You are on page 1of 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan tipis yang
membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebra) dan
permukaan anterior sklera (konjungtiva bulbaris). Konjungtiva bersambungan
dengan kulit pada tepi kelopak mata (persambungan mukokutan) dan dengan
epitel kornea di limbus. Konjungtiva mengandung kelejar musin yang dihasilkan
oleh sel Goblet. Musin bersifat membasahi bola mata terutama kornea.
Karena lokasinya, konjungtiva terpapar terhadap mikroorganisme dan
faktor lingkungan lain yang menganggu. Air mata merupakan mekanisme
perlindungan permukaan mata yang penting. Pada film air mata, komponen
akueosa mengencerkan materi infeksi, mukus menangkap debris, dan aktivitas
pompa dari palpebra secara tetap membilas air mata ke duktus air mata. Air mata
mengandung substansi antimikroba, termasuk lizosim dan antibody (IgG dan
IgA). Agen infeksi tertentu dapat melekat dan mengalahkan mekanisme
pertahanan normal dan memicu reaksi peradangan sehingga timbul gejala klinis
konjungtivitis.
Konjungtivitis virus adalah penyakit mata yang umum ditemukan baik di
Indonesia maupun di seluruh dunia. Karena begitu umum dan banyak kasus yang
tidak dibawa ke perhatian medis, statistik yang akurat pada frekuensi penyakit
tidak tersedia. Pada penelitian di Philadelphia, 62% dari kasus konjungtivitis
penyebabnya adalah virus. Sedangkan di Asia Timur, adenovirus dapat diisolasi
dari 91,2% kasus yang didiagnosa epidemic keratoconjunctivitis. Infeksi virus
sering terjadi pada epidemi dalam keluarga, sekolah, kantor, dan organisasi
militer.
Gejala klinis konjungtivitis virus dapat terjadi secara akut maupun kronis.
Manifestasi konjungtivitis virus beragam dari mulai gejala yang ringan dan
sembuh sendiri hingga gejala berat yang menimbulkan kecacatan. Umumnya
pasien datang dengan keluhan mata merah unilateral yang dengan segera
menyebar ke mata lainnya, muncul sekret berwarna bening, bengkak pada
palpebra, pembesaran kelenjar preaurikuler, dan pada keterlibatan kornea dapat

1

Pemeriksaan serologi juga dapat membantu membedakan tipe-tipe virus penyebab konjungtivitis. Umumnya mata bisa dibuat lebih nyaman dengan pemberian cairan pelembab. Kompres dingin pada mata 3 – 4 x / hari juga dikatakan dapat membantu kesembuhan pasien. Penggunaan kortikosteroid untuk penatalaksanaan konjungtivitis viral harus dihindari karena dapat memperburuk infeksi. Penatalaksanaan konjungtivitis viral biasanya bersifat suportif dan merupakan terapi simptomatis. Terdapat pula gejala-gejala khas pada tipe virus tertentu yang akan dibahas kemudian. Anamnesis yang teliti mengenai keluhan utama dan riwayat terdahulu disertai adanya gejala klinis yang sesuai biasanya sudah dapat mengarahkan pada diagnosis konjungtivitis virus. dan glaucoma akut. Diagnosis konjungtivitis virus ditegakkan berdasarkan anamnesis. Pemeriksaan sitologi maupun biakan dari kerokan konjungtiva maupun sekret dapat membantu membedakan agen penyebab konjungtivitis.2. 2 . pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang yang mendukung. keratitis. belum ada bukti yang menunjukkan keefektifan penggunaan antiviral. Tujuan Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah untuk menambah pengetahuan mengenai Kongjungtivitis Viral terkait alur diagnosis serta penatalaksanaannya. Konjungtivitis virus harus dibedakan dengan penyebab mata merah yang lain seperti konjungtivitis oleh bakteri/alergi. 1. uveitis.timbul nyeri dan fotofobia.

alergi. paramyxovirus (measles. Istilah ini mengacu pada peradangan yang tidak spesifik dengan penyebab yang beragam. namun infeksi pada segmen anterior juga pernah dilaporkan. pikornavirus (enterovirus 70. coxsakie A24). poxvirus (molluskum kontagiosum. Molluscum kontagiosum dapat menyebabkan konjungtivitis kronis yang terjadi akibat shedding partikel virus dari lesi ke dalam sakus konjungtiva. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Adenoviral merupakan etiologi tersering dari konjungtivitis virus. dan lan- lain. Infeksi oleh virus Vaccinia saat ini sudah jarang ditemukan seiring dengan menurunnya insiden infeksi smallpox. 2. Penyebab lain yang lebih jarang antara lain infeksi virus varicella-zoster (VZV). serta Human Immunodeficiency Virus (HIV). Berbagai jenis virus diketahui dapat menjadi agen penyebab konjungtivitis. Konjungtivitis yang terjadi pada pasien AIDS cenderung lebih berat dan lama daripada individu lain yang immunokompeten. Infeksi oleh pikornavirus menyebabkan konjungtivitis hemoragika akut yang secara klinis mirip dengan infeksi oleh adenovirus namun lebih parah dan hemoragik.1 Definisi dan Etiologi Konjungtivitis merupakan peradangan pada konjungtiva. Epstein-Barr virus. mumps. Newcastle) atau Rubella. Virus merupakan agen infeksi yang umum ditemukan selain konjungtivitis bakterial.2 Patofisiologi 3 . Infeksi HIV pada pasien AIDS pada umumnya menyebabkan abnormalitas pada segmen posterior. Infeksi ini umumnya disebabkan oleh HSV tipe I walaupun HSV tipe II dapat pula menyebabkan konjungtivitis terutama pada neonatus. vaccinia). Konjungtivitis juga kadang dapat ditemukan pada periode terinfeksi virus sistemik seperti virus influenza. Infeksi mata primer oleh karena herpes simplex sering ditemukan pada anak-anak dan biasanya menimbulkan konjungtivitis folikuler. Beberapa subtipe dari konjungtivitis adenovirus antara lain demam faringokonjungtiva serta keratokonjungtivitis epidemika.

kemudian melipat untuk membentuk bagian dalam palpebra (konjungtiva palpebra). a.3 Gejala dan Tanda Klinis Konjungtivitis folikuler virus akut dapat muncul sebagai gejala yang ringan dan sembuh sendiri hingga gejala berat yang menimbulkan kecacatan. 2.3 . Awitan sering pada satu mata kemudian menyebar ke mata yang lain. Seperti halnya membrane mukosa lain. dimana konjungtiva berhubungan dengan kornea. Keratokonjungtivitis epidemika Keratokonjungtivitis epidemika disebabkan oleh adenovirus subgroup D tipe 8. Konjungtiva melekat erat dengan sklera pada bagian limbus. dan kekeruhan subepitel bulat. Penyakit ini dapat terjadi bilateral atau unilateral. 19. 4 . iritasi serta fotofobia. Folikel sering mencolok pada kedua konjungtiva. b. Gejala awal berupa nyeri sedang dan berair mata. Sindrom yang ditemukan pada pasien mungkin tidak lengkap. Fase akut ditandai dengan edema palpebra. Mata pertama biasanya lebih parah. hanya terdiri atas satu atau dua gejala utama (demam. agen infeksi dapat melekat dan mengalahkan mekanisme pertahanan normal dan menimbulkan gejala kinis seperti mata merah. dan konjungtivitis). diikuti dalam 5-14 hari kemudian dengan fotofobia. keratitis epitel. Mata merah dan berair mata sering terjadi.40 0C. Konjungtivitis yang timbul umumnya bilateral. dan 37. Pada umumnya konjungtivitis merupakan proses yang dapat menyembuh dengan sendirinya. faringitis. dan pada mukosa faring. dapat disertai keratitis superficial sementara ataupun sedikit kekeruhan di daerah subepitel.Konjungtiva merupakan jaringan ikat longgar yang menutupi permukaan mata (konjungtiva bulbi). Demam faringokonjungtival Tipe ini biasanya disebabkan oleh adenovirus tipe 3 dan kadang-kadang tipe 4 dan 7. 29. sakit tenggorokan. dan konjungtivitis pada satu atau dua mata. Limfadenopati preaurikuler yang muncul tidak disertai nyeri tekan. Demam faringokonjungtival ditandai oleh demam 38. namun pada beberapa kasus dapat menimbulkan infeksi dan komplikasi yang berat tergantung daya tahan tubuh dan virulensi virus tersebut. Glandula lakrima aksesori (Kraus dan Wolfring) serta sel Goblet yang terdapat pada konjungtiva bertanggung jawab untuk mempertahankan lubrikasi mata.

Perdarahan berawal dari konjungtiva bulbi superior menyebar ke bawah. Konjungtivitis virus herpes simpleks (HSV) Konjungtivitis HSV umumnya terjadi ada anak-anak dan merupakan keadaan luar biasa yang ditandai pelebaran pembuluh darah unilateral. Perdarahan subkonjungtiva yang terjadi umumnya difus. menetap berbulan-bulan namun menyembuh tanpa disertai parut. Sering disertai keratitis herpes simpleks. dan fotofobia. Vesikel herpes kadang-kadang muncul di palpebra dan tepian palebra. disertai edema berat pada palpebra. Konjungtivitis dapat muncul sebagai infeksi primer HSV atau pada episode kambuh herpes mata. Yang khas pada konjungtivitis tipe ini adalah masa inkubasi yang pendek (sekitar 8-48 jam) dan berlangsung singkat (5-7 hari). Konjungtivitis berlangsung selama 3-4 minggu. Pada beberapa kasus dapat terjadi uveitis anterior dengan gejala demam. Konjungtivitis virus menahun meliputi: a. kemosis. sensasi benda asing. Gejala dan tandanya adalah rasa sakit. folikel konjungtiva. dan keratitis epithelia. c. dengan kornea menampakkan lesi-lesi eptelial tersendiri yang umumnya menyatu membentuk satu ulkus atau ulkus epithelial yang bercabang banyak (dendritik). banyak mengeluarkan air mata. dan perdarahan subkonjungtiva. disertai sekret mukoid. dan air. edema palpebra. Kekeruhan epitel terjadi di pusat kornea. alat-alat optic yang terkontaminasi. Pada sebagian besar kasus. Kadang-kadang dapat timul kemosis. Nodus preaurikuler yang nyeri tekan adalah gejala yang khas untuk konjungtivitis HSV. Kadang-kadang dapat terbentuk pseudomembran ataupun membran sejati yang dapat meninggalkan parut datar ataupun symblepharon. dan mialgia. Dalam 24 jam sering muncul folikel dan perdarahan konjungtiva. Blefarokonjungtivitis Mulloskum Kontagiosum 5 . Konjungtivitis hemoragika akut Konjungtivitis hemoragika akut disebabkan oleh enterovirus tipe 70 dan kadang-kadang oleh virus coxsakie tpe A24. didapatkan limfadenopati preaurikular. Konjungtivitis yang terjadi mumnya folikuler namun dapat juga pseudomembranosa. namun dapat diawali oleh bintik-bintik perdarahan. fotofobia. dan hiperemia konjungtiva. malaise. d. iritasi. Transmisi terjadi melalui kontak erat dari orang ke orang melalui media sprei.

berwarna putih-mutiara. entropion. yang dalam beberapa hari diikuti pembengkakan lipatan semilunar (tanda Meyer). Bersamaaan dengan munculnya erupsi kulit akan timbul bercak-bercak koplik pada konjungtiva dan kadang-kadang pada carunculus. Selanjutnya dapat terbentuk parut palpebra. Lesi palpebra dari varicella dapat terbentuk di bagian tepi ataupun di dalam palpebra sendiri dan seringkali meninggalkan parut. Enantema khas morbili seringkali mandahului erupsi kulit. Blefarokonjungtivitis varicella-zoster Blefarokonjungtivitis varicella-zoster ditandai dengan hiperemia dan konjungtivitis infiltratif yang disertai erupsi vesikuler sepanjang penyebaran dermatom nervus trigeminus cabang oftalmika. Pada awal perjalanan penyakit dapat ditemukan pembesaran kelenjar preaurikula yang nyeri tekan. papula. Kornea di dekatnya mengalami infiltrasi dan bertambah pembuluh darahnya. Pada tahap awal konjungtiva nampak seperti kaca yang aneh. dan mungkin menyerupai trachoma. berombak. namun dapat pula membentuk folikel. Sering timbul konjungtivitis eksudatif ringan. dan bulu mata salah arah. c. keratitis superior. Keratitis epithelial dapat terjadi pada anak-anak dan orang tua. dan pannus superior.Molluscum kontagiosum ditandai dengan adanya reaksi radang dengan infiltrasi mononuclear dengan lesi berbentuk bulat. tetapi lesi konjungtiva yang jelas (kecuali pada limbus) sangat jarang terjadi. dan ulkus. pseudomembran. Lesi di limbus menyerupai phlyctenula dan dapat melalui tahap-tahap vesikel. dengan daerah pusat yang non radang. 6 . Konjungtivitis yang terjadi umumnya bersifat papiler. b. Beberapa hari sebelum erupsi kulit timbul konjungtivitis eksudatif dengan sekret mukopurulen. dan vesikel temporer yang kemudian berulserasi. Nodul molluscum pada tepian atau kulit palpebra dan alis mata apat menimbulkan konjungtivitis folikuler menahun unilateral. Keratokonjungtivitis morbili.

Pengecatan giemsa juga dapat dilakukan. Deteksi terhadap antigen virus dan klamidia dapat dipertimbangkan. Dokter bisa menggunakan biomicroscopic slit lamp untuk melakukan pemeriksaan bagian depan mata. serta terjadi kegagalan respon terhadap pengobatan yang diberikan sebelumnya. Kadang-kadang. Infiltrasi subepitel akan muncul sebagai keputihan di daerah kornea yang bisa menurunkan visus pasien untuk sementara waktu. pada reaksi konjungtiva yang atipikal. merah. Pada penyakit ini. Pada konjungtivitis virus ditemukan sel mononuklear dan limfosit. Konjungtivitis viral akut a.4 Diagnosis dan Diagnosis Banding Anamnesis yang teliti mengenai keluhan pasien dan riwayat terdahulu sangat penting dalam menegakkan diagnosis konjungtivitis virus. nyeri) dan beberapa hari kemudian akan muncul infiltrasi di bagian subepitel. Inokulasi merupakan teknik pemeriksaan dengan memaparkan organism penyebab kepada tubuh manusia untuk memproduksi kekebalan terhadap penyakit itu. Sebagian dari pasien akan mengalami pembengkakan di daerah kelenjar getah bening di bagian depan telinga (preaurikula). pasien mengalami pseudo-membrane pada jaringan di bagian bawah kelopak mata pada konjungtiva. Demam faringokonjungtiva 7 . 1. Polymerase chain reaction (PCR) merupakan pemeriksaan yang digunakan untuk mengisolasi virus dan dilakukan pada fase akut. pasien akan mengeluhkan gejala-gala yang berkaitan dengan proses infeksi (bengkak. Pemeriksaan penunjang yang harus dilakukan untuk konjungtivitis viral adalah kultur dengan pemeriksaan sitologi konjungtiva yang dilakukan pada infeksi yang menahun dan sering mengalami kekambuhan.2.

Pada kerokan konjungtiva didapatkan sel mononuklear dan tidak ada bakteri yang tumbuh pada biakan. Pada konjungtivitis Varisella-Zooster. d. e. Konjungtivitis hemoragik epidemik akut Diagnosis utama adalah dari gambaran klinisnya. Namun. Temuan sel-sel epitel raksasa multinukleus memiliki nilai diagnostik. tetapi tidak tampak dalam pulasan giemsa. diagnosis klinis merupakan diagnosis yang paling mudah dan praktis. c. Keratokonjuntivitis epidemika Virus ini dapat diisolasi dalam biakan sel dan dapat diidentifikasi dengan uji netralisasi. juga tampak neutrofil yang banyak. diagnosis biasanya ditegakkan dengan ditemukan sel raksasa pada pewarnaan giemsa. jika konjungtivitisnya folikuler. Konjungtivitis New castle Diagnosis dari konjungtivitis ini adalah dari anamnesis dan juga gambaran klinisnya. dan sel inklusi intranuklear. Kerokan konjungtiva menampakkan reaksi radang mononuklear primer. Diagnosis demam faringokonjungtivitis dapat ditegakkan dari tanda klinis maupun laboratorium. Virus penyebab demam faringokonjungtiva ini dapat dibiakkan dalam sel HeLa dan di identifikasi dengan uji netralisasi. 8 . kultur virus. Dengan berkembangnya penyakit virus ini dapat di diagnosis secara serologis melalui peningkatan titer antibodi penetral virus. Konjungtivitis herpetik Pada konjungtivitis virus herpes simplek. Inklusi intranuklear (karena adanya marginasi kromatin) tampak dalam sel-sel konjungtiva dan kornea dengan fiksasi Bouin dan pilasan papanicolaou. b. reaksi radangnya terutama akibat kemotaksis nekrosis. Bila terbentuk pseudomembran.

kerokan dari konjungtiva pada varicella dan dari vesikel konjungtiva pada zooster dapat mengandung sel raksasa dan monosit c. Blefarokonjungtivitis campak Kerokan konjungtiva menunjukkan rekasi sel mononuclear. Kompres dingin pada mata 3 – 4 x / hari juga dikatakan dapat membantu kesembuhan pasien. mendesak inti ke satu sisi. Konjungtivitis Viral Kronis a. kecuali jika ada pseudomembran atau infeksi sekunder. yaitu : Infeksi pada kornea (keratitis) dan apabila tidak ditangani bisa menjadi ulkus kornea. Sediaan terpulas giemsa menampilkan sel-sel raksasa Sementara itu konjungtivitis virus harus dibedakan dengan konjungtivitis yang lain dan penyakit mata merah lainnya terkait dengan penatalaksanaannya. 2. Umumnya mata bisa dibuat lebih nyaman dengan pemberian cairan pelembab. b. Blefarokonjungtivitis varicella zooster Pada zooster maupun varicella. kerokan dari vesikel palpebranya mengandung sel raksasa dan banyak leukosit polimorfonuklear. Blefarokonjungtivitis Molluscum Contagiosum Bioposi menunjukkan inklusi sitoplasma iosinofilik yang memenuhi sitoplasma sel yang rusak.5 Komplikasi Komplikasi dari konjungtivitis viral. Penggunaan kortikosteroid untuk penatalaksanaan konjungtivitis viral harus dihindari karena dapat memperburuk infeksi. belum ada bukti yang menunjukkan keefektifan penggunaan antiviral. Penatalaksanaan berdasarkan klasifikasi dan gejala dari konjungtivitis virus dapat diuraikan sebagai berikut : 9 . 2.6 Penatalaksanaan Konjungtivitis viral biasanya bersifat suportif dan merupakan terapi simptomatis.2.

Namun. Anti bakteri harus diberikan jika terjadi superinfeksi bakteri. antivirus topikal atau sistemik harus doberikan untuk mencegah terkena kornea. Pada saat acyclovir 400 mg/hari selama 5 hari merupakan pengobatan umum. oenetesan obat anti virus. Walaupun diduga steroid dapat mengurangi penyulit akan tetapi dapat mengakibatkan penyebaran sistemik. namun kompres dingin akan mengurangi beberapa gejala. b. Misalnya trikloridin setiap 2 jam sewaktu bangun. penggunaan kortikosteroid dapat memperpanjang keterlibatan kornea lebih lanjut sehingga harus dihindari. Antivirus topikal sendiri harus diberikan 7-10 hari. Demam faringokonjungtiva Pengobatan untuk demam faringokonjungtiva hanya bersifat suportif karena dapat sembuh sendiri diberi kompres. lubrikasi. Konjungtivitis viral akut a. c. sedangkan pada kasus yang berat dapat diberikan antibiotik dengan steroid lokal. Konjungtivitis herpetik Untuk konjungtivitis herpes simpleks yang terjadi pada anakdiatas satu tahun atau pada orang dewasa yang umumnya sembuh sendiri dan mungkin tidak perlu terapi. Selama konjungtivitis akut. Pada 2 minggu pertama dapat diberikan analgetik untuk menghilangkan rasa sakit. harus dilakukan debridement korneadengan mengusap ulkus menggunakan kain steril dengan hati-hati. Keratokonjungtivitis epidemika Hingga saat ini belum ada terapi spesifik. Pada konjungtivitis varicella zooster pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian kompres dingin. dan penutupan mata selama 24 jam. Pengobatan biasanya simptomatis dan pemberian antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder. Jika terjadi ulkus kornea. Pada kelainan peermukaan dapat 10 .1. astrigen. Penggunaan kortikosteroid dikontraindikasikan karena bias memperburuk infeksi herpes simpleks dan mengubah penyakit dari suatu proses singkat yang sembuh sendiri menjadi infeksi berat yang berkepanjangan.

hanya tindakan penunjang saja yang dilakukan. Pada kondisi ini eksisi nodul juga menyembuhkan konjungtivitisnya. kecuali ada infeksi sekunder. Konjungtivitis new castle Pengobatan yang khas hingga saat ini tidak ada dan dapat diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder disertai obat-obat simtomatik. d. Penyembuhan dapat terjadi dalam 5-7 hari. Penularan juga bisa terjadi di fasilitas kesehatan bahkan ke tenaga kesehatan yang memeriksa pasien. Langkah – langkah pencegahan yang perlu diperhatikan adalah mencuci tangan dengan bersih. 2. b. 11 . Konjungtivitis viral kronik a. juga menghindari pemakaian handuk bersama.1% diberikan bila terdapat episkleritis. sehingga pencegahan adalah hal yang sangat penting. Keratokonjungtivitis campak Tidak ada terapi yang spesifik. Konjungtivitis viral merupakan penyakit infeksi yang angka penularannya cukup tinggi. Dalam penularan ke lingkungan sekitar. Konjungtivitis hemorhagik epidemik akut Penyakit ini dapat sembuh sendiri sehingga pengobatan hanya simtomatik. Blefarokonjungtivitis varicella zoster Pada kondisi ini diberikan acyclovir oral dosis tinggi (800mg/oral 5x selama 10 hari) c. Pengobatan antibiotika spekturm luas. skleritis dan iritis. pasien sebaiknya disarankan untuk menghindari kontak dengan orang lain seperti di lingkungan kerja / sekolah dalam 1 – 2 minggu. diberikan salep terasilin. Konjungtivitis Molluscum Contagiosum Eksisi. Steroid tetes deksametason 0. tidak menyentuh mata dengan tangan kosong. insisi sederhana pada nodul yang memungkinkan darah tepi yang memasukinya atau krioterapi akan menyembuhkan konjungtivitis. e. serta tidak menggunakan peralatan yang akan digunakan untuk pemeriksaan pasien lain. sulfacetamide dapat digunkan untuk mencegah infeksi sekunder.

2. 12 .7 Prognosis Prognosis penderita konjungtivitis baik karena sebagian besar kasus dapat sembuh spontan (self-limited disease). namun komplikasi juga dapat terjadi apabila tidak ditangani dengan baik.

Bengkak dirasakan terus menerus dan disertai sedikit rasa gatal.Nangka gg. namun sekarang dikatakan sudah membaik. Pasien mengaku awalnya mata kanannya hanya merah sedikit yang makin hari dirasa semakin merah dan nyeri. Pasien mengaku badannya sempat panas dan nyeri tenggorokan sekitar 5 hari yang lalu.1 Identitas Penderita Nama : AMOS SITORUS Umur : 10 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Alamat : Jl. Pasien mengatakan kotoran terasa sangat banyak pada mata kanan pada pagi hari.2 Anamnesis Keluhan utama : Mata kanan merah Riwayat Penyakit Sekarang Penderita datang dengan keluhan merah pada mata kanannya sejak 4 hari yang lalu. Pasien juga mengatakan tidak pernah sakit mata seperti ini sebelumnya. BAB 3 LAPORAN KASUS 3. Keluhan nyeri. Nuri 6 no. 13 . Riwayat asma serta alergi disangkal. pasien juga mengeluhkan bengkak pada kelopak mata bagian atas sejak 4 hari yang lalu. disertai rasa nyeri. Riwayat Penyakit Dahulu dan Pengobatan Riwayat trauma maupun kemasukan benda asing sebelumnya disangkal. pasien juga mengatakan penglihatan pada mata kanan sedikit kabur. mata silau dan penglihatan kabur pada mata kiri disangkal oleh pasien. namun keluhan ini tidak dirasakan pada mata kirinya. Kotoran tersebut dikatakan sering keluar dengan cairan berwarna bening. 24 Pekerjaan : Pelajar 3. Selain itu. Pasien juga mengeluh mata kanannya keluar kotoran sejak 4 hari yang lalu.

3.3.8 °C 3.1 Pemeriksaan Fisik Umum Kesadaran : Compos mentis Tekanan darah : Tidak dievaluasi Nadi : 88 kali / menit Temperatur aksila : 36.3 Pemeriksaan Fisik 3. minimal Tidak ada Hiperemi Ada Tidak ada Enteropion Tidak ada Tidak ada Ekteropion Tidak ada Tidak ada Benjolan Tidak ada Tidak ada Palpebra inferior Edema Tidak ada Tidak ada Hiperemi Ada.3. minimal Tidak ada Enteropion Tidak ada Tidak ada Ekteropion Tidak ada Tidak ada Benjolan Tidak ada Tidak ada Pungtum lakrimalis Pungsi Tidak dilakukan Tidak dilakukan Benjolan Tidak ada Tidak ada 14 .2 Pemeriksaan Fisik Khusus (Lokal pada Mata) Okuli Dekstra (OD) Okuli Sinistra (OS) Visus 6/6 6/6 Refraksi/Pin Hole Tidak dilakukan Tidak dilakukan Supra cilia Madarosis Tidak ada Tidak ada Sikatriks Tidak ada Tidak ada Palpebra superior Edema Ada.

penglihatan pada mata kanan juga dikatakan kabur. Keluhan mata merah yang sama juga terdapat pada teman sebangku pasien.4 Resume Pasien laki – laki. giemsa dan kultur 3.5 Diagnosis Banding 1.Slitlamp . OD Konjungtivitis ec susp alergi 3.9 Prognosis Dubius ad bonam 15 . 3.6 Diagnosis Kerja OD Konjungtivitis ec susp viral 3. OD Konjungtivitis ec susp bakteri 3.7 Usulan Pemeriksaan .Pengecatan gram. KOH. jaga higiene mata. OD Konjungtivitis ec susp viral 2. Pasien juga mengeluh keluarnya kotoran pada mata kanan sejak 4 hari yang lalu. Pasien juga mengatakan terdapat bengkak pada kelopak mata bagian atas di mata kanan sejak 4 hari yang lalu. nutrisi cukup Tobroson eye drop 4 x 1 tetes / hari OD Eye Fresh eye drop 4 x 1 tetes / hari OD Enervon C syrup 3 x 1 cth Kontrol Poliklinik Mata: 5 Januari 2011 3.3.8 Terapi KIE. 10 tahun mengeluh kemerahan pada mata kanan sejak 4 hari yang lalu disertai dengan rasa nyeri.

pasien biasanya mengeluhkan mata silau. sehingga untuk membedakannya perlu dilihat gejala lainnya. Selain itu dari pemeriksaan fisik. tampak bilik mata depan dangkal serta tekanan bola mata yang meningkat. Beberapa penyebab mata merah seperti keratitis. kental dan biasa keluar dalam jumlah besar sehingga mata agak sulit dibuka. uveitis. Infeksi konjungtiva menyebabkan terjadi hipersekresi dari kelenjar tersebut. peri corneal vascular injection (PCVI). Keluarnya kotoran dari mata disebabkan adanya peradangan pada bagian konjungtiva dari mata. dan dari pemeriksaan fisik bisa tampak miosis dan hipopion. nyeri serta sulit untuk membuka mata. pasien juga bisa mengeluhkan nyeri pada mata. hal ini mengarah ke penyakit konjungtivitis. Sedangkan konjungtivitis alergi. biasanya pasien memiliki riwayat atopi atau alergi pada keluarga. Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik penderita ini memenuhi kriteria diagnosis konjungtivitis yang disebabkan oleh viral. Kemerahan pada mata merupakan tanda dari berbagai penyakit mata. 16 . serta ada pajanan terhadap alergen sebelum muncul gejala. keluar kotoran serta cairan berwarna bening sehingga penglihatan pasien sedikit terganggu. Pada konjungtivitis didapatkan hiperemia pada daerah konjungtiva palpebra dan konjungtiva bulbi. dimana pada konjungtiva terdapat banyak kelenjar. Dan pada glaukoma. Sedangkan pada uveitis. Pada keratitis. Untuk penyebab dari infeksi tersebut. kelopak mata kanan bagian atas sedikit bengkak. Dari pemeriksaan fisik. dan glaukoma akut bisa dibedakan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik. biasanya terlihat infiltrat pada kornea. Pada konjungtivitis bakteri. pasien mengeluhkan nyeri hebat pada mata disertai mual muntah. sekret biasanya berwarna kuning. edema kornea dan bisa tampak ulkus pada kornea pasien. mata kabur. dan terasa sedikit gatal. Gejala tersebut tidak terdapat pada pasien ini. BAB 4 PEMBAHASAN Keluhan penderita yaitu mata kanan kemerahan disertai rasa nyeri. Pada pasien ini terdapat kotoran berwarna bening yang keluar terus menerus. pada pasien ini lebih mengarah ke konjungtivitis viral dilihat dari warna kotoran yang bening. dan penurunan penglihatan. mata merah.

Prognosis pada penderita ini baik. Pengobatan yang diberikan pada penderita ini adalah Tobrosan tetes mata 4 kali 1 tetes per hari yang berfungsi sebagai antibiotik lokal spektrum luas untuk pencegahan infeksi sekunder. Pada konjungtivitis alergi. Komplikasi dari penyakit ini juga tidak sering terjadi. Tanda – tanda tersebut menunjukkan konjungtivitis. 17 . Eye Fresh eye drop 4 kali 1 tetes per hari sebagai pelembab mata dan vitamin C syrup 3 x 1 cth untuk membantu proses penyembuhan. bisa ditemukan cobblestone appearance pada konjungtiva palpebra serta trantas dots pada daerah perilimbus. Hal ini dilakukan untuk lebih memastikan penyebab dari konjungtivitis tersebut sehingga dapat membantu pemilihan terapi yang adekuat. didukung oleh kepustakaan yang mengatakan bahwa kebanyakan kasus konjungtivitis viral dapat sembuh sendiri tanpa diberikan terapi. Sedangkan untuk perbedaan jenis penyebab. kultur. dapat dilihat dari gejala dan tanda seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.Selain itu terdapat pula edema minimal pada palpebra serta conjunctival vascular injection (CVI) pada konjungtiva bulbi. KOH. Namun perlu diperhatikan pencegahan agar tidak menular kepada orang lain mengingat angka penularannya cukup tinggi. Usulan pemeriksaan yang dilakukan adalah pengecatan giemsa.

Viral Conjunctivitis. Vaughan. 2010. Niti et al. Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Mata FK UNUD/RSUP Sanglah Denpasar. Ilmu Penyakit Mata.medscape. Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Mata FK UNUD/RSUP Sanglah Denpasar. Jakarta.com/article/1191370-overview#showall 3. 2009. 2011. Budhiastra. Daniel G. IU. 2009. DAFTAR PUSTAKA 1. Pedoman Diagnosis dan terapi penyakit Mata RSUP Sanglah Denpasar. Available: http://emedicine. P et al. Ed 14. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 4. Standar Pelayanan Medis Ilmu Kesehatan Mata FK UNUD/RSUP Sanglah Denpasar. Widya Medika : Jakarta 18 . Susila. Scott. Ilyas Sidarta. 2. Opthalmologi Umum. 5. 2000.