You are on page 1of 3

UPAYA PENGURANGAN RISIKO BENCANA GUNUNG MELETUS

Istilah “mitigation” berarti peringanan. Mitigasi bencana letusan gunungapi
adalah “proses pencegahan bencana letusan gunungapi atau pengurangan dampak
bahaya letusan gunungapi” untuk meminimalkan:
a. Jatuhnya korban jiwa
b. Kerugian harta benda
c. Rusaknya lingkungan dan Terganggunya roda perekonomian masyarakat.
Pada umumnya hasil dari mitigasi berbentuk informasi yang disampaikan
segera kepada masyarakat oleh DVMBG (Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi
Bencana Geologi) melalui Pemprov, Pemkab atau Pemkot.
Menurut Dr.Ir. Mas Atje Purbawinata (2006), isi informasi (rekomendasi) pada
mitigasi terdiri atas:
a. Kondisi terakhir gunungapi tersebut yang dinyatakan dalam bentuk tingkat
kegiatan gunungapi
b. Apa yang harus dilakukan oleh masyarakat di sekitar gunungapi pada saat
gunung api meningkat kegiatannya, dan
c. Saran teknis yang harus diambil oleh pemprov, pemkab/kota dalam menyikapi
peningkatan aktivitas gunungapi di setiap tingkatan kegiatan.
d. Melanjutkan Pemantauan sesuai dengan tingkat aktivitas gunung api.
Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2006 tentang
Pedoman Umum Mitigasi Bencana bahwa pengurangan bencana Gunung Api
antara lain:
a. Perencanaan lokasi pemanfaatan lahan untuk aktivitas penting harus
jauh atau diluar dari kawasan rawan bencana.
a. Hindari tempat-tempat yang memiliki kecenderungan untuk dialiri lava
dan atau lahar
b. Perkenalkan struktur bangunan tahan api.
c. Penerapan desain bangunan yang tahan terhadap tambahan beban akibat
abu gunung api
d. Membuat barak pengungsian yang permanen. terutama di sekitar
gunung api yang sering meletus, misalnya G. Merapi (DIY, Jateng), G.
Semeru (Jatim), G. Karangetang (Sulawesi Utara) dsb.
e. Membuat fasititas jalan dan tempat pemukiman ke tempat pengungsian
untuk memudahkan evakuas.i
f. Menyediakan alat transportasi bagi penduduk bila ada perintah
pengungsian.
g. Meningkatkan kewaspadaan terhadap resiko letusan gunung api di
daerahnya.
h. Mengidentifikasi daerah bahaya (dapat dilihat pada Data Dasar Gunung
api Indonesia atau Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung api).
i. Tingkatkan kemampuan pemadaman api.
j. Membuat tempat penampungan yang kuat dan tahan api untuk kondisi
kedaruratan.
k. Mensosialisasikan kepada masyarakat yang bermukim di sekitar gunung
api harus mengetahui posisi tempat tinggalnya pada Peta kawasan
Rawan Bencana Gunung api (penyuluhan).
l. Mensosialisasikan kepada masyarakat yang bermukim di sekitar gunung
api hendaknya faham cara menghindar dan tindakan yang harus
dilakukan ketika terjadi letusan gunung api (penyuluhan).
m. Mensosialisasikan kepada masyarakat agar paham arti dari peringatan
dini yang diberikan oleh aparat/Pengamat Gunung api (penyuluhan).
n. Mensosialisasikan kepada masyarakat agar bersedia melakukan
koordinasi dengan aparat/ Pengamat Gunung api.
Cara Penanggulangan Bencana Letusan Gunung Api antara lain :
a. Sebelum terjadi letusan
i. Pemantauan terhadap gunung api
ii. Penyediaan prasarana berupa peta kawasan yang rawan bencana
gunung meletus, peta zona risiko bahaya gunung api
iii.Pematangan prosedur tetap tingkat aktivitas gunung api
iv. Bimbingan dan informasi gunung api
v. Penerbitan peta geologi gunung api
vi. Penyelidikan Geologi, Geofisika Dan Geokimia
vii. Peningkatan Sumberdaya Manusia Dan Pendukungnya
b. Saat Krisis Letusan
i. Mengirimkan tim tanggap darurat
ii. Meningkatkan pengamatan
iii.Melaporkan tingkat aktivitas sesuai alur
iv. Memberikan rekomendasi pada pemda sesuai prosedur tetap
c. Setelah Krisis Letusan Berlalu
i. Menurunkan Tingkat Kegiatan Gunungapi Sesuai Protap
ii. Menginventarisir Data Letusan, Termasuk Sebaran Dan Volume Bahan
Letusan
iii. Mengidentifikasi Daerah Yang Terancam Bahaya Sekunder
iv. Memberikan Saran Teknis Penanggulangan Bahaya Sekunder

DAFTAR PUSTAKA
Menteri Dalam Negeri RI. 2006. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33
Tahun 2006 Tentang Pedoman Umum Mitigasi Bencana. Diunduh pada
www.gitews.org pada 25 Maret 2017 Pukul 18.30 WIB
Atje Purbawinata, Mas. 2006. Mitigasi Bencana Letusan Gunung Api.
Powerpoint disajikan pada sosialisasi badan geologi, Bandung, 18
September 2006.