiella spp. Gracilaria Selain Eucheuma yang menghasilkan karaginan. tekstur pasir berlempung hingga liat (tipe 1:1) dengan reaksi tanah (pH ) antara 5. tingkat kesuburan tanah sedang. Jenis ini adalah jenis rumput laut merah (Rhodophyceae) dengan sistematika (Dawson. 1946) termasuk klas Rhodophyceae (alga merah). Persyaratan penggunaan lahan untuk: PERIKANAN AIR PAYAU Persyaratan penggunaan/ Karakteristik lahan Kelas kesesuaian lahan: S1 S2 S3 N . khususnya di Jawa Timur. terdapat pula jenis-jenis yang telah dibudidayakan di Indonesia.

Kemampuan sumberdaya alam dan lingkungan hidup untuk menunjang kebutuhan pembangunan bersifat tidak tak-terbatas. dan timbulnya dampak negatif harus dikendalikan seminimum mungkin. s ah Ak k Bahan kasar (%) <15 15-35 35-55 >55 Kedalaman tanah (cm) >100 75-100 40-75 <40 Gambut: Ketebalan (cm( <50 50-100 100-150 >150 + dg sisipan/pengkayaan <50 50-150 150-200 >200 Kematangan Saprik+ Saprik Hemik Fibrik Hemik+ Febrik+ Bahaya sulfidik (cm): Kedalaman sulfidik (cm) >100 75-100 50-75 <50 Retensi hara (nr) KTK liat (cmol) >16 <= 16 Kejenuhan basa (%) >50 35-50 <35 PH (H2O) 5.8 Bahaya banjir (fh): F0 F1 F2 >F3 Genangan Penyiapan lahan (lp) Lereng (%) <1 1-2 2-3 >3 Batuan di permukaan (%) <5 5-15 15-40 >40 Singkapan batuan (%) <5 5-15 15-25 >25 Keterangan: Tekstur: h = halus.6 5. penggunaan sumberdaya alam dan jasa lingkungan hidup harus sebijaksana mungkin sehingga tidak mengakibatkan kerusakan lingkungan yang dapat mengancam kelestariannya. s = sedang. Dalam melaksanakan pembangunan.1.2 0. Hal ini mengandung makna bahwa sejalan dengan peningkatan kebutuhan pembangunan.5 C-organik (%) >1.5 Ketersediaan oksigen (oa) Oksigen Banyak Cukup Agk kurang Kurang Tanah (rc) Tekstur h.2 <0. ah= agak halus. UUD 1945 sebagai landasan konstitusional dalam bernegara telah menggariskan bahwa pemanfaatan sumberdaya alam adalah untuk sebesar-besar kemakmuran seluruh masyarakat. Pendahuluan Aktivitas pembangunan tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan akan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan hidup. keseimbagan alam harus dijaga.6-7.4-5. mau tidak mau tingkat kelangkaan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan hidup akan semakin nyata. Dalam hubungan ini.5 <5.5 3-3. ak = agak kasar. 30 Temperatur (tc) Temperatur rataan (oC) 12-24 24-27 27-30 > 30 10-12 8-10 <8 Ketersediaan air (wa) Sumber air tawar berlimpah cukup Kurang Tdk ada Amplitudo pasang surut (m) 1-2 2-3 0. PENDEKATAN DAN KERANGKA KONSEP: ANALISIS POTENSI & PENGEMBANGAN WILAYAH PESISIR 4.4 >8. Penggunaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup dalam proses pembangunan harus memperhatikan konservasi dan upaya rehabilitasi untuk melestarikannya.5-1 <0.6-8. + : gambut dengan sisipan/pengkayaan bahan mineral.5 >3.6 7. .8-1. IV.

dan kemudian mengarah kepada enerji nuklir. Potensi ikan/hasil tangkapan dianggap sangat banyak dan setiap tahun senantiasa diketemukan potensi baru. minyak dan gas bumi. Sifat dapat-pulih ini seringkali sangat tergantung pada metode pengelolaan non-destruktif yang diterapkan. . Beberapa cadangan sumberdaya alam bersifat dapat diperbarui (renewable) oleh proses alamiah atau dibantu manusia. Isu-isu pokok tentang sumberdaya alam kelautan (1). hasil tambak air-payau. Selain itu juga perlu diperhitungkan kerusakan dan degradasi lingkungan hidup akibat eksploitasi sumberdaya alam. terutama dalam konteks hubungan antara produsen dan konsumen. tetapi lokasi cadangan tersebut tersebar luas dan tidak sama dengan lokasi pusat konsumsinya. Hal ini akan mendatangkan berbagai implikasi. Sehubungan dengan hal ini maka optimasi penggunaan sumberdaya alam harus dapat dicapai dengan keterpaduan pertimbangan aspek-aspek ekonomi dan keles-tarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Untuk itu perlu diketahui berbagai metode untuk menilai potensi sumberdaya alam dan lingkungan hidup sebagai dasar bagi penyusunan kebijakan pengelolaannya. Hal ini berkonsekuensi pada tingkat pemanfaatan sumberdaya alam yang cukup tinggi. dan air permukaan dianggap sebagai sumberdaya alam yang dapat diperbarui. Akan tetapi pada jaman sekarang pengertian tersebut harus diperluas untuk dapat mencakup sistem-sistem lingkungan dan sistem-sistem ekologi (ekosistem). Penggunaan sumberdaya alam mencakup konsumsi langsung seperti ikan hasil tangkapan. budidaya perikanan. Dalam bidang perikanan telah terjadi pergeseran dari penggunaan bahan pakan alami ke arah enerji mekanik dan pakan sintetik . 4. Sebagai teladan adalah pergeseran konsumsi bahan bakar. Kebijakan-kebijakan yang keliru ini telah menimbulkan berbagai bencana dan eksternalitas lingkungan. 4. sedangkan sumberdaya alam lainnya tidak dapat diperbarui (non-renewable).2. mulai dari kayu bakar beralih ke batu-bara. "Lokasi cadangan/potensi sumberdaya yang tersebar". Dalam beberapa kasus ternyata sumberdaya alam dapat bersifat multi-guna. garam.3. dan kayu bakau. wisata-bahari. ekonomi dan sosial-budaya yang ada. angin. Radiasi surya. 31 Dalam hubungan ini maka penting diketahui secara tepat potensi dan kondisi sumber-daya alam dan lingkungan hidup yang ada sekarang serta kecenderungan-kecenderungan di masa mendatang. Namun demikian penggunaan istilah "sumberdaya alam" secara tradisional menunjuk kepada sumberdaya dan sistem-sistem yang terdapat secara alamiah dan berguna bagi manusia atau dapat dimanfaatkan oleh manusia pada tingkat teknologi. yang dapat mengarah kepada eksplotasi sumberdaya alam dan pada akhirnya dapat mengurangi ketersediaan sumber daya alam. sedangkan bijih mineral dan bahan bakar fosil dianggap tidak dapat diperbarui. (2). "Pergeseran historis dari ketergantungan pada sumberdaya alam dapat pulih ke arah ketergantungan pada sumberdaya yang tidak dapat pulih". enerji pasang-surut. karena beberapa macam perubahan sumberdaya alam sifatnya tidak dapat balik (irreversible). Evaluasi kontemporer tentang "kebijakan masa lalu tentang penggunaan sumberdaya alam". (3). Kegiatan pembangunan memerlukan modal dasar sumber daya alam untuk me-wujudkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang diharapkan. Karakteristik dan Batasan Sumberdaya alam kelautan dapat meliputi semua benda hidup dan mati yang ada di laut. Berbagai kejadian membuktikan adanya eksploitasi sumberdaya alam kelautan secara tidak bijaksana yang mengakibatkan degradasi.

4. (5). (2) ketidak-pastian geologis: deskripsi dan inventarisasi kuantitas. dan (4) ukuran- ukuran yang menyatakan sampai dimana kapital dan tenagakerja dapat disubstitusikan untuk menggantikan masukan sumberdaya alam dalam suatu proses produksi. 32 (4). reserves" secara klasik dapat digunakan untuk menyatakan kuantitas dan kualitas sumberdaya tertentu yang telah diketahui keberadaannya.4. Beberapa pakar ekonomi sumberdaya berpendapat bahwa "sesuatu komoditi yang mempunyai harga positif dalam pasar kompetitif adalah langka". (3) biaya ekstraksi fisik (tidak termasuk 'royalty'). Inovasi teknologi telah secara meyakinkan mengakibatkan perubahan harga-harga relatif sumberdaya alam. . sumberdaya dasar dan cadangan sumberdaya". Kelangkaan Sumberdaya Pertanyaan sederhana yang sangat merisaukan adalah apakah tingkat "kelangkaan sumberdya alam" semakin meningkat atau menurun?. Secara historis telah terbukti bahwa mekanisme pasar memainkan peranan penting dalam menentukan aktivitas eksplorasi dan laju penggunaan sumberdaya alam kelautan. dan Eksplorasi Istilah "cadangan. (6). (3) konsep tentang cadangan sumberdaya yang secara sosial sesuai seringkali tergantung pada lingkungan teknologi dan ekonomi. beberapa di antaranya adalah (1) harga komoditi sumberdaya alam. Berbagai indeks "kelangkaan" telah diusulkan. Cadangan.5. "Peranan dan pentingnya sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan hidup kelautan" sebagai faktor penentu pertumbuhan ekonomi . (2) "rental atau royalty" untuk lahan yang mengandung sumberdaya. Tingkat Penggunaan. 4. "Peranan yang harus diberikan kepada proses dan mekanisme pasar" dalam menentukan bagaimana sumberdaya alam harus dikelola pada masa-masa mendatang. dan (3) bahwa harga-harga riil komoditi ekstraktif telah meningkat relatif terhadap harga-harga riil komoditi non-ekstraktif. "Semakin berkembangnya ketergantungan kepada cadangan sumberdaya alam yang semakin inferior". tetapi sangat sedikit memperhatikan peranan jasa lingkungan kelautan sebagai media pembuangan limbah. Untuk menjawab pertanyaan krusial tersebut perlu dipahami lebih dahulu bagaimana konsepsi tentang "kelangkaan". yaitu (1) bahwa biaya riil satuan produksi telah meningkat dengan waktu. Beberapa alasannya adalah (1) belum adanya penggunaan secara baku istilah-istilah "sumberdaya. Bukti-bukti menunjukkan bahwa kualitas dan produksi /hasil tangkapan semakin rendah dibandingkan dengan hasil-hasil pada masa lalu. dan lokasi yang menjadi subyek kesalahan pendugaan. Barnett dan Morse (1963) mengusulkan tiga macam hipotesis tentang "kelangkaan". kualitas. (2) biaya produksi komoditi ekstraktif telah meningkat relatif terhadap biaya produksi dari semua komoditi non- ekstraktif. Kebanyakan analisis mengenai sebab-sebab pertumbuhan ekonomi telah menempatkan perhatiannya pada perkembangan teknologi dan perbaikan sumberdaya manusia. Fisher (1978) menyatakan bahwa suatu indeks yang ideal bagi "kelangkaan" harus mampu mengukur "sacrify" langsung dan tidak langsung yang dilakukan untuk mendapatkan suatu unit sumberdaya. Walaupun demikian data sumberdaya seringkali berubah dan masih dihantui oleh ketidak-pastian.

7. (b) peningkatan 'recovery' sumberdaya alam. pengelolaan ini merupakan aktivitas politik yang melibatkan pengaturan-pengaturan dari berbagai minat dan kepentingan. yaitu: (a) peningkatan efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam. d. dan lainnya. sedangkan peraturan-perundangan menetapkan kegiatan-kegiatan apa yang dapat dilakukannya. misalnya konsumsi ikan hasil tangkapan dna ikan hasil budidaya. Penyempurnaan teknik eksplorasi. Para aktor ini mengadministrasikan. atau bagaimana situasi sumberdaya dan lingkungan menjadi isu penting. Substitusi dalam sektor konsumsi. Perdagangan atau pertukaran Perbaikan sarana dan prasarana transportasi telah mengakibatkan sumberdaya alam yang lokasinya jauh menjadi lebih kompetitif secara ekonomis. (c) memungkinkan penggunaan sumberdaya alam yang semula belum dapat digunakan. Misalnya penggunaan hasil- hasil tangkapan oleh masyarakat yang jauh dari pantai. substitusi dalam proses produksi pakan ternak terjadi antara tepung ikan dan tepung non-ikan. Prinsip Pengembangan Potensi Sumberdaya Alam Para pengelola sumberdaya mempunyai tugas yang sulit menyelesaikan konflik- konflik pandangan dan permintaan sumberdaya. Misalnya. seperti metode geo-fisik dan geo-kimia. 4. membuat dan mengamankan pelaksa-naan kebijakan yang relevan. Dalam mendefinisikan suatu problem untuk pengelolaan sumberdaya ada dua thema yang sangat menarik: (1) bagaimana minat sumberdaya atau lingkungan dimasukkan ke dalam agenda kegiatan. Faktor yang mempengaruhi kelangkaan a. Pola agensi. Selain itu. pengamatan dengan satelit. Para aktor perlu dikomando di dalam suatu perwakilan agar supaya dapat melakukan sesuatu secara profesional dan permanen. c. Selanjutnya agensi-sgensi ini memerlukan otorita legal untuk dapat bertindak. baik dengan jalan meminimumkan limbah ataupun dengan meng-gunakan bahan mentah yang kualitasnya lebih rendah. dan (2) teknik-teknik survei dan inventarisasi yang membantu mendefinisikan tingkat isu. Struktur kelembagaan ini merupakan kendaraan yang dapat digu-nakan untuk melakukan kegiatan. . Agensi-agensi ini bukan merupakan organisasi impersonal yang robotik. ada dua perangkat teknik. Mereka memerlukan otorita legal untuk dapat menggunakan anggaran yang tersedia. Substitusi sumberdaya Sumberdaya yang kualitasnya kurang baik menggantikan sumberdaya yang kualitasnya lebih baik. tetapi mereka tersusun atas individu-individu dari latar-belakang yang berbeda-beda dan mempunyai hak dan tanggung-jawab sendiri-sendiri. yaitu (1) teknik-teknik yang membantu proses pemilihan antara dua atau lebih kebijakan atau kegiatan.6. peraturan perundangan dan kebijakan-kebijakan yang berkenaan dengan isu-isu sumberdaya dan lingkungan tertentu lazim disebut "struktur kelembagaan". Perubahan teknologi Kemajuan teknologi telah memungkinkan terjadinya hal-hal penting yang secara langsung dan tidak langsung akan mempengaruhi kelangkaan sumberdaya alam. Struktur ini biasanya terdiri atas berbagai agensi. 33 4. Pengelolaan sumberdaya memerlukan keterampilan dan keahlian dari berbagai disiplin ilmu. aktor-aktor dan peraturan- perundangan. b. Penemuan ("Discovery") Perluasan metode-metode eksplorasi tradisional untuk menemukan deposit baru. publik dan privat. (d) memungkinkan penciptaan produk baru untuk mendukung fungsi dari produk yang lama. Dalam rangka penentuan apa yang dilakukan terhadap problem.

biaya- biayanya dan efektivitasnya. Isu-isu yang mempunyai gejala yang jelas cenderung untuk bertahan lama dan mendapat perhatian masyarakat secara luas. (a). hanya ada sedikit orang yang berminat dan tertarik pada suatu situasi tertentu. 34 dan (2) teknik-teknik yang membantu menetapkan konteks untuk evaluasi kebijakan atau kegiatan . Model Issue-Attention Cycle (Downs. Kalau ada kebijakan baru yang diambil. Identifikasi Problematik Pengelolaan Sumberdaya Kelautan Banyak aspek dari pengelolaan sumberdaya kelautan yang bersifat politis. sehingga penentu kebijakan dipaksa untuk bertindak. atau kerugian-kerugiannya. daya dukungnya dan kesesuaiannya bagi pembangunan.1. Hal ini akan melibatkan perhitungan biaya dan manfaat. Perkembangan selanjutnya adalah menolak atau menerima kebijakan tersebut. Belum tampak jelas adanya respon dari pengelola sumberdaya dan pembuat kebijakan. Gambar 4. dan munculnya tanda-tanda adanya "perhatian = stress" terhadap isu yang ada. sehingga hanya beberapa orang yang tertarik untuk terus memantau perkembangan situasi. . Fase Pra-Problem Fase Alarmed Pasca discovery & Problem Euphoric enthusiasm Penurunan Perhitungan minat publik biaya perkem secara ber. Anthony Downs (1972) telah mengemukakan suatu idea tentang "stress" sebagai suatu "trigger" bagi kegiatan yang akan memasuki prespektif yang luas dan lama dengan mende-finisikan konsep "issue attention cycle" yang terdiri atas lima fase. Dalam rangka untuk menduga ketersediaan sumberdaya. sehingga mampu membangkitkan minat masyarakat. Bagaimana cara munculnya problem dapat membantu menjelaskan isu macam apa yang dapat menarik perhatian serta tindakan apa yang mempunyai peluang yang bagus untuk berhasil dilakukan. Kalau tidak ada tindakan nyata maka "stress" tersebut akan berlangsung terus. bangan situasi tahap lingkungan. Orang yang tertarik ini dapat memperluas opininya melalui media massa. (b) Inventarisasi dan Pengembangan Potensi Sumberdaya Inventarisasi sumberdaya alam merupakan prasyarat bagi program penge-lolaan yang efektif. 1972) Dalam fase pra-problem. analis sumberdaya memerlukan informasi yang memadai untuk menjelaskan situasi sumberdaya yang ada. Akhirnya isu masyarakat akan memasuki fase Pasca-problem. Downs berpendapat bahwa minat masyarakat secara bertahap akan bergeser ke arah konsekwensi dari kebijakan-kebijakan baru tersebut. termasuk juga identifikasi problem dan isu-isu lingkungan.

(c) Analisis klasifikasi dan kapabilitas Inventarisasi potensi sumberdaya alam kelautan hanya merupakan fase pertama dalam suatu proses yang melibatkan analisis bagi tujuan-tujuan kebijakan pengembangannya. Klasifikasi data sumberdaya menyediakan landasan bagi penyusunan rencana tataruang laut sebelum dirancang proyek-proyek yang detail. dan lainnya. 35 Para analis sumberdaya alam dapat membujuk pemerintah untuk melengkapi instrumentasi dengan generasi satelit mutakhir untuk menyempurnakan data yang tersedia dari foto LANDSAT. Akan tetapi umumnya respons terhadap argumentasi daya dukung ini cenderung untuk bersifat "technical fix". Zonasi ke dalam "kategori-kategori" penggunaannya sangat berguna bagi para pengelola sumberdaya dalam menghadapi tekanan dari berbagai ekegiatan tradisional dan eksploitasi untuk keperluan enerji. dan lebih merupakan konsepsi pengambilan keputusan dari pada konsep ilmiah. kehutanan (bakau) dan wisata-bahari. (d) Analisis Daya Dukung Daya dukung merupakan produk dari keputusan pengelolaan. pendugaan dampak lingkungan. mineral dan kepentingan industri. Harus disadari bahwa satelit pertama yang pernah diluncurkan telah dirancang secara khusus untuk menyediakan data sumberdaya bumi masih merupakan satelit percobaan. Sedangkan LANDSAT-4 dan generasi satelit yang lebih baru akan meningkatkan resolusi gambarnya sehingga kualitas informasinya lebih baik. sedang konsumen menilai-kembali prioritas sumberdayanya dalam kaitannya dengan lingkungan budayanya. potensi dan kapabilitas serta evaluasi sangat penting bagi pengelola sumberdaya untuk menetapkan kerangka-kerja selanjutnya yaitu evaluasi proyek dan review kebijakan. Pendekatan New-Malthusian terhadap isu ketidak-seimbangan populasi-sumberdaya ini telah menarik perhatian banyak pihak terhadap bahaya-bahaya over-eksploitasi ekosistem dan sumberdaya kelautan. (e) Teknik evaluasi proyek Penggunaan kajian inventarisasi. Aplikasi yang paling general dari konsep "Daya Dukung" berkaitan dengan filosofi "Limits to Growth". Kalau batas-batas ini terlampaui. "deminishing return" akan mulai terjadi dan akhirnya mengarah kepada eksploitasi yang berlebihan yang mengakibatkan degradasi ekosistem . (1) Analisis Biaya-Manfaat (Benefit-Cost Analysis) Salah satu prosedur yang pertama kali diadopsi sebagai alat bantu obyektif dalam pengelolaan sumberdaya adalah analisis biaya-manfaat (ABM). Kebanyakan penelitian daya dukung kelautan telah dipusatkan pada perencanaan sistem produksi perikanan. pendugaan resiko. polusi dan perubahan tataguna lahan. Suatu teladan dari proses analisis ini adalah pemetaan dan evaluasi potensi wilayah pesisir-pantai dalam rangka pengembangan wilayah . kapabilitas fisik terus direvisi sesuai dengan perkembangan teknologi dan regulasi pengelolaan. Para peneliti mengukur kemampuan sumberdaya untuk mampu menahan tingkat penggunaan dan mengkaji bagaimana konsumen menerima daya dukung. Dua satelit LANDSAT berikutnya sangat berguna bagi peneliti untuk meman tau bencana alam. Akan tetapi pada fase ini alternatif usulan proyek dievaluasi dengan menggunakan tekik-teknik khusus . Perhitungan suatu nisbah dengan jalan membagi estimasi manfaat dengan biaya-biaya untuk mendapatkan satu unit . seperti analisis biaya-manfaat proyek. Batas-batas kapabilitas mengalami perubahan. Daya dukung suatu ekosistem merupakan kemampuannya untuk mendukung pemanfaatan / konsumsi hingga batas-batas tertentu.

Problem serius yang dihadapi oleh metode ini ialah bahwa evaluator harus mampu menerapkan indeks yang sama bagi besaraan dan kepentingan dampak lingkungan dari kasus-kaus yang identik atau serupa. Dan berapa nilai moneter yang harus diberikan kepadanya?. sedikit tercemar. (iii) Alternatif dari proyek yang diusulkan. Salah satunya adalah Metode Matriks Leopold. yang kalau dilampaui akan meningkatkan skala dis-ekonomiknya? Manakah di antara beberapa proyek yang harus dipilih?. kalau air mengandung BOD lebih dari 2 ppm maka ia tergolong air yang tidak bersih. Apakah proyek layak? Apakah proyek mempunyai ukuran otimum. (ii) Efek buruk terhadap lingkungan yang tidak dapat dihindarkan kalau proyek dilaksanakan. Air bersih mempunyai BOD kurang dari 2 ppm. Cara-cara seperti ini hanya dapat dilakukan kalau pengetahuan atau informasi tentang perilaku lingkungan telah tersedia. ABM akan dapat bekerja sebagai alat bantu yang efektif hanya apabila landasan hukum dan prosedur diterapkan secara jujur oleh seluruh pihak yang terlibat dalam proses keputusan politik. Berbagai metode pendugaan dampak telah dikembangkan dan masih terus diusahakan untuk disempurnakan sejalan dengan kompleksitas perilaku lingkungan hidup dan kebutuhan pembangunan. (2) Pendugaan Dampak Lingkungan Minat terhadap efek pembangunan ekonomi dan dominasi nilai-nilai materialistik tumbuh dengan pesatnya sejak tahun 1970-an. 36 manfaat per unit biaya terbukti sangat berguna dalam menjawab tiga tipe pertanyaan. Hal ini telah diikuti oleh berbagai bentuk regulasi pengelolaan sumberdaya dan lingkungan hidup di berbagai sektor pembangunan. Kelemahan dari analisis ini terletak pada pemili han peubah yang dimasukkan dalam ABM dan dalam prosedur perhitungan yang diadopsi untuk mengkonversi peubah-peubah menjadi satuan moneter. (iv) Hubungan antara penggunaan lingkungan hidup lokal jangka pendek dengan pemeliharaan dan perbaikan produktivitas jangka panjang. Sebagai teladan adalah kasus kualitas air. yang merupakan matriks interaksi antara peubah-peubah lingkungan hidup dan kegiatan proyek. (3) Analisis resiko . ekosistem dan kualitas lingkungan hidup. Pada umumnya ada lima unsur yang harus tercakup dalam proses pendugaan dampak lingkungan. Beberapa peubah seperti kehidupan alami yang akan dilindungi sebagai akibat dari tindakan pengendalian pembangunan merupakan manfaat yang intangible. Kurva dapat diturunkan dengan menggunakan metode estimasi Delphi (expert systems). pendekatan yang konsisten untuk estimasi dampak dapat dicapai dengan menggunakan model khusus. dan (v) Sumberdaya irreversibel yang akan dilibatkan dalam usulan proyek. yaitu: (i) Dampak lingkungan dari kegiatan/proyek yang diusulkan. telah dikembangkan suatu sistem rasional untuk estimasi indeks dampak lingkungan yang mencakup berbagai tipe degradasi lingkungan. ABM dapat membantu dalam menetapkan kelayakan program atau memilih salah satu di antaranya. yang pada hakekatnya ingin mengetahui sampai sejauh mana suatu kegiatan pembangunan menimbulkan dampak negatif terhadap sumberdaya alam. Kalau semua opini pakar tersebut bersesuaian maka model hubungan dapat diterima sebagai hal yang dianggap benar. Beberapa pakar dalam bidangnya yang relevan diminta untuk menggambarkan pandangannya terhadap bentuk kurva tersebut. atau sangat tercemar. Matriks ini lazim digunakan untuk identifikasi dampak yang diakibatkan oleh kegiatan proyek. Salah satu dari regulasi tersebut adalah Pendugaan Dampak Lingkungan. Bagaimana tingkat jeleknya dampak lingkungan yang dapat diberi skor maksimum 10 ? Bagaimana penyekalaan dan skoring dapat dijamin konsisten? Untuk mengatasi sebagian dari kelemahan ini.

analisis pohon kejadian". Misalkan saja. 37 Penggunaan analisis resiko dalam evaluasi proyek cenderung untuk memperluas analisis biaya-manfaat konvensional (menambahkan dimensi resiko) dan pendugaan dampak lingkungan (mengevaluasi alternatif lokasi dengan alasan keamanan). penolakan Regulasi. dan diikuti oleh kekhawatiran tentang ketersediaan sumberdaya kelautan dapat . Meskipun karakterisasi dari pola penggunaan sumberdaya alam secara optimum-sosial masih sangat abstrak. fasilitas enerji gas cair dan industri pengolahan. Dalam kasus pusat pembangkit tenaga nuklir dan fasilitas gas cair. Penggunaan Sumberdaya Alam Secara Optimal Melalui berbagai cara telah dapat dibuktikan bahwa ketersediaan sumberdaya alam akan menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu wilayah.8. namun ia mampu menyediakan peringatan terhadap keragaan dari berbagai macam struktur pasar. biaya produksi. Teknik analisis resiko telah berkembang dalam hubungannya dengan perkembangan instalasi. Teknik analisis "fault-tree" ini digunakan untuk meramalkan perkiraan kegagalan sistem kalau pengalaman aktual dari kegagalan tersebut sangat rendah. Komparatif analisis resiko dan analisis biaya manfaat merupakan prosedur utama yang lazim digunakan untuk menduga akseptabilitas suatu resiko.1. penyebaran spatial polutan-polutan-nya diukur dengan melalui pemodelan kondisi cuaca pada berbagai waktu dalam setahun. dan biaya kelangkaan dengan kelangkaan fisik. investigasi ilmiah Estimasi Pengukuran peluang Probabilistic risk asses- resiko terjadinya bahaya dan estimasi ment (PRA). pengamanan. seseorang mengasumsikan bahwa suatu kejadian initial telah terjadi dan cabang-cabang dari kejadian ini dilacak melalui sistem. teknik delphi Konsekwensinya Pengalaman orang bijak atau pendekatan intuitif Evaluasi Judgement tentang aseptabilatas Analisis komparatif resiko resiko resiko analisis biaya manfaat. Dari analisis sifat ini maka peluang terjadinya "peristiwa" dihitung bersama dengan konsekwensi-konsekwensinya. Tabel 4. keputusan atau modifikasi resiko pemantauan melalui review umum 4. tingkat kegagalan dari komponen-komponen sistem harus diketahui.instalasi yang mengadung bahaya potensial. Dengan adanya gejala-gejala meningkatnya harga-harga produk ikan. Pada saat sekarang salah satu metode untuk menentukan peluang terjadinya bencana ialah dengan "analisis fault-tree atau event-tree. Pengambilan Penerimaan. seperti pusat pembangkit bertenaga nuklir. Sedangkan teknik analisis pohon-kejadian digunakan untuk kondisi yang sebaliknya. dan (3) menentukan hubungan yang ada antara harga komoditi sumberdaya alam. (2) bagaimana mekanisme pasar kompetitif mendekati pola-pola pemanfaatan sumberdaya alam yang optimal- lestari. Hingga sekarang para pembuat kebijakan lebih cenderung untuk menerima bahwa benefit-benefit dibarengi dengan tingkat resiko yang rendah dibandingkan dengan resiko dalam kehidupan sehari- hari. Informasi tentang sektor-sektor ekonomi penghasil komoditi sumberdaya alam sangat diperlukan untuk (1) lebih memahami ide-ide tentang pola pemanfaatan sumberdaya alam yang optimum secara sosial. Agar supaya teknik ini dapat diaplikasikan. Proses pendugaan resiko Fase-fase Tujuan Metodologi Identifikasi Pengenalan adanya bahaya Persepsi sensori. penga- bahaya alam/ buatan manusia laman.

dan (d) survei penggunaan kawasan pesisir-pantai. . Apa yang dapat kita kaji dari data ini tentang efektivitas mekanisme pasar aktual? Dapatkah kita mendeteksi kapan perekonomian nasional atau global akan mengalami krisis sumberdaya alam? Dan akhirnya dapatkah kita mempermasalahkan kemanfaatan beberapa variabel sebagai indeks kelangkaan sumberdaya alam. Bukti-bukti menunjukkan bahwa kelangkaan sumberdaya alam dapat berdampak kepada kenaikan biaya-biaya produk sumberdaya alam dan degradasi lingkungan. renta- bilitas kelangkaan. Survei dan Pemetaan Potensi Sumberdaya. (c) survei vegetasi. bagian penting dari historis proses inovasi merupakan respon dari kelangkaan sumberdaya alam. magnetik. Faktor-faktor Untuk Mengatasi Kelangkaan Sumberdaya Alam Kondisi ketersediaan sumberdaya alam mempengaruhi potensial produktif dari suatu sistem ekonomi di suatu wilayah melalui berbagai cara. biaya ekstraksi. Teknik-teknik ini sangat vital bagi para insinyur dalam mengevaluasi konstruksi dan tapak jalan raya. dan observasi lapangan lainnya. (b) metode geo-kimia: analisis logam mulia. Harus dibedakan antara kebutusan-keputusan jangka pendek dan jangka panjang. Penyediaan data dan informasi ini memerlukan dukungan teknologi yang tepat. maka telah muncul berbagai keraguan tentang konsep bahwa "free enterprise di dalam tatanan pasar bebas" akan mampu mewujudkan pola pemanfaatan sumberdaya alam dapat- habis secara optimum-sosial. Dapat digunakan sebagai peta dasar atau diintegrasikan dengan foto-mosaik stereoskopik. dan perencanaan pemukiman. data tentang harga komoditi sumberdaya alam. (a) Inovasi Teknologi Menurut Rossenberg (1972). (1). Pasar-pasar ini juga akan menghasilkan data yang dapat kita kaji. pencarian bahan mineral tambang (bahan galian). Beberapa metode dan teknik modern yang dikenal adalah (a) metode geofisik: elektrik. Kegunaan pokok meliputi (a) bidang geologi. 4. Perkembangan mutahir telah terjadi dalam teknologi fotografi satelit. Teknik Survei Kelautan. seperti penginderaan jauh. Kita juga menyadari bahwa perubahan IPTEK dalam bidang produksi komoditi / sumberdaya alam dapat membantu mengatasi kecenderungan kenaikan harga sumberdaya. dan kuantitas yang diperkirakan ada dalam cadangan. 38 habis. (b) pemetaan dan survei kelautan . (4). Sebagai teladan adalah penemuan cadangan minyak bawah tanah dan bawah laut. dan tingkat pemanfaatan. Teknologi ini menyediakan catatan informasi yang lengkap dan rinci tentang terrain untuk mengenali ciri-ciri permukaan dan bawah permukaan. dan seismik. komposisi. Keberhasilan penemuan cadangan baru tersebut ternyata berkaitan erat dengan kemajuan teknologi penemuan dan pendugaan cadangan sumberdaya alam seperti berikut ini. Dalam banyak hal tentang kelautan kita tertarik dalam masalah jangka panjang. Teknik Penginderaan jauh. (b) Proses Penemuan Potensi Sumberdaya Alam Penemuan potensi/cadangan baru telah menjadi faktor penting dalam pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi di suatu negara. dan kita ingin mengkaji bagaimana mekanisme pasar diharapkan dapat bekerja mengalokasikan sumberdaya kelautan atas waktu yang panjang. Bagaimana pasar realistis menentukan pola penggunaan sumberdaya alam dibandingkan dengan pola penggu naan optimum teoritis. sampling statistik. Sangatlah logis bahwa kecenderungan jangka panjang akan mencerminkan pola pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan. mengevaluasi potensi . Pengelolaan sumberdaya secara rasional memerlukan data dan informasi tentang lokasi. (2). kondisi.9. kuantitas yang diproduksi. gravimetrik.

1.. Pada umumnya sepanjang pantai utara keadaannya melandai dengan kedalaman 1-5 meter.1. Dasar Pertimbangan Jawa Timur adalah propinsi dengan jumlah 79 buah pulau kecil. sebelah Timur mempunyai kedalaman sampai 140 m. hanya saja terbentur pada tahapan pelaksanaan. Ancaman lainnya. pengembangan wilayah laut dan pesisir tersebut masih meninggalkan keadaan masyarkat pantai yang miskin dan melakukan eksploitasi sumberdaya laut dengan cara-cara yang merusak seperti penggunaan dinamit dan pengambilan karang sekedar untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk makan. PERENCANAAN dan PENGEMBANGAN Terpadu Coastal Zones 5. khususnya di Zone Ekonomi Eksklusif (ZEE) di Selatan Jawa Timur adalah pelanggaran daerah penangkapan oleh nelayan asing. dasar laut berlumpur. top-down dan tidak ramah lingkungan Akibatnya pengelolaan sumberdaya laut dan pesisir menjadi tidak terkendali. pengawasan dan penegakan peraturan (MCS) . banyak terdapat karang-karang . Beberapa lokasi menunjukkan kondisi hutan mangrove yang memprihatinkan. Pantai di daerah kepulauan antara pulau Bawean dan pulau di sebelah Timur pulau Madura. Disamping itu. BIDANG PRIORITAS 5. dasar laut berlumpur campur pasir dan berkarang. sedangkan di semenanjung Blambangan dan sebelah selatan pantainya terjal. Selat Madura di bagian barat mempunyai kedalaman 20. dari perkiraan panjang pantai 1600 Km terdapat sekitar 850 Km ditumbuhi tanaman mangrove. Di perairan Samudera Indonesia mempunyai kedalaman lebih dari 1000 m. dan juga lemahnya patroli laut karena kurangnya prasarana dan personil yang handal. 39 V. Banyak terumbu karang yang telah rusak berat. Pada umumnya pantai Jawa Timur. dasar laut berbatu karang. Adapun perairan Jawa Timur di wilayah Selat Bali mempunyai kedalaman 20 – 245 m.000 Km 2 yang merupakan sekitar 60% dari seluruh wilayah propinsi.1. pada saat air laut surut merupakan jurang pantai. beberapa lokasi terumbu karang tertinggal sekitar 10 – 20%.600 Km dan luas lautan kira-kira 110. Sesungguhnya telah banyak undang-undang dan peraturan daerah menyangkut pengelolaan sumberdaya laut di Jawa Timur agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. sekitar 400 Km masih berupa hutan belukar dan terdapat tumbuhan mangrove yang sebagian besar banyak yang ditebang. kurangnya koordinasi dan banyaknya program dan proyek yang berorientasi pada kepentingan sektoral.90 m. bahkan penyelundupan melalui tempat pendaratan di pantai Selatan. karena lemahnya kemampuan monitoring. yang berarti dibawah luasan minimal yang seharusnya sekitar 30% Pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir pada masa PJP I yang tidak terkendali telah berakibat penurunan kualias lingkungan seperti pengrusakan fisik terumbu karang. hutan mangrove dan lingkungan lainnya yang makin menunjukkan telah berada pada tingkat yang membahayakan daya dukung laut dan pesisir.. seperti penegakan sanksi yang masih lemah. bahkan menjadi kantong-kantong lingkungan rumahtangga yang kumuh dengan genangan polutan. . karena luasan tinggal sekitar 10%. Pada jarak 50 m dari pantai Selatan. dengan garis pesisir sepanjang kira-kira 1. pantai banyak berteluk.

pengembangan teknologi dan pasar domestik maupun internasional. sumbangan terhadapa PAD. 40 5.1. 5. Ke enam : penegakan aturan pemanfaatan sumberdaya berbasis pada kearifan tradisional. 9. Ke delapan : pengembangan IPTEK dan pengelolaan sumberdaya kelautan dan pesisir secara professional dan ramah lingkungan. 7. mengingat potensi dan peluang pengembangan sumberdaya laut dan pesisir Jawa Timur yang sangat besar. ekspor. Ke tiga : rehabilitasi. yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. 6. 3. 8. maka pengelolaan dan pengendaliannya selanjutnya harus dilakukan secara terpadu. Memperkuat peran serta masyarakat dalam dproses perencanaan pembangunan wilayah pesisir secara optimal dan efisien. serta penataan wilayah pengelolaan sesuai karaktersitik biofisik wilayah perikanan. efisien dan berkelanjutan. Mengembangkan sistem penyediaan dan penggunaan informasi (data) dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan dalam pengelolaan dan pengendalian sumberdaya laut dan pesisir Jawa Timur. Memperkuat kemampuan kelembagaan pemerintah dan masyarakat dalam kegiatan pengendalian dan pengelolaan sumberdaya laut dan pesisir. 3. 5.1. Dengan demikian arah dan tujuan pengelolaan dan pengembangan sumberdaya laut dan pesisir dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. 4. 5.2. Memperbaiki sistem perencanaan dan pengelolaan secara terpadu. Ke sembilan : menanamkan wawasan kelautan kepada seluruh stakeholders pembangunan kelautan Jawa Timur. Ke dua : memperkuat kemampuan kelembagaan perencaan yang melibatkan masyarakat pesisir. 2. restocking dan konservasi ekosistem kelautan dan perikanan. Mengingat banyak kepentingan yang terlibat dalam pemanfaatan sumberdaya pesisir. Rencana Strategis 1. Pemantauan & Perlindungan Coastal Zones . Ke lima : pemberdayaan masyarakat pesisir yang berorientasi pada budaya pembangunan berkelanjutan. Ke tujuh : mengembangkan sistem informasi (data base) sumberdaya. penyerapan tenaga kerja dan mengentaskan nelayan dari kemiskinan dengan wawasan lingkungan secara berkelanjutan (sustainable) 4. 5. Menjalin kerjasama regional. disamping penegakan hukum untuk pelaku bisnis perikanan professional.3. 2. nasional maupun internasional untuk memperkuat pengelolaan dan pengendalian pemanfaatan sumberdaya secara berkelanjutan. Ke empat : pemanfaatan sumberdaya dan jasa lingkungan kelautan dan perikanan secara optimal.2 Tujuan Program Pada Pembangunan Jangka Panjang tahap ke II (PJP II) diharapkan sumberdaya pesisir dan laut dapat dikelola secara berkelanjutan. Pertama : menata dan memeperbaiki perencanaan sistem pengelolaan dan pengendalian sumberdaya laut dan pesisir secara terpadu dan berkesinambungan.

(b) kebutuhan pangan penduduk yang makin meningkat telah meningkatkan tekanan eksploitasi sumberdaya laut dan pesisir secara berlebihan. 3. maka rencana strategis pada PJP II perlindungan pesisir sebagai berikut : 1. Secara khusus. Ke lima : penegakan aturan perlindungan kawasan pesisir dan laut. mengingat : (a) diperkiran 60% penduduk Jawa Timur tinggal atau bermukim dekat kawasan pantai. 4. 5. arah dan tujuan perlindungan pesisir dan laut ini adalah meningkatkan upaya dan kemampuan perlindungan lingkungan pesisir dan laut untuk menjamin kelestarian dan keberlanjutan pembangunan. penggunaan obat dan limbah pertambakan yang tidak ramah lingkungan. (d) kawasan industri di Jawa Timur terpusat di pantai. 2.2. 5.2. 5. memperkuat kelembagaan dan peran serta masyarakat dalam proses pelestarian lingkungan pesisr dan laut. Pertama : menetapkan tata-ruang peruntukan lingkungan pesisir untuk berbagai kepentingan dalam memanfaatakan dan melindungi kawasan pesisir untuk kemanan produksi berbagai spesies ikan. arah dan tujuan tersebut dapat dirinci sebagai berikut : 1.1. peluang dan permasalahan serta tujuan serta arah perlindungan pesisir dan laut secara berkelanjutan. 41 5. 3. mengurangi dan mengendalikan kerusakan lingkungan pesisir dan laut yang ditimbulkan oleh bermacam kegiatan yang berbasis di daratan maupun di laut. Ke empat : memonitor mutu air dan lingkungan agar pesisir terlindung dari pencemaran limbah cair atau gas buang yang merusak lingkungan. Ke enam : menanamkan kesadaran perlindungan atas keindahan dan kenyamanan kepada seluruh pengguna/ stakeholders pembangunan kawasan industri maritim di lingkungan pesisir. kecuali di selatan Jawa Timur yang kurang mendapat perhatian.2. melindungi lingkungan pesisir dan laut yang secara ekonomi dan ekologis merupakan habitat kritis. Ke tujuh : mengembangkan industri maritim untuk meningkatkan wawasan persatuan dan kesatuan bangsa serta memperkuat daya saing global. Rencana Strategis Bertitik tolak pada potensi potensi. mencegah. 7. . (e) budidaya perairan di walayah pesisir (tambak) telah ikut menghancurkan lingkungan hutan mangrove.2. industri manufaktur perikanan dan jasa lingkungan pesisr. 2. tapi juga akan berdampak pada keseimbangan lingkungan global. (c) pencemaran limbah industri yang membanjiri laut dan kawasan pesisir. Dasar Pertimbangan Masalah lingkungan pesisir dan laut Jawa Timur telah menjadi keprihatian kita bersama.3. Tujuan Program Secara umum. dan (f) kerusakan habitat laut. 6. Ke tiga : memperkuat kelembagaan dan partisipasi masyarakat dalam menjaga dan melindungi lingkungan pesisir dari pengrusakan dan atau penggunaan alat-alat perusak lingkaungan hutan mangrove dan terumbu karang. terumbu karang dan hutan mangrove di pesisir bukan saja akan merusak lingkungan lokal maupun regional. Ke dua : menata dan memanfaatakan keindahan dan kenyamanan serta memperbaiki serta rehabilitasi lingkungan pesisir yang kumuh dan laut dari kerusakan.

Komposisi jenis ikan ekonomis penting di masing-masing wilayah adalah sebagai berikut : 1. (d) Laut Muncar. layang dan tongkol Perkembangan produksi ikan menurut jenis ikan dan wilayah tersebut dapat ditunjukkan hal sebagai berikut : 1. 2. (c) Selat Madura.3. Di Selat Madura cukup dominanan dan berkembang relatif stabil. dan (e) Laut Selatan. Muncar dan Selatan Jawa Timur. 4. Selat Bali. Ikan lemuru : mendominasi di perairan Muncar dan Selatan Jawa Timur. Muncar : ikan lemuru. sehingga kelestarian sumberdaya laut dan pesisir sangat tergantung pada keberhasilan kita mengelolanya. Ikan tongkol : mendominasi di perairan Madura Kepulauan. Semula orang menduga bahwa fauna dan flora laut tersedia dalam jumlah yang tidak terbatas. 42 5. Namun perkembangan teknologi penangkapan ikan telah menunjukkan bahwa cadangan ikan di laut adalah terbatas. 3. Ikan teri : mendominasi di perairan Utara dengan fluktuasi produksi yang tinggi. 4. Ikan tembang : mendominasi di perairan Selat Madura Jawa Timur. Samudera Indonesia. 7. yaitu pada tahun 1989. Demikian juga ikan tongkol atau tuna di Samudera Indonesia di wilayah Selatan Jawa Timur. dan 5. Kepulauan : ikan layangdan ikan karang. bahkan bergerak antar negara. Selat Madura : ikan dasar seperti ikan kurisi .1 Dasar Pertimbangan Lingkungan laut Jawa Timur merupakan bagian integral dari lingkungan perairan laut tropis dengan keanekaragaman fauna dan plora (multi-species) yang tidak mudah dipisahkan atas dasar administrasi Kabupaten atau Kota. 5. Ada kecenderungan produksi dengan trend menurun. 6. 8. lemuru dan kembung di Laut Jawa bergerak dari waktu ke waktu bahkan melintasi antar propinsi.000 ton ikan layang. Ada kecenderungan produksi yang makin menurun. Selatan : ikan tongkol/ tuna dan layang. Jawa Timur dapat dibagi menjadi lima wilayah pengelolaan sumberdaya laut dan pesisir. Fluktuasi produksi ikan layang selama tahun 1979 – 1999 cenderung stabil.3. Jawa Timur (total) : ikan lemuru. (b) Laut Madura Kepulauan. Ikan layang : mendominasi di perairan Utara dan Madura Kepulauan. Pada tahun 1989 terjadi produksi puncak di Selat Madura. Di Selat Madura pernah mencapai produksi sekitar 25. Ikan kembung : mendominasi di perairan Selat Madura dan Wilayah Utara Jawa Timur. Pengelolaan SUMBERDAYA Secara Berkelanjutan 5.. Bagian Timur. Produksi ikan lemuru nampak sangat fluktuatif. 6. . namun kemudian turun kembali. Laut Jawa. Udang : mendominasi di perairan Utara dan Selat Madura. 2. Ikan peperek : mendominasi di perairan Utara dan Selat Madura dengan kecenderungan produksi yang terus meningkat. Berdasarkan kondisi biofisik dan lingkungan perairan laut. Ada kecenderungan trend yang meningkat. Produksi sangat berfluktuasi dan ada kecenderungan menurun. Utara : ikan layang. dari tahun 1979 – 1999. tergantung pada daya dukung lingkungan. Di semua wilayah menunjukkan kecenderungan peningkatan produksi. 9. Beberapa jenis ikan pelagis (permukaan) seperti ikan layang. 3. Ikan cucut : mendominasi di perairan Selatan dan Utara Jawa Timur. produksinya cenderung terus meningkat. Apa yang telah dilakukan nelayan sekarang ini dalam pemanfaatan sumberdaya laut telah menunjukkan akibat kerusakan lingkungan dan menipisnya sumberdaya. Selat Madura. yaitu : (a) Laut Utara.

Ke tujuh : menanamkan wawasan pengelolaan berkelanjutan dan penegakan hukum bagi pelanggar secara ajek. Ke enam : pengembangan paket teknologi ramah lingkungan untuk pengelolaan sumberdaya secara lestari.3. 4. Melestarikan keanekaragaman hayati atas dasar genetik. teratur dan berkelanutan di masing-masing wilayah pengelolaan.3. Ke empat : pengembangan kawasan industri maritim dan alternatif lapangan kerja di laut dan pesisir untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. 2.4. Memperbaiki system pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya hayati laut dan pesisir yang efisien untuk mendapatkan keuntungan nelayan secara berkelanjutan. Tujuan Program Dengan memperhatikan status pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut di Jawa Timur . Pertama : menata dan memperbaiki program pengelolaan (action plan) di lima wilayah pengelolaan perikanan laut dan pesisir di lima wilayah Laut di Jawa Timur. Ke dua : memperkuat kelembagaan dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya berbasis komunitas (PSBK). Dasar Pertimbangan . 6. 5. 4. peluang dan permasalahan serta tujuan dan arah pengelolaan sumberdaya laut dan pesisir Jawa Timur secara berkelanjutan. 5. Ke tiga : rehabilitasi. Mengembangkan wisata bahari dan alternatif pekerjaan untuk meningkatkan sumber penghasilan nelayan di luar melaut (off-fishing) di wilayah lebih tangkap. Ada kecenderungan produksi makin menurun. 5. maka rencana strategis pada PJP II adalah sebagai berikut : 1. 5. PEMBERDAYAAN dan PENGUATAN KELEMBAGAAN 5. 7. 2. Ikan kakap : mendominasi di Madura Kepulauan dan Selat Madura. Memperkuat peranserta dan kelembagaan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi ramah lingkungan untuk pengelolaan sumberdaya berkelanjutan. spesies dan ekosistem per wilayah pengelolaan. 3. 3.1. 5. Rencana Strategis Bertitik tolak pada potensi.2. Ke lima : melakukan pendugaan stok ikan dan hasil laut lainnya secara lebih akurat.3. Mengembangkan teknologi.4. restocking dan konservasi wilayah pengelolaan secara berkelanjutan. maka arah dan tujuan pengelolaan dan pengendalian sumberdaya laut dan pesisir Jawa Timur dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. 43 10. mutu SDM dan prasarana pelabuhan perikanan modern untuk menumbuhkan kawasan industri pemanfaatan sumberdaya hayati Laut Selatan.

2. Kondisi ketimpangan ekonomi yang mencolok. 5. mengingat potensi dan peluang pengembangan sumberdaya laut dan pesisir masih sangat besar.377 (19. seperti kawasan industri. lapangan kerja baru . informasi pasar.1%) merupakan desa pesisir. Masyarakat pesisir Jawa Timur pada umumnya sebagian masih banyak tertinggal dan menghadapi dampak negatif derap pembangunan. seperti lingkungan yang kumuh dengan genangan polutan hasil industri.917 (34%) desa miskin di Indonesia. sejumlah 4. wisata dan pertanian intensif kesemuanya telah membawa dampak positif dan negatif. Tujuan Program Pada Pembangunan Jangka Panjang tahap ke II diharapkan SDM pesisir dan kelautan dapat ditingkatkan. kultural dan lingkungan. Hanya saja terbentur pada alternatif lapangan kerja di pedesaan pantai yang sangat terbatas.600 Km. Pada tiga dekade pembangunan selama ini. Pembangunan yang dilaksanakan di wilayah laut dan pesisir selama ini ternyata masih belum banyak dirasakan oleh masyarakat pesisir. aktifitas pembangunan yang berkembang di wilayah pesisir. Akibatnya berlangsungnya lingkaran setan kemiskinan masyarakat pesisir menjadi tidak terhindarkan. permodalan. Perumahan padat dengan tingkat pendidikan RT. Mengingat jangkauan pemanfaatan sumberdaya laut makin jauh dari pantai. 3. 2. Dengan diterapkannya UU Otonomi Daerah. sedangkan penduduk dan lembaga yang berada di luar kawasan lebih menikmati manfaatnya. maka peranserta daerah Kabupaten dan Kota dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir menjadi lebih besar. 4. Pendekatan struktural : memperkuat akses nelayan dalam peningkatan teknologi. Kesadaran komunitas dalam pengelolaan sumberdaya sangat lemah. sehingga strategi pembangunan yang top-down akan makin terasa tidak efektif. yang selanjutnya dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. maka syarat pengembangan teknologi dan mutu SDM yang makin professional menjadi suatu keharusan. pada umumnya adalah 1. koperasi dan kemitraan usaha dan infrastruktur (pelabuhan dan kelengkapannya) yang modern di pedesaan pantai. Masalah yang muncul pada desa pesisir yang miskin. sehingga makin meningkatkan tekanan pengurasan sumberdaya pantai yang semakin padat.4. nelayan dibawah standard. tambak intensif. 5. Sesungguhnya telah banyak program dan paket teknologi yang dikembangkan untuk memberdayakan ekonomi masyarakat pesisr. maka jangkauan perencanaan dan pengawasan pengelolaan begitu kompleks. Dari data Direktorat Jenderal Perikanan diketahui bahwa dari 22. Dengan demikian arah dan tujuan pemberdayaan masyarakat pesisir dan kelautan memrlukan senergi pendekatan struktural. sehingga selalu terjadi tambahan nelayan miskin dengan teknologi skala kecil dan sederhana yang memasuki wilayah laut dan pesisir. Peluang lapangan kerja alternatif sangat terbatas. Pekerjaan melaut dilakukan dengan teknologi kapal dan alat tangkap skala kecil. 44 Propinsi Jawa Timur dengan luas perairan laut mencapai 64% dengan panjang pantai sekitar 1. dengan jangkauan wilayah penangkapan yang terbatas dan terkonsentrasi di perairan pantai yang padat tangkap. .

4. penegakan hukum.3. Beberapa bagian wilayah kepauan ini merupakan wilayah terumbu karang yang sebagian besar mulai dirusak oleh perilaku bisnis masyarakat lokal. 5. Rencana Strategis Bertitik tolak pada potensi. maka rencana strategis adalah sebagai berikut : 1. maka dengan perbaikan teknologi tingkat yang lebih maju. Pendekatan kultural : meningkatkan keterampilan SDM. Ke dua : memeprkuat kemampuan kemandirian kelembagaan. indah dan nyaman kepada seluruh stakeholders pembangunan kelautan dan pesisir di Jawa Timur. keindahan dan kenyamanan lingkungan. LSM. Ke lima : melakukan penataan dan rehabilitasi lingkungan dan tempat tinggal yang bersih. penegakan peraturan dan keterlibatan masyarakat pesisir dalam penataan kawasan industri di pedesaan pantai. 45 2. 2. diantaranya berada di Madura Kepulauan sebanyak 79 buah dengan potensi sumberdaya ikan maksimum mencapai sekitar 57.5. indah.5. sistem insentif bagi hasil yang berkeadilan dan memperkuat budaya lokal. peran serta wanita. Dengan luasnya wilayah jangkauan perairan laut di kawasan kepulauan. 3. Di wilayah ini juga menyediakan sumberdaya alam gas alam yang cukup besar. Dasar Pertimbangan Propinsi Jawa Timur memiliki 83 pulau kecil. kesehatan dan kebersihan. meperkuat akses permodalan dan informasi pasar masyarakat pesisir. Pertama : memperbaiki teknologi. dan menyiapkannya untuk mengembangkan pemanfaatan sumberdaya lepas pantai secara professional dan budaya modern. peluang dan permasalahan serta tujuan dan arah pemberdayaan masyarakat pesisir secara berkelanjutan di Jawa Timur. 3.000 ton. Teknologi yang dimiliki nelayan lokal saat ini masih mampu mengekploitasi sumberdaya lokal dibawah potensi sumberdaya yang tersedia. 5. Ke tiga : memperkuat prasarana dan sarana pendidikan dan pelatihan keterampilan msyarakat pesisir. Gugusan pulau kecil tersebut sebagian belum dihuni penduduk. sebagian dijadikan cagar alam dan sebagian lagi menjadi puas penangkapan ikan di bagian Timur Jawa Timur. Ke empat : membentuk kemitraan antara koperasi dan pengusaha di kawasan industri perikanan lokal. 6. ketrampilan professional dan lingkungan yang bersih. PEMBANGUNAN KEPULAUAN KECIL SECARA BERKELANJUTAN 5. pengaturan polutan menurut baku mutu lingkungan dan pengaturan tata ruang pemukiman yang tertata rapi dan nyaman. maka potensi sumberdaya tersebut masih dapat ditingkatkan. nyaman dan aman.1. 5. Ke enam : menanamkam wawasan dan kesadaran teknologi ramah lingkungan. .4. Pendekatan lingkungan : rehabilitasi lingkungan.

karena jauh dari pengawasan dari pemerinmtah daerah. 2. Ke empat : melakukan identifikasi. 2. kondisi sosial masyarakat yang dapat dipakai sebagai dasar pengelolaan pulau-pulau kecil sebagai kawasan konservasi.3. Jauh dari pusat pertumbuhan ekonomi. 46 Keberadaan penduduk maupun ekosistem alam pada Madura Kepulauan menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan sebagai berikut : 1. Belum terintegrasi dengan pengelolaan pesisir. Tujuan Program Untuk menghindari penghancuran sumberdaya lingkungan pulau-pulau kecil. Rencana Strategis Bertitik tolak pada potensi. 4. perubahan cuaca. Ke tiga : mengembangkan sistem komunikasi dan tranportasi yang mengintegrasikan Madura Kepulauan dengan pembangunan wilayah pesisir daratan. tujuan dan arah pembangunan pulau kecil sebagai berikut : 1. Dimensi sosial politik : memperkuat kelembagaan dan peranserta masyarakat lokal dalam pengembilan keputusan pembangunan kepulauan. 3. 3. peluang dan permasalahan serta tujuan dan arah pembangunan wilayah kepulauan kecil di Jawa Timur secara berkelanjutan. 3. agar limbah fisik maupun sosial diminimumkan dan sumberdaya jangan dikelola diatas daya dukung regenerasi sumberdaya lokal. 4. Dimensi sosial-ekonomi dan budaya : menjangkau penyediaan kebutuhan dasar manusis dalam rangka regenrerasi ekosistem asli. 4. habitat. Dimensi kelembagaan : meningkatkan apresiasi pemerintah daerah dalam mengintegrasi dan mengkoordinasi pembangunan kepulauan kecil yang didukung dengan peraturan daerah yang menjamin pelaksanaan partisipasi masyarakat lokal. maka rencana strategis pada PJP II adalah sebagai berikut : 1.5. . 5. Pertama : mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal dan pengembangan teknologi ramah lingkungan untuk sebesar-besarnya manfaat masyarakat lokal. sementara kelembagaan dan partisipasi masyarakat lokal untuk perlindungan sumberdaya sangat rendah dan lemah. 5. dampak lingkungan.2. pemetaan dan eksplorasi untuk memastikan cadangan sumberdaya alam. maka diperlukan penyamaan persepsi. sehingga sering menimbulkan konflik yang berkepanjangan. Ke dua : memperkuat kelembagaan dan partisipasi masyarakat kepulauan dalam pembangunan wilayahnya secara berkelanjutan.5. Menjadi ssaran operasi penangkapan armada perikanan yang lebih maju dengan nelayan lokal. Persediaan air bersih yang sangat terbatas. Secara ekologi amat rentan. 5. Dimensi ekologi : diperlukan tata guna dan tata ruang pemnfaatan kepulauan sebagai satu sistem lingkungan. sehingga tertinggal baik teknologi dan akses informasi pasar. kawasan lindung maupun kawasan produksi yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. 6. 2. Tersedia varietas yang dilindungi namun sangat mudah dihancurkan oleh masyarakat yang tidak bertanggung jawab.

jika kita tidak memanfaatkan secara baik.1. 2. antara lain kemampuan armada milik nelayan yang kecil dan teknologi sederhana.6. KEAMANAN DAN PEMANFAATAN SUMBERDAYA ZEE 5. maka ada hak negara lain (asing) untuk memanfaatkannya. kapal barang asing maupun penangkapan ikan sering menggunakan wilayah ZEEI sebagai lalu lintas saja. Berdasarkan UNCLOS (The UN Convention on the Law of the Sea). 47 5. maka perairan Indonesia diakui pada tahun 1982.3. Pengakuan secara legal tersebut memberikan Indonesia dasar hukum bagi pembangunan berkelanjutan terhadap sumberdaya laut. Rencana Strategis . Memperkuat sistem pengawasan wilayah ZEEI. Permasalahan dan tantangan masa depan.atan. Khususnya di ZEEI Selatan Jawa. sehingga daya jangkaunya untuk memanfaatkan wilayah ZEEI sangat terbatas. 3. Eksploitasi dan penggunaan sumberdaya kelautan oleh negara asing dapat dilakukan berdasarkan perjanjian bilateral. tambang di dasar laut maupun daratan dalam batas 200 mil Zone Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI). baik dalam menghadapi gangguan yang bersumber dari unsur internal maupun eksternal. Tujuan Program Pada PJP II diharapkan sumberdaya ZEEI dapat dikelola sekaligus diamankan.2. Menjalin kerjasama nasional dan internasional untuk memperkuat pemanfaatan sumberdaya Laut Selatan secara berkelanjutan. Propinsi Jawa Timur bagian Selatan adalah berbatasan dengan wilayah perairan Samudera Indonesia dan batas laut Zone Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang harus dikelola secara sungguh-sungguh dan professional. Memperkuat armada penangkapan ikan untuk skala perikanan samudera. termasuk semua kekayaan yang terkandung didalamnya. Pengakuan ini menjadikan Indonesia mempunyai kedaulatan terhadapa sumberdaya alam pada kawasan kepulauan tersebut. mengingat potensi dan peluang pengembangnannya sangat besar. Mengembangkan peranserta masyarakat dalam proses perencanaan dan pengawasan pemanfaatan sumberdaya ZEEI. seperti penyelundupan melalui laut Selatan ataupun pelanggaran wilayah kedaul. Berdasarkan aturan internasional. Dasar Pertimbangan Indonesia merupakan negara kepulauan. Mengingat pengawasan yang lemah membuat kesulitan dalam mengatasi pelanggaran. 4. juga rendahnya prasarana patroli laut untuk memelihara keamanan di wilayah tersebut. 5.6. Dengan demikian pemanfaatan dan pemeliharaan keamanan ZEEI Selatan Jawa Timur dapat diarahkan: 1. Konvensi LOS juga mengakui hak-hak ekslusif atas sumberdaya alam termasuk yang hidup maupun yang mati.6. 5.6. Pengelolaan sumberdaya di wilayah ini masih berada dalam tingkat under-fishing.

The Conservation Foundation. Clark. Wet Coastal Ecosystems.. and S. DAFTAR PUSTAKA Ahmad. Handbook for Mangrove Area Management.). 1978. Clark. UNEP Nairobi.R. V. Coral Reef Monitoring Handbook. D. 6. J. dan D.. Washington. Vol. 1980. USA. D. Clark.J. J.J. 1983. Washington D. 2. 48 1.C. Florida.C. 1985. Ke enam : memperkuat kerjasama nasional dan internasional dalam pemanfaatan dan pengawasan ZEEI.). Environmen Paper #3.C. Rome. 1. New Caledonia. Noumea. Hamilton.J. Clark. 1984. National Planning Association.J.A. Ecosystems of the World.S. E- W Environment and Policy Institute. Ke tiga : memperkuat kemampuan kelembagaan dan peranserta masyarakat dalam pemantauan dan pengawasan kapal asing dalam pemanfaatan sumberdaya Laut Selatan. Ke empat : mengembangkan sistem informasi pemanfaatan sumberdaya perikanan samudera. 1982. Research Planning Institute. 1976. Dinas Perikanan Prop.R. Chapman. The Conservation Foundation. S. . (ed. J.Zinn.Bantz. Carol. Ke dua : memperkuat armada perikanan rakyat dan kawasan industri perikanan di wilayah Selatan Jawa Timur. Hawaii. J. South Pacific Commission. Coastal Tourism. Ke lima : penyebarluasan IPTEK pemanfaatan perikanan samudera untuk perikanan rakyat. L. Coastal Resources Management: Development Case Studies. FAO.R.l. 5.R. Coastal Zone Management as Land Use Planning. 1982. South Carolina. Coastal Ecological Considerations for Management of the Coastal Zone. Pertama : menata dan memperbaiki sistem pengawasan dan pemantauan wilayah ZEEI Selatan Jawa Timur. FAO. Y. 3. Washington D. 1977. Snedaker (eds. A. Brower. Coastal Ecosystem Management: A Technical Manual for the Conservation of Coastal Zone Resources.C. New York. Elsevier Scientific Publishing Co. Jawa Timur (1979-1999) : Laporan Statistik Perikanan Jawa Timur Tahun 1979 – 1999. Honolulu. 4. Dahl. 1984. Management and Utilization of Mangroves in Asia and Pasific Region. dan J. Coastal Environmental Management: Guidelines for Conservation of Resources and Protection Against Storm Hazards.

London. dan T.A. Coastal Zone Resource Development and Conservation in Southeast Asia.D.Miyabara. Ilyas Baker dan Pramuk Kaeoniam. 49 Hilborn. Chapman and Hall. Washington D. Jakarta 10002. Coastal Resources Management Guidelines. Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup (1996) : Agenda 21 Indonesia.. Ecological Guidelines for Tropical Coastal Development. 1984. Hersman. In Cooperation with NPS. dan C. Ray and Carl J. Odum. Getter.E.C. W. Indonesia.2. UNESCO and East-WestCentre. dan M.C. S. Coastal Publication No. Institutional Arrangements for Management of Coastal Resources. USDI.T. Coastal Publication No. Hawaii. McCreary. Walters (1992) : Quantitive Fisheries Stock Assessment. 1986. Washington D. Manual of Coastal Development Planning and Management for Thailand. Inc. IUCN. Snedaker.J. Sorenson. .S. 1985. 1984. Regional Office for Science and Technology for Southeast Asia. Strategi Nasional Untuk Pembangunan Berkelanjutan. 1976.. J. USAID. G. 1. Knox.C. The UNESCO MAB and COMAR Programmes. Research Planning Institute.C.