You are on page 1of 45

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS HALU OLEO
FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN

LAPORAN
GEOFISIKA TAMBANG

“METODE GEOLISTRIK, METODE SELF POTENSIAL
DAN METODE SUSEPTIBILITAS MAGNETIK’’

O LE H

ASWAN
F1B2 14 008

KENDARI
2017
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS HALU OLEO
FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN

LAPORAN
GEOFISIKA TAMBANG

“METODE GEOLISTRIK, METODE SELF POTENSIAL
DAN METODE SUSEPTIBILITAS MAGNETIK’’

Diajukan sebagai salah satu syarat kelulusan mata kuliah Geofisika Tambang
di Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian
Universitas Halu Oleo

O LE H

ASWAN
F1B2 14 008

KENDARI
2017
LAPORAN
GEOFISIKA TAMBANG

“METODE GEOLISTRIK, METODE SELF POTENSIAL
DAN METODE MAGNETIK’’

PENGESAHAN

DI SETUJUI OLEH :

Kendari, 9 Januari 2017

Dosen Pembimbing Kordinator
Asisten

Deniyatno, S.Si., M.T. Aliandry Indratirta
NIP. NIM

KENDARI
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjyakan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat

dan rahmatNyalah sehingga penulis dapat membuat dan menyelesaikan laporan

geofisika umum ini dengan tepat pada waktunya.

Laporan ini berisi berisi tentang metode-metode geofisika diantaranyametode

geolistrik, metode self potensial dan metode suseptibilitas magnetic yang penulis

dapatkan selama praktikum.

Dengan selesainya penulisan laporan ini tak lupa penulis mengucapkan terima

kasih kepada bapak Deniyatno,S.Si,MT selaku dosen pembimbing mata kuliah

geofisika TAMBANG dan juga kepada asisten-asisten yang telah membantu selama

praktikum dan juga penyusunan laporan ini.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kata sempurna, oleh

karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari

pembaca laporan ini. Akhir kata semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita

semua.

Kendari, 9 Januari 2017

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman Sampul
Halaman Pengesahan.............................................................................................
Kata Pengantar.......................................................................................................
Daftar Isi................................................................................................................
Daftar gambar........................................................................................................
Daftra Tabel...........................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................
1.1 Latar Belakang...........................................................................................
1.2 Maksud dan Tujuan...................................................................................
1.3 Instrumen yang digunakan........................................................................
BAB II LANDASAN TEORI...............................................................................
II.1 Metode Geolistrik Konfigurasi wenner....................................................
a. Teori Dasar..........................................................................................
b. Akuisis Data........................................................................................
c. Pengolahan Data..................................................................................
d. Interertasi...........................................................................................
II.2 Metode Geolistrik Konfigurasi Sclumburger............................................
a. Teori Dasar..........................................................................................
b. Akuisis Data........................................................................................
c. Pengolahan Data..................................................................................
d. Interpertasi.........................................................................................
II.3 Metode Self Potensial.............................................................................
a. Teori Dasar........................................................................................
b. Akuisisi Data.....................................................................................
c. Pengolahan Data................................................................................
d. Interpertasi.........................................................................................
II.4 Metode Susseptibilitas Magnetik..............................................................
a. Teori Dasar.........................................................................................
b. Akuisisi Data.......................................................................................
c . Pengolahan Data.................................................................................
BAB III PEMBAHASAN.....................................................................................
III.1 Metode Geolistrik....................................................................................
III.2 Metode Self Potensial..............................................................................
III.3Metode Suseptibilitas Magnetik...............................................................
BAB IV PENUTUP...............................................................................................
IV.1Kesimpulan...............................................................................................
IV.2Saran.........................................................................................................
Daftar Pustaka.......................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang
Geofisika adalah bagian dari ilmu bumi yang mempelajari bumi menggunakan
kaidah atau prinsip-prinsip fisika. Di dalamnya termasuk juga
meterorologi,elektrisitas atmosferis dan fisika ionosfer. Penelitian geofisika dilakukan
untuk mengetahui kondisi bawah permukaan bumi dengan menggunakan metode-
metode tertentu.
Secara umum metode geofisika terdii atas metode aktif dan metode pasif.
Metode aktif dilakukan dengan membuat medan gangguan kemudian mengukur
respons yang dilakukan oleh bumi contohnya metode geolistrik. Metode pasif
dilakuka dengan mengukur medan alami yang dipancarkan oleh bumi contohnya
metode magnetic dan metode self potensial.
Metode geolistrik adalah metode eksploasi geofisika untuk menyelidiki keadaan
bawah permukaan dengan menggunakan sifat-sifat kelistrikan batuan. Sifat
kelistrikan tersebut adalah tahanan jenis.
Metode Self potensial atau SP adalah salah satu metode geofisika pasif yang
mengukur besaran beda potensial diatas permukaan dari sumber yang dihasilkan
secara alami oleh medium dibawah permukaan bumi. Sedangkan metode Magnetik
adalah metode eksplorasi geofisika yang dilakukan dengan meninjau hasul
pengukuran anomaly magnetic. Anomaly magnetic ini diakibatkan oleh perbedaan
suseptibilitas atau permeabilits magnetic di suatu daerah disekelilingnya.
Pemahaman tentang beberapa metode diatas tidak cukup tanpa dilandasi atau
ditambah dengan kegiatan praktikum lapangan dengan menggunakan metode metode
diatas.
Berdasarkan latar belakang diatas maka dilakukan kegiatan praktikum goefisika
dengan mengunakan metode geofisika antara lain geolistrik,self potensial dan
suseptiblitas magnetic untuk memperkenalkan dan mempelajari bagaimana cara kerja
alat dan penerapannya dari masing-masing metode tersebut.

I.2. Maksud dan Tujuan
a. Maksud
1. Bagaimana aplikasi metode geolistrik dalam eksplorasi sumber daya alam
?
2. Bagaimana aplikasi metode Self Potensial dalam pemetaan zona intrusi
air laut ?
3. Bagaimana aplikasi metode magnetik dalam eksplorasi sumber daya
alam?
b. Tujuan
1. Untuk mengetahui aplikasi metode geolistrik dalam eksplorasi sumber
daya alam
2. Untuk mengetahui aplikasi metode Self Potensial dalam pemetaan zona
intrusi air laut
3. Untuk mengetahui aplikasi metode suseptibilitas magnetik dalam
eksplorasi sumber daya alam

I.3 Instrumentasi yang digunakan
Adapun instrumen/alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini dapat
dilihat pada tabel-tabel berikut ini :

Tabel 1.3Alat dan Bahan dalam penelitian
No. Alat dan Bahan Spesifikasi Fungsi
Resistivitymeter Mengukur besarnya tahanan jenis
1.
(Naniura NRD 350)) batuan di bawah permukaan
2. 5 batang elektroda Panjang 30 cm Menginjeksikan arus kebawah
(2 buah elektroda dengandiameter permukaan bumi dan menangkap
arus AB,2 0,5 cm beda potensial
buahelektrodapotens
ial NM dan 1
buahsebagaititikteng
ah)
Menghubungkan elektroda arus
3. 2 rol kabel arus 300 meter
dengan resistivitymeter
Menghubungkan elektroda potensial
4. 2 rol kabel potensial 300 meter
dengan resistivitymeter
Sumberenergiketikamenginjeksikana
5. Aki 12 Volt
rus
Menghubungkanakidenganresistivity
6. KabelPenghubung 1 meter
meter
Untukmenancapkanbatangelektrodaa
7. Palu 2,5 kg
rusdanpotensialkedalamtanah
Mengukurpanjangbentanganelektrod
8. Rol meter 100 meter
a
Menentukan koordinat titik
9. GPS GPS-76 Garmin
pengukuran
10. HP (Hand Phone) Sebagai alat komunikasi
Menjalankan program (software)
11. Satu unit Laptop Intel inside yang digunakan dalam pengolahan
data
Microsoft Office Office Excel Menghitung data hasil pengukuran
12.
Excel 2013 lapangan
Memperlihatkan gambaran kolom
13. Software PROGRES
stratigrafi bawah permukaan
Memperlihatkan Penampang 2D
14. Software RES2DInv
bawah permukaan
15. Voltmeter Penghubung elektroda-elektroda
Untuk Membuat Peta kontur
16. Software Surfer 9
topoggrafi lokasi penelitian
Untuk melakukan pengukuran
17. Alat MS2k
suseptibilitas magnetik vertikal
Untuk Menerima data dari alat
18. Suseptibilitas Meter
MS2k
larutan Copper Untuk mengkalibrasi Elektroda
19.
Sulphate (CuSO4) Porous Pot

BAB II
LANDASAN TEORI

II.1 Metode Geolistrik
a. Teori Dasar
Metode Geolistrik merupakan salah satu metode geofisika yangmempelajari
sifat aliran listrik di dalam bumi dengan cara pendeteksian di permukaan bumi.
Penyelidikan air tanah secara tidak langsung dapat dilakukan dengan metode ini.
Pengukuran dengan metode ini relatif mudah untuk dilakukan. Pada prinsipnya,
pengukuran dilakukan dengan menginjeksikan arus ke bawah permukaan dan
mengukur variasi beda tegangan di permukaan (Dewi, 2014).
Metode geolistrik resistivitas adalah besaran/ parameter yang menunjukkan
tingkat hambatanya terhadap arus listrik. Bahan yang mempunyai resistivitas makin
besar, berarti makin sukar untuk dilalui arus listrik. Biasanya tahanan jenis diberi
simbol . Tahanan jenis adalah kebalikan dari daya hantar jenis yang diberi simbul .
Metode ini didasarkan dengan anggapan bahwa bumi bersifat homogen isotropis.
Pada kenyataannya, bumi terdiri dari lapisan-lapisan bebatuan dengan nilai
resistivitas berbeda-beda, sehingga potensial yang terukur dipengaruhi oleh lapisan-
lapisan tersebut dan menyebabkan nilai tahanan jenis yang terukur tergantung pada
jarak elektroda. Nilai tahanan jenis yang terukur bukanlah tahanan jenis yang

sebenarnya melainkan tahanan jenis semu ( ρα ) (Dewi, 2014).

1. Hukum ohm sebgai hukum dasar resistivitas
Hubungan antara beda potensial, arus dan hambatan listrik diberikan oleh
George Simon Ohm (Anonim, 2005) sebagai berikut :
V
R=
I

(1)
dengan, R = Hambatan (Ohm)
I = Arus (Ampere) dan V = Beda Potensial (Volt)
Apabila ditinjau sebuah selinder dengan luas penampang A,panjangnya L,

hambatan R dan memiliki tahanan jenis ρ ( Gambar .9) maka hubungan yang

diperoleh dinyatakan dengan rumus :
ρL
R=
A

(2)

dengan, ρ = Resistivitas (Ωm)

R = Hambatan (Ω)
A = Luas Penampang (m2)
L = Panjang Penampang (m)

Gambar 2.1.1 Sileinder dengan luas luas penampang A,panjangnya L, hambatan R

dan memiliki tahanan jenis ρ (Anonim, 2005)

2. Potensial arus dalam bumi
a. Arus tunggal dekat permukaan
Apabila titik arus terpasang dekat permukaan bumi maka perambatan arus
radial berupa permukaan setengah bola dan terlihat pemukaan ekipotensial berupa
garis setengan lingkaran.
Gambar 2.1.2 Pola arus listrik yang dipancarkanoleh elektroda arus tunggal di
permukaan medium setengah tak berhingga (Anonim, 2005).

Oleh karena permukaan yang dilalui arus I adalah luas setengah permukaan
2
bola = 2π r dan arus mengalir secara radial setengah lingkaran pada jarak r

dari titik sumber arus C1 maka persamaan potensialnya adalah :

V ( r )=
2 πr (3)

b. Arus ganda dekat permukaan

Gambar 2.1.3. Arus listrik dilewatkan pada elektroda arusA dan B (Anonim, 2013).

Pengukuran di lapangan menggunakan dua buah elektroda untuk menglirkan
arus (C1 dan C2) dan beda potensialnya diukur diantara dua titik P1 dan P2 (Gambar
2.11) disebabkan oleh arus +I dan –I yang di injeksikan melalui elektroda arus C1 dan
C2, maka dengan menggunakan persamaan (2.3), potensial di titik M oleh arus yang
melewati elektroda A dan B pada Gambar 2.11 adalah:
I  1 1
VM    
2  r1 r2 
(4)
dengan, r1 = jarak elektroda potensial M dengan elektroda arus A
r2 = jarak elektroda potensial M dengan elektroda arus B
Tanda negatif pada persamaan (4) disebabkan oleh arus yang harus berlawanan
pada elektroda arus ganda.
Potensial yang terukur di titik N adalah:
I  1 1
VN    
2  r3 r4 
(5)
dengan, r3 = jarak elektroda potensial N dengan elektroda arus A
r4 = jarak elektroda potensial N dengan elektroda arus B
dengan demikian beda potensial terukur di titik M dan N adalah:
Iρ 1 1 1 1
V MN = (− − +
2 π r1 r2 r3 r 4 ) (6)

Persamaan (6) adalah nilai beda potensial dari sebuah media dengan nilai

resistivitas ρ yang seragam pada medium homogen. Sedangkan di dalam medium

tanah, kondisi sangat berbeda sehingga bidang equipotensial yang muncul akan
sangat tidak beraturan. Oleh karena itu, dalam pengukuran di lapangan dikenal istilah
resistivitas semu (apparent resistivity). Nilai resisitivitas semu tergantung pada
resisitivitas lapisan-lapisan pembentuk formasi (medium yang tidak homogen).

ρa
Untuk menentukan nilai resistivitas semu ( ) digunakan rumus :

2 πV MN 1 1 1 1 −1
ρ a=
I (
− − +
r1 r2 r3 r 4 ) (7)

persamaan (7) adalah persamaan dasar dari metode resistivitas dan sering dituliskan :
V MN
ρa=K (8)
I
−1
1 1 1 1
dimana,
K=2 π
( − − +
r1 r2 r3 r 4 ) (9)

K merupakan faktor geometri yang nilainya tergantung dari susunan konfigurasi
elektroda yang digunakan.

3. Konfigurasi Schlumberger
Dalam penelitian ini menggunakan konfigurasi Schlumberger. Konfigurasi
Schlumberger pertama kali diperkenalkan oleh Conrad Schlumbergerpada tahun
1912, dan banyak digunakan di Eropa. Konfigurasi ini juga dapat digunakan untuk
resistivity mapping dan resistivity sounding.

Gambar 2.1.4. Konfigurasi Schlumberger.
Untukkonfigurasi Schlumberger, r1 = s  b, r2 = s + b, r3 = s + b, danr4 = sb,
persamaan (2.9) menjadi :
1 1 1 1 −1
π ( s2 −b2 )
K S =2 π ( − − +
s−b s +b s +b s−b ) =
2b (10)

atau dapat ditulis Faktor Geometri untuk konfigurasi Schlumberger adalah :
πs2
K≈ (11)
2b

Prinsip konfigurasi Schlumberger idealnya jarak MN dibuat sekecil-kecilnya,
sehingga jarak MN secara teoritis tidak berubah. Tetapi karena keterbatasan alat ukur,
maka ketika jarak AB sudah relatif besar maka jarak MN hendaknya dirubah.
Perubahan jarak MN hendaknya tidak lebih besar dari 1/5 jarak AB.
Keunggulan konfigurasi Schlumberger adalah kemampuan untuk menembus
kedalaman secara vertikal dan mendeteksi adanya sifat tidak homogen lapisan batuan
pada permukaan, yaitu dengan membandingkan nilai resistivitas semu ketika terjadi
perubahan jarak elektroda MN/2.
Prasetiawati (2004) mengemukakan bahwa ada beberapa hal yang
mempengaruhi nilai resistivitas semu adalah sebagai berikut :
1. Ukuran butir penyusun batuan, semakin kecil besar butir maka kelolosan arus
akan semakin baik, sehingga mereduksi nilai tahanan jenis.
2. Komposisi mineral dari batuan, semakin meningkat kandungan mineral lempung
(clay) akan mengakibatkan menurunnya nilai resisivitas.
3. Kandungan air, air tanah atau air permukaan merupakan media yang mereduksi
nilai tahanan jenis.
4. Kelarutan garam dalam air di dalam batuan akan mengakibatkan meningkatnya
kandungan ion dalam air sehingga berfungsi sebagai konduktor.
5. Kepadatan, semakin padat batuan akan meningkatkan nilai resistivitas.

4. Konfigurasi Wenner
Metode ini diperkenalkan oleh Wenner (1915). KonfigurasiWennermerupakan
salah satu konfigurasi yang sering digunakan dalam eksplorasi geolistrik dengan
susunan jarak spasi sama panjang (r1 = r4 = a dan r2 = r3 = 2a). Jarak antara
elektroda arus adalah tiga kali jarak elektrodap otensial, jarak potensial dengan titik
souding-nya adalah 2/a , maka jarak masing elektroda arus dengan titik soundingnya
adalah 2/3a . Target kedalaman yang mampu dicapai pada metode ini adalah 2/a .
Untuk konfigurasi Wenner, r1 = r4 = a dan r2 = r3 = 2a, maka persamaan (7)
menjadi:

I   1 1   1 1  I
V           
2   a 2 a   2a a   2 a
(10)
 V 
  2 a  
 I 
sehingga: (11)
K  2 a
atau,

Gambar2.1.5. Susunan konigurasi wenner

A. Konsep Resistivitas Semu

Bumi diasumsikan bersifat homogen isotropis. Tapi pada kenyataannya, bumi

terdiri dari lapisan-lapisan yang resistivitasnya ( ρ) yang berbeda-beda, sehingga

resistivitas yang terukur bukan merupakan resistivitas sebenarnya; oleh sebab itu,
harga resistivitas yang diukur seolah-olah merupakan harga untuk satu lapisan saja
(Gambar.9) terutama untuk spasi yang lebar. Maka resistivitas yang terukur adalah

resistivitas semu ( ρa ) . Resistivitas semu merupakan resistivitas dari suatu medium

fiktif homogen yang akivalen dengan medium berlapis yang ditinjau.

Gambar2.1.6. Resistivitas semu
Medium berlapis yang ditinjau misalnya terdiri dari 2 lapis dan mempunyai

resistivitas berbeda ( ρ1 dan ρ2 ) . Dalam pengukuran, medium ini terbaca sebagai

medium satu lapis homogen yang memiliki satu harga resistivitas yaitu resistivitas

ρa ρa
semu . Resistivitas semu (apparent resistivity ) dirumuskan dengan:

∆V
ρa=K
I

dengan :
ρa = resistiviti semu (Ωm)

K = Faktor geometri
∆ V = Beda potensial pada MN (mV)

I = Kuat arus (mA)

B. Sifat Kelistrikan Batuan

Sifat listrik batuan adalah kelistrikan batuan jika dialirkan arus listrik ke
dalamnya. Arus listrik ini dapat berasal dari alam itu sendiri akibat adanya ketidak
setimbangan atau arus listrik sengaja diinjeksikan ke dalam lapisan: Hendrajaya
(1998) menyatakan bahwa sifat listrik batuan merupakan karakteristik dari batuan
yang dialiri arus listrik ke dalam batuan tersebut. Arus listrik ini dapat berasal dari
alam sendiri sebagai akibat dari ketidakseimbangan konsentrasi atau dapat juga
berasal dari arus listrik yang dengan sengaja diinjeksikan ke dalamnya.

Telford dkk (1990) mengemukakan bahwa aliran arus listrik di dalam batuan
dapat digolongkan menjadi tiga macam besarnya dipengaruhi oleh porositas batuan
dan juga dipengaruhi oleh jumlah air yang terperangkap dalam pori-pori batuan,
yaitu:
1. Konduksi elektronik jika batuan mempunyai elektron bebas sehingga arus listrik
dialirkan oleh elekron-elektron bebas.
2. Konduksi elektrolit terjadi jika batuan bersifat poros dan pori-pori terisi oleh
cairan elektrolit. Konduksi ini bergantung pada jenis ion, konsentrasi dan
mobilitas ion, dimana cairan-cairan elektrolitik mengisi pori-pori batuan.
3. Konduksi dielektrik terjadi jika batuan bersifat dielektrik terhadap aliran
aruslistrik yaitu terjadi polarisasi saat bahan dialiri arus listrik.

Sifat dari mineral golongan logam mempunyai sifat konduktivitas listrik yang
sangat baik dan mempunyai nilai resistivitas listrik yang rendah. Resistivitas
merupakan suatu parameter yang bergantung pada sifat-sifat material penghantar.
Resistivitas juga merupakan perbandingan antara kuat medan listrik dengan rapat
arus, dengan teori arus dapat mengalir bila ada beda potensial atau diberikan medan
listrik (dalam suatu konduktor).

C. Resistivitas Batuan

Dari semua sifat fisika batuan dan mineral, resistivitas memperlihatkan variasi
harga yang sangat banyak. Pada mineral-mineral logam, harganya berkisar pada
−8 7
10 Ω m hingga 10 Ω m . Begitu juga pada batuan-batuan lain, dengan

komposisi yang bermacam-macam akan menghasilkan range resistivitas yang
bervariasi pula, sehingga range resistivitas maksimum yang mungkin adalah dari

1.6 x 10−8 (perak asli) hingga 1016 (belerang murni).

Dalam konduktor berisi banyak elektron bebas dengan mobilitas yang sangat
tinggi. Sedangkan pada semikonduktor, jumlah elektron bebasnya lebih sedikit.
Isolator dicirikan oleh ikatan ionik sehingga elektron-elektron valensi tidak bebas
bergerak.
Secara umum, berdasarkan harga resistivitas listriknya, batuan dan mineral
dapat dikelompokkan menjadi 3 (Telford dkk, 1990), yaitu:
−8
 Kondukror baik : 10 < ρ<1 Ω m
7
 Konduktor pertengahan : 1< ρ<10 Ω m
7
 Isolator : ρ>10 Ω m

Kebanyakan mineral membentuk batuan penghantar listrik yang tidak baik
walaupun beberapa logam asli dan grafit menghantarkan listrik. Resistivitas yang
terukur pada material bumi utamanya ditentukan oleh pergerakan ion-ion bermuatan
dalam pori-pori fluida. Air tanah secara umum berisi campuran terlarut yang dapat
menambah kemampuannya untuk menghantar listrik, meskipun air tanah bukan
konduktor listrik yang baik. Variasi resistivitas material bumi ditunjukkan pada Tabel
1. (Telford dkk, 1990) dan Tabel 2. (Soenarto, 2004).

Tabel 2. Nilai resistivitas lapisan batuandalam bumi(Telford, dkk. 1990)
No. Material Resistivitas (Ωm)
1 Lempung 1-100

2 Lempung Kering 30

3 Air permukaan ( Batuan Beku) 0.1-3000

4 Air permukaan (Batuan Sedimen) 10-100

5 Air Tanah 100

6 Air (Batuan Beku) 0.5-150

7 Air (Batuan Sedimen) 1-100

8 Air Laur 0.2

9 Batupasir 1-6,4 x 108

10 Batugamping 60-107

1. Prosedur penelitian
Dalam pelaksanaan penelitian lapangan ada 5 (lima) tahapan yang dilakukan
yaitu survey pendahuluan, penyiapan alat, pengambilan data (data akuisiton),
pengolahan data (data processing),daninterpretasi(interpretation).

 Survei pendahuluan

Agar data yang diperoleh berkualitas baik dan mewakili daerah penelitian,
maka dilakukan pendahuluan dengan membuat desain survey dan menentukan titik-
titik pengukuran serta pengambilan data sumur bor sebagai data pendukung.

 Penyiapan alat

Peralatan utama yang dipakai dalam pengambilan data geolistrik adalah
Resistivitymeter merek IPMGEO-4100. Resistivitymeter ini merupakan alat yang
portable dengan system pengoperasian yang cukup mudah dan sederhana.

Berikut tahapan penyiapan alat di lapangan :
a. Merangkai serta menyusun alat sesuai dengan prosedur yang benar.
b. Menentukan jarak titik elektroda potensial MN dan arus AB menggunakan roll
meter.
c. Menancapkan elektroda potensial MN dan elektroda arus AB pada jarak yang
sudah ditentukan menggunakan palu.
d. Menghubungkan Aki (Power Supply), Resistivitymeter IPMGEO-4100 dan
eletroda-elektroda menggunakan kabel penghubung.
e. Mengaktifkan power pada resistivitymeter, mengukur dan mencatat beda
potensial (mV) dan arus (mA) yang ditampilkan di multimeter digital.

f. Setiap elektroda digeser sesuai jarak yang telah ditentukan mengikuti arah
lintasan, lalu mengukur kembali kuat arus dan beda potensial untuk datum point
kedua, dan seterusnya.
 Pengambilan data (data akuisition)
Pengukuran dilakukan dengan menekan tombol Injeck (Menginjeksikan arus),
kemudian menekan tombol Hold secara bersamaan untuk mengetahui nilai Arus dan
Tegangan, kemudian mencatat data pada tabel pengamatan seperti Tabel 3.Pada
penelitia ini, konfigurasi elektroda yang digunakan adalah konfigurasi Schlumberger.
Pada konfigurasi ini, elektroda arus dipindahkan lebih jauh dari titik tengah setiap
selesai melakukan pengukuran, langkah ini dilakukan untuk menghasilkan arus yang
dapat menembus lapisan tanah lebih dalam.
Untuk jarak elektroda arus (AB) yang sudah cukup jauh, jarak antara elektroda
potensial (MN) juga diperbesar dengan aturan jarak elektroda potensial 1/5 dari jarak
elektroda arus. Pengukuran dilakukan pada tiap titik sounding dengan mencatat posisi
koordinat, data yang diperoleh dari pengukuran ini berupa arus (I) dan beda potensial
(V).
Adapun prosedur sounding dengankonfigurasi Schlumberger tersebut adalah
sebagai berikut:
1) Tempatkan elektroda-elektroda arus dan tegangan dengan konfigurasi
Schlumberger pada bentangan terpendek yang direncanakan (eksentrisitas bs 
13). Catat kuat arus listrik dan beda potensial yang terukur. Hitung a dan plot
hasilnya (a sebagai fungsi jarak setengah bentangan AB2) pada kertas skala
log-log.
2) Pindah elektroda arus (elektroda potensial tetap) pada jarak ke 2 yang telah
ditentukan. Catat I dan V yang terukur. Hitung dan plot a seperti pada point 1.
3) Lakukan langkah pada point2 (dapat berkali-kali) sampai pembacaan beda
potensialnya sukar (karena sangat kecil). Biasanya perpindahan elektroda arus
(elektroda potensial tetap) dapat ditetapkan sampai beberapa kali (4 atau 5 kali)
tergantung kemampuan alat ukurnya.
4) Pindahkan elektroda tegangan ke posisi ke 2 yang sudah ditetapkan dengan
elektroda arus tetap. Hitung dan plot a yang dihasilkan. Bila harga a tidak
meloncat terlalu jauh, maka maka hasil pengukuran kita cukup baik. Akan tetapi
kalau meloncat cukup jauh, maka hasil pengukuran kita tidak baik sehingga perlu
melakukan langkah lain, misalnya mengubah arah bentangan atau berpindah
tempat.
5) Kalau point 4 tidak ada masalah, maka lakukan langkah langkah 2 s/d 4 berkali-
kali sehingga jarak bentangan maksimum yang direncanakan.

a. Pengolahan data (data processing)
Hasil yang diperoleh dari pengukuran di lapangan adalah berupa nilai tahanan
jenis semu. Untuk mengetahui informasi tentang kondisi Litologi bawah permukaan
bumi diperlukan nilai tahanan jenis sebenarnya dari setiap lapisan batuan bawah
permukaan sehingga perlu dilakukan pengolahan data. Metode pengolahan data
dibagi 2 (dua), yaitu metode interpretasi langsung dengan menggunakan perangkat
lunak komputer (software) dan metode interpretasi tak langsung dengan cara
pencocokan kurva lapangan dengan kurva standar atau metode pencocokan kurva
manual.

b. Akuisisi Data
Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan seperangkat NANIURA
NRD 300hf. Metode pengukuran yang dilakukan dalam pengukuran resistivitas
adalah dengan metode geolistrik konfigurasi schlumberger. Pada metode ini,
pengukuran pada suatu titik sounding dilakukan dengan jalan mengubah-ubah jarak
elektroda.Tahap-tahap pengambilan data pengukuran di lapangan adalah sebagai
berikut:
1. Memasangelektrodasesuaidenganjarak yang ditentukan (meter)
2. Menghubungkankabelkemasing-
masingelektrodabaikituelektrodaarusmaupunelektrodapotensialdanmenghubu
ngkankabeltersebutkealatnaniura.
3. MenghubungkanNaniuradenganaccudanmenyalakanNaniurasertamenormalka
nnilaipotensialdengancaramemutar knop sampainilaipotensialmenjadi nol.
4. Menekantombol start kemudian hold untukmemulai proses pengukuran.
Pengambilan data dilakukansebanyak 2 kali per titikpengukuran.
5. Mencatathasilpengukuranberupanilaiarus (I) danpotensial (V).
6. Mengubahjarakelektroda (AB dan MN) berdasarkankonfigurasischlumberger.
7. Melakukanpoin (4) sampai (6) sebanyakjumlah data yang diinginkan.

c. Pengolahan Data
Langkah-langkahpengolahan data geolistrikyaitusebagaiberikut :
1. Menginput data pengukuranke Ms. Excel danmelakukanpenghitungan di excel
secarabertahapmulaidarimencarinilai I rata-rata, V rata-rata, hambatan (R), K,
ρa, serta log ρa. Nilaiρaserta logρadisimpandalambentuk (*.ind)

Gambar 2.2.7. Pengolahan data di Ms. Excel

Gambar 2.1.8. Nilaiρa, log ρa, dan AB/2
Gambar 2.1.9 Data dalam format (*.ind)

2. Buka program Progress.exe
3. Set Configurations pada Schlumberger
4. Pada window OBSERVED DATAlakukanperintah :
File>>Open>> (misal :GF-01.ind)

Gambar 2.1.10 Tampilanpada window observed data
5. Setelah berhasil membuka data pindah window keFORWARD MODELLING
6. Isi tableModel Parameters dengan angka pada Depth untuk perkiraan
kedalaman dan Resistivity untuk perkiraan harga resistivity.
7. Lakukan perintah :
- Processing>> Forward Processing
Sehingga terdapat grafik yang melewati titik-titik data

Gambar 2.1.11. Grafik forward modelling

- Pindah window ke INVERS MODELLING dan lalukan perintah :
Processing>> Invers Processing
Dalam melakukan invers processing parameter Max Iteration dan RMS cut
off dapat diubah-ubah sesuai dengan kebutuhan.
- Lakukan langkah diatas sampai didapatkan RMS (Root Mean Square) yang
kecil.
- Pindah window ke INTERPRETED DATA untuk melihat hasil akhi
8. Interpretasi
Gambar 2..1.12. Hasilinterpretasi data

II.2 Metode Self Potensial

a. Teori Dasar
Metode Geolistrik Potensial Diri ( SP/ Self Potential Methode )
Metode Self potential (SP) adalah metode pasif, karena pengukurannya
dilakukan tanpa menginjeksikan arus listrik lewat permukaan tanah, perbedaan
potensial alami tanah diukur melalui dua titik dipermukaan tanah. Potensial yang
dapat diukur berkisar antar beberapa millivolt (mV) hingga 1 volt.
Self potensial adalah potensial spontan yang ada di permukaan bumi yang
diakibatkan oleh adanya proses mekanis ataupun oleh proses elektrokimia yang di
kontrol oleh air tanah. Proses mekanis akan menghasilkan potensial elektrokinetik
sedangkan proses kimia akan menimbulkan potensial elektrokimia (potensial liquid-
junction, potensial nernst) dan potensial mineralisasi.
Komponen rekaman data potensial diri yang diperoleh dari lapangan
merupakan gabungan dari tiga komponen dengan panjang gelombang yang berbeda,
yaitu efek topografi (TE) ), SP noise (SPN ) dan SP sisa (SPR). Metode potensial diri
(SP) merupakan salah satu metode geofisika yang prinsip kerjanya adalah mengukur
tegangan statis alam (static natural voltage) yang berada di kelompok titik titik di
permukaan tanah. Potensial diri umumnya berhubungan dengan perlapisan tubuh
mineral sulfide (weathering of sulphide mineral body), perubahan dalam sifat-sifat
batuan (kandungan mineral) pada daerah kontak - kontak geologi, aktifitas bioelektrik
dari material organik, korosi, perbedaan suhu dan tekanan dalam fluida di bawah
permukaan dan fenomena-fenomena alam lainnya.
Prinsip dasar dari metode potensial diri adalah pengukuran tegangan statis alam
(Static Natural Voltage) pada permukaan tanah. Orang yang pertama kali
menggunakan metode ini adalah untuk menentukan daerah yang mengandung mineral
logam.

b. Akuisisi Data
Prosedur dan Peralatan
Penelitian menggunakan metode SP sangat simple dan praktis yaitu hanya ada
base elektroda dan elektroda rover (elektroda yang berjalan) sepanjang lintasan. Alat
yang diperlukan berupa elektroda, kabel dan milivolt(multimeter).
Elektroda yang digunakan dalam penelitian metode SP harus elektroda yang
kontak dengan tanah tak berpolarisasi atau non polarisasi. Porous pots adalah
elektroda logam yang digantung di dalam larutan super jenuh (seperti Tembaga di
dalam larutan copper sulfate / CuSO4) di dalam tempat yang porous. Elektroda
porous pots menghasilkan kontak potensial elektrolitik yang sangat rendah seperti
potensial di bawah permukaan yang kecil juga. Model porous pots yang terbuat dari
porcelain yang bagus akan menghidari evaporasi dari larutan garam di dalamnya.
Gambar 2.2.1 .Alat untuk metode Self Potensial

Porous pots yang digunakan harus tertutup karena agar menjaga larutan didalamnya
tetap dalam keadaan jenuh untuk waktu lebih dari seminggu, bahkan dalam keadaan
kering. Untuk pengisian kembali larutan CuSO4 harus dilakukan sehari sebelum
dilakukannya pengukuran hal ini dikarenakan kemungkinan perubahan potensial
selama pengukuran dilakukan. Dan salah satu tips yang berguna dalam pengisian
ulang porous pot ketika telah digunakan adalah mencampur larutan sisa CuSo4 yang
lama dengan larutan CuSO4 yang baru kemudian dilarutkan menjadi satu larutan
CuSO4 yang baru.Elektroda pengukuran dilapangan untuk satu set pengukuran harus
sama, tidak boleh digantikan selama pengukuran. Pots untuk base station selalu
ukurannya
lebih besar karena untuk menjamin kontak elektrikal yang konstan terhadap waktu
dalam pengukuran. Elektroda (pots) yang berjalan ukurannya lebih kecil dari dari
pots base station.
Elektroda dari bahan tembaga selalu digunakan dalam porous pot karena
merupakan elektroda yang non polarisasi. Sedangkan elektroda dari bahan steel harus
dihindari dalam pengukuran SP karena kontak potensial yang cukup tinggi dan error
yang besar akan mungkin berkembang jika pada pengukuran SP elektroda yang
digunakan adalah dari bahan stainless steel (Corwin, 1989).
Mili voltmeter yang harganya tidak terlalu mahal dapat digunakan untuk pengukuran
metode Self Potensial ini dimana alat milivoltmeter yang digunakan harus mampu
membaca nilai potensial dalam range milivolt. Background potensial untuk suatu
penelitian metode SP adalah 10 mV. Nilai potensial yang terbaca juga mungkin bisa
melebihi 1.0 V dan ini terjadi pada kedalaman dangkal atau pengukuran lubang bor
dengan sumber yang besar.
Interpretasi untuk metode Self Potensial umumnya dilakukan secara kualitatif
dimana mengevaluasi profil amplitude atau grid kontur. Suatu sumber aliran di bawah
permukaan menghasilkan suatu potensial, aliran fluida di bawah permukaan akan
menghasilkan pola potensial yang relative negatif.
c. Pengolahan data
KODE PEMBACAAN penjumlah
WAKT RATA- VARHA terkoreksivarh KETERANG
LOKA an leap
U RATA N an AN
SI 1 2 3 4 5 frog
- - - - -
- S1.26 3.5 3.4 3.4 3.5 3.5 8.44 -3.46 0.6 -4.06 -4.06
- - -
17. 17. 17. 17. 17.
+ S2.21 8 6 4 5 3 8.55 -3.60 1.3 -4.90 -8.96
- - - - -
11. 11. 11. 11. 11.
- S2.21 4 4 3 4 4 9.1 -11.38 1.2 -12.58 3.62
+ S2.3 1.4 1.4 1.5 1.4 1.4 9.16 1.42 1.2 0.22 3.84
- - - - -
- S2.4 1.7 1.7 1.6 1.7 1.7 9.18 -1.68 1.2 -2.88 6.72
- - - - -
+ S2.5 8.5 8.6 8.5 8.6 8.6 9.21 -8.56 1.2 -9.76 -3.04
- - - - -
- S2.6 4.7 4.7 4.7 4.7 4.7 9.23 -4.70 2 -6.70 3.66
- - - - -
+ S2.7 1.5 1.6 1.6 1.7 1.7 9.26 -1.62 2 -3.62 0.04
- S2.8 0.7 0.8 0.8 0.8 0.8 9.29 0.78 2.1 -1.32 1.36
- - - - -
+ S2.9 1.1 1.4 1.2 1.2 1.2 9.31 -1.22 2.1 -3.32 -1.96
- - - - -
- S2.10 1.4 1.4 1.3 1.3 1.5 9.33 -1.38 2.7 -4.08 2.12
+ S2.11 3.5 3.4 3.4 3.5 3.5 9.38 3.46 2.8 0.66 2.78
- S2.12 3 3.1 3 3 3.1 9.4 3.04 2.8 0.24 2.54
+ S2.13 0.4 0.4 0.4 0.4 0.4 9.46 0.40 2.4 -2.00 0.54
- S2.14 0.5 0.5 0.5 0.6 0.6 9.51 0.54 2.2 -1.66 2.20
+ S2.15 3.1 3.1 3.1 3.1 3.1 9.53 3.10 2.1 1.00 3.20
- S2.16 4.5 4.7 4.8 4.8 4.9 9.56 4.74 2.1 2.64 0.56
+ S2.17 0.6 0.6 0.5 0.5 0.5 9.59 0.54 2.2 -1.66 -1.10
- - - - -
- S2.18 5.4 5.5 5.6 5.7 5.8 10.02 -5.60 2.4 -8.00 6.90
- - - - -
+ S2.19 5.8 5.8 5.8 5.8 5.8 10.05 -5.80 2.3 -8.10 -1.20
- - - - -
- S2.20 2.7 2.7 2.7 2.7 2.8 10.08 -2.72 2.4 -5.12 3.92
+ S2.21 6 6 6 6 6 10.12 6.00 2.4 3.60 7.52
- S2.22 9.3 9.3 9.3 9.3 9.2 10.16 9.28 2.9 6.38 1.14
- - - - -
17. 17. 17. 17. 17.
+ S2.23 5 5 5 4 4 10.18 -17.46 2.3 -19.76 -18.62
- - - - -
- S2.24 5.5 5.6 5.5 5.6 5.6 10.2 -5.56 2.3 -7.86 -10.76
-
+ S2.25 -7 -7 -7 -7 7.1 10.24 -7.02 2.2 -9.22 -19.98
- S2.26 5.6 5.6 5.6 5.5 5.5 10.26 5.56 2.2 3.36 -23.34
- - - - -
+ S2.27 2.6 2.5 2.5 2.4 2.4 10.28 -2.48 2.9 -5.38 -28.72
- - - - -
- S2.28 6.8 6.8 6.7 6.7 6.8 10.32 -6.76 1.9 -8.66 -20.06
- - -
+ S2.29 5.2 5.2 5.2 -5 -5 10.35 -5.12 2.3 -7.42 -27.48
- S2.30 6.2 6.3 6.2 6 6.3 12.23 6.20 2.9 3.30 -30.78
+ S2.31 7.7 7.6 7.6 7.6 7.6 12.25 7.62 2.9 4.72 -26.06
- S2.32 2.2 2.6 2.6 2.5 2.5 12.27 2.48 2.9 -0.42 -25.64
- - - -
+ S2.33 -4 4.1 4.1 4.1 4.1 12.32 -4.08 3 -7.08 -32.72
- - - - -
- S2.34 2.9 2.9 2.9 2.9 2.9 12.35 -2.90 3 -5.90 -26.82
+ S2.35 2.2 2.1 2.2 2.1 2.2 12.37 2.16 3 -0.84 -27.66
- S2.36 7.6 7.6 7.6 7.6 7.6 12.4 7.60 2.9 4.70 -32.36
+ S2.37 5.7 5.7 5.7 5.6 5.7 12.43 5.68 3.2 2.48 -29.88
- S2.38 1.6 1.5 1.6 1.5 1.6 12.46 1.56 3.2 -1.64 -28.24
- - - - -
+ S2.39 2.2 2.3 2.3 2.3 2.3 12.49 -2.28 3.1 -5.38 -33.62
- - - - -
- S2.40 6.4 6.4 6.4 6.4 6.4 12.54 -6.40 3.2 -9.60 -24.02
- - - - -
+ S2.41 7.5 7.6 7.6 7.6 7.6 12.58 -7.58 3.2 -10.78 -34.80
- S2.42 4.7 4.7 4.7 4.7 4.7 13 4.70 3.2 1.50 -36.30
+ S2.43 8.6 8.6 8.5 8.6 8.5 13.03 8.56 3.1 5.46 -30.84
- S2.44 0.7 0.7 0.8 0.7 0.8 13.08 0.74 3.1 -2.36 -28.48
+ S2.45 1.3 1.2 1.1 1.2 1.2 13.16 1.20 3.1 -1.90 -30.38
- S2.46 0.8 0.7 0.8 0.7 0.7 13.18 0.74 2.9 -2.16 -28.22
- - - - -
+ S2.47 1.6 1.7 1.7 1.7 1.7 13.2 -1.68 3.9 -5.58 -33.80
- - - - -
- S2.48 2.8 2.7 2.7 2.8 2.8 13.21 -2.76 3.9 -6.66 -27.14
- - - - -
+ S2.49 2.5 2.5 2.4 2.5 2.5 13.24 -2.48 3.9 -6.38 -33.52
- S2.50 1.5 1.4 1.5 1.6 1.7 13.27 1.54 2.9 -1.36 -32.16
- - - - -
+ S2.51 4.4 4.5 4.5 4.3 4.2 13.3 -4.38 2.9 -7.28 -39.44
- - - - -
- S2.52 3.6 3.6 3.6 3.6 3.6 13.33 -3.60 2.8 -6.40 -33.04
+ S2.53 1.6 1.5 1.6 1.6 1.6 13.35 1.58 2.8 -1.22 -34.26
- S2.54 4.7 4.8 4.9 4.9 4.8 13.39 4.82 2.7 2.12 -36.38
UNTUK
PROSES
+ S2.55 1.1 1.1 1.2 1.1 1.2 13.44 1.14 2.8 -1.66 -38.04 LOOPING

Tabel 3 Pengolahan data metode Self potensial
20.00

10.00

0.00
0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 ANOMALI
-10.00
ELEVASI DITURUNKAN
-20.00

-30.00

-40.00

Gambar 2.2.2. Grafik Anomali dan Elevasi hasil Pengolahan data

II.3 Metode Suseptibilitas Magnetik

a. Teori Dasar
Suseptibilitas magnet adalah kemampuan suatu bahan magnet untuk
dimagnetisasi yang ditentukan oleh nilai suseptibilitas magnet yang ditunjukkan oleh
persamaan:
M = kH...................................(1)
dengan M adalah intensitas magnet dalam A/m, k adalah nilai suseptibilitas suatu
bahan dan tidak memiliki dimensi serta H adalah kuat medan magnet dalam A/m.
Nilai k adalah parameter dasar yang digunakan dalam metode magnet. Nilai
suseptibilitas batuan semakin besar jika dalam batuan tersebut dijumpai banyak
mineral yang bersifat magnet. Litologi (karakteristik) dan kandungan mineral batuan
adalah faktor yang mempengaruhi harga suseptibilitas suatu bahan (Telford et al,
1990).
magnetik untuk termagnetisasi ditentukan oleh suseptibitas kemagnetan Metode
geomagnet banyak digunakan dalam eksplorasi panas bumi, pencarian mineral dalam
bumi, mencari nilai suseptibilitas magnetik tanah dan lain sebagainya. Kelebihan dari
metode geomagnet salah satunya adalah penerapan dan penggunaan alat yang relatif
mudah, sehingga banyak digunakan untuk proses eksplorasi bumi. Sedangkan pada
hasil penelitian metode geomagnet masih dirasa kurang, karena memerlukan proses
pengolahan data yang cukup banyak dan perlu ketelitian yang sangat tinggi. Sehingga
masih diperlukan metode geofisika lain untuk mendukung hasil dari penelitian
metode geomagnet.
Dasar teori dari metode geomagnetik adalah Gaya Coulomb (Nuha,2012). Jika
dua buah benda atau kutub magnetik terpisah pada jarak r dan muatannya masing-
masing m1 dan m2, maka gaya magnetik yang dihasilkan adalah (Rusli,2007): F =
Dimana : F adalah gaya yang bekerja diantara dua magnet dengan kuat medan
magnet m1 dan m2. μ adalah permeabilitas medium yang melingkupi kedua magnet.
r adalah jarak kedua magnet. m1 adalah kuat kutub magnet 1. m2 adalah kuat kutub
magnet 2 Kuat Medan Magnetik Kuat medan magnetik pada suatu titik dengan jarak r
dari muatannya dapat dinyatakan sebagai (Syirojudin,2010): H =
Intensitas magnetik. Suatu benda magnetik yang ditempatkan pada suatu medan
magnet dengan kuat medan H, maka akan terjadi polarisasi atau intensitas magnetik
pada benda tersebut yang besarnya adalah (Syirojudin,2010): M = χ H
Dimana : M adalah intensitas magnetik. χ adalah suseptibilitas magnetik. H
adalah kuat medan magnetik Induksi Magnetik Adanya medan magnetik regional
yang berasal dari bumi dapat menyebabkan terjadinya induksi magnetik pada batuan
yang mempunyai suseptibilitas baik. Total medan magnetik yang dihasilkan pada
batuan ini dinyatakan sebagai induksi magnetik(Syirojudin,2010). Apabila suatu
benda magnetik diletakkan dalam suatu medan magnetik H maka benda tersebut akan
termagnetisasi dan menghasilkan medan sendiri H’, sehingga medan magnet total
yang terukur oleh magnetometer disebut sebagai Induksi Magnetik B yang
merupakan jumlah dari medan magnetik pada benda dengan medan magnet utama,
yang dinyatakan sebagai:
B = H+H’ = μ0 (H + M) = μ0 (1+ χ ) H
Dimana : μ0 adalah permeabilitas magnetik ruang hampa. μ0 = (1+ χ ) adalah
permeabilitas magnetik relatif, sehingga persamaan tersebut dapat ditulis:
B = μ0 μ H Persamaan ini menunjukkan bahwa jika medan magnetik remanen
dan luar bumi diabaikan, medan magnet total yang terukur oleh magnetometer di
permukaan bumi adalah penjumlahan dari medan bumi utama H dan variasinya (M).
M adalah anomali magnet dalam eksplorasi magnetik
(Syirojudin,2010). Dalam satuan CGS induksi magnetik B dinyatakan dalam
Gauss. Namun dalam prakteknya terukur dalam satuan Gamma (γ) dengan 1 γ setara
dengan 1 nano tesla setara dengan 10 Gauss. Suseptibilitas Kemagnetan Kemudahan
suatu benda χ (Kahfi,2008) yang dirumuskan dengan persamaan: M = χ H
Suseptibilitas dalam satuan SI dan emu dinyatakan dengan persamaan : χ = 4π χ’ χ
adalah suseptibilitas magnetik dalam satuan SI dan χ’ adalah suseptibilitas magnetik
dalam satuan emu(Syirojudin,2010). Suseptibilitas magnetik dapat diartikan sebagai
derajat kemagnetan suatu benda. Nilai suseptibilitas magnetik untuk setiap bahan
berbeda-beda, hal ini bergantung dengan jenis bahan. Suseptibilitas magnetik ini akan
menentukan sifat magnetik pada setiap bahan. Harga χ pada batuan semakin besar
apabila dalam batuan semakin banyak dijumpai mineral-mineral yang bersifat
magnetik. Berdasarkan harga suseptibilitas χ, benda-benda magnetik dapat
digolongkan menjadi diamagnetik, paramagnetik, ferromagnetic, antiferomagnetic,
dan ferromagnetic(Rosanti,2012).
1. Diamagnetik adalah benda yang mempunyai niai χ kecil dan negatif.
2. Paramagnetik adalah benda magnetik yang mempunyai nilai χ kecil dan positif.
3. Ferromagnetik adalah benda magnetik yang mempunyai nilai χ positif dan besar.
4. Antiferromagnetik adalah benda magnetic yang mempunyai nilai χ sangat kecil,
yaitu mendekati nilai χ pada benda paramagnetik.
5. ferrimagnetik adalah benda magnetik yang mempunyai nilai χ tinggi tetapi jauh
lebih rendah dari bahan ferromagnetik.
Tabel 4 Hubungan antara sifat magnetik dan suseptibilitas magnetik (Dearing, 1999
dalam Dian,2012)
Sifat Magnetik Suseptibilitas Magnetik
Suseptibilitas magnetik tinggi dan
berharga positif
Ferromagnetik
Contoh : Besi (Fe), Nike( Ni), Khrom
(Cr)
Suseptibilitas magnetik tinggi dan
berharga positif
Ferromagnetik
Contoh:Fe2S(magnetite,
pyrotite,maghmemite,gregeite)
Suseptibilitas sedang dan berharga positif
Antiferromagnetik
Contoh : Fe2O3(hematite, geothite)
Suseptibilitas rendah dan berharga positif
Parramagnetik
Contoh :biotite, olivine
Suseptibilitas rendah dan berharga
Diamagnetik negatif
Contoh : air, material organik

Tabel 5 Suseptibilitas Batuan Beku (Telford, et al, 1990).
Suseptibilitas
Tipe batuan
Nilai Rerata
Batuan Beku
Granite 0-50 2.5
Rhyolite 0.2-35
Dolorite 1-35 17
Augite-syenite 30-40
Olivine-diabase 25
Diabase 1-160 55
Porphyry 0.3-200 60
Gabbro 1-90 70
Basalts 0.2-175 70
Diorite 0.6-120 85
Pyroxenite 125
Peridotite 90-200 150
Av. acidic 0-80 8
igneous
Av. basic igneous 0.5-97 25

b. Akuisisi Data

Nama Titik : MS2K
Koordinat : Awal : 0410037 ; 9602645
Akhir : 0410032 ; 9602644

Susceptibilitas N Jarak Susceptibilitas
No Jarak (cm) (m³/Kg) o (cm) (m³/Kg)
1 0 97 41 40 181
2 1 30 42 41 123
3 2 111 43 42 106
4 3 332 44 43 229
5 4 294 45 44 84
6 5 210 46 45 134
7 6 284 47 46 89
8 7 252 48 47 125
9 8 364 49 48 109
10 9 1 50 49 253
11 10 182 51 50 156
12 11 73 52 51 -73
13 12 170 53 52 245
14 13 477 54 53 215
15 14 99 55 54 200
16 15 26 56 55 240
17 16 72 57 56 141
18 17 161 58 57 247
19 18 365 59 58 90
20 19 55 60 59 66
21 20 270 61 60 -3
22 21 361 62 61 156
23 22 42 63 62 -55
24 23 146 64 63 313
25 24 221 65 64 12
26 25 -47 66 65 248
27 26 156 67 66 69
28 27 234 68 67 -24
29 28 102 69 68 265
30 29 138 70 69 -48
31 30 156 71 70 287
32 31 88 72 71 -88
33 32 24 73 72 257
34 33 168 74 73 145
35 34 25 75 74 190
36 35 160 76 75 279
37 36 46 77 76 287
38 37 40 78 77 290
39 38 60 79 78 24

Tabel 7 Akuisis data metode Suseptibilitas magnetik

c. Pengolahan data

Grafik Nilai Suseptibilitas
600
400
Suseptibilitas 200
0
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
-200
Jarak

Gambar II.3.1 Grafik Nilai suseptibilitas
BAB III
PEMBAHASAN

III.1 Metode Geolistrik

Geolistrik adalah suatu metoda eksplorasi geofisika untuk menyelidiki
keadaan bawah permukaan dengan menggunakan sifat-sifat kelistrikan batuan. Sifat-
sifat kelistrikan tersebut adalah, antara lain. tahanan jenis (specific resistivity,
conductivity, dielectrical constant, kemampuan menimbulkan self potential dan
medan induksi serta sifat menyimpan potensial dan lain-lain. Metode geolistrik
resistivitas adalah besaran/ parameter yang menunjukkan tingkat hambatanya
terhadap arus listrik. Bahan yang mempunyai resistivitas makin besar, berarti makin
sukar untuk dilalui arus listrik. Biasanya tahanan jenis diberi simbol . Tahanan jenis
adalah kebalikan dari daya hantar jenis yang diberi simbul . Metode ini didasarkan
dengan anggapan bahwa bumi bersifat homogen isotropis. Pada kenyataannya, bumi
terdiri dari lapisan-lapisan bebatuan dengan nilai resistivitas berbeda-beda, sehingga
potensial yang terukur dipengaruhi oleh lapisan-lapisan tersebut dan menyebabkan
nilai tahanan jenis yang terukur tergantung pada jarak elektroda.
Pada praktikum ini pengambilan data dilakukan menggunakan seperangkat
NANIURA NRD 300hf. Metode pengukuran yang dilakukan dalam pengukuran
resistivitas adalah dengan metode geolistrik konfigurasi schlumberger. Pada metode
ini, pengukuran pada suatu titik sounding dilakukan dengan jalan mengubah-ubah
jarak elektroda. Pada praktikum ini dilakukan sebanyak 15 kali pengukuran dimana
jarak elektroda berbeda-beda/bervariasi. Tabel hasil pengukuran ini dapat dilihat pada
gambar 2.2.7. Berdasarkan pada hasil interpretasi ( Gambar 2.1.12 ) dapat diketahui
bahwa nilai resistivitas batuan pada daerah yang diukur adalah 123,25 Ohm-m
sampai dengan 569,9 Ohm-m. Nilai resistivitas batuan pada kedalaman 0-9 m adalah
569,9 ohm-m sedangkan pada kedalam 10-21 m adalah 84,05 ohm-m dan pada
kedalaman 22- 30 m nilai resistivitas batuannya adalah 123,25 Ohm. Kedalaman
yang didapatkan ini dipengaruhi oleh jarak elektroda semakin jauh jarak tiap
elektroda maka kedalaman rsistivitas batuan yang didiapatkan akan semakin besar
dan begitupun sebaliknya dan Perbedaan pada nilai resistivitas ini dipengaruhi oleh
lapisan lapisan batuan/tanah yang memiliki nilai resistivitas yang berbeda-beda pada
kedalaman tertentu.

III.2 Metode Self Potensial

Metode SP adalah metode pasif, karena pengukurannya dilakukan tanpa
menginjeksikan arus listrik lewat permukaan tanah. Perbedaan potensial alami tanah
diukur melalui dua titik dipermukaan tanah. Potensial yang dapat diukur berkisar
antar beberapa millivolt (mV) hingga 1 volt. SP dapat disebut sebagai potensial
spontan yang ada di permukaan bumi yang diakibatkan oleh adanya proses mekanis
ataupun oleh proses elektrokimia yang di kontrol oleh air tanah. Proses mekanis akan
menghasilkan potensial elektrokinetik sedangkan proses kimia akan menimbulkan
potensial elektrokimia (potensial liquid-junction, potensial nernst) dan potensial
mineralisasi. Metode potensial diri (SP) merupakan salah satu metode geofisika yang
prinsip kerjanya adalah mengukur tegangan statis alam (static naturalvoltage) yang
berada di kelompok titik-titik di permukaan tanah. Potensial diri umumnya
berhubungan dengan perlapisan tubuh mineral sulfida (weathering of sulphide
mineral body), perubahan dalam sifat-sifat batuan (kandungan mineral) pada daerah
kontak-kontak geologi, aktifitas bioelektrik dari material organik, korosi, perbedaan
suhu dan tekanan dalam fluida di bawah permukaan dan fenomena-fenomena alam
lainnya.
Pada praktikum ini dilakukan pengukuran metode self potensial dimana dilakukan
pengukuran sebanyak 55 kali dengan jarak pengukuran kurang lebih 800 meter. Hasil
pengukuran ( dapat dilihat pada Tabel 2.2..1 Pengolahan data metode Self potensial ).
Dari grafik dapat diketahui bahwa pada titik S2.51 meiliki nilai beda potensial yang
tinggi, pada titik ini dapat diindikasikan bahwa pada saat pengukuran titik tersebut
dekat dengan aliran air tanah atau tepat pada aliran air tanah. Kemudian pada titik
S2.7 memiliki nilai beda potensial yang rendah sehingga dapat indikasiakan bahwa
pada daerah tersebut kondisinya kering dan jauh dari aliran air tanah.

III.3 Metode suseptibilitas magnetik

Magnetik untuk termagnetisasi ditentukan oleh suseptibitas kemagnetan
Metode geomagnet banyak digunakan dalam eksplorasi panas bumi, pencarian
mineral dalam bumi, mencari nilai suseptibilitas magnetik tanah dan lain sebagainya.
Kelebihan dari metode geomagnet salah satunya adalah penerapan dan penggunaan
alat yang relatif mudah, sehingga banyak digunakan untuk proses eksplorasi bumi.
Sedangkan pada hasil penelitian metode geomagnet masih dirasa kurang, karena
memerlukan proses pengolahan data yang cukup banyak dan perlu ketelitian yang
sangat tinggi. Sehingga masih diperlukan metode geofisika lain untuk mendukung
hasil dari penelitian metode geomagnet.
Dasar teori dari metode geomagnetik adalah Gaya Coulomb (Nuha,2012). Jika
dua buah benda atau kutub magnetik terpisah pada jarak r dan muatannya masing-
masing m1 dan m2, maka gaya magnetik yang dihasilkan adalah (Rusli,2007): F =
Dimana : F adalah gaya yang bekerja diantara dua magnet dengan kuat medan
magnet m1 dan m2. μ adalah permeabilitas medium yang melingkupi kedua magnet.
r adalah jarak kedua magnet. m1 adalah kuat kutub magnet 1. m2 adalah kuat kutub
magnet 2 Kuat Medan Magnetik Kuat medan magnetik pada suatu titik dengan jarak r
dari muatannya dapat dinyatakan sebagai (Syirojudin,2010): H =
Intensitas magnetik. Suatu benda magnetik yang ditempatkan pada suatu medan
magnet dengan kuat medan H, maka akan terjadi polarisasi atau intensitas magnetik
pada benda tersebut yang besarnya adalah (Syirojudin,2010): M = χ H
Dimana : M adalah intensitas magnetik. χ adalah suseptibilitas magnetik. H
adalah kuat medan magnetik Induksi Magnetik Adanya medan magnetik regional
yang berasal dari bumi dapat menyebabkan terjadinya induksi magnetik pada batuan
yang mempunyai suseptibilitas baik. Total medan magnetik yang dihasilkan pada
batuan ini dinyatakan sebagai induksi magnetik(Syirojudin,2010). Apabila suatu
benda magnetik diletakkan dalam suatu medan magnetik H maka benda tersebut akan
termagnetisasi dan menghasilkan medan sendiri H’, sehingga medan magnet total
yang terukur oleh magnetometer disebut sebagai Induksi Magnetik B yang
merupakan jumlah dari medan magnetik pada benda dengan medan magnet utama,
yang dinyatakan sebagai:
B = H+H’ = μ0 (H + M) = μ0 (1+ χ ) H
Dimana : μ0 adalah permeabilitas magnetik ruang hampa. μ0 = (1+ χ ) adalah
permeabilitas magnetik relatif, sehingga persamaan tersebut dapat ditulis:
B = μ0 μ H Persamaan ini menunjukkan bahwa jika medan magnetik remanen
dan luar bumi diabaikan, medan magnet total yang terukur oleh magnetometer di
permukaan bumi adalah penjumlahan dari medan bumi utama H dan variasinya (M).
M adalah anomali magnet dalam eksplorasi magnetik
(Syirojudin,2010). Dalam satuan CGS induksi magnetik B dinyatakan dalam
Gauss. Namun dalam prakteknya terukur dalam satuan Gamma (γ) dengan 1 γ setara
dengan 1 nano tesla setara dengan 10 Gauss. Suseptibilitas Kemagnetan Kemudahan
suatu benda χ (Kahfi,2008) yang dirumuskan dengan persamaan: M=χ
H Suseptibilitas dalam satuan SI dan emu dinyatakan dengan persamaan : χ = 4π χ’ χ
adalah suseptibilitas magnetik dalam satuan SI dan χ’ adalah suseptibilitas magnetik
dalam satuan emu(Syirojudin,2010). Suseptibilitas magnetik dapat diartikan sebagai
derajat kemagnetan suatu benda. Nilai suseptibilitas magnetik untuk setiap bahan
berbeda-beda, hal ini bergantung dengan jenis bahan. Suseptibilitas magnetik ini akan
menentukan sifat magnetik pada setiap bahan. Harga χ pada batuan semakin besar
apabila dalam batuan semakin banyak dijumpai mineral-mineral yang bersifat
magnetik. Berdasarkan harga suseptibilitas χ, benda-benda magnetik dapat
digolongkan menjadi diamagnetik, paramagnetik, ferromagnetic, antiferomagnetic,
dan ferromagnetic(Rosanti,2012).
1. Diamagnetik adalah benda yang mempunyai niai χ kecil dan negatif.
2. Paramagnetik adalah benda magnetik yang mempunyai nilai χ kecil dan
positif.
3. Ferromagnetik adalah benda magnetik yang mempunyai nilai χ positif dan besar.
4. Antiferromagnetik adalah benda magnetic yang mempunyai nilai χ sangat kecil,
yaitu mendekati nilai χ pada benda paramagnetik.
5. ferrimagnetik adalah benda magnetik yang mempunyai nilai χ tinggi tetapi jauh
lebih rendah dari bahan ferromagnetik.
Pada praktikum ini dilakukan pengukuran dengan metode Suseptibilitas
Magnetik dengan alata yang digunakan adalah MS2K. Yaitu alat yang digunakan
untuk mengukur susep belitas mangnetik secara fertikal, peraktikum ini dilakukan
dengan panjang lintasan 78 cm dengan kordinat Awal : 0410037 ; 9602645 dan
kordinat Akhir : 0410032 ; 9602644. Dari pengukuran yang telah dilakukan di
peroleh data yang dapat di lihat pada Tabel II.3.3 Akuisis data metode Suseptibilitas
magnetik. Darih hasil pengolahan data dapat diketahuui bahwa susepbilitas
mangnetik daerah penelitian ini berkisar antara -77 (m³/Kg) sampai 477 (m³/Kg).
Pada nilai suseblitas mangnetik -77 (m³/Kg) memilliki kandungan Besi yang rendah
sedangkan pada nilai subsebilitas mangnetik 477 (m³/Kg) mempunyai kandungan
Besi yang relatif besar.

BAB IV
PENUTUP

IV.1 Kesimpulan
Adapun Kesimpulan yang dapat ditarik pada peraktikum ini adalah
sebagai berikut :
1. Metode Geolistrik adalah suatu metoda eksplorasi geofisika untuk menyelidiki
keadaan bawah permukaan dengan menggunakan sifat-sifat kelistrikan batuan.
Biyasanya digunakan untuk mengetahui kondisi lapisan bawah permukaan bumi
berdasarkan sifat kelisrikan pada batuan. Kedalaman hasil yang didapatkan pada
pengukuran geolistrik di engaruhi oleh jarak elektroda semaikin jauh jarak antara
elektroda maka akan semakin besar kedalamanya. Dan begitu pulah sebaliknya.
2. Metode SP adalah metode pasif, karena pengukurannya dilakukan tanpa
menginjeksikan arus listrik lewat permukaan tanah. Perbedaan potensial alami
tanah diukur melalui dua titik dipermukaan tanah. Metode ini termasuk dalam
sistem/metode geofisika pasif
3. Geomagnetik merupakan salah satu metode seurvei geofisika dengan cara
mengukur variasi intensitas medan magnetik dari posisi yang berbeda.
Metode geomagnetik ini dapat digunakan untuk eksplorasi pendahuluan minyak
bumi, panas bumi, dan batuan mineral serta bisa diterapkan pada pencarian
prospek benda-benda arkeologi. Eksplorasi dengan menggunakan geomagnetik
pada umumnya dilakukan dengan tiga tahap, yaitu akuisisi data lapangan,
processing, interpretasi. Pada tahap processing dilakukan koreksi pada metode
magnetik yang terdiri atas koreksi harian (diurnal), koreksi IGRF, koreksi
topografi (terrain).

IV.2 Saran
Adapun saran yang ingin disampaikan ada praktikum ini yaitu agar praktikum
yang dilakukan supaya lebih detail lagi agar mahasiswa lebih mengerti tentang cara
pengukran masing masing metode diatas termasuk pada pengolahan dan interpretasi
data.
DAFTAR PUSTAKA

Annisa, N.,N, 2014, Praktikum Geoelektriksitas dan EM Acara III Pengukuran
dengan Metode SP, UGM, Yogyakarta.

E. Rusman, Sukido, D. Sukarna, E. Haryono dan T.O. Simandjuntak. 1993. Peta
Geologi Lembar Lasusua-Kendari. Pusat Penelitian dan Pengmbangan
Geologi.

Anonim. 2010. Metode Geomagnet. poetrafic.wordpress.com//10/06/metode-
geomagnet// diakses tanggal 25 Desember 2013. Pukul 10.45 WITA
Tim geofisika ugm.2016. Buku Panduan Fieldcamp UHO-UGM
2016.UGM.Yogyakarta