You are on page 1of 4

1.

Pengertian Biomagnifikasi
Biomagnifikasi merupakan proses perpindahan polutan pestisida yang mengikuti arah
dari rantai makanan dan akhirnya akan terakumulasi pada karnivora tingkat paling atas
(manusia). Proses ini menyebabkan kelainan pada sistem tubuh hewan. Pada beberapa
burung dapat menyebabkan terhambatnya pembentukan Ca (kalsium) pada telur. (Taylor,
1998).
Contoh dari kasus biogmagnifikasi yaitu pengaruh DDT terhadap lingkungan
DDT (Dichloro Diphenyl Trichlorethane) adalah insektisida “tempo dulu” yang
pernah disanjung “setinggi langit” karena jasa-jasanya dalam penanggulangan berbagai
penyakit yang ditularkan vektor serangga. Tetapi kini penggunaan DDT di banyak negara
di dunia terutama di Amerika Utara, Eropah Barat dan juga di Indonesia telah dilarang.
Adanya sisa (residu) insektisida ini di tanah dan perairan.
Sejarah DDT
DDT pertama kali disintesis oleh Zeidler pada tahun 1873 tapi sifat insektisidalnya
baru ditemukan oleh Dr Paul Mueller pada tahun 1939. Penggunaan DDT menjadi sangat
populer selama Perang Dunia II, terutama untuk penanggulangan penyakit malaria, tifus dan
berbagai penyakit lain yang ditularkan oleh nyamuk, lalat dan kutu. DDT adalah insektisida
paling ampuh yang pernah ditemukan dan digunakan manusia dalam membunuh serangga
tetapi juga paling berbahaya bagi umat manusia manusia sehingga dijuluki “The Most
Famous and Infamous Insecticide ”. Pengaruh buruk DDT terhadap lingkungan sudah mulai
tampak sejak awal penggunaannya pada tahun 1940-an, dengan menurunnya populasi burung
elang sampai hampir punah di Amerika Serikat. Dari pengamatan ternyata elang
terkontaminasi DDT dari makanannya (terutama ikan sebagai mangsanya) yang tercemar
DDT. DDT menyebabkan cangkang telur elang menjadi sangat rapuh sehingga rusak jika
dieram. Dari segi bahayanya, oleh EPA DDT digolongkan dalam bahan racun PBT
(persistent, bioaccumulative, and toxic) material.
Dua sifat buruk yang menyebabkan DDT sangat berbahaya terhadap lingkungan hidup
adalah:
1) Sifat apolar DDT: ia tak larut dalam air tapi sangat larut dalam lemak. Makin larut
suatu insektisida dalam lemak (semakin lipofilik) semakin tinggi sifat apolarnya. Hal ini
merupakan salah satu faktor penyebab DDT sangat mudah menembus kulit
2) Sifat DDT yang sangat stabil dan persisten. Ia sukar terurai sehingga cenderung
bertahan dalam lingkungan hidup, masuk rantai makanan (foodchain) melalui bahan lemak
jaringan mahluk hidup. Itu sebabnya DDT bersifat bioakumulatif dan biomagnifikatif.
Dalam ilmu lingkungan DDT termasuk dalam urutan ke 3 dari polutan organik yang persisten
(Persistent Organic Pollutants, POP), yang memiliki sifat-sifat berikut:
1) tak terdegradasi melalui fotolisis, biologis maupun secara kimia,
2) berhalogen (biasanya klor),
3) daya larut dalam air sangat rendah,
4) sangat larut dalam lemak,
5) semivolatile,
6) di udara dapat dipindahkan oleh angin melalui jarak jauh,
7) bioakumulatif,
8) biomagnifikatif (toksisitas meningkat sepanjang rantai makanan)

2. Rantai Makanan
Rantai makanan (food chain) adalah perpindahan energi makanan dari sumber daya
tumbuhan melalui seri organisme atau melalui jenjang makan. Rantai makanan sering
juga disebut sebagai proses makan dan dimakan oleh suatu seri makhluk hidup. Rantai
makanan merupakan bagian dari jaring-jaring makanan, di mana rantai makanan bergerak
secara linear dari produsen ke konsumen teratas.
Kegiatan overfishing ini sangat berdampak besar bagi lautan kita. Tidak hanya
membuat populasi ikan menurun drastis, tetapi juga membuat ekosistem laut menjadi
sangat terganggu. Kita perlu tahu bahwa satu spesies flora dan fauna di dalam laut dapat
menunjang hidup 3 – 5 spesies flora dan fauna yang lainnya. Bayangkan jika satu spesies
telah habis atau punah, maka kelangsungan hidup spesies lainnya dapat terganggu dan
berpengaruh pada keseimbangan rantai makanan pada ekosistem laut.
Dampak terbesar dari eksploitasi berlebihan terjadi saat para predator laut yang
jadi sasaran buruan. Data tahun 2013 menunjukan bawah sekitar 100 juta ikan hiu telah
ditangkap dan diolah menjadi berbagai masakan, dagingnya untuk obat dan tak jarang
kita mendengar sirip ikan hiu di jadikan sup di berbagai restoran di belahan dunia. World
Wildlife Fund (WWF) Indonesia pernah membuat kampanye untuk menyelamatkan ikan
hiu dari eksploitasi yang berlebih. Hal ini dilakukan dengan sosialisasi dan kampanye
online maupun offline yang aktif untuk mengedukasi masyarakat agar kegiatan
mengonsumsi ikan hiu ini dihentikan karena konsumsi ikan hiu membuat ekosistem dan
rantai makanan di laut tidak seimbang dan akan mengancam jutaan spesies ikan dan
terumbu karang di lautan kita.
3. Magnifikasi
Magnifikasi adalah pembesaran gambaran pada radiograf dibanding ukuran obyek
sesungguhnya. Untuk pencitraan diagnostik, magnifikasi harus diperkecil sehingga
mampu menggambarkan obyek yang sesungguhnya.
Faktor - faktor yang mempengaruhi magnifikasi adalah FFD dan OFD

2.1 Definisi Eutrofikasi
Eutrofikasi adalah proses pengayaan nutrien dan bahan organik dalam jasad air. ini
merupakan masalah yang dihadapi di seluruh dunia yang terjadi di ekosistem air tawar
maupun marin. Eutrofikasi memberi kesan kepada ekologi dan pengurusan sistem akuatik
yang mana selalu disebabkan masuknya nutrient berlebih terutama pada buangan pertanian
dan buangan limbah rumah tangga. (Tusseau-Vuilleman, M.H. 2001).

2.2 Faktor Penyebab Eutrofikasi

Eutrofikasi dapat dikarenakan beberapa hal di antaranya karena ulah manusia yang tidak
ramah terhadap lingkungan. Hampir 90 % disebabkan oleh aktivitas manusia di bidang
pertanian. Para petani biasanya menggunakan pestisida atau insektisida untuk memberantas
hama tanaman agar tanaman tidak rusak. Akan tetapi botol – botol bekas pestisida itu dibuang
secara sembarangan baik di sekitar lahan pertanian atau daerah irigasi. Hal inilah yang
mengakibatkan pestisida dapat berada di tempat lain yang jauh dari area pertanian karena
mengikuti aliran air hingga sampai ke sungai – sungai atau danau di sekitarnya.(Finli, 2007)

Emisi nutrien dari pertanian merupakan penyebab utama eutrofikasi di berbagai belahan
dunia. Rembesan phospor selain dari areal pertanian juga datang dari peternakan, dan
pemukiman atau rumah tangga. Akumulasi phospor dalam tanah terjadi saat sejumlah besar
kompos dan pakan ternak digunakan secara besar-besaran untuk mengatur prosduksi
ternakbhewan (sharply et al, 1994).

Menurut Morse et. al. (1993) sumber fosfor penyebab eutrofikasi 10 % berasal dari proses
alamiah di lingkungan air itu sendiri (background source), 7 % dari industri, 11 % dari
detergen, 17 % dari pupuk pertanian, 23 % dari limbah manusia, dan yang terbesar, 32 %,
dari limbah peternakan. Paparan statistik di atas menunjukkan bagaimana besarnya jumlah
populasi dan beragamnya aktivitas masyarakat modern menjadi penyumbang yang sangat
besar bagi lepasnya fosfor ke lingkungan air.
1. Kesimpulan
Meskipun DDT telah dilarang penggunaannya, namun sebagian masyarakat masih
menggunakannya baik itu untuk kebutuhan pertanian, dalam hal bidang kesehatan
(membasmi nyamuk) dan sebagainya. Hal ini karena daya efektifitas DDT dalam membunuh
hama-hama serangga dalam waktu singkat.
DDT disatu sisi memang efektif dalam membasmi hama-hama serangangga, namun lebih
banyak dampak negatifnya daripada manfaatnya.
2. Saran
Berdasarkan uraian di atas, penulis menyarankan agar sosialisasi bahaya penggunaan DDT
lebih ditingkatkan. Uraian di atas juga menyampaikan mengenai dampak jangka panjang
penggunaan DDT sehingga harus dilakukan upaya penanggulangannya di berbagai wilayah.
Disamping itu, perlu dilakukan penemuan alternatif-alternatif lain untuk menggantikan DDT
sebagai pestisida yang efektif dan tidak membahayakan. Dalam hal ini dibutuhkan kerjasama
dari berbagai pihak yang berkompeten terutama dari bidang pertanian, peternakan,
kedokteran hewan, dan kesehatan masyarakat.