You are on page 1of 124

ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN BELIMBING DEWA

DI KECAMATAN PANCORAN MAS KOTA DEPOK
JAWA BARAT

OLEH :
SARI NALURITA
A 14105605

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008

RINGKASAN

SARI NALURITA. Analisis Efisiensi Pemasaran Belimbing Dewa di Kecamatan
Pancoran Mas Kota Depok Jawa Barat. Di bawah bimbingan DWI RACHMINA

Belimbing manis merupakan jenis buah yang mudah dibudidayakan selain
itu nilai ekonomis belimbing manis lebih tinggi dibandingkan belimbing wuluh
(Averrhoa bilimbi L.). Permintaan belimbing manis setiap tahun semakin
meningkat. Salah satu sentra produksi belimbing manis terdapat di Kota Depok.
Tujuan dari penelitian ini adalah : (1) Menganalisis saluran pemasaran dan fungsi-
fungsi pemasaran yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pemasaran komoditas
belimbing manis di Kota Depok, (2) Menganalisis struktur dan perilaku pasar
belimbing manis di Kota Depok, (3) Menganalisis efisiensi pemasaran Belimbing
Dewa untuk menentukan alternatif saluran pemasaran Belimbing Dewa.
Penelitian ini dilakukan pada beberapa petani Belimbing Dewa di
Kecamatan pancoran Mas, Kota Depok. Penelitian ini menggunakan metode
analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif bertujuan untuk
menganalisis saluran pemasaran, lembaga pemasaran, fungsi-fungsi pemasaran,
struktur dan perilaku pasar. Analisis kuantitatif digunakan untuk menganalisis
marjin pemasaran, farmer’s share, rasio keuntungan dan biaya. Metode
pengambilan contoh yang digunakan adalah random sampling, dengan 40 petani
responden. Sedangkan pengambilan contoh untuk lembaga pemasaran dilakukan
dengan metode snowball sampling.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat lima saluran pemasaran
yang terbentuk di dalam pemasaran Belimbing Dewa di Kecamatan Pancoran
mas, yaitu : (1) Petani – Tengkulak – Pedagang Besar – Pedagang Pengecer –
Konsumen; (2) Petani – Tengkulak – Pedagang Besar – Supplier – Pedagang
Pengecer (swalayan) – Konsumen; (3) Petani – Pedagang Pengecer (toko buah
dan pasar tradisional) – Konsumen; (4) Petani – Pusat Koperasi Belimbing –
Pedagang Pengecer (toko buah) – Konsumen; (5) Petani – Pusat Koperasi
Belimbing – Supplier – Pedagang Pengecer (swalayan) – Konsumen. Setiap
lembaga pemasaran kentang melakukan fungsi-fungsi pemasaran yang berbeda-
beda. Fungsi-fungsi yang dilakukan oleh lembaga pemasaran meliputi fungsi
pertukaran, fungsi fisik dan fungsi fasilitas. Tidak semua lembaga pemasaran
melakukan semua fungsi pemasaran tersebut, hanya pedagang pengecer pada
saluran pemasaran 1 yang melakukan semua fungsi pemasaran.
Struktur pasar yang dihadapi petani belimbing mengarah kepada struktur
pasar oligopsoni, karena jumlah tengkulak yang sedikit dan produk yang dijual
homogen Struktur pasar yang dihadapi oleh tengkulak mengarah pada oligopsoni
murni karena jumlah tengkulak yang sedikit, tengkulak tidak bebas untuk
menentukan harga, walaupun harga berdasarkan negosiasi namun seringkali harga
ditentukan oleh pedagang besar. Struktur pasar yang dihadapi oleh tengkulak
mengarah pada oligopsoni murni karena jumlah tengkulak yang sedikit, tengkulak
tidak bebas untuk menentukan harga, walaupun harga berdasarkan negosiasi
namun seringkali harga ditentukan oleh pedagang besar. Struktur pasar yang
dihadapi oleh Puskop adalah struktur pasar monopoli. Strukur pasar yang dihadapi
oleh pedagang besar adalah struktur pasar oligopoli. Struktur pasar yang dihadapi

50

oleh supplier adalah oligopoli differensiasi karena jumlah supplier yang sedikit
dan jumlah produk yang dipasok supplier bergam tidak hanya belimbing varietas
Dewa Baru. Struktur pasar yang dihadapi oleh pedagang pengecer selaku penjual
mengarah pada persaingan monopolistik karena jumlah pembeli dan penjual yang
banyak, pengetahuan pedagang pengecer yang tinggi, sulitnya untuk keluar dan
masuk pasar, serta adanya diferensiasi produk.
Hasil analisis marjin pemasaran pada saluran pemasaran satu sampai lima,
total biaya pemasaran tertinggi terdapat pada saluran pemasaran lima sebesar
Rp.2.340/Kg dan terbesar digunakan untuk biaya pengemasan sebesar Rp.500 (21
persen dari total biaya pengemasan). Bahwa keuntungan terbesar yang diterima
petani Belimbing Dewa diperoleh dari saluran pemasaran empat dan lima yaitu
sebesar Rp.3.201, sedangkan keuntungan terkecil diperoleh petani di saluran
pemasaran satu dan dua sebesar Rp.1.701/Kg. Saluran pemasaran dua adalah
merupakan saluran pemasaran yang memiliki total marjin terbesar dibandingkan
saluran pemasaran lainnya yaitu sebesar Rp.10.000/Kg atau sebesar 66,67 persen.
Farmer’s share tertinggi terdapat pada saluran pemasaran empat yaitu sebesar
56,52 persen, artinya produsen menerima harga sebesar 56,52 persen dari harga
yang dibayarkan konsumen. Berdasarkan analisis rasio keuntungan terhadap
biaya, total π/C pada setiap saluran pemasaran Belimbing Dewa memiliki nilai
lebih besar dari satu, hal ini menunjukkan bahwa kegiatan pemasaran yang
dilakukan oleh lembaga pada masing-masing saluran sudah memberikan
keuntungan. Nilai π/C tertinggi terdapat pada saluran pemasaran empat yaitu
sebesar 7,51, artinya jika lembaga pemasaran pada saluran pemasaran ke empat
mengeluarkan biaya sebesar Rp.1/Kg maka keuntungan yang diperoleh sebesar
Rp.7,51/Kg. Rasio keuntungan-biaya terbesar pada saluran empat diperoleh
pedagang pengecer sebesar 25,60. Berdasarkan analisis marjin pemasaran saluran
pemasaran Belimbing Dewa yang paling efisien adalah saluran pemasaran empat,
karena memiliki total marjin pemasaran terkecil sebesar Rp. 5000/Kg (43,48
persen), pada saluran ini petani mendapatkan bagian terbesar yang dianalisis
dengan farmer’s share, sedangkan rasio keuntungan terhadap biaya juga
menunjukkan saluran pemasaran empat telah memberikan keuntungan pada setiap
lembaga yang terlibat dibanding dengan saluran pemasaran lainnya.
Saluran pemasaran empat dapat dijadikan alternatif saluran pemasaran
yang dapat dipilih oleh setiap lembaga pemasaran, jika untuk meningkatkan
pendapatan petani saluran pemasaran empat dan lima merupakan alternatif saluran
pemasaran yang dapat dipilih petani karena petani mendapatkan bagian terbesar
pada saluran empat dan lima. Petani memerlukan suatu wadah yang tidak hanya
memasarkan hasil panen tetapi juga dapat memberikan kegiatan pembinaan baik
dalam hal budidaya maupun dalam hal pemasaran. Untuk meningkatkan efisiensi
harga, para pelaku pemasaran perlu memperhatikan jumlah pesaing, informasi
pasar, dan standarisasi produk. Untuk meningkatkan efisiensi operasional,
beberapa kegiatan peningkatan nilai tambah seperti pengolahan belimbing
dirasakan perlu agar petani dan lembaga-lembaga lain yang terlibat bisa
mendapatkan keuntungan yang lebih besar dan resiko akan kerusakan produk
yang menyebabkan penyusutan bisa dikurangi.

51

ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN BELIMBING DEWA DI KECAMATAN PANCORAN MAS KOTA DEPOK JAWA BARAT OLEH : SARI NALURITA A 14105605 Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 52 .

MAgr NIP : 131 124 019 Tanggal Lulus : 6 September 2008 53 . MSi NIP : 131 918 053 Mengetahui. Dosen Pembimbing Ir. Dwi Rachmina. Dr. Ir. Didy Sopandie.Judul : Analisis Efisiensi Pemasaran Belimbing Dewa Di Kecamatan Pancoran Mas Kota Depok Jawa Barat Nama : Sari Nalurita NRP : A 14105605 Menyetujui. Dekan Fakultas Pertanian Prof.

SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH Bogor. September 2008 Sari Nalurita A 14105605 54 . PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL “ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN BELIMBING DEWA DI KECAMATAN PANCORAN MAS KOTA DEPOK JAWA BARAT” BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK TERTENTU.

Penulis melanjutkan ke SLTPN 3 Depok hingga tahun 1999. Penulis menyelesaikan pendidikan di SDN Mekarjaya 30 pada tahun 1990 dan lulus pada tahun 1996. panitia pembuatan film produksi fakultas pertanian. Penulis melanjutkan Program Strata satu (S1) pada tahun 2005 di Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis. Selama kuliah penulis aktif di kepanitian seperti panitia Masa Perkenalan Kampus (MPK) dan Masa Perkenalan Fakultas (MPF) sebagai PAK. panitia Gebyar Nusantara dalam Ulang Tahun IPB. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan Program Diploma III di Institut Pertanian Bogor pada Program Studi Manajemen Bisnis dan Koperasi. Selanjutnya penulis melanjutkan sekolah ke SMUN 1 Cibinong dan lulus pada tahun 2002. selain itu penulis sempat aktif dalam Keluarga Muslim Diploma (KEMUDI) pada periode 2002/2003. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor dan lulus pada tahun 2008. 55 . Fakultas Pertanian. RIWAYAT HIDUP Penulis lahir di Depok sebagai anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Sochiri dan Sair. Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian.

KATA PENGANTAR Puji dan syukur selalu tercurah kepada Zat yang Maha Esa Allah SWT atas kebesaran dan limpahan rahmat serta hidayah-Nya. Terimakasih Bogor. September 2008 Penulis 56 . Penelitian ini dilakukan dengan tujuan dapat bermanfaat secara teoritis maupun terapan. Penulis pada akhirnya berharap penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya. Dengan adanya lembaga pemasaran baru yaitu Pusat Koperasi sehingga terbentuklah saluran pemasaran baru bagi pemasaran Belimbing Dewa. penelitian ini merupakan kelanjutan dari penelitian sebelumnya. sehingga dapat tergambarkan kondisi pemasaran Belimbing Dewa di masa ini. Syukur alhamdulillah penulis haturkan atas terselesaikannya penulisan skripsi yang berjudul ”Analisis Efisiensi Pemasaran Belimbing Dewa di Kecamatan Pancoran Mas Kota Depok Jawa Barat”. shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya.

Ir. Msi selaku dosen pembimbing yang dengan sabar memberikan bimbingan. Ratna Winandi Selaku dosen penguji utama atas segala arahan dan masukan yang berharga bagi penyempurnaan skripsi penulis. Dwi Rachmina. Dr. diawali dengan ucapan syukur alhamdulillah penulis menyampaikan rasa terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada : 1. dukungan. Ir. 57 . 2. terutama ibunda Dra. Sair yang tak henti-hentinya memberikan do’a dan semangat serta dukungan lainnya yang tak ternilai harganya. UCAPAN TERIMAKASIH Proses penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak. 3. Kedua orang tua. Oleh karena itu. saran dan masukan yang sangat berarti bagi penulis hingga penyusunan skripsi ini selesai.

... vii I PENDAHULUAN...1... Karakteristik Belimbing Manis (carambola) ...... 20 3..............4. 14 2................................................ Keragaan Pasar ....................................................................1.. iv DAFTAR GAMBAR ......4.......... TINJAUAN PUSTAKA ..............................5. 1 1................. Struktur Pasar .... 18 III..................... 13 II......1.................................................................................. 27 3...................................................................................................... Metode Pengumpulan dan Sumber Data .....................5.......................1......1..............2..................................1................ Perilaku Pasar ....1............ 16 2......... 12 I.... Saluran Pemasaran.................... Perumusan Masalah......................... Manfaat Penelitian..............5....................1...................................................................... Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Efisiensi Pemasaran ........................................ DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI .. 20 3... vi DAFTAR LAMPIRAN .......... 24 3............2....................................... Rasio Keuntungan Terhadap Biaya ......................... METODE PENELITIAN .............. Lokasi dan Waktu Penelitian....1..................3............................1.............................. Tujuan Penelitian............................1....................... 20 3..............2............... Marjin Pemasaran ........................... 26 3........ Efisiensi Pemasaran ..................... 8 1.................................6...................1.....1...........................3 Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Komoditi Belimbing. 27 3.............3................. 1 1................2..................... 35 4....................................... i DAFTAR TABEL.................. 14 2..................................................... Farmer’s Share............ 35 58 ....... Fungsi dan Lembaga Pemasaran ...................................... Kerangka Pemikiran Teoritis......................................................................................................................2.................. 30 3..........................................................5...........................2.............................. 32 IV................1...........1............. 30 3...... 35 4......... 21 3.... KERANGKA PEMIKIRAN........ Latar Belakang ........... 31 3.. Kerangka Pemikiran Operasional ..........................................3.........

........... Saluran Pemasaran 5.............. 42 5........2...................................................1.................................4. 55 6......................................1.............4........2..........4. 63 6...........4......... 41 V...................................1......................... 49 6........ Pusat Koperasi Belimbing Dewa............. Pedagang Pengumpul Wilayah (Tengkulak)............... Pedagang Pengecer......... Analisis Perilaku Pasar... 39 4..... 64 59 .. 38 4................. Metode Pengambilan Contoh .......................................................... 37 4....2............3...... Petani ....2. Saluran Pemasaran 3............ Analisis Fungsi dan Lembaga Pemasaran ......5........4................................6......... Saluran Pemasaran 1 ...... 62 6...... Saluran Pemasaran 4......3........................... 43 5.. Pedagang Besar .......... Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat ............... 42 5....... 36 4. 58 6......3...4......... 49 6........2.......................2...................................................... 54 6.5.............................1.............................4........2. Analisis Fungsi dan Lembaga Pemasaran .......................... ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN BELIMBING DEWA.............................4.............. 47 VI......5.... Halaman 4...........3 Rasio Keuntungan Terhadap Biaya.1..4...1........................ 55 6.... 39 4.....................4................. Analisis Efisiensi Pemasaran........................... Analisis Struktur Pasar ...................2...................................2......................................1...5.. 56 6................................... GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ........5...................... 36 4............1.3....... Saluran Pemasaran 2 .......5... 42 5..... Gambaran Umum Usahatani Belimbing Dewa ............................ Keadaan Alam ....2.......4......... Karakteristik Petani Responden ............................1... Analisis Saluran Pemasaran ................... 53 6............ 60 6.............................. Letak dan Keadaan Geografis Daerah Penelitian.3...................2.... 52 6.. 51 6.............................5....... 37 4........................ Metode Pengolahan dan Analisis Data......... 40 4........ Analisis Saluran Pemasaran ........4......................4....2 Farmer’s Share ..........1..................................1 Marjin Pemasaran .... 42 5........... 39 4...... Supplier ........

.........2.................................. Alternatif Saluran Pemasaran...............................5......6................... Kesimpulan.... 71 6.4.....4 Praktek Pembelian dan Penjualan serta Sistem Penentuan Harga di Tingkat Pedagang Besar................................... 76 6.......... 71 6........................ Pedagang Pengecer...............5...3...... 84 6............................ 92 60 .............. Pedagang Pengumpul Wilayah (Tengkulak)...........4......................................4........................... 69 6............................... KESIMPULAN DAN SARAN ... Saran.1.............4.....................................4.2............... Keragaan Pasar .................... 75 6.... 85 VII...... Pusat Koperasi Belimbing Dewa. 76 6.............. 78 6.1 Praktek Pembelian dan Penjualan serta Sistem Penentuan Harga di Tingkat Petani............................... 6......................................3.....6 Praktek Pembelian dan Penjualan serta Sistem Penentuan Harga di Tingkat Pedagang Pengecer ....... Supplier ............................... 87 7......1..........3....................... Halaman 6...............................3.................... Petani .... 67 6...........................2 Praktek Pembelian dan Penjualan serta Sistem Penentuan Harga di Tingkat Tengkulak .....................1...3.......... 88 DAFTAR PUSTAKA ........... 78 6....5........................... Analisis Struktur Pasar........... 68 6.........................................5..... 70 6..................................... 83 6.. 77 6................. 68 6.............................. Rasio Keuntungan Terhadap Biaya........... Farmer’s Share.......... 73 6.3..............6.............2.......................................................................4..................... 90 LAMPIRAN ...5.3..............................4. Pedagang Besar ..4.................. 73 6....3 Praktek Pembelian dan Penjualan serta Sistem Penentuan Harga di Tingkat Pusat Koperasi 74 Belimbing Dewa ..............7 Kerjasama antar Lembaga pemasaran....2................5 Praktek Pembelian dan Penjualan serta Sistem Penentuan Harga di Tingkat Supplier ....................... 87 7........... Marjin Pemasaran............................. Analisis Perilaku Pasar 72 6...3..................................4...................................

.............................................. 37 14.......... Persyaratan Mutu Buah Belimbing Segar menurut Standar Nasional Indonesia Tahun 1998 ...................... dan Produktivitas Belimbing Manis di Indonesia Tahun 2004-2006..................................................................................................................................................................... 47 18...................... 15 12.... 1 2..................................... 45 17..... Karakteristik Struktur Pasar Berdasarkan Sudut Penjual dan Pembeli.............................. Produktivitas Belimbing Dewa berdasarkan Umur Belimbing di Kecamatan Pancoran Mas .............. 10................................................... Target Mutu yang diharapkan dicapai dari penerapan SOP Belimbing Dewa Kota Depok Tahun 2007 ........... Karakteristik Umur Petani Responden di Kecamatan Pancoran Mas Tahun 2008.......................................... 47 19............................................ 48 61 . Marjin Pemasaran Belimbing Dewa Pada Masing-Masing 11 Lembaga Pemasaran di Kecamatan Pancoran Mas Tahun 2006......... 38 15..................... Nilai permintaan Belimbing Manis di Jakarta pada Tahun 2006 .... 14 11. 8 8. Karakteristik Petani Responden di Tinjau dari Segi Sosial dan Ekonomi di Kecamatan Pancoran Mas Tahun 2008 ............................................ 6 6.... Fasilitas Pendidikan di Kecamatan Pancoran Mas Tahun 2008... Perkembangan Produksi Belimbing Dewa di Kecamatan Pancoran Mas Tahun 2004-2007............................. Tingkat Pendidikan Petani Responden di Kecamatan Pancoran Mas Tahun 2008............................... Perkembangan Produksi Komoditas Buah-buahan Potensial di Kota Depok Tahun 2002-2006 .............................. Jumlah Tanaman Produktif..................................................... Perkembangan Harga Belimbing Dewa di Kota Depok untuk Grade A Tahun 2003-2007 . Varietas dan Karakteristik Belimbing Manis Segar yang terdapat di Indonesia Tahun 2006 .. Produksi Belimbing Manis di Jawa Barat Tahun 2002-2006 (Kw) ......................................... 4 4.................. 16 13......................... Luas Panen..................... 3 3.............. Volume Ekspor Komoditi Hortikultura Indonesia Tahun 2003- 2006 ........................................ 7 7.. Perkembangan Jumlah Tanaman yang menghasilkan dan Produktivitas Belimbing di Kota Depok Tahun 2004-2006..... 43 16....... 5 5..... Fungsi-fungsi Pemasaran .............. 10 9.................. DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1......

...............20. dan 5 di Kecamatan Pancoran Mas Tahun 2008..................................... Kota Depok Tahun 2008...... 82 24 Analisis Farmer’s Share pada Saluran pemasaran Belimbing Dewa di Kecamatan Pancoran Mas Tahun 2008............................................................ 62 ...................2.......... Fungsi-fungsi Pemasaran dari Lembaga Pemasaran Komoditas Belimbing Dewa................................................................... 83 25 Analisis Rasio Keuntungan terhadap Biaya pada Lembaga pemasaran Belimbing Dewa di Kecamatan Pancoran Mas Tahun 85 2008 ................4............ 59 Nomor Halaman 21 Fungsi pemasaran yang dilakukan oleh Lembaga pemasaran pada setiap Saluran pemasaran Belimbing Dewa di Kecamatan Pancoran Mas.......... 66 22 Struktur Pasar Belimbing Dewa dilihat dari Sisi Pembeli dan Penjual di Kecamatan Pancoran Mas............................. Kota Depok Tahun 2008 ......3................... 72 23 Marjin Pemasaran Belimbing Dewa Pada Saluran 1..

........ Pola Umum Saluran Tataniaga Produk-Produk Pertanian di Indonesia..... 63 ............ DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman 1............................................................................................. 21 2............... Saluran Pemasaran Belimbing Dewa di Kecamatan 49 Pancoran Mas ... Kurva Marjin Pemasaran ........................... 28 3....................................................................... Kerangka Pemikiran Operasional ...................... 34 4..........................

................... DAFTAR LAMPIRAN Nomor Halaman 1.............................................. Biaya Pemasaran Belimbing Dewa yang dikeluarkan oleh setiap Lembaga pemasaran pada Saluran pemasaran 3 ..... 103 64 . 98 8................ 99 9............................ 95 5....... 93 3............................. Kuisioner untuk Lembaga Pemasaran ..................................... Populasi................ Produksi dan Produktivitas Tanaman Belimbing di Enam Kecamatan Kota Depok Tahun 2005 ..... 94 4............. Biaya Pemasaran Belimbing Dewa yang dikeluarkan oleh setiap Lembaga pemasaran pada Saluran pemasaran 4 ......................................... 97 7..................................... Produksi Buah-buahan di Indonesia Tahun 2003-2006 ........... Biaya Pemasaran Belimbing Dewa yang dikeluarkan oleh setiap Lembaga pemasaran pada Saluran pemasaran 5 ... Kuisioner untuk Petani ........... Biaya Pemasaran Belimbing Dewa yang dikeluarkan oleh setiap Lembaga pemasaran pada Saluran pemasaran 1 .... Luas Areal........................... Biaya Pemasaran Belimbing Dewa yang dikeluarkan oleh setiap Lembaga pemasaran pada Saluran pemasaran 2 .................................. 100 10....... 92 2............. Produksi Belimbing Tahun 2002-2006..... 96 6.

90 Buah.70 225.92 buahan Aneka Tanaman 2. Hal ini dapat dilihat dari volume ekspor komoditi holtukultura tahun 2003-2006.042 39.741 100 359.29 16.671 4.708 28.03 5. Hal ini disebabkan karena laju pertumbuhan penduduk dan semakin banyaknya masyarakat yang menyadari pentingnya kecukupan gizi yang berasal dari buah-buahan (Dinas Pertanian.644 100 423. dan permintaan akan produk pertanian segar dan olahan sangat beragam.72 262.09 5.427 4.07 22. Buah-buahan merupakan salah satu komoditas hortikultura yang mengalami perkembangan pesat.30 4.939 4.49 -0.97 272. Tabel 1. Hortikultura merupakan salah satu sub sektor pertanian yang mampu meningkatkan sumber pendapatan petani dan pemulihan ekonomi pertanian.639 1.548 1.46 Hias Sayuran 133.584 100 Sumber : BPS.254 55. Buah-buahan memberikan konstribusi terbesar setiap tahunnya terhadap volume ekspor komoditas hortikultura seperti tanaman hias.297 64. karena jaminan pangsa pasar.20 17.183 3.1. 2007 65 .26 16. Latar Belakang Sektor pertanian di perkotaan memiliki keunggulan spesifik dan sangat prospektif.668 1.82 0.556 30.317 100 397.367 62.34 130. sayuran dan aneka tanaman lainnya.855 31.28 13.358 65. PENDAHULUAN 1. Hal ini terbukti ketika Indonesia mengalami krisis ekonomi pada tahun 1998.09 -9.27 Lainnya Jumlah 339.16 114.32 15.774 0.96 112. Volume Ekspor Komoditi Hortikultura Indonesia Tahun 2003-2006 Laju 2003 2004 2005 2006 Komoditi (%/th) Ton % Ton % Ton % Ton % Ton % Tanaman 14. 189.83 3. sub sektor hortikultura menjadi salah satu penyumbang devisa negara yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang positif.82 3. 2006). I.

62. Semakin meningkatnya volume ekspor tersebut didukung oleh semakin meningkatnya jumlah produksi buah-buahan Indonesia. dan dapat digunakan sebagai anti oksidan yang berfungsi mencegah penyebaran sel kanker (Subdit teknologi pengolahan hasil holtikultura BPPHP Departemen Pertanian.551. 64.72 persen. memperlancar pencernaan. Walaupun nilai konstribusinya rendah terhadap produksi nasional. Berdasarkan Lampiran 1.171. antara lain bermanfaat dalam menurunkan tekanan darah.09 persen. 8 Januari 2008 66 . 1 http://gizi. Dari selang waktu 2003-2006 jumlah produksi buah-buahan Indonesia terus meningkat (Lampiran 1).130 ton.5 persen per tahun (2002-2005)1. 2006).Indonesian Nutrition Network Forum Indeks. jumlah produksi terendah terjadi pada tahun 2003 yaitu sebesar 13. Berdasarkan Tabel 1. menurunkan kolesterol. Buah belimbing juga digunakan untuk pencegahan berbagai macam penyakit. Laju pertumbuhan rata-rata produksi buah-buahan Indonesia dari selang waktu 2003-2006 mencapai angka 6. Laju pertumbuhan ekspor buah-buahan Indonesia dari tahun 2003-2006 adalah sebesar 13.70 persen.97 persen terhadap volume ekspor komoditi hortikultura Indonesia. pada tahun 2003-2006 buah-buahan memberikan konstribusi berturut-turut sebesar 55. Permintaan belimbing manis setiap tahun semakin meningkat.435 ton. dan produksi tertinggi tahun 2006 yaitu sebesar 16.net/forum/indeks.28 persen dan 65. Belimbing manis merupakan salah satu buah unggulan nasional yang memberikan konstribusi sebesar 0. “Buah Eksotik Indonesia”. namun buah yang biasa disebut star fruit merupakan satu- satunya buah lokal yang harganya hampir menyamai buah-buahan impor. Peningkatan permintaan tersebut sebesar 6.43 persen terhadap produksi buah nasional pada tahun 2006 (Lampiran 1). Hal ini menunjukkan belimbing memiliki potensi untuk dikembangkan di Indonesia.09 persen per tahun.

Luas Panen. luas panen dan produktivitas belimbing manis di Indonesia. Belimbing manis merupakan jenis buah yang mudah dibudidayakan selain itu nilai ekonomis belimbing manis lebih tinggi dibandingkan belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.00 2.74 2005 764. Laju pertumbuhan luas panen belimbing di Indonesia dalam kurun waktu tiga tahun (2004-2006) mengalami pertumbuhan sebesar 3. Tabel 2.29 Sumber : BPS.93 7.548. Sampai saat ini dikenal dua macam belimbing dari segi rasa yaitu belimbing yang buahnya manis (Averrhoa Carambola L.88 2006 776.00 25. cuaca dan sebagainya. luas panen belimbing mengalami pertumbuhan sebesar 3. Hal ini dipengaruhi oleh teknik pengolahan baik pengolahan awal maupun pasca panen.964. Berikut mengenai jumlah tanaman produktif. Jawa Barat merupakan penghasil belimbing terbesar ke tiga setelah Jawa Tengah pada tahun 2006. Salah satu sentra produksi belimbing manis terdapat di Propinsi Jawa Barat.718.47 persen terhadap produksi belimbing nasional (Lampiran 2).532.590.93 persen dan laju pertumbuhan produktivitas sebesar 7.00 2.95 3.) dan belimbing yang rasanya asam (Averrhoa bilimbi L. Jumlah Tanaman Produktif.95 persen.29 persen. dengan nilai konstribusi sebesar 15.93 persen dan produktivitas mengalami pertumbuhan sebesar 7.00 27.00 28.00 2.917. Salah satu Kotamadya yang terdapat di Jawa Barat yang memproduksi belimbing manis dalam jumlah yang cukup banyak 67 .14 Laju (%/th) 3.).29 persen.). dan Produktivitas Belimbing Manis di Indonesia Tahun 2004-2006 Tanaman yang Luas Produktivitas Tahun Menghasilkan Panen (Ton/Ha) (Pohon/Rumpun) (Ha) 2004 815. 2007 Berdasarkan Tebel 2 bahwa selama tiga tahun terakhir di Indonesia mengalami pertumbuhan tanaman belimbing sebesar 3.

020 108.046 -18.859 3. aroma buah agak harum.21 persen dari total produksi belimbing manis di Propinsi Jawa Barat (Tabel 3).325 16.056 7.963 42. dan pada tahun 2006 sebesar 40. Bogor 30.835 14.528 14.702 7.367 15. Hal ini dapat dilihat dari jumlah produksi belimbing manis Kota Depok terbesar se-Jawa Barat pada tahun 2005 sebesar 42. Garut 17. rasa buah manis segar.795 8.759 9.go.adalah Kota Depok.728 2.76 3.238 5. sementara untuk kota lain pertumbuhannya jauh di bawah Kota Depok.754 -4.566 3. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian NO: 718/Kpts/TP.38 persen. penampilan menarik dengan warna buah matang oranye mengkilap.240/8/98 Belimbing Dewa merupakan salah satu komoditas buah unggulan Kota Depok yang berasal dari varietas Dewa baru dan dikenal sebagai Belimbing Dewa. Tasikmalaya 9.294 24.04 Jumlah 103.945 6.862 4.36 7.085 -25.jabar. Buah belimbing diharapkan mampu menjadi 68 .653 8.364 16.017 -4. Cirebon 1.887 26. Kota Depok merupakan tempat yang potensial untuk mengembangkan usahatani belimbing.988 -0.016 -0.864 11. Sukabumi 5.26 persen.826 2.77 8. Karawang 9. sudah ditanam petani secara luas dan mempunyai nilai ekonomis tinggi.764 1.710 125.837 33.38 2.474 2.095 Kw atau sebesar 38. Produksi Belimbing Manis di Jawa Barat Tahun 2002-2006 (Kw) Tahun Kabupaten/ No.876 10.653 1.386 9.87 6. Belimbing Dewa mempunyai kemampuan berproduksi tinggi. Tabel 3.id.852 12.760 2.09 Sumber : www.249 16.473 129. testur daging agak berserat. Laju Kotamadya 2002 2003 2004 2005 2006 (%/thn) 1.73 9.562 30.062 6.970 2.679 -17. Subang 12.003 9.710 96.673 7.36 4. Berdasarkan kondisi tersebut.857 9.070 117. 4 Desember 2007 Berdasarkan Tabel 3 menunjukkan produksi belimbing manis di Kota Depok selama periode 2002-2006 mengalami laju pertumbuhan sebesar 129. Bandung 11.473 Kw atau sebesar 37. Depok 5.51 5.095 40.483 5.

salah satu alternatif pemenuhan kebutuhan masyarakat akan vitamin, serat dan

mineral.

Kecenderungan perkembangan produksi belimbing pada periode 2002-2006

di Kota Depok sangat berfluktuasi. Pada Tabel 4 berikut ini dapat diketahui

perkembangan produksi lima komoditas buah-buahan potensial terutama

belimbing Kota Depok dengan nilai pertumbuhan selama lima tahun terakhir

Tabel 4. Perkembangan Produksi Komoditas Buah-buahan Potensial di Kota
Depok Tahun 2002-2006
No Jumlah Produksi (Kwintal) Laju
Komoditas
. 2002 2003 2004 2005 2006 (%/thn)
1. Belimbing 5.945 6.062 6.963 42.095 40.473 129,40
2. Pisang 19.566 20.875 20.778 37.546 35.355 20,27
3. Jambu Biji 10.264 11.053 11.053 35.795 31.765 55,07
4. Pepaya 15.047 15.580 21.638 33.570 20.029 14,31
5. Rambutan 12.764 12.762 12.762 25.883 12.769 13,03
Jumlah 63.586 66.332 73.194 174.889 140.391 33,48
Sumber : Dinas Pertanian Kota Depok, 2007

Berdasarkan Tabel 4 selama periode 2002-2006 produksi belimbing manis di

Kota Depok mengalami laju pertumbuhan sebesar 129,38 persen jauh

dibandingkan dengan laju pertumbuhan ke empat komoditas lainnya. Pada tahun

2005 terjadi peningkatan produksi yang sangat tinggi di banding tahun 2004

sebesar 35.135 kw atau sebesar 83,46 persen. Hal ini disebabkan karena kebijakan

pemerintah yang mendukung usahatani belimbing melalui program

Pengembangan Buah Belimbing dengan varietas Dewa. Program ini meliputi

pembinaan petani, penelitian pembudidayaan sampai dengan pemasaran hasil

produksi belimbing dari petani. Sampai saat ini pemerintah telah membina 650

petani belimbing yang tergabung dalam 25 kelompok tani yang tersebar di enam

kecamatan Kota Depok. Petani-petani belimbing ini telah diberikan pembekalan-

pembekalan tata cara pembudidayaan belimbing dengan varietas Dewa. Dan dari

69

sektor pemasaran, Pemerintah Kota Depok telah memfasilitasi terbentuknya Pusat

Koperasi Pemasaran Buah dan Olahan Belimbing Dewa atau yang dikenal dengan

Puskop.

Produksi belimbing di Kota Depok pada tahun 2006 mencapai 40.473 kw atau

sebesar 28,82 persen dari total produksi lima komoditas buah-buahan potensial,

sedangkan produktivitasnya sebesar 1,28 kw/pohon atau 0,128 ton/pohon.

Tabel 5. Perkembangan Jumlah Tanaman yang menghasilkan dan
Produktivitas Belimbing di Kota Depok Tahun 2004-2006
Jumlah Tanaman yang
Produktivitas
Tahun Menghasilkan
(kw/pohon)
(pohon)
2004 32.510,00 0,21
2005 33.676,00 1,50
2006 31.620,00 1,28
Laju (%/th) -1,32 35,70
Sumber: Bapeda Kota Depok, 2007

Berdasarkan Tabel 5, laju perubahan jumlah pohon belimbing selama tahun

2004-2006 mengalami penurunan sebesar 1,32 persen. Hal ini disebabkan karena

kebutuhan lahan pemukiman meningkat dari tahun ke tahun akibatnya mendorong

masyarakat dan pengembang bisnis untuk merubah penggunaan yang ada menjadi

pemukiman (Supriyati, 2005). Laju pertumbuhan produktivitas sebesar 35,7

persen, hal ini dapat disebabkan oleh teknik pengolahan baik pengolahan awal

maupun pasca panen, cuaca dan pengetahuan petani mengenai budidaya

belimbing.

Keragaan kebun belimbing di wilayah Kota Depok yang tersebar di enam

kecamatan yaitu ; (1) Pancoran Mas, (2) Beji, (3) Sukmajaya, (4) Limo,

(5) Sawangan, dan (6) Cimanggis, pada umumnya yang terdapat di areal lahan

pekarangan, kebun-kebun dekat pekarangan rumah atau lahan-lahan pertanian

yang semula untuk bertanam padi dan sayuran, kini mulai di tanami belimbing.

70

Produksi Belimbing Dewa tersebar di enam kecamatan Kota Depok dengan

penyebaran yang tidak merata. Tiga kecamatan yang memiliki luas areal dan

populasi tanaman belimbing yang tinggi adalah Kecamatan Pancoran Mas,

Cimanggis dan Sawangan. Pancoran Mas merupakan sentra utama yang

memproduksi belimbing dalam jumlah yang cukup besar. Kelurahan yang

menjadi sentra utama produksi Belimbing Dewa di Kecamatan Pancoran Mas

adalah Mampang, Pancoran Mas, Rangkapan Jaya Baru, dan Cipayung.

Keterangan mengenai luas areal, populasi, produksi dan produktivitas tanaman

belimbing di enam kecamatan Kota Depok tahun 2005 dapat dilihat pada

Lampiran 3. Berdasarkan Lampiran 3, pada tahun 2005 luas areal tanaman

Belimbing Dewa yang diusahakan di Kecamatan Pancoran Mas seluas 74 ha atau

61,87 persen dari jumlah areal tanaman belimbing dengan jumlah populasi

tanaman sebanyak 17.785 pohon atau sebesar 64,51 persen dari jumlah populasi

pohon belimbing di enam kecamatan Kota Depok. Perkembangan produksi

Belimbing Dewa dari tahun 2004-2007 mengalami perkembangan yang fluktuatif.

Keterangan mengenai jumlah produksi Belimbing Dewa dari tahun 2004-2007 di

Kecamatan Pancoran Mas dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Perkembangan Produksi Belimbing Dewa di Kecamatan Pancoran
Mas Tahun 2004-2007
Tahun Produksi (Ton) Persentase Perubahan (%)
2004 390 -
2005 2.352 503,07
2006 2.261 5,05
2007 3.002 32,77
Laju (%/thn) 180,29
Sumber : Dinas Pertanian Kota Depok, 2007

Berdasarkan Tabel 6, laju pertumbuhan Belimbing Dewa (2004-2007) sebesar

180,29 persen. Pada tahun 2006 terjadi penurunan produksi, hal ini dapat

71

Jenis Pasar % (Rp) 1.400 3. Posisi Kota Depok yang sangat berdekatan dengan ibu kota negara yaitu DKI Jakarta dan perkembangan Kota Depok cukup pesat dengan hadirnya supermarket dan supermal yang mempunyai peluang dan sangat potensial dalam mendukung pemasaran belimbing manis.974 100. 3.914.00 Sumber : Dinas Pertanian Kota Depok.dipengaruhi oleh harga dan kemungkinan permintaan dan penawaran yang terjadi di dalam proses pemasaran. Perencanaan ini meliputi seluruh aspek kerja pengelolaan belimbing.95 3. Jakarta Modern Trade 614.2. yang melibatkan seluruh “stake holder “ belimbing Kota Depok. Dan dari 72 . Petani-petani belimbing ini telah diberikan pembekalan- pembekalan tata cara pembudidayaan belimbing dengan varietas Dewa.112 80.70 2. Hingga saat ini pemerintah Kota Depok telah melakukan pembinaan 650 petani belimbing yang tergabung dalam 25 kelompok tani yang tersebar di enam kecamatan Kota Depok.462 15.914.169. Bidang tanaman pangan.300 ton setiap tahun dengan nilai mencapai Rp. Nilai Permintaan Belimbing Manis di Jakarta pada Tahun 2006 Nilai No. Jakarta Traditional Trade 3. mulai dari pembinaan petani. Perencanaan program ini sendiri telah dilakukan sejak tahun 2006. perkebunan dan hortikultura Dinas Pertanian Kota Depok meyatakan bahwa permintaan pasar Jakarta mencapai 4. 2007 1. penelitian pembudidayaan sampai dengan pemasaran hasil produksi belimbing dari petani.974. serta selera pasar. Tabel 7.35 Total 3. Specialized Fruit Market 131. Perumusan Masalah Salah satu program pertanian yang sedang diupayakan dapat mengangkat dunia pertanian Kota Depok sekaligus dapat dijadikan icon kota adalah Program Pengembangan Buah Belimbing dengan varietas Dewa.

yaitu dalam hal pinjam meminjam modal dalam bentuk uang tunai. karena awal tahun 2008. walaupun tengkulak umumnya membeli belimbing dari petani dengan harga relatif lebih rendah dari yang dibeli Pusat Koperasi (Puskop) belimbing. dan sejumlah toko-toko buah segar yang berada disekitar wilayah Jabodetabek.sektor pemasaran. Puskop sebagai lembaga yang diharapkan mampu mengatasi fluktuasi harga belimbing. Beberapa pasar moderen yang telah melakukan kerjasama dengan Puskop antara lain adalah Carrefour. baik pasar-pasar tradisional maupun pasar-pasar moderen. Pemerintah Kota Depok telah memfasilitasi terbentuknya Pusat Koperasi Pemasaran Buah dan Olahan Belimbing Dewa atau yang dikenal dengan Puskop yang bertugas memasarkan hasil buah dan olahan petani belimbing Kota Depok. Puskop sedang berupaya menjangkau pasar nasional bahkan internasional. saat ini juga sedang berupaya mengembangkan kerjasama dengan pasar-pasar potensial belimbing. selain itu Puskop yang baru berdiri Januari 2008 belum mampu 73 . SuperIndo. Pembentukkan Puskop dilakukan pada saat yang sangat tepat. Hingga awal Februari 2008 Puskop telah menerima hasil produksi belimbing petani sebanyak 80 ton. Sebagian besar petani belimbing Kota Depok menjual hasil produksinya kepada tengkulak. Sehingga Puskop dapat langsung berperan dalam upaya mengakomodasi pemasaran hasil petani belimbing. sehingga akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani belimbing itu sendiri masih sangat banyak. Hal ini disebabkan karena petani telah memiliki kedekatan bisnis yang kuat dengan tengkulak. selama tiga bulan merupakan masa panen raya belimbing yang hanya terjadi setiap 2-3 tahun sekali.

Jika koperasi membeli belimbing dari petani dengan harga Rp 6.merekrut seluruh petani Kota Depok sebagai anggota.9.00 10. sehingga saluran pemasaran belimbing dari petani hingga konsumen akhir umumnya cukup panjang.95 (%/thn) Konsumen (%/thn) 8. Dari pedagang besar para supplier bisa mendapatkan belimbing untuk di bawa ke swalayan-swalayan.500 . Tengkulak biasanya membeli langsung dari kebun petani.000 3. Harga produk sangat ditentukan oleh tengkulak yang mendatangi para petani. 2008 74 .000 5.500-4.250 16.14 9.000 9.500-6.000.000-12. Harga yang diterima konsumen akhir sudah merupakan tambahan biaya-biaya yang dikeluarkan oleh masing-masing lembaga pemasaran.000 0 Laju Pertunbuhan di Petani Laju Pertunbuhan di 10.67 10.750 0 9.000/Kg untuk great A.750 7. Perkembangan Harga Belimbing Dewa di Kota Depok untuk Grade A Tahun 2003-2007 Harga di Petani yang Nilai Laju Harga di Konsumen Nilai Laju Tahun dibayarkan Tengah (%) (Rp/Kg) Tengah (%) tengkulak (Rp/Kg) 2003 3.500 4.79 2007 4.000-4.000-4.500-4.000-12.000-10. Pedagang besar juga menjual belimbing ke pedagang pengecer (pasar tradisonal dan toko buah).63 Sumber : Dinas Pertanian Kota Depok. Hanya sebagian kecil saja dari petani belimbing yang menjual produksinya langsung ke pedagang pengecer atau ke Puskop.000 11.000 8.000 15. Tabel 8. Rantai pemasaran yang panjang dapat menciptakan sistem pemasaran yang tidak efisien.500 0 2006 4.500 per kilogram untuk great A sementara tengkulak membayar dengan harga Rp5.000 9.000-10.000 11.500 18.500 20. Berikut mengenai harga Belimbing Dewa yang terjadi di Kota Depok. 7.000 3.000 3. setelah itu langsung membawa belimbing ke pedagang besar (pasar induk).000 - 2004 3.75 2005 3.

2007 Berdasarkan data Tabel 9. 75 . distribusi marjin pemasaran Belimbing Dewa tidak merata penyebarannya. hal ini dikarenakan adanya kegiatan peningkatan nilai tambah yang dilakukan oleh pedagang pecer moderen seperti pengemasan.000 100 Sumber : Dinas Pertanian Kota Depok. Marjin pemasaran yang semakin besar umumnya akan menyebabkan persentase bagian harga yang diterima petani semakin kecil. Ped.200 1. Marjin Pemasaran Belimbing Dewa Pada Masing-Masing Lembaga Pemasaran di Kecamatan Pancoran Mas Tahun 2006 Harga Jual Marjin Pemasaran No.200 65 Total . Ped. Ped. Padahal salah satu cara memasarkan Belimbing Dewa secara efisien adalah dengan mengurangi marjin pemasaran. Lembaga Pemasaran % (Rp/Kg) (Rp/Kg) 1.800 1. Pengumpul Wilayah 5.000 800 10 4. Keterangan mengenai distribusi marjin pemasaran yang diperoleh setiap lembaga pemasaran Belimbing Dewa pada tahun 2006 dapat dilihat pada Tabel 9. pengangkutan.200 15 3.800 10 5. Perbedaan harga tersebut (marjin pemasaran) yang terjadi di khawatirkan akan merugikan petani sebagai produsen.000 5. Berdasarkan Tabel 8 harga pasar belimbing dibayar konsumen akhir jauh lebih besar dari harga yang berlaku di tingkat petani.000 . Tabel 9. Besar 6. selai itu pedagang pengecer moderen umumnya mengambil keuntungan yang relatif besar. - 2. Pengecer Moderen 11. grading dan sebagainya yang berimplikasi pada meningkatnya biaya. 8. Marjin tertinggi di miliki oleh pedagang pengecer moderen. Besarnya selisih antara harga jual yang diterima petani dengan harga yang dibayarkan konsumen menunjukkan adanya marjin pemasaran yang sangat besar. Petani 4. Supplier 6.

Bagaimanakah saluran dan fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pemasaran Belimbing Dewa di Kecamatan Pancoran Mas? 2. Menganalisis saluran pemasaran dan fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pemasaran komoditas belimbing manis di Kota Depok. Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang dihadapi. maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : 1. 2008). sehingga petani lebih sering sebagai penerima harga. 2. Hal ini mengakibatkan barganing position petani dalam menentukan harga jual belimbing Dewa menjadi lemah. Kurangnya informasi pasar menyebabkan kurangnya pengetahuan petani mengenai kondisi pasar.3. Menganalisis struktur dan perilaku pasar belimbing manis di Kota Depok. Akses permodalan yang terbatas dan kelembagaan di tingkat petani yang masih lemah seperti belum berfungsinya Asosiasi Petani Belimbing Depok (Apebede) secara maksimal menjadi kendala dalam pemasaran belimbing manis (Dinas Pertanian Kota Depok. 76 . Bagaimana struktur dan perilaku pasar Belimbing Dewa di Kecamatan Pancoran Mas? 3. Bagaimana efisiensi pemasaran Belimbing Dewa yang terjadi di Kecamatan Pancoran Mas? 1. Berdasarkan uraian di atas maka perumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Keberadaan Pusat Koperasi Belimbing Kota Depok diharapkan dapat meningkatkan posisi tawar petani sehingga harga di tingkat petani pun tinggi.

3.4. Peneliti untuk menerapkan teori yang telah didapat untuk menganalisa permasalahan yang ada dalam masyarakat dan memberikan alternatif pemecahannya. 77 . 4. 2. Petani dan lembaga pemasaran sebagai bahan informasi dalam proses pemasaran belimbing. 1. Pihak lain sebagai bahan masukan dan kelanjutan bagi penelitian berikutnya. Menganalisis efisiensi pemasaran Belimbing Dewa untuk menentukan alternatif saluran pemasaran Belimbing Dewa. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi berbagai pihak yang berkepentingan seperti : 1. 3. Pemerintah sebagai bahan masukan bagi penetapan kebijakan terutama untuk meningkatkan efisiensi pemasaran belimbing.

II. Di kawasan 78 . Keseragaman tingkat ketuaan buah 100 75-90 5. kotoran. Organisme pengganggu tumbuhan 0 0 Sumber : Dinas Pertanian Kota Depok. Kadar kotoran 0 2 7. 2007 Keseragaman varietas adalah keseragaman kenampakan buah belimbing manis segar dari varietas tertentu yang ditandai dengan tingkat kesegaran. Keseragaman dan berat 100 75-90 3. Keseragaman varietas Seragam Seragam 2. Persyaratan Mutu Buah Belimbing Segar menurut Standar Nasional Indonesia Tahun 1998 Jenis Mutu No. kelas B dengan berat 200-250 gr/buah. Serangga hidup atau mati Ada atau tidak ada Ada atau tidak ada 8. Klasifikasi buah belimbing manis segar berdasarkan berat buah untuk masing-masing varietas digolongkan dalam tiga jenis yaitu kelas A dengan berat kurang dari sama dengan 250 gr/buah. aman bagi manusia dan bebas dari obat-obatan dan pestisida (SNI 01-4491-1998). Cacat dan busuk 0 0-5 6. Persyaratan mutu buah belimbing segar dapat dilihat pada Tabel 10. buah cacat. yaitu mutu I dan mutu II. Tabel 10. segar. TINJAUAN PUSTAKA 2. utuh. Belimbing manis adalah salah satu jenis buah tropika yang sangat digemari konsumen berasal dari kawasan di Malaysia yang kemudian menyebar luas ke berbagai negara yang beriklim tropis lainnya termasuk Indonesia. tingkat ketuaan. serangga hidup atau mati. Berdasarkan kriteria buah belimbing segar untuk masing-masing varietas digolongkan ke dalam dua jenis mutu.1. dan kelas C dengan berat kurang dari 200 gr/buah. Keseragaman tingkat kesegaran 100 75-90 4. Jenis Uji/Komponen Mutu Mutu I (%) Mutu II (%) 1. keseragaman berat. Karakteristik Belimbing Manis ( Averrhoa Carambola L) Belimbing manis segar ( Averrhoa Carambola L) adalah buah dari tanaman belimbing dalam tingkat optimal .

Penang. Sembiring. Bangkok. Fhilipina Fhilipina Kuning 400-600 berair banyak Pasar Merah Manis dan 8. Dewa Baru. 2006). 2007 Varietas belimbing yang banyak dikembangkan di Kota Depok adalah varietas Dewa Baru. Berikut varietas dan karakteristik belimbing manis segar yang terdapat di Indonesia.Amerika buah belimbing dikenal dengan sebutan star fruits dan jenis belimbing yang populer dan digemari masyarakat adalah belimbing Florida (Sunarjoyo dalam Husen. Sembiring dan berair 300-450 Utara mengkilap banyak Manis dan 7. 79 . Varietas dan Karakteristik Belimbing Manis Segar yang terdapat di Indonesia Tahun 2006 Berat Buah Warna Buah Rasa Buah No. dan Paris. Bangkok Thailand Merah 150-200 kesat Manis sekali Sumatera Kuning 6. Target mutu yang diharapkan dicapai dari penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) Belimbing Kota Depok dapat dilihat pada Tabel 12. Demak Kunir. Varietas Asal Matang Matang Matang (gr) Sangat manis Kuning 1. Demak Kunir Demak dan berair 200-300 merata banyak Kuning Manis dan 2. Dewi Murni. Dinas Pertanian Kota Depok. Dewa baru 300-450 Selatan kemerahan berair banyak Sumber : SOP Belimbing. Wulan. Tabel 11. Fhilipina. Dewi Murni Bekasi 200-500 kemerahan berair sedikit Manis dan agak 5. Varietas unggul belimbing manis segar antara lain Varietas Demak Kapur. Demak Kapur Demak 200-400 keputihan berair banyak Manis dan 3. Penang Malaysia Oranye 250-350 berair sedang Kuning Manis dan 4. Wulan 300-600 Minggu mengkilap berair banyak Sangat manis Pasar Kuning 9. Paris dan berair 120-230 Minggu kemerahan sedikit Jakarta Kuning Manis dan 10.

Tabel 12. Target Mutu yang diharapkan dicapai dari penerapan SOP
Belimbing Dewa Kota Depok Tahun 2007
Umur Pohon Produktivitas Panen
No.
(tahun) (buah/pohon/tahun) (kali/tahun)
1. 2–4 500 3
2. 5–9 500 – 1200 3
3. 10 – 15 1201 – 2000 3
4. > 15 > 2000 3
Sumber : Dinas Pertanian Kota Depok, 2007

Waktu panen belimbing Kota Depok terjadi tiga kali dalam setahun, yaitu

terjadi pada bulan Januari-Februari, Mei-Juni, September-Oktober. Biasanya

panen raya jatuh pada bulan Februari. Kapasitas produksi belimbing jika

diterapkan budidaya sesuai dengan SOP diharapkan produktivitas per pohon dapat

mencapai 300 Kg per tahun. Idealnya dalam satu hektar lahan jika dihitung jarak

tanam 6 m x 6 m sesuai SOP maka tanaman belimbing bisa mencapai 272 pohon.

2.2. Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Efisiensi Pemasaran

Mushofa, Wahib, dan Heru (2007) meneliti mengenai analisis efisiensi

pemasaran stroberi di Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Tujuan

dari penelitian ini adalah : (1) mengidentifikasi saluran pemasaran dan fungsi-

fungsi pemasaran yang dilakukan lembaga pemasaran stroberi di daerah

penelitian, (2) menganalisis marjin, distribusi marjin, bagian harga yang diterima

petani (farmer share) di setiap saluran pemasaran stroberi, dan (3) menganalisis

efisiensi harga dan efisiensi operasional lembaga pemasaran stroberi. Metode

yang digunakan adalah analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kualitatif

digunakan untuk menganalisis saluran tataniaga dan fungsi pemasaran. Analisis

kuantitatif bertujuan untuk menganalisis marjin tataniaga, distribusi marjin dan

farmer’s share disetiap saluran pemasaran. Efisiensi pemasaran diperoleh

berdasarkan efisiensi harga dan efisiensi operasional.

80

Dari hasil analisis marjin pemasaran diketahui bahwa nilai marjin pemasaran

tinggi terutama pada saluran pemasaran tiga. Rendahnya harga di tingkat petani

produsen menyebabkan share harga yang diterima petani menjadi rendah.

Terbatasnya jumlah komoditas stroberi, distribusi marjin tidak merata dan

keuntungan yang sangat tinggi terjadi pada tingkat pedagang pengecer, hal ini

menunjukkan bahwa efisiensi operasional pemasaran stroberi belum tercapai.

Kusuma, Wahib, dan Poerwohadi (2007) melakukan penelitian mengenai

analisis efisiensi pemasaran kentang di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji,

Kota Batu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis saluran dan fungsi-fungsi

pemasaran apa saja yang dilakukan oleh lembaga pemasaran dan juga tingkat

efisiensi dari setiap saluran pemasaran.

Metode yang digunakan adalah analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis

kualitatif digunakan untuk menganalisis saluran tataniaga dan fungsi pemasaran.

Analisis kuantitatif bertujuan untuk menganalisis efisiensi pemasaran yang diukur

dari tingkat marjin pemasaran dan farmer’s share. Indikator yang digunakan

dalam analisis efisiensi adalah farmer’s share dan marjin pemasaran. Indikator

yang digunakan dalam menentukan marjin pemasaran adalah total biaya tataniaga

dan keuntungan di masing-masing lembaga pemasaran. Hasil penelitian ini

menunjukkan bahwa terdapat empat saluran pemasaran kentang. Metode

pengambilan contoh yang digunakan adalah random sampling, dengan 30

responden. Sedangkan pengambilan contoh untuk lembaga pemasaran dilakukan

dengan metode snowball sampling.

Setiap lembaga pemasaran kentang melakukan fungsi-fungsi pemasaran yang

berbeda-beda. Marjin pemasaran kentang pada saluran pemasaran 1,2,3, dan 4

81

berturut-turut adalah Rp. 1650/kg, Rp. 1900/kg, Rp. 1200/kg, dan Rp. 1100/kg.

Sedangkan untuk nilai efisiensi pemasaran kentang pada saluran pemasaran 1,2,3,

dan 4 berturut-turut adalah 2,99; 4,56; 5,05; dan 3,11. Hal ini menunjukkan bahwa

semua saluran pemasaran kentang yang ada sudah efisien.

Yusuf, Evert, Hosang dan Ujang (2006) melakukan penelitian mengenai

analisis pemasaran dan efisiensi pemasaran gelondong jambu mete di Kabupaten

Sikka, Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini bertujuan : (1) Menganalisis

pemasaran gelondong jambu mete terutama rantai pemasaran, dan (2)

Mempelajari tingkat efisiensi pemasaran gelondong jambu mete di Kabupaten

Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pengambilan contoh sampel menggunakan

metode simple random sampling. Metode analisis yang digunakan dalam

penelitian ini adalah : (1) Penelusuran dan deskripsi, (2) Analisis kuantitatif. Hasil

penelitian mereka menjelaskan bahwa terdapat tiga pola saluran pemasaran jambu

mete. Dari ketiga saluran pemasaran gelondong jambu mete yang ada, saluran

pemasaran dua dan tiga merupakan saluran pemasaran yang efisien karena

memiliki marjin tataniaga yang kecil dan farmer’s share yang tinggi. Sedangkan

saluran pemasaran satu merupakan saluran pemasaran yang tidak efisien karena

farmer’s share lebih kecil dari marjin pemasarannya.

2.3. Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Komoditi Belimbing

Husen (2006) melakukan penelitian mengenai analisis pendapatan usahatani

dan pemasaran buah belimbing Depok varietas Dewa-Dewi di Kecamatan

Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode

analisis kuantitatif dan analisis kualitatif.

82

Rantai pasokan belimbing terdiri dari tiga saluran pemasaran. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa tingkat pendapatan usahatani belimbing dengan sistem penjualan per kilogram lebih menguntungkan daripada penjualan dengan sistem per buah. karena pada penelitian ini komoditas dan waktu penelitian berbeda. kesamaan lainnya adalah variabel yang dianalisis dalam penelitian. Fungsi pemasaran yang dilakukan adalah fungsi pertukaran. Penelitian ini berbeda dengan penelitian efisiensi pemasaran sebelumnya. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu dapat dilihat bahwa hasil penelitian memiliki kesamaan dalam tujuan penelitian dan metode analisis yang digunakan yaitu analisis kuantitatif dan analisis kualitatif. karena petani tidak memiliki kemampuan untuk ikut dalam proses pemasaran. dan fungsi utilitas. Nilai marjin pemasaran menunjukkan saluran pemasaran dua dan saluran pemasaran tiga memiliki nilai total marjin terkecil dengan farmer’s share tertinggi dibandingkan saluran pemasaran satu. Perbedaan penelitian ini dengan yang dilakukan oleh Husen mengenai belimbing Depok adalah terbentuknya Pukop di awal Januari 2008 sebagai lembaga pemasaran belimbing dan wadah penyalur aspirasi petani. selain itu variabel yang dianalisis terdapat perbedaan. fungsi fisik. 83 .

Menurut Kotler (1983) saluran pemasaran adalah serangkaian lembaga yang melakukan semua fungsi yang digunakan untuk menyalurkan produk dan status kepemilikannya dari produsen ke konsumen. KERANGKA PEMIKIRAN 3. adalah teori mengenai variabel-variabel yang akan diteliti. lembaga pemasaran. struktur serta perilaku pasar untuk menilai efisiensi harga. 3. dan rasio keuntungan biaya digunakan untuk menilai efisiensi pemasaran secara operasional. Marjin pemasaran. Saluran Pemasaran Arus barang yang melalui lembaga-lembaga yang menjadi perantara pemasaran akan membentuk saluran pemasaran. fungsi-fungsi pemasaran. farmer’s share. III. Hal ini berarti bahwa saluran pemasaran yang berbeda akan memberikan keuntungan yang berbeda pula kepada masing- masing lembaga yang terlibat dalam kegiatan pemasaran tersebut. Saluran pemasaran dari suatu komoditas perlu diketahui untuk dapat menentukan jalur mana yang lebih efisien dari semua kemungkinan jalur-jalur 84 . Variabel-variabel yang akan diteliti pada penelitian analisis efisiensi pemasaran Belimbing Dewa di Kecamatan Pancoran Mas Kota Depok terdiri dari saluran pemasaran.3.3. Perbedaan saluran pemasaran yang dilalui oleh suatu jenis barang akan berpengaruh pada bagian pendapatan yang diterima oleh masing-masing lembaga pemasaran yang terlibat didalamnya.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis dimaksudkan untuk memberikan gambaran atau batasan-batasan tentang teori-teori yang akan dipakai sebagai landasan penelitian yang akan dilakukan.

Limbong dan Sitorus (1987) mendefinisikan lembaga tataniaga sebagai suatu lembaga perantara yang berperan dalam kegiatan penyaluran barang dan jasa dari produsen ke konsumen. Adanya jarak antara produsen dan konsumen. yaitu : 1. Selain itu saluran pemasaran dapat mempermudah dalam mencari besarnya marjin pemasaran yang diterima tiap lembaga yang terlibat. 1987). Fungsi dan Lembaga Pemasaran Proses penyaluran produk dari produsen ke konsumen memerlukan berbagai tindakan atau kegiatan. Pengelompokkan berdasarkan fungsi yang dilakukan. sehingga fungsi lembaga perantara sangat diharapkan kehadirannya untuk menyalurkan barang dari produsen ke konsumen melalui berbagai kegiatan yang dikenal sebagai perantara (middleman atau intermediary ). Kegiatan tersebut dinamakan sebagai fungsi-fungsi pemasaran (Limbong dan Sitorus.yang dapat ditempuh. 1987 3.2. Pola Umum Saluran Tataniaga Produk-Produk Pertanian Di Indonesia Sumber : Limbong dan Sitorus. Pola umum saluran tataniaga produk-produk pertanian di Indonesia : Tengkulak Ped. Lembaga-lembaga yang terlibat dalam proses pemasaran barang mulai dari titik produsen sampai titik konsumen dikelompokkan menjadi empat kelompok Limbong dan Sitorus (1987).3. Berdasarkan fungsi yang dilakukan. Besar Perantara Pabrik/Eksportir Petani/ Produsen Koperasi/KUD Pengecer Konsumen Akhir Domestik Gambar 1. lembaga-lembaga pemasaran dapat dibedakan menjadi : 85 .

dll. b. dan lain-lain. Kredit Desa. seperti pedagang bibit. lembaga pelanggan. pedagang benih. grosir. broker. 3. perkreditan. pengangkutan dan penggudangan. pengecer. Lembaga pemasaran yang menguasai dan memiliki barang yang dapat dipasarkan seperti . dan lembaga perantara lainnya. dan lain-lain.a. Bank Unit Desa. seperti importir cengkeh. Lembaga pemasaran yang memonopolistis. c. Lembaga pemasaran yang tidak menguasai dan tidak memiliki barang yang dipasarkan seperti . dan lain-lain. Lembaga pemasaran yang melakukan kegiatan fisik seperti pengolahan. KUD. lembaga pengangkutan. Lembaga pemasaran yang melakukan kegiatan pertukaran seperti pengecer. Pengelompokkan berdasarkan penguasaan terhadap suatu barang. pengolahan. seperti pengecer beras. dan lain-lain. 4. agen. Lembaga pemasaran yang menyediakan fasilitas-fasilitas pemasaran seperti informasi pasar. Lembaga pemasaran yang bersaing sempurna. a. dan lain-lain. Berdasarkan penguasaan terhadap suatu barang. Pengelompokkan berdasarkan kedudukannya dalam struktur pasar. b. Pengelompokan berdasarkan bentuk usahanya. 2. tengkulak. dan lain-lain. Lembaga pemasaran yang oligopolis. lembaga-lembaga pemasaran dapat dibedakan menjadi : a. b. perusahaan semen. pengecer rokok. pedagang pengumpul. c. 86 . c. Lembaga pemasaran yang menguasai tetapi tidak memiliki barang yang dipasarkan seperti . grosir.

pedagang pengecer. Koperasi. pendekatan serba lembaga (intitutional approach) pendekatan serba fungsi ( functional approach). Tidak berbadan hukum. Fungsi-fungsi pemasaran dapat dikelompokkan menjadi tiga fungsi. yaitu pendekatan serba barang (comodity approach). Firma. seperti perusahaan perseorangan. Menurut Azzaino (1982) dalam mempelajari proses pemindahan barang dari produsen ke konsumen dapat menggunakan beberapa pendekatan. Fungsi pemasaran ini terdiri dari fungsi pembelian dan fungsi penjualan dan pengumpulan 87 . Pendekatan lembaga (intitutional approach) menekankan kepada mempelajari pemasaran dari segi organisasi lembaga-lembaga yang turut serta dalam proses penyampaian barang dan jasa dari produsen ke konsumen. yaitu : 1. dan pendekatan teori ekonomi. Pendekatan barang (comodity approach) yaitu suatu pendekatan yang menekankan perhatian terhadap kegiatan atau tindakan-tindakan yang diperlakukan terhadap barang dan jasa selama proses penyampaiannya mulai dari produsen sampai konsumen. Pendekatan fungsi (the functional approach) adalah mengklasifikasikan aktivitas-aktivitas dan tindakan-tindakan atau perlakuan-perlakuan ke dalam fungsi yang bertujuan untuk memperlancar proses penyampaian barang dan jasa. yang digolongkan ke dalam empat pendekatan. Berbadan hukum. seperti Perseroan Terbatas (PT). Fungsi Pertukaran (Exchange Function) adalah kegiatan yang berhubungan dengan perpindahan hak milik dari barang dan jasa yang dipasarkan. b. tengkulak dan sebagainya.a.

1987). Fungsi ini meliputi fungsi standarisasi dan grading. bentuk dan waktu. 3. konsentrasi perusahaan. Fungsi Fisik (Physical Function) adalah tindakan yang berhubungan langsung dengan barang dan jasa sehingga proses tersebut menimbulkan kegunaan tempat. 1983). Suatu pasar dapat digolongkan ke dalam struktur pasar bersaing sempurna jika memenuhi ciri-ciri antara lain: terdapat banyak penjual maupun pembeli.3. 3. Struktur Pasar Struktur pasar adalah dimensi yang menjelaskan sistem pengambilan keputusan oleh perusahaan maupun industri. Fungsi ini meliputi fungsi penyimpanan. jumlah perusahaan dalam suatu pasar. fungsi pengolahan dan fungsi pengangkutan. fungsi penanggungan resiko. Berdasarkan sifat dan bentuknya. karena melalui analisis struktur pasar maka secara otomatis akan dapat dijelaskan bagaimana perilaku lembaga yang terlibat dan akhirnya akan menunjukkan keragaan yang terjadi akibat dari struktur dan perilaku pasar yang ada dalam sistem pemasaran tersebut. Fungsi Fasilitas (facilitating Function) adalah tindakan-tindakan yang bertujuan untuk memperlancar proses terjadinya pertukaran yang terjadi antara produsen dan konsumen. jenis-jenis dan diferensiasi produk serta syarat- syarat masuk pasar (Limbong dan Sitorus.3.2. fungsi pembiayaan dan fungsi informasi pasar. (2) pasar tidak bersaing sempurna (Kotler. Stuktur pemasaran paling banyak digunakan dalam menganalisis sistem pemasaran. pembeli dan penjual hanya menguasai sebagian kecil dari barang atau jasa yang dipasarkan sehingga tidak dapat mempengaruhi harga pasar 88 . pasar dibedakan menjadi dua macam struktur pasar yaitu: (1) pasar bersaing sempurna.

Untuk mencapai keuntungan maksimum perusahaan dapat menekan biaya produksi atau dengan cara perubahan teknologi. yaitu : 1. seperti perbedaan pengepakan. Produk yang dijual perusahaan bersifat tidak homogen tetapi memiliki perbedaan. Struktur Pasar Bersaing Monopolistik Struktur pasar bersaing monopolistik terdiri dari banyak pembeli dan penjual yang melakukan transaksi pada berbagai tingkat harga. warna kemasan. penjual dan pembeli bebas keluar masuk pasar. Sisi pembeli. pasar terdiri dari pasar monopoli.(penjual dan pembeli berperan sebagai price taker). Dengan struktur biaya tertentu. Menurut Dahl dan Hammond (1977) pasar bersaing tidak sempurna dapat dilihat dari dua sisi. oligopsoni. dan sebagainya. 89 . Struktur Pasar Bersaing Sempurna Pada struktur pasang bersaing sempurna terdapat banyak penjual dan pembeli yang bebas keluar atau masuk pasar. Sehingga perusahaan hanya sebagai penerima harga (price taker) dan hanya menghadapi satu tingkat harga. dan sebagainya. duopoli. Dari sisi penjual terdiri dari pasar persaingan monopolistik. harga dan pelayanannya. pasar monopoli. Pasar dapat diklasifikasikan menjadi empat struktur pasar berdasarkan sifat dan bentuknya Limbong dan Sitorus (1987). perusahaan tidak dapat menetapkan harga sendiri untuk memaksimumkan keuntungan. barang atau jasa yang dipasarkan bersifat homogen. 2. oligopoli. yaitu sisi pembeli dan sisi penjual. Barang dan jasa yang dipasarkan bersifat homogen.

Perusahaan leaders ini dapat lebih bebas menentukan harga dalam mencapai tujuan perusahaan. 3. Salah satu tindakan perusahaan monopoli untuk memperoleh keuntungan maksimum adalah melalui diskriminasi harga (discriminatory pricing). Diskriminasi harga adalah menjual produk yang sama pada tingkat harga yang berbeda dan pada pasar yang berbeda. Perilaku pasar mengarah pada strategi yang dilakukan perusahaan dalam menyesuaikan dengan pasar yang dihadapi. keputusan untuk 90 .3. 4.3. dan monopoli swasta murni. karena perusahaan tergantung kepada struktur biaya dan permintaan produk yang ditawarkan serta kepada tindakan perusahaan pesaing. dimana keputusan perusahaan harus didasarkan kepada perusahaan pemimpin (leaders). Struktur Pasar Oligopoli Perusahaan pada struktur pasar oligopoli tidak bebas untuk menentukan harga produk yang dihasilkan untuk mencapai keuntungan maksimum. Tindakan penurunan harga produk oleh suatu perusahaan pada pasar oligopoli dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan atau ”market share” tertentu. 1977). tidak selalu dapat dilakukan. Perilaku Pasar Perilaku pasar merupakan pola atau tingkah laku lembaga-lembaga pemasaran yang menyesuaikan dengan struktur pasar dimana lembaga tersebut melakukan kegiatan penjualan dan pembelian serta menentukan bentuk-bentuk keputusan yang harus diambil dalam menghadapi struktur pasar tersebut (Dahl dan Hammond.4. monopoli swasta menurut undang-undang. Perilaku pasar menyangkut proses dalam menentukan harga dan jumlah produk. Struktur Pasar Monopoli Perusahaan monopoli dapat berbentuk monopoli pemerintah.

5.1.3. serta berbagai strategi penjualan yang dilakukan untuk mencapai tujuan pasar tertentu. Keragaan pasar adalah hasil akhir yang dicapai sebagai akibat dari penyesuaian pasar yang dilakukan oleh lembaga pemasaran (Hammond dan Dahl. 3. Pelaku pasar harus memahami penampilan pasar agar dapat mengetahui secara jelas bagaimana sistem pemasaran terjadi. Perilaku pasar akan menentukan keragaan pasar yang dapat diukur dari harga. marjin pemasaran dan jumlah barang yang diperdagangkan Perilaku pasar dapat diketahui melalui pengamatan terhadap penjualan dan pembelian yang dilakukan tiap lembaga pemasaran. biaya dan volume produksi yang pada akhirnya akan memberikan baik atau tidaknya suatu sistem pemasaran. Perilaku pasar juga menentukan strategi yang dilakukan oleh para pelaku pasar dalam menghadapi pesaing. Biaya tataniaga adalah biaya yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga tataniaga untuk melaksanakan berbagai 91 . persaingan. keputusan untuk mengubah sifat produk yang dijual. margin pemasaran dan penyebarannya pada setiap tingkat pasar. serta kerjasama diantara berbagai lembaga pemasaran.meningkatkan penjualan.1 Marjin Pemasaran Menurut Azzaino (1982) marjin pemasaran didefinisikan sebagai perbedaan harga yang dibayar oleh konsumen akhir untuk suatu produk harga yang diterima petani produsen untuk produk yang sama (Rp/Kg). sistem penentuan harga dan pembayaran.5. Deskripsi keragaan pasar dapat dilihat dari tingkat harga dan bentuk- bentuk harga penyebarannya ditingkat produsen dan tingkat konsumen. biaya. Keragaan Pasar Keragaan pasar merupakan keadaan sebagai akibat dari struktur pasar dan perilaku pasar dalam kenyataan yang ditujukan dengan harga. 1977). 3.

dan sebagainya. Kurva Marjin Pemasaran Sumber : Dahl dan Hammond. Adanya perbedaan perlakuan atau kegiatan pemasaran suatu komoditi pada setiap lembaga akan menyebabkan menyebabkan perbedaan harga jual. Semakin banyak lembaga pemasaran yang terlibat dalam penyaluran suatu komoditi dari titik konsumen. Sedangkan keuntungan tataniaga adalah penerimaan investasi dengan memperhitungkan opportunity cost-nya (Dahl dan Hammond. 1977). Menurut Azzaino (1982). pengolahan. alat-alat untuk mempelajari apakah suatu sistem tataniaga telah bekerja efisien dalam struktur pasar tertentu dapat dipakai konsep- konsep statistik sederhana diantaranya analisa biaya dan marjin pemasaran. pengangkutan. Harga (P) Sr Sf Pr Marjin Pemasaran Nilai Marjin = (Pr-Pf) (Pr-Pf)Qrf Pf Dr Df Qr. penyimpanan. 1977.fungsi tataniaga seperti pengumpulan. Hal : 140 92 .f Jumlah Gambar 2. maka akan semakin besar perbedaan harga komoditi tersebut di titik produsen dengan harga yang dibayar konsumen. Dari informasi marjin dan biaya tataniaga maka secara tidak langsung dapat memberi petunjuk apakah struktur pasar komoditi tersebut berada pada pasar persaingan murni atau bersaing tidak sempurna.

Penawaran (Sf) pada harga ditingkat petani lebih besar dari pada penawaran (Sr) pada harga di tingkat pengecer. 93 .f : Jumlah keseimbangan di tingkat petani dan pengecer Berdasarkan Gambar 2 dapat dijelaskan bahwa dengan jumlah barang yang sama. Artinya jumlah barang yang ditawarkan di tingkat petani mencakup semua input dalam hasil akhir sedangkan penawaran di tingkat pedagang pengecer telah ditambah dengan biaya-biaya seperti biaya angkut dan sebagainya. sehingga jumlah produk di tingkat petani sama dengan jumlah produk di tingkat pengecer atau Qr = Qf = Qrf.f.Keterangan : Pr : Harga retail (tingkat pengecer) Pf : Harga farmer (tingkat petani) Sr : Supply retail (penawaran di tingkat pengecer) Sf : Supply farmer (penawaran di tingkat petani) Dr : Demand retail (permintaan di tingkat pengecer) Df : Demand farmer (permintaan di tingkat petani) (Pr-Pf) : Marjin pemasaran (Pr-Pf) Qrf : Nilai marjin pemasaran Qr. harga yang diterima petani lebih rendah dari pada yang dibayarkan konsumen. Kondisi permintaan di tingkat petani (Df) lebih kecil dari pada di tingkat pedagang pengecer (Dr). Besarnya nilai marjin pemasaran dinyatakan dalam (Pr – Pf) x Qr. Gambar 2 juga menjelaskan besarnya marjin pemasaran suatu komoditi per satuan atau per unit ditunjukkan oleh besaran (Pr – Pf). Artinya permintaan di tingkat pedagang pengumpul (tengkulak) lebih sedikit dari pada di tingkat konsumen akhir. Marjin pemasaran hanya menunjukkan perbedaan harga yang terjadi dan tidak menunjukkan jumlah produk yang dipasarkan. Sedangkan nilai marjin pemasaran (value of marketing margin) merupakan hasil perkalian dari perbedaan harga pada dua tingkat lembaga pemasaran (dalam hal ini selisih harga eceran dengan tingkat harga petani) dengan jumlah produk yang dipasarkan.

1987).3. semakin meratanya penyebaran rasio keuntungan dan biaya. Rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran pada setiap lembaga pemasaran dapat dirumuskan sebagai berikut : Li Rasio Keuntungan Biaya = Ci 94 .5.3 Rasio Keuntungan Terhadap Biaya Efisiensi pemasaran dapat dilihat dari rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran. Farmer’s Share diperoleh dengan membandingkan harga yang dibayarkan konsumen akhir dan dinyatakan dalam persentase (Limbong dan Sitorus. artinya semakin tinggi marjin pemasaran maka farmer’s share semakin rendah.5.1. Farmer’s share adalah persentase harga yang diterima oleh petani sebagai imbalan dari kegiatan usahatani yang dilakukannya dalam menghasilkan produk (Kohls dan Uhls. 1990). Secara matematis farmer’s share dapat dirumuskan sebagai berikut : Pf FS = x 100 % Pr Keterangan : FS = Farmer’s Share Pf = Harga di tingkat petani Pr = Harga yang dibayarkan oleh konsumen akhir 3.2 Farmer’s Share Farmer’s Share merupakan suatu analisis untuk menentukan efisiensi pemasaran suatu komoditas selain marjin pemasaran yang menunjukkan bagian yang akan diperoleh petani. Rasio keuntungan dan biaya pemasaran mendefinisikan besarnya keuntungan yang diterima atas biaya pemasaran yang dikeluarkan.1. Dengan demikian. 1987). Farmer’s Share berhubungan negatif dengan marjin pemasaran. maka secara teknis (operasional) sistem pemasaran akan semakin efisien (Limbong dan Sitorus.

1977). distribusi dan aktivitas fisik dan fasilitas.1. yaitu : (1) Efisiensi operasional. Efisisensi operasional adalah kemampuan untuk meminimumkan biaya input pemasaran tanpa mempengaruhi jumlah output barang dan jasa. Efisiensi Pemasaran Menurut Limbong dan Sitorus (1987) menjelaskan bahwa pemasaran disebut efisien bila tercipta keadaan dimana pihak-pihak yang terlibat baik produsen. Menurut Kohls dan Uhls (1990) pendekatan yang digunakan dalam efisiensi pemasaran ada dua cara. (3) Tersedianya fasilitas fisik tataniaga. Efisiensi harga menunjukkan pada kemampuan harga dan tanda-tanda harga untuk penjual serta memberikan sinyal kepada konsumen sebagai panduan dari penggunaan sumberdaya produksi dari sisi produksi dan pemasaran (Dahl dan Hammond. sedangkan efisiensi harga diukur dari korelasi harga untuk komoditi yang sama pada berbagai tingkat pasar. efisiensi pemasaran dapat terjadi apabila : (1) Biaya pemasaran dapat ditekan sehingga keuntungan pemasaran dapat lebih tinggi.6.Keterangan : Li = Keuntungan lembaga pemasaran Ci = Biaya pemasaran 3. lembaga-lembaga pemasaran maupun konsumen memperoleh kepuasan dengan adanya aktifitas pemasaran. Efisiensi operasional menunjukkan biaya minimum yang dapat dicapai dalam pelaksanaan fungsi dasar pemasaran yaitu : pengumpulan. penyimpanan. (2) Persentase perbedaan harga yang dibayarkan konsumen dan produsen tidak terlalu tinggi. dan (2) Efisiensi harga. efisiensi harga mengukur seberapa kuat harga pasar menggambarkan sistem produksi dan biaya pemasaran. Menurut Sukartawi (2002). transportasi. dan (4) Adanya 95 . Menurut Kohls dan Uhls (1990). Efisiensi operasional diukur dari biaya dan marjin pemasarannya.

Saluran pemasaran merupakan serangkaian lembaga-lembaga pemasaran yang melakukan fungsi-fungsi pemasaran. dan rasio keuntungan terhadap biaya. Puskop. dan konsumen akhir.kompetisi pasar yang sehat. 3. Efisiensi operasional diukur dengan menggunakan variabel analisis marjin pemasaran. didalamnya terdapat variasi saluran pemasaran. termasuk belimbing. supplier. tengkulak. 96 . Analisis efisiensi pemasaran diukur melalui efisiensi harga dan efisiensi operasional. fungsi fisik dan fungsi fasilitas. namun hal ini dapat menjadi saingan bagi tengkulak yang telah lama mendominasi sebagai pengumpul wilayah yang menghubungkan petani dengan pedagang besar. Saluran pemasaran diketahui dengan melihat lembaga pemasaran yang terlibat. struktur dan perilaku pasar. Lembaga pemasaran dan fungsi-fungsi pemasaran yang dianalisis meliputi fungsi pertukaran. pedagang pengecer. Efisiensi harga diukur dengan menggunakan variabel saluran pemasaran. pedagang besar. Saluran pemasaran belimbing manis yang telah berjalan selama ini di lokasi penelitian melibatkan lembaga-lembaga pemasaran seperti petani. farmer’s share.2 Kerangka Pemikiran Operasional Didirikannya Puskop pada awal tahun 2008 sebagai lembaga pemasaran Belimbing Dewa dimaksudkan untuk meningkatkan posisi tawar petani dan menyalurkan hasil produksi petani Belimbing Dewa. Variabel-variabel tersebut saling memiliki hubungan. Dalam sistem pemasaran suatu komoditi. Efisiensi pemasaran tidak terjadi apabila biaya pemasaran semakin besar dan nilai produk yang dipasarkan jumlahnya tidak terlalu besar. fungsi dan lembaga pemasaran.

Perilaku pasar dikaji dengan mengamati praktek pembelian dan penjualan. dan informasi pasar. differensiasi produk. Marjin pemasaran yang diperoleh akan menentukan saluran pemasaran yang paling efisien guna meningkatkan pendapatan petani melalui perhitungan farmer’s share disetiap saluran pemasaran yang akhirnya akan memberikan alternatif saluran pemasaran yang efisien dalam pemasaran Belimbing Dewa. Struktur pasar dicirikan oleh jumlah dan kemampuan produsen memasuki pasar. 97 . Analisis keuangan per biaya dapat digunakan untuk mengetahui apakah kegiatan pemasaran yang dilakukan memberikan keuntungan kepada pelaku pemasaran. Melalui analisis struktur pasar maka secara otomatis dapat dijelaskan bagaimana perilaku lembaga yang terlibat yang akhirnya menunjukkan bagaimana keragaan yang terjadi akibat dari struktur dan perilaku pasar yang ada. Deskripsi keragaan pasar dapat dilihat dari analisis marjin pemasaran dan penyebarannya pada setiap tingkat pasar. Bagan kerangka pemikiran secara jelas dapat dilihat pada Gambar 3. sistem penentuan harga. serta kerjasama yang terjadi diantara lembaga pemasaran yang terlibat. Semua variabel yang dianalisis pada akhirnya digunakan untuk menentukan alternatif saluran Belimbing Dewa.

• Saluran Pemasaran. Kerangka Pemikiran Operasional 98 . Efisiensi Harga • Struktur Pasar • Perilaku Efisiensi Alternatif Pasar Saluran Pemasaran Pemasaran • Marjin Pemasaran • Farmer’s Efisiensi Share Operasional • Rasio Keuntungan Biaya Gambar 3. • Lembaga Pemasaran.

Metode Pengumpulan dan Sumber Data Pengumpulan data dilakukan melalui survey. Badan Pusat Statistik. dan Holtikultura Dinas Pertanian Kota Depok. Perpustakaan Fakultas Pertanian IPB. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini di laksanakan di Kecamatan Pancoran Mas. serta total biaya produksi belimbing yang dikeluarkan petani. Perkebunan.6. maupun hasil penelitian terdahulu. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei-Juni 2008. alur pemasaran. IV. serta luas areal penanaman belimbing di Kota Depok. Bapeda Kota Depok. METODE PENELITIAN 4. harga belimbing di tingkat petani. Perpustakaan LSI IPB. dan literatur yang relevan baik dari jurnal. keragaan pasar masing-masing lembaga pemasaran. Pengumpulan data dilakukan denan dua cara yaitu wawancara dan kuisioner. Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Kota Depok merupakan salah satu sentra produksi belimbing di Jawa Barat. Provinsi Jawa Barat. kondisi dan struktur pasar. Data primer yang dibutuhkan adalah data kuantitatif dan kualitatif mengenai nilai dan volume penjualan. Metode survey didasarkan atas pertimbangan bahwa metode ini cukup ekonomis. 99 . cepat dan menjamin keleluasaan responden untuk menjawab. Data sekunder diperoleh dari lembaga atau intansi yang terkait yaitu bagian Bidang Tanaman Pangan. internet. Kota Depok. produksi. Data yang diambil meliputi data primer dan data sekunder. Data yang dibutuhkan adalah mengenai karakteristik belimbing manis. perkembangan harga di masing-masing lembaga pemasaran belimbing. 4. buku.5.

pedagang besar sebanyak dua orang dan tiga orang pedagang pengecer. Lembaga pemasaran dipilih dengan teknik snowball sampling mengikuti alur saluran pemasaran belimbing dari petani sampai ke tingkat pedagang pengecer. Petani responden dalam penelitian ini dipilih secara simple random sampling dengan maksud agar suatu sampel representatif yaitu memberi kemungkinan bagi tiap unsur untuk dipilih sebagai sampel. Jumlah responden tengkulak sebanyak tiga orang. memanen. Jumlah sampel petani adalah sebanyak 20 persen atau sebanyak 40 orang dari total petani di Kecamatan Pancoran Mas yang dipilih secara proporsional dari tiga kelompok tani yang beranggotakan paling banyak diantara kelompok tani yang lain. farmer’s share. proses budidaya. dan teknologi yang digunakan relatif sama. Metode Pengolahan dan Analisis Data Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Responden petani bersifat homogen yang dilihat dari luas areal. Cara menarik sampel petani dilakukan dengan menggunakan tabel angka random. Metode Pengambilan Contoh Petani di Kecamatan Pancoran Mas berjumlah 204 orang yang terdiri dari sembilan kelompok tani.7. Analisis kuantitatif digunakan untuk menganalisis marjin pemasaran. 100 . Analisis kualitatif bertujuan untuk menganalisis saluran pemasaran. biaya usaha tani. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan pengisian kuisioner.8. Data kuantitatif yang dikumpulkan diolah dengan menggunakan alat hitung dan komputer dengan program microsoft Excel. sehingga semua populasi memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih menjadi sampel.4. 4. struktur dan perilaku pasar. fungsi-fungsi pemasaran. rasio keuntungan dan biaya. lembaga pemasaran.

Macam Fungsi Jenis Fungsi Fungsi Pembelian 1. Lembaga pemasaran berperan sebagai perantara penyampaian barang dari produsen ke konsumen yang kemudian membentuk saluran pemasaran. Perbedaan saluran pemasaran yang dilalui oleh suatu komoditas akan berpengaruh pada bagian pendapatan yang diterima oleh masing-masing lembaga pemasaran. Fungsi Fasilitas Fungsi Pembiayaan Fungsi Informasi Pasar Sumber : Limbong dan Sitorus. 1987 101 . Dari analisis ini dapat diketahui berapa banyak jumlah lembaga pemasaran yang terlibat dan pola saluran pemasaran yang terjadi. Alur pemasaran tersebut dijadikan dasar dalam menggambarkan pola saluran pemasaran. Tabel 13.8.2. Analisis Fungsi dan Lembaga Pemasaran Analisis lembaga pemasaran dilakukan untuk mengetahui fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan oleh masing-masing lembaga pemasaran. Fungsi Pertukaran Fungsi Penjualan Fungsi Penyimpanan 2. Analisis fungsi pemasaran dilihat berdasarkan kegiatan pokok yang dilakukan masing-masing lembaga pemasaran dalam proses penyaluran belimbing manis Kota Depok dari titik produsen ke titik konsumen seperti fungsi pertukaran. fungsi fisik dan fungsi fasilitas. Analisis Saluran Pemasaran Saluran pemasaran Belimbing Dewa Kota Depok ditelusuri dari petani sampai ke pedagang.1. Fungsi-fungsi Pemasaran No. Fungsi Fisik Fungsi Pengemasan Fungsi Pengangkutan Standarisasi dan Grading Fungsi Penanggungan Resiko 3. 4. Analisis dari fungsi pemasaran dapat digunakan untuk mengevaluasi biaya pemasaran.4.8.

1977 102 . Fungsi penanggungan resiko merupakan penerimaan kemungkinan dari kerugian atas pemasaran produk. Banyak Banyak Homogen Sedikit Rendah Persaingan Persaingan Murni Murni 2. dan mudah tidaknya keluar masuk pasar. Banyak Banyak Diferensiasi Sedikit Tinggi Persaingan Persaingan Monopolistik Monopolistik 3. Fungsi pengangkutan meliputi kegiatan penyampaian barang dari produsen ke konsumen. Struktur pasar ini akan menentukan pasar yang dihadapi oleh pelaku pasar yaitu petani sebagai produsen dan lembaga-lembaga pemasaran lainnya. Sedikit Sedikit Homogen Banyak Tinggi Oligopoli Oligopsoni Murni Murni 4. Karakteristik Struktur Pasar Berdasarkan Sudut Penjual dan Pembeli Karakteristik Struktur Pasar Jumlah Jumlah Sifat Pengetahuan Hambatan Sudut Sudut No. 4.3. Analisis Struktur Pasar Struktur pasar dapat dilihat dengan mengidentifikasi banyaknya jumlah penjual dan pembeli yang terlibat. Penjual Pembeli Produk Informasi Keluar Penjual Pembeli Pasar Masuk Pasar 1.8. Sedikit Sedikit Diferensiasi Banyak Tinggi Oligopoli Oligopoli Diferensiasi Diferensiasi 5. mudah tidaknya untuk mengetahui informasi pasar. Fungsi ini digunakan untuk mengetahui biaya pengemasan. Fungsi pengemasan dilakukan dengan cara mengemas produk yang akan jual ke pasar. Fungsi pembiayaan merupakan kegunaan uang untuk berbagai aspek pemasaran. Satu Satu Unik Banyak Tinggi Monopoli Monopsoni Sumber : Dahl dan Hammond. sifat produk yang dipasarkan. Fungsi penyimpanan merupakan kegunaan waktu yang meliputi kegiatan yang untuk meningkatkan waktu penyimpanan mengingat produk belimbing adalah produk yang mudah rusak. Standarisasi dan grading merupakan kegiatan mengelompokkan produk sesuai dengan ketentuan konsumen. Tabel 14.

Lembaga pemasaran menaikkan harga per satuan kepada konsumen atau menekan harga di tingkat produsen. Analisis ini digunakan untuk melihat tingkat efisiensi pemasaran buah belimbing manis Kota Depok dari produsen sampai konsumen. Dengan demikian efisiensi pemasaran perlu diwujudkan melalui penurunan biaya pemasaran.5. sistem penentuan harga. menunjukkan efisiensi.5 Analisis Efisiensi Pemasaran Menurut Limbong dan Sitorus (1987) sistem pemasaran yang efisien akan tercipta apabila seluruh lembaga tataniaga yang terlibat dalam kegiatan tataniaga memperoleh kepuasan dengan adanya aktivitas tataniaga tersebut.4. Analisis Perilaku Pasar Perilaku pasar mengarah pada strategi yang dilakukan perusahaan dalam menyesuaikan dengan pasar yang dihadapi. Besarnya marjin pada dasarnya merupakan penjumlahan dari biaya-biaya pemasaran dan keuntungan yang 103 .4.1 Marjin Pemasaran Marjin pemasaran merupakan berbedaan harga diantara lembaga pemasaran. Penurunan biaya input dari pelaksanaan pekerjaan tersebut tanpa mengurangi kepuasan konsumen akan output barang dan jasa. Analisis perilaku pasar buah belimbing dapat dicirikan oleh tingkah laku lembaga pemasaran dalam struktur pasar tertentu yang meliputi kegiatan penjualan. Setiap kegiatan fungsi lembaga memerlukan biaya yang diperhitungkan ke dalam harga produk.4. 4.4. 4. cara pembayaran serta praktek kerjasama antar lembaga pemasaran yang terlibat. pembelian.8. Marjin pemasaran dihitung berdasarkan pengurangan harga penjualan dan harga pembelian pada setiap tingkat lembaga pemasaran yang terlibat.

...4..............................................................................................(4) Keterangan : Mi = Marjin tataniaga tingkat ke-i Psi = Harga jual pasar tingkat ke-i Pbi = Harga beli pasar tingkat ke-i Ci = Biaya lembaga pemasaran tingkat ke-i πi = Keuntungan lembaga pemasaran tingkat ke-i 4........................................... artinya semakin tinggi marjin pemasaran maka bagian yang diperoleh petani (farmer’s share) semakin rendah............................. Farmer’s share berhubungan negatif dengan marjin pemasaran................................................(3) Sehingga keuntungan lembaga ditingkat ke-i adalah : πi = Psi – Pbi – Ci .............. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut (Limbong dan Sitorus................................ Secara umum farmer’s share dapat dirumuskan sebagai berikut (Limbong dan Sitorus..................(2) Dengan menggabungkan persamaan (1) dan (2) diperoleh : Psi – Pbi = Ci + πi ...................5... 1987) : Mi = Psi – Pbi ..........2 Farmer’s Share Farmer’s share digunakan untuk membandingkan seberapa besar begian yang diterima petani dari harga yang dibayarkan oleh konsumen akhir dan dinyatakan dalam persentase........diperoleh lembaga pemasaran............. 1987): Pf FS = x 100 % Pr Keterangan : Fs = farmer’s share Pf = Harga ditingkat petani Pf = Harga yang dibayarkan oleh konsumen akhir 104 ..........(1) Mi = Ci + πi .............

4.4.5. 1987 dalam Parwitasari 2004): Li Rasio Keuntungan Biaya (π/C) = Ci Keterangan : Li = Keuntungan lembaga pemasaran Ci = Biaya pemasaran Berdasarkan analisis farmer’s share akan dilihat apakah pemasaran tersebut memberikan balas jasa yang menguntungkan kepada semua pihak yang terlibat dalam pemasaran Belimbing Dewa. 105 . Rasio keuntungan terhadap biaya dapat dirumuskan sebagai berikut (Limbong dan Sitorus.3 Rasio Keuntungan Terhadap Biaya Tingkat efisiensi sebuah sistem pemasaran juga dapat dilihat dari rasio keuntungan terhadap biaya. Jika nilai π/C lebih dari satu (π/C > 1) maka kegiatan pemasaran tersebut menguntungkan dan apabila π/C kerang dari satu (π/C < 1) maka kegiatan pemasaran tersebut tidak memberikan keuntungan.

684 m/tahun dan jumlah hari hujan sebanyak 222 hari/tahun.8 persen. Ratu Jaya dan Kelurahan Pondok Jaya.276 perempuan. Jawa Barat yang terletak pada koordinat 6.6.3. Mata pencaharian penduduknya sebagian besar bergerak di sektor perdagangan. Rangkapan Jaya Baru. Cipayung Jaya.3 knot. V. Keadaan Alam Kecamatan Pancoran Mas memiliki temperatur 24. Kecamatan Pancoran Mas merupakan pusat kegiatan pemerintah dan aktivitas bisnis. sebelah selatan dengan Kecamatan Bojong Gede Kabupaten Bogor.969.57 Ha dengan ketinggian antara 65-72 meter diatas permukaan laut dengan topografi relatif datar. kecepatan angin rata-rata 3. Rangkapan Jaya. sebelah timur dengan Kecamatan Sukmajaya dan sebelah barat dengan Kecamatan Sawangan. Penyinaran matahari rata-rata 49.2. Wilayah sebelah utara berbatasan denga Kecamatan Beji dan Kecamatan Limo.1. Terdiri dari 11 kelurahan yaitu : Kelurahan Depok. Kelurahan Depok Jaya. Pancoran Mas. Letak dan Keadaan Geografis Daerah Penelitian Kecamatan Pancoran Mas adalah sebuah kecamatan di Kota Depok. kelembaban udara rata-rata 82 persen.078 jiwa yang terdiri dari 89.802 laki-laki dan 91.3°C -33°C. Bojong Pondok Terong.43° BT. 5. Mampang. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Jumlah penduduk di Kecamatan Pancoran Mas sampai akhir tahun 2007 sebanyak 181. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5. 5.19° .28° LS dan 106. Meskipun demikian sektor pertanian merupakan sektor yang 106 . jumlah curah hujan 2. Luas wilayahnya mencapai 1. Cipayung.

gilingan padi. tiga buah stasiun kereta api. empat puskesmas. Sebanyak tiga persen dari jumlah penduduk bergerak di sektor pertanian. STM 6 10. SMU Swasta 11 8. 2007 Fasilitas kesehatan yang dimiliki Kecamatan Pancoran Mas antara lain : tiga RS. SMK/SMEA 13 9. SMIP Negeri 1 11. mengandung vitamin C dan A yang cukup tinggi.4. Salah satu program pertanian yang sedang 107 . Buah yang berwarna kuning- orange keemasan. Usman Mubin. buah besar dapat mencapai 0. Bersalin. Jenis Fasilitas Jumlah (unit) 1. SLTP Swasta 37 6. Fasilitas pendidikan formal yang dimiliki Kecamatan Pancoran Mas dapat dilihat pada Tabel 15.8 Kg per buah. pabrik tempe. satu puskesmas pembantu. dan pabrik tahu. 5. dan lembaga kesenian Ayodya Pala. dan 30 persen dari jumlah penduduk bergerak di sektor jasa. Perguruan tinggi swasta 4 Sumber : Monografi Kecamatan.mendapat perhatian khusus dari pemerintah kota. 22 persen di sektor industri. dan beberapa poliklinik dan RS. Tk 37 2. Tabel 15. Fasilitas umum lainnya yang tersedia antara lain : lapangan sepak bola. 138 buah telepon umum. 45 persen di sektor perdagangan. Gambaran Umum Usahatani Belimbing Dewa Belimbing Depok dikenal dengan Belimbing Dewa. tempat pemancingan. Swasta. SLTP Negeri 2 5. hasil buah karya petani penangkar Depok Bapak H. Fasilitas Pendidikan di Kecamatan Pancoran Mas Tahun 2008 No. Selain itu terdapat 179 industri perabot rumah tangga dan industri konveksi. Di kecamatan ini terdapat empat pabrik pengolahan pangan seperti : pabrik roti. SD Negeri 56 3. SMU Negeri 1 7. SD Swasta 12 4. terminal.

dan nyeri lambung. Belimbing dinilai berkhasiat untuk penurun darah tinggi. mulai dari pembinaan petani. Dan dari sektor pemasaran. Belimbing Dewa sangat prospektif dikembangkan di Kota Depok dan kini telah menjadi buah unggulan Kota Depok karena buah Belimbing Dewa Depok lebih unggul dibandingkan buah belimbing yang lainnya yang ada di 108 . Petani-petani belimbing ini telah diberikan pembekalan-pembekalan tata cara pembudidayaan belimbing dengan varietas Dewa Baru. Perencanaan program ini telah dilakukan sejak tahun 2006. Sehingga Puskop dapat langsung berperan dalam upaya mengakomodasi pemasaran hasil petani belimbing. yang melibatkan seluruh stake holder belimbing Kota Depok. penelitian pembudidayaan sampai dengan pemasaran hasil produksi belimbing dari petani. Pembentukkan Puskop pada Januari 2008 bersamaan dengan masa panen raya belimbing Kota Depok yang hanya terjadi setiap 2-3 tahun sekali. Perencanaan ini meliputi seluruh aspek kerja pengelolaan belimbing. yang selama ini sangat tergantung kepada para tengkulak dari sisi pemasarannya. Hingga saat ini pemerintah Kota Depok telah melakukan pembinaan kepada 650 petani belimbing yang tergabung dalam 25 kelompok tani yang tersebar di enam kecamatan Kota Depok.diupayakan dapat mengangkat dunia pertanian Kota Depok sekaligus dapat dijadikan icon kota adalah Program Pengembangan Buah Belimbing dengan Varietas Dewa Baru. kencing manis. sehingga harganya pun sangat tidak menguntungkan bagi petani. yang bertugas memasarkan hasil buah dan olahan petani belimbing Kota Depok. pemerintah Kota Depok telah memfasilitasi terbentuknya Pusat Koperasi Pemasaran Buah dan Olahan Belimbing Dewa atau yang dikenal dengan Puskop.

>15 ≥ 2. Mengenai produktivitas Belimbing Dewa berdasarkan umur belimbing dapat dilihat pada Tabel 16. Produktivitas Belimbing Dewa berdasarkan Umur Belimbing di Kecamatan Pancoran Mas No. Hal ini diketahui pada setiap Event Lomba Buah Unggul dan pameran- pameran buah nasional serta internasional. diharapkan produktifitas per pohon dapat mencapai 300 kg per tahun dan jika diasumsikan harga per Kg belimbing berkisar antara Rp 4.200 buah 3 3.000 buah 3 Sumber : Standar Operasional Belimbing Dewa. Potensi pertanian belimbing di Kota Depok sampai tahun 2007 memiliki populasi tanaman sebanyak 27. buah Belimbing Dewa ini lebih unggul dan selalu menjuarai sebagai buah unggul nasional versi Trubus.000 buah 3 4. Kadar air yang tinggi yang membuat Belimbing Dewa lebih berbobot (berat rata-rata 200 gr 109 .201-2.773 pohon dengan total luas areal 121 Ha menyebar di wilayah Kota Depok.000 ton/tahun. Perkiraan tanaman belimbing yang sudah produktif dengan umur tanaman lebih dari empat tahun.000.700 ton sampai 3. Dalam ruangan sejuk. sehingga Belimbing Dewa lebih tahan lama. 10-15 1. Tabel 16. maka omzet penjualan belimbing setiap tahun berkisar Rp. 5-9 500-1.000 – Rp 6.16 Miliar – 24 Miliar per tahun. Umur (Tahun) Produktivitas (pohon/tahun) Jumlah Panen (kali/tahun) 1.Indonesia. Belimbing Dewa mampu mempertahankan kesegarannya hingga satu minggu. Sementara kapasitas produksi belimbing jika diterapkan budidaya sesuai SOP Belimbing Dewa. Kota Depok Belimbing Dewa memiliki kandungan air lebih tinggi dari pada belimbing jenis lain. memiliki kapasitas produksi per tahun 100-150 Kg per pohon per tahun. Sehingga perkiraan total produksi yang dihasilkan dari belimbing Depok berkisar antara 2. sedangkan belimbing jenis lain lain hanya dua hingga tiga hari. 2-4 ≤ 500 buah 3 2.

hal ini juga dipicu dengan peluang pasar komoditas ini masih cukup besar. karena keunggulan spesifik yang dimiliki belimbing Dewa Depok dan cukup diminati konsumen. Selain itu semua bagian buah belimbing dapat dimakan termasuk pinggir buah belimbing yang tipis sehingga dapat dimakan. 110 . bahkan dapat mencapai 500 gr/buah. PT Sewu segar sebagai supplier buah belimbing untuk wilayah Jakarta dan Surabaya telah membantu pemasaran Belimbing mencapai 1 ton per bulan.000 ton per tahun. hal ini berpotensi menjadi kawasan agrowisata belimbing Depok di sepanjang DAS Ciliwung. Pertanaman Belimbing di kota Depok banyak dikembangkan dilahan-lahan masyarakat dan uniknya banyak juga dikembangkan disepanjang kali Ciliwung. Upaya lain dalam meningkatkan nilai tambah produk belimbing adalah pengolahan produk. Peluang pasar belimbing untuk kawasan Jabodetabek mencapai angka 6. para petani mulai menerapkan SOP Belimbing Dewa. dan kapasitasnya akan terus ditingkatkan sesuai peningkatan hasil kualitas belimbing dari para petani Kota Depok dan dalam upaya pemenuhan kualitas produk. Asosiasi Petani Belimbing Depok (APEBEDE) dalam pemasaran buah belimbing melakukan kerjasama dengan toko-toko buah. Walaupun usaha pengolahan hortikultura di Kota Depok masih minim. kini mulai banyak pengusaha olahan di Kota Depok yang merintis untuk olahan produk buah belimbing. kontinuitas.hingga 250 gr. Sehingga Petani memiliki kemampuan untuk berkomitmen dengan pengusaha ritel buah segar yang selalu memenuhi kapasitas. dan kualitas. Ukuran yang besar membuat buah Belimbing Dewa berpotensi bersaing secara global.

sebagian besar petani belimbing mendapatkan pendidikan formal. Tingkat Pendidikan Petani Responden di Kecamatan Pancoran Mas Tahun 2008 Tingkat Pendidikan Jumlah Responden Persentase (orang) (%) Tidak Tamat SD 2 5.5 Perguruan Tinggi 2 5. Pembagian umur responden dapat dilihat pada Tabel 17. Tabel 18.5 Tamat SMA 17 42. Tingkat pendidikan pendidikan petani responden tergolong menengah karena sebagian besar adalah tamatan SMA. Jumlah petani berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada Tabel 18. Karakteristik Umur Petani Responden di Kecamatan Pancoran Mas Tahun 2008 Golongan Umur (tahun) Jumlah Responden (orang) Persentase (%) 20-30 10 25 31-40 12 30 41-50 12 30 51-60 4 10 >60 2 5 Jumlah 40 100 Berdasarkan hasil wawancara.5. Tabel 17. Umur termuda petani responden adalah 22 tahun dan yang tertua adalah 67 tahun. Tingkat pendidikan tertinggi sampai jenjang perguruan tinggi.0 Jumlah 40 100 Berdasarkan hasil pengamatan. Berdasarkan Tabel 18 dapat disimpulkan bahwa petani responden memiliki pengalaman kurang dari 10 tahun 111 . sebagian besar petani responden. Umur petani responden dikelompokkan ke dalam lima kelompok.5. 31-40 tahun. memiliki pengetahuan usaha tani secara turun-temurun. Karakteristik Petani Responden Petani responden di Kecamatan Pancoran Mas berjumlah 40 orang. 41-50 tahun. yaitu usia 20-30 tahun.0 Tamat SMP 13 32. 51-60 tahun dan umur lebih dari 60 tahun.0 Tamat SD 6 15.

hal ini menunjukkan bahwa petani responden cukup berpengalaman. Karakteristik Petani Responden di Tinjau dari Segi Sosial dan Ekonomi di Kecamatan Pancoran Mas Tahun 2008 Variabel Jumlah Responden (orang) Persentase (%) Pengalaman Usaha Tani: <10 Tahun 20 50. Selain itu sebagian petani juga menyewa lahan milik orang lain dengan sistem bagi hasil.5 0.5 Ha 12 30. Biaya sewa rata-rata yang berlaku di daerah penelitian adalah Rp.0 Jumlah Tanaman Belimbing: 50-150 Pohon 33 82.25 Ha 21 52.500.0 Sewa 6 15.0 >550 Pohon .5 3-5 orang 7 17.25-0. 2. - Lahan yang digunakan petani responden sebagian besar adalah milik sendiri yang diwariskan secara turun-temurun.5 >150 Pohon 5 12.0 10-20 Tahun 14 35.0 >20 Tahun 6 15.000/Ha/tahun dengan rata-rata pohon dalam satu hektar sebanyak 240 pohon ditambah dengan pembagian keuntungan rata-rata berkisar 35 persen dari total penjualan untuk pemilik dan 65 persen untuk petani yang menyewa lahan.5 1-2 Ha 2 5. 112 .5 >5 orang Luas Lahan Garapan: <0.0 Sampingan 8 20.0 Status Usahatani: Pokok 32 80.0 <3 orang 15 37.0 Jumlah Tanggungan Keluarga: 18 45.berasal dari kalangan petani muda.5 Ha 5 12.0 >0.5 Kepemilikan Lahan: Milik Sendiri 34 85. Tabel 19.5 277-550 Pohon 2 5.

Pengecer Swalayan-swalayan (Toko Buah) (65%) 37.600 Kg/panen 83. Besar 20. (2) pedagang pengumpul desa (tengkulak).160 Kg/panen Supplier (Ps.296 Kg/panen Tengkulak Saluran 4 (72%) Puskop 59. VI.30 %) 4.800 Kg Ped. Saluran 1 dan 2 (39.1. ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN BELIMBING DEWA 6. Induk) (Gudang Swalayan) Saluran 3 (3. (3) Pusat Koperasi belimbing. (6) pedagang pengecer.56%) Saluran 4 dan 5 (57.904 Kg/panen Saluran 2 (35%) Ped.200 Kg/panen Petani (28%) 23.14%) 57. Saluran pemasaran belimbing dewa dapat dilihat pada Gambar 4. (4) pedagang besar. Saluran Pemasaran Belimbing Dewa di Kecamatan Pancoran Mas 113 .440 Kg/panen Konsumen Keterangan : Saluran Pemasaran Belimbing Dewa 1 Saluran Pemasaran Belimbing Dewa 2 Saluran Pemasaran Belimbing Dewa 3 Saluran Pemasaran Belimbing Dewa 4 Saluran Pemasaran Belimbing Dewa 5 Gambar 4. Analisis Saluran Pemasaran Sistem pemasaran Belimbing Dewa melibatkan beberapa pelaku pemasaran yaitu : (1) petani. (5) supplier pasar moderen.

Konsumen Hasil pengamatan yang terjadi di daerah penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar petani menjual belimbing ke tengkulak. hanya sebagian kecil saja dari petani belimbing yang menjual langsung kepada koperasi dan pedagang pengecer (toko buah dan pasar tradisional).5 persen dari total petani responden. Petani yang menjual langsung ke pedagang pengecer hanya 7.600 Kg. Volume penjualan petani lebih banyak ke Puskop dari pada ke tengkulak dikarenakan terdapat dua orang petani responden yang memiliki luas lahan lebih dari satu hektar yang menjual hasil panennya ke Puskop. saluran pemasaran belimbing dewa terdiri dari 5 saluran pemasaran yaitu : Saluran pemasaran 1 : Petani – Tengkulak – Pedagang Besar – Pedagang Pengecer – Konsumen Saluran pemasaran 2 : Petani – Tengkulak – Pedagang Besar – Supplier – Pedagang Pengecer (swalayan) . Berdasarkan Gambar 3.200 Kg.Konsumen Saluran pemasaran 4 : Petani – Pusat Koperasi Belimbing – Pedagang Pengecer (toko buah) .Konsumen Saluran pemasaran 5 : Petani – Pusat Koperasi Belimbing – Supplier – Pedagang Pengecer (swalayan) . Hal ini dikarenakan petani memiliki 114 . dengan volume penjualan sebanyak 57. Petani belimbing di Kecamatan Pancoran Mas yang menjual belimbing melalui tengkulak yaitu sebanyak 52.Konsumen Saluran pemasaran 3 : Petani – Pedagang Pengecer (toko buah dan pasar tradisional) .5 persen dengan volume penjualan sebanyak 4.800Kg dan sebanyak 40 persen dari total petani responden menjual belimbing ke Puskop dengan volume penjualan sebanyak 83.

1. Petani yang menjual hasil panennya ke tengkulak tidak melakukan perlakukan khusus terhadap belimbing. Saluran pemasaran ini digunakan oleh 21 orang petani atau sebanyak 52. Volume penjualan sebesar 37. selanjutnya langsung dilakukan pengemasan dengan menggunakan keranjang berukuran besar 115 . Setelah tengkulak membeli belimbing di kebun petani. Alasan utama para petani menggunakan saluran ini adalah karena mereka telah memiliki kedekatan bisnis dengan tengkulak yaitu dalam hal peminjaman modal secara tunai kepada petani tanpa bunga. 6. sedangkan belimbing sedang dan kecil dihargai per keranjang.1. tengkulak. pedagang besar. Saluran Pemasaran 1 Saluran pemasaran satu merupakan saluran pemasaran yang terdiri dari petani. Umumnya tempat tinggal petani dan tengkulak berada dalam satu wilayah. namun disisi lain sebenarnya tengkulak telah mengambil keuntungan membeli belimbing dengan harga yang relatif murah dari petani yang selisihnya mencapai Rp1.5 persen dari total petani responden. Selain itu petani tidak perlu memasarkan produknya sendiri.keterikatan yang kuat dengan tengkulak. pedagang pengecer.440 Kg/panen atau sebesar 65 persen dari total volume penjualan Belimbing Dewa.500/Kg dibandingkan dengan harga yang dibayarkan Puskop. konsumen. Belimbing besar dihargai per buah atau per kilo. tengkulak hanya memiliki standar belimbing yang dibelinya berdasarkan ukuran. sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya pengangkutan karena tengkulak membeli langsung dari kebun petani dengan menggunakan alat angkutan yang mereka miliki. sebagian petani juga biasa meminjanm sejumlah uang kepada tengkulak sebagai modal dalam usaha tani belimbing. Kondisi ini dianggap menguntungkan bagi petani.

6. 116 . Dari pedagang besar kemudian dijual ke pedagang pengecer seperti pasar tradisional dan toko-toko buah. Sebanyak 1 orang dari 2 responden pedagang besar yang telah memiliki jaringan yang kuat hingga bisa menembus pasar moderen akan menjual belimbing ke supplier pasar moderen.2. Volume penjualan Belimbing Dewa sebesar 20. harga belimbing ditentukan oleh tengkulak.yang terbuat dari plastik. Pedagang besar yang menjual belimbing ke pedagang pengecer tidak mengeluarkan biaya pengangkutan karena proses pembelian dilakukan di tempat pedagang besar berada (pasar minggu). perbedaanya terletak pada saat belimbing telah ditangan pedagang besar. Petani yang menjual produknya ke tengkulak hanya mengetahui informasi pasar seperti harga dan selera konsumen dari tengkulak dan teman-teman sesama petani. yang kemudian akan di bawa ke swalayan-swalayan. tengkulak. swalayan. Saluran pemasaran ini tidak jauh berbeda dengan saluran satu. Sistem pembelian dilakukan secara berangsur dalam tempo satu minggu dengan dua kali pembayaran.160 Kg/panen atau sebesar 35 persen dari total volume penjualan Belimbing Dewa. Pada saluran pemasaran satu. kayu mapun keranjang bambu yang biasanya hanya dilapisi dengan koran dan daun pisang. Tengkulak menjual belimbing ke pedagang besar (pasar induk dan pasar minggu) dengan menggunakan mobil bak terbuka. supplier pasar moderen. hal ini mengakibatkan petani sebagai penerima harga sehingga posisi tawar petani rendah.1. Saluran Pemasaran 2 Saluran pemasaran dua merupakan saluran pemasaran yang terdiri dari petani. konsumen. pedagang besar.

restribusi. Biaya yang harus dikeluarkan oleh petani adalah biaya panen.5 persen petani dari total petani responden. Pedagang besar melakukan proses pengangkutan ke gudang supplier dengan menggunakan mobil bak terbuka.800Kg/panen atau sebesar 3. Dalam saluran ini petani langsung menjual ke pedagang pengecer dalam hal ini adalah toko buah dan pedagang di pasar tradisional. pengangkutan. sehingga biaya pengangkutan dikeluarkan oleh pedagang besar. Volume penjualan pada saluran empat sebesar 4. sortasi. artinya sortir baru bisa dilakukan ditingkat pedagang pengecer. tingkat kerusakan yang tinggi karena belimbing merupakan buah yang rentan rusak. Sehingga biaya yang dikeluarkan pedagang besar yang menjual belimbing ke supplier adalah biaya pengemasan. Umumnya petani telah memiliki langganan dari pihak toko buah dan pedagang di pasar tradisional. Sedangkan Kelas C ditujukan ke pedagang pengecer di pasar tradisional. 117 . bonkar muat. grading. pengemasan yang dikehendaki supplier yaitu dengan membagi belimbing ke dalam tiga kelas yaitu kelas A.1. dan sewa tempat. B dan C. Kelas A dan B ditujukan ke pasar moderen (swalayan). 6. Pedagang besar melakukan sistem pembelian belimbing secara tunai. Saluran Pemasaran 3 Saluran pemasaran ini digunakan sebanyak tiga orang petani atau sebanyak 7. Petani mengantarkan langsung belimbing ke toko buah atau pedagang di pasar tradisional sehingga ada biaya pengangkutan yang dikeluarkan.3. Saluran ini kurang diminati petani karena tidak adanya kepastian harga (harga mudah berubah) dari pedagang pengecer.30 persen dari total volume penjualan Belimbing Dewa. Pedagang besar yang menjual belimbing ke supplier umumnya melakukan standarisasi. selain itu biaya angkut di tanggung oleh petani.

904Kg/panen atau sebesar 72 persen dari total volume penjualan Belimbing Dewa. grade C kurang dari 150 gram atau buah cacat. petani bisa mendapatkan bantuan permodalan dari pemerintah yang bekerjasama dengan bank. Sedangkan biaya yang dikeluarkan pedagang pengecer adalah biaya penyimpanan. grade B berbobot 150- 250 gram dam . Petani yang menjual belimbing ke Puskop merupakan anggota koperasi. Sebagian petani merasa perlu adanya wadah yang bisa menyalurkan inspirasi mereka dalam hal pengembangan dan pemasaran belimbing sehingga di bentuklah Pusat Koperasi belimbing. Sistem pembayaran yang dilakukan pedagang pengecer ke petani adalah secara tunai. 6. sampai saat ini ada 25 toko buah yang menjadi konsumen koperasi.pengemasan dan biaya pengangkutan. Puskop membeli langsung belimbing dari kebun petani yang diangkut dengan mobil pendingin. Volume penjualan pada saluran ini sebesar 59. biaya retribusi dan biaya pengemasan. kemudian ditata di dalam kardus dengan muatan 10 Kg. Pada hari yang sama Puskop membawanya ke pedagang pengecer (toko- toko buah). Sortasi dan gradding dilakukan di koperasi yang dibagi kedalam tiga kelas : grade A berbobot diatas 250 gram . selain memiliki tempat untuk memasarkan hasil.1. Buah tersebut kemudian di packing. Dengan adanya Puskop. sebanyak 3-6 buah belimbing dikemas dengan menggunakan kertas wrapping. biaya penyusutan. 118 .4. Saluran Pemasaran 4 Saluran pemasaran ini digunakan oleh 16 petani responden atau sebanyak 40 persen dari total petani responden.

Puskop berupaya menjadi semacam Bulog. 6. dan harga disepakati melalui rapat anggota.1.5.6. harga yang berlaku adalah harga yang terjadi di pasar dan disepakati kedua belah pihak yaitu antara petani dan Puskop. Fungsi pemasaran diperlukan dalam kegiatan pemasaran untuk memperlancar pendistribusian belimbing dari setiap lembaga yang terlibat. Fungsi-fungsi pemasaran terdiri dari fungsi pertukaran. Volume penjualan Belimbing Dewa pada saluran lima sebesar 23.296 Kg/panen atau sebesar 28 persen dari total volume penjualan Belimbing Dewa. fungsi fisik dan fungsi fasilitas. 119 . Koperasai mengetahui harga pasar langsung dari survey pasar yang dilakukan oleh Koordinator Wilayah (Korwil) yang merupakan petani juga. seperti Carrefour. kemudian informasi harga disampaikan saat rapat koperasi di kelompok tani. Petani yang tergabung dalam koperasi memiliki posisi tawar yang kuat sehingga strategi dan jaringan pemasaran telah terbangun. belimbing tidak dihargai terlalu rendah sehingga para petani tidak terlalu rugi. Analisis Fungsi dan Lembaga Pemasaran Analisis fungsi pemasaran menunjukkan kegiatan yamg dilakukan oleh masing-masing lembaga pemasaran dalam menyalurkan komoditas belimbing. Sedangkan ketika harga jatuh. Rencananya koperasi akan menerapkan sisitem pemasaran ‘satu atap’ artinya seluruh petani belimbing di Kota Depok memasarkan belimbing ke Puskop agar dapat dibina guna meningkatkan kualitas dan taraf hidup petani belimbing.2. Superindo dan Makro. Koperasi akan menjual belimbing ke gudang swalayan. Saluran Pemasaran 5 Orientasi pasar pada saluran ini adalah supplier pasar moderen. disaat saat harga belimbing tinggi Puskop dapat mengendalikannya agar semakin tidak melambung.

Tengkulak umumnya adalah pelanggan tetap petani. Petani sudah melakukan sortasi dan grading di kebun mereka. yaitu setelah Puskop melakukan grading. Pembayaran dilakukan secara tunai oleh koperasi.5 persen dari total petani responden.1. Sistem pembayaran dari hasil penjualan oleh tengkulak dibayar berangsur dalam tempo satu minggu dengan 2-3 kali pembayaran. namun setelah di Puskop akan di cek ulang. harga jual ditentukan oleh pedagang pengecer dengan sistem pembayaran dilakukan secara tunai.6. Petani responden di Kecamatan Pancoran Mas menjual belimbing ke tengkulak sebanyak 21 orang atau 52. dimana petani telah memiliki keterkaitan yang cukup kuat seperti peminjaman modal dari tengkulak. Fungsi pertukaran yang dilakukan adalah fungsi penjualan. Petani yang menjual belimbing ke pedagang pengecer. Petani yang menjual belimbing langsung ke pedagang pengecer sebanyak tiga orang atau 7.5 persen dari total petani responden. Penjualan belimbing umumnya dilakukan di kebun petani. Sedangkan petani yang menjual belimbing ke Puskop harga jual berdasarkan kesepakatan bersama dalam rapat anggota yang biasa dilakukan seminggu sekali. fungsi fisik dan fungsi fasilitas. Sedangkan petani yang langsung menjual ke Puskop sebanyak 16 orang atau 40 persen dari total petani responden. Petani Fungsi pemasaran yang dilakukan oleh petani Belimbing Dewa di Kecamatan Pancoran Mas meliputi fungsi pertukaran. Petani yang menjual ke tengkulak umumnya harga jual ditentukan oleh tengkulak. petani kemudian akan diberikan faktur penjualan yang berisi berapa jumlah belimbing masing-masing grade dan faktor koreksi grade (yang dilakukan oleh petani 120 .2.

juga dibantu oleh tenaga kerja yang dibawa tengkulak. pestisida. Biaya produksi yang dikeluarkan petani digunakan untuk penyediaan sarana produksi seperti bibit. Petani yang menjual belimbing ke puskop dan tengkulak tidak mengeluarkan biaya pemasaran karena ditanggung oleh ke dua lembaga tersebut.000. penanggungan resiko dan informasi pasar. Pembiayaan yang dilakukan petani diantaranya penyediaan modal untuk kegiatan produksi. penyortiran umumnya dilakukan bersama-sama antara petani. Fungsi fisik yang dilakukan petani meliputi pengangkutan dan pengemasan. dan alat-alat pertanian.000 sampai dengan Rp 3.dengan yang dilakukan Puskop) yang pada akhirnya akan menentukan berapa jumlah uang yang diterima petani. dan pegawai Puskop yang mendatangi kebun. Umumnya petani memiliki motor sebagai alat angkut belimbing. Pengemasan dilakukan secara sederhana yaitu dengan keranjang besar yang dilapisi koran dan daun pisang. Fungsi pengangkutan dan pengemasan hanya dilakukan oleh petani yang menjual langsung belimbing ke pedagang pengecer. kecil.. Sortasi dilakukan petani di kebun. pedagang pengecer maupun ke Puskop. pupuk. Besarnya biaya produksi yang dikeluarkan petani berkisar antara Rp 30. Penjulan ke Puskop maka sortasi berdasarkan ukuran. sedang). Penyortiran umumnya dilakukan oleh petani dan tenaga kerja harian.560. bentuk. Fungsi penanggungan resiko hanya dilakukan oleh petani yang menjual langsung ke 121 . kematangan buah dan berat. Fungsi fasilitas yang dilakukan petani meliputi sortasi. baik yang menjual ke tengkulak. karbon. Penjualan ke tengkulak dan pedagang pengecer maka sortasi yang dilakukan sebatas pengelompokkan berdasarkan ukuran belimbing (besar. pembiayaan. mulsa. tenaga kerja harian.

Tengkulak melakukan pembelian belimbing langsung di kebun petani. fungsi fisik dan fungsi fasilitas. tengkulak akan datang bersama dengan buruh yang dimilikinya yang bertugas bersama dengan petani untuk melakukan pemetikan buah. Sistem pembayaran yang dilakukan secara berangsur. yang lainnya menyewa kendaraan bak terbuka bersama tengkulak lainnya untuk menghemat biaya pengangkutan.pedagang eceran. 122 . dibayarkan sebagian dan sisanya dibayarkan pada panen berikutnya. dua dari tiga orang tengkulak juga sebagai petani belimbing yang berada satu wilayah dengan petani responden. Pada saat panen. Petani yang menjual hasilnya pada tengkulak hanya mendapat informasi pasar dari tengkulak dan rekan sesama petani.2. pengangkutan dan pengepakan. sehingga petani dapat membuat strategi dan jaringan pasar. karena ada bagian yang menangani khusus mengenani informasi pasar yaitu koordinator wilayah yang akan survey langsung ke pasar. Harga pembelian ditentukan oleh tengkulak. Pedagang Pengumpul (Tengkulak) Fungsi pemasaran yang dilakukan oleh tengkulak adalah fungsi pertukaran. Setelah itu tengkulak melakukan penjualan belimbing ke pedagang besar di Pasar Induk Keramat Jati dan Pasar Minggu.2. Dari tiga responden hanya satu yang memiliki mobil bak terbuka untuk mengangkut belimbing. Tengkulak yang diambil sampel sebanyak tiga orang. penanggungan resiko yang dialami petani berupa penurunan harga dan kerusakan buah yang berakibat pada pengurangan hasil penjualan. 6. Fungsi pertukaran yang dilakukan berupa fungsi pembelian dan penjualan. sementara yang menjual langsung ke Puskop akan dengan mudah mengakses informasi pasar. penyortiran.

123 . dan Informasi Pasar Fungsi fisik yang dilakukan tengkulak berupa pengangkutan dan pengemasan. Penanggungan Resiko dan Informasi Pasar 2. Penanggungan Resiko dan Informasi Pasar 4. Pedagang Pengecer Fungsi Pertukaran Pembelian dan Penjualan Fungsi Fisik Pengangkutan dan Pengemasan Fungsi Fasilitas Standarisasi. Fungsi-fungsi Pemasaran dari Lembaga Pemasaran Komoditas Belimbing Dewa Lembaga Pemasaran Fungsi Pemasaran Aktivitas 1. Penanggungan Resiko. Pembiayaan.Fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan oleh tengkulak dan lembaga lainnya yang terlibat dalam pemasaran belimbing dapat dilihat pada Tabel 20. Selain dengan keranjang bambu. Pengangkutan belimbing dari kebun petani menuju ke pedagang besar. Pembiayaan. Petani Fungsi Pertukaran Penjualan Fungsi Fisik Pengangkutan dan Pengemasan Fungsi Fasilitas Sortasi. ada pula yang menggunakan keranjang plastik. kerandang tersebut didalamnya dilapisi koran dan daun pisang. Pedagang Besar Fungsi Pertukaran Pembelian dan Penjualan Fungsi Fisik Pengangkutan. Biaya pengangkutan akan ditanggung oleh tengkulak Pengemasan yang dilakukan yaitu menggunakan keranjang bambu berdiameter setengah meter dengan muatan berkapasitas 25-30 Kg atau sekitar 150-200 buah belimbing. Pembiayaan. Pembiayaan. Penanggungan Resiko dan Informasi Pasar 5. Pembiayaan. Supplier Fungsi Pertukaran Pembelian dan Penjualan Fungsi Fisik Pengangkuatan dan Penyimpanan Fungsi Fasilitas Standarisasi. Puskop Fungsi Pertukaran Pembelian dan Penjualan Fungsi Fisik Pengangkutan dan Pengemasan Fungsi Fasilitas Standarisasi dan grading. Pengemasan dan Penyimpanan Fungsi Fasilitas Standarisasi dan grading. Penanggungan Resiko. dan Informasi Pasar 6. Tengkulak Fungsi Pertukaran Pembelian dan Penjualan Fungsi Fisik Pengangkutan dan Pengemasan Fungsi Fasilitas Pembiayaan dan Informasi Pasar 3. Tabel 20.

biaya pengemasan. Informasi pasar yang dilakukan tengkulak adalah mengetahui harga yang terjadi di tingkat pedagang besar dan pengecer serta mencari petani yang siap panen. 6. Fungsi fasilitas berupa pembiayaan dan informasi pasar. Puskop sebagai lembaga yang diharapkan mampu mengatasi fluktuasi harga belimbing. Saat panen raya belimbing hanya dihargai tengkulak Rp500/buah. Puskop telah menerima hasil produksi belimbing petani sebanyak 80 ton. Saat ini Puskop sedang berupaya mengembangkan kerjasama dengan pasar-pasar potensial belimbing. sehingga akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani belimbing. Pembentukkan Puskop dilakukan pada saat yang sangat tepat. Hingga awal Februari 2008.3 Pusat Koperasi Belimbing Dewa Pemerintah Kota Depok telah memfasilitasi terbentuknya Pusat Koperasi Pemasaran Buah dan Olahan Belimbing Dewa atau yang disingkat PKPBDD atau biasa disebut dengan Puskop yang bertugas memasarkan hasil buah dan olahan petani belimbing Kota Depok. baik pasar- pasar tradisional maupun pasar-pasar modern. sehingga harganya pun sangat tidak menguntungkan bagi petani. Fungsi pemasaran yang dilakukan Puskop adalah fungsi pertukaran meliputi pembelian dan penjualan. biaya sortasi.2. saat bulan tersebut terjadi panen raya belimbing yang hanya terjadi setiap 2-3 tahun sekali. fungsi fisik meliputi pengangkutan dan 124 . Sehingga Puskop dapat langsung berperan dalam upaya mengakomodasi pemasaran hasil petani belimbing. Pembiayaan yang dilakukan berupa peminjaman modal usaha petani. yang selama ini sangat tergantung kepada para tengkulak dari sisi pemasarannya. dan pengangkutan. yaitu pada Januari 2008.

penanggungan resiko dan informasi pasar. sampai saat ini ada 25 toko buah yang menjadi konsumen koperasi. SuperIndo. Pada hari yang sama Puskop membawanya ke supplier (gudang pasar moderen) dan pedagang pengecer (toko-toko buah) disekitar Jabodetabek. Fungsi fasilitas yang dilakukan antara lain adalah standarisasi. Petani kemudian akan diberikan faktur penjualan yang berisi berapa jumlah belimbing masing-masing grade dan faktor koreksi grade (yang dilakukan oleh petani dengan yang dilakukan Puskop) yang pada akhirnya akan menentukan berapa jumlah uang yang diterima petani. sortasi dan grading. Sebelum belimbing dewa dipasarkan. kemudian ditata di dalam kardus dengan muatan 10 Kg. Standarisasi berdasarkan berat dan bentuk.pengemasan. sebanyak 3-6 buah belimbing dikemas dengan menggunakan kertas wrapping. belimbing dibagi ke dalam tiga kelas : grade A berbobot diatas 250 125 . Di kebun sortasi dan grading sudah dilakukan namun grading di cek ulang di koperasi. Pengangkutan belimbing dari kebun petani ke Puskop hingga ke supplier dan pedagang pengecer menggunakan mobil box berpendingin yang tertutup. Puskop membeli langsung belimbing dari kebun petani yang diangkut dengan mobil pendingin. serta fungsi fasilitas meliputi standarisasi. Alfamart (olahan-dalam proses). Beberapa pasar modern yang telah melakukan kerjasama dengan Puskop antara lain adalah Carrefour. Pengemasan dilakukan di Puskop. Pengemasan seperti ini diperlukan agar tidak berganti-ganti kemasan di setiap lembaga pemasaran yang hanya akan menambah biaya. Biaya pengangkutan ditanggung oleh Puskop. pembiayaan. Kardus tersebut merupakan kardus tahan air dan kelembaban tinggi serta tidak mudah rusak.

4 Pedagang Besar Fungsi pemasaran yang dilakukan pedagang besar adalah fungsi pertukaran berupa pembelian dan penjualan. bonkar muat.gram dibeli dari petani dengan harga Rp 6.000/Kg dan dijual dengan harga Rp 5. Belimbing yang dikembalikan dimanfaatkan oleh Puskop dengan dijual pada mitra UKM Puskop untuk diolah menjadi sirup. pengemasan. grade C kurang dari 150 gram atau buah cacat dibeli dengan harga Rp 4. selera konsumen (supplier dan toko-toko buah). grade B berbobot 150-250 gram. Informasi pasar yang diperlukan Puskop adalah harga di pasar. sedangkan grade C ditujukan untuk produksi belimbing olahan seperti sirup.000/Kg. Pedagang besar yang membeli belimbing ke tengkulak umumnya sudah menjadi pelanggan tetap.000-Rp7. 6. serta sortasi dan Grading. Pedagang besar yang diwawancarai adalah dua orang masing-masing dari Pasar Induk Kramat Jati dan Pasar Minggu. Pengemasan adalah Rp500/kemasan. 126 . Grade A dan B ditujukan untuk swalayan- swalayan dan toko-toko buah.000/Kg dan dijual oleh Puskop seharga Rp8.000/Kg dan . dibeli dari petani dengan harga Rp 5.000/Kg.000-Rp.6. pembiayaan. fungsi fisik berupa pengangkutan. penanggungan resiko dan informasi pasar. pengemasan dan penyimpanan. Fungsi pembiayaan dilakukan koperasi meliputi biaya pengangkutan. selai dan keripik. serta fungsi fasilitas berupa standarisasi.000/Kg dan di jual dengan harga Rp 9. Penanggungan resiko dilakukan Puskop apabila ada barang yang rusak atau tidak sesuai selera sehingga dikembalikan oleh supplier maupun toko buah. selai dan produk olahan lainnya dari belimbing. pengembangan produk olahan belimbing.2.

Pedagang besar melakukan fungsi penyimpanan belimbing dalam waktu satu hari dikarenakan belimbing adalah buah rentan rusak terutama dibagian pinggir buah yang dapat menimbulkan warna kecoklatan bila tergores sedikit. sewa tempat. sortasi. Pengemasan buah belimbing menggunakan stereofoam dan plastik wrapping dengan biaya per kemasan Rp 500. retribusi dan bonkar muat. Belimbing kelas A dan B dijual ke supplier sedangkan belimbing kelas C dijual ke pedagang pengecer tradisional dan toko buah. Buana Agro Sukses di Kecamatan Cimanggis. 6. penyimpanan. Fungsi pengangkutan dan pengemasan hanya dilakukan pedagang besar yang menjual belimbing ke supplier. kelas B yang berisi 4-5 buah per kilogram dan kelas C yang berisi lebih dari lima buah perkilogram. penanggungan resiko. yaitu kelas A yang berisi 2-3 buah per kilogram. Prima Jaya yang berada di Kecamatan Pancoran Mas dan CV.5 Supplier Terdapat dua supplier di Kota Depok yaitu CV. Fungsi standarisasi dilakukan oleh pedagang besar yaitu dengan membagi belimbing ke dalam tiga kelas. Supplier ini melakukan fungsi pemasaran yaitu fungsi pertukaran berupa pembelian dan penjualan. Informasi pasar yang dilakukan berupa pencarian informasi harga ke tengkulak dan selera pasar yang dikehendaki supplier. dan informasi pasar. Penanggungan resiko yang dilakukan terutama saat pengangkutan belimbing dan pengemasan. pembiayaan. fungsi fisik berupa pengangkutan serta fungsi fasilitas berupa standarisasi.2. sehingga biaya pengangkutan ditanggung oleh pedagang besar. Supplier ini melakukan fungsi pengangkutan belimbing dari gudang pasar 127 . Biaya yang dikeluarkan oleh pedagang besar dalam pemasaran belimbing meliputi biaya pengemasan.

pembelian dilakukan secara kredit dengan kontrak yang disepakati bersama. biaya retribusi. Fungsi penanggungan resiko yang dilakukan seperti belimbing yang tidak laku terjual. yaitu dari segi ukuran. hal ini umumnya dilakukan pada pembelian dalam jumlah kecil. dari gudang pasar moderen didistribusikan ke swalayan-swalayan. Toko buah fress-e hanya memesan kepada Puskop kemudian belimbing dikirim toko tersebut.moderen. Pedagang pengecer tradisisonal umumnya mendatangi langsung ke kios pedagang besar di pasar induk maupun pasar minggu. Supplier tidak melakukan penyimpanan. Pedagang pengecer yang membeli belimbing dari petani biasanya diantarkan langsung oleh petani ke kios pedagang pengecer. Informasi pasar penting dilakukan untuk menjaga kepercayaan konsumen.2. Pedagang Pengecer Pedagang pengecer yang menjadi responden berjumlah dua orang yang berasal dari toko buah Fress-e dan pedagang tradisional di pasar Depok 1. Penyimpanan belimbing baru dilakukan setelah di sawalayan-swalayan. 6. Pedagang pengecer tradisional membeli belimbing setiap hari ke pedagang besar.6. 128 . Pedagang pengecer tersebut melakukan fungsi pemasaran diantaranya fungsi pertukaran berupa kegiatan pembeliandan penjulan. Pembiayaan yang dilakukan berupa biaya bonkar muat. Sedangkan pedagang pengecer tradisional membeli belimbing dari pedagang besar dan dari petani langsung dengan sistem pembayaran secara tunai. tidak terpenuhinya pasokan belimbing dari Puskop dan selera konsumen yang berubah. Supplier memberikan standarisasi belimbing yang dipesannya. dan biaya trasportasi. biaya sortasi. Toko fress-e membeli belimbing hanya dari Puskop. berat dan kematangan buah.

Fungsi fisik yang dilakukan oleh toko buah fress-e adalah penyimpanan. Penyimpanan dilakukan jika buah tidak habis terjual dalam satu hari yang disimpan di lemari pendingin. Modal yang dikeluarkan berasal dari modal sendiri. Fungsi pembiayaan yang dilakukan berupa biaya pengemasan. Harga belimbing di toko buah fress-e adalah Rp 12. sewa tempat. Modal yang dikeluarkan per hari tergantung dari besarnya penjualan. Penyimpanan yang tidak laku terjual dalam hari yang sama akan disimpan di lemari pendingin. pembiayaan dan informasi pasar. Fungsi pembiayaan lainnya yang dikeluarkan oleh toko buah fress-e dan pedagang pengecer tradisional adalah penyediaan modal. dan penyimpanan. peyimpanan dan pengemasan. Fungsi informasi pasar yang dilakukan pedagang pengecer (toko buah dan pedagang pengecer tradisional) diantaranya 129 . retribusi. penanggungan resiko.000/Kg. Pedagang pengecer tradisional melakukan pengemasan menggunakan plastik transparan yang kemudian dirangkai dan digantung di kios yang dijual per satuan.000/Kg yang rata-rata berisi tiga buah dalam satu kemasaan. penyusutan. Buah yang telah dibeli telah dikemas dengan menggunakan plastik wrapping dan stereofoam oleh Puskop sehingga toko buah fress-e tidak melakukan fungsi pengemasan.000-Rp. Resiko yang ditanggung berupa penurunan harga belimbing. Pengangkutan dilakukan pedagang pengecer tradisional apabila pembelian belimbing langsung ke pedagang besar. Sedangkan fungsi fisik yang dilakukan oleh pedagang pengecer tradisional adalah kegiatan pengangkutan. Fungsi fasilitas yang dilakukan dilakukan pedagang pengecer adalah sortasi.10. Sortasi hanya dilakukan oleh pedagang pengecer tradisional. Harga belimbing di pedagang pengecer tradisional adalah Rp 8. pengangkutan.

adalah informasi mengenai harga dan selera konsumen. Fungsi-fungsi pemasaran

yang dilakukan oleh masing-masing lembaga dalam tiap-tiap saluran pemasaran

dapat di lihat pada Tabel 21.

Tabel 21. Fungsi pemasaran yang dilakukan oleh Lembaga pemasaran pada
setiap Saluran pemasaran Belimbing Dewa di Kecamatan
Pancoran Mas, Kota Depok Tahun 2008
Fungsi-fungsi Pemasaran
Saluran dan Pertukaran Fisik Fasilitas
Lembaga
Pemasaran Informasi
Jual Beli Angkut Kemas Simpan Sortasi Resiko Biaya
Pasar
Saluran 1
Petani √ - - √ - √ - √ √
Tengkulak √ √ √ - - √ √ √ √
Ped. Besar √ √ - - √ √ √ √ √
Ped. Pengecer √ √ √ √ √ √ √ √ √
Saluran 2
Petani √ - - √ - √ - √ √
Tengkulak √ √ √ - - √ √ √ √
Ped. Besar √ √ √ √ - √ √ √ √
Supplier √ √ √ - - √ √ √ √
Ped.Pengecer
√ √ - - √ √ √ √ √
(swalayan)
Saluran 3
Petani √ - √ √ - √ √ √ √
Ped. Pengecer √ √ - √ √ √ √ √ √
Saluran 4
Petani √ - - √ - √ - √ √
Puskop √ √ √ √ - √ √ √ √
Ped. Pengecer
√ √ - - √ √ √ √ √
(toko buah)
Saluran 5
Petani √ - - √ - √ - √ √
Puskop √ √ √ √ - √ √ √ √
Supplier √ √ √ - - √ √ √ √
Ped. Pengecer
√ √ - - √ √ √ √ √
(swalayan)
Keterangan : √ Melakukan fungsi pemasaran - Tidak melakukan fungsi pemasaran

Berbagai fungsi pemasasaran pada Tabel 21 dapat dilakukan oleh lembaga

pemasaran yang terlibat dalam proses penyampaian belimbing dari petani sampai

ke konsumen. Namun tidak semua lembaga pemasaran melakukan semua fungsi

130

pemasaran tersebut, hanya pedagang pengecer pada saluran pemasaran satu yang

melakukan semua fungsi pemasaran.

Pada Tabel 21 dijelaskan bahwa petani di saluran satu hanya melakukan

pertukaran berupa penjualan, fungsi fisik berupa pengemasan dan fungsi fasilitas

berupa sortasi, pembiayaan, dan informasi pasar. Fungsi pengangkutan dan

penanggungan resiko hanya dilakukan oleh petani pada saluran pemasaran tiga.

Pada saluran satu dan dua tengkulak tidak melakukan fungsi pengemasan dan

penyimpanan. Pedagang besar hanya melakukan fungsi pengangkutan dan

pengemasan pada saluran dua.

Pedagang pengecer pada saluran satu adalah pedagang tradisional dan

toko-toko buah, sedangkan pada saluran dua adalah swalayan, pada saluran tiga

yang dimaksud dengan pedagang pengecer adalah pedagang tradisional. Pada

saluran empat pedagang pengecer adalah toko buah, sedangkan pada saluran lima

pedagang pengecer yang dituju adalah swalayan. Supplier dalam saluran

pemasaran dua dan lima tidak melakukan fungsi pengemasan dan penyimpanan

karena belimbing sudah di kemas baik oleh Puskop maupun pedagang besar.

Setelah belimbing tiba di gudang supplier setelah itu dilakukan penataan dan

langsung dibawa pada hari yang sama ke swalayan. Puskop melakukan

pengemasan dan sortasi di kantor Puskop, walaupun sortasi sudah dilakukan di

tingkat petani.

6.3. Analisis Struktur Pasar

Produsen dan konsumen yang terlibat dalam proses pemasaran suatu

komoditi harus mengetahui dan memahami struktur pasar agar pelaku pasar dapat

bertindak secara efisien dalam pemasaran. Faktor yang menentukan struktur pasar

131

adalah jumlah pembeli dan penjual yang terlibat, sifat produk yang dipasarkan,

kondisi untuk keluar masuk pasar dan informasi pasar berupa biaya, harga dan

kondisi pasar.

6.3.1 Petani

Jumlah pembeli yang banyak dan produk yang dijual homogen, serta

adanya hambatan bagi petani untuk keluar pasar karena adanya hubungan bisnis

yang erat dengan tengkulak menyebabkan struktur pasar yang dihadapi petani

mengarah pada pasar oligopoli. Di lokasi penelitian terdapat sembilan tengkulak,

dan banyak pedagang pengecer yang menggambarkan bahwa pelaku pembelian

belimbing relatif banyak. Penentuan harga belimbing oleh tengkulak berdasarkan

harga yang berlaku di pasar. Informasi harga yang dimiliki petani yang menjual

belimbing kepada tengkulak dan pedagang pengecer tradisional dirasakan kurang.

Petani umumnya hanya mendapatkan informasi harga dari tengkulak dan teman

sesama petani, sedangkan bagi petani yang menjual langsung ke Puskop, mereka

mengetahui informasi pasar dengan baik karena mereka memiliki koordinator

wilayah yang juga merupakan petani yang survey langsung ke pasar, kemudian

informasi pasar tersebut di sampaikan saat rapat anggota di kelompok tani

masing-masing maupun saat di Puskop, sehingga petani memiliki daya tawar,

jaringan dan strategi pemasaran yang kuat.

6.3.2 Pedagang Pengumpul (Tengkulak)

Struktur pasar yang dihadapi oleh tengkulak mengarah pada oligopoli

murni karena jumlah tengkulak yang sedikit, tengkulak tidak bebas untuk

menentukan harga, walaupun harga berdasarkan negosiasi namun seringkali harga

ditentukan oleh pedagang besar. Mudah tidaknya bagi tengkulak untuk memasuki

132

Puskop melakukan differensiasi produk berdasarkan ukuran berat yang dibagi ke dalam tiga kelas yaitu grade A. Artinya besarnya omset penjualan berimplikasi pada besarnya modal yang menyebabkan tengkulak dapat bertahan lama di pasar. Hambatan untuk memasuki pasar bagi tengkulak termasuk tinggi karena tengkulak di masing-masing kecamatan telah memiliki petani langganan sehingga petani tidak menjual belimbing ke tengkulak yang bukan langganannya. Namun tidak selalu kondisi ini berlaku karena dalam keadaan normal jika permintaan akan belimbing rendah. B dan C. walaupun modal yang dimiliki tengkulak besar maka omset penjualan akan rendah.3.pasar dapat dilihat dari sisi ekonomis yaitu besarnya kisaran omset penjualan dan modal yang dimiliki tengkulak. berarti tengkulak memiliki modal yang besar dan bila penjualan belimbing rendah berarti tengkulak memiliki modal yang rendah. Informasi pasar diperoleh tengkulak langsung dari pasar maupun dari sesama tengkulak. Bila kisaran omset penjualan tengkulak tinggi. Jumlah koperasi belimbing di Kota Depok hanya satu yaitu di Kecamatan Sawangan. Mudah tidaknya koperasi untuk memasuki pasar dilihat dari sisi non ekonomis 133 . 6. Pembagian kelas produk ini mengakibatkan adanya perbedaan harga pada masing-masing kelas produk. karena jumlah petani yang banyak.3 Pusat Koperasi Belimbing Dewa Struktur pasar yang dihadapi oleh Puskop adalah struktur pasar oligopoli. Tengkulak membutuhkan modal yang cukup besar dan pengalaman berjualan agar usahanya dapat berjalan dengan lancar. Puskop juga melakukan diskriminasi harga yaitu menjual produk yang sama pada tingkat harga yang berbeda dan pada pasar yang berbeda.

berarti pedagang besar memiliki modal yang besar dan bila penjualan belimbing rendah berarti pedagang besar memiliki modal yang rendah.4 Pedagang Besar Pedagang besar yang menjadi responden adalah pedagang besar yang berasal dari Pasar Induk Keramat Jati dan Pasar Minggu Jakarta Selatan. Sisi ekonomis yaitu besarnya kisaran omset penjualan dan modal yang dimiliki pedagang besar. Mudah tidaknya bagi pedagang besar untuk memasuki pasar dapat dilihat dari dua sisi yaitu sisi ekonomis dan sisi non ekonomis.karena koperasi adalah lembaga non keuangan yang tidak berorientasi pada keuntungan namun pada kesejahteraan anggotanya. Pedagang besar melakukan differensiasi produk.3. Sisi non ekonomis terkait dengan perijinan dari pemerintah setempat. 6. walaupun modal yang dimiliki pedagang besar besar maka omset penjualan akan rendah. Namun tidak selalu kondisi ini berlaku karena dalam keadaan normal jika permintaan akan belimbing rendah. Bila kisaran omset penjualan pedagang besar tinggi. Jumlah pedagang yang menjadi responden masing-masing satu orang. Artinya besarnya omset penjualan berimplikasi pada besarnya modal yang menyebabkan pedagang besar dapat bertahan lama di pasar. karena produk yang ia jual tidak hanya 134 . Strukur pasar yang dihadapi oleh pedagang besar adalah struktur pasar oligopoli karena jumlah pedagang besar lebih sedikit dibanding dengan jumlah pedagang pengecer selain itu terdapat hambatan yang tinggi untuk dapat keluar masuk pasar karena diperlukan modal yang besar dan jaringan dengan tengkulak dan pelanggan (supplier dan pedagang pengecer) yang kuat. Sisi non ekonomis dilihat dari mudah tidaknya untuk memperoleh tempat dan perijinan.

Khusus belimbing. namun ada jenis buah-buahan lain. Jumlah pedagang pengecer belimbing cukup banyak namun yang diambil menjadi responden penelitian ini 135 . Sisi ekonomis yaitu besarnya kisaran omset penjualan dan modal yang dimiliki supplier. 6. Bila kisaran omset penjualan supplier tinggi. Supplier melakukan differensiasi produk berdasarkan ukuran berat yang dibagi ke dalam tiga kelas yaitu grade A. Pembagian kelas produk ini mengakibatkan adanya perbedaan harga pada tiap-tiap kelas produk. Di Kota Depok hanya terdapat dua supplier belimbing. B dan C.6 Pedagang Pengecer Struktur pasar yang dihadapi oleh pedagang pengecer selaku penjual mengarah pada persaingan monopolistik karena jumlah pembeli dan penjual yang banyak.3. pengetahuan pedagang pengecer yang tinggi. Mudah tidaknya bagi supplier untuk memasuki pasar dapat dilihat dari dua sisi yaitu sisi ekonomis dan sisi non ekonomis.5 Supplier Struktur pasar yang dihadapi oleh supplier adalah oligopoli differensiasi karena jumlah supplier yang sedikit dan jumlah produk yang dipasok supplier bergam tidak hanya belimbing varietas Dewa Baru. Bagi supplier baru dirasakan cukup sulit untuk keluar masuk pasar karena diperlukan modal yang besar selain itu ke dua supplier ini telah memiliki jaringan yang kuat di Kota Depok baik terhadap pedagang besar maupun pelanggan. 6. sulitnya untuk keluar dan masuk pasar. serta adanya diferensiasi produk.berkonsentrasi pada belimbing.3. berarti supplier memiliki modal yang besar dan bila penjualan belimbing rendah berarti supplier memiliki modal yang rendah. pedagang besar tidak hanya menjual jenis Belimbing Dewa. namun ada beberapa jenis belimbing lainnya.

4. sistem penentuan harga serta kerjasama diantara lembaga tataniaga. Tabel 22. Mudah tidaknya untuk keluar masuk pasar bagi pedagang pengecer sama yaitu dari segi modal. Ringkasan mengenai struktur pasar Belimbing Dewa yang terjadi pada lembaga sebagai penjual yang terlibat dalam pemasaran belimbing di Kecamatan Pancoran Mas dapat dilihat pada Tabel 22. namun ada jenis buah-buahan lain. Analisis Perilaku Pasar Analisis perilaku pasar Belimbing Dewa dapat diketahui dengan mengamati praktek pembelian dan penjualan.hanya berjumlah tiga orang. pedagang pengecer tradisional tidak hanya menjual Belimbing Dewa. tempat dan perijinan. produk yang ia jual tidak hanya berkonsentrasi pada belimbing. Pedagang pengecer melakukan differensiasi produk. Banyak Sedikit Satu Sedikit Sedikit Banyak Penjual Hambatan 3.Besar Supplier Pengecer Jumlah 1. Khusus belimbing. namun ada beberapa jenis belimbing lainnya. Struktur Pasar Belimbing Dewa dilihat dari Sisi Pembeli dan Penjual di Kecamatan Pancoran Mas. Kota Depok Tahun 2008 Lembaga No Karakteristik Pedagang Petani Tengkulak Puskop Ped. dua orang berasal dari pasar tradisional Depok 1 dan satu respoden toko buah fress-e. Informasi Rendah Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Rendah Pasar Persaingan Oligopoli Struktur Pasar Oligopoli Oligopoli Oligopoli Oligopoli Mono- Diferensiasi polistik 6. Sifat Produk Homogen Homogen Homogen Heterogen Heterogen Heterogen Pengetahuan 5. 136 . Banyak Banyak Banyak Banyak Banyak Banyak Pembeli Jumlah 2. Sedangkan responden toko buah menjual belimbing hanya dari jenis Belimbing Dewa. Keluar/ Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Masuk Pasar 4.

Petani yang menjual belimbing ke puskop.4. karena petani hanya sebagai penerima harga. 137 .000-Rp. penentuan harga dilakukan secara negosiasi. dalam hal ini posisi tengkulak kuat dalam menentukan harga pembelian.000/Kg.4. Pembayaran yang dilakukan pedagang pengecer adalah tunai. di sini petani sebagai anggota koperasi memiliki posisi tawar yang kuat. Sistem penentuan harga belimbing antara petani dan tengkulak dilakukan dengan cara tawar- menawar. Pembayaran dari tengkulak ke petani dilakukan secara berangsur selama satu minggu dalam dua kali pembayaran.6. sedangkan buah yang berukuran sedang dan bentuknya kurang bagus dihargai Rp50.000/keranjang.8 Praktek Pembelian dan Penjualan serta Sistem Penentuan Harga di Tingkat Petani Petani menjual belimbing kepada tengkulak ataupun Puskop langsung dari kebun milik petani. Sebagian besar petani (52.6. belimbing yang berukuran besar akan dihitung per kilogram yaitu sekitar Rp5.5 persen dari total petani responden) menjual belimbing ke tengkulak. sistem penentuan harga dilakukan secara negosiasi. Harga yang ditetapkan tengkulak berdasarkan ukuran dan bentuk. sedangkan penjualan ke pedagang pengecer dilakukan di tempat pedagang pengecer (pasar tradisional). 6.9 Praktek Pembelian dan Penjualan serta Sistem Penentuan Harga di Tingkat Pedagang Pengumpul (Tengkulak) Tengkulak melakukan pembelian belimbing langsung dari kebun petani. Petani yang langsung menjual ke pedagang pengecer. namun petani tidak memiliki kekuasaan untuk menentukan harga. biasanya harga sudah di negosiasikan sebelum belimbing di antar oleh petani ke kios pedagang pengecer. Keranjang tersebut berdiameter setengah meter dengan muatan berkapasitas 25-30 Kg atau sekitar 150-200 buah belimbing.

4. Sistem pembayaran belimbing dari pedagang besar ke tengkulak dilakukan secara tunai. 6. Pembayaran belimbing oleh tengkulak ke petani dilakukan secara berangsur dalam waktu satu minggu dengan dua kali pembayaran. Sistem penentuan harga antara tengkulak dengan petani dilakukan dengan tawar-menawar walaupun keputusan akhirnya seringkali diputuskan oleh tengkulak.000/Kg. grade C kurang dari 150 gram atau buah cacat dibeli dengan harga Rp. dan C berdasarkan berat dan bentuk.000-Rp. Harga belimbing di tingkat tengkulak ditentukan oleh pedagang besar berdasarkan harga yang berlaku di pasar. petani kemudian akan diberikan faktur penjualan yang berisi berapa jumlah belimbing masing-masing grade dan faktor koreksi grade (yang dilakukan oleh petani dengan yang dilakukan Puskop) yang pada akhirnya akan menentukan 138 .10 Praktek Pembelian dan Penjualan serta Sistem Penentuan Harga di Tingkat Pusat Koperasi Belimbing Dewa Pembelian dilakukan langsung di kebun petani. Penjualan ditujukan ke pedagang besar dan supplier.000-Rp. dimaksudkan agar kesegaran tetap terjaga.000/Kg dan .000/Kg dan dijual oleh Puskop seharga Rp8. dibeli dari petani dengan harga Rp5. grade B berbobot 150-250 gram. Grade A berbobot diatas 250 gram dibeli dari petani dengan harga Rp6.7.6.000/Kg dan di jual dengan harga Rp 9.000/Kg. Sistem penentuan harga antara tengkulak dengan pedagang besar dilakukan secara tawar- menawar.000/Kg dan dijual dengan harga Rp 5. B.4. Belimbing yang dibeli dari petani akan dikelompokkan kedalam kelas A.Pembayaran belimbing ke petani dilakuan secara berangsur selama satu minggu dalam dua kali pembayaran. Pembelian belimbing ke petani dilakukan secara tunai oleh koperasi. yaitu setelah Puskop melakukan grading.

139 . Sistem penentuan harga antara Puskop dengan pedagang pengecer dilakukan secara negosiasi. Grade A dan B akan di jual ke supplier dan toko buah. Sistem penentuan harga yang terjadi antara pedagang besar dengan supplier dilakukan secara sepihak. Puskop yang mendapat pesanan dari supplier akan langsung membeli belimbing ke petani dan pada hari yang sama setelah dilakukan pengemasan langsung diantarkan ke gudang milik supplier.4. Sistem penentuan harga antara supplier dengan Puskop dilakukan dengan sepihak. Pembelian dilakuan secara tunai (pedagang pasar induk) dan tidak tunai (pedagang pasar minggu) atau ada selang waktu beberapa hari.11 Praktek Pembelian dan Penjualan serta Sistem Penentuan Harga di Tingkat Pedagang Besar Pembelian belimbing dari tengkulak oleh pedagang besar dilakukan melalui pesanan lewat telepon dan penyerahannya dilakukan di tempat pedagang besar (pasar). 6. Penjualan utama belimbing ditujukan ke supplier. Sehingga biaya pengangkutan ditanggung oleh tengkulak. Belimbing yang sudah dibeli kemudian di jual ke pedagang pengecer dan supplier. Sistem pembayaran yang dilakukan oleh supplier ke pedagang besar secara tunai. Penentuan harga yang terjadi antara pedagang besar dengan pedagang pengecer dilakukan secara tawar-menawar. artinya pedagang besar menerima harga yang ditetapkan oleh supplier. Sistem pembayaran pedagang pengecer ke pedagang besar dilakukan secara tunai.berapa jumlah uang yang diterima petani. Sistem pembayaran belimbing dari pedagang pengecer ke Puskop dilakukan secara berangsur. sedangkan grade C akan di jual ke usaha pengolahan belimbing. artinya puskop menerima harga sesuai dengan ketentuan supplier. Pembayaran belimbing oleh supplier ke koperasi dilakukan secara tunai dengan kontrak kerjasama yang telah disepakati.

Penjualan yang dilakukan CV.4. Pembelian dari petani diantar langsung oleh petani sehingga pedagang pengecer tradisional tidak mengeluarkan biaya angkut. Sistem penentuan harga antara supplier dengan pedagang besar dan Puskop dilakukan dengan sepihak. supplier menetapkan standarisasi tertentu terhadap belimbing yang akan dibeli.4.13 Praktek Pembelian dan Penjualan serta Sistem Penentuan Harga di Tingkat Pedagang Pengecer Pedagang pengecer yang menjadi responden terdiri dari pedagang pengecer tradisional dan toko buah.6. Sistem penentuan harga antara supplier dengan pedagang pengecer moderen (swalayan) dilakukan secara negosiasi. Pembelian belimbing dari pedagang besar dilakukan dengan mendatangi kios milik pedagang besar di pasar sehingga pedagang pengecer tradisional mengeluarkan biaya angkut. Belimbing yang cacat akibat resiko selama pengangkutan akan dikembalikan oleh supplier. Pedagang pengecer tradisional mendapatkan belimbing dari pedangang besar dan petani belimbing. artinya pedagang besar dan Puskop menerima harga sesuai dengan ketentuan supplier. 6. Prima Jaya adalah ke beberapa gudang-gudang swalayan di Jabodetabek. Dalam pembelian belimbing. Pembayaran belimbing oleh supplier ke pedagang besar dan Puskop dilakukan secara tunai dengan kontrak kerjasama yang telah disepakati. Pembelian belimbing dari pedagang pengecer toko buah ke Puskop melalui pesanan yang diantarkan oleh 140 . setelah itu supplier akan memberikan faktur pembelian.12 Praktek Pembelian dan Penjualan serta Sistem Penentuan Harga di Tingkat Supplier Pembelian dilakukan secara tunai. Sistem pembayaran belimbing dari swalayan ke supplier dilakukan kredit. supplier akan memesan kepada Puskop maupun pedagang besar.

Kerjasama tengkulak dengan pedagang besar adalah dalam penyediaan belimbing. Pedagang pengecer tradisional melakukan pembelian secara tunai baik ke petani maupun ke Puskop dan pedagang besar.14 Kerjasama antar Lembaga pemasaran Kerjasama antara lembaga pemasaran belimbing sangat diperlukan dalam mendistribusikan belimbing dari petani hingga ke konsumen. Misalkan dalam satu minggu Puskop mengirim sebanyak tiga kali (Senin-Rabu-Jumat). sehingga pedagang pengecer toko buah tidak mengeluarkan biaya angkut.4. Petani diberikan pembinaan mengenai budidaya belimbing yang sesuai Standar Operasional Prosedur sehingga menghasilkan belimbing yang 141 . kerjasama yang terjadi antara petani dan Puskop lebih terorganisir. Bagi pedagang pengecer (toko buah) pembelian kepada Puskop dilakukan secara kredit dengan kontrak penjualan yang telah disepakati bersama. selain itu tengkulak juga memberikan bantuan pinjaman modal baik dalam bentuk uang tunai maupun sarana produksi. Sistem penentuan harga antara pedagang pengecer dengan Puskop dan pedagang besar dilakuan secara negosiasi. 6. demikian seterusnya. maka toko buah akan membayar pembelian hari Senin di hari Rabu dan pembelian di hari Rabu di bayar pada hari Jumat. Kedekatan ini membuat petani enggan menjual hasil taninya ke pihak lain. Kerjasama antara petani dan tengkulak dilakukan dalam kegiatan penjualan dan pembelian hasil panen petani dimana petani tidak perlu melakukan proses pengangkutan hasil panen.Puskop. Kerjasama tersebut sudah terjalin baik secara bertahun-tahun. Kerjasama petani dengan pedagang pengecer hanya sebatas penyediaan belimbing. Sedangkan responden pedagang pengecer yang berasal dari toko buah membeli belimbing hanya dari Puskop.

1. Total marjin pemasaran merupakan penjumlahan 142 . Puskop dituntut untuk selalu tepat waktu dan kontinyu dalam memasok belimbing baik ke supplier maupun toko buah.5. supplier dan pedagang pengecer saling menjaga kepercayaan agar hubungan bisnis yang terjadi bisa terus dipertahankan. Kerjasama yang baik ini juga merupakan dukungan pemerintah setempat yang ingin mengangkat Belimbing Dewa sebagai icon yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Keragaan Pasar 6. petani mengetahui informasi pasar yang baik karena Puskop membentuk koordinator wilayah yang mewakili beberapa kelompok tani yang bertugas untuk riset pasar.5. selain itu pedagang bertanggung jawab terhadap pengemasan dan kualitas belimbing yang akan dipasok ke supplier sesuai standarisasi yang ditetapkan supplier. Petani menaruh harapan besar ke Puskop. kini Belimbing Dewa dengan perlakuan yang sesuai SOP dan target pasar yang tepat membuat Belimbing Dewa menjadi sasaran menengah ke atas. dengan adanya Puskop. 6. Pedagang besar yang menjual belimbing ke supplier harus senantiasa menjaga kontinuitas pengiriman belimbing.berkualitas yang akan meningkatkan pendapatan petani. petani memiliki jaringan yang kuat dengan pihak ke tiga dalam hal ini adalah pasar sasaran puskop. Kerjasama pedagang besar dengan supplier dan pedagang pengecer adalah dalam hal penyediaan belimbing. Kerjasama Puskop dengan supplier dan pedagang pengecer adalah dalam penyediaan belimbing yang sudah dikemas dan dilakukan gradding. Belimbing Dewa mulai dikenal pasar moderen. dan senantiasa menjaga kepercayaan dari supplier. Puskop. Marjin Pemasaran Marjin pemasaran merupakan selisih antara harga jual dan harga beli pada setiap lembaga pemasaran.

140. biaya pemasaran yang dikeluarkan terdiri dari biaya panen Rp300/Kg. sortasi. pengemasan.33 persen (Tabel 23). sewa tempat Rp85. Biaya pemasaran terbesar ditanggung oleh pedagang pengecer pasar moderen (swalayan) sebesar Rp925/Kg Keuntungan dan marjin pemasaran terbesar diperoleh supplier masing-masing sebesar Rp2. Pada saluran pemasaran satu. sehingga total biaya pemasaran berjumlah Rp1. pengemasan Rp560/Kg. sewa tempat. retribusi Rp100/Kg. dan penyusutan Rp240/Kg. biaya pemasaran yang dikeluarkan terdiri dari biaya pengangkutan Rp595/Kg. sewa tempat Rp325.seluruh biaya pemasaran dengan keuntungan yang diambil oleh lembaga pemasaran. penyusutan. biaya pemasaran yang dikeluarkan terdiri dari biaya pengangkutan Rp350/Kg.298/Kg (Lampiran 4). Biaya pemasaran terbesar ditanggung oleh pedagang pengecer sebesar Rp633/Kg dan keuntungan dan marjin pemasaran terbesar terdapat pada pedagang pengecer yaitu sebesar Rp2. pengemasan Rp180/Kg.60/Kg. sortasi Rp70/Kg. biaya pengangkutan Rp200/Kg. pengangkutan. sortasi Rp. retribusi Rp400/Kg.367/Kg dan sebesar 27. Biaya pemasaran Belimbing Dewa terdiri dari biaya panen. Pada saluran pemasaran ke dua. pengemasan Rp120/Kg.27 persen (Tabel 23). sehingga total biaya 143 . retribusi. sewa tempat Rp. bonkar muat Rp175/Kg. Marjin pemasaran terdiri dari dua komponen yaitu biaya pemasaran dan keuntungan pemasaran. bonkar muat. retribusi Rp150/Kg. sehingga total biaya pemasaran berjumlah Rp2. dan penyimpanan. sortasi Rp340. penyimpanan Rp30/Kg. penyimpanan Rp60/Kg. bonkar muat Rp100/Kg. penyimpanan Rp60/Kg. Pada saluran pemasaran ke tiga.695/Kg (Lampiran 5). dan penyusutan Rp233/Kg. dan penyusutan Rp233/Kg.955/Kg dan 23.

retribusi Rp350/Kg.pemasaran berjumlah Rp1. penyimpanan Rp60/Kg dan penyusutan Rp240/Kg.45 persen (Tabel 23).201/Kg. bonkar muat Rp100/Kg. Marjin pemasaran pedagang pengecer sebesar 45. sehingga total biaya pemasaran berjumlah Rp964/Kg (Lampiran 7). biaya pemasaran yang dikeluarkan terdiri dari biaya pengangkutan Rp200/Kg. sewa tempat Rp30/Kg.74 persen (Tabel 23).93 persen (Tabel 23).2. total biaya pemasaran tertinggi terdapat pada saluran pemasaran dua sebesar Rp2. Biaya pemasaran terbesar ditanggung oleh Puskop sebesar Rp870/Kg dan keuntungan terbesar diperoleh petani sebesar Rp3.630/Kg dan keuntungan terbesar diperoleh pedagang pengecer sebesar Rp4. sortasi Rp270/Kg. sortasi Rp70/Kg. biaya pemasaran yang dikeluarkan terdiri dari biaya pengangkutan Rp445/Kg. pengemasan Rp500/Kg. sewa tempat Rp300/Kg. Biaya pemasaran terbesar ditanggung oleh pedagang pengecer moderen (swalayan) sebesar Rp925/Kg dan keuntungan terbesar diperoleh petani sebesar Rp3. Pada saluran pemasaran ke lima. pengemasan Rp500/Kg. Secara keseluruhan pada saluran pemasaran satu sampai lima. Pada saluran pemasaran ke empat.695/Kg dan 144 .113/Kg (Lampiran 6). retribusi Rp15/Kg. bonkar muat Rp175/Kg.340/Kg (Lampiran 8). dan penyusutan Rp9/Kg. Nilai marjin pemasaran Puskop dan pedagang pengecer (toko buah) sama sebesar 21. sehingga total biaya pemasaran berjumlah Rp. Marjin pemasaran terbesar terdapat pada pedagang pengecer (swalayan) sebesar 25.080/Kg.517/Kg. penyimpanan Rp40/Kg. Biaya pemasaran terbesar ditanggung oleh petani sebesar Rp.

Marjin pemasaran Belimbing Dewa dianalisis berdasarkan lima pola saluran pemasaran yang terbentuk.67 persen. Rincian harga jual produsen dan marjin pemasaran Belimbing Dewa masing-masing lembaga pada setiap saluran pemasaran dapat di lihat pada Tabel 23. Besarnya marjin pemasaran pada setiap lembaga pemasaran tidak sama untuk setiap saluran pemasaran yang dilaluinya.48 persen). Hal ini disebabkan karena volume penjualan melalui saluran lebih besar diantara saluran pemasaran lainnya yaitu sebesar 59. Perbedaan tersebut disebabkan karena biaya pemasaran yang dikeluarkan dan keuntungan yang diperoleh masing- masing lembaga pemasaran berbeda.terbesar digunakan untuk biaya pengemasan sebesar Rp500 (21 persen dari total biaya pengemasan).904 Kg/panen atau sebesar 72 persen dari total volume penjualan. yang juga menyebabkan perbedaan harga penjualan. Jika dilihat dari analisis marjin pemasaran maka saluran pemasaran empat merupakan saluran yang efisien karena memiliki total marjin pemasaran terkecil sebesar Rp5000/Kg (43.000/Kg atau sebesar 66. Berdasarkan analisis marjin pemasaran pada Tabel 23 saluran pemasaran dua adalah merupakan saluran pemasaran yang memiliki total marjin terbesar dibandingkan saluran pemasaran lainnya yaitu sebesar Rp10. 145 . Distribusi marjin yang menyebar tidak merata pada setiap saluran menunjukkan bahwa pemasaran Belimbing Dewa di Kecamatan Pancoran Mas belum efisien.

81 Harga Jual 9.000 54.04 Keuntungan 2.081 22.Tabel 23.000 13.130 8.99 3.00 13.000 78.500 56.000 80.05 895 5.18 2.500 48.955 19.500 62.075 13.000 46.036 35.000 14.695 17.500 100.000 9.000 45.500 21.73 0 0 0 0 Keuntungan 1.05 605 4.19 Pedagang Pengecer Harga Beli 8.03 Marjin 1.26 10.10 6.000 33.97 1.500 21.67 Puskop Harga Beli 6. Marjin Pemasaran Belimbing Dewa Pada Saluran 1.63 545 4.000 46.55 10.55 9.19 Marjin 3.44 Keuntungan 1.75 925 6.500 23.74 3.500 62.113 10.000 27.000 66.45 2.00 6.328 30.45 5.500 25.000 18.55 6.500 85.64 7.419 25.96 Biaya Pemasaran 545 3.00 15.96 Ped.67 5.56 3.160 45.85 Keuntungan 2.575 19.75 7.2.305 48.46 1.33 Harga Jual 7.70 2.07 Marjin 3.18 1.500 56.45 5.06 2.33 6.37 Marjin 2.000 80.500 48.79 3.12 964 8.500 56.000 45.000 43.702 42.33 Total Keuntungan 4.00 11.83 4.99 3.517 41.500 62.000 22.00 11.57 870 6.25 3.406 20.299 21.73 12.52 6.26 8.670 15.73 3.000 74.00 Harga Jual 8.67 Biaya Pemasaran 335 3.455 18.517 41.042 18.367 21.64 7.45 5.500 56.67 Supplier Harga Beli 8.701 15.000 54.00 Total Biaya Pemasaran 1.419 29.701 11.17 483 4.000 72.07 Biaya Pemasaran 633 5.15 Pedagang Pengumpul Harga Beli 5.500 100.70 4.3.82 925 6.20 Keuntungan 1.000 100.000 63.000 100.000 78.000 54.00 11.15 Biaya Pemasaran 870 7.93 Harga Jual 11.63 Total Marjin 6.500 10.92 2.74 2. dan 5 di Kecamatan Pancoran Mas Tahun 2008 Saluran Pemasaran 1 2 3 4 5 Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Uraian % % % % % (Rp/Kg) (Rp/Kg) (Rp/Kg) (Rp/Kg) (Rp/Kg) Petani Biaya Produksi 3.4.38 2.33 3.27 3.73 8. Besar Harga Beli 7.48 8.13 Marjin 2.96 146 .09 1.000 100.081 26.000 33.670 11.00 5.630 14.39 94 0.000 45.52 2.33 Biaya Pemasaran 0 0 0 0 630 5.000 20.22 Harga Jual 12.000 63.299 29.97 Keuntungan 665 6.000 72.52 6.340 17.34 2.06 4.17 1.80 2.000 45.67 8.00 330 2.298 11.82 Harga Jual 5.33 Biaya Pemasaran 330 3.

Analisis Farmer’s Share pada Saluran pemasaran Belimbing Dewa di Kecamatan Pancoran Mas Tahun 2008 Saluran Pemasaran Harga di Tingkat Harga di Tingkat Farmer’s Share Petani (Rp/Kg) Konsumen (Rp/Kg) (%) I 5.52 V 6.45 II 5.500 11. Sedangkan saluran satu dan tiga dan lima masing-masing memberi memberi bagian harga untuk petani dengan selisih yang tidak jauh berbeda.500 48.33 III 6. Saluran dua adalah saluran yang memberikan bagian harga terkecil untuk petani sebesar 33. artinya produsen menerima harga sebesar 56.6. 83 92 .15 Farmer’s share tertinggi terdapat pada saluran pemasaran empat yaitu sebesar 56. Selain itu saluran pemasaran empat memperoleh total marjin pemasaran terkecil. Farmer’s share berhubungan terbalik dengan marjin pemasaran.93 persen. sedangkan saluran lima memiliki total keuntungan yang lebih besar yaitu 69.34 persen.500 56. namun saluran empat belum dapat dikatakan efisien karena total keuntungannya hanya sebesar 62.000 45.52 persen.55 IV 6. Jika dinilai dari total marjin pemasaran dan farmer’s share maka saluran empat merupakan saluran pemasaran yang paling efisien.5.000 11.000 54.000 33.000 11.000 15.2 Farmer’s Share Farmer’s share merupakan perbandingan harga yang diterima petani dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen akhir dan sering dinyatakan dalam bentuk persen. Tabel 24. artinya semakin tinggi marjin pemasaran maka akan semakin rendah farmer’s sharenya.52 persen dari harga yang dibayarkan konsumen.33 dari harga yang dibayar konsumen.500 13. Besarnya bagian yang diterima petani Belimbing Dewa dapat dilihat pada Tabel 24.

Nilai π/C tertinggi terdapat pada saluran pemasaran empat yaitu sebesar 7. Berdasarkan Tabel 25 total π/C pada setiap saluran pemasaran Belimbing Dewa memiliki nilai lebih besar dari satu. hal ini menunjukkan bahwa kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh lembaga pada masing-masing saluran sudah memberikan keuntungan.51/Kg.3.5. yaitu dengan biaya sebesar Rp25. selain itu total biaya pemasaran pada saluran pemasaran tiga lebih rendah dari total biaya di saluran pemasaran satu. artinya jika lembaga pemasaran pada saluran pemasaran ke empat mengeluarkan biaya sebesar Rp. harga di tingkat konsumen adalah sama sebesar Rp11.60/Kg hal ini dikarenakan biaya angkut yang ditanggung petani dan tidak ada perlakuan khusus yang dilakukan pedagang pengecer dalam rangka menambah nilai guna Belimbing Dewa. Rasio Keuntungan Terhadap Biaya Analisis keuangan per biaya dapat digunakan untuk mengetahui apakah kegiatan pemasaran yang dilakukan memberikan keuntungan kepada pelaku pemasaran.60.51. sebaliknya jika nilai π/C kurang dari satu (π/C<1) maka kegiatan tersebut tidak memberikan keuntungan.1/Kg maka keuntungan yang diperoleh sebesar Rp7.000 namun bagian harga yang diterima petani lebih besar pada saluran tiga dengan selisih 3.60/Kg maka keuntungan yang diperoleh sebesar Rp 25. Pada saluran pemasaran satu dan tiga.36 persen hal ini dikarenakan harga jual di tingkat petani pada saluran tiga lebih besar dari harga jual di tingkat petani pada saluran pemasaran satu. 6. 93 . Rasio keuntungan-biaya terbesar pada saluran empat diperoleh pedagang pengecer sebesar 25. Jika nilai π/C lebih dari satu (π/C >1) maka kegiatan pemasaran tersebut menguntungkan.

Pengecer 2.Tabel 25. Pengecer (Swalayan) 2.403 1.406 94 25.517 483 9.35 Total 6. Pengumpul 670 330 2.50 Ped. sedangkan rasio keuntungan terhadap biaya juga menunjukkan saluran pemasaran empat telah memberikan keuntungan pada setiap lembaga yang terlibat dibanding dengan saluran pemasaran lainnya.34 Saluran III Petani 2.695 3. Besar 1. Pengecer Moderen 2. Besar 1.630 870 1.361 2.367 633 3.575 925 2.605 895 1.130 870 1. pada saluran ini petani mendapatkan bagian terbesar yang dianalisis dengan farmer’s share. 94 .03 Ped. Pengecer 4.42 Ped.201 0 - Pusat Koperasi 1. Pengecer 2.92 Saluran IV Petani 3. Pengumpul 670 330 2.6.29 Ped.74 Total 6.93 Saluran II Petani 1. Alternatif Saluran Pemasaran Berdasarkan analisis marjin pemasaran saluran pemasaran Belimbing Dewa yang paling efisien adalah saluran pemasaran empat.78 Total 9.071 630 3.113 5.075 925 2.201 0 - Pusat Koperasi 1.87 Ped.79 Supplier 2.701 0 - Ped.00 6.588 1.455 545 4.03 Ped.237 964 7.665 335 4. Analisis Rasio Keuntungan terhadap Biaya pada Lembaga pemasaran Belimbing Dewa di Kecamatan Pancoran Mas Tahun 2008 Keuntungan Lembaga Pemasaran Biaya (Rp/Kg) B/C (Rp/Kg) Saluran I Petani 1.51 Saluran V Petani 3.701 0 - Ped.60 Total 7.006 2.97 Ped.340 4.955 545 5.30 Supplier 2.298 4.24 Total 9.

95 . dengan harga jual yang relatif lebih tinggi dari pada menjual ke tengkulak atau langsung ke pedagang pengecer. Potensi pasar pada saluran pemasaran empat terbuka luas bagi setiap petani di lokasi penelitian untuk memasarkan produknya melalui Puskop. Petani pada saluran pemasaran empat dapat mengakses informasi pasar dengan baik. memiliki posisi tawar dan jaringan yang kuat.

Puskop. pedagang besar. VII. fungsi fasilitas berupa kegiatan standarisasi dan sortasi. fungsi fisik berupa kegiatan pengemasan. Fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan oleh setiap lembaga yaitu fungsi pertukaran berupa pembelian dan penjualan. Sehingga pemasaran Belimbing Dewa di Kecamatan Pancoran Mas dapat dikatakan belum efisien. 2. Struktur yang dihadapi petani dan tengkulak dilihat dari sisi pembeli adalah oligopoli.1. pengangkutan dan penyimpanan. KESIMPULAN DAN SARAN 7. fungsi penanggungan resiko dan fungsi informasi pasar. Struktur pasar yang dihadapi oleh pedagang pengecer adalah persaingan monopolistik karena jumlah pembeli dan penjual yang banyak. pengetahuan pedagang pengecer yang tinggi. Lembaga pemasaran yang terlibat terdiri dari petani sebagai produsen. Penyebaran marjin yang tidak merata menunjukkan bahwa pemasaran yang terjadi belum efisien. tengkulak. suatu pemasaran 96 . Struktur pasar yang dihadapi oleh Puskop dilihat dari sisi penjual adalah struktur pasar oligopoli dikarenakan jumlah penjual yang banyak dan produk yang homogen. fungsi pembiayaan. Pemasaran Belimbing Dewa di Kecamatan Pancoran Mas terdiri dari lima saluran pemasaran. Kesimpulan 1. Sedangkan struktur pasar yang dihadapi oleh pedagang besar dan supplier masing-masing adalah oligopoli dan oligopoli diferensiasi. supplier dan pedagang pengecer. Seluruh struktur pasar yang dihadapi masing-masing lembaga adalah masuk ke dalam pasar persaingan tidak sempurna. sulitnya untuk keluar dan masuk pasar. serta adanya diferensiasi produk.

farmer’s share tertinggi dan juga kegiatan pemasaran pada saluran empat menguntungkan bagi setiap lembaga yang terlibat. farmer’s share dan rasio keuntungan terhadap biaya menunjukkan bahwa saluran pemasaran empat adalah saluran pemasaran yang paling efisien karena memiliki nilai marjin pemasaran terendah. Sistem penentuan harga di tingkat Puskop. sistem penentuan harga serta kerjasama diantara lembaga tataniaga.2. dikatakan efisien salah satunya adalah struktur pasar yang terbentuk adalah pasar persaingan sempurna. pedagang besar. jika untuk meningkatkan pendapatan petani saluran pemasaran empat dan lima merupakan alternatif saluran pemasaran yang dapat dipilih petani karena petani mendapatkan bagian terbesar pada saluran empat dan lima. 3. sehingga posisi tawar di tingkat petani menjadi kuat. Perilaku pasar secara umum dapat diketahui dengan mengamati praktek pembelian dan penjualan. Berdasarkan analisis marjin pemasaran. Saran 1. Saluran pemasaran empat dapat dijadikan alternatif saluran pemasaran yang dapat dipilih oleh setiap lembaga pemasaran. kualitas dan ketepatan waktu dalam pemasaran Belimbing Dewa. Petani memerlukan suatu wadah yang tidak hanya memasarkan hasil panen tetapi juga dapat memberikan kegiatan pembinaan baik dalam hal budidaya maupun dalam hal pemasaran. 7. supplier dan pedagang pengecer dilakukan secara tunai dan kerja sama yang terjadi antar lembaga pemasaran mencakup kontinuitas. Struktur pasar yang tidak bersaing sempurna menyebabkan penyebaran marjin pemasaran yang tidak merata pada setiap lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran Belimbing Dewa. 97 .

para pelaku pemasaran perlu memperhatikan jumlah pesaing. Untuk meningkatkan efisiensi harga. informasi pasar. Untuk meningkatkan efisiensi operasional. 98 .2. dan standarisasi produk. beberapa kegiatan peningkatan nilai tambah seperti pengolahan belimbing dirasakan perlu agar petani dan lembaga-lembaga lain yang terlibat bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar dan resiko akan kerusakan produk yang menyebabkan penyusutan bisa dikurangi.

Standar Operasional Prosedur Belimbing Dewa. Badan Pemerintahan Daerah. Kegiatan Pengembangan Usaha Produk Pertanian Perkotaan. DAFTAR PUSTAKA Azzaino. Subdit Teknologi Pengolahan Hasil Holtikultura. Depok. Mc. Jakarta. Erlangga. 2007. Macmillon. A. Jakarta. Inc. Kotler. United State. R. Profil Belimbing.. W. Kota Depok.L. 1977. D. Analysis of Potatoes Marketing Efficiency (A Case Study of Tulungrejo Village. P. 1982. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Hammond. 2006. and Jerome. Dinas Pertanian Kota Depok. Zulkifli. Perencanaan dan Pengendalian. Depok. Jilid 1. Potensi Investasi Hortikultura Kota Depok. Analisis Usahatani dan Pemasaran Belimbing Depok Varietas Dewa-Dewi (Averrhoa carambola L) (Kasus : Kecamatan Pancoran Mas. Depok Badan Pusat Statistik. New York. Tanaman Hias dan Biofarmaka. 2007. Jakarta. 2007. 2006. Perencanaan dan Pengendalian. Prenhallindo. Sayuran. Luas Panen dan Produktivitas Buah. Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Jakarta. Produksi. 99 . Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian DKI Jakarta. 2007. Provinsi Jawa Barat). Budidaya Belimbing Manis Secara Agribisnis di DKI Jakarta. Institut Pertanian Bogor. Laporan Akhir Kajian Usaha. Kusuma. Jakarta. Market and Price Analysis. Direktorat Jendral Bina Produksi Hortikultura. and Uhls. Husen. Departemen Pertanian. Wahib Muhaimin. _____. Depok dalam Angka 2003-2006. Pengantar Tataniaga Pertanian. 1983 Manajemen Pemasaran : Analisis. Skripsi Departemen Sosial Ekonomi Pertanian. Depok. M. Graw-Hill Book Company. C. Fourth Ed. 1999. Institut Pertanian Bogor. 2007. _____. H. _______. Poerwohadi Widjoyo 2007. Kohls. 1972. 2004. 2007. _____. Perkebunan. Dahl. I. dan Hortikultura. Bidang Tanaman Pangan. A. 2002 Manajemen Pemasaran : Analisis. Fakultas Pertanian. Jakarta. Marketing of Agricultural Products. The Agricultural Industries.. Edisi ke-4.

2002. Cetakan 3. Skripsi Departemen Ilmu Tanah.) (Studi Kasus di Desa Pandanrejo. Mei 2007. 9. 2007. Edisi 1. Agrise (Sosek Brawijaya). 2007. Vol. Fakultas Pertanian. Y. Prinsip Dasar Manajemen Hasil-hasil Pertanian: Teori dan Aplikasinya. E.. Studi Kasus Kotamadya Depok Propinsi Jawa Barat. RajaGrafindo Persada. Kota Batu). Juni 2006. 100 . E. Analisis Pemasaran dan Efisiensi Pemasaran Gelondong Jambu Mete di Kabupaten Sikkanusa Tenggara Timur. Jakarta. Supriyati. Hosang dan Ujang Ahyar Saputra. Sukartawi..2. Mushofa. Perubahan Penutupan/Penggunaan Lahan dalam Hubungannya dengan Kepadatan dan Pertumbuhan Penduduk serta Pendapatan Daerah. Kecamatan Bumiaji. Analisis Efisiensi Pemasaran Stroberi (Fragaria chiloensis L. Wahib Muhaimin dan Heru Santoso. Bumiaji District. Institut Pertanian Bogor. A. BBP2TT. Batu Regency). PT. Yusuf. No. 2005.

898 59.373 20. 2006 101 .576 110.664 58.426 82.665 1.177.860 67.437. Mangga 1.464 410.082 1. Melon 70.877 88.621. Sukun 62.261 78.957 221.683 19.599 16.463 2.902 566.320 178.171.435 14. Markisa 71.560 47.680 1.831 675.702 392. Belimbing 67.370 22.582 63. Durian 741.177.169 18.144 76.577 239.551. Sawo 83. Duku 232.117 64.412.857 675.994 73.155 4. Pisang 4.657 643.578 801. Blewah 31. Produksi Buah-buahan di Indonesia Tahun 2003-2006 Produksi (ton) No.708 Jumlah 13.441.130 Sumber : BPS.210 117.435 82.774 227.786.711 72.348.338 75.Lampiran 1.608 5.852 8.205 747.637 88. Komoditas 2003 2004 2005 2006 1.219 2. Jambu Biji 239.975 937.031 83. Alpukat 255.704 128. Manggis 79.691 9.918 925.474 1.814 146.745 732.432 66.760 2.787 107.997 10.108 210.526.950 17.117 65.532 34. Pepaya 626.874.427.150.966 70.613 800. Jeruk Siam 1.472 15.587 23.892 119.195 366.509 196. Semangka 455.634 11. Nangka/Cempedak 694.801 85.654 710.884 1.994.037.077 16.931 861.456 14.795 712.648 7. Salak 928.438 709.904 12.479.767 84.655 4. Jeruk Besar 88.611 548.298 3. Rambutan 815.389 157.339 21.324 63.451 14. Jambu Air 115. Sirsak 68.693 683.781 13.440 55.067 163.073 62.439 5.180 6. Nenas 677.848 5.089 709.

78 3.143 1.41 253 0. Kalimantan 765 1.154 2.01 18 0.11 11.45 199 0.55 11.269 3.13 139 0.14 1.28 199 0.464 24.382 3.895 4.33 29. Kalimantan Timur 952 1.70 687 0. Kalimantan 747 1.42 515 0.03 2.481 4.755 2.39 205 0. Jawa Tengah 11.14 97 0.31 4.98 5.35 874 1.00 20.13 10.40 1.31 641 0.12 2. Jakarta 3.60 313 0.50 495 0.25 1.015 5.288 1.905 28.68 1.71 17.70 Tengah 21.324 5.82 9.12 890 1. Maluku 26 0.28 95 0.10 2.14 411 0. Sulawesi Tenggara 121 0.16 108 0.04 10 0.07 1.97 729 0.95 10.27 Yogyakarta 14.42 526 0. Sulawesi Tengah 225 0.098 3.902 5.616 8.28 11.06 43 0.866 2. 2007 93 .357 3.78 24. Nanggroe Aceh 882 1. Sulawesi Selatan 412 0.14 430 0.04 614 0.635 2.75 427 0.36 3.50 241 0. Sumatera Utara 3.54 14.050 21.91 2.750 3.40 3.763 4.88 704 1.11 35 0.53 5.659 3.85 3.73 898 1.68 Selatan 22.73 659 0.876 15. Nusa Tenggara 461 0.105 1.100 2.63 324 0.35 Barat 18.19 654 0.44 Timur 19.09 223 0.35 825 1.29 209 0. Propinsi 2002 % 2003 % 2004 % 2005 % 2006 % 1.63 445 0.93 741 1.85 6.81 340 0.157 4.19 1. Bali 429 0.31 247 0.87 1.21 553 0.42 3.199 26. Kalimantan Barat 304 0.32 1.69 375 0. Lampung 2.199 6.14 302 0.54 2.73 329 0.47 12.49 16.82 18. Nusa Tenggara 164 0.99 238 0.67 770 1.35 212 0. Jawa Barat 10.02 3.37 2.502 12.21 264 0.30 396 0. Jambi 594 1.07 64 0.86 Darussalam 2.97 15.78 377 0. Papua 87 0.245 3.54 2.15 27.575 17.75 12.055 1.83 1.06 3.06 12.287 19.557 20.58 601 0.298 100 Sumber : Departemen Pertanian.74 386 0.771 15.67 587 0.371 18.30 17.67 1.35 4.29 2.505 4.263 6.34 805 1. Riau 283 0. Sulawesi Utara 650 1. Banten 911 1.417 4.82 205 0.05 51 0.43 458 0.22 7.607 14.01 37 0.98 23.261 100 78.91 579 0.60 2.06 31 0.36 13.966 100 70. Sumatera Barat 201 0.55 1. Produksi Belimbing Tahun 2002-2006 Produksi (ton) No. Bengkulu 649 1.25 485 0.39 224 0.382 5.748 100 67.56 384 0.26 26.061 1.50 977 1.Lampiran 2.51 4.61 102 0.47 2.53 286 0. Bangka Belitung 42 0.58 502 0.28 25.117 100 65.53 8.33 116 0. Gorontalo 6 0.27 274 0.84 13.04 28.427 35. Daerah Istimewa 736 1.27 9.04 0 0 156 0.10 27.53 14.982 2.396 1.198 1.02 Jumlah 56.26 112 0.15 74 0.48 4. Sumatera Selatan 1.405 3.324 6.747 20.32 473 0. Jawa Timur 15.914 16.

80 18.00 64.00 0.78 14.00 4. Beji 5.30 11.00 13.63 199. Sukmajaya 1.00 16. Pancoran Mas 74.60 100 27.263.60 22.97 4.26 18.352. 2007 94 . Produksi dan Produktivitas Tanaman Belimbing di Enam Kecamatan Kota Depok Tahun 2005 Luas Populasi Produksi Produktivitas No.39 3.00 4.00 3.51 2. Populasi.00 11.18 1.18 867.568.00 3. Sawangan 14. Kecamatan Areal % % % % (pohon) (ton) (ton/ha) (ha) 1.209.44 100 Sumber : Dinas Pertanian Kota Depok.61 26.00 0.15 140. Cimanggis 20.51 48.785.83 100.00 0.30 16.00 4.76 4.553.00 3.00 18. Luas Areal.52 797.32 28.83 695.36 26.00 100 4.64 5.87 17.00 16.95 3.11 Jumlah 119. Limo 5.Lampiran 3.11 6.93 39.00 61.000.88 31.72 39.89 2.00 55.00 13.00 100 213.

Biaya Pengangkutan 150 2.Lampiran 4. Biaya Sewa Tempat 25 Jumlah 335 Pedagang Pengecer 1. Biaya Penyimpanan 30 5. Biaya Pemasaran Belimbing Dewa yang dikeluarkan oleh setiap Lembaga pemasaran pada Saluran pemasaran 1 Biaya Jumlah Rata-rata (Rp/Kg) Petani 0 Pedagang Pengumpul 1. Biaya Bonkar Muat 100 5. Biaya Sortasi 70 Jumlah 330 Pedagang Besar 1. Biaya Retribusi 50 3. Biaya Retribusi 100 3. Biaya Penyusutan 233 6. Biaya Pengemasan 60 Jumlah 633 Total Biaya Pemasaran 1. Biaya Penyimpanan 30 6.298 95 . Biaya Pengangkutan 200 2. Biaya Sewa Tempat 60 4. Biaya Sortasi 70 4. Biaya Pengemasan 60 2. Biaya Pengemasan 60 3.

Biaya Sortasi 70 Jumlah 330 Pedagang Besar 1. Biaya Bonkar Muat 50 Jumlah 925 Total Biaya Pemasaran 2. Biaya Penyimpanan 60 4. Biaya Sortasi 70 4. Biaya Retribusi 50 3. Biaya Sortasi 200 3. Biaya Sewa Tempat 25 6. Biaya Pengangkutan 150 Jumlah 895 Supplier 1. Biaya Pengemasan 500 2.Lampiran 5.695 96 . Biaya Retribusi 275 2. Biaya Bonkar Muat 100 5. Biaya Retribusi 75 2. Biaya Penyusutan 240 5. Biaya Pemasaran Belimbing Dewa yang dikeluarkan oleh setiap Lembaga pemasaran pada Saluran pemasaran 2 Biaya Jumlah Rata-rata (Rp/Kg) Petani 0 Pedagang Pengumpul 1. Biaya Pengangkutan 200 2. Biaya Pengemasan 60 3. Biaya Pengangkutan 245 Jumlah 545 Pedagang Pengecer (Swalayan) 1. Biaya Sewa Tempat 300 3. Biaya Bonkar Muat 25 4.

Biaya Retribusi 100 2. Biaya Penyusutan 233 5. Biaya Pengemasan 60 Jumlah 483 Total Biaya Pemasaran 1.113 97 . Biaya Pemasaran Belimbing Dewa yang dikeluarkan oleh setiap Lembaga pemasaran pada Saluran pemasaran 3 Biaya Jumlah Rata-rata (Rp/Kg) Petani 0 Biaya Panen 300 Biaya Pengangkutan 200 Biaya Sortasi 70 Biaya Pengemasan 60 Jumlah 630 Pedagang Pengecer 1. Biaya Sewa Tempat 60 3. Biaya Penyimpanan 30 4.Lampiran 6.

Biaya Retribusi 15 2. Biaya Pengangkutan 200 2. Biaya Pemasaran Belimbing Dewa yang dikeluarkan oleh setiap Lembaga pemasaran pada Saluran pemasaran 4 Biaya Jumlah Rata-rata (Rp/Kg) Petani 0 Puskop 1. Biaya Bonkar Muat 100 Jumlah 870 Pedagang Pengecer (Toko Buah) 1. Biaya Sortasi dan Gradding 70 4. Biaya Penyusutan 9 Jumlah 94 Total Biaya Pemasaran 964 98 . Biaya Sewa Tempat 30 3.Lampiran 7. Biaya Penyimpanan 40 4. Biaya Pengemasan 500 3.

Biaya Penyusutan 240 5. Biaya Pengangkutan 200 2. Biaya Retribusi 275 2. Biaya Bonkar Muat 25 4. Biaya Pengemasan 500 3. Biaya Bonkar Muat 50 Jumlah 925 Total Biaya Pemasaran 2.340 99 . Biaya Sortasi 200 3. Biaya Sortasi dan Gradding 70 4. Biaya Pengangkutan 245 Jumlah 545 Pedagang Pengecer (Swalayan) 1. Biaya Sewa Tempat 300 3.Lampiran 8. Biaya Retribusi 75 2. Biaya Pemasaran Belimbing Dewa yang dikeluarkan oleh setiap Lembaga pemasaran pada Saluran pemasaran 5 Biaya Jumlah Rata-rata (Rp/Kg) Petani 0 Puskop 1. Biaya Penyimpanan 60 4. Biaya Bonkar Muat 100 Jumlah 870 Supplier 1.

.................................................tahun.....tahun...... 5. Linnya (. No......................) c.............. SMA (tamat/tidak tamat kelas ............................ Jawa Barat Sari Nalurita (A 14105605) Institut Pertanian Bogor KUISIONER UNTUK PETANI 1.............. ........................................................................2 Non Formal a.................. ........ SMP (tamat/tidak tamat kelas ...............1 Formal a............. Nama Petani : ....................) 5..................................... 6...............................................................................) d.... Berapa luas lahan yang anda miliki .............................) e............................... 7............m2............. SD (tamat/tidak tamat kelas ................ Akademi/Universitas (tamat/tidak tamat semester........................... 4...... Kepemilikan lahan : Sewa Milik sendiri Garapan 100 .... Pekerjaan sampingan : ........................................) b.. Umur : .............................................................. Usahatani Belimbing Mencakup Dilakukan Dilakukan Upah tenaga Dilakukan berapa kali oleh berapa Kegiatan kerja pada umur dalam satu tenaga kerja (Rp/HOK) musim tanan (orang) 9...... Kuisioner : ......................................... Kota Depok....... Pekerjaan Utama : ............. Kuisioner untuk Petani Analisis Efisiensi Pemasaran Belimbing Dewa di Kecamatan Pancoran Mas................ Pendidikan: 5....................... b...................... 3...........................................Lampiran 9........................ 2................................. Alamat Rumah : .. 10...... 8.........

....................... 19... Panen dilakukan setiap berapa bulan sekali? ........... Arit f.. h... Cangkul e.. Pengairan d..................................2 Besarnya biaya panen?Rp.. ........ Apakah lembaga pemasaran (tengkulak.................................................. maka siapa yang melakukan kegiatan panen ?.... berikan contohnya! 24....... Apakah anda memberi nilai tambah pada belimbing yang akan dijual? (Misalnya dilakukan pengemasan dll) 23.. pedagang dll)... ......... Pemupukan b.... Sebelum dijual apakah dilakukan penyortiran? (Ya / Tidak) 22. ..... Pedagang pengumpul c............................... 14.. apakah anda tetap melakukan budidaya dan panen? Jika Ya.......... pedagang pengumpul kecamatan) mempunyai standar tertentu dalam membeli belimbing dari anda? Jika Ya.. Hasil panen selanjutnya : Dijual langsung ditempat Dibawa ke pasar Disimpan 17..... Pola bertani : . apa alasannya ..11..Kg/m2...................... Kegiatan penjualan : Lembaga Harga Jual Jumlah Penjualan Sistem Pasar yang Pemasaran (Rp/Kg) Saat Panen (Kg) Pembayaran Dituju a................. 101 . Siapa saja yang menjadi pihak kerjasama dalam memasarkan belimbing? (misal dengan sesama petani.......(monokultur/tumpangsari) 13. pedagang pengumpul desa...................... Tengkulak b... Pembibitan c.... Darimanakan anda memperoleh informasi harga belimbing? Kelompok tani/Asosiasi Petani/Sesama Petani/Pedagang? 25... Apakah kegiatan panen dilakukan sendiri? 15........................... 12....... 18.. Bahan kimia g.................1 Jika tidak.. Faktor-faktor produksi yang digunakan (alat&bahan) Cara Jumlah Harga Biaya Faktor Produksi Mendapatkannya (unit) (Rp/unit) (Rp) a..... 15.. Apakah jika harga belimbing turun. 16.................... Siapa yang menentukan harga jual ? 20......... Jumlah produksi/panen ......... Bagaimana menentukan harga jual ? 21................... 15................bulan.

............................... Biaya penyusutan = Rp............................................... maka : a......Kg b.. 3.......................................... Biaya sortir = Rp.. Jika mendapat pinjaman... 32.................... Sumber modal : Sendiri Bantuan Pinjaman 31............................ Biaya pengangkutan = Rp............................. 9. 1..... c.................... dalam bentuk apa ........... Retribusi = Rp........... 4................. 5............... 33. Biaya bonkar muat = Rp..... Biaya pengemasan = Rp.................................... 27............... 28................ siapa yang memberikan pinjaman................... Jika hasil panen disimpan. Sudah berapa lama kerjasama dilakukan? 30...... 8. Biaya lain-lain = Rp...................................... dengan jangka berapa lama .................... Biaya tenaga kerja = Rp....................26............... 7........... Besar Modal =Rp.................... Berapa lama pengalaman anda menjadi petani belimbing di Kota Depok? 102 ............. Biaya penyimpanan = Rp.......... Apakah petani bebas memilih pasar untuk menjual belimbing ? 29. Jumlah belimbing yang disimpan =…………………………............................. Cara penyimpanan = ..................... Berikut ini mengenai biaya pemasaran yang dilakukan dalam sebulan...... 6......................... 2.... Lokasi penyimpanan = ........

...........) e............ Jawa Barat Sari Nalurita (A 14105605) Institut Pertanian Bogor KUISIONER UNTUK LEMBAGA PEMASARAN TINGKAT I 1.... SD (tamat/tidak tamat kelas .................... SMP (tamat/tidak tamat kelas ..... b.......) c......... SMA (tamat/tidak tamat kelas .... 4............... 6............................... Bagaimanakah sifat pembelian produk yang dilakukan (borongan/bertahap) 10............................................................................ Kuisioner untuk Lembaga Pemasaran Analisis Efisiensi Pemasaran Belimbing Dewa di Kecamatan Pancoran Mas...............................tahun.... Jika Ya dalam bentuk (uang/barang) dengan jangka waktu .....................................................................) 5................. Nama : ......... Apakah anda melakukan kegiatan pembelian? Petani di Harga Beli Jumlah Pembelian Sistim Desa/Kecamatan (Rp/Kg) (Kg/hari) Pembayaran 9. 5..tahun............................. No.. 7.........1 Formal a...........) b......................... Kuisioner : ... Umur : ...... Akademi/Universitas (tamat/tidak tamat semester........... Apakah anda memberikan bantuan kredit kepada petani? .........................) d............. Apakah anda memiliki standarisasi dalam membeli belimbing ke petani? Jika Ya di bagi ke dalam berapa kelas produk? 13....... Lainnya (. Alamat Rumah : ..... 3................. Pekerjaan Utama : ......................... Pekerjaan sampingan : ........ ................................. 8............ Pendidikan: 5..........tahun.................. .................................................... 12... Berapa jumlah petani yang menjadi pelanggan anda saat ini? 11........ Kota Depok...... Apakah anda melakukan kegiatan penjualan? Pasar Lembaga Harga Jual Jumlah Penjualan Sistim yang Pemasaran (Rp/Kg) (Kg/hari) Pembayaran Dituju 103 .2 Non Formal a....... 2...........................Lampiran 10............................................................................................................................................................

........ Bagaimana cara penyimpanannya ...14.......... Berapa jumlah belimbing yang disimpan........ Berapa biaya penyimpanan yang dikeluarkan Rp................ Biaya penyusutan = Rp...... 7.......................................... Berapa waktu yang diperlukan sampai belimbing terjual habis? 17............................ Retribusi = Rp......... Dimana lokasi penyimpanan belimbing ................. Biaya bonkar muat = Rp... Siapa yang menentukan harga beli di petani? 20....... 18........................ Apakah terdapat kesulitan dalam penjualan belimbing? Sebutkan! Jawab : ....... Berapa lama waktu penyimpanan belimbing .......... Dari mana anda memperoleh informasi harga belimbing? 22............ Apakah anda menjual komoditi selain belimbing? 15. Apakah anda melakukan kegiatan penyimpanan? Jika Ya : a..... 2............. 27................................................................... d.. 26................. Biaya lain-lain = Rp..... 5......................................... ............ b... Adakah biaya resiko yang anda tanggung dalam kegiatan penjualan? 19..Kg..... Apakah anda bebas menjual produk di berbagai tempat/pasar ? 23.... 9........... Biaya pengangkutan = Rp.............. 1.......................... 3.............. Bagaimana menentukan harga jual? 21..... Sudah berapa lama pengalaman anda dalam pemasaran belimbing? 104 ............... Apakah anda memiliki tempat untuk menjual belimbing? Misal : Toko (Sewa/Milik sendiri) 16... Apakah anda kontinyu membeli belimbing pada petani/kelompok petani? 24............................................................... Biaya tenaga kerja = Rp......................... 8............................. Berasal dari manakah modal yang anda miliki? Sendiri Bantuan Pinjaman 25. Berikut ini mengenai biaya pemasaran yang dilakukan dalam sebulan............................. c..................................... Biaya pengemasan = Rp..... Apakah terdapat kesulitan dalam pembelian belimbing? Sebutkan! Jawab : ............ 34............ 4........ e........ Biaya sortir = Rp.... Biaya penyimpanan = Rp.. 6....................

............................ 6......... SD (tamat/tidak tamat kelas ......... Akademi/Universitas (tamat/tidak tamat semester..... Pekerjaan Utama ......................................................................... Jawa Barat Sari Nalurita (A 14105605) Institut Pertanian Bogor KUISIONER UNTUK LEMBAGA PEMASARAN TINGKAT II 1.. Alamat Rumah : ......................... 8..... 5..... Bagaimanakah sifat pembelian produk yang dilakukan (borongan/bertahap) 10...... Apakah anda melakukan kegiatan pembelian? Harga Beli Jumlah Pembelian Sistim Lembaga Pemasaran (Rp/Kg) (Kg/hari) Pembayaran 9....) e.. 4................................ ............... Nama : ......2 Non Formal a. Kuisioner : ....... SMA (tamat/tidak tamat kelas .............. Analisis Efisiensi Pemasaran Belimbing Dewa di Kecamatan Pancoran Mas..... Darimanakah anda mengetahui informasi mengenai harga belimbing? 11.................................................1 Formal a............... Apakah anda memiliki standarisasi dalam membeli belimbing ke petani? Jika Ya di bagi ke dalam berapa kelas produk? 13..... Pekerjaan sampingan : ................... Apakah anda melakukan kegiatan penjualan? Pasar Lembaga Harga Jual Jumlah Penjualan Sistim yang Pemasaran (Rp/Kg) (Kg/hari) Pembayaran Dituju 105 ..................................................... Umur : ........................ 2........ No................................tahun............................. Kota Depok..................................................tahun..........................................................) b................... 3.......) c...........) d................ 7... SMP (tamat/tidak tamat kelas ................. b............. Lainnya (...... Apakah anda bebas keluar masuk pasar? 12...... Pendidikan: 5............ ...................................................................................) 5...................

.. Berapa biaya penyimpanan yang dikeluarkan Rp. Apakah anda memiliki tempat untuk menjual belimbing? Misal : Toko (Sewa/Milik sendiri) 16.......... Berapa jumlah tengkulak/pedagang yang menjadi pelanggan anda saat ini? 22........................................... Berikut ini mengenai biaya pemasaran yang dilakukan dalam sebulan....... 9.14......................................... Biaya tenaga kerja = Rp.... 6................................... 4........ 3..............tahun.......... 24................................ Adakah biaya resiko yang anda tanggung dalam kegiatan penjualan? 19.............. Apakah anda melakukan kegiatan penyimpanan? Jika Ya : a............... Apakah terdapat kesulitan dalam penjualan belimbing? Sebutkan! Jawab : .......... Berasal dari manakah modal yang anda miliki? Sendiri Bantuan Pinjaman 21.......... 7........... Dimana lokasi penyimpanan belimbing .......................................... ................................. Biaya bonkar muat = Rp............ Berapa lama waktu penyimpanan belimbing .... Biaya penyimpanan = Rp..... b...... 1............ Berapa waktu yang diperlukan sampai belimbing terjual habis? 17................. Apakah anda memberikan bantuan kredit kepada pedagang? ................................ 2.. d... 23........ Apakah anda kontinyu membeli belimbing pada tengkulak/pedagang desa? 20.... Retribusi = Rp.Kg. Apakah anda menjual komoditi selain belimbing? 15............... Sudah berapa lama pengalaman anda dalam pemasaran belimbing? 106 ....................... Biaya penyusutan = Rp......... e...... Biaya pengangkutan = Rp................................................................. 8......... Jika Ya dalam bentuk (uang/barang) dengan jangka waktu ..... 5............................................ 18. Biaya sortir = Rp.......... c..................................................... Biaya lain-lain = Rp................................... 25........ Bagaimana cara penyimpanannya .. Apakah terdapat kesulitan dalam pembelian belimbing? Sebutkan! Jawab : ........ 35...... Berapa jumlah belimbing yang disimpan..................... Biaya pengemasan = Rp.

............ Apakah anda melakukan kegiatan pembelian? Harga Beli Jumlah Pembelian Sistim Lembaga Pemasaran (Rp/Kg) (Kg/hari) Pembayaran 29................) f.......... Umur : .............................................. Nama : .......... 2............ SD (tamat/tidak tamat kelas ........... 26............................. Pendidikan: 5............................................. SMA (tamat/tidak tamat kelas ................... ............................................................. Pekerjaan sampingan : ............. Analisis Efisiensi Pemasaran Belimbing Dewa di Kecamatan Pancoran Mas...) i...... Apakah anda bebas keluar masuk pasar? 32..... b... Pekerjaan Utama ...... Jawa Barat Sari Nalurita (A 14105605) Institut Pertanian Bogor KUISIONER UNTUK LEMBAGA PEMASARAN TINGKAT III 1......................) h....... .. 28...................................tahun... Darimanakah anda mengetahui informasi mengenai harga belimbing? 31................... Kuisioner : ..... 3..............................) g..................................................... Bagaimanakah sifat pembelian produk yang dilakukan (borongan/bertahap) 30............................................................ 27....... Akademi/Universitas (tamat/tidak tamat semester.. 4................. 5................. SMP (tamat/tidak tamat kelas ..................3 Formal a........... Kota Depok...................... Alamat Rumah : ........ Apakah anda melakukan kegiatan penjualan? Pasar Lembaga Harga Jual Jumlah Penjualan Sistim yang Pemasaran (Rp/Kg) (Kg/hari) Pembayaran Dituju 107 ..................) 5......4 Non Formal b........tahun...... Apakah anda memiliki standarisasi dalam membeli belimbing ke petani? Jika Ya di bagi ke dalam berapa kelas produk? 33............................................................................................................... No.. Lainnya (...........

.. Biaya sortir = Rp.............. Apakah anda memiliki tempat untuk menjual belimbing? Misal : Toko (Sewa/Milik sendiri) 36............. Berapa lama waktu penyimpanan belimbing .. 5.................................... 3................. Biaya bonkar muat = Rp... 43........................... Berapa biaya penyimpanan yang dikeluarkan Rp.. Jika Ya dalam bentuk (uang/barang) dengan jangka waktu . 7.......................................... ........ Berasal dari manakah modal yang anda miliki? Sendiri Bantuan Pinjaman 41.............. Apakah anda menjual komoditi selain belimbing? 35........ Berapa jumlah belimbing yang disimpan.. Berikut ini mengenai biaya pemasaran yang dilakukan dalam sebulan.................................... 9....... Biaya penyimpanan = Rp.................................... 4................ Berapa jumlah tengkulak/pedagang yang menjadi pelanggan anda saat ini? 42....................... 45............... c......................................................................................... Apakah terdapat kesulitan dalam pembelian belimbing? Sebutkan! Jawab : .. 36..................... e.... 44........... 8...... Berapa waktu yang diperlukan sampai belimbing terjual habis? 37............................ Bagaimana cara penyimpanannya .... Biaya penyusutan = Rp........ Biaya tenaga kerja = Rp........ d......... 6................................................................................. Sudah berapa lama pengalaman anda dalam pemasaran belimbing? 108 ... Biaya lain-lain = Rp..................34........ b...... Adakah biaya resiko yang anda tanggung dalam kegiatan penjualan? 39........ 38... 2.. Apakah terdapat kesulitan dalam penjualan belimbing? Sebutkan! Jawab : ....... Apakah anda melakukan kegiatan penyimpanan? Jika Ya : a... Biaya pengemasan = Rp. Apakah anda kontinyu membeli belimbing pada tengkulak/pedagang desa? 40............... 1. Dimana lokasi penyimpanan belimbing .......................... Apakah anda memberikan bantuan kredit kepada pedagang? ....... Retribusi = Rp...Kg.........................................tahun.................. Biaya pengangkutan = Rp......