You are on page 1of 17

BAB 11

PEMBAHASAN

1.1 Pengertian Diare

Diare adalah perubahan frekuensi dan konsistensi tinja. Menurut World
Health Organization (WHO) pada tahun 1984 mendefinisikan diare adalah buang air
besar (BAB) 3 kali atau lebih dalam sehari semalam (24 jam) yang mungkin dapat
disertai dengan muntah atau tinja yang berdarah (muntaber)(Widoyono, 2008).

Mengutip definisi Hippocrates menyatakan diare adalah buang air besar
dengan frekuensi yang tidak normal (meningkat) dan konsistensi tinja yang lebih
lembek atau cair (Nelson dkk, 1969; Morley, 1973) berpendapat bahwa
gastroenteritis dikesampingkan saja dimana memberikan kesan terdapatnya suatu
radang sehingga selama ini penyelidikan tentang diare cenderung lebih ditekankan
pada penyebabnya (Suharyono, 2008).

Diare didefinisikan sebagai peningkatan frekuensi dan cairan feses. Diare
infeksi akut (biasanya berlangsung kurang dari 7 hari) adalah alasan umum untuk
konsultasi dokter umum dan untuk masuk ke rumah sakit bagi anak-anak (Elliot &
Dalby-payne,2004) . Menurut Betz (2009) mendefinisikan diare sebagai inflamasi
pada membran mukosa lambung dan usus halus yang ditandai dengan diare,
muntah-muntah yang berakibat kehilangan cairan dan elektrolit yang menimbulkan
dehidrasi dan gangguan keseimbangan elektrolit.

Diare adalah penyakit yang ditandai bertambahnya frekuensi defekasi lebih
dari biasanya (> 3 kali/hari) disertai perubahan konsistensi tinja (menjadi cair),
dengan atau tanpa darah atau lendir ( Suraatmaja, 2007). Diare sendiri berasal dari
bahasa latin diarrhoea, yang berarti buang air encer lebih dari empat kali baik
disertai lendir dan darah maupun tidak. Menurut Depkes (2003), diare adalah buang

terutama usia antara 6 bulan sampai 2 tahun dan pada umumnya terjadi pada bayi dibawah 6 bulan yang minum susu sapi atau susu formula. Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat). Selama berat badan bayi meningkat normal. 2011). Dehidrasi terjadi bila cairan yang keluar lebih banyak daripada cairan yang masuk. dehidrasi ringan-sedang.2 Klasifikasi Klasifikasi diare menurut Depkes meliputi diare tanpa tanda dehidrasi. 1. Diare paling sering menyerang anak-anak. dan diare dehidrasi berat jika kehilangan cairan >10% BB . dan dehidrasi berat. keadaan ini tidak bisa disebut diare tetapi masih bersifat fisiologis. hal tersebut tidak tergolong diare. Diare tanpa tanda dehidrasi terjadi jika kehilangan <5% BB. Diare akut adalah buang air besar pada bayi atau anak lebih dari 3 kali perhari. 2011). Diare merupakan buang air besar encer lebih dari 3 kali per hari. diare dehidrasi ringan-sedang jika kehilangan cairan 5-10% BB. kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 g atau 200 ml/24 jam. Pada bayi yang meminum ASI frekuensi buang air besarnya lebih dari 3 – 4 kali per hari. disertai perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang berlangsung kurang dari satu minggu. tetapi merupakan intoleransi laktosa karena saluran cerna belum berkembang dengan baik (IDAI. Buang air besar yang sering dengan tinja normal atau bayi yang hanya minum ASI kadangkala tinjanya lembek tidak disebut diare. Buang air besar encer tersebut dapat/tanpa disertai lendir dan darah (IDAI. air besar lembek atau cair bahkan berupa air saja yang frekuensinya lebih sering dari biasanya (biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari) dan berlangsung kurang dari 14 hari.

Sedangkan berdasarkan penyebabnya. demam. nyeri kepala. 2003). Diare akibat enterotoksin Diare jenis ini jarang terjadi. Gejala lainnya dapat berupa nyeri perut. Diare yang terjadi bertahan terus sampai beberapa hari sesudah virus lenyap dengan sendirinya. biasanya dalam 3-6 hari (Suharyono (2008) 2. Diare parasiter Diare yang disebabkan oleh parasit yang terutama terjadi di daerah subtropis biasanya bercirikan mencret yang intermiten dan bertahan lebih lama dari 1 minggu. muntah-muntah dan rasa letih umum (malaise) (Suharyono (2008) 4. kemudian bakteri-bakteri tersebut memperbanyak diri dan membentuk toksin-toksin yang dapat diresorpsi kedalam darah dan menimbulkan gejala hebat seperti demam tinggi. kejang-kejang. disamping mencret berdarah dan berlendir (Suharyono (2008) 3. Diare akibat virus 7 Contoh diare akibat virus adalah influenza perut dan traveller’s diarrhea yang disebabkan oleh rotavirus dan adenovirus. akan menyebabkan infeksi dan kerusakan vili usus halus. Diare bakterial (invasif) Diare ini agak sering terjadi tetapi mulai berkurang berhubung semakin meningkatnya derajat hygiene masyarakat. Rotavirus merupakan penyebab diare akut yang paling sering diidentifikasi pada anak dalam komunitas iklim tropis dan sedang (Smith. diare dapat dibedakan menjadi 4 jenis yakni sebagai berikut: 1. vili mengalami atropi dan tidak dapat mengabsorpsi cairan dan makanan dengan baik. tetapi lebih dari 50% wisatawan di negara-negara berkembang dihinggapi diare . Virus yang masuk melalui makanan dan minuman sampai ke enterosit. akan meningkatkan tekanan koloid osmotik usus dan meningkatkan motilitasnya sehingga timbul diare. Bakteri-bakteri yang terdapat pada makanan yang tidak hygienis menjadi invasif dan menembus sel mukosa usus halus. Enterosit yang rusak diganti dengan yang baru yang fungsinya belum matang.(Anonim. anoreksia. nausea. 2009).

b) Infeksi virus : Enterovirus (Virus ECHO. setelah sel-sel yang rusak diganti dengan mukosa baru (Suharyono (2008) 1. Trichuris. Infeksi Faktor ini dapat diawali adanya mikroorganisme (kuman) yang masuk dalam saluran pencernaan yang kemudian berkembang dalam usus dan merusak sel mukosa usus yang dapat menurunkan daerah permukaan usus. dan jamur (Candida albicans). Protozoa (Entamoeba histolytica. Oxyuris. Salmonella.coli. Selanjutnya terjadi perubahan kapasitas usus yang akhirnya mengakibatkan gangguan fungsi usus dalam absorbsi cairan dan elektrolit. . 1) Enteral yaitu infeksi yang terjadi dalam saluran pencernaan dan merupakan penyebab utama terjadinya diare. Shigella Compylobacter. ini.3 Etiologi Menurut Ngastiyah (2005) dan Hidayat (2006). dan Trichomonas homonis). Adenovirus. berbagai macam faktor yang dapat menjadi penyebab diare pada bayi : a. Yersenia dan Aeromonas. Rotavirus dan Astrovirus). Atau juga dikatakan adanya toksin bakteri akan menyebabkan sistem transport aktif dalam usus sehingga sel mukosa mengalami iritasi yang kemudian sekresi cairan dan elektrolit akan meningkat. coli dan Vibrio cholerae. Giardia lamblia. artinya akan sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan dalam waktu kurang lebih 5 hari. dan Strongylodies). Penyebabnya adalah kuman-kuman yang membentuk enterotoksin seperti E. Coxsackie dan Poliomyelitis. Toksin melekat pada sel-sel mukosa dan merusaknya. E. Diare jenis ini bersifat self limiting disease. c) Infeksi parasit : Cacing (Ascaris. Infeksi enteral meliputi: a) Infeksi bakteri : Vibrio.

pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering (intoleransi laktosa) 2) Maldigesti protein lengkap. fruktosa dan galaktosa). Sehingga terjadi peningkatan peristaltik usus yang mengakibatkan penurunan kesempatan untuk menyerap makanan . b. Faktor Makanan Dapat terjadi apabila toksin yang ada tidak mampu diserap dengan baik. karbohidrat dan terigliserida. 3) Gangguan atau kegagalan ekskresi pancreas menyebabkan kegagalan pemecahan kompleks protein. karbihidrat dan trigliserida diakibatkan insufisiensi eksokrin pankreas. c. 2) Infeksi parenteral yaitu infeksi dibagian tubuh lain diluar alat pencernaan. seperti Otitis Media Akut (OMA). Faktor Malabsorbsi Merupakan kegagalan dalam melakukan absorbsi yang mengakibatkan tekanan osmotik meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke rongga usus yang dapat meningkatkan isi rongga usus sehingga terjadi diare. Keadaan ini terutama pada bayi dan anak dibawah dua tahun. 4) Pemberian obat pencahar. 6) Pemberian makan atau minum yang tinggi karbohidrat. monosakarida (intoleransi glukosa. ensefalitis dan sebagainya. bronkopneumonia. pemberian magnesium hydroxide (misalnya susu magnesium). setelah mengalami diare menyebabkan kekambuhan diare. 1) Malabsorbsi kabohidrat: disakarida (intoleransi laktosa. laktulosa. tonsilofaringitis. 5) Mendapat cairan hipertonis dalam jumlah besar dan cepat. maltosa dan sukrosa).

Tidak memberikan ASI/ASI eksklusif dan memberikan Makanan Pendamping (MP ASI) yang terlalu dini akan mempercepat bayi kontak terhadap kuman. dan setelah membersihkan BAB anak. Faktor Lingkungan . Penyimpanan makanan yang tidak higienis. Faktor Psikologis Rasa takut dan cemas terutama pada bayi (jarang terjadi pada anak yang lebih besar) dapat mempengaruhi terjadinya peningkatan peristaltik usus yang akhirnya mempengaruhi proses penyerapan makanan yang dapat menyebabkan diare. 3. yang kemudian menyebabkan diare. Contoh makanan basi.4 Faktor Resiko Cara penularan diare melalui cara faecal-oral yaitu melalui makanan atau minuman yang tercemar kuman atau kontak langsung tangan penderita maupun orang sekitar yang bersentuhan atau tidak langsung melalui lalat ( melalui lima F : faeces. 4. Tidak menerapkan kebiasaaan cuci tangan pakai sabun sebelum memberi ASI/makan. atau alergi terhadap makanan d. Faktor Perilaku 1. setelah Buang Air Besar (BAB). 1. 2. finger). beracun. flies. fluid. Menggunakan botol susu terbukti meningkatkan risiko terkena penyakit diare karena sangat sulit untuk membersihkan botol susu. b.. food. Faktor risiko terjadinya diare adalah: a.

status imunisasi yang tidak lengkap. 2006). khususnya buta huruf tidak akan dapat memberikan perawatan yang tepat pada bayi atau anak dengan diare karena kurangnya pengetahuan dan ketidakmampuan menerima informasi (Khalili. 2011). Ketersediaan air bersih yang tidak memadai. penyakit imunodefisiensi/imunosupresi dan penderita campak (Kemenkes RI. Faktor anak Ada beberapa aspek yang dapat menjadi faktor resiko diare yang ada pada anak. Tidak diberikan ASI Eksklusif. . antara lain : a. Orang tua dengan tingkat pendidikan rendah. kurangnya ketersediaan fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK). b. 2. Faktor Orang Tua Pendidikan orang tua adalah faktor yang sangat penting dalam keberhasilan manajemen diare pada bayi atau anak. tidak diberikan vitamin A dan penyakit yang diderita balita. Kebersihan lingkungan dan kebiasaan pribadi yang buruk. status gizi yang rendah. Disamping faktor risiko tersebut diatas ada beberapa faktor dari penderita yang dapat meningkatkan kecenderungan untuk diare antara lain: kurang gizi/malnutrisi terutama anak gizi buruk. terutama yang berusia kurang dari dua tahun. Selain faktor resiko di atas teridentifikasi juga faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab maupun pencetus dan dapat mempengaruhi durasi terjadinya diare. 1.

selain komposisinya yang sesuai dengan kebutuhan bayi. 2. 2003). Umur Kebanyakan episode diare terjadi pada dua tahun pertama kehidupan (Suraatmaja. Anak dengan diare yang tidak mendapat ASI lebih beresiko dirawat di rumah sakit. 2011).al (2005) menemukan bahwa 87 % anak dirawat dengan gastroenteritis berumur kurang dari empat tahun.1. 2007. 2006). ASI juga mengandung zat pelindung yang dapat menghindari bayi dari berbagai penyakit infeksi. pengenalan makanan yang mungkin terpapar bakteri tinja dan kontak lansung dengan tinja manusia atau binatang pada saat bayi mulai merangkak (Depkes. pada masa diberikan makanan pendamping dan anak mulai aktif bermain. Pemberian Asi ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. Khalili. 2007). Faktor-faktor yang mempengaruhi meningkatnya risiko diare pada anak usia 6-35 bulan antara lain penurunan kadar antibodi ibu. Manfaat ASI pada kelainan gastrointestinal terutama disebabkan adanya faktor peningkatan pertumbuhan sel usus dan zat-zat imunologi sehingga vili-vili usus cepat mengalami penyembuhan setelah rusak karena diare (Lubis. et. 2005. . Penelitian tentang aspek epidemiologi dan klinis pasien dilakukan di Brazil oleh Cameiro. SDKI. 1999. Hiszli. dan periode pemberian ASI pada anak dengan diare akut yang dirawat di rumah sakit lebih pendek dibandingkan dengan yang tidak dirawat di rumah sakit (Yalcin. kurangnya kekebalan aktif bayi. Subagyo & Santoso. Yurdakok dan Ozmert. Insiden tertinggi pada golongan umur 6-35 bulan.

2007. Status gizi yang buruk dapat mempengaruhi kejadian diare dan lamanya menderita diare. Status Gizi Adisasmito (2007) melakukan kajian terhadap faktor risiko diare pada beberapa penelitian di Indonesia dan dapat disimpulkan bahwa status gizi yang rendah pada bayi dan balita merupakan faktor resiko terjadinya diare. 3. Akan tetapi pada penelitian Wilunda dan Panza (2006) menemukan tidak ada hubungan yang signifikan antara status gizi dan status imunisasi campak dengan kejadian diare. c. 2009). WHO. 1-7% kejadian diare berhubungan dengan campak. 2007). cenderung menjadi kronis) karena adanya kelainan epitel usus (Suraatmaja. 200 4.anak yang menderita campak atau yang menderita campak empat minggu sebelumnya mempunyai resiko lebih tinggi untuk mendapat diare atau disentri yang berat dan fatal (WHO. Faktor Sosial Ekonomi Pendapatan keluarga dan status sosial ekonomi dapat menjadi faktor resiko yang signifikan terhadap kejadian diare. Diare lebih sering . dan diare yang terjadi pada campak umumnya lebih berat dan lebih lama (sulit diobati. Status Imunisasi Campak Pada balita. Imunisasi campak yang diberikan pada umur yang dianjurkan dapat mencegah sampai 25 % kematian balita yang berhubungan dengan diare (Depkes RI. Hubungan status gizi dengan lama diare bermakna secara statistik dimana semakin buruk status gizi maka semakin lama diare yang diderita (Palupi. Anak. 2009).

Darmawan. dan berat. et. Berat badan menurun. Wiluda dan Panza (2006) juga menemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara status sosial dengan kejadian diare pada balita. dan hipertonik. turgor kulit berkurang. kemudian timbul diare. Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dapat dibagi menjadi dehidrasi ringan. maka gejala dehidrasi makin tampak.al (2008). 1. nafsu makan berkurang atau tidak ada. Anus dan daerah sekitarnya lecet karena seringnya defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat makin banyaknya asam laktat yang berasal dari laktosa yang tidak dapat diabsorbsi usus selama diare. isotonik. suhu tubuh biasanya meningkat. menemukan 95% keluarga yang memiliki anak dengan diare berasal dari status sosial ekonomi menengah ke bawah. mata dan ubun-ubun membesar menjadi cekung. Status sosial ekonomi rendah meningkatkan resiko terjadinya diare pada balita yang kemungkinan disebabkan oleh tidak adekuatnya fasilitas sanitasi lingkungan dan lingkungan rumah yang kurang bersih serta kurangnya kebersihan diri keluarga yang mempengaruhi balita. Tinja cair dan mungkin disertai lendir dan atau darah. Bila penderita telah banyak kehilangan cairan dan elektrolit.5 Manifestasi klinis Mula-mula bayi dan anak menjadi cengeng. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare dan dapat disebabkan oleh lambung yang turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam-basa dan elektrolit. gelisah. 2009) . Warna tinja makin lama berubah menjadi kehijau-hijauan karena tercampur dengan empedu. sedang. muncul pada keluarga dengan status sosial ekonomi yang rendah. selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering. sedangkan berdasarkan tonisitas plasma dapat dibagi menjadi dehidrasi hipotonik. (Mansjoer.

6 Patofisiologi .1.

sedang. Proses terjadinya gastroenteritis dapat disebabkan oleh berbagai kemungkinan faktor diantaranya pertama faktor infeksi. 4) Hipoglikemi.7 Komplikasi Akibat diare dan kehilangan cairan serta serta elektolit secara mendadak dapat terjadi berbagai komplikasi sebagai berikut : 1) Dehidrasi (ringan. Faktor malabsorbsi meruapakan kegagalan dalam melakukan absorbsi yang mengakibatkan tekan osmotik meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke ronngga usus yang dapat meningkatkan isi rongga usus sehingga terjadi gastroenteriti. atau hipertonik). isotonik. dan bradikardi). 5) Kejang terjadi pada dehidrasi hipertonik. berat. hipotonis otot lemah. hipotonik. 3) Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi enzim laktose. 1. 2) Renjatan hipovolemik (gejala meteorismus.proses ini dapat diawali adanya mikroorganisme (kuman) yang masuk kedalam saluran pencernaan yang kemudian berkembang dalam usus dan masuk sel mukosa usus yang akhirnya mengakibatkan gangguan fungsi usus dalam absorbsi cairan dan elektrolit atau juga dikatakannya adanya toksin bakteri atau akan menyebabkan sistem transpor aktif dalam usus sehingga sel mukosa mengalami iritasi yang kemudian sekresi cairan dan elektrolit akan meningakat. faktor makanan dapat terjadi apabila toksin yang tidak mampu diserap dengan baik sehingga terjadi peningkkatan dan penurunan peristaltik yang mengakibatkan penurunan kesempatan untuk menyerap makanan yang kemudian menyebabkan gastroenteritis (hidayat. .2008). Ketiga.

angka kesakitan bayi dan anak balita yang disebabkan diare makin lama makin menurun. sesuai dengan kebutuhan gizi bayi dan mempunyai nilai proteksi yang tidak bisa ditiru oleh pabrik susu manapun. bahwa bayi-bayi harus disusui secara penuh sampai mereka berumur 4-6 bulan. 6) Malnutrisi energi protein (akibat muntah dan diare jika lama atau kronik). Salah satu jalan pintas yang sangat ampuh untuk menurunkan angka kesakitan suatu penyakit infeksi baik oleh virus maupun bakteri.8 Pencegahan Pengobatan diare dengan upaya rehidrasi oral. Pemberian ASI ASI adalah makanan paling baik untuk bayi. Menurut Suharti (2007). Menurut Sulastri (2009). komponen zat makanan tersedia dalam bentuk yang ideal dan seimbang untuk dicerna dan diserap secara optimal oleh bayi. Tetapi pada pertengahan abad ke-18 berbagai pernyataan penggunaan air susu binatang belum mengalami berbagai modifikasi. tidak ada makanan lain yang dibutuhkan selama masa ini. Menurut Supariasa dkk (2002). bahwa ASI adalah makanan bayi yang paling alamiah. pemberian ASI harus diteruskan sambil ditambahkan dengan makanan lain . 2008 1. Untuk dapat membuat vaksin secara baik. atau cairan lain disiapkan dengan air atau bahan-bahan yang terkontaminasi dalam botol yang kotor. efisien. 1. susu formula. ASI saja sudah cukup untuk menjaga pertumbuhan sampai umur 4-6 bulan. bahwa kesakitan diare masih tetap tinggi ialah sekitar 400 per 1000 kelahiran hidup. ASI steril berbeda dengan sumber susu lain. Pada permulaan abad ke- 20 sudah dimulai produksi secara masal susu kaleng yang berasal dari air susu sapi sebagai pengganti ASI. (Suharyono. menghindarkan anak dari bahaya bakteri dan organisme lain yang akan menyebabkan diare. setelah 6 bulan dari kehidupannya. Pemberian ASI saja tanpa cairan atau makanan lain dan tanpa menggunakan botol. dan efektif diperlukan pengetahuan mengenai mekanisme kekebalan tubuh pada umumnya terutama kekebalan saluran pencernaan makanan. Keadaan ini disebut disusui secara penuh.

lemak. ketika anak berumur 4-6 bulan tetapi teruskan pemberian ASI. (3) Cuci tangan sebelum menyiapkan makanan dan menyuapi anak. buah-buahan dan sayuran berwarna hijau kedalam makanannya. apa. ASI mempunyai khasiat preventif secara imunologik dengan adanya antibody dan zat-zat lain yang dikandungnya. (2) Tambahkan minyak. Tambahkan hasil olahan susu. gula. Bahwa ada beberapa saran yang dapat meningkatkan cara pemberian makanan pendamping ASI yang lebih baik. ASI turut memberikan perlindungan terhadap diare. (proses menyapih). Berikan makanan lebih sering (4x sehari). setelah anak berumur 1 tahun. kedalam nasi/bubur dan biji- bijian untuk energy. Untuk itu menurut Shulman dkk (2004). suapi anak dengan sendok yang bersih. teruskan pemberian ASI bila mungkin. kacang- kacangan. Tambahkan macam makanan sewaktu anak berumur 6 bulan atau lebih. daging. Menurut Supariasa dkk (2002) bahwa pda masa tersebut merupakan masa yang berbahaya bagi bayi sebab perilaku pemberian makanan pendamping ASI dapat menyebabkan meningkatnya resiko terjadinya diare ataupun penyakit lain yang menyebabkan kematian. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat . dan bagaimana makanan pendamping ASI diberikan. simpan sisanya pada tempat yang dingin dan panaskan dengan benar sebelum diberikan kepada anak. Pada bayi yang baru lahir. berikan semua makanan yang dimasak dengan baik. Makanan pendamping ASI Pemberian makanan pendamping ASI adalah saat bayi secara bertahap mulai dibiasakan dengan makanan orang dewasa. Perilaku pemberian makanan pendamping ASI yang baik meliputi perhatian terhadap kapan. pemberian ASI secara penuh mempunyai daya lindung 4x lebih besar terhadap diare daripada pemberian ASI yang disertai dengan susu botol. 2. ikan. yaitu (1) perkenalkan makanan lunak.6x sehari. 3. 4 . (4) Masak atau rebus makanan dengan benar. telur.

(3) Air bersih. Tanpa dehidrasi. 1. keluarga menggunakan air bersih (PAM.10 Penatalaksaan Menurut Widoyono (2008). (5) Air yang diminum dimasak terlebih dahulu. (c) Meningkatkan taraf hidup rakyat.9 Pemeriksaan penunjang 1. Apabila ada balita pertanyaannya adalah apakah sudah ditimbang secara teratur keposyandu minimal 8 kali setahun. (8) Pencucian peralatan menggunakan sabun. 1. (6) Mandi menggunakan sabun mandi. keluarga buang air besar dijamban/WC yang memenuhi syarat kesehatan. (4) Jamban keluarga. (d) Terhadap faktor lingkungan. Menurut Departemen Kesehatan RI (2002) bahwa untuk melakukan pola perilaku hidup bersih dan sehat dilakukan beberapa penilaian antara lain adalah (1) penimbangan balita. baik ditempat umum maupun dilingkungan rumah. (7) Selalu cuci tangan sebelum makan dengan menggunakan sabun. sehingga dapat memperbaiki dan memelihara kesehatan. (2) Gizi. buang air besar terjadi 3-4 kali sehari atau disebut mulai mencret. baik dengan mengobati penderita maupun carrier atau dengan meniadakan reservoir penyakit. mengubah atau mempengaruhi faktor lingkungan hidup sehingga faktor-faktor yang tidak baik dapat diawasi sedemikian rupa sehingga tidak membahayakan kesehatan manusia. sumur) untuk keperluan sehari-hari. Anak yang mengalami kondisi ini masih lincah dan masih . anggota keluarga makan dengan gizi seimbang. pengobatan diare dilakukan berdasarkan derajat dehidrasinya. (b) Mencegah terjadinya penyebaran kuman. (9) Limbah. (10) Terhadap faktor bibit penyakit yaitu (a) Membrantas sumber penularan penyakit. dengan terapi A Pada keadaan ini.

Makanan tambahan diperlukan pada . (Widoyono. dengan terapi C Diare dengan dehidrasi berat ditandai dengan mencret terus menerus. Teruskan pemberian makanan Pemberian makanan seperti semula diberikan sedini mungkin dan disesuaikan dengan kebutuhan. yaitu sebagai berikut : 3. 2. yaitu perawatan di puskesmas atau rumah sakit untuk diinfus RL (Ringer Laktat). mau makan dan minum seperti biasa. Pengobatan dapat dilakukan di rumah oleh ibu atau anggota keluarga lainnya dengan memberikan makanan dan minuman yang ada di rumah seperti air kelapa. air teh maupun oralit. kehilangan cairan lebih dari 10% berat badan. air tajin. dengan terapi B Diare dengan dehidrasi ringan ditandai dengan hilangnya cairan sampai 5% dari berat badan. Diare ini diatasi dengan terapi C. larutan gula garam (LGG). biasanya lebih dari 10 kali disertai muntah. 2008) 4. Untuk mengobati penyakit diare pada derajat dehidrasi ringan atau sedang digunakan terapi B. Dehidrasi berat. sedangkan pada diare sedang terjadi kehilangan cairan 6-10% dari berat badan. Dehidrasi ringan atau sedang.

mengurangi tinja. Penggunaan Zinc dapat mempercepat kesembuhan anak dari diare. . Untuk bayi. 2008). serta mengurangi risiko diare berikutnya 2-3 bulan ke depan. Menurut Depkes RI (2011) pengobatan diare juga dapat dilakukan dengan pemberian Zinc.masa penyembuhan. Sebagian besar penyebab diare adalah rotavirus yang tidak memerlukan antibiotik dalam penatalaksanaan kasus diare karena tidak bermanfaat dan efek sampingnya bahkan merugikan penderita (Widoyono. namun bila tidak mendapatkan ASI dapat diteruskan dengan memberikan susu formula (Widoyono. Penggunaan zinc juga dapat mengurangi penggunaan antibiotik yang irrasional. ASI tetap diberikan bila sebelumnya mendapatkan ASI.2008). Zinc diberikan selama 10 hari dengan dosis 1 tablet/ hari (1 tablet = 20mg) untuk usia > 6 bulan dan ½ tablet perhari untuk usia < 6 bulan. mengurangi risiko diare lebih dari 7 hari. Memberikan zinc baik dan aman untuk pengobatan diare pada anak.