You are on page 1of 5

1 Susanti, et.al., Kajian Sifat Fisik Tepung Kecambah Kacang Hijau Hasil Pengeringan Fluidized Bed Dryer....

TEKNOLOGI PERTANIAN
Kajian Sifat Fisik Tepung Kecambah Kacang Hijau
Hasil Pengeringan Fluidized Bed Dryer

Study on the Physical Properties of Fluidized-Bed-Dried Mung Beans Sprouts Powders

Kristine Susanti1), Iwan Taruna, Sutarsi
Laboratorium Enjiniring Hasil Pertanian, Jurusan Teknik Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember
Jl. Kalimantan No. 37 Kampus Tegalboto, Jember, 68121
1)E-mail: kristinesusanti@gmail.com

ABSTRACT

Mungbean is one of the Indonesian most important legumes. Germination of mungbean could result in sprouts that consisting of
improved nutrition content such as proteins, fat, fiber, phosphorus, calcium and vitamins C. In the present works, the effects of
blanching time and drying temperature during production of mungbean sprout powders was investigated on the physical properties
of the powdery products in terms of the moisture content, distribution of particle size, color attributes, bulk density, and water
absorption. The results showed that physical properties of mungbean sprouts powders was varied depending on the blanching time
and drying temperature. The value of moisture content ranged from 7,90 to 9,44 (%wb). The values of fineness modulus (FM)
ranged from 1,80 to 2,19, while the size of particle (D) was between 0,36 and 0,48 mm. The color attributes of mungbean sprouts
powder such as L, a, b and whiteness index (WI) was obtained within the values of 82,2-83,4, -1,3-(-0,8), 16,0-18,5, and 74,3-76,9,
respectively. The bulk density (0,570-0,676 g/cm3) and water absorption capacity (1,958-2,714 ml/g ) of mungbean sprout powder
showed also the varied values depending on the experimental conditions.

Keywords : mungbean sprout powders, physical properties, blanching, fluidized bed dryer

PENDAHULUAN Pembuatan tepung kecambah kacang hijau dapat diawali
dengan proses blansing. Estiasih (2009) menyebutkan bahwa
Kacang hijau adalah tanaman pangan legum terpenting proses blansing bertujuan untuk menonaktifkan enzim-enzim
ketiga di Indonesia karena mengandung gizi yang bermanfaat yang dapat mengubah kualitas bahan pangan. Selanjutnya,
bagi tubuh manusia. Pada 100 gr kacang hijau mengandung pati pengeringan kecambah kacang hijau dapat dilakukan dengan
67,22 gr, protein 27,10 gr, dan lemak 1,78 gr (PERSAGI: 2009). pengeringan buatan seperti fluidized bed dryer, drum dryer,
Pemanfaatan kacang hijau umumnya diolah menjadi produk cabinet dryer dan freeze dryer. Aminah dan Wikanastri (2012)
olahan sederhana maupun modern seperti bubur kacang hijau, menggunakan cabinet dryer dengan suhu pengeringan 50°C dan
tepung hunkwe, dan kecambah (tauge). memerlukan waktu 6 jam untuk mengeringkan kecambah kacang
Kandungan gizi pada kecambah lebih tinggi dibandingkan hijau. Sedangkan Cahyono (2004) menggunakan fluidized bed
biji kacang hijau, khususnya pada kandungan protein, lemak, dryer untuk menghasilkan produk tepung kecambah kacang hijau
serat, fosfor, kalsium, dan vitamin C. Namun demikian, dalam waktu 3 jam 20 menit dengan suhu pengeringan 60-65°C.
kecambah kacang hijau memiliki kadar air yang lebih tinggi Kedua penelitian ini membuktikan bahwa metode pengeringan
dibanding biji kacang hijau sehingga dapat menurunkan daya fluidized bed dryer (FBD) memiliki kelebihan pada durasi
simpan kecambah kacang hijau (Defri, 2011). Oleh karena itu, pengeringan kecambah kacang hijau. Proses pengeringan pada
kecambah kacang hijau perlu dikeringkan dan ditepungkan agar FBD dapat dipercepat dengan meningkatkan kecepatan aliran
dapat disimpan lebih lama. Tepung kecambah kacang hijau dapat udara sampai bahan terfluidisasi. Pada kondisi ini terjadi
memberikan variasi olahan kecambah kacang hijau dan penghembusan bahan sehingga menyebabkan luas kontak
menghasilkan nilai tambah yang tinggi. Beberapa riset telah membesar antar partikel dan media pengering sehingga
mengembangkan produk makanan pendamping ASI dengan meningkatkan laju perpindahan panas dan massa (Taufiq, 2004).
menambahkan tepung kecambah kacang hijau (Defri, 2011; Namun demikian, penelitian Cahyono (2004) hanya
Aminah dan Wikanastri, 2012; Fahriyani, 2012). Hasil riset mengevaluasi pengaruh alat pengeringan terhadap mutu fisik
tersebut menyimpulkan bahwa penambahan tepung kecambah tepung kecambah kacang hijau yang dihasilkan. Sedangkan pada
kacang hijau dalam makanan pendamping ASI dapat penelitian Aminah dan Wikanastri (2012) hanya menjelaskan
meningkatkan kandungan protein yang penting bagi pertumbuhan pengaruh variasi blansing terhadap mutu kimia tepung kecambah
bayi. kacang hijau yang dihasilkan. Kedua penelitian ini

Berkala Ilmiah TEKNOLOGI PERTANIAN. Volume , Nomor , Bulan Tahun, Halaman

spatula. hijau hasil pengeringan FBD. Oleh karena itu. KA selama 0. Sedangkan pengukuran kadar air. sentrifuse merk dre contrifuge kecambah kacang hijau dengan KA sebesar 68.01 g Kadar Air Produk dan akurasi 0. tepung kecambah kacang hijau ini lebih rendah jika dibandingkan dengan SNI tepung kacang hijau (01-2728-1995) maksimal 10%.. Kemudian kecambah yang berbeda nyata terdapat pada perlakuan tanpa kecambah kacang hijau diblansing dengan cara mencelupkan blansing dengan suhu pengeringan 70°C dan perlakuan lama kecambah kacang hijau ke dalam air panas dengan suhu 90°C blansing 2. 60. sentrifuse (Traina dan Breene..al. 1994). Jika terdapat pengaruh maka Tempat dan Waktu Penelitian dilanjutkan dengan uji Duncan untuk mengetahui beda nyata Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Enjiniring Hasil antar kombinasi perlakuan. Fakultas Teknologi Pertanian. 1992). et. dan kamera digital. dan daya serap air (DSA) yang berbeda nyata pada masing- hijau dicuci untuk menghilangkan kotoran yang menempel pada masing kombinasi perlakuan disajikan pada Tabel 1.. gelas ukur. cawan petri. dan daya serap air menggunakan sampel yang pada Tabel 1 menunjukkan bahwa tidak semua nilai FM berbeda diseragamkan menjadi ≤ 80 mesh. eksikator. Volume . menyimpulkan bahwa blansing dan pengeringan menggunakan (RAL) dengan dua faktor. Sebaliknya semakin (Maryanto dan Yuwanti.44% (bb) dari bahan baku Miyako BL-301 GSC. Prosedur Pada Tabel 1 menunjukkan bahwa tidak semua nilai KA pembuatan tepung kecambah kacang hijau diawali dengan berbeda nyata pada masing-masing kombinasi perlakuan. Hasil pernyataan Arifin (2005).001 g. tipe 78108. Hasil percobaan menunjukkan bahwa unit FBD mampu panci.25% (bb). Biji kacang WI). biji kacang hijau dikecambahkan selama 24 jam dengan cara yang sebelumnya dihasilkan dari analisis ANOVA satu arah. Semakin besar gelas ukur (Muchtadi et al. Kajian Sifat Fisik Tepung Kecambah Kacang Hijau Hasil Pengeringan Fluidized Bed Dryer. kecambah kacang hijau dan pengukuran sifat fisik. Jurusan Teknik Pertanian. dan daya serap air dengan metode kecil nilai FM dan D maka tepung semakin halus.5. biji ditebar dalam wadah yang berlubang dan ditutup dengan Hasil analisa statistik pada uji Duncan tentang beda nyata antara plastik berwarna hitam. Faktor II yaitu suhu yang dihasilkan. warna (L. dan 70°C. fluidized bed dryer merk restch tipe TG-200.. Bulan Tahun. menghasilkan produk tepung kecambah kacang hijau dengan ayakan Standard Tyler merk restch tipe a200basic. Proses pembuatan kecambah kacang partikel (FM dan D). Selama proses perkecambahan. Distribusi Ukuran Partikel 1990).90-9. 60. warna dengan metode Hunter nilai FM dan D maka tepung semakin kasar. kecambah yang diberi perlakuan blansing. Setiap perlakuan dilakukan 2 kali pengulangan pengeringan terhadap mutu produk tepung kecambah kacang sehingga diperoleh 18 satuan percobaan. 2. 2010). Setelah pengaruh antara kombinasi perlakuan dengan parameter mutu itu. dan 5 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua kombinasi cawan sampel. bahan yang diberi perlakuan blansing pengeringan kecambah kacang hijau ditepungkan menggunakan mengalami absorbsi dari luar bahan sehingga KA meningkat dari unit pengecil ukuran selama 5 menit. Setelah itu. color reader CR-10 merk konica minolta sensing. Berdasarkan hasil uji Duncan curah. blender merk kadar air (KA) berkisar 7.1 Susanti. a. KA bahan semula. stopwatch.. 2007). Halaman . warna. Pengukuran distribusiNilai FM merupakan salah satu parameter distribusi ukuran ukuran menggunakan sampel yang diperoleh pada proses partikel yang menyatakan tingkat kehalusan partikel yang pengecilan ukuran. densitas curah (DC). Faktor I yaitu lama blansing yang FBD dapat meningkatkan kualitas tepung kecambah kacang hijau terdiri dari 3 level yaitu 0. densitas dihasilkan dari pengecilan ukuran. nyata pada masing-masing kombinasi perlakuan. kompor. kecambah kecambah tanpa blansing lebih rendah daripada kadar air dikeringkan menggunakan FBD dengan suhu pengeringan 50. 2. Penentuan biji kacang hijau.85-72. Nomor . Nilai FM Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap tertinggi diperoleh pada perlakuan tanpa blansing dan suhu Berkala Ilmiah TEKNOLOGI PERTANIAN. b. Data penelitian ini diolah menggunakan program SPSS 16.0. Hal ini sesuai dengan dan 70°C dan kecepatan udara pengering 140.5. HASIL DAN PEMBAHASAN Bahan dan Alat Penelitian Karakteristik Pengeringan Kecambah Kacang Hijau Bahan yang digunakan dalam kegiatan penelitian ini adalah Nilai parameter mutu kadar air (KA). Kadar air reaksi. Kemudian biji direndam dalam air dengan nilai beda nyata pada uji Duncan menunjukkan bahwa adanya perbandingan air dan biji kacang hijau 3 : 1 selama 8 jam. tabung reaksi beserta rak tabung perlakuan memiliki KA rata-rata sekitar ±8% (bb). biji diberi kombinasi perlakuan terhadap parameter mutu tepung kecambah percikan air sebanyak 5 kali dengan interval waktu 5 jam. Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: timbangan digital merk (oxaus pioneer) dengan akurasi 0. Pertanian. Mutu tepung kecambah kacang hijau dievaluasi berdasarkan parameter kadar air dengan metode thermogravimetri (AOAC. distribusi ukuran kecambah kacang hijau. Nilai FM tepung kecambah kacang hijau cenderung menurun dengan Analisis Data bertambahnya lama blansing dan suhu pengeringan. densitas curah diukur menggunakan kehalusan (FM) dan ukuran rata-rata butiran (D). distribusi ukuran partikel dengan metode saringan Tyler Distribusi ukuran partikel dipengaruhi oleh tingkat (Wirakartakusumah. Analisis ANOVA satu arah digunakan untuk mengetahui METODOLOGI PENELITIAN pengaruh kombinasi perlakuan terhadap berbagai parameter mutu tepung kecambah kacang hijau. dan 5 menit. Universitas Jember bulan Maret hingga Mei 2014.5 menit dengan suhu pengeringan 60°C. dan hijau didasarkan pada metode dalam Defri (2011).15 m 3/jam. Prosedur Penelitian Dengan demikian tepung kecambah kacang hijau yang dihasilkan Prosedur penelitian ini meliputi pembuatan tepung telah memenuhi standar. kacang hijau dapat diuraikan seperti pada berikut ini. KA kecambah kacang hijau dicuci dan dikupas kulitnya. tujuan dari penelitian ini adalah pengeringan menggunakan FBD yang terdiri dari 3 level yaitu untuk mengetahui pengaruh perlakuan lama blansing dan suhu 50. oven merk memmert WNB14. lalu ditiriskan.

0 ± 0.44a 2.03ab 0.37 ± 0.629 ± 0.005bc 16. Pada Tabel 1 hasil uji Duncan menunjukkan bahwa rerata 16.01a 0.09c 1.01a 0. a.02b 0.264 ± 0. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa kombinasi air dan pembengkakan granula pati yang terkandung dalam perlakuan berpengaruh terhadap nilai b dan derajat putih (WI).01a 0.193a B1T2 8.19 ± 0.958 ± 0..9b 74.013c 18.3b 74. Sedangkan nilai FM semakin banyak tepung yang menempati ruang.02b 0.714 ± 0.43 ± 0. yang melunak menyebabkan kecambah kacang hijau kering lebih Nilai b berkisar antara -70 hingga 70.609 ± 0.141cd B2T2 9.3 ± 0. pengeringan 50°C dengan rerata 2. tidak semua nilai b berbeda nyata pada masing-masing kombinasi perlakuan.4b 75.616 ± 0.19 ± 0.03ab 0.1 ± 0.48mm.5 ± 0bcd 2.03ab 0.52ab 1.05 menggunakan metode Duncan.36 mm. jika nilai b mendekati mudah dikecilkan ukurannya sehingga produk tepung kecambah nilai -70 maka bahan cenderung berwarna biru sedangkan jika kacang hijau yang diperoleh lebih halus.018bc 17.36 ± 0.61a 2..07e 0.570 gram/cm3.2a 76.570 ± 0.2ab 2.7 ± 0.64abc 1.676 ± 0. bahan.011b 16.624 ± 0.19. Halaman .37 ± 0.0 ± 0. Nilai b cenderung meningkat dengan bertambahnya Densitas Curah lama blansing dan suhu pengeringan.165 ± 0.010a 16.3 ± 1.676 gram/cm3. Nilai 0 menyatakan warna hitam sedangkan 0. Kajian Sifat Fisik Tepung Kecambah Kacang Hijau Hasil Pengeringan Fluidized Bed Dryer. Pemanasan yang terus-menerus pada proses blansing dan Sedangkan tingkat kecerahan (L) dan nilai a tidak dipengaruhi pengeringan dapat melunakkan tekstur bahan.1e 1.8 ± 0. Sedangkan nilai a berkisar antara rerata 0.79bc 1.4.402 ± 0. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa kombinasi perlakuan.09 ± 0. Namun nilai D Hunter L. Volume .44 ± 0. Nilai D tertinggi terdapat pada warna bahan semakin cerah.92 ± 0. diperoleh dari perlakuan tanpa blansing dan nilai 100 menyatakan warna putih.654 ± 0.05c 0.11bc 1.01a 0.37 ± 0.174 ± 0.013de 18.9 ± 0. Nilai b terttinggi terdapat Densitas curah merupakan suatu perbandingan antara berat pada perlakuan lama blansing 5 menit dan suhu pengeringan bahan dan volume ruang yang ditempati dan dinyatakan dalam 70°C dengan rerata 18.3 ± 0. Sedangkan nilai DC terendah dengan rerata antara 0 hingga 100.9 ± 0.434 ± 0.5 ± 1.5 ± 0. Hasil Titi (2008) menyatakan bahwa bertambahnya lama blansing penelitian ini menunjukkan bahwa nilai a berkisar antara -1. c. Sedangkan nilai WI terendah dengan rerata 74. Tingkat kecerahan ditunjukkan oleh nilai L cenderung menurun dengan bertambahnya perlakuan lama yang memiliki kisaran 0-100. Sedangkan nilai D terendah terdapat pada -80 hingga 80.al.077ab B3T2 8. Bulan Tahun.83 ± 0.04 ± 0. Tabel 1 Mutu fisik tepung kecambah kacang hijau hasil pengeringan FBD Kombinasi KA (%bb) FM D (mm) DC (g/cm3) b WI DSA (ml/g) B1T1 7.238b B1T3 7.583 ± 0.04ab 0.3 ± 0.93 ± 0.90 ± 0.01a 0.02c 0..84 ± 0.1 Susanti.45 ± 0.007d 18. Nilai DC tertinggi diperoleh dari perlakuan Derajat putih (WI) merepresentasikan tingkat warna hitam lama blansing 5 menit dan suhu pengeringan 70°C dengan rerata hingga putih suatu bahan bergantung pada nilai yang berkisar 0.01a 0.38 ± 0. Nilai WI tertinggi terdapat pada perlakuan menjadi lebih halus.076ab B2T1 8.2a 76. Jika partikel tepung semakin halus maka tanpa blansing dan suhu pengeringan 50°C dengan rerata 76.2b 74.9 ± 0. Berdasarkan uji Duncan pada mempengaruhi selera konsumen terhadap produk tersebut.3 diperoleh dari Berkala Ilmiah TEKNOLOGI PERTANIAN. suhu pengeringan 70°C.75 ± 0. Sedangkan nilai b terendah dengan gram/cm3.4.251d Keterangan : Abjad yang sama dalam satu kolom menunjukkan nilai tidak berbeda nyata secara statistik pada p≤0.1b 74.8a 76.48 ± 0.5abc 2.128bc B3T1 9.12 ± 0. Tingkat kehalusan nilai b mendekati nilai 70 maka bahan cenderung berwarna tepung kecambah kacang hijau dapat ditunjukkan dari nilai FM kuning.6 ± 0.80 pada perlakuan lama blansing 5 menit dan menyebabkan nilai DC semakin besar.6de 2.2a 2..9. Penelitian ini menghasilkan nilai L perlakuan tanpa blansing dan suhu pengeringan 50°C dengan yang berkisar antara 82.38 ± 0.1a 75.615 ± 0. Berdasarkan uji Duncan pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa dan D yang cenderung rendah. Nilai DC cenderung mengalami semakin tinggi waktu blansing dan suhu pengeringan maka nilai peningkatan dengan bertambahnya perlakuan lama blansing dan b pada tepung kecambah kacang hijau cenderung meningkat.271cd B3T3 8.4cde 2.4ab 2. et. Nomor .660 ± 0.011a 16.81 ± 0. Tabel 1 menunjukkan bahwa tidak semua nilai D berbeda nyata Kualitas warna pada produk dapat diukur menggunakan metode pada masing-masing kombinasi perlakuan.8).94 ± 0.049bc B2T3 9.37 ± 0. suhu pengeringan.8ab 2.36-0.655± 0.6 ± 1. menunjukkan bahwa tidak semua nilai WI berbeda nyata pada Hal ini sesuai dengan pernyataan Titi (2008) yang masing-masing kombinasi perlakuan. Hal ini terendah sebesar 1.03d 0.48 mm. jika nilai a semakin mendekati -80 maka bahan perlakuan lama blansing 5 menit dan suhu pengeringan 70°C cenderung berwarna hijau sedangkan jika nilai a semakin dengan rerata 0.3-(- dan suhu pengeringan dapat menyebabkan terjadinya penyerapan 0.84bc 2.0 diperoleh dari perlakuan tanpa blansing dengan suhu tidak semua nilai DC berbeda nyata pada masing-masing pengeringan 50°C.05d 0.87 ± 0. mendekati nilai 80 maka bahan cenderung berwarna merah.4 ± 0. dan b.2-83. Nilai L mendekati 100 berarti blansing dan suhu pengeringan. Tekstur bahan oleh kombinasi perlakuan.008e 18.81 ± 0.78bc 1.03a 0.80 ± 0. Nilai WI cenderung meyebutkan bahwa blansing dan proses pengeringan dapat mengalami penurunan dengan bertambahnya lama blansing dan melunakkan tekstur bahan sehingga tepung yang dihasilkan suhu pengeringan. Warna Ukuran rata-rata butiran tepung ditunjukkan oleh nilai D Pengukuran warna pada tepung kecambah kacang hijau yang berkisar antara 0. Hasil uji Duncan pada Tabel 1 suhu pengeringan 50°C.

.) dan Analisis Sifat distribusi ukuran dengan tingkat kehalusan (FM) sebesar 1.36-0. Tidak Diterbitkan. A.Sc. 1990. Seminar Hasil-Hasil Penelitian – LPPM UNIMUS. lama blansing dan suhu pengeringan berpengaruh terhadap parameter mutu tepung kecambah kacang hijau.S. Bogor: Daya serap air merupakan kemampuan suatu bahan pangan Instititut Pertanian Bogor. pengeringan 70°C dengan rerata 2. A. P.Taufiq. 1994.. Kecambah Serelia Dan Kacang-kacangan Dengan Variasi blanching. Hal ini dipengaruhi oleh suhu yang digunakan saat Association of Official Analytical Chemists. S.570-0. 1992.1 Susanti. Surakarta: ml/g. dan Arpah.0-18. Nomor .Food Process Press. et..M. Tidak Diterbitkan. Tidak Diterbitkan. Hal ini Bahan Hasil Pertanian. Vol 4 (2): UCAPAN TERIMA KASIH 91-105. Ilmu lebih kecil dibandingkan tepung yang tidak diberi perlakuan Pengetahuan Bahan Pangan. M.90-9.4. yang telah and Some Chemical and Physical Properties of Eight meluangkan waktu.. Pada penelitian ini membuktikan bahwa suhu 90°C untuk proses Chahyono. Peralatan DAFTAR PUSTAKA dan Unit Proses: Industri Pangan. Subarna. Skripsi.44 %(bb).5. Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Dr. Washington D. Skripsi. blansing dapat mempengaruhi nilai WI pada tepung. Daya Serap Air Fenolik Antioksidan”. M.TP. Karakteristik Kimia Tepung Pertanian Bogor. Tabel Komposisi Pangan KESIMPULAN Indonesia. T..958-2. Bogor: Institut Aminah. dan Fitriyono. 2004. menyebutkan bahwa tepung yang diberi perlakuan blansing memiliki porositas yang lebih besar sehingga densitas curahnya Muchtadi.8). T. Nilai DSA Estiasih. 2012. Malang: Universitas Tabel 1 menunjukkan bahwa nilai DSA pada masing-masing Brawijaya.48 mm. dalam menyerap air. tingkat kecerahan (L) sebesar 82. Traina. Vol 8: 229-252. 2007. Hasil observasi menyimpulkan bahwa kombinasi perlakuan Universitas Sebelas Maret. dan bimbingan serta semua pihak Commercial Full-fat Soy Flour. Persatuan Ahli Gizi Indonesia. Berkala Ilmiah TEKNOLOGI PERTANIAN. Volume . Bandung: Alfabeta blansing. “Pengaruh Proses Pengeringan Terhadap blansing dapat menurunkan nilai WI tepung kecambah kacang Sifat Fisiko-Kimia dan Fungsional Tepung Kecambah hijau. Diktat Sifat Fisik Pangan dan perlakuan tanpa blansing dan suhu pengeringan 50°C. J. H. D. and Breene. S.676 g/cm 3. 2009.. Jakarta: PT.Eng dan Sutarsi. Kajian Sifat Fisik Tepung Kecambah Kacang Hijau Hasil Pengeringan Fluidized Bed Dryer. dan daya serap air (DSA) sebesar 1. Menurut Titi (2008).C: putih tepung.3-76. “Mempelajari Pembuatan Tepung Labu dengan karaketristik fisik kadar air sebesar 7. Jurnal Ilmiah Indonesia. H. Jember: Fakultas Teknologi sesuai dengan pernyataan Puspitaningtyas (2004) yang Pertanian. S dan Wikanastri.714 ml/g. 2004. 2011. yang dapat terjadi pada saat Hijau Sebagai Alternatif Makanan Pendamping Air Susu proses pengolahan seperti pengeringan. densitas curah (DC) sebesar 0. Wirakartakusumah.2-83.19 dan ukuran rata-rata butiran (D) sebesar 0. M. Tidak Diterbitkan. A. Kacang Hijau (Phaseolus radiates L. Skripsi. “Pengaruh Temperatur Terhadap Laju (-0. Universitas Jember.958 ml/g diperoleh dari Maryanto dan Yuwanti. Nilai DSA tepung kecambah kacang hijau cenderung meningkat dengan bertambahnya lama blansing dan suhu pengeringan. Sedangkan daya Nilai DSA terendah dengan rerata 1. metode blansing dapat menurunkan derajat AOAC. ISBN: 978-602-18809-0-6. Pengaruh Pre Gelatinasi Terhadap Karakteristik Tepung Singkong. 2.) Hasil Germinasi dengan Perlakuan Natrium Alginat Sebagai Elisitor d. 2008. Fisikokimia Tepung yang Dihasilkan”. perlakuan tidak semua berbeda nyata. Penelitian ini menghasilkan tepung kecambah kacang hijau Puspitaningtyas. yang telah mendukung dalam penyelesaian penelitian ini.. Skripsi. Bulan Tahun.5 menit dan suhu pengeringan 60°C. Elex Media Komputindo. Sugiyono.80.9. Jakarta: PT tertinggi terdapat pada perlakuan lama blansing 5 menit dan suhu Bumi Aksara. T. 2009. “Pemanfaatan Kentang Dan Kecambah Kacang fisik dan komposisi bahan tersebut.3. Official Methods of Analytical. derajat putih (WI) Pengeringan Jagung Pada Pengering Konvensional dan sebesar 74. pikiran. 2004. Functionality Iwan Taruna.al. perlakuan lama blansing 2. Daya serap air dapat dipengaruhi oleh sifat Defri. parameter warna a sebesar -1. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Teknologi Pengolahan Pangan. Jepang (Cucurbita maxima L. parameter warna b sebesar 16. dalam menyerap air. Ir.714 Fluidized Bed”. Titi. Halaman . M. Composition. M. 2010. W. Hasil uji Duncan pada Ibu”. Porositas yang lebih besar dapat memudahkan tepung (Anggota IKAPI).

et. Halaman .1 Susanti. Nomor .al. Bulan Tahun.. Kajian Sifat Fisik Tepung Kecambah Kacang Hijau Hasil Pengeringan Fluidized Bed Dryer.... Volume . Berkala Ilmiah TEKNOLOGI PERTANIAN.